Dodol Picnic, 70 Tahun Oleh-oleh Dari Garut

Dodol Picnic sebagai salah satu merek dodol Garut yang terdepan dan menjadi ikon oleh-oleh Garus.

Dodol Picnic pasti bukan nama yang asing buat orang Indonesia. Ini terutama untuk mereka yang senang melakukan perjalanan lewat jalur darat. Baik dengan menggunakan bis antarkota dan, terutama, menumpang kereta api di pulau Jawa.

Dodol Picnic

Orang suka menyebut dodol Garut merek Picnic atau Dodol Picnic dari Garut untuk menyebut penganan yang satu ini. Ia boleh dikata salah satu legenda buah tangan dari mereka yang melakukan perjalanan, boleh dikata ia sama popularnya dengan wingko Babat. Cuma yang terakhir ini tak menyebut merek.

Dodol garut merupakan salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat yang sangat terkenal. Makanan ini biasanya memiliki bentuk memanjang atau bulat dengan tekstur yang lembut dan rasa yang manis. Dodol garut biasanya disajikan sebagai camilan di daerah Jawa Barat, terutama sekitar Garut, Tasik, dan Bandung.

Industri dodol Garut mulai berkembang semenjak 1926. Adalah Ibu Karsinah, tokoh di balik berkembangnya popularitas dodol ini. Ia merupakan pengusaha yang memulai usaha dodol tersebut pertama kalinya.

Penganan ini bahan bakunya terbuat dari santan, tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Untuk membuat dodol Garut biasanya pemasaknya mencampur tepung ketan, parutan kelapa, santan, dan gula merah serta sedikit garam lalu dipanaskan. Setelah mengental, tambahkan gula pasir, dan kembali rebus hingga adonan benar-benar kental.

Adonan yang kental ini kemudian dituang ke dalam loyang yang sudah diberi minyak goreng. Proses pemasakannya praktis sudah selesai sampai di sini. Tinggal menunggu hingga adonan mengeras.

Jika awalnya dodol Garut hanya memiliki satu rasa, manis gula jawa yang bercampur dengan santan. Dalam perkembangannya, saat ini sudah terdapat dodol dengan berbagai varian rasa, seperti coklat, strawberi, jambu, durian, dan rasa lainnya. Soal rasa coklat, kini ada juga salah satu produsen dodol yang memadukan coklat dan dodol untuk dijadikan oleh-oleh khas dari kota tersebut yang biasa disebut ‘chocodot’ atau cokelat dodol.

Lalu kenapa dodol Garut ini nyaris identik dengan Dodol Picnic? Setelah lama dodol yang memiliki cita rasa yang khas dan digemari masyarakat luas, adalah H. Iton Damiri yang pada 1949 merintis pembuatan usaha dodol Garut. Pada waktu itu perusahaannya masih berskala rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja sebanyak lima orang dan daerah pemasarannya masih terbatas di sekitar kota Garut saja dan ia masih menggunakan merek yang “Halimah”.

Dodol Picnic adalah perjalanan panjang mengenalkan penganan lokal menjadi oleh-oleh yang khas.
Pendiri Dodol Picnic. Foto: DOk. Dodol Picnic

Dalam perjalanannya, perusahaan dodol ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk mengantisipasi perkembangan dan untuk makin mendorong kemajuan, pada 1957 Haji Iton mengajak adiknya, Aam MAwardi, bergabung mengelola usaha ini. Pada tahun itu, nama perusahaan pun berubah, mereka menggunakan nama ‘Herlinah’, yang diambil dari salah satu nama anggota keluarga.

Kemajuan bukan sesuatu yang mudah. Di 10 tahun pertama itu, dodol Garut bikinan Herlinah masih cukup sulit menembus pasar. Pertama karena masih dianggap makanan lokal, di mana banyak warga Garut yang juga membuatnya. Dan, ke dua, pemasarannya masih lokal saja.

Pada masa-masa itu, produk ini bahkan sulit untuk menembut toko-toko panganan yang ada di Garut. Dari sana kemudian muncul ide untuk menjual dodol mereka ke salah satu pasar ternama di kota Bandung. Toko itu berada di daerah Pasir Koja, bernama Toko Picnic yang memang merupakan toko penjual makanan terbesar di kota kembang pada masanya. Setelah menimbang soal pemberian nama, maka dijuallah dodol mereka dengan nama Dodol Picnic.

Dari kota Bandung inilah dodol Picnic menyebar ke seluruh Indonesia, yakni dari mereka yang ingin membawa buah tangan khas. Seperti disebut di muka, seperti wingko Babat yang menjadi viral karena ditenteng orang saat naik kereta api, bus antarkota, bahkan pesawat terbang. Hingga saat ini ia sudah terkenal hingga mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, atau Brunei Darusalam.

Dodol Picnic adalah ikon buah tangan khas Indnoesia yang sudah melewati tantangan zaman.
Pada masanya, bahkan kemasan dan mereknya ditiru kompetitor. Foto: Dok. Dodol Picnic

Zaman terus berkembang, kian lama semakin banyak buah tangan dari kota-kota besar di Indonesia. Pilihan makin banyak, namun dodol Picnic tetap menjadi salah satu ikon buah tangan. Pada masanya, bahkan banyak produk dodol Garut yang meniri kemasan merek ini.

Nah, jika Anda sedang berwisata ke Garut, jangan lupa untuk membeli makanan ini sebagai buah tangan atau disimpan sebagai camilan di rumah. Untuk mendapatkannya sangatlah mudah. Anda bisa menjumpai toko-toko atau warung yang menjual dodol garut di sepanjang jalan kota di Jawa Barat ini, terutama di jalan-jalan dekat pintu gerbang dari Garut menuju daerah lain sekitarnya.

agendaIndonesia

*****

Amplang Samarinda, Kriuk Sejak 1970

Amplang Samarinda menjadi oleh-oleh khas dari ibukota Kalimantan Timur.

Amplang Samarinda menjadi oleh-oleh wajib jika ada kerabat atau kawan yang habis liburan dari Samarinda atau Balikpapan, Kalimantan Timur. Meskipun kini amplang atau kadang juga disebut sebagai kuku macan bisa diperoleh di mana saja, namun buatan Samarinda tetap istimewa.

Amplang Samarinda

Amplang sendiri sebenarnya adalah makanan ringan tradisional yang juga dapat disamakan dengan kue kering ataupun juga sejenis kerupuk. Bisa pula disamakan dengan jenis cracker tradisional lainnya seperti rengginang.

Sejatinya, amplang Samarinda adalah makanan yang terbuat dari campuran tepung tapioka, bumbu rempah, dan ikan air tawar sebagai bahan utamanya. Disebut amplang Samarinda karena awalnya makanan ini memang merupakan makanan khas yang berasal dari Samarinda, dan juga Balikpapan, Kalimantan Timur.

akargurita 8 FzCty5W3U unsplash 2
Jembatan Mahakam di Samarinda. Foto: unsplash

Bahan utama amplang Samarinda yang juga biasa populer disebut sebagai kerupuk kuku macan ini adalah ikan tenggiri. Ikan ini merupakan ikan khas yang hidup di perairan sungai Mahakam ataupun juga sungai Karang Mumus di Samarinda.

Jenis ikan yang dianggap terbaik untuk bahan amplang Samarida adalah ikan belida atau dalam bahasa lokal disebut sebagai ikan pipih, karena rasa gurihnya yang lebih enak dan tekstur daging yang lembut saat dihaluskan. Rasa amplang yang gurih dan bertekstur renyah itu Ini merupakan perpaduan rasa dari ikan dan rempah-rempah pilihan tadi.

Secara tradisi, sebenarnya amplang Samarinda memang dibuat menggunakan bahan utama ikan pipih atau ikan belida, namun karena jenis ikan tersebut sudah semakin jarang. Untuk mengatasinya maka bahan ikan tersebut diganti menjadi ikan tenggiri atau juga bisa ikan gabus atau dalam bahasa lokal disebut ikan haruan.

Tidak ada informasi yang cukup sahih kapan amplang Samarinda ini mulai diproduksi oleh masyarakat setempat. Tidak ada pula catatan mengenai siapa pembuat awalnya.

Begitupun, menurut berbagai sumber referensi, secara historinya, amplang memang lebih kuat sejarahnya berasal dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Ini terkait dengan bahan utama ikannya tadi. Sementara soal waktunya, dari mulut ke mulut amplang ini sudah dibuat dan sudah ada sejak tahun 1970-an.

Amplang Samarinda aslinya menggunakan ikan pipih atau belida.

Sejak tahun 70-an itu, masyarakat setempat hanya mengetahui saat itu amplang telah menjadi usaha industri rumahan yang sudah berkembang. Usaha produksi amplang ini kemudian diwarisi secara turun-temurun hingga hari ini.

Saat ini, amplang atau kuku macan sudah diproduksi di banyak daerah. Setelah menjadi terkenal dan popular sebagai oleh-oleh khas  Samarinda, produksi pembuatan amplang semakin menyebar hingga ke beberapa daerah.

Di pula Kalimantan sendiri makanan ini gampang ditemui di Balikpapan, Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Pontianak di Kalimantan Barat, bahkan bisa ditemui sebagai oleh-oleh dari Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah.

Meski rasanya agak berbeda, kuku macan atau amplang juga bisa ditemui di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Juga karena secara geografis masih satu pulau, amplang sampai pula ke negara tetangga, yaitu Sabah dan Sarawak di Malaysia.

Saat ini siapa yang tidak mengeenal amplang? Makanan ringan ini telah menjadi makanan ikonik khas Kalimantan Timur, dan toko yang menjual amplang Samarinda sebagai oleh-oleh  pun sudah menjamur di kota-kota di Kalimantan Timur. Utamanya tentu di Samarinda.

Makanan ringan ini sangat cocok untuk dijadikan camilan saat bersantai, ataupun dijadikan oleh-oleh saat akan bepergian keluar kota. Jika ada wisatawan mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan ke Samarinda, maka akan melihat banyak sekali penjual amplang yang ada di berbagai sudut kota ini.

Begitupun bagi para pelancong bila akan membeli untuk oleh-oleh, lebih gampang menemui camilan ini pada saat melintas di Jalan Slamet Riyadi di Kelurahan Karang Asam. Hal ini dikarenakan, di sepanjang pinggiran jalan ini memang terdapat berbagai outlet yang menjual amplang serta berbagai camilan lain yang menjadi ciri khas kota Samarinda.

Toko Oleg oleh Penjual Amplang Pemprovkaltim.jpg
Gerai oleh-oleh amplang Samarinda di Jalan Slamet Riyadi, Samarinda. Foto: Dok. pemprovkaltim.go.id

Di Samarinda ataupun Balikpapan, sebenarnya gampang sekali untuk menemukan camilan renyah amplang kuku macan, entah itu di kios-kios, toko, juga outlet-outlet karena amplang memang menjadi oleh-oleh khas kota ini. Amplang Samarinda atau kuku macan biasanya dijual di dalam bentuk kemasan dengan berat yang beraneka dimulai dari 200 gram, satu kilogram bahka sampai yang lima kilogram.



agendaIndonesia/audha alief P

*****

Bolu Bakar Tunggal, 2 Varian Yang Enak

Bolu Bakar Tunggal Bandung jadi satu inovasi oleh-oleh lagi dari Bandung.

Bolu bakar Tunggal belakangan ini menjadi salah satu penganan ringan yang cukup ramai digandrungi di Bandung. Berawal dari popularitas di kalangan warga lokal, kini ia menjadi salah satu alternatif oleh-oleh yang diburu banyak pendatang dan wisatawan di kota kembang.

Bolu Bakar Tunggal

Warga Bandung sendiri sejak dulu memang sudah dikenal begitu menggemari roti bakar. Banyak tempat-tempat penjual roti bakar yang kondang di kota ini, seperti Roti Gempol yang melegenda. Bolu bakar Tunggal pun lantas menjadi salah satu inovasi yang terlahir dari tren ini.

Kemunculan bolu bakar bisa jadi dipelopori oleh toko Tunggal, sebuah toko sekaligus produsen beragam jenis biskuit, kue kering dan basah. Usut punya usut, perusahaan bernama lengkap PT Tunggal Inti Kahuripan ini ternyata sudah eksis sejak 1962.

Bolu Bakar Tunggal Bandung menjadi ikon pariwisata baru, seperti halnya Gedung Sate.

Salah satu produk mereka yang cukup sukses dan melegenda adalah biskuit marie. Biskuit marie Tunggal terbilang populer di kalangan warga Bandung, utamanya bagi anak kecil yang gemar menyantap biskuit marie untuk cemilan, atau ketika sedang sakit dan tidak nafsu makan.

Yang cukup unik, perusahaan ini tergolong punya karakter inovatif dan selalu ingin mencoba hal baru pada produk-produknya. Sadar akan ketenaran biskuit marie buatannya, mereka lantas mencoba bereksperimen dengan varian yang baru, salah satunya adalah biskuit marie tutung.

Biskuit marie tutung ini sejatinya adalah biskuit marie yang dibuat lebih gosong, dengan penampilan yang lebih gelap, layaknya makanan overcooked. Biskuit marie ini memiliki cita rasa cenderung pahit gurih dibandingkan biasanya.

Ternyata, inovasi ini terbilang cukup berhasil karena peminatnya pun tetap banyak. Padahal, harga biskuit marie tutung ini bisa lebih mahal sekitar Rp 20 ribu ketimbang varian original, tapi nyatanya varian ini juga banyak digemari konsumen.

Selain dikenal dengan biskuit marie, toko Tunggal juga memproduksi beragam produk-produk lain seperti bagelen, soes kering, wafer, brownies kukus, dan sebagainya. Tak heran jika produk mereka kemudian kerap menjadi oleh-oleh wisatawan.

Tak cuma itu, mereka juga dikenal membuat bolu berbentuk balok-balok memanjang, yang tersedia dalam bermacam pilihan rasa, mulai dari coklat, pandan, pisang, peuyeum, kopi, dan lain-lainnya. Harga satu kemasannya pun berkisar dari Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

Namun, sesuai dengan prinsip perusahaan yang gemar berinovasi dan mencoba menelurkan produk-produk baru yang unik, toko Tunggal pun turut bereksperimen dengan produk bolu mereka. Hasilnya, mereka memperkenalkan bolu bakar Tunggal pada 2004 silam.

Bolu Bakar Bandung IG
Bolu Bakar Tunggal menjadi ikon baru oleh-oleh dari Bandung. Foto: IG Bolu Bakar

Metode mereka dalam membuat bolu pun terbilang unik dan berbeda dari kebanyakan. Awalnya, sebagai bahan baku mereka menggunakan roti yang dibuat sedemikian rupa dari adonan bolu, sehingga teksturnya terasa sangat lembut dan halus.

Roti tersebut lantas dibelah di tengahnya, untuk kemudian diisi dengan isiannya. Pada bolu yang biasa, roti tersebut kemudian dimasak dalam oven. Sementara, untuk bolu bakar Tunggal roti lantas dimasak di atas alat pemanggang.

Setelah jadi, cita rasa yang dimiliki bolu bakar Tunggal ini bisa dibilang sangat unik. Rotinya tetap terasa lembut, bahkan tergolong creamy dan mudah lumer di mulut. Karakter ini yang membuatnya terasa berbeda dibanding roti bakar lainnya.

Secara mendasar, ada dua tipe bolu bakar yang ditawarkan, yakni varian rasa manis dan asin. Pada varian rasa manis, terdapat rasa keju, keju spesial, coklat, roombutter, kopi, kelapa susu, kacang coklat, nanas, pisang dan strawberry.

Sedangkan varian rasa asin terdiri dari rasa abon, abon pedas, tuna, tuna pedas, serta smoked beef keju. Sebagai catatan, varian rasa asin relatif sedikit lebih mahal sekitar Rp 16 ribu hingga Rp 54 ribu dibandingkan varian rasa manis.

Rata-rata harga varian rasa manis berkisar dari Rp 46 ribu hingga Rp 66 ribu. Adapun harga varian rasa asin mulai dari Rp 62 ribu hingga Rp 100 ribu bagi rasa smoked beef keju sebagai varian termahal. Harga yang terbilang premium, namun nyatanya tak menyurutkan animo.

Bolu Bakar Tunggal Bandung IG
Bolu Bakar Tunggal dengan coklat yang meleleh. Foto: IG BoluBakar

Salah satu varian yang cukup populer dan diunggulkan adalah rasa roombutter, yang terasa gurih, beraroma harum dan menambah karakter bolu bakar yang lembut. Varian ini disarankan untuk disantap kala masih hangat, karena karakter roombutter cepat meresap ke dalam bolu.

Varian rasa coklat dan keju juga termasuk yang paling laku dibeli konsumen. Untuk penggemar keju, tersedia rasa keju spesial yang diberikan selai keju ekstra. Bahkan varian smoked beef keju pun tergolong cukup populer, kendati harganya yang paling mahal dibanding varian lainnya.

Bagi yang tertarik, dapat langsung berkunjung ke toko dan pabrik pusatnya di kawasan jalan Sudirman. Kini, area toko telah disulap bergaya café kekinian, cocok bagi pengunjung yang ingin langsung menyantap makanan sambil menikmati nuansa open kitchen.

Selain itu, sudah tersedia pula banyak toko cabang yang menyediakan bolu bakar bagi yang sekedar ingin membeli sebagai oleh-oleh. Yang perlu diingat, bolu bakar normalnya awet pada suhu ruangan sekitar dua hingga tiga hari, sementara dalam suhu kulkas bisa sampai seminggu.

Bolu Bakar Tunggal

Pusat: Jl. Sudirman no. 570-574, telp. (022) 6013712

Cabang:

  • Cihampelas Walk Lt. 2, Jl. Cihampelas no. 160
  • Paskal Hyper Square, Jl. Pasir Kaliki no. 25

Instagram: bolubakartunggal_

agendaIndonesia/audha alief P

*****

5 Yang Manis Gurih Khas Balikpapan

IMG 2987

5 yang manis gurih khas Balikpapan sebagai buah tangan dari kunjungan ke kota minyak di Kalimantan Timur itu.

Lazimnya, oleh-oleh dari Balikpapan, Kalimantan Timur, berupa olahan ikan laut. Umumnya, bisa dikategorikan kerupuk, tapi dengan bentuk yang berbeda-beda, semisal amplang dan kuku macan. Belum lagi olahan penghuni laut yang lain, seperti peyek kepiting atau abon. Sebenarnya, ada pilihan lain tanpa bahan dari laut, di antaranya bolu gulung, mantau, emping, dodol, dan lempo. Tentu rasanya berbeda. Cenderung manis dan ada juga yang gurih. Yang pasti, tetap menggoda sebagai oleh-oleh untuk sanak saudara.

5 Yang Manis Gurih Khas Balikpapan

5 yang manis gurih khas balikpapan
5 yang manis gurih khas Balikpapan salah satunya bingka bakar. doc. TL

Bingka Bakar

Bagi Anda penggemar bingka bakar yang juga bisa ditemukan di beberapa daerah lain, seperti Banjarmasin dan Batam, di Balikpapan pun bisa ditemukan olahan yang sama. Memang kue ini khas kuliner masyarakat Melayu. Terbuat dari kentang yang dibubuhi daun pandan, bingka bakar terasa lebih lembut dan tetap aroma pandannya membuat orang berselera untuk mencicipinya. Dengan bentuk seperti bunga dengan pinggirnya yang berlekuk-lekuk, kue ini tampak tampil cantik. Namun ada juga beberapa orang yang membuatnya dalam bentuk yang lain.

Per buah bingka bakar pandan ini dipatok Rp 27 ribu,. Bisa dibeli sebelum berangkat ke Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan. Salah satunya di Gulung Jenebora, yang juga menyediakan beragam oleh-oleh termasuk bolu gulung.

Gulung Jenebora

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 429

Balikpapan

Gulung Pelangi

Seperti di kota lain, pengusaha kuliner di Balikpapan pun melakukan modifikasi olahan dan membuatnya menjadi oleh-oleh khas, selain makanan tradisional yang sudah dikenal luas. Salah satunya bolu gulung Jenebora. Dari tampilannya, bolu dibikin menarik karena dibuat warna-warni.

Bolu gulung dalam warna pelangi–merah biru kuning hijau—itu, nama sebenarnya ialah Bolu Gulung Rainbow Naga. Di bagian tengahnya bisa ditemukan selai. Selain itu, ada bolu gulung berwarna hijau, namanya Jenebora Gulung Green Tea. Pilihan lain berupa rasa durian dan nanas. Bolu bisa diperoleh dengan harga Rp 40-55 ribu. Gerainya berada di pusat kota. Karenanya, dengan mudah, bangunan yang dipulas merah di beberapa bagiannya itu ditemukan. Tertera pula labelnya dalam huruf berukuran besar. Selain bolu gulung, beragam olahan khas lokal bisa ditemukan di sini.

Gulung Jenebora

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 429

Balikpapan 

Dodol Rasa Buah

Balikpapan memiliki jenis buah yang unik. Tampilannya mirip durian, tapi rasanya berbeda. Buah lai namanya. Namun untuk olahannya yang bisa dibawa pulang, tetap durian yang diproses. Tentu untuk membuang penasaran, tak ada salahnya mencicipi buah lai yang harum dengan warna kuningnya yang menggoda. Soal rasa, ternyata durian yang menjadi juara. Nah, untuk dibawa pulang, ada dodol atau lempok durian dengan rasa durian yang lebih kuat.

Bagi yang gandrung dengan buah beraroma keras ini, saatnya untuk memborong  lempok. Tapi bila tak kuat dengan aroma buah berduri ini, ada pilihan dodol dari salak. Adonan berupa santan kelapa, tepung ketan, gula pasir, gula merah, dan garam ini diberi tambahan berupa daging buah salak  matang yang sudah dihancurkan. Rasa manis bercampur rasa asam buah salak membuat dodol memiliki rasa yang khas. Tentu berbeda dengan dodol dari buah durian. Dijual dalam kemasan yang bermacam-macam, dodol dibanderol mulai Rp 20 ribu.

Bisa ditemukan di berbagai gerai oleh-oleh, termasuk pusat oleh-oleh Pasar Inpres Kebun Sayur.

Pasar Inpres Kebun Sayur

Jalan Letjen Suprapto

Balikpapan

Mantau Asin dan Manis

Roti mantau tak lain dari roti sepan atau roti kukus. Roti ini memiliki kekhasan berupa tekstur yang lembut.  Roti bisa disantap untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Roti yang satu ini termasuk sajian khas Balikpapan. Biasanya, roti kukus ini digoreng terlebih dulu sehingga terasa gurih dan dipadu dengan olahan sapi atau kepiting lada hitam.

Untuk dibawa sebagai oleh-oleh, mantau dikemas dalam satu kotak dengan isi sebanyak 10 buah. Sedangkan lada hitam dikemas dalam wadah terpisah. Hanya memang saat membawanya sebagai oleh-oleh, Anda sebaiknya membeli tepat di hari penerbangan ke kota asal karena roti kukus ini hanya bertahan 2 hari di udara terbuka. Bila disimpan di lemari es, bisa tahan hingga 7 hari. Tapi untuk daya tahan lebih tinggi, bisa disimpan di freezer hingga mantau pun tahan 30 hari. Satu paket mantau dan sapi lada hitam dijual Rp 60 ribu.

Pusat Pondok Mantau

Jalan Jenderal A Yani Nomor 28 RT 49

(Gang GAMA/Masjid Nurul Ihsan)

Balikpapan

Emping Pedas-Manis

Emping biasanya menjadi teman menyantap nasi plus soto atau hidangan lain. Emping memang tak melulu berasa asin dan berbentuk lebar. Adapula emping dalam ukuran lebih kecil dan lebih tebal dengan rasa manis. Nah, bila ke Balikpapan, Anda akan menemukan rasa baru dari olahan emping ini, yakni pedas. Jadilah emping pedas-manis. Olahan dari Kampoeng Timoer, yang dikenal membuat peyek dari kepiting, ini tak ada salahnya jadi oleh-oleh.

Dibuat dalam kemasan 100 gram, emping pedas-manis yang membuat mengemil sulit dihentikan ini dibanderol Rp 12 ribu. Bisa ditemukan di berbagai gerai oleh-oleh saat Anda meluncur ke bandara dari pusat kota Balikpapan atau di tempat pembuatannya langsung.

Peyek Kepiting Kampoeng Timoer

Jalan Strat 2 Nomor 30 RT 017

Balikpapan

Rita N.

Getuk Pisang Kediri, Enak Sejak 1940

Getuk pisang Kediri menjadi alternatif oleh-oleh selain tahu.

Getuk pisang Kediri seperti ingin “menyaingi” popularitas tahu sebagai oleh-oleh dari kota di Jawa Timur itu. Bedanya, jika yang satu gurih asin, yang ini rasanya manis.

Getuk Pisang Kediri

Makanan bercita rasa asam manis itu cukup mudah dijumpai di kawasan yang terbelah arus Sungai Brantas. Di warung-warung, pasar tradisional, maupun tempat wisata, getuk pisang Kediri dijajakan sebagai penganan di kala bersantai atau menjadi oleh-oleh bagi pelancong yang berkunjung ke kota tersebut.

Lahirnya penganan ini dari kisah masyarakat setempat, sesungguhnya akibat masa kelam orang Kediri di masa penjajahan Jepang. Rakyat Indonesia, tentu saja termasuk masyarakat Kediri, saat itu berada di bawah invasi tentara Nippon, diterpa kesulitan ekonomi.

Getukpisang Kediri menjadi salah satu kebanggaan masyarakatnya.
Salah satu sudut kota Kediri yang punya penganan getuk pisang. Foto: shutterstock

Akibatnya terjadi kesulitan pangan. Bahan makanan yang sulit ditemukan membuat warga mengalami krisis pangan. Masyarakat setempat lantas mencari bahan pangan untuk bertahan hidup.

Kebetulan di bantaran Sungai Brantas banyak tumbuh pohon pisang raja nangka. Ya tentu saja pisang bisa dimakan langsung. Tapi tak mungkin terus-menerus mengkonsumsi pisang secara langsung, selain pisang pun bisa menjadi busuk.

Dari kondisi itu akhirnya timbul ide menjadikan olahan pisang menjadi getuk agar dapat menyambung hidup. Jenis pisang raja nangka yang ukuran buahnya cenderung besar ini kemudian diolah menjadi getuk, agar terasa lebih nikmat ketika dikonsumsi. Getuk pisang menjadi makanan alternatif yang mengeyangkan.

Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan Komunitas Pelestasi Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), pembuat pertama kali getuk gedang adalah seorang nenek yang tinggal kawasan Mojoroto, Kota Kediri. Informasi ini ditemukan dari naskah tua di perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Jejak pembuatan getuk pisang Kediri pertama kali ditemukan saat masa penjajahan Jepang yang berlangsung pada 1940-an. Pada masa tersebut, masyarakat benar-benar sengsara dan mengalami kondisi kelaparan yang sangat mengenaskan.

Getuk Pisang Kediri kediripedia
Salah satu gerai oleh-oleh di Kediri yang menjual getuk pisang. Foto: dok. milik kediripedia.com

Ribuan pohon pisang raja nangka yang tumbuh di sepanjang Sungai Brantas menjadi anugerah untuk masyarakat kala itu. Ukuran pisang yang besar lantas dicoba diolah dengan cara dikukus. Hasilnya, adonan kukusan pisang ini memiliki rasa yang enak dan mampu menjadi makanan pengganti untuk masyarakat yang kelaparan.

Dari awalnya hanya sebagai makanan darurat, getuk pisang mulai diperjualbelikan. Bentuk jajanan berwarna merah maron ini dulunya dijual dengan cara ditaruh pada cetakan loyang. Apabila ada pembeli, maka akan diiris kotak, seperti halnya penjual getuk lindri yang berbahan dasar singkong.  

Berdasar data dari Pasak, bentuk getuk pisang berubah ketika mulai dipasarkan oleh orang-orang Tionghoa Kediri. Transformasi getuk pisang mencapai puncaknya ketika mulai dikembangkan oleh warga keturunan Tionghoa Kediri ini. Makanan ini, mulai dimasak dengan cara yang lebih baik sehingga rasa yang dihasilkan menjadi lebih lezat.

Salah satunya adalah proses pengukusan pisang yang menggunakan daun pisang sehingga membuat aroma dan rasa makanan ini semakin kompleks. Tak hanya itu, dengan proses memasak yang alami, membuat kandungan nutrisi dari pisang tetap terjaga.

Perubahan yang paling menonjol adalah ketika penyajian tidak lagi menggunakan loyang. Bahan mentah berupa pisang yang telah ditumbuk, lalu dibungkus daun pisang kemudian dikukus. Secara fisik, bentuknya menjadi lonjong menyerupai lontong. Wujud getuk pisang itu tak mengalami perubahan hingga sekarang.

Getuk Pisang Pemkot Kediri
Getuk pisang Kediri bentuknya lonjong seperti lontong. Foto: milik Pemkot Kediri

Getuk pisang Kediri menurut cerita masyarakat setempat paling enak dibuat dari pisang raja nangka, meskipun bisa juga dari jenis pisang lainnya. Keistimewaan pisang raja nangka ini adalah cita rasanya yang khas, yakni asam dan manis meski, misalnya, tanpa tambahan gula.

Rasa manis inilah yang menjadikan getuk banyak disukai orang untuk terus dinikmati. Selain itu, karena dibungkus dengan daun pisang yang hijau, aroma dari getuk ini semakin menggoda. 

Getuk pisang Kediri berbentuk bulat lonjong mirip sekali dengan lontong. Dengan panjang sekitar 15–20 cm. Warnanya merah kecoklatan, teksturnya kenyal tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.

Untuk mendapatkan getuk pisang ketika mampir ke kota Kediri tidaklah sulit. Pelancong bisa menemukannya di setiap sudut kota itu, mulai dari warung-warung kecil, pedagang asongan, hingga toko oleh-oleh. Harganya pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp 2.500 – 5.000 perbuahnya tergantung ukuran dan mereknya.

Jika pun belum mempunyai agenda perjalanan ke Kediri, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri. Cara membuat getuk pisang cukup mudah.

Pertama kukus pisang hingga matang, kupas. Setelah itu tumbuk halus dan campur pisang dengan gula serta garam. Disarankan untuk menumbuknya saat pisang masih panas sehingga lebih mudah halus. Setelah semua bahan tercampur, siapkan daun pisang dan bungkus adonan tersebut seperti membuat lontong, dan Anda bisa langsung menikmatinya.

Getuk pisang khas Kediri hanya bertahan satu hingga dua hari saja karena tidak memakai bahan pengawet. Jika disimpan dalam lemari pendingin, getuk pisang bisa bertahan empat sampai lima hari.

agendaIndonesia

*****



Sirup Kawista, 1 Minuman Kola Asli Jawa

Sirup Kawista adalah minuman lokal dengan rasa kola.

Sirup Kawista rasanya masih cukup banyak orang yang belum mengetahuinya. Bahkan namanya saja masih cukup asing. Padahal bahan minuman ini sudah ada di Rembang, Jawa Tengah, sejak tahun 1925. Hampir satu abad.

Sirup Kawista

Mendengar nama Rembang rasanya yang terbayang di benak orang adalah RA Kartini, pendekar emansipasi itu. Tapi kota di pantai utara Jawa Tengah ini bukan saja tentang pahlawan nasional tersebut.

Sekali-kali jika dolan ke Rembang untuk napak tilas perjuangan Kartini, pulangnya jangan lupa membawa sirup kawista sebagai buah tangan. Ada juga beberapa oleh-oleh khas kota ini, seperti krupuk udang dan krupuk ikan, atau beberapa camilan ringan seperti dumbeg atau kue satru.

Sirup kawista merupakan produk khas Kabupaten Rembang.

Khusus minuman kawista, pernahkah pelancong mencobanya? Sirup ini sering dinggap sebagai minuman kola atau root beer dari Jawa. Tentu, bukan berarti sirup ini sama persis dengan produk minuman dari Amerika Serikat itu.

Kola dari Jawa ini bukan terbuat dari hasil penelitian, melainkan dari pengolahan buah kawis. Cara mengkonsumsinya bisa sederhana. Misalnya, seperti sirup biasa. Cukup ditambahkan air putih dan es. Tapi kalau mau seru, bisa juga ditambahkan air soda dan es. Rasanya nggak kalah dari minuman kola yang terkemuka itu.

Omong-omong soal kawis, buah ini sesungguhya termasuk buah langka. Ia masih satu keluarga dengan jeruk meski ukurannya biasanya lebih besar dan cenderung mirip dengan melon.

Warna kulitnya juga berbeda jika dibandingkan dengan jeruk pada umumnya, yakni gelap kecokelatan. Kulitnya cenderung lebih keras. DI Indonesia sesungguhnya ada beberapa daerah penghasil kawis. Khusus Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bisa dianggap sebagai sentra penghasil buah ini.

Buah Kawis Wikipedia
Buah kawis sebagai bahan pembuat sirup kawista. Foto: dok wikipedia

Buah kawista bentuknya menyerupai buah melon, namun ukurannya lebih kecil dengn kulit atau tempurung yang keras. Buah kawista disebut juga java cola karena rasanya mirip cola atau sarsaparilla.

Di Rembang, seperti diceritakan di atas, kawis bisa dijadikan bahan sirup kawista, kecap, selai, hingga madu mongso. Namun, khusus untuk sirup kawista, minuman ini dijadikan produk unggulan dari kabupaten yang ada di pesisir utara Jawa tersebut.

Seperti disebut di muka, sirup kawista ada satu merek yang sudah ada sejak 1925, yakni Cap Dewa Burung. Awalnya produk ini menggunakan merek Cap Jago. Namun, sejak 1952, namanya berubah jadi Cap Dewa Burung.

Buah kawis dipercaya mempunyai manfaat untuk mengobati penyakit antara lain: panas, sebagai tonikum, dan obat sakit perut.

Di Kabupaten Rembang sendiri sebenarnya terdapat beberapa produsen sirup buah kawista ini. Sirup Kawista memang telah menjadi oleh-oleh khas Rembang dan terkenal di seluruh Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Selain merek Dewa Burung yang terkenal, ada pengusaha lain yang juga memproduksi sirup kawista ini, yaitu Imam Tohari di Desa Gegunung Kulon, Jalan Gajah Mada, Gg. Dorongan Tengah Nomor 7 Rembang.

Begitupun sirup buah kawista Dewa Burung, merupakan produk home industry yang dikelola oleh Nyoo Tiam Kiem, paling dikenal. Produk sirup buah kawista Dewa Burung yang asli hanya dijual di Rembang. Namun dari luar daerah (Jakarta, Surabaya, Semarang, Palembang dan lain-lain) sering memesan, yang kemudian setelah beberapa hari diambil.

Setiap hari home industry sirup buah kawista Dewa Burung selalu berproduksi, besarnya produksi tergantung permintaan. Biasanya produksi akan meningkat menjelang lebaran. Rasa sirup buah kawista berbeda dari sirup buah lainnya. Sirup buah kawista merupakan gabungan rasa manis, sepet, pahit dan segar.

Sirup Kawista
Sirup kawista yang disedu dengan air soda mejadi minuman kola.

Untuk membuat sirup, buah kawista akan dibuat ekstrak terlebih dahulu. Proses pengekstrakan merupakan rahasia perusahaan karena inilah yang membedakan olahan kawista berbeda dengan produk lain. Ekstrak buah kawista dicampur dengan gula tebu yang dicairkan.

Berbeda dengan sirup pada umumnya, sirup kawista memiliki perpaduan rasa yang unik, yaitu perpaduan antara sirup plus soda yang legit sehingga membuat sirup ini dijuluki sebagai cola van Java atau kola-nya Jawa. Minuman ini jarang didapatkan di kota-kota lain.

Nah, jika sedang dolan ke Rembang dan pengin mencicipi segarnya es sirup kawista, bisa mampir ke Toko Kawista Dewa Burung yang berlokasi di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 45, Rembangan, Tasikagung, Kecamatan Rembang Kota. Tokonya buka dari pukul 08.00 sampai 20.00 WIB.

Bagi orang Jakarta yang pingin mencoba kola Jawa ini bisa mampir di Toko Nusa Indah di Kebayoran Baru. Atau membeli lewat market place.

agendaIndonesia

*****

Bakpia Balong Solo, 1 Kotak Isi 5

Bakpia Balong Solo, pia khas Solo, alternatif oleh-oleh.

Bakpia Balong Solo tentu tidak terlalu akrab di telinga pecinta cemilan. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama bakpia lebih dikenal sebagai makanan oleh-oleh khas dari Yogya, dan ke dua bakpia Solo ini masih belum bersertifikasi halal. Jadi memang harus hati-hati untuk yang muslim.

Bakpia Balong Solo

Bakpia sendiri adalah makanan khas Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya lokal Indonesia, khususnya Jawa. Bakpia adalah semacam pastri khas Fujian, salah satu daerah di Tiongkok, berupa kue yang terdiri dari gulungan kulit panggang dengan varian isi.

Kulit bakpia dibuat dari campuran tepung terigu, gula, dan garam yang kemudian dibentuk menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian diisi dengan isian, apapun isiannya, dan dibentuk bulat pipih.

Kota Solo memiliki kekayaan kulinari yang luar biasa, terasuk Bakpia Balong SOlo.

Pada awalnya, isian bakpia berisi daging babi (non-halal) dan kundur yang memiliki nama lain bakpia asin. Namun karena diasimiliasi dengan budaya Indonesia yang mayoritas beragama Islam, isian bakpia ini diganti dengan varian lain, seperti kacang hijau, keju, dan varian lainnya.

Jika pembuat bakpia di Yogyakarta cepat melakukan penyesuaian terkait kehalalan makanan ini, rupanya tidak demikian dengan produsen di Solo. Mereka membuat produknya tetap dengan patron resep lama mereka.

Barangkali itu sebabnya, jika mendengar kata ‘bakpia,’ mungkin yang terbayang di pikiran orang adalah Yogyakarta. Namun, sebenarnya Kota Bengawan ternyata juga memiliki bakpia legendaris yang sudah menjadi andalan cukup lama.

Adalah Bakpia Balong Solo, yang diproduksi dan dijual toko ‘Sumber Rejeki’. Ini adalah makanan khas peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah cukup melegenda di Kota Solo.

Dilansir dari sebuah sumber, kuliner ini disebutkan sudah ada sejak 1960-an dengan salah satu ciri khasnya dikenal karena ukurannya yang besar. Lebih besar dari ukuran bakpia dari yang selama ini dikenal dari Pathok Yogyakarta.

Pia Balong Solo IG
Bakpia Balong Solo ukurannya lebih besar. Foto IG Bakpia Balong

Bakpia Balong Solo ini sudah dikelola oleh tiga generasi dan menurut penjelasan pengelolanya saat ini, ukuran bakpia mereka yang lebih besar ini mengacu pada ukuran asli dari negara asalnya, yaitu Tiongkok. Pengelolanya pun mengetahuinya saat berkunjung ke Tiongkok.

Awalnya, Bakpia Balong Solo ini hanya tersegmentasi untuk komunitas masyarakat Tionghoa di Solo saja. Namun seiring berjalannya waktu, Bakpia Balong ini bisa dinikmati secara luas oleh kalangan masyarakat dan hingga sekarang menjadi oleh-oleh khas Solo.

Dalam perkembangannya pula varian isinya berkembang. Jika tadinya hanya daging saja, terutama daging babi yang non-halal, kemudian memakai isiannya memakai yang halal. Sayangnya, lagi-lagi, mereka belum memisahkan proses produksi yang halal dan non-halal.

Bakpia ini bisa ditemukan di kawasan Pecinan di Kota Solo, tepatnya di Jalan Kapten Mulyadi Nomor17, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta atau tidak jauh dari lokasi Pasar Gede Hardjonagoro. Penamaan ‘Balong’ sendiri diambil dari kawasan Pecinan yang bernama Kampung Balong.

Bakpia ini terkenal sejak lama. Meskipun tokonya kecil tapi masih bertahan hingga saat ini. Sekarang tokonya dengan pintu kaca dan ruangannya sudah berpendingin udara. Kemasan bakpianya juga lebih modern dan satuan dikemas dalam box kecil warna putih. Rasanya pun lebih bervariasi. Ada buah-buahan, kopi, atau daging.

Kalau yang dulu familiar dengan kemasan Bakpia Balong Solo yang masih dibungkus plastik isi 5 pia, sekarang sudah berubah, pakai kotak. Kemasan saat ini lebih Clean and light. Mereka rupanya mulai mengikuti perkembangan zaman. Dari rasa isinya tetap sama, baik dari rasa maupun ukurannya.

Bakpia Balong saat ini sekarang memiliki tujuh varian rasa yaitu chocolate pie, cheese pie, red Bean pie, mung Bean pie, chocolate cheese pie, durian pie dan meat pie. Bagi pecintanya, semua rasanya enak dan layak menjadi buah tangan saat sedang ke solo. Tapi sekali lagi, hati-hati jika tidak mengkosumsi produk non-halal.

Bakpia Solo IG

Bagi yang senang, disebut rasa bakpianya khas dan beda dengan bakpia tempat lain. Rasa kacang ijonya dikombinasi dengan tangkue (manisan winter melon) yang belum pernah ditemui di bakpia produk lain di Yogyakarta.

Saat ini ukuran bakpianya, meski tetaplebih besar dari bakpia umumnya, sedikit lebih kecil dibandingkan dulu dan harganya pun sudah naik. Satu box berisi lima seharga Rp 30 ribu. Ini bisa jadi alternatif oleh-oleh dari Solo buat teman yang bukan muslim.

agendaIndonesia

*****

5 Makanan Khas Garut yang Unik

jajanan khas garut

Petualangan ke Talaga Bodas atau wisata sejarah ke Candi Cangkuang di Kabupaten Garut tak lengkap jika belum mencicipi makanan khas Garut ini. Aneka makanan ini umumnya manis, kecil, dan tahan lama sehingga sangat pas dijadikan buah tangan bagi kerabat di kota lain. Kebanyakan orang hanya mengenal dodol Garut. Padahal ada banyak pilihan lain yang tak kalah lezat.

Rekomendasi Makanan Khas Garut

makanan khas garut dodol

Dodol Garut

Garut telah begitu identik dengan dodolnya, seperti Semarang dengan lumpia dan Yogyakarta dengan bakpianya. Jenisnya sangat beragam, seperti dodol wijen, dodol kacang, dodol nanas, dodol nangka, dodol tomat, dodol durian, dan buah-buahan lainnya. Ada pula gabungan cokelat dan dodol yang populer dengan nama Chocodot.

Burayot Garut

Burayot adalah makanan dari campuran gula merah, tepung beras, dan kacang tanah, lalu diolah dengan minyak kelapa. Proses penggorengannya memunculkan aroma khas dari makanan tersebut. Seiring semakin banyaknya penggemar, kini tersedia varian rasa, dari rasa durian, cokelat, kacang hijau, dan masih banyak lagi.

makanan khas garut dorokdok

Dorokdok Garut

Jika dilihat sekilas, dorokdok tak ubahnya seperti kerupuk kulit pada umumnya, padahal bahan bakunya berbeda. Kerupuk kulit terbuat dari kulit kerbau, sedangkan dorokdok terbuat dari kulit sapi. Dorokdok diolah menggunakan rempah-rempah dan tanpa bahan pengawet. Pengolahannya memerlukan waktu lima sampai tujuh hari karena harus direbus dan dijemur dulu sebelum digoreng. Dorokdok tersedia dalam dua versi, original dan pedas.

makanan khas garut emplod

Emplod Garut

Emplod dikenal juga dengan sebutan endog lewo. Artinya, telur yang terbuat dari Kampung Lewo. Bahan dasarnya singkong yang telah digiling dan diperas, kemudian didiamkan selama 24 jam. Selanjutnya, singkong dicampur dengan parutan kelapa dan aneka bumbu. Adonan emplod dibentuk menjadi bulatan kecil sebesar kelereng, baru kemudian digoreng. 

makanan khas garut ladu

Ladu Garut

Tekstur ladu atau disebut juga dengan malangbong ini mirip dodol, tetapi sedikit lebih kasar dan keras. Ladu terbuat dari bahan dasar tepung ketan yang diolah bersama campuran gula aren dan parutan kelapa. Rasa manis yang tidak terlalu dominan memberikan perbedaan dengan dodol. Sementara teksturnya yang cenderung renyah memberi sensasi yang unik ketika digigit dari makanan khas Garut yang satu ini.

Demikian ulasan 5 makanan khas Garut, sebuah kabupaten di provinsi Jawa Barat yang layak Anda coba bila berkunjung ke kota yang terkenal dengan julukan ‘Garut Swiss van Java’ atau Swissnya Jawa ini.

Bika Ambon, 1 Oleh-oleh Khas Medan

Bika Ambon merupakan oleh-oleh khas Medan meskipun memakai nama ibukota Maluku.

Bika Ambon adalah penganan yang unik. Secara guyon, makanan ini seakan tak punya jati diri, memakai nama Ambon namun sejatinya kue khas kota Medan, Sumatera Utara.

Bika Ambon

Kue bika ini bentuknya adalah kue pipih berwarna kuning yang permukaannya nampak seperti pori-pori dengan bagian bawahnya keras. Ini tentu sisa dari tempaan panas di dasar loyang. Makanan ini biasa tersaji dalam potongan persegi. Saat dimakan, citarasa legit tercampur dengan sensasi kenyal di lidah.

Seperti disebut di muka, walaupun menyandang nama Ambon, kue ini tidak berasal dari ibu kota Maluku itu, tetapi justru berasal dari Medan. Kue bika dikenal sebagai penganan nusantara sebagai kuliner khas Medan, Sumatera Utara.

Nama Bika sendiri menurut sumber terilhami dari kue khas Melayu yaitu Bika atau Bingka yang kemudian dimodifikasi dengan menambahkan pengembang dari bahan nira atau tuak Enau agar dan menjadi berbeda dari kue bika atau bingka khas Melayu tersebut.

Bika Ambon memiliki sejumlah versi asal-usul namanya.
Oleh-oleh khas Medan. Foto: shutterstock

Makanan ini kemudian mulai beradaptasi mengikuti laju zamannya. Kini, ia tidak lagi hanya berwarna kuning, namun berbagai varian warna sudah dapat ditemukan sesuai rasanya. Kini Bika dibuat dalam rasa pandan, namun ada juga yang mengembangkannya dalam varian rasa lain, seperti, durian, keju, cokelat.

Nama oleh-oleh ini memang unik. Ada sejumlah versi mengenai asal-usulnya. Dalam buku Bunga Angin Portugis di Nusantara, Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Nusantara (2008) karya Paramita R Abdurrahman, disebutkan bahwa salah satu peninggalan Portugis di Maluku adalah tradisi kuliner.

Di antara berbagai jenis kuliner yang diperkenalkan kepada penduduk setempat, satu di antaranya adala bika. Namun tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana kue tersebut dibawa atau diperkenalkan oleh orang Ambon ke Medan, atau bagaimana ia bisa bernama seperti itu.

Kawasan yang banyak penjual oleh-oleh ini adalah Kawasan Jalan Majapahit. Kawasan Jalan Majapahit sangat ramai menjual makana ini sejak 1980-an dan menjadi pusat penjualan Bika Ambon di Medan.  Pada 1970-an, Bika Ambon selalu dihidangkan sebagai kudapan menikmati es krim.

Cerita pertama mengatakan, kue ini dinamai demikian karena tempat pertama kali dijual dan popular adalah di simpang Jalan Ambon, Sei Kera Medan. Sumber lain mengatakan, nama ini berasal dari seorang warga Ambon yang merantau ke Malaysia dengan membawa kue bika dari Medan.

Potongan Bika Ambon shutterstock
Serat yang berongga adalah ciri khas makanan Medan ini. Foto: shutterstock

Setelah tahu rasanya enak, orang tersebut tidak kembali ke Ambon lagi, tetapi singgah di Medan. Sehingga sejak 40 tahun lalu penganan ini menjadi sangat terkenal di Medan.

Satu versi cerita sejarah lainnya menyebutkan, ada sebuah daerah bernama Amplas yang terbagi menjadi wilayah barat dan timur. Wilayah timur dikenal sebagai ‘kebon’ karena ada perumahan buruh, kebun tembakau, serta kebun kakao.

Sementara itu, wilayah barat dikenal sebagai ‘pabrik’ karena terdapat pabrik lateks. Bika ini diperkenalkan salah satu buruh transmigran yang berasal dari Jawa dan ia memasarkannya di Medan. Dari versi cerita ini, kue bika ini merupakan kependekan dari Amplas-Kebon.

Hingga saat ini tak ada satupun versi yang terkonfirmasi sebagai usul-usul yang akuran dari penganan ini. Yang sudah pasti, kue enak dan pantas menjadi oleh-olehdari kota Medan.

Proses pembuatan bika Ambon dapat memakan waktu hingga 12 jam. Sarang-sarang atau lubang pada kue ini menandakan bahwa proses produksinya tidak mudah. Jika dilakukan secara tradisional, terdapat beberapa aturan khusus saat membuatnya. Diantaranya telurnya harus segar, yaitu baru ditetaskan sehari sebelum digunakan.

Air kelapa yang digunakan harus dibuat dari air kelapa yang tumbuh di pantai. Hal ini dilakukan agar hasil donan kuenya mengembang sempurna dan tidak bantat.

Meski proses pembuatannya terbilang rumit dan panjang, namun bahan baku yang digunakan untuk membuat bika ambon cukup sederhana. Bahan yang dibutuhkan hanya tepung sagu, tepung terigu, air kelapa, ragi, santan, telur, gula pasir dan vanili.

Jika ingin rasa yang berbeda, bisa ditambahkan ekstrak perasa di dalamnya. Bika ambon dibuat dengan cara merebus santan dengan jeruk nipis dan daun pandan.

Setelah santan dingin, masukkan bahan-bahan seperti telur, tepung terigu, gula dan jus satu per satu. Bahan tersebut diaduk hingga merata, lalu didiamkan beberapa jam hingga mengendap. Setelah itu masukkan adonan ke dalam oven dengan api sedang dan tunggu hingga kue matang.

Saat ini, varian rasa Bika Ambon semakin berkembang. Selain dengan warna kuning yang mengeluarkan aroma kelapa yang kuat, kini terdapat pula dengan rasa yang lebih variatif, seperti nangka, durian, keju cokelat, pandan dan moka.

Bika ambon menjadi oleh-oleh khas Medan yang tak boleh lupa untuk dibawa pulang. Selain karena rasanya yang enak, bika ambon merupakan kue yang cukup tahan lama.

Bika ambon dapat bertahan selama 3-4 hari meskipun bebas bahan pengawet. Kue ini memiliki tekstur yang lembut, sedikit kenyal dan sangat cocok untuk teh atau kopi pagi.

Bika Ambon Zulaikha

Di berbagai sudut kota Medan terdapat banyak sekali toko yang menjual beraneka rasa bika Ambon. Salah satu toko paling terkenal dan dicari oleh para wisatawan adalah Bika Ambon Zulaikha yang berlokasi di Jl. Mojopahit, No. 62, Medan.

Di toko ini kamu bisa memperoleh berbagai jenis rasa, mulai dari rasa keju, pandan keju, original, panda hingga moka. Perlu diketahui, produk oleh-oleh ini tidak hanya memiliki rasa yang enak, namun juga ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Produk Bika Ambon Zulaikha ini mampu bertahan dalam kondisi terbaik hingga empat hari.

agendaIndonesia

****

Toko Nusa Indah, 1 Tempat Ratusan Oleh-oleh

Toko Nusa Indah di Jakarta Selatan menjadi alternatif membeli oleh-oleh dari daerah.

Toko Nusa Indah atau kadang orang juga menyebutnya Rumah Makan Nusa Indah karena tempat ini juga menyediakan menu makan khas Nusantara. Begitupun tempat ini kadung memiliki persepsi di benak banyak orang untuk mencari oleh-oleh daerah di Indonesia.

Toko Nusa Indah

Jadi, meskipun tempatnya diniatkan sebagai rumah makan, namun toko yang berlokasi di Jalan Achmad Dahlan Nomor 33, atau di kawasan Radio Dalam ini, tidak hanya menawarkan aneka makanan untuk disantap di tempat. Di sini, Anda bisa menemukan beragam jenis oleh-oleh. 

Pulang kampung atau mudik seperti identik dengan buah tangan atau oleh-oleh. Setiap kali ada teman atau kerabat diketahui pulang ke kota asal, hampir pasti ditagih makanan khas kota tersebut ketika kembali.

Sudah menjadi tradisi bagi sebagian orang Indonesia ketika liburan pasti disibukkan soal buah tangan. Contohnya ketika masa lebaran, ini tidak luput dari ritual membeli oleh-oleh. Semua tempat oleh-oleh diserbu pemudik. Tak lengkap rasanya bila pulang dari satu tempat dengan tangan hampa, tanpa menjinjing buah tangan.

Toko Nusa Indah juga mnyediakan Bakpia Kurnia Sari dari Yogakarta
Toko Nusa Indah juga menyediakan aeka bakpia Yogya, termasuk Kurnia Sari

Lalu bagaimana caranya jika ketika mudik orang tak sempat membeli oleh-oleh? Atau, bagiamana bila karena terburu-buru lantas ada kerabat atau teman yang terluput dari daftar yang akan diberi oleh-oleh?

Saat ini mungkin banyak orang sudah melakukan pembelian melalui aplikasi-aplikasi market place. Kadang oleh-oleh bahkan sudah tersedia di rumah ketika orang belum lagi berangkat mudik.

Namun ada masa di mana aplikasi online belum ada, sementara oleh-oleh perlu dibeli. Buat sebagian orang Jakarta, solusinya adalah Rumah Makan atau toko Nusa Indah ini.

Berbagai buah tangan khas pelbagai daerah dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia ada di sini. Mulai dari bolu gulung dari Medan, gudeg kaleng, aneka kerupuk khas Nusantara, bakpia, dodol dan masih banyak lainnya

Mandarijn Orion Solo
Kue Mandarijn Orion juga ada di Toko Nusa Indah.


Di Toko Nusa Indah tersedia aneka penganan seperti Brownies Amanda, kue lapis legit Spikoe asal Surabaya, kue lapis Surabaya Mandarijn atau Mandarijn Orion Solo, begelen Kartika Sari, kerupuk udang Ny. Siok dari Sidoarjo, sambal udang Bu Rudi Surabaya atau keripik pedas Ma Icih asal Bandung.

Bertempat di Jalan KH Achmad Dahlan 33, Kebayoran Baru, toko Nusa Indah sudah berdiri selama 40 tahun. Dibuka pertama kali oleh Hartati, pemilik toko, memulai bisnis toko oleh-oleh di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu pada 1983. Kini toko ini dikelola oleh generasi ke dua dan ke tiga.

Berawal dari sebuah rumah makan sederhana yang kemudian dikembangkan sekaligus menjadi pusat oleh-oleh dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Hartati, perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, ini mengawali bisnisnya dengan membuka rumah makan dengan menu-menu khas Semarang atau Jawa Tengah.

Awalnya bentuk restaurannya sederhana, hanya beberapa meja dan bangku-bangku panjang. Ruangannya pun masih model terbuka. Jadi sebagian meja berada di luar toko.

Walau bangunan rumah makannya yang tidak terlampau besar, dengan lahan parkir yang tidak terlalu luas, rumah makan Nusa Indah mampu membuat rasa kangen menu kampung halaman sedikit terobati.

Menunya pun pilihannya tak banyak, awalnya soto kudus dan beberapa makanan. Berkembang dengan tambahan masakan bandeng presto. Perlahan tapi pasti, lalu mengembangkannya dengan menyajikan menu-menu daerah lainnya.

Bandeng Presto bisa dicari di Toko Nusa Indah

Bandeng presto dan beberapa penganan Semarang menjadi sajian lain jika pengunjung ingin tak sekadar makan. Perlahan tapi pasti Toko Nusa Indah berkembang menjadi pusat oleh-oleh dari berbagai daerah.

Pada awal 90-an, tak sedikit cerita tempat ini mampu mengobati kangen bahkan ngidam akan makanan daerah. Menu rawon lengkap dengan telur asinnya seperti yang ada di Surabaya, lontong opor, nasi pecel, sop buntut, nasi gandul, gudeg, lumpia Semarang, batagor Bandung, tahu gimbal, dan banyak menu lainnya tersedia di sini.

Ketika rumah makan berkembang, tempatnya ditutup kaca dan menggunakan pendingin ruangan. Meja untuk makan lebih sedikit, karena sebagian besar ruangan “diakuisisi” produk-produk oleh-oleh. Di sebelah tempat makan, beragam tumpukan makanan dan cemilan khas daerah.

Adakah produk oleh-oleh di sini masih baru dan aman dikonsumsi. Putri Hartati yang kini menjalankan toko ini memberikan kiatnya. Menurutnya, sistem pengadaan produk oleh-oleh yang diberlakukan di tokonya tidak satu model. Tergantung merek, jenis dan asalnya, kalau yang sudah terkenal, dan yakin pasti laku, mereka akan langsung membeli. Namun untuk yang lainnya toko Nusa Indah memakai sistem titip jual yang produknya diperbaharui oleh pemilikya. “Kami tidak mau mengambil risiko soal keamanan konsumsinya,” katanya.

Cukup dapat dipahami, karena untuk beberapa panganan ketahanan atau masa kadaluwarsanya tidak terlalu lama. Ada resiko basi atau kadaluwarsa. Ada pertimbangan asal makanan juga. Jika lokasi asalnya terlalu jauh, ongkos kirim mahal, dan peminatnya sedikit, Toko Nusa Indah tidak berani melakukan stok banyak.

Jadi, jika lupa membawa oleh oleh, kapan-kapan datang saja ke Toko Nusa Indah. Hampir semua oleh-oleh khas daerah yang terkenal, ada di sana.

agendaIndonesia

****