4 Acara Malam Seru di Yogyakarta

Kunjungan wisatawan ke Yogyakarta salah satunya ke Pasar Malam Yogyakarta turun sepanjang pelaksanaan PPKM.

4 acara malam seru di Yogyakarta, selain nongkrong di angkringan, atau menikmati Malioboro dengan ribuan dagangan asongan, ini bisa jadi alternatif saat harus menghabiskan malam-malam di kota ini.

4 Acara Malam Seru di Yogyakarta

Namun, keseruan malam di Kota Pelajar itu tak habis di sana. Bila Anda sedang liburan di Jogja dan mencari keasyikan di petang hari selain nongkrong di angkringan, empat aktivitas ini bisa dijajal dilakukan.

Titik 0 Yogyakarta naufal hilmiaji unsplash
Wisata Yogyakarta pada malam hari.

Photo by Naufal Hilmiaji on Unsplash

Menyaksikan Milkyway Sambil Berkemah

Milkyway atau Bima Sakti bisa disaksikan dengan jelas di tempat yang gelap tanpa lampu. Salah satu lokasinya adalah di pantai. Anda bisa menikmati milkyway di pantai selatan Yogyakarta sambil berkemah bersama kerabat. Pantai yang seru untuk menggelar tenda adalah Pantai Pok Tunggal di Kabupaten Gunungkidul.

Waktu tempuhnya 2 jam dari Kota Yogyakarta dengan berkendara. Di sana tersedia penyewaan tenda dengan tarif berkisar Rp 50 ribuan untuk kapasitas empat orang.

Menikmati Lampu Taman Pelangi

Taman Pelangi di kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali), Jalan Ring Road Utara, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, bisa menjadi salah satu alternatif menikmati malam yang berbeda di Jogja. Apalagi, taman tersebut buka sampai malam, yakni mulai pukul 16.30 hingga 23.00.

Ada sekitar seratusan lampion dengan beragam jenis bisa menjadi latar berfoto. Di antaranya menggambarkan karakter tooh-tokoh kartun dan bebungaan. Harga tiket masuk untuk semua wisatawan, baik mancanegara maupun domestik, ialah Rp 20 ribu.

Wedang Ronde di Alun-alun Kidul

Alun-alun Kidul menjadi salah satu tempat pelancongan favorit kala malam hari di Jogja. Selain bisa mengayuh sepeda warna-warni yang sudah populer itu, kegiatan yang menyenangkan ialah menyeruput wedang ronde.

Sejumlah penjaja wedang ronde dapat dengan mudah dijumpai di kawasan Alkid—singkatan Alun-alun Kidul. Di tepi lapangan, bila petang, pedagang sudah bersiap menggelar lapak kaki lima di sana. Harga wedang ronde pun bermacam-macam. Rata-rata berkisar Rp 10 ribu.

Antre di Dapur Gudeg Pawon

Kuliner gudeg tengah malam memang sudah menjadi budaya yang melekat di Jogja. Salah satu yang banyak diburu ialah gudeg Jogja. Anda dapat menikmati makan nasi gudeg langsung di pawon atau dapur pemilik warung.

Gudeg Pawon beralamat di Jalan Janturan Nomor 36, Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta. Warung sederhana ini buka mulai pukul 22.00 hingga dinihari. Bila enggan mengantre, sebaiknya Anda datang lebih awal. Sebab, menjelang tengah malam, pengunjung biasanya akan membeludak.

F. ROSANA

3 Resto, 3 Menu di Manggarai Barat

andi prasetyo DSC06586

Apa kuliner yang bisa dinikmati di labuan Bajo? Hasil laut selalu menjadi menu dan pilihan utama di kawasan wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sementara kopi menjadi minuman yang selalu tersaji. Di mana wisatwan bisa menikmati sajian laut dan kopi yang asyik di kawasan ini? Berikut tiga pilihan resto dan tiga menu yang bisa dipertimbangkan untuk dicicipi selagi bermain di wilayah ini.

Kuliner di Manggarai Barat

Kuah Asam Arema Sari Laut

Siang itu, Billy sumringah mendapati warungnya disambangi orang luar pulau. “Biasanya yang ke sini hanya guru-guru pulang mengajar yang melintas atau sopir yang hendak melakukan perjalanan ke Lembor,” katanya. Tangannya langsung cekatan mengeluarkan beragam jenis ikan segar yang baru dibeli dari pengepul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. 

“Hari ini, kami punya ikan cepa, kerapu batu, dan ketamba,” tutur pria Nusa Tenggara Timur yang menikah dengan perempuan asal Malang—itulah sebabnya warung tersebut dinamai Arema—ini dengan lantang. Masakan andalannya adalah ikan kuah asam. Dia menamai masakannya sop ikan kemato (kemangi, asam, dan tomat). 

Yang spesial, proses masaknya masih mempertahankan cara tradisional. Itu juga yang membikin kuah merebakkan wangi khas. Tak amis, juga tidak enek. Warung yang sudah berdiri selama 10 tahun ini buka mulai pagi hingga sore. Bisa ditempuh lebih-kurang 15 menit berkendara dari Bandar Udara Komodo, di sinilah orang bisa menemukan keautentikan masakan ikan kuah asam khas daerah setempat. 

Arema Sari Laut

Kaper (Jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng)

Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 11.00-17.00

Harga per porsi (plus nasi) Rp 40 ribu

Tenda Seafood Kampung Ujung

Lebih-kurang 300 meter dari Pelabuhan Penyeberangan Labuan Bajo, berjejer tenda-tenda kaki lima. Lokasinya tepat di pinggir pantai, di samping jalan utama menuju Kampung Tengah. Di depan tenda-tenda, terpampang beragam jenis ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang masih segar. Pengunjung boleh memilih sendiri para calon “mangsanya”. 

Asap-asap olahan laut membumbung, menggelitik penciuman orang-orang yang lewat. Ada lebih dari sepuluh kios bisa disinggahi. Semua sama saja, baik dari cara masak maupun harga ikannya. Rata-rata Rp 70 ribu per ekor dengan berat lebih dari 2 kilogram untuk ikan kerapu dan kue, Rp 80 ribu untuk cumi-cumi ukuran besar, serta Rp 50 ribu per kilogram untuk udang. 

Pengunjung dapat memilih cara memasaknya. Yang paling terkenal adalah olahan bakar, goreng tepung, dan kuah asam. Ditambah dengan sambal masak khas Labuan Bajo yang menggunakannggurus, cabai kecil yang terkenal pedas tak terkira. Makan pun makin nikmat, apalagi diiringi dendangan ombak yang menyaru dengan irama angin malam. 

Seafood Kampung Ujung

Kampung Ujung, Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 19.00-04.00

Harga per porsi mulai Rp 50 ribu

Kopi dan Kompyang

Budaya minum kopi orang Nusa Tenggara Timur sudah melekat. Kala tamu datang pun, suguhannya berupa minuman lokal bercita rasa pahit dan asam tersebut. Namun itu tak mengherankan karena kopi menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Selain itu, di daratan Flores, banyak ditemui warung-warung yang menjajakan kopi, selayaknya Kopi Mane yang dibuka pada 2015—kopi mane berarti kopi sore. Pemiliknya, Wenti Romas, meneruskan usaha ayahnya yang sudah lebih dulu dibuka di daerah Ruteng, Manggarai. 

Warung kopi milik Wenti menjajakan beragam jenis arabika dan robusta. Ada Manggarai, Juriah, Yellow Caturra, dan Lanang. Kopi yang menyimpan rasa paling istimewa adalah Juriah. Kopi ini dipanen 2 tahun sekali di atas ketinggian 1.300 mdpl. Belanda yang pertama kali membawa biji kopi tersebut di Ruteng. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi lain. After taste-nya menggambarkan karakter karamel, cokelatdan tembakau yang kuat. 

Segelas Juriah atau kopi lain biasa disantap bersama kompyang, roti tradisional yang dibuat dari tepung beras dengan ditaburi wijen. Sebelum disajikan, kompyang harus digoreng hingga kecokelatan. Meneguk kelezatan kopi dan mencecap kompyang sembari menikmati sore adalah kebahagiaan sederhana di warung yang istimewa. 

Kopi Mane

Jalan Utama Bandara Komodo Labuan Bajo, Flores

Buka pukul 09.00-21.00

Harga kopi mulai Rp 20 ribu, kompyang Rp 2.500

F. Rossana/A, Prasetyo

Terbuai Gelombang di Pantai Bali Selatan

shutterstock 186

Sehari pasca-Kuningan, penjor-penjor masih berdiri gagah di sepanjang lorong gang-gang di Denpasar, Bali. Juga di pantai Bali di Pulau Dewata itu. Janur kuning belum berubah kecokelatan. Bunga-bunga di canang juga tampak baru kemarin sore ditata di papan persembahan. Pagi itu, para perempuan berkamen dengan rambut disanggul berlalu-lalang di sepanjang Sunset Road, Badung, Bali, diikuti para lelaki dengan aksesori udeng di kepala. “Mereka akan sembahyang di pura-pura keluarga,” kata Made Arya, warga asli Singaraja, yang bebeapa hari itu mengantar perjalanan di Bali. 

Mobil melaju ke selatan menuju pesisir Pulau Seribu Pura. Kian dekat pantai, tempat-tempat persembahyangan kian banyak dijumpai. Orang-orang mengantar doa makin berlipat jumlahnya. Kontras dengan warga-warga asing yang melaju santai membawa papan selancar, beriringan ke arah yang sama. 

Pantai Bali Setelah Kuta

Lamat-lamat, lantunan Kuta Bali Andre Hehanusa terdengar dari radio. …Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku, di Kuta Bali cinta kita… Made Arya memutar tombol volume. “Kuta dulunya memang ramai. Apalagi setelah upacara Kuningan begini. Namun orang sekarang mungkin agak bosan. Mereka mau yang lebih indah, yang lebih menantang. Yang asyik, ya, Bali bagian selatan, di pantai-pantai yang belum terjamah,” tuturnya. 

Mobil Made membelah jalan bertebing karst. Roda-rodanya luwes mengikuti jalur-jalur sempit dan berkelok. Patung Garuda Wisnu Kencana tampil di kiri jalan. Tak lama, sebuah papan kayu kecil di persimpangan jalan menarik pandangan. Pantai Gunung Payung. Begitulah tulisan yang tertera. Belum banyak literatur yang mengulas pantai ini. 

Jalan masuknya berupa jalur menuju kawasan golf di Uluwatu. Begitu sampai, sebuah lorong dengan dinding penuh tumbuhan merambat menyambut dan menuntun langkah menuju lokasi suara ombak terpecah karang bernaung. Jalannya cukup besar dengan kontur menurun. Namun semakin lama semakin menyempit. Jalan rata berubah menjadi tangga-tangga batu yang licin. Kanan-kiri semak belukar. 

Paralayang di langit Selatan Pulau Bali
Paralayang di langit Selayan pulau Bali.

“Jalan ke bawah masih jauh, buddy,” kata pria Australia berusia 30 tahun kepada rekan sejawatnya dalam bahasa Inggris. Napasnya tersengal. Sebab, sebelah tangannya menggendong papan selancar. DI seperempat jalan, terdapat sebuah spot, yang sering digunakan untuk berfoto, berupa tanah lapang dengan pemandangan lepas pantai. Diteropong dari atas, lanskap yang tersaji ialah hamparan Gunung Payung dengan pasir putih disapu ombak. Terlihat beberapa orang kulit putih berjemur santai sembari menikmati bir. 

Perjalanan masih cukup jauh. Kaki kembali melangkah. Kian ke bawah, tangga curam menghadang. Lanskap pantai dan gunung karang mulai tak terlihat. Lorong makin gelap. Sekitar 20 menit kemudian, lorong itu menemui ujungnya. Cahaya merasuk sedikit-sedikit. Hamparan pasir menyambut. Di anak tangga terakhir, saya seperti berada di sebuah gerbang yang membawa ke dunia lain. Oasis tanpa batas yang bersanding dengan lautan membikin jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Di ujung pantai, dekat dengan gunung karang, bule Australia yang saya temui di perjalanan tadi sudah melucuti pakaian luarnya dan berlari-lari kecil. Sejurus kemudian, papan itu diajak menari di atas gelombang. Sesekali terempas dan tubuhnya jatuh terpelanting ombak. 

“Deretan pantai Bali selatan memang surganya para surfer,” ucap Made memecah hening. Pantai Gunung Payung menjadi salah satu favorit lantaran punya gelombang yang besar. Namun yang berlaga di sini ialah kalangan profesional, juga yang siap mental digulung ombak ganas hingga 2-3 meter. Belum lagi, karakter pantai di bagian selatan tersebut sebagian besar berkarang. 

Melihat keadaan alamnya, memori langsung mengantarkan saya kepada obrolan bersama seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Denpasar, dokter Netty Santyari, beberapa waktu lalu. Ia berkisah tentang tarian gelombang yang diam-diam menghanyutkan. Banyak cerita para peselancar mengalami kecelakaan bila tak siap menghadapi tarian ombak yang elusif. Yang menakjubkannya adalah para peselancar itu kerap mengalami bencana tak terduga. “Rumah sakit tempat saya bertugas, Rumah Sakit Siloam Denpasar, sering menerima pasien yang cedera karena surfing. Tebak, mereka kebanyakan bukan mengalami patah tulang, tapi cedera wajah karena terbentur papan surfing,” tutur Netty kala itu.

Para peselancar dari luar negeri itu akhirnya harus tinggal lebih lama di Bali untuk mendapatkan perawatan intensif pemulihan wajah melalui operasi plastik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Jadi tak heran kalau yang berani bermain dengan gelombang selatan adalah para peselancar yang sudah andal dan siap menanggung segala risiko terburuk. 

Gunung Payung bukan satu-satunya pilihan. “Ada Green Bowl dan Nyang-nyang yang tak kalah elok untuk berselancar,” ucap Made. Dua pantai ini memiliki karakter serupa dengan Gunung Payung, sama-sama butuh perjalanan panjang menuruni bukit berbatu untuk sampai tujuan. Bahkan Green Bowl memiliki anak tangga lebih banyak. Sekitar 300 undak-undakan. 

Namun keindahan lanskap yang menyerupai gadis berkuntum, kalis dan suci, akan membayar peluh yang mengalir. Bibir pantainya tak terlalu luas, tapi bersih tak terkira. Pasirnya lembut bak bubuk gula halus. Karang-karang yang bercokol mendekati tebing mengesankan pemandangan yang dramatis. Ditambah, dengan gelombang laut yang memiliki ritme memikat. 

Dulu, pantai di Desa Ungasan ini merupakan area privat salah satu resor premium. Namun kini dibuka untuk umum. “Kalau mauberselancar di sini, paling bagus pukul 5 sampai 9 pagi atau 4 sore hingga 7 malam,” ucap Ketut Sane, warga setempat. Ia berkisah, Green Bowl memiliki pusaran gelombang di tengah laut yang membikin arus menyapu lebih ganas. Karena itu, ada jam-jam khusus saat ritme gelombang lebih stabil, tak terlalu rendah, juga tinggi. Di samping itu, Green Bowl cocok untuk merefleksikan diri atau sekadar sebagai media buat mendengar puisi alam paling merdu di dunia, ombak dan kicau burung laut yang bersahut-sahutan. 

Tak jauh dari Green Bowl, Nyang-nyang turut menjadi bagian pesisir Pulau Dewata yang merayu buat dinikmati kesyahduannya. Untuk menjangkaunya, perlu terpelanting, tergelangsar, atau terperosok ke jalan berbatu putih. Bukan hiperbola. Sebab, kemiringan jalur tersebut hampir membentuk sudut 80 derajat. 

Sembari bersusah menuruni jalur licin dan berkerikil, lagi-lagi saya bersemuka dengan para turis dari Eropa dan Australia. Beberapa juga berbahasa Rusia. Wisatawan dari kedua benua ini memang terkenal paling doyan menjangkau lokasi yang menantang adrenalin. “Semangat! Setelah ini, kita akan bermain-main dengan ombak. Eh, mana papan surfing-mu?” ujarnya menyapa. 

Saya hanya nyengir sembari memincingkan mata jauh ke depan. Jalur berbatu ini seakan tak berujung. Sekonyong-konyong, debur yang makin terdengar lantang membikin kaki meloncat girang. Bule-bule tadi sudah sampai duluan. Mereka sibuk memainkan papan selancarnya di atas gelombang. 

Saya berdiam mengeringkan keringat di karang besar yang siap menopang badan. Mata asyik menyimak angin yang menyapu gelombang, dan pasir meliuk-liuk terinjak kaki. Matahari berarak pulang. Langit mulai bergaris, berkecamuk memadukan semburat kuning, merah, dan biru tua. Turis-turis mengangkat papan selancarnya. Orang-orang meninggalkan pura di sekitar pantai. Sambil memejamkan mata, terbayang pengembaraan pulang meniti kaki mendaki jalur berbatu yang terjal dan ekstrem. 

F. Rossana/A. Prasetyo

Kayak Arus Deras, Olahraga Sejak 2000 Tahun Lalu

Kayak Arus Deras dari kegiatan masyarakat menjadi olah raga

Kayak arus deras tidak sepopular olah raga air lainnya. Kegiatan ini bahkan tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar.

Kayak Arus Deras

Arus Sungai Cipunagara, Subang, Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dinikmati. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!

Sejarah kayak bermula dari kawasan Siberia, orang-orang yang tinggal di sana membuat perahu dari kerangka kayu terbuka yang diikat bersama-sama dengan tali atau tali tanaman, dan ditutup dengan kulit anjing laut yang dijahit menyatu. Cikal bakal kayak ini disebut dengan umiak. Perahu ini terus dipakai oleh orang-orang yang menetap di Kutub Utara yang kemudian dikenal sebagai orang Inuit. 

Untuk masyarakat Inuit, kayak telah menjadi cara hidup sekaligus alat transportasi dan berburu selama lebih dari 2000 tahun. Mereka membangun kayak dengan bekal pengetahuan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Kemampuan mengendarai kayak menjadi salah satu ukuran kesuksesan individu dan bagaimana mereka terhubung dengan komunitasnya. 

Tak jelas kapan kayak sebagai sebuah cabang kegiatan luar ruang masuk di Indonesia. Namun, mendayung adalah salah satu kegiatan masyarakat di banyak daerah yang memiliki aliran sungai yang kemudian menjadi jalur transportasi. Yang jelas pula, banyak tempat di Indonesia yang memiliki spot untuk berkayak. Termasuk untuk kayak arus deras seperti di Sungai Cipunagara tadi.

kayak arus deras menjadi salah satu pilihan berkegiatan di air.
Kayak menjadi kegiatan air yang menyenangkan, terutama di Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC). “Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata kang Ihsan suatu kali.

Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.

Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.

Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki puluhan anggota. Yang paling muda berusia 8 tahun, sementara yang paling tua 50-an tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.

Kayak Arus Deras merupakan kegiatan yang bisa dilakukan oleh siapa saja, laki-laki maupun perempuan.
Kayak cocok dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk untuk perempuan. Foto: Dok. shutterstock

Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Begitupun, calon anggota diharapkan pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.

Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).

Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air.

Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya, tentu saja. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.

Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan sejumlah angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”

Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!

Andry T./TL/agendaIndonesia

*****

4 Tempat Kongkow Keren di Bandung

Pillow Talk Coffee and Comfy2

4 tempat kongkow keren di Bandung ini bisa jadi alternatif menghabiskan malam-malam saat berada di kota kembang. Terutama bagi mereka yang berjiwa muda.

4 Tempat Kongkow Keren

Bumi Priangan makin berwarna dengan kehadiran kafe-kafe modern. Nongkrong barang sebentar di sana akan membuat pikiran kembali segar. Bila butuh rehat sejenak, beberapa tempat di bawah ini, rasanya bakal cocok. 

 

1. Pillow Talk Coffee and Comfy

Di tengah hiruk-pikuk Kota Kembang Bandung, Pillow Talk, sebuah kafe berkonsep klasik dengan dominasi interior putih, menjadi tempat yang tepat untuk menepi. Kafe yang konon milik pengusaha Rina Herkiamto bersama kawan bisnisnya, yang juga aktor, Rizki The Titans, ini menawarkan suasana yang adem. 

Seperti namanya, Pillow, yang artinya bantal, tempat ngopi di bilangan Coblong ini nyaman disinggahi untuk sekadar nongkrong. Si empunya kafe mengajak pengunjung menyesap kopi seperti di rumah sendiri. 

Hampir seluruh bagian ruangan didesain artistik. Ada kursi-kursi kayu yang berhadapan dengan sang barista. Hampir semua tempat terkoneksi sehingga suasana hangat bakal menyergap saat tamu ramai berdatangan. 

Bagian luar kafe ini tediri atas taman dengan rumput hijau dan lampu-lampu tumblr. Saat malam menjelang, lampu-lampu itu akan berpendar. Suasana tak pelak bakal dramatis. Karena konsepnya seperti garden party, tak jarang kafe tersebut menjadi spot untuk momen spesial, seperti pernikahan, lamaran, tunangan, atau ulang tahun. 

Soal menu, di sini tersedia beragam jenis sajian. Mulai penganan ringan hingga berat. Ada makanan ala western seperti pasta dan toast bread. Tapi juga tersedia menu Nusantara, layaknya soto, sop buntut, sop iga, dan lain-lain. Harga tiap-tiap menu dibanderol mulai Rp 25 ribu. 

Alamat: Jalan Haji Hasan no 12, (Taman Panatayuda, Dipatiukur), Lebakgede, Coblong, Kota Bandung

Buka: 09.00 – 23.00 (weekend), 09.00 – 22.00 (weekdays) 

Web: instagram.com/pillowtalkcafe/?hl=id

 

2. Please Please Please Bandung 

Terdengar unik dan cukup mudah untuk diucapkan: please please please. Rasanya seperti orang minta tolong. Namun barangkali tak bakal diartikan secara harfiah. Kafe ini belakangan kesohor lataran memiliki ikon berupa logo unicorn atau kuda poni di salah satu sisinya. Ikon itu menyala dengan lampu berwarna neon. 

Kafe yang berlokasi di Jalan Progo nomor 37, Citarum, Bandung, tersebut mulai hits sejak tahun lalu. Pengunjung menjadikannya tempat nongkrong baru di Kota Kembang. Bagian-bagian ruangan dalam kafe itu mengangkat konsep kafe ala Mexico era 1950-an yang membuat interior terasa berkelas ketika dipandang. 

Biasanya, anak muda yang suka konsep gemerlap dan glamor akan menyukai tempat semacam Please, Please, Please. Kafe ini menarik dipotret dari sisi mana pun karena menyajikan latar yang classy dan fabolous.

Untuk dapat nongkrong di sini, pengunjung kudu mengeluarkan bujet minimal Rp 25 ribu untuk minum, belum termasuk pajak. Adapun menu yang bisa disantap di antaranya terdiri atas menu Nusantara. Menu-menu itu ialah nasi ayam kremes, soto ayam, nasi jeruk, nasi begana, nasi ayam penyet, dan lain-lain. Harga masing-masing menu dibanderol mulai Rp 30 ribu. 

Alamat: Jalan Progo Nomor37, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115

Jam buka: 10.00-23.00 (weekdays), 10.00-00.00 (weekend)

Telepon: (022) 20512715

Google Maps: https://goo.gl/GPQ4Xi 

Please Please Please Bandung3
Salah satu sajian di Please Please Please Bandung (ist.)

 

3. Pinisi Resto Ciwidey

Berbentuk kapal pinisi, restoran ini benar-benar menyita perhatian. Keberadaannya eksis di tepi Danau Situ Patenggang, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Restoran Pinisi bukan sekadar tempat makan, namun kini telah menjadi alternatif wisata bagi turis. Musababnya, selain menghadap ke danau, restoran itu berada di tengah hamparan kebun teh. 

Berhektare-hektare pohon teh menjadi sajian menarik bila wisatawan makan di restoran. Tak khayal, restorn ini menjadi lokasi baru untuk pre-wedding dan perayaan momen-momen khusus. 

Di sekitar restoran terdapat tempat menginap dengan konsep glamping. Glamping dikenal sebagai hotel bergaya kemping, namun memiliki fasilitas yang lengkap. Tempat itu cocok untuk menepi, mencari ketenangan diri dengan bersatu dengan alam. Namun dengan cara yang tak repot. 

Alamat: Patengan, Rancabali, Bandung, Jawa Barat 40973

Jam buka: 24 jam

Web: pinisicamprancabali.com

Telepon: (022) 85924493

 

Pinisi Resto Ciwidey
Phinisi Resto di Ciwidey (Ist.)

4. One Eighty Coffee

Pernah menyaksikan orang-orang menongkrong di kafe sambil berendam di kolam renang? Di sinilah tempatnya, yakni one eighty coffee. Kafe di kawasan Coblong, Kota Bandung, ini lain dari kafe pada umumnya. Kafe tersebut berada di tengah-tengah kolam renang. Pengunjung akan rela basah-basahan saat menyantap makan atau minum di One Eighty Coffee. Namun justru di sinilah sensasinya. Maka itu, tak heran bila kafe tersebut belakangan hits di kalangan anak muda. Mereka bukan hanya ingin menikmati mengudap sajian yang nikmat sambil bersantai, tapi juga kepingin berfoto. Tak cuma menyajikan kafe dengan nuansa air, tempat itu menawarkan konsep lokas nongkrong yang asri. Pasalnya, hampir semua meja dan kursi terbikin dari kayu. Juga terdapat tanaman-tanaman hijau yang tumbuh di sekitarnya. Suasana alami pun makin kentara dan terasa. 

Alamat: Jalan Ganeca Nomor3, Lb. Siliwangi, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132

Jam buka: 08.00-23.00 (weekdays), 08.00-00.00 (weekend)

Telepon: 0822 1800 0155

Google Maps: https://goo.gl/aCUWKZ 

 

One Eighty Coffee
Suasana One Night Coffee (Ist.)

 

Sandboarding, Meluncur di Gumuk Pasir Setinggi 10 Meter

Sandboarding, meluncur di atas gumuk pasir pantai Parangkusumo Yogyakarta.

Sandboarding, ini istilah yang mungkin baru 10-12 tahun terakhir popular di kalangan pecinta aktifitas luar ruang. Meluncur dengan papan tak harus dilakukan di atas ombak ataupun salju. Meluncur di atas gumuk pasir juga bisa memberikan sensasi tersendiri. Ini salah satunya bisa dilakukan di pantai Parangkusumo, Yogyakarta.

Sandboarding

Sebelum membahas lebih jauh soal ‘permainan meluncur’ di Gumuk Pasir Parangkusumo, ada baiknya kita mengetahui dahulu definisi “gumuk pasir”. Istilah gumuk pasir sesungguhnya adalah salah satu bentang alam yang proses pembentukannya dipengaruhi angin. ‘Bukit’ atau gundukan terbentuk karena pasir yang menumpuk karena terbawa atau terdorong angin jumlahnya besar.


Gumuk Pasir Parangkusumo di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan salah satu pusat aktivitas sandboarding terbaik di Indonesia. Ada tulisan besar di gerbang masuknya “Gumuk Pasir Barchan”. Istilah barchan atau aeolian merujuk pada jenis proses pembentukan gumuk pasir tersebut.  Jenis gumuk pasir tipe ini memiliki ketinggian 5-15 meter.

Gundukan pasir di pantai Parangkusumo ini disebutkan berasal dari hasil erupsi Gunung Merapi di utara Yogyakarta. Endapannya dibawa oleh sungai-sungai di sekitar kota pelajar ini dan bermuara di Pantai Selatan, antara lain Sungai Opak dan Sungai Progo.
Sulitkah menikmati sandboarding atau selancar pasir ini? Ternyata tidak terlalu sulit. Anda cukup berpijak pada papan seluncur yang ditaruh di atas bukit pasir setinggi sekitar 10-12 meter. Lalu, posisikan badan sedikit membungkuk dan condong ke depan dengan pandangan tertuju ke bawah. Siagakan kaki Anda, dengan lengan di samping badan dalam posisi sedikit terbuka. Jika merasa sudah seimbang, majukan tubuh ke depan dan meluncurlah. Asyiiik!

sandborading, meluncur di gumuk pasir setinggi 10 meter di pantai Parangkusumo, Yogyakarta.
Sandboarding, meluncur di atas gumuk pasir pantai Parangkusumo, Yogyakarta. Foto: Dok. shutterstock

Adrenalin mengalir deras dan jantung berdegup kencang ketika papan membawa tubuh meluncur dengan cepat. Tanpa sadar, niscaya mulut Anda terbuka dan berteriak. Sungguh mendebarkan. Namun ketika papan terhenti di tengah gundukan pasir dan tubuh oleng, lalu terjatuh, bisa jadi Anda tidak sabar untuk segera naik ke puncak gumuk dan mengulangi aksi itu lagi.

Itulah segelintir pengalaman berseluncur di atas pasir alias sandboarding, yang dilakoni Komunitas Sandboarding Indonesia. Digawangi oleh Sidik Hutomo, sang pendiri, sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas ini hampir setiap Minggu datang ke Parangkusumo, Yogyakarta, untuk berseluncur di atas pasir. Mereka berkumpul pagi hari sebelum mentari meninggi atau sore setelah matahari terbenam.

Sidik mengungkapkan, awalnya, ia dan teman-teman mencari permainan yang bisa memuaskan keinginan untuk bermain snowboarding tanpa harus pergi ke negara bersalju. Mereka lantas menemukan sandboarding. “Yang membuat saya senang karena bisa memulai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan potensi yang ada di negeri sendiri. Ini kan awalnya iseng-iseng aja, tapi ternyata bisa berkembang hingga saat ini,” ujarnya.

Permainan ini memang terbilang baru di Indonesia meskipun komunitasnya telah eksis sejak 2007. Awalnya, anggota komunitas terdiri atas mahasiswa Mapagama (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada). Namun setelah aktif dan banyak diliput media, keanggotaannya berkembang untuk umum. Pusat aktivitas komunitas ini di Yogyakarta. Sebab, Sidik menilai Parangkusumo merupakan lokasi dengan gumuk pasir terbaik di Indonesia untuk bermain sandboarding.

“Itu karena pembentukan gumuk pasir yang dinamakan aeolian,” ujarnya. Aeolian adalah proses pembentukan gumuk pasir yang dibantu angin. Adanya aeolian menandakan pasir yang terbawa dan terbentuk menjadi gumuk tersebut sangat ringan, sehingga cocok untuk berseluncur. Di lokasi lain, seperti di Gunung Bromo, Krakatau, dan Merapi, serta Ngarai Sianok, pasirnya kasar dan terkadang berkerikil. Jadi, lebih sulit untuk sandboarding dan risiko cedera lebih besar jika terjatuh.

Meski memiliki lahan bagus, Sidik menilai, jumlah lintasan gumuk pasir Parangkusumo masih kurang banyak. Ia berharap bisa mendapatkan dukungan pemerintah daerah untuk membuat lintasan yang lebih memadai dan dilengkapi sarana wisata pendukung. Tentunya agar semakin banyak turis tertarik mencoba kegiatan ini.

Sandboarding di Gumuk Paris Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta.
Sandboarding asyik dilakukan di Gumuk Pasir Yogyakarta saat sore hingga matahari terbenam. Foto: Dok. shutterstock

Komunitas Sandboarding Indonesia terkadang menggabungkan permainan ini dengan ATV, jip, atau bahkan layang-layang. Jip atau ATV mereka gunakan untuk menarik papan sandboarding di permukaan datar agar bisa melun- cur dengan cepat. Ide ini mereka gunakan pula saat terlibat dalam pembuatan iklan rokok. Sedangkan dengan layang-layang, mereka pernah menciptakan permainan sandboarding dipadukan dengan kite surfing di landasan pasir datar.

Tertarik mencobanya? Agendakan liburanmu ke Parangkusumo di Yogyakarta saat pandemi Covid-19 sudah berakhir atau mereda dan nikmati sensasinya.

agendaIndonesia

*****

D’Lempis, Lemparan Penuh Etika Sejak 1987

D'lempis adalah komunitas pemilik hobi yang unik: melempar pisau

D’Lempis sebuah komunitas yang unik: mereka yang hobi melempar pisau. Namun, ini bukan aksi sok pamer, melainkan justru cara melatih konsentrasi yang mengasyikkan.

D’Lempis

Kakinya melangkah mantap memasuki arena. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Sedangkan di pinggangnya tergantung sebuah sarung kulit yang memuat tiga bilah pisau. Langkah pria bernama Ellen Ramlan itu terhenti sekitar 2 meter di depan target lingkaran. Ia langsung memasang kuda-kuda.

Matanya menyorot tajam target di depannya. Sebilah pisau kini sudah berada dalam genggamannya dan siap dilempar. Clebs… Pisau menancap tepat di tengah target lingkaran. Begitu pula dengan pisau kedua dan ketiga. Clebs dan clebs.

Selintas terlihat mudah. Saya pun tertarik mencobanya. Hasilnya? Sungguh sangat mengecewakan. Tak ada satu pun pisau yang tepat sasaran. ”Memang harus sering berlatih,” ujar Ellen Ramlan, Ketua D’ Lempar Pisau Indonesia (D’Lempis) di Bandung, Jawa Barat.

Seorang pemula, kata pria yang akrab disapa Chief oleh rekan-rekannya itu, membutuhkan waktu paling tidak 30 menit agar lemparan pisau dapat tertancap pada target. ”Hanya tertancap dan belum tepat mengenai sasaran. Dibutuhkan latihan, konsentrasi, kondisi fisik, serta psikis pelempar yang prima,” ia menjelaskan.

Menurut Ellen, ada beberapa teknik memegang pisau yang harus dikuasai. Sebab, hal tersebut berkaitan erat dengan jarak lempar. Pegangan pada gagang cocok untuk jarak ganjil, misalnya 3 meter, 5 meter, 7 meter, dan seterusnya. Adapun pegangan pada bilah pisau (blade) cocok untuk jarak genap, seperti 2 meter, 4 meter, 6 meter, dan seterusnya.

”Posisi kaki juga harus diperhatikan,” ucap Ellen, mengingatkan. Jika si pelempar terbiasa menggunakan tangan kanan, kaki kiri harus berada di depan. Begitu pula sebaliknya. Hal ini dilakukan guna meminimalkan risiko kaki terluka jika pisau terlepas atau jatuh.

Meski selintas terlihat menyeramkan, olahraga lempar pisau ini justru melatih konsentrasi dan memberikan keasyikkan tersendiri. ”Banyak efek positif yang dapat diraih, di antaranya adalah melatih konsentrasi, emosi, dan koordinasi gerak tubuh. Ya, mirip dengan olahraga biliar dan golf,” kata Arri Alkatiri, bagian humas D’Lempis.

D'Lempis sebuah komunitas penghobi melempar pisau di Indonesia.
Anggota D’Lempis dalam sebuah acara di Bandung, Jawa Barat. Foto: Dok. D’Lempis

Tak mengherankan jika animo penggemar lempar pisau tumbuh sangat pesat. Selain pusatnya berada di Bandung,  Arri menyebutkan chapter D’ Lempis ada di Lampung, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, Kolaka (Sulawesi), Tasikmalaya, Cilegon, Solo, Malang, Samarinda, dan Manokwari.

Para anggota terdiri atas berbagai profesi, mulai mahasiswa, karyawan, dosen, guru, fotografer hingga ibu rumah tangga! Hah, ibu rumah tangga? Ya, salah seorang yang sempat saya temui adalah Lily Hitler. Perempuan berusia 50 tahun ini awalnya mengaku hanya mengantar anaknya, Zulfikar Aria Ramadhan, untuk berlatih lempar pisau. Namun saat mencobanya, dia mengaku ketagihan. ”Olahraga ini selain melatih ketangkasan, juga mampu melepaskan kejenuhan,” ujarnya.

Pembentukan komunitas ini, kata Ellen, memang sengaja dilakukan guna merangkul orang-orang yang memiliki hobi melempar pisau. Melalui wadah ini pula, ia menambahkan, setiap anggota bisa saling berbagi berbagai hal mengenai dunia melempar pisau, dari trik melempar, jarak melempar pisau, pemahaman tentang cara memegang pisau dengan benar, hingga meminimalkan penggunaan pisau untuk kejahatan.

Ke depan, Ellen berharap olahraga lempar pisau ini dapat menjadi salah satu cabang olahraga yang resmi dipertandingkan baik di tingkat nasional maupun internasional. Komunitas ini sejatinya sudah berdiri sekitar 1987. Awalnya, komunitas ini didirikan oleh para mahasiswa seni rupa Institut Teknologi Bandung yang mengisi waktu luang setelah kuliah. Lama-kelamaan hobi tersebut berkembang dan terbentuklah komunitas D’Lempis.

Kegiatan demikian sempat vakum lama dan baru mulai aktif lagi pada  2010. ”Pada saat itu juga, D’Lempis membuka anggota untuk umum,” kata  Arri. Hingga saat ini, baik calon anggota maupun anggota komunitas D’Lempis sudah lebih dari 1.000 orang. Dalam menyaring anggota, D’Lempis cukup ketat. Calon anggota akan dinilai dalam tiga bulan pertama. ”Penilaian meliputi dedikasi, peningkatan kemampuan, hingga kejiwaan,” kata dia.

Menurut Arri, penilaian faktor kejiwaan sangat penting. Sejak awal dibuat aturan tegas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para anggota didoktrin untuk tidak melukai makhluk hidup ataupun yang menyerupai makhluk hidup dengan menggunakan pisau lempar atau alasan apa pun. ”Bahkan, kami melarang setiap anggota melempar pisau ke pohon,” tuturnya.

Setelah lulus, calon anggota akan resmi dilantik menjadi anggota dalam komunitas yang resmi terdaftar dan diakui oleh International Knife Throwers Hall of Fame yang bermarkas di Austin, Texas, itu. Pada saat itu pula, kata Arri, mereka telah resmi menjadi “warga negara logam”.

agendaIndonesia/Andry T./Prima M./TL/Lempis

Kayak Arus Deras, Berputar di Arus Sejak 2012

Kayak arus deras menjadi alternatif menikmati sungai nerarus deras.

Kayak arus deras adalah alternatif jika ingin memompa adrenalin di derasnya arus sungai. Selain arung jeram yang sudah lama dikenal, olahraga atau aktivitas ini kian digemari. Untuk memulainya, minimal punya pengetahuan soal teknik dasar olahraga kayak.

Kayak Arus Deras

Arus Sungai Cipunagara, Subang, Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dikalahkan. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!

Kayak arus deras memang tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar. Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC).

“Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata Kang Ihsan—panggilan Muhammad Ihsan suatu kali. Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.

Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.

Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki 45 anggota. Yang paling muda berusia 10 tahun, sementara yang paling tua 50 tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.

Kayak arus deras bisa menjadi alternatif bagi yang ingin memompa adrealin di arus deras.
Seorang kayaker sedang berusaha melintasi arus deras. Foto: Dok. Bandung Kayak Community.

Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Menurut Kang Ihsan, sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Namun sebaiknya, Kang Ihsan menyarankan, calon anggota pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.

Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).

Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air. Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya Rp 1,5 juta. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.

Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan lima angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, menurut Kang Ihsan, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”

Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Kang Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!

agendaIndonesia/Andry T./Bandung Kayak Community

*****

Asyiknya Mengintip Burung, Hobi Yang Ada Sejak 1901

Asyiknya mengintip burung atau birdwatching bukan hobi yang baru muncul. Kegemaran ini sudah pernah ditulis oleh ornitolog asal Inggris pada 1901. Ini bukan sekadar menikmati keindahan karya sang Pencipta, tapi juga memahami, mencatat dan melestarikannya. Mengendap-endap, mengintip via teropong, mencermati, dan mencatat jenis burung yang dilihat.

Asyiknya Mengintip Burung

Cuaca memang belum bersahabat pada pada waktu itu. Maklum, hujan masih rajin mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat. Namun Santi dan Jihad dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) tetap bersemangat menemani Stuart Marden, peneliti burung dari Manchester University, Inggris. Saat azan Subuh menggema, mereka sudah bergegas menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Beruntung hujan tidak turun hari itu, meskipun mendung menggelayut.

Tepat pukul 07.00, mereka sudah tiba di pintu masuk Cibodas, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Taman Nasional. Perjalanan yang harus mereka tempuh masih panjang. Meskipun tidak terlalu berat, jalur trekking memiliki rute berkelok dan naik-turun. Tak hanya itu, selama perjalanan mereka juga tak boleh menimbulkan suara gaduh. Bahkan terkadang mereka harus jalan mengendap-endap dan siap membidikkan teropong berlensa binokulersaat tampak burung bertengger.

Orang awam yang melihatnya mungkin akan menganggap apa yang mereka lakukan ini sebagai kurang kerjaan. Betapa tidak, mereka hanya “tukang intip” burung-burung liar yang hidup di alam bebas. Padahal, pengamatan burung atau lebih kerennya disebut birdwatching merupakan suatu kegiatan observasi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai judul buku yang ditulis oleh ornitolog Inggris, Edmund Selous, pada 1901. Belakangan birdwatching berkembang menjadi kegiatan yang bersifat rekreasi.

Dari tahun ke tahun, organisasi pengamat dan pemerhati burung di Indonesia terus bertambah. Baik yang bernaung di lingkup perguruan tinggi maupun berdiri secara independen. Terkadang pula birdwatching diselipi kegiatan fotografi menggunakan burung sebagai obyek pemotretan.

Meski bersifat hiburan, kegiatan ini dapat menambah wawasan para birdwatcher, sebutan untuk pengamat burung. Sebab, dengan mengintip via teropong itulah mereka bisa mengetahui jenis-jenis burung endemik atau burung perkotaan yang ada di Indonesia. Apalagi birdwatching bisa dilakukan di mana saja, asalkan tempat tersebut merupakan habitat komunitas burung.

asyiknya mengintip burung bukan saja melihat keindahan karya sang pencipta, tapi juga sarana melestarikannya.
Burung Sikatan Ninon. Foto: Tri Susanti-Burung Indonesia

Kendati demikian, untuk menjadi birdwatcher perlu pengetahuan mendasar sebelum terjun ke lapangan. “Perlu tips tersendiri,” ujar Rahmadi Rahmad, Media and Communication Officer Burung Indonesia, waktu itu, yang juga sering menjadi birdwatcher. Jebolan Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menyarankan agar para birdwatcher tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok saat melakukan pengamatan. “Warna pakaian yang mencolok akan mengganggu burung. Sebaiknya, gunakan pakaian berwarna khaki atau yang senada dengan alam,” ia memaparkan.

 Selain itu, Rahmadi menyebutkan, birdwatcher disarankan menggunakan teropong binokuler dan menghindari monokuler. Alasannya, teropong monokuler agak merepotkan penggunaannya karena perlu dilengkapi tripod dan terasa kurang praktis.

Sedangkan untuk soal waktu, kata Rahmadi, pagi-pagi merupakan yang terbaik. Sebab, saat itu burung-burung sangat aktif mencari makan, sehingga mudah ditemukan. “Sore hari juga merupakan waktu pengamatan yang baik, karena biasanya burung mencari makan sebelum mereka beristirahat pada malamnya.”

Di sisi lain, kegiatan mengamati burung ini bertujuan untuk penelitian ilmiah. “Dari hasil birdwatching, kita dapat mengetahui populasi burung yang ada di Indonesia,” ujar Tri Susanti, Communication and Publications Officer Burung Indonesia. Menurut lajang yang akrab dipanggil Santi itu, Indonesia negara terbesar kelima di dunia dan terbesar di Asia yang memiliki 1.605 jenis burung dan 380 jenis burung endemik. Sayangnya, Indonesia juga negara terbesar ketiga yang burung-burungnya terancam punah.

Santi mencontohkan populasi burung yang ada di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Pada 1960-an diperkirakan terdapat 160 jenis burung. Namun, ketika diadakan pengamatan kembali pada 2009, jumlah populasinya diperkirakan berkurang hingga separuh. Hal itu, kata Santi, menandakan telah terjadi pengurangan ruang terbuka hijau di Kota Bogor.

“Banyak ruang terbuka hijau yang telah berganti peran dengan berdirinya kompleks perumahan ataupun pertokoan,” katanya. Karena itu, Santi menyatakan Burung Indonesia sebagai organisasi konservasi burung berupaya mengadakan kerja sama dengan pemerintah setempat dalam pelestarian lingkungan agar habitat burung-burung tersebut tetap terjaga.

agendaIndonesia/Andry T./TL/Foto: Dok. Burung Indonesia

*****

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

5 tempat gembok cinta di asia, salah satunya di Ancol Jakarta

5 tempat gembok cinta di Asia, termasuk yang ada di Indonesia, ini tentu bukan yang pertama dan asli. Tapi latar belakang tempat itu muncul tetap sama: ada pasangan-pasangan yang tengah kasmaran yang ingin mengabadikan kisah kasih mereka dan syukur-syukur cinta mereka bisa terikat selamanya.

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

Tahukan Anda, aslinya tempat pertama munculnya gembok cinta adalah di kota Vranjcka Banja, sebuah kota kecil di Serbia. Negeri di kawasan Semenanjung Balkan bekas negeri Yugoslavia. Gembok Cinta itu tepatnya ada di Jembatan Most Ljubavi. Ini tentang kisah cinta sepasang anak muda yang akhirnya kandas dengan latar belakang perang Austria dan Serbia pada saat Perang Dunia II. Si pemuda rupanya jatuh cinta dengan perempuan lain di wilayah di mana ia bertugas. Patah hati, si kekasih meninggal karena kesedihan hatinya.

Anak-anak muda Serbia yang ikut sedih atas kisah cinta mereka, lalu pergi ke jembatan itu dan membawa gembok yang bertuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing. Mereka mengaitkan gembok itu di jembatan seraya berharap cinta mereka tak lekang oleh waktu.

Kisah terbentuknya gembok cinta ini kemudian menyebar ke perbagai kawasan. Munculah tempat-tempat dengan gembok cinta di sejumlah negara. Tidak saja di beberapa negara Eropa, di Asia pun juga punya tempat untuk memasang gembok cinta. Termasuk di Indonesia. Mau tahu di mana saja? Berikut 5 tempat gembok cinta yang mungkin akan membuatmu mengaitkan gembok cinta kalian saat hari Valentine.

Dermaga Hati Jakarta

Di Indonesia, ada Dermaga Hati di Beach Pool, Taman Impian Jaya Ancol. Papan kayu yang berbentuk simbol cinta itu dilengkapi rantai sepanjang dermaga. Di rantai inilah biasanya para kekasih menggantungkan gembok cinta mereka. Sejak dibuka pada Februari 2011, Dermaga Hati menjadi salah satu tempat favorit muda-mudi Jakarta dan sekitarnya untuk berpacaran.

5 tempat gembok cinta di Asia, di antaranya di Jakarta dan di Bandung. Di ibukota Jawa barat ini bahkan ada 4 lokasi.
Gembok Cinta di kompleks Balaikota Bandung, jawa Barat. Foto: Dok. rajatourbandung.com

Taman Balai Kota Bandung

Kompleks Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, juga punya menara cinta. Terbuat dari besi dan kawat ram dengan bentuk prisma berukuran 2,5 meter persegi dan tinggi dua meter. Di atasnya terdapat huruf “love” berwarna merah. Gembok cinta di Bandung ini berhiaskan lampu warna-warni pada malam hari.

Di monumen cinta ini, pasangan setelah menulis namanya di gembok akan  mengunci dan memasangnya, lalu membuang kuncinya ke kolam Patung Badak di depannya. Gembok cinta yang terpasang pada monumen yang diresmikan pada September 2014 ini memang belum banyak. Salah satunya adalah milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istri. Selain di tempat ini, Bandung juga punya gembok cinta lain, yakni di Farmhouse Susu Lembang, Rabbit Town di Ciubuleuit; dan Dago Dream Park.

North Seoul Tower

North Seoul Tower di Korea Selatan atau  disebut juga dengan nama Seoul Tower atau Namsan Tower sudah dikenal sebagai tempat yang dianggap cocok untuk menggantungkan gembok cinta. Para pasangan kekasih yang merasa bosan dengan suasana perkotaan pergi ke tempat ini untuk menikmati suasana romantis. Di tempat ini biasanya pula mereka memasang gembok cinta sebagai sumpah tidak akan pernah berpisah. Saking popularnya, dibuat sebuah tanda yang bertuliskan: ”Sebuah Janji untuk Cinta Tiada Akhir”. Diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan gembok cinta.

Huangshan

Salah satu tempat terkenal untuk menggantungkan gembok cinta adalah di Gunung Huang atau Huangshan, Anhui, Tiongkok. Tempat ini terkenal sebagai gunung paling romantis di Tiongkok karena pemandangannya nan indah. Nah, jembatan yang terdapat di gunung itulah yang menjadi sasarannya.

Suasana romantis tersebut didukung oleh  legenda lokal. Tentang  seorang wanita cantik yang jatuh cinta dengan pria miskin. Ayahnya tidak menyetujui keinginannya dan menjodohkan si wanita dengan pria kaya. Namun pada hari pernikahannya, si wanita cantik itu justru kabur bersama pria miskin ke Huangshan. Keduanya melompat dari gunung tersebut dengan harapan dapat hidup bersama selamanya.

Enoshima

Enoshima adalah pulau kecil di Jepang dan memang terkenal sebagai salah satu tempat romantis di negeri ini. Di puncak bukit Pulau Enoshima  ada menara observasi dan di dekatnya ada sebuah laut yang disebut lover cove atau Teluk Kekasih. Di sini ada sebuah bel bagi para kekasih yang dapat dibunyikan sebagai tanda keabadian cinta mereka. Di samping bel itu, terpasang pula sekumpulan gembok cinta yang bertuliskan nama-nama pasangan.

agendaIndonesia

*****