Jember Jawa Timur, Kota 1.000 Oleh-oleh

Jember Jawa Timur, kota 1000 oleh-oleh di antaranya opak gulung

Jember Jawa Timur tidak cuma identik dengan suwar-suwir. ,Kota ini juga punya sederet alternatif buah tangan lain yang menarik untuk dibawa pulang.

Jember Jawa Timur

Jember menyandang segudang julukan. Mulai dari yang agak bercanda karena banyaknya polisi tidur di jalanan sehingga ada yang memberi nama Kota 1.000 Polisi Tidur, Kota Tapal Kuda, Kota 1.000 Bukit, Kota Tembakau, Kota Karnaval, hingga Kota Suwar-Suwir. Julukan itu amat mungkin berangkat dari sudut pandang si pemberi julukan.

Namun, jika saja si pemberi sebutan tersebut mengambil dari sudut pandang oleh-oleh, mungkin dia akan menjuluki kota di Jawa Timur ini sebagai Kota 1.000 Oleh-oleh. Ya, bisa saja begitu. Karena Jember punya beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang para pelancong. Apa saja itu?

Suwar-suwir

Rasanya kurang afdal jika tidak memasukkan penganan ini sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun bagi orang awam yang belum pernah makan penganan khas Jember ini pasti akan bertanya-tanya jenis makanan apa ini? Bentuknya kotak-kotak kecil memanjang menyerupai kotak balok mini. Warna pun beraneka ragam, dari hijau, cokelat, putih, hingga merah.

Oleh-oleh khas Jember ini sekilas mirip dodol, tapi strukturnya lebih padat. Hanya, saat digigit begitu lembut dan lumer di lidah. Rasanya legit, manis, dan bercampur kecut. Selintas seperti sedang mencicipi tape. Oleh-oleh ini dibuat dari bahan tape, gula, dan tepung. Kemudian, dijemur matahari supaya kering dan tahan lama. Penganan ini cocok dijadikan teman camilan minum teh. Harganya ialah Rp 15 -20 ribu per kotak.

Prima Rasa; Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Opak Gulung

Banyak nama yang diberikan untuk jajanan ringan tradisional Indonesia ini. Ada yang menamakannya opak gambir, kue semprong, atau opak gulung. Kendati berbeda, semuanya memiliki karakteristik yang sama, yaitu renyah saat dikunyah. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka, gula, telur, wijen, dan santan. Semua bahan dibuat adonan, kemudian dipanggang di atas api.

Bentuk umum yang sering dijumpai di pasaran adalah digulung atau dilipat menjadi empat dan ada juga yang berbentuk kipas. Di Jember, pelengkap sajian yang biasanya hadir pada saat Lebaran itu akrab dinamai opak gulung. Per bungkus dikenai harga Rp 27 ribu.

Depot Jawa Timur; Jalan Gatot Subroto No 8; Jember

Tas Batik

Batik Jember mungkin tak setenar batik Solo atau batik Yogyakarta. Meski begitu, batik kota ini tak kalah menarik. Dikenal memiliki corak yang khas, yakni motif daun tembakau. Dipilih corak tersebut karena Jember merupakan salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia.

Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, batik Jember sudah banyak yang dijadikan tas atau kemeja pria. Kain batik Jember dipasarkan mulai Rp 135 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan untuk kemeja pria dijual seharga Rp 187 ribu. Lain halnya dengan tas batik yang dijual dari harga Rp 85 ribu.

Toko Primadona; Jalan Trunojo No 137; Jember

Terasi Udang

Rasanya kurang lengkap jika kita mengunjungi Jember, tapi tidak membeli terasi. Maklum saja, kota ini memang dikenal sebagai salah satu kota penghasil terasi. Jenis penyedap masakan ini diolah di Puger—daerah penghasil udang terbaik di kota ini. Terasi dari daerah ini terkenal berkualitas tinggi dan beraroma harum. Bahkan konon sudah terkenal hingga ke Belanda.

Saking banyaknya merek dan ukuran yang dijual terkadang membuat kita justru bingung memilihnya. Apalagi semua produknya mengklaim berasal dari Puger. Karena itu, jangan segan bertanya kepada penjual atau meminta rekomendasi kepada teman yang sudah pernah mencicipinya. Namun yang pasti harganya mulai dari Rp 10 ribu.

Prima Rasa

Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Jember Jawa Timur menyandang berbagai julukan, mungkin salah satunya adalah kota 1000 oleh-oleh karena banyaknya buah tangan yang bisa dibawa dari kota ini.
Proll tape, cake tradisional di Jember, Jawa Timur, yang berbahan baku dari tape singkong. Foto: dok. shutterstock

Proll Tape

Pelancong yang ingin membawa oleh-oleh khas Jember mungkin bisa memilih proll tape sebagai alternatif. Kue yang terbuat dari tepung terigu, tape singkong, susu, mentega, dan telur ini rasanya hampir seperti cake, tapi aroma rasa tapenya sangat terasa. Dibubuhi tambahan yang  beragam, dari keju, kismis, hingga cokelat.

Proll tape dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh yang berada di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Trunojoyo. Biasanya dikemas dalam kardus dari berbagai merek, antara lain, Purnama Jati dan Anis. Harganya adalah Rp 19 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 23 ribu untuk ukuran besar.

Sumber Madu; Jalan Gajah Mada No 103; Jember

agendaIndonesia/Andry T./Aditya H/TL

*****

Sambal ala Belitung, 4 Bisa Jadi Oleh-oleh

Sambal ala Belitung, ada yang berbahan ikan laut, terbentuklah rusip, calok, belacan. Selain itu ada pula yang berbahan tauco.

Sambal ala Belitung

Belitung tak hanya menjadi destinasi untuk menikmati pantai dengan batuan yang mengagumkan. Atau jejak-jejak kisah Laskar Pelangi seperti di layar lebar. Karena sebagaian wilayahnya berupa laut, turis akan menemukan oleh-oleh dengan bahan utama ikan laut yang bisa menjadi hidangan khas di meja makan. Meski ada juga yang terbuat dari kedelai. Beberapa nama tergolong unik, beberapa juga dibuat di daerah lain. Umumnya bisa menjadi diolah kembali dengan bahan lain yang membuat rasa hidangan menjadi lebih sedap, tapi rasanya mantap jika dijadikan sambal. Bisa ditemukan di pasar tradisional seperti pasar tradisional Hatta yang terletak di Jalan Hayati Maklum, Tanjung Pandan. Di pasar ini, dari ikan segar hingga olahannya terbesar di beragai kios. Adapun ragam bumbu sambal itu seperti di bawah ini.

Rusip dari Ikan Bilis

Bisa jadi bagi turis dari luar Belitung, baru mendengar nama yang satu ini. Rusip tak lain ikan teri atau masyarakat Belitung menyebutkan bilis yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan bilis terlebih dulu dicuci, dibuang kepala dan kotorannya lalu ditiriskan. Setelah benar-benar kering diberi garam, dengan cara diremas-remas. Disimpan dalam wadah tertutup selama sehari. Kemudian beri gula merah yang sudah dicairkan.

Simpan lagi dalam wadah tertutup selama seminggu. Jika telah menghasilkan aroma khas dan agak sedikit asam, tandanya rusip sudah siap dikonsumsi. Anda bisa langsung menjadikan sambal yang dilengkapi dengan lalapan. Ada pula sambal rusip yang diolah terlebih dulu dengan menambahkan bawang merah, serai dan cabe rawit plus jeruk kunci khas pulau ini juga. Sajian ini tergolong penggugah selera makan bagi warga setempat. Selain itu, rusip bisa juga menjadi bumbu dalam berbagai  olahan, seperti sajian ikan. Rasa kuah ikan pun kian maknyus dengan tambahan rusip. Di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional bisa ditemukan dalam botol plastik ukuran 200 ml seharga Rp 25 ribu.

Calok dari Udang Mini

Banyak dipajang di toko-toko oleh-oleh ataupun di pasar, yang satu ini juga menjadi hidangan khas di meja makan. Sama-sama diberi wadah botol transparan, hanya calok terlihat muncul dalam warna kemerahan karena terbuat dari udang kecil yang masih segar atau warga setempat menyebutkan udang cencalo alias rebon. Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan rusip. Udang terlebih dulu dicuci bersih kemudian dibubuhi garam yang berfungsi  sebagai pengawet.

Calok sama halnya dengan rusip membikin selera makan meningkat. Dipadu dengan nasi ditambahkan lalapan seperti mentimun, tomat atau sayuran lain. Harga per botol dengan ukuran minuman 200 ml sekitar Rp 35 ribu.

sambal ala Belitung dibuat dari berbagai macam bahan. Bisa jadi alternatif oleh-oleh.
Sambal Ala Belitung mempunya bahan yang bermacam-macam, semuanya bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Rita N.-TL

Belacan Sijok

Terasi menjadi hasil olahan yang banyak ditemukan di daerah pesisir, demikian juga di provinsi Bangka Belitung. Di Kepulauan ini, terasi yang bisa diolah menjadi sambal atau menjadi penyedap berbagai sajian tersebut bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau yang lebih beragam di pasar. Saya menemukan terasi dari Belitung maupun Bangka di toko oleh-oleh. Di Belitung yang terkenal terasi dari Desa Sijok dalam kemasan anyaman pandan.

Namun karena saya kemudian saya berbelanja di pasar, saya menemukan potongan besar terasi dalam warna khas keunguan. Olahan dari rebon segar itu tinggal dipotong-potong sesuai keinginan pembeli. Rasanya memang cukup tajam dan sedikit kasar ketimbang terasi yang telah dikemas rapih.

Bila tak mau repot, Anda pun bisa membeli sambal terasi yang siap saji. Sudah dilengkapi dengan cabe merah sehingga botol sambal ini terlihat merah menggoda. Per botol pada kisaran 25 ribu. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun di pasar.

Tauco Keledai Utuh

Seperti halnya terasi, tauco juga tak hanya dikenal dari satu daerah. Di Jawa Barat tauco Cianjur, tapi ada pula tauco Pekalongan, dan kemudian Medan dan Kalimantan. Di Belitung pun, tauco menjadi salah satu pilihan untuk olahan sambal atau dipadu dengan bahan makanan lain. Hanya terlihat berbeda dari tauco umumnya, meski Anda hanya melihatnya sekilas. Pada umumnya tauco, kedelai sudah tidak terlihat bentuk utuhnya alias sudah hancur, paling hanya beberapa potongan kecil yang tampak. Berbeda dengan tauco Belitung, kacang kedelai terlihat utuh dan warnanya tidak cokelat tua melainkan kekuningan.

Dalam pengolahannya sambal tauco dibuat encer dengan ditambahi bawang putih, cabe rawit, jeruk songkit, dan gula pasir. Tak hanya dipadu dengan nasi tapi juga menjadi sambal paduan untuk otak-otak. Tauco ini bisa ditemukan di pasar dan toko oleh-oleh, per botol pada kisaran Rp 25-30 ribu. l

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Oleh-oleh Pontianak, 5 Yang Layak Dibawa

Oleh-oleh Pontianak yang kh layak dibawa pulang.as kota khatulistiwa ini dan

Oleh-oleh Pontianak ternyata cukup beragam, meskipun mungkin variannya belum sebanyak daerah-daerah yang sudah menjadi pusat-pusat pariwisata di Indonesia, seperti Bali, Yogya, atau Medan. Tapi cukup mudah untuk memilih barang atau makanan sebagai buah tangan sepulang dari ibu kota Kalimantan Barat ini.

Oleh-oleh Pontianak

Kita tahu semua, tidak banyak kota di dunia yang dilintasi garis maya khatulistiwa atau garis equator. Garis Lintang 0 derajad sebagai lintasan matahari. Beruntung Indonesia punya Pontianak, di Kalimantan Barat. Dalam dua kali setahun, di kota ini terjadi fenomena alam yang disebut kulminasi—kondisi yang menyebabkan sebuah benda kehilangan bayangan karena menyatu dengan obyeknya. Ini karena matahari betul-betul tepat berada di atas kota ini. Lucu kan, kita kehilangan bayang-bayang kita sendiri?

Keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi turis lokal ataupun mancanegara. Saat pulang, para wisatawan itu biasanya ingin membawa buah tangan yang khas. Umumnya berupa  miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai bukti pernah berada di kota di titik lintang 0 derajad. Kalaupun bukan itu, pasti orang ingin membawa makanan kecil atau makanan khas setempat. Apa saja pilihan yang ada di kota ini? Berikut alternatif yang bisa dipilih.

oleh-oleh Pontianak ada beragam, setidaknya ada 5 yang layak dibawa sebagai buah tangan.
Oleh-oleh Pontianak salah satunya berupa miniatur tugu katulistiwa). Foto: ilustrasi/TL/Aditia

Miniatur Tugu

Rasanya belum sah berkunjung ke Pontianak jika tidak membeli miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai cendera mata. Suvenir yang satu ini memang unik. Sebab, menyimpan kisah yang menarik dari terjadinya sebuah fenomena alam. Bentuknya yang indah pun membuatnya cocok dijadikan dekorasi ruang tamu.

Miniatur yang dibingkai dalam kaca semakin menjadi indah dengan adanya pemasangan hiasan lampu. Ada yang terdiri atas dua lampu dan lima lampu. Bahkan ada pula miniatur Tugu Khatulistiwa yang dapat berputar pada porosnya. Harganya bergantung pada besar-kecilnya ukuran. Miniatur terkecil dihargai Rp 25 ribu dan terbesar Rp 500 ribu.

Sapta Pesona Khatulistiwa; Jalan Khatulistiwa; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 09.00-17.00

Lidah Buaya Segar

Aloe vera atau yang lebih dikenal dengan nama lidah buaya identik sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Bahkan tak jauh dari pusat kota dibangun kawasan agrowisata yang dikenal dengan nama Aloe Vera Center. Di sepanjang jalan menuju pusat lidah buaya tersebut berjajar warung atau toko yang menjual berbagai olahan lidah buaya. Dari tepung, dodol, kerupuk, hingga minuman.

Nah, minuman sari lidah buaya ini cukup digemari karena rasanya manis dan menyegarkan. Apalagi bila dinikmati dalam keadaan dingin. Potongan daging lidah buayanya empuk dan tidak berserat. Uniknya, para pengolahnya bisa menghilangkan lendir yang biasa melekat pada daging lidah buaya. Harga per baloknya hanya Rp 10 ribu dengan isi lima bungkus kecil.

Sun Vera; Jalan Budi Utomo A6 No. 3; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 07.00-17.00

Dodol Pink

Semua daerah di Indonesia rasanya memiliki dodol. Kue tradisional Nusantara yang populer ini hampir bisa dijumpai di setiap daerah dengan berbagai nama, bentuk, dan rasa. Di Sumatera Barat, dodol dinamai gelamai. Sedangkan di Riau terkenal dengan nama lempuk. Adapun di Jawa Tengah dikenal dengan nama jenang. Lain lagi di Jawa Barat, tapi ada yang terkenal, yakni dodol Garut.

Di Pontianak sendiri namanya tetap dodol. Tapi dengan embel-embel: kelapa Segedong. Penambahan embel-embel kelapa dan Segedong tak lepas dari bahan yang digunakan dan asal pembuatannya. Disebut dodol kelapa karena menggunakan bahan dari kelapa. Adapun disebut Segedong karena tempat itu merupakan daerah pembuat dodol. Jika biasanya dodol berwarna cokelat, warna dodol kelapa Segedong ini justru merah muda alias pink. Harganya hanya Rp 10 ribu per bungkus.

Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.00-24.00

Kelegitan Lempok

Mirip-mirip dengan dodol, Pontianak juga terkenal dengan lempok. Oleh-oleh khas Pontianak ini banyak dijual di pusat oleh-oleh di kota ini. Sebagian besar wisatawan yang pernah mampir ke Pontianak pasti membeli lempok durian Pontianak. Sensasi kelegitan lempok dan rasa duriannya yang dahsyat pasti membuat kangen bagi yang sudah merasakannya. Satu bungkusnya dijual beragam. Salah satu toko, yang menjual lempok durian seharga Rp 35 ribu per bungkus dengan isi 10 bungkus kecil, saya sambangi.

Toko Asia; Jalan Pattimura No. 12; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.30-21.00

Kopi Pontianak

Jika berkunjung ke satu daerah hampir dipastikan kita dapat menemukan kopi dengan mudah. Begitu pula di Pontianak. Ada satu produsen kopi yang populer di Kota Khatulistiwa itu. Tokonya terlihat seperti bangunan lama. Begitu pula dengan lemari penyimpan atau meja yang digunakan sama kunonya.

Namun yang menarik adalah kopi yang dijualnya. Aroma kopi ini sebetulnya biasa saja. Justru cenderung lembut. Tetapi  cukup tebal. Kopi ini rasanya cocok untuk peminum yang tidak mementingkan aroma, tapi mementingkan ketebalan dan kekentalan kopi. Tersedia dalam berbagai kemasan. Mulai ukuran 100 gram sampai dengan satu kilogram. Yang ukuran ½ kilogram dihargai Rp 28 ribu.

Kopi Obor; Jalan Tanjung Pura No. 21; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 08.00-15.30

agendaIndonesia/Andry T./Aditya N/TL

Oleh-Oleh Banten 5 Yang Wajib Dibawa

oleh-oleh Banten ada 5 yang ayak dibawa.

Oleh-oleh Banten selama ini orang banyak yang hanya mengenal sate bandeng. Ini tak salah, meskipun kurang tepat. Cukup banyak sebenarnya oleh-oleh khas dan unik dari daerah ini, hanya belum terlalu dikenal.

Oleh-oleh Banten

Setiap daerah tentu memiliki keunikan yang berbeda dengan daerah lain. Begitu pula dengan Banten. Keunikan Banten bukan semata budaya debusnya yang terkenal itu. Banten juga memiliki buah tangan yang layak dibawa pulang.

Meskipun letaknya relatif tidak terlalu jauh dari Jakarta, bisa jadi masih banyak yang belum tahu jika Banten menyimpan sejumlah oleh-oleh yang unik. Ada makanan klasik yang dilestarikan dari masa silam sampai dengan batik yang pertama kali dipatenkan di Unesco. Beberapa 5 di antara oleh-oleh yang layak dibawa pulang.

oleh-oleh bandeng salah satunya Sate Bandeng yang khas
Sate Bandeng khas Banten. Foto: Dok. Shutterstock

Sate Bandeng

Dulu di daerah ini ikan bandeng hanya disajikan dalam setiap perayaan besar, kini telah menjadi jajanan khas Banten, terutama sate bandengnya. Meski dinamai sate, bukan berarti ikan itu dipotong kecil-kecil lantas ditusuk bambu seperti pada umumnya. Bentuk sate bandeng dijepit bilah bambu.

Daging dan tulang ikan diambil kemudian dicincang dan diberi bumbu sebagai penyedap. Cincangan daging dimasukkan kembali ke dalam tubuh ikan dan sisanya dagingnya dioleskan di bagian luarnya. Lalu dibungkus dengan daun pisang dan kemudian dipanggang.

Di Serang, banyak sekali yang menjajakan makanan ini. Harga
per tusuknya bervariasi, tergantung dari besar kecilnya ikan bandeng. Sate Bandeng Ibu Aliyah salah satu yang dikenal luas, dengan harga lebih tinggi dibanding produksi yang lain. Ada pilihan rasa yang disediakan, orisinal dan pedas.

Sate Bandeng Ibu Aliyah; Jalan Sama’un Bakri, Lopang Gede, Serang.

Emping Ceplis

HAMPIR semua orang pasti mengenal emping. Tapi di Banten, terutama di Kabupaten Pandeglang, emping yang dihasilkan konon berbeda dari daerah lain. Selain rasa yang renyah karena pengolahannya, faktor kondisi tanah daerah Pandeglang umumnya memiliki unsur hara yang tinggi sehingga menghasilkan

buah melinjo dengan kualitas baik. Kios oleh-oleh di Cikoromoy, Pandeglang, misalnya, menyediakan berbagai pilihan emping. Dari yang masih mentah hinga yang sudah siap santap. Pilihannya, rasa orisinal, pedas, dan manis. Harganya beragam sesuai dengan ukuran. Mulai Rp 35 ribu per bungkus. Ada juga kulit emping yang sudah digoreng dan hanya dihargai Rp 20 ribu per bungkus.

Kios Oleh-Oleh; Cikoromoy, Pandeglang, Banten

Batik Banten

Batik Banten memiliki proses sejarah panjang hingga akhirnya diakui di seluruh dunia dengan dipatenkan pada 2003. Bahkan, batik Banten menjadi batik pertama yang memiliki hak paten di Unesco. Penasaran dengan berita itu, kami menemui Uke Kurniawan, pelopor batik Banten sekaligus pemilik Griya Batik Banten di daerah Cipocok, Serang.

Selain sebagai ruang pamer, Griya Batik Banten juga dijadikan workshop. Ada sekitar 40 corak dan motif batik khas Banten yang memiliki ciri khas bercerita. Nama-namanya di- ambil dari toponim desa-desa kuna, nama gelar bangsawan atau sultan, dan nama tata ruang istana kerajaan Banten. Warnanya cenderung abu- abu muda.

Griya Batik Banten; Jl. Bhayangkara No. 5; Depan Masjid Kubil; Cipocok Jaya, Serang

Gipang

Makanan ringan ini merupakan salah satu penganan khas Banten yang banyak dijajakan sebagai oleh-oleh. Rasanya renyah, manis, sedikit lengket karena terbuat dari ketan yang dicampur dengan air gula. Kebanyakan gipang masih dibuat di industri-industri rumahan di kampung-kampung.

Untungnya, penganan klasik ”Si Renyah Manis” ini masih dapat dengan mudah ditemukan di perempatan Ciceri, gerbang jalan tol Serang Timur, dan Pasar Lama. Untuk sekantong gipang dibandrol dengan harga Rp 20 ribu-25 ribu saja.

Kios Oleh-Oleh. Ciceri, Serang

oleh-oleh Banten ada beberapa macam, salah satunya kue sagon.
Kue sagon khas Banten yang bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Dok. PD Sutra AS.

Kue Sagon

Kalau di Jakarta, khususnya pada masyarakat Betawi, camilan yang terbuat dari tepung sagu dan kelapa ini biasanya berbentuk bubuk. Namun, masyarakat Banten mengenal sagon dalam bentuk kepingan. Mirip sekali dengan kue kering yang pipih.

Setelah dicetak bulat pipih, sagon dimasak dengan cara dibakar. Tak mengherankan jika di permukaannya tertinggal jejak gosong. Namun justru inilah yang membuat aromanya tambah harum. Satu bungkus sagon bakar dibandrol Rp 15 ribu-20 ribu. Selain itu ada juga kue satu yang terbuat dari kacang hijau. Satu bungkusnya hanya Rp 15 ribu.

Warung Kang Hadi; Jl. Jendral Sudirman No. 17; Pasar Buah-Buahan; Serang

agendaIndonesia

*****

Roti Unyil Venus, 55 Varian Unik Dari Bogor

Keliling Bogor pastikan beli roti unyil venus, oleh-oleh khas Bogor

Roti Unyil Venus mungkin sekitar 10-15 tahun terakhir menjadi salah satu oleh-oleh khas dari kota Bogor, Jawa Barat. Bentuknya yang mungil dengan rasa yang enak membuatnya menjadi klangenan mereka yang singgah ke kota hujan ini.

Roti Unyil Venus

Untuk warga Bogor dan Jakarta, mungkin roti Venus ini sesungguhnya tidak baru, menurut sejarahnya ia sudah ada sejak 1992. Meskipun produk dalam bentuknya yang mungil seperti sekarang ini baru sekitar tahun 1993-1994.

“Roti Unyil” sendiri adalah produksi Venus Bakery yang dikembangkan kakak beradik Hendra Saputra dan Herlianty. Mereka memulai usahanya dengan membuat roti-roti berukuran normal-normal saja, seperti roti tawar dan roti isi beraneka rasa. Awalya mereka berdua berjualan rotinya dengan menggunakan gerobak kecil di perumahan sekitar tempat tinggalnya.

Herliyanti yang pertama punya ide berdagang, Hendra, sang adik yang pertama mengusulkan agar mereka menjual roti. Hal itu karena ia pernah mengikuti kursus membuat roti. Hendra pun akhirnya membuat roti dengan resep sendiri. Roti mereka pada awalnya berukuran standar dan memiliki 10 rasa yang berbeda-beda.

Ide membuat varian roti dalam bentuk mungil tercetus ketika kedua kakak beradik tersebut ingin menyasar pasar anak-anak. Pertimbangannya, anak-anak mungkin tertarik dengan bentuknya yang mungil. Tentu, dengan kualitas dan rasa yang enak, anak-anak akan semakin menggemarinya.

Namun, ternyata keduanya “meleset”. Roti mungil mereka ternyata tak hanya digemari anak-anak. Pasar terbesar kemudian justru para orang tua dan orang dewasa. Mungkin dengan harganya yang lebih murah karena mungil, orang bisa sekaligus mencicipi beberapa varian rasa sekaligus. Jika dibandingkan dengan membeli satu jenis roti ukuran biasa.

Belakangan, roti-roti mungil ini justru yang cepat terserap konsumen. Akhirnya toko roti Venus hanya fokus pada produk roti-roti kecil ini. Pada saat itu memang belum ada roti yang berukuran kecil. Toko ini tetap memproduksi beberapa roti ukuran besar, namun tak lagi menjadi produk utama.

Tak jelas betul bagaimana kemudian produk roti-roti mungil ini kemudian disebut dengan nama “roti unyil”. Pada awalnya, baik Hendra maupun Herlianty tidak pernah mempopulerkan roti buatan mereka dengan nama roti unyil. Entah siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut hingga akhirnya roti-roti mungil ini dikenal oleh hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia dengan nama roti unyil.

Awalnya roti unyil ini hanya memiliki 10 varian rasa, seperti juga awal roti ukuran normalnya. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk berinovasi hingga variasi rasanya bertambah menjadi 25 rasa. Ini terus berkembang, hingga saat ini telah ada 55 varian rasa. Ada rasa manis, maupun rasa asin.

Isi dari roti ini bermacam-macam, mulai dari abon, keju, sosis, bakso, moka, cokelat, susu, jagung, kacang, nanas, pisang, kismis, stroberi, cokelat kacang, dan pisang cokelat. Atau kombinasi dari bermacam varian itu.

Keberadaan roti unyil lantas saja beredar dari mulut ke mulut. Setiap harinya, Venus Bakery tak pernah sepi pembeli, terutama di akhir pekan atau saat hari-hari libur. Para pembeli biasanya membeli roti yang dikemas dalam kotak berisi 10 hingga 60 buah. Konsumen dibebaskan untuk memilih lebih dari 50 varian yang tersedia di dalam etalase. Namun, dari semua varian, yang menjadi favorit para pembeli adalah daging asap keju dan jagung manis.

Outlet pertama toko roti Venus ada di sebuah komplek ruko di Jalan Sukasari, Bogor. Toko roti itu selalu ramai dikunjungi pengunjung. Banyak orang berdatangan terutama dari Jakarta yang membeli roti itu. Mau tidak mau kamu harus mengantri dengan sabar karena jumlah pengunjung yang membludak.

Ketika bisnis terus berkambang dan maju, toko roti ini kemudian sekarang berada di Jalan Padjadjaran, lokasinya cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari pintu masuk tol Jagorawi dan Terminal Baranang Siang. Di tengah banyaknya oleh-oleh dan kuliner yang tumbuh di Bogor, roti unyil kemudian menjadi salah satu pilihan.

Tak jarang, selain menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang hendak kembali ke Jakarta, Bandung, atau kota lainnya, roti Venus ini juga menjadi incaran para pelancong yang hendak berakhir pekan ke Puncak. Roti ini memang cocok dimakan ketika orang sedang bersantai bersama keluarga atau teman-teman. Roti ini juga bisa menjadi teman sarapan atau sekadar untuk pengganjal perut yang lapar.

Sudahkah Anda mencicipi roti unyil ini? Kalau belum, ayo segera agendakan.

AgendaIndonesia

Batagor Bandung, Kisah Kang Isan Pada 1973

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Batagor Bandung sudah menjadi salah satu makanan wajib pengunjung kota kembang ini. Selain untuk jajan makan di tempat, juga untuk oleh-oleh di bawa pulang ke rumah.

Batagor Bandung

Buat sebagian orang Jakarta, Bandung kadang seperti kantin jaman sekolah saja. Tempat untuk jajan makanan-makanan enak. Kadang cuma untuk isi perut ps “istirahat siang”. Salah satu yang mudah dan diincar kalau ke Bandung tentu saja adalah Batagor, alias bakso tahu goreng. Makanan berbahan ikan dengan bumbu saus kacang.

Ada beberapa kedai batagor di Bandung, Jawa Barat, yang terkenal di kalangan pecinta kuliner. Sebut saja nama-nama Batagor Kingsley, Batagor Riri, Batagor Cuplis, atau Batagor Haji Isan. Yang terakhir ini mungkin namanya beberapa tahun terakhir tidak sepopuler yang lain, namun jangan salah, konon, yang terakhir inilah yang disebut-sebut “penemu” makanan yang kemudian disebut batagor tersebut.

Batagor adalah kuliner yang tercipta karena ketidaksengajaan. Dari laporan sejumlah media, beberapa pendapat menyebut jika batagor adalah kuliner yang secara tidak sengaja dibuat oleh perantau asal Purwokerto, Jawa Tengah, yakni Isan sekitar tahun 1973. Ia kala itu merantau ke Bandung dengan niat mencari pekerjaan.

Tapi, seperti kisah-kisah perantau pencari kerja, Isan tak juga mendapatkan pekerjaan. Sekadar untuk mengisi waktu dan tidak menganggur, Isan kemudian coba-coba jualan bakso dengan berkeliling. Selama bertahun-tahun ia melakoni masuk-keluar gang dengan pikulan dagangannya, berkeliling di daerah tempat tinggalnya di seputaran Jalan Kopo.

Tapi, biasalah, seperti pedagang makanan lainnya. Tak setiap hari dagangan Isan laris manis. Bahkan setiap hari ada saja tahu bakso dagangannya yang tidak terjual habis. Selalu saja ada sisa tahu baksonya.

Pada awalnya, Isan melakukan hal sederhana untuk dagangannya yang tidak laku itu agar tidak mubadzir. Ia membagi-bagikan sisa tahu baksonya ke para tetangganya. Sampai suatu ketika, ketika tahu baksonya tersisa sangat banyak. Tetangganya mungkin juga tak nyaman menerima pemberian yang banyak. Apa akal?

Di tengah kebingungannya, ia lantas mencoba menggoreng tahu baksonya. Niatnya hanya agar tahu bakso tak serta merta jadi basi. Namun kemudian ia mencoba makan tahu bakso hasil gorengannya. Unik. Walhasil, selain ia konsumsi sendiri, bakso yang ia goreng ia bagikan juga ke para tetangga di gang Situ Saeur, Kopo, Bandung. Dan ternyata mereka justru makin suka.

Tahu bakso yang telah digorengnya kemudian ia beri saus kacang yang ia racik khusus. Rupanya, para tetangganya sangat suka dengan tahu bakso goreng tersebut. Bahkan, tetangganya mulai memesan tahu bakso goreng buatannya. Mulai saat itulah, Isan membuat kuliner yang kemudian disebut batagor.

Menurut cerita, awalnya Isan masih mengkukus dulu bakso tahunya. Sesuai jualannya seperti sebelumnya. Bahkan sempat masih berjualan dua varian: bakso tahu kukus dengan kuah, dan yang digoreng. Namun, belakangan ia lebih banyak berjualan batagor. Caranya pun tak lagi dikukus terlebih dahulu, namun langsung digoreng dari bahan mentahnya. Hasilnya ternyata lebih disukai konsumennya.

Usaha Isan makin tumbuh dan berkembang. Tak hanya pelanggan atau pembeli dari kota Bandung. Orang dari tempat dan kota lain pun mulai datang mendengar keunikan makanan Bandung ini. Dengan kian berkembangnya usahanya, pada 1985, Isan memindahkan tempat dagangnya ke rumah yang lebih luas di Jalan Bojongloa nomor 38. Di tempat ini, konsumen makin mudah menikmati batagor Isan.

Pada 1991, Isan menunaikan ibadah haji, sejak itu batagor dagangannya lebih dikenal sebagai Batagor Haji Isan. Ia meninggal pada 2010, usaha batagornya diteruskan keponakannya, karena Haji Isan tidak memiliki putra.

Meski begitu, kreatifitasnya menciptakan batagor telah menginspirasi banyak orang. Batagor kini telah dikenal banyak masyarakat Indonesia dan tersebar luas di berbagai kota di Indonesia. Bahkan di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang dorongan yang berjualan batagor.

Di Bandung sendiri ada sejumlah tempat yang kemudian menjadi ikon kuliner kota ini karena berjualan batagor. Batagor H. Isan sendiri kini telah memiliki beberapa cabang, yakni di Jalan Cikawao, di jalan Lodaya, atau di jalan Ciateul. Sementara itu, tempat-tempat kuliner batagor di Bandung yang jadi ikon adalah Batagor Kingsley di Jalan Veteran; Batagor Riri di Jalan Burangrang, atau Batagor Abuy, juga Batagor H. Darto.

Batagor mana yang jadi favoritmu?

agendaIndonesia

******

Bakpia Yogya, Oleh-oleh Khas Sejak 1940-an

Bakpia Yogya

Bakpia Yogya menjadi pilihan pertama jika orang ingin membawa oleh-oleh dari kota pelajar ini. Tentu saja selain gudeg.

Bakpia Yogya

Makanan tersebut merupakan oleh-oleh tradisional terpopuler dari Yogyakarta. Ada perasaan tidak komplit jika ke Yogyakarta tidak membeli bakpia. Hampir di setiap toko oleh-oleh di kota ini menyediakan makanan ini.

Bakpia sendiri adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu yang, awalnya hanya dengan diisi dengan kacang hijau biasa disebut kumbu dan belakangan muncul dengan sejumlah varian isi, yang dipanggang. Makanan yang dianggap menjadi ciri khas Yogya ini sejatinya berasal dari negeri Cina.

Dari laporan tirto.id yang mengutip penelitian Amelia Puspita Sari dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan judul Bakpia Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya Indonesia dan Tiongkok di Bidang Kuliner (Studi Kasus Bakpia 29), tertulis bakpia terbentuk dari pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Nama bakpia sendiri memang berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang secara harfiah bermakna kue atau roti berisi daging. Bakpia memang datang dari negeri Tiongkok dibawa para imigran Tionghoa pada awal abad 20. Bakpia masuk Indonesia sejak 1930-an. Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia.

Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia. Kemudian ia dibawa oleh keluarga-keluarga pedagang Tionghoa yang datang dan kemudian menetap di kota Yogya.

Bakpia awalnya dulu dibuat menggunakan isian daging dan minyak dari babi. Namun, kemudian melihat penduduk Yogya yang lebih banyak yang muslim, bakpia lantas dimodifikasi menjadi kue yang tidak lagi menggunakan minyak babi. Isiannya pun diganti dengan kacang hijau sehingga sepenuhnya menjadi makanan yang halal. Hasil adaptasi cita rasa bakpia ini juga disesuaikan dengan lidah masyarakat Yogyakarta.

Makanan ini pertama kali dibawa pendatang asal Tiongkok, Kwik Sun Kwok, pada 1940-an ke Yogyakarta. Pada saat itu Kwik menyewa sebidang tanah di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, milik seorang warga lokal bernama Niti Gurnito.

bakpia yogya di antaranya bakpia kukus tugu jogja

Pada awalnya, kue ini hanya menjadi camilan tradisional dalam keluarga. Namun dalam perkembangannya kemudian makanan ini mulai diperjualbelikan ke publik. Salah satu keturunan keluarga Tionghoa, Goei Gee Oee, kemudian memproduksi bakpia sebagai industri rumahan. Bakpia yang didirikannya bernama Bakpia Pathuk 55.

Langkah ini kemudian diikuti oleh Liem Yu Yen sekitar tahun 1948 yang diberi nama Bakpia Pathuk 75. Sampai 1970, praktis bakpia baru diproduksi oleh dua keluarga ini di Pathuk, Yogyakarta.

Pada 1980-an, bakpia semakin populer dan mulai muncul produsen-produsen rumahan bakpia di kawasan Pathuk. Para pembuat bakpia umumnya menggunakan menyulap dapur atau sebagian rumah mereka untuk membuat bakpia. Mereka kemudian membuka toko di rumah masing-masing untuk memasarkan bakpia buatannya. Bakpia dikemas menggunakan dus atau kertas karton. Bakpia-bakpia ini kemudian dikenal dengan sebutan Bakpia Pathuk.

Seperti dikutip dari Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja (Suryo Sukendro, 2009), pada masa itu, para produsen bakpia belum mengenal istilah merek dagang. Secara sederhana para produsennya menjual dengan merek dagang berupa nomer rumah pembuatnya, seperti Bakpia Pathuk 25, 75 dan masih banyak lagi.

Pelabelan Bakpia merek dagang nomor rumah tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan. Begitupun, beberapa tahun terakhir mulai ada yang yang menggunakan nama yang bukan nomor rumah.

Berjalannya waktu dan berkembangnya selera masyarakat, bakpia tak hanya berisi kacang hijau dan kumbu ketan hitam. Sejumlah varian isi mulai ditawarkan. Mulai dari coklat, keju, ubi ungu, susu, bahkan hingga tiramisu dan teh hijau. Cara memasakmya pun mulai bervariasi. Jika dulunya hanya dipanggang, belakangan –mungkin terinsprasi model brownis yang dikukus, bakpia muncul pula dengan model kukus.

Pusat-pusat produksi bakpia pun meluas, tidak lagi hanya terpusat di Pathuk. Kini, selain di Pathuk sentra produksi bakpia bisa dijumpai di daerah Glagahsari (selatan Kusumunegara); di daerah Wirobrajan; bahkan di kawasan Minomartani dan jalan Kaliurang di Utara Yogyakarta. Masing-masing dengan kekhasan rasa dan pelanggannya sendiri-sendiri.

Bakpia telah melewati sejumlah zaman dan tetap bertahan sebagai oleh-oleh khas Yogya nomor satu.

Beberapa sentra bakpia khas Yogya.

Bakpia Pathuk 75; Jalan AIP Jl. Karel Sasuit Tubun No.75, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Kurniasari; Jl. Glagahsari No.91, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164

Bakpiaku; Jl. Kaliurang No.81, Kocoran, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Bakpia Pathuk 25; Jalan AIP Karel Sasuit Tubun No.65, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Merlino; Jl. R. E. Martadinata B No.24, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55253

Bakpia Citra; Jl. Mataram, Suryatmajan, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55213

Bakpia Kukus Tugu; Jl. Kaliurang KM.5,5 No.10A, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284

agendaIndonesia

*****

Oleh-oleh dari Medan, 3 Yang Dari Kebun

Oleh-oleh dari Medan, Sumatera Utara, memiliki banyak macamnya. Oleh-oleh kreasi warga Medan pun terus berkembang. Tidak lagi hanya sirop markisa, bika Ambon, dan bolu Merant,i tapi juga tersedia pilihan hasil kebun yang menyegarkan.

Oleh-oleh dari Medan

Manisan, jus buah, dan kopi membikin mata serta pikiran langsung terbuka. Medan memang surga segala jenis hidangan. Dari sajian untuk sarapan hingga hidangan laut yang biasa dikonsumsi malam hari. Berbagai hasil perkebunan di sekitar Sumatera diramu untuk menggoda selera. Hasil olahan menyegarkan tersebut termasuk kopi. Cairan hitam ini tak kalah nikmat, apalagi jika aromanya sudah menggoda hidung.

Manisan Buah Yenny

Yenny sudah dikenal sebagai pembuat manisan jambudi Medan sejak 1980-an. Ia bekerja dengan suaminya membuat olahan ini. Hasilnya berupa manisan jambu renyah yang ia sebut tidak bisa tahan lama. Selain menggunakan gula asli, olahan ini tanpa pengawet. Para wisatawan lazimnya mampir ke toko ini sebelum menuju bandara untuk pulang ke daerah masing-masing. “Hanya tahan dua hari, di lemari es paling empat hari,” Yenny mengungkapkan.

Yenny menggunakan jambu klutuk atau jambu biji hasil perkebunan di Berastagi. Pembuatannya paling singkat dibanding dengan jenis manisan lain, hanya dikupas kemudian dimasukkan ke cairan gula sebentar.

Bentuknya dibiarkan bulat, dengan warna asli bagian luar kehijauan dan daging yang putih. Rasanya segar dan renyah. Buah ini paling pas dikunyah siang hari di tengah hawa Kota Medan yang panas. Ada beberapa lokasi yang menjadi pusat penjualan manisan jambu klutuk. Hanya, bila Anda ingin membawanya sebagai oleh-oleh, lebih baik menuju Jalan S. Parman. Tidak jauh dari Museum dan Galeri Rahmat, ada sebuah jalan kecil yang dikenal sebagai Gang Pasir. Tepat di ujung gang, ada dua toko. Nah, di sisi kanan berdiri Toko Manisan Yenny.

Berada di provinsi yang memiliki lahan perkebunan luas, Medan menyodorkan banyak olahan manisan buah. Yenny mengaku mencari jenis buah terbaik dan menggunakan gula asli. Proses pengolahan manisan ini cukup panjang, bahkan hingga satu minggu agar rasa manis benar-benar meresap pada buah.

Selain jambu biji, buah lain yang digunakan untuk manisan adalah buah khas Sumatera Utara, seperti mangga Medan, yang berukuran kecil. Diolah ketika mangga masih muda, manisan yang dijual per kilogram ini terasa asam manis. Jika masih ingin mencicipi yang segar-segar, pengunjung bisa memilih manisan asam gelugur, yang dipatok seharga Rp 50 ribu per kilogram. Ada juga manisan kedondong, pepaya, dan cabai, yang harganya cukup tinggi.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

oleh-oleh dari Medan tak sedikit yang merupakan produk perkebunan.
Juise buah bisa menjadi oleh-oleh dari Medan, salah satunya juice Terong Belanda. Foto: Dok. shutterstock

Jus Buah Asli

Banyak orang mengenal oleh-oleh Medan berupa sirop markisa dan terung Belanda. Sirop itu memiliki aroma yang kuat, meski rasa markisanya sudah berkurang. Penggemar buah ini bisa menemukan produk tersebut di toko manisan, di antaranya gerai milik Yenny. Selain menjual jus markisa dan terung Belanda, serta campuran keduanya yang disebut martabe, toko ini menjajakan beragam jus buah.

Ada jus jeruk Kietna dalam botol untuk ukuran 600 mililiter. Ada pula jus markisa, martabe, dan jus kedondong yang menyegarkan. Bagi penggemar sirsak, tersedia pula jus buah tersebut dalam botol.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

Oleh-oleh dari Medan ada yang berasal dari olehan perkebunan, di antaranya kopi.
Kopi di Oppal Coffee, selain yang bisa dibawa dalam bentuk biji atau serbuk, juga bisa dinikmati di tempat. Foto: Dok. TL/Dhemas

Kopi Beraroma Mantap

Kopi tentu menjadi oleh-oleh yang tak kalah menyegarkan dari Medan. Kopi Sidikalang salah satunya. Ada banyak produk minuman sedap ini karena memang Sumatera Utara gudangnya kopi. Namun jika benar-benar penikmat kopi, dan ingin memilih yang berkualitas ekspor, Anda bisa mencicipi produk Opal Coffee.

Kopi ini dikeluarkan oleh PT Sari Makmur Tunggal Mandiri, yang memiliki lahan sekitar 500 hektare di Sidikalang. Kopi yang diolah 100 persen hasil lahan sendiri. Ada 15 varietas kopi yang ditanam, sehingga pembeli bisa memilih sesuai dengan selera. Menurut Michael Wonggo, Operation Manager Opal Coffee Division, kopinya juga menjadi langganan hotel-hotel berbintang di Medan.

Beberapa jenis kopi dari Opal Coffee bisa ditemukan di kafe yang dikelola perusahaan ini di Medan. Berlokasi di Griya Riatur, beraneka kopi Sumatera dan daerah lain dijual pada kisaran Rp 200 ribuan per kilogram, baik yang masih berupa butiran maupun hasil sangrai dadakan.

Opal Coffee Café & Resto; Kompleks Griya Riatur Blok C-56; Medan

Rita N./ Dhemas RA/TL/agendaIndoensia

*****

5 Oleh-oleh Medan Yang Memikat dan Nikmat

5 oleh oleh Medan bolu meranti

5 oleh-oleh Medan ini kian hari kian memikat dan tetap nikmat. Bika Ambon masih jadi sesuatu yang khas, tapi tidak lagi hanya itu, karena pilihan terus bertambah.

5 Oleh-oleh Medan

Tak mengherankan jika ada orang Medan yang menyebutkan, kalau sudah pulang kampung, berat badan langsung naik. Di Medan, memang begitu mudah ditemukan sajian yang menggoda. Bila Anda bersiap meninggalkan Medan, tapi masih ingin mencecap sajian kota itu, tidak ada salahnya membawa oleh-oleh. Paling tidak, dalam beberapa hari Anda masih bisa menikmati sajian khas Sumatera Utara. Mulai yang sudah lama dikenal seperti sirop markisa, sirop terung Belanda, bika ambon, manisan jambu, dodol duren, hingga yang kini digandrungi: bolu gulung Meranti dan pancake durian. Semua bisa dikemas agar siap dibawa langsung ke bandara.

Bika Ambon

Sepanjang Jalan Majapahit, Medan, sudah lama menjadi sasaran turis ataupun warga Medan untuk mendapati oleh-oleh khas bika ambon. Mulai ramai sejak 1990-an, hingga kini deretan toko yang menjual oleh-oleh semakin bertambah. Ada sekitar 20 toko. Mungkin karena bika ambon dari tahun ke tahun selalu diburu sebagai oleh-oleh. Dengan kreativitas, bahkan bika ambon tersedia dalam berbagai rasa, dari yang orisinal berwarna kuning hingga muncul rasa pandan, keju, cokelat, vanila, nangka, dan durian.

Nama kue ini bika. Tapi konon, karena awalnya ada pemuda Ambon yang setiap kali makan kue ini selalu dengan lahap, disebutlah bika ambon. Kue berpori-pori dengan rasa legit ini bisa ditemukan dalam berbagai ukuran. Semula memang dijual dalam ukuran kecil, tapi kue setebal 5-6 sentimeter itu kini kebanyakan diproduksi dalam ukuran besar.

Ada dua merek yang cukup dikenal, yakni Bika Ambon Zulaikha dan Bika Ambon Ati. Bika Ambon Ati disebut sebagai yang pertama membuka usaha penganan tersebut di jalan ini. Adapun pemilik bika ambon Zulaikha membuka tokonya pada 2003, meski pembuatan bika ambon sudah dilakukannya sejak 2000. Rata-rata per loyang besar dihargai Rp 50 ribu. Kue yang terbuat dari tepung sagu dan telur ini bahkan dikemas khusus jika hendak dibawa naik pesawat, sehingga bika ambon pun aman di perjalanan. Di toko Bika Ambon Zulaikha juga bisa ditemukan beragam oleh-oleh khas Medan lainnya.

Bika Ambon Ati; Jalan Majapahit Nomor 11; Medan

Bika Ambon Zulaikha; Jalan Majapahit 96-D-E-F; Medan

Bolu Meranti

Kini jenis bolu gulung ini seperti menjadi oleh-oleh wajib bagi para pengunjung Kota Medan. Gerai yang lebarnya sekitar 6 meter itu pun selalu dipenuhi pengunjung. Di dinding dipajang foto-foto artis yang pernah mampir dan berbelanja di Bolu Meranti, di Jalan Kruing, Sekip, Medan.

Ada beragam rasa bolu gulung di sini, seperti stroberi, cokelat, moka, kopi, vanila, blueberry, pandan, dan ada campuran dua rasa: cokelat-stroberi, moka-kopi, cokelat-moka, dan lain-lain. Ada juga yang dibubuhi keju, kacang, atau meses.

Toko itu didirikan pada 2005, dan menggunakan nama Meranti, karena semula menjualnya di Jalan Meranti, meski pembuatnya tinggal di Jalan Kruing. Ciri khas bolu ini adalah teksturnya yang lembut. Selain itu, ada lapis legit, brownies, dan kue sus. Cuma kebanyakan yang dicari sebagai oleh-oleh bolu dan lapis legit. Selain bolu Meranti, kini bermunculan jenis bolu yang sama tapi dengan merek lain.

Bolu Meranti; Jalan Kruing Nomor 2-K; Medan

Sirop Markisa & Terung Belanda

Pertanian di sekeliling Medan tumbuh subur. Alhasil, dalam soal sayuran dan buah-buahan, kota ini mempunyai banyak pilihan. Salah satu pemasok besar datang dari dataran tinggi Tanah Karo dan Berastagi. Kedua daerah ini berada di kaki Gunung Sibayak. Untuk buah-buahan, selain ada jeruk, tersedia markisa dan terung Belanda. Sirop markisa sudah lama menjadi oleh-oleh dari Medan. Dengan semakin banyaknya hasil pertanian berupa terung Belanda, buah berwarna ungu ini pun diolah menjadi sirop.

Ada beberapa merek untuk kedua jenis sirop ini, di antaranya Pyramid Unta, Pohon Pinang, Noerlen, dan Sarang Tawon. Harganya berkisar Rp 18-33 ribu. Setelah meneguk jus buah aslinya, ada baiknya Anda membawa oleh-oleh berupa siropnya, yang tentu juga tetap menyegarkan karena terbuat dari buah asli dan mengandung sejumlah manfaat bagi tubuh. Markisa disebutkan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan vitamin A, B, serta C. Terung Belanda, yang berbentuk lonjong, berasa asam, dan dikenal mengandung vitamin A, B, C, dan E, ditambah lagi protein, kalsium, fosfor, zinc, zat besi, dan lain-lain. Sirop ini bisa didapat dengan mudah di toko oleh-oleh.  

5 Oleh oleh Medan di antaranya pancake durian

Pancake Durian

Durian umumnya lebih puas dinikmati di Medan. Apalagi jenis buah ini dilarang dibawa masuk ke dalam pesawat terbang. Namun rupanya orang Medan mempunyai trik agar durian tetap bisa dibawa sebagai oleh-oleh tanpa mengganggu penumpang lain. Durian pun dibuat lebih ringkas dengan mengolahnya menjadi pancake durian. Dibentuk dalam ukuran kecil untuk sekali makan dan dikemas dalam sebuah kotak kecil yang terdiri atas 10 pancake. Untuk membawanya ke dalam pesawat, si penjual biasanya membubuhkan kopi hingga aroma menyengatnya tidak muncul.

Untuk memuaskan pencinta durian, ada sebuah toko yang menjual macam-macam penganan dari durian, yakni Durian House. Aroma durian memenuhi ruangan, seperti pewangi ruangan rasanya. Pancake durian ini terbuat dari durian asli yang dibalut dengan kulit dari tepung. Rasa duriannya tetap kuat. Semakin mantap jika dimasukkan ke dalam lemari es terlebih dulu dan dikonsumsi dalam keadaan dingin.

Selain itu, di Durian House bisa ditemukan dodol durian, penganan yang sudah lama melekat dengan kota yang terkenal dengan duriannya ini. Juga bolu duren, roti puding durian, dan lain-lain. Bila ingin menikmati pancake durian di tempat, bisa mampir ke Taipan Chinese Restaurant di Jalan Putri Hijau Nomor 1, atau Restoran Sari Laut Nelayan di Merdeka Walk atau Jalan Putri Merak Jingga.

Durian House; Jalan Sekip Nomor 67-H, Medan

Manisan Jambu

Manisan jambu klutuk Medan sudah dikenal sejak dulu. Rasanya segar dan manis. Sebenarnya, selain jambu, di Medan aneka manisan memang sudah biasa diolah. Masyarakat Melayu Deli-lah yang mempunyai tradisi membuat manisan untuk sajian tamu saat Lebaran. Jenis buah yang sering dibuat manisan adalah salak, buah kana, asam jawa, tomat, nanas, mangga, plum, jambu, jambu biji, belimbing, pepaya, kedondong mini, jeruk kasturi, mangga samosir (mangga berukuran kecil-kecil), bahkan cabai. Hanya kemudian yang menjadi ciri khas untuk oleh-oleh adalah manisan jambu.

Ukuran jambu yang cukup besar, renyah, dan segar mungkin yang membuat orang menyukainya. Proses pembuatan manisan jambu juga membutuhkan waktu lebih singkat ketimbang jenis manisan lain yang memerlukan proses fermentasi. Pusat pembuatan manisan, sekaligus tokonya, ada di Gang Pasir, Jalan S. Parman. Anda bisa melihat pembuatannya, dan bisa juga memesan sebelum dibawa terbang ke kota asal. Kebanyakan pembuat manisan sudah turun-temurun, seperti toko manisan milik A Hai.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Oleh-oleh dari Jambi, 5 Yang Legit Dan Keren

Oleh-oleh dari Jambi masih jarang didengar, sebab daerah ini pun masih jarang dilirik para traveler. Padahal daerah ini punya segudang potensi buah tangan sebagai bawaan perjalanan ke sini, mulai dari batik, rambutan, lempok durian, kopi, hingga pempek.

Oleh-oleh Dari Jambioleh-oleh dari jambi

Jambi lebih dikenal dengan Gunung dan Danau Kerinci, yang terdapat di wilayah Kabupaten Kerinci. Kota Jambi sebenarnya menyimpan potensi wisata yang menarik, di antaranya Sungai Batanghari, tempat orang bisa menyaksikan keindahan mentari terbit di ufuk timur ataupun tenggelam di sisi barat.

Di sisi sungai terpanjang di Sumatera itu terdapat suatu kawasan asli penduduk Jambi. Orang Jambi menyebutnya Sekoja, yang merupakan singkatan dari Seberang Kota Jambi. Letaknya memang berseberangan dengan Kota Jambi karena terpisahkan sungai. Saat meninggalkan kota ini, sebagian besar pengunjung Kota Jambi juga biasanya membawa oleh-oleh yang tak terlupakan. Ada batik Jambi, rambutan goreng, lempok durian, kopi AAA, dan Pempek Selamat. Tertarik?

Warna Alami Batik Jambi

Masyarakat Sekoja kental dengan berbagai tradisi dan budaya. Salah satunya membuat batik khas Jambi. Warna khas pada batik Jambi adalah merah, kuning, dan biru. Sebagian besar pewarna diambil dari bahan-bahan alami, yaitu campuran ragam kayu dan tumbuhan yang ada di Jambi, seperti getah kayu lambato, buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi, dan kayu sepang.

Motifnya juga unik, di antaranya corak kaca piring, candi muara jambi, bulan sabit, awan berarak, angso duo bersayap mahkota, bunga teratai, durian kecil, batanghari, kapal sanggat, kuwaw berhias, dan buah manggis. Di Jambi, batik biasanya berbentuk sarung dan selendang. Karena itu, dijual dalam ukuran per dua meter.

Di Sekoja terdapat beberapa sanggar batik. Pengunjung dapat melihat pembuatan batik dan bahkan terlibat langsung dalam proses itu. Bila ada yang menawan hati, pengunjung bisa membelinya pula. Selain di Sekoja, sentra kerajinan batik ada di daerah Simpang Pulai dan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk. Mengenai harganya, batik berbahan katun rata-rata Rp 70-180 ribu per dua meter, sedangkan yang dari sutera Rp 250-350 ribu per dua meter. Untuk produk batik siap pakai, dijual dengan harga mulai Rp 150 ribu.

Kreasi Batik Asmah; Jalan H Somad No. 41; Olak Kemang

Rambutan Goreng Rasa Kurma

Buah rambutan biasanya dikonsumsi dalam keadaan segar. Selain dimakan langsung, ada yang dikemas dalam kaleng dan sebagai manisan. Proses pengolahan seperti ini membuat buah rambutan bisa dinikmati kapan saja, hingga di luar musimnya.

Selain diolah menjadi buah kaleng atau manisan, ternyata rambutan dapat menjadi camilan yang cukup unik. Di Jambi, rambutan disulap menjadi rambutan goreng. Untuk membuatnya, rambutan yang telah dikupas diolah sedemikian rupa sampai kering. Rambutan yang sudah kering kemudian digoreng dalam baluran tepung terigu yang telah dicampur dengan sedikit garam. Rasanya manis seperti kurma.

Gedung Dekranasda; Jalan Jenderal Sudirman; Jambi

Oleh-oleh dari Jambi teryata cukup banyak macamnya, mulai dari batik hingga makanan lempok durian yang legit.
Lempok durian Jambi, salah satu oleh-oleh dari daerah ini. Foto: Dok TL/Aditia N.

Lempok Durian nan Legit

Rasanya belum puas jika menginjakkan kaki ke Pulau Sumatera tapi belum mencicipi kelegitan lempok durian. Lempok adalah penganan sejenis dodol yang terbuat dari buah durian. Pembuatan lempok dilakukan secara turun-temurun dan terbilang masih sangat tradisional.

Lempok durian pun menjadi oleh-oleh yang populer di Jambi, terutama bagi pencinta buah berkulit keras dan tajam tersebut. Cara pengolahan lempok di masing-masing daerah sebetulnya sama. Yang berbeda adalah teknik membungkusnya. Di Jambi, lempok dibungkus dengan plastik transparan. Harganya bervariasi.

Gedung Dekranasda; Jalan Jenderal Sudirman; Jambi

Oleh-oleh dari Jambi bisa dibawa untuk kenang-kenangan perjalanan ke daerah ini. Salah satunya kopi.
Kopi susu yang bisa dinikmati di tempat, juga tersedia kopi bubuk dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Foto: Dok. Unsplash

Aroma Khas Kopi AAA

Kedai kopi mudah ditemui di perempatan Jalan Hayam Wuruk, Jambi. Kebanyakan kedai ini sangat sederhana, tapi selalu ramai oleh pengunjung, khususnya kaum pria. Ada beberapa jenis minuman kopi yang dijual di sana, yakni kopi murni, kopi susu, dan kopi telur.

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat semua sajian itu adalah kopi bubuk cap AAA. Kabarnya, kopi produksi PT Nego itu telah diracik secara turun-temurun dari beberapa generasi sejak 1966 hingga sekarang. Warna kopi AAA hitam pekat, rasanya lebih pahit. Aroma harum kopi ini hampir selalui dijumpai di toko, warung, atau kedai kopi.

Toko Kopi Sari Rasa; Jalan Hayam Wuruk; Jambi

Pempek Spesial

Makanan berbahan baku tepung kanji dan gilingan ikan tenggiri ini memang dikenal sebagai hidangan khas Palembang. Namun bukan berarti pempek tak tersedia di Kota Jambi. Di dekat Bandara Sultan Thaha terdapat restoran Pempek Selamat, yang terkenal.

Biasanya, sebelum meninggalkan Kota Jambi, para wisatawan menyempatkan membeli pempek mentah untuk digoreng setiba di rumah nanti. Pempek mentah itu ditaburi tepung agar tidak lengket satu sama lain dan dikemas dalam dus khusus. Terdapat berbagai pilihan pempek dalam satu paket, seperti kapal selam, lenggang, kulit, bulat, dan adaan. Harga per paket untuk dibawa pulang adalah mulai dari Rp 100 ribu.

Restoran Pempek Selamat; Jalan Soekarno-Hatta 8; Jambi

Andry T./Aditia N./TL/agendaIndonesia

*****