Berakhir Pekan di Balikpapan Selama 3 hari

Berakhir pekan di Balikpapan, Kalimantan Timur, tampaknya bukan merupakan hal yang menarik. Bagi kebanyakan orang, yang tergambar hanyalah kilang minyak. Namun, sebenarnya kota ini memiliki deretan daya tarik dari wisata alam hingga sajian kuliner. Udaranya pun tak terbilang panas untuk kota pantai. Ada daerah perbukitan dan kehijauan di beberapa titik. Cukup tiga hari atau liburan akhir pekan yang panjang untuk bisa menikmati kota ini.

Berakhir Pekan di Balikpapan

Hari Pertama: Pasar Kebun Sayur, Pantai dan Kepiting
Bandara Sepinggan dengan bangunan yang tergolong masih baru bisa dijejaki setelah penerbangan selama 2 jam dari Bandara Soekarno-Hatta. Dengan memilih penerbangan pukul 06.00, saya sudah bisa sarapan di kota ini. Sepiring nasi kuning dan ketupat H. Daud di dekat Kantor Pos Kebun Sayur dengan cepat terhidang di hadapan saya. Padahal pagi itu warung sudah ramai. Sebagai kota yang dihuni banyak pendatang, nasi kuning ini sebenarnya khas Banjarmasin. Tapi sudah melekat dengan kota kilang minyak ini. Sepiring nasi kuning atau lontong ditambah ikan dipatok pada kisaran Rp 20 ribuan. Jangan datang terlalu siang, karena olahan dengan cepat terjual habis.

Karena sudah berada di Kebun Sayur, tidak ada salahnya mampir ke pasar atau plaza yang berada di depannya. Inilah salah satu pusat belanja aneka oleh-oleh. Terbilang lengkap, karena ada aneka makanan, kerajinan khas Dayak dari rotan maupun bambu hingga batu warna-warni yang sekarang banyak digandrungi. Bagi yang doyan belanja, Anda perlu waktu panjang agar benar-benar puas mengitarinya.  

Hari pertama sebaiknya dilakukan untuk menikmati kota agar tidak terasa lelah. Setelah berbelanja, sebaiknya Anda menuju hotel untuk istirahat sejenak. Sore hari adalah waktu yang pas untuk menikmati kota, menyusuri perbukitan, dan mencecap keindahan laut, ombak, serta mentari tenggelam di pusat kota dengan ditemani jagung bakar atau hidangan lain. Pantai Melawai dan Kemala bisa menjadi pilihan. Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, dari pantai pada siang atau sore hari bisa terlihat kesibukan dermaga.

Malam hari bisa bergeser untuk menikmati makan malam berupa kepiting yang diguyur dengan saus yang menggoda. Pilihannya bisa di Rumah Makan Dandito atau RM Kenari yang lokasinya hanya  berseberangan dan berada di Jalan Marsma R. Iswahyudi. Dijamin, makan malam akan mengenyangkan sekaligus mengesankan. Jangan lupa mereservasi, karena jumlah tamu berlimpah setiap harinya.

Hari Kedua: Bangkirai dan Orang Utan

Bangunlah pagi-pagi agar Anda bisa menyambangi dua obyek wisata yang membuat perjalanan ke Balikpapan berbeda dengan wisata ke kota lain. Selain itu, menjajal wisata alam yang keduanya berada di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Namun dari Balikpapan bisa dicapai dengan mudah. Konservasi orang utan di Samboja Lestari hanya berjarak sekitar 40 km dari pusat kota atau bisa dicapai dalam kendaraan sekitar satu jam.

Di pintu gerbang, pengunjung biasanya harus berganti dengan kendaraan operasional dari Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) yang mengelola konservasi. Anda akan dibawa melalui jalur tanpa aspal dengan kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Tersedia penginapan bagi yang ingin merasakan sensasi menginap di tengah hutan. Jika tidak, dapat mencermati dulu orang utan dan kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang luas. Siang hari Anda bisa meninggalkan lokasi dan menuju Taman Nasional Bangkirai yang lokasinya juga di Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara.  

Bukit Bangkirai merupakan hutan konservasi dengan luas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Selain jenis tanaman, daya tariknya adalah jembatan gantung sepanjang  64 meter pada ketinggian 30 meter di atas tanah. Di atas jembatan yang menghubungkan lima pohon itu, Anda bisa melihat keindahan alam sekitar. Kawasan hutan itu juga dilengkapi dengan penginapan yang dikelola PT Inhutani Balikpapan.

Bila Anda datang pada musim buah lai, jangan lupa mencicipinya. Selintas sama dengan durian: kulitnya cokelat dan berduri. Ketika dibuka, warna dagingnya kuning menggoda. Tapi rasanya jauh berbeda dengan durian. Durian lebih maknyus. Penjaja buah ini bisa ditemukan saat Anda mengarah kembali ke Balikpapan jika sedang musimnya. Tiba di hotel, saatnya beristirahat.

Berakhir pekan di Balikpapan selama 3 hari, jangan lupa membawa oleh-oleh dari sini. Salah satu yang terkenal adalah krupuk kuku macan.
Oleh-oleh khas Balikpapan dan Kalimantan Timur, krupuk ikan atau biasa disebut kuku macan. Foto: Rully K/Dok. TL

Hari Ketiga: Oleh-oleh, Buaya, dan Manggar

Kota ini tak hanya memiliki daya tarik orang utan dan beruang madu, tapi juga buaya. Ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 km dari pusat. Ada sebanyak 1.500 ekor buaya yang menempati lahan seluas 5 hektare. Terdiri atas tiga jenis: buaya muara, supit, dan air tawar. Pengunjung bisa datang pada pukul 08.00-17.00. Selain itu, tersedia beragam produk dari kulit buaya bila Anda berminat.

Tapi pada hari terakhir ini sebaiknya Anda pergi untuk berbelanja oleh-oleh dulu sebelum memulai perjalanan mengunjungi dua obyek wisata terakhir. Toko oleh-oleh bisa ditemukan di pusat kota dengan pilihan camilan dari kepiting serta aneka kerupuk termasuk kuku macan dan dodol durian. Setelah urusan buah tangan beres, saatnya meluncur ke penangkaran buaya. Setelah menyimak perilaku kumpulan buaya, Anda bisa menghabiskan sore di Pantai Manggar Segarasari yang berjarak sekitar 9 km dari bandara. Lokasinya berada di Kelurahan Manggar dan Teritip—pantai berair bersih dan pasir putih. Kembali ke Jakarta, Anda bisa pilih penerbangan pada malam hari pada pukul 19.00-21.50. Tiga hari yang menegangkan sekaligus menyenangkan!

agendaIndonesia/Rita N./Rully K./TL

Keunikan 3 Sungai di Indonesia

Keunikan 3 sungai di Indonesia karena kondisi alaminya.

Keunikan 3 sungai di Indonesia ini menyelip di antara sungai-sungai lain yang selama ini dikenal masyarakat. Indonesia memiliki banyak sungai yang secara data geografis sangat gigantik.

Keunikan 3 Sungai

Sebut saja sungai Kapuas di Kalimantan Barat yang panjangnya membentang sepanjang provinsi ini. Dari data yang ada, panjang Kapuas mencapai lebih dari 1.100 kilometer. Dari Pengunungan Muller di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur hingga bermuara di Teluk Karimata.

Ada pula beberapa sungai yang saking panjangnya hingga melewati lebih dari satu provinsi. Sungai Bengawan Solo, misalnya, yang meski panjangnya cuma hampir 600 kilometer, tapi melewati Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada pula sungai Barito yang panjangnya sekitar 900 kilometer dan melintasi Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Selatan sebelum berakhir di Laut Jawa. Sungai Barito juga merupakan sungai terlebar di Indonesia. Lebar muaranya mencapai satu kilometer.

Tapi kali ini kita tak bercerita tentang sungai-sungai yang gigantik itu. Di antara sungai-sungai yang secara ukuran menakjubkan itu, ada beberapa sungai yang unik karena kondisi alaminya.

Keunikan 3 sungai di Indonesia, salah satunya sungai Cisolok di Sukabumi yang memiliki semburan air panas.
Keunikan 3 sungai di Indonesia, salah satunya sungai Cisolok di Sukabumi. Foto: Dok. Tempo/Eko ST

Sungai Cisolok

Adalah sungai Cisolok di kawasan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang di tengah aliran airnya memiliki beberapa batu yang menyemburkan air panas. Tempat ini berdekatan dengan pantai Pelabuhan Ratu, kurang lebih jaraknya hanya 15 kilometer.

Sungai di lokasi wisata air panas Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, ini benar-benar unik. Sebab, di tengah-tengah sungai terdapat semburan air panas. Menyembur dari dalam tanah, suhu air bisa mencapai 80 derajat Celsius. Ada tiga titik semburan air yang tidak mengandung belerang. Semua semburan berasal dari geyser, air panas yang melewati lapisan kerak bumi.

Tumpukan batu yang diatur sedemikian rupa oleh pengelola membuat air memancar kian tinggi. Saking panasnya air tersebut, wisatawan dapat merendam telur di sungai hingga matang dalam waktu relatif singkat. Namun jangan sesekali menaruh tangan di atas semburan air. Selain tekanannya kencang, suhu air cukup tinggi. Tetesannya saja dapat membuat kulit pedih.

Ombak Sungai Kampar

Sungai Kampar, yang terdapat di Desa Teluk Merantim, Kabupaten Palalawan, Provinsi Riau, juga tak kalah unik. Sungai ini berhulu di Bukit Barisan, sekitar Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera di wilayah provinsi Riau. Sungai ini merupakan pertemuan dua buah sungai yang hampir sama besar, yang disebut dengan Kampar Kanan dan Kampar Kiri.

Lalu uniknya? Bagaimana tidak, sungai ini memiliki ombak yang biasa dijadikan tempat berselancar atau surfing. Pada waktu-waktu tertentu akan timbul ombak besar. Tingginya dapat mencapai 6-7 meter. Panjang gelombangnya lebih dari 300 meter. Penduduk lokal menyebutnya Gelombang Bono.

Gelombang Bono tercipta dari pertemuan arus sungai dan laut, dengan angin dan tebing di kanan-kiri. Gelombang ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para peselancar ataupun pelancong.

Periode terbaik untuk mengunjunginya pada awal dan akhir musim hujan. Sebab, saat itulah gelombang meninggi. Tepatnya Februari, Maret, Oktober, dan November. Suara empasan gelombang akan membuat bulu kuduk berdiri. Ada dua “pintu” akses ke Kawasan Palalawan. Dari Batam, Anda bisa menyeberang pakai perahu bermotor. Atau, cara lainnya, bisa juga naik kendaraan darat selama empat jam dari Pekanbaru.

Sungai Tamborasi nan Pendek

Berbanding terbalik dengan Sungai Nil di Afrika, yang menjadi sungai terpanjang di dunia, Sungai Tamborasi diklaim sebagai salah satu yang terpendek di dunia. Sungai di Kecamatan Tamborasi, Kolaka, Sulawesi Tenggara, ini hanya memiliki panjang sekitar 20 meter.

Sungai ini cuma lebih pendek tujuh meter dibandingkan Sungai Reprua di Georgia, Eropa, yang disebut memiliki panjang hanya 27 meter. Panjangnya itu dihitung dari mata air karst di gua hingga mencapai Laut Hitam.

Tamborasi tidak terlihat seperti sungai, lebih mirip danau kecil. Sebab lebarnya hanya 15 meter. Namun adanya aliran air di sini menguatkan dugaan bahwa Tamborasi memang sungai. Hanya saja hulu dan hilirnya berdekatan. Di hulu sungai atau di sekitar mata air, suhunya terasa sangat dingin dan segar. Akan tetapi di hilir, airnya justru hangat. Sungai Tamborasi, yang berbatasan langsung dengan Pantai Tamborasi, memiliki pasir putih yang kian memperindah pemandangan.

agendaIndonesia

*****

Perjalanan di Tano Niha Selama 3 Hari

Perjalanan di Tano Niha atau Tanah Nias selama tiga hari adalah perjalanan menikmati bentang alam yang sangat indah dan jejak warisan budaya yang terjaga dengan baik. Tiga hari sesungguhnya bukan waktu yang cukup.

Perjalanan di Tano Niha

Langit biru dan udara bulan Oktober berembus sejuk saat saya menjejakkan kaki di Bandara Binaka, Gunungsitoli, ibu kota Kabupaten Nias. Hanya dalam dua jam penerbangan dari Jakarta, saya bisa menikmati suasana berbeda. Ada beberapa turis asing menenteng papan selancar. Tampak mereka siap menaklukkan ombak di pantai-pantai Pulau Nias.

Pengenalan saya terhadap pulau seluas 5.625 kilometer persegi ini bermula dari ilustrasi bagian belakang uang kertas pecahan Rp 1.000 pada zaman Orde Baru. Di sana tertulis: “Lompat Batu Pulau Nias”. Pikiran saya segera mengembara selepas saya turun dari pesawat. Tidak sabar rasanya untuk memulai perjalanan di Tano Niha atau Tanah Nias.

Hari Pertama: Atraksi Hombo Batu

Hujan perlahan reda ketika saya memasuki Desa Bawomataluo, yang terletak di Kabupaten Nias Selatan. Dari Kota Gunungsitoli, menjangkau desa ini butuh waktu perjalanan kurang-lebih enam jam. Perjalanan panjang membuat di hari pertama saya hanya mendatangi satu lokasi.

Begitu tiba, pandangan saya tertumbuk pada deretan rumah adat yang terjaga dengan baik. Salah seorang warga mengatakan di desa ini terdapat 1.250 rumah adat tradisional Nias yang berumur ratusan tahun. Berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas batu, rumah-rumah itu menyerupai perahu. Batu sebagai landasan mencerminkan pijakan hidup. Di sini, ada satu rumah adat besar yang diberi nama omonifolasara. Lasara sendiri berarti mulut naga.

Menurut cerita warga, pengetahuan membangun rumah diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada semangat dari masyarakat untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan nenek moyang. Selain berbentuk empat persegi panjang, rumah adat di Nias Utara ada yang bulat dengan denah lantai oval. Sedangkan rumah adat di Nias Tengah beratap bulat dengan denah lantai segi empat.

Atraksi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Meskipun tidak sedang ada kegiatan budaya, atraksi Hombo Batu bisa ditampilkan sesuai dengan permintaan pengunjung. Saya senang sekali dapat melihat langsung atraksi yang sebelumnya hanya tergambar dalam imajinasi lewat selembar pecahan uang kertas itu. Menurut sejarah, lahirnya tradisi lompat batu berbarengan dengan tari perang.

Dahulu kala, suku-suku di Nias sering terlibat peperangan. Sebagai persiapan, setiap si’ulu atau kepala suku mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih berperang. Salah satunya melalui lompat batu.

Hari Kedua: Pantai-pantai Nias Selatan

Saya dan rekan fotografer menginap di Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Sopir yang mengantar kami bercerita tentang pantai nan indah di sekitar Teluk Dalam dengan ombak yang katanya bisa mencapai tinggi lima meter. Keesokannya, Pantai Sorake pun menjadi sasaran pertama kami.

Cerita sopir tersebut tak meleset. Pantai Sorake menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Airnya jernih memantulkan warna biru menawan dengan pasir putih bersih. Di sekitar pantai terdapat batu karang. Eksotis. Inilah surga para peselancar. Kabarnya, pantai ini tempat selancar terbaik kedua setelah Hawaii. Tak mengherankan jika turis asing banyak berselancar di pantai ini, selain di Pulau Asu, Pulau Bawa, dan Pulau Telo.

Sekitar dua kilometer dari Pantai Sorake terdapat Pantai Lagundri. Di pantai itu pemandangan alam bawah lautnya sangat indah. Bagi yang suka menyelam, inilah spot menarik yang perlu dicoba. Di sekitar pantai ini Anda juga bisa menghabiskan waktu untuk berjemur di atas lembutnya pasir putih, sambil menikmati embusan angin laut dan sinar matahari yang berlimpah.

Perjalanan ke Tano Niha salah satunya menyaksikan batu peninggalan zaman Megaltih di Desa Moro'o Nias Selatan.
Perjalanan ke Tano Niha salah satunya menyaksikan batu peninggalan zaman Megaltih di Desa Moro’o Nias Selatan. Foto: Lourentius/TL

Hari Ketiga: Menhir Desa Sisarahili dan Museum Pusaka Nias

Setelah dua hari berada di Nias Selatan, saatnya menuju kota melewati Nias Barat. Di salah satu desa, yaitu Desa Sisarahili, saya singgah untuk melihat dari dekat kekayaan warisan budaya Nias yang lain. Kali ini dalam bentuk megalit atau menhir. Ada beberapa pelancong yang turut mampir. Di desa ini terdapat sebuah batu besar yang berdiri tegak. Batu itu diukir menyerupai bentuk wajah raja atau balugu lengkap dengan pakaian kebesarannya. Warga setempat menyatakan, hanya orang yang berhasil memburu ratusan atau ribuan ekor babi yang bisa dinobatkan sebagai balugu.

Saya pun kembali ke Gunungsitoli. Tujuan berikutnya, Museum Pusaka Nias di Jalan Yos Sudarso Nomor 134 A. Berdiri pada 1991, museum ini menyimpan kekayaan warisan budaya Suku Nias. Dari artefak, keramik, hingga replika rumah adat. Di area museum ini juga terdapat kebun binatang mini sebagai upaya perlindungan terhadap fauna yang langka dan berhubungan dengan tradisi lisan Nias, seperti ular, buaya, kancil, monyet, biawak, kura-kura, kijang, dan beo.

Sorenya, saya menghabiskan waktu dengan melihat senja yang perlahan turun di sebuah pantai di Gunungsitoli dengan latar tulisan Ya’ahowu atau berarti “salam”. Kata itu selalu diucapkan dengan ramah oleh warga dalam setiap perjumpaan. Ini malam terakhir saya di Tanah Nias. Besok pagi, saya terbang kembali ke Jakarta. “Ya’ahowu, Tano Niha.”

agendaIndonesia/Aris Darmawan/Lourentius/TL

*****

Pesona Bodhi dan Pagoda Setinggi 45 Meter di Watugong

Pesona Bodhi dan Pagoda Setinggi 45 Meter di Watugong, Semarang

Pesona Bodhi dan Pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong di Semarang diyakini penganut agama Budha sebagai salah satu vihara penting dalam penyebaran agama Buddha di pulau Jawa.

Pesona Bodhi dan Pagoda

Langit kelabu mulai menggelayut seakan bersiap menyambut senja. Semilir angin menampar dedaunan pohon Bodhi di pelataran Vihara Buddhagaya Watugong, yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Semarang, Jawa Tengah. Meski memiliki batang pokok relatif pendek, pohon bernama latin Ficus religiosa itu memiliki banyak dahan dan ranting serta berdaun lebat. Usianya diperkirakan lebih dari 80 tahun!

Oey Poen Kiat, pemandu wisata yang menemani saya, mengatakan pohon Bodhi itu boleh dibilang merupakan situs sejarah. Menurut dia, pohon tersebut dibawa langsung dari Sri Lanka oleh seorang biksu bernama Narada. “Narada Mahatera datang ke Indonesia membawa dua pohon Bodhi pada 1934. Keduanya ditanam di kawasan Borobudur, Magelang. Namun, pada 1955, salah satu pohon dibawa dan ditanam di halaman Vihara Buddhagaya ini,” ujar Oey.

Dalam agama Buddha, Oey menyebutkan, pohon ini dipercaya sebagai tempat Sang Buddha Gautama bermeditasi dan memperoleh pencerahan agung. Mungkin, karena itu pula, di bawah pohon terdapat patung Buddha berwarna emas yang tengah bersila. Pria berusia 65 tahun itu juga meyakini Vihara Buddhagaya Watugong merupakan vihara pertama yang menyebarkan agama Buddha di Pulau Jawa, setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit.

Pesona Bodhi dan pagoda setinggi 45 meter di Vihara Watugong, Semarang, jawa Tengah.
Pesona Bodhi dan pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa Tengah. Foto: N. Dian/TL

Tak jauh dari pohon Bodhi, menjulang PagodaAvalokitesvara. Pagoda ini memiliki warna cerah yang menyita perhatian. Yang menarik, pagoda dibuat tujuh tingkat untuk melambangkan makna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesuciannya pada tingkat ketujuh. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15X15 meter. Tingginya disebut mencapai 45 meter.

Tingkat satu menjadi tempat bersembahyang. Di tingkat 1 ini, terdapat pula patung Kwan Im Po Sat, yang tingginya sekitar 5,1 meter. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Welas Asih, yang menghadap empat penjuru mata angin. Hal ini bertujuan agar Sang Dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah. Sedangkan pada tingkat ketujuh, terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia.

Di puncak pagoda terdapat stupa untuk menyimpan relik mutiara Sang Buddha. Namun sayangnya, pengunjung tidak dapat ke puncak pagoda karena tidak disediakan tangga untuk mengakses puncaknya. Patung di pagoda yang disebut juga sebagai Pagoda Metta Karuna, yang berarti pagoda cinta dan kasih sayang, itu berjumlah 30 buah.

Pembangunan pagoda, diperkirakan Oey, berbarengan dengan ditanamnya pohon Bodhi. Kemudian direnovasi pada 2006. Pagoda Avalokitesvara, yang identik dengan perpaduan warna merah dan kuning khas bangunan Cina, diresmikan pada tahun yang sama oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.

Bukan hanya bangunan pagoda yang mempunyai daya tarik, keberadaan dua gazebo yang mengapit di kanan dan kiri bangunan yang digunakan untuk tambur dan lonceng juga memikat. Sama memikatnya dengan patung Buddha tertidur di samping bangunan pagoda. Ya, Pagoda Avalokitesvara memang bisa dikatakan sebagai ikon dari kawasan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, yang berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare.

Selain Pagoda Avalokitesvara, bangunan lain yang mencolok di kawasan hijau dan asri ini adalah Vihara Dhammasala. Lokasinya tak jauh dari pagoda, dibangun pada 1955. Terdiri atas dua lantai, bentuknya segi empat. Di dalamnya terdapat patung Buddha berlapis emas dengan ukuran besar.

Sebelum memasuki Vihara Dhammasala, pengunjung sebaiknya mengikuti ritual khusus, yakni menginjak relief ayam, ular, dan babi, yang ada di lantai pintu masuk. Relief-relief ini memiliki arti khusus. Ayam melambangkan keserakahan, ular melambangkan kebencian, dan babi melambangkan kemalasan. “Melalui ritual ini, diharapkan umat yang beribadah dapat menghilangkan ketiga karakter yang ada di badan setiap manusia, hingga pada akhirnya bisa masuk surga,” Oey menjelaskan.

Semua unsur di bangunan ini memiliki makna, termasuk dinding sekeliling vihara. Dindingnya dihiasi relief Paticca Samuppada, yang menceritakan tentang proses hidup manusia, dari mulai lahir hingga meninggal. Selain sebagai tempat ibadah, vihara merupakan tempat untuk melakukan kegiatan sosial. Di kompleks vihara, ada satu bangunan yang digunakan sebagai kegiatan belajar masyarakat setempat. Ada pula taman membaca yang dapat dipakai untuk semua agama.

Di area ibadah ini juga terdapat penginapan. Terbuat dari kayu dan bentuknya seperti rumah panggung. Biasanya dijadikan tempat tinggal pengunjung vihara saat ada acara-acara keagamaan.

agendaIndonesia/Andry T./N. Dian/TL

8 Danau Unik di Indonesia Akibat Fenomena Alam

8 danau unik di Indonesia akibat fenomena alam.

8 danau unik di Indonesia dengan berbagai ketidakbiasaannya. Danau-danau ini menunjukkan fenomena alam yang tidak biasa. Mulai danau asin, musiman, hingga yang berubah warna. Layak menjadi kekayaan alam dan pariwisata Indonesia. Apa saja danau-danau itu?

8 Danau Unik di Indonesia

Asin

Danau Satonda terletak di tengah Pulau Satonda dan termasuk wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Danau ini menyerupai angka delapan dengan diameter masing-masing 950 meter (sebelah selatan) dan 400 meter (sebelah timur). Danau purba ini terbentuk dari letusan Gunung Satonda beribu-ribu tahun lampau. Gunung api Satonda konon berumur lebih tua daripada Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora. 

Danau Satonda dulunya terisi air tawar. Namun letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga hari ini. Satu hal yang menarik dan terbilang ajaib dari danau ini adalah riak air danau yang seolah bergerak seiring degnan pasang-surut air laut yang berada di sekeliling Pulau Satonda.

8 danau unik di Indonesia, salah satunya danau Satonda
8 danau unik di Indonesia, salah satunya Danau Satonda. Foto: Dok. ekowisata.org

Musiman 

Danau unik lain adalah Danau Sentarum. Danau ini terletak di sebelah cekungan Sungai Kapuas, yaitu sekitar 700 kilometer dari muara yang menuju Laut Cina Selatan. Sebenarnya danau ini adalah daerah hamparan banjir (lebak lebung). Karena letaknya berada di tengah-tengah jajaran pegunungan, kawasan ini menjadi daerah tangkapan hujan.

Danau Sentarum merupakan danau musiman. Saat musim hujan, kompleks Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas. Tapi, saat musim kemarau, Danau Sentarum menjadi hamparan kering dan terkadang ditumbuhi rumput seperti padang golf.

8 danau unik di Indonesia yang terjadi karena fenomena alam.
8 danau unik di Indonesia, salah satunya Danau Kelimutu di Ende, Nusa Tenggara Timur. Foto: ilustrasi-dok. TL

Berubah Warna

Di Taman Nasional Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Barat, terdapat tiga danau yang terletak di puncak Gunung Kelimutu. Ketiga danau tersebut memiliki tiga warna berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Kendati begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

Konon, danau berwarna biru merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama dia hidup selalu melakukan kejahatan. Sedangkan danau yang berwarna putih merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Kaca

Desa Lempur, Kerinci, Provinsi Jambi, mempunyai sebuah danau menakjubkan yang dikenal dengan nama Danau Kaco. Danau ini merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat. Danau Kaco memiliki nama yang berarti “Danau Kaca”. Airnya berwarna biru cemerlang, seolah dicelup cat biru laut.

Yang menjadikan danau ini istimewa adalah airnya yang bisa menyala di malam hari, terutama saat bulan purnama. Tak jarang, wisatawan sengaja berkemah di sekitar Danau Kaco saat bulan purnama. Danau yang konon sangat dalam ini juga menjadi habitat bagi ribuan ikan semah.

Kembar

Bukan hanya manusia yang bisa kembar. Ternyata danau juga. Buktinya, dua danau yang bernama Danau di Atas dan Danau di Bawah ini. Terletak di pinggir jalan raya Padang-Muaralabuh-Kerinci, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kedua danau itu sering juga disebut sebagai ”Danau Kembar” karena letaknya yang berdampingan. Jaraknya hanya terpaut sekitar 300 meter.

Wisatawan dapat membuktikan kemiripan kedua danau tersebut dengan menaiki puncak bukit di antara Danau di Atas dan Danau di Bawah. Untuk berkeliling Danau di Atas, wisatawan bisa ikut kapal motor antar-nagari yang biasa digunakan petani setempat. Tapi untuk Danau di Bawah, turis tidak bisa berkeliling naik kapal.

Merah

Danau Pagaralam, yang berlokasi di perbukitan Raje Mandare di Provinsi Bengkulu, lain daripada yang lain. Biasanya air danau berwarna jernih, hijau, atau biru. Tapi air di danau seluas 6 hektare ini justru berwarna merah darah. Danau ini ditemukan pada 2010 oleh masyarakat sekitar dan sempat membuat heboh karena warna airnya yang tak biasa itu.

Meski berwarna merah darah, saat diambil dengan tangan atau wadah, airnya berwarna seperti air pada umumnya. Menurut warga sekitar, pada malam hari di lokasi sekitar danau ini akan tercium aroma pandan. Di sekitar danau terdapat banyak sisa bangunan yang diyakini sebagai sisa candi dari sebuah kerajaan pada masa silam.

Terperangkap
Danau Kakaban di Pulau Kakaban, Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memiliki luas sekitar 5 kilometer persegi dan berdinding karang terjal setinggi 50 meter. Air laut yang sempat masuk ke danau terperangkap sehingga tidak bisa keluar lagi. Karena perubahan dan evolusi oleh air hujan dan air tanah sejak dua juta tahun silam, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibanding air laut yang ada di sekitarnya.

Perubahan ini berdampak juga terhadap adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur, misalnya. Karena terbatasnya makanan, akhirnya ia beradaptasi dengan melakukan simbiosis mutualisme dengan alga, sehingga tidak menyengat. Kakaban merupakan danau prasejarah pada zaman peralihan Holosen.

Cermin

Sesuai dengan namanya, Danau Labuan Cermin memang mengkilap seperti cermin. Tak mengherankan jika danau yang terletak di Desa Batu Putih, Kecamatan Biduk-biduk, Berau, Kalimantan Timur, ini dijuluki “Mirror Lake”karena orang dapat melihat refleksi di atasnya. Keunikan lainnya, Danau Labuan Cermin memiliki dua jenis air, yaitu air tawar dan air asin.

 Bukan hanya itu, dua jenis organisme air juga hidup di danau ini. Ikan air tawar hidup di permukaan danau, sedangkan ikan air asin hidup di dasar danau, karena kedua jenis air tidak bercampur. Batas air laut dan air tawar ini terlihat seperti lapisan awan di dalam danau.

Dari ke delapan danau tersebut, danau mana yang pernah Anda kunjungi? Jika belum satu pun, ayo kalau ada waktu dan pandemi sudag berlalu, agendakan kunjunganmu.

agendaIndonesia

*****

Keunikan 3 Pulau yang Memukau di Indonesia

Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia, mulai dari yang terkecil hingga bentuknya yang unik.

Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia. Sebagai negara dengan puluhan ribu pulau, wajar saja jika Indonesia memiliki banyak pulau yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Pulau-pulau unii tersebut, dari yang terkecil hingga yang hanya muncul di siang hari. Ada pula pulau yang mirip lumba-lumba. Ketiganya mestinya bisa menjadi potensi pariwisata di Indonesia.

Keunikan 3 Pulau

Pulau Terkecil

Indonesia merupakan negara kepulauan, karenanya tidak aneh jika negara ini memiliki banyak pulau-pulau kecil yang bisa dijadikan destinasi wisata. Namun yang luar biasa, ternyata pulau terkecil di dunia ternyata berada di Indonesia. Terkecil dalam arti pulau ini juga dihuni manusia. Meskipun sekarang tidak lagi. Pulau ini ternyata ditinggalkan oleh penduduknya karena mengalami abrasi parah.

Pulau Simping sudah diakui PBB sebagai pulau terkecil di dunia. Meski begitu, pulau ini tetap memiliki pemandangan yang menawan dan dicari wisatawan. Pulau ini terletak di Teluk Mak Jantu. Tepatnya di kawasan Pantai Sinka Island, Singkawang, Kalimantan Barat. Untuk menjangkau pulau ini dibutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Pontianak dengan menggunakan kendaraan pribadi. Meski air lautnya terbilang dangkal, Simping memiliki hamparan pantai yang panjang. Tak perlu menggunakan perahu atau kapal untuk dapat menjangkaunya. Dari Pantai Sinka, wisatawan dapat melewati sebuah jembatan.

Uniknya, Simping, yang terdiri atas pasir, bebatuan, dan pepohonan, sebelumnya disebut dengan nama Pulau Kelapa Dua, karena dulunya cuma ada dua pohon kelapa. Ukurannya sangat mini sebagai tempat tinggal penduduk, yakni kurang dari 1 hektare, saat ini kemungkinan bahkan tinggal setengah hektare.

Pulau Timbul-Tenggelam

Aslinya tentu saja bukan pulau timbul tenggelam. Adalah Pulau Segajah di Bontang Kuala, Kalimantan Timur, juga tak kalah unik dari pulau Simping. Bagaimana tidak, pulau ini hanya muncul saat siang hari ketika air laut surut. Sedangkan pada malam hari, Pulau Segajah seolah tenggelam dan tidak terlihat karena terkena air pasang. Karena itu, jika ingin mengunjungi pulau ini, jam idealnya adalah pagi hingga tengah hari.

Saat air laut surut, biasanya masyarakat sekitar sering mencari kerang di daratan pasirnya untuk diolah menjadi sambal goreng. Ini bisa menjadi salah satu atraksi menarik mengunjungi pulau ini, bahkan jika tertarik bisa ikut mencari kerang dan kemudian minta dimasakkan masyarakat setempat dengan sedikit uang jasa.

Segajah memiliki pasir yang putih dan air laut yang sangat jernih sehingga terlihat dasar lautnya yang dipenuhi bintang laut. Bahkan ada pula ikan badut (clown fish). Tak aneh jika Segajah sering dijadikan spot snorkeling atau diving. Untuk dapat mengunjungi pulau ini, wisatawan bisa menyewa perahu yang ada di Bontang Kuala. Perjalanannya lebih-kurang ditempuh sekitar 20 menit. Pastikan membawa tabir surya untuk melindungi kulit dari sengatan matahari karena tak ada tempat berteduh.

Pada perairan yang dangkal, dasar laut akan terlihat, di sana terdapat kerumunan bintang laut. Dari sekian banyak dominasi bintang laut berwarna cokelat dan kemerahan, terdapat sedikit bintang laut berwarna biru. Jika berniat snorkeling, yang perlu diwaspadai adalah batu karang tajam, serta bulu babi yang menempel pada karang-karang tersebut.

Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia, mulau dari yang terkecil hingga ke bentuk yang unik.
Keunikan 3 pulau di Indonesia yang memukau, salah satunya pulau Lumba-lumba di Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: selasar.com

Lumba-lumba

Surga dunia, begitu kata orang yang sudah pernah menginjakkan kakinya di Flores, Nusa Tenggara Timur. Banyak tempat yang dapat dijadikan tujuan wisata di sini, seperti pantai berpasir putih, berpasir hitam, sampai yang berwarna pink, dengan air yang sangat jernih dihiasi latar belakang pegunungan yang sangat indah. Bahkan tak jarang, pelancong dapat menyaksikan lumba-lumba yang tengah berlompatan di tengah laut.

Konon, salah satu pulau di lepas pantai utara Pulau Flores memiliki bentuk yang menyerupai lumba-lumba. Dari ketinggian, pulau terumbu karang itu terlihat cantik karena bagai lumba-lumba yang sedang berenang dan muncul ke permukaan. Uniknya lagi, di sekitar pulau ini juga dihuni oleh beberapa lumba-lumba. Wow!

Rasanya jika punya kesempatan berkunjung ke salah satu daerah-daerah tersebut, misalnya sedang ke Singkawang, Kalimantan Barat, dan cukup punya waktu untuk bersantai, tak ada salahnya mengagendakan untuk meluncur ke pulau-pulau unik tersebut.

agendaIndonesia

*****

Wisata Kuningan Dan 8 Spot Yang Asyik

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Wisata Kuningan di Jawa Barat rasanya kalah popular dengan beberapa daerah di sekitarnya, seperti Cirebon, atau Sumedang. Padahal daerah ini tak kurang hal menarik untuk dinikmati. Dipadukan dengan sejumlah spot di Cirebon, ia bisa menjadi pilihan liburan. Termasuk di telaga-telaga yang kini menjadi ikon wisata di daerah yang terletak di kaki gunung Ciremai itu.

Wisata Kuningan

Nasi Jamblang Mang Dul

Sebelum berkendara ke Kuningan, ada baiknya sarapan lebih dulu di warung legendaris yang menjajakan nasi Jamblang sepaket dengan aneka ragam lauknya. Warung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Kota Cirebon, yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung, ini, setiap pagi riuh dipenuhi pengunjung. Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu, jadi warung favorit di Cirebon.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila ke mari, tahu semur, sontong, dan sambal merah harus menjadi lauk utama yang dipilih.

Telaga Nilem

Telaga ini merupakan spot vakansi alam yang bisa menjadi salah satu alternatif seusai pelancong “membabat” habis wisata keraton di Kota Cirebon. Jaraknya dengan kota santri itu tak terlampau bikin punggung pegal. Kira-kira hanya dua puluh kilometer. Umumnya, kalau dijangkau menggunakan kendaraan bermotor, telaga yang masuk kawasan wisata Desa Kaduela tersebut bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit.

Di areal Taman Nasional Gunung Ciremai, Nilem seolah menjadi gerbang pembuka. Sebab, lokasinya berada paling muka, dekat dengan portal masuk. Jadi, umumnya, orang-orang mengunjungi telaga itu pagi-pagi benar. Di sana, mereka bisa melihat danau alami yang memiliki air sangat jernih. Saking jernihnya,  biota yang hidup dalam air tampak dari permukaan.

Para pelancong biasanya memanfaatkan kolam ini buat snorkeling. Tak perlu khawatir bila tak bisa berenang. Di kawasan telaga, terdapat warung-warung yang menyediakan pelampung. Pun, bila tidak membawa baju ganti, para penjual tersebut jua menyewakan pakaian renang dengan biaya rata-rata Rp 20 ribu per pasang.

 Telaga Remis

Sebelum embun-embun luruh dan cahaya matahari merasuk penuh, danau 3,25 hektare yang letaknya tak sampai 500 meter dari Telaga Nilem ini punya lanskap yang menarik. Airnya jernih serupa cermin, memantulkan bayangan pepohonan, yang seakan-akan membentuk pagar alami guna mengelilingi kolam raksasa itu. Kalau pagi, telaga dikunjungi warga sekitar yang berniat mencari ikan. Macam-macam jenis ikan air tawar hidup di sini. Semisal bawal dan nila.

Menurut kepercayaan warga sekitar, ada juga bulus raksasa yang berdiam. Bulus kadang-kadang muncul kalau dipanggil dengan ritual khusus. Memang, bulus disinyalir merupakan penunggu telaga, yang konon adalah jelmaan Pangeran Purabaya, utusan Kerajaan Mataram, yang berseteru dengan Sultan Matangaji, pemimpin Keraton Cirebon. Sementara itu, kalau siang, pengunjung kebanyakan merupakan keluarga berpiknik. Karena itu, di Telaga Remis banyak disediakan wahana untuk anak-anak, seperti sepeda air, bebek-bebekan, dan perahu mini.

Hutan Pinus

Masih dalam kompleks yang sama dengan Telaga Remis, hutan pinus berada di sisi kanan dan kiri pintu gerbang. Luas arealnya mencapai lebih dari 13 hektare. Pepohonan jangkung itu tumbuh rapat, membikin sejuk suasana sekitar telaga. Di dalam hutan, terdapat beberapa bangku buatan yang bisa dipakai untuk menikmati suasana.

Biasanya, keberadaan hutan dimanfaatkan para anggota keluarga untuk menggelar bekalnya. Sementara untuk muda-mudi, areal ini kerap dipakai buat lokasi foto. Beberapa bahkan memanfaatkan untuk lokasi pre-wedding. Sayangnya, keasrian hutan sedikit rusak dengan sampah anorganik yang menumpuk di beberapa sisi.

Telaga Biru

Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan Situ Cicerem. Lokasinya masih berada di Kecamatan Pesawahan dengan jarak tempuh kurang lebih 1 kilometer dari Telaga Remis menuju arah Paniis. Telaga ini punya julukan “Si Biru” lantaran warna airnya benar-benar biru, seperti rona air laut dalam. Di situ berdiam ribuan ikan bawal hitam dan nila merah yang selalu kelihatan menari-nari dan bergerombol bila diteropong dari atas telaga atau jalan.

Tempat ini dulu dikenal sebagai lokasi singgahnya para wali ketika menyebarkan agama. Karena itu, di sekitar telaga, bisa ditemui rumah-rumah “sesepuh” yang kerap didatangi orang-orang dari kota untuk mencari wangsit. Di telaga ini pula, menurut warga sekitar, ikan yang hidup dipercaya tak boleh dipancing karena memiliki pertalian dengan hal-hal yang berbau metafisika.

Belakangan, Telaga Biru menjadi lokasi incaran para selebgram. Dari atas sebuah batu, mereka bisa berfoto dengan latar kosong berupa telaga, ikan-ikan, dan pagar-pagar pepohonan yang rimbun serta ranum.

Bukit Batu Luhur

Butuh usaha lebih untuk menjangkau bukit batu kapur ini bila pelancong menempuhnya dari Telaga Biru. Lokasinya cukup jauh, kurang lebih 5 kilometer dari telaga, dengan kondisi jalanan sempit, berkelok-kelok, naik-turun, serta melewati hutan-hutan yang sepi. Jika belum hafal medan atau tak fasih-fasih benar mengemudi, sebaiknya mengajak orang lokal untuk mengantarkan sampai tujuan. Meski demikian, usaha buat mencapai bukit yang baru kesohor belakangan tersebut tak sia-sia.

Pemandangan berupa hamparan gundukan batu, dikelilingi hutan-hutan yang asri, langsung menyapa tatkala wisatawan tiba di lokasi. Di perbukitan lepas pandang itu, ada sebuah tebing dengan retakan kerucut tak sempurna. Masih di lokasi yang sama, terdapat kolam-kolam buatan yang langsung menghadap ke lanskap perbukitan. Juga ada rumah pohon yang bisa dipakai muda-mudi untuk berfoto.

Kimabalu Resto

Menjelang siang hampir sore, sewaktu lelah bermain di bukit yang membutuhkan trekking lumayan untuk mencapai titik-titik foto, singgah di restoran yang masih masuk kawasan Bukit Batu Luhur ini merupakan ide menarik. Di sana tersedia ragam olahan makanan Nusantara dan western. Menu favoritnya adalah BBQ Chicken, yang dimasak bergaya campuran—Indonesia dan Eropa: disajikan dengan hot plate, dimakan bersama kentang, namun diolah dengan bumbu tradisional.

Bersantap di Kimabalu terasa sensasional lantaran saat makan, pengunjung dihadapkan langsung dengan lanskap Bukit Batu Luhur dari ketinggian. Pun, konsep restorannya tampak asyik karena memadukan gaya bar dan suasana yang rustic. Menjelang sore, langit dengan sepuhan keemasan dan mega-mega lembayung yang menggelayut di atas bukit bisa disaksikan dari sana.

Wisata Kuningan salah satunya musti mampir. ke kawasan batik Trusmi

Kampung Batik Trusmi

Sebelum kembali ke kota asal, mencari oleh-oleh seakan-akan menjadi sebuah keharusan. Di jalan utama menuju Jakarta, tepatnya di daerah Plered, 3 kilometer dari Gerbang Jalan Tol Plumbon 2, terdapat sebuah perkampungan batik warisan Ki Gede Trusmi, pengikut setia Sunan Gunung Jati. Di kampung sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu, hampir semua rumah memiliki kesibukan yang sama, yakni membatik. Ada yang menggunakan cara tradisional—dengan canting—ada pula yang sudah modern, yakni membatik dengan sistem cap.

Kalau ingin melihat proses membatik, pelancong bisa mendatangi warga yang umumnya bermukim di gang-gang sempit. Mereka beraktivitas sekitar pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Sedangkan kalau hanya ingin belanja, wisatawan bisa mengunjungi show room yang tersebar di sepanjang jalan perkampungan itu. Umumnya, mereka menjual batik motif mega mendung, khas Cirebon, dengan harga mulai Rp 80 ribu untuk batik tulis dan Rp 35 ribu untuk batik cap per lembar.

agendaIndonesia/F. Rosana

Keheningan Ubud, 1 Cangkir Kopi Dan Pasar

Keheningan Ubud selalau saja mebuat wisatawan terpesona. Ia memberi inspirasi dan ketenangan.

Keheningan Ubud, Bali, tak pernah melahirkan kebosanan. Cerita tentang ketentraman dan harmoni. Saya menikmati keheningan itu lewat satu cangkir kopi. Dan Pasar Ubud yang memiliki keramahan.

Keheningan Ubud

Tanpa aba-aba, Putu menarik tuas mesin kopi. Tangan kanannya yang mungil cergas beradu dengan kotak besi yang lebarnya dua kali badannya. Sedangkan tangan kiri perempuan 24 tahun itu menyerong-nyerongkan cangkir keramik berwarna putih.

“Srrrrr…..” Nyaring bunyi perkakas memenuhi ruang 60 meter persegi di sebuah gang sempit di lambung Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di tangan Putu, mesin kopi itu menghasilkan secangkir latte art berpola mirip kembang kamboja.

“Satu hot latte single shot aroma Arabica Kintamani siap menemani,” ujar Putu sembari meladeni pesanan yang menumpuk. Bau khas biji kopi yang digiling kasar, pahit rasa seteguk latte, dan gurih susu murni dengan aroma yang masih segar menjadi pembuka sempurna perjalanan menjamah Ubud. Di sinilah halaman pertama itu dimulai, di ruang para seniman meracik kopi: Seniman Coffee.

**

Tak terperi ramainya kafe—yang lebih mirip galeri itu—kala akhir pekan di awal Februari lalu. Turis-turis dari Benua Eropa, Amerika, Australia, Afrika, berganti-gantian masuk-keluar; sekadar duduk menyeruput kopi; atau berlama-lama diskusi. Mereka asyik membincangkan perjalanan yang lalu sambil menyusun rencana baru.

Di antara riuh obrolan itu, saya duduk di tepi. Bar kayu yang menghadap ke jalanan Ubud menjadi pilihan yang pas. Sesekali, saya menimpali obrolan berbahasa Inggris. Sisanya, saya lebih suka melongok ke trotoar yang bersih dan menyaksikan penjor-penjor dengan aroma janur yang masih segar.

Sekali waktu, saya memperhatikan detail kafe sembari berdecak. Visual Seniman Caffee begitu terekam baik bagi para penggemar seni. Interior di dalam bangunan penyuka kopi ini begitu artsy. Kursi, misalnya. Pemilik kafe menggubah kursi plastik menjadi kursi goyang. Bagian bawah kursi itu dilapisi kayu berbentuk melengkung. Ia lantas punya sebutan khusus: the bar rocker.

Di sisi lain, tampak dua sepeda ontel menggantung di bawah atap beranda. Posisi keduanya yang simetris seolah-olah mengaminkan bahwa sepeda ontel itu adalah tiang penyangga atap. Tangan seniman jelas ikut campur dalam pembangunannya.

Kecak dance, kecak dance. Don’t miss to watch kecak dance show tonight, Sir, Maddam.” Suara setengah berteriak tiga laki-laki berkostum kamen dan bertopi udeng memecah fokus. Intonasinya khas warga lokal Pulau Dewata.

Saya menengok, mencari-cari asal suara itu. Rupanya, mereka berdiri di tepi jalur pedestrian. Ketiganya tengah menawarkan pertunjukan tari kecak kepada wisatawan yang melintas. Ternyata, kafe ini dihimpit tempat menonton pertunjukan tari khas Bali.

Tak jauh dari Seniman Coffee, terdapat sejumlah wantilan atau balai desa yang kerap dipakai untuk tempat pentas para penari. Hampir saban malam, tari kecak, tari barong, dan pertunjukan tradisional lainnya ditampilkan di pelataran wantilan.

Saya mengingat, tak ada yang berubah dari Ubud; tahun demi tahun. Meski kedai-kedai kopi sederhana telah berubah menjadi kafe, suasana orisinal dari kehidupan masyarakat lokal tetap menonjol.

Belum lama memperhatikan interaksi tiga laki-laki Bali paruh baya dengan para wisatawan yang melintas, seseorang di belakang tiba-tiba menepuk punggung. “My eyes on the painting. Flowery painting shop in Ubud Market,” katanya. Ia seorang turis asal Jerman. Jane, yang baru saya kenal ketika mengobrol sekejap di Seniman Coffee, menceritakan kekagumannya pada Pasar Ubud.

Keheningan Ubud juga bisa dinikmati di Pasar Ubud yang orang-orangnya begitu ramah.
Keheningan Ubud, salah satunya bisa diperoleh dengan menikmati keramahan Pasar Ubud. Foto: Ilusatrasi-iStock

Kalimat Jane memantik kenangan di masa lalu: Ubud yang syahdu dan nyanyi pasar yang lugu. Ah, tiba-tiba saya rindu menyusuri lorong-lorong pasar tradisional itu. Bergegas, saya mengambil tas jinjing, membayar secangkir kopi, dan mengayun langkah menuju pasar.

Tak sampai 15 menit, kaki saya berhenti pada lantai-lantai berwarna terakota. Suara orang ribut tawar-menawar memekakan telinga. Riuh, namun inilah sensasinya. Pasar Ubud selalu menyajikan kehidupan pasar Nusantara yang berbeda: para penjual menjajal berbahasa Inggris, para turis berusaha menimpali dengan bahasa lokal.                                 

Wangi rotan merasuk seketika. Begitu juga bau cat air yang bergesekan dengan kanvas. Inilah sejatinya Pasar Ubud. Tak seperti pasar lain yang menjual kebutuhan pokok, pasar yang terletak di jantung kota seni tersebut lebih banyak menjajakan karya-karya seniman lokal.

Tas-tas bermodel ate bergelantungan. Lukisan warna-warni berjajar. Para turis ramai memburunya. Di sudut lain, pajangan dinding berulir motif bunga kamboja, pura, dan perempuan Bali menjadi benda yang merayu pandang.

Saya menyusuri petak demi petak, koridor demi koridor. Ada sebuah jalan turunan menuju pasar bagian bawah. Di bagian itulah pedagang menjajakan sayur-mayur. Ketimbang turis, di petak tersebut, orang-orang lokal lebih banyak dijumpai.

“Cari apa gek?” ucap seorang ibu.  Gek. Saya familiar dengan panggilan ini. Gek alias jegek berarti cantik. Orang-orang Bali memang lazim menyapa perempuan lebih muda menggunakan sapaan tersebut. Saya berdesir, lagi tersanjung.

Ia, seorang ibu paruh baya yang menyapa tak lama tadi, melambaikan tangan. “Kamu mau buah?” ujarnya. Di depannya, berjejer keranjang jeruk Bali, apel, salak, dan rambutan. Di kepala Niluh, nama ibu itu, terlilit sebuah kain mirip handuk. Kain ini digunakan sebagai bantalan ketika ia membawa bertumpuk-tumpuk keranjang buah di kepalanya.

“Sini, gek, ambil saja untuk sarapan,”ujarnya. Ia, yang ramah, menawarkan buah cuma-cuma. Saya mendekat. Kamera di tangan seketika membidik aktivitasnya merapikan buah. Di layar kamera itu, keriputnya terlihat jelas.

Niluh, orang lokal asli Ubud, tak absen menyambangi pasar saban hari. Meski berusia senja, dia mengaku masih kuat bekerja. Niluh mencitrakan perempuan-perempuan Bali yang tangguh. Lama saya mengobrol dengan Niluh. Kami bercerita soal Ubud masa lalu yang nyenyat hingga lambat laun kota kecil ini mulai penuh wisatawan.

Menurut ceritanya, orang-orang Eropa paling gemar ke Ubud. Mereka menggemari relaksasi di tengah kota yang penuh terasering sawah dan hawa yang sejuk. Belakangan, turis India mulai masuk. Umumnya, mereka mengikuti kelas yoga seiring dengan meluasnya spektrum olahraga spiritual ini di Ubud.

Semburat oranye lambat-laun menyiram dari sudut barat pasar. Langit berangsur kekuningan. “Sudah sore, jalan-jalanlah ke tepi sawah,” kata Niluh. Saya tak menolak. Berkelana di Ubud memang tak komplet tanpa menyambangi persawahannya.

Menunggang motor matic berspion bulat, saya melaju pelan ke sisi utara Ubud. Sekitar 15 menit dari pasar tersebut, ada sebuah tempat menyaksikan lanskap terasering yang populer. Nama tempat itu Tegalalang. Tegalalang kerap mejeng di halaman-halaman muka kalender.

Keheningan Bali langsung memancar dari deretan sawah-sawah terasering.
Keheningan Ubud meruap dari pundakan terasering sawah-sawah di kawasan ini. Foto: ilustrasi-iStock

Tegalalang kini menjadi destinasi utama. Dulu, kawasan itu hanya persinggahan bagi yang hendak ingin bepergian ke Danau Batur. Lanskap utama Tegalalang adalah hamparan berhektare-hektare sawah. Membentuk terasering, persawahan yang tampak dari jalan raya ini bak karpet hijau.

Semilir angin membuat padi di lahan bertingkat-tingkat itu bergoyang. Inilah keheningan Bali sesungguhnya. Saya membatin, ingin lebih dekat hingga menjangkaunya.

Jalan satu-satunya menuju persawahan itu adalah jalur setapak di antara kafe-kafe. Memang, jalanan di tepi Tegalalang dipenuhi kedai kopi fancy. Saya memilih masuk dari sebuah kafe milik warga lokal Bali. “Swatiastu, Bli. Numpang lewat,” kata saya menyapa laki-laki muda yang tampaknya seorang barista.

Dari kafe ini, ada jalan setapak menuju persawahan. Jalan itu berundak-undak. Mulanya tangga dari semen, lalu berganti tanah. Beberapa kali saya menyeberang sungai kecil. Airnya mengalir dan amat jernih.

Sekitar 30 menit petak-petak sawah itu saya lewati. Lalu saya bertemu sejumlah petani. “Hati-hati, gek, licin,” kata mereka yang tampak sedang mengairi sawah. Tak lama kemudian, saya tiba di bagian paling tinggi di terasering sawah tersebut. Saya memilih duduk di tepi jalan setapak. Kala itu, matahari mulai lesap.

Saya menikmati angin yang terasa makin semilir. Bunyi tenggoret bersahut-sahutan menjadi lagu alam paling merdu saat itu. Lambat-laun, persawahan itu oranye disapu sinar sore. Ujung daun padi ini terlihat kemilauan. Inilah waktu paling pas menikmati Ubud yang bersahaja.

Tak sampai hitungan jam, langit mulai gelap. Cahaya magenta dan awan yang menggelayut menjadi gerbang pembuka malam. Di hamparan sawah itu, Ubud berbicara: tak ada yang lebih sunyi dari udara yang berembus di antara padi, rotan, cat, dan kanvas. Bagi seniman, Ubud adalah sepetak ruang yang pas untuk berkontemplasi.

agendaIndonesia/F. Rosana

*****

Pasar Apung Banjarmasin, Sensasi Belanja Sejak 1526

Pasar apung Banjarmasin menjadi salah satu ikon pariwisata kota ini, selain sebagai prasarana ekonomi.

Pasar apung Banjarmasin, atau kadang disebut pasar terapung, adalah ikon ibukota Kalimantan Selatan. Bukan sekedar ikon kota, ia bahkan tumbuh sebagai potensi pariwisata di daerah ini.

Pasar Apung Banjarmasin

Pasar apung Banjarmasin atau dikenal juga sebagai Pasar Apung Lokbang Intan ternyata sudah berusia lebih tua dari kotanya. Bahkan jauh lebih tua dari usia Indonesia. Ia ternyata sudah ada sejak tahun 1526. Jauh bahkan sebelum Kerajaan Banjar berdiri.

Di Banjarmasin sesungguhnya ada dua pasar terapung besar, di Muara Kuin dan Siring Pierre Tendean di sungai Martapura. Namun yang banyak dikenal memang yang di Muara Kuin. Ini pasar terapung tertua.

Tertua? Ya, ternyata sejarah pasar apung ini sangat panjang. Menurut catatan sejarah setempat keberadaan dan berkembangnya Pasar Apung Lokbang Intan tak lepas dengan berdirinya Kerajaan Banjar. Berdasar catatan, pasar tersebut bahkan lebih tua dari usia kerajaannya. Jika Kerajaan Banjar ada sekitar 1595, pasar ini sudah ada sejak abad ke-14. Berdirinya Kerajaan Banjar membuat pasar tersebut menjadi semakin hidup.

Kawasan pasar apung itu tadinya merupakan bagian dari pelabuhan sungai yang bernama Bandarmasih. Pelabuhan sungai ini meliputi aliran Sungai Barito, dari Sungai Kuin hingga Muara Sungai Kelayan, Banjarmasin Selatan. Berdasarkan catatan sejarahnya, Pasar Terapung merupakan pasar yang tumbuh secara alami karena posisinya yang berada di pertemuan beberapa anak sungai sehingga menjadikan kawasan ini sebagai tempat perdagangan.

Banjar atau Banjarmasin memang memiliki kondisi alam dengan banyaknya aliran sungai. Saking banyaknya aliran sungai yang melintas di kota atau kawasan ini, konon sampai mencapai 60 sungai besar dan kecil, mulai dari sungai Martapura, sungai Barito dan sungai Kuin serta puluhan sungai lainnya yang membelah wilayah Banjarmasin dan menjadikan kawasan ini sebagai delta atau kepulauan.

Banyaknya sungai juga membuat Banjarmasin dikenal dengan sebutan negeri beribu sungai. Itu sebabnya kawasan ini memiliki prasarana transportasi sungai. Demikian pula roda perekonomiannya. Dengan membuka lapak di sungai memudahkan para pedagang yang membawa barang dagangan berupa hasil bumi dari arah hulu untuk melakukan jual-beli.

Pada gilirannya, pasar apung ini tidak saja sebagai tempat untuk berdagang, tapi menjadi pusat segala macam kegiatan bagi warganya. Termasuk kemudian jadi tujuan wisata. Selain sungainya yang punya daya pikat tersendiri, masih banyak destinasi menarik yang sangat sayang jika hanya dilihat sambil lalu.

Pasar Apung Banjarmasin menjadi ikon wisata ibukota Kalimantan Selatan.
Patung Bekantan di Kota Banjarmasin ikon wisata kota ini selain Pasar Apung Banjarmasin. Foto: ilustrasi shutterstock

Jika punya kesempatan mengunjungi Banjarmasin, kota yang bisa ditempuh sekitar 1 jam dan 45 menit dari Jakarta ini, via penerbangan, rasanya wajib untuk mencoba menikmati sensasi belanja di atas sungai. Kabarnya proses jual-beli, kadang antarpedagang masih terjadi proses jual beli model barter, sudah berlangsung sejak pukul tiga pagi. Namun, ramainya perdagangan mulai pukul enam pagi.

Untuk bisa mendatangi pasar yang berada di desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, orang biasanya bangun subuh untuk menuju lokasi yang berjarak sekitar 50 menit perjalanan dari pusat kota Banjarmasin. Para pelancong harus sudah menyiapkan diri sejak usai shalat subuh atau sekitar pukul 5 Waktu setempat. Banjarmasin masuk wilayan waktu Indonesia bagian Tengah (WITA).

Cara bergegas ini, selain karena membutuhkan jarak tempuh yang cukup lama menuju lokasi dengan menggunakan perahu klotok, dari lokasi penyewaan kapal klotok di Warung Soto Banjar Bang Amat, pasar ini juga hanya beroperasi mulai pukul 6 hingga sekitar pukul 9 saja.

Satu kapal klotok bisa disewa dengan tarif Rp 350-400 ribu. Kapal jenis ini bisa ditumpangi 15 hingga 20 orang. Jadi jika kebetulan hanya bepergian sendirian atau berdua, jangan ragu berkenalan dengan orang dan sharing biaya. Jikapun mampu membayar sendiri biaya sebesar itu, perjalanan beramai-ramai sangat menyenangkan. Termasuk ketika harus sharing barang belanjaan. Sebab kadang ada pisang yang dijual satu tandan, padahal kita hanya menginginkan satu sisir saja.

Perjalanan dini hari di atas kapal pun menyenangkan. Sambil membelah sungai Martapura dengan kapal klotok, wisatawan akan disajikan pemandangan berupa aktifitas keseharian warga yang tinggal dipinggiran sungai tersebut. Mulai dari memancing ikan, masak, mandi juga berbagai kegiatan lainnya.

Begitu kapal klotok yang kita tumpangi tiba di pasar terapung Lok Baintan, para pedagang yang menggunakan perahu dayung langsung saling berlomba merapat ke perahu klotok agar bisa menjajakan barang dagangannya. Perahu pedagang yang sangat banyak inilah yang mampu menampilkan pemandangan unik dan menawan. Di sini juga para pelancong bisa menjajal naik ke perahu pedagang, pindah atau turun ke kapal mereka. Duduk di kapal mereka sambil menawar barang dagangan rasanya pemandangan yang cukup instagramable.

Rata-rata pedagangnya wanita berumur. Uniknya, di zaman seperti saat ini, sistem barter kadang masih berlaku. Biasanya memang sesama pedagang saja, namun, bisa saja jika memiliki barang yang cukup berharga untuk kebutuhan sehari-hari coba saja tawarkan.

Adapun barang yang dijual oleh para pedagang di pasar terapung Lok Baintan ini berupa beragam sayuran, buah-buahan, makanan tradisional, hingga suvenir. Bahkan sambil berbelanja kebutuhan atau barang oleh-oleh, dengan harga yang sangat terjangkau para pelancong juga bisa menikmati sajian kuliner seperti sate di atas perahu.

Menarik? Ayo kalau ada kesempatan main ke Banjarmasin dan mencoba belanja di pasar terapung.

agendaIndonesia

*****

Nusa Penida Bali, Ini 6 Tempat Wajib Dikunjungi

Nusa Penida Bali semakin sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, karena alamnya yang masih terawat

Nusa Penida Bali semakin banyak dikunjungi wisatawan. Ikon berupa pantai dengan karang yang membentuk jari kelingking menjadi potret yang banyak diburu wisatawan.

Nusa Penida Bali

Nusa Penida sendiri adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara pulau Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung dan masuk ke dalam Kabupaten Klungkung. Di dekat pulau ini terdapat juga pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Dua pulau ini relatif lebih dulu dikenal oleh wisatawan. Perairan pulau Nusa Penida terkenal dengan kawasan selamnya di antaranya terdapat di Crystal BayManta Point, Batu Meling, Batu Lumbung, Batu Abah, Toyapakeh, dan Malibu Point.

Pulau kecil tersebut saat ini praktis termasuk tempat wisata pantai atau laut yang masih alami di Bali. Untuk ke Nusa Penida saat ini makin mudah, karena semakin banyak paket tur ke sini dan adanya layanan fast boat ke pulau ini.

Cara paling umum ke Nusa Penida adalah dengan fastboat dari Pantai Sanur. Dari pantai ini ada fastboat yang berangkat tiap satu atau dua jam sekali. Tergantung perusahaan fastboat yang mengelola. Pantai Sanur bukan satu-satunya tempat memilih fastboat ke Nusa Penida, wisatawan juga bisa menumpang kapal cepat ini dari Tanjung Benoa.

Dari ke dua tempat di daratan pulau Bali, Wisatawan akan menyeberang menuju Pelabuhan Banjar Nyuh di Nusa Penida. Jika memilih jalan sendiri tanpa menggunakan jasa biro perjalanan, pengunjung bisa menyewa mobil atau sepeda motor di sekitar Banjar Nyuh. Ini perlu sebab di pulau ini tidak ada kendaraan umum yang bisa membawa ke sumlah spot wisata.

Lalu, apa saja yang paling menjadi primadona Nusa Penida? Berikut enam daerah wisata di Nusa Penida yang paling sering dikunjungi wisatawan.

Nusa Penida Bali, salah satu yang menjadi ikonnya adalah Pantai Kelingking, yang fotonya tersebar ke seluruh dunia.
Pantai Kelingking di Nusa Penida Bali, kini menjadi salah satu ikon wisata pulau Dewata. Foto: Unsplash

Pantai Kelingking

Pantai Kelingking atau Karang Dawa terletak di Desa Buga Mekar. Pantai ini bisa disebut ikonnya Nusa Penida. Hampir semua travel inflencer Indonesia pernah melakukan sesi pemotretan di sini. Lanskap utamanya berupa laut dan tebing karang. Salah satu tebing karang di Nusa Penida berbentuk seperti jari kelingking. Konon, sarat akan nilai historis. Untuk menuju Pantai Kelingking, wisatawan harus getol bertanya kepada warga sekitar. Sebab, lokasinya tak tertangkap baik oleh GPS. Wisatawan juga harus berhati-hati kalau membawa motor sendiri lantaran jalurnya rusak dan berkelok-kelok.

Broken Beach

Dari sejumlah pantai dengan karang bolong di Indonesia, Broken Beach atau Pantai Uug merupakan salah satu yang tereksotis. Potret pantai ini bila ditangkan menggunakan kamera udara tampak seperti sumur raksasa. Karang itu membentuk lingkaran yang besar dengan lubang menganga lebar di tengahnya. Di dalam lubang itu terdapat kolam air laut yang lebih mirip teluk. Broken Beach tak jauh-jauh amat dari Pantai Kelingking. Keduanya sama-sama berlokasi di Desa Bunga Mekar.

Nusa Penida Bali dengan salah satu ikonnya Angle's Billabong
Angel’s Billabong di Nusa Penida Bali. Foto: unsplash

Angel’s Billabong

Angel’s Billabong adalah pantai dengan karang yang membentuk koridor. Di tengah karang tersebut terdapat air laut dengan warna gradasi, yakni biru muda, biru tua, dan tosca. Berlokasi di Sakti, Nusa Penida, Angel’s Bilabong, 300 meter dari Brokeb Beach, pantai ini masuk daftar wajib kunjung. Apalagi buat penghobi renang. Airnya yang amat jernih membuat mereka ingin segeran menceburkan diri ke kolam alami itu.

Pantai Atuh

Pantai Atuh terdapat di Pejukutan, Nusa Penida. Pantai ini memiliki atmosfer yang sangat positif. Laut biru dengan gradasinya dapat langsung menyegarkan pikiran. Pantai Atuh hanya bisa dinikmati dari atas tebing. Dari sebrang tebing itu terdapat bukit-bukit kapur kecil yang wujudnya seperti lanskap di Raja Ampat.

Untuk menuju Pantai Atuh, wisatawan harus berjalan cukup jauh dari arah parkiran kendaraan. Jalurnya menurun dan cukup terjal. Namun perjalanannya tak akan terasa karena panorama sepanjang jalan cukup membikin berdecak kagum.

Pura Dalem Penataran

Nsua Penida tak cuma punya pantai. Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah pura. Salah satunya Pura Dalem Penataran. Pura tersebut berlokasi di Jalan Ped-Buyuk.

Suasana pura yang tergolong tertua itu kental dengan budaya Hindu-Bali yang khas. Bangunannya besar dan banyak memiliki ornamen. Pura Dalem cocok buat para turis yang doyan wisata kultur.

Nusa Penida Bali menjadi salah satu tujuan untuk diving dengan spotnya di Manta Point.
Manta Point sebagai salah satu tujuan diving di Nusa Penida Bali. Foto: Unsplash

Manta Point

Manta point sebenarnya merupakan titik untuk diving. Bisa ditempuh menggunakan spead boat dari dermaga Nusa Penida. Panorama bawah laut menjadi salah satu andalannya. Para penyelam di Manta Point dapat dengan jelas berenang dengan manta-manta atau pari raksasa. Bisa juga berenang bersama mereka.

Nah, kamu sudah mengepak koper atau ransel buat liburan ke Nusa Penida?

agendaIndonesia

*****