Punthuk Setumbu, Keindahan Borobudur Jam 5 Pagi

Punthuk Setumbu adalah sebuah pilihan menikmati ufuk fajar 2021 nanti. Melihat matahari pertama di tahun itu muncul di belakang Candi Borobudur pastilah menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Punthuk Setumbu

Awalnya, Punthuk Setumbu, yang terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa tengah, hanyalah perbukitan biasa dengan ladang milik masyarakat setempat. Tempat ini menjadi terkenal saat seorang fotografer mengabadikan pemandangan sekitar kawasan ini dan menayangkannya. Pemandangan yang diabadikan itu adalah Candi Borobudur dengan latar belakang matahari terbit.

Namanya makin “mendunia” ketika film Ada Apa Dengan Cinta?2 diputar. Salah satu adegan dalam film tersebut dilakukan di tempat tersebut. Semakin hari, kawasan perbukitan ini semakin ramai oleh pengunjung. Dan hingga saat ini dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Tujuan utama wisatawan datang ke Punthuk Setumbu tentu saja untuk mengambil foto matahari terbit. Tak heran, mereka rela datang di pagi buta supaya tidak terlewat momen tersebut.

Punthuk Setumbu berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna punthuk sebagai gundukan atau perbukitan. Sedangkan setumbu sendiri artinya adalah tumbu atau lebih tepatnya tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Jadi nama punthuk setumbu memiliki arti bukit yang bentuknya mirip tempat nasi yang terbuat dari anyaman.

AgendaIndonesia berkesempatan mampir ke tempat ini sekitar empat tahun lalu. Beberapa saat setelah film yang dibintangi Dian Sanstrowardoyo dan Nicolas Saputra itu tayang dan kebetulan ada liputan ke Yogyakarta.

Saat liputan harus terhenti, karena jadwal satu narasumber sedikit mundur karena sedang keluar kota. Apa yang harus dikerjakan? Berpikir cepat, teman fotografer yang menemani mengusulkan mengambil gambar matahari terbit di Punthuk Setumbu.

Diskusinya kemudian, apakah kami berangkat dari Yogya pada pagi-pagi buta, atau memilih menginap di seputaran Borobudur? Kami memilih yang pertama supaya bisa meninggalkan barang-barang di penginapan di Yogya daripada menggotongnya mondar-mandir.

Namun berangkat dari Yogya itu artinya kami harus bangun pagi lewat tengah malam lantas bergegas menembus gelap menuju Muntilan lalu belok ke barat arah Borobudur. Bukan waktu yang nyaman melakukan perjalanan. Terutama karena harus menyetir mobil.

Untungnya perjalanan pagi itu lumayan asyik. Keluar dari hotel jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan praktis sepi. Jalur Yogyakarta-Magelang yang biasanya sesak di pagi hingga siang hari, ketika itu nyaris kosong. Jarak dari kota Yogya ke Borobudur sejauh sekitar 40 kilometer yang biasanya ditempuh 1,5 jam, pagi itu cuma dilalap dalam waktu sekitar 35 menit. Itupun dengan kecepatan yang cukup santai.

Pukul 2.35 menit kami sampai di depan Pasar Borobudur. Pasar tradisional yang berjarak sekitar satu kilometer dari candi. Masih cukup sepi, hanya beberapa orang menurunkan dagangan. Kepada mereka kami bertanya soal arah menuju Punthuk Setumbu.

Dari pasar sesungguhnya tak terlalu jauh. Hanya sekitar 2-3 kilometer dan jalanan beraspal halus. Setidaknya ketika itu. Kami sempat berpikir cari kopi dulu di sekitar pasar. Namun para pedagang menyarankan langsung naik saja. Mereka juga menyebut ada warung kopi di titik awal naik.

Kami mengikuti saran tersebut sambil berpikir kemungkinan lokasinya yang sepi dan gelap. Ternyata kami keliru. Menjelang sampai di dekat jalan naik jalanan tampak ramai. Banyak mobil, dari mobil kecil hingga minibus, berjajar parkir. Di bagian lain puluhan sepeda motor juga terparkir cukup rapi. Suasana cukup ramai, dan yang jelas cukup terang.

Loket retribusi naik Punthuk Setumbu ada di dekat warung makan. Satu orang lokal dikenai Rp 20 ribu.

Pukul 3.30-an sejumlah portir meminta kami mulai mendaki. Mendaki? Ya, untuk ke Punthuk Setumbu kami harus menaiki tangga memutari bukit setinggi 400-an meter. Ada deretan anak tangga yang dibagi dalam tiga stage. Di tiap akhir stage ada bordes untuk berhenti sejenak ambil nafas. Di sana biasanya ada portir yang menjaga dan memberi cahaya dari senter. Bersama kami ada sekitar 20-an pengunjung.

Punthuk Setumbu, sebuah bukit di barat candi Borobudur. Sebuah tempat untuk menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan Borobudur.
Pengunjung Punthuk Setumbu mengabadikan matahari terbit dengan latar depan candi Borobudur.

Hampir setengah jam berjalan, kami sampai puncak. Ini lebih mencengangkan lagi. Ternyata di puncak hampir mirip pasar malam. Ada sekitar 200-an orang di sana. Masing-masing telah mengambil posisi. Duduk atau berdiri. Entah siapa yang mengatur, tapi posisinya seperti orang duduk di ampitheater. Agak melengkung menatap ke satu arah.

Cukup banyak yang membawa kamera cukup serius (baca: dengan tripod dan lensa tele). Saat itu doa semua orang sama: tidak ada mendung dan matahari muncul dengan ceria.

Dan doa kami semua terwujud. Sekitar 27 menit setelah adzan subuh mengema di lembah, sebaris warna jingga muncul di cakrawala. Menit demi menit matahari beringsut naik. Hingga pada satu ketinggian, secara dramatis siluet Borobudur muncul dari balik kabut pagi dengan cahaya matahari menyorotinya. Luar biasa.

Dan drama itu berlangsung sekitar 30-an menit. Selesai selepas pukul 5 pagi. Maka perlahan para penikmat matahari terbit itu turun bukit.

Teman fotografer menyebut pengalaman itu sebagai cara lain menikmati candi Borobudur. Ia mungkin benar, saya seperti melihat Borobudur yang ‘baru’. Yang berbeda dengan saat masa kanak-kanak dulu.

Ayo, jangan lupa agendakan perjalananmu ke Magelang dan nikmati pesona elok dari perbukitan menoreh. Serta menikmati opera Borobudur di saat fajar menyingsing.

Waktu terbaik untuk datang ke kawasan ini pada adalah saat musim kemarau, yakni mulai Juli hingga Agustus. Pada saat itu, matahari kemungkinan besar tak terhalang awan atau mendung.

agendaIndonesia

****

Getuk Goreng Haji Tohirin, Asli Sejak 1918

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.

Getuk goreng Haji Tohirin bisa jadi adalah jawaban kebanyakan orang Banyumas ketika ditanya soal kuliner asli kota mereka. Tak mengherankan, karena kudapan tradisional ini sudah eksis sejak 1918, dan hingga kini toko-tokonya masih menjamur di kota ini.

Getuk Goreng Haji Tohirin

Sebagai sebuah kabupaten, Banyumas punya ciri khas sendiri yang membuatnya unik. Terletak di bagian barat provinsi Jawa Tengah, kabupaten ini punya beberapa daya tarik bagi turis, seperti Baturraden dan gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Secara budaya tradisional mereka juga punya keunikan tersendiri dari wilayah lainnya di Jawa Tengah. Kebanyakan dari adat dan seni budaya tersebut bahkan disebut sebagai Banyumasan, karena kekhasannya dan keunikannya dengan daerah tersebut.

Getuk goreng haji Tohirin adalah ikon dari Banyumas, selain tugu pesawat tempur ini.

Misalnya, seni budaya seperti salawatan Jawa, kuda lumping Ebeg, alat musik calung dan bongkel, batik ala Banyumasan, hingga yang paling identik dan dikenal banyak orang adalah bahasa Jawa bergaya Banyumasan. Bahasa yang juga kerap disebut dengan istilah ngapak.

Dan bila dilihat dari sisi khazanah kulinernya pun, Banyumas tak kalah menariknya. Cukup banyak kuliner tradisional yang terlahir di sini, seperti tempe mendoan, sroto alias soto ala Banyumas, hingga tentunya getuk goreng yang begitu khas dan unik.

Kelahiran getuk goreng tersebut tak lepas dari andil pencetusnya, Sanpirngad, yang dulunya merupakan penjaja nasi rames dengan beragam sayur dan lauk pauk. Salah satu pilihan di antara sayur dan lauk pauk tersebut adalah getuk singkong.

Getuk singkong sendiri bukanlah makanan yang asing bagi warga Banyumas. Sejak dulu, sawah-sawah yang berada di area ini kerap ditanami singkong, lantaran singkong sering digunakan sebagai makanan pengganti nasi.

Awalnya, usaha yang ia dirikan bersama istrinya Sayem itu hanya diminati segelintir orang, dan terkadang setelah warung tutup masih ada sisa-sisa makanan yang belum ludes terjual. Singkong tersebut adalah salah satu yang kerap masih tersisa dan kurang disukai pelanggan.

Karena merasa sayang dengan sisa makanan yang belum habis itu, Sanpirngad kemudian mulai mencoba mengolah ulang beberapa makanan tersebut. Misalnya, sisa-sisa getuk singkong ia olah kembali dengan cara ditumbuk dan dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa.

Getuk Goreng Banyumas Tokped
Getuk goreng Haji Tohirin biasanya dikemas dalam besek dari bambu. Foto: tokped

Setelah pengolahan ulang tersebut, munculah kudapan baru yang sebetulnya terasa nikmat dan ketika dijajakan lumayan disukai pelanggan. Namun karena warungnya sendiri masih sepi pengunjung, makanan tersebut jadi ikut-ikutan bersisa dan tak cukup laris pula.

Sanpirngad lagi-lagi mencoba memutar otak agar dagangannya tersebut dapat laris manis dan membawa lebih banyak pengunjung yang datang. Akhirnya, olahan getuk yang masih tersisa itu ia goreng agar awet dan bisa dicoba untuk dijual kembali esok harinya.

Siapa sangka, percobaannya yang kesekian tersebut mampu membawa peruntungan baru yang mengubah hidupnya. Getuk goreng buatannya justru diminati pelanggannya, bahkan perlahan-lahan menuai popularitas lewat obrolan warga dari mulut ke mulut.

Sejak saat itu, banyak pengunjung yang datang ke warungnya khusus untuk mencoba getuk gorengnya. Saking terkenalnya, oleh pelanggannya getuk tersebut juga sempat disebut getuk kamal, karena saat itu warungnya berada di bawah pohon kamal.

Mulai dari kemunculannya di sekitaran tahun 1918, getuk goreng terus menjadi salah satu kuliner primadona Banyumas. Usaha tersebut lantas dijalankan pula oleh anak dan menantunya. Salah satu di antaranya adalah Tohirin, menantu laki-lakinya.

Selepas berpulangnya Sanpirngad pada 1967, Tohirin terpilih untuk mengambil alih usaha dan meneruskannya. Di bawah pengelolaannya, bisnis semakin maju pesat dan getuk goreng semakin dikenal luas, tak hanya oleh warga setempat tetapi juga bagi kalangan turis.

Warung nasi rames berwujud gubuk semi permanen tersebut diubah menjadi bangunan kios permanen. Usahanya kemudian berfokus pada getuk goreng saja, agar dapat memenuhi banyaknya permintaan konsumen sekaligus mempertahankan konsistensi kualitas makanan.

Terlebih lagi, ia melihat pergeseran pola konsumen getuk goreng saat itu. Kalau sebelumnya pelanggannya merupakan warga lokal yang sekedar mencari kudapan, kini banyak pula yang datang untuk membeli getuk goreng sebagai oleh-oleh.

Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri menerima pengunjung lokal dan pendatang, dengan plang bertuliskan ‘Getuk Goreng H. Tohirin Asli’ alias Getuk Goreng Haji Tohirin. Penggunaan kata ‘asli’ di sini menjadi penting, seiring persaingan yang makin ketat dengan munculnya gerai getuk goreng lainnya.

Toko Oleh oleh Getuk Kemendikbud
Toko-toko oleh-oleh memajang nama getuk goreng dan Asli. Foto: kemendikbud Jawa Tengah

Kendati demikian, getuk goreng dagangannya boleh berbangga hati karena memang menjadi pionir bagi getuk goreng lainnya. Dan berkat otentisitasnya itu pula, kios getuk gorengnya tak pernah sepi pengunjung.

Kini, bisnis dijalankan oleh anak-anak dan cucunya, serta sudah memiliki kurang lebih sekitar 10 cabang yang tersebar di seputaran Banyumas. Kebanyakan kios-kios cabang tersebut bernuansa jingga, agar membedakan dengan kios aslinya yang bernuansa hijau.

Kalau datang ke kios yang asli getuk goreng Haji Tohirin, pengunjung masih bisa melihat proses pembuatannya secara langsung. Pertama, singkong dikukus terlebih dulu dengan metode tradisional, menggunakan dandang serta kayu bakar.

Singkong yang sudah dikukus langsung ditumbuk dan diolah dengan gula merah dan parutan kelapa menggunakan lumpang, kemudian digoreng sampai matang. Pendekatan tradisional ini adalah upaya agar cita rasa otentik getuk goreng dapat terjaga,

Getuk goreng yang sudah matang tersebut lantas dipotong-potong, kemudian langsung dikemas dan disajikan kepada pengunjung. Biasanya pengunjung punya dua pilihan kemasan, dengan ukuran ½ kg dan 1 kg yang masing-masing harganya Rp 21 ribu dan Rp 39 ribu.

Umumnya, rasa getuk goreng Haji Tohirin yang original merupakan perpaduan dari gurih dan manis. Tetapi kini konsumen juga bisa mendapatkan berbagai pilihan rasa lainnya, seperti rasa coklat, nanas, durian dan nangka. Yang jelas, semua pilihan rasa tidak menggunakan pengawet.

Pengunjung bisa memilih khusus satu pilihan rasa, atau campuran semua pilihan rasa. Kemasannya berupa besek dengan masing-masing pilihan ukurannya. Meskipun tidak mengguanakan pengawet, getuk goreng diklaim dapat bertahan sampai sepuluh hari.

Seiring dengan pergeseran bisnisnya, kios getuk goreng Haji Tohirin kini juga berfokus sebagai sentra oleh-oleh tradisional. Di sini dapat ditemukan juga aneka kudapan tradisional lainnya seperti nopia, keripik tempe, klanting, olahan buah carica, dan lain sebagainya.

Getuk goreng Haji Tohirin buka dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Karena kios aslinya kerap ramai pengunjung, khususnya pada akhir pekan dan hari libur, maka tak ada salahnya pula sesekali mampir ke cabang-cabangnya, yang terkadang juga buka sedikit lebih awal.

Getuk Goreng Haji Tohirin (Asli)

Jl. Jend. Sudirman no. 151, Sokaraja, Banyumas

Telp. (0281) 6441216

Instagram @getukgoreng.aslihajitohirin

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Brongkos Handayani Yogya, Sedapnya Sejak 1975

Brongkos Handayani Yogya menjadi salah satu kuliner yang diburu saat wisatawan datang ke kota pelajar ini. Ia menjadi alternatif masakan jika bosan dengan gudeg atau bakmi Jawa.

Brongkos Handayani Yogya

Sesungguhnya brongkos di kawasan Yogyakarta tak cuma Handayani, tempat terkenal lainnya ada di pinggiran Kali Krasak, di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. DI sana ada brongkos Warung Ijo Ibu Padmo. Tapi kali ini kita cicipi dulu Handayani.

Lokasi warung makan Brongkos Handayani gampang dicari. Pertama-tama kita menuju Alun-Alun Kidul, atau Alun-Alun Selatan, orang Yogya biasa menyebut Alkid. Dari alun-alun ini, tinggal menuju ke arah Plengkung Gading, ini adalah bangunan serupa terowongan kecil di selatannya. Tapi jangan terlalu jauh, sebab lokasi Handayani ada di gerbang keluar alun-alun. Nempel ke dinding alun-alun.

Saat ini, brongkos Handayani bolehlah disebut salah satu kuliner legendaris Yogyakarta. Mungkin karena ia berjualan di sekitar tempat yang ramai dikunjungi. Alun-alun Kidul Yogyakarta memang tidak pernah sepi.

Warung ini menjadi kuliner klangenan karena pemiliknya sudah mulai berjualan sejak tahun 1975. Ya, 45 tahun yang lalu Adijo, sang pemilik kedai ini, mulai membuka warungnya di sini. Awalnya Adijo berjualan es campur dengan cara berkeliling. Itu dilakukannya sekitar tahun 1960-an. Ketika mulai berjualan dengan membuka warung di selatan Alun-alun Kidul, ia melengkapinya dengan berjualan brongkos.

Usaha kuliner yang sudah berjalan sekitar 45 tahun ini saat ini dilanjutkan anak-anak Adijo dan istrinya Saridjem. Tidak ada yang berubah dari resepnya. Konon salah satu rahasia yang dimiliki brongkos Handayani adalah menggunakan 16 macam bumbu.

Lalu sebenarnya, apa sih brongkos itu? Brongkos jelas masakan yang lezat. Jika dilihat sekilas tampilan brongkos mirip dengan rawon, namun ada perbedaan mendasar dari kedua masakan tersebut, yakni jika kuah kentalnya brongkos menggunakan santan, sementara rawon tidak memakai. Kemiripan warna kuah ke dua masakan muncul karena keduanya menggunakan kluwek.

Selain itu, secara tipis ada rasa yang manis menjadi cirikhas masakan Jawa, khususnya Yogyakarta. Bagi Masyarakat Jawa masakan ini biasa disebut “Jangan Brongkos”. “Jangan” di sini adalah bahasa Jawa untuk “sayur”. Menurut sejarahnya, brongkos berasal dari bahasa Inggris, Brown Horst yang artinya daging cokelat. Namun karena penyebutannya susah, di lidah orang Jawa ia menjadi brongkos.

Tidak ada catatan pasti kapan masakan ini masuk dalam daftar kulinari Jawa atau Yogya. Dugaan sementara, ia masuk bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda ke Yogyakarta. Dugaan lain, ia justru dibawa oleh para bangsawan Jawa yang bersekolah ke Eropa.

Yang jelas, masakan ini sudah menjadi menu sarapan orang-orang Jawa zaman dulu. Di kota gudeg itu sendiri cukup jarang rumah makan yang menjual menu brongkos. Bisa jadi karena dulunya brongkos hanya disajikan untuk kaum ningrat. Mengapa? Bahan baku brongkos yang menggunakan daging sapi membuat hanya kaum bangsawan saja yang mampu menikmatinya. Namun seiring perkembangan, ada beberapa tempat makan ataupun warung yang menyediakan brongkos sebagai menu yang bisa dinikmati.

Selain daging, brongkos biasanya berisi kulit melinjo dan kacang tolo. Daging sapi yang dipilih biasanya yang cukup banyak mengandung lemak, atau dalam bahasa Jawa disebut koyor. Bagi mereka yang tidak terlalu menyukai daging sapi, terlebih yang berlemak atau gajih, beberapa tempat makan menyediakan penggantinya seperti tahu atau telur ayam rebus.

Kuah brongkos yang berwarna cokelat cenderung terasa manis, namun juga muncul rasa gurih yang berasal dari santan. Tak perlu khawatir jika Anda penikmat makanan pedas, sebab sepiring brongkos biasanya dilengkapi cabai rawit utuh yang bisa digerus dan menambah sensasi pedas.

Meskipun brongkos sering diasosiasikan dengan Yogyakarta, semur daging dan kacang pedas ini cukup marak dalam tradisi Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah daerah di wilayah ini, seperti Demak, Solo, atau Magelang juga mempunyai masakan brongkos. Tentu dengan versi dan keistimewaannya masing-masing.

Di Handayani, bahkan kita bisa meminta ekstra cabe rawit jika benar-benar ingin merasakan pedas. Di warung ini, biasanya orang memilih menu Brongkos Koyor. Ini artinya menu lengkap: nasi, brongkos dengan daging, telur ayam, dan tahu. Tapi seperti disebut di atas, bisa saja pengunjung hanya memilih daging saja tanpa telur. Atau sebaliknya, hanya telur.

Selain brongkos, warung ini juga menyediakan menu lain, meski tak terlalu favorit, yakni soto ayam dan pecel. Begitupun, apa pun masakan yang dipilih, biasanya pengunjung melengkapinya dengan memesan minuman es campur. Ini cukup khas warung makan ini. Ingat bukan, pemilik warung ini dulunya berjualan es? Bentuknya sederhana: sirup merah dengan kelapa muda dan tape singkong lalu disiram air santan encer dan es batu.

Brongkos dan masakan tradisional lainnya, adalah warisan kuliner Indonesia yang patut terus diapresiasi. Sesekali cobalah mampir ke Handayani dan menikmati brongkosnya. Atau, kalau pas main ke warung ini dan sedang kenyang, bisa membeli brongkos dalam kaleng. Handayani boleh disebut pelopor brongkos dalam kaleng. Menarik bukan?

agendaIndonesia

*****

Kain Songket Palembang, Kisah 71 Motif Tradisional

Kain Songket Palembang shutterstock

Kain songket Palembang menjadi salah satu kain tradisional yang seakan wajib dikoleksi oleh orang Indonesia. Banyak yang memburunya jika tengah berkunjung ke ibukota Sumatera Selatan itu. Diburu meskipun harganya hingga puluhan bahkan konon ratusan juta.

Kain Songket Palembang

Songket adalah sejenis kain tenun tradisional Melayu di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam. Ia bisa digolongkan dalam model tenunan brokat, yakni ditenun menggunakan tangan dengan benang emas dan perak. Benang logam yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau.

Kain songket umumnya merupakan kain tenun mewah yang dikenakan saat resepsi, perayaan, atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak, yakni hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi dari kain songket yang lazim dipakai sultan dan pangeran serta bangsawa kesultanan melayu.

Secara tradisional dan dari sejarah Indonesia, kain songket yang berkilau keemasan itu senantiasa dikaitkan dengan kegemilangan Sriwijaya. Kerajaan maritim terbesar di Indonesia pada abad ke-7 hingga ke-13 dan berpusat di sekitar Sumatera Selatan. Mungkin itu sebabnya, pusat kerajinan songket paling terkenal di Indonesia adalah kota Palembang. 

Pada awalnya, songket adalah kain mewah yang secara origin memang memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas. Benang ini kemudian ditenun dengan tangan menjadi kain.

Kata songket secara bahasa berasal dari istilah sungkit, sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang artinya mengait atau mencungkil. Pada proses pembuatannya, songket memang menggunakan cara mengaitkan dan mengambil sejumput benang, dan kemudian menyelipkan benang emas. 

Pada bahasan lain, ada pula yang menyebut jika kata songket kemungkinan berasal dari kata songka atau songko atau peci khas Palembang. Songko ini dipercaya sebagai produk atau barang pertama yang tenunannya menggunakan benang emas.

Dari cerita rakyat Palembang yang dikisahkan turun-temurun, songket adalah perpaduan dari tiga hal, yakni kain sutra yang dibawa pedagang Tiongkok dan mampir ke Sriwijaya; emas yang dibawa pedagang India dan Timur Tengah, dan kemahiran orang Melayu dalam menenun.

Kain songket Palembang memiliki ciri khas pada motifnya dan itu terlihat cukup lebih rumit. Karena itu, untuk menghasilkan selembar kain songket Palembang, seorang pengrajin bahkan bisa menghabiskan waktu tiga bulan untuk pengerjaannya.

Pembuatan songket Palembang biasanya menggunakan bahan baku benang sutera asli. Benang ini biasanya berwarna putih sebelum diberi lapisan emas. Benang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat tenun bingkai Melayu yang biasa disebut dengan istilah dayan.

Kain Songket Palembang proses pembuatannya
Proses pembuatan kain songket Palembang.

Semua bagian dayan, yaitu cagak dan beliro, mempunyai fungsi masing-masing untuk menarik benang, untuk kemudian diganti benang yang lain. Begitu seterusnya hingga benang-benang yang ada menjadi satu kesatuan membentuk motif pada kain songket.

Biasanya, satu lembar songket dikerjakan oleh satu orang. Penyebabnya, pembuatnya harus hapal urutan tarikan benang. Jika tidak, meskipun kainnya tetap bisa selesai, namun bentuk motif-motif di dalam kain songketnya menjadi tidak sempurna. Tentu menjadi merepotkan, sebab beberapa kain songket tradisional sumatera memiliki pola yang mengandung makna tertentu.

Songket harus melalui delapan tahapan sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Dan songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia diukur dari segi kualitas dan tampilannya, karena itu ia sering disebut sebagai Ratu Segala Kain.

Dahulunya para penenun songket umumnya berasal dari desa atau pedalaman, karena itu tidak mengherankan jika motif-motif kainnya dipolakan dengan flora dan fauna lokal. Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti sarikaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan kegemaran raja-raja.

Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan tersebut. Misalnya, motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.

Hal yang mungkin harus menjadi perhatian adalah, beberapa pemerintah daerah telah mendaftarkan hak intelektual motif songket tradisional mereka. Sayangnya, dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar.

Saat ini, songket yang dijual tidak melulu dalam bentuk kain bentangan, tapi tak sedikit yang sudah teraplikasi dalam berbagai produk fashion, seperti pakaian, selendang, maupun kerudung. Adakah songket dalam koleksi kainmu?

agendaIndonesia

*****

Coto Makassar, Sejarah Dan 6 Yang Terenak

Coto Makassar adalah kuliner wajib ketika mengunjungi ibukota Sulawesi Selatan.

Coto Makassar sudah pasti mudah ditebak adalah makanan tradisional dari ibukota Sulawesi Selatan itu. Rasanya sebagian besar wisatawan nusantara familiar dengan masakan berkuah ini.

Coto Makassar

Setiap wisatawan yang datang ke Makassar, salah satu agenda kunjungannya adalah mencicipi coto. Ada yang langsung datang ke gerai atau warung terkenal, ada yang ke tempat yang menjualnya secara random. Maklum menu ini banyak ditemui di jalan-jalan protokol, bahkan di pusat perbelanjaaan.

Masakan tradisional khas Makassar ini sudah ada sejak Kerajaan Gowa masih berdiri. Kala itu kerajaan ini berpusat di Sombaopu sekitar1538 masehi, posisi wilayahnya ada di selatan kota Makassar.

Pelabuhan Paotore Makassar shutterstock
Pelabuhan Paotere di Makassar. Foto: shutterstock

Pada mulanya, coto merupakan hidangan khusus bagi kalangan istana Kerajaan Gowa. Ketika ada tamu istimewa atau ritual adat, coto akan menjadi hidangannya.

Namun ada pula cerita yang mengatakan bahwa coto justru dikreasikan oleh rakyat biasa dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi hari.

Dalam catatan sejarah yang dikutip dari arsip pemerintah kota Makassar, pada abad 16, hidangan coto Makassar sebagai kuliner khas juga mendapat pengaruh dari kuliner Cina yang telah ada saat itu. Hal ini dapat dilihat dari jenis sambal yang digunakan, yakni sambal tauco sebagai salah satu identitasnya.

Kelezatan yang memanjakan lidah ketika menikmati hidangan coto tidak terlepas dari pengolaaan berbagai jenis bumbu yang digunakan. Coto memiliki cita rasa tinggi karena memiliki bumbu segudang rempah.


Tidak tanggung-tanggung, dalam meramu jenis bumbu yang digunakan pada coto Makassar ini dilakukan pencampuran 40 jenis bumbu lokal (rampa patang pulo). Ini terdiri kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sereh yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seledri, daun perei, lombok merah, lombok hijau, gula tala, asam, kayu manis, garam, pepaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jeroan.

Semangkok Coto Makassar shutterstock

Rasa dan aroma khas yang dihasilkan oleh bumbu pada hidangan coto Makassar ini juga berfungsi sebagai penawar zat yang terdapat dalam hati, babat, jantung, dan limpah yang banyak mengandung kolesterol.

Coto sekilas seperti sup daging ini memang masakan berupa rebusan jeroan bercampur daging sapi yang diiris-iris lalu dibumbui dengan racikan bumbu khusus. Coto Makassar memiliki cita rasa gurih yang berasal dari rebusan daging, jeroan, dan rempah-rempah.

Coto biasa dinikmati dengan ketupat yang dibungkus dengan daun kelapa dan buras atau burasa, yaitu sejenis ketupat yang dibungkus daun pisang. Burasa terbuat dari beras yang dicampur santan dan diberi sedikit garam, lalu dibungkus dengan daun pisang dan diikat secara khusus kemudian dikukus.
Lalu dari begitu banyak warung makan yang menawarkan coto Makassar di kota angin mamiri ini, manakah yang layak dijadikan pilihan utama untuk dicicipi?

Coto Makassar dan Buras shutterstock
Coto Makassar biasanya disaantap dengan buras. Foto: shutterstock

Coto Nusantara 1

Kedai ini buka dari pukul 07.00-17.00 WITA dan merupakan tempat makan coto enak paling terkenal di Makassar. Di sini wisatawan bisa menikmati coto dengan harga sekitar Rp 25 ribu belum termasuk PPN, dan bisa memilih coto isi daging saja atau campur dengan jeroan.
Coto Nusantara 1; Jalan Nusantara Baru Nomor 42, Ende, Wajo, Makassar
Aroma Coto Gagak

Meskipun Namanya membawa nama gagak, tak berarti mereka menggunakan bahan daging burung gagak. Bernama demikian karena warung ini berada di jalan Gagak. Keistimewaan kedai ini, selain rasanya memang enak, mereka buka 24 jam. 

Aroma Coto Gagak merupakan tempat makan coto legendaris di Makassar yang punya menu coto dengan harga Rp 30 ribu per porsinya. pengunjung juga bisa membeli bumbu coto gagak untuk dibawa pulang dengan jumlah per kilogram.
Aroma Coto Gagak, Jalan Gagak Nomor 27, Mariso, Kota Makassar.
Coto Daeng Sirua

Kedai ini buka secara ‘normal’, yakni dari pukul 08.00-20.00 WITA. Satu porsi menu coto ini dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per mangkuknya. pengunjung bisa tambah ketupat dengan harga Rp 2 ribu.
Coto Daeng Sirua, Jalan Abdullah Daeng Sirua Nomor 10, Panakkukang, Makassar.

Coto Paraikatte

Kedai ini buka lebih pagi yakni pukul 7 dan tutup menjelang tengah malam, 23 WITA. Ada menu Coto dengan harga Rp 18 ribu atau sekitar Rp 12 ribu untuk paket hematnya. Tambah degan ketupat pandan hanya Rp 2 ribu.
Coto Paraikatte, Jalan A. P. Pettarani Nomor 125, Rappocini, Makassar.
Coto Maros

Hidangan coto di kedai ini mulai dijajakan dari pukul 08.00-00.00 WITA. Coto kuah kental ini punya isian daging yang banyak. Harga per mangkuk coto sekitar Rp 23 ribu. Wisatawan bisa menikmatinya dengan es kelapa.
Coto Maros, Jalan Urip Sumoharjo, Maccini, Makassar

Coto Bagadang Fly Over

berada di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Sinrijala, Panakkukang, Kota Makassar. Buka dari pukul 07.00-02.00 WITA. Ada satu porsi menu Coto dengan harga Rp 17 ribu, namun jika ingin membawa pulang harganya menjadi Rp 20 ribu.
Coto Bagadang Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Panakkukang, Makassar


Manapun yang mau dipilih untuk disantap, semuanya enak.

agendaIndonesia

*****

Sate Bandeng, Jejak Kuliner Kesultanan Banten Di Abad 16

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.

Sate bandeng menjadi salah satu makanan yang paling sering diburu untuk dimakan di tempat dan menjadi oleh-oleh dari perjalanan ke Serang, Provinsi Banten. Kuliner ini menjadi alternatif bagi pecinta bandeng, selain model presto khas Juwana, Jawa Tengah.

Sate Bandeng

Sate bandeng sepertinya kisah sederhana, cerita tentang makanan yang tumbuh di suatu daerah. Namun nyatanya tak demikian. Masakan ini memiliki jejak sejarah yang panjang. Dimulai pada abad 16.

Adalah Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang menjadi titik awal lahirnya sate Banten. Tentu, bukan ia yang menciptakan, namun berkat permintaannya ke dapur kraton-lah, sate ini ‘tercipta’.

Sultan Maulana sendiri adalah salah seorang putera dari Syarif Hidayatullah, raja atau sunan di Kasunanan Cirebon. Pada saatnya, Sunan Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Sanga, saat menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa Barat.

Maulana, sebagai putera Sunan Syarif Hidayatullah, ikut membantu Kesultanan Demak ketika menyerang Sunda Kelapa. Dari sana, ia memperluas kekuasaan Kasunanan Cirebon ke arah barat, dan kemudian menjadi Sultan atau Sunan ketika Banten menjadi kerajaan sendiri. Maulana Hasanuddin memerintah Banten dari 1522 hingga 1570.

Sebagai daerah pesisir, Banten memiliki hasil laut dan perairan yang cukup melimpah. Salah satunya bandeng. Namun ikan jenis yang satu ini punya banyak sekali duri. Dari yang besar hingga yang sangat halus. Ini menjadi soal tersendiri bagi dapur istana jika menyajikan masakan berbahan bandeng. Konon cukup sering anggota keluarga Kesultanan yang punya masalah dengan duri bandeng ini.

Juru masak kerajaan pun kebingungan. Di satu sisi, keluarga kesultanan menyukai masakan berbahan bandeng, namun di sisi lain Sultan tidak menyukai jika keluarganya mengalami masalah dengan duri. Sang juru masak pun pun memutar otak untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan duri yang tertanam di daging bandeng.

Berbagai cara pun dicoba sang juru masak. Sampai suatu ketika ia mendapatkan cara untuk mengeluarkan duri dari badan ikan. Rupanya, sang juru masak memukul-mukul badan ikan hingga dagingnya hancur dan terpisah dari kulitnya. Daging yang telah hancur itu kemudian dikeluarkan dengan cara mencabut tulang dari bagian insangnya atau bawah kepala. Hal tersebut untuk membuang duri-duri halus yang terkandung dalam ikan.

Daging ikan yang ikut keluar kemudian dicampur dengan santan dan bumbu rempah tertentu. Setelah itu, melihat kulit ikan yang masih utuh, daging yang telah berbumbu itu dimasukan lagi ke dalamnya. Kulit ikan bandeng yang keras membuat ikan terlihat seperti utuh kembali. Setelah itu ikan pun dibakar. Untuk menguatkan bentuk ikan, dipakailah bilah bambu untuk tusukan atau pegangan ketika membakarnya. Tusukan bambu inilah yang kemudian menyebutnya sebagai sate bandeng.

Selamatlah sang juru masak. Masakan bandeng bisa dinikmati keluarga kerajaan, dan mereka aman dari duri. Masakan ini bahkan kemudian menjadi andalan bagi kesultanan ketika menjamu tamu-tamunya. Bertahun-tahun kemudian sate bandeng pun keluar tembok istana dan menjadi makanan khas masyarakat Banten.

Saat ini sate bandeng telah tumbuh menjadi industri rumahan di Serang yang berkembang dengan pesat. Ada puluhan toko atau kedai yang menyajikan olahan ikan ini yang dapat dikonsumsi secara langsung di tempat atau untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Biasanya sate ini akan dibuat pada hari yang sama dan harus habis saat itu juga karena tidak tidak memakai pengawet.

Untuk dapat menikmati sate bandeng, saat ini sudah banyak tempat yang menjualnya di Serang, Banten. Pengunjung dari luar kota ini, bahkan dapat menemuinya begitu keluar dari tol Jakarta-Serang. Ada deretan toko oleh-oleh yang menjualnya. Tetapi, jika ada yang penasaran dan ingin membelinya langsung di tempat produksinya, ada tiga produsen sate bandeng yang terkenal di Serang.

Sate Bandeng Hj. Maryam

Sate bandeng yang dulu dikelola Hj. Maryam ini termasuk legenda di Serang karena sudah mulai memproduksinya sejak 1970. Saat ini, pengelola dari sate bandeng ini adalah cucu dari ibu Hj. Maryam dan anaknya. Semua resep yang dipakai sejak dahulu tetap sama dan tidak berubah.

Pusat pembuatannya cukup dekat dengan alun-alun kota Serang, yakni di Jalan Ki Uju Nomor 63, Kaujon Tengah, Kecamatan Serang. Di tempat ini pengunjung bisa memilih dua rasa sate bandeng, yang pedas atau yang manis. Mereka buka mulai dari jam 7 pagi hingga 10 malam.

Sate Bandeng Bu Amenah

Sate Bandeng Bu Amenah lebih banyak dipasarkan secara daring atau online. Sate yang ditawarkan Bu Amenah ini memiliki cita rasa yang nikmat dan antiduri halus. Sate produksi tempat ini bisa tahan selama satu atau dua hari kalau berada di luar kulkas dan satu atau dua minggu kalau di dalam kulkas sebelum digoreng.

Jika tidak ingin memesan online dan ingin datang langsung, lokasi pembuatan sate bandeng Bu Amenah ada di Jalan Syabulu KM 1, Lingkungan Dalung Nomor 11, Kecamatan Cipokok Jaya. Ia buka dari jam 7 pagi hingga 9 malam.


Sate Bandeng Ibu Aliyah

Ini adalah pilihan sate bandeng lainnya. Tempat produksinya di Jalan Lopang Gede III nomor 7, Kecamatan Serang. Tempat ini buka dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam.

Sate Bandeng Kang Agus

Sate Bandeng Kang Agus juga oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Serang. Sayangnya lokasi dari tempat oleh-oleh ini sering berpindah. Agar bisa mendapatkan sate bandeng buatan Kang Agus, wisatawan bisanya membeli secara online dan akan diantar oleh kurir ke penginapan atau tempat yang disepakati.

Sudah pernah menikmati sate bandeng khas Banten? Ayo agendakan kuliner sate bandeng ini kapan-kapan….

agendaIndonesia

*****

Pulau Weh, Mengunjungi Indonesia di Titik 0

Dari Sabang hingga Takengon bisa dilakukan dalam waktu 5 hari.

Pulau Weh atau pulau We mungkin banyak anak milenial yang kurang mengetahuinya. Tapi kalau kita menyebut satu-satunya kota di atas pulau ini, yakni Sabang, mungkin mereka akan segera tahu, ini pulau paling barat dari Indonesia.

Pulau Weh

Orang Indonesia biasanya memang lebih mengerti Sabang daripada pulau Weh. Sabang adalah simbol ujung barat dari deret kepulauan Nusantara, dengan simbol ujung timurnya di Merauke. Ya, bila Indonesia diibaratkan sebuah deret aritmatika, Sabang dan pulau Weh adalah bilangan paling awal, bilangan 0.

Karena itu mengunjungi titik 0 Indonesia, yang ditandai dengan tugu Kilometer 0, tentu menjadi cerita yang seru. Apalagi jika wisatawan bisa mendapatkan sertifikat” Kilometer 0” yang ditandatangani Walikota Sabang.

Tugu Kilometer 0 itu lokasinya kurang lebih 29 kilomter dari pusat kota Sabang, dengan waktu tempuh ksekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor. Tugu setinggi 20 meter itu berwarna krem dan merah muda dengan lambang Garuda yang sedang menggengam angka 0 di puncaknya.

Pulau Weh sendiri berada di ujung utara pulau Sumatera dan menjadi bagian dari Daerah Istimewa Aceh. Ia terbentuk akibat letusan gunung berapi pada zaman pleistosen, letusan yang menyebabkan daratan Weh terpisah dari daratan Sumatera. Pulau ini terletak di Laut Andaman.

Karena terbentuk karena letusan gunung berapi, menyebabkan masih banyak ditemukan batuan-batuan vulkani di pulau ini. Ini juga berpengaruh pada kesuburan tanahnya. Sebagian tutupan hutan hijau yang masih utuh dapat dijumpai di bagian barat pulau ini. Dan, meskipun hanya kecil dengan luas sekitar 120-an kilometer persegi, pulau Weh memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter

Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer. Dari Banda Aceh, jarak Sabang sekitar 32 kilometer. Menuju Sabang bukan hal sulit, ini bisa dicapai dengan perjalanan laut dari Banda Aceh. Ada dua jenis kapal yang bisa mengantar ke Sabang, pertama kapal cepat yang menempuh perjalanan selama 30 menit harga tiketnya Rp 60 ribu per orang. Pengunjung juga bisa memilih kapal reguler, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama, yakni sekitar dua jam. Harganya tiketnya lebih murah, yakni Rp 23 ribu per orang.

Sejumlah teman menyarankan, tidak ada salahnya jika memilih kapal yang lebih lambat. Sebab, kadang jika beruntung penumpang kapal reguler ini mendapatkan tontonan menarik. Selain disuguhi pemandangan laut yang indah, dalam perjalanan penumpang bisa melihat lumba-lumba berlompatan di permukaan laut, mereka seakan mengiringi perjalanan itu.

Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh, yakni Pulau Klah, Rubiah, Seulako, dan pulau Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah yang paling terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya yang indah.

Pulau Rubiah berada di teluk di muka kota Sabang. Konon namanya diambil dari nama seorang perempuan, Cut Nyak Rubiah, yang makamnya ditemukan di pulau tersebut. Akses menuju pulau Rubiah adalah melalui Pantai Iboih atau yang nama lokalnya Teupin Layeu di kota Sabang. Waktu tempuh menuju Rubiah sekitar 5-10 menit dengan perahu motor dari Iboih.

Perairan di seputar pantai Iboih dan pulau Rubiah memang diperuntukkan untuk pariwisata. Penangkapan ikan secara masif dilarang di perairan ini, karena dianggap dapat merusak terumbu karang. Perairan bawah air di kawasan ini konon disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di Sumatera.

Jika tidak berminat menyelam, pengunjung bisa snorkling dan mengamati kecantikan laut dari permukaan. Ada banyak menjumpai kumpulan ikan (schooling fish) yang berenang di seputaran terumbu karang. Biaya menyewa peralatan snorkling di Iboih atau Rubiah sekitar Rp 40 ribu. Sedang tarif untuk satu kali menyelam Rp 400 ribu.

Bilapun tak ingin menyeberang ke Rubiah, pengunjung bisa menikmati pantai Iboih atau pantai Teupin Layee. Suasana pantainya asri dengan panorama yang indah. Warung makan, toko pakaian, dan kedai kopi mudah ditemukan di sini. Wisatawan pun bisa menikmati ikan hias dan terumbu karang dengan menggunakan perahu kaca di seputar pantai.

Pilihan wisata lain adalah pantai Anoi Itam di sisi selatan Pulau Weh, butuh waktu sekitar 30 menit dari Sabang dengan motor motor. Keistimewaan pantai ini pada pasirnya yang hitam. Dalam bahasa Aceh, Anoi Itam berarti pasir hitam. Salah satu hal menarik di pantai ini adalah adanya Benteng Anoi Itam. Benteng ini adalah salah satu tempat yang menjadi pertahanan serdadu Jepang saat mereka masuk Sabang. 

Dari benteng tersebut, wisatawan juga bisa melihat hamparan laut berwarna biru kehijauan yang memukau. Di titik ini, wisatawan juga bisa melakukan pemotretan dengan latar Gunung Seulawah Agam yang menjulang kokoh di kejauhan di daratan Aceh.

Tapi terlepas dari apapun yang memang asyik itu, berkunjung ke titik Kilometer 0 Indonesia adalah pengalaman yang luar biasa. Ayo agendakan kunjunganmu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Damar Langit Bogor, Makan Nginap 1 Tempat

Damar Langit Bogor baru berumur setahun namun sudah menjadi pilihan liburan kekinian.

Damar Langit Bogor atau tepatnya Damar Langit Dining and Resort adalah salah satu alternatif spot wisata dan liburan kekinian di kawasan Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Menjual daya tarik seperti pemandangan indah nan asri serta iklim yang sejuk, tempat dengan konsep open space ini tengah naik daun dan ramai dikunjungi.

Damar Langit Bogor

Baru mulai berdiri dan beroperasi sejak 19 Juni 2021 lalu, tempat ini mendapat sambutan positif dan sedang populer bagi wisatawan yang memilih berlibur di area Bogor dan Puncak. Dari Bogor, jarak tempuh menuju tempat ini dengan mobil atau motor sekitar satu jam.

Utamanya tempat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin bersantai menikmati alam sambil bersantap siang atau malam bersama keluarga, teman dan orang-orang terdekat. Atau bagi mereka yang ingin mencari suasana berbeda dengan spot berfoto yang indah.

Damar Langit Bogor memiliki pemandangan dua gunung, Gunung Salak dan Pangrango
Salah satu alasan memilih tempat ini adalah pemandangannya yang luar biasa. Foto: DOk. Damar Langit

Pemandangan alam di sini memang menjadi nilai plus utama dari tempat ini. Di sini anda dapat menikmati panorama dua gunung, yakni gunung Salak dan Gede Pangrango yang dikelilingi area perbukitan yang menghampar hijau, dan kelip cahaya kota Bogor yang menghiasi di malam hari.

Anda bisa menikmati pemandangan serta suasana asri tersebut dalam tiga pilihan area, yaitu indoor, semi outdoor dan outdoor. Biasanya, kebanyakan pengunjung lebih menyukai area outdoor, di mana tersedia beberapa tempat lesehan di tengah lahan rumput hijau.

Terdapat pula fasilitas kolam renang bagi yang ingin menikmati nuansa alam yang sejuk sambil berenang. Kolam renang ini terbuka untuk umum dan untuk dapat masuk pengunjung akan dikenakan tarif tiket sebesar Rp 50 ribu.

Damar Langit Bogor juga menawarkan beragam jenis makanan dan minuman untuk disantap sambil bersantai. Dari masakan lokal Indonesia seperti ayam Taliwang hingga menu-menu mancanegara seperti seafood tom yum dan chicken quesadilla tersedia di sini.

Damar Langit Bogor minuman
Salah satu minuman unggulan di Damar Langit Bogor. Foto: dok. Damar Langit

Namun perlu dicatat bahwa harga makanan di sini tergolong agak premium, yang berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu. Pilihan minumannya pun dihargai sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu, dengan pilihan seperti fresh juice, fruity ginger tea dan kopi kacang hijau.

Sebagai spot wisata kekinian, Damar Langit Bogor juga menyediakan fasilitas staycation berupa glamping alias glamour camping yang belakangan tengah marak. Nama glamping sendiri merujuk pada kegiatan pelesir mirip berkemah yang dilakukan dengan fasilitas lebih memadai.

Alih-alih menggunakan kemah, di tempat ini disediakan beberapa dome yang sudah dilengkapi dengan fasilitas seperti TV, kamar mandi dengan pancuran, kulkas, wi-fi dan sebagainya. Untuk menuju dome ini, pengunjung perlu membawa mobil atau dengan fasilitas shuttle car yang disediakan.

Tarif dome-dome tersebut dihargai Rp 1,5 juta per malam pada saat weekdays dan Rp 1,8 juta per malam kala weekend. Cocok bagi anda yang ingin menikmati pengalaman serasa berkemah tapi tanpa perlu merasakan kesulitan serta keterbatasan yang lazimnya dialami saat berkemah.

Atau kalau anda hanya membutuhkan fasilitas staycation seperti pada umumnya, Damar Langit Bogor juga menyediakan beberapa vila-vila. Setiap vila dapat menampung setidaknya empat orang, plus satu orang dengan tambahan extra bed.

Selain itu, vila-vila tersebut juga dilengkapi teras yang cukup besar dan nyaman untuk menikmati pemandangan. Tarif sewa vila ini harganya Rp 3,5 juta per malam ketika weekdays dan Rp 4 juta per malam pada weekend.

Yang perlu dicatat, jika anda menginap baik di dome maupun vila, anda akan mendapatkan akses khusus untuk ke kolam renang secara gratis. Anda juga dapat memesan menu-menu makanan dan minuman yang akan diantarkan ke dome atau vila tempat anda menginap.

Sebagai info, menu sarapan tersedia dari jam 07.00 sampai 11.00, sedangkan menu makan siang mulai dari jam 12.00 hingga jam 15.00. Adapun menu untuk makan malam disediakan dari jam 18.00 sampai jam 23.00.

Detail lainnya, tarif seperti tiket masuk kolam renang berlaku untuk usia 17 tahun ke atas. Yang juga tak boleh dilupakan, setiap penginapan baik dome maupun vila adalah penginapan bebas rokok, tetapi disediakan area khusus untuk merokok.

Lain dari itu, akses menuju tempat ini dapat dilalui oleh mobil maupun motor, dengan fasilitas tempat parkir juga tersedia. Namun jalur yang dilalui tergolong agak sempit dan cukup curam, sehingga pengunjung perlu berhati-hati, terlebih saat weekend atau hari libur yang lebih padat.

Damar Langit Dining and Resort buka setiap hari dari jam 10.00 hingga 21.00 pada weekdays dan dari jam 10.00 hingga 22.00 saat weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0251) 8295404, (0251) 8260424, atau kunjungi situs resmi www.damar-langit.com dan laman Instagram resmi @damarlangitresort.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

5 Kedai Pempek Paling Direkomendasi

Ini dia 5 kedai pempek paling direkomendasi di Palembang. Foto: shutterstock

Berikut ini 5 kedai pempek paling direkomendasi kala berkunjung ke Palembang. Tentu saja, sudah jadi pengetahuan umum jika pempek sangat identik dengan ibu kota provinsi Sumatera Selatan tersebut. Bahkan sehari-harinya pun warganya menyantap pempek layaknya makanan pokok. Tak hanya itu, pempek juga menjadi pilihan utama penganan oleh-oleh bagi wisatawan, yang rela membawa pulang boks-boks pempek mentahan. Ini adalah 5 kedai pempek paling direkomendasi yang paling terkenal dan legendaris.

Jembatan Ampera Palembang shutterstock
banyak pilihan makan pempek, berikut 5 kedai pempek paling direkomendasi. Foto jembatan Ampera, shutterstock

5 Kedai Pempek Paling Direkomendasi

  1. Kampung Pempek 26 Ilir

Bagi yang ingin mencari pempek berharga terjangkau dengan cita rasa yang tak kalah enak dengan pempek bermerek terkenal, Kampung Pempek 26 Ilir menjadi pilihannya. Sentra penjualan pempek paling ramai di Palembang ini dikenal dengan pempeknya yang murah meriah, bahkan menjadi salah satu lokasi favorit 5 kedai pempek paling direkomendasi warga setempat untuk nongkrong.

Berlokasi di jalan Mujahidin Nomor 26, tak jauh dari kantor Walikota Palembang, pengunjung langsung disambut dengan gapura penanda masuk area kampung pempek. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat berderet kedai-kedai pempek, dengan pemilik dan pramusajinya kerap menunggu di depan kedai sambil menyapa ramah pengunjung untuk mampir.

Jenis pempek yang umumnya ditemui di kedai-kedai tersebut terbilang cukup lengkap, mulai dari pempek kulit, pempek telur, pempek adaan, pempek lenjer ukuran besar dan kecil, dan pempek kapal selam. Yang unik, banyak dari jenis-jenis pempek ini yang harganya hanya sekitar Rp 1 ribu hingga 1,5 ribu per bijinya, sehingga pengunjung yang ingin makan di tempat tinggal memilih sesuai selera.

Selain membeli secara satuan, pengunjung juga dapat langsung memilih beberapa opsi paket yang sudah disediakan, khususnya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bergantung pada jumlah kombinasi pempeknya, harga per paket berkisar dari Rp 65 ribu sampai 320 ribu. Biasanya, kini tersedia paket pempek mentahan atau yang sudah dikemas secara vacuum.

Meski harganya bersahabat, tidak perlu khawatir dengan rasa dan kualitasnya. Semua kedai pempek di sini selalu menggunakan ikan yang setiap harinya selalu fresh dipasok dari pasar di sekitar area kampung tersebut. Ikannya pun tidak sembarangan, hanya ikan tenggiri, kakap dan gabus yang biasanya digunakan. Telurnya pun menggunakan telur bebek. Dan yang pasti, pempek di sini tak menggunakan bahan pengawet.

5 kedai Pempek paling direkomendasi di Palembang.
Salah satu kunci 5 kedai pempek paling direkomendasi di Palembang adalah cukonya. Foto: shutterstock

Semuanya dilakukan agar menjaga cita rasa yang sudah melegenda. Maka tak jarang Kampung Pempek 26 Ilir yang setiap harinya buka dari jam 07.30 sampai 22.00 senantiasa dipadati pengunjung, baik warga setempat yang ingin bersantai sambil menyantap pempek, maupun wisatawan yang sedang berburu pempek murah meriah untuk dibawa pulang.

  • Pempek Saga Sudi Mampir

Pempek Saga Sudi Mampir bisa dibilang merupakan salah satu dari 5 kedai pempek paling direkomendasi dan legendaris di Palembang. Telah berjualan pempek sejak 1961, ia masih menjadi satu dari beberapa kedai pempek yang paling sering direkomendasikan. Bahkan, kini terdapat 3 cabang di sekitar kota Palembang untuk melayani pengunjung yang masih banyak berdatangan.

Menu andalan yang unik dan berbeda dari yang lainnya menjadi satu alasan mengapa ia digemari banyak orang. Selain varian pempek pada umumnya, Pempek Saga Sudi Mampir juga memiliki dua menu primadona yang paling dicari dan laris manis, yakni pempek lenggang dan pempek panggang.

Pempek lenggang adalah jenis pempek yang terbuat dari telur bebek. Cara membuatnya dengan cara dipanggang dan dibungkus menggunakan daun pisang. Sedangkan pempek panggang merupakan pempek yang saat masih berupa adonan tidak lantas direbus, namun langsung dipanggang dan disajikan.

Selain menu tersebut, pilihan menu lain seperti tekwan dan es kacang merah juga cukup disukai pelanggannya. Harga makanannya berkisar dari Rp 5 ribu sampai 30 ribu. Bagi yang ingin membeli mentahan untuk oleh-oleh, tersedia juga pilhan paket yang rentang harganya dari Rp 120 ribu hingga 400 ribu.

Kedai aslinya berada di jalan Merdeka nomor 22, dimana pengunjung dapat melihat proses penyajian pempek di area dapur terbuka secara langsung. Namun kini tersedia pula dua cabang lainnya, yaitu di jalan Angkatan nomor 45 dan jalan Demang Lebar Daun nomor 47. Semua cabang buka dari jam 10.00 hingga 22.00.

Benteng Kuto Besak palembang shutterstock
Benteng Kuto Besak merupakan salah satu ikon kota Palembang. Foto: shutterstock
  • Pempek Ek Dempo 103

Kedai pempek legendaris lainnya untuk dikunjungi adalah Pempek Ek Dempo 103, yang terletak di jalan Lingkaran nomor 60/357E. Kedai ini juga sudah eksis cukup lama, satu dari 5 kedai pempek paling direkomendasi ini mulai berjualan dari 1982. Dan yang membuatnya unik dari kedai pempek lainnya adalah bahan bakunya yang menggunakan ikan belida.

Umumnya, penjaja pempek menggunakan bahan baku seperti ikan tenggiri yang cenderung lebih umum dan mudah ditemukan. Sementara ikan belida merupakan spesies ikan yang terbilang cukup sulit ditemukan dan jarang tersedia di pasaran. Bahkan, di beberapa tempat ikan belida sudah termasuk satwa langka yang dilindungi.

Namun, alasan kedai yang buka dari jam 08.00 hingga 18.00 ini bersikukuh menggunakan ikan belida sebagai bahan baku pempeknya bukan tanpa alasan. Disebutkan bahwa daging ikan belida mempunyai tekstur yang lebih halus dan empuk, serta memiliki cita rasa gurih tersendiri yang berbeda dari jenis ikan lainnya yang menjadi bahan baku pempek.

Cita rasa unik tersebut membuatnya punya tempat tersendiri di kalangan pecinta pempek. Namun, seperti kata pepatah – ada harga, ada rasa – keunikan tersebut juga membawa harga yang agak lebih premium. Rentang harga makanannya mulai dari Rp 8 ribu hingga Rp 80 ribu, sementara paket mentahan untuk dibawa pulang berkisar dari Rp 220 ribu hingga 1,320 juta.

  • Pempek Lenny

Satu lagi kedai pempek yang memiliki keunikannya sendiri adalah Pempek Leny, yang berada di jalan Petanang nomor 6875C. Kedai ini dikenal dengan ukuran pempeknya yang terbilang besar, serta cita rasanya yang cenderung terasa lebih renyah di bagian luarnya, dibanding dengan pempek kebanyakan.

Beberapa varian pempek yang tersedia pun cukup unik, seperti pempek kulit cripsy yang paling digemari pengunjung, atau pempek pistel yang merupakan varian pempek berbentuk mirip seperti pastel. Bedanya, isian di dalamnya adalah tumisan pepaya muda dan ebi kering yang sudah dibumbui.

Selain pempek, menu lain seperti tekwan, rujak mie dan lenggang goreng juga menarik untuk dicoba. Harga makanan berkisar dari Rp 5 ribu hingga 50 ribu, dengan pilihan paket oleh-oleh mulai dari Rp 100 ribu sampai 500 ribu. Yang menjadi catatan, Pempek Lenny tutup setiap hari Minggu dan buka dari Senin sampai Sabtu, dari jam 07.30 hingga 16.30.

  • Pempek Candy

Harus diakui bahwa dari sekian banyak kedai-kedai penjaja pempek di Palembang, Pempek Candy adalah yang paling tersohor, khususnya di kalangan wisatawan. Begitu populernya merek pempek ini, hingga cabang-cabangnya kini dengan mudah dapat ditemukan di berbagai sudut kota Palembang.

Seperti misalnya di jalan Tanjung Api-Api nomor 99, jalan Kapten Rivai nomor 402, jalan Demang Lebar Daun nomor 41, jalan Jenderal Sudirman nomor 149/8, jalan Letjen Harun Sohar nomor 99, jalan Rajawali nomor 550, dan beberapa cabang lainnya. Bahkan, kini terdapat pula kios di area ruang tunggu keberangkatan bandar udara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Maka jangan heran bila melihat pemandangan orang-orang di bandara yang beranjak pulang sambil membawa boks-boks dari Pempek Candy sebagai oleh-oleh. Entah itu paket ukuran kecil seharga Rp 100 ribu, hingga paket Rp 500 ribu yang paling besar, Pempek Candy seakan telah menjadi standar pempek Palembang yang paling disukai dan dicari.

Meski harus diakui pula bahwa cita rasa serta kualitasnya yang terus terjaga merupakan salah satu alasan mereka begitu populer. Begitu pula varian pempeknya yang terbilang cukup lengkap, mulai dari pempek kapal selam, pempek adaan, pempek lenjer besar dan potong, pempek telur, pempek kulit gepeng, pempek keriting, pempek lenggang goreng dan sebagainya.

Harga satuannya pun cukup moderat, mulai dari Rp 4 ribu hingga Rp 40 ribu. Cukonya juga disebut-sebut paling cocok dengan selera mayoritas orang. Tak heran jika semua hal tersebut membuatnya menjadi pempek paling laris di Bumi Sriwijaya. Setiap cabang Pempek Candy buka dari jam 06.30 hingga 22.00, untuk mengakomodasi banyaknya pengunjung setiap harinya.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Kopi Bajawa Flores, Dari Atas 1000 MDPL

Kopi Bajwa Flores menjadi salah satu jenis kopi terbaik di dunia.

Kopi Bajawa Flores telah disebut-sebut sebagai salah satu jenis kopi Arabica terbaik di dunia. Kenikmatan serta keunikannya telah tersohor sampai ke mancanegara, bahkan sampai belahan dunia barat seperti Eropa dan Amerika.

Kopi Bajawa Flores

Flores telah puluhan tahun dikenal sebagai lokasi budidaya sekaligus penyumbang ekspor kopi terbesar di Indonesia. Di kawasan perairan selatan Nusa Tenggara Timur ini terdapat dua jenis kopi yang cukup dikenal luas di kalangan pecinta kopi, yaitu Manggarai dan Bajawa.

Bajawa dinamai demikian karena perkebunannya terletak di kawasan kecamatan Bajawa. Konon nama ini berasal dari bahasa setempat yang terdiri dari dua kata, yaitu ‘bha’ yang berarti lembah dan ‘jawa’ yang berarti sejahtera.

Lokasinya memang berada di area dataran tinggi yang diapit oleh dua gunung berapi, Inerie dan Abulobo. Ketinggian tempat ini rata-rata berkisar antara 1.000 hingga 1.550 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tanah di sekitar area ini merupakan tanah andosol vulkanik yang amat subur.

Kopi Bajawa Flores menggunakan bibit kopiArabika dari Jember, Jawa Timur.
Buah kopi Arabika mulai matang di pohon. Foto: Dok, Unsplash

Budidaya kopi berjenis Arabica ini mulai digalakkan oleh pemerintah sejak tahun 1977. Awalnya, mereka menggunakan bibit kopi dari Jember, Jawa Timur. Karena lokasinya yang sesuai dan hasilnya bagus, maka perkebunan kopi ini terus dikembangkan hingga kini.

Kopi Arabica sendiri merupakan salah satu varian kopi yang populer, sekitar 60 persen dari populasi kopi di dunia. Dulunya populer karena merupakan salah satu komoditas utama pedagang dari Arab di abad ke-12. Mereka pun turut mempopulerkan minuman dan cara penyeduhan kopi ini.

Dalam khasanah kopi, Arabica terbilang jenis kopi yang paling spesial dan bernilai tinggi dari jenis kopi lainnya. Hal ini disebabkan oleh karakteristiknya yang unik antara satu jenis kopi Arabica dengan yang lainnya, tergantung dari tempat serta cara pembudidayannya.

Beberapa keunikannya meliputi jenis aroma serta cita rasanya yang berbeda-beda namun cenderung kuat. Kadar kafein di dalamnya pun tergolong rendah, sehingga cocok bagi anda yang menghindari kafein berlebih.

Kopi Arabica pada umumnya direkomendasikan untuk dibudidayakan pada daerah dataran tinggi yang sejuk. Dengan suhu rata-rata 15 sampai 25 derajat Celsius, ditambah tanah vulkanik di sekitar area pegunungan, membuat Flores begitu cocok untuk membudidayakan kopi ini.

Lokasi yang subur dan sejuk, ditambah curah hujan yang cukup tinggi, serta teknik budidaya kopi yang organik tanpa menggunakan pestisida, menjadikan hasil perkebunan kopi tersebut memiliki kualitas yang tinggi, dengan rasa yang unik pula.

Tingkat kapasitas produksi di perkebunan tersebut pun tergolong tinggi, bisa mencapai empat hingga lima kilogram dalam satu pohon. Terlebih pohon kopi di sini termasuk cepat tumbuh dan produktif menghasilkan kopi.

Kendati demikian, nyatanya harga kopi ini di pasaran bisa dibilang relatif lebih mahal dibanding jenis kopi lokal lainnya. Aroma serta rasanya yang unik memang menjadi daya tarik dan nilai jual yang begitu kuat bagi para penggemar kopi.

Lazimnya, beberapa ciri kesamaan dari berbagai jenis varian kopi Arabica adalah aromanya yang kuat, rasanya yang cenderung pahit, dengan body (kekentalan) yang tinggi. Selain itu, tingkat keasaman kopi jenis ini juga tergolong cukup tinggi dibandingkan varian kopi lainnya.

Kopi Bajawa Flores pada umumnya memiliki aroma karamel dan nutty yang amat kuat, dipadu dengan bau mirip tembakau yang unik dan jarang ditemui di jenis kopi lainnya. Selain itu, ia juga mempunyai tingkat body yang cukup tinggi.

Kopi Bajawa Flores menjadi salah satu andalan komoditas Flores dan Nusa Tenggara Timur.
Manual brew kopi arabika bajawa banyak disukai para penikmat kopi. Foto: ilustrasi unpslash

Namun, berbeda dari kopi Arabica pada umumnya, kopi Bajawa Flores juga dikenal dengan tingkat keasaman sedang/medium. Rasanya pun cenderung dominan manis, dengan perpaduan cita rasa caramel, macadamia, hazelnut, hingga herbal yang menambah sensasi spicy.

Sehingga meskipun kopi Bajawa Flores tetap memiliki karakteristik seperti kental dan aroma yang kuat, tetapi ia diklaim lebih bersahabat dengan lambung karena tak terlalu asam. Kopi ini juga cocok bagi anda yang tak terlalu suka dengan kopi pahit.

Karakteristik yang unik tersebut dihasilkan oleh metode budidaya kopi Flores yang tradisional. Pupuk yang digunakan selalu berjenis organik, serta mereka tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia apapun.

Setiap pohon kopi juga diberi pelindung agar terhindar dari sinar matahari yang berlebih, serta curah hujan tinggi yang dapat beresiko membuat rontok. Biji kopinya, yang berwarna cenderung hijau keabu-abuan, juga diseleksi agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Ini berkaitan erat dengan kepercayaan serta tradisi masyarakat di kawasan Bajawa tersebut. Mereka meyakini bahwa kekayaan alam serta hasilnya merupakan rahmat dari arwah leluhur mereka, sehingga penting untuk senantiasa merawat dan menjaganya.

Kopi Bajawa Flores menjadi pilihan oleh-oleh saat berkunjung ke Flores dan NTT.
Kopi Bajawa Flores dalam sebuah pameran. Foto milik AntaraFoto

Setelah dipanen, kopi Bajawa kemudian bisa diolah basah atau digiling kering. Walaupun secara alami kopi ini sudah memiliki rasa yang begitu unik dan khas, tetapi pada perkembangannya kemudian kopi ini juga kerap diracik dengan gaya house blend dengan cita rasa yang berbeda.

Produk ini sekarang menjadi salah satu andalan oleh-oleh kika berkunjung ke Flores khususnya, atau Nusa Tenggara Timur pada umumnya.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****