Mulang Pekelem 1 Ritual di Danau Segara Anak

Segara Anak Gunung Rinjani

Mulang Pekelem 1 ritual pemeluk agama Hindu di Segara Anak, Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Mungkin belum banyak yang tahu, dan ini bisa dipahami. Sebab ritual ini digelar lima tahunan oleh umat Hindu dan dilakukan tepat di Segara Anak.

Mulang Pakelem 1 Ritual di Gunung Rinjani

Segara Anak adalah danau maar yang berada di ketinggian 2.008 mdpl. Pesona Segara Anak biasanya akan membuat pendaki terpukau lantaran airnya biru seperti laut. Namun tiap lima tahun sekali, Rinjani dan Segara Anak tak cuma pesona alamnya yang menarik. Ritual sakral umat Hindu yang sakral turut menjadi pemandangan yang menyita perhatian.

Umat Hindu, khususnya warga Lombok dan Nusa Tenggara Barat, yang menggelar ritual di Segara Anak membawa hantaran berupa benda berharga dan hewan peliharaan. Misalnya emas, ayam, kambing atau kepala kerbau. Benda dan hewan itu dilarutkan di danau Segara Anak setelah pemangku adat membawanya ke tengah menggunakan getek.

Uniknya, benda-benda berharga, khususnya emas, tak akan bisa dicari setelah dihanyutkan. Sebab, emas telah tenggelam di kedalaman 230 meter air danau.

Ritual pekelem dihelat untuk merefleksikan konsep Tri Hita Karana. Konsep tersebut menggambarkan harmonisasi antara makhluk hidup, alam, dan Sang Pencipta. Sejumlah umat Hindu, pada upacara tersebut, akan menggelar ritus di tempat tertentu yang diyakini merupakan tempat bersemayamnya para dewa, termasuk Segara Anak.

Sejatinya, ritual Mulang Pekelem adalah perjalanan panjang. Pasalnya, selama tiga hari umat Hindu akan mendaki Gunung Rinjani lalu turun ke Danau Segara Anak, yang diyakini sebagai pusat spiritual di Tanah Sasak. Di tempat-tempat yang sudah ditentukan umat akan menjalankan upacara keagamaan.

Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi ketiga di Tanah Air dengan ketinggian mencapai 3.726 meter dari permukaan laut. Bagi umat Hindu, gunung ini mempunyai nilai spiritual yang tinggi. Seperti halnya Gunung Himalaya di India atau Gunung Semeru di Pulau Jawa, Rinjani menjadi sebuah tempat yang dianggap mempunyai getar kesucian yang tinggi. Tempat para Dewa kerap berkumpul untuk memberikan anugerah kehidupan.

Di kawasan ini, tumbuh-tumbuhan dan binatang hidup dengan penuh vitalitas. Itu semua dipercaya berkat dukungan energi dari Sang Gunung. Air dari Danau Segara Anak mengairi sebagian besar sawah di Pulau Lombok dan menjadi sumber kehidupan bagi orang Sasak. Tak heran, Gunung Rinjani kerap disebut sebagai gunung kehidupan.

Konon, kesucian Gunung Rinjani telah diyakini umat Hindu sejak abad XVI. Pada kurun waktu itulah Yadnya Mulang Pekelem dan Bumi Sudha pertama kali digelar. Sejak itulah, upacara tersebut hingga kini tetap diteruskan para penganut agama Hindu di Lombok. Kepatuhan dan kesetiaan mutlak atas adanya kehidupan yang lebih agung di luar kehidupan manusia membuat mereka mempertahankan tradisi ini.

Saat ini, setiap kali upacara Pekelem digelar, ada sekitar 5.000 umat Hindu naik melewati jalur pendakian. Mereka berjalan sembari memakai pakain upacara lengkap. Benda-benda hantarannya turut dibawa. “Bahkan kambing pun dituntun naik ke atas gunung,” ujarnya.

Di sepanjang jalan, ia akan mendengarkan gemerincing lonceng sembahyang. “Tepat tengah malam saat gelap gulita, orang-orang akan sembahyang,” katanya. Suasana sakral menderap sepanjang ritual itu berlangsung.

Meskipun upacara ini milik penganut agama Hindu, namun setiap kali ritual ini digelar, ratusan orang akan ikut naik ke Rinjani dan ikut menyaksikan jalannya upacara.

Tenda di Punggung Gunung Rinjani Lombok
Tenda-tenda pengunjung Gunung Rinjani selama upacara keagamaan. Dok. Unsplash

Perjalanan ke danau Segara Anak yang memakan waktu dua hari dari Mataram akan ditempuh. Jika ikut menyaksikan upacara, maka akan memakan waktu 4-5 hari. Umumnya mereka yang menyaksikan adalah para penikmat petualangan di alam bebas dan pecinta alam. Lelah perjalanan rasanya terbayarkan, danau Segara Anak yang begitu luas, cantiknya pemandangan Rinjani, serta pengalaman menjadi saksi ritual lima tahunan menjadi obat.

Beberapa hari sebelum upacara Pekelem berlangsung, biasanya di pinggiran danau Segara Anak sudah banyak berdiri tenda yang digunakan umat Hindu yang akan melaksanakan Mulang Pekelem. Ada ratusan tenda yang tersebar di berbagai tempat t di sekitar danau. Selain tenda untuk menginap, ada pula tenda-tenda yang menjual makanan dan minuman. Sementara itu, pengunjung yang hanya menyaksikan, biasanya membangun tendanya di punggung-punggung bukit.

Buat pengunjung, prosesi upacara adatnya sendiri mungkin biasa saja. Seperti jika mengikuti upacara Kesada di gunung Bromo, Jawa Timur. Begitupun kesakralan yang meruao dari lembah Segara Anak adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan.


Seperti disebut di muka, yang menarik adalah peristiwa keesokan harinya, ketika pemangku adat dan peserta upacara membawa begitu banyak ragam benda berharga seperti emas, perak, tembaga dan uang logam yang dikumpulkan umat Hindu yang akan ditenggelamkan ketengah danau Segara Anak. Ritual penenggelaman benda-benda berharga ini memiliki makna sebuah pengorbanan umat Hindu kepada Dewata.

Seusai upacara, orang-orang akan turun dari Rijani, tentu setelah mendaki dari lembah danau terlebih dahulu. Mereka kembali ke kehidupan dan kegiatan sehari-hari. Aktivitas pendaki pun kembali seperti semula. Yang unik, biasanya setelah upacara seperti itu, Danau Segara Anak bakal menjadi tempat mancing favorit lagi bagi para pendaki. Sebab di danau itu hidup ikan-ikan mujair. Kalau beruntung, konon, pendaki akan memperoleh mujair yang di dalam perutnya terdapat perhiasan emas.

Buat Anda, Rinjani bisa menjadi salah satu pilihan agenda perjalanan untuk menikmati indahnya pulau Lombok. Ayo agendakan Indonesia mu.

F. Rosana

Wisata Bintan Dengan 3 Wajahnya

Pantai yang bisa dinikmati dalam wisata Bintan

Wisata Bintan dengan 3 wajahnya mungkin tidak sepopular Belitung, meskipun sebagai destinasi wisata, pulau ini lebih dahulu dipromosikan. Namun, kemudian Bintan perkembang menjadi tujuan wisata sedikit eksklusif. Begitupun, Bintan yang berada di Provinsi Kepulauan Riau memang punya pesona alam yang indah. Tak hanya itu, Bintan ternyata juga memiliki sejumlah tempat yang membuatnya layak menjadi pilihan berlibur.

Wisata Bintan Dengan 3 Wajahnya

Kawasan wisata Bintan rasanya kini makin ramah bagi wisatawan Indonesia. Buktinya, saat ini, pulau wisata itu tak hanya ramai dikunjungi turis asing, seperti dari Singapura, Cina, dan Malaysia, tapi juga wisatawan Nusantara atau lokal. Ramainya Pulau Bintan oleh kunjungan turis lokal disebabkan lantaran banyaknya destinasi publik yang kini mulai dipromosikan untuk wisatawan lokal. Terutama 3 wajahnya: sejarah Kesultanan Melayu, budaya religi Budha, dan pantai-pantainya.

Provinsi Kepulauan Riau sendiri seperti miniatur Indonesia, betul-betul wilayah dengan rangkaian pulau-pulau.  Dari catatan, setidaknya ada sekitar 2.408 pulau besar dan kecil di provinsi ini. Tentu saja, yang paling terkenal hanya ada dua, yakni Pulau Batam dan Pulau Bintan.

Pulau Bintan adalah tempat Tanjungpinang ibukota Provinsi Kepulauan Riau berada. Dengan budaya Melayunya yang kental, di sini wisatawan bisa mengenal lebih dekat kesultanan Melayu, mengunjungi vihara unik, dan tentunya menikmati keindahan pantainya. Ayo kita coba jelajahi Bintan.

Yang pertama tentu saja menikmati peninggalan masa lampau Bintan. Sejarah Kesultanan Melayu. Untuk ini wisatawan dari Tanjungpinang harus menyeberang ke Pulau penyengat. Ini bisa dicapai hanya 15 menit perjalanan dengan perahu dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang.

Di pulau berukuran 3,2 kilometer persegi ini, wisatawan bisa menelusuri sejarah Kesultanan Melayu karena pada abad ke-18 merupakan pusat Kesultanan Johor-Riau. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Raya Sultan Riau. Cerita unik tentang masjid ini karena konon dibangun dengan menggunakan perekat berupa putih telur.

Selain masjid, ada beberapa peninggalan lainnya, seperti tempat pemandian Perigi Puteri, gudang mesiu, makam raja, rumah-rumah asli warga melayu, serta meriam di Bukit Kursi. Jika pun ingin bersantai, Pulau Penyengat memiliki pantai berpasir putih yang menakjubkan.

Hal yang tak kalah unik dari Bintan, meskipun asal muasalnya sebagai kesultanan melayu yang kental dengan tradisi Islam, wilayah ini juga mempunyai wajah tradisi Tiongkok. Jika dari penyengat kita kembali ke Tanjung Pinang, di sana terdapat tempat ibadah umat Budha yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara Graha yang berada di jalur Tanjung Pinang-Uban. Vihara itu disebut-sebut sebagai vihara terbesar se-Asia Tenggara. Di bagian dalamnya, ada patung Dewi Kuan Yin dengan tinggi 16,8 meter dan berlapis emas 22 karat.

Selain itu, ada sejumlah wihara lain yang unik. Misalnya, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva alias Patung Seribu Wajah. Disebut demikian karena vihara ini memiliki begitu banyak patung. Ini mungkin masih termasuk merupakan destinasi wisata baru di Bintan.

Dulunya, tempat ini merupakan destinasi religi umat Buddha, tapi sekarang bisa dikunjungi semua umat. Di vihara itu, lebih dari 500 patung Lohan setinggi manusia bisa ditemui. Patung Seribu Wajah tersebut memiliki roman muka berbeda-beda.

Di bawah setiap patung terdapat tulisan Mandarin, yang menjelaskan sosok patung seribu wajah itu beserta namanya. Konon, ratusan patung tersebut merupakan representasi dari para murid Buddha yang disebut Arahat. Bila ingin mengunjungnya, vihara ini terletak di Jalan Asia Afrika KM 14. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

Pada malam hari, wiatawan bisa menghabiskan dengan menikmati pantai dan hembusan angin laut. Tanjungpinang memiliki garis pantai yang cukup panjang, dan yang menarik adalah pesisir timurnya. Dari mulai Pantai Trikora, pantai yang berpasir putih dengan hiasan batu-batu granit. Selain itu, ada sejumlah akomodasi bagi wisatawan yang ingin mencecap suasana lebih lama dan nyaman.

Jalanan di Kawasan Lagoi Bintan chuttersnap unsplash
Jalanan di Kawasan Lagoi di wisata Bintan. Dok. unsplash

Pantai Trikora membentang mulai Pantai Trikora 1 hingga Pantai Trikora 4. Panjang garis pantainya mencapai 25 kilometer. Di ujung Pantai Trikora, terdapat sebuah perkampungan nelayan yang menjadi tempat bermukimnya Suku Laut. Penduduknya rata-rata menjual ikan segar. Wisatawan bisa datang untuk berbelanja langsung atau sekadar mengobrol dengan para penduduk kampung itu. Mereka tinggal di rumah-rumah apung yang eksotis.

Lokasi Pantai Trikora cukup jauh dengan Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Bila ditempuh dengan kendaraan waktunya mencapai 1,5 jam. Namun di sini wisatawan dapat menikmati suasana yang asri dan jauh dari ingar-bingar.

Bila ingin menikmati pantai lain di Bintan, wisatawan harus melangkah lebih jauh lagi atau sekitar 65 kilometer dari Tanjungpinang. Di sana ada Pantai Lagoi yang dipenuhi resor dan hotel berbintang. Akomodasi dan sarananya lengkap, bahkan terdapat lapangan golf. Kawasan wisata di Kabupaten Bintan ini digandrungi turis Korea, Cina, Jepang, dan Singapura. Bagi warga dari Negeri Jiran, Malaysia, dapat mencapainya lebih cepat dengan kapal feri khusus dari Tanah Merah, Singapura, dengan jumlah keberangkatan empat kali dalam sehari.

Spot lain yang bisa dikunjungi wisatawan adalah tur Mangrove. Hutan bakau atau Mangrove Bintan bisa dijumpai di Sungat Sebong. Kawasan ini memisahkan Kampung Lagoi dan Desa Sebong Lagoi. Wisatawan dapat menjelajahi hutan bakau itu dengan perahu motor yang disediakan.

Ada tiga zona hutan yang bisa dikunjungi, yakni zona asin, zona payau, serta zona tawar. Zona asin merupakan tempat untuk menikmati pembuatan dapur arang yang kini menjadi sarang ular. Adapun zona payau merupakan tempat untuk melihat satwa hutan bakau, seperti monyet, lebah, dan ular sanca. Sedangkan zona terakhir, yakni zona tawar, wisatawan bakal menyaksikan beragam flora tumbuh subur.

Satu lagi yang layak dinikmati selagi di Bintan: Gurun Pasir Busung. Tak perlu jauh-jauh ke Timur Tengah untuk mendapatkan foto berlatar gurun pasir yang eksotis. Di Bintan pun ada. Gundukan-gundukan pasir terlihat benar-benar seperti di Gurun Sahara. Gurun pasir ini merupakan bekas tambang yang sudah tidak aktif.

Gurun Pasir Busung berlokasi di Raya Busung, Busung, Seri Kuala Lobam. Jaraknya lebih-kurang 40 kilometer dari Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Adapun waktu tempuhnya berkisar 1 jam.

Kalau Anda sempat main ke Bintan, jangan lupa saat perut keroncongan, ada beragam sajian khas kota ini, seperti gonggong, sup ikan, ikan asam pedas, nasi lemak, hingga mi lendir, mi kuning basah yang diguyur dengan kuah kacang encer. Adapun bila ingin bersantai, ada deretan kedai kopi yang biasa dijadikan tempat nongkrong warga.

Jadi, kapan mengagendakan main ke Bintan? Ayo agendakan Indonesia-mu sejak sekarang.

F. Rosana/R. Kesuma/

Ini 4 Pantai Eksotis Dengan Pasir Hitam

Pantai Parangtritis micbima unsplash

Ini 4 pantai eksotis dengan pasir hitam. Banyak orang mungkin terpesona dengan pantai-pantai berpasir putih. Dengan kombinasi air laut yang biru cemerlang, pantai-pantai itu memang mempesona. Tapi pantai yang berpasir hitam pun sesungguhnya tak kalah menawan.

Ini 4 Pantai Eksotis

Putih dalam banyak hal dinilai lebih cantik, bahkan pasir pantai. Biasanya, orang akan berburu pantai-pantai berpasir putih, yang begitu jelas menunjukkan keindahan. Bahkan tak di tempat yang lebih terbatas, ada pantai-pantai dengan pasir berwarna pink akibat ulah ganggang di perairan tersebut.

Begitupun tak berarti pantai-pantai berpasir hitam tak memancarkan pesona. Buktinya, ada sejumlah pantai berpasir hitam yang terkenal di kalangan wisatawan dan dari masa ke masa selalu diburu wisatawan.

Jika sesekali ingin menikmati pantai-pantai berpasir hitan ada sejumlah pilihan. Selain pantai Senggigi di Pulau Lombok, beberapa di antara lainnya berada di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Pilihan itu bisa disimak di bawah ini.

Karang Hawu, Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Dari Jakarta bisa mengarahkan kendaraan menuju Ciawi, kemudian mengambil arah ke Sukabumi hingga menemukan arah ke Pelabuhan Ratu. Berada di Kecamatan Cisolok, Sukabumi, di tepi pantai terpampang jelas namanya. Namanya juga menunjukkan ciri dari pantai yang memiliki karang menjorok ke laut dan memiliki lubang yang berbentuk seperti tungku memasak. Dalam bahasa Sunda, ‘hawu’ berarti ‘tungku’.

Lekat dengan legenda Nyi Loro Kidul, pantai ini banyak diburu saat liburan, termasuk oleh para peselancar. Sebab, ombaknya yang menggoda. Berkarang dan berpasir hitam ternyata membuahkan pesona tersendiri. Apalagi di kawasan wisata ini dengan mudah ditemukan beragam kelas akomodasi, rumah makan, gerai suvenir, hingga tempat penyewaan perlengkapan berselancar di laut. Di sepanjang jalur Sukabumi selatan pun bisa ditemukan pantai-pantai lain, seperti Cimaja, Pelabuhan Ratu.

Pangandaran

Pantai Pangandaran, yang kini berada di Kabupaten Pangandaran, tidak pernah sepi dari kunjungan turis. Dari waktu ke waktu, wisatawan terus meningkat. Apalagi ditambah pilihan obyek wisatanya. Menyodorkan keindahan mentari terbit dan tenggelam, pantai ini sebagaian memiliki pasir hitam. Meski pasirnya tampak gelap, tidak pernah membuat turis berpaling.

Berjarak sekita 400 kilometer dari Jakarta dan 223 kilometer dari Bandung, perjalanan panjang melalui jalur darat ditempuh untuk mencapai pantai ini. Namun pantai tetap diburu, apalagi ada pilihan singkat dengan penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusumah menuju Bandara Nusa Wiru dengan frekueunsi satu kali sehari oleh maskapai Susi Air. Tak hanya menikmati pantai dan keindahan yang bisa dicicipi, ada pengalaman lagi saat menjelajah Cagar Alam Pananjung, Cukang Taneuh, Pantai Batu Karas, dengan segudang kegiatan.

Parang Tritis, Bantul

Pantai yang berjarak sekitar 27 kilometer di selatan Yogyakarta ini dikenal dengan gundukan pasirnya. Hamparan pasirnya yang cokelat kehitaman muncul di beberapa layar lebar. Ini justru menjadi ciri khas dan area untuk mengadakan berbagai kegiatan, selain menjadi lokasi yang nyaman untuk menikmati debur ombak dan keindahan mentari tenggelam.

Di sore hari, pelancong bisa menyusuri pantai dengan berbagai cara, mulai dengan berjalan kaki, naik bendi, menunggang kuda, hingga mengendarai ATV. Pantai ini juga kerap menjadi tempat pemotretan pasangan untuk prewedding. Sebab, kala senja datang, tempat ini terasa romantis. Pantai yang menjadi bagian dari Kabupaten Bantul ini juga kerap dikunjungi para penggemar sandboarding untuk beraksi.  

Senggigi, Lombok Barat

Meski pantai-pantai di Pulau Lombok banyak yang menonjolkan pesona pasir putihnya, pantai Senggigi tetap tak pernah sepi. Apalagi menjadi pintu untuk mencapai tiga pulau kecil atau gili yang sekarang namanya sudah begitu kondang, yakni Meno, Air, dan Trawangan. Dengan keindahan mentari tenggelam, pantai berpasir hitam ini menjadi tempat mengasyikkan untuk menikmati senja.

Apalagi di kawasan Senggigi, telah berjajar hotel-hotel berbintang dan beragam kafe sehingga menjadi kawasan wisata yang hidup dari pagi hingga tengah malam. Bahkan untuk penyuka belanja, khususnya kerajinan tangan, di pantai juga bisa ditemukan pasar seni. Dijual pula aneka kain lokal, kerajinan dari kayu, rotan, dan material lainnya.

Agendakan main ke pantai-pantai berpasir hitam. Dan agendakan Indonesiamu mulai sekarang.

Rita N-TL

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Masjid Agung Sumenep

Sumenep 2 peninggalan sejarah Indonesia di pulau Madura, Jawa Timur. Satu tentang kisah keraton Sumenep dan lainnya soal Sumenep sebagai penghasil garam.

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Lantunan salawat para ibu terdengar nyaring dari Kubah Bindara Saod, salah satu raja Sumenep yang bernama asli Raden Tumengung Tirtonegoro. Terdengar juga suara lirih doa dari Kubah Pangeran Jimat, raja Sumenep yang lain. Kubah mereka memang bersebelahan. Saya terdiam di pagi yang hangat, di Asta Tinggi, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep, Madura. Kompleks itu berada di daerah perbukitan. Angin yang bertiup perlahan menyadarkan saya, yang sudah terlalu lama terpaku.

Meninggalkan kompleks pemakaman penuh warna itu, kaki melewati makam-makam lain, yang tentu saja masih keluarga keraton. Uniknya, beberapa dipulas warna-warni. Ada beberapa gapura dan bangunan atau kubah yang dipoles warna-warna terang juga. Di pemakaman yang didirikan pada 1750 ini, ada juga makam Pangeran Diponegoro.

Jajaran ibu penjaja kembang dan air mawar pun saya tinggalkan. Sementara di sisi kiri-kanan saya, para peziarah silih berganti memasuki pemakaman. Setelah menghirup udara segar dalam-dalam, saya melewati gapura putih megah yang menjadi pintu masuk dan keluar. Berada di Kebon Agung, jarak dari pusat kota, hanya sekitar 2,6 kilometer. Hingga saya memilih melepas lapar di Rumah Makan Kartini, di Jalan Diponegoro. Suguhan khasnya cakee—lontong kuah kari—tentunya cukup mengenyangkan. Pilihan lain yang cukup menggoda, nasi campur.

Tak lama, azan Zuhur pun terdengar. Saatnya saya bergeser ke Masjid Agung Sumenep yang hanya beberapa meter dari rumah makan ini. Gerbang putih dengan polesan keemasan di beberapa titik itu langsung menyedot perhatian saya. Orang berduyun-duyun melewatinya. Saya pun tak mau ketinggalan. Melangkah di bawah gapura atap bersusun yang kental dengan budaya Tiongkok itu, saya menengadah mencermati arsitektur salah satu masjid tertua di negeri ini. Merupakan perpaduan beragam budaya; Cina, Eropa, Jawa, dan Madura.

Dibangun pada 1779-1787, dulu dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep. Kini menjadi Masjid Agung Sumenep. Saya melipir ke sisi kiri, karena kaum perempuan hanya mendapat bagian di teras masjid. Namun, seusai salat, saya menengok ke bagian dalam. Ada mihrab dan mimbar ganda dengan detail unik.

Sebagian jemaah siang itu ternyata para pelaku wisata religi. Sumenep memang gudang sejarah yang kental dengan keagamaan. Masjid yang dibangun Kanjeng R. Tumengung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI, ini salah satunya. Dulu merupakan tempat ibadah keluarga keraton, lokasinya memang tak jauh dari Keraton Sumenep. Setelah menunaikan ibadah, giliran istana yang saya jelajahi.

Gerbang keraton atau Labang Mesem mirip dengan gapura Masjid Agung Sumenep, hanya dalam ukuran lebih kecil dan sederhana. Warna yang digunakan sama, putih dan kuning. Ada limasan berundak tiga di bagian puncaknya. Arsiteknya ternyata sama dengan Masjid Agung, yakni warga keturunan Tionghoa bernama Lauw Piau Ngo.

Di sebelah kiri gerbang atau di sebelah timur, ada Taman Sare yang dulu merupakan pemandian keluarga kerajaan. Di istana ini ada beberapa hal unik, seperti Al Quran tulisan tangan berukuran raksasa, kereta kencana Kerajaan Sumenep, dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Inggris. Tepat di seberang Labang Mesem, ada Museum Keraton dengan sejumlah koleksi, seperti pedang, foto-foto kerajaan di masa lalu, kereta kencana, dan alat musik jadul.

Siang yang teduh di akhir Januari, kota yang ditempuh dalam empat jam dari Surabaya ini tak lagi diterpa sinar mentari yang terik. Cukup nyaman bagi saya menengok berbagai peninggalan PT Garam untuk mengenang Sumenep sebagai penghasil garam tersohor di masa lalu. Dari pusat kota, saya pun perlahan menuju Kalianget, kawasan yang dibangun VOC, kemudian diteruskan di masa penjajahan Belanda saat ingin menguasai pusat garam di Madura ini.

Di sebuah jalan dengan kiri-kanan pepohonan rimbun, mata saya menangkap deretan bangunan lawas yang lebih-kurang didirikan pada 1914-1925. Rupanya, saya sudah memasuki kawasan Kalianget. Mata kian awas menyimak kiri-kanan, di mana rumah-rumah tua terus berbaris. Ada pula lapangan tenis. Hingga kendaraan berhenti di sebuah gedung tua tanpa label. Setelah maju beberapa meter, terlihat bangunan dengan papan nama PT Garam (Persero) yang masih terpasang.

Di seberangnya, terlihat bangunan tua lain, konon dulu digunakan sebagai tempat hiburan, sejenis bioskop. Sedangkan gedung tua sebelum kantor PT Garam, ternyata Gedung Sentral yang menjadi pusat listrik. Tak jauh dari sana, saya menemukan lapangan dengan gapura sederhana. Untaian besi di atas gapura bertuliskan “Lapangan Taman Merdeka”. Di tengah lapangan ada sebuah tugu mini. Puncaknya dicat merah, juga di bagian bawahnya. Sederhana, tapi bikin saya penasaran.

Sebuah sepeda ontel berdiri tanpa teman di taman itu. Pemiliknya rupanya bapak tua yang tengah menyambit rumput. “Itu Tugu Kemerdekaan,” ujarnya. Kemudian saya bertemu dengan penarik becak berbaju garis merah-putih khas Madura. Ia menjelaskan lebih detail. Tugu Merdeka didirikan untuk memperingati perlawanan terhadap Belanda. Ia bertutur Belanda menyerang dari arah laut, dan rakyat pun berjuang menahannya di lapangan ini. Hingga ada lubang atau benteng pertahanan mini di ujung lapangan.

Lantas, Eri—begitu bapak itu menyebut namanya—bercerita tentang PT Garam di masa kejayaannya. Ia pun menunjukkan bekas gudang dan penampung air di bagian belakang kantor perusahaan itu. “Rumah-rumah bekas karyawan sekarang disewain dengan harga murah,” ucapnya. Sedangkan gudang-gudang dan kantor kosong, hanya menyimpan seonggok kenangan dan kejayaan saat Sumenep menjadi penghasil garam terkenal, saat kapal-kapal dari berbagai negara singgah di pelabuhan ini.

Langit mulai gelap. Ketika hujan sering turun di Bumi Pertiwi ini, Sumenep pun tak ketinggalan diguyur air dari atas. Saya harus beranjak, dan tentunya akan kembali esok pagi, karena perjalanan ke Gili Labak, dimulai dari Dermaga Kalianget. l

Gili Berpasir Putih

gili labak di Sumenep, Madura, Jawa Timur
Wisata Sumenep di Gili Labak. Dok. Rully K-TL

Dengan bantuan staf hotel, saya mendapat kontak pemilik perahu yang akan membawa ke Gili Labak. Sewa per kapal cukup tinggi, sekitar Rp 1 juta. Jadi saya pun bergabung dengan sejumlah penumpang lain dengan biaya per orang cukup Rp 75 ribu.

Selepas subuh, kendaraan melaju langsung ke Dermaga Kalianget. Semangkuk mi dan teh panas mengisi perut yang kosong sebelum saya menuju rumah pemilik perahu. Terbagi dari beberapa rombongan, dan akhirnya saya mendapat jatah rombongan terakhir yang baru berangkat pukul 06.30. Perahu berkapasitas 20 orang itu mulai melewati Pulau Talango, tepat di seberang dermaga. Pulau ini terkenal diburu peziarah karena di sana ada makam Sayyid Yusuf.


Awalnya laut tenang, tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang Gili Labak, ombak mengajak bergoyang. Akhirnya, setelah 2 jam di laut, kaki menginjak pantai berpasir putih nan halus. Saya mencoba berkeliling pulau kecil dengan ukuran 5 hektare itu. Tidak terlalu lama, sekaligus tak melelahkan. Ada beberapa pilihan spot untuk selfie atau wefie, dari jembatan, dermaga, sampai pepohonan kering. Tentunya bikin pelancong, yang kebanyakan lokal, bisa mejeng sana-sini.

Terlihat beberapa tenda berdiri di tepi pantai. Ada juga rumah-rumah penduduk yang disewakan. Sedangkan ikan-ikan lebih banyak berada di sisi belakang pulau. Hanya sayang, karena kerap surut, terumbu karang pun sering diinjak-injak hingga terlihat banyak yang mati. Seperti saat pulang, karena di bagian depan ombak begitu tinggi, perahu menaikkan penumpang dari sisi belakang.


Jangan terlena hingga sore di Gili Labak. Sebab, lewat siang, ombak terus meninggi. Berangkat sekitar pukul 14.00 pun ombak tak berhenti mengayun-ayun perahu, dan semburan air membuat penumpang di bagian depan basah kuyup. Seperti yang saya alami, rasa asin begitu lekat di badan. Dengan ombak tinggi, perjalanan pulang pun akhirnya berakhir setelah 2,5 jam. l

Rita N./Rully K./Dok TL

Cendrawasih dan Penyu Blimbing, 2 Keunikan Tambrauw

Cendrawasih Jantan

Cendrawasih dan Penyu Blimbing, 2 Keunikan Tambrauw rasanya masih sedikit orang yang tahu. Padahal kabupaten ini sejak lama sudah menjadi semacam endemik kedua fauna. Untuk Cendrawasih bahkan bisa dikatakan 80 persen wilayah Tambrauw adalah kawasan konservasi.

Cendrawasih dan Penyu Blimbing

Kabupaten Tambrauw di Provinsi Papua Barat disebut banyak kalangan sebagai salah satu spot pemantauan burung terbaik di Papua. Utamanya tentu di papua Barat. Seperti disebut di muka, 80 persen daerahnya mencakup area konservasi yang memungkinkan burung maskot Papua ini hidup bebas di hutan yang masih rapat. Apalagi secara geografis kabupaten ini berada di antara dataran tinggi dan dataran rendah. Itu memungkinkan cenderawasih dari dua area bisa hidup di sini.

Untuk menuju Kabupaten Tambrauw, wisatawan bisa memilih dua pintu masuk lewat jalur udara. Yang pertama melalui Bandar Udara Dominique Eduard Osok di kota Sorong. Dari sini, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan double cabin melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar empat jam menuju Sausapor.

Pintu masuk kedua yakni melalui Bandar Udara Rendani di Manokwari. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan double cabin menuju Kebar dengan waktu tempuh lebih-kurang empat jam. Bisa juga melalui jalur laut dari Sorong menuju Sausapor dengan waktu tempuh 2,5 jam.

Tambrauw mungkin belum sepopuler Desa Saporkren di Kabupaten Raja Ampat sebagai tempat pemantauan cendrawasih. Namun, kian hari makin banyak wisatawan manca negara yang mengunjungi Tambrauw melalui Manokwari dan Sorong.

Lokasi istimewa untuk memantau cendrawasih di Tambrauw adalah Distrik Miyah. Distrik itu dapat ditempuh dalam waktu lebih-kurang 4 jam dari Ibu Kota Sementara Sausapor. Keistimewaan pemantauan di Miyah adalah seringnya ditemui enam jenis cendrawasih.

Sesuai buku Birds of New Guniea karangan Thane K. Pratt dan Bruce M. Beehler, keenam spesies cenderawasih yang sering dijumpai di Tambrauw adalah Lesser bird of paradise; Magnificent bird of paradise; Cendrawasih raja, Magnificent rifflebird; Western parotia; dan Superb bird of paradise.

Jenis Lesser bird of paradise biasanya juga disebut cenderawasih kuning-kecil. Burung ini memiliki panjang sekitar 32 sentimeter. Bisa dijuluki kecil-kecil cabai rawit. Sebab, burung berjenis lesser bird of paradise ini jago berdansa. Kemampuannya menari melebihi burung-burung lain sekelasnya. Lesser bird of paradise memiliki warna otentik kuning dan cokelat. Paruhnya abu-abu kebiruan. Sedangkan iris matanya berwarna kuning. Pada ekornya terdapat antena hitam.

Jenis ke dua yang disebut Magnificent bird of paradise atau sering disebut juga cendrawasih belah rotan. Subspesies cedrawasih belah ritan yang ditemukan di Papua Barat, khususnya di Tambrauw, adalah Cicinnurus magnificus magnuficus. Burung ini memiliki bulu berwarna campuran hitam, putih, dan merah. Ia mempunyai antena berbentuk spiral berwarna biru muda menyala.

Lalu, mungkin, yang paling dikenal banyak orang adalah Cendrawasih raja. Keunikannya mereka memiliki warna yang berbeda antara betina dan jantan. Burung betina memiliki warna cokelat dengan tubuh bagian bawah berpola garis-garis. Sedangkan jantan mempunyai wara merah tua terang dan putih. Kakinya biru terang. Bulu ekornya panjang dan terdapat hiasan uliran hijau. Burung cendrawasih jantan ini memiliki panjang lebih-kurang 16 sentimeter.

Jenis ke empat cendrawasih di tambrauw adalah Magnificent rifflebird atau sering disebut burung dari surga. Yang jantan memiliki bulu warna hitam beludru. Ketika dikatupkan, sayapnya akan membentuk seperti jubah. Kepalanya berwarna biru-hijau. Sayap itu bisa direntangkan melengkung. Sedangkan betina mempunyai warna bulu kecokelatan dengan bintink-binting gelap. Burung ini memiliki panjang lebih-kurang 34 sentimeter.

Jenis ke lima cendrawasih di sini dari spesies Western parotia. Burung ini memiliki panjang sekitar 33 sentimeter. Ekornya tak panjang-panjang amat. Western parotia secara seksual dimorfik. Spesies burung ini memiliki perisai payudara berwarna hijau keemasan. Sedangkan mahkotanya berwarna abu-abu perak. Sayap Western parotia bisa membentuk segitiga, mirip kerucut. Burung ini memiliki kelabihan dapat menari seperti balerina.

Jenis terakhir yang sering muncul adalah Superb bird of paradise atau cendrawasih kerah. Cendrawasih ini memiliki mahkota berwarna hitam dan mahkota hijau warna-warni. Bila ia menutup sayap, bulunya tampak berwarna biru. Sedangkan betina memiliki warna kecokelatan dan kemerahan. Burung jantan ini konon memilii sifat poligami. Ia akan menari-nari lincah untuk sampai menarik perhatian lawan jenisnya.

Jika ingin melihat ke semuanya, ambil waktu yang cukup jika berlibur ke Tambrauw. Mengamati cendrawasih di habitat aslinya yang masih berupa hutan, punya syarat mutlak mesti sabar. Kadang orang harus menunggu beberapa jam sampai burung sorga itu menampakkan diri. Namun, sering pula ia langsung terlihat.

Selain cendrawasih, Tambrauw punya keunikan lain: penyu belimbing.  Di kabupaten ini, Taman Pesisir Jeen Womom, yang meliputi wilayah Pantai Jamursba Medi (Jeen Yessa) dan Pantai Warmon (Jeen Syuab), di Distrik Abun, menjadi satu-satunya tempat bertelur rutin penyu belimbing di Indonesia.

Tukik Penyu Belimbing
Keunikan Tambrauw berupa penyu blimbing. Dok. unsplash

Ada dua daerah di Indonesia yang memiliki jejak penyu belimbing bertelur. Misalnya di Aceh dan di Sukamade, Jember, Jawa Timur. Namun tidak terprediksi dan tidak rutin. Bisa jadi mereka hanya terbawa arus.

Pantai Jeen Womom, yang meliputi Pantai Jamursba Medi (Jeen Yessa) dan Pantai Warmon (Jeen Syuab), berada di pesisir pantai utara Tambrauw. Word Wide Fund for Nature (WWF) mencatat, pada 2017 ada 1.240 sarang penyu belimbing ditemukan di kawasan pesisir Tambrauw.

Banyak turis, utamanya turis asing, tertarik menyaksikan penyu yang konon telah langka di dunia itu. Penyu ini bertelur sepanjang tahun. Pada Januari sampai Juni, penyu akan bertelur di Pantai Jamursba Medi. Sedangkan pada Juli sampai Desember, penyu akan bertelur di Pantai Warmon.

Penyu Belimbing yang ditemukan di pesisir Jeen Womom hanya yang berjenis kelamin betina dan berusia 15-30 tahun. Setelah makan dan bereproduksi, penyu belimbing akan berenang kembali mengikuti arus menuju Pantai Jeen Womom. Mereka berenang kira-kira 6 bulan untuk sampai ke perairan Papua Barat.

Keistimewaan utama penyu belimbing adalah tubuhnya yang sangat besar. Ia adalah penyu berukuran paling besar di dunia. Panjang lengkung punggungnya bisa mencapai sekitar 1,2 hingga 2,4 meter. Disebut penyu belimbing karena bentuk punggungnya menyerupai belimbing dengan uliran tajam.

Dinas Perikanan Kabupaten Tambrauw menerapkan aturan khusus jika ada wisatawan yang ingin mengamati penyu belimbing bertelur. Pertama, pengama wajib menggunakan senter atau lampu berwarna merah. Lampu itu hanya dinyalakan seperlunya. Adapun cahaya lampu tak boleh langsung ditembakkan ke wajah penyu. Bila terkena cahaya, penyu akan kehilangan orientasi arah.

Jika bisa bertemu penyu di pantai atau penyu yang sedang bertelur, wisatawan harus mendekatinya dari belakang, yakni dengan mengikuti bekas jejaknya. Usahakan merunduk dekat pasir. Anda harus menjauh apabila penyu menunjukkan tanda-tanda terganggu. Waktu untuk berada di dekat penyu pun terbatas hanya maksimal 30 menit. Selama mengamati itu pula, pengunjung tidak boleh bersuara dan harus bergerak sangat pelan.

Para wistawan atau pengamat tidak diperkenankan memotret penyu yang sedang mengeluarkan telur. Pemotretan hanya boleh dilakukan ketika penyu telah selesai bertelur. Tukik yang baru menetas pun harus terhidar dari lampu senter dan blitz kamera. Maka itu, wisatawan tidak dibolehkan menyalakan lampu selama tukik berjalan di pantai hingga masuk ke laut.

Satu lagi, sering kali wisatawan yang hendak mengamati penyu bertelur adalah dengan berkemah atau bermalam di pantai tempat fauna ini bertelur. Jika ini yang Anda lakukan, jangan berkemah dengan menyalakan api unggun. Itu akan membuat penyu tak jadi mendarat dan bertelur.

F. Rosana/A. Prasetyo/Max gotts-unsplash

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Danau Ngade

Ternate, pulau vulkanik dengan 2 warna tradisi belum banyak diketahui orang. Dari pelajaran sejarah, kita hanya dikenalkan adanya Kesultanan Ternate dan Tidore. Tapi jejaknya seperti apa, lebih banyak orang yang kurang paham dari daerah di kawasan Maluku Utara ini.

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Berada di kaki Gunung Gamalama, Ternate yang dikelilingi laut sesungguhnya tak hanya menawarkan wisata bahari. Pulau yang berada di Provinsi Maluku Utara ini juga menarik ditelusuri sejarahnya melalui peninggalannya. Maklum, seperti disebut di muka, pada abad ke-13 di pulau ini berdiri Kesultanan Ternate, yang tradisinya hingga sekarang masih dipertahankan.

Pemerintah daerah setempat pun menggelar Festival Legu Gam setiap tahun untuk merayakan ulang tahun Sultan Ternate. Festival itu biasanya digelar setiap April.

Pada kesempatan itu, rakyat Ternate berpesta. Masyarakat berkumpul di Kedaton atau Istana Sultan Ternate. Di sana, digelar prosesi adat, pagelaran seni dan budaya, serta pameran yang terkait dengan usaha kecil dan sumber alam provinsi yang terdiri atas delapan pulau ini. Termasuk kerajinan tangan lokal. Kemeriahan sudah pasti berlangsung selama festival, yang biasa digelar hingga dua minggu ini.

Tentu tak harus sampai dua minggu untuk menikmati Ternate. Setiap hari ada penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Jika kehabisan tiket penerbangan langsung, wisatawan masih bisa mencari penerbangan sambungan (connecting). Bisa dari Makassar, atau Manado. Dari Manado, penerbangan hanya berlangsung sekitar 30 menit. Sedangkan jika dari Jakarta, penerbangan akan berlangsung 3 jam dan 45 menit. Ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ternate, yakni dua jam.

Ternate, tentu, bukan kota besar. Namun, menariknya, jika kita berkeliling kota, banyak nuansa kolonial Portugis mewarnai kotanya. Semisal, Benteng Tolukko yang dibangun bangsa Portugis pada 1540 agar bisa tetap menguasai cengkeh yang menjadi hasil khas pulau ini. Lokasinya strategis karena berada di puncak bukit.

Selain itu, ada Benteng atau Fort Oranje yang menjadi pusat pemerintahan VOC sebelum dipindahkan ke Batavia pada abad ke-17. Tak hanya dua benteng yang dibangun Portugis, masih ada Benteng Kalamata, Benteng Kota Janji, dan Benteng Kastela. Fort Oranje dibangun abad 15 dan sekarang sering menjadi tempat pementasan seni budaya lokal.

Selain diwarnai peninggalan kolonial Portugis dan Belanda, Ternate yang dulunya Kesultanan juga pekat dengan nuansa Islam. Kesultanan ini dulunya memang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur.

Karena itu, saat wisatawan berada di pusat kota, langsung mendapat suguhan dua peninggalan zaman Kesultanan Ternate, yakni Kedaton (istana) Ternate dan Masjid Kesultanan Ternate.

Sebagai daerah kesultanan, Ternate mempunyai istana yang dikenal sebagai Kedaton Ternate. Bangunan berwarna kuning muda itu menyimpan koleksi kesultanan. Ada mahkota berumur 500 tahun. Kemudian sebuah lemari kaca yang menyimpan sejumlah pedang atau kelewang. Masih ada pula singgasana sultan, ruang makan, dan lain-lain.
Istana yang dibangun pada 24 November 1813 ini berada di atas lahan seluas 1,5 hektare dan berada di pusat kota.

Hanya berjarak 100 meter lokasinya dari Kedaton Ternate, terletak  Masjid Kesultanan Ternate. Masjid ini didirikan pada masa  Sultan Ternate yang kedua atau awal abad ke-17. Memiliki arsitektur unik, berbentuk limas dengan enam undakan. Terbilang sederhana, bangunan terbuat dari batu yang direkatkan oleh getah kayu pohon Kalumpang. Setiap Ramadan, ada tradisi unik antara sultan dan rakyatnya.

Selain masjid lawas peninggalan kesultanan, Pemerintahan Kota Ternate kini menambahkan sebuah ikon kota sebagai penanda warisan tradisi agama Islam di daerah ini, yakni Masjid Al-Munawaroh. Yang unik, masjid ini dibangun pemerintah Kota Ternate tepat di bibir pantai. Terlihat begitu menawan saat dipandang dari arah laut. Tak mengherankan, masjid yang berdiri di atas lahan seluas enam hektare ini sekarang menjadi landmark kota ini. Empat menara yang menjulang dan keramiknya yang indah ternyata diterbangkan langsung dari Turki.

Tentu tidak sah bagi penyunjung Ternate, terutama mereka para pencinta bahari, jika tidak berperahu ke pulau-pulau lain di sekeliling kota ini. Keindahan laut bisa dinikmati dengan mampir ke Pantai Sulamadaha.

Pantai di pulau ini benar-benar tak boleh dilewatkan selama liburan akhir tahun di Ternate. Di dekat pantai berpasir hitam nan luas ini temukan juga Teluk Saomahada, dengan air hijau toska dan tenang, inilah salah satu spot favorit di sana. Berbentuk mirip laguna, wisatawan bisa berperahu dengan tenang atau berenang di sini. Juga snorkeling. Objek wisata ini bisa dicapai dalam 30 menit dari pusat kota Ternate. Ada pula pantai yang jaraknya cukup jauh, yakni 20 kilometer dari pusat kota, yakni Pantai Bobaneha Ici.

Pantai lain yang bisa dikunjungi wisatawan saat di Ternate adalah Pantai Tobololo. Berada di utara Ternate, pantai ini termasuk dalam Kelurahan Tobololo dan bisa dicapai dalam 20 menit dari pusat kota. Lokasinya boleh dibilang diapit Pulau Halmahera dan Pulau Hiri. Di beberapa titik tertentu, bisa temukan air panas yang bersumber dari Gunung Galamalama. Jarak pantai dengan air panas biasanya tergolong dekat, sekitar 1 meter.

Atau bila ingin duduk manis sembari menikmati alam, bisa singgah ke Danau Tolire yang berada di kaki Gunung Gamalama. Ada dua danau yang bisa ditemukan. Namanya sesuai ukuran, yakni Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Luasnya mencapai 5 hektare dengan kedalaman 50 meter. Di latar belakang tampak Gunung Gamalama nan gagah, apalagi bila langit tengah cerah.

Datanglah di sore hari, karena keindahan mentari tenggelam sempurna dari lokasi ini. Dengan latar laut, langit memunculkan senja nan indah. Lokasi Danau Tolire Kecil lebih dekat dengan laut. Jadi dua danau yang bersebelahan ini diapit gunung di satu sisi dan di sisi lainnya laut. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat kota.

Selain Danau Tolire, masih ada DanauNgade yang berair tawar, meskipun berdekatan sekali dengan laut. Dilihat dari ketinggian hanya ada batas tipis antara danau dan laut. Di sekeliling danau penuh dengan warna kehijauan. Spot foto pun benar-benar instagrammable. Kini bahkan sudah dilengkapi dengan restoran yang menawarkan menu ikan tawar, hingga menikmati danau pun bisa sembari wisata kuliner.

Jadi kapan Anda main-main ke Ternate? L

R. Nariswari

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 2)

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Setelah menikmati dua Taman Nasional di Jawa Barat pada artikel sebelumnya, kali ini cerita berlanjut ke sejumlah loka yang umumnya bisa dinikmati wisatawan umum. Pengunjung yang mencapai kawasan-kawasan ini tak melulu para pecinta alam, tapi banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis. Berikut artikel ke dua dari kisah penjelajahan gunung-gunung di tanah Parahiyangan.

Gunung Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu shutterstock
Gunung Jawa Barat, Gunung dan dan kawah Tangkuban Perahu. shutterstock

Siapa tak kenal tokoh Sangkuriang dan ibunya, Dayang Sumbi? Perseteruan keduanya telah membuat Sangkuriang mengamuk dan menendang perahu bikinannya hingga menjadi sebuah gunung. Tentu ini hanyalah kisah legenda. Namun tak bisa dipungkiri wujud Tangkuban Perahu memang mirip perahu yang terbalik. Juga ragam bentang alam di sekitarnya, mampu memukau setiap mata yang memandang.

Untuk menuju puncak gunung, tak perlu repot mendaki. Tempat parkirnya berada di dekat bibir kawah yang menjadi daya tarik utama. Destinasi pertama, Kawah Ratu, merupakan yang terluas dari sembilan kawah di Tangkuban Perahu.

Tanahnya berwarna putih dengan batu-batu kekuningan karena kandungan belerang. Di sejumlah sudut, asap putih yang membubung menandakan masih aktifnya kawah tersebut. Biasanya pengunjung tidak boleh turun ke bawah karena posisinya berada di kedalaman gunung dan menguapkan gas beracun.

Dari Kawah Ratu, wisatawan dapat berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer atau naik kendaraan ke Kawah Domas. Di kawah ini pengunjung boleh melihat kawah dari dekat, bahkan membasuh diri atau merebus telur di sumber air panasnya. Selain itu, ada pula beberapa orang yang menyediakan jasa spa lumpur yang diyakini bermanfaat menyembuhkan penyakit kulit.

Kawah ketiga yang cukup populer adalah Kawah Upas yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kawah Ratu. Letak kedalaman kawah mirip dengan Kawah Ratu, sehingga pengunjung tidak boleh terlalu dekat berada di inti kawah.

Ke kawah mana pun Anda menuju, jangan lupa mengenakan jaket untuk menghangatkan badan. Dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut, suhu Tangkuban Perahu berkisar 17 derajat Celcius pada siang hari dan 2 derajat Celcius di kala malam. Jika tak jua hangat, bisa juga mencoba menyeruput teh hangat dan ketan bakar yang merupakan kuliner khas Lembang.

Jelajah Lembang

Udara yang sejuk dan alam yang permai mendorong hadirnya berbagai destinasi wisata di lereng Tangkuban Perahu, tepatnya di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bagi para pencinta aksi petualangan, terdapat aneka alternatif wisata outbound, dari yang ramah untuk anak hingga yang ekstrem.

Salah satunya, Dusun Bambu Family Leisure Park yang cocok menjadi tempat rekreasi bersama keluarga. Di sini anak-anak bisa mengenal satwa sembari memberi makan kelinci, bebek, domba, dan kura-kura. Untuk mengasah bakat seni, bisa juga mengikuti kelas mengecat keramik. Ada pula wahana panahan, air soft gun, dan All Terrain Vehicle (ATV) untuk menjelajah alam bebas.

Masih di Lembang, pengalaman yang disuguhkan Bandung Treetop Adventure Park tak kalah menantang. Tempat ini memiliki arena menjelajah hutan dari ketinggian. Rasakan sensasi melayang dengan melintasi flying-fox atau berjalan dari pohon ke pohon di atas jembatan tali.

Setiap wahana telah dirancang sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan yang bertahap sehingga bisa dinikmati segala usia. Anak usia 4 tahun dapat menjajal ketangkasannya pada ketinggian 2 meter, sementara pecandu adrenalin dapat beraksi pada ketinggian 20 meter di atas pohon. Tak perlu takut jatuh karena semua sirkuit sudah dilengkapi life-line support untuk menjamin keamanan.

Destinasi wisata unik lainnya adalah De Ranch yang menawarkan konsep tamasya di peternakan kuda. Pengunjung dapat berkuda dengan aksesori lengkap ala koboi. Ada pula wahana permainan lain seperti trampolin, the gold hunter, balon air, panahan, peti luncur, hingga flying-fox.

Usai menjelajah alam di alam bebas, tak ada salahnya menyempatkan berbelanja di Pasar Terapung Lembang. Sesuai namanya, para pedagang di sini menjajakan makanannya di atas perahu yang mengapung di kawasan danau buatan. Bahan makanan yang dijual pun menarik untuk dicoba, di antaranya sayuran, ikan, atau jajanan tradisional khas Jawa Barat seperti karedok, batagor, dan durian bakar.

Gunung Papandayan

Mendaki gunung tak melulu identik dengan kegiatan ekstrem yang menguras energi. Di Papandayan, rute sampai ke puncak didominasi medan yang landai dan dilengkapi prasarana yang cukup memadai. Ini membuatnya menjadi destinasi yang tepat bagi para pendaki pemula atau penyuka wisata alam dengan trek yang bersahabat.

Jalur yang dimaksud adalah melalui Desa Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun jika ingin lintasan yang lebih menantang dapat memilih mendaki via Pengalengan, Kabupaten Bandung. Selain itu, di sepanjang jalan pendaki juga dapat menemukan sumber air bersih dengan mudah.

Lalu jika sewaktu-waktu ingin buang hajat, tak usah repot menggali tanah. Terdapat beberapa toilet yang bisa digunakan pada jalur pendakian. Bahkan sudah tersedia warung makan yang menjual mi instan atau nasi goreng sehingga Anda tidak perlu memasak. Karena ada warung, tentu ransel pun menjadi lebih ringan karena tak perlu membawa air minum terlalu banyak.

Meski telah dilengkapi berbagai fasilitas, Gunung Papandayan tetap menyajikan lanskap yang menawan. Berada di Kabupaten Garut, gunung berapi stratovolcano setinggi 2.665 mdpl ini memiliki kawah luas yang terbentuk akibat beberapa kali erupsi. Satu lagi yang tak kalah memukau, yakni hamparan padang bunga Edelweis bernama Tegal Alun. Berada di tengah bunga keabadian akan memberikan sensasi istimewa yang tak terlupakan.

Gunung Ciremai

Dengan ketinggian mencapai 3.078 mdpl, Ciremai menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat. Kawasannya sendiri telah menjadi sebuah taman nasional dengan luas lebih dari 15 ribu hektare. Maka wajar jika rimba yang menyelimutinya merupakan habitat flora dan fauna langka, seperti elang Jawa, surili, dan macan kumbang.

Secara administratif, Taman Nasional Gunung Ciremai menempati dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Karenanya, gunung ini memiliki cukup banyak alternatif jalur pendakian, di antaranya lewat Linggasana, Palutungan, Apuy, dan Linggarjati. Bagi penyuka tantangan, cobalah mendaki dari jalur Linggarjati. 

Layaknya sebuah taman nasional, cukup banyak tujuan wisata yang bisa dikunjungi di Ciremai. Sebut saja air terjun yang tersebar di berbagai sudut, seperti Curug Sawer, Curug Sabuk, Curug Putri, dan Curug Tonjong. Dari aspek budaya, kawasan ini memiliki tempat bernilai historis tinggi dan dikeramatkan, di antaranya Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).

Di puncaknya, Gunung Ciremai mempunyai dua buah kawah. Kawah pertama beradius 400 meter yang terpotong oleh kawah kedua di timur dengan radius 600 meter. Keunikan lainnya adalah keberadaan Gowa Walet yang terbentuk akibat letusan. Titik ini merupakan salah satu tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda.

Gunung Cikuray

Bagi orang awam, namanya memang kurang populer. Namun para pendaki justru memiliki kesan tersendiri ketika menjelajahi gunung ini. Lokasinya sulit diakses dengan angkutan umum. Begitu mendaki, sulit menemukan sumber air di sepanjang jalan. Hanya medan yang curam dan jurang yang menganga. Di baliknya, kisah peradaban kuno Nusantara semakin menambah seru petualangan.

Berdasarkan naskah kuno, lereng Gunung Cikuray pernah menjadi mandala atau pusat pertapaan para pendeta dan pembelajaran beragam ilmu. Waktu itu adalah era Kerajaan Sunda Galuh yang berpusat di Pakuan Pajajaran. Tulisan ini masih tersimpan rapi di perpustakaan Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut.

Untuk mencapai puncak Cikuray, bisa memilih lewat Bayongbong, Cikajang, atau yang terfavorit, rute pemancar di Cilawu. Dinamakan jalur pemancar karena terdapat beberapa stasiun pemancar televisi di situ.

Puncaknya sendiri merupakan tanah datar yang cukup luas. Pada ketinggian 2.821 mdpl, Anda dapat menyaksikan matahari terbit di tengah lautan awan. Sementara di kejauhan, Gunung Ceremai dan Gunung Slamet tampak menjulang.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 1)

Gunung Parango shutterstock

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Pada wilayah inilah, wisatawan terus berdatangan, seolah tersihir oleh udaranya yang senantiasa sejuk, air yang melimpah ruah, dan segala rupa flora yang tumbuh subur. Mereka yang datang tak melulu para pecinta alam, tapi juga banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis di tanah yang indah ini. Artikel diturunkan dalam dua penayangan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sejak pagi hingga sore hari, pintu masuk pendakian Cibodas tak juga sepi dari lalu-lalang manusia beransel besar. Umumnya mereka mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) sebagai salah satu syarat menjelajahi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

Dari situ, langkah kaki menjejaki jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon rasamala yang menjulang hingga 20 meter. Jika beruntung, kehadiran pendaki kerap kali disambut dengan nyanyi merdu merpati hutan atau lengkingan segerombol owa Jawa. Yang terakhir ini satwa yang semakin langka.

Oksigen yang melimpah dan tenaga yang masih utuh membuat perjalanan 1,5 kilometer tak terasa jauh. Tahu-tahu, hamparan danau berwarna kebiruan tersaji di depan mata. Itulah Telaga Biru, yang warna airnya bisa berubah-ubah akibat ulah ganggang di dasar danau. Untuk melintasinya, pendaki harus berjalan di atas jembatan kayu yang mulai reyot tergerus cuaca.

Jembatan ini pula yang mengantarkan para penjelajah ke Rawa Gayang Agung yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jika sudah melewati jembatan, trek kembali didominasi bebatuan dan tanah padat. Tak berapa jauh, Anda akan sampai di Pos Panyancangan Kuda.

Di pos ini terdapat bangunan kecil tempat orang berlindung dari hujan atau sekadar beristirahat sejenak. Selain itu, jalur akan terbelah menjadi dua. Belok kanan menuju Curug Cibereum, sedangkan yang lurus menuju ke puncak Pangrango. Jika punya tenaga dan waktu lebih, tak ada salahnya mampir ke Curug Cibereum dan menikmati guyuran air dari ketinggian 40 meter, sebelum kembali ke jalur pendakian.

Puas membasuh diri di percikan air terjun, jalanan berbatu menuju pos selanjutnya akan semakin terjal dan berliku. Karenanya tak ada salahnya mengambil rehat sejenak di beberapa pos yang tersedia. Jika mulai banyak bonus turunan dan tanah landai, itu berarti Anda akan segera sampai di sumber air panas.

Namun jangan senang dulu. Zona air panas ini berupa deretan panjang lereng curam, licin, dan sempit. Di bawahnya, mengalir jurang air panas dengan suhu mencapai 70 derajat celsius. Bersabarlah mengantre ketika berpapasan dengan pendaki lain yang datang dari arah berlawanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Lepas dari situ, Anda akan sampai di Pos Kandang Batu yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Tak jarang para pendaki berlama-lama bersantai di tempat ini karena ada aliran sungai berair hangat yang memanjakan tubuh.

Setelah trek ini, terhampar area tanah datar yang cukup luas. Inilah Kandang Badak, tempat para pendaki mendirikan tenda dan mengisi persediaan air. Setelah pos terakhir ini, hanya ada tanjakan curam dan seolah tak habis-habisnya menuju puncak Pangrango. Di sinilah ketahanan fisik pendaki benar-benar diuji. Seiring dengan suhu yang terus menurun, begitu pula suplai oksigennya.

Namun jika berhasil melewati jalan menanjak sekitar tiga kilometer, segala letih dan jerih itu terbayarkan. Di Puncak Pangrango atau Puncak Mandalawangi, pada ketinggian 3.019 mdpl, Gunung Gede dan panorama alam Parahyangan terbentang megah. Sementara turun sedikit ke arah barat, di Lembah Mandalawangi, permadani bunga Edelweis menyapa dengan ronanya.

Gede dan Pangrango adalah dua puncak gunung dari satu deret pegunungan yang sama dan berdekatan. Meski tampak dekat, perjalanan dari Pangrango ke Puncak Gede tak kalah terjal. Bentuknya yang memanjang menyajikan pemandangan dua kawah, yaitu Kawah Wadon dan Kawah Ratu. Sesekali, bau menyengat belerang menusuk hidung.

Jika Pangrango punya Lembah Mandalawangi, Gunung Gede punya Alun-Alun Surya Kencana. Lagi-lagi bentangan taman Edelweis menyelimuti tanah lapang, berpadu dengan sumber air jernih yang tak henti-hentinya mengaliri permukaan bumi. 

Jalur Alternatif

Selain Cibodas, pendakian ke TNGGP juga bisa dilakukan melalui jalur Gunung Putri dan Selabintana. Jalur Gunung Putri bisa ditempuh baik dari arah Bogor-Jakarta atau Cianjur-Bandung. Anda dapat berpatokan pada Pasar Cipanas. Dari sana teruskan perjalanan menggunakan angkutan umum jurusan Pasir Kampung menuju Gunung Putri. Jika memilih via Selabintana, patokannya adalah Terminal Sukabumi. Dari sana dapat meneruskan perjalanan menuju Pondok Halimun menggunakan angkutan umum atau mencarter mobil.

Persyaratan Mendaki TNGGP

  • Calon pendaki memesan slot pendakian melalui situs booking.gedepangrango.org. Formulir berisi pilihan waktu, pintu masuk, pintu keluar, dan nama-nama anggota kelompok. Sebaiknya mendaftar jauh-jauh hari karena pada hari libur kuotanya sering kali habis dengan cepat. Operator akan melakukan proses validasi data calon pendaki maksimal tiga hari kerja.
  • Membayar tiket masuk dan asuransi senilai Rp 29.000 pada hari kerja dan Rp 34.000 pada hari libur. Khusus pelajar dan Warga Negara Asing (WNA) dikenakan tarif berbeda. Pembayaran bisa dilakukan secara transfer.
  • Pada hari pendakian, silakan mengambil Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) di pintu masuk dengan menunjukkan kopi identitas, bukti pembayaran, lembar pendaftaran, dan surat pernyataan standar pendakian. Informasi lengkap cek situs booking.gedepangrango.org.
Gunung Salak shutterstock
Jelajah gunung tanah Parahyangan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Baik Gunung Salak maupun Halimun memang tak setinggi Gunung Gede Pangrango. Ketinggian Gunung Salak adalah 2.211 mdpl, sedangkan Gunung Halimun hanya 1.929 mdpl. Meski demikian, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan kawasan hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Tak ayal, keanekaragaman hayati yang tersebar sepanjang jalan begitu beragam, dari lutung, elang, bahkan macan tutul.

Apabila tujuan Anda adalah pengalaman mendaki yang memacu adrenalin, kompleks Gunung Salak yang memiliki enam puncak berbeda menjadi pilihan tepat. Namun jika sekadar ingin bertamasya, lepas dari rutinitas ibukota, Gunung Halimun menawarkan aneka area perkemahan yang ramah keluarga.

Tujuan favorit pendaki umumnya ialah Puncak Salak 1. Salah satu pilihan rutenya melalui Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Langsung saja mendaftar dan membayar Simaksi sebesar Rp 22.000 per orang di kantor TNGHS. Dari situ, terbentang satu kilometer jalanan aspal sampai ke gerbang pendakian.

Rute menuju Pos Bajuri terus menanjak, tetapi terbilang landai. Sudah ada bebatuan yang tersusun rapi agar langkah kaki tak mudah tergelincir. Pos Bajuri sendiri menyediakan lahan cukup luas untuk mendirikan tenda. Juga sudah ada sungai kecil sebagai sumber persediaan air minum. Kalau belum ingin berkemah, silakan lanjutkan perjalanan ke Puncak Bayangan.

Kali ini jalurnya lebih curam. Akar pohon yang centang perenang berupaya menghambat langkah yang mulai lelah. Ditambah lagi banyak lumpur yang membuat jalan menjadi licin. Selepas Puncak Bayangan, rintangan alam justru semakin menjadi-jadi. Kali ini jalan setapak diapit oleh jurang di kedua sisinya. Ada jembatan tali yang harus dilewati dengan sangat hati-hati.

Menuju puncak, trek berubah menjadi tanjakan yang hampir tegak lurus. Tentunya tak bisa lagi hanya mengandalkan kaki. Tangan harus berpegangan kuat pada akar pohon dan tali yang tersedia. Namun jika semua ini terlewati, Puncak Manik Salak 1 sudah menanti dengan hamparan tanah lapang yang tersaput awan tipis.

Tak jauh dari situ, menjulang Kawah Ratu dan Puncak Salak 2 yang menanti untuk dijelajahi. Jalurnya tergolong ekstrem, yaitu harus melintasi Titian Alam, punggung gunung yang terjal dan dikelilingi jurang. Maka tak perlu buru-buru melanjutkan langkah. Nikmati saja Puncak Manik 1, dengan pendaran jingga mentari yang menyapa di kala fajar.

Jalur Alternatif

Mendaki Gunung Salak juga bisa dilakukan lewat Pasir Reungit, Cimelati, dan Giri Jaya. Pasir Reungit umumnya dipilih jika pelancong ingin menyambangi Kawah Ratu terlebih dulu. Sementara Jalur Cimelati adalah jalur pendakian yang paling pendek, meski sedikit sumber airnya. Jika memilih jalur Giri Jaya, akan melewati Wana Wisata Curug Pilung yang berada di Kecamatan Cidahu, Sukabumi.

Destinasi Wisata di Kawasan TNGHS

  • Curug Cigamea

Curug Cigamea terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sejatinya ada enam air terjun di sini, tetapi Curug Cigamea menjadi primadonanya. Bukan hanya deburan air dari ketinggian 30 meter yang jadi magnet, melainkan juga aksesnya. Menuju lokasi, terdapat tangga batu permanen yang diapit oleh pemandangan asri nan hijau.

  • Bumi Perkemahan Sukamantri

Banyak hal yang dapat dilakukan ketika berkemah di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Salah satunya menuju Air Terjun Surya Kencana yang berjarak sekitar satu kilometer melewati hutan Gunung Salak yang cukup lebat. Jika tak mau repot, tersedia deretan warung makan yang menjajakan aneka masakan sekaligus menyewakan tenda dan perlengkapannya.

  • Suaka Elang Loji

Suaka Elang Loji berada di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di tengah rimbunnya rimba TNGHS, terdapat elang Jawa, elang brontok, dan burung lainnya. Di sini dilakukan upaya penyelamatan, pengembangbiakan, dan pelepasliaran elang ke alam bebas. Pengunjung juga dapat berkemah atau mengunjungi Curug Cibadak hanya berjarak sekitar 1,3 kilometer.

Bertamu ke Orang Utan di Tanjung Puting

Kapal kapal klotok sandar

Bertamu ke orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mungkin banyak yang berpikir: apa asyiknya? “Di Jakarta juga ada,” begitu sebagian orang berkata. Tapi, percayalah, bagi mereka yang senang berpetualang, bertamu ke rumah asli orang utan mempunyai sensasi tersendiri.

Bertamu ke Orang Utan

Di Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu habitat asli orang utan di dunia. Berdasar data 2018 dari Orangutan Foundation International, sembilan dari ratusan jenis fauna itu merupakan spesies primata yang dikenal dengan nama orang utan Kalimantan. Tiga di antaranya merupakan primata endemik Kalimantan.

Spesies orang utan Kalimantan termasuk langka di dunia. Tak heran kalau orang dari banyak negara datang. Mereka ingin bertemu dengan hewan yang mampu bertahan hidup hingga umur 60 tahun ini. 

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Tanjung Putting 2017, kunjungan ke kawasan ini terbanyak justru dari wisatawan asing. Berdasar data tersebut, tercatat sebanyak 24.693 pengunjung. Dari jumlah tersebut, 14.933 orang adalah wisatawan mancanegara, dan 9.760 wisatawan nusantara.

Dari kalangan wisatawan asing, kebanyakan berasal dari Eropa dan Australia. Sejumlah tokoh dan pesohor tercatat pernah mengunjungi Taman Nasional ini dan bertamu ke orang utan. Misalnya saja founder Microsoft Bill Gates. Atau aktris film Julia Robert.

Ada kira-kira lima titik atau camp (perkampungan) orang utan yang bisa dikunjungi wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting. Camp yang paling ramai adalah Leakey yang berlokasi di lumbung taman nasional. 

Orang Utan
Orang utan di Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dok. Rosana

Camp Leakey termasuk habitat orang utan. Di sana, wisatawan dapat menyaksikan orang utan melakukan aktivitas harian, seperti makan, bermain dengan sesamanya, dan meloncat di pepohonan rindang. Mereka juga akan minum susu yang telah disediakan petugas taman nasional.

Pada musim kemarau, pengunjung dapat menyaksikan orang utan di camp dengan jumlah yang lebih banyak daripada saat musim hujan. Sebab, saat kemarau, buah-buahan di tengah hutan tak banyak tumbuh sehingga orang utan lebih suka menyambangi camp untuk menyantap buah yang disediakan petugas.

Jika ingin bertamu ke orang utan, ada waktu-waktu khusus untuk berkunjung ke camp. Misalnya, pada pukul 14.00 hingga 16.00, yakni saat orang utan makan siang. Petugas akan memanggilnya dengan teriakan sampai para orang utan muncul di camp.

Tentu saja pengunjung bisa melakukan tracking ke dalam hutan untuk melihat aktifitas orang utan langsung. Tapi sebaiknya datang ke Taman Nasional ini ketika musim hujan, atau sesudah musim hujan. DI mana buah-buahan banyak di hutan. Jika datang di musim kemarau, itu tadi, cukup bertamu di camp.

Sulitkan mengunjungi Taman Nasional Tanjung Putting? Jika menggemari liburan setengah bertualang, rasanya asyik-asyik saja.

Menuju Tanjung Putting, pertama-tama pengunjung harus menuju ke kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dari pulau Jawa, ada tiga kota yang memiliki penerbangan langsung ke Pangkalan Bun: Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini. Dari Kalimantan, ada beberapa kota yang punya penerbangan ke Pangkalan Bun, seperti Balikpapan dan Banjarmasin.

Dari Pangkalan Bun, untuk menyambangi camp, wisatawan harus menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kapal klotok dari Dermaga Kumai, Pangkalan Bun. Sungai Sekonyer membentang sepanjang 45 kilometer. Di titik dekat camp, kapal klotok akan menepi dan Anda beralih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke hutan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Makan Siang di kapal Klotok
Menu makan siang di atas kapal Klotok saat menyusuri Sungai Sekonyer. Dok. Rosana

Idealnya, wisatawan menginap di kapal klotok selama 3 hari 2 malam. Ini kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan lega. Biasanya terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk beristirahat, ada dipan untuk meluruskan badan. Dan ada dek untuk bersantai, makan di alam terbuka selama perjalanan menuju camp. Wisatawan akan merasakan sensasi bermalam di tengah hutan dan menyatu bersama ratusan jenis fauna. Biaya untuk live on board, perjalanan dan tinggal di kapal, di Sungai Sekonyer berkisar Rp 2 jutaan per orang.

Taman Nasional Tanjung Puting kini semakin menjadi destinasi alternatif yang cukup digemari orang. Para penikmat jalan-jalan mulai menyambangi kawasan penangkaran orang utan di Kalimantan Tengah itu. 

Tujuan mereka adalah merasakan sensasi bermalam di kapal klotok sembari menyusuri Sungai Sekonyer dengan hutan lebat di kedua sisi sungai. Jika malam tiba, pengunjung bisa menikmati suasana hutan, kadang diayun ombak kecil. Dan, tentu saja, menyaksikan orang utan langsung di habitat aslinya.

Namanya wilayah konservasi, tentu ada sejumlah aturan yang harus diikuti jika  pengunjung datang ke camp-camp di Taman Nasional Tanjung Puting. Peraturan pertama, para wisatawan dilarang memberi makan dan minum kepada orang utan. Aturan ini jelas tertera di sejumlah tempat di Camp Leakey.

Makanan dan minuman hanya boleh disediakan oleh pihak taman nasional. Selain faktor kesehatan para primata, aturan itu dibuat agar orang-orang utan tersebut tetap hidup dengan kondisi alami mereka.

Tak cuma tak boleh memberi makanan dan minuman, bahkan pada peraturan kedua, wisatawan tak diperkenankan minum atau makan di depan orang utan. Hal itu bermaksud supaya orang utan tidak terdistraksi dengan aktivitas pengunjung.

Peraturan ketiga, pengunjung tidak boleh bersuara lantang atau berisik saat berada di Camp Leakey. Ini agar orang utan tidak merasakan perubahan suasana hutan mereka.

Peraturan keempat, nah ini sangat penting, selama menyusuri hutan pengunjung tak boleh menceburkan diri di sungai atau rawa-rawa. Ini untuk keamanan, kenyamanan dan keselamatan para pengunjung itu sendiri. Sebab, di sana buaya hidup bebas. Untuk alasan keamanan, para wisatawan diminta berjalan sesuai dengan jalur yang sudah dibuat oleh petugas.

Rasanya Taman Nasional Tanjung Putting layak masuk agenda liburan Anda selanjutnya, dan bertamu ke orang utan.

F. Rosana

Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL