Tenun Sekomandi, Persaudaraan 480 Tahun

Tenun sekomandi berusia sekitar 480 tahun, ternasuk tenun tertua di dunia.

Tenun sekomandi adalah warisan leluhur masyarakat Kalumpang-Mamuju di Sulawesi Barat. Tenun ini  dipercayai sebagai salah satu tenun tertua di dunia dengan rentang usia lebih dari 480 tahun.

Tenun Sekomandi

Nama tenun ini terdiri dari dua kata, yaitu “seko” yang artinya persaudaraan atau kekeluargaan, serta “mandi” yang artinya kuat atau erat. Secara garis besar, tenun sekomandi bermakna ikatan persaudaraan yang kuat. Setiap corak dan warna benang dari tenun sekomandi mengandung makna spiritual. 


Meski sudah berusia ratusan tahun, masih cukup banyak masyarakat yang belum mengenalnya. Padahal, tempat perajin kain tenun sekomandi di Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Di sana, para pelancong dapat menyaksikan langsung proses pewarnaan dan pemintalan benang yang kemudian dijalin menjadi kain tenun sekomandi.

Sesungguhnya ada tiga jenis kain tenun yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Barat. Ke tiganya masing-masing adalah kain tenun sekomandi yang merupakan warisan masyarakat Kalumpang, Kabupaten Mamuju. Kemudian ada kain tenun Sutera Suku Mandar, dan ke tiga adalah kain tenun Sambu (sarung) dari Kabupaten Mamasa. Ketiganya cukup popular, namun memang masih jarang yang membahas tenun ini.

Tenun sekomandi dari masa ke masa memiliki 11 macam motif.  Namun, motif tenun Mamuju ini yang paling popular ialah motif Ulu Karua. Ada pula motif Baba Deata, atau motif Ulu karua lepo, dan motif lelen sepu.

Motif Ulu Karua bermakna delapan ketua adat atau delapan pemangku adat. Menurut sejarah atau mitosnya, penamaan “Ulu Kalua” berasal dari sejak zaman dahulu, saat nenek moyang mereka pergi berburu dengan anjingnya, lalu masuk ke dalam gua. Ketika keluar gua, anjing itu menggigit daun bermotif. Itulah asal mula motif pertama tenun sekomandi, Ulu Karua.

Proses pembuatannya pun cukup unik. Tenun ini berasal dari kulit kayu yang diproses dengan cara ditumbuk, lalu diolah untuk dipintal. Selanjutnya, bahan tersebut diberi pewarna alami, seperti tanaman cabai yang terlebih dahulu diracik kemudian dicampurkan dengan pewarna lainnya untuk memperindah kain tenun masyarakat Mamuju ini.

Tenun Sukomandi sudah berusia sekitar 480 tahun dan merupakan salah satu tenun tertua di dunia.
Tenun ikat Sukomandi khas Mamuju, Sulawesi Barat. Foto: Dok. Kemanparekraf

Selanjutnya, proses pembuatan kain sekomandi dimulai dengan pemintalan benang yang berasal dari biji pohon kapas yang kadang juga menggunakan kapuk. Benang-benang yang sudah terpintal tersebut kemudian diberi warna sesuai pesanan. Dahulu pemberian warna pada benang sekomandi menggunakan pewarna alami yang berasal dari alam.

Untuk warnanya sendiri, kain tenun Sekomandi didominasi oleh warna coklat, merah dan krem, dengan warna dasar hitam. Pembuatan sehelai kain tenun Sekomandi bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Tenun ikat Sekomandi diperkirakan mulai diproduksi oleh masyarakat adat di wilayah kalumpang yang kini tersebar di kecamatan Bonehau dan Kecamatan Kalumpang Kabupaten Mamuju. Sekomandi oleh masyarakatnya dahulu dipakai untuk acara adat seperti ritual, pesta pernikahan, alat tukar/barter, seserahan mempelai pengantin dan lain sebagainya.

Seiring dengan perkembangan zaman, kain tenun ini kemudian dibuat ke dalam berbagai model fashion, salah satunya jaket bomber yang akan dipakai Menparekraf Sandiaga dalam acara Manakarra Fair 2022 Kamis malam, 14 Juli 2022. Ini adalah berkat inovasi dan kolaborasi yang dilakukan oleh para perajin di Rumah Tenun Sekomandi. Dengan demikian penghasilan para penenun bisa lebih meningkat.

Harga kain tenun sekomandi saat ini semakin tinggi seiring dengan meningkatnya minat masyarakat. Kain tenun sekomandi dengan motif sambo tanete, misalnya, untuk yang ujuran panjang 12 meter bisa dihargai hingga Rp 12 juta.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno berharap dengan bantuan semua pihak, termasuk perbankan dan Kemenparekraf, masyarakat bisa memasukkan Rumah Tenun Ikat Sekomandi ini dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. “Jadi nanti ke depan baju hari Kamis-nya Pak Gubernur ini mungkin diselipkan ada ornamen Sekomandi. Ini sebagai bagian dari penghargaan kita kepada produk produk tenun lokal kita,” kata Menparekraf Sandiaga.

Buat para pecinta kain tenun tentu bisa langsung datang ke tempat pembuatan kain tenun ini di Kalumpang. Desa itu merupakan salah satu pusat tenun Sekomandi khas Mamuju. Bagi Wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat tersebut, dapat menempuh perjalanan sekitar 12 Km dari pusat Kota Mamuju, dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

agendaIndonesia

*****

Lurik Motif 3-4, Lurik Khas Abdi Dalem

Motif kain lurik

Lurik motif 3-4, lurik khas abdi dalem Kraton Yogyakarta. Mungkin ini jarang ada yang tahu. Motif 3-4, dalam narasi aslinya disebut motif telu pat, ini artinya tiga-empat.

Lurik Motif 3-4

Kain lurik, sejak lama seakan diidentik sebagai bahan pakaian yang dipakai oleh para bangsawan dan abdi dalem di kalangan kraton Yogyakarta. Motif telu pat yang disebut di muka adalah yang biasa dipergunakan oleh para abdi dalem. Biasanya menggunakan pewarnaan biru dengan kombinasi hitam atau putih.

Motif telu pat, yang berarti tiga-empat, itu disebut demikian karena merujuk pada jalinan tenunan benang. Tiga garis benang berjejeran dengan empat garis benang warna lainnya.

Ini tak sembarangan jejeran benang. Ada filosofinya. Pola jejeran benang itu konon menandakan kedekatan antara sinuhun atau raja dan rakyatnya. Seperti layaknya motif kain-kain tradisional yang berasal dari dalam kraton-kraton di Jawa, motif lurik juga diciptakan para sultan melalui proses perenungan yang dalam. Ada harapan dan cita-cita dari sang sultan dalam setiap tarikan benangnya.

Lurik konon berasal dari kata dalam bahasa Jawa lorek yang berartigaris atau garis-garis. Bentuknya sederhana seperti pagar. Harapannya supaya para pemakai lurik selalu terlindungi hidupnya dalam kesederhanaan.

Saat ini boleh dikata hanya dalam hitungan jari industri rumahan di Yogyakarta yang menghasilkan kain lurik secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Selebihnya sudah dikelola perusahaan kain dengan mesin tekstil. Yang memprihatinkan, para penenun kain lurik ini rata-rata mereka yang sudah berumur. Jarang sekali terjadi regenerasi penenun kain lurik di Yogyakarta.

Saat ini, usia penenun kain lurik paling muda sekitar 40 tahunan. Cukup banyak yang berusia 50-60. Dari generasi sebelumnya, masih ada yang berumur 80 tahunan, tapi mereka biasanya menenun dari rumah. Pemilik pekerjaan yang datang ke rumah mereka memberikan order dan petunjuk. Jika ada yang baru. Namun biasanya mereka menenun motif-motif yang sudah lama mereka kerjakan.

Awal tahun 60-an adalah masa-masa kejayaan penenun kain lurik. Di desa Krapyak Wetan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, cukup banyak penenun yang mengerjakan kain lurik di rumah. Di desa itu, di daerah Sewon Bantul, saat ini masih dapat ditemui sejumlah perajin kain lurik. Tapi jumlahnya sangat sedikit.

Hingga akhirnya tiba masanya kain lurik bisa dihasilkan mesin tekstil. Selain efisiensi dari rantai produksi dan waktu pengerjaan, kain lurik hasil mesin harus diakui hasilnya lebih halus. Proses produksinya pun sangat cepat. Akibatnya bisa diduga, jumlah perajin lurik tradisional di kampung-kampung di Bantul pun anjlok. Kalah melawan kerasnya persaingan dengan mesin.

Tentu, ada yang masih mencoba bertahan dengan menghasilkan lurik-lurik dari ATBM. Mereka menggunakan bagian depan rumahnya menjadi ruang pamer kain-kain lurik siap jual buatan pekerjanya. Sedangkan produksi mengunakan bagian belakang rumah.

Tenun lurik hasil ATBM umumnya memiliki dua lebar yang berbeda, yaitu 70 dan 100 sentimeter. Ini tergantung panjang alat tenun. Panjang satu gulungan motif bisa mencapai 100 hingga 150 meter. Keseluruhan proses penenunannya bisa mencapai waktu satu bulan. Semua tergantung tenaga penenun. Ada juga yang sanggup mengerjakan10 meter dalam waktu sehari saja. Kain-kain lurik yang sudah jadi siap dijual dalam kisaran harga Rp 30-50 ribu per meter.

Seiring dengan perkembangan zaman, para penenun kain lurik kini tidak hanya menggarap motif-motif tradisional milik kraton. Banyak desain dan motif baru. Upaya pemerintah melestarikan jenis kain ini, memunculkan kreasi desain-desain baru. Terlebih saat ini, banyak sekolah dan kantor yang menggunakan kain lurik sebagai seragam pada hari-hari tertentu. Tiap lembaga kadang menginginkan desain sendiri.

Di Yogyakarta sendiri kain lurik kalah populer cengan batik. Para penenun luriknya pun tak sebanyak pemegang canting batik. Meski banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa kain lurik usianya lebih tua dari batik dan bahkan dikenal masyarakat Jawa sejak zaman

Salah satu relief di Candi Borobudur pun ada yang menggambarkan perempuan sedang menenun. Ada pula prasasti Raja Erlangga yang pernah menyebutkan salah satu motif kain lurik sebagai Tuluh Watu. Dari berbagai penemuan sejarah itu, diketahui bahwa lurik tidak hanya dikenal masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jika memiliki kesempatan berkunjung ke perajin tenun lurik, Anda akan tertarik melihat proses skir, yaitu proses penyusunan motif untuk selembar kain lurik. Benang-benang yang akan digunakan, disusun menyerupai bentuk rak. Melihat proses skir layaknya tarian ribuan benang warna-warni.

Biasanya para penenun menggunakan benang katun putih yang kemudian diberi pewarna sintetis. Setelah motif disusun dalam proses skir, benang-benang tersebut akan ditenun melalui ATBM.

Selain didesak modernisasi teknologi tekstil, jumlah perajin kain lurik ATBM yang jumlahnya tidak banyak, juga semakin berkurang. Ini terjadi di saat tiba musim tanam dan panen di sawah. Para perajin lurik beralih menjadi buruh tanam di sawah-sawah yang penghasilannya lebih cepat.

Jumlah penenun lurik memang semakin sedikit, meski kain lurik pamornya masih lumayan moncer seiring kampanye pelestarian jenis kain ini. Namun, jika melihat dari perajinnya, kini hanya hitungan jari. Jika berkunjung ke sentra perajin lurik, kini ruangan produksinya praktis sepu. Suara alat tenun yang beradu pun nyaris seperti gending monggang. Gending kematian.

Dari Liputan TL.

Kurnia Lurik

Krapyak Wetan RT 05 Nomor 133 Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

Tak jauh dari cagar budaya Panggung Krapyak

Produk-produknya sudah bisa dipesan lewat media online di Instagram @kurnialurik_jogja

Sari Puspa Lurik

Desa Wisata Kerajinan Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman

Sekitar 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta

Bisa dicapai melalui Jalan Godean ke arah Selatan atau dari Jalan Wates ke arah Utara

Pedang-pedang Indah Cibatu Sejak 1985

Pedang-pedang indah Sukabumi, selain indah juga syarat sejarah. Foto: TL-Rully kesuma

Pedang-pedang indah Cibatu, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, adalah kerajinan yang tak hanya elok, pedang-pedang ini pun dipesan karena nilai sejarahnya. Tak selamanya alat yang berkesan keras dan berbahaya ini sesungguhnya memiliki nlai seni yang tinggi. Bahkan juga ada syiar agama.

Pedang-pedang Indah

Betul, ada kisah sejarah perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya terkait pedang-pedang indah itu. Kisahnya, di seantero jazirah Arab orang mengenal Amru bin Abda Wudd sebagai kesatria Quraisy yang ganas. Ketika Perang Khandaq berlangsung, ia menantang duel para pengikut Nabi Muhammad. “Siapa di antara pengikut Muhammad yang berani berduel denganku?” ujarnya.

Tantangan tersebut tak ayal membuat para sahabat Nabi kecut. Mereka mengenal betul siapa Amru bin Abda Wudd. Tak hanya memiliki tubuh yang besar dan tegap, Amru mahir memainkan tombak dan pedang. Suasana menjadi hening dan mencekam. Tak seorang pun menerima tantangan tersebut.

Ali bin Abi Thalib, yang mendengarkan tantangan itu, gelisah. Ia memohon izin kepada Nabi untuk melayani tantangan tersebut, tapi tak dikabulkan. Beberapa kali memohon, akhirnya Ali diizinkan juga.

Pertarungan dahsyat tak terelakkan lagi. Suara keras benturan pedang terjadi berulang-ulang. Tak beberapa lama, pertarungan berhenti. Tubuh Amru bin Abda Wudd ambruk dengan bahu terbelah. Wajah Rasulullah berseri-seri melihat kemenangan Ali. Beliau lantas bersujud syukur di atas tanah dan mengucapkan, “Laa saifa illa Dzulfiqar wa laa fataa illa Ali.” Artinya, tidak ada pedang kecuali Pedang Dzulfiqar dan tidak ada pemuda segagah Ali.

“Kalimat itu tergores di sarung Pedang Dzulfiqar atau Dzulfaqor,” kata Haji Aas Asyari, perajin pedang, golok, dan pisau di Cibatu, Sukabumi. Ia pun menunjuk ke salah satu pedang berwarna emas.

Pedang-pedang indah Cibatu, SUkabumi, dipesan untuk kecintaan pada keindahan, bukan kekerasan,
Pedang-pedang indah karya Pak Haji Aas Asyari, Sukabumi. Foto: Dok. TL/Rully K

Pedang yang dipajang di salah satu dinding ruangan itu memang lebih mencolok ketimbang pedang-pedang indah lainnya. Selain warnanya berkilau, desainnya menawan. Bentuk pedang itu melengkung khas pedang Arab. Begitu pula gagangnya.

Namun, kata pria yang akrab disapa Pak Haji itu, pedang tersebut hanyalah replika pesanan dari salah satu konsumen. “Pedang yang asli konon sudah tidak ada lagi. Karena sudah dibuang ke laut. Sebab, berbahaya jika jatuh ke tangan orang lain,” ujarnya.

Selain memiliki pedang bermata dua yang memiliki simbol jihad dan keberanian Ali bin Abi Thalib itu, Haji Aas menyimpan Pedang Al-Battar. Sama halnya dengan Pedang Dzulfiqar, pedang ini replika pesanan seorang konsumen. Meski replika, kata Pak Haji, pedang itu dibuat nyaris sama dengan bentuk aslinya.

Untuk Pedang Al-Battar, misalnya, di sarung dan gagangnya terdapat 555 butir batu permata. Khusus di gagangnya, bertabur 150 butir permata. Walhasil, pedang dengan panjang hampir 100 sentimeter itu lumayan berat. Menurut dia, pedang aslinya masih tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Pria 61 tahun ini mengaku mewarisi keahlian ayahnya, Haji Syarifudin, yang memulai usaha sedari muda, pada 1985. Selain melayani pembuatan pedang-pedang indah untuk para kolektor, Haji Aas melayani pembuatan samurai, golok, dan pisau dari perguruan bela diri, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI. Pelanggan tetapnya adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia dan Persatuan Pencak Silat dari Belanda.

Mengenai harga, ia mengatakan tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan. “Karena desain yang rumit membutuhkan waktu pengerjaan yang lama,” ucapnya. Untuk senjata tajam jenis golok, harganya bisa lebih dari Rp 250 ribu. Sedangkan harga pedang atau samurai mencapai setidaknya Rp 5 juta.

Meskipun masih menggunakan peralatan sederhana, perajin yang menamai usahanya Golok Pusaka itu sudah menghasilkan ribuan senjata tajam. Pedang-pedang indah karyanya tidak hanya dipesan pelanggan atau peminat dari Indonesia, tapi juga hingga mancanegara, seperti negeri seberang Brunei Darusalam dan Malaysia.

Lalu, apakah Pak Haji melayani pembuatan golok pusaka yang konon memiliki kesaktian? “Bisa saja. Tapi sekarang sudah jarang yang memesan golok seperti itu. Pembuatannya lebih rumit dan lama karena butuh ritual. Yang mengerjakannya juga harus berpuasa terlebih dulu dan menentukan tanggal pembuatannya,” ujar Pak Haji, yang mengaku masih memiliki kemampuan seperti itu. Wow!

DI Cibatu sendiri kini tumbuh semacam sentra kerajinan senjata tajam. Tak hanya pedang dan golok, namun juga pisau-pisau khusus. Banyak pelanggan luar negeri yang dating untuk memesan pisau-pisau ini.

agendaIndonesia/TL/Andry T./Rully K.

*****

Kerajinan Cirebon, 4 Yang Bisa Dikoleksi

Kerajjnan Cirebon ternyata banyak macamnya, ada yang dari kaca.

Kerajinan Cirebon tak Cuma batik Trusmi yang sudah sangat popular itu. Ada kerajinan lain di kota Udang ini yang perlu dilirik dan bisa dikoleksi. Tentu, Trusmi tetap wajib dikunjungi jika mampir ke kota di pesisir utara Jawa Barat ini.

Kerajinan Cirebon

Cirebon ternyata merupakan gudang aneka kerajinan tangan dengan bahan baku yang beragam. Kulit kerang, kaca, dan rotan dimunculkan dalam corak dan nuansa berbeda karena kentalnya perpaduan budaya Cina, Arab, dan domestik Jawa Barat, khususnya Cirebon sendiri. Pengunjung pasti leluasa dan nyaman berjalan-jalan karena bisa membeli cenderamata itu di lokasi perajin maupun toko-toko suvenir yang ada di tengah kota.

Berikut ada 4 kerajinan Cirebon yang bisa menjadi pertimbangan dikoleksi atau jadi cindera mata.

Batik Trusmi yang Mendunia

Urutan pertama kerajinan Cirebon yang wajib kunjung tentu saja pusat pembuatan batik Trusmi bila berkunjung ke kota ini. Pertama kali memasuki Kampung Trusmi, Kecamatan Plered, yang berjarak 4 kilometer dari pusat Kota Cirebon, biasanya pengunjung akan melihat beberapa pekerja menjemur kain batik yang masih berlapis lilin dalam cuaca terik.

Kerajinan Cirebon paling popular tentu saja batik Trusmi dengan motif megamendung
Batik Cirebon dengan morif yang maling terkenal, mega mendung. Foto: dok.shutterstock

Coba saja masuki salah satu dari puluhan toko yang menjual batik di pusat pembuatan dan penjualan batik Cirebon itu. Biasanya akan tampak puluhan pekerja sibuk menyelesaikan pembuatan batik. Ada teknik berbeda-beda, di antaranya tulis, cap, atau kombinasi keduanya.

Batik Cirebon memiliki kekhasan dalam warna dan motif. Dari corak, sedikitnya ada lima jenis, yakni batik wadasan atau Keratonan, geometris, byur, Pangkaan, dan Semarangan. Tapi yang paling sering diburu pengunjung adalah batik Keratonan.

Motif yang khas adalah singo barong, naga seba, sawat, dan mega mendung dengan warna-warna cerah. Batik ini dijual seharga Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.

Batik Trusmi, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Cirebon

Dekorasi Rumah dari Kerang

Di sebuah industri rumahan di Desa Astapada, seberang flyover tol Kecamatan Tengah Tani, Cirebon Barat, para pekerja menyulap limbah kerang menjadi perabotan unik dan berkualitas. Usaha berlabel Multi Dimensi Shell Craft ini dimiliki Nur Handiah Jaime Taguba. Bingkai foto, cermin, lampu gantung, kursi, tempat tidur, dan bahkan helm tak luput dilapisi kulit kerang. Harganya sangat variatif, dari Rp 10 ribuan hingga jutaan.

WA2013051425
Kerjainan Cirebon yang berbahan kerang. Foto: Dok. TL

Mulanya, Nur mengekspor kerang sebagai bahan baku ke Korea. Kemudian, ia pun tergerak untuk mengolah sendiri. Ia menggunakan kerang simping, yang lebar, sebelum bereksperimen dengan jenis kerang lainnya. Karya kerajinan Nur awalnya hanya punya dua warna dasar, yakni perak dan emas, tapi lantas diberi warna beragam. Pemesannya pun berasal dari mancanegara, seperti Timur Tengah, Amerika, Eropa, dan juga Asia, semisal Jepang.

Multi Dimensi Shell Craft, Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani,  Kabupaten Cirebon

Lukisan Kaca Terbalik

Pada siang yang terik di sebuah galeri di Jalan Kartini, Hendy, sibuk mengelap kaca berukuran 50 sentimeter. Kuas dan cat besi berserakan. Ia memang menggunakan kaca bening tak berwarna untuk menuangkan imajinasi.

Uniknya, ia melukis secara terbalik atau di belakang kaca, sehingga gambar bisa dinikmati dari sisi depan. Teknik melukis ini diperkirakan hadir di Cirebon sejak empat abad silam bersamaan dengan masuknya Islam ke Kota Udang.

Di masa pemerintahan Panembahan Ratu, lukisan kaca digunakan untuk media dakwah karena obyek lukisan adalah tokoh wayang dan kaligrafi ayat Al-Quran atau hadis. Kemudian, lukisan kaca berkembang mengikuti zaman, para seniman seperti Hendy pun melukis motif tradisional Cirebon secara abstrak.

Ada ratusan pelukis kaca di kota ini. Mereka kebanyakan menggambar obyek karakter wayang, seperti Arjuna, Kresna, dan Rama, selain potret pribadi atau keluarga. Harga lukisan mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan gambar. Beberapa kali Hendy mengaku melukis dengan tiga atau lima lapis kaca untuk menguatkan dimensi lukisan pesanan pembeli. Tentunya kreasi itu harus dibayar dengan harga tinggi.

Galeri Lukisan Kaca, Kedai Kopi Rempah Brana, Jalan Kartini No 20, Cirebon

Kerajinan dan Perabotan Rotan

Jika pengunjung keluar dari gerbang tol Plumbon, sekitar 500 meter di kanan-kiri Jalan Tegalwanangi menuju Kota Cirebon, mereka akan menemukan deretan kios penjual kerajinan Cirebon berbahan rotan. Desa Tegalwangi adalah sentra kerajinan rotan, yang menjadi salah satu komoditas unggulan Cirebon.

Jika masuk lebih jauh ke dalam desa itu, wisatawan bisa menyaksikan puluhan pegawai industri rumahan tengah membuat kursi, meja, pembatas ruangan, kuda-kudaan, keranjang, tutup makanan, dan lain-lain.

Jika perlu, jangan langsung menentukan satu toko untuk membeli. Cona masuki tiga atau empat tempat produksi rotan yang memiliki fungsi berbeda. Pertama, tempat pemotongan rotan dan, kedua, tempat pengolahan bahan baku rotan menjadi berbagai kerajinan.

Kaum pria biasanya membuat kerangka dan memanaskan rotan dengan api, sehingga bisa dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan kaum perempuan menganyam rotan dan mematenkan anyaman ke kerangka dengan menggunakan strapless listrik.

Rampung dibuat, rotan dibawa ke lokasi ketiga untuk tahap finishing. Serabut dihilangkan dengan cara ditempelkan ke api. Proses terakhir adalah pewarnaan dengan mencelupkan rotan ke dalam bak yang telah diisi pewarna. Setelah itu, rotan dijemur dan siap untuk didistribusikan.

Industri rotan ini kini tak seramai beberapa tahun lalu karena para perajin semakin sulit memperoleh bahan baku rotan dari Kalimantan. Beberapa pengusaha pun menggantinya dengan rotan sintetis. Namun sebenarnya masih cukup banyak permintaan kerajinan rotan dari berbagai daerah di Indonesia. Harga barang bisa dipatok mulai puluhan ribu hingga Rp 2 juta untuk satu set meja dan kursi.

Sentra Kerajinan Rotan, Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon

agendaIndonesia/TL

*****

Batik Madura (2), yang Unik dan Ngejreng Khas Pamekasan

RK27012017008

Setiap kota di Madura memiliki batik khas, termasuk Sampang dan Sumenep. Selain batik Madura khas Bangkalan dan batik Pamekasan juga tengah naik daun. Kedua kota ini berjarak sekitar 96 kilometer. Pamekasan berada di sisi selatan, sedangkan Sumenep berada di ujung timur pulau ini. Warna-warna ngejreng menjadi ciri khas dari batik Pamekasan. Di kota ini, seperti juga di Bangkalan, ada pasar khusus batik. Namanya Kompleks Pasar 17 Agustus. Lokasinya terletak di Jalan Pintu Gerbang. Hampir semua kios menjual batik serupa, tapi kebanyakan batik Pamekasan. 

Kampung Batik Madura

Lokasi kampung batiknya tak terlalu jauh dari pusat kota. Kecamatan Proppo memiliki beberapa kampung batik, di antaranya Desa Rangperang Daya dan Desa Klampar. Untuk menuju ke sana, hanya memerlukan waktu 10-15 menit dari pusat kota. Suatu pagi, di Dusun Banyumas, Desa Klampar, saya melihat kaum ibu membatik di depan rumahnya. Salah satunya Khatimah, 30 tahun, yang langsung tersenyum ketika saya dekati. 

Ibu dua anak ini sudah membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini kegiatan itu ia lakukan hampir setiap hari setelah mengurus anak dan memasak. “Kadang sambil ngerumpi juga,” ujarnya sembari tertawa. Ia membatik di atas kain samporis, motif sederhana yang dengan cepat diselesaikannya. “Motifnya di sini besar-besar dan gablak (warna-warni),” katanya. Menurut Khatimah, batik yang sedang tren adalah pancawarna. “Cirinya berwarna terang dan tabrakan,” ucapnya. Warna kinclong itu tentunya dari pewarna kimiawi. Warna batik Pamekasan memang ke luar dari pakem batik umumnya. Batik ini memunculkan warna menyala, terutama oranye, ungu, kuning, juga hijau.

Soal harga, batik Pamekasan tergolong miring. Tergantung kain yang digunakan, corak, serta warna. Coraknya pun cenderung tak memenuhi lembaran kain. Harga terendah berkisar Rp 50-75 ribu. Rupanya harga tersebut justru yang paling banyak dibeli. Untuk batik yang menggunakan katun super, harga terendah Rp 100 ribu. Tapi kisaran harga umumnya antara Rp 65-350 ribu per lembar. Di kampung ini, batik yang tengah naik daun adalah motif sekar jagad. “Maksudnya, segala corak masuk, pokoknya sejagad. Rumput, daun, dan garis-garis,” tuturnya. 

Tak jauh dari Desa Klampar, ada Desa Rangperang Daya. “Di Rangperang Daya, batiknya lebih halus,” kata Kholili dari Batik Podhek Al-Barokah di Rangperang Daya. Selain itu, ada kampung batik di Desa Kowel yang lebih banyak menggunakan warna dasar putih. l

Rita N

Batik Madura, (1) Pewarnaan di Dalam Gentong

Batik Madura dengan pewarnaan alami

Madura tak selalu identik dengan karapan sapi, garam, atau bebek Sinjay. Pulau di utara Jawa Timur ini juga punya batik. Beberapa tahun terakhir, batik Madura sinarnya makin benderang bagi pecinta batik di Indonesia, juga mancanegara.

Adalah Kampung Batik Tanjungbumi di pesisir utara pulau garam ini yang menjadi semacam sentra batik khas Madura. Sesungguhnya, jika wisatawan menuju Madura melewati jembatan Suramadu, maka begitu lepas jembatan yang menghubungkan dengan Surabaya ini, di Kota Bangkalan mereka sudah disuguhi gerai batik Madura.

Motif Batik Madura

Lokasi Kecamatan Tanjungbumi yang terkenal dengan batik Gentongan, batik yang menggunakan pewarnaan alami dan proses pembuatan nan panjang sekitar satu jam perjalanan dari Bangkalan. Atau sekitar 45 kilometer dari kota itu.

Aroma laut tercium ketika kendaraan mulai masuk ke jalan kecil tak jauh dari pasar. Tak lama papan nama perajin batik pun bermunculan. Papan nama Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, yang dipasang tampak memudar. Maklum, usaha batik ini sudah turun-temurun diwariskan dari nenek dan ibunya. 

Ada sekitar empat perempuan yang tengah bekerja. Masing-masing menangani hal berbeda-beda. Seorang ibu tengah memberi malam pada motif, sedangkan di bagian belakang, perempuan lain menyelupkan kain bercorak ke air pewarna yang mendidih. Perempuan lain menjemur kain batik setelah mencelupkannya ke air bersih. Satu lagi, berada di depan batik yang tengah digantung. Tangan-tangan bergerak naik-turun di atas batik, membuang malam yang tersisa. “Itu lagi melorot, membuang malam terus mengais, dan membersihkan sisa-sisanya,” kata Misnari, pemilik Batik Naraya. 

Nyaris setiap perempuan di Tanjungbumi bisa membatik. Tapi untuk pewarnaan, kata Misnari, hanya ada di tiga tempat di kecamatan itu.

“Proses pewarnaannya pakai gentong,” ujar mbak Nari, sapaan akrab Misnari menjelaskan asal nama Gentongan. Kain batik bercorak direndam dalam gentong pewarna selama berbulan-bulan. Ciri warnanya memang cenderung gelap karena variasi pewarna alami tak berlimpah. Warna cerah yang muncul biasanya merah dan biru. Itu pun tak terlalu menonjol. Kain cenderung penuh dengan corak yang beragam. Proses pembuatan kain Gentongan memerlukan waktu panjang, yakni enam bulan hingga setahun. “Pewarnaannya itu saja. Paling cepat tiga bulan,” ucapnya. Tak heran jika harganya dipatok antara Rp 3-5 juta. 

Ia menyatakan batik Gentongan berbeda dengan batik sederhana, seperti jenis torcetor yang hanya memerlukan waktu seminggu. Bahkan dalam sehari, bisa mendapat dua lembar kain. Sedangkan, dalam satu lembar batik Gentongan, bisa muncul beberapa corak dan pewarnaannya dua sisi. Sebab, kedua sisi kain Gentongan dibatik. Berbeda dengan batik umumnya yang hanya satu sisi. Belum lagi proses membuat pewarna alami yang memakai saga, mengkudu, dan lain-lain. 

Berada di daerah pesisir dengan mata pencarian utama para pria sebagai nelayan, membuat corak berbau bahari banyak menjadi inspirasi. “Motif asli sini adalah sik malaya, pantai, serta berlayar. Hal ini karena suami nelayan dan ini jadi khas Madura,” tuturnya. 

Dengan berpatok pada ide mengenai perahu, berlayar, dan pantai, memunculkan banyak variasi corak. Ditambah pula beberapa motif lain khas Tanjungbumi, seperti panji susi, pempadi (bunga padi), bulu ayam, tesate (tusuk sate), turun hujan, mo’ramo’ (akar-akaran), beragam bunga, juga burung. Motif itu terus berkembang seiring waktu. Namun, menurut Nari, yang tergolong baru adalah telenteh (lidi) dengan warna campuran alami dan kimiawi. 

Ia mengatakan dahulu batik digunakan hanya untuk salat. Kini pengrajin membuat perangkat lengkap, yakni dari kainsampai selendang untuk membuat perempuan tampil prima dalam balutan batik Gentongan. Untuk paket lengkap tersebut, bisa mencapai Rp 5 juta. Meski demikian, ia tetap membuat batik tulis sederhana yang pengerjaannya sekitar seminggu dengan nilai jual mulai Rp 100 ribu. 

Rita N

Dowa Bag Yogyakarta, Tas Rajut Premium Asli

dowa bag

Dewasa ini, produk tas rajut buatan tangan sudah menjadi salah satu fashion item yang trendy dan terkenal, bahkan hingga ke mancanegara. Beberapa pengrajin dan pebisnis produk semacam ini di Indonesia pun ikut terangkat popularitasnya, dengan salah satu merk yang paling populer saat ini adalah Dowa Bag Yogyakarta.

Buat wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal, Dowa Bag sudah menjadi salah satu alternatif pilihan oleh-oleh jika berkuncung ke kota pelajar ini. Harganya memang tidak masuk kategori murah, namun cukup layak untuk kualitas produknya. Jika beruntung, konsumen yang berkunjung ke gerai produk ini bisa mendapatkan produk desainnya mirip namun kualitasnya sama dengan merek berbeda.

Jangan salah. Ini bukan produk tiruan atau KW. Ini justru produk kualitas ekspor. Biasanya sisa ekspor ke Italia yang masih ada. Tentu, kadang pengunjung tidak bisa memilih warna atau desain. Namanya juga sisa ekspor. Tapi untuk koleksi tas, rasanya warna bukan satu-satunya pertimbangan bukan?

Awal Mula Dowa Bag Yogyakarta

Bermula dari Delia Murwihartini, seorang ibu rumah tangga yang memulai usaha kecil-kecilan untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat tas rajut dan menjualnya kepada tetangga sekitar sejak tahun 1989. Mulai laku dan diminati, para tetangga pun ikut tertarik untuk membantu membuat tas-tas ini dan tak lama kemudian bisnis semakin berkembang. Produk tas ini kemudian dinamakan Dowa, yang dalam bahasa Sansekerta berarti doa.

Awalnya, tas-tas ini dijajakan di area penginapan turis di kawasan Prawirotaman, dimana target konsumen yang disasar merupakan turis baik domestik maupun luar negeri yang mencari barang-barang kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Ternyata kemudian tas-tas Dowa banyak diminati oleh berbagai turis, bahkan pada perkembangannya ada beberapa turis asing yang memborong tas dalam jumlah tertentu untuk kemudian diedarkan dan dijual di negara asalnya. Sontak popularitas Dowa meningkat drastis dan permintaan dari dalam maupun luar negeri terus bertambah. Pada prosesnya, Dowa kemudian bekerja sama dengan beberapa brand luar negeri seperti The Sak dan The Read’s untuk distribusi produk ke pasar Eropa dan Amerika.

Kemudian untuk memenuhi permintaan di area domestik yang juga meningkat, dibukalah showroom dan workshop pusat di kawasan Godean, dimana selain melayani pembelian tempat ini juga menjadi pusat pembuatan produk-produk Dowa. Konsumen bisa melihat langsung bagaimana proses tas dan fashion item lainnya dibuat secara handmade oleh para pengrajin asli Yogyakarta. Lalu belakangan, untuk bisa menjangkau lebih banyak lagi konsumen, beberapa cabang outlet turut dibuka seperti di kawasan Mangkubumi yang dekat dengan Tugu Yogyakarta, serta di beberapa hotel seperti hotel Inna Garuda, hotel Novotel Yogyakarta dan Solo.

Selain lokasi bisnis yang berkembang, produk-produk pun ikut dikembangkan dengan beragam varian. Selain tas wanita yang menjadi produk unggulan, kini Dowa juga memproduksi dompet, clutch, scarf, aksesoris seperti pouch, gantungan kunci, bahkan produk tas untuk pria. Tak hanya itu, Dowa kini tidak cuma berfokus pada tas rajut saja, tapi Dowa juga mulai memasarkan tas-tas berbahan kulit, kanvas dan rotan dengan kualitas yang sama-sama premium serta desain yang tak kalah unik.

Harga sendiri beragam, bergantung dari bahan yang digunakan, serta motif dan desain. Tas rajut misalnya, berkisar antara Rp. 650.000,00 hingga Rp. 1.200.000,00. Kemudian untuk dompet, clutch serta pouch dihargai dari Rp. 125.000,00 sampai Rp. 650.000,00. Adapun produk lain seperti tas kanvas dijual mulai Rp. 700.000 hingga Rp. 1.100.000,00 serta tas kulit berkisar dari Rp. 550.000,00 sampai Rp. 1.400.000,00. Harga yang tergolong premium, namun sesuai dengan target pasar yang premium pula dengan desain yang unik dan kualitas handmade yang apik.

Showroom pusat dan cabang outlet Dowa Bag buka setiap hari dari jam 08.00 pagi hingga jam 17.00 sore. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi (0274) 6497555, via email di dowa@dowabag.co.id atau mengunjungi situs resmi di dowabag.co.id.

Dowa Bag

Showroom & factory: Jl. Godean km. 7, telp. (0274) 6497555

Outlet Mangkubumi: Jl. Mangkubumi no. 125, telp. (0274) 6429681

Outlet Inna Garuda: Jl. Malioboro no. 60, telp. (0274) 566322

Outlet Novotel Yogyakarta: Jl. Jend. Sudirman no. 89, telp. (0274) 521169

Outlet Novotel Solo: Jl. Slamet Riyadi no. 272, telp. (0271) 740242

Kotagede Yogyakarta Keindahan Abad 16

Kotagede Yogyakarta pusat kerajinan perak yang pernah jaya

Kotagede Yogyakarta sekarang mungkin tidak semeriah 15-20 tahun lalu, saat bis-bis besar pariwisata hilir mudik di jalan-jalan sempit kota kecamatan itu. Pada masa lalu, Kotagede merupakan satu spot yang tidak akan dilewatkan wisatawan yang berkunjung ke kota pelajar ini.

Kotagede Yogyakarta

Kotagede Yogyakarta sering dijuluki “Jewellry of Jogja” adalah sentra kerajinan perak terpopuler di Indonesia. Bahkan hingga kini. Di sana berdiri banyak toko-toko penjualan perak yang sudah dikenal hingga ke penjuru negeri.

Reputasi ini tentu  bukanlah hasil kerja tahunan. Kerajinan perak di Kotagede sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam berdiri, yakni pada abad ke-16. Pada waktu itu, abdi dalem kriya diperintahkan sultannya, Panembahan Senopati, untuk membuat perhiasan untuk kebutuhan kraton.

Saat masuknya Belanda ke Nusantara melalui perusahaan dagangnya, VOC, pada abad ke-16 itu juga, perdagangan kerajinan perak di Kotagede tumbuh semakin pesat. Waktu itu, banyak pedagang VOC yang memesan alat-alat rumah tangga dari emas, perak, tembaga, dan kuningan ke penduduk setempat di sana.

Kotagede merupakan sebuah wilayah yang memiliki nilai  sejarah di Kota Yogyakarta. Keberadaan pengrajin perak di kota itu mucul seiring dengan tumbuhnya pusat kerajaan itu. Saat pusat Kerajaan Mataram pindah ke Pleret, para pengrajin perak tetap tinggal di kota itu untuk melayani permintaan dari masyarakat umum.

Kotagede Yogyakarta menjadi ikon wisata dan budaya kota pelajar ini.
Kotagede Yogyakarta sama ikoniknya dengan tugu di pusat kota ini. Foto: Dok. shutterstock

Pecahnya kerajaan Mataram Islam menjadi Kraton Yogyakarta Hadiningrat dan Kraton Surakarta Hadiningrat berdampak pada kerajinan perak di Kotagede. Saat itu, sentra kerajinan itu harus melayani permintaan empat kraton sekaligus, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Puro Pakualaman, dan Puro Mangkunegaran.

Tradisi pembuatan kerajinan perak itu terus berlanjut hingga masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII di Kraton Ngayogyakarta.

Awalnya kerajinan perak di Kotagede Yogyakarta produknya hanya terbatas. Lama-kelamaan ia bertransformasi menjadi industri. Kedatangan Belanda membawa peran dalam mengubah wajah kerajinan perak, dan industrinya di sana. Ini terjadi karena ada perpaduan kultur barat dan timur.

Semula gaya ukiran perak Kotagede terinspirasi dari ukiran pada bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa, seperti di candi Prambanan dan lain-lain. Inilah keunikan Kotagede yang tak dimiliki daerah lain, yaitu seni ukir perak.

Industri perak Kotagede mulai berkembang dan dikenal pasaran dunia ketika para pengrajin perak di sana mulai berinteraksi dengan para pedagang dari bangsa Belanda. Waktu itu, para pedagang dari negeri kincir aingin itu memesan kebutuhan rumah tangga untuk orang-orang Eropa dengan bahan perak seperti sendok, garpu, sendok nasi, panci, piring, dan cangkir.

Dalam periode selanjutnya, kerajinan perak di Kotagede mengalami masa pertumbuhan yang luar biasa, tepatnya antara 1930-1940-an. Pada waktu itu muncul perusahaan-perusahaan baru pengrajin perak. Dari sisi produk, berbagai motif baru ukiran perak juga diciptakan. Bahkan kualitas hasil kerajinan perak ditingkatkan.

Berkembangnya perusahaan-perusahaan perak tersebut, juga disebabkan keberhasilan mereka mengembangkan kerja sama dengan mitra di luar negeri. Ekspor produk kerajinan perak Kotagede Yogyakarta pun mendunia.

Seluruh kerajinan perak yang dihasilkan para pengrajin di Kotagede tidak hanya unik dan indah, melainkan menjadi karya seni bernilai tinggi. Secara umum, kerajinan perak di Kotagede terbagi atas beberapa jenis seperti kalung, gelang, cincin dan anting, miniatur, dekorasi atau hiasan dinding, serta aneka kerajinan lainnya.

Kotagede Yogyakarta sebagai pusat pengrajin perak, selain produk-produknya, juga ditunjukkan dengan berdirinya Kunstambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan Sedyaning Piwoelang Angesti Boedi yang didirikan oleh Java Instituut pada 1939. Dulunya, bangunan sekolah itu masih satu kompleks dengan Gedung Museum Sonobudoyo.

Dari murid-murid yang belajar di sekolah itu, lahir berbagai kerajinan perak yang unik. Sayangnya sekolah ini hanya meluluskan satu angkatan (1939-1941) karena pada tahun-tahun itu meletuslah Perang Dunia II.

Begitupun Kotagede Yogyakarta sebagai pusat kerajinan perak masih tumbuh. Bahkan mampu mengalami masa kejayaan ke dua pada era 1970 hingga 1980. Pada waktu itu para pengusaha perak di kota ini sering mengekspor produknya hingga mancanegara seperti Malaysia, Pakistan, Arab, dan Romania. Saat itu jenis kerajinan yang banyak dipesan adalah alat-alat makan.

Setelah era kejayaan di awal era 80-an, perlahan-lahan pesona Kotagede sebagai tempat kerajinan perak terus meredup. Kini, kerajinan perak di Kotagede mulai luntur. Kerajinan itu kini sedang mengalami surut dalam produksi. Bahkan saat ini para pengrajin tak bisa menjadikan perak sebagai tumpuan hidup keluarga.

Saat ini umumnya para pengrajin perak di sana hanya memasarkan produk di wilayah Yogyakarta dan sekitar pulau Jawa. Merekapun sering kali hanya mengandalkan pembeli yang datang ke gerai-gerai mereka saja.

Padahal pusat kerajinan perak ini masih memproduksi berbagai macam benda dari perak dan bentuknya juga unik dan keren. Harganya juga sangat terjangkau mulai dari Rp 10 ribu sampai jutaan rupiah tergantung besar kecilnya produk.

Kotagede Yogyakarta menjadi saksi keindahan produk-produk kerajinan perak.
Perajin perak Kotagede Yogyakarta sedang bekerja. Foto: Dok. shutterstock

Jenis kerajinan yang diproduksi berbagai macam dari cincin, kalung, gelang, andong, serta hewan-hewan unik lainnya. Dengan keunikan tersebutm rasanya Kotagede Yogyakarta masih bisa diandalkan menjadi destinasi wisata bagi pengunjung.  

Perlu dilakukan sejumlah pengembangan, dari segi desain, model, juga gaya pemasaran. Dari sisi wisata, mungkin ia bisa menarik lagi wisatawan yang ingin belajar membuat karyanya sendiri. Dengan demikian bis-bis besar akan kembali hilir mudik.

agendaIndonesia

*****

Ikat Prailiu, Satu Kain Ditenun 6 Bulan

Ikat Prailiu tenun khas Sumba yang selembarnya ditenun hingga 6 bulan.

Ikat Prailiu adalah kain tenun khas masyarakat Sumba, khususnya Sumba Timur. Budaya sejumlah suku di Nusantara tak bisa lepas dari kain tradisional. Selain penuh makna, kain itu kerap dikenakan pada ritual tertentu. Tenun ikat Prailiu salah satunya. Kain tenun ini kaya akan nilai budaya, spiritual, dan ekonomi.

Ikat Prailiu

Prailiu adalah kerajaan yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Ditilik dari riwayat sejarahnya, Pulau Sumba ini dahulu dihuni beberapa kerajaan. Ini seperti laiknya daerah lain di Nusantara. Namun banyak di antara kerajaan itu yang tergerus zaman. Prailiu sendiri belum melakukan pengangkatan raja lagi setelah wafatnya raja terakhir pada 2008.

Jika Anda cukup sering bepergian ke Kawasan Timur Indonesia, perjalanan ke Sumba Timur jangan sampai luput dari agenda mengunjungi Prailiu. Daya tarik lain dari Prailiu adalah melihat para ibu yang sedang menenun kain khas Sumba. 

Ikat Praliu, ada 100 kain yang dimasukkan ke makam raja Prailiu.
Makam Raja Prailiu. Foto.Dok TL

Meskipun masyarakat di sini banyak yang merupakan keturunan raja, para anggota keluarga ini sangat ramah dan rendah hati. Pengunjung pasti akan betah berlama-lama mendengarkan berbagai cerita sejarah yang mengalir dari mulut mereka. Termasuk tentang kisah-kisah tradisi menenun kain ikat prailiu.

Pulau Sumba dikenal sebagai tanah air penganut Marapu, kepercayaan yang meyakini dan memuja roh leluhur. Banyak benda yang dikeramatkan masyarakat Marapu sebagai media penghubung dengan leluhur. Perlahan, jumlah penganut kepercayaan ini mulai berkurang seiring masuknya agama lain ke Sumba. Namun adat istiadat tetap tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja, seperti pembuatan tenun ikat ini.

Dalam tradisi Marapu, selembar kain tenun ikat digunakan pada prosesi perkawinan, sebagai mahar, dan upacara kematian. Rambu Ana, putri bungsu raja terakhir Prailiu, berujar, “Di dalam kubur batu ayahku, Tamu Umbu Ndjaka, terdapat sekitar 100 tenun persembahan dari warga dan kerabat. Mereka memohon agar kain-kain itu ikut dikubur bersama raja sebagai bentuk penghormatan.”

Kain ini juga dikenakan sebagai pakaian adat saat upacara spiritual, dari Wulla Podduhingga Pasola. Hinggi Kalambung adalah kain tenun yang digunakan di pinggang seperti sarung, sedangkan yang diselempangkan di bahu disebut Hinggi Nduku.

Rambu Ana biasanya akan mengajak wisatawan berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya yang perajin tenun ikat. Jaraknya tak jauh, sekitar 15 menit berkendara dari Prailiu, sudah sampai di tempat tujuan. Kita bisa melihat proses pewarnaan biru di rumah Ngana Ana, tak semua penenun bisa meramu biru.

Seperti siang itu. Ketika sampai di rumah wanita bernama Ngana Ana itu, saat itu ia sedang asyik mengurus beberapa babi dan kuda di halaman rumah. Saat bersalaman dengan wanita itu, pengunjung langsung memperhatikan tangan hingga separuh lengannya yang berwarna biru kegelapan. Dia seperti baru bermain tinta.

“Tangan-tangan ini bekas merendam benang pintal,” ucap Rambu Ana menjawab pandangan pengunjung yang keheranan. Benar saja, rupanya Ngana Ana baru melakukan proses pewarnaan di belakang rumah.

Warna biru alami ini berasal dari daun nila yang dapat ditemukan di halaman rumahnya. Daun hijau yang besarnya hanya sekitar satu sentimeter itu bisa menghasilkan warna biru yang khas. Paduan warna tenun Prailiu memang tak terlalu banyak, hanya merah, hitam, kuning, dan biru. Untuk warna merah, penenun menggunakan ekstrak akar mengkudu.

Ngana Ana kemudian menjabarkan proses pembuatan tenun ikat Sumba Timur. Bahan dasarnya ada dua macam, yaitu benang buatan pabrik yang biasanya sudah dijual berwarna-warni dan benang yang dipintal sendiri dari kapas, seperti dipakai Ngana Ana.

Selesai dipintal, benang akan melewati proses pewarnaan menggunakan bahan alami tadi. Sebelum ditenun, ada proses penggambaran motif terlebih dulu. Hebatnya, nenek moyang mereka tak pernah menggambar, melainkan langsung menenun dengan benang yang dipilih.

Setiap wilayah di Sumba memiliki kekhasan motif tenun. Ngana Ana menyebutkan bahwa dia lebih sering membuat motif hewan, seperti buaya, penyu, ayam, kakatua, dan udang. Ada pula beberapa tamu yang membeli tenun dengan motif sendiri.

Ikat Prailiu biasanya menggunakan motif berbau alam, tumbuhan atau hewan.
Macam-macam motif tenun ikat Prailiu. Foto: Dok. shuterstock

Proses pemintalan hingga menjadi kain tenun siap pakai bisa memakan waktu paling lama enam bulan. Harganya bervariasi. Rambu Ana mengatakan pernah melihat kain tenun Prailiu dijual seharga Rp 10 juta.

Sebagai salah satu penerus warisan budaya leluhur Prailiu, Rambu Ana ingin mempertahankan tradisi membuat tenun ikat. Selain regenerasi keahlian menenun, tentu pemasaran harus dikembangkan agar tenun ikat dikenal masyarakat di luar Pulau Sumba. Apalagi harga jualnya cukup tinggi. Sebaliknya, wisatawan hendaknya menghargai proses pembuatan tenun yang panjang dan pasti melelahkan itu.

agendaIndonesia

*****