Motif Tenun Siak, 3 Siku dan 3 Pucuk

Tenun Siak

Motif tenun Siak, 3 siku dan 3 pucuk barangkali sangat sedikit orang di luar wilayah Riau yang mengerti dan memahaminya. Tak hanya itu, bahkan secara wisata, Pekanbaru dan Riau masih sangat sedikit dilirik wisatawan. Baik lokal maupun manca negara. Padahal, di daerah ini dulunya adalah salah satu pusat kebudayaan Melayu.

Motif Tenun Siak

Sejak Indonesia merdeka, mungkin pengetahuan orang mengenai Siak, Pekanbaru atau Provinsi Riau umumnya, erat dengan sawit dan minyak,. Padahal Pekanbaru ternyata punya berlaksa kisah masa lampau yang menarik buat diulik.

Pada masa kolonial Belanda, kota ini pernah menjadi urat nadi perdagangan, khususnya di Sumatera. Lewat sungai Siak yang membelah Kota Pekanbaru, lalu-lintas perdagangan dari luar, seperti Semenanjung Malaya, menuju pedalaman Sumatera, yakni Tapung, Minangkabau, dan Kampar, berlangsung. Kota yang dulunya berjuluk Senapelan ini bahkan pernah menjadi lokasi ditumpuknya berbagai komoditas.

Posisi yang strategis membuat Senapelan berjaya. Orang-orang berbondong datang dari berbagai daerah membawa beragam logistik. Mereka menaiki kapal-kapal tongkang demi barter dan saling-silang kebutuhan pokok.

Makin ke sini, Pekanbaru bukan lagi seperti dulu. Denyut perdagangan lewat Sungai Siak hampir berhenti lantaran jalur darat mulai lancar. Pun dengan sejumlah tradisi Melayu lawasnya. Di antaranya tenun Siak.

Tenun Siak atau sering orang menyebutnya pula sebagai songket Siak tentu saja berasal dari Siak, Provinsi Riau. Kota yang letaknya sekitar 100-an kilometer dari Pekanbaru, ibukota Riau. Tradisi tenun ini dimulai sejak zaman kesultanan Siak Sri Indrapura. Tepatnya saat Tengku Said Ali, yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi bertakhta di Kesultanan Siak. Dari cerita mulut ke mulut, konon tradisi tenun Siak ini mendapat pengaruh dari Kesultanan Trengganu di Malaysia.

Kini praktis tak cukup banyak perajin kain tenun atau songket Siak tradisional. Kalau pun ada, umumnya menggunakan tenun mesin. Di antara yang tak banyak itu, jika Anda tertarik menelusurinya, cobalah datang kawasan Kampung Bandar di sekitar Pelabuhan Bunga Tanjung, pelabuhan rakyat yang menghubungkan Kota Pekanbaru dan Selat Panjang.

Di belakang pelabuhan itu, masih bisa ditemui rumah panggung tradisional khas Siak yang dibangun sejak 1887 yang memproduksi tenun Siak tradisional. Bunyi dari rumah panggung itu seperti beras yang diayak di atas nyiru. Terus kontinyu selama satu hingga dua jam. Paling di antaranya jeda sesekali. Suaranya tenang sekejap, kira-kira 3-5 menit. Setelahnya, bunyi mesin kayu berderu lagi.

Di rumah itulah Wawa Endi, seorang perajin tenun Siak, tinggal dan berproduksi. Di tangannya, alat tenun manual sepanjang kira-kira 160 sentimeter terus-terusan bergemeretak dari pagi sampai sore. Rot penggulung benang dan kain, yang letaknya berseberangan, serta berfungsi merentangkan benang-benang sepanjang dua meter, berputar ganti-gantian.

Wawa adalah satu dari sangat sedikit penenun kain Siak tradisional. Jarinya lihai mengayun lidi pungut untuk membentuk beragam motif bunga cengkeh, sebuah simbol kekayaan masyarakat Melayu. Juga menarikan pola, membentuk berekor-ekor kalong yang berjajar mekanis. Tangan kirinya kadang mengangkat benang yang direntangkan vertikal, sedangkan tangan kanannya menyusupkan lembar-lembar benang emas sesuai pola.

Motif tenun Siak
Motif Tenun Siak. Dok TL-A. Prasetyo

Lembaran emas yang disematkan di kain tenun khas Siak itu diimpor dari Cina. Ada juga yang dari Singapura. Keduanya punya kualitas yang sama dan harganya pun tak jauh beda. Hanya, benang emas dari Singapura membuat kain bertekstur lebih kaku. Biasanya, kain dengan sentuhan benang emas Singapura dipakai untuk sarung, bagi laki-laki, dan selendang bagi perempuan. Sedangkan kain dengan sentuhan benang emas dari Cina acap dijahit menjadi baju.

Nuansa tenunan emas tersebut memperkuat kesan ‘calak’ yang melekat pada selembar kain tenun. Maklum, tenun kebesaran orang-orang Melayu ini memiliki ciri warna-warna cerah dan berani. Dari sejarahnya, benang yang dipakai untuk menghasilkan tenun Siak memiliki warna hijau, kuning, dan merah. Namun dalam perkembangannya, beragam inovasi muncul mendobrak aturan terhadap warna yang dipakai. Warna kain tenun Siak menjadi lebih beragam.

Menyematkan lembar emas di antara 3.486 helai benang tentu tak mudah. Satu lembar kain tenun Siak umumnya selesai dalam waktu 10 hari. Bisa lebih cepat jika si perajin sedang giat bekerja. Atau pesanan yang waktunya mendesak.

Corak atau motif kain tenun Siak Salah satunya kaya akan bunga cengkeh. Bunga cengkeh menyiratkan komoditas utama masyarakat yang tinggal di bumi Melayu. Selain bunga cengkeh, terdapat motif bertabur kalong, yang memiliki filosofi sifat berwibawa dan bertanggung jawab, representasi seorang pemimpin atau raja.

Memang, seturut dengan budayanya, kain tenun Siak merupakan simbol prestisius bagi pemakainya. Kain ini mulanya hanya dipakai di lingkungan kerajaan Siak Sri Indrapura. Yang mengenakan pun orang-orang kalangan bangsawan atau keturunan darah biru. Tak khayal, dari segi motif, tenun Siak mengangkat corak-corak yang mengandung nilai-nilai sakral, loyalitas, dan pengabdian—representasi seorang pemimpin.

Secara umum kain Siak memiliki 3 motif Siku dan 3 motif Pucuk. Masing-masing dengan maknanya. Ada Siku Keluang, Siku Awan, dan Siku Tunggal. Siku Keluang memiliki maknapribadi yang memiliki sifat bertanggung jawab yang menjadi idaman orang Melayu Riau. Siku Awan berartibudi pekerti, sopan santun, dan kelembutan akhlak, menjadi asas tamadun Melayu.

Sedangkan Siku tunggalmencerminkan sikap atau perilaku orang Melayu yang amat mengutamakan “persebatinan iman atau perpaduan umat” baik antara sesama Melayu atau pendatang. Landasan ini yang membuat orang Melayu menerima siapa saja yang datang.

Sementara itu, motif Pucuk juga ada tiga, yakni Pucuk rebung kaluk pakis bertingkat; Pucuk rebung bertabur bunga ceremai, dan Pucuk rebung penuh bertali.

Pucuk rebung kaluk pakis bertingkat berarti Pucuk rebung (kesuburan) mengandung makna kemakmuran hidup lahiriah dan batiniah. Kaluk pakis bertingkat (nilai tahu diri) merupakan sifat yang amat penting, sesuai dengan ungkapan tahu diri dengan perintah, tahu duduk dengan tegaknya, tahu alur dengan patutnya.

Pucuk rebung bertabur bunga ceremai bermakna nilai kasih saying, hormat-menghormati, lemah lembut, dan bersih hati, menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau, banyak dilambangkan dengan hampir semua motif bunga. Serta Pucuk rebung penuh bertali yang berarti nilai budaya Melayu sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam yang memberi tuntunan dan bimbingan agar manusia memiliki akhlak mulia sehingga menjalankan kehidupan yang benar.

Di luar motif Siku dan Pucuk, masih ada motif Daun tunggal mata panah tabir bintang, yakni corak dasar Melayu bersumber dari alam flora (bunga, kuntum, daun, dan buah), mengandung nilai falsafah keluhuran, kehalusan budi, keakraban, dan kedamaian. Dan motif Wajik sempurna yang melambangkan sifat Allah yang pemurah agar mendapatkan kasih dan kemurahan dari Allah, sepatutnya manusia bersyukur atas nikmat serta kurnia yang dilimpahkan.

Sehari-hari, kelompok perajin tenun Siak tradisional ini menggarap pesanan dari berbagai kalangan. Mereka menenun dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore. Penggarapnya berganti-gantian lantaran alat tenun yang tersedia cuma tiga. Sisanya akan menggarap pekerjaan lain, semisal memintal benang, mengemas kain yang sudah selesai ditenun, sampai memasak untuk makan siang.

Waktu berjalan, budaya berganti. Perempuan dari keluarga Siak biasa pun kemudian diajari untuk menyungkit kain warisan kerajaan tersebut. Kemudian, tenun Siak juga tak cuma dipakai kaum bangsawan untuk rangkaian upacara atau seremoni tertentu. Seperti batik, tenun Siak meluas fungsinya menjadi kain yang digunakan untuk beragam acara.

Penduduk biasa pun mulai membuka usaha tenun, di sepanjang Sungai Siak—yang membentang dari Tapoeng, Kampar, dan bermuara di Selat Panjang. Budaya menenun kain merembet sampai Pekanbaru. Bahkan, tenun ini kini lebih populer ditemukan di Pekanbaru daripada di tanah muasalnya.

Beberapa orang mengatakan alasannya karena pasar yang lebih jelas. Selain itu, relevansi historis ternyata turut mempengaruhi. Sejarah Riau mencatat, pada 1762, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memindahkan pusat Kerajaan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan, wilayah Kampung Bandar. Banyak orang asli Siak bermigrasi ke sana. Mereka disebut sebagai orang Pokan, yakni orang yang merantau akibat perdagangan. Mereka lantas membuka usaha tenun.

Meski dihantam inovasi atau bergerak meluas dari tanah asalnya, tak ada yang berubah dari nilai simbol tenun Siak, utamanya perihal motif. Penenun tetap mempertahankan corak demi corak, sesuai bentuk mula tenun tersebut berkembang. Stylisasi flora, fauna, dan alam sekitar, terjaga utuh di lembaran kain berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah itu.

F. Rosana/A. Prasetyo

Lurik Motif 3-4, Lurik Khas Abdi Dalem

Motif kain lurik

Lurik motif 3-4, lurik khas abdi dalem Kraton Yogyakarta. Mungkin ini jarang ada yang tahu. Motif 3-4, dalam narasi aslinya disebut motif telu pat, ini artinya tiga-empat.

Lurik Motif 3-4

Kain lurik, sejak lama seakan diidentik sebagai bahan pakaian yang dipakai oleh para bangsawan dan abdi dalem di kalangan kraton Yogyakarta. Motif telu pat yang disebut di muka adalah yang biasa dipergunakan oleh para abdi dalem. Biasanya menggunakan pewarnaan biru dengan kombinasi hitam atau putih.

Motif telu pat, yang berarti tiga-empat, itu disebut demikian karena merujuk pada jalinan tenunan benang. Tiga garis benang berjejeran dengan empat garis benang warna lainnya.

Ini tak sembarangan jejeran benang. Ada filosofinya. Pola jejeran benang itu konon menandakan kedekatan antara sinuhun atau raja dan rakyatnya. Seperti layaknya motif kain-kain tradisional yang berasal dari dalam kraton-kraton di Jawa, motif lurik juga diciptakan para sultan melalui proses perenungan yang dalam. Ada harapan dan cita-cita dari sang sultan dalam setiap tarikan benangnya.

Lurik konon berasal dari kata dalam bahasa Jawa lorek yang berartigaris atau garis-garis. Bentuknya sederhana seperti pagar. Harapannya supaya para pemakai lurik selalu terlindungi hidupnya dalam kesederhanaan.

Saat ini boleh dikata hanya dalam hitungan jari industri rumahan di Yogyakarta yang menghasilkan kain lurik secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Selebihnya sudah dikelola perusahaan kain dengan mesin tekstil. Yang memprihatinkan, para penenun kain lurik ini rata-rata mereka yang sudah berumur. Jarang sekali terjadi regenerasi penenun kain lurik di Yogyakarta.

Saat ini, usia penenun kain lurik paling muda sekitar 40 tahunan. Cukup banyak yang berusia 50-60. Dari generasi sebelumnya, masih ada yang berumur 80 tahunan, tapi mereka biasanya menenun dari rumah. Pemilik pekerjaan yang datang ke rumah mereka memberikan order dan petunjuk. Jika ada yang baru. Namun biasanya mereka menenun motif-motif yang sudah lama mereka kerjakan.

Awal tahun 60-an adalah masa-masa kejayaan penenun kain lurik. Di desa Krapyak Wetan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, cukup banyak penenun yang mengerjakan kain lurik di rumah. Di desa itu, di daerah Sewon Bantul, saat ini masih dapat ditemui sejumlah perajin kain lurik. Tapi jumlahnya sangat sedikit.

Hingga akhirnya tiba masanya kain lurik bisa dihasilkan mesin tekstil. Selain efisiensi dari rantai produksi dan waktu pengerjaan, kain lurik hasil mesin harus diakui hasilnya lebih halus. Proses produksinya pun sangat cepat. Akibatnya bisa diduga, jumlah perajin lurik tradisional di kampung-kampung di Bantul pun anjlok. Kalah melawan kerasnya persaingan dengan mesin.

Tentu, ada yang masih mencoba bertahan dengan menghasilkan lurik-lurik dari ATBM. Mereka menggunakan bagian depan rumahnya menjadi ruang pamer kain-kain lurik siap jual buatan pekerjanya. Sedangkan produksi mengunakan bagian belakang rumah.

Tenun lurik hasil ATBM umumnya memiliki dua lebar yang berbeda, yaitu 70 dan 100 sentimeter. Ini tergantung panjang alat tenun. Panjang satu gulungan motif bisa mencapai 100 hingga 150 meter. Keseluruhan proses penenunannya bisa mencapai waktu satu bulan. Semua tergantung tenaga penenun. Ada juga yang sanggup mengerjakan10 meter dalam waktu sehari saja. Kain-kain lurik yang sudah jadi siap dijual dalam kisaran harga Rp 30-50 ribu per meter.

Seiring dengan perkembangan zaman, para penenun kain lurik kini tidak hanya menggarap motif-motif tradisional milik kraton. Banyak desain dan motif baru. Upaya pemerintah melestarikan jenis kain ini, memunculkan kreasi desain-desain baru. Terlebih saat ini, banyak sekolah dan kantor yang menggunakan kain lurik sebagai seragam pada hari-hari tertentu. Tiap lembaga kadang menginginkan desain sendiri.

Di Yogyakarta sendiri kain lurik kalah populer cengan batik. Para penenun luriknya pun tak sebanyak pemegang canting batik. Meski banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa kain lurik usianya lebih tua dari batik dan bahkan dikenal masyarakat Jawa sejak zaman

Salah satu relief di Candi Borobudur pun ada yang menggambarkan perempuan sedang menenun. Ada pula prasasti Raja Erlangga yang pernah menyebutkan salah satu motif kain lurik sebagai Tuluh Watu. Dari berbagai penemuan sejarah itu, diketahui bahwa lurik tidak hanya dikenal masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jika memiliki kesempatan berkunjung ke perajin tenun lurik, Anda akan tertarik melihat proses skir, yaitu proses penyusunan motif untuk selembar kain lurik. Benang-benang yang akan digunakan, disusun menyerupai bentuk rak. Melihat proses skir layaknya tarian ribuan benang warna-warni.

Biasanya para penenun menggunakan benang katun putih yang kemudian diberi pewarna sintetis. Setelah motif disusun dalam proses skir, benang-benang tersebut akan ditenun melalui ATBM.

Selain didesak modernisasi teknologi tekstil, jumlah perajin kain lurik ATBM yang jumlahnya tidak banyak, juga semakin berkurang. Ini terjadi di saat tiba musim tanam dan panen di sawah. Para perajin lurik beralih menjadi buruh tanam di sawah-sawah yang penghasilannya lebih cepat.

Jumlah penenun lurik memang semakin sedikit, meski kain lurik pamornya masih lumayan moncer seiring kampanye pelestarian jenis kain ini. Namun, jika melihat dari perajinnya, kini hanya hitungan jari. Jika berkunjung ke sentra perajin lurik, kini ruangan produksinya praktis sepu. Suara alat tenun yang beradu pun nyaris seperti gending monggang. Gending kematian.

Dari Liputan TL.

Kurnia Lurik

Krapyak Wetan RT 05 Nomor 133 Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

Tak jauh dari cagar budaya Panggung Krapyak

Produk-produknya sudah bisa dipesan lewat media online di Instagram @kurnialurik_jogja

Sari Puspa Lurik

Desa Wisata Kerajinan Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman

Sekitar 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta

Bisa dicapai melalui Jalan Godean ke arah Selatan atau dari Jalan Wates ke arah Utara

Batik Madura (2), yang Unik dan Ngejreng Khas Pamekasan

RK27012017008

Setiap kota di Madura memiliki batik khas, termasuk Sampang dan Sumenep. Selain batik Madura khas Bangkalan dan batik Pamekasan juga tengah naik daun. Kedua kota ini berjarak sekitar 96 kilometer. Pamekasan berada di sisi selatan, sedangkan Sumenep berada di ujung timur pulau ini. Warna-warna ngejreng menjadi ciri khas dari batik Pamekasan. Di kota ini, seperti juga di Bangkalan, ada pasar khusus batik. Namanya Kompleks Pasar 17 Agustus. Lokasinya terletak di Jalan Pintu Gerbang. Hampir semua kios menjual batik serupa, tapi kebanyakan batik Pamekasan. 

Kampung Batik Madura

Lokasi kampung batiknya tak terlalu jauh dari pusat kota. Kecamatan Proppo memiliki beberapa kampung batik, di antaranya Desa Rangperang Daya dan Desa Klampar. Untuk menuju ke sana, hanya memerlukan waktu 10-15 menit dari pusat kota. Suatu pagi, di Dusun Banyumas, Desa Klampar, saya melihat kaum ibu membatik di depan rumahnya. Salah satunya Khatimah, 30 tahun, yang langsung tersenyum ketika saya dekati. 

Ibu dua anak ini sudah membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini kegiatan itu ia lakukan hampir setiap hari setelah mengurus anak dan memasak. “Kadang sambil ngerumpi juga,” ujarnya sembari tertawa. Ia membatik di atas kain samporis, motif sederhana yang dengan cepat diselesaikannya. “Motifnya di sini besar-besar dan gablak (warna-warni),” katanya. Menurut Khatimah, batik yang sedang tren adalah pancawarna. “Cirinya berwarna terang dan tabrakan,” ucapnya. Warna kinclong itu tentunya dari pewarna kimiawi. Warna batik Pamekasan memang ke luar dari pakem batik umumnya. Batik ini memunculkan warna menyala, terutama oranye, ungu, kuning, juga hijau.

Soal harga, batik Pamekasan tergolong miring. Tergantung kain yang digunakan, corak, serta warna. Coraknya pun cenderung tak memenuhi lembaran kain. Harga terendah berkisar Rp 50-75 ribu. Rupanya harga tersebut justru yang paling banyak dibeli. Untuk batik yang menggunakan katun super, harga terendah Rp 100 ribu. Tapi kisaran harga umumnya antara Rp 65-350 ribu per lembar. Di kampung ini, batik yang tengah naik daun adalah motif sekar jagad. “Maksudnya, segala corak masuk, pokoknya sejagad. Rumput, daun, dan garis-garis,” tuturnya. 

Tak jauh dari Desa Klampar, ada Desa Rangperang Daya. “Di Rangperang Daya, batiknya lebih halus,” kata Kholili dari Batik Podhek Al-Barokah di Rangperang Daya. Selain itu, ada kampung batik di Desa Kowel yang lebih banyak menggunakan warna dasar putih. l

Rita N

Batik Madura, (1) Pewarnaan di Dalam Gentong

Batik Madura dengan pewarnaan alami

Madura tak selalu identik dengan karapan sapi, garam, atau bebek Sinjay. Pulau di utara Jawa Timur ini juga punya batik. Beberapa tahun terakhir, batik Madura sinarnya makin benderang bagi pecinta batik di Indonesia, juga mancanegara.

Adalah Kampung Batik Tanjungbumi di pesisir utara pulau garam ini yang menjadi semacam sentra batik khas Madura. Sesungguhnya, jika wisatawan menuju Madura melewati jembatan Suramadu, maka begitu lepas jembatan yang menghubungkan dengan Surabaya ini, di Kota Bangkalan mereka sudah disuguhi gerai batik Madura.

Motif Batik Madura

Lokasi Kecamatan Tanjungbumi yang terkenal dengan batik Gentongan, batik yang menggunakan pewarnaan alami dan proses pembuatan nan panjang sekitar satu jam perjalanan dari Bangkalan. Atau sekitar 45 kilometer dari kota itu.

Aroma laut tercium ketika kendaraan mulai masuk ke jalan kecil tak jauh dari pasar. Tak lama papan nama perajin batik pun bermunculan. Papan nama Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, yang dipasang tampak memudar. Maklum, usaha batik ini sudah turun-temurun diwariskan dari nenek dan ibunya. 

Ada sekitar empat perempuan yang tengah bekerja. Masing-masing menangani hal berbeda-beda. Seorang ibu tengah memberi malam pada motif, sedangkan di bagian belakang, perempuan lain menyelupkan kain bercorak ke air pewarna yang mendidih. Perempuan lain menjemur kain batik setelah mencelupkannya ke air bersih. Satu lagi, berada di depan batik yang tengah digantung. Tangan-tangan bergerak naik-turun di atas batik, membuang malam yang tersisa. “Itu lagi melorot, membuang malam terus mengais, dan membersihkan sisa-sisanya,” kata Misnari, pemilik Batik Naraya. 

Nyaris setiap perempuan di Tanjungbumi bisa membatik. Tapi untuk pewarnaan, kata Misnari, hanya ada di tiga tempat di kecamatan itu.

“Proses pewarnaannya pakai gentong,” ujar mbak Nari, sapaan akrab Misnari menjelaskan asal nama Gentongan. Kain batik bercorak direndam dalam gentong pewarna selama berbulan-bulan. Ciri warnanya memang cenderung gelap karena variasi pewarna alami tak berlimpah. Warna cerah yang muncul biasanya merah dan biru. Itu pun tak terlalu menonjol. Kain cenderung penuh dengan corak yang beragam. Proses pembuatan kain Gentongan memerlukan waktu panjang, yakni enam bulan hingga setahun. “Pewarnaannya itu saja. Paling cepat tiga bulan,” ucapnya. Tak heran jika harganya dipatok antara Rp 3-5 juta. 

Ia menyatakan batik Gentongan berbeda dengan batik sederhana, seperti jenis torcetor yang hanya memerlukan waktu seminggu. Bahkan dalam sehari, bisa mendapat dua lembar kain. Sedangkan, dalam satu lembar batik Gentongan, bisa muncul beberapa corak dan pewarnaannya dua sisi. Sebab, kedua sisi kain Gentongan dibatik. Berbeda dengan batik umumnya yang hanya satu sisi. Belum lagi proses membuat pewarna alami yang memakai saga, mengkudu, dan lain-lain. 

Berada di daerah pesisir dengan mata pencarian utama para pria sebagai nelayan, membuat corak berbau bahari banyak menjadi inspirasi. “Motif asli sini adalah sik malaya, pantai, serta berlayar. Hal ini karena suami nelayan dan ini jadi khas Madura,” tuturnya. 

Dengan berpatok pada ide mengenai perahu, berlayar, dan pantai, memunculkan banyak variasi corak. Ditambah pula beberapa motif lain khas Tanjungbumi, seperti panji susi, pempadi (bunga padi), bulu ayam, tesate (tusuk sate), turun hujan, mo’ramo’ (akar-akaran), beragam bunga, juga burung. Motif itu terus berkembang seiring waktu. Namun, menurut Nari, yang tergolong baru adalah telenteh (lidi) dengan warna campuran alami dan kimiawi. 

Ia mengatakan dahulu batik digunakan hanya untuk salat. Kini pengrajin membuat perangkat lengkap, yakni dari kainsampai selendang untuk membuat perempuan tampil prima dalam balutan batik Gentongan. Untuk paket lengkap tersebut, bisa mencapai Rp 5 juta. Meski demikian, ia tetap membuat batik tulis sederhana yang pengerjaannya sekitar seminggu dengan nilai jual mulai Rp 100 ribu. 

Rita N

Dowa Bag Yogyakarta, Tas Rajut Premium Asli

dowa bag

Dewasa ini, produk tas rajut buatan tangan sudah menjadi salah satu fashion item yang trendy dan terkenal, bahkan hingga ke mancanegara. Beberapa pengrajin dan pebisnis produk semacam ini di Indonesia pun ikut terangkat popularitasnya, dengan salah satu merk yang paling populer saat ini adalah Dowa Bag Yogyakarta.

Buat wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal, Dowa Bag sudah menjadi salah satu alternatif pilihan oleh-oleh jika berkuncung ke kota pelajar ini. Harganya memang tidak masuk kategori murah, namun cukup layak untuk kualitas produknya. Jika beruntung, konsumen yang berkunjung ke gerai produk ini bisa mendapatkan produk desainnya mirip namun kualitasnya sama dengan merek berbeda.

Jangan salah. Ini bukan produk tiruan atau KW. Ini justru produk kualitas ekspor. Biasanya sisa ekspor ke Italia yang masih ada. Tentu, kadang pengunjung tidak bisa memilih warna atau desain. Namanya juga sisa ekspor. Tapi untuk koleksi tas, rasanya warna bukan satu-satunya pertimbangan bukan?

Awal Mula Dowa Bag Yogyakarta

Bermula dari Delia Murwihartini, seorang ibu rumah tangga yang memulai usaha kecil-kecilan untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat tas rajut dan menjualnya kepada tetangga sekitar sejak tahun 1989. Mulai laku dan diminati, para tetangga pun ikut tertarik untuk membantu membuat tas-tas ini dan tak lama kemudian bisnis semakin berkembang. Produk tas ini kemudian dinamakan Dowa, yang dalam bahasa Sansekerta berarti doa.

Awalnya, tas-tas ini dijajakan di area penginapan turis di kawasan Prawirotaman, dimana target konsumen yang disasar merupakan turis baik domestik maupun luar negeri yang mencari barang-barang kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Ternyata kemudian tas-tas Dowa banyak diminati oleh berbagai turis, bahkan pada perkembangannya ada beberapa turis asing yang memborong tas dalam jumlah tertentu untuk kemudian diedarkan dan dijual di negara asalnya. Sontak popularitas Dowa meningkat drastis dan permintaan dari dalam maupun luar negeri terus bertambah. Pada prosesnya, Dowa kemudian bekerja sama dengan beberapa brand luar negeri seperti The Sak dan The Read’s untuk distribusi produk ke pasar Eropa dan Amerika.

Kemudian untuk memenuhi permintaan di area domestik yang juga meningkat, dibukalah showroom dan workshop pusat di kawasan Godean, dimana selain melayani pembelian tempat ini juga menjadi pusat pembuatan produk-produk Dowa. Konsumen bisa melihat langsung bagaimana proses tas dan fashion item lainnya dibuat secara handmade oleh para pengrajin asli Yogyakarta. Lalu belakangan, untuk bisa menjangkau lebih banyak lagi konsumen, beberapa cabang outlet turut dibuka seperti di kawasan Mangkubumi yang dekat dengan Tugu Yogyakarta, serta di beberapa hotel seperti hotel Inna Garuda, hotel Novotel Yogyakarta dan Solo.

Selain lokasi bisnis yang berkembang, produk-produk pun ikut dikembangkan dengan beragam varian. Selain tas wanita yang menjadi produk unggulan, kini Dowa juga memproduksi dompet, clutch, scarf, aksesoris seperti pouch, gantungan kunci, bahkan produk tas untuk pria. Tak hanya itu, Dowa kini tidak cuma berfokus pada tas rajut saja, tapi Dowa juga mulai memasarkan tas-tas berbahan kulit, kanvas dan rotan dengan kualitas yang sama-sama premium serta desain yang tak kalah unik.

Harga sendiri beragam, bergantung dari bahan yang digunakan, serta motif dan desain. Tas rajut misalnya, berkisar antara Rp. 650.000,00 hingga Rp. 1.200.000,00. Kemudian untuk dompet, clutch serta pouch dihargai dari Rp. 125.000,00 sampai Rp. 650.000,00. Adapun produk lain seperti tas kanvas dijual mulai Rp. 700.000 hingga Rp. 1.100.000,00 serta tas kulit berkisar dari Rp. 550.000,00 sampai Rp. 1.400.000,00. Harga yang tergolong premium, namun sesuai dengan target pasar yang premium pula dengan desain yang unik dan kualitas handmade yang apik.

Showroom pusat dan cabang outlet Dowa Bag buka setiap hari dari jam 08.00 pagi hingga jam 17.00 sore. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi (0274) 6497555, via email di dowa@dowabag.co.id atau mengunjungi situs resmi di dowabag.co.id.

Dowa Bag

Showroom & factory: Jl. Godean km. 7, telp. (0274) 6497555

Outlet Mangkubumi: Jl. Mangkubumi no. 125, telp. (0274) 6429681

Outlet Inna Garuda: Jl. Malioboro no. 60, telp. (0274) 566322

Outlet Novotel Yogyakarta: Jl. Jend. Sudirman no. 89, telp. (0274) 521169

Outlet Novotel Solo: Jl. Slamet Riyadi no. 272, telp. (0271) 740242

Pusat Oleh-oleh Kampoeng Semarang: One Stop Shopping & Leisure

kampoeng semarang

Saat ini, Pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang telah menjadi salah satu pilihan destinasi wisata jika wisatwan berkunjung ke ibukota Jawa Tengah itu. Semarang sendiri sudah sejak lama menjadi tujuan wisata utama jika orang berkunjung ke kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya.

Salah satu ciri khas serta daya tarik utama Semarang yang paling dikenal secara luas adalah kuliner. Ini hal yang kerap diburu oleh para pelancong yang memang sengaja berkunjung maupun yang kebetulan lewat dan mampir. Melihat antusiasme dan semakin ramainya pengunjung ke kota Semarang, pemerintah daerah setempat kemudian berinisiatif mendirikan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Pusat Oleh-oleh Kampoeng Semarang

Selain melayani kebutuhan para wisatawan, tempat seperti ini sekaligus memberi wadah bagi para pelaku usaha mikro yang ingin menjajakan barang-barang kerajinan buatannya. Tidak kalah penting, ikut serta menggalakkan potensi wisata kota Semarang. Pada 2012, diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang pun resmi dibuka untuk publik.

Dengan konsep “one stop shopping & leisure“, Kampoeng Semarang menjadi pusat oleh-oleh terbesar di Semarang. Dengan luas lahan mencapai 4.000 meter persegi, ini meliputi berbagai booth oleh-oleh, restoran, tempat pertemuan serta rest area. Lokasinya pun tidak jauh dari Bandar Udara Ahmad Yani, membuatnya terhitung strategis bagi para pendatang yang ingin mampir dan mencari oleh-oleh. Barang-barang yang dijajakan di sini merupakan hasil kreasi dari para pengrajin UMKM setempat, yang menyajikan berbagai kerajinan tangan seperti perlengkapan rumah tangga, batik, tas, kaos, beragam jenis souvenir dan lain lain.

Salah satu produk unggulan di Kampoeng Semarang adalah handmade fashion product lokal WeBe. Telah memulai usahanya sejak tahun 1998, WeBe sudah berkembang dari industri rumahan menjadi perusahaan resmi. Selain menjalankan bisnisnya di dalam negeri, perusahaan ini juga telah mengekspor beberapa produknya ke pasar internasional. Dengan beberapa produk-produk seperti tas tangan, tas jinjing, dompet dan lainnya, WeBe menawarkan produk handmade. Selain berkualitas tinggi, produk-produk perusahaan ini juga memiliki desain yang unik dan fashionable. Belakangan, kini WeBe juga merambah segmen dunia anak-anak dengan menjajakan beberapa produk perlengkapan anak, perlengkapan sekolah dan lain sebagainya.

Kemudian ada pula Omah Asem Homeware yang menawarkan beragam produk rumah tangga yang dibuat dari vinyl dengan desain yang unik dan artistik. Produk-produk seperti piring, nampan, tempat lilin, kotak perhiasan dan lain lain bisa ditemukan di outlet bernuansa galeri ini. Harganya pun beragam, mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Ada pula galeri Asem Arang, yang memiliki beragam produk batik tulis khas Semarangan, mulai dari kain, baju, tas, sarung, selendang serta aksesoris batik untuk wanita. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa merasakan pengalaman belajar membatik di sini.

Bagi yang ingin sekadar mencari souvenir tersedia pula Kembang Asem Souvenir Center yang menyediakan berbagai pernik. Ini seperti ragam kerajinan batik, kalung, gelang, gantungan kunci, dan lainnya. Ada pula Galeri Kaos Semarangan yang menjajajkan kaos-kaos berdesain unik dengan tema desain berciri khas ala Semarang.

Rentang harga barang-barang tersebut dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. Rasa-rasanya harganya cukup terjangkau kantong pengunjung. Tidak hanya barang oleh-oleh berupa barang, Kampoeng Semarang juga menjajakan beberapa oleh-oleh penganan khas Semarang. Jenisnya seperti bandeng presto, lumpia, wingko babad, roti ganjel rel dan lain sebagainya. Selain bisa dibeli secara satuan, tersedia juga paket oleh oleh yang lebih praktis dan ekonomis.

Selain sentra oleh-oleh, Kampoeng Semarang juga memiliki fasilitas rest area dan restoran Asem Jawa yang berkonsep fusion tradisional dan modern, dengan beragam masakan yang disajikan dari ala Indonesia hingga Western. Tidak hanya itu, Kampoeng Semarang juga menyediakan fasilitas playground bagi anak-anak serta ruang pertemuan baik meeting maupun acara seperti pesta ulang tahun, seminar dan lain lain. Ini senada dengan konsepnya sebagai “one stop shopping & leisure“, dimana Kampoeng Semarang bukan hanya menjadi pusat belanja oleh-oleh, tetapi juga sebagai tempat berkumpul dan menikmati liburan atau akhir pekan.

Kampoeng Semarang

Jl. Kaligawe Raya no. 96, Semarang

Telp: (024) 6580015

Email: info@kampoengsemarang.com

Website: https://www.kampoengsemarang.com

Desa Wisata Kasongan Yogya, 1 Sentra Kerajinan Gerabah

gerabah kasongan

Desa wisata Kasongan Yogya adalah salah satu tujuan wisata bagi wisatawan yang mengunjungi kota pelajar ini. Ia tumbuh menjadi sentra kerajinan gerabah. Dari barang perabot sehari-hari, hingga barang seni.

Desa Wisata Kasongan Yogya

Desa Wisata Kasongan yang berada di kawasan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini merupakan pusat kerajinan gerabah yang terkenal. Selama puluhan tahun telah menghasilkan beragam jenis kerajinan gerabah dalam bentuk barang-barang seperti guci, meja, kursi, peralatan makan dan minum, patung hingga peralatan kecil seperti tempat pensil, wadah lilin, asbak dan lain lain.

Barang-barang itu kini dikenal luas dan dicari tidak hanya dari konsumen dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Setiap harinya ratusan pengrajin memproduksi barang-barang kerajinan di beberapa workshop yang terletak berjejer di kanan kiri jalan area desa ini.

Di mana sesungguhnya letak Desa Kasongan? Bagi mereka yang tinggal di Yogya, atau setidaknya pernah menetap di kota ini, tentu paham letaknya. Namun, bagi yang tidak, mungkin ada baiknya mempelajari rute menuju ke desa ini.

Setidaknya ada dua jalur utama menuju ke Kasongan. Pertama, jalan dari kota Yogyakarta menuju ke Kabupaten Bantul. Dan, ke dua, adalah melalui jalan Parangtritis. Dari arah Yogya, ke dua jalur ini bisa ditandai dari benteng yang menyelimuti Kraton Yogyakarta.

Jalur ke Bantul biasanya menggunakan ancar-ancar pojok Benteng Barat, atau orang Yogya menyebutnya Jokteng Kulon. Sedangkan jalan ke arah Parangtritis bisa dimulai dari pojok Benteng Timur atau biasa disebut Jokteng Timur.

Desa Kasongan ini berimpit dengan wilayah lain yang menghasilkan kerajinan dari bahan kulit. Namanya Desa Manding. Di sisi lain, Desa Kasongan juga dekat dengan area pengrajin wayang kulit, atau biasa dikenal sebagai kerajinan tatah sungging.

Area Kasongan ini sendiri pada awal mulanya menjadi tempat pengrajin gerabah setelah para penduduk pendatang mendapati area ini kosong ditinggal penghuni sebelumnya. Selain para penduduk baru ini mulai bekerja mencari penghasilan dari bercocok tanam dan mengelola lahan sawah yang ditinggalkan, ada pula yang kemudian mencoba berkreasi membuat barang-barang dari tanah liat.

Pada awalnya barang-barang yang dibuat merupakan barang kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan dapur, namun lambat laun kreasi gerabahnya mulai berubah. Mereka merambah ke barang-barang kesenian lainnya seperti guci, patung dan sebagainya.

Bahkan pada perkembangannya pada tahun 1970-an, salah satu seniman kenamaan Yogyakarta Sapto Hudoyo turut membantu menggalakkan usaha kerajinan gerabah ini. Ia mengajarkan bahwa gerabah juga adalah produk kesenian. Ia mempunyai nilai seni. Dari situ kemudian para pengrajin mulai bereksperimen dan mengombinasikan dengan beberapa bahan lainnya seperti batok kelapa, bambu, kayu dan lainnya sebagai tambahan hiasan atau ornamen tertentu.

Salah satu kelebihan lokasi sentra kerajinan ini adalah konsumen bisa mendapatkan harga yang relatif lebih murah. Ini jika dibandingkan orang harus mencari barang-barang kerajinan di tempat-tempat lainnya. Dan lebih mudah untuk menawar secara langsung.

Harga barang-barangnya sendiri bervariasi, mulai dari puluhan ribu Rupiah untuk barang kecil seperti tempat pensil, patung kecil dan lainnya hingga jutaan Rupiah untuk barang yang lebih besar seperti guci, pot bunga atau wuwung, sebuah hiasan dengan berbagai corak dan motif yang biasanya diletakkan di atas atap rumah. Harga juga tergantung berdasarkan ragam motif yang dimiliki oleh barang tersebut, meskipun tersedia juga barang-barang seperti guci yang dibiarkan polos atau hanya dicat sederhana untuk memberikan kesan sentuhan akhir yang lebih natural dan original.

Selain bisa berbelanja ragam barang kerajinan gerabah, tersedia juga layanan tour dimana tamu bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatannya, bahkan juga ikut mengikuti kursus singkat bagaimana membuat barang dari tanah liat di ruangan-ruangan workshop tersebut.

Kios-kios dan galeri di Kasongan biasanya melayani konsumen dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Kini kios-kios tersebut dikelola oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Koperasi Seni Kerajinan Kasongan Setya Bawana yang berada langsung di bawah naungan Dinas Perindagkop Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi via telpon di (0274) 370549 atau (0274) 413340.

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya Menyapa Jepang

Jalinan ketak kerajinan khas Lombok Barat

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya, Lombok Barat, setiap tiga bulan dikirim ke negeri matahari terbit. Ketak adalah sejenis tanaman paku-pakuan yang lebih halus dari rotan. Di tangan-tangan trampil warga Nyurbaya hasilnya adalah produk-produk kerajinan yang modis.

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya

Sudah siang sebenarnya, tapi saya merasa masih menikmati suasana khas pagi. Maklum dalam perjalanan dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, ke Lombok Barat terus-terusan diiringi rintik hujan. Saat memasuki daerah perbukitan, mata dibikin segar oleh pepohonan tinggi dan kehijauan di mana-mana.

Perjalanan tidak terlalu lama. Sekitar 30 menit sudah melewati Pura Lingsar dan 10 menit kemudian sudah tiba di Dusun Nyurbaya Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Saya tidak disambut oleh deretan toko-toko berisi hasil kerajinan ketak—sejenis tanaman paku-pakuan—yang menjadi ciri khas dusun ini. Tanaman ini dikenal dengan nama paku hata atau Lygodium circinnatum. Mirip dengan rotan, tapi ukurannya lebih kecil, sehingga lebih halus.

Yang ada malahan keranjang-keranjang bambu berisi rambutan dan manggis di pinggir jalan. Tampilannya masih segar karena baru dipetik dari pohon. Berada di lingkungan yang asri, dusun ini tak hanya memiliki penduduk dengan jari-jari yang menyulap ketak menjadi hiasan rumah, perabot, atau aksesori. Tapi juga sebagian warganya bekerja sebagai petani dan hasilnya berupa buah-buah yang menggoda selera seperti yang saya temukan.

Namun, buah-buahan bukan tujuan utama saya mengunjungi dusun ini. Kendaraan terus melaju hingga rodanya berhenti tepat di sebuah toko yang dipenuhi beragam produk dari ketak. Sebuah papan nama bertuliskan Mawar Art Shop di bagian depannya. Saya langsung bisa mengintip aneka wadah, tempat tisu, tatakan gelas, nampan, hingga aneka tas yang cantik. Dalam warna cokelat muda maupun cokelat tua. Ada yang murni berbahan ketak. Ada pula yang sudah dipadu dengan material lain seperti kayu dan kain. Hari itu Mawa—sang pemilik—tengah mengikuti pameran di luar negeri. Saya menemukan Suhartono—sang suami—yang menjadi mitra usahanya.

Tokonya lebih besar dibanding toko sebelahnya. Rupanya memang jumlah toko kerajinan ketak sudah menurun. Tinggal dua toko, yakni milik Mawar dan suaminya, serta di sebelahnya ada toko yang tak lain dari kakaknya Mawar. Suhartono menyebutkan sang istri memang benar-benar menangani masalah pemasaran dan produksi. Tak mengherankan bermunculan permintaan dari luar negeri. “Terutama Jepang, produknya biasanya tas-tas perempuan,” ujarnya. Pengiriman ke Negeri Sakura ini rutin dilakukan dengan total 3.000 buah per tiga bulan sekali. Beberapa kali memang Mawar, menurut Suhartono, mengikuti pameran di Jepang selain di Korea Selatan.  

Suhartono dan istrinya memang tidak mengerjakan sendiri produknya. Mereka menampung hasil karya dari para perajin yang ada di sekitar toko. Siang itu, saya hanya menemukan satu perajin setelah menyusuri perkampungan. Rupanya, saya datang tepat acara Mauludan digelar di rumah-rumah, sehingga sebagian warga bepergian untuk memenuhi undangan acara yang umumnya di daerah ini dilakukan di rumah-rumah.

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya sebagai produk kerajinan dari Lombok telah mampu menembus pasa ekspor di Jepang.
Jalinan ketak, kerajinan dari Nyurbaya, Lombok Barat. Foto: Dok. shutterstock

Sang perajin mengatakan bahwa dirinya membuat produk tergantung pada jumlah ketak yang dimiliki. Ia memang membeli bahan mentah ketak dan kemudian menjalinnya. Kalau hanya bisa membeli dalam jumlah kecil, ia pun hanya membuat produk mini seperti tatakan gelas saja—tempat perhiasan mini. Bila membuat produk besar, ia pun bisa membuat nampan atau wadah lainnya. Harga jual pun beragam atau tergantung pada ukurannya. Yang termurah ialah tatakan gelas yang dibuat bulat atau segi empat berdiameter 10 sentimeter umumnya per buah Rp 6 ribu. Ukuran 30×40 sentimeter yang biasanya digunakan untuk alas piring dipatok pada kisaran Rp 50 ribu.

Dusun Nyurbaya bukan satu-satunya kampung perajin ketak di Pulau Lombok. Anda bisa juga menemukannya para perajin anyaman ketak di Desa Beleka, Praya, Lombok Tengah. Dari Mataram jaraknya sekitar 57 km. Hanya, para perajin di desa tersebut juga mengerjakan kerajinan rotan. Baik ketak maupun rotan memang menggunakan teknik yang sama, yakni anyaman. Produknya juga beragam, dari aneka wadah untuk kebutuhan rumah tangga hingga hiasan dan tas untuk kaum hawa.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Tenun Bentenan Minahasa Unik Lahir di Abad Ke 7

Tenun Bentenan Minahasa awalnya dibuat pada abad ke-7 oleh suku Minahasa di Sulawesi Utara. Sempat memunculkan corak-corak baru, namun kini corak lama pun dimunculkan lagi.

Tenun Bentenan Minahasa

Hujan turun rintik-rintik di Desa Kolongan Atas Dua, Sonder, Kabupaten Minahasa Induk, Sulawesi Utara, suatu siang. Saya memasuki bangunan dengan halaman luas dan langsung menerobos ke bagian belakang menuju rumah kayu khas Minahasa. Ruangan tersebut tampak terbuka. Siang yang sejuk itu, di dalam ruangan, ada beberapa perempuan “bermain” dengan benang dan alat pintal. Mereka memang dibina oleh Bentenan Center agar bisa kembali menghasilkan karya-karya tenun warisan nenek moyang, yakni kain Bentenan.

Ati, salah satu perajin, menyebutkan sudah sulit menemukan perajin asli yang turun-temurun membuat tenunan Bentenan. Karena itulah untuk mengembalikan tradisi tenun Sulawesi Utara yang sudah tidak banyak dikenal lagi oleh masyarakat ini, didirikan Bentenan Center oleh Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (Karema). Sejumlah perempuan diajari menenun yang khas Bentenan dari awal dan kini mereka rutin melakukannya setiap hari di tempat ini.

Motif lawas yang digunakan kerajaan zaman dulu, menurut Ati, juga dibuat kembali. Di antaranya Kalwu Patola, Tononton Mata, dan Pinatikan. Aslinya, kain Bentenan memiliki tujuh corak. Mulai Tonimala, tenunan dari benang putih di kain putih. Kemudian Sinoi, yang menggunakan benang warna-warni dengan corak garis-garis. Ada pula Pinatikan, yang berupa garis-garis dengan motif jala dan bentuk segi enam. Jenis kain Bentenan ini merupakan yang pertama kali dibuat di Minahasa, selain Tinompak Kuda, yang memunculkan beragam corak yang ditenun berulang. Sedangkan Tononton Mata bercorak manusia, Kalwu Patola bermotif tenun Patola India, serta terakhir Kokera bermotif kembang warna-warni dan dihiasi manik-manik.

 “Kain Bentenan asli yang berusia sekitar 200-an tahun hanya ada di sebuah museum di Belanda,” ucap Ati. Selain jumlah perajin yang minim, peninggalan kaum sepuh memang tidak lagi bisa ditemukan di Minahasa, daerah asalnya. Warisan tersebut ada di sejumlah museum yang kebanyakan berlokasi di luar negeri. Selain di Museum Nasional Jakarta, kain asli Bentenan di antaranya bisa ditengok di Tropenmuseum Amsterdam, Museum voor Landen Volkenkunde Rotterdam, dan Museum fur Volkenkunde Frankfurt am Main.

Kain tenun asli terakhir ditemukan di Ratahan pada 1900. Daerah itu memang, menurut Ati, merupakan asal dari perajin tenun ini. Bentenan tak lain dari nama desa di Pantai Timur Minahasa Tenggara, yang meliputi Distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan, dan Tonsawang. Awalnya, tenunan ini dibuat suku Minahasa sekitar abad ke-7 dari serat kayu yang disebut fuya. Serat tersebut diambil dari pohon lahendong dan sawukouw,yang memang banyak tumbuh di daerah ini. Juga digunakan serat nanas dan pisang, yang disebut koffo. Ada pula serat bambu, yakni wa’u. Nah, baru pada abad ke-15, orang Minahasa beralih ke benang katun. Hasil tenunan inilah yang kemudian dikenal sebagai kain Bentenan.

Di masa silam, kain tenun ini bermutu tinggi. Tak hanya karena teknik pembuatannya yang mengharuskan kain berupa lingkaran tanpa guntingan dan sambungan serta dipasangi lonceng kecil di sekelilingnya, sehingga disebut Pasolongan Rinegetan. Tapi juga karena ada ritual khusus berupa pujian kepada Tuhan.

Tenun Bentenan Minahasa, motifnya menjadi  latar belakang Manado Fiesta 201902
Tenun Bentenan Minahasa motifnya menjadi latar pentas Tarian tradisional saat pembukaan Manado Fiesta 2019. (Foto: Ilustrasi-Dok. Kemenpar)

Kain Bentenan kini telah menjadi oleh-oleh khas dari Manado dan Minahasa. Bila ingin berbelanja sekaligus melihat proses pembuatannya, sekalian menikmati alam Tomohon dan Minahasa yang sejuk, Anda bisa berkendara ke arah Tomohon. Jaraknya hanya 30 kilometer dari Manado. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke arah Minahasa Induk. Bentenan Center tidak jauh dari Tomohon, meski berada di Kabupaten Minahasa Induk.

Di bagian depan Bentenan Center, ada ruang pamer untuk beragam produk. Tersedia dua jenis kain, yakni kain biasa dan songket (timbul). Bukan hanya tenunan, motif Bentenan cetak pun bisa menjadi pilihan para tamu. Menggunakan kain sutra maupun sifon, motif tersebut muncul dalam bentuk gaun, kemeja, hingga lembaran kain. Harga produk bervariasi, mulai Rp 300 ribu. Pada ASEAN Tourism Forum 2012 di Manado, corak Bentenan pun dikenakan para pejabat negeri ini.

agendaIndonesia/Rita N./Hariandi/TL