Pesisir Selatan Minangkabau Dalam 3 hari

Pesisir selatan Minangkabau salah satunya mengunjungi Danau Langkisau

Pesisir selatan Minangkabau dalam 3 hari mungkin bisa menjadi alternatif saat mengunjungi Sumatera Barat. Bagi yang ingin menikmati wisata bahari di provinsi ini, cobalah melipir ke pesisir.

Pesisir Selatan Minangkabau

Berjarak 77 kilometer atau bisa ditempuh sekitar 2-3 jam dari Padang, ada sederet obyek yang menggoda. Mulai bukit hijau, air terjun, hingga pantai. Lumayan komplet. Dikenal dengan Kabupaten Pesisir Selatan atau disingkat Pessel. Dengan penerbangan pagi dari Bandara Internasional Minangkabau, Anda bisa langsung melaju ke kota ini.

HARI PERTAMA

Jembatan Akar

Merupakan jembatan alami dari jalinan akar-akar pohon beringin yang berada di dua sisi sungai yang berlawanan. Terletak di Kampung Pulut, Kecamatan Bayang Utara, Pesisir Selatan, sekitar 65 kilometer dari Padang. Jembatan ini dibuat pada 1916. Di bawahnya mengalir air sungai yang jernih dan sejuk, juga menyegarkan.

Air Terjun Bayang Sani

Dua buah air terjun bisa ditemukan di Kampung Koto Baru, Kecamatan Bayang Utara, hanya berjarak 5 kilometer dari jembatan akar. Air Terjun Bayang Sani tidak jauh dari area parkir. Bagian bawah berbentuk kolam, sehingga pengunjung bisa berenang. Satu lagi berada di posisi lebih tinggi, harus dicapai dengan jalan mendaki sekitar 15 menit, dikenal dengan nama Palangai Gadang.

Sulaman Bayangan

Seperti kota lain, Pesisir Selatan memiliki sulaman khas, yakni sulaman bayangan. Anda bisa menemukan beragam produk dengan sulaman bayangan, seperti kerudung dan mukena, di beberapa toko di Barung-Barung Belantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, ini. Jaraknya sekitar 23 kilometer sebelum masuk ke Kota Painan, Ibu Kota Kabupaten Pesisir Selatan.

Senja di Bukit Langkisau

Painan bisa dijejaki di sore hari. Anda bisa langsung menuju Bukit Langkisau untuk menikmati mentari membenamkan diri. Ada deretan pantai yang menghadap Samudra Indonesia terlihat dari ketinggian. Di akhir pekan biasanya ada para penggemar paragliding dan kegiatan outbound di sini.

HARI KE DUA

Air Terjun Timbulun

Obyek wisata ini hanya 3 kilometer dari pusat kota, mengarah ke perbukitan di utara. Saya pun langsung menangkap kesegaran khas hutan dan perbukitan. Tepatnya di Kampung Painan Timur, Nagari Painan, Kecamatan IV Jurai. Dicapai dengan nyaman karena ada jalan setapak yang tertata sepanjang 500 meter di tengah pepohonan. Hingga tiba di sungai berair jernih dengan bebatuan cokelat, kuning, dan kehijauan. Terlihat di bagian ujung Air Terjun Timbulun yang memiliki tujuh tingkatan, sehingga disebut juga Pincuran Tujuh Tingkat.

Gulai Lokan

Obyek selanjutnya adalah Pantai Sungai Nipah. Meski bisa menikmati debur ombak, tujuan utama saya adalah rumah makan yang berada di tepian pantai. Hanya berjarak 5 kilometer dari pusat Kota Painan, di sini Anda bisa mencicipi hidangan Minang yang berbeda. Bahan utamanya kebanyakan dari laut, selain siput darat yang menjadi ciri khas dan dikenal dengan nama gulai lokan.

Pinukuik

Camilan khas dari kota ini adalah pinukuik Batang Kapas. Dari Sungai Nipah, perjalanan berlanjut ke arah selatan menuju perbukitan. Dalam waktu sekitar 15 menit, Anda akan tiba di depan tumpukan sajian kue putih kecokelatan dengan aroma kelapa yang harum. Bahan utamanya tepung dan kelapa. Adapun kedai kue berada di Jalan Raya Pasar Kuok, Batang Kapas.

Pantai Carocok & Pulau Batu Kereta

Pantai Carocok dan Pulau Batu Kereta yang menjadi tujuan selanjutnya berada di pusat kota. Pulau yang satu ini bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui jembatan yang dibuat memanjang dari Pantai Carocok.

Pulau Cingkuak

Pulau yang satu ini dapat dicapai dengan mudah dari Pantai Carocok, hanya sekitar 10-15 menit berperahu. Tak hanya ada pantai berpasir putih, yang di hari libur banyak dipenuhi pelancong yang bermain, sekadar berenang-renang, juga menaiki banana boat atau snorkeling. Di bagian tengah pulau, terdapat sisa-sisa benteng Portugis.

HERI KE TIGA

Semangki Besar & Semangki Kecil

Pesisir Selatan tak hanya punya Pulau Batu Kereta dan Cingkuak, tapi juga sejumlah pulau. Yang tergolong tak jauh adalah Pulau Semangki Besar dan Semangki Kecil. Terlihat dari Pantai Carocok. Memiliki pasir putih dan pantai yang landai.

Aur Ketek & Aur Gadang

Ingin menikmati pasir pantai yang halus sembari memancing, cobalah berperahu lebih jauh. Dalam satu jam, Anda bisa menemukan Pulau Aur Ketek dan Aur Gadang. Di depan pantai pasir putih dengan air biru tosca, sedangkan di belakang batu karang terdengar terhantam ombak berkali-kali.

Karabak & Penyu

Bila mempunyai waktu panjang, sebenarnya bisa melaju lagi sekitar satu jam lagi untuk melihat penyu di Pulau Penyu. Di sini memang tempat penyu bertelur. Selain itu, ada Pulau Karabak yang memiliki ciri mercusuar. Kedua pulau ini bisa dicapai sekitar dua jam perjalanan dari Pantai Carocok.

Puncak Mandeh

Bila Anda hanya melaju hingga Pulau Aur, tampaknya Anda masih bisa mengejar keindahan sang surya tenggelam di Mandeh, Tarusan. Lokasinya sekitar 56 kilometer dari Padang. Melalui jalur menanjak di perbukitan, sebuah tontonan alam menanti. Laut yang tenang dengan pulau-pulau. Ketika mentari tenggelam, keindahan itu sempurna. l

Rita N./Wisnu AP/Dok. TL

Wisata Kota Tua di 3 Kota

Wisata kota tua di kota Jakarta

Wisata kota tua makin populer di dalam negeri. Apalagi usaha untuk menjaganya mulai digencarkan. Berikut wisata di kota tua di tiga kota.

Wisata Kota Tua

Kota tua bagi turis menjadi daya tarik tersendiri. Kembali mencecap suasana masa silam banyak digandrungi para pelancong yang gemar dengan destinasi berlabel sejarah. Di Pulau Jawa, setidaknya ada tiga kota tua yang menggoda untuk ditelusuri. Sebab, tiga kota itu masih menyimpan peninggalan masa silam, mulai bangunan hingga tradisi. Sediakan waktu di akhir pekan, sekitar 2 atau 3 hari dan Anda bisa memilih mengunjungi satu dari tiga kota di bawah ini. Berikut wisata kota tua di Jakarta; Semarang, Jawa Tengah, dan Surabaya di Jawa Timur.

Kota Tua Jakarta

Bila tidak berencana ke luar kota, menikmati kawasan kota tua bisa dilakoni di Jakarta saja. Meski belum seperti sejumlah kota di dunia yang benar-benar menata kawasan kota tuanya sebagai daya tarik wisata, dengan koleksi gedung-gedung lawas, sebenarnya potensi kawasan Kota Tua Jakarta besar sekali. Sudah ada tur untuk menyusuri jejak-jejak masa silam di wilayah Barat Jakarta itu. Langkah revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta pun terus dilakukan.

Umumnya, peninggalannya berupa bangunan tua warisan Belanda pada abad ke-19 dan ke-20. Bahkan, saat ini, sejumlah acara dipusatkan di Taman Fatahillah, depan Museum Fatahillah. Ada beberapa museum yang bisa ditemukan di kawasaan kota itu, yakni Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Bank Indonesia. Untuk menikmati ruangan tua dengan nyaman, ada Cafe Batavia, yakni bangunan tua yang telah difungsikan sebagai kafe.

Sedikit ke luar dari lingkaran Taman Fatahillah, ada Toko Merah di Jalan Kali Besar Barat. Bangunan berwarna merah ini adalah rumah dari Baron Van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC, yang juga pendiri Istana Bogor. Selain itu, ada sejumlah bangunan lain yang bisa disimak. Saat berada di wilayah Kota Tua Jakarta, jangan lupa juga mampir ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari yang berada di sisi lain. Cobalah menginap di hotel daerah Kota Tua Jakarta sehingga Anda benar-benar bisa meresapi masa silam dan memanfaatkan waktu 2 hari untuk berwisata.

Kota Lama Semarang

Ibu kota Jawa Tengah ini memiliki kawasan kota tua di seputar Jalan Brajangan, Semarang bagian utara, dengan bangunan-bangunan yang masih terpelihara. Karenanya, bangunan-bangunan ini sangat asyik untuk dinikmati. Salah satunya Gereja Blenduk atau Nederlandsch Indische Kerk dengan ciri-ciri terdapat kubah berwarna merah bata. Gedung ini telah berusia 2,5 abad. Di seberangnya, ada gedung kuno yang juga tak kalah menarik. Kawasan kota lama ini masih memiliki koleksi bangunan tua lain, seperti bekas pabrik rokok, yakni Pabrik Rokok Praoe Lajar, serta bangunan Stasiun Tawang yang masih berfungsi.  Di depannya juga ada bangunan tua, Polder Tawang.

Selain itu, ada bangunan tua lain yang tentu menarik disimak, seperti Gedung Marba, Kantor Pos Pusat, Samudera Indonesia, Djakarta Lloyd, dan Titik Nol KM Semarang. Ada pula yang dikenal berbau mistis, yakni Lawang Sewu. Gedung berpintu banyak ini bergaya Art Deco. Dibangun pada 1904, Lawang Sewu dulu adalah kantor pusat perusahaan kereta api milik Belanda. Selanjutnya, Jembatan Berok yang dulunya merupakan pintu masuk ke kawasan Kota Lama Semarang.

Surabaya Heritage Track

Inilah nama tur untuk mengelilingi kawasan kota tua yang terletak di ibu kota Jawa Timur. Tur berdurasi 1-2 jam dan dalam sehari ada tiga jadwal. Tur digelar tiap hari, kecuali Senin. Waktunya pukul 09.00-16.30. Sejumlah bangunan yang dikunjungi sesuai dengan jadwal tur terletak di Surabaya bagian utara. Bangunan-bangunan itu di antaranya Masjid Tua Sunan Ampel sebagai salah satu tempat ziarah Walisongo, Tugu Pahlawan, Masjid Cheng Hoo  yang  bergaya kelenteng, dan Jembatan Merah yang merupakan simbol perlawanan rakyat Surabaya terhadap pendudukan Belanda.

Selain itu, ada beberapa bangunan kuno bergaya Eropa klasik yang masih terawat dengan baik. Bangunan pun masih difungsikan sebagai kantor maupun hotel, seperti  Hotel Ibis Surabaya, Hotel Majapahit, Kantor Gubernur Jawa Timur, kantor Bappeda, Bank Mandiri, Kantor Pos Besar, dan Kantor PTPN. Ada juga Hotel Majapahit, yang dulu merupakan hotel Oranje atau Yamato, tempat para pejuang merobek bagian biru bendera Belanda hingga menjadi bendera merah-putih. Ada pula kawasan Pecinan di Jalan Kembang Jepun atau Kya-kya, yang kemudian difungsikan sebagai destinasi wisata kuliner. 

agendaindonesia.com

Desa-desa Gianyar-Bangli Bali Dalam 2 Hari

Desa-desa Gianyar-Bangli sebagai Tujuan Wisata di Bali

Desa-desa Gianyar-Bangli merupakan desa para perajin di BaliIa menjadi pelangkap dari wsaiata ke Ubud, Bali, yang memang sudah terkenal.

Desa-desa Gianyar-Bangli

Namun, Gianyar tak hanya punya Ubud yang menjadi pusat keramaian kelompok para wisatawan. Di sekeliling kabupaten ini, ada banyak desa perajin yang menarik untuk disimak. Apalagi bagi Anda yang senang mencermati budaya. Sebab, tradisi membuat barang kerajinan di Bali tak lepas kaitannya dengan budaya setempat. Cukup banyak pilihan bila dilakoni dalam perjalanan dua hari atau pada akhir pekan.

HATRI PERTAMA: Desa Perajin & Tari Legong

Desa Celuk 

Begitu masuk ke wilayah Kabupaten Gianyar, turis akan disambut deretan desa perajin. Hasil karya seniman pun digelar di jalan utama sehingga dengan mudah menandai lokasinya. Salah satunya di Desa Celuk, yang terkenal dengan perajin perhiasan perak dan emas. Deretan galeri perak juga bisa ditemukan di sepanjang Jalan Raya Celuk.

Desa Batuan

Berada tidak jauh dari Desa Celuk, masih ada lagi beberapa desa perajin. Di antaranya di Banjar Puaya, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, yang merupakan desa pembuat topeng barong. Saya bertemu dengan I Made Muji, 64 tahun, yang begitu piawai membuat topeng barong. Seniman ini dianugerahi beragam penghargaan berkat hasil karyanya. Di galerinya, saya menemukan barong mini untuk disimpan di rumah, juga ukuran normal atau besar untuk upacara.

Muji mengaku membuat topeng barong hanya enam bulan sekali. “Perlu sabar dan harus mood. Kalau enggak mood, lebih baik diam, kalau tidak, ya … bisa hancur,” katanya. Topeng yang digunakan dalam berbagai upacara ini memang banyak detailnya. Bahkan kayunya pun disebutnya harus khusus karena untuk upacara agama.

Bebek Tepi Sawah, Ayam Kadewatan, atau Hujan Locale

Siang menjelang, ada banyak pilihan untuk bersantap. Ada yang khas dan sudah melegenda, seperti Nasi Ayam Kadewatan Ibu Mangku. Berada di Jalan Kadewatan dan dapat dicapai dalam 30 menit dari Desa Batuan. Di sini Anda bisa mencicipi nasi campur Bali yang rasanya jempolan. Pilihan lain yang tergolong tak jauh adalah Bebek Tepi Sawah, yang berada di Jalan Raya Goa Gajah. Di tengah persawahan, silakan coba bebek goreng yang renyah dengan sayuran khas lokal.

Karena tujuan berikutnya adalah Pasar Ubud, bisa juga Anda masuk ke pusat keramaian dan mencari Jalan Sri Wedari Nomor 5, Ubud. Resto ini kreasi Chef Will Meyrick, yang gemar menjelajah Nusantara dan sejumlah negara Asia untuk mencari resep lokal yang otentik. Berjarak sekitar 11 kilometer dari Desa Batuan atau bisa dicapai dalam 30 menit. Suguhan lokal banyak menjadi pilihan, termasuk goreng bebek yang renyah dengan paduan sambal mangga.

Pasar Ubud

Pasar segala ada. Bila datang pagi hari, masih bisa mencicipi jajanannya, juga ada berbagai kebutuhan rumah. Dan bagi turis, tentu yang menarik segala pernak-pernik kreasi para perajin lokal yang bisa menjadi oleh-oleh.

Puri Saren Agung

Tak jauh dari Pasar Ubud, ada pilihan lain untuk mengenal sejarah kerajaan di Bali, yakni Puri Saren Agung, tempat tinggal Raja Ubud. Dibangun oleh Ida Tjokorda Putu yang memerintah pada 1800-1823. Meski berada di keramaian Ubud, di kompleksnya masih dipertahankan nilai-nilai budaya tradisional.

Tari Legong 

Berlokasi di Puri Saren Ubud di malam hari, tepatnya pukul 19.30, Anda bisa menyaksikan pertunjukan pada Sabtu malam berupa pentas tari Legong. Bila sore hari, Anda bisa mengelilingi istana ini, jadi malam hari kembali lagi untuk menyaksikan pertunjukan yang digelar di halamannya. Tiket masuk per orang dipatok Rp 80 ribu.

Desa-desa Gianyar-Bangli Bali dengan Puranya
Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali.

HARI KE DUA

Desa Tegalalang 

Tak hanya memiliki sawah dengan sistem terasering yang menarik untuk santapan mata, tapi juga sebagian warga desa merupakan perajin dengan bahan kayu. Kayu albasia atau sengon dibentuk menjadi patung, topeng, atau hiasan lain. Posisi galeri sederet dengan kafe-kafe yang memenuhi pinggiran persawahan yang berada di tepi jalan. 

Ngopi di Bali Pulina 

Tak jauh dari persawahan, ada satu tempat yang menarik untuk mengenal kopi sekaligus menikmati alam. Memang tak ada desa perajin atau kreasi perajin, tapi sayang jika tak mampir ke Bali Pulina. Jenis agrowisata khusus kopi. Anda bisa meneguk kopi sekaligus mengunyah camilan dari pisang atau ketan. Selain mendapat suguhan kehijauan deretan bukit di depan mata.

Pura Tirta Empul

Bisa dicapai dalam 20 menit dari Tegalalang, Anda bisa menikmati kesejukan yang berbeda di pura yang berada di Tampangsiring ini. Terkenal dengan air sucinya, biasanya orang datang untuk penyucian di kolamnya. Udaranya yang sejuk dan air yang dingin begitu menyegarkan. Puranya sendiri merupakan bangunan lawas karena dibangun pada 962 M.

Desa Kayubihi

Yang satu ini termasuk Kabupaten Bangli, tapi posisinya tidak jauh dari Tirta Empul. Bisa dicapai dalam 35-40 menit. Bila masih penasaran dengan desa kerajinan lagi, bisa mampir ke kampung yang dipenuhi dengan pohon bambu ini. Terkenal dengan perajin besek, atau warga Bali menyebutnya sokasi. Benda yang satu ini lekat juga dengan upacara khas Hindu Bali. Sesajen dan perlengkapannya dibawa dalam wadah yang kreasinya kini dibikin lebih memikat dalam warna-warni. Terbuat dari bambu, yang diserut lebih dulu menjadi seutas tali, lantas dianyam membentuk besek dengan tutupnya. Deretan pohon bambu memang menghiasi salah satu sisi jalan raya di desa ini. 

Desa Panglipuran 

Berada tak jauh dari Desa Kayubihi atau bisa dicapai dalam 20 menit, bisa ditemukan salah satu dari desa adat atau Bali Aga. Desa yang menjadi persinggahan terakhir sebelum kembali ke kota asal ini juga termasuk wilayah Kabupaten Bangli. Merupakan desa dengan konsep lawas. Kondisi lama itu dipertahankan, demikian juga bangunan. Beberapa memang sudah rusak tapi diperbaiki. Ada pula yang membuat bangunan baru di lingkungan rumahnya. Tapi penataan desa tetap dipertahankan.

Rita N./Dok.TL

1.000 Kisah Jakarta Satu Jalan-jalan

Salah satu spot dalam Jakarta Good Guide

1000 kisah Jakarta dari satu jalan-jalan di sebuah hari yang cerah. Begitu salah satu idenya. Huans Sholehan dari Jakarta Good Guide optimistis mal bukanlah pilihan pertama buat orang-orang yang ingin menikmati waktu libur di Jakarta kendati citra surga belanja sudah melekat di kota ini sejak lampau.

1.000 Kisah Jakarta

Memang Jakarta kini memiliki lebih dari seratus pusat perbelanjaan yang menjanjikan kenikmatan mata memandang. Namun, mal tak memiliki banyak kisah. Di jalanan yang sering kita lewati, bisa ditemukan banyak kisah.

Patung Bebaskan Irian aditya cs unsplash
Patung Bebaskan Irian di Lapangan Banteng dalam Jakarta Good Guide.

Seperti Sabtu pagi di awal bulan ketiga kala itu, pria yang sudah tujuh tahun berkarya sebagai pramuwisata ini mengajak tamu-tamunya merasakan sensasi mengenal Jakarta melalui tempat yang sebenarnya tak pernah terpikir menyimpan banyak histori. Tentu dengan cara yang tak biasa.

Tepat di bawah Patung Pembebasan Irian Barat, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Huans berdiri dikelilingi 20 orang. Mereka memusatkan pandangan kepada pria bertubuh mungil berkulit legam ini, mencerna baik-baik setiap instruksi.

“Rute jalan-jalan kita hari ini adalah Lapangan Banteng sampai Balai Kota DKI. Kita akan jalan kaki dan berhenti di tempat-tempat tertentu,” tuturnya.

Ajakan ini bikin mulut menganga. Ya, memang cukup mengejutkan. Selain rute berwisata yang tak terduga, upaya menepis keraguan terhadap Jakarta yang tak ramah bagi para pedestrian kembali dibangkitkan. “Kalau capek, boleh minta izin untuk istirahat. Lalu jangan lupa pakai topi atau payung, seperti yang sudah saya informasikan sebelumnya,” ucapnya.

Huans lantas menjelaskan sejenak tentang kondisi Lapangan Banteng masa lampau. Dulunya, kata dia, kawasan bernama Waterlooplein ini dihuni beragam satwa liar. Juga menjadi tempat bertumbuhnya pepohonan rimbun berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Arsa, turis dari Kanada yang turut bergabung dengan tur, mengangguk-anggukkan kepala, menyiratkan tanda mengerti. Ia tak kesulitan memahami penjelasan Huans lantaran pemandu ini mengajak para tamunya bertutur dalam bahasa Inggris. “Aku tidak banyak mengerti tentang Indonesia sebelumnya. Aku hanya lima hari di Jakarta dan aku harus berterima kasih kepada Huans karena ia memberi secuil pengetahuan yang berguna, termasuk soal Lapangan Banteng,” katanya.

Rombongan lalu bergerak menuju Gereja Immanuel. Gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat reformasi dan umat Lutheran di Batavia itu memiliki gaya klasik yang khas. Sayangnya, kala itu, turis tak bisa masuk. Sebab, pintu gerbang masih terkunci rapat. Masyarakat umum boleh masuk kalau ada jadwal ibadah.

“Padahal, kalau boleh ke dalam, kita bisa lihat orgel, alat musik bersejarah yang hanya ada tiga di dunia. Salah satunya di gereja ini,” ucap Reza, peserta tur, yang memberi sumbangan pengetahuan.

Tur ini memang tak hanya berjalan satu arah. Artinya, bukan cuma pemandu yang memberi informasi, melainkan para peserta. Timpal-menimpal pengetahuan pun terjadi sepanjang perjalanan. Obrolan hangat dari satu peserta ke peserta lain pun mengalir meski baru kenal dalam hitungan menit.

Sambil berarak meninggalkan Gereja Immanuel dan beralih menuju Galeri Nasional, Chila, warga asal Yogyakarta, yang baru satu tahun bekerja di Jakarta, berkisah tentang asyiknya ikut tur bersama Jakarta Good Guide. “Aku punya teman-teman baru di sini. Bahkan kami janjian ikut tur keliling Jakarta hampir setiap bulan di akhir pekan,” tuturnya. “Konsepnya juga menarik, jalan kaki. Aku bisa bakar kalori, he-he-he,” ujarnya bersenda gurau.

Peserta tur lain lantas terus meniti langkah, menyigi setiap kisah yang pernah terjadi pada masa lalu di kota yang dulunya bernama Batavia ini. Deru klakson dari satu-dua kendaraan pribadi tak mengganggu kekhusyukan mereka menghayati cerita demi cerita.

Di sepanjang jalur, Huans tak lupa mempersilakan turisnya mengambil gambar, memotret keindahan Jakarta, dan mengabadikan momen yang bisa tertangkap dari sisi pejalan kaki. Sembari menuju Tugu Tani hingga perhentian terakhir, yakni Balai Kota DKI, kebobrokan dan kerusakan infrastruktur boleh dipotret, lantas dikirim ke pemerintah melalui aplikasi Qlue. “Kita jangan cuma jalan-jalan, tapi juga harus memberi sumbangan terhadap perubahan,” tutur Huans. l

Menyingkap Jakarta Good Guide

Jakarta Good Guide resmi berdiri pada 2014. Sejatinya adalah perkumpulan yang dibentuk Farid dan Candha, dua anak muda yang punya kepedulian terhadap sejarah, yang ingin mengajak banyak orang menikmati kota dengan cara berjalan kaki.

Hingga kini, perkumpulan itu punya enam pemandu yang siap mendampingi turis setiap hari. Mereka membuka program walking tour mulai Senin hingga Minggu. Durasi waktu masing-masing rute ialah 2-3 jam, tergantung pada jarak tempuh. Umumnya dilaksanakan setiap pukul 09.00-12.00.

Sejak didirikan hingga sekarang, sudah ada 14 rute yang ditawarkan. Semuanya melingkupi kawasan bersejarah di Jakarta, misalnya China Town, Kota Tua, Jatinegara, hingga M.H. Thamrin. Bila ingin bergabung, peserta cukup mendaftarkan diri melalui media sosial atau website jakartagoodguide.wordpress.com. Tak ada kuota minimal dan maksimal untuk setiap kelompok. Menariknya lagi, tak ada tarif khusus yang dipatok.

“Kalian boleh memberi donasi berapa pun, tergantung pada servis yang kami berikan.” Demikian mereka menerapkan aturan. l

F. Rosana

Wisata Ke Kota Bengkulu Dalam 2 hari

Wisata Kota bengkulu Ke Benteng Marlborought

Wisata ke kota Bengkulu dalam dua hari, apa saja yang bisa dikunjungi? Apa saja yang menarik dari kota tempat lahir ibu Fatmawati, istri proklamator dan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno?

Wisata Ke Kota Bengkulu

Berbatasan dengan Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan, Bengkulu mempunyai obyek wisata begitu beragam. Dari pantai sampai gunung. Namun, bila hanya mempunyai waktu pendek, berkeliling di kota pun mengasyikkan. Dalam sebuah akhir pekan yang panjang alias 3 hari, terbang kurang dari satu jam dari Jakarta mem- buahkan pengalaman menarik. Jarak antar-obyek wisata juga tergolong dekat.

HARI PERTAMA

Rumah Ibu Fatmawati Soekarno

Tak jauh dari kawasan Simpang Lima, bisa ditemukan sebuah rumah panggung kayu yang terlihat masih apik. Di bagian depan terpampang papan nama: Rumah Ibu Fatmawati Soekarno. Jalan di depannya pun diberi nama Jalan Fatmawati. Terlihat masih cukup baik, rupanya rumah baru direnovasi pada 1980-an dan bukannya rumah yang dihuni oleh Ibu Fatma, melainkan hanya milik saudara Fatmawati yang dihibahkan kepada pemerintah untuk menjadi cagar budaya. Di dalam rumah bisa ditemukan berbagai benda peninggalan Ibu Negara ini. Termasuk berupa mesin jahit yang membuat Sang Saka Merah Putih, juga benda lain termasuk foto-foto lawas.

Rumah Kediaman Bung Karno

Tak jauh dari Rumah Fatmawati, ada Rumah Kediaman Bung Karno. Yang satu ini memang benar-benar pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno selama diasingkan di masa penjajahan. Berada di jalan utama, yakni Jalan Soekarno-Hatta yang berada di pusat kota. Di rumah tua dengan halaman luas tersebut masih bisa ditemukan berbagai peninggalan Sang Proklamator sewaktu tinggal di kota ini pada 1938-1942. Di antaranya sepeda ontel, koleksi buku, su- rat cinta kepada Fatmawati, dan lain-lain.

Danau Dendam Tak Sudah

Setelah menyimak sejarah, saatnya me- nikmati sore yang tenang di dekat danau. Berjarak hanya 6 kilometer dari pusat kota, Anda sudah bisa menemukan sua- sana lain. Berupa danau yang tenang dan dikenal dengan nama unik di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati. Rupanya, keunikan namanya terkait dengan legenda setempat. Perbukitan hijau mengelilingi kawasan cagar alam ini, sehingga hanya sekadar duduk di tepiannya sembari menyeruput kelapa muda atau berkeliling perahu sama-sama menyenangkan. Berada di tepian jalan utama, membuat obyek wisata ini mudah dicapai.

Hidangan Khas Bengkulu

Untuk makan malam, coba cicipi aneka masakan khas lokal di Rumah Makan Inga Raya yang berada di tepi pan-
tai, tepatnya di Jalan Pasar Pantai. Di antaranya pendap—sejenis pepes ikan— sambal tempoyak dan sayur buah kelor.

HARI KE-2

Pantai Panjang

Boleh dibilang, inilah pusat wisata di Kota Bengkulu. Sebagian besar hotel juga berjajar di depan pantai yang mengha-

dap Samudra Hindia ini. Sesuai dengan namanya, pantai ini memang begitu panjang, hingga 6-7 kilometer. Memiliki pasir yang halus, tapi ombak tergolong besar. Namun pantai yang landai dengan lebar 500 meter ini membuat orang bisa bermain bebas di pantai. Fasilitas juga tergolong lengkap, datang di sore atau pagi hari, bisa melakukan aktivitas bera- gam di sini. Berlari, bersepeda, bermain voli pantai atau sekadar bermain pasir. Bila memilih hotel di depan pantai ini, tentu mengasyikkan memulai aktivitas pagi dengan bermain di pantai.

Pantai Tapak Paderi

Pantai Panjang sesungguhnya sambung- -menyambung dengan pantai lain. Salah satunya Pantai Tapak Panderi. Pantai yang awalnya merupakan pelabuhan ini

menawarkan keindahan mentari tenggelam. Jaraknya hanya 100 meter dari obyek wisata lain, yakni Benteng Marlborough. Jadi, bila berada di ketinggian di benteng tersebut, yang tampak pertama adalah Pantai Tapak Paderi.

Kawasan Pecinan

Tak jauh dari Pantai Tapak Paderi dan Benteng Marlborough ada kawasan yang menarik disimak, yakni daerah Pecinan. Dijaga kelestarian sehingga masih menunjukkan khas bangunan Cina di masa lampau. Dimulai dari gerbangnya dalam pulasan merah dan hijau, lengkap de- ngan hiasan dua ular di bagian atasnya. Permukiman kaum Tionghoa ini sudah ada sejak masa penjajahan Inggris.

Benteng Marlborough

Dibangun di masa penjajahan Inggris sebagai benteng pertahanan, berada di dekat pantai dan di kawasan Pecinan. Adalah East India Company yang membangunnya pada 1713-1719. Berbentuk kura-kura dengan parit-parit kecil, bisa ditemukan juga ruang tempat Sukarno ditahan untuk diinterogasi. Menikmat- inya di sore hari menjadi pilihan karena memandang pantai dari ketinggian menjadi pilihan asyik di sini. Apalagi sembari menunggu mentari tenggelam. Di belakang akan terlihat deretan perto- koan Pecinan yang khas.

Pempek

Di hari kedua, mencicipi pempek bisa menjadi pilihan yang menyegarkan. Bisa

mampir di Pempek Buffet Betty yang berada di Jalan S. Parman. Pilihan lain adalah Warung Pempek Saskia di Jalan Natadirja. Tak hanya untuk makan di tempat, beragam pempekm baik kapal selam, lenjer, maupun adaan, bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Pantai Jakat

Setelah Pantai Panjang dan Pantai Tapak Paderi, ada juga Pantai Jakat yang menyambung dan sama-sama mengha- dap Samudra Hindia. Yang menjadi ciri khas adalah deretan perahu nelayan, tapi untuk bermain tergolong lebih nyaman karena kedalaman pantai yang terdalam hanya 1,5 meter. Merupakan pantai ujung timur di antara ketiga pantai tersebut, sehingga hanya 1 kilometer dari pusat kota. Untuk keluarga terdapat sejumlah sarana bermain, seperti banana boat, jet ski, dan lain-lain. Pantai ini
bisa menjadi sasaran di pagi hari di hari ketiga.

Oleh-oleh Khas

Puas bermain di pantai, lantas berkemas, saatnya belanja oleh-oleh dan mening- galkan Bengkulu. Toko oleh-oleh ber- deret di depan Rumah Kediaman Bung Karno. Tinggal pilih, berupa lempuk durian, beragam manisan, kue bay tat, emping melinjo, sirop kalamansi, hingga beragam kerajinan, yang terbuat dari kulit kayu, batik besurek, dan lain-lain.

Rita N./Gunawan W./TL

Menikmati Danau Toba Dalam 5 Hari

Danau Toba milala wisata unsplash

Menikmati Danau Toba dalam 5 hari? Mungkinkah kita bisa mengunjungi Berastagi, Parapat, Samosir dan menikmati danau terbesar di Sumatera Utara, Indonesia, itu dalam 5 hari?

Menikmati Danau Toba

Ketenaran Samosir, pulau kecil di Danau Toba, tak disangsikan lagi. Namun kebanyakan orang yang melancong hanya singgah sebentar ke Pelabuhan Tomok atau Tuktuk. Setelah itu, kembali lagi ke Pelabuhan Ajibata di Parapat. Selebihnya menghabiskan waktu di hotel di Parapat dan memandang Samosir dari kejauhan. Padahal banyak situs sejarah dan obyek budaya bisa dieksplorasi jika kita berkeliling kabupaten seluas 206.905 hektare ini. Apabila dipadu dengan kunjungan ke Berastagi, berwarnalah perjalanan Anda di Sumatera Utara. Waktu yang dibutuhkan cukup lima hari. Perjalanan tentunya dimulai dari Medan.

Hari pertama. Bila tiba di Medan tidak terlalu pagi, untuk kenyamanan, mulailah perjalanan dengan jalur pendek, yakni dari Medan ke Berastagi—berjarak 66 kilometer. Jalanan kecil dan berkelok. Diperlukan waktu sekitar dua jam. Berastagi adalah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Karo. Bila tiba siang hari di Berastagi, masih ada waktu untuk menatap Gunung Sinabung dari dekat, jadi melajulah ke Lau Kawar.

Dari Berastagi, temukan Tugu Perjuangan, kemudian Anda tinggal belok ke kanan menuju Kecamatan Simpang Empat. Jarak ke obyek wisata ini sekitar 27 kilometer dari Berastagi. Di sepanjang jalan, kebun berjajar. Sayuran dan buah-buahan dapat dengan mudah ditemui, termasuk jeruk dan markisa, yang merupakan buah khas Berastagi. Akhirnya tiba juga di danau yang berada di Desa Kutagugung Kecamatan Naman Teran. Gunung Sinabung tak hanya menawarkan udara yang sejuk, tapi juga lingkungan yang tenang. Begitu hening jika Anda datang bukan pada akhir pekan. Kabut sering turun, sehingga membuat hawa dingin dan suasana sepi. Di pinggir danau ada kios makanan dan minuman, ada pula lahan untuk berkemah.

Bila masih terang, cobalah berperahu ke seberang. Temukan tanaman kantong semar, jenis tanaman yang melahap serangga, seperti kupu-kupu, lipan, dan kalajengking. Di pinggir danau, Anda bisa mencari pemilik kapal sekaligus pemandu untuk menemukan tanaman unik ini. Setelah menikmati danau hingga sore, bila hendak melihat perkampungan dan rumah adat Karo berusia ratusan tahun, mampirlah ke Desa Lingga. Ketika hendak kembali ke Berastagi, sebelum tiba di perempatan Tugu Perjuangan, ada jalan menuju ke kanan. Hanya, kondisi rumahnya memang banyak yang sudah tidak terawat. Atau jika Anda penyuka alam, bisa juga sore itu melaju ke Bukit Gundaling. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Berastagi. Di bukit ini, Anda bisa menemukan tempat untuk menikmati Berastagi dari ketinggian.

Danau Toba Parapat laurentiu morariu unsplash
Danau Toba dari Parapat. Dok. Unsplash

Hari Kedua. Pagi-pagi tinggalkan dinginnya Berastagi. Melajulah ke Kecamatan Merek untuk mengitari Taman Simalem Resort. Kawasan resor seluas 206 hektare yang terdiri atas kebun buah-buahan, termasuk yang langka, seperti biwa. Selain itu, ada buah markisa dan jeruk. Ada pula sarana lodge, perkemahan, kafe, restoran, hingga paket untuk trekking dan bertualang di hutannya. Dari tempat yang satu ini, Anda bisa juga memandang Danau Toba, selain bukit-bukit gundul yang, mau tidak mau juga, tampak jelas dari sini. Resor yang bisa ditempuh sekitar 35 menit dari Berastagi ini juga memiliki kuil Buddha yang megah menjulang di atas bukit. Untuk memasuki kawasan ini, tiket masuk Rp 150 ribu per mobil.

Bila masih mempunyai tenaga untuk menuruni ratusan anak tangga, singgahlah pula ke air terjun Sipiso-piso di Desa Tongging, Kecamatan Merek. Tinggi air terjunnya sekitar 120 meter, jarak dari Berastagi sekitar 35 kilometer. Dari sini, Danau Toba dan Samosir terlihat. Lokasinya akan terlewati jika Anda menuju Parapat. Bisa juga langsung ke Parapat, yang berjarak 110 kilometer dari Berastagi atau sekitar tiga jam perjalanan. Bila sudah terlalu sore tiba di Parapat, pilihannya tentu saja menginap. Pilihan akomodasi berlimpah di Parapat, yang menjadi pusat wisata Danau Toba.

Hari Ketiga, menyeberang dari Pelabuhan Ajibata ke Tomok. Berbeda dengan Berastagi yang dingin, udara panas langsung menerpa saat menginjak kaki di Samosir. Obyek wisata terdekat dari Pelabuhan Tomok adalah makam Raja Sidabutar. Makam ini terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar, yang menjadi penguasa pada masa silam.

Di Samosir, kita bisa mempelajari tradisi pada Batak kuno. Salah satunya tradisi tarian Sigale-gale di Museum Huta Bolon Simanindo, Ambarita. Lokasinya 20 kilometer dari Tomok, lebih dekat ke Kecamatan Pangururan. Setiap hari pada pukul 11.00 rutin digelar pertunjukan Sigale-gale dengan alat musik tradisional dan berbagai tarian tradisional Batak Karo. Penonton dipersilakan duduk di rumah-rumah Batak. Pertunjukan diakhiri dengan tarian Tor-tor bersama. Koleksi museumnya di antaranya terdiri atas kain ulos, peralatan memasak, dan perlengkapan masyarakat Batak pada masa silam.

Bila sudah tiba di sini, mampirlah sejenak ke wisata air panas di Pangururan. Ini merupakan kota kecamatan di mana rumah makan bisa ditemukan lebih mudah, terutama hidangan Padang, yang pas untuk muslim. Pemandian air panas berjarak 3 kilometer dari Pangururan. Tepatnya di kaki Pusuk Buhit. Airnya mengandung belerang. Di kota kecamatan ini pula kita bisa melihat bahwa Samosir sebenarnya bukanlah pulau sesungguhnya karena antara Samosir dan sisi lain Danau Toba itu terhubung, sehingga bisa dicapai lewat darat.

Sehabis berendam, saatnya ke Tuktuk Siadong, yang tidak jauh dari Tomok. Ada gerbang yang menunjukkan kawasan berbentuk tanjung yang menjadi pusat wisata. Ada deretan hotel dan penginapan di sini. Rata-rata di pinggir Danau Toba. Di sini pula ada gedung kesenian, studio kerajinan ukiran, sekaligus pelabuhan langsung ke Ajibata atau Tiga Raja. Alat transportasi berupa perahu penumpang, dengan lama perjalanan hanya 30 menit.

Berada di Tuktuk seperti berada di tempat lain dari Samosir. Lingkungannya khas turis. Ada penyewaan sepeda bagi yang ingin berkeliling menggunakan sepeda. Dan ada perlengkapan untuk bermain di Danau Toba di hotel bila ingin menikmati sore dengan bermain perahu, berenang. Sore hari saatnya menikmati danau dari Tuktuk. Demikian juga esok paginya, menunggu mentari terbit, sambil menatap hamparan air nan luas.

Bukit Holbung Samposir leo sagala unsplash
Bukit Holbung di pulau Samosir. Dok. unsplash

Hari Keempat, mempelajari sejarah Batak Toba belumlah usai. Sejarah dan tradisi raja di daerah ini bisa disimak di Batu Persidangan Siallagan. Tak jauh dari Tuktuk, obyek wisata yang tertata ini terdiri atas beberapa rumah Batak Toba, makam raja, serta seperangkat meja dan batu. Yang terakhir inilah yang disebut Batu Persidangan. Di kursi batu itulah raja bersama penasihat membahas hukuman untuk seseorang yang berbuat kejahatan. Hukumannya bisa berupa hukuman pancung. Siallagan tak lain adalah nama sebuah marga. Pemimpinnya Siallagan. Huta atau kampung Siallagan di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, dikelilingi oleh batu besar, yang juga berfungsi sebagai benteng.

Puas melihat detail rumah Batak dan sejarah panjang Raja Siallagan, Anda bisa melangkah ke rumah penenun ulos, yang tersebar di beberapa desa. Kebanyakan berada tak jauh dari Pangururan, seperti Desa Lumban Suhi-suhi. Selain itu, di sepanjang jalan menuju Pangururan, bisa ditemukan penenun perorangan. Bila ingin berbelanja ulos, bisa langsung ke perajin di sini. Sore hari saatnya menikmati kembali Danau Toba. Ada beberapa sisi dari Danau Toba yang muncul seperti landai sehingga tak salah jika penduduk setempat menyebutnya pantai. Ada Pantai Pasir Putih dan Pantai Ambarita. Silakan menikmati pantai berair non-asin!

Hari Kelima, setelah kembali menikmati mentari terbit dari pinggir danau dan sarapan, saatnya bersiap-siap meninggalkan Samosir. Ada banyak obyek wisata alam yang belum sempat disinggahi, tapi mungkin untuk kunjungan berikutnya. Penyeberangan feri berlangsung sekitar satu jam. Kali ini jalur kembali tidak lewat Berastagi, melainkan melalui Pematang Siantar. Dengan pemandangan kiri-kanan kebun karet dan kelapa sawit. Melewati Serdang Bedagai, lalu Medan. Perjalanan sekitar empat jam. Lebih singkat, jalan lebih datar, dan pilihan obyek untuk disinggahi pun tak beragam. Tiba di Medan, Anda bisa langsung mengambil penerbangan sore menuju Soekarno-Hatta. l

Rita N./Toni H./Dok. TL/unsplash

Bandung Utara Dalam 2 Hari

Lembang Bandung.niko budi mulyono unsplash

Bandung Utara dalam 2 hari, apa saja yang bisa dinikmati? Bagi masyarakat Jakarta, ibukota Jawa Barat itu masih menjadi salah satu andalan melepas penat di akhir pekan. Tapi jika bosan dengan atraksi di dalam kota, terlebih jika akhir pekan, lalu lintas ibukota Parahyangan ini seperti Jakarta hari-hari biasa. Bahkan sejak mau keluar tol di Terusan Pasteur.

Bandung Utara Dalam 2 Hari

Daripada berkutat dengan kendaraan-kendaraan yang mengular panjang dan kemacetan yang tak ada habisnya di jantung kota Bandung saat akhir pekan, cobalah sesekali memilih bertandang wisata Lembang dan Dago Pakar yang posisinya di utara kota tersebut.

Mengunjungi dataran tinggi dengan hawa dingin yang memeluk sepanjang hari bisa membikin pikiran kembali segar dan kepenatan hilang seketika. Paling tidak, dua hari di puncak lumayan bisa mengembalikan atmosfer positif yang berantakan lantaran hiruk-pikuk yang kudu dijumpai tiap hari di kota.

Strategi awal: pilihkah hotel yang lokasinya di kawasan utara Bandung. Misalnya di Lembang, atau di kawasan Setiabudi, Bandung. Lalu dari Jakarta berangkatlah pagi-pagi dan langsung menuju spot pertama. Berikut jadwal yang mungkin bisa jadi inspirasi.

HARI PERTAMA

Farm House Lembang
Wisata Lembang ke Farm House. Dok TL. A. Prasetyo

Farm House Susu Lembang

Belakangan, tempat wisata ini jadi tujuan utama para pelancong tatkala bertandang ke Bandung bagian utara. Ada sebuah ikon yang diburu di sana, yakni rumah hobbit. Rumah mungil yang dibikin mirip dengan tempat tinggal kurcaci dalam film Snow White itu menampung sejumlah hewan bertubuh kecil, seperti tupai dan marmut. Ada pula sebuah bangunan berbentuk botol susu yang mencerminkan ciri khas tempat perah.

Secara langsung, pengunjung juga dapat menemukan peternakan sapi mini, sekaligus dapat merasakan sensasi memberinya makan dan minum. Tidak hanya ada sapi, di dalam terdapat domba-domba yang menggemaskan. Untuk masuk ke tempat ini, pelancong perlu membayar tiket Rp 25 ribu, sudah termasuk mendapatkan segelas susu sapi segar dengan tiga varian rasa: cokelat, stroberi, dam vanila.

Farm House Susu Lembang bisa pula ditempuh dari Stasiun Kereta Api Bandung dengan waktu 48 menit.

Floating Market Lembang

Floating Market Lembang
Wisata Lembang ke Floating Market. Dok. JL-A. Prasetyo

Seusai menikmati sensasi beternak sapi, minum susu murni, dan berfoto diri di depan rumah hobbit di Farm House Susu Lembang, mengunjungi floating market adalah pilihan menarik. Lokasinya tak jauh dari peternakan mini itu, yakni di Jalan Grand Hotel, Lembang. Kalau naik kendaraan, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 12 menit.

Tempat ini dulunya merupakan sebuah situ bernama Situ Umar. Lataran memiliki potensi visual yang tak main-main lantaran dilingkupi kawasan perdesaan dan pegunungan yang asri, tempat tersebut lantas disulap menjadi sebuah lokasi wisata dengan konsep warung apung. Sejumlah saung khas Sunda berjajar mengelilingi danau, menjajakan beragam penganan dan suvenir. Ada pula restoran dengan nuansa Jepang kental yang terletak di dekat gerbang masuk.

Menariknya, saat mendekatkan diri di danau, ratusan ikan koi akan menghampiri. Tentu menyenangkan buat anak-anak. Apalagi, terdapat berbagai wahana bermain yang seru di bagian belakang kawasan wisata. Tiket masuk per-orang dibanderol Rp 20 ribu.

Warung Hejo

Siang hampir sore, mengisi perut dengan makanan khas Sunda sepertinya menjadi ide yang menarik. Salah satu yang paling direkomendasikan adalah nasi timbel. Nasi timbel merupakan nasi pulen yang dibungkus dengan daun pisang. Beras yang digunakan ini umumnya khusus, yakni beras bagolo. Orang Sunda biasa menyandingkan nasi timbel dengan lalapan, sambal cabai hijau, teri, dan ayam atau daging sapi goreng. Tak lupa, sayur asam.

Tak sulit menjumpai penjaja nasi timbel di Lembang. Sebab, di warung-warung pinggir jalan, penjual umumnya menyediakan menu tersebut. Namun yang paling terkenal belakangan adalah Warung Hejo. Warung yang berlokasi di Jalan Kayu Ambon, Nomor 102, Kayu Ambon, Kayuambon, Lembang, ini, selain punya menu utama nasi timbel, juga menyajikan sensasi makan dengan atmosfer lokal yang kuat. Pengunjung bisa memilih makan di saung, di joglo. atau lesehan di balai-balai kayu yang disediakan di warung itu. Harga nasi timbel dibanderol mulai Rp 45 ribu.

Tahu Susu Lembang

Sebelum petang, mencari camilan untuk disantap bersama teh hangat malam nanti tentu menjadi hal yang wajib dilakukan pelancong kalau hendak menghabiskan hari di Lembang. Tahu susu yang kesohor itu menjadi pilihannya. Ada sebuah pabrik tahu susu yang terkenal, tepatnya di Jalan Raya Lembang Nomor 177, Jayagiri, Lembang. Di sana, pengunjung bisa memilih hendak membeli tahu susu yang mentah atau matang. Selain itu, bisa melihat proses produksinya.

Kalau tak ingin repot masuk pabrik, pelancong bisa membeli tahu susu di tempat wisata, seperti Floating Market. Ada beragam penjaja tahu susu yang membuka lapak di sana. Satu kotak berisi sepuluh tahu dihargai mulai Rp 20 ribu.

HARI KE DUA

Kebun Bunga Begonia

Memulai pagi dengan mengunjungi kebun bunga rasanya bisa membuat mood meningkat. Tempat ini bisa ditempuh hanya 13 menit dari Floating Market. Lokasi tepatnya berada di Jalan Maribaya nomor 120A. Dari luar, Begonia tak tampak seperti kebun yang menyimpan seratusan jenis bunga. Sebab, hanya terlihat bangunan kayu yang lebih mirip desain sebuah café. Namun, begitu masuk, pengunjung akan di bawa ke gerbang mungil yang langsung membawa mereka ke kebun dengan panorama bunga yang terhampar luas. Pengunjung langsung seperti berada di kotak miniatur Keukenhof yang berada di Lisse, Belanda. Warna-warni kembang yang tumbuh segar cocok untuk menjadi tempat melepaskan penat, juga berswafoto.

Bunga yang jadi “menu” utama di sini ialah begonia, sama seperti nama tempatnya. Bunga dengan kelopak yang memiliki warna-warna menyala itu umum tumbuh di Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Asia Selatan. Selain begonia, ada puluhan jenis bunga lain, seperti balinea, celosia, cosmos, dianthus, gloxinia, geranium, dan gomphrena. Selain itu, terdapat kebun sayuran di belakang taman bunga. Di sana, pengunjung dapat memberikan makan kelinci. Tiket masuknya tergolong murah lantaran hanya dibanderol Rp 10 ribu. Namun, jika membawa kamera DSLR, dikenai biaya tiket tambahan, yakni Rp 50 ribu.

Wot Batu

Sebuah art space milik seniman kawakan Sunaryo ini terlihat sangat artistik. Dari bibir jalan Bukit Pakar Timur, Ciburial, Cimenyan, tampak bangunan dengan dominasi unsur batu asimetris berdiri. Di dalamnya terdapat koleksi bebatuan yang ditata dan diukir macam-macam, dipajang di sebuah taman berbentuk persegi yang berbatasan langsung dengan view Kota Bandung. Tenang dan rileks adalah dua hal yang didapat ketika masuk ke galeri ini.

Wot Batu memiliki arti jembatan batu. Si empunya galeri menyebut tempat ini merupakan jembatan spiritual manusia. Tampak di bagian tengah taman itu terdapat sebuah gerbang atau pintu yang dibangun dari batu. Bangunan itu memiliki maksud perbatasan antara dunia kelahiran dan kematian. Di atasnya terdapat finger print Sunaryo yang diperbesar.

Wot Batu cocok menjadi tempat untuk menepi, merefleksikan diri, atau mencari ketenangan. Kalau mau berfoto diri juga bisa, tapi tak disarankan membuat kegaduhan dengan kelakar yang berlebihan. Pengunjung juga harus memperhatikan aturan yang berlaku. Di tempat itu, bila tamu ingin menginjak-injak area taman yang ditumbuhi rumput, mereka harus melepas alas kaki. Tiket masuk Wot Batu dibanderol Rp 50 ribu. Khusus mahasiswa atau seniman, hanya perlu membayar Rp 30 ribu.

Ardi/N. Adhi/ A. Pras/Niko Budi M-Unsplash

*****

2 Hari Menikmati Merapi Dari Kaliurang

Gunung Merapi shutterstock

2 hari menikmati Merapi dari Kaliurang, Yogyakarta. Cuaca sejuk, obyek wisata yang beragam, dan camilannya memicu wisatawan ingin kembali.

Gunung Merapi, Yogyakarta, selalu memberikan kesan magis yang bikin tamunya rindu. Tampaknya seperti kekuatan alam besar yang muncul tanpa wujud. Bagi yang sudah pernah datang, mereka akan jatuh cinta. Entah terpikat dengan cuaca yang sejuk, penduduk yang ramah, atau lokasi wisata yang bervariasi. Berakhir pekan di seputar Kaliurang pun bisa memupus kangen.

2 Hari Menikmati Merapi

Hari Pertama

Taman Gardu Pandang Kaliurang

Dengan berkendara 60 menit dari titik nol kilometer, tempat untuk “mengintai” Merapi ini sudah bisa dijangkau. Lanskap utamanya ialah Bukit Turgo, yang berdiri gagah di muka Sang Pasak Bumi. Beberapa langkah dari gerbang masuk, ada sebuah bangunan berpola lingkaran dengan atap membentuk payung. Di sana, pengunjung otomatis bakal mengenang erupsi besar yang terjadi pada 2010. Abu vulkanik di patera pepohonan sudah bertolak diri, tapi aromanya tetap lekat. Setelah erupsi, taman sekaligus gardu pandang ini hancur. Wahana-wahana bermain yang berkarat karena panas, kini telah kembali dipoles sehingga siap menjadi tempat wisata lagi. Tiket masuknya hanya Rp 2.000 per orang dewasa dan Rp 1.000 per anak.

Air Terjun Tlogo Muncar

Berkendara 5 menit dari Gardu Pandang Kaliurang, ada Taman Nasional Kaliurang dengan sejumlah daya tarik. Salah satunya Air Terjun Tlogo Muncar. Lokasinya satu lingkup dengan Terminal Tlogo Putri. Untuk menuju titik gerojokan, pengunjung perlu melewati jalan kecil membelah hutan. Kanan-kiri, beragam pohon besar menyejukkan pandangan. Bertemu dengan puluhan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Setelah berjalan lebih-kurang 300 meter, suara gemericik air akan terdengar. Mendongakkan kepala sedikit ke ujung jalan, air terjun setinggi lebih-kurang 40 meter sudah dapat dipandang. Sayangnya, kala Travelounge bertandang, debit airnya tak besar. Memang, sejak erupsi, air yang mengalir tak selaju dulu.

Jalur ke Puncak Pronojiwo
Jalur ke Puncak Pronojiwo saat 2 hari menikmati Merapi. Dok TL

Puncak Pronojiwo

Prono berarti terpesona, sedangkan jiwo adalah jiwa. Itu artinya, jiwa orang akan terpana ketika sampai di puncak ini karena melihat pemandangan alam yang indah dari ketinggian 1.040 mdpl. Lokasinya masih di kawasan Taman Nasional Kaliurang. Hanya, untuk menjangkau puncak itu, turis harus trekking melewati hutan dengan jalur menanjak. Di sepanjang jalan menuju puncak, selain bakal menjumpai monyet ekor panjang, pengunjung akan menemukan burung sepah gunung (Pericrocotus miniatus). Suaranya lantang dan menebalkan kesan alam.

Warung Ijo

Di tengah perjalanan dari Gardu Pandang Kaliurang menuju Terminal Tlogo Putri, tepatnya di Jalan Pramuka Nomor 58, ada sebuah warung yang berdiri pada 2013. Lebih terlihat seperti galeri ketimbang tempat makan. Meja dan kursinya terbuat dari batu besar yang dipangkas. “Batu ini bekas erupsi Merapi 2010,” tutur Supardi, si pemilik warung. Ada juga kerajinan tangan berupa tas rotan dan sepatu lukis yang dibikin Supardi sekeluarga. Namun menu yang ditawarkan biasa saja, seperti roti bakar dan nasi goreng. Yang bikin betah memang atmosfer seni bercampur alam. Sambil makan, tamu bisa menikmati pemandangan hutan pakis. Harga menu antara Rp 4.000 hingga Rp 16.500.

Taman Lampion

Sejak 2015, setiap akhir tahun tiba, PT Taman Pelangi menghadirkan ratusan lampion di lereng Merapi. Lokasinya satu kompleks dengan gardu pandang. Lahan seluas 3 hektare itu disulap menjadi wahana lampu yang memukau dengan bentuk yang berlainan. Ada yang menyerupai ular naga, istana boneka, candi, bunga-bunga, juga tokoh-tokoh kartun. Tak heran kalau 4.900 pengunjung datang tiap hari. Festival taman lampion hadir sepanjang Desember hingga Februari setiap hari, dari pukul 17.00 sampai 22.00. Harga tiket Rp 15 ribu pada Senin-Kamis dan Rp 20 ribu pada Jumat-Minggu.

Wedang Ronde Taman Kaliurang

Malam tiba, suhu makin turun. Untuk menghangatkan tubuh, cobalah menepi sejenak ke Taman Kaliurang. Di sepanjang jalan di muka lokasi wisata itu, banyak penjual yang menjajakan wedang ronde istimewa. Mereka mulai menjajarkan gerobaknya pukul 19.00 hingga dinihari.

Rasanya nikmat karena disantap di dataran tinggi dengan suhu di bawah 15 derajat.

Hari kedua

Museum Ullen Sentalu

Museum yang “bersembunyi” di pusar Kaliurang ini memiliki bangunan yang menonjolkan unsur seni bernilai tinggi. Gedungnya serupa kastel dengan pagar menjulang jangkung. Akar-akar pepohonan dibiarkan tumbuh liar di dinding, menorehkan kesan heritage’s class version.

Koleksi berupa kebudayaan Jawa lengkap, dari silsilah sampai kesusastraannya, bikin bulu roma berdiri karena teramat membuka jendela pengetahuan. Terdapat juga kampung kambang, yakni rumah di atas kolam, dengan ruang-ruang yang menyimpan beragam koleksi batik tulis dari Yogyakarta dan Surakarta dengan rentang usia 30-80 tahun. Setengah perjalanan, pemandu bakal mengajak pengunjung menikmati wedang ratumas, minuman racikan kerajaan. Tur Ullen Sentalu berlangsung 50 menit. Sayangnya, pengunjung tak diperkenankan mengambil foto di dalam museum.

Museum Gunung Merapi

Dari Ullen Sentalu, museum ini bisa dijangkau dengan berkendara sekitar 15 menit. Lokasinya di Jalan Boyong, Dusun Banteng. Sejak berdiri pada 2009, Museum Gunung Merapi tak pernah sepi pengunjung. Keberadaannya memang tepat sebagai lokasi wisata edukasi lantaran menyajikan informasi mengenai gunung-gunung api di Indonesia secara lengkap. Selain itu, dipaparkan penjelasan khusus tentang Gunung Merapi, termasuk erupsi yang terjadi dari masa ke masa.

Jadah Tempe Mbah Carik

Bertandang ke lereng Merapi, Pakem, juga sekitarnya, rugi rasanya kalau tidak mencicipi dua sejoli jadah dan tempe masakan Mbah Carik. Sejak 1950, warung di simpang lima patung Kaliurang itu melegenda. Jadahnya yang gurih dan legit cocok dipadu dengan tempe bacem. Rasa dan aromanya istimewa, karena dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Cara makannya bak melahap burger. Jadah menjadi roti, sedangkan tempe selayaknya patty. Penganan tradisional ini disajikan bersama wedang teh Poci nasgitel atau panas, legi, kentel. Enak juga disandingkan dengan wajik yang manis dan legit. Seporsi jadah-tempe dihargai Rp 20 ribu (berisi 10 jadah dan 10 tempe). Warung ini buka pukul 07.00-18.00.

Slondok Renteng Pak Mul

Saatnya berburu buah tangan, dan bila mencari yang autentik, Slondok Renteng Pak Mul adalah pilihan tepat. Slondok dirangkai menggunakan bambu yang disayat tipis. Kebiasaan itu diadopsi Pak Mul mulai 1965 hingga generasi ketiganya sekarang. Sebungkus slondok berisi 30 rangkai dihargai Rp 13 ribu. Wisatawan bisa berkunjung langsung ke rumah produksinya, yakni di Boyong RT 01 RW 10, Hargobinangun. Bila hari libur, jangan berkunjung setelah makan siang karena sudah ludes diburu.

F. Rosana/TL

4 Hari di Seputar Belitung Yang Mengasyikan

Senja Liburan 4 hari di Belitung

Bisa 4 hari di seputar Belitung? Liburan mendadak ternyata bisa juga dibikin seru. Meski tiket pesawat dan harga sewa kendaraan roda empat tinggi,  karena pilihannya adalah 4 hari di seputar Belitung, ganjalan dana itu seperti terkikis. Maklum, empat hari di pulau, yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ini benar-benar mengasyikkan.  Bagi saya dan banyak turis, bisa jadi liburan ini nmerupakan liburan yang ingin diulang kembali.  Apalagi pilihannya tak melulu pantai, tapi juga jejak film Laskar Pelangi, bukit hijau, dan tentu sajian kuliner.

4 Hari di Seputar Belitung: Belitung Timur Hari 1

Hari Pertama: Belitung Timur

Penerbangan pendek selama 45 menit ke Tanjung Pandan sungguh tak terasa. Lubang-lubang bekas galian tambang tampak dari atas, tersebar di mana-mana. Pengemudi yang siap mengantar saya rupanya sudah menunggu di pintu ke luar Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Ketika kendaraan bergerak, saya menemukan jalan yang mulus dan sepi, tanah kering, serta rumah dengan jarak berjauhan. Hal ini menjadi pemandangan pertama yang saya lihat. Saya berencana menghabiskan waktu empat hari di pulau ini. “Enak itu, kalau cuma tiga hari, keburu-buru banget,” ucap Iqbal, yang menjadi pengemudi merangkap pemandu wisata.

Iqbal menyarankan tujuan wisata hari pertama ialah ke Belitung Timur (Beltim). Setelah melahap ilak bakar, sajian ikan bakar khas pulau dengan tumis kangkung, saya pun berangkat. Perjalanan ditempuh sekitar 1-1,5 jam. Kunjungan pertama ialah ke sekolah, tempat syuting Laskar Pelangi. Kemudian, mampir ke Museum Kata-kata Andre Hirata sembari menikmati kopi kuli.

Keasyikan menikmati kopi, akhirnya kunjungan ke Pantai Burung Mandi batal karena hari sudah terlalu sore. Namun bila Anda punya waktu panjang, tentu jangan dilewatkan. Akhirnya, saya pun kembali ke Tanjung Pandan.

Hari kedua: Tanjung Kelayang & Tanjung Tinggi

Pantai Kelayang salah satu pantai selama 4 hari liburan di Belitung
Pantai Kelayang dalam 4 hari di seputar Belitung

Hari kedua, saatnya melaut. Saya berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan pertama ialah Tanjung Kelayang dan pemilik perahu sudah menelepon. Ia sudah siap mengantar keliling pulau. Pagi yang hening, kendaraan melaju di jalan aspal yang mulus. Tak lama, anak panah ke Pantai Tanjung Kelayang pun tampak. Saya melihat area parkir sudah penuh. Maklum, musim liburan.

Kemudian, saatnya berputar-putar di laut, mulai dari Pulau Pasir, yang hanya berupa seonggok pasir, tempat saya menemukan sejumlah bintang laut, hingga  Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menonjol. Saatnya snorkeling! Setelah lelah mengambang di air, saatnya beranjak. Pengemudi kapal menyarankan untuk tidak membersihkan diri di Pulau Lengkuas, tapi di Pulau Kepayang, sekalian menikmati makan siang.

Rekomendasi yang tepat. Begitu mendekati pulau yang juga disebut Pulau Babi itu, suara musik terdengar nyaring. Rupanya, hanya ada satu restoran di sana. Setelah membilas badan, saatnya kembali menikmati ikan bakar dan tumis kangkung. Benar juga, di pulau ini air di kamar mandi bersih. Meski ada beberapa kamar mandi , tetap harus antre karena jumlah turis membludak.

Di Pulau Kelayang, selain ada penangkaran penyu, ternyata ada penginapan dan bisa menjadi pilihan bagi turis yang ingin menyepi. Perut kenyang, saatnya menyinggahi pulau-pulau lain yang ternyata meski sama-sama penuh dengan batu, bentuknya berbeda-beda.  Misalnya Pulau Batu Belayar dan Pulau Burung, hingga akhirnya kembali berlabuh di Tanjung Kelayang. Saya berniat menyisakan sore untuk menikmati mentari tenggelam di Tanjung Tinggi.

Tiba di Tanjung Tinggi, area parkir penuh lagi. Kondisi cukup ramai karena saya datang di masa liburan. Karena terlalu ramai, waktu kunjungan pun dipersingkat. Lebih baik beristirahat dulu karena kami ingin menikmati makan malam di Pantai Tanjung Pendam yang berada di pusat kota.

Hari Ketiga: Bukit Mentas, Bukit Berahu, dan Icip-icip

Hari ketiga, dicoba pilihan wisata bukan pantai. Tujuan wisata ialah Bukit Mentas, dengan suasana hutan dan sungai yang juga penuh bebatuan. Saya menemukan  Tarsius , si monyet mini  dalam kandangnya. Sore hari, akhirnya kembali ke pantai. Pilihannya ialah Pantai Bukit Berahu di Tanjung Binga dengan restoran di atas  bukit, serta pantai di bawahnya dengan deretan cottage.  Pantai ini berpasir putih nan bersih. Akhirnya, tercapai juga merekam keindahan senja.

Malamnya, hidangan Belitung  jadul di Restoran Belitong Timpo Duluk, Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan menjadi pilihan icip-icip. Hidangan yang sudah jarang dijumpai di pulau ini pun terpapar di meja dengan interior unik. Dinding-dinding dipenuhi perangkat tempo dulu dan benda-benda jadul lainnya.

Hari keempat: Warung Kopi Kong Djie dan Danau Kaolin

Hari terakhir, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya menyeruput kopi di Warung Kopi Kong Djie di Jalan Siburik, Tanjung Pandan. Warung ini didirikan pada 1945 dan menawarkan hidangan kopi serta kopi susu. Ada juga teman minum kopi berupa gorengan. Dilanjutkan menuju toko oleh-oleh, membeli  terasi, aneka kerupuk ikan, juga berbagai sambal khas dari ikan laut.

Persinggahan terakhir adalah Danau Kaolin di Desa Air Raya, yang jalurnya searah dengan perjalanan ke bandara. Danau terbentuk karena galian penambangan kaolin, yang akhirnya menciptakan lubang besar. Airnya terlihat berwarna biru tosca , sedangkan sekelilingnya berupa lahan putih. Tampilan warna ini menciptakan kontras. Tentu menggoda untuk menjadikannya obyek foto. Setelah berfoto, perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Kemudian, mengucapkan “Selamat Tinggal Belitung!”

Naskah & Foto: Rita N/TL

Keliling Jawa Barat Dengan Kereta Api

Pandangan udara dari sebuah jembatan kereta api di lanskap sawah di Jawa Barat

Dari balik kaca kereta yang melaju, hutan dan sawah seolah berlarian ke belakang. Dunia para penumpangnya pun dibawa ke masa lampau, ketika roda-roda besi menggerakkan kehidupan di Jawa Barat. Hingga hari ini, jalur kereta dan artefak transportasi itu masih lestari. Lekaslah naik dan rasakan pengalaman melewati terowongan tua, jurang yang menganga, hingga stasiun-stasiun lawas dari abad kesembilan belas.

Jawa Barat Alamnya Indah

Romantisme masa silam tak hanya dapat dinikmati lewat artefak di museum-museum. Jawa Barat justru menawarkan sensasi ini melalui perjalanan di atas roda besi kereta api. Wisatawan dapat memilih bepergian naik kereta wisata dengan fasilitas mewah atau menggunakan kereta lokal yang sarat akan pengalaman unik. Stasiun-stasiun kecil, jembatan tinggi, terowongan tua, dan panorama pegunungan akan memberikan memori tak terlupakan ketika Anda menyusuri sudut-sudut Jawa Barat.

original SB2012031830
Stasiun Kereta Api Bandung, Jawa Barat .
  • Kereta Wisata Jakarta-Bandung

Jalan tol Jakarta-Bandung tak jua lelah menampung ribuan kendaraan dan berjam-jam kemacetan setiap harinya. Mengapa tak mencoba naik kereta dan merasakan eksotisme bentang alamnya? Tinggalkan ponsel Anda dan lihatlah keluar saat kereta melewati jembatan Cisomang, Kabupaten Purwakarta. Ini adalah jembatan kereta tertinggi di Indonesia yang masih aktif. Di kanan-kiri, hanya sungai dan jurang yang menganga sedalam 100 meter!

Naik apa? Perjalanan akan semakin lengkap dengan kereta wisata Argo Parahyangan Priority. Gerbongnya menyajikan kemewahan berupa interior eksklusif, video on demand, jaringan internet nirkabel, dan menu coffee break. Harga tiket Rp 250 ribu untuk sekali jalan.

  • Kereta Lokal Cibatu-Purwakarta

Cibatu adalah sebuah desa di Kabupaten Garut. Maka pengalaman yang akan Anda dapatkan pun identik dengan kehidupan pedesaan yang masih asri dan alami. Sepanjang jalan, hanya ada stasiun-stasiun kecil seperti Karang Sari, Cimindi, Maswati, Plered, dan Ciganea. Selain pemandangan serbahijau, kereta juga melewati terowongan terpanjang yang masih aktif, yaitu Sasaksaat. Lalu di dekat peron Stasiun Purwakarta, Anda akan menemui kuburan kereta warna-warni yang sempat viral di media sosial.

Naik apa? Kereta Simandra hanya bertarif Rp 8.000 sekali jalan. Tiketnya harus dibeli di stasiun Cibatu atau Purwakarta. Namun tiket Jakarta-Cibatu tersedia secara daring, yaitu menggunakan kereta Serayu dengan harga sekitar Rp 63.000.

  • Kereta Komersial Bogor-Sukabumi

Kabupaten Sukabumi memiliki segudang tempat wisata yang menarik, antara lain Situ Gunung dan Geopark Ciletuh. Bepergian ke sana paling pas tentu dengan naik kereta dari Stasiun Bogor Paledang. Selama 2 jam perjalanan, penumpang disuguhi pemandangan yang beragam, dari permukiman, persawahan, dan yang paling mencolok, kemegahan Gunung Salak. 

Naik apa? Kereta yang tersedia adalah Pangrango kelas ekonomi dan eksekutif. Pangrango ekonomi bertarif Rp 30.000 dengan fasilitas AC rumahan dan tempat duduk 2-2 yang berhadapan. Sementara Pangrango eksekutif bertarif Rp 70.000 dengan fasilitas AC khusus kereta dan tempat duduk yang bisa disandarkan.

Bahan dan Foto Dok. Javalane