Jember Jawa Timur, Kota 1.000 Oleh-oleh

Jember Jawa Timur, kota 1000 oleh-oleh di antaranya opak gulung

Jember Jawa Timur tidak cuma identik dengan suwar-suwir. ,Kota ini juga punya sederet alternatif buah tangan lain yang menarik untuk dibawa pulang.

Jember Jawa Timur

Jember menyandang segudang julukan. Mulai dari yang agak bercanda karena banyaknya polisi tidur di jalanan sehingga ada yang memberi nama Kota 1.000 Polisi Tidur, Kota Tapal Kuda, Kota 1.000 Bukit, Kota Tembakau, Kota Karnaval, hingga Kota Suwar-Suwir. Julukan itu amat mungkin berangkat dari sudut pandang si pemberi julukan.

Namun, jika saja si pemberi sebutan tersebut mengambil dari sudut pandang oleh-oleh, mungkin dia akan menjuluki kota di Jawa Timur ini sebagai Kota 1.000 Oleh-oleh. Ya, bisa saja begitu. Karena Jember punya beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang para pelancong. Apa saja itu?

Suwar-suwir

Rasanya kurang afdal jika tidak memasukkan penganan ini sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun bagi orang awam yang belum pernah makan penganan khas Jember ini pasti akan bertanya-tanya jenis makanan apa ini? Bentuknya kotak-kotak kecil memanjang menyerupai kotak balok mini. Warna pun beraneka ragam, dari hijau, cokelat, putih, hingga merah.

Oleh-oleh khas Jember ini sekilas mirip dodol, tapi strukturnya lebih padat. Hanya, saat digigit begitu lembut dan lumer di lidah. Rasanya legit, manis, dan bercampur kecut. Selintas seperti sedang mencicipi tape. Oleh-oleh ini dibuat dari bahan tape, gula, dan tepung. Kemudian, dijemur matahari supaya kering dan tahan lama. Penganan ini cocok dijadikan teman camilan minum teh. Harganya ialah Rp 15 -20 ribu per kotak.

Prima Rasa; Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Opak Gulung

Banyak nama yang diberikan untuk jajanan ringan tradisional Indonesia ini. Ada yang menamakannya opak gambir, kue semprong, atau opak gulung. Kendati berbeda, semuanya memiliki karakteristik yang sama, yaitu renyah saat dikunyah. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka, gula, telur, wijen, dan santan. Semua bahan dibuat adonan, kemudian dipanggang di atas api.

Bentuk umum yang sering dijumpai di pasaran adalah digulung atau dilipat menjadi empat dan ada juga yang berbentuk kipas. Di Jember, pelengkap sajian yang biasanya hadir pada saat Lebaran itu akrab dinamai opak gulung. Per bungkus dikenai harga Rp 27 ribu.

Depot Jawa Timur; Jalan Gatot Subroto No 8; Jember

Tas Batik

Batik Jember mungkin tak setenar batik Solo atau batik Yogyakarta. Meski begitu, batik kota ini tak kalah menarik. Dikenal memiliki corak yang khas, yakni motif daun tembakau. Dipilih corak tersebut karena Jember merupakan salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia.

Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, batik Jember sudah banyak yang dijadikan tas atau kemeja pria. Kain batik Jember dipasarkan mulai Rp 135 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan untuk kemeja pria dijual seharga Rp 187 ribu. Lain halnya dengan tas batik yang dijual dari harga Rp 85 ribu.

Toko Primadona; Jalan Trunojo No 137; Jember

Terasi Udang

Rasanya kurang lengkap jika kita mengunjungi Jember, tapi tidak membeli terasi. Maklum saja, kota ini memang dikenal sebagai salah satu kota penghasil terasi. Jenis penyedap masakan ini diolah di Puger—daerah penghasil udang terbaik di kota ini. Terasi dari daerah ini terkenal berkualitas tinggi dan beraroma harum. Bahkan konon sudah terkenal hingga ke Belanda.

Saking banyaknya merek dan ukuran yang dijual terkadang membuat kita justru bingung memilihnya. Apalagi semua produknya mengklaim berasal dari Puger. Karena itu, jangan segan bertanya kepada penjual atau meminta rekomendasi kepada teman yang sudah pernah mencicipinya. Namun yang pasti harganya mulai dari Rp 10 ribu.

Prima Rasa

Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Jember Jawa Timur menyandang berbagai julukan, mungkin salah satunya adalah kota 1000 oleh-oleh karena banyaknya buah tangan yang bisa dibawa dari kota ini.
Proll tape, cake tradisional di Jember, Jawa Timur, yang berbahan baku dari tape singkong. Foto: dok. shutterstock

Proll Tape

Pelancong yang ingin membawa oleh-oleh khas Jember mungkin bisa memilih proll tape sebagai alternatif. Kue yang terbuat dari tepung terigu, tape singkong, susu, mentega, dan telur ini rasanya hampir seperti cake, tapi aroma rasa tapenya sangat terasa. Dibubuhi tambahan yang  beragam, dari keju, kismis, hingga cokelat.

Proll tape dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh yang berada di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Trunojoyo. Biasanya dikemas dalam kardus dari berbagai merek, antara lain, Purnama Jati dan Anis. Harganya adalah Rp 19 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 23 ribu untuk ukuran besar.

Sumber Madu; Jalan Gajah Mada No 103; Jember

agendaIndonesia/Andry T./Aditya H/TL

*****

Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****

Levitasi Aksi Melayang 50 sampai 100 Centimeter

levitasi aksi melayang antara 50 hinga 100 centimeter

Levitasi, aksi melayang dalam proses pembekuan optikal menjadi menarik. Orang-orang seperti berada di udara, antara 50 hingga 100 centimeter. Terbang atau melayang. Gaya ini terinspirasi dari si “gadis melayang” Natsumi Hayashi, komunitas levitasi tumbuh marak di Indonesia. Lahirlah kreasi-kreasi-kreasi yang unik.

Levitasi Aksi Melayang

… Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban di hatiku
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang…

Penggalan lagu Melayang yang dilantunkan penyanyi rap Iwa K. sepertinya cocok menggambarkan hasil kegiatan komunitas fotografi LevitasiHore. Betapa tidak, hasil karya fotografi mereka kebanyakan menampilkan obyek foto yang melayang di udara. Unik sekaligus kreatif.

“Foto levitasi berbeda dengan foto yang sekadar loncat (jump shot). Dalam foto levitasi, harus terlihat bahwa seseorang atau sesuatu sedang benar-benar melayang tanpa beban dengan tanpa bantuan apa pun. Ini didukung dengan kemampuan model untuk berpose melayang sepersekian detik saat dia melompat dan kemampuan fotografer untuk mengabadikan momen tersebut,” tutur Haryanto, admin LevitasiHore Bandung, Jawa Barat.

Menurut pria yang akrab disapa Boye itu, fotografi levitasi memiliki keunikan tersendiri daripada teknik fotografi lain. Dalam levitasi ini, keselarasan serta kekompakan antara fotografer dan model merupakan syarat mutlak agar gambar yang dihasilkan terlihat lebih alami.

Boye menegaskan bahwa fotografi levitasi jauh berbeda dengan pengambilan gambar jump shoot biasa. “Kalau fotografi biasa, semuanya tergantung pada fotografer. Tapi, kalau ini, antara fotografer dan model harus kompak. Yang jelas, gambar melayangnya harus natural, seolah tidak sedang meloncat. Hanya melayang di udara,” ujarnya. Karena itu,  mereka mengusung slogan “We levitate, not jump”.

Selain itu, untuk menghasilkan foto “melayang” yang indah dibutuhkan pencahayaan natural yang sangat baik serta waktuyang tepat dari sang fotografer saat mengambil gambar. Kendati begitu, teknik fotografi ini tidak membutuhkan kamera canggih seperti digital single lens reflect (DSLR). “Kamera saku atau kamera smartphone juga bisa digunakan,” kata mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung itu.

Andaikata membutuhkan peralatan khusus, kata Boye, paling hanya flash. “Itu pun kalau pencahayaan di sekitar dirasakan kurang. Atau memakai remote shutter jika untuk dipakai selfie, kan lagi musim tuh sekarang,” ia menambahkan sembari terkekeh.

Levitasi aksi melayang antara 50 sampai 100 centimeter sehingga seperti layaknya orang sedang terbang dalam bekuan optikal.
Levitasi aksi melayang merupakan kreasi dari para pecinta fotografi. Foto: Dok. Eldo Setiawan/LevitasiHore, Surabaya

Teknik levitasi yang anti-gravitasi itu memang kian digemari. Walhasil, komunitasnya tumbuh subur di beberapa daerah beberapa tahun belakangan ini. Awalnya bermula dari Jakarta yang dibentuk pada 25 Desember 2011. Kemudian menjalar cepat ke berbagai daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, Sukabumi, Kediri, Karawang, Surabaya, Solo, Semarang, dan luar pulau, seperti Padang, Palembang, Medan, Makasar, Jambi, dan lainnya.

Meski dalam penggarapannya tergolong serius, tapi komunitas penggemar fotografi levitasi lebih mengutamakan cara saling berbagi cara membuat foto levitasi dengan senang. “Senang itu bisa disamakan dengan ‘hore’. Bisa dibilang itulah alasan digunakan kata ‘hore’ di belakang komunitas ini,” kata dia.

Menurut Boye, komunitas ini berdiri karena terinspirasi dari Natsumi Hayashi. Hayashi menjadi sensasi Internet selepas ia mengunggah foto dirinya melayang hampir di semua tempat di Tokyo. Hasil karya Hayashi yang dimuat di yowayowacamera.com menuai pujian. Meski untuk mendapatkan hasil foto levitasi tersebut, Hayashi yang belakangan dijuluki si “Gadis Melayang” itu harus melompat berulang kali.

Bahkan ia sempat dikira gila karena melompat-lompat sendirian di depan sebuah toko. Sang pemilik toko juga hampir sempat memanggil polisi sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya melakukan aksi loncat-loncat tersebut.

LevitasiHore Bandung sendiri terbentuk pada 3 April 2012. Anggotanya beragam, dari siswa SMA hingga pegawai bank. Kegiatan pemotretan dilakukan hampir di setiap tempat di kota Bandung, pinggir jalan kota Bandung, pusat sajian kuliner, gunung sampai, dan tebing Keraton yang sedang booming pun pernah dilakukan. Bukan hanya itu, LevitasiHore Bandung juga sempat mengadakan kolaborasi bersama komunitas lain, seperti Bulb, Kofipon, Urban Jedi, dan komunitas Cosplay.

LevitasiHore Surabaya, Jawa Timur, pun tak kalah seru. Komunitas yang didirikan pada 1 April 2012 ini bahkan sudah memiliki lebih dari 1.700 anggota yang terdaftar di media sosial mereka. “Biasanya kami rutin mengadakan kopi darat (pertemuan) tiap Jumat pukul 7 malam di warung kopi di Jalan Indrakila No 1, Surabaya,” ujar Eldo Setiawan, Ketua LevitasiHore Surabaya.

Kepada calon anggota yang berada di Surabaya, Eldo mempersilakan untuk bergabung tanpa dikenakan iuran. “Lewat komunitas ini, kita dapat berbagai teknik fotografi levitasi dan menemukan inspirasi lain,” ujarnya.

Nah, tertarik dengan fotografi levitasi? Untuk mengetahui kegiatan rutin dan mengenal levitasi, silakan saja follow Twitter @LevitasiHoreBDG atau @ LevitasiHoreSby. Dan bukan tak mungkin, suatu saat pembaca dapat memotret dengan gaya levitasi saat melancong. Melayang dan melayang…

agendaIndonesia/Andry T. for TL

******

Tenun Bentenan Minahasa Unik Lahir di Abad Ke 7

Tenun Bentenan Minahasa awalnya dibuat pada abad ke-7 oleh suku Minahasa di Sulawesi Utara. Sempat memunculkan corak-corak baru, namun kini corak lama pun dimunculkan lagi.

Tenun Bentenan Minahasa

Hujan turun rintik-rintik di Desa Kolongan Atas Dua, Sonder, Kabupaten Minahasa Induk, Sulawesi Utara, suatu siang. Saya memasuki bangunan dengan halaman luas dan langsung menerobos ke bagian belakang menuju rumah kayu khas Minahasa. Ruangan tersebut tampak terbuka. Siang yang sejuk itu, di dalam ruangan, ada beberapa perempuan “bermain” dengan benang dan alat pintal. Mereka memang dibina oleh Bentenan Center agar bisa kembali menghasilkan karya-karya tenun warisan nenek moyang, yakni kain Bentenan.

Ati, salah satu perajin, menyebutkan sudah sulit menemukan perajin asli yang turun-temurun membuat tenunan Bentenan. Karena itulah untuk mengembalikan tradisi tenun Sulawesi Utara yang sudah tidak banyak dikenal lagi oleh masyarakat ini, didirikan Bentenan Center oleh Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (Karema). Sejumlah perempuan diajari menenun yang khas Bentenan dari awal dan kini mereka rutin melakukannya setiap hari di tempat ini.

Motif lawas yang digunakan kerajaan zaman dulu, menurut Ati, juga dibuat kembali. Di antaranya Kalwu Patola, Tononton Mata, dan Pinatikan. Aslinya, kain Bentenan memiliki tujuh corak. Mulai Tonimala, tenunan dari benang putih di kain putih. Kemudian Sinoi, yang menggunakan benang warna-warni dengan corak garis-garis. Ada pula Pinatikan, yang berupa garis-garis dengan motif jala dan bentuk segi enam. Jenis kain Bentenan ini merupakan yang pertama kali dibuat di Minahasa, selain Tinompak Kuda, yang memunculkan beragam corak yang ditenun berulang. Sedangkan Tononton Mata bercorak manusia, Kalwu Patola bermotif tenun Patola India, serta terakhir Kokera bermotif kembang warna-warni dan dihiasi manik-manik.

 “Kain Bentenan asli yang berusia sekitar 200-an tahun hanya ada di sebuah museum di Belanda,” ucap Ati. Selain jumlah perajin yang minim, peninggalan kaum sepuh memang tidak lagi bisa ditemukan di Minahasa, daerah asalnya. Warisan tersebut ada di sejumlah museum yang kebanyakan berlokasi di luar negeri. Selain di Museum Nasional Jakarta, kain asli Bentenan di antaranya bisa ditengok di Tropenmuseum Amsterdam, Museum voor Landen Volkenkunde Rotterdam, dan Museum fur Volkenkunde Frankfurt am Main.

Kain tenun asli terakhir ditemukan di Ratahan pada 1900. Daerah itu memang, menurut Ati, merupakan asal dari perajin tenun ini. Bentenan tak lain dari nama desa di Pantai Timur Minahasa Tenggara, yang meliputi Distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan, dan Tonsawang. Awalnya, tenunan ini dibuat suku Minahasa sekitar abad ke-7 dari serat kayu yang disebut fuya. Serat tersebut diambil dari pohon lahendong dan sawukouw,yang memang banyak tumbuh di daerah ini. Juga digunakan serat nanas dan pisang, yang disebut koffo. Ada pula serat bambu, yakni wa’u. Nah, baru pada abad ke-15, orang Minahasa beralih ke benang katun. Hasil tenunan inilah yang kemudian dikenal sebagai kain Bentenan.

Di masa silam, kain tenun ini bermutu tinggi. Tak hanya karena teknik pembuatannya yang mengharuskan kain berupa lingkaran tanpa guntingan dan sambungan serta dipasangi lonceng kecil di sekelilingnya, sehingga disebut Pasolongan Rinegetan. Tapi juga karena ada ritual khusus berupa pujian kepada Tuhan.

Tenun Bentenan Minahasa, motifnya menjadi  latar belakang Manado Fiesta 201902
Tenun Bentenan Minahasa motifnya menjadi latar pentas Tarian tradisional saat pembukaan Manado Fiesta 2019. (Foto: Ilustrasi-Dok. Kemenpar)

Kain Bentenan kini telah menjadi oleh-oleh khas dari Manado dan Minahasa. Bila ingin berbelanja sekaligus melihat proses pembuatannya, sekalian menikmati alam Tomohon dan Minahasa yang sejuk, Anda bisa berkendara ke arah Tomohon. Jaraknya hanya 30 kilometer dari Manado. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke arah Minahasa Induk. Bentenan Center tidak jauh dari Tomohon, meski berada di Kabupaten Minahasa Induk.

Di bagian depan Bentenan Center, ada ruang pamer untuk beragam produk. Tersedia dua jenis kain, yakni kain biasa dan songket (timbul). Bukan hanya tenunan, motif Bentenan cetak pun bisa menjadi pilihan para tamu. Menggunakan kain sutra maupun sifon, motif tersebut muncul dalam bentuk gaun, kemeja, hingga lembaran kain. Harga produk bervariasi, mulai Rp 300 ribu. Pada ASEAN Tourism Forum 2012 di Manado, corak Bentenan pun dikenakan para pejabat negeri ini.

agendaIndonesia/Rita N./Hariandi/TL

Sambal ala Belitung, 4 Bisa Jadi Oleh-oleh

Sambal ala Belitung, ada yang berbahan ikan laut, terbentuklah rusip, calok, belacan. Selain itu ada pula yang berbahan tauco.

Sambal ala Belitung

Belitung tak hanya menjadi destinasi untuk menikmati pantai dengan batuan yang mengagumkan. Atau jejak-jejak kisah Laskar Pelangi seperti di layar lebar. Karena sebagaian wilayahnya berupa laut, turis akan menemukan oleh-oleh dengan bahan utama ikan laut yang bisa menjadi hidangan khas di meja makan. Meski ada juga yang terbuat dari kedelai. Beberapa nama tergolong unik, beberapa juga dibuat di daerah lain. Umumnya bisa menjadi diolah kembali dengan bahan lain yang membuat rasa hidangan menjadi lebih sedap, tapi rasanya mantap jika dijadikan sambal. Bisa ditemukan di pasar tradisional seperti pasar tradisional Hatta yang terletak di Jalan Hayati Maklum, Tanjung Pandan. Di pasar ini, dari ikan segar hingga olahannya terbesar di beragai kios. Adapun ragam bumbu sambal itu seperti di bawah ini.

Rusip dari Ikan Bilis

Bisa jadi bagi turis dari luar Belitung, baru mendengar nama yang satu ini. Rusip tak lain ikan teri atau masyarakat Belitung menyebutkan bilis yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan bilis terlebih dulu dicuci, dibuang kepala dan kotorannya lalu ditiriskan. Setelah benar-benar kering diberi garam, dengan cara diremas-remas. Disimpan dalam wadah tertutup selama sehari. Kemudian beri gula merah yang sudah dicairkan.

Simpan lagi dalam wadah tertutup selama seminggu. Jika telah menghasilkan aroma khas dan agak sedikit asam, tandanya rusip sudah siap dikonsumsi. Anda bisa langsung menjadikan sambal yang dilengkapi dengan lalapan. Ada pula sambal rusip yang diolah terlebih dulu dengan menambahkan bawang merah, serai dan cabe rawit plus jeruk kunci khas pulau ini juga. Sajian ini tergolong penggugah selera makan bagi warga setempat. Selain itu, rusip bisa juga menjadi bumbu dalam berbagai  olahan, seperti sajian ikan. Rasa kuah ikan pun kian maknyus dengan tambahan rusip. Di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional bisa ditemukan dalam botol plastik ukuran 200 ml seharga Rp 25 ribu.

Calok dari Udang Mini

Banyak dipajang di toko-toko oleh-oleh ataupun di pasar, yang satu ini juga menjadi hidangan khas di meja makan. Sama-sama diberi wadah botol transparan, hanya calok terlihat muncul dalam warna kemerahan karena terbuat dari udang kecil yang masih segar atau warga setempat menyebutkan udang cencalo alias rebon. Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan rusip. Udang terlebih dulu dicuci bersih kemudian dibubuhi garam yang berfungsi  sebagai pengawet.

Calok sama halnya dengan rusip membikin selera makan meningkat. Dipadu dengan nasi ditambahkan lalapan seperti mentimun, tomat atau sayuran lain. Harga per botol dengan ukuran minuman 200 ml sekitar Rp 35 ribu.

sambal ala Belitung dibuat dari berbagai macam bahan. Bisa jadi alternatif oleh-oleh.
Sambal Ala Belitung mempunya bahan yang bermacam-macam, semuanya bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Rita N.-TL

Belacan Sijok

Terasi menjadi hasil olahan yang banyak ditemukan di daerah pesisir, demikian juga di provinsi Bangka Belitung. Di Kepulauan ini, terasi yang bisa diolah menjadi sambal atau menjadi penyedap berbagai sajian tersebut bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau yang lebih beragam di pasar. Saya menemukan terasi dari Belitung maupun Bangka di toko oleh-oleh. Di Belitung yang terkenal terasi dari Desa Sijok dalam kemasan anyaman pandan.

Namun karena saya kemudian saya berbelanja di pasar, saya menemukan potongan besar terasi dalam warna khas keunguan. Olahan dari rebon segar itu tinggal dipotong-potong sesuai keinginan pembeli. Rasanya memang cukup tajam dan sedikit kasar ketimbang terasi yang telah dikemas rapih.

Bila tak mau repot, Anda pun bisa membeli sambal terasi yang siap saji. Sudah dilengkapi dengan cabe merah sehingga botol sambal ini terlihat merah menggoda. Per botol pada kisaran 25 ribu. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun di pasar.

Tauco Keledai Utuh

Seperti halnya terasi, tauco juga tak hanya dikenal dari satu daerah. Di Jawa Barat tauco Cianjur, tapi ada pula tauco Pekalongan, dan kemudian Medan dan Kalimantan. Di Belitung pun, tauco menjadi salah satu pilihan untuk olahan sambal atau dipadu dengan bahan makanan lain. Hanya terlihat berbeda dari tauco umumnya, meski Anda hanya melihatnya sekilas. Pada umumnya tauco, kedelai sudah tidak terlihat bentuk utuhnya alias sudah hancur, paling hanya beberapa potongan kecil yang tampak. Berbeda dengan tauco Belitung, kacang kedelai terlihat utuh dan warnanya tidak cokelat tua melainkan kekuningan.

Dalam pengolahannya sambal tauco dibuat encer dengan ditambahi bawang putih, cabe rawit, jeruk songkit, dan gula pasir. Tak hanya dipadu dengan nasi tapi juga menjadi sambal paduan untuk otak-otak. Tauco ini bisa ditemukan di pasar dan toko oleh-oleh, per botol pada kisaran Rp 25-30 ribu. l

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Oleh-oleh Pontianak, 5 Yang Layak Dibawa

Oleh-oleh Pontianak yang kh layak dibawa pulang.as kota khatulistiwa ini dan

Oleh-oleh Pontianak ternyata cukup beragam, meskipun mungkin variannya belum sebanyak daerah-daerah yang sudah menjadi pusat-pusat pariwisata di Indonesia, seperti Bali, Yogya, atau Medan. Tapi cukup mudah untuk memilih barang atau makanan sebagai buah tangan sepulang dari ibu kota Kalimantan Barat ini.

Oleh-oleh Pontianak

Kita tahu semua, tidak banyak kota di dunia yang dilintasi garis maya khatulistiwa atau garis equator. Garis Lintang 0 derajad sebagai lintasan matahari. Beruntung Indonesia punya Pontianak, di Kalimantan Barat. Dalam dua kali setahun, di kota ini terjadi fenomena alam yang disebut kulminasi—kondisi yang menyebabkan sebuah benda kehilangan bayangan karena menyatu dengan obyeknya. Ini karena matahari betul-betul tepat berada di atas kota ini. Lucu kan, kita kehilangan bayang-bayang kita sendiri?

Keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi turis lokal ataupun mancanegara. Saat pulang, para wisatawan itu biasanya ingin membawa buah tangan yang khas. Umumnya berupa  miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai bukti pernah berada di kota di titik lintang 0 derajad. Kalaupun bukan itu, pasti orang ingin membawa makanan kecil atau makanan khas setempat. Apa saja pilihan yang ada di kota ini? Berikut alternatif yang bisa dipilih.

oleh-oleh Pontianak ada beragam, setidaknya ada 5 yang layak dibawa sebagai buah tangan.
Oleh-oleh Pontianak salah satunya berupa miniatur tugu katulistiwa). Foto: ilustrasi/TL/Aditia

Miniatur Tugu

Rasanya belum sah berkunjung ke Pontianak jika tidak membeli miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai cendera mata. Suvenir yang satu ini memang unik. Sebab, menyimpan kisah yang menarik dari terjadinya sebuah fenomena alam. Bentuknya yang indah pun membuatnya cocok dijadikan dekorasi ruang tamu.

Miniatur yang dibingkai dalam kaca semakin menjadi indah dengan adanya pemasangan hiasan lampu. Ada yang terdiri atas dua lampu dan lima lampu. Bahkan ada pula miniatur Tugu Khatulistiwa yang dapat berputar pada porosnya. Harganya bergantung pada besar-kecilnya ukuran. Miniatur terkecil dihargai Rp 25 ribu dan terbesar Rp 500 ribu.

Sapta Pesona Khatulistiwa; Jalan Khatulistiwa; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 09.00-17.00

Lidah Buaya Segar

Aloe vera atau yang lebih dikenal dengan nama lidah buaya identik sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Bahkan tak jauh dari pusat kota dibangun kawasan agrowisata yang dikenal dengan nama Aloe Vera Center. Di sepanjang jalan menuju pusat lidah buaya tersebut berjajar warung atau toko yang menjual berbagai olahan lidah buaya. Dari tepung, dodol, kerupuk, hingga minuman.

Nah, minuman sari lidah buaya ini cukup digemari karena rasanya manis dan menyegarkan. Apalagi bila dinikmati dalam keadaan dingin. Potongan daging lidah buayanya empuk dan tidak berserat. Uniknya, para pengolahnya bisa menghilangkan lendir yang biasa melekat pada daging lidah buaya. Harga per baloknya hanya Rp 10 ribu dengan isi lima bungkus kecil.

Sun Vera; Jalan Budi Utomo A6 No. 3; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 07.00-17.00

Dodol Pink

Semua daerah di Indonesia rasanya memiliki dodol. Kue tradisional Nusantara yang populer ini hampir bisa dijumpai di setiap daerah dengan berbagai nama, bentuk, dan rasa. Di Sumatera Barat, dodol dinamai gelamai. Sedangkan di Riau terkenal dengan nama lempuk. Adapun di Jawa Tengah dikenal dengan nama jenang. Lain lagi di Jawa Barat, tapi ada yang terkenal, yakni dodol Garut.

Di Pontianak sendiri namanya tetap dodol. Tapi dengan embel-embel: kelapa Segedong. Penambahan embel-embel kelapa dan Segedong tak lepas dari bahan yang digunakan dan asal pembuatannya. Disebut dodol kelapa karena menggunakan bahan dari kelapa. Adapun disebut Segedong karena tempat itu merupakan daerah pembuat dodol. Jika biasanya dodol berwarna cokelat, warna dodol kelapa Segedong ini justru merah muda alias pink. Harganya hanya Rp 10 ribu per bungkus.

Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.00-24.00

Kelegitan Lempok

Mirip-mirip dengan dodol, Pontianak juga terkenal dengan lempok. Oleh-oleh khas Pontianak ini banyak dijual di pusat oleh-oleh di kota ini. Sebagian besar wisatawan yang pernah mampir ke Pontianak pasti membeli lempok durian Pontianak. Sensasi kelegitan lempok dan rasa duriannya yang dahsyat pasti membuat kangen bagi yang sudah merasakannya. Satu bungkusnya dijual beragam. Salah satu toko, yang menjual lempok durian seharga Rp 35 ribu per bungkus dengan isi 10 bungkus kecil, saya sambangi.

Toko Asia; Jalan Pattimura No. 12; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.30-21.00

Kopi Pontianak

Jika berkunjung ke satu daerah hampir dipastikan kita dapat menemukan kopi dengan mudah. Begitu pula di Pontianak. Ada satu produsen kopi yang populer di Kota Khatulistiwa itu. Tokonya terlihat seperti bangunan lama. Begitu pula dengan lemari penyimpan atau meja yang digunakan sama kunonya.

Namun yang menarik adalah kopi yang dijualnya. Aroma kopi ini sebetulnya biasa saja. Justru cenderung lembut. Tetapi  cukup tebal. Kopi ini rasanya cocok untuk peminum yang tidak mementingkan aroma, tapi mementingkan ketebalan dan kekentalan kopi. Tersedia dalam berbagai kemasan. Mulai ukuran 100 gram sampai dengan satu kilogram. Yang ukuran ½ kilogram dihargai Rp 28 ribu.

Kopi Obor; Jalan Tanjung Pura No. 21; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 08.00-15.30

agendaIndonesia/Andry T./Aditya N/TL

Perjalanan 3 Hari di 3 Kampung Sunda

Perjalanan 3 hari di 3 kampung Sunda bisa menjadi alternatif liburan.

Perjalanan 3 hari di 3 kampung Sunda bisa diagendakan jika kondisi pandemi sudah mulai reda namun belum cukup aman untuk pergi jauh. Wisata tiga hari ini bisa untuk  menelusuri peninggalan Kerajaan Pajajaran dan mengenal seni budaya Sunda.

Perjalanan 3 Hari

Liburan sambil mengenal sejarah, budaya, seni, adat, dan kehidupan sosial di kampung layak dicoba. Bukan hanya wawasan semakin bertambah, tapi udara segar pun puas dinikmati. Di seputar Bogor, pilihannya bisa di Kampung Budaya Sindangbarang, Kampung Urug, dan Kampung Ciptagelar. Jaraknya relatif dekat dari Jakarta meski perlu sedikit membangkitkan jiwa bertualang.

Hari Pertama : Kampung Urug

Berada di Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Jarak tempuh Kampung Urug dari Kota Bogor sekitar 48 kilometer. Kondisi jalan dari kantor Kecamatan Sukajaya ke Kampung Urug berbelok-belok dan naik-turun mengikuti lereng bukit dengan badan jalan yang sempit. Turis dapat menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jadi, persiapkan mental Anda!

Masyarakat di Kampung Urug menganggap diri mereka berasal dari keturunan Prabu Siliwangi—raja dari Kerajaan Pajajaran. Seorang ahli yang pernah memeriksa konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug memang menemukan sambungan kayu tersebut sama dengan sambungan kayu yang terdapat pada salah satu bangunan di Cirebon, yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran.

Sebagai desa adat, Kampung Urug masih memegang teguh tradisi, baik dalam seni bangunan, kekerabatan, maupun kepemimpinan. Acara Seren Taun dilakukan tiga kali dalam setahun. Keramaian berpusat di Bumi Ageung. Selain Bumi Ageung sebagai pusat kegiatan, ada pula rumah panggung dan Bumi Alit. Bumi Ageung, rumah panggung, dan Bumi Alit terletak simetris dalam satu garis lurus. Selain itu, ada pula beberapa leuit (lumbung padi). Setelah mengenal desa adat, sore hari kembali ke pusat Kota Bogor untuk menikmati wisata sajian kuliner dan bermalam di sini.

Hari Kedua: Kampung Budaya Sindangbarang

Hari kedua, giliran Kampung Budaya Sindangbarang yang menjadi sasaran. Yang satu ini mudah dijangkau dari pusat kota karena hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Bogor. Tepatnya berada di Jalan E. Sukmawijaya, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Hanya, bus pariwisata berukuran besar tidak bisa melintasi jalan tersebut. Wisatawan harus berganti transportasi dengan kendaraan yang berukuran lebih kecil.

Tak jauh dari lahan parkir, pengunjung langsung disajikan dataran yang lebih tinggi dengan lapangan rumput luas nan hijau. Hiruk-pikuk Kota Bogor langsung terasa sirna saat tiba di kampung ini. Suasana pedesaan benar-benar terasa. Di pinggir lapangan terdapat beberapa bangunan seperti lumbung padi, penginapan berbentuk rumah adat tradisional Sunda dengan dinding bilik dan atap rumbia, imah gede (rumah besar), lumbung padi, serta lainnya.

Pada 2007, Kampung Sindangbarang, yang dikenal dengan agenda tahunan Seren Taun ini, dikelola lebih profesional dengan menyediakan paket-paket wisata. “Dari beberapa paket wisata yang ditawarkan, pengunjung biasanya mengambil paket mulih ka lembur (pulang ke kampung) atau sawengi di kampung budaya (semalam di kampung budaya),” kata Maki Sumawijaya, Pupuhu atau Kepala Adat Kampung Budaya Sindangbarang, kepada TL.

Menurut pria yang disapa Abah itu, ada delapan kegiatan yang ditawarkan bila pengunjung menginap di Kampung Budaya Sindangbarang, yakni pengenalan bangunan adat, belajar menanam dan menumbuk padi (nandur), mengenal pasar tradisional, menangkap ikan dengan tangan langsung dari kolam dan sungai (marak lauk), mengunjungi situs purbakala, serta situs Taman Sri Baginda Jala Tunda, yakni sumber air peninggalan zaman Kerajaan Sunda. Semalam di kampung ini tentu menawarkan pengalaman yang berbeda.

Hari ketiga: Kampung Budaya Ciptagelar

Hari ketiga, sebaiknya berangkat dari Sindangbarang tidak terlalu sore karena perjalanan ke kampung berikutnya cukup lama, yakni sekitar 6 jam. Kampung Budaya Ciptagelar secara administratif termasuk Kabupaten Sukabumi. Tapi masih dekat dari Kota Hujan. Lokasi persisnya berada di Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Jenis kendaraan roda empat harus dalam kondisi prima. Sebab, wisatawan akan melalui jalan yang berkelok dan menanjak. Kondisi fisik juga harus terjaga karena harus menempuh kampung ini dengan berjalan kaki.

Di kampung ini, wisatawan dapat menjumpai situs Megalitikum, batu jolang (tempat pemandian), salak datar, tugu gede, cungkuk, serta batu kursi dan batu dakon (alat penghitungan tanggal).

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke tempat ini, agendaIndonesia menyarankan sebaiknya menginap saja. Selain dapat beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh, lingkungan yang masih alami akan menyegarkan diri dan melepaskan kepenatan. Hingga hari keempat, Anda kembali ke Jakarta.

agendaIndonesia/Andry T. Untuk TL

*****

Olah Rasa di Atas Roda Berkecepatan 20 Km/Jam

Olah Rasa di Atas Roda, seperti sepatu roda namun cuma punya satu roda.

Olah rasa di atas roda rasanya membingungkan orang. Bagaimana orang bisa melakukan olah rasa seraya melatih fokus dan keseimbangan diri. Yang lebih unik, kegiatan ini juga memberikan euforia dengan mengolah rasa.

Olah Rasa di Atas Roda

Wusss… wusss…. Seorang pemuda meluncur di atas sebuah roda. Disusul kemudian beberapa pemuda lainnya, masih dengan mengendarai alat serupa. Tubuh mereka seakan melayang. Terlihat begitu mengasyikkan. Bergerak lincah kian kemari. Sejurus kemudian, mereka membentuk semacam formasi.

Kelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Peazemakerz itu rupanya sedang berlatih airwheel. Komunitas yang terbentuk pada 2 Juli 2003 ini ternyata ingin memberikan sebuah pertunjukan seni yang berbeda dengan biasanya.

“Selama ini Peazemakerz menggabungkan unsur street dance, parkour, dan capoeira dalam sebuah pertunjukan seninya. Kali ini, kami mencoba koreografi dengan memasukkan unsur airwheel sebagai bagian untuk pertunjukan seni,” ujar Mochammad Subhan, Ketua Peazemakerz, kepada TL di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tak ayal, aksi mereka mengundang perhatian orang yang tengah berolahraga di kawasan itu, terutama tertuju pada airwheel yang mereka gunakan. Airwheel, kata Subhan,sejatinya merupakan alat transportasi mini yang digerakkan dengan baterai. ”Bisa melaju 18-20 kilometer per jam. Sedangkan untuk pengisian ulang baterai dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam dan mampu bertahan hingga 3 jam pemakaian,” ujarnya. Adapun beban yang mampu ditopang alat ini maksimal sekitar 120 kilogram.

Untuk dapat mengendarai airwheel, Subhan menyebutkan, keseimbangan tubuh sangatlah dibutuhkan agar pengendaranya dapat berdiri tegak lurus. Sedangkan untuk menjalankan alat ini, tubuh dicondongkan ke depan dan ke belakang untuk memperlambatnya. Sedangkan untuk mengarahkannya, tubuh dimiringkan ke kanan atau ke kiri. Sekilas memang terlihat begitu mudah.

Kami sempat dipersilakan oleh Gladwin, anggota Peazemakerz, untuk mencobanya. Ups, ternyata tidak mudah. Meski kaki kanan sudah menempel di pedal, ternyata sukar menaikkan kaki kiri di pedal satunya lagi. Bahkan, untuk dapat berdiri dan menyeimbangkan tubuh, saya terpaksa berpegangan pada Gladwin. Lagi-lagi, roda airwheel bergerak mengikuti gerakan kaki yang belum terbiasa menyeimbangkannya. Keinginan untuk berjalan dengan airwheel tipe roda satu itu pun terpaksa kami urungkan.

Namun keinginan mencoba menaiki airwheel kesampaian juga ketika saya mencoba airwheel tipe roda dua yang memakai setang. Alat yang satu ini mirip segway yang pernah dipakai anggota Kepolisian Republik Indonesia yang berdinas saat car-free day di seputar kawasan Sudirman dan Thamrin. Karena memiliki roda dua, airwheel tipe ini relatif lebih seimbang. Saya, yang baru pertama kali mencobanya, tidak kesulitan menggunakannya.

Kendati begitu, tetap saja saya perlu menyesuaikan keseimbangan tubuh saat akan menjalankan ataupun menghentikannya. Untuk menjalankannya, kita hanya perlu mencondongkan tubuh ke depan. Sebaliknya, kita hanya perlu mencondongkan tubuh ke belakang untuk menghentikannya. Sama seperti cara mengendarai airwheel tipe roda satu. Dan, wusss… saya pun meluncur bebas meskipun masih tersendat-sendat.

olah rasa di atas roda dengan kecepatan 20 kilometer per jam membutuhkan seni dan ketrampilan.
Olah rasa di atas roda merupakan paduan olah raga dan seni. Foto: theairwheel.sg

Cuma, memang, sensasi airwheel tipe roda dua dengan setang ini masih kurang ketimbang tipe roda satu. Hanya, untuk dapat mengendarainya, perlu waktu. ”Untuk itu, Peazemakerz membuat kesempatan berlatih airwheel yang digelar setiap Selasa sore di Gelora Bung Karno,” ujar Erma Engelien, salah seorang pendiri.

 Untuk kelas pemula, kata Erma, latihan digelar seminggu sekali selama satu bulan. Untuk biayanya, dikenai Rp 475 ribu. ”Dalam satu kelas hanya berisi lima orang dengan dua pelatih,” ucap Erma. Bagi yang belum memiliki airwheel, tak perlu khawatir. Sebab, mereka bisa menyewanya. ”Untuk sekali latihan, hanya dikenai Rp 50 ribu.”

Di Indonesia, airwheel sebenarnya sudah diperkenalkan sekitar setahun yang lalu setelah populer di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Selain tipe roda satu dan roda dua dengan setang, ada yang tipe roda dua tanpa setang. Namanya airboard. Harga airwheel di pasar bervariasi, tergantung spesifikasinya. Dari Rp 6 juta hingga Rp 20 juta.

Penggunaan airwheel sudah meningkat di Indonesia seiring dengan komunitasnya yang bermunculan, seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. ”Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari airwheel ini. Alat ini dapat melatih fokus diri, keseimbangan, dan cukup memperbaiki struktur tulang belakang,” kata Erma.

Selain itu, sepertinya, alat transportasi yang mudah dijinjing ini ramah lingkungan dan menimbulkan euforia bagi pengendaranya. Betul begitu? Wusss… wusss….

agendaIndonesia/Andry T. untuk TL

*****

Batik Semarang Pernah Jaya Pada 1919-1925

Batik Semarang belum seterkenal batik Solo, Yogya, atau Pekalongan. Namun, batik yang diproduksi di sebuah kampung di ibukota Jawa Tengah ini pernah sangat berjaya. Mereka tak hanya menjual batik khas, di kampung batik ini orang juga bisa belajar membatik dan mengenal sejarah.

Batik Semarang

Tangannya bergerak lincah. Memandu ujung canting menyusuri pola yang sudah terbentuk di atas bentangan kain putih. Dengan kepala sedikit tertunduk, matanya menyoroti setiap lekukan pola. Sesekali kicauan merdu burung memecah keheningan di antara mereka. Entah sudah berapa jam mereka menggoreskan canting untuk membentuk motif batik yang cantik.

Meski begitu, Kholifatin Niswah, Shelly Nur Septyana, Dwi Bella Putriyani, dan Nonik Aswiyani bukanlah perajin batik. Mereka sebenarnya adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Jepara, Jawa Tengah, yang sedang melakukan praktek kerja lapangan (PKL) di Kampung Batik Semarang. Sudah satu bulan mereka menghabiskan waktu untuk belajar membatik dari dua bulan yang direncanakan.

Bukan tanpa alasan mereka memilih Kampung Batik Semarang sebagai tempat PKL. ”Batik Semarang memiliki motif yang khas dibanding batik dari daerah lain,” kata Kholifatin.

Menurut Tri Mudjiono, Ketua Paguyuban Sentral Batik Semarang, Jawa Tengah, yang ditemui hari itu, motif batik Semarang menonjolkan unsur flora dan fauna sebagai motif utama. ”Misalnya saja buah asem arang dan burung blekok,” ujarnya.

Burung blekok, kata dia, dijadikan motif karena burung blekok putih banyak di kawasan Srondol, Semarang, di masa lalu. Kini hampir susah kita menemui burung berparuh panjang itu. Begitu pula asem arang, yang banyak tumbuh di Semarang. Konon, nama Semarang diambil dari nama pohon asem yang tumbuhnya saling berjauhan tersebut.

Belakangan, motif batik Semarangan kian berkembang. Ikon Kota Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Sam Poo Kong, menjadi ciri khas lain batik Semarangan. Sedangkan untuk pewarnaannya, batik Semarang dikenal memiliki warna-warna terang, seperti biru, merah, dan cokelat.

“Teknik batik juga tak berbeda dari batik-batik daerah lain. Batik Semarang mengenal teknik tulis, cap, dan cetak,” ujar Tri saat ditemui di rumahnya yang sekaligus dijadikan ruang pamer. Ketua RW II, Kelurahan Rejamulyo, Semarang Timur, Kota Semarang, itu juga masih ingat betul bahwa batik Semarang mulai menggeliat sekitar 2004, saat Pemerintah Kota Semarang memiliki keinginan mengembalikan nama besar batik Semarangan yang dulu pernah mencapai masa keemasan.

Kampung Batik Semarang pernah mengalami kejayaan pada 1919-1925. Sentra batik di Kota Semarang saat itu sangatlah berkembang. Hal ini karena terjadi krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang. Akibatnya, masyarakat memenuhi kebutuhan sandangnya sendiri dengan membuat pakaian sendiri.

Namun sayang, sentra batik Semarang ikut luluh-lantak saat Pertempuran Lima Hari di Semarang. Walau telah dihancurkan pasukan tentara Jepang, kejayaan Batik Semarang masih bertahan hingga 1970. Adalah Tan Kong Tien, seorang putra tuan tanah Tan Siauw Liem, yang juga menantu Sri Sultan Hamengku Buwono III, yang mempertahankannya. Setelah menikah dengan RA Dinartiningsih, Tan Kong Tien mewarisi keahlian membatik dari istrinya yang kemudian ia kembangkan. Perusahaannya bernama “Batikkerij Tan Kong Tin” mendapatkan hak monopoli batik untuk wilayah Jawa Tengah. Perusahaannya ini diteruskan oleh putrinya, R. Ng. Sri Murdijanti, hingga 1970.

Sejak saat itu, Kampung Batik Semarang seolah mengalami ”mati suri”. Usaha untuk membangkitkan kembali Kampung Batik Semarang pernah juga dirintis pada awal 1980 tapi gagal bertahan, sampai akhirnya jenis batik ini kembali tenggelam. Batik Semarang baru dihidupkan kembali pada 2004 oleh Pemerintah Kota Semarang. ”Untuk mengembalikan masa kejayaan itu, pemda melakukan serangkaian pelatihan dengan peserta warga yang memiliki kemauan besar untuk belajar membatik,” ujar Tri mengenang.

Hingga saat ini, menurut Tri, sudah ada empat perajin batik di Kampung Batik Semarang. Masing-masing tempat usaha umumnya memiliki lebih dari 10 karyawan, meski ada pula yang hanya memiliki 5 karyawan. Jumlah toko batik saat ini, kata dia, semakin bertambah menjadi 12 unit.

Harga batik Semarang relatif tak jauh berbeda dengan batik lainnya. Harganya Rp 50-250 ribu untuk jenis cap atau cetak. Tergantung tingkat kesulitan dalam pembuatan dan jenis kain yang digunakan. Khusus batik tulis, harganya dimulai dari Rp 250 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp 2 jutaan.

Meski belakangan batik Semarang mulai menggeliat, Tri mengakui masih memiliki kendala besar, terutama pada masalah biaya untuk menjahit. ”Ongkos jahit di daerah lain lebih murah ketimbang di Semarang,” ucapnya. Hal itu diiyakan Oktavia Ningrum, pemilik toko Batik Temawon, yang baru buka sekitar satu setengah tahun lalu. ”Ongkos jahit di Semarang relatif lebih mahal,” katanya. Selain itu, kata dia, perajin batik Semarang jarang melakukan pewarnaan sendiri karena permasalahan limbah. ”Maklum, sentra batik Semarang berada di lingkungan rumah warga,” ujar perempuan asal Bogor, Jawa Barat, itu.

Oktavia dan Tri optimistis bahwa batik Semarang akan mendapat tempat di hati para penggemarnya. Mereka sepakat berharap sentra batik Semarang bisa menjadi salah satu tujuan wisata Semarang, seperti kampung batik di kota lainnya.

agendaIndonesia/Andry T./Nita D. untuk TL

Remote Control Boat, 1 Balapan Air di Darat

Remote Control Boat adalah permainan di atas air. Biasanya di danau kecil atau sungai yang arusnya tidak terlalu deras. Meskipun permainan air, pemainnya tida berbasah-basah, mereka memacu adrenalin di pinggiran danau.

Remote Control Boat

Perahu mungil itu melesat. Ia membelah permukaan air Danau Sunter, Jakarta Utara,https://jakarta.go.id/ begitu cepat. Beberapa pemancing di pinggir danau seakan tak terganggu dengan kehadiran perahu-perahu mungil berkecepatan tinggi yang mengelilingi danau di Minggu siang itu.

Sesekali, perahu berwarna kuning itu bermanuver lincah. Berbelok mengitari cone di tengah danau dengan tak kalah gesit, lalu kembali melesat. Entah sudah berapa kali mengelilingi arena, perahu tadi kemudian terlihat melaju pelan dan merapat ke dermaga. Sang pemilik yang sudah berada di pinggir dermaga kemudian mengangkatnya ke darat. Aura kepuasan terpancar dari raut wajahnya.

“Ada kenikmatan tersendiri saat memainkan RC (remote control) boat racing ini,” ungkap Abui kepada TL yang menemuinya siang itu. “Saya seakan meraih kepuasan saat memainkan RC boat racing.”

Kepuasan yang tak dapat dijabarkan lewat kata-kata itu dirasakan pula oleh Ivan. Pria ini mengaku mengenal RC boat racing 15 tahun lalu. Sebelumnya, Ivan mengungkapkan sempat memainkanRC car dan RC flight. “Namun sensasi kenikmatan saya rasakan lewat RC boat racing ini,” ujarnya. “Saya memang suka dengan kecepatan,” tuturnya.

Permainan RC boat racing di Indonesia sejatinya sudah dikenal lama. Namun terasa kurang populer dibandingkan dengan RC car atau RC flight. Mungkin karena RC boat racing butuh area khusus, seperti danau untuk dapat memainkannya. Namun, kata Ivan, RC boat racing mulai digemari sekitar dua tahun lalu seiring dengan maraknya pertandingan RC boat racing.

Sekadar informasi, RC Boat International Race pernah digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Desember 2015. Ajang berskala internasional itu diikuti oleh peserta dari beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Vietnam, dan Thailand. Pertandingan serupa juga kerap digelar di negara-negara Asia Tenggara tersebut. Ivan mengaku beberapa kali sempat bertanding di negara-negara tersebut.

Atau bisa jadi, karena cara pengoperasian dianggap sulit, RC Boat kurang diminati. “Padahal gampang kok. Pemain hanya cukup mengoperasikannya lewat pengendali jarak jauh alias remote control,” kata Rudy. Pelatuk di remote, katanya, cukup ditekan atau dilepaskan untuk menambah atau mengurangi kecepatan. Sementara tombol putar digunakan untuk mengendalikan arah perahu ke kiri atau ke kanan.

Sedangkan untuk perahu sendiri memang butuh pengetahuan karena menggunakan mesin bermotor jenis dua tak. “Tapi tetap tidak sulit. Paling setahun kita sudah dapat memahaminya,” ujar Abui yang memiliki koleksi enam buah RC boat racing menimpali. Lagipula, menurut Abui, mengutak-atik perahu memberikan keasyikan tersendiri.

Abui menyebutkan, RC boat memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan umur atau kapasitas penggunaannya. Untuk pemula, ada beberapa varian perahu yang bisa dipilih, di antaranya jenis Catamaranyang mudah dioperasikan. Namun bagi yang sudah mahir, biasanya memilih RC Boat jenis balap yang memilki banyak varian, seperti Formula One.

Harganya pun bervariasi. Harga RC boat racing berkualitas sedang, kata Abui, harganya di bawah Rp 10 juta. Sementara yang berkualitas lebih baik biasanya mencapai Rp 14 juta. Perawatannya relatif mudah dan murah. ”Kocek yang dikeluarkan setidaknya setimpal dengan kepuasan yang kita peroleh,” ujarnya sembari terkekeh.

remote control boat tidak semuanya jenis racing. Ada pula yang lebih santai bermainnya.
Remote control boat tak semuanya jenis racing, ada juga yang lebih santai. Foto: unsplash

Abui, Ivan, dan Rudy merupakan anggota yang tergabung dalam Jakarta Boat Modeling Club (JBMC). Klub yang berdiri pada 2006 ini terus berkembang. Para anggotanya berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Saat kopi darat untuk bermain RC boat, mereka biasanya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hal-hal lainnya tentang RC boat. Lewat media sosial, seperti Facebook, anggota JBMC terus bertambah. Hingga kini sudah ada sekitar 700 orang di Indonesia.

”Jerih payah saya bersama teman-teman untuk mengumpulkan para penggila RC boat terealisasi,” kata Andy Lofri, mantan Ketua JBMC yang kini menjabat sebagai bidang organisasi.

Bergabung dengan JBMC tidak sulit. Para penggemar RC boat racing cukup mendaftarkan diri dan membayar iuran setiap bulan sebesar Rp 100 ribu. Uang itu digunakan untuk pengelolaan sarana dan prasarana, misalnya membayar tim penyelamat (rescue team) yang selalu sigap untuk mengambil perahu jika perahu terjungkal atau mati mesin di tengah danau.

Tim penyelamat yang menggunakan perahu bermotor ini jelas sangatlah penting. Kehadiran mereka sangat membantu mewujudkan para penggemar RC boat racing meraih kenikmatan di atas air.

agendaIndonesia/Andry T./ Wisnu AP/untuk TL

*****