Kerajaan Tarumanagara, Jejak Kebudayaan Nusantara (Bagian 2)

Kerajaan Tarumanagara merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Tarumanagara

Tarumanagara pada abad keempat hingga ketujuh, geliat kehidupan penduduk di kawasan ini begitu bergelora. Pembangunan kanal dan penemuan karya sastra pada sejumlah prasasti membuktikan majunya peradabanT arumanagara.

Sejarah mengenai Kerajaan Tarumanagara tercatat secara cukup rinci dalam naskah Wangsakerta. Sayangnya, keaslian tulisan ini masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Menurut sumber tersebut, kerajaan didirikan oleh seorang Maharesi sekaligus pengungsi dari India bernama Jayasinghawarman.

Sumber valid mengenai sejarah kerajaan ini hanyalah berasal dari tulisan-tulisan pada prasastinya. Pada Prasasti Ciaruteun misalnya, dibahas mengenai kemiripan kaki Raja Purnawarman dan kaki Dewa Wisnu. Pembandingan dengan sosok dewa menunjukkan kebesaran Sang Raja yang berhasil memimpin rakyat secara bijaksana, baik, dan berani.

Hal itu didukung oleh isi Prasasti Tugu yang mencatat keberhasilan Purnawarman dalam membangun kanal yang menghubungkan Sungai Candrabaga dan Sungai Gomati dengan laut. Beberapa ahli mengkaji infrastruktur ini dibuat untuk menanggulangi banjir. Ada pula yang menduga saluran berguna untuk irigasi pertanian.

Satu hal yang pasti, dari berbagai prasasti, Raja Purnawarman adalah yang paling sering disebut. Dengan begitu pada masa pemerintahannyalah Kerajaan Tarumanagara mencapai masa keemasan.

Isi 7 Prasasti

Tulisan pada prasasti dari era Kerajaan Tarumanagara ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dengan huruf Palawa. Terdapat sekitar delapan prasasti yang ditemukan dan dijadikan objek wisata sejarah. Sebagian besar berada di Situs Ciaruteun. Sementara sisanya tersebar di penjuru Kota dan Kabupaten Bogor.

  1. Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini memiliki sejumlah gambar, yaitu telapak kaki, laba-laba, umbi, dan sulur-suluran. Teks yang terukir menjelaskan bahwa itu adalah telapak kaki Raja Purnawarman yang mirip dengan kaki Dewa Wisnu. Situs sejarah ini berada di Situs Ciaruteun, Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat sebagai salah satu kerjaan tertua di indonesia merupakan jejak peradaban Nusantara.
Prasasti Tapak Gajah, karena ada jejak sepasang kaki gajah, merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto: Dok. javalane
  • Prasasti Kebon Kopi

Pada batu besar ini terpahat bentuk sepasang telapak kaki gajah. Di dekatnya terdapat kalimat yang menjelaskan bahwa gambar itu melambangkan Airawata, yaitu gajah penguasa Kerajaan Tarumanagara. Lokasinya berada di seberang jalan masuk ke Prasasti Ciaruteun.

  • Prasasti Muara Cianten

Sampai sekarang teks prasasti belum bisa dibaca atau diartikan oleh para ahli sejarah. Ini karena tulisan tersebut berbentuk ikal atau berupa huruf sangkha. Lokasinya di tepi Sungai Cianten, Desa Ciaruteun dan belum diangkat ke tempat yang lebih aman.

  • Prasasti Tugu

Bentuknya unik, yaitu bulat lonjong seperti telur dengan tinggi kira-kira 1 meter. Isinya pun sangat menarik, yaitu mengenai penggalian sungai sepanjang 6.122 tongkat atau busur agar tersambung ke laut. Proyek berlangsung selama 21 hari. Ada juga penjelasan mengenai pemberian seribu sapi kepada kaum Brahmana. Kini Prasasti Tugu tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan banyak prasasti dan candi, salah satunya Prasasti Jambu yang juga dikenal sebagai Prasasti Pasir Koleangkak.
Prasasti Jambu sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto; Dok. Javalane
  • Prasasti Jambu

Sesuai namanya, prasasti ini ditemukan di perkebunan jambu Bukit Koleangkak, sehingga dikenal juga sebagai Prasasti Pasir Koleangkak. Tulisannya menggambarkan tentang keberanian Raja Purnawarman saat berperang di medan laga.

  • Prasasti Cidanghiyang

Prasasti ini disebut juga Prasasti Lebak karena ditemukan di Desa Lebak, Kabupaten Pandeglang, Banten. Isinya masih menggambarkan tentang keberanian dan kebesaran Raja Purnawarman.

  • Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi berada di Bukit Pasir Awi, Kawasan Cipamingkis, Kabupaten Bogor. Pada batu tersebut terdapat gambar dahan dan ranting, buah-buahan, dedaunan, serta pahatan sepasang telapak kaki.

Ekspedisi 4 Candi

Sekitar 44 kilometer dari Kota Karawang, jauh dari ingar-bingar aktivitas pabrik, hamparan sawah Kecamatan Batujaya menyimpan romantisme masa silam. Di kompleks tersebut, kurang lebih terdapat 62 candi peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Meski identik dengan suhu panas daerah pesisir, Kompleks Percandian Batujaya justru menjadi oasis pariwisata sejarah di sisi utara Jawa Barat.

Dari sekian banyak candi, terdapat empat yang sudah dipugar dan menjadi objek wisata, yakni Candi Jiwa, Blandongan, Serut, dan Telagajaya. Pada proses pemugaran tersebut ditemukan pula benda-benda peninggalan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Kini warisan sejarah tersebut sudah dipindahkan dan dipajang di Museum Situs Candi Jiwa. Maka selain candi, museum ini juga menjadi daya tarik tersendiri.

Candi Jiwa

Menurut warga sekitar, candi ini diberi nama jiwa karena proses penemuannya cukup mistis. Dulunya, unur atau gundukan tanah yang menutupi candi sering dilewati oleh kambing. Uniknya, beberapa kambing mati tanpa sebab yang jelas. Dari situ masyarakat menganggap tempat itu memiliki jiwa.

Candi Jiwa berbentuk tumpukan lempengan batu yang berukirkan relief Buddha, keramik, serta prasasti berisi mantra Buddha. Ini menunjukkan bahwa bangunan ini merupakan peninggalan agama Buddha. Apalagi bentuk utuhnya mirip bunga teratai yang kemungkinan bagian atasnya terdapat stupa seperti halnya Candi Borobudur.

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan sejumlah candi dan prasasi, salah satunya adalah Candi Blandongan.
Candi Blandongan sebagai salah satu jejak peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto: Dok. Javalane

Candi Blandongan

Berbeda dengan candi lain yang sudah rusak atau terpotong bagian atasnya, Candi Blandongan masih cukup utuh. Bentuknya persegi dengan ukuran 25×25 meter dan anak tangga pada setiap sisinya. Di bagian bawah candi terdapat lorong yang memisahkan antara bangunan dan dinding samping. Di tengah ada bangunan lagi dengan ukuran 12×12 meter. Presisi ukuran ini mencerminkan majunya peradaban saat itu.

Candi Serut

Setelah gundukan tanah diangkat, terlihat beberapa bagian bangunan yang sudah rusak cukup parah. Ada yang tingginya 6 meter, ada juga yang 8 meter. Namun situs ini masih memiliki daya tarik melalui ornamen dan arca yang berbentuk hewan dan manusia. Dilihat dari penampang luar, candi ini mirip dengan pondasi rumah dengan kamar-kamar, sumur, dan lantai papan di dalamnya.

Candi Sumur

Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 11 meter dan lebar sekitar 7,5 meter. Dinamakan Candi Sumur karena berupa sebuah kolam dengan kedalaman masih belum diketahui. Tebal dinding sebelah timur mencapai 4 meter dan di dinding lain 1,7 meter.

agendaIndonesia

****

Kerajaan Sunda Kuno, Jejak Peradaban Nusantara (Bagian 1)

Kerajaan Sundo Kuno merupakan peninggalan jejak peradaban Nusantara

Kerajaan Sunda kuno merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Sunda Kuno

Jauh sebelum Kesultanan Cirebon, tersebutlah kerajaan besar yang tak bisa ditaklukkan oleh Majapahit sekalipun. Menurut penulis Portugis, Tome Pires, dalam catatan perjalanannya Summa Oriental, kerajaan ini menguasai separuh Pulau Jawa dan batasnya berada di Sungai Chi Manuk. Itulah Sunda Galuh atau lebih dikenal dengan Kerajaan Pajajaran.

Luasnya meliputi daerah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sisi barat Jawa Tengah. Hal yang membuatnya begitu besar dikarenakan Sunda Galuh merupakan gabungan dua imperium, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda yang terbentuk sejak abad ke-7 berpusat di Pajajaran dan beribukota di Pakuan (Bogor), sedangkan Kerajaan Galuh yang hadir sejak abad ke-8 beribukota di Kawali (Ciamis).

Pada suatu masa, salah satu putra mahkota, Jayadarma menikah dengan keturunan Kerajaan Singasari, yakni Dyah Lembu Tal. Keduanya memiliki anak bernama Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit. Namun apa lacur, justru pada pemerintahan cucu Raden Wijaya, yakni Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda berseteru dalam Perang Bubat. Sejak itulah, kerabat keraton Sunda ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit (Jawa).

Perang yang lebih hebat terjadi saat Sunda Galuh didesak oleh kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya, seperti Cirebon, Demak, dan Banten. Untuk memperkuat diri, Sunda Galuh bekerja sama dengan Portugis. Alfonso d’Albouquerque menyambut baik ajakan ini. Namun sayang, Cirebon dan Banten tetap lebih kuat, sehingga Sunda Galuh memasuki era kejatuhannya.

Berikut sejumlah jejak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang masih ada dan layak dikunjungi.

Candi Cangkuang

Tak banyak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang tersisa. Namun justru itulah yang membuat perjalanan ke Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut menjadi begitu bermakna. Di sana ada Candi Cangkuang yang telah dibangun pada zaman Kerajaan Galuh pada abad ke delapan.

Dari pintu masuk ke kompleks candi, pengunjung masih harus menyeberangi danau sejauh 250 meter menggunakan rakit yang sudah disediakan. Deretan pepohonan Cangkuang di segala sisi pulau siap memayungi para wisatawan dari terik matahari. Selain itu, ada pemukiman adat Kampung Pulo yang terdiri dari enam rumah yang saling berhadapan.

Ke enam rumah ini mencerminkan jumlah anak dari tokoh pendiri kampung, yaitu Embah Dalem Arief Muhammad. Dia adalah seorang tentara Kerajaan Mataram yang menyebarkan agama Islam pada penduduk Desa Cangkuang. Makamnya pun dapat ditemui di dekat area candi.

Alamat: Leuwigoong, Karanganyar, Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut
Tarif sewa rakit
: Rp 5.000 per orang
Akomodasi: Tersedia penginapan dan bungalow dengan tarif mulai Rp 250,000 sampai Rp 300.000 per malam

Situs Ciung Wanara Karangkamulyan

Ciung Wanara adalah tokoh legenda di Jawa Barat. Ia mewarisi kesaktian dari ayahnya, seorang raja yang sudah diambil alih kekuasaannya oleh orang lain. Raja baru dan salah satu permaisuri pun merasa terancam dengan kelahiran Ciung Wanara, sehingga membuangnya ke sungai. Namun bayi itu selamat dan kelak ketika dewasa berjuang menuntut keadilan pada raja dan ratu yang lalim.

Kisah ini berlatar di Kerajaan Galuh. Karenanya, situs Ciung Wanara pun bertempat di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis yang pernah menjadi pusat aktivitas kerajaan. Begitu menjejakkan kaki di sini, kerimbunan rumpun bambu akan menyambut dengan kesejukannya.

Di balik pepohonan berumur ratusan tahun, terdapat sejumlah bangunan peninggalan Kerajaan Galuh. Di bagian depan ada Pangcalikan, yaitu batuan bertingkat segi empat yang biasanya digunakan sebagai altar pemujaan. Bagian selanjutnya adalah Sahyang Bedil, berupa ruangan batu dengan menhir di dalamnya. Ada pula tempat bernama Lambang Peribadatan dan Panyabungan Hayam, yang digunakan Ciung Wanara untuk menyabung ayam.

Alamat: Jalan Raya Banjar Ciamis, Cijeungjing, Karangkamulyan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis
Jam buka
: 07.00–20.00

Kerajaan Sunda Kuno dengan peninggalan Prasasti Batutulis. Prasasti ini masih ada di tempat aslinya.
Prasasti Batutulis yang merupakan salah satu bukti adanya Kerajaan Sunda. Foto: Dok. Javalane

Prasasti Batutulis

Luas kompleks Batutulis hanya sekitar 17 x 15 meter, tetapi nilai historisnya sangat penting. Batu berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi) ini merupakan bukti keberadaan Kerajaan Sunda. Statusnya in situ, yaitu masih terletak di lokasi aslinya alias sama sekali tidak dipindahkan.

Pada batu terukir beberapa baris kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuna. Teks tersebut dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk mencatatkan jasa dan kebesaran ayahandanya, Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.

Alamat: Jalan Batutulis Nomor 54, Batutulis, Bogor
Jam buka: 08.00–17.00

agendaIndonesia

*****

Benteng Vredeburg, Wisata Ke Peninggalan Dari 1767

Benteng Vredeburg sudah banyak yang tahu ada di Yogyakarta. Tapi berapa banyak dari kita yang pernah menyempatkan diri mampir dan menikmati tempat yang bersejarah ini? Rasanya tak banyak, meskipun wisatawan yang berkunjung ke kota pelajar ini sudah mondar-mandir di kawasan Malioboro.

Beteng Vredeburg

Malioboro memang sering kali menjadi tempat tujuan utama wisatawan saat berlibur ke Yogyakarta. Banyak wisatawan mengaku telah bolak-balik ke kawasan belanja ini tanpa merasa bosan. Di musim liburan, tak jarang jalan ini mengalami kemacetan luar biasa karena wisatawan tumpah-ruah di sana.

Benteng Vredeburg merupakan peninggalan Belanda pada tahun 1767 di kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Kawasan Malioboro Yogyakarta, tempat Benteng Vredeburg berada. Foto: Dok. unsplash

Mereka memenuhi kawasan ini, tidak saja karena godaan wisata belanja, seperti di Pasar Beringharjo dan toko Mirota Batik, jalan ini juga dikepung sejumlah obyek wisata menarik. Ada kompleks Keraton Yogyakarta, Taman Pintar, dan benteng tua bernama Vredeburg. Namun, seperti disebut di muka, yang terakhir ini rasanya yang paling jarang disambangi.

Mungkin karena kesannya kuno. Mungkin pula dulu tempat ini belum mendapat sentuhan konservasi dan membuatnya lebih “bunyi” sebagai tempat bersejarah. Beberapa tahun terakhir ini, Vredeburg terus mempercantik diri sehingga makin menarik untuk dilirik.

Pagi itu, seorang teman yang pernah bersekolah di Yogya bernostalgia ke kawasan Malioboro. Ia sengaja berjalan kaki menyusuri Jalan Malioboro setelah sarapan di hotelnya di ujung utara jalan ini. Tujuan awalnya adalah ke keraton. Tapi menjelang ujung Maliooro, ia tertarik dengan Vredeburg—benteng peninggalan pemerintah kolonial yang terletak tak jauh dari Pasar Beringharjo.

Meskipun sudah pernah tinggal di Yogyakarta, hari itu adalah kunjungan pertamanya ke Vredeburg. Bagian depan benteng ini dijadikan tempat parkir kendaraan bermotor, sehingga pintu masuk yang kecil tersamarkan oleh deretan mobil dan minibus. Mungkin itu salah satu penyebab orang sering tidak tergoda untuk mampir.

Melintasi pintu gerbangnya, sekilas Vredeburg mengingatkan orang apada Benteng atau Fort Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. Ke duanya sama-sama benteng peninggalan Belanda dengan deretan bangunan tua berjendela besar dan halaman yang luas. Perbedaannya, Vredeburg lebih didominasi warna abu-abu, sedangkan Fort Rotterdam tampak ceria dengan warna bangunan merah dan kuning. Namun, yang menyenangkan, keduanya masih terawat dengan baik sampai sekarang, sehingga bisa menjadi sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda.

Di kawasan Benteng Vredeburg, tadinya terdapat kafe yang didesain cantik dengan atmosfer tempo dulu. Indische Koffie, namanya. Beroperasi sejak pertengahan 2012 di salah satu bangunan pada benteng tersebut, kafe ini memiliki ruangan indoor dan outdoor. Bagian luar cocok untuk meneguk secangkir kopi pagi hari sembari menikmati suasana benteng yang masih sepi. Sayangnya oase yang menarik ini kini sudah tutup.

Menurut catatan sejarah, sebelum dibangun benteng dengan bentuk arsitekturnya yang sekarang, pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan Hamengku Buwono I, di lokasi tersebut membangun sebuah benteng yang sangat sederhana. Bentuknya bujur sangkar. Pada ke empat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Oleh Sultan, ke empat sudut tersebut diberi nama masing-masing Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Menurut penuturan Nicolas Hartingh, Gubernur Jendral VOC untuk Jawa saat itu, benteng tersebut keadaannya masih sangat sederhana. Tembok dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap ilalang. Sewaktu W.H.Ossenberch menggantikan kedudukan Nicolas Hartingh, pada tahun 1765, diusulkan kepada sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin kemanan. Usul tersebut dikabulkan, selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan di bawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak.

Pada awal pembangunannya, status tanah tempat berdirinya benteng Vredeburg merupakan milik kasultanan. Tetapi dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC).

Lucunya, menurut penjelasan ahli sejarah, dahulu kala benteng yang awalnya bernama Rusternburg pada 1760-an, dibangun oleh Belanda justru untuk menghindari serangan dadakan dari pemimpin Keraton Yogyakarta saat itu. Letaknya yang memang tak jauh dari kompleks Keraton, hanya satu tembakan meriam, memudahkan Belanda mengawasi gerak-gerik lawan yang membahayakan posisi mereka. Itu sebabnya bangunan benteng ini berbentuk persegi dengan empat pos penjagaan atau bastion.

Selama kurun waktu dari 1770-an hingga saat ini, Vredeburg kerap kali berganti fungsi. Dari menjadi benteng pertahanan, markas militer untuk penjajah asing maupun tentara Republik Indonesia, hingga museum sejarah seperti saat ini. Beberapa bagian memang sempat dipugar, tapi kemudian dibangun kembali sesuai dengan bentuk aslinya.

Benteng Vredeburg kini menjadi museum dengan gambaran perjuangan bangsa Indonesia.
Ruang Diorama di dalam Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto: dok. unsplash

Di dalam Museum Benteng Vredeburg, terdapat beberapa diorama dengan total 1.200 patung diorama yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Selain itu, dipajang pula koleksi benda bersejarah, foto-foto, patung, dan lukisan tentang perjuangan.

Teman yang bercerita kunjungannya ke Vredeburg ini menilai, benteng ini sesungguhnya aset wisata yang luar biasa. Tentu semakin menarik jika ditambahi dengan atraksi-atraksi keren yang cocok dengan anak muda.

agendaIndonesia

*****

Kota Lama Padang, Terbesar di Abad 19

Kota Lama Padang bisa dinikmati di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Kota lama Padang merupakan bagian kuno dari ibukota Sumatera Barat. Dulunya ia menjadi tanda kebesaran Padang sebagai kota perdagangan di zaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Sayangnya kini, akibat waktu dan gempuran gempa, sebagian bangunan semakin terbengkalai dan tidak terawat.

Kota Lama Padang

Hampir sepanjang abad ke-19, Padang boleh disebut menjadi kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan, sekaligus “markas” militer Hindia Belanda, dalam hal ini diwakili oleh kongsi dagang VOC, untuk menaklukkan dan mempertahankan daerah-daerah di Sumatera. Tidak hanya dibangun oleh penguasa saat itu, kota ini juga tumbuh berkat partisipasi pihak swasta yang berasal dari berbagai bangsa, seperti Minangkabau, Belanda, Cina, India, dan Arab.

Sisa-sisa arsitektur masa keemasan zaman itu masih bisa dilihat di kawasan Padang Kota Lama. Lokasinya di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, dan Pasar Gadang. Namun akibat gempa besar 7,9 skala Richter, yang terjadi pada 30 September 2009, banyak bangunan rusak dan hanya beberapa yang bisa diperbaiki. Menikmati sisa-sisa kejayaan kolonial kota ini paling tepat dilakukan dari atas Jembatan Siti Nurbaya, yang terbentang di atas Sungai Batang Arau. Dari jembatan ini lanskap Kawasan Padang Kota Lama terlihat lebih jelas.

Kota Lama Padang menyimpan bukti kebesaran kota ini di masa lampau.
Sungai Batang Arau yang membelah kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Jalan Batang Arau terletak di sisi kanan Sungai Batang Arau, dekat muara. Di sana berderet puluhan bangunan tua dan besar menghadap ke jalan serta Sungai Batang Arau. Dulu, bangunan ini digunakan untuk kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang. Bangunan yang menonjol adalah Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio, yang didirikan sebelum 1920. 

Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik ini setinggi 24 meter, sementara dindingnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada bagian puncak. NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat bisnis beberapa perusahaan. Kini, kantor itu dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga dan tampak tidak terawat.

Namun, ada juga bangunan yang masih terawat, seperti yang sekarang digunakan Bank Indonesia. Dulu, gedung ini dimanfaatkan De Javasche Bank, yang berlokasi di seberang NHM. Dibangun sekitar 1930, bangunan ini berarsitektur tropis dengan kubah kecil di bagian atas mirip atap masjid.

Kota Lama Padang memiliki sejumlah gedung kuno yang merupakan peninggalan Belanda dengan arsiteturnya yang khas.
Sebuah gedung kuno peninggalan Belanda di Padang yang masih sering dikunjungi wisatawan. Foto: Dok. shutterstock

Gedung lain yang menonjol adalah Padangsche Spaarbank, yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua setinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik. Tampaknya bangunan tersebut terpengaruh arsitektur art-deco dengan gaya mahkota di bagian depan atas bertulisan “1908”. Bangunan ini sempat menjadi Hotel Batang Arau, yang banyak dikunjungi turis asing yang ingin berselancar di Mentawai.

Sejak gempa 2009, gedung itu kosong dan terlihat tidak terawat. Di sebelahnya terdapat gedung NV Internatio, yang dibangun sekitar 1910. Dengan gaya arsitektur neoklasik-modern, yang berkembang sebelum 1920, bangunan tersebut kini dimiliki Badan Usaha Milik Negara Cipta Niaga.

Selain di Jalan Batang Arau, ada banyak bangunan tua di tiga kawasan yang pada abad ke-19 menjadi pasar itu. Posisi pasar tersebut bersebelahan dengan Jalan Batang Arau, yakni Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad ke-19 menjadi urat nadi perekonomian kota. Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur corak tradisional Cina. Sedangkan ukiran ornamen dinding dan atap pada beberapa bangunan di sana pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.


Pasar Mudik dibangun pertengahan abad ke-19 oleh perusahaan dagang Badu Ata & Co. Beberapa bangunan menonjol di sini adalah Hotel Nagara dan Gedung Juang 45. Gedung-gedung di Pasar Mudik berupa ruko serangkai. Pengaruh arsitektur Cina, Arab, India, dan Minang terlihat di bagian atapnya.

Adapun Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa. Karena itu, selain gaya kolonial Belanda, ada campuran arsitektur tradisional Cina. Gedung yang menonjol di sini adalah kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). 

Di Kawasan Padang Kota Lama, ada juga Kelenteng See Hin Kiong, yang dijadikan tempat ibadah sejak 151 tahun lalu. Di luar kawasan ini, gedung-gedung tua juga tersebar di lokasi lain kota itu, seperti Balai Kota Padang, Kapel Susteran St Leo, dan Katedral. Sayangnya, Pemerintah Kota Padang belum memperlihatkan upaya untuk memulihkan Kawasan Padang Kota Lama. Gedung-gedung tua warisan zaman kolonial itu tampak kian telantar. Bisa dikatakan Kawasan Padang Kota Lama ini berada di ujung senja, seperti menunggu kehancuran saja.

TL/agendaIndonesia

****

Candi Sukuh, Candi Hindu Terakhir Abad 15

Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar merupakan candi Hindu terakhir di pulau Jawa.

Candi Sukuh diketahui sebagai candi Hindu terakhir yang ada di pulau Jawa. Sekaligus menandai dimulainya masa perkembangan awal agama Islam di pulau ini. Kompleks candi Hindu yang tidak terlalu besar ini memiliki pengaruh era Megalitikum di lereng Gunung Lawu.

Candi Sukuh

Terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh tidak sulit untuk dicapai jika pengunjung menggunakan transportasi umum. Dari Terminal Tirtonadi, Solo, pengunjung bisa naik bus jurusan Tawangmangu, yang membawa ke Terminal Karangpandan. Di masa normal, sebelum pandemi Covid19, bus jurusan ini umumnya beroperasi mulai pukul 6 pagi. Di hari biasa, bus itu penuh dengan penumpang anak sekolah dan pegawai kantor. Ongkos bus tak mahal, sekitar Rp 10 ribu per orang dewasa, dan sekitar 60 menitan sampai di Karangpandan.

Perjalanan ke lereng barat Gunung Lawu dilanjutkan dengan bus-bus kecil atau minibus dengan tujuan Desa Kemuning. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 20 menit untuk  tiba di pertigaan Nglorok. Dari sini, pengunjung bisa memilih dua pilihan untuk menuju Candi Sukuh, yakni naik ojek atau berjalan kaki selama kurang lebih 45 menit di jalan aspal sepanjang dua kilometer.

Komp.leks candi ini pada hari-hari biasa tidak cukup banyak dikunjungi wisatawan. Ia baru agak ramai pada hari-hari akhir pekan atau libur sekolah. Kadang ada pula rombongan anak sekolah

Memasuki kompleks candi Sukuh ini, pengunjung akan disambut Gapura Paduraksa—gapura beratap menuju teras pertama. Di bagian atasnya terdapat pahatan kepala Kala, yang menyambut dengan senyum seringai. Di dinding kiri-kanan terdapat relief raksasa sedang menggigit ekor ular dan memakan manusia. Konon, kedua pahatan itu merupakan sandi angka, biasa disebut sengkalan dalam tradisi Jawa kuno. Ini biasanya diperkirakan menunjukkan tahun selesainya pembuatan candi, yakni 1359 Saka atau 1437 Masehi.

Candi Sukuh
Relief di Candi Sukuh banyak menyiratkan secara gamblang hunungan pria dan wanita. Foto: Dok. shutterstock

Sepintas, tanpa memperhatikan detail relief, bangunan utama Candi Sukuh tampak seperti bangunan pemujaan ala suku Maya di Meksiko. Candi yang menghadap ke barat pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut ini dibangun pada akhir abad ke-15. Candi tersebut menurut sejumlah keterangan dikategorikan sebagai candi Hindu dengan arsitektur yang, konon, menyimpang dari ketentuan kitab Wastu Widya.

Pengaruh budaya pra-Hindu (Megalitikum) tampak jelas dari teras berundak di kompleks candi tersebut, di mana titik paling suci ditempatkan pada bagian paling tinggi dan paling belakang. Ada dugaan Candi Sukuh dibangun dengan tujuan sebagai tempat meruwat untuk melepaskan kekuatan buruk yang dimiliki seseorang.

Saat ini pengunjung tidak dapat lagi melintasi Gapura Paduraksa untuk masuk ke teras pertama. Para wisatawan kini harus memutar dari sisi kanan. Pintu gapura utama tersebut ditutup agar pahatan yang berfungsi sebagai Mantra Ruwatan, yang ada di lantai gapura, tetap terlindungi. Karya tersebut diperkirakan menggambarkan persatuan lingga dan yoni, sebuah lambang kesuburan. Mantra itu dipasang konon untuk menyucikan setiap tubuh yang masuk ke kompleks candi.

Tak banyak yang dapat dinikmati di halaman teras pertama. Pemandangan paling mencolok, selain Karanganyar dari ketinggian, adalah tiga batu yang masing-masing bergambar lelaki berkuda diiringi pasukan bertombak, sepasang lembu, dan lelaki penunggang gajah. Di belakang ketiga batu tersebut terdapat semacam bangku batu dan meja.

Teras kedua dapat dicapai setelah melalui tangga batu yang diapit Gapura Bentar. Sama sekali kosong di sini, sehingga dapat dipastikan pengunjung akan bersegera menuju teras ketiga. Teras tertinggi itu diyakini sebagai pelataran paling suci. Terdapat banyak arca dan batu bergambar di sana. Di sayap kanan, perhatian pengunjung akan tersita oleh tiga arca manusia bersayap. Anak-anak bisa jadi akan berimajinasi tengah bertemu dengan malaikat. Pada bagian belakang, tampak dua dari tiga arca memiliki pahatan aksara Kawi. Sedangkan di sayap kiri terdapat beberapa arca berbentuk lembu dan gajah, di mana kisah Sudamala dimulai tepat setelah relief gajah terakhir. Relief itu menggambarkan kisah keberhasilan Sadewa—anggota Pandawa bersaudara—meruwat Dewi Uma, yang dikutuk oleh Batara Guru menjadi Durga.

Pengunjung biasanya tak mau melewatkan kesempatan untuk naik ke bangunan utama di teras ketiga setinggi 6 meter. Tidak ada ruangan di dalamnya. Kosong pula bagian atapnya. Hanya ada lingga tanpa yoni dengan beberapa batang dupa wangi dan canang sesaji. Kadang-kadang, pengunjung meletakkan uang dalam jumlah tak terlalu besar di sana. l

TL/agendaIndonesia

*****

Kebersamaan 4 Keluarga Dalam 1 Rumah Bolon

kebersamaan 4 keluarga dalam 1 rumah Bolon menjadi simbol harmoni keluarga masyarakat Batak Toba.

Kebersamaan 4 keluarga bisa tinggal dalam satu rumah Bolon, rumah adat masyarakat Batak Toba. Satu rumah adat penuh simbol keselamatan ini bisa dihuni empat keluarga.

Kebersamaan 4 Keluarga

Dengan kapal feri dari Pelabuhan Ajibata, Prapat, mobil yang saya tumpangi terangkut hingga Pulau Samosir, Sumatera Utara. Dalam waktu sejam, saya tiba di Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, yang cukup ramai. Beberapa meter meninggalkan pelabuhan, seketika suasana terasa begitu lengang, apalagi di siang yang terik. Namun justru di tengah keheningan saya bisa lebih tenang mencermati satu demi satu rumah khas Batak Toba

Tak lama kemudian, pepohonan di sisi kiri terasa menyegarkan. Tebing dengan hamparan sawah di depannya membuat siang sedikit lebih adem. Akhirnya saya tiba di Desa Ambarita. Sebuah obyek wisata yang menyuguhkan sejarah dan tradisi daerah ini seperti mengundang saya untuk mampir. Tidak lain dari Hutaatau Kampung Siallagan, kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang menarik perhatian saya.

Rumah adat yang disebut juga rumah bolon dari kayu itu berderet rapi dalam benteng batu. Setelah membayar tiket masuk, saya mulai menyimak penjelas sang pemandu, Guido Sitinjak. Berbentuk panggung, rumah ini memiliki atap pelana yang bubungannya melengkung. Ujung atap bagian belakang posisinya lebih tinggi dibanding dengan yang di depan. Hal itu sebagai simbol harapan agar anak meraih segala sesuatu yang lebih baik daripada orang tua. Konstruksi bangunannya tanpa paku, dengan atap dari serat nira.

kebersamaan 4 keluarga dalam satu rumah adat Bolon pada masyarakat Batak Toba memperlihatkan keselarasan dalam kehidupan mereka.
Rumah adat Bolon dalam tradisi dan budaya masyarakat Batak Toba. Foto: Dok. Shuuterstock

Seperti umumnya kampung suku Batak Toba pada masa lalu, satu rumah berdampingan dengan rumah lainnya di kompleks Raja Siallagan. Setiap rumah memiliki kolong yang dijadikan tempat menaruh ternak. Tinggi lantai tergantung pada jenis atau ukuran hewan yang dipelihara. Untuk memasuki rumah, tentunya dibuat sebuah tangga, yang selalu berjumlah ganjil. Pintu dibikin pendek, sehingga setiap orang yang masuk rumah harus menundukkan kepala. “Sekaligus sebagai simbol untuk menghormati dewa,” ujar Guido.

Uniknya, pintu masuk bagi perempuan tidak ada di depan, melainkan di samping. Namun bukan berarti perempuan diposisikan lebih rendah. Justru suku Batak Toba memiliki filosofi: lelaki harus menghargai ibu dan istrinya. Hal tersebut terlihat dari lambang yang dimunculkan sebagai dekorasi dalam rumah, yakni berupa empat payudara dan seekor cicak. Payudara tersebut bermakna kesuburan dan kekayaan serta menjadi simbol bahwa orang Batak Toba selalu berbakti kepada inang alias ibu. Sedangkan cicak menggambarkan betapa mudahnya orang Batak beradaptasi dan tinggal di berbagai daerah, meski akan kembali ke ibu dan kampung halamannya. Empat payudara juga berarti pria Batak harus menghargai ibu dan istrinya. Selain itu, empat payudara tersebut melambangkan adanya empat keluarga dalam satu rumah bolon.

Rumah bolon biasanya dihuni beberapa keluarga. Ada sebuah ruangan yang memang digunakan bersama-sama, tapi ada pula kamar yang hanya boleh ditempati pemimpin di rumah tersebut, seperti sudut kanan bagian belakang rumah. Di bagian belakang terdapat dapur dan setiap keluarga memiliki dapur sendiri. Sedangkan lumbung pagi atau sopo dibangun terpisah dari rumah.

Sang pemandu menegaskan, seperti yang terlihat pada kebanyakan rumah adat di sini, warna yang digunakan hanyalah merah, putih, dan hitam. Putih, menurut Guido, menjadi lambang dunia atas atau Yang Maha Kuasa. Ada juga yang menyebutnya sebagai simbol kesucian atau kejujuran. Merah menggambarkan dunia tengah atau kehidupan saat ini. Ada pula yang memaknainya sebagai simbol pengetahuan atau kecerdasan. Lantas, hitam menunjukkan dunia bawah atau fana, selain melambangkan kewibawaan atau kepemimpinan.

Zaman dulu, warna merah bahkan diambil dari darah. Dekorasi muncul di berbagai sisi, dari atap rumah hingga tangga, yang diberi nama tangga rege-rege. Semua ornamen menyimbolkan keselamatan bagi para penghuninya. “Rumah juga menunjukkan kemampuan pemiliknya,” kata Guido.

Keunikan kampung yang satu ini adalah kehadiran Hau Habonaran atau pohon kebenaran. Di bawah pohon yang rindang itu terdapat satu set meja-kursi terbuat dari batu. Inilah yang disebut batu persidangan, sebagai tempat pengadilan zaman dulu. Raja, dukun, dan tetua adat atau penasihat akan mengambil keputusan di meja tersebut untuk sebuah perkara.

Guido menjelaskan, kesalahan yang tidak bisa diampuni, seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata musuh, akan dijatuhi hukuman penggal. Eksekusi hukuman dilakukan tidak jauh dari batu persidangan. Pada masa itu, darah si terhukum diminum, demikian pula dengan jantung dan hatinya. Kedua organ tersebut dicincang dan diramu untuk menambah kekuatan raja dan dukun. Model persidangan dan hukuman macam ini terakhir dilakukan pada tahun 1816, setelah datang seorang misionaris, Nomensen. Kompleks rumah Batak Toba itu dilengkapi pula dengan pemakaman keluarga Raja Siallagan.

Saya lantas bergeser ke Simanindo, tepatnya menuju Museum Huta Bolon. Turis pun bisa memetik pelajaran sejarah dan tradisi suku Batak Toba di sini. Semula, sebelum disulap menjadi museum, tempat ini adalah rumah peninggalan Raja Sidauruk. Di dalamnya bisa ditemukan berbagai perlengkapan yang ada dalam sebuah rumah tradisional, termasuk peralatan memasak dan bertani. Di samping itu, dipajang beragam jenis ulos yang biasa digunakan dalam berbagai upacara. Di kompleks rumah adat yang terdapat di sebelah museum, berjejer lumbung padi yang menjadi tempat para penonton menyaksikan sederet tarian tradisional. Pentas tari itu digelar setiap hari pada pukul 11.00.

Bila ingin mengenal kehidupan yang lebih riil, Anda bisa mencermati beberapa rumah Batak Toba yang masih dihuni penduduk setempat. Kabupaten Samosir masih memiliki banyak rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan—ibu kota kabupaten—rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Terkadang, terlihat perempuan menenun di depan rumah. Atau bila ingin melihat penenun tradisional lebih banyak lagi, Anda bisa mampir ke Desa Penampangan, Kecamatan Pangururan. Denyut keseharian para perempuan di kampung tradisional tersebut benar-benar menawan.

Rita N./Toni H./TL/shutterstock/agendaIndonesia

*****

Menikmati 1001 Kisah Negeri Sendiri

menikmati 1001 kisah negeri sendiri bersama Komunitas Historia Indonesia

Menikmati 1001 kisah negeri sendiri tentang sejarah dan budaya. Banyak program yang disusun Komunitas dengan menarik. Wisata pun menambah wawasan dan mengungkap kesadaran.

Menikmati 1001 Kisah Negeri Sendiri

Jarum jam arloji menunjukkan tepat pukul 20.00 WIB. Hujan yang mengguyur sejak sore belum juga reda. Meski begitu, ratusan anggota Komunitas Historia Indonesia  (KHI) tetap semangat mengikuti “Wisata Malam Kota Tua Jakarta”. Mereka tetap antusias menyambangi tempat-tempat sejarah yang mungkin belum diketahui, meski cukup lama tinggal di Jakarta.

Ya, mungkin boleh dibilang orang yang mengetahui jika Museum Fatahillah itu dulunya bernama Stadhuis alias Balai Kota masih terhitung dengan jari. Begitu pula dengan Stadhuis Plein, sebutan untuk Taman Fatahillah; Raad van Justitie, yang dulunya Benteng Batavia kini dinamakan Museum Seni Rupa dan Keramik; atau Hoenderpasar Broeg, nama lain Jembatan Kota Intan pada zaman kolonial.

menikmati 1001 kisah negeri sendiri bersama aktivitas KHI
Kmunitas Hirtoria Indonesia sedang beraktivitas menikmati sejarah Jakarta. Dok KHI

Komunitas penggemar sejarah ini memang mengenalkan situs-situs sejarah bangsa dengan cara berbeda. Pada acara bertajuk “China Town Journey”, misalnya. Para anggota KHI menyambangi The Groote Kanaal atau Kali Besar, Pasar Pagi, Rumah Keluarga Souw, eks Gedung Tiong Hoa Howe Kwan, Klenteng Toa Sai Bio, Gereja St Maria De Fatima, Klenteng Jin De Juan, dan Pasar Glodok.

China Town Journey juga digelar tahun ini, tepatnya sehari menjelang perayaan Hari Raya Imlek nanti. “Namun temanya berbeda. Kali ini kami akan mengajak para peserta mengunjungi tempat-tempat yang dulunya dijadikan pusat prostitusi, perjudian, dan perdagangan madat,” ucap Asep Kambali, pendiri dan Ketua Umum KHI.

Meski terkesan negatif, pria yang akrab disapa Kang Asep itu ingin memperlihatkan jika keberadaan etnis Tionghoa sudah ada sejak dulu dan tak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya, kata Kang Asep, kawasan Pecinan selalu menjadi penopang sekaligus jantung yang menggerakkan detak perekonomian. “Kami berharap, adanya acara seperti itu dapat meningkatkan kesadaran kita sebagai warga negara Indonesia sehingga meningkatkan toleransi berwarga negara,” ujarnya.

Di lain kesempatan, para anggota penggemar sejarah itu juga tampil di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam rangka 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Indonesia. Mereka berdandan menyerupai sosok Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Pandit Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, Presiden Gamal Abdul Nasser, dan Raja Faisal.

KHI juga menggelar program Night at The Museum pada kesempatan lain. Sesuai dengan namanya, para peserta diajak melakukan tur museum di tengah malam. Sekali waktu, mereka juga menjelajahi kawasan Pulau Seribu untuk mengamati benteng-benteng peninggalan Belanda yang ada di sana.

Banyak kegiatan yang diadakan komunitas yang berdiri pada 22 Maret 2003 itu. Tentu semua tak lepas dari sejarah dan budaya. Pada awal berdiri, KHI diberi nama KPSBI-Historia, kependekan dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia-Historia. Namun pada 2005, KPSBI-Historia berganti nama menjadi Komunitas Historia Indonesia atau KHI.

Hingga kini, anggota KHI sudah mencapai 23.500 orang yang tersebar tak hanya di Indonesia, tapi sampai luar negeri. KHI memiliki jenis keanggotaan pasif dan aktif. Anggota pasif berupa anggota yang hanya melakukan registrasi via situs KHI, tapi tidak mengisi formulir lanjutan via situs  yang sama untuk verifikasi. Anggota jenis ini bersifat gratis, tapi memiliki fasilitas terbatas.

Seddangkan anggota aktif merupakan anggota yang telah mengisi formulir lanjutan via website yang sama. Selanjutnya, anggota mengisi formulir di sekretariat KHI dan telah berkontribusi membayar biaya registrasi sebesar Rp 300 ribu satu kali seumur hidup, sudah termasuk iuran bulanan untuk tahun berjalan. Keanggotaan jenis ini memiliki fasilitas penuh. Untuk mengkomunikasi program-programnya, KHI menggunakan sarana situs, Blog,Twitter, dan Facebook.

Berbagai prestasi dan penghargaan sempat diraih KHI, seperti Komunitas Peduli Museum, Most Recommended Consumer Community Award, The Best Enterpreneurial & Business ConsumunityAward, dan Pengabdian terhadap Kelestarian Budaya Indonesia.

Penghargaan-penghargaan itu diraih karena KHI dinilai berhasil mengemas paket tur yang mengedepankan konsep rekreasi, edukasi, dan hiburan agar sejarah tidak lagi membosankan. Namun yang terpenting, menurut Kang Asep, KHI berharap warga Indonesia menjadi turis di negerinya sendiri.

Kontak KHI

Email info@komunitashistoria.com

Andry T./Dok. TL/Dok. Komunitas Historia Indonesia

Desa Adat Sasak Ende Dan 29 Rumahnya

Desa SasakEnde Frannoto

Desa Adat Sasak Ende adalah perkampungan Suku Sasak di Lombok yang dikenal terus bertahan menjaga adat leluhur. Termasuk jumlah rumahnya yang 29 buah.

Desa Adat Sasak Ende

Papu Linip, 75 tahun, tersenyum lebar. Perempuan tua itu dibalut busana tradisional lambung berwarna hitam dan kain tenun Sasak. Ia sudah hafal betul menyambut tetamu yang datang ke Desa Adat Ende di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Sebagai salah satu kampung yang mempertahankan tradisi dan budaya suku Sasak, kedatangan wisatawan menjadi bagian dari keseharian masyarakat di sini.

“Papu” dalam bahasa Sasak bermakna nenek, sedangkan “Linip” adalah nama anak pertamanya. Sebelum menjadi nenek, ia dikenal sebagai Ina Linip, atau ibunya Linip. Demikian tradisi suku Sasak memanggil seseorang. Para pria disebut ama, sedangkan kakek disebut mame. Seperti umumnya perempuan tua, sehari-hari ia anteng mengunyah sirih dan kapur di beranda rumahnya atau nyiruh. “Bisa lima kali sehari,” ucapnya.

Desa Adat Ende terdiri atas 29 rumah dan 125 jiwa. Rumahnya dikenal sebagai bale tani, maknanya tak lain rumah petani. Sebab, semua warga memiliki mata pencarian sebagai petani. Bangunan lain adalah lumbung dengan kaki-kaki bangunan lebih tinggi. Merupakan tempat penyimpanan padi. “Satu lumbung untuk satu keluarga besar,” kata Papu Linip.

Selain itu, ada berugak, yang menjadi tempat berkumpul warga. Pada bangunan tanpa sekat ini, warga bisa bercengkerama, atau menenun. Adapun bangunan lain yang saya temukan adalah bale jajar, yang biasanya digunakan untuk pesta pernikahan dan tempat bermusyawarah antarwarga. Sesuai dengan tradisi, keempat bangunan terbuat dari bahan alam. Bagian atas menggunakan alang-alang kering, yang setiap 5-6 tahun akan diganti. Kemudian, kayu digunakan untuk tiang-tiang.

Yang unik adalah lantai tanah di bagian depan bale tani. Bagian luar rumah tersebut tidak menggunakan semen. Sebagai penggantinya, digunakan perekat alami yang sudah turun-temurun dari nenek moyang suku Sasak, yakni kotoran sapi atau kerbau.

Desa Adat Sasak Ende

Menurut sang pemandu, yang tak lain cucu Papu Linip, bagian luar bale tani tersebut dibiarkan berupa tanah karena mengacu pada ajaran Islam, manusia berasal dari tanah. Lantas, dipilih kotoran kerbau atau sapi karena dua hewan tersebut lambang kerja keras. “Dipilih kotoran yang masih baru karena daya lekatnya lebih tinggi,” ia menjelaskan.

Tanah yang sudah pecah-pecah menjadi tanda perekat itu sudah habis. Jadi bale luar tersebut kembali diolesi kotoran. Biasanya, ketika bale tani diolesi kotoran pada pagi hari, penghuni sudah bisa kembali menempati rumahnya saat asar. Artinya, bau kotoran sudah hilang. “Biasanya dua kali seminggu,” kata Papu Linip tentang pengolesan kotoran hewan itu. Dalam tradisi suku Sasak, yang harus mengoleskan kotoran adalah kaum perempuan. Sebab, perempuan-lah yang mengurus rumah tangga.

Lantas, si nenek pun memperagakan cara mengolesnya. Ternyata menggunakan tangan langsung. Kotoran hewan itu dicampur dengan sedikit air, tanah liat, bambu, kayu, dan alang-alang. Keunikan lain, atap pada bagian depan atau di bale luar dirancang pendek. Inilah salah satu tradisi agar tamu yang masuk memberi penghormatan terlebih dahulu.

Bale luar menjadi ruang tidur kaum pria dan anak-anak usia 10 tahun ke atas. Sedangkan bagian dalam dijadikan tempat tidur kaum hawa, selain menjadi dapur dan tempat menyimpan perabot. Pria yang masih menjadi pengantin baru akan tidur di dalam bersama istrinya, hingga mempunyai satu anak. Untuk tidur, mereka beralaskan tikar dari daun pandan.

Tidak jauh dari bale tani dan lumbung, ada juga kandang hewan. Selain bertani, masyarakat beternak. Bahkan sapi menjadi sesuatu yang paling berharga bagi masyarakat. Sebab, sapi punya aneka fungsi, merupakan traktor tradisional di sawah, bisa juga dijual bila memerlukan dana, dan kotorannya juga digunakan untuk menyemen rumah.

Bahkan, bila sapi dicuri, yang mencarinya bisa seluruh warga. Bahkan bukan hanya warga satu kampung, melainkan juga kampung tetangga. Gotong royong menjadi ciri lain suku Sasak. Baik saat ada warga yang ditimpa kedukaan, maupun pesta hingga membuat bangunan.

Saat saya datang, kaum lelaki tengah membuat bangunan di bagian depan gerbang masuk, dan kaum perempuan memasak bersama-sama. Saat hidangan sudah matang, mereka makan bersama atau begibung. Sajiannya berupa nasi, dengan sayuran yang dibubuhi gurita hingga hidangan bersantan itu terasa gurih.

Karena para perempuan kebanyakan memasak, yang menenun hari itu tidak terlalu banyak. Ina Dangker, atau ibunya Dangker, hari itu memilih bermain berira, salah satu alat tenun. Nah, berira ini juga menjadi senjata bila ada maling. Konon, maling pun lebih takut kepada wanita karena kekuatannya bisa luntur. Menenun menjadi keahlian yang wajib dimiliki perempuan Sasak. Bahkan menjadi syarat sebelum menikah, sehingga anak-anak perempuan belajar menenun sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Di Desa Rambitan, selain Desa Adat Ende, ada Desa Adat Sade. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer. Bila dibanding Ende, perkampungan Sade lebih padat. Selain di Lombok Tengah, ada Desa Adat Segenter di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Desa Adat Suku Sasak ini berada di dekat jalur pendakian ke Gunung Rinjani dari sisi Senaru. Konsepnya lebih-kurang sama, dan ruang antara rumah cukup lebar sehingga nyaman dikelilingi. Satu lagi yang berbeda dengan kampung Sasak di Lombok Tengah, tentunya hawa di sekitarnya yang sejuk karena berada di daerah pegunungan. l

Kawin Lari & Nyokolan

Bila kebanyakan suku mempunyai cara lamaran dengan sejumlah kerumitan, pada suku Sasak yang ada keunikan. Sebab, bila sudah sama-sama suka, untuk bisa menikah ada tradisi menculik calon mempelai wanita. Yang melakukan tak lain sang kekasihnya. Dilakukan tengah malam, si wanita tentunya sudah diberi tahu terlebih dulu, dia akan diculik dan dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Keluarga perempuan biasanya menunggu hingga 24 jam, sampai yakin bila anak perempuannya telah diculik untuk dinikahi sang pujaan hatinya.

Selain itu, untuk pestanya, dikenal dengan nyongkolan, yakni mengarak pengantin keliling kampung untuk memperkenalkan kepada warga. Diiringi gendang khas Lombok yang dikenal dengan gendang beleg atau gendang besar. Tentunya, terasa meriah. l

Rita N./Frann/Dok. TL

Taman Nasional Sembilang, 1 Persinggahan Burung

Burung Migrasi di Taman Nasional Sembilang

Taman Nasional Sembilang, ini taman nasional yang unik. Dia menjadi satu tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi dari Siberia menuju ke selatan di Australia. Dan sebaliknya.

Taman Nasional Sembilang

Berada di ujung pesisir barat Kabupaten Banyuasin, provinsi Sumatera Selatan, Taman Nasional  Sembilang ini terdiri atas hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian atau tepi sungai. Total luasnya mencapai 205,7 ribu hektare. Posisinya berhadapan langsung dengan pulau Bangka.

Pemandangan alamnya yang eksotis membuat tempat ini menarik kunjungan banyak wisatawan. Tapi di luar itu, flora dan fauna yang hidup di dalamnya membuat taman nasional menjadi tujuan utama mahasiswa atau ilmuwan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melakukan penelitian.

Sayangnya memang perjalanan menuju taman nasional ini belum cukup mudah. Akses utama menuju kawasan ini biasanya menggunakan kendaraan air. Hal ini disebabkan karakteristik dan lokasi Sembilang kebanyakan merupakan perairan. Sungai dan rawa-rawa.

Untuk sampai ke Taman Nasional ini memang tidak mudah. Butuh sedikit pengorbanan, baik dari sisi waktu maupun tenaga. Pertama-tama, tentu saja, adalah surat izin masuk kawasan taman nasional. Sebab, ini bukanlah kawasan wisata umumnya. Ada banyak hal yang dilindungi. Tapi jangan khawatir, urusan izin ini administrasi saja. Sepanjang jelas tujuan perjalanan, surat izin sangat mudah diperoleh.

Untuk mengunjungi Sembilang, pengunjung harus mendapatkan surat izin masuk. Wisatawan lokal bisa mendapatkannya dari Kantor Balai Taman Nasional di Jalan AMD, Talang Jambe, Kota Palembang, sedangkan pengunjung asing dapat memperolehnya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Masyarakat Palembang, juga pengunjung lainnya, biasanya untuk menuju ke taman nasional Sembilang berangkat dari ibukota Sumatera Selatan itu dengan menumpang speedboad. Dari Dermaga Benteng Kuto Besak menuju Sembilang akan memakan waktu perjalanan sekitar 4 jam.

Alternatif lain adalah menggunakan perjalan campuran: darat dan air. Jika memilih menggunakan cara ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan darat dari Palembang menuju Simpang PU atau Parit 5 yang letaknya ada di Jalan Raya Tanjung Api-Api. Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam. Dari lokasi itu, perjalanan dilakukan dengan speedboad menuju Sembilang dengan menyusuri sungai Musi dan waktu tempuhnya sekitar dua jam.

Jangan khawatir dengan lamanya waktu perjalanan. Sebab selama perjalanan menuju Taman Nasional Sembilang, mata akan disuguhi pemandangan sungai, laut dan beragam jenis tumbuhan Sesekali, akan ditemui burung-burung yang melintas di atas kepala atau ikan yang melompat akibat terjangan perahu. Yang paling banyak tentu saja kawasan mangrove.

Taman Nasional Sembilang memang terkenal dengan kelestarian tanaman mangrovenya yang membuat kawasan ini tetap terasa alami. Konon, Sembilang adalah habitat mangrove terbesar untuk kawasan Indonesia Barat.

Di beberapa titik sungai, pengunjung akan melewati perkampungan penduduk yang dibangun di atas rawa. Dari atas rumah bertiang, mereka hidup kompak dengan menggantungkan hidupnya mencari nafkah di air. Mereka amat ramah setiap kali kedatangan tamu, jadi jangan sungkan untuk menyapa mereka. Salah satu kampung nelayan ini merupakan sentra industri terasi udang, yang produknya dipasarkan sampai ke luar daerah, bahkan menjadi pemasok utama di Pulau Bangka.

Lalu bagaimana untuk menginap? Saat ini yang tersedia adalah rumah-rumah penduduk di sekitar taman nasional itu. Ini haruslah dianggap sebagai bagian dari petulangan atau tamasya alam. Penduduk setempat sudah biasa didatangi dan menerima tamu untuk menginap. Tentu dengan biaya pengganti sepantasnya. Tahun lalu, pemerintah Kabupaten Banyuasin berencana akan membangun vila laut di kawasan ini. Namun, tampaknya rencana ini sedikit tertunda.

Tapi, soal penginapan jangan sampai menghalangi keinginan untuk menikmati kekayaan alam Indonesia. Yang pertama tentu hewan-hewan langka khas Sumatera. Taman nasional ini merupakan habitat binatang eksotis Sumatera yang mulai langka. Sebut saja harimau Sumatera, gajah Asia, tapir Asia, siamang, kucing emas, rusa Sambar, buaya muara, ikan sembilang, penyu air tawar raksasa, lumba-lumba air tawar, dan berbagai spesies burung.

Selain hewan langka, berbagai macam tanaman darat dan air tumbuh di sini, termasuk gajah paku (Acrostichum aureum.), nipah (Nypa fruticans.),
cemara laut (Casuarina equisetifolia.), pandan (Pandanus tectorius.), laut waru (Hibiscus tiliaceus.), nibung (Oncosperma tigillaria.), jelutung (Jelutung), menggeris (Koompassia excelsa), gelam tikus (Syzygium inophylla), Rhizophora sp., Sonneratia alba., dan Gimnorrhiza bruguiera. Termasuk Kandelia Candel, bunga nasional yang juga dibudidayakan di Sembilang ini.

Keindahan Taman Nasional Sembilang tak hanya terletak pada hutannya. Jika berkunjung ke sini, wisatawan juga bisa menyaksikan parade cantik kawanan burung migran. Taman nasional ini merupakan salah satu tempat singgah migrasi puluhan spesies burung dari Siberia di utara Asia ke Australia.

Fenomena ini biasanya berlangsung di akhir tahun, mulai Oktober hingga Desember. Formasi burung migran ini menarik pencinta fotografi untuk datang ke TN Sembilang untuk mengabadikanburung-burung jenis Anis Siberia (Zoothera Sibirica) terbang bergerombol memenuhi angkasa.

Biasanya, untuk menghindari predator, burung-burung yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu itu akan terbang membentuk formasi bergerombol. Sesekali, burung-burung itu melakukan atraksi yang menarik. Nikmati pula suara gemuruh kawanan burung tersebut saat terbang bersamaan hingga menutupi suara debur ombak Selat Bangka.

Tertarik mengagendakan Sembilang? Ayo agendakan Indonesia-mu.

N. Adhi-TL

Lurik Motif 3-4, Lurik Khas Abdi Dalem

Motif kain lurik

Lurik motif 3-4, lurik khas abdi dalem Kraton Yogyakarta. Mungkin ini jarang ada yang tahu. Motif 3-4, dalam narasi aslinya disebut motif telu pat, ini artinya tiga-empat.

Lurik Motif 3-4

Kain lurik, sejak lama seakan diidentik sebagai bahan pakaian yang dipakai oleh para bangsawan dan abdi dalem di kalangan kraton Yogyakarta. Motif telu pat yang disebut di muka adalah yang biasa dipergunakan oleh para abdi dalem. Biasanya menggunakan pewarnaan biru dengan kombinasi hitam atau putih.

Motif telu pat, yang berarti tiga-empat, itu disebut demikian karena merujuk pada jalinan tenunan benang. Tiga garis benang berjejeran dengan empat garis benang warna lainnya.

Ini tak sembarangan jejeran benang. Ada filosofinya. Pola jejeran benang itu konon menandakan kedekatan antara sinuhun atau raja dan rakyatnya. Seperti layaknya motif kain-kain tradisional yang berasal dari dalam kraton-kraton di Jawa, motif lurik juga diciptakan para sultan melalui proses perenungan yang dalam. Ada harapan dan cita-cita dari sang sultan dalam setiap tarikan benangnya.

Lurik konon berasal dari kata dalam bahasa Jawa lorek yang berartigaris atau garis-garis. Bentuknya sederhana seperti pagar. Harapannya supaya para pemakai lurik selalu terlindungi hidupnya dalam kesederhanaan.

Saat ini boleh dikata hanya dalam hitungan jari industri rumahan di Yogyakarta yang menghasilkan kain lurik secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Selebihnya sudah dikelola perusahaan kain dengan mesin tekstil. Yang memprihatinkan, para penenun kain lurik ini rata-rata mereka yang sudah berumur. Jarang sekali terjadi regenerasi penenun kain lurik di Yogyakarta.

Saat ini, usia penenun kain lurik paling muda sekitar 40 tahunan. Cukup banyak yang berusia 50-60. Dari generasi sebelumnya, masih ada yang berumur 80 tahunan, tapi mereka biasanya menenun dari rumah. Pemilik pekerjaan yang datang ke rumah mereka memberikan order dan petunjuk. Jika ada yang baru. Namun biasanya mereka menenun motif-motif yang sudah lama mereka kerjakan.

Awal tahun 60-an adalah masa-masa kejayaan penenun kain lurik. Di desa Krapyak Wetan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, cukup banyak penenun yang mengerjakan kain lurik di rumah. Di desa itu, di daerah Sewon Bantul, saat ini masih dapat ditemui sejumlah perajin kain lurik. Tapi jumlahnya sangat sedikit.

Hingga akhirnya tiba masanya kain lurik bisa dihasilkan mesin tekstil. Selain efisiensi dari rantai produksi dan waktu pengerjaan, kain lurik hasil mesin harus diakui hasilnya lebih halus. Proses produksinya pun sangat cepat. Akibatnya bisa diduga, jumlah perajin lurik tradisional di kampung-kampung di Bantul pun anjlok. Kalah melawan kerasnya persaingan dengan mesin.

Tentu, ada yang masih mencoba bertahan dengan menghasilkan lurik-lurik dari ATBM. Mereka menggunakan bagian depan rumahnya menjadi ruang pamer kain-kain lurik siap jual buatan pekerjanya. Sedangkan produksi mengunakan bagian belakang rumah.

Tenun lurik hasil ATBM umumnya memiliki dua lebar yang berbeda, yaitu 70 dan 100 sentimeter. Ini tergantung panjang alat tenun. Panjang satu gulungan motif bisa mencapai 100 hingga 150 meter. Keseluruhan proses penenunannya bisa mencapai waktu satu bulan. Semua tergantung tenaga penenun. Ada juga yang sanggup mengerjakan10 meter dalam waktu sehari saja. Kain-kain lurik yang sudah jadi siap dijual dalam kisaran harga Rp 30-50 ribu per meter.

Seiring dengan perkembangan zaman, para penenun kain lurik kini tidak hanya menggarap motif-motif tradisional milik kraton. Banyak desain dan motif baru. Upaya pemerintah melestarikan jenis kain ini, memunculkan kreasi desain-desain baru. Terlebih saat ini, banyak sekolah dan kantor yang menggunakan kain lurik sebagai seragam pada hari-hari tertentu. Tiap lembaga kadang menginginkan desain sendiri.

Di Yogyakarta sendiri kain lurik kalah populer cengan batik. Para penenun luriknya pun tak sebanyak pemegang canting batik. Meski banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa kain lurik usianya lebih tua dari batik dan bahkan dikenal masyarakat Jawa sejak zaman

Salah satu relief di Candi Borobudur pun ada yang menggambarkan perempuan sedang menenun. Ada pula prasasti Raja Erlangga yang pernah menyebutkan salah satu motif kain lurik sebagai Tuluh Watu. Dari berbagai penemuan sejarah itu, diketahui bahwa lurik tidak hanya dikenal masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jika memiliki kesempatan berkunjung ke perajin tenun lurik, Anda akan tertarik melihat proses skir, yaitu proses penyusunan motif untuk selembar kain lurik. Benang-benang yang akan digunakan, disusun menyerupai bentuk rak. Melihat proses skir layaknya tarian ribuan benang warna-warni.

Biasanya para penenun menggunakan benang katun putih yang kemudian diberi pewarna sintetis. Setelah motif disusun dalam proses skir, benang-benang tersebut akan ditenun melalui ATBM.

Selain didesak modernisasi teknologi tekstil, jumlah perajin kain lurik ATBM yang jumlahnya tidak banyak, juga semakin berkurang. Ini terjadi di saat tiba musim tanam dan panen di sawah. Para perajin lurik beralih menjadi buruh tanam di sawah-sawah yang penghasilannya lebih cepat.

Jumlah penenun lurik memang semakin sedikit, meski kain lurik pamornya masih lumayan moncer seiring kampanye pelestarian jenis kain ini. Namun, jika melihat dari perajinnya, kini hanya hitungan jari. Jika berkunjung ke sentra perajin lurik, kini ruangan produksinya praktis sepu. Suara alat tenun yang beradu pun nyaris seperti gending monggang. Gending kematian.

Dari Liputan TL.

Kurnia Lurik

Krapyak Wetan RT 05 Nomor 133 Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

Tak jauh dari cagar budaya Panggung Krapyak

Produk-produknya sudah bisa dipesan lewat media online di Instagram @kurnialurik_jogja

Sari Puspa Lurik

Desa Wisata Kerajinan Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman

Sekitar 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta

Bisa dicapai melalui Jalan Godean ke arah Selatan atau dari Jalan Wates ke arah Utara