Kerajinan Kulit Manding, Besar Sejak 1958

Kerajinan kulit Manding, Bantul, Yogyakarta, dengan ikon patungnya. Foto: Kemenparekraf

Kerajinan kulit Manding di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, adalah salah satu yang legendaris serta sarat sejarah. Di seluruh desa ini penduduknya bekerja dalam industry kreatif kerajinan kulit. Lokasinya tepatnya di Dusun Manding, Desa Sabdodadi, Bantul.

Kerajinan Kulit Manding

Di jalan Parangtritis sebuah gerbang menyambut wisatawan yang hendak berkunjung ke dusun ini. Sepajang jalan sejak gerbang di kanan kiri terhampar gerai-gerai yang menawarkan produk kulit.

Kerajinan kulit Manding di Bantul, menjadi sentra kerajinan kulit terbesar di Yogyakarta.
Gerbang masuk ke Sentra Kerjainan Kulit Manding di Bantul. Foto: Dok. Kabupaten Bantul

Sentra kerajinan kulit Manding ini disebut sarat sejarah karena industri kulit ini sudah eksis sejak tahun 1950-an. Semua bermula dari tiga orang pemuda dusun Manding bernama Prapto Sudarmo, Ratno Suharjo dan Wardi Utomo yang pada tahun 1947 pergi ke pusat kota Yogyakarta. Mereka melihat perajin yang membuat pelana dari kulit di kawasan Rotowijayan, yang kini menjadi Museum Kereta Keraton.

Merasa tertarik dengan seni kerajinan kulit tersebut, mereka lantas melamar bekerja di tempat itu. Setelah 11 tahun lamanya mereka bekerja di sana, akhirnya dengan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan, mereka kemudian memberanikan diri untuk membuka usaha kerajinan kulit sendiri di dusun mereka pada 1958.

Berbekal bahan kain bekas, mereka mulai membuat sendiri produk kerajinan kulit seperti sepatu, tas, ikat pinggang, dompet, jaket dan lain-lainnya. Dari tiga serangkai tersebut, semakin banyak warga dusun Manding yang ikut tertarik dengan usaha kerajinan kulit ini. Puncaknya, pada 1970-an bisnis ini mulai mengemuka dan karya kerajinan kulit Manding mulai dikenal banyak orang.

Barang-barang hasil produksi warga dusun Manding tersebut awalnya diperjualbelikan di Pasar Ngasem, tetapi karena semakin diminatinya produk-produk ini oleh wisatawan dalam dan luar negeri, serta terus bertambahnya perajin dari dusun tersebut yang membuka usahanya, akhirnya pada tahun 1980-an mereka mulai membuka toko-toko sendiri di dusun Manding.

Pada perkembangannya, industri rumahan ini bukannya tanpa tantangan zaman. Seiring maraknya barang-barang sejenis dengan bahan serupa atau berbeda-beda seperti kain, plastik dan sebagainya yang menyerbu pasaran, tentu tidak mudah menarik perhatian lebih banyak konsumen.

Begitupun mereka menjawabnya dengan menyajikan produk yang punya kualitas dan keunikan tersendiri dibanding pesaingnya, misalnya dengan penggunaan kulit sapi, kambing dan domba yang berkualitas, untuk menjamin keawetan produk.

Salah satu karakteristik lain yang dimiliki produk kulit Manding yaitu penggunaan teknik ‘tatah timbul’ yang memberikan efek timbul pada bagian kulit yang diukir para perajinnya. Ini kemudian menjadi salah satu ciri khas produk kerajinan kulit Manding.

Ditambah lagi dengan jahitannya yang menggunakan tangan, serta bagaimana mereka memadukan kulit dengan bahan-bahan lainnya seperti serat pandan, lidi, eceng gondok dan lain-lain. Alhasil, dengan kualitas dan kreatifitas produk yang dapat bersaing dengan produk lain, namun dijajakan dengan harga yang relatif miring, membuat produk kerajinan kulit Manding mempunyai daya tarik sendiri.

Perjalanan mereka tak selamanya mulur. Industri kerajinan kulit Manding juga sempat dilanda musibah ketika gempa bumi menggoyang keras Yogyakarta pada 2006 silam. Utamanya bagian selatan Yogya, termasuk kawasan Bantul, yang membuat dusun Manding turut porak poranda.

Namun berkat banyaknya bantuan donatur, terutama Bank Indonesia yang menjadikan dusun Manding sebagai desa binaan, serta maraknya lahan-lahan yang disewakan di sekitar dusun Manding, tak butuh waktu lama bagi industri ini untuk kembali bangkit. Bahkan dari sebelumnya yang hanya terdapat sekitar 10 toko, kini setidaknya terdapat 40 toko yang menjamur di sepanjang Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo tersebut.

Kini, selain menjadi sentra produksi dan penjualan kerajinan kulit Manding di Yogyakarta, dusun Manding ini juga sudah didesain menjadi desa wisata yang tidak hanya menjajakan barang-barang hasil produksinya saja kepada para pelancong. Kini dusun ini juga menawarkan kesempatan untuk ikut merasakan pengalaman membuat kerajinan kulit sendiri, termasuk belajar menggunakan teknik khusus seperti ‘tatah timbul’ yang unik itu.

Harga barang-barang produk kerajinan kulit Manding relatif terjangkau. Misalnya sepatu yang harganya berkisar Rp 150 ribu, dompet yang dihargai mulai Rp 90 ribu atau tas yang dijual sekitar Rp 200 ribu, tergantung dari bentuk dan modelnya.

Jika menimbang kualitas produk yang dikenal tahan lama, maka harga tersebut termasuk bersahabat di kantong. Tak heran, produk kerajinan kulit ini pun terus populer hingga ke negara-negara luar seperti Australia, India dan sebagainya.

Tak sulit menemukan lokasi dusun Manding. Seperti disebut di muka, di bagian depan sebelum masuk anda akan menemukan gapura bertuliskan ‘Sentra Industri Kerajinan Kulit Manding’. Dari situ, terlihat deretan toko-toko yang siap menawarkan produk berkualitas dengan harga reasonable. Cocok bagi anda yang sedang mencari oleh-oleh atau yang ingin mencoba pengalaman baru membuat kerajinan tangan secara tradisional, yang kini telah diwariskan dan dilestarikan turun-temurun sejak 65 tahun lalu.

Sentra Industri Kerajinan Kulit Manding

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, dusun Manding, desa Sabdodadi, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Canting Batik, Ini 5 Jenis dan Fungsinya

Canting batik bukan sekadar alat menulis motif, ada sejarah di belakangnya.

Canting batik dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di daerah-daerah yang menghasilkan komoditas kain batik. Canting sendiri diyakini berasal dari bahasa Jawa yang artinya alat untuk menulis atau melukis motif batik.

Canting Batik

Secara umum ini adalah alat pokok dalam membatik secara tradisional yang menentukan apakah hasil pekerjaan tersebut disebut batik tulis atau bukan. Atau bahkan menentukan sebuah kain disebut batik atau bukan batik.

Alat ini memang dipergunakan untuk menulis, atau mungkin lebih tepatnya melukis dengan cairan malam, untuk membuat motif yang diinginkan. Membatik dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi, karena proses melekatnya lilin pada kain harus menggunakan canting.

Batik juga dikatakan seni karena gambar motifnya merupakan ekspresi perasaan, keinginan, atau suasana hati seorang pembatik

Pemilihan canting batik dalam membatik sangat menentukan baik dan tidaknya motif yang dihasilkan. Hal ini karena setiap titik dan garis pada batik memiliki ukuran (canting) yang telah ditentukan.

Aneka Batik dari Jawa shutterstock
Aneka motif dan jenis batik dari Jawa. Foto: shutterstock



Sesungguhnya dari mana teknik menciptakan motif kain dengan menggunakan cairan malam ini? Ternyata ceritanya sangat panjang.

Pada awalnya teknik tersebut dikenal di Mesir, yakni sejak abad sebelum masehi. Perkiraan ini muncul karena ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi dengan (cairan) malam yang membentuk pola.

Namun Mesir bukan satu-satunya tempat dikenalnya teknik “membatik”. Di Asia, teknik ini digunakan pula oleh bangsa Tiongkok di masa Dinasti Tang (618-907). Ini juga ditemukan di India serta di  Jepang pada periode Nara (645-794). Sedangkan di Afrika sendiri teknik yang menyerupai batik ini dikenal oleh suku Yoruba di Negeria, suku Soninke, dan Wolof di Sinegal.

Sementara itu, di Indonesia seni membatik dikenal sejak zaman Majapahit.  Senin ini semakin populer pada akhir abad XVIII atau awal abd XIX. Pada zaman ini hingga awal abad XX semua jenis batik yang dihasilkan adalah batik tulis. Sedangkan sekitar 1920-an atau setelah Perang Dunia I produk batik dengan teknik cap baru dikenal.

Sejarah awal mulanya batik memang belum memiliki keterangan yang cukup jelas, karena beberapa pakar dan peneliti memiliki pandangan yang berbeda dalam hal ini. Dikutip dari kompas.com, GP Roufaer dalam bukunya De Batik- Kunst, menerangkan bahwa kehadiran batik Jawa sendiri tidak tercatat, namun dimungkinkan bahwa teknik batik diperkenalkan dari India dan Sri Lanka pada abad ke-6 atau ke-7.

Sementara J. L. A. Brandes, seorang arkeolog dari Belanda dan F. A. Sutjipto, sejarawan Indonesia menyimpulkan bahwa tradisi batik merupakan tradisi asli dari daerah Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut tidak dipengaruhi oleh Hidhuisme, namun memiliki tradisi kuna membuat batik.

Canting Kecil Cucuk Cecek blibli
Macam-macam jenis canting. Foto: shutterstock

Lalu bagaimana dengan canting batik? Sejak kapan ia dipergunakan untuk membuat motif batik. Soal ini belum ada catatan yang jelas. Belum pula ditemukan dokumentasi soal originalitas canting batik sebagai alat khas batik Indonesia.

Begitupun, dari banyak narasi yang ada, semuanya sama menyebutkan bahwa canting batik adalah alat yang terdiri dari tiga bagian, yaitu cucuk, nyemplung, dan pegangan.

Pertama, cucuk atau carat, berfungsi seperti mata pena sebagai ujung keluarnya cairan malam (lilin). Cucuk terbuat dari tembaga yang merupakan material yang baik untuk mengantarkan panas.

Bagian ke dua disebut nyamplung, ini berfungsi sebagai tempat untuk memasukkan malam atau lilin panas. Seperti halnya cucuk, nyemplung juga terbuat dari tembaga. Sedangkan bagian ke tiga adalah pegangan canting batik yang terbuat dari bambu atau kayu.

Meskipun bentuknya sama atau mirip, canting batik memiliki jenis yang terkait dengan fungsinya ketika membatik. Berikut jenis-jenis canting:

Canting Reng-rengan

Canting Reng-rengan dipergunakan sebagai awal proses membatik, yaitu proses membuat pola. Namun, awalnya pola dibuat terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan menggunakan canting reng-rengan.

Canting Isen. 

Canting Isen merupakan canting yang berfungsi untuk mewarnai atau mengisi pola dari kerangka dasar yang sudah jadi. Canting isen memiliki cucuk tunggal dengan diameter 0,5 mm – 1,5 mm serta digunakan untuk detail yang lebih kecil.

Canting Cecek.

Canting berukuran kecil yang fungsinya untuk memberikan isen-isen pada motif batik.

Canting Klowong. 

Canting ini digunakan untuk membuat pola utama batik dimana membutuhkan detail yang lebih besar. Motif yang dibuat biasanya akan mendominasi batik secara keseluruhan.

Canting Tembok.

Canting ini memiliki cucug yang lebih lebar. Cucuk ini berfungsi agar mempermudah proses membatik untuk mengeblok motif secara keseluruhan. Canting ini biasanya digunakan untuk menutup motif secara keseluruahan.

agendaIndonesia/dari berbagai sumber

*****

Berlian Martapura, Berkilau Sejak Abad 16

Berlian Martapura, Kalimantan Selatan, adalah produk perhiasan terbesar di Indonesia. Foto: dok. BUkalapak

Berlian Martapura adalah salah satu permata kekayaan Indonesia yang moncer hingga ke pelosok dunia. Berjarak sekitar 40 kilometer atau kurang lebih satu jam perjalanan darat dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Martapura kondang sebagai sentra tambang dan penjualan berlian terbesar di Indonesia.

Berlian Martapura

Secara turun temurun, bisnis penambangan dan perdagangan berlian sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak warga di sekitar tepi sungai Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tersebut. Tak heran, kota tersebut juga kerap disebut sebagai ‘kota intan’.

Satu hal yang mungkin masih banyak orang awam belum paham soal perbedaan istilah intan dan berlian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intan merupakan batu mulia yang berbentuk kristal dari karbon murni. Sedangkan berlian adalah intan yang telah digosok atau diasah sehingga menjadi berkilau. Singkatnya, intan adalah bahan bakunya, sementara berlian adalah yang sudah diolah.

Berlian Martapura dulunya adalah bisnis keluarga raja dan bangsawan Kasultanan Banjar.
Masjid Agung Al Karomah, landmark kota Martapura, Kalimantan Selatan. Foto: DOk. shutterstock

Tradisi penambangan dan perdagangan berlian ini bisa dirunut sejak abad ke-16, atau pada masa kesultanan Banjar. Kebetulan Martapura sempat menjadi ibu kota, dan bisnis berlian yang dikelola oleh raja, bangsawan dan tuan tanah setempat merupakan salah satu mata pencaharian yang banyak membawa kesuksesan, sehingga kesultanan Banjar meraih masa kejayaannya pada masa itu.

Setelah kedatangan Belanda dan runtuhnya kesultanan Banjar pun, warga setempat masih melakukan penambangan berlian, di samping penambangan oleh pihak swasta di masa itu. Ketika memasuki era pasca-kemerdekaan, penambangan berlian mulai berjaya lagi pada era 1950-an.

Pada 1965 ditemukan berlian seberat 166,75 karat, yang kemudian dinamakan Intan Trisakti oleh Presiden Soekarno pada saat itu. Konon katanya, hingga saat ini berlian tersebut masih menjadi salah satu yang terbesar dan termahal yang pernah ditemukan di Indonesia, harganya dengan nilai saat ini ditaksir bisa mencapai Rp 10 triliun.

Bagi warga Martapura, budaya penambangan dan perdagangan berlian ini tidak lagi hanya dipandang sebagai mata pencaharian semata, tetapi juga bagian dari tradisi dan jati diri yang diwariskan leluhur. Oleh karena itu, akhirnya pada 1970-an didirikanlah Pasar Intan Martapura.

Pasar Intan ini untuk mengakomodasi banyaknya para penambang dan pengrajin berlian yang ingin menjual hasil temuan dan kerajinannya. Selain itu juga menjadi tujuan konsumen yang datang tidak hanya dari dalam tapi juga luar negeri.

Penambangan berlian di Martapura sendiri hingga kini masih dilakukan secara tradisional. Para pendulang secara berkelompok -sekitar delapan hingga sepuluh orang, akan berusaha menyedot bagian dasar sungai, sebelum dibersihkan kembali dengan air.

Hasil sedotan tersebut kemudian disaring kembali menggunakan linggang, sebuah alat penyaring yang berbentuk mirip caping berukuran besar. Dari situlah kemudian kemungkinan akan ditemukan intan.

Intan tersebut kemudian akan digosok dan diolah menjadi berlian, yang kemudian dikemas menjadi barang perhiasan seperti cincin, kalung, liontin, anting, gelang dan sebagainya. Sebagian lainnya pun juga dijual secara mentahan.

Tak jarang, pengunjung Pasar Intan Martapura tidak hanya para wisatawan yang singgah mencari cenderamata berua perhiasan jadi, tetapi juga pedagang maupun pengrajin yang mencari berlian utuh untuk kemudian diolah dan dijual kembali lebih mahal.

Memang, di pasar ini harga berlian serta barang kerajinannya berkisar antara ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Ini tergantung pada keunikan dan kelangkaannya, sehingga produknya tak bisa dikatakan murah.

Namun, harga yang dipatok disebut masih lebih murah ketimbang harga di tempat-tempat lain, apalagi berlian Martapura serta kerajinannya disebut punya kualitas yang bagus dan bahkan mampu bersaing dengan berlian impor buatan Eropa.

Adapun karakteristik berlian buatan Martapura cenderung berbeda dari berlian impor. Ini jika disinari tidak memancar seterang berlian impor yang punya tingkat keterbiasan lebih tinggi. Ini disebabkan proses penggosokan berlian di sini notabene masih dilakukan secara tradisional.

Begitupun, nyatanya hal tersebut justru menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri bagi banyak orang. Maka wajar bila berlian Martapura juga diburu oleh pedagang, turis dan kolektor manca negara seperti dari Singapura, Malaysia, Myanmar, India hingga Afrika Selatan.

Pasar Intan Martapura sejak dulu hingga kini berada di Jalan Ahmad Yani. Lokasinya berada persis di pinggir jalan, berdekatan dengan Masjid Agung Al-Karomah, sehingga mudah untuk ditemui. Hingga kini, tercatat setidaknya sekitar 80-an toko berjualan di pasar ini.

Sehari-hari, pasar ini selalu dipadati pengunjung dengan perkiraan 10 ribu orang per hari, namun angka ini bisa melonjak hingga 20 ribu orang per hari pada akhir pekan dan hari libur. Pada perkembangannya, selain menjajakan berlian dan kerajinannya dari hasil olahan sendiri, pasar ini kemudian juga menjual beragam jenis batu mulia lain, bahkan yang datang dari luar negeri, seperti zamrud, ruby, giok, mutiara, safir, opal, topaz dan lain-lain.

Yang juga perlu menjadi catatan, dengan kesadaran dewasa ini akan adanya ancaman pemalsuan batu mulia, kini di Martapura juga terdapat Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu Mulia (LPSB). Lembaga ini turut membantu menjaga dan menjamin keabsahan batu berlian serta batu mulia lainnya yang diperjualbelikan. Siapapun konsumen yang hendak membeli barang-barang kerajinan berlian Martapura dapat memeriksa dan memastikan bahwa barang yang dibelinya asli.

Sudah pernah ke Martapura? Ayo agendakan jalan-jalan ke Kalimantan Selatan dan beli berlian Martapura.

agendaIndonesia

*****

Payung Geulis, Fashion Cantik Pada1920-an

Payung geulis khas Tasikmalaya pada zamannya adalah ikon fashion. Foto shutterstock

Payung geulis Tasikmalaya rasanya bukan alat pelindung air hujan. Bahannya yang terbuat dari kertas rasanya tak cukup kuat untuk menahan guyuran air dari langit. Pelindung matahari? Bisa jadi ini lebih masuk akal.

Payung Geulis

Tetapi tahukah Anda bahwa di masa silam payung juga digunakan sebagai bagian dari fashion? Sebagai pernak-pernik penambah gaya, dan sebagai salah satu lambang kecantikan wanita tempo dulu?

Payung Kertas Geulis Asephi
Payung khas Tasikmalaya yang banyak diekspor. Foto: Dok. milik Asephi

Payung di waktu itu tidak hanya dipandang dari sisi fungsi saja, tetapi juga sebagai alat pendongkrak image, sebuah fashion statement. Dan payung Geulis, sebuah kerajinan tangan tradisional khas Tasikmalaya, adalah salah satu saksi sejarah tren penggunaan pernik fashion di era tersebut.

Anda mungkin pernah melihat payung tradisional berbahan kertas dengan corak-corak cantik berwarna-warni dari beberapa negara. misalnya Jepang. Payung Geulis pun tak ubahnya demikian.

Pada awal kemunculannya ia juga sebuah payung tradisional yang terbuat dari rangka bambu dan tudung berbahan kertas. Untuk mempercantiknya, para pengrajinnya lantas secara manual melukiskan bagian tudung payung tersebut dengan beragam motif.

Biasanya motif yang dibuat dapat bervariasi, mulai dari motif hias geometris yang berbentuk garis-garis lurus atau melengkung, atau motif hias non geometris seperti corak bunga. Motif bunga memang yang terbanyak.

Mungkin karena dulu payung geulis lazim digunakan Mojang-mojang Tasikmalaya sebagai lambang kecantikan. Tak heran, payung tersebut kemudian dinamakan ‘geulis’ yang dalam bahasa Sunda artinya cantik, elok dan molek.

Jika ditilik latar belakangnya, payung geulis awalnya lebih banyak diperuntukkan kepada gadis muda berkebaya di kawasan Tasikmalaya untuk bersolek. Terutama ketika cuaca sedang panas terik. Payung ini justru tidak lazim digunakan saat cuaca hujan, lantaran bahan kertasnya yang tidak tahan air.

Karena kegunaannya tersebut, pada masa penjajahan Belanda, utamanya pada 1920-an, noni-noni muda pendatang dari negeri kincir angin tersebut ikut mengadopsi Payung Geulis sebagai bagian dari fashion mereka. Dari situlah, popularitas produk ini semakin terangkat.

Pada puncaknya di era 1950-an hingga 1960-an banyak warga Tasikmalaya yang ikut mengais rezeki sebagai pengrajin payungnya. Begitu lekatnya image barang ini pada kota Tasikmalaya, bahkan lambang kota ini pun terdapat gambar payung geulis.

Tetapi dalam perkembangannya, payung Tasikmalaya ini menghadapi banyak tantangan zaman dan lambat laun ketenarannya tergerus. Setelah era 1960-an, di Indonesia mulai banyak beredar payung-payung impor yang punya kualitas tinggi dan yang paling krusial adalah mereka jauh lebih fungsional, sebagai pelindung di saat hujan.

Pada awalnya, para pengrajin payung Tasikmalaya tinggal diam. Mereka mencoba beradaptasi dengan kebutuhan konsumen. Salah satu upayanya adalah beralih menggunakan bahan kain atau kanvas sebagai tudung payung yang mampu menahan air saat hujan, sehingga nilai fungsional baik.

Namun persoalannya tidak berhenti di situ, karena sebagai industri kreatif rumahan jumlah produksi mereka tentu tidak sebanding dengan payung buatan pabrik. Terlebih karena proses pembuatan payung tradisional ini  biasanya memakan waktu cukup lama, utamanya proses menggambar motif payung-payung tersebut.

Pada akhirnya payung geulis menjadi produk niche yang hanya tersedia berdasarkan pesanan. Para pengrajin memang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat pula.

Pada 1980-an sempat ada insentif untuk menjadikan payung geulis sebagai souvenir dan hiasan kerajinan khas Tasikmalaya, agar industrinya dapat bergerak kembali. Meski mulai terlihat mendapatkan ‘peran’ baru dalam tatanan sosial warga Tasikmalaya, tetapi memang sebagai industri kreatif rumahan jumlah produksinya pun tetap terbatas.

Akibatnya, pengrajinnya kebanyakan hanya mengandalkan pemasukan dari para pelancong yang mencari souvenir atau oleh-oleh. Alasan lainnya, payung khas Tasikmalaya itu kemudian lebih banyak digunakan dalam kegiatan atau upacara adat.

Tantangan terbesar bagi payung Tasikmalaya adalah fakta bahwa kebanyakan pengrajinnya sudah lanjut usia dan generasi penerusnya terbilang minim. Rendahnya minat meneruskan budaya kerajinan ini dikarenakan pemasukan yang tidak seberapa dibandingkan dengan proses produksi yang membutuhkan waktu lama serta jumlah produksi yang minim.

Di sisi lain, pengrajin payung geulis yang masih eksis pun saat ini agaknya terlalu ‘nyaman’ dengan kondisi sekarang. Belum tergerak untuk kembali berinovasi atau membuat variasi-variasi baru untuk menarik minat konsumen, misalnya model-model corak yang baru.

Pemerintah daerah sesungguhnya terus berupaya menyelamatkan industri kerajinan payung ini. Salah satunya dengan mewajibkan penggunaannya sebagai hiasan di hotel, restoran dan gedung perkantoran di wilayah Tasikmalaya.

Mereka juga mulai menggalakkan pembinaan berupa pelatihan dan bantuan peralatan bagi para pengrajin lama dan baru agar dapat terus berkreasi, berinovasi, meningkatkan kualitas produksi dan pada akhirnya turut melestarikan penggalan budaya Tasikmalaya ini.

Saat ini, pusat kerajinan payung geulis berada di desa Panyingkiran, Tasikmalaya. Produk yang biasanya tersedia terdiri dari ukuran kecil dengan diameter 40 sentimeter, ukuran sedang berdiameter 1 meter dan ukuran besar berdiameter dua meter.

Yang berukuran kecil biasanya digunakan untuk hiasan dan dekorasi, sedangkan yang ukuran besar lebih umum dipakai dalam upacara adat atau pernikahan. Soal harga, payung berukuran kecil dibandrol sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Payung ukuran sedang dihargai Rp 50 hingga Rp 70 ribu, dan payung ukuran besar berkisar dari Rp 90 hingga Rp 300 ribu.

Di desa Panyingkiran tersebut terdapat beberapa toko pengrajin payung Geulis, seperti Mandiri, Naila dan Karya Utama yang bisa untuk Anda sambangi dan memesan produknya. So, Anda tertarik membeli dan ikut melestarikan ikon budaya Tasikmalaya ini?

Pengrajin Payung Geulis

Mandiri; Jl. Panyingkiran No. 1, Tasikmalaya, Instagram: @payunggeulis_mandiri

Karya Utama; Jl. Panyingkiran No. 47, Tasikmalaya

Naila; Jl. Panyingkiran No. 17, Tasikmalaya

agendaIndonesia

*****

Kerajinan Indonesia, Ini Dia 6 Yang Unik

Kerajinan Indonesia sangat khas dan memiliki nilai seni yang tinggi. Foto: shutterstco

Kerajinan Indonesia mempunyai banyak keunikan. Letak Indonesia yang strategis memberikan keuntungan tersendiri bagi pengrajin kriya dan seniman lokal. Selain kaya akan bahan baku, perbedaan lanskap di setiap pulau memunculkan keanekaragaman flora dan fauna yang khas.

Kerajinan Indonesia

Keanekaragaman flora dan fauna tersebutlah yang menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku seni kriya dalam membuat karya, kerajinan Indonesia. Setiap karya pun mewakili identitas dari setiap daerah, yang belum tentu dimiliki daerah lainnya. Sehingga hal ini pun memberi warna dalam khazanah kebudayaan Indonesia yang sangat beragam dan kaya.

Kerajinan-kerajinan tangan khas Nusantara ini telah diwariskan secara turun-temurun, dan memiliki filosofi mendalam berkaitan dengan budaya masing-masing daerah. Berkat keindahan dan keunikan yang ditampilkan, tak heran jika kerajinan Indonesia yang khas ini telah diakui hingga kancah Internasional.

Kerajinan Indonesia mempunyai karakter yang sesuai dengan masyarakat tempatnya tumbuh.

Wayang Kulit Dan Tatah Sungging Yogyakarta

Kerajinan tangan dari Yogyakarta yang dikenal sebagai tatah sungging ini telah ada sejak tahun 840M, dan telah masuk dalam Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. Wayang kulit khas Yogyakarta terbuat dari kulit kerbau. Kulit kerbau dipilih sebagai bahan dasar karena sangat kuat dan tidak mudah melengkung.

Dalam proses pembuatan satu wayang kulit umumnya memerlukan waktu sekitar 1 minggu hingga empat bulan, tergantung tingkat kesulitannya. Proses pembuatan yang rumit karena pengrajin sangat memerhatikan detail yang ada di setiap wayang kulit.

Getah Nyatu dari Kalimantan

Kekayaan hayati hutan Kalimantan melahirkan kerajinan tangan unik yang kenal dengan nama getah nyatu. Sesuai namanya, kerajinan tangan ini dibuat dengan memanfaatkan getah dari pohon nyatu.

Kerajinan Indonesia yang berasal dari Kalimantan Tengah di antaranya adalah Getah Nyatu. Foto: palangkaraya.go.id

Pohon nyatu sendiri merupakan endemik Pulau Kalimantan, khususnya Pangkalan Bun dan Kecamatan Bukit Tangkiling. Kerajinan tangan ini pertama kali populer pada sejak 80-an, kerajinan tangan getah nyatu sering dijadikan buah tangan saat orang berkunjung ke Kalimantan.

Proses pembuatan kerajinan tangan getah nyatu cukup rumit. Mulai dari perebusan batang sebanyak tiga kali, hingga proses pemisahan dan pengolahan getahnya. Biasanya getah nyatu akan dibuat menjadi kerajinan berbentuk kapal dan replika boneka

Tenun Songket dari Palembang

Berbeda dari kain khas Indonesia lain, songket khas Palembang memberikan kesan mewah nan elegan pada orang yang memakainya. Hal tersebut didapat dari penggunaan benang emas dan perak yang menghiasi motif songket. Ditambah dengan detail corak yang rumit dan indah, membuat songket makin bernilai.

Menurut sejarah, kain songket awalnya muncul pada masa Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada abad ke-7 hingga ke-13. Tradisi membuat kain songket pun terus berlangsung hingga saat ini. Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, saat ini kain songket juga diproduksi dalam model pakaian, selendang, hingga kerudung siap pakai. Rasanya ini kerajinan Indonesia yang layak dikoleksi

Noken dari Papua

Pada 2012 noken resmi dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Kerajinan tangan khas Papua ini berasal dari serat kayu, daun, batang anggrek, dan benang warna-warni yang dianyam menjadi sebuah tas yang unik.

Kerajinan Indonesia dari Papua biasa disebut Noken.

Kerajinan tangan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, hingga sekarang masyarakat Papua masih kerap menggunakan noken dalam keseharian mereka. Uniknya, noken mampu mengangkat beban hingga 20 kilogram. Kini, noken menjadi salah satu kerajinan tangan dan oleh-oleh unik khas Papua.

Anyaman Pandan dari Natuna

Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau memiliki salah satu kerajinan tangan yang unik, yakni anyaman pandan. Kerajinan tangan ini terbuat dari tumbuhan pandan yang banyak dijumpai di Kabupaten Natuna.

Oleh masyarakat setempat produk anyaman pandan terus dikembangkan menjadi berbagai kerajinan tangan, seperti dompet, keranjang, bakul, dan masih banyak lagi. Motif dan warna anyaman pandan juga beragam yang masing-masing memiliki filosofi tersendiri.

Kipas Kayu Cendana dari Bali

Bali adalah surganya seni, termasuk seni kriya. Jenis kerajinan tangan unik dan memiliki nilai seni tinggi adalah kipas kayu cendana. Kipas asli Bali ini awalnya hanya digunakan dalam seni tari, seperti tari klasik Legong Keraton dan tari modern Kebyar Trunajaya.

Keistimewaan kipas lipat ini adalah kayu pembuatnya, yakni kayu cendana. Bau harum khas kayu cendana akan menguat ketika kipas dikibaskan untuk mengusir rasa gerah. Hal inilah yang membuat banyak orang memburu kipas kayu cendana khas Bali sebagai cenderamata.

Itulah beberapa kerajinan tangan unik dan khas dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan membeli produk buatan lokal, bukan hanya melestarikan budaya yang dimiliki Indonesia saja, tapi kita juga turut membantu para pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kerajinan Cukli Lombok Beken Sejak 1990

Kerajinan cukli Lombok mulai dari furniture hingga pernik-pernik kecil.

Kerajinan cukli Lombok makin dikenal banyak orang di seluruh dunia. Kerajinan ini sesungguhnya baru mulai diperkenalkan oleh masyarakat Lombok sejak 1990-an. Namun, karena keunikannya, kerajinan ini cepat mendunia.

Kerajinan Cukli Lombok

Nama daerah yang memproduksi kerajinan cukili yang kami datangi pada suatu pagi ini memang unik. Desa Sayang-Sayang. Desa ini termasuk wilayah Kecamatan Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berada tak jauh dari pusat kota atau hanya sekitar 4 kilometer.

Sesuai namanya, mungkin memang daerah ini harus disayang karena hasil kerajinan cukli Lombok warganya tergolong unik. Berupa perangkat atau mebel dari kayu mahoni dengan hiasan potongan kecil kerang. Teknik menempelkan kerang-kerang yang sudah dibentuk wajik supermungil itu diberi nama cukli.

Kerajinan cukli Lombok yang khas adalah pada penenaman potongan kerang di kayunya.
Teknik menanam potongan kerang di kayu pada kerajinan cukli. Foto: Dok. TL

Pagi di desa Sayang-sayang biasanya cukup hening. Beberapa toko di Lingkungan Rungkang Jangkuk —salah satu area di Desa Sayang-Sayang— itu terlihat tutup. Entah terlalu pagi atau memang karyawannya sedang libur. Yang pasti di halaman beberapa toko saya melihat kayu-kayu yang akan dijadikan mebel. Sebagian sudah terbentuk meski rampung.

Di gerai lain yang membuka pintunya lebar-lebar, pengunjung dapat melihat keindahan dari mebel dengan hiasan kerajinan cukli Lombok. Kayu mahoni nan gelap dengan serpihan kerang yang tertata rapi pun tampak sangat unik

Hasil kerajinan cukili saat ini memang tidak seperti kerajinan cukli yang dihasilkan pada 1990-an. Dulu hasil kerajinan biasanya dengan kayu yang dibiarkan kasar sehingga lebih kental dengan aksen antik.

“Pada tahun 2000- an, pembeli lebih senang memiliki mebel dengan pelitur mengkilat,” kata H. Nasir, pemilik Dodik Art Shop. Di ruang pamernya yang cukup luas, pengunjung bisa menemukan kursi dengan hiasan cukli.

Harga satu set kursi tamu itu berkisar Rp 9-11 juta. DI Bagian lain ruang pamernya, pengunjung bisa menemukan lemari dengan sentuhan akhir yang sama mengkilap, tempat tidur, satu set meja makan. Atau produk-produk kerajinan kecil seperti kotak perhiasan, tempat tisu, alas gelas, rehan atau tempat Al-Quran, dan bingkai cermin. Tentunya juga peti Lombok dalam tampilan yang sama.

Dari cerita sejumlah pemilik usaha kerjainan cukli. Awalnya, teknik cukli diterapkan pada peti yang kemudian dikenal dengan peti Lombok. Produk ini sebenarnya merupakan tempat perhiasan perempuan suku Sasak. Aslinya terbuat dari pelepah aren atau pandan.

Ketika banyak penduduk di lingkungan Jungkang yang berprofesi sebagai pedagang barang antik, peti perhiasan itu pun menjadi salah satu yang diperdagangkan, selain beragam barang lain. Saat barang antik sulit ditemukan dan memperhatikan minat pasar akan peti antik, maka dibuatlah peti baru dengan teknik cukli. Hal yang tetap dipertahankan dari peti-peti Lombok baru ini adalah model lawasnya.

Pada 1990-an, seperti dikatakan oleh Nasir yang memulai usahanya pada 1985, peti Lombok memang naik daun dan gerai kerajinan yang ada di daerah pun mencapai 70-an. Saat ini, jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan jumlah perajin menurun karena benturan modal yang besar.

Oleh karena itu, hanya produknya yang berkembang dan tidak melulu hanya peti Lombok dalam berbagai ukuran. Dengan variasi ukuran itu, harganya pun lebih bervariasi, yakni dari Rp 100 ribu hingga belasan juta rupiah.

]Nasir menjelaskan, bahan yang digunakan sebagai dasar kerajinan adalah kayu mahoni dengan tahap pembuatan mencapai dua bulan. Pembuatan tersebut menjalani proses yang panjang. Sebab, setelah menjadi rangkaian perabot, kayu terlebih dulu dipahat untuk menempatkan kerang-kerang imut tersebut. Tahap itu memerlukan waktu 2-3 minggu dan dilanjutkan pemasangan kepingan kerang selama 2-3 minggu.

Terakhir, adalah dilakukan pengampelasan hingga 10 hari. Dilakukan hingga enam kali dan hasilnya kayu pun benar-benar halus. Tahap terakhir baru dipulas dengan pelitur glossy dan dijemur di bawah sinar mentari. Memang berbeda dengan produk awal pada 1990-an yang umumnya terlihat kasar.

Membuat kerang hingga menjadi potongan mungil pun juga membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Bahan dasarnya bukan sembarangan kerang yang dipakai, melainkan kerang besar yang berdiameter 25-30 sentimeter. Ini khusus didatangkan dari Sulawesi dan Flores. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati dan penyesuaian ukuran dengan desain produknya.

Kerajinan cukli benar-benar sebuah perjalanan panjang untuk sebuah karya seni. Taka da salahnya Anda memiliki salah satu koleksi produknya.

agendaIndonesia/TL/Rita

*****

Tenun Gringsing, Ikat Ganda Butuh 5 Tahun

Tenun Grinsing Bali salah satu kekayaan budaya Indonesia. Foto shutterstock

Tenun Gringsing menjadi pembicaraan banyak orang ketika dipilih menjadi salah satu tanda mata bagi tamu negara dalam perhelatan G20 di Bali. Ini jelas istimewa, karena kain tenun Gringsing terletak pada teknik pembuatannya, yakni ia satu-satunya kain tenun yang dibuat dengan teknik dobel ikat di Indonesia.

Tenun Gringsing

Proses pembuatan kain tenun yang satu ini dikenal cukup rumit dan membutuhkan waktu lama. Pasalnya, proses penenunan kain tenun Gringsing membutuhkan sekitar dua bulan, sementara untuk motif ikat ganda bisa memakan waktu lebih lama hingga 2-5 tahun.

Bukan hanya itu saja, daya tarik kain tenun Grinsing juga terdapat pada proses pembuatannya yang 100 persen menggunakan tangan, atau tanpa bantuan mesin apapun.

Ciri khas kain tenun Gringsing juga ada pada proses pewarnaannya. Bukan dengan bahan pewarna kimia, kain tenun khas Desa Wisata Tenganan Pegringsingan ini menggunakan warna yang dihasilkan minyak kemiri, agar warnanya lebih pekat dan tahan lama.

Tenun Gringsing motif ikat ganda membutuhkan waktu penenunan hingga lima tahun.
Gadis Bali menggunakan kain tenun Gringsing. Foto: shutterstock

Demi mendapatkan warna yang sempurna, tentu saja membutuhkan proses yang cukup panjang. Menariknya, untuk menghasilkan warna yang nyata pada motif tenun Gringsing membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan.

Untuk mendapatkan warna yang sempurna dan sesuai pakem yang telah ditentukan secara turun-temurun, proses pewarnaan kain tenun Gringsing harus dilakukan secara berulang. Proses pewarnaan kain tenun ini juga dilakukan untuk menjaga serta melindungi keaslian dan nilai ritual kain tenun Gringsing.

Daya tarik kain tenun Gringsing juga berasal dari nilai-nilai dalam setiap motif dan warna yang digunakan. Setiap motif dan warna pada kain tenun Gringsing memiliki makna yang melambangkan keseimbangan antar manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.

Kain gringsing adalah salah satu warisan budaya kuno Bali yang masih bertahan sampai saat ini. Kata gringsing sendiri terdiri dari kata “gring” yang berarti ‘sakit’ dan “sing” yang berarti ‘tidak’ sehingga dapat dimaknai bahwa kain gringsing merupakan kain magis yang membuat pemakainya terhindar dari bala.

Kain yang berasal dari Desa Tenganan, Bali ini menggunakan teknik ikat ganda dan memerlukan waktu rata-rata lima tahun untuk menyelesaikannya. Proses tenunnya sendiri membutuhkan waktu sekitar dua bulan, tetapi proses pembuatan motif ikat gandanya memerlukan waktu yang lama.

Selain itu, kain tenun asal Karangasem ini juga dipercaya sebagai pelindung. Sehingga, tidak jarang biasanya kain Gringsing digunakan masyarakat Bali dalam upacara pernikahan atau upacara keagamaan.

Aneka Motif Tenun Tenganan
Aneka motif tenun Gringsing. Foto: dok. kompas.com

Sebagai kain tradisional khas Bali, kain tenun Tenganan ini memiliki banyak motif yang menyimpan makna. Seperti motif lubeng misalnya, yang bercirikan kalajengking, dan sering digunakan sebagai busana adat dalam upacara keagamaan.

Selanjutnya motif sanan empeg, yang identik dengan kotak poleng merah hitam. Lalu, ada motif cecempakaan yang dikenal dengan motif bunga cempaka, dan sering digunakan sebagai busana adat dalam upacara keagamaan.

Kemudian juga ada motif cemplong, yang bercirikan sebuah bunga besar di antara bunga-bunga yang kecil di sekitarnya. Selain itu, ada juga motif tenun yang menggunakan tokoh pewayangan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, daya tarik Kain tenun dari Tenganan ini tidak hanya berasal dari motifnya saja. Namun, juga bisa kita melihat dari pewarnaan yang digunakan.

Tidak hanya sekadar menggunakan bahan alami, warna-warna yang dipilih memiliki makna mendalam. Secara umum, kain Gringsing memiliki tiga warna yang disebut dengan Tridatu, yaitu warna merah, kuning, dan hitam.

Warna merah berasal dari akar mengkudu, melambangkan api sebagai panas bumi sumber energi dan kehidupan di bumi. Kemudian warna kuning dari campuran minyak kemiri, melambangkan angin atau oksigen dalam setiap kehidupan manusia. Sedangkan warna hitam yang berasal dari pohon taum, yang melambangkan air pemberi penghidupan bagi seluruh makhluk di bumi.

Dalam acara-acara adat, kain tenun Gringsing biasanya digunakan sebagai selendang atau senteng oleh wanita, sedangkan pria digunakan sebagai ikat pinggang.

Seperti disebut di depan, kain gringsing merupakan satu-satunya tenun ikat ganda yang berasal dari Indonesia. Karena itu, harga kain gringsing Bali sangat mahal, karena selain produksinya yang cukup sulit dan tidak sebentar, ketersediaan bahan yang digunakan untuk membuat kain gringsing juga terbatas.

Tenun Gringsing Tenganan dipakai untuk para penari. Foto: shutterstck
Para penari Rejang Tenganan dalam upacara Usaba di Desa Tenganan. Foto: shutterstock

Kain tenun gringsing disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapañca, di sana tertulis tirai-tirai di salah satu kereta kencana Hayam Wuruk, Sri Nata Wilwatikta, terbuat dari kain gringsing. Hingga hari ini, di tengah masyarakat Tenganan Bali, kain gringsing digunakan untuk berbagai upacara, seperti upacara keagamaan, upacara kikir gigi, dan upacara pernikahan.

agendaIndonesia/berbagai sumber

*****

Tenun Rangrang, 3 Warna-warni Nusa Penida

Tenun Rangrang adalah kerajinan khas Nusa Penida, Bali. Foto: milik Wak Laba

Tenun Rangrang adalah jenis tenunan tradisional Bali yang semakin dilirik kaum perempuan di Indonesia. Ini merupakan kreasi penduduk Nusa Penida, jenis tenunan ini menunjukkan keragaman karya perajin Pulau Dewata. Disebut rangrang, ternyata karena jenisnya yang berlubang-lubang atau jarang-jarang.

Tenun Rangrang

Saat ke Bali dan mampir ke Dian’s Rumah Songket dan Endek di Kabupaten Klungklung, ternyata bisa ditemukan tenun rangrang di antara kain songket, cepuk, dan endek. Khusus tenun rangrang, biasanya sang pemiliki langsung memesan ke perajin dari Banjar Karang, Nusa Penida.

Tenun Rangrang adalah produk kerajinan dari masyarakat Nusa Penida, Bali,
Salah satu spot di Nusa Penida. Foto: shutterstock

Tidak sekedar memesan, ia bahkan mengirim benang-benang katun ke sana agar hasil tenun berkualitas baik. Termasuk juga benang dari bahan alam. Menurut sejumlah butik di Klungkung, sudah tujuh tahun ini tenun rangrang semakin digemari orang.

Sebelumnya, konon cukup susah mempromosikan tenun rangrang ini. Namun promosi yang terus menerus membuat pamor tenun jenis ini terus terkerek, harganya pun ikut melonjak. Untuk kualitas terbaik, dengan benang dari bahan alam, selembar kain tenun rangrang berukuran 90 x 200 sentimeter bisa mencapai Rp 1,5-2 juta.

Harga tenunan bervariasi atau bergantung pada ukuran kain. Paling rendah Rp 600 ribu. Bila sudah menjadi pakaian, dipatok mulai Rp 700 ribu. Kain rangrang, yang menggunakan benang sintetis, dijual pada kisaran Rp 400 ribu.

Padahal saat belum naik daun, hasil tenunan  ini dijual mulai Rp 200 ribu. Kini tenun rangrang pun dibuat beragam produk, tak hanya blazer, kemeja, blus, tapi juga dompet, sarung bantal, tas, dan lain-lain.

Keindahan dan harga tinggi tenun rangrang itu pun membikin penasaran. Esok harinya, dari pantai Sanur, agendaIndonesia melaju dengan perahu bermotor menuju Nusa Penida, yang termasuk Kabupaten Klungkung. Sekitar 40 menit perjalanan sudah menginjak pasir putih Dermaga Toyapakeh.

Rupanya, kampung perajin tidak berada dekat pantai. pengunjung harus naik sepeda motor turun-naik bukit sekitar satu jam dari dermaga. Jalanan pun tidak selalu mulus. Mengarah ke sisi timur pulau ini dan menyusuri pantai menaiki beberapa bukit berkapur, akhirnya kendaraan beroda dua berhenti di Banjar Ampel, Desa Pejukutan, yang berada di sebuah bukit.

Banjar Karang, yang banyak disebut juga sebagai kampung perajin rangrang, berada setelah kampung ini. Jauh dari pantai, tak mengherankan jika tak ada seorang pun yang berprofesi sebagai nelayan ataupun petani rumput laut seperti umumnya warga Nusa Penida.

Tua-muda, laki-laki ataupun perempuan beraksi dengan benang plus alat tenun. Di belakang rumah dibuat bangunan terbuka. Diisi beberapa perangkat tenun, sehari-hari mereka bisa ditemukan di sana. Biasanya menenun berkelompok 3-4 orang. Kebanyakan satu keluarga besar atau tetangga. Saya pun bertemu dengan Nyoman Terima—perempuan berusia 60-an tahun yang terhitung sebagai penenun tertua di antara 200 penenun di kampung ini.

Dalam dua tahun terakhir, para remaja pun tergoda menyentuh alat tenun. Putu Wahyudi, 21 tahun, salah seorang di antaranya. Bila kebanyakan anak laki-laki di kota besar bermain dengan gadget atau di depan komputer bermain game, ia anteng menyalin benang. Bahkan umumnya anak perempuan di kampung ini sejak kelas 3 SD sudah mulai menenun.

“Perempuan yang kerja di kota pun kembali dan menenun juga,” ujar Nyoman Widastra, 51 tahun. Ia pun sebelumnya menjajal segala jenis pekerjaan, termasuk menjadi kuli bangunan. Setelah 35 tahun beralih, ia menjadi penenun. “Enak teduh (tidak kepanasan) dan bisa kerja semalaman pula,” ujarnya.

Nyoman bisa melakukannya hingga tengah malam, bahkan sampai pukul 03.00. Pekerjaan menenunnya dimulai dari mengurai benang hingga memintalnya. Setelah itu, ia baru bisa menenun. Rata-rata untuk kain yang paling pendek, yakni 60 sentimeter  x 2 meter, diperlukan waktu sekitar dua hari. “Biasanya untuk selendang.”

Mayoritas perajin menyerahkan hasil kerja mereka kepada pengepul yang sebagian besar menerapkan sistem bayar belakang saat  kain sudah terjual. Bisa juga warga menjual langsung kepada turis mancanegara yang kerap datang. “Kadang mereka beli 2-3 buah gitu,” kata Nyoman.

Mayoritas perajin menggunakan alat tenun terbaru, model lama atau alat tenun cacag tidak lagi digunakan. Bahkan penenun tua pun sudah beralih. Posisi di punggung bawah harus ikut menahan alat tenun dan posisinya yang harus duduk di bawah, membuat mereka lebih cepat lelah. Dibanding alat tenun baru, penenun bisa duduk di bangku dengan posisi lebih nyaman.

Tenun Rangrang membuat banyak anak muda kembali ke desanya di Nusa Penida.
Tenun Rangrang. Foto: shutterstock

Di Dusun Ampel, Banjar Pejukutan, umumnya penenun menggunakan benang sintetis dengan pilihan warna terang atau lembut. “Biasanya pakai tiga warna. Motifnya, kebanyakan bianglala, wajik, dan alam,” kata Nyoman Widastra.

Tidak seluruh kain penuh dengan corak. Yang lazim pada tenunan yang dibuat dengan teknik ikat tunggal ini lantaran ada latar warna. Kemudian di tengahnya berupa corak tertentu. Menurut pengakuan penenun, motif yang dipilih kerap bergantung pada permintaan pengepul.

Tidak hanya paduan warna-warni yang menyuguhkan keindahan, tetapi sesungguhnya kain rangrang juga memuat filosofi mengenai hidup dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap alam, karmapala, dan tridarma dalam agama Hindu.

Dalam masyarakat Bali, sebenarnya dikenakan untuk upacara adat. Namun, seperti pengakuan sejumlah perajin, mereka justru tak lagi memiliki kain rangrang. “Kita bikin buat dijual,” ucap Nyoman seraya menyebutkan dirinya yang sehari-hari menenun tak memilikinya.

Harga yang tinggi menjadi salah satu alasan bagi warga setempat mengapa tak lagi mengenakan kain rangrang. Membuat rangrang hanya untuk mendapat penghasilan, bukan untuk dipakai sendiri.

Rangrang dibikin pun hanya untuk memenuhi permintaan pasar. Warna dan corak sering bergantung pada permintaan. Tidak lagi muncul model lama dengan hiasan pinggiran seperti kupu-kupu, bunga julit, daun bakung, atau katak.

Warga pun tak lagi menggunakan warna alam seperti akar mengkudu dan kayu secang untuk warna merah, bunga delima yang dikeringkan untuk warna kuning, dan daun mangga untuk warna hijau. Kecuali tentu jika ada pesanan.

agendaIndonesia/TL/Rita N./C. Adristy

*****

Kampung Gitar Baki, Berdenting Sejak 1975

Kampung gitar Baki di Sukoharjo atau Solo menjadi kampung dengan keunikan tersendiri. Foto shutterstock

Kampung gitar Baki sering menjadi referensi pemusik gitar atau gitaris jika ingin memperbaiki atau mengubah instrument gitar mereka. Sebab, seringkali toko-toko atau gerai gitar resmi tak menyediakan layanan untuk custom.

Kampung Gitar Baki

Adalah sebuah kampung yang unik. Lokasinya sekitar 12 kilometer di selatan Kota Solo. Kampung itu berada di Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Keunikan kampung itu adalah ratusan kepala keluarganya berprofesi sebagai pengrajin gitar.

Oleh karena itu, tak heran apabila daerah itu mendapat sebutan sebagai kampung gitar Baki. Kadang orang juga menyebut kampung gitar Mancasan.

Kampung gitar Baki memiliki 90 persen warga yang bekerja sebagai perajin gitar.
Sentra kerajinan Gitar di Desa Mancasan, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Kampung gitar Baki Sukoharjo sudah berdiri sejak 1975. Di sana, banyak warganya yang memproduksi gitar di rumah mereka masing-masing. Berbagai macam jenis gitar mereka hasilkan. Mulai dari gitar akustik model tanduk, gitar klasik, ukulele, rebab dan berbagai jenis alat musik petik lainnya.

Di Kawasan Mancasan, kerajinan gitar sudah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakatnya. Konon, kemampuan merakit gitar para penduduk Mancasan sudah diwariskan secara turun temurun.

Kampung gitar Baki Mancasan adalah sebuah desa dengan ratusan kepala keluarga yang berprofesi sebagai pengrajin gitar. Saat memasuki Kampung Gitar Baki Sukoharjo, wisatawan atau pengunjung sudah langsung dapat melihat bagaimana kepiawaian tangan para pengrajin menciptakan berbagai jenis alat musik petik.

Hampir 90 persen warga yang tinggal di Kampung Gitar Baki Sukoharjo bermata pencaharian dan menggantungkan hidupnya dengan membuat gitar. Konon, bertahannya Kampung Gitar Baki Sukoharjo menjadi desa wisata dan sentra gitar berawal dari pemberdayaan masyarakat yang selalu mengedepankan kearifan lokal.

Kemampuan membuat berbagai macam alat musik petik, dan terutama gitar, sudah dimiliki warga secara turun-temurun. Meski begitu, membuat gitar bukan perkara mudah, karena setiap pengrajin membutuhkan keahlian khusus dan ketelatenan agar menghasilkan alat musik yang mulus dan nyaman dimainkan.

Pembuatan alat musik gitar memerlukan proses panjang. Dimulai dari pemilihan bahan alat music yang akan dibuat. Jenis kayunya, ukurannya, juga modelnya. Setelah itu tentu membuat model dan mulai memotong bahan-bahan.

Kampung gitar Baki sudah memproduksi gitar yang diekspor ke sejumlah negara,
Sejumlah produk gitar karya perajin kampung Baki. Foto: dok. shutterstock

Setelah bentuk dasar jadi, pengerjaannya bermula dari penghalusan dengan ampelas, pendempulan, mengampelas kembali. Setelah itu memasuki tahap pengecatan, pelapisan, hingga dikeringkan. Umumnya cara pengeringan cat masih tradisonal, yakni dengan cara dijemur.

Jadi badan gitar yang sudah jadi dicat, lalu dilapisi dengan melamin, dan kemudian dijemur di tempat terbuka. Atau semi terbuka dengan mengangin-anginkan. Jumlah produksi gitar yang dihasilkan seorang pengrajin tergantung tingkat keahliannya, juga tergantung musim.
Faktor utama untuk pengeringan itu matahari. Kalau musim kemarau bisa 10 lusin dalam sepekan, tapi kalau cuaca mendung paling delapan lusin.

Seperti disebut di muka, Kampung Gitar Baki Sukoharjo ini juga menawarkan pembuatan gitar custom. Model gitar khusus yang tidak ada di pasaran. Pemesan bisa menentukan desain dan bahan yang ingin digunakan. Kayu yang ditawarkan biasanya jenis mahoni, jati Belanda, waru, maupun kayu sengon.

Bahkan para pengrajin gitar di kampung ini juga ada yang melayani reparasi gitar pribadi atau sekedar konsultasi masalah gitar. Ini kemungkinan karena masing-masing pengrajin gitar di Mancasan biasanya punya keahlian khusus. Selain ada pengrajin body gitar, di sana terdapat juga pengrajin stang atau neck, dan juga ada tukang stem gitar.

Seiring berjalannya waktu, industri gitar terus berkembang dan meluas hingga ke seluruh wilayah desa. Bermula dari Desa Mancasan, saat ini industri kreatif pembuatan gitar telah meluas sampai ke Desa Ngrombo di Kecamatan Baki dan Desa Pondok di Kecamatan Grogol.

Bukan hanya pengrajinnya yang bertambah, pelanggan yang mengincar gitar lokal buatan Kampung Gitar Baki juga semakin meluas. Tidak hanya dibeli oleh pecinta dan pemain alat musik petik dari Indonesia, gitar asli pengrajin lokal berhasil menarik perhatian pasar internasional.

Hasil karya kerajinan gitar kampung gitar Baki bisa dinikmati di penjuru nusantara seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Salatiga, dan Papua. Tak hanya itu, pesanan gitar juga datang dari penjuru dunia lain. Beberapa negara yang pernah menjadi negara tujuan ekspor gitar akustik hingga ukulele buatan dari Kampung Gitar Baki Sukoharjo di antaranya: Singapura, Filipina, Malaysia, Jerman, Italia, dan sejumlah negara di Eropa lainnya.

Sayangnya perajin gitar di kampung ini belum memiliki merek khusus untuk gitar yang mereka hasilkan. Mereka biasanya menggunakan merek kosong sesuai permintaan pelanggan.

Tertarik punya koleksi gitar yang cuma satu-satunya di dunia? Ayo agendakan liburanmu ke Mancasan, Sukoharjo.

agendaIndonesia

*****

Perempuan Sasak Dan Syarat 3 Kain Tenun

Perempuan Sasak menginang di Teras Rumahnya

Perempuan Sasak punya keistimewaan sekaligus keterampilan wajib sebelum menikah. Mereka harus menenun tiga kain. Karena menenun melatih kesabaran dan ketelatenan.   

Perempuan Sasak dan 3 Kainnya

Pagi itu hanya ada Ina Dangker, atau ibunya Dangker, yang asyik dengan alat tenun gedogan di Desa Adat Ende di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Perempuan lain berkumpul di dapur, memasak bersama-sama. Karena hari itu kaum pria tengah bergotong-royong membuat bangunan, jadilah kaum hawa bertugas memasak. Siang tiba, mereka pun begibung atau makan bersama.

“Saya kebetulan memang kurang bisa,” begitu pengakuan perempuan yang pelan-pelan mengatur benang-benang warna-warni itu tentang kepiawaiannya bermain dengan berige. Namun Ina Dangker mengaku masih terus semangat menenun, atau menyesek dalam bahasa Sasak. Maklum, setiap perempuan suku Sasak memang wajib mahir menenun sebelum menikah. Paling tidak, sebelum menikah, mereka harus membuat tiga kain tenun sebagai syarat, yakni kain untuk dirinya, suami, dan mertua perempuannya.

Walhasil, tak ada perempuan Sasak yang tak bisa menyesek. Para penenun pun bisa ditemukan di sejumlah desa. Tak jauh dari Desa Adat Ende, ada Desa Adat Sade. Desa adat yang satu ini terkenal dengan kain tenun lebar pendek yang digandrungi para turis. Selendang khas Sade pun menjadi ciri khas sebagai oleh-oleh. Setelah menyusuri gang-gang kecil yang memisahkan rumah tradisional satu dengan yang lain di kampung ini, wisatawan pun melenggang pulang dengan selendang di leher.

Tak jauh dari Bandar Udara Internasional Lombok, ada lagi desa penenun yang namanya sudah dikenal. Desa Sukarara, dicapai hanya dalam 20 menit dari bandara yang berada di Kecamatan Praya, Lombok Tengah, tersebut. Siang itu perjalanan saya lanjutkan ke sana, dan kendaraan berhenti di sebuah halaman yang dipenuhi bus dan kendaraan lain. Pengunjung bertebaran di berbagai sudut. Patuha Cooperative, nama yang terpampang dalam papan nama di bagian depan. Dua orang perempuan suku Sasak yang terpaku dengan alat tenun tradisional, gedogan, berada di bagian depan gerai tenun khas Lombok tersebut.

Di tengah hiruk pikuk pengunjung, Amin, pemilik gerai tenun sasak itu masih menyempatkan diri menyambut saya dan kawan-kawan. Senyumnya  mengembang, bahkan langsung sepakat ketika saya dan kawan ingin mengintip para penenun yang ada di rumah-rumah. “Mari,” ucap pria berusia 45 tahu itu, sembari menunjukkan setapak yang sudah tertutup rapi oleh rangkaian paving block.

Sore itu jadilah saya berkeliling Dusun Belong Lauk, Desa Sukarara, Jonggat, Lombok Tengah. Kampung nan  teduh dan bersih. Menemui para perempuan di bale-bale memintal benang dan menatanya dengan alat tenun tradisional. Amin pun bertutur, di kampungnya sempat digelar aksi 1.000 penenun untuk memecahkan rekor MURI. Yang datang, ia sebut, hingga 2.000 orang. Saking banyaknya, jalan-jalan kecil itu pun dipenuhi para penenun. Saya bisa membayangkan keramaian yang terjadi.

Kembali ke gerai tenun sasak, saya mendekati Ibu Par, tampaknya tertua di antara tiga penenun di sana. Berusia 70 tahun, Par masih lincah mengatur benang membentuk sebuah motif. Nenek yang satu itu sudah asyik dengan perlengkapan menenun, seperti jajak, berire, batang jajak, dan pengiring sejak remaja, seperti umumnya perempuan Sasak.

Di depan bangunan sisi kanan, ada pula penenun muda. Dewi, 35 tahun, yang mengaku belajar menenun sejak usia 10 tahun. Pilihan yang tak bisa ditolak baginya karena harus bisa menenun dulu baru nikah. “Kalau tidak, ya, ditunda nikahnya,” ujarnya. Ia pun bertutur, menenun bagi kaum perempuan Sasak sebenarnya melatih kesabaran dan menjadikannya lebih telaten.

Memang ada juga kaum pria yang menenun. Meski ada juga yang berpendapat pria dilarang menenun. “Bala buat kaum laki-laki karena terlalu lama duduk kan bisa impoten,” kata Dewi sembari tersenyum. Maklum, aktivitas menenun bisa membuat seseorang duduk hingga tujuh jam tanpa banyak bergerak. Karena itu, ibu satu anak itu menyebut kaum Adam kebanyakan pergi ke sawah. “Kalaupun mereka menenun, biasanya kaum perempuan yang membuat motif, jadi yang pria hanya tinggal menenun. Karena membuat motif saja sampai dua hari,” ia menjelaskan.

Amin mengungkapkan, ada dua alat tenun yang biasa digunakan, yaitu alat tenun tradisional gedogan dan alat tenun bukan mesin (ATBM).  “Biasanya laki-laki yang pakai ATBM,” katanya. Dengan ATBM, posisi penenun duduk lebih nyaman karena duduk di bangku saat menjalin helai demi helai benang tenun. Berbeda dengan gedogan, di mana penenun duduk di bawah dan seperti terkungkung dengan bilah kayu di belakang dan di depannya.

“Menenun bukan pekerjaan sehari (selesai),” ucap Dewi. Perlu proses panjang. Awalnya menyusun motif yang biasanya perlu waktu dua hari. Semakin sulit motif bisa dilihat dari jumlah bambu yang digunakan. Semakin banyak, berarti tingkat kesulitannya semakin tinggi.

Paling tidak satu helai kain berukuran 2 meter x 60 sentimeter ia rampungkan dalam dua minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kesulitan. “Karena tidak tahu berapa lama (pembuatannya) dan sulit itu maka ada motif subahnale,” kata Amin.

Subahnale berasal dari rangkaian kata “subhanallah”, yang artinya Maha Suci Allah. Salah satu corak lawas berupa susunan geometris segi enam, biasanya di dalamnya diberi corak bunga.

Biasanya dijadikan corak untuk kain tenun songket berbenang emas. Kain ini dikenakan saat mengikuti acara-acara khusus, termasuk saat menjadi pengantin.

Amin menyebut, corak tenun Sasak terus berkembang, baik yang menggunakan benang katun maupun yang bercampur benang emas alias songket. “Motif lama masih banyak, cuma dengan modifikasi,” ujarnya. Beberapa motif lama, seperti subahnale, ragi genap, lepang, dan keker (burung), masih bermunculan.

Selain itu, menurut Amin, kain tenun Sasak banyak memunculkan corak tanaman dan bunga. Ia pun menunjukkan corak itu pada selembar kain songket, jenis motif suluran, dan kembang. Namun, ia menyatakan, sekarang yang tengah digandrungi adalah motif rangrang atau berarti jarang-jarang. Motif ini dulu ditaruh di pinggir, sekarang dimodifikasi dengan ditempatkan di tengah. Corak geometris segitiga dan belah ketupat dengan banyak warna dalam satu kain.

Soal harga, memang kain tenun Sasak tergolong tinggi, apalagi bila dibuat dengan gedogan. “Harga tenunan gedogan dua kali lipat tenunan ATBM,” ucap Amin. Yang paling tinggi, tentunya yang menggunakan benang emas. Untuk selembar kain songket dengan benang emas dijual mulai Rp 3,5 juta. Bila lengkap dengan selendang, bahkan ada yang mencapai Rp 7,5 juta. Harga yang sepadan untuk kesulitan yang tinggi dan proses yang panjang. l

EMPAT PERANGKAT TENUN

Jajak, dua bilah kayu panjang sebagai kaki-kaki alat tenun.

Berire, kayu panjang pipih dengan ujung lancip pembentuk motif tenun. Ujungnya yang lancip akan memudahkan penenun memasukkan setiap helai benang. 

Batang jajak, penahan serta penyambung alat tenun, yang melekat dengan punggung penenun. 

Pengiring, alat penggulung benang bahan.

MOTIF DAN TRADISI

Masa Hindu, corak pada kain tenun Sasak banyak memunculkan pucung rebung yang berbentuk deretan segitiga. Motif ini melambangkan Dewi Sri. Selain itu, ada motif berupa hewan.

Masa Islam, motif lebih banyak memunculkan tanaman, seperti suluran, pepohonan, dan kembang-kembang. Motif hewan yang muncul di masa Hindu diganti dengan kaligrafi Arab di masa ini.

Jenis benang yang digunakan, selain benang katun, benang emas atau perak, yang sudah tentu harganya menjadi lebih tinggi.

Erat dengan tradisi. Seperti kebanyakan masyarakat Nusantara, kain Sasak pun identik dengan tradisi. Seperti untuk baru lahir dibuatkan kain tenun umbag yang bercorak garis-garis dengan rumbai yang ujungnya diikatkan kepeng berlubang. Benda tersebut menjadi lambang kasih sayang. Kain-kain tertentu juga digunakan pada upacara peraq api atau puput pusar, berkuris—mencukur rambut bayi, besunat (khitanan), dan sorong serah aji krama—penyerahan kain tenun dari keluarga mempelai pria kepada mempelai wanita.

R. Nariswari/Frann/Dok. TL/unsplash