Gong Factory, 1 Peninggalan Zaman Kolonial

Gong Factory, pabrik gong di Bogor Jawa Barat

Gong Factory, siapa sangka pabrik gong di Bogor, Jawa Barat, ini berdiri sejak zaman kolonial. Gemanya telah terdengar hingga ke mancanegara. Tak hanya memproduksi gong untuk gamelan kesenian Sunda dan Jawa, tapi juga untuk alat musik Batak, Aceh, juga Minang.

Gong Factory Bogor

Lidah api itu menari-nari. Saling berkejaran menjilat ke udara lalu lenyap sekejap. Lantas muncul dengan cepat lidah api baru. Silih berganti tiada henti. Panas yang sangat menyergap seakan tak dihiraukan oleh seorang pekerja di sudut ruangan itu. Matanya mantap tertuju pada sebuah loyang yang sedang mencairkan logam tembaga dan timah. Seorang pekerja lainnya, yang posisinya agak jauh, bertugas menjaga api agar tetap membara. Campuran kedua bahan logam ini nantinya akan dibentuk menjadi lempengan yang siap ditempa menjadi gong.

Kegiatan serupa juga ditemui di tengah ruangan pabrik Gong Factory, Bogor, Jawa Barat. Namun pekerjanya lebih banyak. Setidaknya ada sekitar lima orang. Mereka inilah yang menempa lempengan logam campuran tadi menjadi sebuah gong. Seorang pekerja bertugas menjaga bara api dengan alat pengembus angin (blower). Sementara itu, satu orang pekerja lagi, bertugas meletakkan lempengan logam campuran tadi di tengah bara dengan menggunakan potongan kayu panjang.

Sedangkan sisanya, tiga pekerja, sudah bersiap dengan palu kayu di tangan masing-masing. Setelah lempengan logam yang masih merah menyala diletakkan di tanah, mereka dengan sigap memukulnya bergantian. Hantaman palu berkali-kali itu tidak langsung membentuk gong. Lempengan tadi masih harus dibakar lagi dan ditempa lagi. Begitu seterusnya.

Bara masih menyala. Sambil menunggu lempengan logam dibakar, seorang pekerja berujar kepada saya. ”Palu ini beratnya sekitar 8 kilogram,” katanya. Wow! Terbayang dalam benak saya betapa sulitnya membuat sebuah gong. Mereka harus menghantamkan palu seberat itu berulang kali. Tak mengherankan jika peluh sudah membasahi tubuh mereka di siang itu.

Sekitar tiga jam lamanya, lempengan logam tadi sudah berubah bentuk menjadi gong walaupun warnanya masih menghitam akibat proses pembakaran tadi. Namun proses itu belum terhenti di sana. ”Kita harus mencari nada,” jelas Hidayatullah, seorang pekerja yang diminta menjadi juru bicara dadakan oleh rekan pekerja siang itu.

Dibantu rekan-rekannya, Dayat–begitu ia akrab disapa–kembali menghantam gong dengan palu yang agak ringan. Ya, lebih ringan hantamannya kali ini. Gong tersebut kemudian diangkat dan diketuk sehingga mengeluarkan bunyi. ”Sedikit lagi,” katanya. Proses pencarian nada ini pun berlangsung berulang kali. ”Ini baru dapat nadanya,” ujarnya sembari tersenyum.

Proses pengerjaan gong berdiameter 40 cm dengan berat 4 kg itu, kata Dayat, membutuhkan waktu sekitar sehari. Sebab, setelah ketemu nadanya, gong masih harus dipoles agar muncul warna keemasan. Dalam sehari, Dayat dan rekan-rekan mampu mengerjakan sekitar 2 buah gong berukuran 40 cm. Lain halnya jika harus membuat gong berukuran lebih besar lagi. Tentu butuh waktu yang lebih lama.

Menurut Dayat, Gong Factory biasa membuat pesanan pembuatan gong dengan berbagai diameter, yaitu mulai 25 hingga 60 cm. ”Dari Nong (gong terkecil), Bonang, Saron, Jengglong, sampai gong besar,” paparnya.

Mengenai harga, sebuah gong ditentukan oleh beratnya. Sebagai contoh, gong kecil dengan berat sekitar 3 kg dikenai Rp 900 ribu, ukuran 7 kg seharga Rp 2 juta. Gong berukuran besar dengan berat 10 kg dijual dengan harga Rp 3 juta, sedangkan yang berukuran 20 kg dijual seharga Rp 6 juta.

Pabrik gong yang berada di pinggir jalan raya ini tidak hanya membuat gong Sunda dan Jawa, tapi juga gong Batak, Aceh, dan Minang. Pembelinya tersebar di seluruh Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, pesanan dari mancaranegara juga dilayani, seperti dari Malaysia, Singapura, Brunei, Austalia, Belanda, dan Amerika.

Tak hanya melayani pembuatan gong, lanjut Dayat, pabrik ini juga sering dikunjungi wisatawan asing yang ingin melihat proses pembuatan gong dan kemudian membelinya untuk oleh-oleh pulang ke negaranya. Turis-turis yang datang beragam, dari berbagai belahan benua, seperti Asia, Eropa, dan Amerika. “Namun yang paling banyak adalah yang berasal dari Amerika Serikat.”

Mungkin, kata Dayat, karena pabrik gong ini sudah lama berdiri. Pabrik gong turun-menurun yang masih tradisional itu kini dikelola oleh generasi ke-6. Pemiliknya bernama Haji Sukarna yang kini berusia lebih dari 80 tahun. Dayat juga meyakini jika pabrik gong tempatnya bekerja merupakan satu-satunya pabrik yang ada di Jawa Barat. Sebagian masyarakat Bogor mengenalnya sebagai Gonghom.

Pabrik gong yang buka setiap hari mulai pukul 8.00 -15.00, kecuali Jumat, ini pun tak pernah berpindah lokasi sejak pertama kali di zaman kolonial. Bangunan pabriknya kini memang sudah menua dan sederhana. Namun hasil karya gong dari Pancasan ini sudah menggema hingga ke mancanegara.

Andry Triyanto-Dok. TL

Seren Taun, Harmoni Angka 18 dan 22

Seren Taun harmoni angka 18 dan 22

Seren Taun adalah harmoni antara angka 18 dan 22. Mungkin belum banyak paham makna angka-angka tersebut. Namun, rasanya sudah banyak yang tahu jika ritual ini adalah upaya harmonisasi manusia dan alamnya. Sebuah kearifan lokal.

Seren Taun, Harmoni Angka 18 dan 22

Pagi itu, ratusan orang berkerumun di pinggir Jalan Raya Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mereka menanti rombongan yang mengarak hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan umbi-umbian menuju halaman paseban. Itulah sepenggal perayaan Seren Taun, upacara adat masyarakat Sunda sebagai wujud syukur sekaligus harapan untuk musim panen yang akan datang. Kini acara ini menjadi salah satu kekuatan wisata adat Sunda.

Meski mengusung makna yang sama, prosesi Seren taun berbeda-beda dari satu desa ke desa lainnya. Namun secara umum, masyarakat mempersembahkan hasil bumi dengan membawanya berkeliling kampung dan dilanjutkan dengan ritual menumbuk padi bersama-sama.

Puncak perayaan Seren Taun selalu dilakukan setiap tanggal 22 Rayagung, yakni bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda di Jawa Barat. Jika diselaraskan dengan kalender Masehi, biasanya jatuh sekitar bulan September. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 18 Rayagung, ritual dimulai dengan prosesi damar sewu alias seribu lentera. Ketika malam tiba, satu obor besar akan dinyalakan, dilanjutkan dengan menyalakan obor-obor lain di sepanjang jalan desa sebagai simbol penerang jiwa.

Ritual selanjutnya bernama pesta dadung, yakni kegiatan menari dan menyanyi sambil memegang dadung atau tali pengikat kerbau atau sapi. Tradisi ini menjadi ungkapan cinta petani dalam mengelola sawah dan ternak dari segala gangguan (hama). Pesta dadung kerap dibarengi upacara membuang hama ke Situ Hyang.

Berbeda dengan pertanian modern yang menggunakan pestisida, masyarakat agraris konvensional memiliki kearifan untuk sekadar memindahkan hama agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Dengan begitu, baik cacing, belalang, wereng, katak, tikus, ular, maupun manusia sendiri dapat hidup dalam harmoni tanpa ada yang punah atau berlebihan jumlahnya.

Berikutnya adalah malam kidung spiritual sebagai aktivitas sakral dari berbagai agama, adat, dan kepercayaan. Maka tak heran jika dalam upacara Seren Taun biasanya turut hadir para pendeta, pastor, biarawati, kiai, pandita, dan biksu. Selain itu, ada pula para raja dan sultan dari kerajaan lain, seperti Sultan Yogyakarta, Sultan Demak, Raja Sinjai, Raja Nusa Tenggara Timur (NTT), Raja Nusa Tenggara Barat (NTB), Raja Luwu, Raja Agung Tapanuli, dan Ratu Sumatera Utara.

Sementara ritual terakhir sebagai puncak Seren Taun terdiri atas persembahan kesenian, ngajayak atau persembahan hasil bumi, babarit atau tembang rohani, dan rajah pawahaci atau rangkaian doa. Sebagai penutup, ada kegiatan tumbuk padi (nutu) dan makan bersama. Aktivitas nutu diawali dengan pemberkatan aluoleh ketua adat, kemudian diserahkan oleh para pejabat dan undangan khusus.

Pada pesta makan bersama, semua peserta boleh ikut makan nasi tumpeng, tanpa kecuali. Prosesi ini mengabaikan segala sekat dan perbedaan status sosial. Maka untuk kesekian kalinya, Seren Taun kembali mengajarkan pentingnya menyelaraskan segala macam kebinekaan, tanpa menyeragamkannya.

Muasal Seren Taun

Dalam Bahasa Sunda, seren artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, sedangkan taun berarti tahun. Maka Seren Taun dapat dimaknai sebagai penyerahan hasil panen selama setahun sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan harapan agar panen tahun mendatang akan lebih baik.

Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun sejak era kerajaan Sunda purba, ketika masyarakat masih menganut agama nenek moyang yang berbasis kehidupan agraris. Seorang tokoh bernama Kiai Madrais kemudian merumuskan pola ajaran ini dan menerapkannya ke dalam berbagai ritual Seren Taun. Sekarang setelah kebanyakan masyarakat Sunda memeluk agama Islam, di beberapa desa adat Sunda seperti Sindang Barang, ritual Seren Taun dilaksanakan dengan doa-doa Islam.

Selain doa-doa, bagian upacara lain yang menjadi daya tarik ritual Seren Taun adalah pertunjukan tarinya. Masing-masing daerah dapat menampilkan tarian yang berbeda. Namun umumnya terdapat tiga tarian yang selalu muncul, yaitu:

  • Tari Pwah Aci Sanghyang Sri

Nyai Pwah Aci Sanghyang Sri atau lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sri merupakan dewi kesuburan yang selalu hadir dalam tradisi masyarakat agraris Nusantara. Tari ini ditujukan untuk menghormati Sang Dewi yang telah memberikan welas asih berupa pangan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena tergolong sakral, tarian berkisar pada gerakan tangan mengarah pada mata, hidung, mulut, dan telinga untuk menetralisir rohdalam tubuh manusia agar dapat rataatau seimbang.

  • Tari Ngareremokeun

Berbeda dengan tari lainnya, Ngareremokeun dipentaskan oleh para lelaki dengan ritme yang ringan dan penuh penghayatan. Mereka menari sambil melantunkan kidung pujian diiringi angklung. Setelah itu, satu per satu duduk bersimpuh lalu menggosok gigi dengan sirih dan pinang.

  • Tari Buyung

Tarian ini menggunakan buyung dan kendi sebagai instrumennya. Buyung adalah benda yang biasa digunakan untuk mengambil air di sungai, sedangkan kendi merupakan tempat air sebelum dituang ke cangkir atau gelas. Para gadis harus melenggang di atas kendi, sembari menyunggi buyung di atas kepalanya. Mereka harus bergerak dengan penuh konsentrasi agar tidak jatuh atau menjatuhkan buyung. Atraksi ini menyiratkan pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Selain ketiga tarian di atas, upacara yang berlansung selama berhari-hari memungkinkan masyarakat menampilkan banyak tarian Sunda lainnya, seperti Tari Jamparing Apsari dan Puragabaya yang lebih rancak.

Makna di Balik Angka

  • 18

Ritual Seren Taun dimulai sejak tanggal 18 bulan Rayagung. Dalam bahasa Sunda, bilangan 18 diucapkan dalapan welas. Kata ini identik dengan ungkapan welas asih yang berarti cinta kasih dan kemurahan Tuhan yang telah menganugerahi kehidupan bagi umat-Nya.

  • 22

Tanggal penyelenggaraan Seren Taun adalah 22 bulan Rayagung. Bilangan ini sama dengan jumlah padi yang diarak, yaitu 22 kuintal. Pembagiannya, 20 kuintal ditumbuk serta dibagikan ke penduduk dan 2 kuintal dijadikan benih. Dilansir dari situs kuningankab.go.id, angka 20 merefleksikan jumlah anatomi tubuh manusia, sedangkan angka 2 mengacu pada dualitas kehidupan, seperti siang-malam, baik-buruk, dan sebagainya.

Lokasi Perayaan Seren Taun

Setiap tahunnya, upacara Seren Taun berlangsung semarak di berbagai desa adat Sunda. Ratusan orang tumpah ke jalanan setiap hari, padahal rangkaian acara dilakukan selama 5 – 7 hari. Tak hanya melulu dari penduduk daerah di Jawa Barat, Seren Taun bahkan sudah menarik perhatian turis domestik dan mancanegara. Tertarik untuk ikut menyaksikan? Inilah beberapa desa adat Sunda yang menggelar Seren Taun pada setiap bulan September.

  • Kampung Adat Sindang Barang

Kampung Sindang Barang terlatak di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Kampung Sindang Barang disinyalir merupakan kampung tertua yang berada di Bogor, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Sunda sekitar abad XII. Di sinilah kebudayaan Sunda Bogor bermula dan bertahan, salah satunya upacara adat Seren Taun yang sesuai dengan mata pencaharian utama warganya, yakni petani.

  • Desa Cigugur

Desa Cigugur berada di lereng Gunung Ceremai, tepatnya di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Perayaan Seren Taun di sini adalah salah satu yang paling meriah. Awal munculnya perayaan Seren Taun di Desa Cigugur adalah ketika Kiai Madrais menetapkan tanggal 1 Muharam sebagai waktu diadakannya upacara Seren Taun. Menurut ajaran Madrais, Sanghyang Sri atau Dewi Padi perlu dihormati dengan upacara religius daur ulang penanaman padi untuk mengendalikan hawa nafsu dan menyelamatkan hidup.

  • Kampung Adat Ciptagelar

Ritual Seren Taun di Kabupaten Sukabumi terselenggara di pelataran alun-alun Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Alun-alun kasepuhan selalu ramai oleh warga dan tamu dari berbagai daerah pada puncak acara Seren Taun yang sudah dilakukan sejak 646 tahun silam.

  • Kasepuhan Pasir Eurih

Warga Kasepuhan Pasir Eurih menggelar ritual Seren taun di Desa Sindanglaya, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Ritual Seren Taun juga menjadi ajang silaturahmi antara warga sesama masyarakat Desa Sindanglaya. Dimulai dengan ziarah kubur, dilanjutkan dengan pembacaan dongeng tentang leluhur Pasir Eurih, dan berdoa untuk para leluhur. Puncaknya adalah ngariung, yaitu membawa nasi atau hasil bumi ke kasepuhan kemudian berzikir dan makan bersama.

Dok. TL

Tari Barong Bali 1 Simbol Kebaikan Lawan Kejahatan

Tari Barong Bali

Tari Barong Bali 1 simbol kebaikan lawan kejahatan. Ini dipercaya masyarakat pulau Dewata. Karena itu, awalnya tari-tari Barong dipergelarkan pada acara-acara khusus di banjar-banjar di Bali. Belakangan, tari-tari yang sakral ini makin disenangni para wisatawan dan peminat seni tari dan kebudayaan.

Tari Barong Bali

Sekitar pukul 09.00, saya ke luar tergesa dari hotel di pantai Kuta, Badung, Bali. Tak sempat sarapan, dan mandi pun secepat kilat. Ingin segera rasanya mengulang pengalaman di masa kecil ketika pertama kali menginjak Pulau Dewata. Saat masih duduk di sekolah dasar, dalam liburan ke Bali, orang tua saya mengajak menonton pertunjukan Tari Barong dan Keris. Saya masih ingat tempatnya, di Batu Bulan, Sukawati, Gianyar. Namun pagi ini saya putuskan untuk menonton di lokasi lebih dekat, tidak jauh dari Sanur.

Jalanan tidak terlalu padat di akhir pekan, padahal semalam melewati jalan-jalan seputar Kuta dan Seminyak membutuhkan kesabaran. Badan jalan dipadati kendaraan, sedangkan trotoar dipenuhi pejalan kaki. Hanya dalam 20 menit, saya sudah berada di Jalan Waribang No. 21, Kesiman, Denpasar. Beberapa bus sudah terparkir di bagian depan. Di bagian belakang pun area sudah dipenuhi kendaraan roda empat. Saya menuju loket tempat pertunjukan bernama Uma Dewi Kecak & Sanghyang ini. Tiket masuk Rp 100 ribu per orang.

Pertunjukan masih 30 menit lagi, tapi tempat duduk sudah hampir terisi penuh. Logat berbagai daerah dari penonton terdengar silih berganti mampir ke telinga saya. Belum lagi obrolan dalam bahasa asing. Turis lokal dan mancanegara, sama-sama berharap pada satu hal: menyimak tarian yang merupakan simbol kebaikan dalam budaya Bali.

Tak lama pemukul gendang menunjukkan aksi, diikuti para pemain gamelan semar pegulingan dengan memunculkan suara nang ning nong neng. Para penonton pun langsung terdiam. Dalam gending pembukaan, penari Barong muncul. Kaki bergerak disusul gerakan lain, termasuk bagian pinggul. Tak lama sang kera pun datang, melucu dan menggoda hingga para penonton pun terbahak hingga tiga penyerang datang.

Panggung pun berganti pemain, ada dua penari berlenggok. Inilah babak pertama. Keduanya adalah pengikut Rangda yang tengah mencari para pengikut Dewa Kunthi. Tari Barong memang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Rangda-lah dalam panggung ini

yang menjadi bagian dari sisi buruk. Dicuplik dari kisah Mahabharata, rangkaian Tari Barong menunjukkan kondisi yang ada dalam kehidupan, selalu ada sisi baik dan buruk. Keduanya bertarung, dan tak ada yang menang. Memunculkan tokoh-tokoh tak hanya Barong dan Rangda, tapi juga Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa, kemudian Dewa Siwa, serta Kalika, salah satu pengikut Rangda. Di akhir pertunjukan digelar Tari Keris yang dibawakan sejumlah pria.

Dibumbui banyolan, tarian ini memungkinkan sebagian penonton yang tak paham inti cerita tertawa. Namun, namanya juga kehidupan, yang buruk dan baik bisa jadi muncul bersamaan, juga yang serius dan penuh canda pun sama-sama berdampingan. Di akhir acara, sejumlah penonton berburu foto bersama para pemain di atas panggung.

Berfoto menjadi akhir yang menyenangkan bagi semua pihak. Para penonton benar-benar senang bisa berdampingan dengan penari, Rangda, Dewa Siwa, dan Sahadewa. Senyum melebar terlihat dalam setiap jepretan. Tentu saja, Barong paling banyak didekati, mulutnya beradu karena terus digerakkan. Lewat lubang itulah para penonton bisa memberi donasi khusus buat para pemain.

Saya pun mengintip di bagian dalam Barong. Ada dua orang yang terlihat bertubuh tergolong kurus. Keduanya disebut juru saluk atau juru bapang. Masing-masing memiliki tugas,

di depan untuk menggerakkan bagian kepala, sedangkan satu lagi menggoyangkan bagian belakang. Topeng yang biasa dipertontonkan untuk pertunjukan Tari Barong dan Keris merupakan perpaduan wujud dari singa, macan, sapi, dan naga yang dikenal sebagai jenis Barong Ket.

Badan Barong Ket terlihat mewah karena dihiasi dengan kulit dan ratusan kaca cermin berukuran kecil. Bulu-bulu yang menutup tubuhnya terbuat dari sejenis tanaman pandan dan injuk. Sesungguhnya, seperti dituturkan salah seorang petugas, Tari Barong merupakan salah satu tari sakral bila dipertunjukkan di pura. Dalam berbagai prosesnya, termasuk pembuatan topeng dan pemilihan pemain, harus dilakukan sejumlah upacara. “Pemainnya benar-benar terpilih, harus melakukan upacara terlebih dahulu dan menunggu yang ‘membisiki’,” papar Ketut.

Demikian juga dalam pembuatan topengnya, harus diambil dari pohon-pohon khusus, yang biasanya ditemukan di permakaman atau pura. “Pohon tersebut memiliki bagian yang cembung,” ia menambahkan. Kayu untuk membuat topeng pun terlebih dulu dibuat upacara, sehingga dari upacara sampai pembuatan selesaibisa memakan waktu hingga empat bulan. Setelah proses panjang tersebut, baru bisa dibawakan. Khusus di area pertunjukan untuk para turis, biasanya digelar setiap pagi dengan durasi sekitar 60 menit.

RITA N.-TL

Tari Barong Bali
Tari Barong Bali dalam sebuah pertunjukan di pulau Dewata. Dok. Rita N-TL

JENIS-JENIS TARI BARONG

Barong Ket atau Barong Keket

Sosoknya menjulang tinggi, dua kali lipat orang dewasa. Sosok laki-laki dinamakan Jero Gede, sedangkan pasangannya disebut Jero Luh. Jenis ini dibuat untuk mengelabui makhluk- makhluk halus yang menebar bencana. Gerakan tarinya merupakan yang terlengkap. Badannya berhias ukiran rumit dan kaca-kaca kecil. Diberi

pula rambut yang terbuat dari sejenis pandan dan injuk.

Barong Bangkal

Bangkal adalah babi dewasa jantan. Karena itu, barong ini menyerupai

babi. Babi betina dinamakan bangkung sehingga sering juga disebut Barong Bangkung. Biasanya Barong Bangkal dibawa mengelilingi desa pada hari raya Galungan-Kuningan.

Barong Landung

Hanya dibawakan oleh seorang penari, di bagian perut barong dibuat lubang sebagai celah pandang sang penari. Musik pengiring tarian Barong Landung adalah gamelan Batel.

Barong Macan

Jenis barong yang menyerupai macan ini dibawa mengelilingi desa. Barong yang diiringi gamelan batel ini cukup dikenal.

Barong Kedingling

Disebut juga Barong Blasblasan.
Ada juga yang menyebutnya Barong Nong Nong Kling. Banyak ditemukan di sekitar Gianyar, Bangli, dan Klungkung. Bentuknya berbeda sekali dengan jenis barong lain. Sebab, barong ini lebih menyerupai kostum topeng yang masing-masing karakter ditarikan oleh seorang penari. Tokoh- tokohnya seperti dalam Wayang Wong. Pertunjukannya diiringi gamelan batel atau babonangan.

Barong Gajah

Sesuai dengan namanya menyerupai gajah. Termasuk barong langka dan dikeramatkan. Biasanya dipentaskan di daerah Gianyar, Tabanan, Badung, dan Bangli.

Barong Asu

Jenis barong langka yang menyerupai anjing. Hanya terdapat di beberapa desa di Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau Balaganjur.

Barong Brutuk

Yang satu ini tergolong langka dan hanya ditarikan pada saat khusus. Terbuat dari batok kelapa, dan badannya dari daun pisang kering, serta bentuknya lebih primitif. Barong ini melambangkan makhluk-makhluk suci di Pura Pancering Jagat, Trunyan, Kintamani. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan.n

Menikmati 1 Tradisi Batik Pecinan Lasem

Pembatik batik Lasem

Menikmati 1 tradisi pecinan Lasem, Jawa Tengah, seperti menggambarkan perjalanan sejarah Nusantara yang tak lepas dari terpaan budaya Tionghoa. Lasem telah kesohor sebagai kota pecinan tua di Indonesia. Konon, kota ini merupakan peradaban masyarakat Tionghoa pertama di tanah Jawa.

Menikmati 1 Tradisi Batik Pecinan

Mengunjungi Lasem seperti menyusuri lorong waktu. Di sini, waktu seakan berhenti. Gedung-gedung bangunan milik masyarakat setempat di sana masih lawas. Pemiliknya hidup mempertahankan keaslian warisan pendahulu mereka. Little China atau Tiongkok Kecil, begitulah orang-orang menyematkan julukan pada Lasem, sebuah kecamatan kecil di Rembang, Jawa Tengah. Kota ini kemudian menjadi magnet bagi para penyuka sejarah. Juga para pegiat budaya Cina.

Lasem tak ayal kian hari menjadi derah tujuan wisata. Namanya lekat dengan embel-embel destinasi sejarah. Pariwisata Lasem berkembang seiring dengan meningkatnya hobi masyarakat Indonesia untuk berwisata. Dari sini pula dikenal sesuatu karya seni khas, batik Lasem yang telah dikenal seantero Nusantara.

Menjangkau Lasem dari Jakarta tidaklah sulit. Bahkan, jikapun memiliki bujet terbatas, Anda masih bisa nekat menyambangi kota itu dengan cara murah dan nyaman. Langkah pertama dari Jakarta ialah memilih transportasi kereta api menuju Semarang, ibu kota Jawa Tengah.

Ada kereta api ekonomi-AC KA Tawang Jaya yang berangkat dari Jakarta pukul 23.00 dari Stasiun Pasar Senen dan tiba di Stasiun Poncol Semarang pukul 06.30. Atau bisa memakai kereta Tawang Jaya Premium dengan jadwal keberangkatan pagi. Namun waktu tiba di Semarang pukul 13.35. Bila memilih kereta ini, Anda akan tiba di Lasem sore menuju malam.

Di Semarang, setelah tiba di stasiun, wisatawan harus menuju Terminal bus Turboyo di pinggiran kota Semarang arah Demak. Biaya bus patas menuju Lasem ialah Rp 45 ribu. Ada juga pilihan bus ekonomi dengan tarif Rp 25 ribu. Namun, karena akan menempuh perjalanan lebih-kurang 3 jam, sebaiknya memilih patas AC agar nyaman.

Bisa pula menggunakan angkutan udara. Dari Bandara Soekarno Hatta atau Halim Perdanakusuma menuju bandara Ahmad Yani di Semarang. Dari sana bisa menggunakan mobil sewaan atau seperti di atas, menggunakan bus antarkota dari Turboyo.

Sesampainya di Lasem, wisatawan akan merasakan atmosfer yang lain, yang mungkin belum pernah dirasakan di kota mana pun. Ada begitu banyak peninggalan yang memiliki warna Tionghoa di kota ini. Mulai dari arsitektur bangunannya, dari rumah tinggal hingga ke masjid. Dan tentu saja batik Lasem-nya yang khas.

Dahulu pada era 1950-an, batik masih begitu berjaya di kota itu. Kota Lasem begitu ramai pendatang saban hari. Orang dari mana pun, seperti Surabaya, Semarang, Kudus, Solo, berkunjung khusus untuk belanja batik.

Namun para pengusaha batik ini kemudian harus gigit jari pada era Orde Baru. Usaha batik meredup. Bahkan motif batik pun yang boleh diproduksi dibatasi. Pola khas Lasem yang memiliki corak pecinan seperti barong, naga, tulisan Mandarin dan sejenisnya tak boleh diproduksi. Ini tentu berkaitan dengan kondisi sosial politik saat itu. Ada sensitifitas jika berkaitan dengan Tionghoa atau Cina pasca tumbangnya rezim Orde Lama.

Padahal, menurut Opa Gandor, warga Lasem yang dituakan di kawasan pecinan kota ini, keturunan Cina di Lasem adalah warga asli Nusantara. Peradaban Cina masuk Lasem sudah ratusan tahun dideteksi keberadaannya. Keturunannya pun sudah sampai garis kedelapan atau sembilan saat ini sejak Cina masuk ke Lasem sekitar tahun 1300-an. Diperkirakan ada sekitar 7.000-an orang Cina masuk Lasem waktu itu dan semuanya pria yang lalu menikah dengan perempuan setempat.

Saat ini praktis industri batik di Lasem umumnya adalah produksi rumahan. Ada beberapa yang merupakan peninggalan pengusaha lama yang tersisa. Misalnya, Batik Pusaka Beruang milik pengusaha bernama Santoso Hartono atau biasa dipanggil pak San. Menurut Opa Gandor, pak San adalah satu dari segelintir pebisnis batik yang bertahan di Lasem.

Lalu apa istimewanya batik Lasem dibandingkan dengan motif batik lain di tanah air. Sebab kita tahu, batik merupakan kain tradisional khas Nusantara yang memiliki beragam jenis dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, bahkan sudah diakui dunia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi oleh UNESCO.

Tradisi membatik di sejumlah kota di Jawa,] sampai sekarang masih dilestarikan dengan baik. Sebutlah Solo, Yogyakarta, Pekalongan, kemudian ada Cirebon, bahkan Madura. Dari banyaknya jenis batik dari berbagai daerah di Indonesia itu membuat setiap perajin batik di tiap daerah memiliki motif yang unik dan berbeda-beda.

Dan batik Lasem memiliki keunikan tersendiri. Dari sejarahnya di atas, lahir batik dengan motif yang merupakan perpaduan antara dua budaya, yakni Jawa dan Tionghoa. Dari paduan antar dua budaya tersebut terciptalah batik Lasem.

Menurut sejarah, munculnya batik Lasem terkait erat dengan kisah Laksamana Cheng Ho, panglima perang dari Tiongkok yang mendarat di tanah Jawa. Lasem adalah tempat mendarat pertama kali pasukan Cheng Ho dalam ekspedisinya ke selatan pada sekitar tahun 1403-1433. Kota ini juga diperkirakan sebagai daerah yang pertama kali kedatangan masyarakat Tionghoa di Jawa.

Dalam Babad Lasem yang ditulis ulang oleh Raden Panji Kamzah pada 1858, diceritakan bahwa Bi Nang Un selaku anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Tiongkok bersama istrinya bernama Na Li Ni memutuskan tinggal di Bonang, Jawa Tengah. Dari babad tersebut diyakini kalau Na Li Ni adalah orang pertama yang membuat batik lasem bermotif burung hong, seruni, liong, mata uang, dan banji dengan warna merah ciri khas masyarakat Tionghoa.

Seiring dengan berkembangnya zaman, batik Lasem yang berciri khas warna mencolok, seperti merah, hijau botol, dan biru tua ini mulai mempunyai berbagai motif. Corak yang ada pada batik lasem dominan dengan motif hewan yang dipadukan dengan motif tumbuh-tumbuhan khas Jawa.

Secara umum, batik Lasem memiliki dua motif utama, yakni motif Tionghoa dengan gambar burung hong, naga, ayam hutan, dan sebagainya, sedangkan motif non-Tionghoa bergambar sekar jagad, kendoro kendiri, kricak, grinsing, dan lainnya. Motif kricak, atau kricakan, juga diketahui sebagai bentuk “dokumentasi” pembatik Lasem atas kerja rodi membangun jalan raya pos di masa Gubernur Jendral Daendels.

Tertarik main ke Lasem? Berikut beberapa nama perajin dan sentra batik di kota pecinan ini.

Batik Pusaka Beruang

Berlokasi di Jalan Eyang Sambu-Jatirogo

 

Batik Bu Kiok

Berlokasi di Karangturi Gang 6

 

Batik Nyah Sutra

Terletak di Karangturi.

 

Batik Maranatha

Berlokasi di Karangturi

 

Kampung Batik Babagan

F. Rosana

Keroncong Tugu Warisan Portugis Sejak Abad 16

Keroncong Tugu Warisan Portugis

Keroncong Tugu warisan Portugis sejak abad 16 hingga kini masih terus bergema di kawasan Jakarta Utara. Tak banyak lagi yang memainkannya, memang, tapi Keroncong Tugu seolah menjadi prasasti keberadaan bangsa Eropa pertama yang menancapkan kakinya di Nusantara itu di negeri ini.

Keroncong Tugu Warisan Portugis

Kangen musik keroncong? Cobalah sesekali mampir ke markas Keroncong Tugu di Koja, Jakarta Utara. Di sini sesekali kelompok musik yang terdiri dari delapan orang kadang manggung di gazebo yang disulap menjadi panggung musik. Delapan pemusik berpakaian koko, bertopi baret, dan berkalung syal ala Portugis berjajar di gazebo.

Adalah Guido Quiko yang kini sering tampil sebagai frontman. Ia sejatinya pemain gitar kelompok ini, namun sesekali ia ikut melantunkan lagu.

Dengan jumlah penonton yang tak terlalu banyak, Keroncong Tugu terus bersemangat memainkan nomor-nomor lama yang masih memanjakan telinga penggemar mereka. Seperti malam itu. Setelah menyapa pendek penonton, Guido lantas saling memberi isyarat ke pemusik lainnya. Layaknya sebuah kode, tujuh musikus di belakangnya langsung siap dengan alat masing-masing.

Guido lebih dulu membunyikan sepotong melodi. Terdengar alunan gitar yang harmonis. Entakan rebana lantas spontan menyambutnya. Begitu pula dengan contrabass, violoncello, macina, frunga, dan biola. Masing-masing membentuk melodi yang padu. Lagu Oud Batavia berdengung merdu.

Suara Guido masuk, melantunkan lirik dengan bahasa yang cukup asing: campuran antara Portugis Kreol, Belanda, dan Melayu. Dalam beberapa bagian, terucap satu-dua kata berdialek Betawi yang humoris. Pemusik lain juga menyelingi dengan celotehan yang memantik gelak tawa. Hasilnya, ketukan 4/4 dengan chord yang diulang-ulang tak membikin penonton bosan.

Meresapi lagu membawa ingatan ke zaman 1950-an. Di masa itu, Portugis melakukan pelayaran pertamanya ke Malaka, di bawah “asuhan” Alfonso de Albuquerque. Dalam bayangan, budak-budak kapal berpesta hampir tiap waktu. Mereka asyik bergoyang tarian Moresca. Ditambah dengan iringan rentak musik serupa.

Alunan crong-crong dari macina dan frunga makin lirih. Tempo rebana melambat. Suara Guido tak terdengar. Dentuman contrabass dan instrumen violoncello melambat. Hanya bunyi bow menggesek senar biola masih santer. Violinis separuh baya, yang mengambil posisi di samping Guido, menutup lagu dengan gangsar.

Tuntas menamatkan Oud Batavia, Gatu Matu giliran menjadi lagu pelipur. Kali ini Guido mengajak rekan penyanyinya, Nining Yatman, tampil di panggung. Perempuan dengan cengkok yang kental itu sudah lama bergabung dengan orkes Keroncong Tugu. Memakai setelan kebaya Betawi, Nining menampilkan figur sebagai “keturunan gang kelinci” sesungguhnya. Rautnya riang, gerakannya lincah. Kala berdendang, ia melafalkan lagu dengan laur, meski lirik harus diujarkan penuh lantaran bahasanya gado-gado. Penonton ikut bergoyang, terbius tarian Nining.

Lagu yang didendangkan Nining, yang bercerita tentang kucing hutan tapi dikisahkan dalam bahasa Portugis Kreol, itu makin mempertegas karakter permainan kelompok Guido dan kawan-kawan. Selain kostumnya yang menyerupai pengembara suku Moor—bertopi baret—dari irama, syair, dan gaya memainkan alat musik, nyata betul bahwa seni yang dibawakan merupakan hasil akulturasi budaya. “Kami memang keturunan Portugis yang ‘tertinggal’ di Batavia,” tutur Guido tersenyum.

Guido merupakan generasi keempat keluarga Quicko. Kemunculan musik keroncong tak lepas dari sejarah kedatangan moyang Guido ke Batavia—kini jadi Jakarta. Mulanya, ketika Belanda datang ke Malaka pada 1641, orang-orang Portugis, yang sebelumnya berkuasa, “dibuang”. Sekitar 23 dari 800 keluarga yang didepak Belanda disingkirkan ke kawasan hutan belukar di tenggara Batavia, yang kini menjadi Kampung Tugu. Di sana, mereka terasing dari keramaian. Sebagai hiburan, 23 keluarga itu menciptakan alat musik dari kayu waru dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Bentuknya menyerupai gitar. Namun senarnya hanya lima. Mereka menyebutnya jitara. Kala dibunyikan, suaranya nyaring. Crong-crong. Karena itu, mereka menamai keroncong untuk perpaduan musik jitara dan bunyi-bunyian lain.

Lantas, berkembanglah jitara dengan ukuran yang lebih kecil. Namanya macina dan frunga. Macina memiliki empat senar, sedangkan frunga tiga senar. Keduanya memiliki ukuran yang berbeda, dengan suara yang berlainan pula. Setelan chor­d-nya pun tak sama. “Frunga memiliki setelan internasional. Kalau macina naik empat nada,” tutur Guido.

Macina dan frunga dibentuk dari kayu kembang kenanga agar kuat dan suaranya nyaring. Senarnya terbuat dari kulit kayu waru yang dikeringkan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, lantaran keterbatasan bahan baku dan alasan keefektifan, peranti tersebut dapat digantikan dengan senar pancing. Suaranya sama: memantulkan karakter yang tegas. Bahkan, di panggung terbuka, seperti malam itu, tanpa pengeras suara pun, irama garukan senar macina dan frunga terdengar paling nyaring.

Jitara kini tak dibuat lagi karena ukurannya terlalu besar. Guido pun memboyong gitar, bukan jitara, saat tampil. “Karena jitara besar, kayunya pun otomatis harus yang ukurannya besar. Selain terhambat pembuatan, pohon bisa habis ditebang untuk membikin jitara,” ujarnya. Yang dipertahankan dari tradisi moyangnya adalah frunga dan macina. Kedua alat musik itulah kini yang menjadi nyawa Keroncong Tugu.

Komponen lain yang dihadirkan untuk menyelaraskan musik adalah rebana, biola, violoncello, contrabass, dan gitar. “Rebana muncul untuk menguatkan kesan Betawi. Hanya kami (Keroncong Tugu) yang memakainya,” ucapnya. Rebana bertindak sebagai perkusi, sedangkan yang lain membentuk melodi.

Nyanyian-nyanyian berikutnya berkumandang. Larut kian membakar panggung. Selendang Mayang, Gang Kelinci, Cafrinho, dan Moressco berturut-turut menghibur. Jiwa-jiwa militan mengawinkan nada demi nada. Sekali garuk senar, nyawa satu sama lain menyatu. Tak heran kalau Malaysia, Timor Leste, Belanda, dan beberapa kota di Indonesia doyan mengundang kelompok itu manggung.

Mempertahankan Tradisi

Di masa lalu, Keroncong Tugu berhasil membius masyarakat sekitar. Lambat laun, perkampungan keturunan Portugis itu menjadi tenar. Dua-tiga di antaranya lantas “memboyong” keroncong ke luar dan mengembangkan dengan pakem baru.

Setelah kondang, Keroncong Tugu dibuat menjadi kelompok resmi. Pemukanya adalah Joseph Quicko. Ia bergerilya mulai 1925. Sayangnya, perjalanan musik Keroncong Tugu tak terlampau mulus. Saat keadaan politik tak stabil pada 1950-1970-an, kelompok ini dibekukan. Kala Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, baru ia meminta Keroncong Tugu kembali dihidupkan.

Kala itu, kepemimpinan kelompok di tangan Jacobus Quicko, adik Joseph Quicko. Tak lama setelah bendera kelompok yang semula bernama Orkes Pusaka Keroncong Morresco Tugu Ano 1971 itu berkibar, Jacobus meninggal. Tampuk kepemimpinan diserahkan kepada Samuel Quicko, ayah Guido. Ia didapuk sebagai punggawa hingga 2006. Kini bendera kepemimpinan sudah beralih ke tangan Guido.

Meski sudah melewati fase empat kepemimpinan, formasi Keroncong Tugu tetap dipertahankan. Pakem, aransemen, dan gayanya tak membelot. “Sebab, kami mempertahankan tradisi,” ucap Guido.

F. Rosana/A. Prastyo

Alat-alat Musik

Biola atau fiddle dimainkan dengan cara digesek. Tugasnya, membangun melodi. Memiliki empat senar, di antaranya bernada G, D, A, dan E.

Violoncello atau disingkat cello masih satu keluarga dengan biola. Cara membunyikannya dengan digesek. Bisa pula dipetik. Tugasnya sebagai fondasi dalam suara orkestra.

Contrabass sering juga disebut doublebass karena suara yang dihasilkan lebih rendah dua oktaf dibandingkan dengan violoncello. Ukuran alat musiknya juga lebih besar. Bahkan paling besar di antara semuanya.

Gitar menjadi pembentuk melodi. Alat musik yang digunakan dalam keroncong ini fungsinya menggantikan jitera.

Macina adalah gitar kecil bersenar empat. Suaranya nyaring dan membentuk anomatope: crong-crong. Inilah yang disebut nyawanya keroncong.

Frunga lebih kecil daripada macina. Senarnya tiga, dengan setelan yang berbeda dengan macina. Frunga dibuat lebih kecil agar pukulan iramanya berbeda dan sebuah instrumen menjadi kaya nada.

Rebana menjadi alat musik khas dalam kelompok Keroncong Tugu. Tugasnya menjadi perkusi dan memperkuat tempo. Fungsinya mirip dengan gendang, hanya suaranya berlainan.

Prambanan Jazz Online 2020, Inovasi Industri Kreatif

Prambanan Jazz Online 2020

Prambanan Jazz Online 2020 digelar Rajawali Indonesia Sabtu 18 Juli 2020. Acara ini sejatinya merupakan pengembangan dari Prambanan Jazz Festival yang sudah diselenggarakan sejak 2015.

Prambanan Jazz Online 2020

Anas Syahrul Alimi, selaku Founder Prambanan Jazz Festival sekaligus CEO Rajawali Indonesia, mengatakan bahwa Prambanan Jazz Festival merupakan acara tahunan yang berlangsung sejak 2015. Tahun ini karena terdampak pandemi COVID-19 pelaksanaannya harus diundur.

Event ini, yang semula direncanakan pada 3 hingga 5 Juli 2020, terpaksa dijadwalkan ulang ke tanggal 30, 31 Oktober, dan 1 November 2020. Namun, agar gaungnya tetap ada, acaranya dikembangkan ke bentuk daring terlebih dahulu.

Pandemi merupakan tantangan baru bagi dunia khususnya di industri hiburan, sehingga semua dituntut untuk belajar dan berinovasi. “Prambanan Jazz Online ini sebagai salah satu jawaban dari tantangan itu kemudian mengemas konser secara online,” kata Anas. 

Meskipun menggunakan nama Prambanan jazz Online 2020, pelaksanaannya tetap dilakukan secara offline. Artinya acara dan penampil tetap tampil di venue, dalam hal ini di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta.

Prambanan Jazz Online Rio
Rio Febrian dalam Prambanan Jazz Online 2020. Doc. Kemenparekraf

Menurut Anas, berjarak bukan berarti jauh tetapi memberi ruang untuk mempersiapkan diri kembali. Ia berjanji untuk melakukan perbaikan demi bisa menyuguhkan konser yang tidak hanya menghibur tetapi juga membekas di hati penikmat musik jazz. 

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengapresiasi penyelenggaraan konser Prambanan Jazz Online sebagai wujud inovasi dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19. 

Prambanan Jazz Online yang berlangsung pada Sabtu lalu menjadi konser musik virtual pertama di Indonesia yang disiarkan secara langsung dari Candi Prambanan. Acara ini digelar sengan menghadirkan penampilan dari sejumlah musisi, di antaranya Rio Febrian, Frau, dan Langit Sore.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani menyambut baik pelaksanaan kegiatan Prambanan Jazz Online. Hal ini menunjukkan semangat dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya dan menciptakan kreativitas tanpa batas di masa pandemi ini. Yakni dengan memadukan kreativitas dengan teknologi sebagai solusi. 

“Apresiasi kepada penyelenggara atas upaya dan kerja kerasnya untuk tetap melaksanakan kegiatan ini secara online sebagai cara membangkitkan antusiasme audiens bahwa konser tetap bisa dinikmati di situasi pandemi melalui daring. Dengan pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bekerja kembali para pelaku event yang sebelumnya terhenti akibat pandemi COVID-19,” kata Rizki Handayani.

Rizki Handayani menjelaskan, konser musik virtual tetap diselenggarakan dengan selalu memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan kepada seluruh tim produksi dan penampil. Suguhan dari para penampil itu kemudian disiarkan secara live streaming sehingga dapat dinikmati penonton dari rumah. 

Tercatat, Prambanan Jazz Online yang berlangsung sekitar 120 menit ini diikuti kurang lebih 20 ribu penonton dari rumah.

Rizki berharap pandemi COVID-19 ini segera berakhir, sehingga keadaan bisa kembali normal. Dan pada saat yang sulit seperti saat ini Kementrian mengajak seluruh pihak terdampak pandemi untuk bergotong royong dan saling menguatkan. “Ini agar kita semua tetap dapat menjalankan kreativitas di masa yang akan datang,” kata Rizki.

Dalam kaitan itu, Anas lantas menambahkan, dalam acara Prambanan Jazz Online ini pihaknya juga mengadakan donasi untuk pekerja event dan seni terdampak pandemi COVID-19. “Khususnya di wilayah Yogyakarta,” kata Anas. 

****

1 Gendang Mengiring 3G Tari Jaipong

original PML2013100904

Sejak bonang dan gendang mulai ditabuh, hentakan irama rancak menjalar ke seluruh penjuru ruang pertunjukan. Di atas panggung, seorang penari bergerak mengikuti suara gendang menarikan gerakan tari jaipong berputar sembari memainkan selendangnya. Para penonton pun bersiap menyaksikan jaipong Jawa Barat, tari tradisional masyarakat Sunda yang bergulir sejak abad ke-20.

Sejarah Tari Jaipong

Asal-mula jaipong Jawa Barat memang belum terlalu lama, baru sekitar tahun 1976 ketika seniman bernama H. Suwanda (1950–2017) mulai mengulik seni musik dan tari di Karawang. Suwanda adalah seorang maestro seni tradisi Topeng Banjet, tari Ketuk Tilu, sekaligus juru kendang yang mahir. Berbagai kesenian khas Karawang ini ia padukan hingga membentuk irama baru, yang menjadi cikal bakal Tepak Jaipong.

Tepak atau tabuhan kendang Suwanda mengalun cepat dan patah-patah, memicu penari atau pemain teater di depannya untuk bergerak maju mundur dengan dinamis. Banyak orang meyakini bahwa nama jaipong sendiri merupakan onomatope atau kata yang berasal dari tiruan bunyi kendang.

Kreasi baru ini meraih banyak penggemar dengan cepat. Suwanda pun merespons peluang dengan merekam tabuhan kendangnya melalui media kaset. Ia membuat rekaman tanpa label dan mendistribusikannya secara swadaya ke wilayah Karawang dan sekitarnya. 

Gaung tepak kendang semakin meluas, hingga akhirnya sampai ke telinga seniman Bandung, Gugum Gumbira Tirasonjaya. Di tangan Gugum, jaipong menjadi sebuah paket seni pertunjukan yang matang dan lebih terstruktur. Sebagai seorang koreografer, ia mengenal betul perbendaharan pola gerak tari-tari Sunda. Hasilnya, Jaipong berkembang menjadi seni gerak dan irama yang khas dan bisa dinikmati semua kalangan, termasuk masyarakat modern.

Pada tahun-tahun berikutnya, popularitas Jaipong terus menanjak. Bahkan baik Suwanda maupun Gugum sempat mempertunjukkan kesenian ini di luar negeri. Salah satunya, pada 1984, Suwanda pernah melanglang buana ke kota-kota di Jerman Barat. Sementara Gugum, bersama istrinya, Euis Komariah, membentuk kelompok kesenian Dewi Pramanik dan mengadakan pertunjukan di luar negeri. 

Untuk memperkaya khasanah tariannya, Gugum juga menciptakan beberapa macam koreografi untuk Jaipongan, antara lain Keser Bojong, Rendeng Bojong, TokaToka, dan Sonteng. Tangan dingin Gugum telah melahirkan ribuan penari Jaipong yang gencar mengenalkan Jaipong ke penjuru dunia, seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. 

Kini, sudah tak terhitung sanggar tari yang mempelajari dan mempraktekkan tarian Jawa Barat ini. Bahkan ada yang mengkreasikannya dengan tarian daerah lain menjadi tarian nusantara. Jaipong adalah persembahan Jawa Barat bagi Indonesia dan dunia. Maka sudah sepantasnya Jaipong diusulkan ke Unesco untuk menjadi warisan budaya dunia.

Ketika merancang pola gerak tari Jaipong, Gugum Gumbira terinspirasi dari beragam nilai dan tradisi masyarakat Sunda. Terdapat unsur-unsur tarian tradisional Ketuk Tilu dan seni bela diri pencak silat di dalamnya. Sejumlah riset pun dilakukan, untuk menciptakan seni yang tidak hanya mengekspresikan dirinya, tetapi juga berkesan di hati penontonnya.

Ciri khas Jaipong, jika dibandingkan tari tradisional lain yang berkembang kala itu, adalah arah pandangan si penari. Sebagai tari pergaulan dan pertunjukan, mata penari harus selalu fokus memandangi penonton agar tercipta komunikasi yang intens. Penonton pun boleh terlibat secara aktif, salah satunya dengan naik ke panggung dan ikut menari bersama penari.

Selain pandangan mata penari, rangkain gerak Jaipong juga dibuat sedemikian rupa agar mampu menciptakan suasana keakraban dan kegembiraan. Terdapat empat bagian gerak tari Jaipong, yaitu:

  • Bukaan: Pada tahap pembukaan, biasanya sang penari berjalan berputar sambil memainkan atau memutar-mutar selendangnya yang dikenakan pada leher.
  • Pencugan: Ini adalah kumpulan berbagai gerakan lanjutan. Umumnya diiringi dengan tempo musik yang cepat.
  • Ngala: Ngala berarti titik atau perhentian. Gerakannya terlihat patah-patah atau menjadi titik perhentian sebuah gerakan.
  • Mincit: Ini adalah gerakan peralihan dari satu ragam gerak ke ragam gerak lain. Gerakan ini dilakukan setelah ada gerakan ngala.

Rangkaian gerakan yang dinamis tersebut otomatis menghasilkan lenggok pada seluruh bagian tubuh, terutama pinggul. Dari sinilah muncul persepsi masyarakat awam bahwa Jaipong identik dengan 3G, yaitu geol, gitek, goyang. Geol adalah gerakan pinggul yang memutar, gitek adalah gerakan pinggul yang menghentak dan mengayun, sedangkan goyang adalah gerakan pinggul mengayun tanpa hentakan.

Sebenarnya ketiganya bukanlah unsur yang melekat secara eksklusif pada Jaipong. Gerakan pinggul akan secara otomatis muncul pada segala jenis tarian, dari Pendet, Gambyong, sampai Serimpi. Hal yang membedakannya adalah tempo dan variasinya saja. Ritme tiba-tiba cepat dan tiba-tiba melambat ini justru perlu dilestarikan karena telah menjadi karakteristik khas Jaipong.

Dari segi penyajian, Jaipong mempunyai dua kategori, yakni ibing pola yang berarti diberi pola serta ibing saka yang berarti acak. Pada ibing pola, materi tari ditata secara khusus untuk kebutuhan sajian tontonan. Karenanya, kelompok penarinya harus berkemampuan tinggi dan menjalani latihan intensif. Sementara pada ibing saka, tidak ada aturan atau pola gerakan khusus. Penonton bahkan boleh ikut menari di atas panggung dan memberikan imbalan uang (sawer) kepada penari.

Meskipun kebanyakan tarian tersebut hanya dimainkan oleh seorang wanita, pada dasarnya Jaipongan dapat dimainkan berpasangan maupun kelompok. Keselarasan gerak justru akan semakin terlihat jika Jaipong dimainkan oleh tiga sampai lima orang. 

Adapun busana yang dikenakan dalam sebuah pementasan Jaipong sangat beragam. Meski demikian, pada dasarnya seorang penari Jaipong selalu mengenakan sinjang, apok, dan sampur. Sinjang merupakan kain panjang yang berfungsi sebagai celana panjang. Apok adalah baju atau kebaya yang memiliki ciri khas pada pernik dan ornamennya. Sementara sampur adalah selendang yang dikenakan pada leher penari.

Kekayaan unsur itulah yang kemudian menjadikan Jaipong sebagai seni pertunjukan rakyat yang selalu mendapat tempat di hati masyarakat Sunda, Indonesia, dan dunia. Seperti kendang yang tidak dapat dilepaskan dari bonang, saron, gong, rebab, dan juru aloknya, Jaipong pun tak akan lestari tanpa cinta dan semangat generasi muda Sunda untuk terus menarikannya.

Mekotekan Galah Pengusir Bencana

andi prasetyo mekotekan 31

Mekotekan galah mengusir bencana mungkin masih jarang diketahui masyarakat. Namun bagi masyarakat Bali, khususnya di Desa Adat Munggu, ini adalah hal yang biasa. Bahkan telah menjadi tradisi.

Mekotekan Galah Pengusir Bencana

Sepuluh kilometer dari barat Kota Denpasar, penjor-penjor di sepanjang Desa Adat Munggu, Mengwi, bergoyang disapu angin. Bau bambu kemarin sore yang baru ditebang menyapa penciuman. Janur yang menjadi ikon utama Pulau Seribu Pura pun masih kuning segar, belum mengering. Bunga tabur terlihat belum lama diganti. Canang masih utuh, belum juga disauk anjing. Begitu pun, bara belum habis membakar dupa. Atmosfer demikian lekat dengan ritual keagamaan yang hendak atau baru digelar. 

“Pagi tadi, masyarakat Hindu sembahyang di pura dalam. Selama 210 hari sekali, mereka merayakan Kuningan, seperti hari ini,” kata Made Arya, pegiat wisata asal Singaraja, pada pertengahan April lalu. Pantas, suasana perdesaan lebih meriah. Matahari tepat di atas kepala kala kami tiba di desa adat itu. Tok tok tok. Kulkul (kentongan) Pura Puseh dipukul bertala-tala, mengucapkan selamat datang. 

Para pemuda dari 13 banjar di Desa Adat Munggu berhamburan ke luar dari kediaman masing-masing. Mereka mengenakan kostum upacara lengkap, mulai sarung hingga udeng. Satu per satu memenuhi jalan utama menuju pura. 

Made menginjak pedal rem mobilnya pelan-pelan. “Jalan ini dekat dengan persimpangan. Hampir setiap percabangan jalan di Desa Munggu dilalui arak-arakan ngerebek. Jadi tidak bisa parkir di sini,” katanya. Ia lantas membelokkan setir ke depan rumah toko, 500 meter dari simpang empat Jalan Raya Tanah Lot dan Pantai Seseh. 

Setelah memarkir kendaraan, Made tak langsung membaur ke pura. Ia lebih dulu mengeluarkan kamen—kain sepanjang dua meter—model prada Bali dari bagasi. “Kalau mau bergabung ikut upacara mekotekan, pakai kain dulu,” ujarnya. Ia lantas berujar, “Caranya seperti pakai sarung. Kalau perempuan, panjangnya sampai tumit”. Sedangkan laki-laki hanya sampai betis. 

Selepas melilitkan kamen, Made menyodorkan senteng kepada saya. Secarik kain yang menyerupai syal itu dipakai di bagian perut. Dilingkarkan, lalu diikat kuat. Atribut lengkap harus dikenakan. Musababnya, mengikuti ritual mekotekan bukan sekadar menonton pertunjukan budaya. Mekotekan disakralkan sebagai upacara keagamaan lantaran menjadi wujud pertalian antara adat dan hari raya Kuningan oleh masyarakat Hindu di Munggu. Apalagi, rangkaiannya meliputi areal-areal sakral. 

Setelah berjibaku dengan kain, terdengar bebunyian nyaring yang menarik perhatian. Klotek… klotek…. suara kayu beradu aspal mengudara seketika. Tangan para pemuda banjar tampak menggenggam erat kayu pulut setinggi tiga meter. Di ujungnya, terdapat tamiang yang terbuat dari ron atau busung. Juga tersemat bendera kuning dan putih bersimbol dewa-dewa. Beberapa di antaranya menggambarkan ikon Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Tujuannya, sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbolisasi keimanan. 

Kemunculan seribuan pemuda itu seperti kelompok barisan prajurit yang hendak maju perang, membentuk pleton-pleton. Ceng-ceng atau kecrak menjadi bebunyianritmis pengantarnya. Iramanya bak genderang penyemangat. Di muka barisan, sejumlah pedanda atau pendeta lebih dulu masuk ke pura. Tugasnya, mendoakan supaya ritual berjalan lancar. 

Di tangan para pemuka agama, digenggam genta atau lonceng dari kuningan. Selama sembahyang, benda itu akan digoyang-goyang hingga memunculkan onomatope nyaring. Kalau sudah berbunyi, berarti ritual pemujaan dan permohonan restu untuk ritual dimulai. 

Klian Desa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, ikut dalam rombongan pedanda. Sebelum masuk gapura tempat sembahyang, ia mampir ke wantilan atau balai tempat masyarakat berkumpul guna menjemput para pengiring dan penabuh gamelan. “Saya mau memastikan kalau semua petugas sudah siap,” ujarnya. 

Para pengiring, yakni perempuan berusia 14 hingga 40 tahun, dari tiga banjar yang sudah ditunjuk sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap. Tugas mereka, membawa canang persembahan. Di belakangnya, berbaris para penabuh gamelan Bali. Mayoritas anggotanya ialah remaja yang belum genap berusia 20 tahun. “Sudah lengkap, ayo masuk,” ujar si klian. 

“Ritual pertama adalah nedunanIda Bathara di pura dalam,” ucapnya. Hanya ritual pembuka dari depan gapura. Doa mohon keselamatan ini hanya berlangsung 15 menit. Mendekati pukul 14.00, rombongan pedanda ke luar dari area sembahyang. Suara kotekan kembali terdengar. Makin lama, makin santer. Diantar para pemuka agama dan pengiring, rombongan pembawa kayu itu berjalan pelan-pelan mengitari desa. 

Mereka berjalan dengan langkah biasa sambil sesekali bersenda gurau. Belum 300 meter melangkah, di tikungan dekat pohon beringin besar, yang menjadi pintu masuk desa adat, satu per satu anggota pasukan mendekati tetua, yang mereka sebut sebagai anak buah pendeta. Pria berusia 60-an tahun bersorban putih itu memercikkan air rendaman kantil, pandan arum, dan daun kelawo di ubun-ubun peserta atraksi. Daun lala amangan digunakan sebagai perantaranya. Setelah memperoleh “jimat”, si “anak-anak teologi” dianggap sah melakoni ritual. 

Lepas dari ritual percikan air, pasukan dari masing-masing banjar lantas berlarian membentuk kubu. Di setiap persimpangan atau tikungan, sekumpulan pemuda pembawa tongkat pulut membentuk lingkaran. Tongkatnya diangkat, dipusatkan ke titik tengah. Dari kejauhan tampak seperti kerucut raksasa. 

Pemuda banjar lain melakukan hal yang sama. Kubu demi kubu melakukan penyerangan. Tak tek tak tek…. Irama perang kayu membahana. 

Adegan makin barbar ketika seorang dari masing-masing kubu memanjat ke atas galah. Mereka seolah menjadi ujung tombak regu. “Lawan…Dorong…” begitulah teriakan itu memenuhi jalanan sepanjang desa adat. Sesekali, sarung si pemanjat tersangkut tongkat, membuat formasi goyang. Gelak tawa terdengar kompak tak tertahan. 

Kesempatan tersebut dipakai lawan buat menyerang. Mereka mendorong kubu rival dengan tongkat hingga lingkarannya roboh. Lagi-lagi, sorai tawa penonton pecah. Pemandangan akan terus seperti ini. Tak ada patokan kapan ritual berakhir. Selagi masih semangat, mereka akan bertempur. 

Sedangkan para perempuan setia duduk-duduk di emperan jalan atau beranda rumah menyaksikan perang kayu—yang selalu dijumpai setiap enam bulan sekali—sampai bubar. Niluh Sarmini, ibu berusia 45 tahun, yang sudah tiga dasawarsa menjadi pengiring, mengatakan umumnya mekotekan kelar seiring dengan ayun-temayun surya. “Kalau langit sudah kekuningan, semangat sudah kendor, satu per satu membubarkan diri,” ucapnya sambil melucuti kepangan rambut. 

*****

andi prasetyo mekotekan 21
Adat Mekotekan sebagai perayaan penolak bala di Bali. (A. Prasetyo)

PERAYAAN PENOLAK BALA

Bila ditarik ke belakang, secara historis, ritual yang digelar berbarengan dengan hari raya Kuningan ini diadakan sebagai pengingat perjuangan para prajurit Kerajaan Mengwi menaklukkan Kerajaan Blambangan. Dulu kala, Raja Mengwi berkuasa di desa adat tersebut. Namun sekonyong-konyong, wilayah hendak direbut Raja Blambangan. 

Pasukan Mengwi lantas melakukan penyerangan. Untuk menghadapi musuh, Raja Mengwi diberkahi sebuah tombak dan tameng dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setelah menang, mereka merayakan dengan cara yang unik, yakni saling serang antarteman. 

Ngrebek mekotek sudah berjalan sejak 1934. Namun ritual adat yang ditetapkan sebagai warisan budaya nasional nonbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu pernah dibekukan pada 1940 oleh Belanda. Alasannya, berpotensi memunculkan perlawanan. Akibatnya, pada 1946, Desa Munggu dilanda bencana besar dengan angka kematian tinggi. Selain itu, gagal panen dan keributan. Mereka percaya, kemalangan ini lantaran tradisi mekotekan dihentikan. 

Tentang Kayu Pulut:

1. Kayu pulut harus dicari di hutan di kawasan Bangli hingga Singaraja. 

2. Kayu pulut diyakini sebagai replika bambu yang punya bentuk lurus hampir sempurna. 

3. Jenis kayu ini sangat kuat, biasa dipakai untuk bahan bangunan. Namun tak dapat digunakan buat kayu bakar karena bergetah. 

4. Makin lama, kayu pulut makin kuat. Jadi setelah digunakan untuk ritual, pulut akan disimpan untuk dipakai di upacara selanjutnya. 

Rosana & Andi Prasetyo

Wayang Golek Jawa Barat, Bukan Boneka Biasa

original SB2012120317

Wayang golek Jawa Barat, bukan boneka biasa. Rasanya bagi yang menggemari kebudayaan tanah Pasundan tahu betul keistimewaan atraksi ini.

Wayang Golek Jawa Barat

Kala menyaksikan wayang golek, penonton akan disuguhi beragam aksi seni pertunjukan yang komplet, dari teater, lagu, orkestra, hingga sastra.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika para pesinden melantunkan tembang berbahasa Sunda. Itulah tanda dimulainya pertunjukan wayang golek. Para penonton pun bersiap menyaksikan pagelaran teater boneka khas Jawa Barat yang umumnya berlangsung hingga pukul tiga atau empat dini hari.

Wayang golek memang lekat dengan kehidupan masyarakat Sunda. Penyebarannya terjadi pada masa ekspansi Kerajaan Mataram ke Jawa Barat. Dari yang tadinya menggunakan bahasa Jawa berganti menjadi bahasa Sunda. Bentuk, variasi lakon, dan nama-nama tokohnya juga menyesuaikan dengan tradisi setempat.

Bermula dari sarana penyebaran agama Islam dalam rupa kesenian, fungsi wayang golek meluas ke dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Salah satu fungsinya pada tradisi kuno adalah ngaruatatau meruwat. Artinya, membersihkan orang tertentu dari kemungkinan malapetaka. Kegiatan lain yang membutuhkan kehadiran wayang golek ialah syukuran, dari sunatan sampai perkawinan.

Sebagai sarana hiburan rakyat yang bersifat kedaerahan, wayang golek tak boleh dipandang sebelah mata. Pasalnya untuk mewujudkan pertunjukan yang sukses, dalang harus menguasai garapatau keterampilan teknis pementasan yang tidak mudah. Unsur-unsur penentunya antara lain lakon, sabet, kakawen,dan antawacana.

Lakonadalah tema atau peristiwa yang menentukan jalannya cerita. Untuk itu seorang dalang harus menguasai pengetahuan sastra, dari klasik hingga modern. Seperti semua jenis wayang, kisah yang populer adalah Ramayana dan Mahabarata dengan berbagai pilihan lakon, seperti Kumbakarna Gugur atau Kresna Duta.

Selain itu, wayang golek juga kerap mengangkat lakon dari carangan, yaitu cerita yang dibuat sendiri oleh dalang berdasarkan kehidupan sehari-sehari atau cerita rakyat Jawa Barat. Apa pun sumber ceritanya, wayang golek konsisten menyampaikan pesan moral dan kritik sosial. Tentunya dibalut dengan selentingan humor agar penonton bisa terus terhibur.

Sabet adalah segala macam ekspresi dalang yang tertuang melalui gerakan wayang. Salah satu jenisnya adalah cepenganalias teknik memegang wayang. Genggaman tangan saat adegan menari, berjalan, dan perang tentu berbeda-beda.

Jenis sabet lainnya ialah tancepanalias teknik menancapkan wayang ke gedebok pisang. Seorang dalang tidak boleh asal menancapkan wayang. Posisinya disesuaikan dengan kedudukan tokoh. Seorang raja akan ditancapkan di sebelah kanan agak ke atas, sedangkan patih berada di kiri agak ke bawah.Selain menunjukkan kedudukan, tancepanberguna menggambarkan keadaan batin si tokoh.

Kakawenatau suluk merupakan teknik vokal ketika bernyanyi. Di dalamnya ada timbre atauwarna suara, senggol atauornamentasi melodis, rumpaka atau syair, dan gending atau pilihan lagu yang mengiringi. Oleh karena itu, seorang dalang harus memiliki kemampuan olah vokal yang baik agar bisa membangun atmosfer pertunjukan.

Antawacanajuga mengarah pada teknik vokal, tetapi saat terjadi dialog. Dalam satu lakon, biasanya muncul banyak tokoh. Sang dalang harus pintar-pintar mengubah-ubah intonasi dan warna suaranya agar satu tokoh dengan yang lainnya terdengar berbeda. Tentu tak cuma sekadar berbeda, tetapi juga harus konsisten.

Karena cukup rumitnya keterampilan yang perlu dikuasai, dalang tidak bisa bekerja sendiri. Di sampingnya, ada pengrawit (pemain musik), pesinden, dan wirasuara (penyanyi pria) yang turut memberi ‘nyawa’ pada boneka-boneka kayu tersebut. Bertolak dari aneka unsur tersebut, jelas bahwa wayang golek merupakan seni pertunjukan yang kompleks dan menjadi warisan budaya yang amat berharga.

Tokoh Populer

  • Anoman: Kera berbulu putih ini merupakan putra Batara Guru dari Dewi Anjani. Ajiannya antara lain Pancasona, yaitu tahan terhadap bacokan dan Sirna Bobot atau kemampuan meringankan tubuh.
  • Arjuna: Ia adalah putra Pandu ketiga dari ibu Dewi Kunti. Sosoknya halus, tampan, pandai, dan pemberani sehingga disukai wanita. Ia memiliki pusaka keris Pancaroba, Ali-ali Ampal, dan panah Pasopati.
  • Bambang Sumantri: Dia mempunyai adik yang buruk rupa bernama Sukrasana. Suatu hari ia tak sengaja membunuh adiknya sendiri dengan senjata pemusnahnya, Cakrabaskara.
  • Cepot: Astrajingga alias Cepot adalah anak pertama dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Wataknya humoris, emosional, tak membedakan siapa pun, baik ksatria, raja maupun dewa. Lewat banyolan, dia memberikan petuah dan kritik sosial.
  • Dawala:Ia adalah adik dari Cepot. Dawala senantiasa menemani kakaknya pergi, sembari menenangkan kakaknya yang terlalu cepat marah.

 

 

*****

Boneka Sigale-gale Pertama Dibuat Tahun 1930

Boneka Sigale-gale dari tradisi Batak Samosir.

Boneka Sigale-gale yang dibalut ulos itu tampak menonjol dalam Festival Danau Toba di Pulau Samosir, Sumatera Utara, beberapa tahun lalu. Tidak seperti biasanya, kali ini boneka itu muncul dalam bentuk raksasa. Tingginya mencapai 16 meter, berdiri menjulang di tepi perairan Tuktuk Siadong, Samosir. Selain bagian badan diselubungi ulos, boneka itu mengenakan penutup kepala tradisional.

Boneka Sigale-gale

Dalam perhelatan besar tersebut, Sigale-gale memang benar-benar ditonjolkan. Tidak hanya dipajang menyambut para pengunjung atau peserta festival, tapi juga diperke- nalkan sebagai salah satu kesenian rakyat yang melekat dengan suku Batak Toba. Di antaranya dengan karnaval Sigale-gale. Boneka Sigale-gale yang memiliki ukuran serupa manusia diarak sejauh 18 kilometer diiringi irama musik khas Batak dalam karnaval itu. Perjalanan dimulai dari Tuktuk, Samosir. Tidak hanya dibalut baju hitam, tapi juga ada juga boneka yang mengenakan pakaian merah dan kuning. Lengkap dengan kayu di lengan sebagai alat penggerak.

Untuk memperkenalkan lebih jauh, diadakan pula pelatihan pembuatan boneka kayu tersebut, termasuk latihan untuk memainkannya. Maklum, bila ke Samosir, hanya ada beberapa lokasi untuk menyimak pertunjukan tradisional ini. Jumlah pembuat boneka dan dalangnya pun terus menyusut. Walhasil, dalam acara seni budaya ini, Sigale-gale diangkat kembali.

Jika tidak datang bertepatan dengan festival tahunan ini, sebenarnya hanya beberapa langkah dari Pelabuhan Tomok, kisah Sigale-gale sudah bisa dicermati. Tepatnya,di pemakaman Raja Sidabutar. Di sana, boneka kayu itu biasa dipentaskan dengan iringan musik dari tape recorder. Sementara si boneka menari-nari dengan lengan yang digerakkan, anak-anak setempat ikut menari seiring irama yang mengalun.

Boneka Sigale-gale yang terbuat dari kayu seukuran manusia dewasa.
Boneka Sigale-gale yang terbuat dari kayu sebagai salah satu tradisi dan budaya masyarakat Samosir, Sumatera Utara. Foto: Dok. shutterstock

Pertunjukan singkat ini bisa menjadi awal perkenalan dengan boneka kayu yang sudah ada sejak lama. Sebuah versi menyebut tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Namun, versi lain menyebut, tradisinya sudah lama namun bonekanya sendiri pertama kali dibuat pada 1930. Mana yang benar, walahualam. Yang jelas ini adalah salah satu kekayaan budaya Samosir yang tiada tara.

Kisah Sigale-gale memang melekat dengan masyarakat Samosir. Terdapat beberapa versi soal kemunculan boneka kayu ini. Kebanyakan memang menuturkan kisahnya dimulai pada masa Raja Rahat, yang berasal dari salah satu kerajaan di Samosir. Ia mempunyai anak semata wayang, Raja Manggale. Untuk memperluas kekuasaan, ia mengutus anaknya ke medan perang. Namun sang putra gugur. Sang raja pun sedih bukan alang kepalang. Ia selalu meratap, sehingga rakyat ikut berduka.

Dukun dalam masyarakat setempat, disebut datu-datu, lalu membuatkan boneka kayu yang mirip dengan anak sang raja untuk menghiburnya. Boneka itu dipakaikan ulos serta tali pengikat kepala dalam warna merah, hitam, dan putih, lantas dimasukkan ke peti. Beberapa datu-datu pun memanggil roh Raja Manggale dengan bantuan iringan musik tradisional, sehingga boneka itu bisa bangkit dan manortor atau menggerakkan tangannya seperti menari tortor. Raja merasa bahagia. Ketika dilanda rindu, ia kerap meminta diadakan pertunjukan boneka kayu tersebut. Karena disertai aksi pemanggilan roh, atraksi ini kerap dikaitkan dengan hal mistis.

Tentu, kini tidak ada roh yang dipanggil dalam setiap pertunjukan. Namun cerita itu semakin menyebar dan menjadi ciri masyarakat Toba Samosir. Pertunjukannya pun menjadi atraksi kesenian rakyat setempat. Gerakan boneka yang gemulai saat menari membuatnya dinamakan Sigale-gale. Sigale-gale dalam bahasa setempat artinya lemas, tapi dalam kaitannya dengan boneka ini, istilah itu juga berarti lemah gemulai.

Versi lain menyebutkan, ada seorang ayah yang kehilangan anak lantaran sang anak sakit. Karena suku Batak menganut prinsip patrilineal, pria tersebut sedih bukanmain tidak mempunyai keturunan. Ia pun membuat boneka yang menyerupai anaknya untuk menghibur diri. Langkah itu diikuti oleh para pria yang mengalami hal serupa. Bahkan, boneka itu kemudian digunakan sebagai penolak bala oleh masyarakat.

Boneka Sigale-gale dari Samosir kini menjadi salah satu atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan.
Wisatawan berkunjung ke Samosir dan menikmati atraksi Boneka Sigale-gale. Foto: Dok. shutterstock

Pembuatan boneka tersebut juga dikaitkan dengan kepercayaan animisme yang dianut suku Batak pada masa itu. Masyarakat Samosir meyakini orang yang meninggal tanpa keturunan akan memiliki derajat rendah, bahkan setingkat dengan roh jahat. Karena itu, perlu ada tarian dan sesajen selama seminggu. Dalam kesempatan itulah Sigale-gale menari bersama sanak-saudara orang yang meninggal. Boneka tersebut juga diberi pakaian bagus. Perhelatan ini sebagai doa agar kedukaan tidak datang kembali ke keluarga tersebut.

Pertunjukan tari tortor dengan boneka kayu tersebut bisa ditemukan di Museum Huta Bolon, Simanindo. Bila ke Samosir, setelah tiba di pelabuhan di Tomok, Anda bisa melaju ke kanan, kemudian menemukan Desa Tuk Tuk dengan gerbangnya yang indah. Selanjutnya, Anda akan masuk ke Desa Ambarita, baru kemudian tiba di Desa Simanindo. Di ping- gir jalan utama, museum tersebut dengan mudah ditemukan.

Setiap hari pada pukul 11.00, di museum itu digelar seni tari Batak. Di antaranya pentas Tortor Sigale-gale. Di depan deretan rumah bolon atau rumah adat Batak Toba, boneka kayu manortor diiringi dengan gendang dan instrumen lain. Ada dua boneka: berukuran kecil dan besar. Boneka itu menari diiringi oleh belasan penari. Bahkan, para pengunjung diajak untuk turut menari. Di tengah irama musik, ketika para pengunjung menaruh uang di wadah yang tersedia, para penari pun berucap, “Horas!”

Rita N./TL/agendaIndonesia

*****