5 Yang Manis Gurih Khas Balikpapan

IMG 2987

5 yang manis gurih khas Balikpapan sebagai buah tangan dari kunjungan ke kota minyak di Kalimantan Timur itu.

Lazimnya, oleh-oleh dari Balikpapan, Kalimantan Timur, berupa olahan ikan laut. Umumnya, bisa dikategorikan kerupuk, tapi dengan bentuk yang berbeda-beda, semisal amplang dan kuku macan. Belum lagi olahan penghuni laut yang lain, seperti peyek kepiting atau abon. Sebenarnya, ada pilihan lain tanpa bahan dari laut, di antaranya bolu gulung, mantau, emping, dodol, dan lempo. Tentu rasanya berbeda. Cenderung manis dan ada juga yang gurih. Yang pasti, tetap menggoda sebagai oleh-oleh untuk sanak saudara.

5 Yang Manis Gurih Khas Balikpapan

5 yang manis gurih khas balikpapan
5 yang manis gurih khas Balikpapan salah satunya bingka bakar. doc. TL

Bingka Bakar

Bagi Anda penggemar bingka bakar yang juga bisa ditemukan di beberapa daerah lain, seperti Banjarmasin dan Batam, di Balikpapan pun bisa ditemukan olahan yang sama. Memang kue ini khas kuliner masyarakat Melayu. Terbuat dari kentang yang dibubuhi daun pandan, bingka bakar terasa lebih lembut dan tetap aroma pandannya membuat orang berselera untuk mencicipinya. Dengan bentuk seperti bunga dengan pinggirnya yang berlekuk-lekuk, kue ini tampak tampil cantik. Namun ada juga beberapa orang yang membuatnya dalam bentuk yang lain.

Per buah bingka bakar pandan ini dipatok Rp 27 ribu,. Bisa dibeli sebelum berangkat ke Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan. Salah satunya di Gulung Jenebora, yang juga menyediakan beragam oleh-oleh termasuk bolu gulung.

Gulung Jenebora

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 429

Balikpapan

Gulung Pelangi

Seperti di kota lain, pengusaha kuliner di Balikpapan pun melakukan modifikasi olahan dan membuatnya menjadi oleh-oleh khas, selain makanan tradisional yang sudah dikenal luas. Salah satunya bolu gulung Jenebora. Dari tampilannya, bolu dibikin menarik karena dibuat warna-warni.

Bolu gulung dalam warna pelangi–merah biru kuning hijau—itu, nama sebenarnya ialah Bolu Gulung Rainbow Naga. Di bagian tengahnya bisa ditemukan selai. Selain itu, ada bolu gulung berwarna hijau, namanya Jenebora Gulung Green Tea. Pilihan lain berupa rasa durian dan nanas. Bolu bisa diperoleh dengan harga Rp 40-55 ribu. Gerainya berada di pusat kota. Karenanya, dengan mudah, bangunan yang dipulas merah di beberapa bagiannya itu ditemukan. Tertera pula labelnya dalam huruf berukuran besar. Selain bolu gulung, beragam olahan khas lokal bisa ditemukan di sini.

Gulung Jenebora

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 429

Balikpapan 

Dodol Rasa Buah

Balikpapan memiliki jenis buah yang unik. Tampilannya mirip durian, tapi rasanya berbeda. Buah lai namanya. Namun untuk olahannya yang bisa dibawa pulang, tetap durian yang diproses. Tentu untuk membuang penasaran, tak ada salahnya mencicipi buah lai yang harum dengan warna kuningnya yang menggoda. Soal rasa, ternyata durian yang menjadi juara. Nah, untuk dibawa pulang, ada dodol atau lempok durian dengan rasa durian yang lebih kuat.

Bagi yang gandrung dengan buah beraroma keras ini, saatnya untuk memborong  lempok. Tapi bila tak kuat dengan aroma buah berduri ini, ada pilihan dodol dari salak. Adonan berupa santan kelapa, tepung ketan, gula pasir, gula merah, dan garam ini diberi tambahan berupa daging buah salak  matang yang sudah dihancurkan. Rasa manis bercampur rasa asam buah salak membuat dodol memiliki rasa yang khas. Tentu berbeda dengan dodol dari buah durian. Dijual dalam kemasan yang bermacam-macam, dodol dibanderol mulai Rp 20 ribu.

Bisa ditemukan di berbagai gerai oleh-oleh, termasuk pusat oleh-oleh Pasar Inpres Kebun Sayur.

Pasar Inpres Kebun Sayur

Jalan Letjen Suprapto

Balikpapan

Mantau Asin dan Manis

Roti mantau tak lain dari roti sepan atau roti kukus. Roti ini memiliki kekhasan berupa tekstur yang lembut.  Roti bisa disantap untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Roti yang satu ini termasuk sajian khas Balikpapan. Biasanya, roti kukus ini digoreng terlebih dulu sehingga terasa gurih dan dipadu dengan olahan sapi atau kepiting lada hitam.

Untuk dibawa sebagai oleh-oleh, mantau dikemas dalam satu kotak dengan isi sebanyak 10 buah. Sedangkan lada hitam dikemas dalam wadah terpisah. Hanya memang saat membawanya sebagai oleh-oleh, Anda sebaiknya membeli tepat di hari penerbangan ke kota asal karena roti kukus ini hanya bertahan 2 hari di udara terbuka. Bila disimpan di lemari es, bisa tahan hingga 7 hari. Tapi untuk daya tahan lebih tinggi, bisa disimpan di freezer hingga mantau pun tahan 30 hari. Satu paket mantau dan sapi lada hitam dijual Rp 60 ribu.

Pusat Pondok Mantau

Jalan Jenderal A Yani Nomor 28 RT 49

(Gang GAMA/Masjid Nurul Ihsan)

Balikpapan

Emping Pedas-Manis

Emping biasanya menjadi teman menyantap nasi plus soto atau hidangan lain. Emping memang tak melulu berasa asin dan berbentuk lebar. Adapula emping dalam ukuran lebih kecil dan lebih tebal dengan rasa manis. Nah, bila ke Balikpapan, Anda akan menemukan rasa baru dari olahan emping ini, yakni pedas. Jadilah emping pedas-manis. Olahan dari Kampoeng Timoer, yang dikenal membuat peyek dari kepiting, ini tak ada salahnya jadi oleh-oleh.

Dibuat dalam kemasan 100 gram, emping pedas-manis yang membuat mengemil sulit dihentikan ini dibanderol Rp 12 ribu. Bisa ditemukan di berbagai gerai oleh-oleh saat Anda meluncur ke bandara dari pusat kota Balikpapan atau di tempat pembuatannya langsung.

Peyek Kepiting Kampoeng Timoer

Jalan Strat 2 Nomor 30 RT 017

Balikpapan

Rita N.

Masyarakat Baduy Minta Pembatasan Kunjungan

Suasana Kampung Baduy

Masyarakat Baduy minta pembatasan kunjungan ke perkampungan mereka. Para tetua adat masyarakat suku ini meminta pemerintah membantu pembatasan sementara kunjungan masyarakat ke perkampungan Baduy di Desa Kenekes, Kabupaten Lebak, Banten. Selain karena situasi saat ini memang tidak kondusif, secara umum masyarakat Baduy juga ingin kondisi perkampungan mereka tetap lestari dan seimbang.

Masyarakat Baduy Minta Pembatasan, Pemerintah Setuju

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Keatif mendukung permintaan masyarakat Suku Baduy tersebut. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hari Santosa Sungkari, dalam kunjungannya ke Desa Kanekes, Sabtu 18 Juli 2020, mengatakan, pengunjung yang hendak berkunjung ke Desa Kanekes atau yang ingin berkunjung ke perkampungan Suku Baduy dalam harus menghormati dan mematuhi aturan adat yang sudah ada.

Indonesia, kata hari, menganut Sustainable Tourism. Pariwisata yang lestari dan berkelanjutan. Artinya semua pihak menjaga agar wisatawan tidak berjibun-jibun yang datang. “Dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan fisik dan budaya sehingga budaya itu tetap eksis, fisiknya tetap lestari,” kata Hari.

Dalam kesempatan tersebut, Perwakilan Suku Baduy, Uday Suhada, mengungkapkan keinginan Suku Baduy untuk mengganti istilah “Wisata Budaya Baduy” menjadi “Saba Budaya Baduy”. Istilah ini sebenarnya telah dicetuskan dan ditulis dalam Peraturan Desa (Perdes) Saba Budaya pada 2007. Namun, hingga kini tampaknya belum sepenuhnya dipahami masyarakat umum.

Saba, kata Uday, ini bermakna silaturahmi, saling menghargai dan menghormati antar adat istiadat masing-masing. Di atas itu semua, bersilaturahmi ini mengandung makna saling menjaga dan melindungi nilai-nilai yang berkembang dan hidup di masyarakat setempat dan masyarakat yang datang berkunjung. “Saling menghormati,” ungkap Uday.

Hal senada juga ditambahkan oleh salah seorang tetua adat Suku Baduy Dalam, Ayah Mursid. Ia meminta agar aturan Saba Budaya Baduy lebih diperjelas dan disosialisasikan dengan optimal. Ia menilai banyak pihak, terutama dari kalangan masyarakat umum yang masih awam dengan adat dan tradisi Baduy. Mereka dinilainya masih menilai perkampungan Baduy seperti layaknya perkampungan lainnya.

“Kami berharap saba budaya diperjelas aturannya. Mana saja rute yang boleh dan tidak boleh dilewati menuju Kampung Baduy, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikerjakan,” ujar Mursid.

Mursid juga memberikan masukan agar didirikan pusat informasi mengenai Suku Baduy di luar perkampungan adat. Sehingga, calon pengunjung yang ingin mendatangi Kawasan Adat Baduy bisa mempelajari terlebih dahulu apa saja adat istiadat yang ada serta menjelaskan tujuan kedatangannya.

Hal ini disambut baik oleh Hari. Ia mengatakan pihaknya akan menampung segala aspirasi yang telah disampaikan oleh para perwakilan tetua adat Suku Baduy.

Hari juga mempertimbangkan rencana pembuatan aplikasi sebagai pusat informasi dan sarana pendaftaran bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan Adat Suku Baduy.

Pusat inofrmasi itu nantinya bisa berbentuk aplikasi. Jadi siapa yang mau berkunjung, kapan waktu kedatangan, kalau sudah melebih batas pengunjung ini akan ada pemberitahuan atau notifikasi bahwa kapasitasnya sudah berlebih. “Sehingga tidak terulang lagi ada peristiwa ribuan orang berkunjung ke perkampungan Baduy, yang belum tentu mendatangkan manfaat,” tutur Hari.

Masyarakat Baduy
Masyarakat Baduy minta pembatasan kunjungan. Doc. Kemenparekraf

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan dukungan terhadap segala upaya pelestarian budaya Suku Baduy sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Pemerintah Daerah Lebak selama ini terus berkonsolidasi dengan masyarakat Suku Baduy dalam upaya Saba Budaya Baduy.

Saat ini, menurut Bupati Iti, pihaknya sedang dalam proses penyedian lahan di dekat perkampungan Baduy untuk dijadikan sebagai Information Center agar wisatawan lebih mengetahui bagaimana budaya Baduy pada umumnya dan informasi kegiatan Saba Baduy pada khususnya. “Sebelum mereka masuk ke Perkampungan Baduy,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian; Kapolres Lebak Ajun Komisaris Besar Polisi Firman Andreanto; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin; Kepala Desa Kanekes Jaro Saija, serta sejumlah tetua adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Acara ini diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer bagi Suku Baduy sebagai simbol keikutsertaan masyarakat Baduy dalam program perlawanan pada pandemi Covid-19.

****

Rumah Jenderal Nasution, Museum 1 Oktober

Rumah Jenderal nasution menjadi saksi peristiwa 30 September 1965.

Rumah Jenderal Nasution masih jarang dikunjungi orang, baik warga Jakarta, maupun pengunjung dari daerah lain. Padaal museum kecil ini menjadi saksi peristiwa malam 30 September, di mana seorang anak kecil menjadi korban. Jadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa.

Rumah Jenderal Nasution

Matahari sudah meninggi. Rumah besar dan berhalaman luas di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat, itu terlihat sepi. Dari balik pagar, patung Jenderal Abdul Haris Nasution kokoh berdiri. Bagi yang sering atau setidaknya pernah melintasi jalan ini mungkin tak mengira bahwa di rumah ini sebuah peristiwa tragis pernah terjadi.

Ya, tepatnya pada 1 Oktober 1965. Saat hari masih terlalu pagi, sekitar pukul 04.00 WIB, sejumlah tentara Cakrabirawa merangsek ke kediaman Abdul Haris Nasution, yang akrab disapa Pak Nas.

“Mereka melepaskan enam kali tembakan tepat ke kamar Pak Nas,” kata Sersan Mayor Afrianto, yang menemani kami siang itu. Empat peluru mengenai tubuh Irma Suryani Nasution, anak bungsu Pak Nas. Sedangkan dua peluru lagi melukai tangan Mardiah, adik Pak Nas, yang saat itu tengah menggendong untuk menyelamatkan Ade—panggilan akrab Irma Suryani Nasution. Ade memang sempat dirawat di RSPA Gatot Subroto, Jakarta, selama 6 hari. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong. Pada 6 Oktober 1965, Ade Irma Suryani Nasution, yang masih berusia sekitar 5 tahun, mengembuskan napas terakhir.

Peristiwa mengerikan yang terjadi pada 55 tahun silam itu sepertinya masih terlihat jelas di kamar Pak Nas. Kamar tempat Ade sering tidur bersama kedua orang tuanya. Lubang tembakan peluru di daun pintu dan dinding kamar pun masih membekas. Letak tempat tidur, meja, kursi, serta lemari masih dibiarkan pada posisi awal. Hanya ada tambahan diorama Pak Nas yang berkemeja putih dan kain sarung.

“Sejak 3 Desember 2008, kediaman Pak Nas ini resmi menjadi museum,” ucap Kepala Museum Jenderal Besar A.H. Nasution, Kapten ARH Dwi Prasetianto. Bentuk bangunan utama tidak mengalami perubahan. “Dibiarkan sama sejak peristiwa 1 Oktober 1965.”

Pintu utama merupakan pintu masuk menuju ruang tamu tempat Pak Nas biasa menerima tamu, baik dari kalangan militer, kerabat, maupun masyarakat. Di ruang tamu ini terpampang beberapa foto Pak Nas saat menjabat Panglima Divisi Siliwangi, KSAD, dan Menkonhankam.

Lebih dalam lagi, terdapat ruang kerja lengkap dengan rak buku di belakangnya. Terlihat diorama Pak Nas sedang menulis di ruangan ini. Di ruangan ini pula, konon, ide dan buah pikiran Pak Nas dituangkan ke dalam bentuk buku yang tersimpan di etalase ruangan.

Sementara itu, di seberang ruang kerja, terdapat satu ruangan berwarna serba kuning, yang disebut sebagai “ruang kuning”. Ruangan memang didominasi warna kuning. Entah itu meja, sofa, gorden, ataupun dindingnya, semua memakai warna kuning. Ruangan ini digunakan Pak Nas untuk menerima tamu-tamu VVIP (very very important person).

Di samping ruang kuning, terdapat kamar yang dijadikan ruang senjata yang menyimpan koleksi senjata sang pemilik. Sejatinya, kamar ini dulu merupakan kamar putri sulung Pak Nas yang bernama Hedrianti Sahara Nasution. Di seberang ruang itu terdapat kamar tidur Pak Nas yang menjadi saksi bisu tertembaknya Ade Irma.

Di kamar ini terhubung kamar yang biasa diisi tamu. Namun kamar itu kini berisikan diorama Pak Nas saat melompati tembok ke Kedutaan Besar Irak untuk menyelamatkan diri dari usaha pembunuhan. Pintu luar kamar ini memang menuju tembok samping yang berbatasan dengan Kedutaan Irak.

Menurut Afrianto, Pak Nas, yang sudah berada di atas tembok, berniat hendak turun lagi untuk memberi pertolongan dan perlawanan setelah melihat Ade Irma tertembak. Tapi Johana Sunarti Nasution, istri Pak Nas, melarangnya dan memohon kepada Pak Nas untuk segera menyelamatkan diri.

Di samping kamar Pak Nas inilah sebenarnya kamar tidur Ade. Dalam kamar itu terdapat sebuah lemari kaca yang memuat gaun dan seragam tentara milik Ade. Di sebelah lemari terpampang sebuah foto Ade Irma dengan tulisan yang digoreskan oleh ibunya. Di sana tertera kata-kata yang diucapkan Ade sebelum akhirnya meninggal. “Ade sayang Mama. Ade sayang Papa. Tapi kenapa Ade ditembak? Salah Ade apa, Ma?”

Di depan kamar Ade terdapat ruang makan. Di ruangan ini ada patung Johana atau Bu Nas sedang menggendong Ade yang terluka parah karena tembakan di hadapan lima tentara bersenjata lengkap. Tangan Ade terlihat melingkari leher ibunya. Adegan ini membuat bulu kuduk saya berdiri. Membayangkan betapa kuatnya Bu Nas menghadapi para tentara yang sudah siap membunuh suaminya.

Di samping kanan bangunan utama terdapat semacam paviliun. Dulunya merupakan kamar ajudan yang salah satunya ditempati Letnan Satu Czi Pierre Tendean. Sang ajudan inilah yang kemudian diangkut ke Lubang Buaya dan gugur sebagai perisai bangsa. Kini bangunan itu berisikan diorama Pierre Tendean ketika menghadapi todongan senjata para tentara Cakrabirawa.

Kisah tragis ini berhasil membawa saya tenggelam pada masa 50 tahun lalu. Di rumah 1 Oktober ini pula lagu Ade Irma karya A.T. Mahmud melayang-layang dalam ingatan.

Akan kuingat selalu Ade Irma Suryani

Waktu dipeluk dipangku ibu

Dengan segala kasih

Kini ia terbaring di pangkuan Tuhan

Senang dan bahagia hatinya

Kini ia terlena tertidur terbaring

Nyenyak di pelukan Tuhannya

Andry T./Subekti/TL/agendaIndonesia

*****

Prambanan Jazz Online 2020, Inovasi Industri Kreatif

Prambanan Jazz Online 2020

Prambanan Jazz Online 2020 digelar Rajawali Indonesia Sabtu 18 Juli 2020. Acara ini sejatinya merupakan pengembangan dari Prambanan Jazz Festival yang sudah diselenggarakan sejak 2015.

Prambanan Jazz Online 2020

Anas Syahrul Alimi, selaku Founder Prambanan Jazz Festival sekaligus CEO Rajawali Indonesia, mengatakan bahwa Prambanan Jazz Festival merupakan acara tahunan yang berlangsung sejak 2015. Tahun ini karena terdampak pandemi COVID-19 pelaksanaannya harus diundur.

Event ini, yang semula direncanakan pada 3 hingga 5 Juli 2020, terpaksa dijadwalkan ulang ke tanggal 30, 31 Oktober, dan 1 November 2020. Namun, agar gaungnya tetap ada, acaranya dikembangkan ke bentuk daring terlebih dahulu.

Pandemi merupakan tantangan baru bagi dunia khususnya di industri hiburan, sehingga semua dituntut untuk belajar dan berinovasi. “Prambanan Jazz Online ini sebagai salah satu jawaban dari tantangan itu kemudian mengemas konser secara online,” kata Anas. 

Meskipun menggunakan nama Prambanan jazz Online 2020, pelaksanaannya tetap dilakukan secara offline. Artinya acara dan penampil tetap tampil di venue, dalam hal ini di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta.

Prambanan Jazz Online Rio
Rio Febrian dalam Prambanan Jazz Online 2020. Doc. Kemenparekraf

Menurut Anas, berjarak bukan berarti jauh tetapi memberi ruang untuk mempersiapkan diri kembali. Ia berjanji untuk melakukan perbaikan demi bisa menyuguhkan konser yang tidak hanya menghibur tetapi juga membekas di hati penikmat musik jazz. 

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengapresiasi penyelenggaraan konser Prambanan Jazz Online sebagai wujud inovasi dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19. 

Prambanan Jazz Online yang berlangsung pada Sabtu lalu menjadi konser musik virtual pertama di Indonesia yang disiarkan secara langsung dari Candi Prambanan. Acara ini digelar sengan menghadirkan penampilan dari sejumlah musisi, di antaranya Rio Febrian, Frau, dan Langit Sore.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani menyambut baik pelaksanaan kegiatan Prambanan Jazz Online. Hal ini menunjukkan semangat dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya dan menciptakan kreativitas tanpa batas di masa pandemi ini. Yakni dengan memadukan kreativitas dengan teknologi sebagai solusi. 

“Apresiasi kepada penyelenggara atas upaya dan kerja kerasnya untuk tetap melaksanakan kegiatan ini secara online sebagai cara membangkitkan antusiasme audiens bahwa konser tetap bisa dinikmati di situasi pandemi melalui daring. Dengan pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bekerja kembali para pelaku event yang sebelumnya terhenti akibat pandemi COVID-19,” kata Rizki Handayani.

Rizki Handayani menjelaskan, konser musik virtual tetap diselenggarakan dengan selalu memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan kepada seluruh tim produksi dan penampil. Suguhan dari para penampil itu kemudian disiarkan secara live streaming sehingga dapat dinikmati penonton dari rumah. 

Tercatat, Prambanan Jazz Online yang berlangsung sekitar 120 menit ini diikuti kurang lebih 20 ribu penonton dari rumah.

Rizki berharap pandemi COVID-19 ini segera berakhir, sehingga keadaan bisa kembali normal. Dan pada saat yang sulit seperti saat ini Kementrian mengajak seluruh pihak terdampak pandemi untuk bergotong royong dan saling menguatkan. “Ini agar kita semua tetap dapat menjalankan kreativitas di masa yang akan datang,” kata Rizki.

Dalam kaitan itu, Anas lantas menambahkan, dalam acara Prambanan Jazz Online ini pihaknya juga mengadakan donasi untuk pekerja event dan seni terdampak pandemi COVID-19. “Khususnya di wilayah Yogyakarta,” kata Anas. 

****

De Tjolomadoe, Masih Manis Seperti Tahun 1861

De Tjolomadoe, bekas pabrik gula sejak 1861 kini diubah menjadi museum.

De Tjolomadoe bagi masyarakat Surakhttps://www.agendaindonesia.com/sate-buntel-solo-2-tusuk-serasa-10-tusuk/arta, Jawa Tengah, identik dengan pabrik gula. Tidak salah, sebab sejak 1861, Tjolomadoe atau dulu dikenal menuliskannya Colomadu, memang merupakan tempat memproduksi gula pasir tebu. Namanya kini memang menjadi De Tjolomadoe. Sebuah museum dan destinasi wisata unggulan di sekitar Surakata.

De Tjolomadoe

Awalnya ia bernama Pabrik Gula Colomadu yang didirikan pada 1861 di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV. Tahun 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur. Dinamakan Colomadu karena memiliki arti gunung madu. Ini yang menjadi pijakan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV, raja masa penjajahan Belanda yang memiliki jiwa bisnis atau wiraswasta untuk mendirikan pabrik gula (PG) Colomadu di Desa Malangjiwan pada 1861.

De Tjolomadoe dari pabrik gula merevolusi menjadi museum destinasi wisata unggulan.
Salah satu sisi bangunan De Tjolomadoe saat ini. Foto: Dok. shutterstock


Mengubah sebuah pabrik gula menjadi museum tentu tidak mudah. Bahkan di saat awal rencana mengubah pabrik ini banyak isu berseliweran. Misalnya, ada kabar angin Colomadu akan diratakan, dan sebuah superblok modern siap menggantikannya.

Pabrik gula itu sebenarnya memang sudah berhenti berproduksi sekitar dua dekade ketika diputuskan untuk tak lagi beroperasi, yakni pada 1997 saat dikelola PTPN IX. Maka pabrik gula itu pun ‘mangkrak’.

Pada 1997, ketika berhembus kabar pabrik beralih tangan, nasib bangunan pabrik yang tersisa pun terancam hal sama. Pabrik yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini, pada seakan menunggu keruntuhannya untuk kedua kalinya.

Bagi masyarakat Surakarta, pabrik ini bukan sekadar bangunan. Ada pusara Nyi Pulungsih di tengah perkampungan, tak jauh dari pabrik. Ia adalah salah satu selir KGPAA Mangkunegara IV yang bertakhta pada 1853-1881. Sang selir diyakini berperan penting, terutama dalam urusan finansial, dalam membantu suaminya mendirikan usaha agroindustri itu pada 1861.

Dikenal sebagai perempuan peranakan Tionghoa, Nyi Pulungsih tidak diketahui nama lahirnya. Colomadu adalah nama yang disematkan sang raja, yang berarti limpahan madu. Orang Jawa di masa itu lazim mengidentikkan rasa manis dengan sebutan madu.

Sebagai balas jasanya, setiap tahun digelar cengbeng—tradisi ziarah dan jamasan (mencuci) makam sang selir sebelum memulai musim giling. Hal yang sama juga dilakukan pada Monumen Mangkunegara IV yang berdiri di depan gerbang pabrik.

Colomadu mulai berproduksi dua tahun setelah didirikan. Waduk Cengklik yang berjarak 10 kilometer di sebelah barat laut pabrik-lah yang mengairi lahan tebu di sekitarnya. “Manis”-nya Colomadu menggoda sang empunya, sehingga sebuah suiker fabriek didirikan lagi pada 1871 yang berlabel Tasikmadu, yang juga masih di Karanganyar. Sekali lagi R. Kampf, seorang insinyur Jerman, dipercaya menjadi juru bangunnya.

Ketika terjadi peralihan kekuasaan, Mangkunegara V yang bertakhta pada 1881-1896 ternyata tak selihai pendahulunya. Beberapa cerita menyebut ia bukan raja yang cakap. Yang lain menganggapnya sebagai hedonis penghambur harta. Bahkan Colomadu yang menjadi aset kerajaan sempat dikelola VOC untuk membayar utang.

Saat kembali terjadi suksesi kekuasaan, misi penyelamatan pun digelar. Mangkunegara VI yang berkuasa pada 1896-1916 melakukan penghematan akbar. Upah pekerja dipotong. Konon ia sendiri juga memotong haknya sampai nyaris setengah. Kebijakan yang kontroversial, namun ternyata keputusan itu jitu. Colomadu tak lagi tercekik utang.

Politik bergolak pascaproklamasi di banyak wilayah, termasuk di Jawa Tengah. Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta dihapus lalu dilebur dalam Dewan Pertahanan Daerah Surakarta. Perubahan drastis ini turut berimbas pada aset Mangkunegaran.

Pada 1947 pemerintah Republik mengeluarkan peraturan tentang Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI). Mulai saat itu Colomadu dan Tasikmadu berada di bawah kuasa Republik. PPRI sendiri adalah cikal BUMN PT Perkebunan (PTPN).

Di luar perubahan admisitrasinya, usia uzur mereduksi daya dua bersaudara pabrik gula itu. Kelangkaan onderdil dan mahalnya biaya perawatan membuat salah satunya harus dikorbankan. Colomadu terpilih karena luas lahan tebu di sekitarnya menciut drastis. Mayoritas berubah menjadi sawah dan permukiman. Musim giling terakhir pada 1997 adalah pamungkas. Setelah itu banyak mesin dibongkar dan dibawa ke Tasikmadu sebagai suku cadang.

Yang tersisa kemudian hanyanya bangunan utama pabrik dan beberapa bangunan lain, seperti garasi lori, menara air, rumah kepala masinis lori, dan Ndalem Besaran. Yang disebut terakhir ialah rumah kepala administratur alias direktur. Griya besar ini sempat menjalani perbaikan dalam rangka pengambilan gambar sebuah film.

Bangunan itu lebih mujur daripada deretan rumah tak terurus di depan pabrik yang dulu dihuni para pejabat pabrik. Bagian dalam pabrik juga tak lebih baik. Besi rongsok dan serpihan material adalah warisan utama sekaligus saksi bisu kejayaan masa lalu. Lebih mirip lokasi uji nyali.

Aset negara yang pernah berjaya itu mangkrak hampir 20 tahun, sebelum kemudian Kementerian BUMN menugaskan empat BUMN untuk berkongsi membentuk PT Sinergi Tjolomadoe. Tugasnya mengubah fungsi bekas pabrik gula itu menjadi Museum De Tjolomadoe pada 2017.

De Tjolomadoe peninggalan Mangkunegara IV kini diubah menjadi museum pabrik gula.
Bekas mesin refinery air tebu di Colomadu. Foto: dok. shutterstock


Kini halaman depan pabrik dijadikan area kebun bunga berwarna-warni. Dinding dinding pabrik diwarnai kuning gading sehingga tampak cerah dan bersih. Sementara area dalam pabrik penggilingan dijadikan area museum gula. Mesin-mesin penggilingan berukuran raksasa berjajar rapi dan masih terlihat kokoh.

Sedang area Stasiun Ketelan disulap menjadi pusat kuliner, dengan stand-stan yang menawarkan beragam jenis makanan dan minuman. Stasiun Penguapan menjadi area arcade, dan Stasiun Karbonasi menjadi area kesenian dan kerajinan.

Selain itu, di dalam bekas pabrik gula ini juga terdapat restoran berdesain interior yang instagramable, sehingga cocok untuk berswafoto. Begitu halnya di luar ruang, persisnya di bagian timur kompleks, wisatawan juga diberi tempat swafoto di depan cerobong asap yang menjulang ke langit.

De Tjolomadoe kini kembali manis. Ia menjadi destinasi wisata yang kembali membuat bangga warga Surakarta. Lokasinya yang dekat dengan bandara dan juga pintu exit tol, menjadikan wisawatan mudah mengunjungi.

TL/agendaIndonesia

*****

4 Hari di Seputar Belitung Yang Mengasyikan

Senja Liburan 4 hari di Belitung

Bisa 4 hari di seputar Belitung? Liburan mendadak ternyata bisa juga dibikin seru. Meski tiket pesawat dan harga sewa kendaraan roda empat tinggi,  karena pilihannya adalah 4 hari di seputar Belitung, ganjalan dana itu seperti terkikis. Maklum, empat hari di pulau, yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ini benar-benar mengasyikkan.  Bagi saya dan banyak turis, bisa jadi liburan ini nmerupakan liburan yang ingin diulang kembali.  Apalagi pilihannya tak melulu pantai, tapi juga jejak film Laskar Pelangi, bukit hijau, dan tentu sajian kuliner.

4 Hari di Seputar Belitung: Belitung Timur Hari 1

Hari Pertama: Belitung Timur

Penerbangan pendek selama 45 menit ke Tanjung Pandan sungguh tak terasa. Lubang-lubang bekas galian tambang tampak dari atas, tersebar di mana-mana. Pengemudi yang siap mengantar saya rupanya sudah menunggu di pintu ke luar Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Ketika kendaraan bergerak, saya menemukan jalan yang mulus dan sepi, tanah kering, serta rumah dengan jarak berjauhan. Hal ini menjadi pemandangan pertama yang saya lihat. Saya berencana menghabiskan waktu empat hari di pulau ini. “Enak itu, kalau cuma tiga hari, keburu-buru banget,” ucap Iqbal, yang menjadi pengemudi merangkap pemandu wisata.

Iqbal menyarankan tujuan wisata hari pertama ialah ke Belitung Timur (Beltim). Setelah melahap ilak bakar, sajian ikan bakar khas pulau dengan tumis kangkung, saya pun berangkat. Perjalanan ditempuh sekitar 1-1,5 jam. Kunjungan pertama ialah ke sekolah, tempat syuting Laskar Pelangi. Kemudian, mampir ke Museum Kata-kata Andre Hirata sembari menikmati kopi kuli.

Keasyikan menikmati kopi, akhirnya kunjungan ke Pantai Burung Mandi batal karena hari sudah terlalu sore. Namun bila Anda punya waktu panjang, tentu jangan dilewatkan. Akhirnya, saya pun kembali ke Tanjung Pandan.

Hari kedua: Tanjung Kelayang & Tanjung Tinggi

Pantai Kelayang salah satu pantai selama 4 hari liburan di Belitung
Pantai Kelayang dalam 4 hari di seputar Belitung

Hari kedua, saatnya melaut. Saya berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan pertama ialah Tanjung Kelayang dan pemilik perahu sudah menelepon. Ia sudah siap mengantar keliling pulau. Pagi yang hening, kendaraan melaju di jalan aspal yang mulus. Tak lama, anak panah ke Pantai Tanjung Kelayang pun tampak. Saya melihat area parkir sudah penuh. Maklum, musim liburan.

Kemudian, saatnya berputar-putar di laut, mulai dari Pulau Pasir, yang hanya berupa seonggok pasir, tempat saya menemukan sejumlah bintang laut, hingga  Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menonjol. Saatnya snorkeling! Setelah lelah mengambang di air, saatnya beranjak. Pengemudi kapal menyarankan untuk tidak membersihkan diri di Pulau Lengkuas, tapi di Pulau Kepayang, sekalian menikmati makan siang.

Rekomendasi yang tepat. Begitu mendekati pulau yang juga disebut Pulau Babi itu, suara musik terdengar nyaring. Rupanya, hanya ada satu restoran di sana. Setelah membilas badan, saatnya kembali menikmati ikan bakar dan tumis kangkung. Benar juga, di pulau ini air di kamar mandi bersih. Meski ada beberapa kamar mandi , tetap harus antre karena jumlah turis membludak.

Di Pulau Kelayang, selain ada penangkaran penyu, ternyata ada penginapan dan bisa menjadi pilihan bagi turis yang ingin menyepi. Perut kenyang, saatnya menyinggahi pulau-pulau lain yang ternyata meski sama-sama penuh dengan batu, bentuknya berbeda-beda.  Misalnya Pulau Batu Belayar dan Pulau Burung, hingga akhirnya kembali berlabuh di Tanjung Kelayang. Saya berniat menyisakan sore untuk menikmati mentari tenggelam di Tanjung Tinggi.

Tiba di Tanjung Tinggi, area parkir penuh lagi. Kondisi cukup ramai karena saya datang di masa liburan. Karena terlalu ramai, waktu kunjungan pun dipersingkat. Lebih baik beristirahat dulu karena kami ingin menikmati makan malam di Pantai Tanjung Pendam yang berada di pusat kota.

Hari Ketiga: Bukit Mentas, Bukit Berahu, dan Icip-icip

Hari ketiga, dicoba pilihan wisata bukan pantai. Tujuan wisata ialah Bukit Mentas, dengan suasana hutan dan sungai yang juga penuh bebatuan. Saya menemukan  Tarsius , si monyet mini  dalam kandangnya. Sore hari, akhirnya kembali ke pantai. Pilihannya ialah Pantai Bukit Berahu di Tanjung Binga dengan restoran di atas  bukit, serta pantai di bawahnya dengan deretan cottage.  Pantai ini berpasir putih nan bersih. Akhirnya, tercapai juga merekam keindahan senja.

Malamnya, hidangan Belitung  jadul di Restoran Belitong Timpo Duluk, Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan menjadi pilihan icip-icip. Hidangan yang sudah jarang dijumpai di pulau ini pun terpapar di meja dengan interior unik. Dinding-dinding dipenuhi perangkat tempo dulu dan benda-benda jadul lainnya.

Hari keempat: Warung Kopi Kong Djie dan Danau Kaolin

Hari terakhir, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya menyeruput kopi di Warung Kopi Kong Djie di Jalan Siburik, Tanjung Pandan. Warung ini didirikan pada 1945 dan menawarkan hidangan kopi serta kopi susu. Ada juga teman minum kopi berupa gorengan. Dilanjutkan menuju toko oleh-oleh, membeli  terasi, aneka kerupuk ikan, juga berbagai sambal khas dari ikan laut.

Persinggahan terakhir adalah Danau Kaolin di Desa Air Raya, yang jalurnya searah dengan perjalanan ke bandara. Danau terbentuk karena galian penambangan kaolin, yang akhirnya menciptakan lubang besar. Airnya terlihat berwarna biru tosca , sedangkan sekelilingnya berupa lahan putih. Tampilan warna ini menciptakan kontras. Tentu menggoda untuk menjadikannya obyek foto. Setelah berfoto, perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Kemudian, mengucapkan “Selamat Tinggal Belitung!”

Naskah & Foto: Rita N/TL

3 Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Masuki Normal Baru

Candi Borobudur

Tiga kawasan Candi: Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko mulai dibuka untuk umum dengan menjalankan protokol kesehatan era normal baru.

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) (PT TWC)  selaku pengelola kawasan Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko menjalankan protokol kesehatan untuk memasuki era normal baru. Pengelola 3 candi ini sudah melakukan simulasi penerapan protokol kesehatan sejak 1 Juli 2020.

Berdasar informasi dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para wisatawan yang akan berkunjung diatur mulai dari tempat kedatangan hingga pintu keluar Kawasan Candi Borobudur dan Ratu Boko. Papan-papan informasi tentang tata cara pencegahan COVID-19 juga terpasang diberbagai sudut kawasan. Mulai dari penggunaan masker, cuci tangan, juga pemberlakuan social distancing (penjarakan sosial) maupun physical distancing (penjagaan jarak antarorang). 

Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan kawasan Ratu Boko senantiasa menjadi saksi bisu tentang zaman yang terus-menenus berganti. Bahkan betapa pandemi telah mengubah cara manusia dalam memandangnya sebagai sebuah destinasi wisata.

Ke tiga kawasan wisata ini telah melewati beragam zaman, ribuan generasi, berabad lamanya menyaksikan perubahan yang tak pernah berhenti. Hingga lahir era normal baru sebagai adaptasi atas pandemi.

Protokol Kesehatan Candi Borobudur

Pintu Masuk Candi Borobudur
Pemeriksaan suhu di pintu masuk Candi Borobudur

Normal baru yang mengharuskan semua pihak untuk wajib memperhatikan protokol kesehatan, termasuk bagi yang ingin berkunjung ke dalamnya. Protokol kesehatan yang mengutamakan kebersihan, kesehatan dan keamanan juga diterapkan secara ketat di Kawasan Candi Borobudur yang berada di Jawa Tengah, Candi Prambanan yang berada di Jawa tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta (DIY),  dan kawasan Candi Ratu Boko di DI Yogyakarta.

Sejumlah protokol kesehata yang dijalankan, misalnya saat hendak masuk kawasan, wisatawan akan dicek suhu tubuhnya terlebih dahulu. Bagi wisatawan dengan suhu di bawah 37,5 derajat diberi stiker warna hijau, kemudian pengunjung dengan suhu di atas 37,5 sampai 37,8 derajat diberi stiker warna kuning. Untuk pengunjung dengan suhu di atas 37,8 akan diberi stiker warna merah.

Sebelum sampai lokasi pembelian tiket, wisatawan dianjurkan untuk cuci tangan dan melewati ruang atau bilik suci hama (disinfection chamber) yang aman bagi pengunjung. Loket-loket tiket masuk masih dibuka, hanya saja wisatwan yang hendak membeli tiket melakukannya dengan antrian sesuai protokol jaga jarak.

Untuk pembelian tiket, wisatawan juga dianjurkan untuk menggunakan metode nontunai. Begitupun, pengelola juga masih melayani bagi para wisatawan yang akan membeli tiket dengan cara tunai. Selain pembelian secara langsung, calon pengunjung juga bisa membeli tiket secara online melalui situs ticket.borobudurpark.com.

Setelah mendapatkan tiket, pengunjung bisa memasuki kawasan candi yang dibuka dari pukul 08.00–16.00 WIB, sedangkan Ratu Boko beroperasi dari pukul 09.00–16.00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut ada jeda istirahat selama satu jam untuk membersihkan semua peralatan protokol kesehatan yang telah digunakan oleh wisatawan.

PT TWC memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung maksimal 1500 pengunjung setiap harinya. Ini adalah 25 persen dari kapasitas kunjungan setiap harinya. Sedangkan untuk wisatawan yang ingin melihat lebih dekat Candi Borobudur hanya diperbolehkan sampai plataran candi atau Zona 1 yang dibatasi sebanyak 140 pengunjung per jam.  

Wisatawan juga bisa mengeksplorasi keindahan kawasan candi dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda yang disewakan pihak pengelola atau berkeliling yang lebih dikenal dengan sebutan “Tayo” dan dibandrol seharga Rp15 ribu perorang.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengajak seluruh pihak, termasuk masyarakat dan industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk turut serta dalam kampanye “Indonesia Care” dengan melaksanakan pengelolaan tempat usaha dan wisata yang memastikan sanitasi, higienitas, dan pelayanan tanpa kontak langsung. 

Pelaksanaan protokol sangat penting dan strategis untuk dilaksanakan sebaik-baiknya dengan melibatkan pengusaha, konsumen, dan masyarakat. 

Dengan upaya ini diharapkan sektor yang sudah dibuka dan yang akan dibuka siap melaksanakan protokol kesehatan dengan baik. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bisa kembali bergerak dan produktif, namun tetap aman dari COVID-19. 

“Sehingga saat nantinya sudah ada keputusan untuk kembali dibukanya satu destinasi, kegiatan di dalamnya dapat berlangsung dengan baik namun tetap aman dari COVID-19,” kata Wishnutama. 

****

Goyang Lidah ala Temanggung, 5 Yang Unik

Goyang lidah ala temanggung, Jawa Tengah di antaranya ada sego gono.

Goyang lidah ala Temanggung mungkin belum banyak yang hapal luar kepala. Maklum, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah masih belum menjadi destinasi utama. Kota kecil ini biasanya cuma dilewati jika orang hendak menuju Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng.  

Goyang Lidah ala Temanggung

Temanggung mungkin lebih dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Ya, sebagai penikmat kopi, Temanggung tentu tak asing. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopinya juga dipertimbangkan masyarakat dunia saat berhasil masuk delapan besar festival kopi di Swedia dan dipamerkan di pergelaran bertajuk Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta, Amerika Serikat. 

Menyeruput secangkir kopi tentu lebih nikmat jika dipadu dengan camilan, entah ringan maupun berat. Dan Temanggung punya punya padanan untuk kopinya. Tertarik? Ini ada 5 yang bisa jadi pilihan.

Sego Gono

Inilah makanan khas Temanggung yang kini jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, penganan ini bisa ditemukan di perhelatan tertentu. Sego gono disajikan ala kadarnya, tapi cita rasanya sama sekali tak sekadarnya. Nasi kukus berbumbu ini dilengkapi mbayung (daun lembayung, daun dari kacang panjang), kubis, tempe, teri, kacang, dan parutan kelapa muda. Aromanya begitu menggoda. Saat disantap hangat-hangat, rasanya jempolan.

Bila ditambahkan ikan asin goreng atau rempeyek, hmm… semakin enak. Kenikmatan ini bisa jadi timbul karena kesungguhan juru masaknya. Bisa juga karena menggunakan dandang gerabah dan kukusan bambu. Atau bisa jadi karena teknik mengukus dengan memperhatikan urutan, seperti nasi-sayuran-nasi-sayuran-dan seterusnya. Tak perlu merogoh kantung lebih dari Rp 5 ribu untuk dapat menikmati seporsi sego gono.

Pasar Papringan; Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kabupaten Temanggung

Pasar Entho; Jalan Diponegoro, Parakan,Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung masih jarang ditengok orang, padahal banyak yang bisa jadi teman ngopi.
Kupat tahu dari Temanggung hampir mirip dengan saudaranya di Magelang. Foto: Dok. shutterstock

Kupat Tahu

Jarak Magelang ke Temanggung tak lebih dari satu jam perjalanan. Tak ayal,  kulinernya pun terpengaruh. Salah satunya ditandai dengan keberadaan kupat tahu. Penganan ini berisi potongan ketupat, tahu goreng, dan tauge, sama seperti yang disajikan di Magelang.

Selain itu, seporsi kupat tahu dilengkapi dengan bakwan sayur, potongan kol, cincangan kubis atau seledri, guyuran bumbu kacang setengah cair dengan rasa lebih manis dan gurih–karena dipadukan dengan gula merah cair, dan bawang goreng. Nah, seporsi kemewahan kupat tahu yang disajikan diganjar tak lebih dari Rp 15 ribu. 

Kupat Tahu Batoar; Jalan Gilingsari Pandean, Kabupaten Temanggung

Bakso Lombok Uleg

Bakso seoertinya hanya sajian biasa. Namun, di Temanggung, lain ceritanya. Ada bakso lombok uleg yang dikenal sejak 1950-an dan telah melekat dengan daerah tersebut. Tak sulit ditemukan. Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer arah timur Alun-alun Temanggung, tepat di ruas Jalan Sudirman. Warung Bakso Lombok Uleg Pak Di, demikianlah warung itu dikenal.

Seporsi bakso lombok uleg seharga Rp 14 ribu terlihat punya tampilan berbeda. Hal yang pertama dilakukan penjual setelah pelanggan memesan menu adalah menghaluskan (uleg, dalam bahasa Jawa) cabai rawit di mangkuk. Tingkat kepedasannya dapat disesuaikan, yakni lima cabai untuk kategori sedang dan sepuluh cabai untuk kategori pedas. Setelah itu, potongan-potongan ketupat, tahu, dan bakso dimasukkan, lantas  disiram kuah kaldu panas. Pelengkapnya adalah kecap, bukan saus atau sambal.

Bakso Lombok Uleg Pak Di; Jalan Sudirman Nomor 48 A, Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung ternyata banyak ragamnya, dari yang berkuah atau berbumbu kacang.
Pecel khas Temanggung dengan daun selada air. Foto: Dok. shutterstock

Pecel Kenci Pikatan

Jika ingin menikmati olahan selada air atau kenci–sebutan masyarakat Temanggung untuk selada air, seporsi pecel kenci Pikatan bisa jadi jawabannya. Di Pelataran Parkir Pikatan Water Park yang berada sekitar 3 kilometer arah tenggara pusat Kota Temanggung, beberapa warung makan sederhana menyajikan menu itu. Kenci Pikatan disajikan bersama mi kuning dan bumbu kacang yang sudah ditumbuk halus dengan tingkat pedas sesuai dengan selera. Seporsi pecel mi dihargai Rp 6 ribu. Bila tambah nasi putih, harganya menjadi Rp 10 ribu. 

Meski tampilannya biasa, manfaat mengkonsumsi kenci tidak main-main. Selain kaya akan kandungan vitamin sayuran rendah kalori ini mengandung fitonutrien alami yang berperan sebagai antioksidan. 

 Pecel Kenci Pikatan; Pikatan Water Park; Jalan Raya Pikatan Mudal, Kabupaten Temanggung

Jajan Pasar Temanggung

Bila singgah di Pasar Entho yang berjarak sekitar 10 kilometer arah barat laut dari Kota Temanggung, kemungkinan Anda akan teringat dengan Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, Semarang. Meski barang dagangan yang dijajakan berbeda, penampakannya hampir sama. Lantas, apa yang membuat Pasar Entho ini istimewa? Bisa jadi karena beragam penganan tradisional khas Temanggung yang dijual di sini, mulai Rp 1.000. 

Sebut saja entho cotot (singkong yang telah dihaluskan, kemudian diisi gula pasir dan digoreng), ndas borok (terbuat dari parutan singkong/ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), pipis kopyor (berisikan roti tawar, pisang, kelapa kopyor, dilengkapi kuah santan), cetot (singkong yang digiling halus kemudian dicampur dengan kelapa parut sebelum dikukus, dimakan bersama srundeng manis), ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), buntil daun lumbu (daun talas yang diisi dengan teri, petai Cina, tempe, kelapa parut), dan masih banyak lagi.

Pasar Entho; Jalan Dipenogoro, Parakan, Kabupaten Temanggung

TL/agendaIndonesia

*****

Asyiknya Menikmati Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

sarapan tradisional Bangkalan menjadi lebih mudah sejak adanya Jembatan Suramadu.

Gelap sudah membayang ketika saya masuk Surabaya di malam hari, Ibu Kota Jawa Timur, dari arah Madura. Selepas Jembatan Suramadu, cukup lama saya menghabiskan waktu di Masjid Sunan Ampel. Jadilah masa lalu Surabaya menyambut dalam temaram, apalagi saat memasuki kawasan gudang-gudang tua. “Ini kawasan Pecinan,” ujar sang pengemudi yang mengantar. Ia pun mengajak berputar, tapi yang ada kegelapan. Jalan Gula, Jalan Karet, hingga Jalan Kembang Jepun, lokasi adanya Kya Kya Surabaya yang memperlihatkan gedung-gedung berpulas abu-abu tak terawat.

Meski kawasan Pecinan lebih banyak dipenuhi gedung-gedung lawas tak terawat, tapi pada pagi dan siang hari kawasan itu menjadi sasaran para pencinta foto, baik mereka yang amatiran maupun fotografer profesional. “Mbak mungkin harus lihat besok pagi,” ujar sang pengemudi memecah keheningan.

Masa Lalu Surabaya

Nah, dari kawasan Pecinan, saya melewati Jembatan Merah. Jembatan yang menghubungkan jalan Kembang Jepun dan jalan Rajawali ini, menjadi saksi dari kisah heroik para pejuang Indonesia melawan kaum kolonial. Jembatan diberi penerangan cukup hingga terlihat menawan di malam hari. Lampu-lampu pun terlihat lebih bertebaran di seberang jembatan. Melintasi jalan tersebut, saya mengenang kisah Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, pemimpin tentara Inggris meregang nyawa tak jauh dari sini, tepatnya di Gedung Internatio, yang menjadi pusat tentara Sekutu.

Malam itu, gedung yang berada di jalan Jayengrono tersebut terlihat kokoh meski dalam kegelapan. Bangunan yang didirikan pada 1929 ini, tak jauh dari Gedung Cerutu dan De Javasche Bank Surabaya yang dikenal sebagai Gedung Garuda. Juga sebuah hotel yang tampak kental dengan aksen klasik di malam hari, Hotel Arcadia by Horison. Hotel itu tampak di pojokan, seperti menyambut orang yang melewati Jembatan Merah. Saya membuka mata lebih lebar, gedung-gedung kuno itu semakin membuat saya penasaran. Jadi tak bisa rasanya hanya melewati sekali, meski malam hari saya masih penasaran untuk memutari kembali dan masuk ke dalam jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung lawas tersebut.

Di seputar Jembatan Merah, ternyata banyak juga gedung tua yang terawat dan difungsikan, seperti yang digunakan sebagai kantor oleh PT Perkebunan Nusantara X dan kantor Polwiltabes Surabaya dengan bangunan tahun 1850. Saya lebih terpana lagi saat mencermati bangunan yang digunakan Kantor PT Perkebunan Nusantara XI. Gedung yang digunakan kantor yang mengurusi perkebunan tebu dan pabrik gula itu begitu luas dan terlihat megah.

Pembangunannya disebut menghabiskan 3.000 meter kubik beton. Pilar-pilar besar menjadi salah satu ciri gedung berlantai dua tersebut dengan detail di beberapa bagian. Di masa lalu, gedung yang dibangun pada 1921 ini merupakan Gedung Serikat Dagang Amsterdam. Tak jauh dari PT Perkebunan Nusantara XI ada Maybank cabang Jembatan Merah yang mengunakan bangunan lawas, dulunya bernama Netherlands Spaarbank. Bangunan tersebut didirikan pemerintahan Belanda pada 1914.

Malam terus merambat, saya pun harus menuju ke hotel yang terletak dalam Jalan Darmo Raya. Lama tak menginjak kota ini, rasanya saya tak cukup untuk satu hari semalam menyimak sejarah kota lewat bangunan tuanya. Dalam perjalanan menuju hotel, saya kembali menyimak Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dengan gaya arsitektur Gothic, Gedung Isola, dan Gedung Negara Granadi yang didirikan pada 1795, yang kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur.

Di pusat keramaian kota masih ada sederet titik yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini. Salah satunya nan begitu populer adalah Hotel Majapahit Surabaya yang dibangun pada 1910. Di sinilah terjadi perobekan bendera Belanda yang terdiri atas tiga warna dan menjadi merah putih. Bendera tersebut berkibar megah di bangunan yang dulu bernama Hotel Oranje, yang kemudian berubah lagi menjadi Hotel Yamato. Sayang, malam itu badan saya sudah mulai berharap untuk rebahan. Hingga kendaraan tidak kembali berputar untuk mengitar seputar Tunjungan.

Esok hari, perjalanan sejarah ini pasti akan diulang. Masih ada Gedung Kantor Pos Kebonrojo, Gedung Pertamina, Rumah WR Supratman, Balai Kota Surabaya, Gedung Suara Asia, Gedung PLN Gemblongan, serta Jembatan Petek’an, yang membuat saya memahami perjuangan warga kota ini untuk kemerdekaan, hingga predikat Kota Pahlawan pun wajib disematkan.

Es krim Zangrandi Surabaya
Es krim Freezing Barbeque di Kedai ice cream Zangrandi, Surabaya.

Kuliner Zangrandi & Pasar Blauran

Di tengah udara panas Surabaya, saat menapaki jejak sejarah, rasanya mampir ke restoran yang terletak di jalan Yos Sudarso Surabaya ini menjadi pilihan menggoda. Resto dengan suguhan spesial es krim ini, didirikan Renato Zangrandi dari Italia pada 1930. Suasana klasik masih dipertahankan di sini, ubin dengan corak zaman dulu dan kursi rotan lama masih mendominasi.

Untuk pilihan, tutti frutti yang menawarkan es krim dengan rasa buah-buahan, yang dulu digandrungi pun masih bisa dicicipi. Selain itu, ada pula sweet blossom dan fruit parade, yang harganya dipatok pada kisaran Rp 30 ribuan.

Ingin makanan tradisional sekaligus menikmati suasana pasar zaman dulu, bisa mampir ke Pasar Blauran. Namanya juga pasar, memang sulit untuk mendapat parkir kendaraan, tapi di bagian dalam aneka camilan dan tentu sajian khas, bisa dicicipi di lingkungan yang bersih dan rapih. Lontong mi, rujak cingur, atau es dawet, bisa membuat perut tak lagi keroncongan.

Interior Masjid Sunan Ampel Surabaya
Masjid Sunan Ampel Surabaya

Sunan Ampel dan Cheng Ho

Ada dua tujuan wisata religi yang saya jejaki sembari menyimak sejarah di Surabaya. Pertama, Masjid Sunan Ampel yang dibangun pada 1421, terasa hangat dengan pernak perniknya, membuat orang serasa di Arab Saudi. Selepas salat ashar saya pun menyusuri lorong-lorong seputaran masjid. Aneka kurma, pakaian dari abaya, sampai gamis kaum Adam memenuhi toko. Hingga saya pun terdampar di sebuah toko keturunan Arab dengan suguhan khas roti cane dan beberapa potong cane menjadi pengisi perut. Saat azan magrib terdengar, saya kembali bergegas kembali ke masjid, berduyun-duyun orang dari lorong yang berbeda mempunyai satu tujuan. Jumlah peziarah memang mencapai ribuan setiap harinya dan datang dari berbagai daerah. Di bagian belakang masjid juga terdapat makam Sunan Ampel, sang pendiri rumah ibadah sekaligus salah satu Wali Songo. Kegiatan berziarah tentu menjadi agenda dari para wisatawan religi itu.

Kedua, Masjid Cheng Ho di Surabaya, yang memang bukanlah bangunan tua. Namun sebaiknya tak dilewatkan karena masjid yang terletak di Jalan Gading, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, ini tetap terkait dengan sejarah. Dibangun pada 2001, rumah ibadah ini didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho yang berasal Cina. Bangunan ini didominasi warna khas Tiongkok, seperti merah, hijau, kuning, dan biru. Sebagian besar detail arsitekturnya pun dipenuhi ciri Negeri Bambu tersebut, meski ada beberapa detail khas Arab yang terlihat. Bangunan tidak terlalu besar, hanya memanjang dan di bagian depan terdapat lapangan, sehingga saat hari raya bisa menampung hingga 200 orang. Di dalam kompleks masjid terdapat taman kanak-kanak, salah satunya berguna sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Rumah HOS Tjokroaminoto

Berada di Gang VII, Peneleh, Rumah HOS Tjokroaminoto terkesan teduh. Pagar berwarna hijau tosca menciptakan kesegaran. Tak hanya menyimpan jejak pahlawan nasional, tapi juga jejak sejumlah muridnya, termasuk Presiden Soekarno, Muso, Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Profil para murid ini terpampang di dinding-dinding dalam catatan khusus. Lantas, ada ruang spesial di atas yang menjadi favorit Bung Karno. Siapa pun bisa mengenal lebih dekat pemimpin Serikat Islam ini, lewat pajangan di dinding-dinding rumah yang dibangun pada 1870.

Rita N

3 Resto, 3 Menu di Manggarai Barat

andi prasetyo DSC06586

Apa kuliner yang bisa dinikmati di labuan Bajo? Hasil laut selalu menjadi menu dan pilihan utama di kawasan wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sementara kopi menjadi minuman yang selalu tersaji. Di mana wisatwan bisa menikmati sajian laut dan kopi yang asyik di kawasan ini? Berikut tiga pilihan resto dan tiga menu yang bisa dipertimbangkan untuk dicicipi selagi bermain di wilayah ini.

Kuliner di Manggarai Barat

Kuah Asam Arema Sari Laut

Siang itu, Billy sumringah mendapati warungnya disambangi orang luar pulau. “Biasanya yang ke sini hanya guru-guru pulang mengajar yang melintas atau sopir yang hendak melakukan perjalanan ke Lembor,” katanya. Tangannya langsung cekatan mengeluarkan beragam jenis ikan segar yang baru dibeli dari pengepul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. 

“Hari ini, kami punya ikan cepa, kerapu batu, dan ketamba,” tutur pria Nusa Tenggara Timur yang menikah dengan perempuan asal Malang—itulah sebabnya warung tersebut dinamai Arema—ini dengan lantang. Masakan andalannya adalah ikan kuah asam. Dia menamai masakannya sop ikan kemato (kemangi, asam, dan tomat). 

Yang spesial, proses masaknya masih mempertahankan cara tradisional. Itu juga yang membikin kuah merebakkan wangi khas. Tak amis, juga tidak enek. Warung yang sudah berdiri selama 10 tahun ini buka mulai pagi hingga sore. Bisa ditempuh lebih-kurang 15 menit berkendara dari Bandar Udara Komodo, di sinilah orang bisa menemukan keautentikan masakan ikan kuah asam khas daerah setempat. 

Arema Sari Laut

Kaper (Jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng)

Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 11.00-17.00

Harga per porsi (plus nasi) Rp 40 ribu

Tenda Seafood Kampung Ujung

Lebih-kurang 300 meter dari Pelabuhan Penyeberangan Labuan Bajo, berjejer tenda-tenda kaki lima. Lokasinya tepat di pinggir pantai, di samping jalan utama menuju Kampung Tengah. Di depan tenda-tenda, terpampang beragam jenis ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang masih segar. Pengunjung boleh memilih sendiri para calon “mangsanya”. 

Asap-asap olahan laut membumbung, menggelitik penciuman orang-orang yang lewat. Ada lebih dari sepuluh kios bisa disinggahi. Semua sama saja, baik dari cara masak maupun harga ikannya. Rata-rata Rp 70 ribu per ekor dengan berat lebih dari 2 kilogram untuk ikan kerapu dan kue, Rp 80 ribu untuk cumi-cumi ukuran besar, serta Rp 50 ribu per kilogram untuk udang. 

Pengunjung dapat memilih cara memasaknya. Yang paling terkenal adalah olahan bakar, goreng tepung, dan kuah asam. Ditambah dengan sambal masak khas Labuan Bajo yang menggunakannggurus, cabai kecil yang terkenal pedas tak terkira. Makan pun makin nikmat, apalagi diiringi dendangan ombak yang menyaru dengan irama angin malam. 

Seafood Kampung Ujung

Kampung Ujung, Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 19.00-04.00

Harga per porsi mulai Rp 50 ribu

Kopi dan Kompyang

Budaya minum kopi orang Nusa Tenggara Timur sudah melekat. Kala tamu datang pun, suguhannya berupa minuman lokal bercita rasa pahit dan asam tersebut. Namun itu tak mengherankan karena kopi menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Selain itu, di daratan Flores, banyak ditemui warung-warung yang menjajakan kopi, selayaknya Kopi Mane yang dibuka pada 2015—kopi mane berarti kopi sore. Pemiliknya, Wenti Romas, meneruskan usaha ayahnya yang sudah lebih dulu dibuka di daerah Ruteng, Manggarai. 

Warung kopi milik Wenti menjajakan beragam jenis arabika dan robusta. Ada Manggarai, Juriah, Yellow Caturra, dan Lanang. Kopi yang menyimpan rasa paling istimewa adalah Juriah. Kopi ini dipanen 2 tahun sekali di atas ketinggian 1.300 mdpl. Belanda yang pertama kali membawa biji kopi tersebut di Ruteng. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi lain. After taste-nya menggambarkan karakter karamel, cokelatdan tembakau yang kuat. 

Segelas Juriah atau kopi lain biasa disantap bersama kompyang, roti tradisional yang dibuat dari tepung beras dengan ditaburi wijen. Sebelum disajikan, kompyang harus digoreng hingga kecokelatan. Meneguk kelezatan kopi dan mencecap kompyang sembari menikmati sore adalah kebahagiaan sederhana di warung yang istimewa. 

Kopi Mane

Jalan Utama Bandara Komodo Labuan Bajo, Flores

Buka pukul 09.00-21.00

Harga kopi mulai Rp 20 ribu, kompyang Rp 2.500

F. Rossana/A, Prasetyo