Desa SasakEnde Frannoto

Desa Adat Sasak Ende adalah perkampungan Suku Sasak di Lombok yang dikenal terus bertahan menjaga adat leluhur. Termasuk jumlah rumahnya yang 29 buah.

Desa Adat Sasak Ende

Papu Linip, 75 tahun, tersenyum lebar. Perempuan tua itu dibalut busana tradisional lambung berwarna hitam dan kain tenun Sasak. Ia sudah hafal betul menyambut tetamu yang datang ke Desa Adat Ende di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Sebagai salah satu kampung yang mempertahankan tradisi dan budaya suku Sasak, kedatangan wisatawan menjadi bagian dari keseharian masyarakat di sini.

“Papu” dalam bahasa Sasak bermakna nenek, sedangkan “Linip” adalah nama anak pertamanya. Sebelum menjadi nenek, ia dikenal sebagai Ina Linip, atau ibunya Linip. Demikian tradisi suku Sasak memanggil seseorang. Para pria disebut ama, sedangkan kakek disebut mame. Seperti umumnya perempuan tua, sehari-hari ia anteng mengunyah sirih dan kapur di beranda rumahnya atau nyiruh. “Bisa lima kali sehari,” ucapnya.

Desa Adat Ende terdiri atas 29 rumah dan 125 jiwa. Rumahnya dikenal sebagai bale tani, maknanya tak lain rumah petani. Sebab, semua warga memiliki mata pencarian sebagai petani. Bangunan lain adalah lumbung dengan kaki-kaki bangunan lebih tinggi. Merupakan tempat penyimpanan padi. “Satu lumbung untuk satu keluarga besar,” kata Papu Linip.

Selain itu, ada berugak, yang menjadi tempat berkumpul warga. Pada bangunan tanpa sekat ini, warga bisa bercengkerama, atau menenun. Adapun bangunan lain yang saya temukan adalah bale jajar, yang biasanya digunakan untuk pesta pernikahan dan tempat bermusyawarah antarwarga. Sesuai dengan tradisi, keempat bangunan terbuat dari bahan alam. Bagian atas menggunakan alang-alang kering, yang setiap 5-6 tahun akan diganti. Kemudian, kayu digunakan untuk tiang-tiang.

Yang unik adalah lantai tanah di bagian depan bale tani. Bagian luar rumah tersebut tidak menggunakan semen. Sebagai penggantinya, digunakan perekat alami yang sudah turun-temurun dari nenek moyang suku Sasak, yakni kotoran sapi atau kerbau.

Desa Adat Sasak Ende

Menurut sang pemandu, yang tak lain cucu Papu Linip, bagian luar bale tani tersebut dibiarkan berupa tanah karena mengacu pada ajaran Islam, manusia berasal dari tanah. Lantas, dipilih kotoran kerbau atau sapi karena dua hewan tersebut lambang kerja keras. “Dipilih kotoran yang masih baru karena daya lekatnya lebih tinggi,” ia menjelaskan.

Tanah yang sudah pecah-pecah menjadi tanda perekat itu sudah habis. Jadi bale luar tersebut kembali diolesi kotoran. Biasanya, ketika bale tani diolesi kotoran pada pagi hari, penghuni sudah bisa kembali menempati rumahnya saat asar. Artinya, bau kotoran sudah hilang. “Biasanya dua kali seminggu,” kata Papu Linip tentang pengolesan kotoran hewan itu. Dalam tradisi suku Sasak, yang harus mengoleskan kotoran adalah kaum perempuan. Sebab, perempuan-lah yang mengurus rumah tangga.

Lantas, si nenek pun memperagakan cara mengolesnya. Ternyata menggunakan tangan langsung. Kotoran hewan itu dicampur dengan sedikit air, tanah liat, bambu, kayu, dan alang-alang. Keunikan lain, atap pada bagian depan atau di bale luar dirancang pendek. Inilah salah satu tradisi agar tamu yang masuk memberi penghormatan terlebih dahulu.

Bale luar menjadi ruang tidur kaum pria dan anak-anak usia 10 tahun ke atas. Sedangkan bagian dalam dijadikan tempat tidur kaum hawa, selain menjadi dapur dan tempat menyimpan perabot. Pria yang masih menjadi pengantin baru akan tidur di dalam bersama istrinya, hingga mempunyai satu anak. Untuk tidur, mereka beralaskan tikar dari daun pandan.

Tidak jauh dari bale tani dan lumbung, ada juga kandang hewan. Selain bertani, masyarakat beternak. Bahkan sapi menjadi sesuatu yang paling berharga bagi masyarakat. Sebab, sapi punya aneka fungsi, merupakan traktor tradisional di sawah, bisa juga dijual bila memerlukan dana, dan kotorannya juga digunakan untuk menyemen rumah.

Bahkan, bila sapi dicuri, yang mencarinya bisa seluruh warga. Bahkan bukan hanya warga satu kampung, melainkan juga kampung tetangga. Gotong royong menjadi ciri lain suku Sasak. Baik saat ada warga yang ditimpa kedukaan, maupun pesta hingga membuat bangunan.

Saat saya datang, kaum lelaki tengah membuat bangunan di bagian depan gerbang masuk, dan kaum perempuan memasak bersama-sama. Saat hidangan sudah matang, mereka makan bersama atau begibung. Sajiannya berupa nasi, dengan sayuran yang dibubuhi gurita hingga hidangan bersantan itu terasa gurih.

Karena para perempuan kebanyakan memasak, yang menenun hari itu tidak terlalu banyak. Ina Dangker, atau ibunya Dangker, hari itu memilih bermain berira, salah satu alat tenun. Nah, berira ini juga menjadi senjata bila ada maling. Konon, maling pun lebih takut kepada wanita karena kekuatannya bisa luntur. Menenun menjadi keahlian yang wajib dimiliki perempuan Sasak. Bahkan menjadi syarat sebelum menikah, sehingga anak-anak perempuan belajar menenun sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Di Desa Rambitan, selain Desa Adat Ende, ada Desa Adat Sade. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer. Bila dibanding Ende, perkampungan Sade lebih padat. Selain di Lombok Tengah, ada Desa Adat Segenter di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Desa Adat Suku Sasak ini berada di dekat jalur pendakian ke Gunung Rinjani dari sisi Senaru. Konsepnya lebih-kurang sama, dan ruang antara rumah cukup lebar sehingga nyaman dikelilingi. Satu lagi yang berbeda dengan kampung Sasak di Lombok Tengah, tentunya hawa di sekitarnya yang sejuk karena berada di daerah pegunungan. l

Kawin Lari & Nyokolan

Bila kebanyakan suku mempunyai cara lamaran dengan sejumlah kerumitan, pada suku Sasak yang ada keunikan. Sebab, bila sudah sama-sama suka, untuk bisa menikah ada tradisi menculik calon mempelai wanita. Yang melakukan tak lain sang kekasihnya. Dilakukan tengah malam, si wanita tentunya sudah diberi tahu terlebih dulu, dia akan diculik dan dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Keluarga perempuan biasanya menunggu hingga 24 jam, sampai yakin bila anak perempuannya telah diculik untuk dinikahi sang pujaan hatinya.

Selain itu, untuk pestanya, dikenal dengan nyongkolan, yakni mengarak pengantin keliling kampung untuk memperkenalkan kepada warga. Diiringi gendang khas Lombok yang dikenal dengan gendang beleg atau gendang besar. Tentunya, terasa meriah. l

Rita N./Frann/Dok. TL

Yuk bagikan...

Rekomendasi