Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL

Nain dan Siladen, 2 Rahasia Laut Manado

Senja di Manado

Nain dan Siladen, 2 rahasia Laut Manado betul-betul belum banyak yang tahu. Pulau-pulau di perairan Minahasa Utara yang menawan ini kini menjadi alternatif jika berkunjung ke Manado dan Sulawesi Utara. Terutama jika sudah pernah ke Bunaken.

Nain dan Siladen, Wisata Laut Manado

Dari sebuah gedung gergasi di Jalan Boulevard Kota Manado, yang condong menghadap ke barat daya, tampak perairan Celebes membentang luas tak ada habisnya. Di muka pandangan, garis laut tegas membelah langit dan laut dengan marka imajiner. Disapu kabut tipis bekas gerimis, air di beranda Samudra Pasifik menjadi tampak misterius dan penuh teka-teki. Di tengah laut, semu-semu pulau seluas tak lebih dari 10 kilometer persegi menampakkan diri. Namanya Taman Laut Bunaken, di baliknya terdapat Gunung Manadotua.

Kring. Notifikasi berbunyi. Nama “Daeng” muncul mengirim pesan. “Hari ini cerah. Mudah-mudahan besok juga. Kalau cuaca oke, kita berangkat ke Pulau Nain dan Siladen. Jangan lagi ke Bunaken atau Manadotua kalau mau betul bertualang.” Begitulah pesan Daeng, penduduk suku Bajau, yang bermukim di Manado, mengingatkan pertemuan. Penawaran menarik.

Pagi-pagi sekali, berbekal nasi kuning yang dibeli di rumah makan legendaris bernama Saroja, kaki saya asyik meniti lorong Pelabuhan Calaca. Lokasinya tepat di depan Pasar 45, dekat pusat perdagangan Manado tempo dulu. Sembari celingak-celinguk mencari Daeng, bau ikan cakalang fufu mengalihkan fokus. Gorengan pisang goroho berona kuning keemasan juga turut merayu. Kopi Kotamobagu—perpaduan arabika dan robusta—menyeruak penciuman. Namun langkah tak boleh berbelok. Maklum, jarum jam mengejar.

Jauh di ujung dermaga, pria 30 tahun berkulit legam, berkaus puntung dan bercelana boxer, melambaikan tangan. “Yang ini jo kapalnya,” kata dia sembari menunjuk speed boat putih-ungu.

Tak lama kemudian, kapal kami melaju cepat melewati Jembatan Soekarno yang menjadi ikon baru kota multikultural ini. Pemandangan di samping berupa daratan Manado yang didominasi kontur berbukit, sementara lanskap di hadapan adalah laut lepas dan mercusuar kecil, yang menimbulkan efek dramatis.

“Kita mau ke Pulau Nain (Naen), pulau tempat saya lahir,” tutur Daeng memecah lamunan. Ini adalah pulau terjauh dalam kawasan Taman Nasional Bunaken. Bahkan lebih jauh daripada Mantehage, yang bisa dijangkau dengan waktu tempuh 1,5 jam dari daratan. Secara administratif, Nain termasuk bagian dari Kecamatan Wori, Minahasa.

Pulau tersebut terbagi atas dua wilayah, yaitu Nain Besar dan Nain Kecil. Nain Besar berpenduduk padat. Mayoritas merupakan suku Bajo atau Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Umumnya mereka hidup di atas laut. Sering disebut gipsi laut. Sedangkan Nain Kecil merupakan pulau tak bertuan. Misterius, tapi menawan.

Bunyi mesin kapal mendadak mati. “Baling-baling tersangkut plastik,” kata Daeng. Kapal bergoyang, melanting ke kanan dan kiri. Untungnya gelombang belum besar. Padahal di daerah laut dalam itu, kalau cuaca buruk, ombak bisa menggulung hingga 5 meter. Lewat dua jam, kapal melaju memecah samudra. Lamat-lamat pulau di ujung Minahasa Utara itu mulai tampak. Nain Besar dan Nain Kecil dari kejauhan berhadapan. “Kita akan bersandar di sana, Nain Kecil,” ujar Daeng.

Air laut biru tua berubah tosca. Perairan dangkal mengucapkan selamat datang dan ragam karang pun tampak. Aduhai, pulau itu seperti tempat yang menyimpan banyak misteri. Dingin, tapi cantik. Di pinggirnya terdapat bebatuan layaknya pantai-pantai di Belitung. Pasirnya putih dan halus.

Tumbuhan bakau leluasa hidup mempercantik serambi samping. Di muka pulau, Nain Besar berdiri gagah. Lekuk-lekuk bentang alamnya nyata terlihat. Konturnya seperti membentuk bukit-bukit kecil. Rumah-rumah warga tersaru pepohonan subur. Di Nain Kecil, ada banyak rumah panggung, tapi tak berpenghuni. Pulau ini hanya menjadi persinggahan petani rumput laut. Tak heran, keramba bertebaran sepanjang perjalanan menuju pulau itu.

Masih jarang pelancong datang. “Wisatawan hanya datang kalau Pasir Timbul, harta karun Pulau Nain, menampakkan diri, misalnya pada Juni hingga Agustus,” tutur Daeng. Pasir Timbul adalah secuil nirwana di pulau ini. Di masa-masa tertentu dan di jam-jam khusus, seperti kala purnama, di siang hari, ketika air sedang surut, pulau yang hanya berisi pasir putih itu unjuk diri. “Setiap hari sebenarnya juga akan kelihatan, tapi tergantung keadaan. Hanya alam yang tahu kapan pulau itu tampak, kapan dia akan tenggelam,” tuturnya.

Tak lama di Nain, kapal kami bergerak ke Siladen, pulau yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Bunaken. Di tengah perjalanan, Daeng berkisah, sepanjang pelayaran nanti, kalau beruntung, kami bisa menyaksikan lumba-lumba menari mengikuti laju kapal. “Namun lagi-lagi itu rahasia laut. Tak ada yang tahu lumba-lumba kapan datang,” tuturnya. Sampai mendarat di Siladen, tak ada satu pun mamalia laut itu yang muncul.

Untungnya senyum anak-anak bermain ayunan di pinggir pulau memantik gembira. “Halo cici—sapaan untuk kakak perempuan.” Satu per satu mereka mengajak berjabat tangan. Di sampingnya, para orang tua berkumpul sembari minum kopi. “Selamat datang di Siladen. Jangan kaget kalau sepi. Pulau ini hanya dihuni 128 keluarga,” ucap Daniel, penduduk setempat.

Saya pun duduk di antara warga suku Sanger, menikmati bibir pantai. Di seberang lautan, Pulau Bunaken terlihat jelas. Begitu juga dengan Manadotua. Orang-orang asing lalu-lalang, tak peduli terik. Mereka menenteng alat snorkel untuk sekadar bersemuka dengan ikan goropa atau nemo. Juga dengan koral berwarna-warni. “Di sini cocok buat orang yang mencari ketenangan. Makanya bule suka dengan Siladen,” tutur Daniel menyela lamunan.

Di balik kecantikannya, sejatinya pulau ini menyimpan setitik pilu. Daniel berkisah lahan di pulau ini sebagian besar dimiliki John Rahasia, sejarawan yang berpengaruh pada masa Orde Baru sekaligus penulis Penemuan Kembali Tagaroa. Sehingga belum sepenuhnya merdeka. Selain itu, listrik belum optimal dirasakan. “Hanya ada pukul 6 sore sampai 11 malam,” kata dia. Mereka bisa melakukan perputaran uang lantaran bantuan keluarga John Rahasia, yakni dengan merekrut masyarakat setempat bekerja di resornya.

Infrastruktur juga belum maksimal. Terutama kesehatan dan pendidikan. Hanya ada SD. “Kalau kesehatan, hanya ada puskesmas. Itu pun belum tentu buka,” ujarnya. Warga setempat dan pelancong yang tengah menginap dan mengalami gangguan kesehatan, tutur Daniel, lebih memilih pergi ke Kota Manado untuk memeriksakan diri. “Kala sakit, kami dan para tamu yang datang biasanya ke Siloam Manado saja, yang jelas pelayanannya,” ucapnya berkisah. Mereka biasa memanfaatkan kapal cepat milik resor atau menumpang kapal nelayan untuk menuju kota.

Obrolan terus diramu sampai jauh. Anak-anak ikut bercengkerama. Kadang menarik tangan untuk turut berlari-lari kecil menyusuri pantai dengan pasir selembut susu bubuk. Juga meremas-remas biskuit dan menebarnya di tepi pantai, berharap ikan-ikan hias mendekat.

Matahari tak sadar jatuh ke barat, menggantung di atas Manadotua. Lamat-lamat langit berubah oranye. Daeng mengajak saya beranjak. Siladen makin jauh dari pandangan. Pulau itu tampak seperti rumah baru. Lagi-lagi laut mengutarakan berlaksa kisah istimewanya lewat penghuni pulau. Di ujung bilik kapal cepat milik Daeng, rahasia-rahasia samudra akan segera menepi di daratan Negeri Nyiur Melambai.

F. Rosana/A. Prasetyo

2 Wajah Labuan Bajo

labuan Bajo

2 wajah Labuan Bajo mengiringi saya dalam perjalanan ke Nusa Tenggara Timur kali itu. Daratan nan hijau dan laut yang biru.

Jo memegang kendali setir. Tangannya luwes memutar kemudi, ke kiri, lantas ke kanan. Mobil beringsut membelah Bukit Melo, bergeser ke arah timur daratan Flores. Sekonyong-konyong, kakinya menginjak rem.

2 Wajah Labuan Bajo

Tangannya ayal-ayal membuka jendela. “Lihat ke kanan,” katanya. Serentak, tiga orang—saya, Andi, dan Lorens—menggeser pandangan. Karpet-karpet alam bersanding dengan bentangan bahar terhampar membangun komposisi yang pas, biru laut, hijau bukit, dan putih markah cumulonimbus. Lapisan lanskap Labuan Bajo bisa leluasa kami pandang dari ketinggian kurang lebih 700 meter.

Tak lama kemudian, Jo menginjak pedal gas. “Kita harus sampai Cunca Wulang sebelum terik,” ujarnya dengan logat Manggarai. Tempat yang dimaksud adalah air terjun yang berlokasi di Kampung Warsawe. Pamornya memang belum terlampau kesohor layaknya Pulau Komodo atau Rinca. Namun keunikannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Menuju ke kepingan nirwana di “tanah bunga” butuh kesabaran. Hampir dua jam kami melewati jalan terjal, berliku, dan hanya bisa dilalui satu mobil. Pemandangan kanan-kiri berupa hutan. Jurang menganga lebar. Jalan hotmix berjawat menjadi aspal rusak. Tak ada kendaraan lalu-lalang, juga warga yang bermukim.

labuan bajo 01
Cunca Wulang di Labuan Bajo. Dok. TL

Kabut pagi luruh. Pendar surya memantul di kaca mobil. Sejangkauan pandang di depan, rumah-rumah penduduk tampak samar-samar. Bentuknya stereotipe, pendek dan beratap seng. Oto—istilah orang Manggarai untuk menyebut mobil—berhenti di depan pondok kecil. Pria berperawakan ceking, berambut ikal, dan berkulit legam mendekat. “Tabe gula (selamat pagi). Dopo no’o kali oto ho’o (mobil hanya bisa sampai sini),” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Tangannya mengajak berjabat. “Siprianus Kabe.”

 Sipri mengajak kami memarkir kendaraan di ujung jalan setapak. Lima meter di depannya, tampak jalan tanah menurun. Hanya bisa dilalui satu orang. Jalurnya licin lantaran hujan menerpa beberapa hari terakhir. “Perjalanan dimulai,” ucap Lorens, local guide yang turut mendampingi, membakar semangat.

Sipri, Lorens, saya, Andi, dan Jo beriringan menyintas medan tak terduga. Sesekali bersiul, lalu berdendang untuk menampik lelah. Pemandangan sana-sini berupa pohon kemiri, komoditas utama warga setempat. Akarnya yang melintang membantu menahan tubuh supaya tak terpeleset jalur berlumpur. Keringat merebas, padahal matahari belum terik. Sraaak. Kaki terperosok. “Tenang, sebentar lagi jalan berbatu,” tutur Sipri.

Sejurus kemudian, jalur yang dimaksud si anak Manggarai itu kami jumpai. Lebih lebar dan mudah dilalui. Orang-orang bilang ini “bonus”. Sayangnya tak terlampau panjang. Sekitar 15 menit melintas, tantangan kembali menghadang. Hutan alami membentang. Derik siye—serangga hutan—lamat-lamat sampai ke kuping. Lorens mengambil posisi paling muka, menuntun rombongan memasuki lorong gelap. “Kalau berjumpa piton, jangan panik. Biasa saja,” ucap Sipri.

Hati berdebar. Bukan lantaran harus menempuh jalur terjal dan berlumpur, melainkan cemas bertemu binatang liar. Selain mungkin menjumpai ular, sewaktu-waktu juga dapat bersemuka dengan babi hutan, babi landak, dan babirusa. Daripada memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak, pandangan pun saya alihkan ke kanan-kiri.

Ada yang menarik. Tali-tali alami menjuntai dari pepohonan besar, mirip dengan yang sering dijumpai dalam film Tarzan. Kalau beruntung, monyet-monyet bergelantungan di sana, menemani perjalanan. Gedebuk. Tubuh kembali terantuk akar, menandakan pandangan harus fokus.

Rasanya sudah banyak percakapan dan nyanyian didendangkan, tapi suara air terjun belum terdengar. Malahan jalan yang harus dilewati kian menggila. Kadang membuat kaki terkesot-kesot mengikuti turunan yang kemiringannya nyaris 90 derajat, atau melompat melintasi pohon tumbang.

Peluh mengalir, tuturan melirih. Sengal-sengal napas tertangkap kuping. Gemericik air yang laun terdengar tiba-tiba membangkitkan spirit. Ritme langkah mengencang. Tak sampai seputaran jam, sungai berbatu dialiri air tosca menyapa pandang.

Di ujung sana, air terjun setinggi 70 meter berdiri gagah. Debitnya deras menghantam batu kali. Cipratannya meruap dan airnya meletup-letup laksana kembang api. Di kanan dan kirinya terdapat tebing berjenjang. Umumnya digunakan untuk atraksi lompat. Jebuuur. Lorens menerjunkan badan dari tebing setinggi 30 meter. “Segar,” teriaknya dari bawah.

Bentang yang menawan genap membayar kesulitan kami menjangkau lokasi ini. Angin yang menyapu bambu belang mengiramakan nada alam serta memalingkan kepenatan. Dua turis asal Jerman melucut pakaian, lalu asyik memeragakan gaya katak di sela-sela bebatuan. Menyelam, lantas mentas. Sekejap kemudian, kakinya asyik melompat di bebatuan laksana kancil.

Lanskap yang membikin hati ria kabarnya makin elok saat musim kering tiba. Ada pantulan cahaya membentuk bulan menggantung di atas air terjun kala siang. Itulah yang membuatnya dinamakan Cunca Wulang yang berarti bulan di atas air terjun. Pelangi kadang-kadang muncul melengkung di antara tebing yang mengapit gerojogan.

Sipri mengeluarkan ponsel pintar, lalu mengajak saya menuju spot terbaik untuk berfoto. Meloncat dari satu batu ke batu lain, tibalah kami di titik tengah. Dalam bingkai lensa, saya diapit tebing dengan lata belakang air meluncur hebat.

“Saya unggah di Facebook, ya,” tutur Sipri. Saya heran bagaimana ia bisa mengakses Internet di tengah hutan begini. “Tenang, jaringan Telkom sudah kencang,” ucapnya menyamber. “Kalau ingin lebih kencang, ada Wi-Fi ID, tapi di kota nanti (Labuan Bajo),” tuturnya seakan membaca kerutan tak percaya lawan bicaranya.

Sejurus setelah asyik berselancar di media sosial, Sipri lantas tak henti menyerocos tentang keindahan Labuan Bajo dan titik-titik nirwana yang mengelilinginya. Darat ataupun laut tak terbantahkan keelokannya. “Ini baru darat, besok kau harus ke laut,” katanya. Menggenapi tantangan Sipri, saya lantas gerak cepat. Pulau Kelor ada di angan-angan. Bukan lagi Komodo atau Rinca.

Deru kapal milik Ibrahim, pelaut berusia 60-an, pada pagi selanjutnya mengantarkan kami menuju surga di sisi barat Labuan Bajo. Geber lanskap samudera mulai tersibak. Ikan-ikan melompat mengikuti tarian ombak, mengantarkan kapal menuju lokasi. Di sisi kiri terhampar daratan Flores dengan bukit-bukit membentuk kukusan. Musim hujan membikin barisan kerucut-kerucut alam itu menghijau, membawa ingatan pada bukit Gurten di Swiss.

Kapal kami mengikuti arus, menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Selama 2 jam tubuh digoyang ombak di atas dek kayu, hingga akhirnya Ibrahim melemparkan tali, mencari tempat bersandar. Ikan-ikan mendekat, koral warna-warni mengucapkan selamat datang. Di tengah pulau terbentang bukit kerucut. Bentuknya hampir presisi, mendekati sempurna. Ada jalur kecil berbatu kapur untuk mengantarkan kami menuju puncak.

Kemiringan 80 derajat harus ditempuh. Keringat lagi-lagi tak terelak. Kaki harus seimbang menopang bobot tubuh dan menyisihkan batu-batu rapuh. Perjuangan terbayar saat sampai di puncak. Pemandangan laut bersanding dengan gugusan daratan Nusa Tenggara Timur bagian barat menjadi sajian utama. Segaris dengan amatan, tampak gradasi air dengan rona tosca, biru muda, dan biru tua meliuk-liuk mengikuti garis laut.

Tak ingin hanya mengecap keindahan dari atas bukit Pulau Kelor, kaki merayu kembali turun ke bibir pantai. Nemo mengajak menari di dalam air, memaksa badan menceburkan diri dengan alat snorkeling yang lengkap. Tanpa dipantik repih-repih roti atau makanan ikan, para penghuni laut datang mendekat.

Sepi dan sunyi membikin saya merasa memiliki pulau seutuhnya. Di tempat itu memang hanya ada segelintir orang, rombongan kami dan rombongan satu kapal yang baru saja mendarat. Salah satu penumpangnya bernama Carita. Turis asal Jakarta yang lama tinggal di Swedia itu langsung berlari-lari kecil, lantas berteriak histeris melambungkan kegembiraan. “Ah, tidak usah sampai ke tengah laut, di pinggir saja banyak ikan. Cantik sekali,” tuturnya.

Lantaran terlampau antusias, Carita sampai lupa melakoni pemanasan sebelum menceburkan diri di air. “Hati-hati kram dan cedera,” ujar saya berteriak kepadanya. “Sulit mencari pertolongan medis,” ujar saya lagi.

Umar, awak kapal yang mengantarkan Carita sampai di pulau itu, langsung menceletuk. “Soal medis tak usah khawatir, sudah ada rumah sakit di sini. Rumah Sakit Siloam. Baru satu tahun lalu dibuka. Letaknya di Jalan Gabriel Campur,” tuturnya menyamber. Carita dan saya sama-sama menyunggingkan senyum dan sekonyong-konyong merasa aman.

Surya lambat laun meruyup ke barat. Angin sepoi-sepoi berganti lantam. Saatnya kembali ke darat. Ibrahim sudah menghidupkan kembali mesin kapalnya. Biduk yang kami tumpangi berbelot, melawan arus. Sayup-sayup lagu Bandaneira mengiringi perjalanan pulang. Laut dan langit dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hirup dan sesalkan jiwa.

Boks

Akses: Dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pilih penerbangan langsung ke Bandara Udara Labuan Bajo dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Waktu tempuhnya kurang-lebih 2 jam 25 menit. Bisa juga transit melalui Bandara Internasional Ngurah Rai yang berlokasi di Pulau Bali. Maskapai yang tersedia, di antaranya Sriwijaya, Lion Air, Batik Air, AirAsia, dan Garuda, lantas disambung dengan pesawat perintis NAM dan Wings Air.

F. Rosana/A. Prasetyo

1 Senja di Lombok Timur, Mengejar Ribuan Buih

Pantai Gili Pasir

1 senja di Lombok Timur, memburu ribuan buih air laut, dan menapak di jutaan pasir. Pulau-pulau kecil dengan pasir halus, tersebar dari Tanjung Luar sampai Sekaroh.

1 Senja di Lombok Timur

Udara mulai bergeser terik, meski masih terbilang pagi. Meninggalkan Pantai Seger di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, saya tak ingin hanya berputar di sekitar kawasan wisata Kuta. Jadilah kendaraan melaju ke bagian timur. Maklum, kabarnya ada sebongkah keindahan di sana. Melewati perkampungan yang adem karena penuh pepohonan, hingga akhirnya melaju di atas aspal mulus dengan salah satu sisi yang tandus. Aroma khas pesisir mulai tercium. Perjalanan satu jam sudah.

Setelah melaju di Jalan TGH Moh. Mutawalli, kendaraan pun berbelok ke kanan di depan kantor Desa Serumbung, Kecamatan Jerowaru. Rasa panas pun menerpa, saya menutup jendela rapat-rapat. Tak ada arahan menuju pantai, tapi saya percaya dengan pengemudi yang paham betul Lombok.

Di pertigaan terlihat kerumunan warga yang baru ke luar dari kantor Kepala Desa Ekas Buana. Saya lihat kiri-kanan kebun jagung yang mengering, jalan kecil tanah pun berdebu. Namun, hanya dalam jarak 400 meter, samudra pun sudah di depan mata. Debur ombak nyaring terdengar. Pantai yang begitu panjang, diapit dua bukit bebatuan.

Perjalanan 1 jam lebih dari Kuta pun menjadi tak terasa. Saya memilih menaiki bukit batu agar bisa memandang pantai dan samudra dari ketinggian. Apalagi di balik bukit ternyata ada pantai kecil yang juga begitu sepi. Di ujung lain, terlihat ada bagian pantai dengan pasir putih, sedangkan di dekat saya berdiri, tepian pantai penuh dengan karang. Tak ada turis berkeliaran. Ketika menuruni bukit, baru saya bertemu dua ibu yang membawa keranjang. Rupanya mereka hendak mencari kerang-kerang yang bersembunyi di balik karang.

Pantai Pink
Wisata pantai di Lombok Timur, salah satunya ke pantai Pink. shutterstock.

Saat kendaraan baru beranjak, barulah saya bersua dengan dua turis bule yang mengendarai sepeda motor. Mereka mengarah ke pasir putih yang berada di sisi kiri. Di sana memang lebih nyaman untuk berjemur atau sekadar leyeh-leyeh di tepi pantai. Pantai landai dengan pasir yang lembut.

Satu surga harus saya tinggalkan siang itu. Karena Lombok Timur masih menyimpan “surga-surga” lain, kali ini saya masih harus berkendara satu jam lagi dari Desa Ekas Buana menuju sisi yang berlawanan, yakni Tanjung Luar. Ada sejumlah pulau kecil, dan tentunya Pantai Pink, yang namanya sudah berkibar di kalangan pelancong.

Atas saran pengemudi, saya dan kawan mendatanginya via laut, alias berperahu. “Lewat darat harus lewat hutan Sekaroh dengan jalan rusak, dan kalau kemalaman pas pulang, gelap itu,” ujarnya. Sebagai orang yang tak paham wilayah, saya sepenuhnya percaya kepada pria asli Lombok itu.

Jadi kami pun menuju sebuah pelabuhan kecil di Dusun Telong Elong, Desa Pringgasela Timur, Lombok Timur. Sebenarnya, bisa juga berperahu dari Labuan Pandan, tapi lagi-lagi menurut si pengemudi yang bernama Kadir itu, jaraknya terlalu jauh. Kadir berbaik hati pula memesan pisang goreng sebelum kami tiba. Dengan bekal minuman dan pisang goreng panas, kaki pun melangkah riang. Sudah terbayang keindahan pantai-pantai di Tanjung Luar.

Mendung seperti tiba-tiba menyergap. Saya segera ke perahu nelayan, paling tidak tentunya berharap hanya gerimis yang turun dan langit pun segera cerah kembali. Perahu melaju melewati Gili Re, pulau dengan penduduk terbanyak di Tanjung Luar. Di sini pula, Mak Heri, nelayan yang mengantar kami, tinggal. Keramba terlihat di sekeliling pulau. Tujuan pertama rupanya Gili Pasir, yang dicapai hanya dalam 15 menit. Ehmm… Benar-benar hanya ada gundukan pasir, bendera merah putih, dan bintang-bintang laut yang menampakkan diri di tepian pantai.

Sederhana suasananya tapi bahagia rasanya dan saya ingin berlari menuju dua sisi pasir yang tak seberapa luas itu. Sayang, tak lama hujan deras turun dan sempat masuk ke dalam perahu. Tapi kami mencoba menunggu dan berharap hujan segera berhenti. Doa rupanya terkabul, hujan hanya sesaat. Saya pun kembali berlari di pasirnya yang halus dan tertawa lepas.

Tak bisa terlalu lama rupanya, karena perjalanan ke pulau selanjutnya lebih panjang. Melewati tambak-tambak ikan, juga tempat pembudidayaan mutiara. Sang nelayan sempat menunjuk Pantai Pink 2 yang dari kejauhan terlihat pasirnya yang merah muda. Terlihat sepi, tapi perahu terus melaju hingga sekitar 30 menit, dan tibalah di Gili Petelu. Pulau kecil dengan tiga bukit karang, juga pantai berpasir putih yang mini. Terlihat satu keluarga tengah menikmati keindahan bawah lautnya. Perairannya yang jernih memang menggoda.

Meski tidak bisa terbilang istimewa, menjajal snorkeling di sini bisa menjadi pilihan. Bila tidak, cukuplah dengan menebar remah-remah roti, rombongan ikan pun menampakkan diri. Saat langit mulai tak terang lagi, perahu kembali dinaiki. Di sisi kanan Gili Petelu sudah terlihat hamparan Pantai Pink, yang ternyata warna kemerahannya tak terlalu kuat bila dibanding Pantai Pink 2. Bisa jadi, karang-karang merah yang membikin pasir menjadi kemerahan sudah tak lagi banyak singgah di pantai yang terletak di Desa Sekaroh ini.

Ombak begitu tenang di tepi pantai. Berjajar beberapa perahu, terasa sepi. Hanya ada satu anak seusia siswa taman kanak-kanak bermain di pantai, dan orang tuanya menunggu di tepian. Kelompok turis bisa jadi sudah pulang karena senja sudah menjelang. Tinggal segerombol nelayan yang nongkrong di sebuah warung. Sejenak saya ingin menikmati pantai dalam keheningan, sementara rekan saya langsung mendaki bukit yang ada di salah satu sisi. Tentunya untuk mencari tempat pengambilan foto terbaik.

Anjing-anjing berlarian, gonggongannya memecah hening. Saya menengadah ke langit, rupanya warnanya mulai gelap. Saatnya menyusul teman, mendaki ke bukit. Segerombolan kambing dan seorang nenek saya temukan di atas bukit, plus setumpuk kelapa muda. Duduk di bangku kayu sembari menyeruput air kelapa hijau tampaknya bisa bikin menanti senja semakin nikmat. Langit mulai menguning, memerah, dan rekan saya tiba-tiba muncul dari ujung bukit. Masih ada warna merah dan berbaur gelap di langit, tapi kami memilih kembali ke perahu. Lebih asyik menikmati senja di tengah lautan.

Perasaan saya perjalanan pulang lebih panjang. Mungkin karena perahu tak mampir-mampir. Lampu-lampu di tempat budi daya mutiara, dan bagan ikan yang terapung, menjadi penerang laju perahu. Tak ada satu pun yang berbicara. Sesekali Mak Heri menyapa rekannya yang menjaga bagan ikan. Hanya ada suara ombak terhantam perahu dan mesin perahu yang saling bersahutan. Kami kembali dalam hening, seakan tak rela meninggalkan langit yang jingga. Apalagi dermaga kecil di Dusun Telong Elong yang dituju tampak gelap gulita. l

Rita N/Fran-TL

4 Hari di Seputar Belitung Yang Mengasyikan

Senja Liburan 4 hari di Belitung

Bisa 4 hari di seputar Belitung? Liburan mendadak ternyata bisa juga dibikin seru. Meski tiket pesawat dan harga sewa kendaraan roda empat tinggi,  karena pilihannya adalah 4 hari di seputar Belitung, ganjalan dana itu seperti terkikis. Maklum, empat hari di pulau, yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ini benar-benar mengasyikkan.  Bagi saya dan banyak turis, bisa jadi liburan ini nmerupakan liburan yang ingin diulang kembali.  Apalagi pilihannya tak melulu pantai, tapi juga jejak film Laskar Pelangi, bukit hijau, dan tentu sajian kuliner.

4 Hari di Seputar Belitung: Belitung Timur Hari 1

Hari Pertama: Belitung Timur

Penerbangan pendek selama 45 menit ke Tanjung Pandan sungguh tak terasa. Lubang-lubang bekas galian tambang tampak dari atas, tersebar di mana-mana. Pengemudi yang siap mengantar saya rupanya sudah menunggu di pintu ke luar Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Ketika kendaraan bergerak, saya menemukan jalan yang mulus dan sepi, tanah kering, serta rumah dengan jarak berjauhan. Hal ini menjadi pemandangan pertama yang saya lihat. Saya berencana menghabiskan waktu empat hari di pulau ini. “Enak itu, kalau cuma tiga hari, keburu-buru banget,” ucap Iqbal, yang menjadi pengemudi merangkap pemandu wisata.

Iqbal menyarankan tujuan wisata hari pertama ialah ke Belitung Timur (Beltim). Setelah melahap ilak bakar, sajian ikan bakar khas pulau dengan tumis kangkung, saya pun berangkat. Perjalanan ditempuh sekitar 1-1,5 jam. Kunjungan pertama ialah ke sekolah, tempat syuting Laskar Pelangi. Kemudian, mampir ke Museum Kata-kata Andre Hirata sembari menikmati kopi kuli.

Keasyikan menikmati kopi, akhirnya kunjungan ke Pantai Burung Mandi batal karena hari sudah terlalu sore. Namun bila Anda punya waktu panjang, tentu jangan dilewatkan. Akhirnya, saya pun kembali ke Tanjung Pandan.

Hari kedua: Tanjung Kelayang & Tanjung Tinggi

Pantai Kelayang salah satu pantai selama 4 hari liburan di Belitung
Pantai Kelayang dalam 4 hari di seputar Belitung

Hari kedua, saatnya melaut. Saya berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan pertama ialah Tanjung Kelayang dan pemilik perahu sudah menelepon. Ia sudah siap mengantar keliling pulau. Pagi yang hening, kendaraan melaju di jalan aspal yang mulus. Tak lama, anak panah ke Pantai Tanjung Kelayang pun tampak. Saya melihat area parkir sudah penuh. Maklum, musim liburan.

Kemudian, saatnya berputar-putar di laut, mulai dari Pulau Pasir, yang hanya berupa seonggok pasir, tempat saya menemukan sejumlah bintang laut, hingga  Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menonjol. Saatnya snorkeling! Setelah lelah mengambang di air, saatnya beranjak. Pengemudi kapal menyarankan untuk tidak membersihkan diri di Pulau Lengkuas, tapi di Pulau Kepayang, sekalian menikmati makan siang.

Rekomendasi yang tepat. Begitu mendekati pulau yang juga disebut Pulau Babi itu, suara musik terdengar nyaring. Rupanya, hanya ada satu restoran di sana. Setelah membilas badan, saatnya kembali menikmati ikan bakar dan tumis kangkung. Benar juga, di pulau ini air di kamar mandi bersih. Meski ada beberapa kamar mandi , tetap harus antre karena jumlah turis membludak.

Di Pulau Kelayang, selain ada penangkaran penyu, ternyata ada penginapan dan bisa menjadi pilihan bagi turis yang ingin menyepi. Perut kenyang, saatnya menyinggahi pulau-pulau lain yang ternyata meski sama-sama penuh dengan batu, bentuknya berbeda-beda.  Misalnya Pulau Batu Belayar dan Pulau Burung, hingga akhirnya kembali berlabuh di Tanjung Kelayang. Saya berniat menyisakan sore untuk menikmati mentari tenggelam di Tanjung Tinggi.

Tiba di Tanjung Tinggi, area parkir penuh lagi. Kondisi cukup ramai karena saya datang di masa liburan. Karena terlalu ramai, waktu kunjungan pun dipersingkat. Lebih baik beristirahat dulu karena kami ingin menikmati makan malam di Pantai Tanjung Pendam yang berada di pusat kota.

Hari Ketiga: Bukit Mentas, Bukit Berahu, dan Icip-icip

Hari ketiga, dicoba pilihan wisata bukan pantai. Tujuan wisata ialah Bukit Mentas, dengan suasana hutan dan sungai yang juga penuh bebatuan. Saya menemukan  Tarsius , si monyet mini  dalam kandangnya. Sore hari, akhirnya kembali ke pantai. Pilihannya ialah Pantai Bukit Berahu di Tanjung Binga dengan restoran di atas  bukit, serta pantai di bawahnya dengan deretan cottage.  Pantai ini berpasir putih nan bersih. Akhirnya, tercapai juga merekam keindahan senja.

Malamnya, hidangan Belitung  jadul di Restoran Belitong Timpo Duluk, Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan menjadi pilihan icip-icip. Hidangan yang sudah jarang dijumpai di pulau ini pun terpapar di meja dengan interior unik. Dinding-dinding dipenuhi perangkat tempo dulu dan benda-benda jadul lainnya.

Hari keempat: Warung Kopi Kong Djie dan Danau Kaolin

Hari terakhir, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya menyeruput kopi di Warung Kopi Kong Djie di Jalan Siburik, Tanjung Pandan. Warung ini didirikan pada 1945 dan menawarkan hidangan kopi serta kopi susu. Ada juga teman minum kopi berupa gorengan. Dilanjutkan menuju toko oleh-oleh, membeli  terasi, aneka kerupuk ikan, juga berbagai sambal khas dari ikan laut.

Persinggahan terakhir adalah Danau Kaolin di Desa Air Raya, yang jalurnya searah dengan perjalanan ke bandara. Danau terbentuk karena galian penambangan kaolin, yang akhirnya menciptakan lubang besar. Airnya terlihat berwarna biru tosca , sedangkan sekelilingnya berupa lahan putih. Tampilan warna ini menciptakan kontras. Tentu menggoda untuk menjadikannya obyek foto. Setelah berfoto, perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Kemudian, mengucapkan “Selamat Tinggal Belitung!”

Naskah & Foto: Rita N/TL

Asyiknya Menikmati Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

sarapan tradisional Bangkalan menjadi lebih mudah sejak adanya Jembatan Suramadu.

Gelap sudah membayang ketika saya masuk Surabaya di malam hari, Ibu Kota Jawa Timur, dari arah Madura. Selepas Jembatan Suramadu, cukup lama saya menghabiskan waktu di Masjid Sunan Ampel. Jadilah masa lalu Surabaya menyambut dalam temaram, apalagi saat memasuki kawasan gudang-gudang tua. “Ini kawasan Pecinan,” ujar sang pengemudi yang mengantar. Ia pun mengajak berputar, tapi yang ada kegelapan. Jalan Gula, Jalan Karet, hingga Jalan Kembang Jepun, lokasi adanya Kya Kya Surabaya yang memperlihatkan gedung-gedung berpulas abu-abu tak terawat.

Meski kawasan Pecinan lebih banyak dipenuhi gedung-gedung lawas tak terawat, tapi pada pagi dan siang hari kawasan itu menjadi sasaran para pencinta foto, baik mereka yang amatiran maupun fotografer profesional. “Mbak mungkin harus lihat besok pagi,” ujar sang pengemudi memecah keheningan.

Masa Lalu Surabaya

Nah, dari kawasan Pecinan, saya melewati Jembatan Merah. Jembatan yang menghubungkan jalan Kembang Jepun dan jalan Rajawali ini, menjadi saksi dari kisah heroik para pejuang Indonesia melawan kaum kolonial. Jembatan diberi penerangan cukup hingga terlihat menawan di malam hari. Lampu-lampu pun terlihat lebih bertebaran di seberang jembatan. Melintasi jalan tersebut, saya mengenang kisah Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, pemimpin tentara Inggris meregang nyawa tak jauh dari sini, tepatnya di Gedung Internatio, yang menjadi pusat tentara Sekutu.

Malam itu, gedung yang berada di jalan Jayengrono tersebut terlihat kokoh meski dalam kegelapan. Bangunan yang didirikan pada 1929 ini, tak jauh dari Gedung Cerutu dan De Javasche Bank Surabaya yang dikenal sebagai Gedung Garuda. Juga sebuah hotel yang tampak kental dengan aksen klasik di malam hari, Hotel Arcadia by Horison. Hotel itu tampak di pojokan, seperti menyambut orang yang melewati Jembatan Merah. Saya membuka mata lebih lebar, gedung-gedung kuno itu semakin membuat saya penasaran. Jadi tak bisa rasanya hanya melewati sekali, meski malam hari saya masih penasaran untuk memutari kembali dan masuk ke dalam jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung lawas tersebut.

Di seputar Jembatan Merah, ternyata banyak juga gedung tua yang terawat dan difungsikan, seperti yang digunakan sebagai kantor oleh PT Perkebunan Nusantara X dan kantor Polwiltabes Surabaya dengan bangunan tahun 1850. Saya lebih terpana lagi saat mencermati bangunan yang digunakan Kantor PT Perkebunan Nusantara XI. Gedung yang digunakan kantor yang mengurusi perkebunan tebu dan pabrik gula itu begitu luas dan terlihat megah.

Pembangunannya disebut menghabiskan 3.000 meter kubik beton. Pilar-pilar besar menjadi salah satu ciri gedung berlantai dua tersebut dengan detail di beberapa bagian. Di masa lalu, gedung yang dibangun pada 1921 ini merupakan Gedung Serikat Dagang Amsterdam. Tak jauh dari PT Perkebunan Nusantara XI ada Maybank cabang Jembatan Merah yang mengunakan bangunan lawas, dulunya bernama Netherlands Spaarbank. Bangunan tersebut didirikan pemerintahan Belanda pada 1914.

Malam terus merambat, saya pun harus menuju ke hotel yang terletak dalam Jalan Darmo Raya. Lama tak menginjak kota ini, rasanya saya tak cukup untuk satu hari semalam menyimak sejarah kota lewat bangunan tuanya. Dalam perjalanan menuju hotel, saya kembali menyimak Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dengan gaya arsitektur Gothic, Gedung Isola, dan Gedung Negara Granadi yang didirikan pada 1795, yang kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur.

Di pusat keramaian kota masih ada sederet titik yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini. Salah satunya nan begitu populer adalah Hotel Majapahit Surabaya yang dibangun pada 1910. Di sinilah terjadi perobekan bendera Belanda yang terdiri atas tiga warna dan menjadi merah putih. Bendera tersebut berkibar megah di bangunan yang dulu bernama Hotel Oranje, yang kemudian berubah lagi menjadi Hotel Yamato. Sayang, malam itu badan saya sudah mulai berharap untuk rebahan. Hingga kendaraan tidak kembali berputar untuk mengitar seputar Tunjungan.

Esok hari, perjalanan sejarah ini pasti akan diulang. Masih ada Gedung Kantor Pos Kebonrojo, Gedung Pertamina, Rumah WR Supratman, Balai Kota Surabaya, Gedung Suara Asia, Gedung PLN Gemblongan, serta Jembatan Petek’an, yang membuat saya memahami perjuangan warga kota ini untuk kemerdekaan, hingga predikat Kota Pahlawan pun wajib disematkan.

Es krim Zangrandi Surabaya
Es krim Freezing Barbeque di Kedai ice cream Zangrandi, Surabaya.

Kuliner Zangrandi & Pasar Blauran

Di tengah udara panas Surabaya, saat menapaki jejak sejarah, rasanya mampir ke restoran yang terletak di jalan Yos Sudarso Surabaya ini menjadi pilihan menggoda. Resto dengan suguhan spesial es krim ini, didirikan Renato Zangrandi dari Italia pada 1930. Suasana klasik masih dipertahankan di sini, ubin dengan corak zaman dulu dan kursi rotan lama masih mendominasi.

Untuk pilihan, tutti frutti yang menawarkan es krim dengan rasa buah-buahan, yang dulu digandrungi pun masih bisa dicicipi. Selain itu, ada pula sweet blossom dan fruit parade, yang harganya dipatok pada kisaran Rp 30 ribuan.

Ingin makanan tradisional sekaligus menikmati suasana pasar zaman dulu, bisa mampir ke Pasar Blauran. Namanya juga pasar, memang sulit untuk mendapat parkir kendaraan, tapi di bagian dalam aneka camilan dan tentu sajian khas, bisa dicicipi di lingkungan yang bersih dan rapih. Lontong mi, rujak cingur, atau es dawet, bisa membuat perut tak lagi keroncongan.

Interior Masjid Sunan Ampel Surabaya
Masjid Sunan Ampel Surabaya

Sunan Ampel dan Cheng Ho

Ada dua tujuan wisata religi yang saya jejaki sembari menyimak sejarah di Surabaya. Pertama, Masjid Sunan Ampel yang dibangun pada 1421, terasa hangat dengan pernak perniknya, membuat orang serasa di Arab Saudi. Selepas salat ashar saya pun menyusuri lorong-lorong seputaran masjid. Aneka kurma, pakaian dari abaya, sampai gamis kaum Adam memenuhi toko. Hingga saya pun terdampar di sebuah toko keturunan Arab dengan suguhan khas roti cane dan beberapa potong cane menjadi pengisi perut. Saat azan magrib terdengar, saya kembali bergegas kembali ke masjid, berduyun-duyun orang dari lorong yang berbeda mempunyai satu tujuan. Jumlah peziarah memang mencapai ribuan setiap harinya dan datang dari berbagai daerah. Di bagian belakang masjid juga terdapat makam Sunan Ampel, sang pendiri rumah ibadah sekaligus salah satu Wali Songo. Kegiatan berziarah tentu menjadi agenda dari para wisatawan religi itu.

Kedua, Masjid Cheng Ho di Surabaya, yang memang bukanlah bangunan tua. Namun sebaiknya tak dilewatkan karena masjid yang terletak di Jalan Gading, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, ini tetap terkait dengan sejarah. Dibangun pada 2001, rumah ibadah ini didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho yang berasal Cina. Bangunan ini didominasi warna khas Tiongkok, seperti merah, hijau, kuning, dan biru. Sebagian besar detail arsitekturnya pun dipenuhi ciri Negeri Bambu tersebut, meski ada beberapa detail khas Arab yang terlihat. Bangunan tidak terlalu besar, hanya memanjang dan di bagian depan terdapat lapangan, sehingga saat hari raya bisa menampung hingga 200 orang. Di dalam kompleks masjid terdapat taman kanak-kanak, salah satunya berguna sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Rumah HOS Tjokroaminoto

Berada di Gang VII, Peneleh, Rumah HOS Tjokroaminoto terkesan teduh. Pagar berwarna hijau tosca menciptakan kesegaran. Tak hanya menyimpan jejak pahlawan nasional, tapi juga jejak sejumlah muridnya, termasuk Presiden Soekarno, Muso, Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Profil para murid ini terpampang di dinding-dinding dalam catatan khusus. Lantas, ada ruang spesial di atas yang menjadi favorit Bung Karno. Siapa pun bisa mengenal lebih dekat pemimpin Serikat Islam ini, lewat pajangan di dinding-dinding rumah yang dibangun pada 1870.

Rita N

Sensasi Wisata Dalam Air, 2 Yang Unik Dicoba

Sensasi wisata dalam air tak sekadar menyelam, tapi ada pula yang untuk berfoto.

Sensasi wisata dalam air rasanya pasti berbeda dibandingkan menikmati pemandangan di daratan. Terlebih di era sosial media yang menambah syarat spot wisata: instagramable. Serba bisa diunjukkan di akun instagram wisatawan. Sampai ada yang berpendapat, banyak orang yang berwisata bukan untuk menikmati suasana dan budaya yang berbeda, tapi sekadar membuat ‘prasasti’ pernah di tempat itu.

Sensasi Wisata Dalam Air

Tak apalah, sekadar mengabadikan pernah main ke tempat itu, atau memang menikmati keunikan destinasi wisata yang dikunjungi, dua-duanya layak dilakukan. Dan, menikmati pemandangan di dalam air adalah cara berbeda melakukan perjalanan.

Namun, jika berwisata dalam air itu berarti menyelam, tentu saja meminatnya jadi terbatas. Ini ada dua spot wisata dalam air yang layak dicoba bagi mereka yang bukan penyelam tapi ingin coba-coba menikmati sensasi kehidupan bawah air.

Sensasi wisata dalam air selain untuk kesenangan menyelam, juga bisa dilakukan untuk keperluan sosial media.
Salah satu spot yang instagramable di Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Umbul Ponggok Klaten

Ingin snorkeling atau menyelam tapi takut gelombang laut? Tak usah khawatir. Silakansambangi Umbul Ponggok. Kolam di Desa Umbul Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Spot ini masih sangat alami, berupa hamparan pasir nan luas, bebatuan, dan ribuan ikan warna-warni sehingga suasananya benar-benar seperti di bawah laut. Di kala normal, bukan saat pandemi, Umbul Ponggok buka setiap hari, mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

Tempat wisata ini terbilang cukup berbeda dibanding kolam renang pada umumnya. Airnya berasal langsung dari mata air. Dasar kolamnya pun memiliki pasir, karang, hingga berbagai jenis ikan. Meski dipenuhi ikan, air di Umbul Ponggok tidak amis karena airnya terus mengalir.

Selain sebagai tempat snorkeling, Umbul Ponggok kerap dijadikan lokasi latihan menyelam bagi para pemula sebelum mereka benar-benar menyelam di laut. Bahkan kolam alami yang sudah ada sejak zaman Belanda itu memberi pula kesempatan pengunjung untuk berfoto di dalam air sambil bermain video game, nonton televisi, naik sepeda motor, atau melakukan aktivitas lain.

Wisatawan yang masuk ke dalam kolam bisa menemui beberapa spot foto menarik. Memang, pengelola menaruh beberapa benda unik di dalam kolam, seperti motor bebek klasik, sepeda onthel, meja makan, kursi santai, televisi, hingga laptop. Barang-barang bisa disewa untuk sesi foto. Salah satu spot foto yang kerap digandrungi wisatawan adalah tempat duduk ala taman.


Selain bisa berfoto ria bersama ikan dan beberapa properti yang telah disediakan, wisatawan juga bisa snorkeling dan diving di Umbul Ponggok. Wisatawan tidak perlu khawatir jika tidak memiliki peralatan menyelam. Sebab, tempat wisata menyewakan beberapa perlengkapan. Untuk snorkeling, pengunjung bisa menyewa pelampung, kaki katak, dan masker khusus snorkeling.
Tarif untuk menikmati wisata bawah air ini bervariasi dan tidak terlelu mahal. Tiket masuknya di week day hanya Rp 10 ribu, sedangkan untuk week end Rp 15 ribu. Tarif termahal adalah untuk kelas menyelam tang mencapai Rp 250 ribu.

Saat ini wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, menghadirkan wahana baru di wisata mata airnya, yaitu flying board. Wahana baru tersebut merupakan upaya untuk menarik pengunjung di tengah pandemi Covid-19.

Sensasi wisata dalam air bisa dilakukan berupa 'jalan-jalan' di dasar lautan, seperti di Lembongan, Bali.
Suasana di perairan bawah laut Lembongan, Nusa Lembongan Island, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Nusa Lembongan, Bali

Atraksi wisata dalam air di Pulau Lembongan, Bali, lain lagi. Pulau Nusa Lembongan lokasinya berada di tenggara pulau Bali dan masuk dalam pemeritahan Kabupaten Klungkung. Hal yang membuat pulau Nusa Lembongan disukai wisatawan untuk destinasi liburan karena keindahan alamya. Keindahan yang dapat Anda lihat di pulau Nusa Lembongan seperti pantai pasir putih, hutan bakau dirimbuni pepohonan hijau, serta keindahan pemandangan bawah laut.

Salah satu daya tarik pulau Nusa Lembongan terdapat pada keindangan perairan bawah laut. Hampir disebagian besar area di Nusa Lembongan Anda akan melihat penawarkan aktivitas snorkeling dengan Manta Rays atau aktivitas menyelam.

Yang unik, di pulau kecil ini, wisata dalam air berupa sea walking atau jalan-jalan di dasar laut. Sesuai dengan namanya, wisatawan yang ingin mencicipi atraksi ini tak perlu menyelam, cukup berjalan kaki. Untuk itu, wisatawan dibekali helm yang dirancang khusus agar dapat bernapas saat berada di dalam air. Sea walking diklaim lebih seru dibandingkan menyelam ataupun snorkeling karena turis bisa langsung berinteraksi dengan ikan-ikan.

Banyak agen wisata di Bali yang kini menawarkan atraksi tersebut dengan harga bervariasi, mulai Rp 520 ribu per orang. Wisatawan dibawa menggunakan perahu cepat dari Sanur menuju Lembongan selama 30 menit. Kemudian, barulah menjelajahi alam bawah lautnya, juga selama 30 menit. Sea walking juga dianggap lebih aman karena didampingi oleh dive master.

Andry T./TL/agendaIndonesia

*****

2 Wisata Balikpapan, Udara Laut dan Hutan

iStock 509316323

Kota kilang minyak di Kalimantan Timur ini tak hanya tumbuh sebagai kota bisnis, tapi juga tempat wisata Balikpapan. Bandar udara yang tergolong anyar karena baru diresmikan pada September 2014 ini pun terlihat megah dan hadir dengan nama baru Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Berupa gedung berkonsep eco-airport dengan langit-langit tinggi, terdiri atas empat lantai, dan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. 

Balikpapan memang punya pilihan beragam destinasi. Di seputar kota ataupun hutan-hutan di pinggiran kota. Di dalam kota, misalnya, wisatawan bisa menikmati pantai dan kuliner serta pemandangan laut dari ketinggian. Ada Pantai Melawai dan Kemala, yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Jangan lupa juga mencicipi hidangan dari kepiting yang tersedia di sejumlah restoran. Hidangan yang satu ini memang lekat dengan kota ini. 

Yang Khas Wisata Balikpapan

Masih di pusat kota, pelancong juga berbelanja berbagai kerajinan khas Suku Dayak serta olahan makanan di Pasar Kebun Sayur. Benda-benda khas dari rotan dan bambu hingga batu warna-warni, yang berupa gelang, kalung, dan cincin, bisa ditemukan di sini. Selain itu, ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya, terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 kilometer dari pusat kota. Anda bisa bersua dengan ribuan ekor buaya, yang terdiri atas tiga jenis, yaitu buaya muara, supit, dan air tawar, yang menempati lahan seluas 5 hektare itu. Bisa juga berbelanja produk dari kulit buaya. 

Jika ingin menikmati hawa khas hutan, saatnya mengintip konservasi orang utan dan beruang madu yang dikelola Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat kota. 

Anda akan melalui jalur tanpa aspal dengan di sisi kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Selain orang utan, ada juga kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang berbeda.

Masih di daerah yang sama, ada pilihan lain, yakni Taman Nasional Bangkirai. 

Merupakan hutan konservasi seluas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Daya tarik lainnya adalah jembatan gantung sepanjang 64 meter dengan ketinggian 30 meter di atas tanah. l

F. Rossana

Terbuai Gelombang di Pantai Bali Selatan

shutterstock 186

Sehari pasca-Kuningan, penjor-penjor masih berdiri gagah di sepanjang lorong gang-gang di Denpasar, Bali. Juga di pantai Bali di Pulau Dewata itu. Janur kuning belum berubah kecokelatan. Bunga-bunga di canang juga tampak baru kemarin sore ditata di papan persembahan. Pagi itu, para perempuan berkamen dengan rambut disanggul berlalu-lalang di sepanjang Sunset Road, Badung, Bali, diikuti para lelaki dengan aksesori udeng di kepala. “Mereka akan sembahyang di pura-pura keluarga,” kata Made Arya, warga asli Singaraja, yang bebeapa hari itu mengantar perjalanan di Bali. 

Mobil melaju ke selatan menuju pesisir Pulau Seribu Pura. Kian dekat pantai, tempat-tempat persembahyangan kian banyak dijumpai. Orang-orang mengantar doa makin berlipat jumlahnya. Kontras dengan warga-warga asing yang melaju santai membawa papan selancar, beriringan ke arah yang sama. 

Pantai Bali Setelah Kuta

Lamat-lamat, lantunan Kuta Bali Andre Hehanusa terdengar dari radio. …Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku, di Kuta Bali cinta kita… Made Arya memutar tombol volume. “Kuta dulunya memang ramai. Apalagi setelah upacara Kuningan begini. Namun orang sekarang mungkin agak bosan. Mereka mau yang lebih indah, yang lebih menantang. Yang asyik, ya, Bali bagian selatan, di pantai-pantai yang belum terjamah,” tuturnya. 

Mobil Made membelah jalan bertebing karst. Roda-rodanya luwes mengikuti jalur-jalur sempit dan berkelok. Patung Garuda Wisnu Kencana tampil di kiri jalan. Tak lama, sebuah papan kayu kecil di persimpangan jalan menarik pandangan. Pantai Gunung Payung. Begitulah tulisan yang tertera. Belum banyak literatur yang mengulas pantai ini. 

Jalan masuknya berupa jalur menuju kawasan golf di Uluwatu. Begitu sampai, sebuah lorong dengan dinding penuh tumbuhan merambat menyambut dan menuntun langkah menuju lokasi suara ombak terpecah karang bernaung. Jalannya cukup besar dengan kontur menurun. Namun semakin lama semakin menyempit. Jalan rata berubah menjadi tangga-tangga batu yang licin. Kanan-kiri semak belukar. 

Paralayang di langit Selatan Pulau Bali
Paralayang di langit Selayan pulau Bali.

“Jalan ke bawah masih jauh, buddy,” kata pria Australia berusia 30 tahun kepada rekan sejawatnya dalam bahasa Inggris. Napasnya tersengal. Sebab, sebelah tangannya menggendong papan selancar. DI seperempat jalan, terdapat sebuah spot, yang sering digunakan untuk berfoto, berupa tanah lapang dengan pemandangan lepas pantai. Diteropong dari atas, lanskap yang tersaji ialah hamparan Gunung Payung dengan pasir putih disapu ombak. Terlihat beberapa orang kulit putih berjemur santai sembari menikmati bir. 

Perjalanan masih cukup jauh. Kaki kembali melangkah. Kian ke bawah, tangga curam menghadang. Lanskap pantai dan gunung karang mulai tak terlihat. Lorong makin gelap. Sekitar 20 menit kemudian, lorong itu menemui ujungnya. Cahaya merasuk sedikit-sedikit. Hamparan pasir menyambut. Di anak tangga terakhir, saya seperti berada di sebuah gerbang yang membawa ke dunia lain. Oasis tanpa batas yang bersanding dengan lautan membikin jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Di ujung pantai, dekat dengan gunung karang, bule Australia yang saya temui di perjalanan tadi sudah melucuti pakaian luarnya dan berlari-lari kecil. Sejurus kemudian, papan itu diajak menari di atas gelombang. Sesekali terempas dan tubuhnya jatuh terpelanting ombak. 

“Deretan pantai Bali selatan memang surganya para surfer,” ucap Made memecah hening. Pantai Gunung Payung menjadi salah satu favorit lantaran punya gelombang yang besar. Namun yang berlaga di sini ialah kalangan profesional, juga yang siap mental digulung ombak ganas hingga 2-3 meter. Belum lagi, karakter pantai di bagian selatan tersebut sebagian besar berkarang. 

Melihat keadaan alamnya, memori langsung mengantarkan saya kepada obrolan bersama seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Denpasar, dokter Netty Santyari, beberapa waktu lalu. Ia berkisah tentang tarian gelombang yang diam-diam menghanyutkan. Banyak cerita para peselancar mengalami kecelakaan bila tak siap menghadapi tarian ombak yang elusif. Yang menakjubkannya adalah para peselancar itu kerap mengalami bencana tak terduga. “Rumah sakit tempat saya bertugas, Rumah Sakit Siloam Denpasar, sering menerima pasien yang cedera karena surfing. Tebak, mereka kebanyakan bukan mengalami patah tulang, tapi cedera wajah karena terbentur papan surfing,” tutur Netty kala itu.

Para peselancar dari luar negeri itu akhirnya harus tinggal lebih lama di Bali untuk mendapatkan perawatan intensif pemulihan wajah melalui operasi plastik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Jadi tak heran kalau yang berani bermain dengan gelombang selatan adalah para peselancar yang sudah andal dan siap menanggung segala risiko terburuk. 

Gunung Payung bukan satu-satunya pilihan. “Ada Green Bowl dan Nyang-nyang yang tak kalah elok untuk berselancar,” ucap Made. Dua pantai ini memiliki karakter serupa dengan Gunung Payung, sama-sama butuh perjalanan panjang menuruni bukit berbatu untuk sampai tujuan. Bahkan Green Bowl memiliki anak tangga lebih banyak. Sekitar 300 undak-undakan. 

Namun keindahan lanskap yang menyerupai gadis berkuntum, kalis dan suci, akan membayar peluh yang mengalir. Bibir pantainya tak terlalu luas, tapi bersih tak terkira. Pasirnya lembut bak bubuk gula halus. Karang-karang yang bercokol mendekati tebing mengesankan pemandangan yang dramatis. Ditambah, dengan gelombang laut yang memiliki ritme memikat. 

Dulu, pantai di Desa Ungasan ini merupakan area privat salah satu resor premium. Namun kini dibuka untuk umum. “Kalau mauberselancar di sini, paling bagus pukul 5 sampai 9 pagi atau 4 sore hingga 7 malam,” ucap Ketut Sane, warga setempat. Ia berkisah, Green Bowl memiliki pusaran gelombang di tengah laut yang membikin arus menyapu lebih ganas. Karena itu, ada jam-jam khusus saat ritme gelombang lebih stabil, tak terlalu rendah, juga tinggi. Di samping itu, Green Bowl cocok untuk merefleksikan diri atau sekadar sebagai media buat mendengar puisi alam paling merdu di dunia, ombak dan kicau burung laut yang bersahut-sahutan. 

Tak jauh dari Green Bowl, Nyang-nyang turut menjadi bagian pesisir Pulau Dewata yang merayu buat dinikmati kesyahduannya. Untuk menjangkaunya, perlu terpelanting, tergelangsar, atau terperosok ke jalan berbatu putih. Bukan hiperbola. Sebab, kemiringan jalur tersebut hampir membentuk sudut 80 derajat. 

Sembari bersusah menuruni jalur licin dan berkerikil, lagi-lagi saya bersemuka dengan para turis dari Eropa dan Australia. Beberapa juga berbahasa Rusia. Wisatawan dari kedua benua ini memang terkenal paling doyan menjangkau lokasi yang menantang adrenalin. “Semangat! Setelah ini, kita akan bermain-main dengan ombak. Eh, mana papan surfing-mu?” ujarnya menyapa. 

Saya hanya nyengir sembari memincingkan mata jauh ke depan. Jalur berbatu ini seakan tak berujung. Sekonyong-konyong, debur yang makin terdengar lantang membikin kaki meloncat girang. Bule-bule tadi sudah sampai duluan. Mereka sibuk memainkan papan selancarnya di atas gelombang. 

Saya berdiam mengeringkan keringat di karang besar yang siap menopang badan. Mata asyik menyimak angin yang menyapu gelombang, dan pasir meliuk-liuk terinjak kaki. Matahari berarak pulang. Langit mulai bergaris, berkecamuk memadukan semburat kuning, merah, dan biru tua. Turis-turis mengangkat papan selancarnya. Orang-orang meninggalkan pura di sekitar pantai. Sambil memejamkan mata, terbayang pengembaraan pulang meniti kaki mendaki jalur berbatu yang terjal dan ekstrem. 

F. Rossana/A. Prasetyo

Panggilan Ombak Sumbawa Barat

shutterstock 174246365

Maluk, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang menjadi pilihan saya menginap malam pertama di pulau yang berada di seberang Lombok ini. Tak jauh dari Taliwang, Maluk mempunyai pantai berpasir putih nan lembut. Pukul 06.30 pagi saya sudah menginjak obyek wisata ini. Huruf M A L U K menghiasi bagian depan pantai. Sepagi itu jajaran warung masih belum buka. 

Pantai yang diapit dua bukit itu hening saat pagi ketika saya mencecap sinar mentari yang muncul dari balik Bukit Mantun di sisi utara. Menerobos hingga selatan yang dibatasi Bukit Balas. Segar dan hangat rasanya. Di tengah teluk, ada satu perahu nelayan mengais rezeki. Seorang pria berdiri di bagian depan dengan sebilah kayu panjang yang ia pukul keras ke laut. Rupanya, ia tengah menggiring ikan ke jaringnya. Suara motor perahu dan pukulannya pun memecah keheningan.

Sumbawa Barat, Surga Kecil Peselancar

Teluk yang tenang itu begitu menenteramkan. Namun, di salah satu sisinya, ternyata ada juga gulungan ombak yang digandrungi para peselancar. Dikenal sebagai ombak Super Suck, dan di depannya tersedia sejumlah akomodasi sederhana. Selepas mandi, melahap nasi kuning, saatnya menyinggahi pantai-pantai lain. Sumbawa Barat adalah surga bagi para pencinta pantai dan ombak. Maluk bukan satu-satunya. Sehari sebelumnya selepas senja, sebenarnya saya sempat mampir ke Pantai Benete, tepat di depan Pelabuhan Bennete. Penuh cahaya di malam hari karena merupakan dermaga khusus PT Newmont Nusa Tenggara. 

Pagi itu bergaya bak para pemburu ombak, saya pun mencari pantai-pantai lain. Namun tentunya bukan untuk beraksi dengan papan seluncur. Saya hanyalah penikmat deburan ombak serta balutan pasir lembut di kaki. Perjalanan mengarah ke Sekongkang Barat. Seperti perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Maluk, Jalan Raya Sekongkang pun cenderung sepi. Hanya sesekali bertemu dengan pengendara roda dua atau roda empat. 

Kiri-kanan lahan berbukit-bukit dengan tanaman sebagian mengering. Sebagian dipenuhi pohon jenis sulur. Hingga bertemulah dengan pertigaan dengan tulisan Sekongkang. Suasana begitu sepi. Mata pun mulai lebih awas, mencari petunjuk. Hingga bertemu papan bewara superbesar yang menunjukkan belum lama ini digelar kompetisi selancar internasional di Pantai Tropical, Sekongkang. Saya dan kawan-kawan mengabaikannya. Namun beberapa meter tak ada tanda lain hingga mobil pun kembali ke tempat tersebut.

Ada sebuah jalan kecil di sebelah papan bewara itu. Sekitar 2 kilometer melaju di jalan tanah itu, ada cabang dengan gerbang kecil. Di salah satu sisinya ada tanah berpagar, dan ada tanda bahwa tanah milik sebuah perusahaan. Sedikit ragu, tapi akhirnya kendaraan menerobos jalan kecil. Kurang dari lima menit, terlihat sebuah teluk dengan beberapa pohon di tepian, diapit dua bukit karang. Teluk yang pendek, tapi siang itu menjadi sebuah gambar nan indah di mata saya. Matahari belum terlalu terik, langit begitu biru, ombak bergulung-gulung, dan tentunya pepohonan membuat paduan alam yang sempurna. Rupanya inilah Pantai Lawar. 

Merasa bukan satu-satunya pantai di sana, kendaraan kembali ke jalan yang bercabang dan memilih jalan tanah salah satu lagi yang ternyata melebar masih tetap berupa tanah. Tak ada petunjuk sama sekali hingga ada bule muncul dari arah berlawanan dengan sepeda motor dan papan selancar, keyakinan ada pantai di ujung sana pun muncul. “Ya lurus, ada Pantai Tropical, Pantai Yoyo, ombaknya keren,” ucap pria tersebut, sementara telunjuknya diarahkan ke utara.

Pantai Yoyo Sumbawa Barat Frannoto12
Lanskap Pantai Yoyo, Sekongkang, Sumbawa Barat, digemari peselancar karena ombaknya.

 

Senyum saya dan kawan-kawan pun mengembang. Tak lama memang debur ombak terdengar nyaring, dan di depan mata terbentang garis pantai yang panjang. Inilah Pantai Yoyo yang menyambung dengan Pantai Rantung. Udara panas mulai menyergap, pasir pantai nan panas terasa menggigit kaki. Saya memilih duduk di gazebo di tepi pantai. Para peselancar beberapa kali lewat. Ada yang berasal Jepang dengan kulit sudah cokelat matang. Dari jauh saya melihat peselancar perempuan berjalan di pasir putih sembari menenteng papannya. Ehmm…. demi ombak, panas pun mereka terjang. Di tengah laut, sejumlah pemain mencoba menari dengan ombak. 

Meski tersambung, dua pantai nan panjang itu tidak bisa dilalui kendaraan. Akhirnya saya dan kawan-kawan kembali ke Jalan Raya Sekongkang, terus melaju ke Jalan Raya Rantung. Sesungguhnya Pantai Yoyo bernama pantai Tropical. Namun, karena ombaknya bergulung-gulung seperti yoyo yang tengah berputar, pantai ini di kalangan peselancar dikenal sebagai Pantai Yoyo. 

Jalan Rantung Raya juga sepi, hanya kiri-kanan lebih banyak kehijauan. Tiba-tiba saya menemukan papan nama hotel di dekat Bandar Udara Sekongkang. Jalur pacu bandara itu tanpa pesawat terbang. Kendaraan pun terus melaju hingga saya menemukan Nomad Tropical Surf Resort di depan Pantai Tropical. Resort ini memiliki halaman hijau, kolam renang, dan lapangan golf. Siang itu gazebo, tepat di depan pantai, dipenuhi beberapa peselancar yang mendinginkan tubuh dengan minuman segar. 

Terik mentari memang begitu terasa meski sebentar lagi sore tiba. Pasir pantai masih terasa panas, saya memilih duduk di sebuah saung. Ada sepasang turis asing, sang perempuan asal Argetina dan pria dari Prancis. Keduanya peselancar yang selama dua minggu berkeliling Bali, Lombok, dan Sumbawa. Mereka mengaku jatuh cinta pada Sumbawa yang tenang, natural, dan tentunya ada gulungan ombak yang menggoda. 

Tak terasa perut mulai keroncongan. Saya tinggalkan Tropical, menuju Rantung Beach Bar & Restaurant, menyantap makan siang yang tertunda sembari menunggu langit berubah gelap. Maklum, menurut info yang berseliweran di dunia maya, di Pantai Rantung-lah keindahan mentari tenggelam itu bisa direkam. Saatnya saya benar-benar menikmati pantai, kaki pun mengenal pasir yang berbeda-beda, dari butiran besar, kemudian masuk pasir yang halus. Perjalanan berat karena kaki terus terbenam, akhirnya muncul juga warna kuning, merah di langit. Sang Surya pun menyemburkan keindahan di Rantung.

Rita N/Fran