Kuliner Unik Banyuwangi, 2 Hidangan Jadi 1

Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, dua hidangan yang kita kenal masing-masing sebagai masakan khas dihadirkan sebagai satu kesatuan. Bagi yang tak terbiasa, ini mungkin terasa aneh. Namun, setelah satu dua suap, lidah pun mulai beradaptasi dan merasakan kenikmatannya. Ini mungkin cerminan karakter khas masyarakat daerah ini.

Kuliner Unik Banyuwangi

Untuk mengetahui karakter masyarakat di satu daerah sebenarnya mudah. Coba tengok sajian kulinernya. Di Banyuwangi, sebagian besar sajiannya merupakan hasil kolaborasi  cita rasa dari berbagai daerah. Dua atau tiga olahan daerah lain dipadukan sehingga lahir sajian baru yang khas. Rasanya, seperti disebut di muka, awalnya agak lucu, tapi pada akhirnya yang ada adalah masakan yang jempolan.  

Pecel Plus Rawon

Nasi pecel rawon mungkin sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Namun bagi pelancong menu ini justru mengundang penasaran. Sebab, selama ini lebih dikenal nasi rawon atau nasi pecel. Sajian ini ternyata benar-benar nasi pecel yang diberi kuah rawon.

Nasi diberi rebusan sayuran seperti bayam, taoge, dan kacang panjang yang disiram bumbu kacang. Tak cukup di situ saja, makanan tersebut lantas disiram dengan kuah rawon. Dalam satu piring, menu seharga Rp 20-25 ribu itu terbilang amat lengkap. Ada bakwan jagung, empal, rempeyek kacang, rempeyek udang, dan dendeng sapi. Perpaduan rasa antara pecel dan rawon benar-benar unik: rasa gurih kacang bercampur dengan kaldu rawon yang kaya rempah.

Rumah Makan Pecel Ayu; Jalan Adisucipto No. 55, Banyuwangi

Kuliner unik Banyuwangi yang memadukan dua masakan menjadi satu. Awalnya terasa aneh, namun kemudian terasa lezatnya.
Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, di antaranya Rujak Soto yakni Soto yang dihidangkan bersama rujak. Foto: shutterstock

Rujak dan Soto

Rujak sudah terkenal sebagai sajian kuliner khas Surabaya. Demikian juga dengan soto yang variannya dimiliki hampir seluruh daerah di Indonesia. Di Banyuwangi, dua sajian kuliner itu dikolaborasikan menjadi menu baru: rujak soto. Pemerintah Banyuwangi memilih rujak soto sebagai ikon sajian kuliner karena kemunculannya paling tua.

Rujak soto ini tanpa nasi, hanya lontong yang dipadukan dengan kangkung, taoge, irisan mentimun, dan kacang panjang. Aneka sayuran tersebut disiram dengan bumbu rujak berbahan kacang. Giliran kuah soto hangat berisi kulit sapi disiram hampir memenuhi bibir mangkuk. Terakhir, irisan telur asin, tempe, tahu, dan kerupuk udang ditabur di bagian atasnya. Sajian seharga Rp 25 ribuan itu cukup gurih dan segar untuk menu makan siang.

Pondok Rujak Soto “Murah Meriah”; Jalan Basuki Rahmat No. 43, Banyuwangi

Pecel dengan Kare

Kare atau kari ayam adalah hidangan umum di Asia Selatan seperti India. Di Jawa, varian kare lebih mirip hidangan opor ayam. Pedagang Banyuwangi menyatukan keduanya hingga lahir pecel kare yang dikreasikan pada 2000-an setelah rujak soto dan pecel rawon. Rasa kare yang gurih berpadu dengan sedikit pedas bumbu pecel.

Pecel kare terdiri atas nasi yang diberi taburan potongan kacang panjang, taoge, tempe, dan tahu yang kemudian disiram bumbu pecel. Terakhir, seluruh nasi digerojokkare berisi ayam yang kuahnya berwarna kuning. Hidangan seharga Rp 20 ribuan tersebut harus disantap bersama rempeyek kacang yang renyah.

Rest Area Istana Gandrung; Jl Raya Rogojampi, Kecamatan Kabat;Banyuwangi

Rujak Campur Bakso

Bakso telah menjadi santapan umum orang Indonesia. Tapi kalau rujak bakso yang saya santap hanya ada di Banyuwangi. Ya, seperti namanya, sajian kuliner ini memang campuran rujak dan bakso. Rujaknya adalah olahan rujak cingur khas Surabaya. Rujak yang kaya sayur dan pedas dipadu dengan segarnya kuah bakso.

Olahan rujak diulekjadi satu di dalam cobek. Isinya: lontong, taoge, sayur genjer, selada, bayam, serta potongan cingur. Rujak kemudian dipindah ke sebuah mangkuk, lalu diguyur dengan kuah bakso hangat dan dilengkapi empat bakso sapi. Dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa menyantap hidangan bakso yang berbeda: bakso yang “ramai” dan kental.

Warung Bu Mur; Jalan Raya Srono 100, Kecamatan Srono, Banyuwangi

Sego Cawuk

Sego dalam bahasa Banyuwangi adalah nasi. Sedangkan cawuk tak lain makan dengan tangan. Cara ini lazim dipakai orang Banyuwangi sebelum ada sendok. Sego cawuk merupakan varian makanan bersantan. Namun santannya menyertakan parutan kelapa, mentimun yang dipotong dadu kecil, dan serutan jagung muda. Rasanya gurih dan sedikit asin.

Bila menyukai pedas, nasi bersantan tersebut bisa disiram bumbu rujak yang berisi dendeng. Agar lebih nikmat, saya menambahkan lauk berupa telur, pepes cumi, dan pepes teri plus kerupuk rambak alias kulit sapi. Hidangan yang cocok untuk sarapan ini seharga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung pada lauk yang ditambahkan.

Warung Bu Mantih; Jalan Stasiun No 43, Desa Prejengan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi

Tertarik mencobanya? Jika kondisi telah memungkinkan, agendakan perjalannanmu ke Banyuwangi, dan cicipi keunikan dua masakan Jawa Timur yang dipadukan ini.

agendaIndonesia

*****

5 Surga Sajian Kuliner Indonesia

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Jawa Barat

5 surga sajian kuliner Indonesia yang menarik dikunjungi karena kekayaan kulinarinya. Tujuan wisata bisa ditentukan oleh minat setiap wisatawan. Ada pelancong yang memang berminat besar pada sajian kuliner, sehingga destinasi liburannya pun harus penuh dengan sajian yang mengundang selera. Di negeri ini, pilihannya cukup berlimpah. Namun ada beberapa provinsi yang bikin turis benar-benar mabuk kekenyangan. Pilihan awalnya, 5 dulu seperti berikut ini.

5 Surga Sajian Kuliner Indonesia

Jawa Barat

Lebih tepat ya di ibu kotanya, Bandung. Merupakan destinasi sajian kuliner yang paling banyak diburu setelah Jabotabek oleh warga Jakarta. Kota Kembang memiliki suguhan lawas yang tidak pernah dilupakan, tapi kreativitas warga begitu tinggi, sehingga olahan baru lahir seperti tak kenal waktu. Nasi tutug oncom, jajanan seperti yamin, dan batagor  tetap diburu. Namun tempat baru seperti sajian rumahan ataupun kedai kopi yang sering hanya dijadikan tempat nongkrong juga disukai. Dari kaki lima hingga gedung mewah menjadi pilihan.

Sungguh sulit menyebut salah satu yang utama, karena resto dengan suguhan lokal, internasional, atau tempat kongko di pusat kota atau di wilayah utara tidak pernah sepi oleh pengunjung. Jadi, rajin-rajinlah ke Bandung agar tidak pernah ketinggalan. Serabi, kopi, bandrek, yoghurt, lalaban, sambal, pepes ikan, goreng jambal, hingga steak selalu asyik menemani hari-hari di kota ini. Sebulan sekali ke Bandung bisa dicapai dalam tiga jam dari Jakarta tentu terasa dekat. Apalagi tujuannya untuk memuaskan hasrat Anda di meja makan.

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Provinsi Sumatera Selatan. Di Provinsi ini ada aneka sajian kuliner, di antaranya pempek panggang.
5 Surga Sajian kuliner Indonesia, salah satunya Sumatera Selatan dengan pempek panggangnya. Foto: Dok TL

Sumatera Selatan

Boleh dibilang tidak ada yang tidak suka pempek—olahan dari tepung sagu dengan ikan yang merupakan hasil kreasi keturunan Tionghoa di Kampung Kapitan, tepi Sungai Musi, Palembang. Diguyur dengan kuah kecokelatan yang berasa asam pedas, pempek apa pun modelnya selalu dirindu. Baik kapal selam, lenjer, adaan, maupun pempek panggang, yang aromanya saja sudah membuat mabuk kepayang. Untuk sarapan, Anda bisa memilih burgo, laksa atau celimpungan. Dasar bahannya sama, yaitu tepung sagu dan  ikan belinda atau gabus—penghuni khas Sungai Musi. Rasa daging ikan ini lembut dan tidak berbau amis. Berbeda nama, karena kuahnya berlainan pula. Misalnya, burgo berkuah kuning, sedangkan laksa kemerahan, tapi keduanya sama-sama bersantan. Variasi lain adalah mi celor.

Untuk teman nasi, ada juga pindang ikan dengan kuah menyegarkan teman nasi. Di Sumatera Selatan ada beberapa daerah yang terkenal dengan pindangnya, seperti Meranjat. Selain itu, jangan lewatkan mencicipi aneka kue yang terasa gurih. Mulai martabak Har, bolu kojo, kue suri, hingga kue delapan jam dan maksuba. Diberi nama kue delapan jam karena memang adonan harus dikukus dalam waktu tersebut. Yang luar biasa juga satu adonan memerlukan sekitar 22 telur bebek. Sedangkan maksuba merupakan kue tradisi atau kue kehormatan bagi masyarakat Palembang. Kue tersebut dihidangkan pada acara khusus seperti pernikahan. Satu loyang biasanya memerlukan hingga 28 telur bebek. Semua kue ini bisa didapat di ibu kota provinsi.

Sumatera Barat

Bergeser ke arah barat tidak perlu dipertanyakan lagi soal wisata sajian kuliner di Ranah Minang ini. Rendang hidangan khasnya menjadi juara di dunia. Soal rendang sebenarnya juga beragam. Anda bisa mendapatkan tiap daerah berbeda rendang. Selain daging, ada rendang telur dan paru yang khas dari Payakumbuh. Ada pula rendang lokan dan gurita dari Pesisir Selatan. Di daerah pantai cenderung lebih banyak rempah. Jadi, rasanya lebih ramai dan pedas dibanding buatan pegunungan. Di pesisir yang terkenal umumnya gulai kepala ikan. Sedangkan di daerah pegunungan umumnya gulai ayam yang dikenal.

Bukittinggi yang merupakan salah satu kota untuk mencicipi kenikmatan hidangan khas Minang ini dikenal dengan nasi kapau atau nasi rames khas Nagari Kapau. Pilihan lain adalah bebek sambal lado ijo, pical—olahan sejenis gado-gado. Bila sempat ke Batusangkar, jangan lupa menyeruput teh daun kawa atau teh yang terbuat dari seduhan daun kopi dan ditemani gorengan hangat-hangat. Ehm… di Padang bisa dinikmati ketupat sayurnya, es duriannya, dan lain-lain.

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Nangroe Aceh Darusalam. Ada banyak pilihan di sini, salah satu yang terkanal adalah ayam tangkap.
5 surga sajian kuliner Indonesia, di antaranya adalah Nanggroe Aceh Darusalam yang terkenal dengan ayam tangkap dan kopinya. Foto: ilustrasi shutterstock

Nangroe Aceh Darussalam

Berada di paling ujung negeri ini tak hanya memiliki keindahan laut yang memukau, Aceh juga selalu menggoda selera para turis. Tengok saja rumah makan mi Aceh yang semakin merebak di Jakarta. Selain mi, tentu banyak hidangan lain. Ada sederet teman nasi yang menggoda, seperti ayam tangkap, ayam yang garing dengan bumbu daun temurui, dan cabai hijau dalam balutan daun pandan. Ada pula kuah “kambing” neulangong, yang diberi embel-embel beulangong karena memasaknya di belanggong (belanga) besar. Ada pula sate Matang yang aslinya berasal dari Matang Glumang Dua, Kabupaten Bireuen. Di daerah ini, sate dijual di warung kopi yang buka 24 jam.

Ke Aceh juga harus mencicipi kuah Pliek U—paduan aneka sayuran. Dikenal juga dengan nama patarana. Olahan ini dibuat dari kopra yang dibusukkan terlebih dulu. Lalu diperas hingga minyaknya kering. Untuk minumannya, apalagi kalau bukan kopi dan kopi susu yang warungnya yang dengan mudah ditemukan di sejumlah kota, termasuk Banda Aceh. Mari minum kopi sambil berbincang-bincang politik.

Sulawesi Utara

Yang penuh pesona soal sajian kuliner adalah Sulawesi Utara. Bahkan keberagamannya luar biasa. Mulai sayuran seperti tumis bunga pepaya, bubur Manado, milu siram, mi cakalang, aneka olahan seperti ayam atau woku blanga, ikan rica-rica, ikan bakar khas Manado, serta aneka sambalnya yang menyegarkan. Namun bagi penyuka hidangan ekstrem bisa juga menjajal hidangan dari ular, kelelar, anjing, dan lain-lain. Bisa ditemukan di Manado ataupun Tomohon yang bisa ditempuh hanya dalam 40 menit dari ibu kota Sulawesi ini.

Untuk yang senang camilan, di Pasar Pagi kota ini bisa ditemukan hidangan yang berlimpah. Dari panada, bobengka, wajik, balapis, klaapertaart, lalampa—sejenis lemper dengan isi ikan—serta pisang goreng dengan sambal roanya yang asyik disantap saat pagi atau malam hari. Kedai kopi pun tumbuh di Manado sembari kongko ditemani secangkir kopi lokal plus kue-kue khas benar-benar menjadi pengalaman yang menggoda bagi pencinta sajian kuliner.

Senja di Atas Atap Seluas 1700 Meter Persegi

Senja di atas atap sembari menikmati menu istimewa menjadikan Bali begitu istimewa. Sebuah tren menikmati mentari tenggelam di ketinggian, sembari mencicip menu yang sedap.

Senja di Atas Atap

Konsep memadukan restoran, kafé dan bar dengan kelezatan makanan, pemandangan alam yang indah dan konsep interior moderen tampaknya telah menyebar di sebuah kota besar. Dan salah satu bentuknya berupa rooftop bars atau bar atas atap. Bali yang banyak menjadi tujuan liburan turis dunia pun menyodorkan sejumlah pilihan bar seperti itu. Di daerah Seminyak, tepat di sebelah Cocoon Beach Club terdapat Double Six Hotel. Di lantai teratas Anda dapat menemukan Double Six Rooftop, salah satu rooftop bars terbesar di dunia dengan ukuran 1.700 m­­­eter persegi.

Senja di atas atap seluas 1700 meter persegi di Double Six Hotel, Seminyak Bali.
Rooftop Double Six Hotel, Seminyak Bali. (Foto: Dok. Double Six Hotel)

Dirancang dengan lantai kayu dan tempat duduk berlapis kayu, bar ini juga dihiasi dengan tanaman hidup, menghadirkan sebuah kebun subur nan mewah di dalam ruangan. Di bagian teras, dipasang meja-meja dan kursi-kursi kayu bundar untuk sesi bersantap pribadi. Di sekelilingnya, kolam dangkal sehingga terkesan seperti mengapung. Datang sore hari, Anda akan melihat keindahan Pantai Seminyak yang tak terbatas, lengkap dengan cantiknya matahari yang mengantuk. Malam hari, Anda akan menyaksikan kerlap-kerlip Seminyak malam yang seakan tak pernah mati.

Double Six Rooftop tak hanya menawarkan pemandangan. Makanan dan minumannya juga memiliki rasa yang jempolan. Dalam kunjungan Maret lalu, kami mencicipi grilled wagyu sliders (Rp 90 ribu) dan chocolate pot (Rp 60 ribu) yang berisi berbagai macam bentuk cokelat, serta teh beralkohol Rossallita (Rp 120 ribu). Sekilas, harga yang ditawarkan Double Six Rooftop cukup tinggi, maklum memang tempat ini merupakan bagian dari hotel. Namun dengan pemandangan, interior dan kelezatan yang ditawarkan, harga yang tergolong mahal pun bisa dilupakan.

Sebagai opsi yang lebih ramah anggaran, bisa  ke Jim’Bar’N, sebuah bar di puncak Hotel Harris Bukit Jimbaran. Buka dari pukul 3 sore, datanglah untuk menikmati jatuhnya matahari di barat. Pada hari yang cerah, Anda akan disuguhi pemandangan langit merah jambu keunguan disertai kota yang mulai menunjukkan gemerlapnya. Dan ketika malam datang, mendadak sepanjang pesisir di sebelah kanan disulap menjadi permainan cahaya layaknya kunang-kunang yang menyalakan tubuhnya.

Jim’Bar’N menawarkan menu dengan harga yang lebih terjangkau. Sebagai perbandingan, harga satu cocktail di Double Six Rooftop dapat membeli dua cocktail di Jim’Bar’N, walaupun dalam porsi yang sedikit lebih kecil. Tapi pada akhirnya, harga tak akan lagi menjadi soal ketika Anda disuguhi pemandangan laut lepas nan romantis di kala senja, seperti yang ditawarkan oleh Rock Bar di Ayana Resort and Spa. Pengunjung telah mengantre sejak sore dan kami mengantre selama kurang lebih satu jam untuk mendapatkan ruang di travelator yang akan membawa kami turun belasan meter ke lokasi bar di atas karang-karang. Padahal, Maret masih tergolong off season atau musim sepi pengunjung.

Walaupun panas menyengit, rasanya menunggu antrean tidak juga menyebalkan. Menyadari popularitas Rock Bar di kala senja, tim Ayana Resort and Spa telah menyediakan payung dan handuk basah dingin untuk setiap pengunjung yang mengantre. Akhirnya kami mendapatkan ruang di travelator yang hanya  muat untuk enam orang itu. Pemandangan ketika travelator berjalan turun sungguh menakjubkan! Bergerak menuruni batu karang yang merupakan bagian dari lahan hotel, hamparan laut lepas bermandikan cahaya keemasan dan debur ombak yang menghantam keras bebatuan di muka laut memberikan sensasi alam liar yang menawan.

Menikmati senja di atas atap bisa juga dilakukan di Rock Bar, Ayana Resort and Spa, Bali. Posisinya tidak di atas atas, tapi harus turun di tebing.
Rock Bar Ayana Resort and Spa, Bali, pilihan lain menikmati senja di Bali. Foto: Dok. Ayana resort and Spa Bali

Tiba di lokasi, kami digiring ke meja di bagian kiri atas dekat pintu masuk. Terdapat sofa-sofa nyaman menghadap lautan lepas di depan kami, tentunya dengan harga eksklusif. Rock Bar telah padat sore itu. Payung-payung hitam elegan bertanda RB disediakan untuk setiap meja sebagai tameng cahaya yang masih kuat. Sambil menunggu pertunjukan utama, yaitu terbenamnya sang mentari, kami memesan Rock lobster spring rolls (Rp 95 ribu) ditemani oleh whiskey rockin’ sour (Rp 165 ribu) yang merupakan salah satu minuman khas tempat ini dan virgin lavender (Rp 95 ribu), mocktail khas yang dibuat dari jus apel, sirsak, blueberry dan lemon. Tidak ada entry fee ke Rock Bar; hanya cukup membayar menu yang dipesan.

Kemudian matahari mulai lelah. Dari ujung barat, cahaya kemerahan menjalar ke timur. Pengunjung pun hening, layaknya laut yang mulai tenang di antara bebatuan. Kemudian, seperti mendapat aba-aba, semua mulai berdecak kagum dan ratusan jepretan kamera terdengar setiap detik. Setiap orang bangun dari kursinya masing-masing dan mengabadikan saat langka itu.

agendaIndonesia/Fiz R./Frann/TL

Ayam Goreng Suharti, 2 Logo 1 Rasa

Ayam Goreng Suharti dan Yogya seperti dua keping mata uang, saling melengkapi. Dulu kala, orang memastikan akan mampir ke Ayam Goreng Suharti saat mampir atau main ke kota pelajar ini. Sekarang mungkin tak terlalu, bukan karena rasanya yang berubah, namun mereka kini sudah memiliki sejumlah cabang di banyak kota.

Ayam Goreng Suharti

Untuk pecinta ayam goreng, hampir pasti memasukkan ayam kremes olahan rumah makan Suharti atau Ny. Suharti dari Yogyakarta dalam daftar pilihan favoritnya. Ayam kampung dengan bumbu rempah yang khas dengan remahan tepung nan gurih dan renyah serta disajikan dengan sambal yang khas menjadi signature rumah makan yang telah berdiri hampir 50 tahun silam.

Yang unik dari rumah makan ini adalah adanya dua logo usaha rumah makan dengan produk yang relatif sama: ayam goreng kremes. Adakah yang membedakannya?

Logo pertama dipakai rumah makan bergambar dua ekor ayam, betina dan jantan, yang mengapit huruf S di dalam lingkaran dan bertuliskan ‘Ayam Goreng Ny. Suharti’. Satu lagi rumah makan menggunakan foto seorang wanita yang mengenakan pakaian adat Jawa yang berada dalam lingkaran dan bertuliskan ‘Ayam Goreng Suharti’. Suharti, baik di logo pertama dan ke dua, adalah nama perempuan yang gambarnya ada di salah satu logo. Dari segi manajemen, ke dua logo ini mencerminkan dua usaha yang berbeda.

Alkisah, perbedaan logo untuk produk yang mirip ini terjadi pada 1991, saat dua pemilik usaha awal memutuskan berpisah dari kehidupan rumah tangga. Bercerai. Awalnya, adalah pasangan suami istri Syahlan dan Suharti yang pada 1972 memutuskan membuat usaha rumah makan ayam goreng.

Pilihan nama rumah makan yang dipilih adalah Ayam Goreng Ny. Suharti. Peran ibu dianggap dekat dengan soal makanan. Pun, selain soal itu, resep ayam goreng yang dibawa adalah resep dari mbok Berek, leluhur Suharti. Maka jadilah rumah makan Ayam Goreng Ny. Suharti yang pertama di Jalan Laksda Adi Sucipto No. 208, Yogyakarta.

Pada 1984, keduanya sepakat mengembangkan rumah makan ini di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan. Sayangnya usaha yang berhasil ini tak dibarengi dengan keharmonisan rumah tangga. Ke duanya bercerai pada 1991. Ini berpengaruh pada usaha mereka.

Rumah makan ‘Ayam Goreng Ny. Suharti’ kemudian menjadi milik Syahlan, sang suami. Karena secara legal terdaftar sebagai pemilik resmi rumah makan tersebut. Setelah pecah kongsi itu, Suharti memberanikan diri membangun rumah makan ayam goreng yang juga menggunakan nama ‘Suharti’. Bedanya, tak ada ‘Ny.’ di nama rumah makannya. Mungkin trauma karena ada usaha memakai namanya tapu bukan miliknya, Suharti lantas memasang wajahnya sebagai logo di rumah makan barunya. Ini semacam penegasan, ini adalah usaha miliknya.

Terlepas dari pisah kongsi suami istri tersebut, usaha ayam goreng ini sejatinya dimulai jauh sebelum ke duanya membangun usaha. Adalah anak Mbok Berek, Mangundimedjo, yang merupakan saudara jauh Suharti yang memulai usaha ayam goreng di daerah Candisari, Kalasan, Yogyakarta. Ia adalah cikal bakal bisnis ayam goreng ber-kremes di Indonesia.

Suharti sempat menggunakan nama Mbok Berek untuk memulai usaha ayam gorengnya. Tak main-main, yang boleh menggunakan nama ini tentu saja hanyah kerabat yang masih ada hubungan dekat dengan Mbok Berek. Anak pertama mbok Berek adalah Samidjo Mangundimedjo yang merupakan kakak ipar Suharti. Kini, Ayam Goreng Mbok Berek sendiri dikelola oleh anak Mangundimedjo yang bernama Ny. Umi.

Lalu apa sesungguhnya keistimewaan ayam goreng mbok Berek yang resepnya juga dikembangkan Suharti? Pertama adalah penggunaan ayam kampung. Pertimbangannya, proses pembumbuannya adalah dengan diungkep atau direbus bersama rempah-rempah bumbu. Daging ayam kampung yang lebih liat dibanding ayam negeri membuat ayamnya tidak hancur ketika diungkep cukup lama.

Keistimewaan yang ke dua adalah kremes yang menyertai penyajian ayamnya di meja makan. Kremes ini membuat sajian ayam menjadi lebih gurih dan renyah. Kini bahkan kremesan ini dijual tersendiri, sebab banyak yang memakannya sebagai teman nasi putih.

Keunikan ke tiga dari ayam Suharti adalah sambalnya. Ia seakan memiliki semangat orang Yogya yang suka makanan manis. Sambal rumah makan ini juga cenderung agak manis. Mungkin ini tak terlalu disukai mereka penyuka rasa pedas, namun pedas yang ada rasa manis ini memperkuat rasa ayam gorengnya.

Ayam goreng Suharti dulu dikenal juga sebagai ayam mbok Berek, pelopor ayam kremes khas Yogyakarta.
Ayam goreng Suharti adalah kuliner khas Yogyakarta yang dikenal banyak orang. Foto: ilustrasi/shutterstock

Ayam goreng “Suharti” yang manapun sejatinya menggunakan resep yang sama, sehingga memilih rumah makan dengan logo yang manapun sama saja. Ada beda-beda sedikit tentu wajar, sebab para pemasaknya berbeda-beda.

Tak terlalu “baper” dalam memilih, sebab cabang-cabang ayam goreng Suharti kini dimiliki putra-putri Syahlan dan Suharti. Ada anak yang menggunakan logo “Ayam Goreng Ny. Suharti” ada yang memakai logo “Ayam Goreng Suharti”. Bahkan jika berkunjung ke Bogor, penggemar ayam goreng Suharti bisa menikmati juga ayamnya di Ayam Goreng Ardhita di Jalan Raya Pajajaran. Ini juga milik pak Syahlan. Dengan menu yang sama dengan saudara-saudara tuanya, mulai dari ayam goreng hingga ke gudeg Yogya.

Ayo agendakan waktumu menikmati kuliner asli Indonesia.

agendaIndonesia

****

Sate Maranggi Hj. Yetty 1,5 Ton Daging

Sate maranggi Hj. Yetty berdiri sejak 1990 hingga saat ini masih terus diminatu masyarakat.

Sate maranggi Hj. Yetty seperti menjadi legenda bagi Purwakarta di Jawa Barat. ia menjadi sate khas Purwakarta. Meski ia bukan pemilik utama resep kulinari ini, sate buatannya menjadi salah satu kekuatan pariwisata di kota ini.

Sate Maranggi Hj. Yetty

Warung sate maranggi Hj. Yetty mulai dibuka pada 1990. Menurut pemiliknya, awalnya ia hanya mencoba-coba, pada saat itu sebenarnya yang membuka usaha pertama di tempat itu, di hutan Bungur, adalah ayah Hj. Yetty, yakni Haji Rasta. Itu pun, “Bapak saya hanya merintis jualan es kelapa muda,” kata Yetty.

Ketika mencoba mengembangkan usahanya, Yetty bercerita, sate produknya masih sederhana. Hanya sate dengan bumbu kecap. Ternyata sate olahannya mendapat respon yang baik dari masyarakat. Dari sana bisnis satenya terus berkembang. Terlebih saat itu orang Jakarta yang mau ke Bandung, atau sebaliknya, jika tidak memilih jalur Puncak di Bogor, mereka memilih melalui jalur Purwakarta-Subang-Padalarang. Jalur yang ada di depan kedai satenya.

Sebenarnya, usaha sate marangi di wilayah Purwakarta pertama kali diperkenalkan di kawasan Plered. Yetty mengaku saat merintis usahanya itu, dirinya belum terkenal dan belum memiliki nama seperti saat ini. Menurutnya, banyak saran dari pelanggannya supaya memberi nama sate maranggi seperti di Plered.

Sate maranggi sendiri memang dikenal sebagai kuliner khas dari Purwakarta. Dari cerita asal-usulnya, ada berbagai kisah berbeda yang sama-sama dianggap sebagai asal-usul sate ini. Kisah pertama menyebutkan bahwa sate maranggi merupakan hasil asimilasi budaya Indonesia dan Tiongkok. Dugaan ini muncul karena melihat bumbu rempah sate maranggi yang sama dengan bumbu yang digunakan pada dendeng babi dan dendeng ayam, yang dijual di Cina.

Kisah ke dua menyatakan bahwa sate ini asli dari Indonesia, khususnya Jawa Barat. Dati sejumlah sumber, Dedi Mulyadi, budayawan Sunda yang juga bekas Bupati Purwakarta, menyebut bahwa nama ‘Maranggi’ didapat dari penjual sate pada zaman dahulu yang bernama Mak Ranggi. Kisah ini juga disebutkan oleh Heri Apandi, seorang pemilik rumah makan sate maranggi di Purwakarta. Menurut Heri, karena pada zaman dahulu tidak ada lemari es, maka Mak Ranggi berusaha mengawetkan daging domba dengan cara didendeng menggunakan bumbu rempah. Setelah itu, daging kambingnya dimasak dengan dibakar. Hasilnya adalah Sate Maranggi yang unik. Karena rasanya yang enak, popularitas sate ini pun menyebar. Nama Maranggi tentu saja berasal dari nama Mak Ranggi.

Ada juga kisah ke tiga yang menyebutkan sate maranggi merupakan kreasi para pekerja peternakan domba di Kecamatan Plered, Purwakarta. Para pekerja ini biasanya hanya mendapatkan daging sisa dari peternakan tempat mereka bekerja. Mereka pun berusaha agar daging domba sisa ini tetap terasa lezat. Caranya, mereka memotong daging domba dalam potongan kecil-kecil, lalu merendamnya dalam racikan rempah dan sedikit gula aren. Bumbu ini membantu menjaga daging domba tetap awet dan menambah cita rasa daging domba. Ara mengawetkan dengan rempah itulah yang kemudian disebut dengan istilah maranggi.

Manapun kisah yang benar, sate maranggi sudah menjadi kulinari yang dikenal dan digemari masyarakat. Dan salah satu yang paling dikenal publik adalah sate maranggi Hj. Yetty. Sejak awal hingga saat ini, kedai Sate Maranggi Hj. Yetty  tetap bertahan di hutan jati di daerah Cibungur, Purwakarta. Lokasinya di Bungursari, Cikampek. Tidak jauh dari exit tol Cikampek dari arah Jakarta.

Sate Maranggi Hj. Yetty menjadi klangenan pecinta kuliner sate. Pada akhir pekan bisa menghabiskan 1,5 ton daging.
Sate Maranggi Hj. Yetty menjadi salah satu legenda kuliner Purwakarta. Foto: ilusttrasi-shutterstock

Bertahun-tahun hanya memiliki satu lokasi jualan, baru pada 7 Agustus 2020, di saat pandemi, Sate Maranggi Haji Yetty  –ini uniknya kedai ini, nama perempuan namun dikenal dengan sebutan haji, bukan hajjah, membuka cabang. Cabang pertama ini ada di Jalan Alternatif Cibubur, Harjamukti, Cimanggis, Depok. Lokasinya sebelum masuk tol Jagorawi.

Sama seperti lokasi pertama, cabang di Cibubur ini pun segera saja mengundang penikmat sate maranggi. Dengan lokasi yang lebih modern, cabang ini segera menjadi pilihan orang menikmati sate klangenan ini.

Begitupun, Sate Maranggi yang di Cibungur pun tetap ramai dikunjungi pelanggan. Ciri khas Sate Matanggi Hj. Yetty yakni sambal tomat dicampur dengan cabai pada bumbu kecap sate rupa-rupanya betul memikat penikmat kuliner sate.

Selain karena rasa, juga karena layanannya. Walaupun selalu penuh, tapi pelayanan di sini sangat cepat. Ada pilihan sate disini dari sate sapi, sate kambing dan sate ayam. Tentu saja, pilihan utamanya tetap sate kambingnya, yang kadang disangka sate sapi karena tidak ada bau prengus kambingnya. Tentu dengan kelengkapan sambelnya, campuran tomat, jeruk limo dan cabai rawit hijaunya.

Yetti bersyukur, saat ini meski banyak usaha serupa, tempat makannya sate marangginya tetap digemari pecinta kuliner. Saat ini, pada akhir pekan atau musim liburan, dalam sehari usahanya bisa menghabiskan daging hingga 1,5 ton. Namun, katanya lagi, saat ini dalam kondisi wisata agak melambat karena pandemi, rata-rata dari Senin hingga Jumat bisa menghabiskan 2-3 kuintal sehari. Kalau Sabtu bisa sampai 4 hingga 6 kuintal.

Sudah pernah mencicipi sate maranggi Haji Yetty? Jika belum cobalah agendakan untuk mencobanya. Di Cibungur atau di Cibubur, sama saja.

agendaIndonesia

*****

Jajanan Khas Semarang, 5 yang Bikin Kangen

Makanan Khas Semarang ada banyak macamnya, salah satunya tahu gimbal atau kadang juga dijual dengan tahu pong

Jajanan khas Semarang ada berbagai macam, namun lima yang ditulis berikut ini layak untuk dilirik. Nama jajanannya menarik dan harganya cukup ramah dompet. Kelimanya perlu dicicipi jika punya kesempatan main ke ibukota Jawa Tengah ini.

Jajanan Khas Semarang

Kaya wisata kuliner. Begitulah kesimpulan yang bisa saya ambil setelah beberapa hari menjajal sejumlah sajian Kota Semarang, Jawa Tengah. Tidak hanya di rumah makan, di warung kaki lima juga ditawarkan menu yang tak kalah menggoda selera. Dan satu yang pasti, harganya relatif nyaman di saku celana. Namanya pun unik, seperti koyor, gimbal, kopyok, dan kropok. Hanya lunpia atau lumpia yang akrab di telinga saya. Ternyata sajian kuliner khas Semarang tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Mi Kopyok

Yang pertama saya jajal adalah mi kopyok. Nama “mi kopyok” ternyata diambil dari cara memasaknya. Mi mentah dimasukkan ke air mendidih dan “dikopyok-kopyok”. Begitu pula taugenya. Dalam satu mangkuknya berisikan mi, lontong, tahu pong, dan tauge. Dalam sajian seharga Rp 10 ribu ini disertakan pula kerupuk gendar.

Jika dirasa masih kurang gurih, penikmat mi kopyok bisa menambahkan kaldu bawang putih yang disediakan di setiap meja. Namun, sebelumnya, pastikan mengocoknya lebih dulu agar kaldu tercampur rata, barulah tuangkan ke sajian. Menu khas Semarang ini dulu dijual dengan cara berkeliling. Kini kebanyakan pedagangnya berjualan dengan menetap di satu lokasi. Salah satunya warung yang saya kunjungi di Jalan Tanjung ini.

Mie Kopyok Pak Dhuwur; Jalan Tanjung No. 18; Semarang

Jajanan khas Semarang ada berbagai macam dan semuanya membuat kangen, salah satunya adalah bandeng Kropok.
Jajanan khas Semarang ada Bandeng Kropok . Foto: Travelounge /N. Dian

Bandeng Kropok

Bandeng duri lunak atau bandeng presto sudah biasa saya dengar. Namun ikan bandeng bakar kropok? Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin mencicipinya, meski harus sedikit rela menuju daerah Kota Semarang Utara. Ehm, rasanya benar-benar khas dan menggugah selera. Saus yang memadukan rasa asam, manis, dan asam menjalin harmonisasi di lidah. Dan  saya tidak menemukan duri halus pada dagingnya.

Menurut seorang pelayan, bandeng segar disayat tipis-tipis kemudian digoreng setengah matang. Setelah itu, bandeng dibakar sembari diberi kecap manis dan sambal. Hasilnya, duri halus bandeng menjadi renyah dan tergilas halus dalam kunyahan. Rupanya teknik pengolahan itu menjadi kunci rahasianya. Saya tidak menemukan duri halus bandeng secuil pun hingga kunyahan terakhir. Harga per onsnya dipatok Rp 5.500.

Rumah Makan Lesehan Tanjung Laut; Jalan Puri Eksekutif I;Semarang

Tahu Gimbal

Gimbal? Saya, yang pertama kali mengunjungi Kota Semarang, jelas penasaran akan hidangan kuliner yang satu ini. Semula, saya kira gimbal itu adalah rambut panjang tanpa perawatan, seperti milik penyanyi reggae Bob Marley atau rambut khas milik masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Ternyata, gimbal itu adalah bakwan goreng yang berisi udang dan menjadi makanan khas Semarang.

Tahu gimbal sendiri berbahan utama lontong, rajangan kol mentah, tauge, telur dadar, tahu goreng, dan gimbal, tentunya. Sajiannya menjadi lengkap dengan siraman bumbu kacang. Kalau di Jakarta, mungkin, mirip dengan ketoprak. Harga per porsinya hanya Rp 12 ribu. Untuk mendapatkan seporsi tahu gimbal, Anda tinggal menuju  Taman Keluarga Berencana yang berada di Jalan Menteri Supeno. Banyak pedagang lesehan yang menjual menu di sekitar taman tersebut.

Tahu Gimbal Pak Edi; Jalan Menteri Supeno;Sekitar Taman Keluarga Berencana;Semarang

Nasi Koyor

Menu lain yang namanya terdengar aneh adalah nasi koyor. Koyor rupanya otot sapi yang dimasak dengan kuah gurih santan dan agak pedas. Sesuai dengan namanya, koyor disajikan begitu saja dengan nasi, plus sambal. Atau bisa juga dikombinasikan dengan menu gudeg. Pilihan yang terakhir ini lebih menarik. Sebab, dalam satu porsi, nasi koyor plus gudeg akan semakin menambah cita rasa.

Saya coba mencicipi nasi koyor di salah satu daerah di Pudak Payung, Semarang, yang mungkin belum terkenal seperti nasi koyor Bu Tum. Di tempat ini, koyor tidak menggunakan otot sapi, melainkan daging sapi. Daging sapi begitu empuk dan bumbunya juga meresap hingga ke bagian dalam. Harganya Rp 22 ribu  per porsi. Tambahan pecel atau sayur rebung sepertinya patut pula dipertimbangkan.

Warung Koyor Bu Kito; Jalan Perintis Kemerdekaan Km 17;Pudak Payung, Banyumanik;Semarang

Jajanan khas Semarang memiliki ragam yang beraneka, salah satunya berbahan rebung atau bambu muda dan disebut dengan nama lunpia.
Jajanan khas Semarang di antaranya ada loenpia atau lunpia, atau kadang disebut juga dengan lumpia. Salah satunya Lunpia Mataram. Foto: Travelounge/N. Dian

Rebung Muda

Mengunjungi Semarang tanpa mencicipi lumpia rasanya kurang lengkap. Makanan berbahan dasar tumisan rebung—tunas bambu muda—yang dibungkus dengan kulit tepung beras ini memang dikenal sebagai penganan khas Semarang. Tak mengherankan jika sangat mudah menemukan lumpia di kota ini. Di sepanjang Jalan M.T. Haryono, Semarang, misalnya, terdapat puluhan penjual lumpia dengan nama dagang yang sama, yakni Lunpia Mataram.

Saya coba mendatangi salah satu warung yang konon telah berdagang di wilayah tersebut sebelum pecah peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Aroma rebung muda begitu menyeruak. Harga per potongnya Rp 11 ribu. Ukurannya benar-benar mantap. Hanya, makanan yang katanya cocok sebagai oleh-oleh ini rupanya cuma bertahan selama 20 jam. Jadi, paling aman dibeli sebelum menuju bandara.

Lunpia Mataram; Jalan M.T. Haryono 481;Semarang

agendaIndonesia/Andry T./N. Dian/TL

Patio Venue dan 19 Jenis Piza: Asin-Manis

Patio Venue di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menawarkan casual dining dengan hidangan Italia dan pilihan piza yang berlimpah. Tadiya menjadi alternatif berkumpul keluarga. Saat ini di tengah pandemi, hanya menerima take out.

Patio Venue

Pagar tembok dan pepohonan rindang seperti menyembunyikan Patio Venue Jakarta yang terletak di Jalan Wijaya XIII Nomor 45 ini. Ketika melewati dinding temboknya  yang dibiarkan kasar itu, baru lah saya menemukan  bangunan dengan dinding-dinding kaca dan taman-taman kecil dengan kolam ikan koi.  Terasa keteduhan mendominasi.

Ketika melangkah masuk, lantai kayu dan warna cokelat pada kursi, serta bagian piza dan bar pun menyemburkan suasana hangat. Suasana khas sebuah rumah. Saya memilih pojok yang terang, dekat dinding kaca dengan taman kecil. Melirik pembakaran piza di salah satu pojok, saya pun sudah bisa menebak, piza lah yang menjadi menu utama di restoran, yang berada di bawah bendera Plataran Indonesia, ini. Ehmm… siapa takut dengan piza tipis renyah untuk makan siang yang santai seperti ini?

Di sebelah saya, meja menjadi ajang kumpul empat ibu Jepang berusia 40 tahunan. Di depan saya, Theresa Yudistira, Corporate Marketing Communications Manager Plataran Indonesia menjadi rekan makan siang kali ini. Ia pun bertutur tentang Patio yang semula merupakan venue atau area yang disewakan untuk acara atau pesta. Tahun 2014, Patio beroperasi sebagai restoran dengan menu khas Italia dan label Patio Tortaria & Pizzeria. Saya masih menemukan nama tersebut terpahat pada tembok kecil di depan restoran.

Sajian Italia dipilih karena menurut Theresa memiliki rasa asam dan pedas yang akrab dengan lidah lokal. Lantas, Oktober lalu, restoran pun berubah konsep menjadi casual dining. Menu piza dari tujuh jenis ditambah menjadi 19 pilihan. Kemudian, ditambahkan pula camilan, seperti chicken wings. Selain itu, setiap Rabu malam, pada pukul 19.00-22.00, tampil grup semi akustik  Lalahuta dengan tembang-tembang Top 40’s.

Sungguh menjadi malam yang hangat ditemani salad, piza, pasta, atau steak. Piza, sebagai menu dengan pilihan terbanyak, disajikan dalam olahan orisinal, kombinasi, hingga dibuat manis. Salah satu unggulanya adalah pizza confungi, yang terdiri atas dua jenis jamur dan permukaannya diselimuti keju. Tapi, piza seharga Rp 99 ribu itu memunculkan rasa jamur yang dominan. Bagi yang doyan keju, bisa memilih quatrro fromaggi yang memadukan empat jenis keju. Lantas, piza tanpa daging merupakan sajian spesial untuk vegetarian. Ada pula piza yang dibubuhi bebek atau daging dan sejumlah ikan laut.

Selain itu, ada beragam pasta, seperti capelli d’Angelo all’Aragosta, yakni sajian pasta jenis angel hair dengan lobster, bawang putih, dan potongan cabe seharga Rp 99 ribu. Tapi, saya mencicipi linguine primavera seharga Rp 149 ribu. Sajian ini diberi tanda dua cabe di buku menu, tanda makanan berasa pedas. Udang menjadi hiasan di bagian atas dan tomat cherry bertaburan memberi warna segar. Selain itu, juga terselip potongan cabe yang membuat lidah sedikit terbakar.

Bagi yang tidak doyan gurih dan asin, ada pula piza yang manis, di antaranya diberi nama tutti fruit, yang mencampurkan buah kiwi, stroberi, jeruk, peach, dan alpukat. Piza ini seharga Rp 69 ribu. Ada juga rasa tiramisu dan chocolato banana, tak ubahnya seperti hidangan cuci mulut yang tertera di menu. Ada juga tiramisu, panna cotta, cassata, dan tentunya tartufo bianco, yang saya cicip hangat-hangat dengan bagian dalamnya berupa cokelat putih yang meleleh.

Restoran dengan area pemanggangan piza yang terbukaini berkapasitas 120 orang. Biasanya, restoran  ramai dikunjungi saat malam hari dan akhir pekan. Pesta keluarga, arisan, hingga pertemuan bisnis pun kerap digelar di sini. Ada tiga ruang privat berkapasitas 6-20 orang. Dua ruang bisa dibuka sekatnya, hingga kapasitasnya bisa mencapai 20 tempat. Tiap ruang menghadap ke kolam koi. Dua di antaranya menyuguhkan dinding-dinding dengan hiasan tanaman anggrek.  Bagian tengah, restoran bisa dijadikan satu area khusus  dengan kapasitas 80 orang.

Karena pemilik menargetkan pangsa pasar 30 tahun ke atas, ketika ruangan penuh dengan tamu pun, keriuhannya berbeda dengan tempat yang digandrungi anak muda. Meski demikian, ada juga anak muda yang datang.  Hanya, restoran ini tidak ditujukan untuk nongkrong. “Bar hanya menjadi pelengkap,” ujar Theresa.  l

Patio Venue Jakarta ; Jalan Wijaya XIII no 45; Kebayoran Baru; Jakarta Selatan

Operasional; Pukul 11.00-23.00 (Saat kondisi normal, sebelum kejadian pandemi)

*****

Patio Venue, salah satu resto di bawah bendera Plataran, perusahaan yang berkecimpung di bidang pariwisata.
Patio Venue di bawah kelompok The Plataran. Foto: istimewa.

Dari Resto hingga Kapal Pesiar

Patio Venue merupakan salah satu restoran yang berada di bawah bendera Plataran. Perusahaan ini berkecimpung di bidang pariwisata, mulai dari resor, kapal pesiar, restoran, hingga aktivitas ekowisata. Propertinya tersebar di beberapa kota. Misalnya  di bawah Plataran Hotels & Resorts ada  Plataran Puncak, Plataran Borobudur, Plataran Canggu Bali, Plataran Ubud, Plataran Menjangan, dan Plataran Komodo.

Sedangkan, kelompok venue and dinings terdiri atas Plataran Dharmawangsa dan  Patio Venue di  Jakarta. Ada pula The View Restaurant di  Munduk, Bedugul, Bali. Kemudian, Stupa Restaurant di Magelang serta Atlantis Beach Club di Labuan Bajo, Flores. Juga ada Plataran Private Cruises di  Flores dan Menjangan Bali. Saat ini, tengah dikembangkan juga resor di Bromo dan Sumba.

agendaIndonesia/Rita N.

Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk di Krui

Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk saat berkunjung ke Kriuk di Kabupaten Lampung Barat. Tuhuk tak lain adalah ikan marlin, ukurannya bisa mencapai  40 kilogram dan dagingnya diolah menjadi beragam sajian.

Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk

Bila melintasi Pulau Sumatera dengan menyisir sisi barat, ada daerah pesisir yang akan dilalui dan banyak diburu para peselancar, yakni Kabupaten Krui. Di kota yang semula bagian dari Kabupaten Lampung Barat ini, ada destinasi wisata yang cukup dikenal, bahkan hingga ke mancanegara, yakni Tanjung Setia. Di kawasan ini, deretan home stay  diisi para peselancar dari berbagai benua, yakni Benua Australia, Asia, Amerika, hingga Eropa.  Nah, selain pilihan restoran di masing-masing home stay,  mengisi perut di seputar Pasar  Krui pun bisa jadi pilihan.

Tak jauh dari Dermaga Krui, ada dua restoran yang bisa dituju untuk mencicipi sajian khas ikan, yakni setuhuk atau tuhu. Ikan yang dimaksud adalah ikan marlin. Hanya, mengingat ada dua jenis, yakni blue marlin dan black marlin, bila melihat hasil tangkapan para nelayan, yang dimaksud adalah black marlin. Ikan berparuh panjang ini dikenal dengan dagingnya yang lembut. Di Pasar Krui, yang tak jauh dari dermaga, ikan dijual dengan variasi harga, tergantung musimnya.

Salah satu staf di Rumah Makan Uncu Rina, yang berada di samping Kantor Bupati Krui, menyebutkan bila sedang musim, harga ikan tuhuk sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Namun, saat ikan setuhuk sulit didapat, harga bisa melambung hingga Rp 90 ribu per kilogram. Para pendatang maupun turis dipastikan mencari sajian ikan setuhuk bila mampir ke Krui. Sajian yang dicari beragam, baik yang berupa sate maupun yang diolah menjadi pindang.

Sate Tuhuk

Tampilannya memang seperti sate pada umumnya. Ada daging yang ditusuk dan sepintas tidak jauh berbeda dengan sate ayam karena daging ikan tuhuk tertutup bumbu kacang yang dihaluskan. Baru terasa berbeda ketika tusuk sate itu masuk ke mulut. Daging yang telah dipotong-potong terasa begitu lembut. Berbeda sekali saat kita mengunyah daging sate jenis lainnya, seperti ayam, kambing, dan sapi. Bahkan, lebih lembut dari daging kelinci.

Potongan ikan tuhuk seperti meluncur di tenggorokan. Karena berbahan ikan segar, sudah pasti tidak ada aroma manis atau aroma lainnya. Proses pembakarannya tidak selama sate pada umumnya. Cukup 15 menit, sate pun sudah siap disantap. Sate disajikan dengan guyuran bumbu kacang dan kecap. Tersedia 10 tusuk sate per porsi dengan harga sekitar Rp 15 ribu.

RM Pondok Kuring; Pekon Serai, Pesisir Tengah; Krui

Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Lampung Barat. Salah satunya sop ikan tuhuk.
Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Kabupaten Lampung Barat, di antaranya sop ikan. Foto: Dok. A. Probel-TL

Sop Ikan Tuhuk

Ikan tuhuk tak hanya disajikan dalam olahan sate.  Seperti umumnya daerah Sumatera, ikan marlin pun diolah berupa sop, yang bening, tapi wangi karena taburan daun bawang dan bawang goreng. Ikan diberi tambahan sayuran, seperti wortel yang dipadu dengan sepiring nasi. Paling pas disantap saat masih hangat. Hanya sebaiknya, ikan disantap saat langit di Krui mulai gelap. Apalagi saat angin laut sudah mulai berputar-putar di sekitarnya.

Seporsi sop ikan tuhuk dipatok dengan harga Rp 10 ribu. Sop ini menjadi salah satu sajian yang ditawarkan rumah makan Uncu Rina. Rumah makan yang berdiri sekitar tujuh tahun lalu ini dikelola oleh satu keluarga. Seperti beberapa rumah makan di Krui, unggulannya tentu olahan dari ikan tuhuk meski saat musim angin barat datang, jenis ikan ini lebih sulit diperoleh.

RM Uncu Rina

Pasar Krui

Krui

Pindang Menyegarkan

Tidak jauh dari daerah Sumatera Selatan yang terkenal dengan olahan pindang ikan, Lampung pun menawarkan kesegaran khas yang sama. Bahkan, dengan hasil para nelayan berupa ikan tuhuk, suguhan khas ketika ke Krui pun berupa pindang ikan tuhuk. Tampilannya seperti umumnya olahan pindang. Kuah berwarna kecokelatan dipadu dengan potongan cabe dan daun kemangi. Potongan ikan tuhuk berwarna putih dan berukuran cukup besar pun langsung menggoda.

Rasa asam dari buah asem, serta wangi serai dan kemangi membuat pindang dengan daging ikan yang lembut, menyegarkan saat disantap siang hari. Satu piring nasi habis tanpa terasa. Per porsi sajian pindang ini dipatok dengan harga sekitar Rp 20 ribu.

RM Uncu Rina

Pasar Krui

Krui

agendaIndonesia/Rita N./A. Probel

Ucok Durian Medan, Kelezatan 24 Jam

ucok durian Medan menjadi ikon kuliner kota Medan, Sumatera Utara.

Ucok Durian Medan adalah ikon atau simbol pariwisata ibukota Sumatera Utara. Ia mungkin satu-satunya nama tempat nongkrong, atau tempat kuliner, atau sebutlah apapun itu, yang sangat khas: apapun tentang durian.

Ucok Durian Medan

Kedai Ucok Durian milik Zainal Abidin Chaniago sudah berdiri puluhan tahun, hampir 40 tahun melayani penggemar buah ikonik ini. Ucok, demikian Zainal biasa disapa kerabat dan handai taulannya, nyaris identik dengan durian hingga di depan kedainya ia berani memasang tulisan “Jangan bilang pernah ke Medan!!! Kalau belum mampir ke Ucok Durian”. Mungkin terasa sedikit angkuh, tapi apa boleh buat, begitulah kenyataannya.

Semboyan itu bisa jadi benar. Bebarapa tahun terakhir sejumlah biro perjalanan yang membawa wisatawan domestik maupun dari manca negara memasukkan tempat Ucok ini dalam itinerary tamunya. Umumnya siang sesudah jam makan siang, atau malam hari. Sering kali menjadi spot wisata Medan terakhir pada larut malam.

Betul, kadang bahkan menjelang tengah malam. Tak perlu heran, sebab kedai Ucok Durian buka 24 jam. Ini di saat normal dulu, sebelum pandemi. Jadi pengunjung bisa datang kapan saja. Pagi-pagi sekali pun tak jarang bisa dilihat sudah ada penggila durian yang ‘nongkrong’ di sini.

Kedai Ucok Durian di Jalan Pelajar Nomor 46, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, ini sudah berdiri sejak 29 tahun yang lalu. Begitupun, Zainal sudah bergelut dengan buah beraroma kuat ini lebih lama lagi. Hampir 40 tahun. Pengalaman panjang yang membuatnya tahu memilih buah durian yang enak. Tak peduli dari kebun atau daerah mana, yang pasti durian darinya ditanggung enak.

Ucok Durian Medan menjadi salah satu pilihan wisata di kota Medan.
Ucok Durian Medan menjadi salah satu ikon kuliner di kota Medan, Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Citra jaminan duren enak ini tentu tak diperoleh Zainal seketika. Ia mengaku pernah mengalami jatuh bangun selama berjualan durian puluhan tahun. Ia memulai petualangannya di dunia perdurianan dengan menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Medan. Namun ia tak sekadar bekerja melayani pembeli. Saat bekerja itu, ia manfaatkan untuk memahami seluk-beluk durian. Soal buahnya, juga jaringan pemasoknya. Bertahun-tahun bekerja di tempat orang, muncul hasrat untuk membuka usaha sendiri. “Saya mulai berjualan dari kaki lima, hingga kini sudah ada kedai dan nama yang  melekat dengan kota Medan,” katanya seraya bercerita dirinya mulai berjualan sendiri sejak usia 24 tahun.

Sambil berjualan, Ucok tak lupa untuk terus belajar mengenai buah durian. Dari berbagai cara. Mulai dari ngobrol dengan pengepul durian yang mengantar durian ke lapaknya berjualan, hingga menyambangi petani durian di berbagai tempat. Itu dilakukannya ke banyak tempat dan kebun pusat-pusat durian di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, bahkan seluruh Sumatra.

Di kedai Ucok ini tersedia durian-durian  segar yang dapat langsung dinikmati pengunjung. Pengunjung bisa memilih cara menikmati duriannya: tinggal duduk di bangku dan minta durian dipilihankan karyawan Ucok; atau langsung memilih sendiri durian yang dikehendaki. Semuanya sama saja. Umumnya sih pengunjung memilih langsung duduk di bangku yang tersedia, durian dipilihkan, dibukakan duriannya, dan mereka tinggal menikmati.


Bagaimana kalau durian yang dipilihkan atau kita pilih sendiri dan dimakan langsung di tempat rasanya kurang sesuai? Jangan khawatir, pengunjung bisa langsung menukarkannya tanpa tambahan harga. Untuk durian yang sudah telanjur terbuka, juga tidak akan terbuang percuma. Nantinya durian-durian ini akan dipasok ke usaha rumahan untuk diolah menjadi aneka camilan berbahan dasar durian

Setiap hari selalu saja ada durian yang datang ke kedai Ucok Durian. Jika sedang musim, jumlahnya bisa mendapat pasokan sekitar 6 ribu buah durian. Lebih dari separuh dari jumlah tersebut umumnya habis diserbu penggila durian pada hari tersebut.

Jika tak habis terserap, atau ada durian yang ditukar konsumennya, Ucok tetap tenang, sebab durian-durian tersebut kemudian disalurkan menjadi aneka olahan berbahan durian. Mulai dari pancake durian, daging durian, durian beku, es krim atau kripik durian. Sebagian malah dijual di kedai tersebut. Sebagian lain dikirim ke lain daerah. Tak hanya di sekitar Medan, bahkan hingga ke pulau Jawa.

Jika punya waktu, tempat ini adalah pilihan untuk duduk reriuangan dengan kawan-kawan (tentu jika kondisi sudah mengijinkan, saat ini masih pandemi). Ngobrol sambil menikmati aneka makanan durian.

Namun, jika pengunjung cuma waktu yang mepet dan harus kembali ke kota asal, karyawan Ucok Durian akan membantu mengupas durian yang dipilih kemudian memasukkannya ke dalam wadah yang tertutup rapat sehingga bau menyengat tidak meruap keluar.

Jadi, sudahkah Anda mengunjungi Ucok Durian di Medan? Jika belum, ayo agendakan kunjungan ke tempat ini jika pada waktunya Anda bisa main ke Medan. Sebab, seperti kata Ucok, rasanya tidak lengkap mengunjungi Medan jika tidak mencicipi durian dari Ucok Durian.


agendaIndonesia

*****

Sate Klatak Yogya, Satu Porsi 2-3 Tusuk Saja

Sate Klatak Yogya menjadi alternatif wisata kuliner jika berkunjung ke Yogyakarta

Sate klatak Yogya menambah kekayaan kulinari Yogyakarta. Setelah gudeg, kini kota pelajar itu punya wisata kuliner lain yang layak diburu dan dinikmati.

Sate Klatak Yogya

Untuk warga Yogya, sesungguhnya sudah lama mengenal sate klatak ini. Namun, harus diakui, untuk skala yang lebih luas makanan ini baru diketahui publik ketika salah satu warung yang berjualan sate klatak menjadi lokasi pembuatan film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Yogyakarta memang istimewa, seperti semboyan warga kotanya. Mereka memiliki berbagai macam kekayaan kuliner, salah satunya adalah sate yang hanya ditemukan di sini, berbeda dengan sate kebanyakan. Sate Klatak muncul dari kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul. Tepatnya di pasar Jejeran, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Ya, lokasinya di pasar Jejeran yang kalau siang dipakai sebagai pasar tradisional. Warung Sate Klatak di sini memang baru hidup pada malam hari, mulai pukul 18.00 WIB.

Keistimewaan pertama jenis sate ini adalah bahan bakunya. Sate Klatak adalah sate kambing. Jadi jangan mencari sate klatak berbahan daging sapi atau atau, atau malah daging hewan lain.

Perpedaan ke dua dengan sate lain, adalah bumbu saat mengolahnya dan kemudian saat penyajiannya. Sate klatak tidak menggunakan bumbu kecap atau kacang, dan hanya dibumbui dengan garam. Konon, menurut salah satu versi cerita, karena bumbu garam inilah yang ketika dipanggang di atas bara menimbulkan efek bunyi “klatak, klatak” atau “kletek, kletek” maka masakan ini disebut sate klatak.

O iya, walaupun dengan bumbu pengolahan sangat sederhana, sate klatak sangat diminati pengunjung. Umumnya mereka justru mengatakan menemukan rasa khas daging kambingnya karena bumbu yang simpel tersebut.

Sate klatak Yogya salah satu ciri khasnya dibakar dengan menggunakan jeruji sepeda.
Sate klatak Yogya, pembakarannya dengan menggunakan jeruji sepeda sehingga matang sampai ke dalam. Foto: Shutterstock

Keistimewaan sate klatak yang lain tidak berhenti sampai di situ, keistimewaan lain Sate Klatak adalah pada proses pembakarannya. Daging kambing yang sudah dipotong-potong dadu tidak ditusuk dengan tusukan dari bambu, namun menggunakan besi jeruji sepeda. Penggunaan jeruji ini dipercaya dapat menghantarkan panas yang lebih baik sehingga daging matang hingga ke bagian dalam.

Perbedaan yang lain, satu porsi sate klatak biasanya hanya berisi dua sampai tiga tusuk saja. Potongan dagingnya memang lebih besar dari sate kambing biasa. Satu porsi sate klatak biasanya disajikan bersama kuah yang mirip dengan kuah gulai. Bagi yang suka pedas, bisa meminta irisan cabai rawit untuk dicampurkan ke dalam kuah kare.

Melihat sejumlah perbedaan atau keistimewannya, tentu timbul pertanyaan dari mana asal-usul sate ini. Ada satu-dua versi tentang hal ini. Satu cerita menyebut, sate klatak bermula dari seorang bernama mbah Ambyah yang memiliki ide menjual sate kambing karena memiliki banyak kambing. Awalnya ia berjualan sate di bawah pohon melinjo. Buah mlinjo ini kadang disebut sebagai buah klatak. Dari buah mlinjo yang berserakan sekitar warung sate inilah muncul nama sate klatak.

Versi yang lain menyebut, sate klatak ini bermula ketika seorang kusir andong yang bernama Jupaini. Suatu ketika ia memutuskan beralih mata pencaharian dengan berjualan sate kambing. Namun sate yang ia jual berbeda dengan sate yang lainnya, dimana ia hanya membumbui daging kambingnya dengan garam saja sebelum dibakar. Seperti disebut di muka, pada saat sate itu dibakar lantas mengeluarkan suara “klatak klatak” yang bersal dari garam tersebut. Jupaini inilah yang disebut berinovasi menggunakan jeruji sepeda sebagai penggati tusuk satenya.

Manapun versi yang benar, akhirnya konsumen penggemar sate kambinglah yang diuntungkan, karena memperoleh alternatif menikmati kuliner dari hewan ini. Warung-warung sate klatak mudah dijumpai di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Meskipun belakangan, ada juga yang membuka warung sate klatak di Yogyakata sebelah utara.

Sate klatak Yogya dibakar dengan menggunakan arang, bumbu garam yang menetes menyebabkan bunyi klatak-klatak...
Sate klatak Yogya dibakar dengan tungku dan areng. Foto:iStock

Lalu manakah sate klatak yang paling enak? Enak tentu saja subyektif, namun berikut ini ada beberapa warung sate klatak yang bisa dijadikan pilihan.

Warung Sate Klatak Pak Jupaini; Jalan Imogiri Timur, Bantul, Yogyakarta

Warung sate ini menggunakan nama sang pelopor sate klatak dan termasuk salah satu warung sate klatak yang cukup fenomenal dan hampir selalu ramai. Mungkin karena sejarah bahwa warung ini adalah menemukan resep sate klatak.

Pengunjung yang ingin mencicipi lezatnya menu kambing di warung ini harus sabar menunggu hingga satu jam, karena ramainya warung sate ini. Selain sate klataknya yang terkenal, ada beberapa menu lain yang juga favorit, seperti tengkleng dan tongseng otak kepala kambing.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Pong; dekat  hutan pinus Imogiri, Bantul

Ini terkenal dengan menu satenya yang bebas bau kambing. Bumbunya juga spesial meresap sampai ke dalam. Pak Pong adalah Cucu dari Pak Jupaini, sang penemu resep sate klatak. Jadi wajar jika cita rasanya otentik. Menu lain yang nggak kalah unik, yaitu tengkleng gajah. Bukan dari tulang gajah, tentu, melainkan karena porsinya yang jumbo. Selain itu, ada juga nasi goreng yang digoreng menggunakan arang sehingga aromanya sangat khas.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Bari; Pasar Wonokromo Imogiri Timur, Bantul

Warung ini baru dibuka setelah pasar Wonokromo Imogiri timur tutup dan buka sampai dini hari. Warung sate klatak ini sudah cukup melegenda, berjualan sejak tahun 1940-an, pak Bari merupakan generasi ke-3 penerus usaha kuliner ini. Yang lebih istimewa, warung pak Bari lah yang dipergunakan sebagai lokasi film Ada Apa dengan Cinta 2.

Buat wisatawan yang menginap di Yogyakarta bagian utara, nggak perlu jauh-jauh ke selatan untuk menikmati gurihnya sate klatak Yogya. Di wilayah bagian utara juga terdapat warung sate klatak yang juga nikmat cita rasanya.

Sate Klatak Jogja Pak Jede, di Jalan Nologaten, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di warung ini sate klatak disajikan dengan bumbu sederhana, yaitu garam, merica, serta tambahan kuah. Selain sate klatak, warung makan ini juga menyediakan menu lain seperti tongseng kambing, nasi goreng kambing, gulai kambing, sate kambing, tengkleng, gulai jeroan. Yang asyik, warung ini buka mulai siang, pukul 11.00 sampai dengan 23.00.

Warung Sate Klatak Pangestu; Jalan Damai No. 10, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Warung ini termasuk laris konon dan sampai membutuhkan tiga ekor kambing per hari untuk membuat berbagai menu daging kambing, seperti sate klatak, tongseng, tengkleng, nasi goreng kambing, bahkan hingga olahan jeroan kambing.

Manapun yang dipilih, semuanya enak. Tinggal kamu agendakan kunjungannya.

agendaIndonesia

*****