Macaroni Panggang Bogor, Jawa Barat, menjadi salah satu kulinari dan oleh-oleh khas kota hujan ini. Melihat larisnya sajian ini, mungkin tidak ada yang menyangka jika kudapan sedap ini justru bermula dari arisan keluarga.
Macaroni Panggang
Ya betul. Awal mula berdirinya rumah makan Macaroni Panggang, restorannya menggunakan menggunakan nama menu paling popular itu, adalah dari sebuah arisan keluarga. Sebuah arisan keluarga yang mempertemukan Baby Ahnan, Susi Gunadi, dan Tintin Kuraesin.
Dalam setiap pertemuan pada arisan keluarga tersebut rupanya Baby selalu menyajikan menu favorit keluarganya, yaitu macaroni panggang dan pie Apel. Tamu-tamu yang hadir dalam arisan ini sangat menyukai kedua makanan ini. Ke dua menu ini selalu habis ludes.
Macaroni Panggang siap santap. Foto: MP Instagram
Melihat hal itu, melalui pembicaraan di antara mereka, ke tiga orang ibu tersebut sepakat untuk mencoba menjual makanan favorit tersebut secara luas. Dari hasil pemikiran itulah Baby, Tintin, dan Susi Gunadi bersatu padu mengumpulkan modal bersama untuk membuat toko makanan.
Awalnya yang dijual ke pubik bukan macaroni yang dipanggang itu, namun pia apel. Pada 1999, ke tiga ibu tersebut mulai menjual pia apel dengan brandPia Apple Pie di Bogor. Gerainya di Jalan Pangrango Nomor 19, Bogor.
Usaha Pia Apple Pie ternyata berkembang dengan pesat. Ini kemudian meningkatkan keinginan ibu-ibu tersebut untuk mengembangkan usahanya, kali ini dengan mendirikan Restoran Macaroni Panggang. Maka pada 1 Oktober 2001 berdirilah usaha macaroni atau MP ini.
Menurut cerita Tintin, resep makaroni yang dipanggang ini datang dari Baby Ahnan yang memang senang berkreasi dengan masakan. Makaroni ini merupakan makanan yang sehat, aman, dan digemari banyak kalangan dan berbagai usia.
Tentu, makaroni bakar atau panggang ini bukan original karya ke tiga ibu tersebut. Jika kita telusuri, makaroni panggang ini merupakan gabungan makanan khas dari tiga negara. Saus putih tradisional Inggris yang di tambah dengan lelehan keju Amerika dan disajikan di atas pasta Italia.
Semuanya dimulai pada zaman penjajahan Eropa di Amerika, ketika para pelaut membawa pasta makaroni kering. Ini karena pasta adalah salah satu dari beberapa bahan pokok yang bisa bertahan satu tahun di atas kapal. Pelaut ini berlayar dari Italia ke Inggris dan ke negara koloni, yaitu Amerika.
Setibanya di Amerika, para pelaut ini kebingungan untuk mengolah makanan, karena koloni Amerika tidak memiliki pilihan produk segar dan bahan-bahan lain yang ada di Italia. Sehingga mereka berimprovisasi dengan bahan yang yang mereka miliki di atas kapal.
Macaroni Panggang dalam kemasannya. Foto: MP Instagram
Para pelaut ini menggabungkan susu segar atau krim susu, roti yang keras dan hampir basi, dan tetesan daging. Susu segar ini menjadi cikal bakal dari saus putih sederhana, yaitu susu yang dikentalkan dengan tepung dan mentega. Resep makaroni pertama ditemukan pada buku masakan sekitar abad ke 14.
Resep itu pun menyebar sampai ke Indonesia. Ketika Indonesia dijajah Belanda, masyarakat dari negeri itu membawa masakan macaroni schotel yang mirip. Tentu ketika Baby membuat resepnya, ia mengembangkan sejumlah pilihan yang disesuaikan dengan cita rasa Indonesia. Begitupun menurut Tintin, bahan dasar yang digunakan tetap sama yakni telur, keju, daging cincang, bawang bombay, dan pasta makaroni.
Lokasi berdirinya restoran Macaroni Panggang tidak jauh dari lokasi Pia Apple Pie. Tintin bercerita bahwa dalam membuka usaha, factor tempat atai place harus dipertimbangkan. Yang harus memiliki prospek usaha yang bagus. Lokasi Restoran MP ini terletak di Jalan Salak Nomor 24, Bogor.
Pada saat itu belum terdapat saingan makanan sejenis di Bogor. Sehingga segera saja, ke dua tempat makan mereka ini menjadi ikon kulinari kota hujan itu.
Perkembangan ke dua restoran ini kemudian membuat ke tiga ibu itu mendirikan beberapa restoran lagi, yaitu Death by Chocolate dengan menu andalan coklat, serta Pizza Meteran yang menyajikan pizza, Rumah Cup Cake dengan menu andalan kue-kue dan makanan menarik lainnya.
Restoran Macaroni Panggang di Jalan Salak, Bogor. Foto: milik Kompasiana
Di Macaroni Panggang sendiri pada hari-hari biasa bisa mereka bisa menjual 100-150 loyang. Sedang pada saat weekend atau hari libur angkanya bisa berubah menjadi tiga kali lipat.
Berbicara mengenai hidangan yang disediakan, Tintin mengatakan bahwa selain macaroni panggang, di rumah makan ini tersedia pula kurang lebih 63 jenis hidangan serba panggang, meliputi ayam panggang, jamur panggang, ikan peda panggang, sosis panggang dan iga panggang.
Sate Padang punya penggemar yang spesifik, khususnya mereka yang menggemari jerohan sapi. Kuliner dari Sumatera Barat ini memang identik dengan daging sapi, atau kadang kerbau, dan sama sekali tidak menggunakan daging ayam.
Sate Padang
Bagi mereka yang senang menyantap sate dari pulau Jawa, sate Padang punya kekhasan yang tak ada bandingannya. Selain originalnya menggunakan daging sapi, yang sangat berbeda lainnya adalah kuah atau bumbu atau dressing-nya. Sate-sate di pulau Jawa dan Madura, biasanya menggunakan bumbu kacang atau kecap, sementara sate Padang menggunakan dressing dari kuah kaldu berempah yang kental.
Dari mana sesungguhnya sate Padang ini? Konon, dari sejumlah artikel, disebutkan jika masakan ini awalnya dari Pariaman, sebuah kota di pesisir Sumatera Barat. Bermula dari kedatangan para saudagar Islam dari Gujarat ke wilayah ini. Mereka rupanya tak hanya berniaga, namun juga membuka jalur bagi perkembangan agama Islam. Terutama di kota-kota di pesisir Sumatera. Situasi ini membuat banyak penganut Islam di wilayah Sumatera Barat belajar mengaji ke Pariaman.
Sate Padang ini ternyata sudah ada sejak lama dan pertama diketahui berasal dari daerah Padang Panjang. Kabarnya, saat itu sate Padang dibuat dari daging kerbau yang direbus terlebih dahulu dengan rempah-rempah. Rupanya sate ini ikut ‘terbawa’ oleh pemuda-pemuda Padang Panjang yang belajar mengaji ke Pariaman.
Dalam perjalanannya, ada sejumlah perubahan pada resep sate Padang yang asli dari Padang Panjang ketika masuk Pariaman. Sesuai karakteristik pesisir Sumatera Barat seperti Pariaman, yang masyarakatnya umumnya lebih senang dengan rasa pedas, sate dari Padang Panjang ini lalu mendapat sentuhan lebih banyak cabai dalam bumbunya. Jadilah kuah sate Padang yang ketika di Padang Panjang berwarna kuning, saat di Pariaman berubah menjadi kental merah. Tentu, selain perubahan warna, rasa bumbu atau kuah sate padang Pariaman umumnya pedas dan gurih.
Selain Pariaman, sate Padang tentu saja juga masuk ke Bukittinggi dan Payakumbuh di Kabupaten 50 Kota. Rupanya masakan ini terbawa lagi dari mereka yang belajar agama ke Pariaman saat pulang kampung. Di sini pun sate padang menyesuaikan dengan karakteristik setempat, maka sate khas Padang Panjang mengalami beberapa sentuhan baru pada bumbunya.
Pada saatnya, kemudian dikenal ada tiga jenis sate Padang yang ditentukan berdasarkan daerah asalnya, yakni Sate Padang Panjang, Sate Pariaman, dan Sate Padang 50 Kota. Dan, meskipun penampilan dan rasanya memiliki sejumlah perbedaan, namun semua orang –terutama dari luar Sumatera Barat—menyebut semua jenis sate ini secara umum tetap dengan sebutan Sate Padang.
Lalu apa saja perbedaan di antara ke tiganya? Sate yang berasal dari Padang Panjang, biasanya dikenal dengan istilah Sate Darek. Sate Padang jenis ini memiliki kuah berwarna kuning cerah, karena menggunakan campuran kunyit dalam proses pembuatannya. Rasanya gurih dengan nuansa pedas yang lembut. Kuah sate Dardek biasanya menjadi encer ketika dingin, karena itu orang harus segera menyantap satenya selagi hangat.
Sementara itu, sate Padang Pariaman biasanya memang disebut sate pariaman, ia memiliki warna kuah merah kecokelatan. Umumnya, sate Pariaman memiliki rasa pedas yang jauh lebih dominan dibandingkan sate Padang asal Padang Panjang. Kuah sate Pariaman terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, ketumbar, bawang putih dan merah, lengkuas, serai, cabai merah dan masih banyak lagi.
Sate yang satu lagi berasal dari Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Di sini orang menyebut sate Padang dengan nama sate dangung-dangung. Tak diketahui dari mana nama ini muncul, yang jelas daging sate Dangung-Dangung jauh lebih manis dan dibaluri dengan parutan bumbu kelapa kekuningan di sekelilingnya. Kuahnya berwarna kuning kecoklatan dan kental, dengan aroma wangi yang menggoda.
Meskipun berbeda nama dan kuahnya, secara umum cara memasak sate Padang dari manapun asalnya mirip. Daging segar dimasukkan dalan panci besar berisi air dan direbus dua kali agar lunak. Dua kali masak berarti menggunakan panci dan air yang berbeda. Daging diiris-iris dan dilumuri bumbu dan rempah.
Air sisa rebusan daging tidak dibuang, tapi digunakan sebagai kuah kaldu, bahan membuat kuah sate. Kuah kaldu ini dicampur dengan 19 macam bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan ditambahkan pula berbagai macam cabe. Seluruh bumbu kemudian dijadikan satu dan dimasak. Rempah-rempah inilah yang membuat rasa kuah sate menjadi kaya rasa yang melimpah.
Daging satenya sendiri hanya dibakar saat dipesan, karena pada dasarnya daging atau jerohan sapinya sudah matang. Sate Padang, apapun jenis dagingnya, mesti dimakan dalam keadaan masih panas atau hangat, bukan karena daging satenya namun kuahnya yang menjadi lebih encer ketika dingin. Semua sate Padang biasanya dimakan dengan ketupat yang dipotong kecil-kecil dan disajikan dalam pincuk daun pisang.
Beberapa penjual sate yang cukup dikenal masyarakatdi Jakarta atau beberapa daerah lainnya di antaranya adalah Sate Mak Syukur Padang Panjang, Sate Dangung-Dangung, atau Ajo Ramon.
Yang manapun pilihanmu, ayo sekali-kali masukkan sate Padang dalam agenda kulinermu.
Mengejar awan Mahameru adalah impian para petualang alam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Selain curam, medannya juga berpasir yang membuat setiap selangkah mendaki, kaki malah bisa merosot mundur lima langkah.
Mengejar Awan Mahameru
Perjalanan ini sendiri sudah jauh saya lakukan. Bahkan sebelum masa pandemi, namun tetap saja menarik buat saya kenang. Saya ingat, saat itu hampir menjelang tengah malam saat sampai di pos Kalimati. Hawa dingin sudah menyerbu badan bahkan saat sebelum sampai pos ini.
Sambil duduk di atas sebuah batu, berulangkali saya mencoba merapatkan jaket yang menempel di tubuh. Tapi nyaris tak ada gunanya. Di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut menuju puncak Semeru, sia-sia saja melawan dinginnya udara yang mendekati nol derajat.
Danau Ranukumbolo, tempat para pendaki biasa mendirikan tenda untuk bermalam sebelum menuju puncak Semeru. Foto: Dok. Unsplash
Mencoba mencari hangat, saya berjalan berkeliling. Mendekati sekelompok orang yang tengah duduk mengelilingi api unggun kecil. Mereka penduduk sekitar Semeru yang biasa menawarkan jasa porter. “Kapan akan berangkat muncak?” tanya salah seorang dari mereka. “Tengah malam nanti, pak,” ujar saya.
“Berjalan saja, jangan pikirkan akan sampai atau tidak. Jika berjalan terus, tidak terasa nanti sampai di atas,” ujar laki-laki setengah baya tadi seakan memberi tip sekaligus menguatkan semangat.
Semeru, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung yang sudah banyak diimpikan para pendaki.
Untuk saya sendiri, angan-angan mengejar awan Mahameru di ketinggian 3.676 mdpl sudah ada sejak remaja, meski saya bukan pendaki. Dan kesempatan itu pun akhirnya datang. Dengan menumpang kereta Matarmaja saya menuju Malang dari Jakarta. Selanjutnya bersama 16 teman menumpang jeep hingga pos Ranu Pane, desa terakhir untuk menuju Semeru.
Malam itu di Kalimati, berarti tinggal sekitar tiga kilometer menuju puncak. Tapi perjuangan justru baru dimulai. Medan yang akan kami tapaki selanjutnya, selain curam, adalah medan berpasir. Satu langkah mendaki, kaki bisa merosot lima langkah.
Tepat pukul 12 malam rombongan memulai perjalanan menuju puncak. Di tengah kegelapan, kami merayapi sela pepohonan dengan penerangan dari headlamp. Semakin tinggi mendaki, saya semakin sulit bernapas. Hidung terasa nyeri ketika menghirup udara. Kepala saya pening. Tampaknya asupan oksigen yang kurang lancar mulai mempengaruhi peredaran darah di kepala.
Saya tetap berjalan. Pikiran saat itu masih normal untuk mengatakan, saya harus terus berjalan. Saya tidak mau menyerah. Apalagi, di sekitar pos Arcopodo, kami menjumpai beberapa batu nisan yang dibuat untuk menandai pendaki yang meninggal saat pendakian. Sambil melangkah, doa semakin deras terucap dalam hati.
Lepas dari pos Kelik, kami mulai menapaki pasir. Meski kondisi gelap gulita, saya dapat merasakan pasir raksasa Mahameru berdiri tegak di depan kami. Saya menyesal tidak menggunakan geiter sebagai penutup kaki. Pasir dan kerikil masuk ke dalam sepatu dan sampai di bawah tapak kaki. Menginjak kerikil-kerikil membuat saya melangkah dengan rasa nyeri. Berulangkali saya melepas sepatu dan mengeluarkan kerikil.
Puncak Semeru terlihat di kejauhan. Foto: Dok. unsplash
Hampir fajar. Rombongan sudah berpencar. Saya menoleh ke belakang. Masih ada dua teman. “Ayoo semangaaat…,” teriak seseorang. Saya masih berada di tengah pasir, saat rona merah matahari dari bawah awan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di Jakarta, matahari terbit sering saya anggap hal biasa. Tapi sini, setiap kejadian alam adalah keajaiban. Terduduk di pasir, saya merasa beruntung dapat menikmati kuasa-Nya.
Hari telah pagi. Suasana hampir terang. Puncak Semeru belum juga terlihat. Saya melangkah dengan sisa-sisa napas. Tenggorokan terasa kering. Persediaan minum sudah habis pula. Seorang pendaki yang berjalan mendahului saya, mencoba memberi semangat. “Puncak sebentar lagi, paling 50 meter,” ujarnya tanpa ditanya.
Duh, bahkan 5 meter menanjak di pasir yang miring sangat jauh berbeda dengan di permukaan datar. Jangankan berjalan, mencari pijakan di pasir saja, kaki harus meraba agar tidak merosot ke bawah lagi.
Di tepian pasir, beberapa pendaki tergolek tidur. Saya mencoba merebahkan diri di pasir Semeru. Luar biasa, lebih nikmat dibanding ketika di spring bed mahal. Kantuk menyerang, hampir saya tertidur. O.. tidak! Saya segera bangkit. Saya bergegas, khawatir kehabisan waktu, karena setelah pukul 9.00 pendaki tidak bisa menuju puncak. Semua harus turun. Angin yang mungkin membawa asap beracun dari kawah Semeru akan bergerak ke jalur pendakian.
Tubuh saya benar-benar lemas, 10 meter menjelang puncak. Dari atas sekelompok pendaki berjalan turun. “Sini, mana tongkatnya, saya tarik,” dia berteriak. Saya mengangsurkan trekking pole saya. Ia menarik tongkat yang saya genggam hingga tubuh saya terangkat naik. Teman di belakangnya melanjutkan menarik tongkat saya.
Saya seperti mendapat semangat baru. Saya tahu, puncak hanya beberapa langkah lagi. Satu…dua…tiga. Hopla!! Dengan sisa tenaga saya mencapai tanah datar Semeru. Saya tersungkur dan meneteskan air mata, tidak percaya akhirnya mencapai harapan mengejar awan Mahameru. Saya bangkit menatap hamparan abu-abu puncak Semeru. Melangkahkan kaki mengitari puncak dengan buncahan rasa yang sulit saya definisikan. Semalaman bergelut dengan pasir dan bebatuan Mahameru, inilah akhir perjalanan. Puncak Mahameru dikelilingi kepingan awan. Saya seperti berada di negeri atas awan puncak tanah Jawa.
Ini dia 5 sentra belanja Batik di kota Solo yang direkomendasikan bagi wisatawan yang hendak berbelanja pakaian maupun kain batik khas kota ini. Selaras dengan panggilannya sebagai kota batik, Solo dikenal dengan budaya batiknya yang melegenda. Batik Solo, yang cenderung berwarna coklat atau gelap sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, dikenal dengan beragam jenis motifnya, dengan masing-masing filosofi dan peruntukannya.
Tugu Slamet Riyadi di Gladak, Solo, menuju Pasar Klewet sebagai satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo. Foto: shutterstock
5 Sentra Belanja Batik di Kota Solo
Seperti motif Sidomukti yang melambangkan kemakmuran dan keberkahan, sehingga kerap digunakan pada adat pernikahan Jawa. Atau motif Parang, yang melambangkan semangat pantang menyerah, dan dulu kerap digunakan oleh pasukan perang saat akan bertempur. Beragam motif-motif tersebut kini dapat ditemui di berbagai pusat belanja seperti di 5 sentra belanja batik di kota Solo berikut ini.
Pasar Klewer
Salah satu dari 5 sentra belana batik di kota Solo yang paling terkenal dan ikonik adalah Pasar Klewer, yang berlokasi di jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat nomor 5A. Berupa bangunan dua lantai yang kini menampung ribuan kios dan pedagang, khususnya batik, Pasar Klewer adalah sentra perbelanjaan garmen terbesar di Solo.
Dulunya, tempat ini merupakan tempat perhentian kereta api yang juga digunakan sebagai tempat berdagang. Oleh warga setempat, lokasi ini awalnya lazim dikenal sebagai Pasar Slompretan, yang merujuk kepada suara klakson kereta api yang dianggap menyerupai suara slompret, atau terompet dalam bahasa Jawa.
Belakangan, tempat ini kemudian didominasi oleh pedagang batik, yang kerap berkeliaran menawarkan batik dagangannya sambil diletakkan di pundaknya. Banyaknya batik yang dibawa di pundak mereka, membuatnya terlihat berantakan atau kleweran dalam bahasa Jawa. Maka kemudian area tersebut juga dikenal sebagai Pasar Klewer.
Kawasan perdagangan ini semakin ramai dan berkembang sejak pasca kemerdekaan, sehingga muncul wacana untuk membangun sebuah pasar terpadu untuk menampung pedagang-pedagang batik tersebut. Maka pada 1970 di area tersebut didirikanlah bangunan dua tingkat, yang setahun kemudian diresmikan menjadi Pasar Klewer oleh Presiden Soekarno.
Banyak hasil kerajinan batik yang dapat ditemui di sini, baik itu batik tulis maupun batik cap. Mulai dari kain, baju, seprai, sarung bantal, hingga beragam aksesoris bermotif batik. Selain itu, pasar ini juga kerap menampung kerajinan batik dari luar Solo, seperti batik Yogyakarta, Semarang, Banyumas, Pekalongan dan sebagainya.
Pada perkembangannya, Pasar Klewer tak hanya menjadi satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo saja, tapi juga menjadi tempat berkumpulnya pedagang kerajinan tangan lainnya, seperti kayu ukir. Bahkan, terdapat beberapa kedai-kedai makanan yang menarik untuk dicoba pecinta kuliner, seperti Warung Selat Gajahan, Tengkleng Klewer bu Edi, dan Gule Goreng pak Samin.
Lokasinya yang berdekatan dengan Keraton Solo dan Masjid Agung Surakarta, menjadikannya sebagai lokasi belanja batik yang strategis, terutama bagi wisatawan yang mencari batik untuk oleh-oleh. Tak hanya itu, pasar yang buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 16.00 ini juga dikenal dengan harganya yang murah dan masih bisa ditawar.
Kampung Batik Kauman
Salah satu alternatif lain bagi wisatawan yang hendak berbelanja di 5 sentra belanja batik di kota Solo adalah dengan beberapa kampung wisata tematik yang menjadi pusat kerajinan batik. Seperti misalnya Kampung Batik Kauman, yang merupakan pusat industri batik tertua di Solo. Lokasinya pun tak jauh dari Keraton Solo, Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta.
Di sepanjang area jalan Trisula III, berjejer deretan sekitar 30 toko dan pabrik batik rumahan yang dapat dikunjungi. Wilayah ini aslinya merupakan kawasan pemukiman abdi dalem Keraton, yang mana banyak dari kalangan abdi dalem tersebut yang berprofesi sebagai pembatik yang bertugas untuk menyuplai kebutuhan sandang Keraton.
Oleh karenanya, kebanyakan hasil kerajinan batik di sini banyak dipengaruhi dengan motif-motif batik yang sering digunakan oleh Keraton. Meski dalam perkembangannya kini, selain ragam motif klasik ala Keraton yang masih berupa batik tulis dari tangan, tersedia pula varian batik cap serta batik yang mengkombinasikan teknik batik tulis dan cap.
Yang istimewa, selain bisa berbelanja ragam produk batik yang dijajakan, pengunjung juga dapat mengambil paket workshop membatik bersama beberapa orang dalam satu sesi. Layanan workshop tersebut saat ini dikelola oleh dua usaha batik setempat, Batik Gunasti dan Batik Gunawan.
Dalam workshop tersebut, pengunjung akan belajar dan merasakan proses pembuatan batik tulis secara tradisional. Dari cara menata kain yang akan dibatik, melihat pewarnaan cairan malam atau cairan yang akan digunakan untuk mencanting, sampai proses mencanting di atas kain tersebut.
Yang perlu dicatat, bagi yang tertarik untuk mencoba workshop tersebut harus membuat reservasi terlebih dulu, dan dalam rombongan atau jumlah orang tertentu. Layanan workshop tersebut tersedia setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 08.00 hingga 15.00, dan pengunjung akan dikenakan biaya Rp 55 ribu.
Nuansa klasik ala kampung Jawa tempo dulu juga menjadikan tempat ini lokasi yang menarik untuk berfoto dan bersantai, serta tersedia beberapa kafe di sekitarnya untuk melepas penat setelah berkeliling dan berbelanja batik. Buka dari jam 08.00 hingga 18.00, direkomendasikan untuk berkunjung kala pagi atau sore hari, agar tidak kepanasan.
Kampung Batik Laweyan
Kampung sentra industri dan perbelanjaan batik Solo lainnya adalah Kampung Batik Laweyan. Lokasinya berada di jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat nomor 521. Dari arah Kampung Batik Kauman dan Keraton Solo, tinggal menyusuri jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat ke arah barat sampai di lokasi.
Kampung dengan area seluas 24 hektare ini merupakan kawasan tempat tinggal pengusaha dan pedagang batik, serta menjadi salah satu pusat syiar dakwah agama Islam pada masanya. Bahkan, tempat ini menjadi saksi berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI), asosiasi dagang pribumi pertama di Indonesia, yang didirikan oleh pahlawan nasional K.H. Samanhudi.
Disinyalir, nama Laweyan berasal dari istilah jawa ‘nglawiyan’, yang kurang lebih artinya berlebih-lebih. Ini merujuk kepada komunitas di area tersebut yang didominasi pengusaha batik yang tergolong kaum orang kaya, atau dianggap orang dengan harta serta gaya hidup berlebih kala itu.
Ada pula versi yang mengatakan bahwa nama Laweyan berasal dari kata ‘lawe’, bahasa Jawa untuk kain atau bahan pakaian. Alasannya, daerah ini dulunya merupakan kebun kapas yang menjadi bahan baku pembuatan kain atau pakaian kala itu. Disebut bahwa industri garmen dan batik di daerah ini sudah ada sejak masa kerajaan Pajang di abad 15, dan semakin maju pada tahun 1900-an.
Karena itu pula, produk batik buatan Kampung Batik Laweyan cenderung lebih berani dan berwarna, yang belakangan sering disebut dengan batik sudagaran. Batik sudagaran merupakan jenis batik yang bermotif lebih unik dan ekspresif karena tidak terbatasi oleh pakem tertentu, berbeda dengan Kampung Batik Kauman yang batiknya bermotif lebih klasik karena banyak dipakai untuk keperluan resmi pihak Keraton Solo.
Nuansa di kampung ini juga didominasi oleh bangunan-bangunan berdinding tinggi dan gang-gang kecil, cukup menarik bagi yang ingin berfoto di sekitar area kampung ini. Di sepanjang jalan berderet puluhan toko dan pabrik batik – buka dari jam 08.00 hingga 21.00 – yang menjajakan beragam produk batik dan kerajinan tangan bertemakan batik dengan harga bersahabat.
Yang unik, pengunjung bisa memesan produk batik tertentu, dengan pilihan motif serta bahan sesuai selera. Terkadang, hasil pesanan juga bisa diambil dan dibayar hari itu juga. Atau bagi yang ingin merasakan pengalaman membatik, tersedia paket kursus singkat membatik selama 2 jam, dengan biaya Rp 30 ribu.
Pusat Grosir Solo
Bagi yang sekedar ingin mencari produk batik Solo dengan mudah dalam satu tempat yang terpadu, Pusat Grosir Solo alias PGS jadi pilihannya. Bertempat di jalan Mayor Sunaryo, lokasinya strategis dan mudah dijangkau, di area pusat kota Solo dan terapit antara Benteng Vastenburg dan Alun-Alun Lor Surakarta.
Berdiri sejak 2005, PGS menjadi salah satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo, di mana sekitar ratusan pedagang batik melayani pembelian secara grosir maupun eceran. Tak hanya itu, di dalam bangunan lima lantai tersebut kini terdapat pula kios-kios pedagang kerajinan tangan, serta area khusus kuliner tradisional dan pusat oleh-oleh.
Lokasinya yang strategis dan gaya one stop shopping yang diusung menjadikannya pilihan mudah dan nyaman manakala ingin berbelanja produk batik Solo. Apalagi, sekarang tersedia pula aplikasi khusus yang menghubungkan konsumen dengan pedagang di PGS, sehingga info seperti barang yang tersedia, hingga pemesanan secara online dapat diakses langsung secara online.
Ruang pamer batik di House of Danar Hadi
House of Danar Hadi
Dalam industri batik, ada beberapa nama yang cukup tersohor di kalangan umum. Salah satunya adalah Danar Hadi, yang sudah eksis sejak 1967. Mereka kini sudah memiliki beberapa cabang di berbagai kota, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta, dan tentu saja Solo. Ini satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo.
Namun, cabang Danar Hadi atau yang biasa mereka sebut sebagai House of Danar Hadi di Solo memiliki keunikan tersendiri. Yang pertama, House of Danar Hadi Solo terletak di jalan Slamet RIyadi nomor 261, tepatnya di sebuah area cagar budaya bernama Ndalem Wuryaningratan, yakni bekas kediaman Pangeran Wuryaningrat yang merupakan cucu dari Pakubuwono IX.
Keunikan lainnya, tempat ini bukan hanya sekedar gerai produk batik Danar Hadi saja, tetapi juga merupakan sebuah museum batik. Tersimpan setidaknya sekitar 10.000 jenis kain batik, dengan motif dan dari periode yang berbeda-beda. Capaian ini dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai koleksi batik terbanyak.
Bahkan, museum ini tidak hanya menampilkan batik-batik dari berbagai daerah di Indonesia saja. Namun terdapat pula batik-batik yang berasal atau terinspirasi dari budaya luar, seperti batik Jawa Hokokai yang terpengaruh budaya Jepang, atau batik-batik yang terinspirasi dari budaya seperti Belanda dan Tiongkok.
Keunikan tersebut menjadikannya destinasi belanja batik Solo yang menarik, sekaligus tempat untuk belajar tentang sejarah dan jenis-jenis batik. Museum buka setiap hari dari jam 09.00 hingga 16.30, dengan pengunjung membeli tiket masuk Rp 35 ribu untuk umum, dan Rp 8 ribu untuk pelajar.
Laksa di Indonesia adalah salah satu masakan yang sangat popular, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh budaya Melayu dan Tionghoa. Asal-usul laksa di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan pasti, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa laksa pertama kali muncul di wilayah Malaysia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
laksa di Indonesia
Laksa masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan migrasi penduduk pada zaman kolonial, terutama pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, juga terdapat pengaruh dari imigran Tionghoa yang membawa resep-resep masakan mereka ke Indonesia. Secara historis, laksa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari kekayaan kuliner Indonesia.
Laksa sendiri merupakan hidangan yang kaya akan sejarah dan pengaruh budaya, dan nama “laksa” memiliki asal-usul yang menarik. Mengutip dari kompas.com, ada beberapa teori yang dilansir Mashable South East Asia. Di sana disebut bahwa nama “laksa” memiliki hubungan dengan pertukaran budaya melalui Jalur Sutera dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Laksa Assam. Foto: shutterstock
Salah satu teori terkait dengan nama “laksa” berasal dari kamus A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson terbitan 1901. Menurut kamus ini, kata “laksa” memiliki arti “100 ribu” dalam bahasa Sansekerta. Namun, hubungan antara angka ini dengan hidangan laksa tidak begitu jelas, sehingga masih menjadi misteri.
Masih dari artikel yang sama, ada teori lain mengenai asal-usul kata “laksa” yakni berasal dari bahasa Persia. Kata “laksa” diyakini berasal dari kata “lakhshah” yang merupakan salah satu jenis bihun. Pengaruh Persia dalam perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutera dapat menjelaskan kemungkinan asal-usul kata “laksa” dari bahasa Persia.
Dengan demikian, nama “laksa” mungkin muncul akibat interaksi budaya yang kompleks melalui Jalur Sutera, yang menghubungkan berbagai wilayah dan budaya di Asia Tenggara. Pengaruh dari bahasa Sansekerta dan Persia mungkin merupakan salah satu dari banyak elemen yang membentuk identitas kuliner laksa, mencerminkan kekayaan warisan budaya yang mengakar dalam hidangan yang begitu terkenal dan dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia.
Lalu bagaimana dengan masakan laksa di Indonesia? Terdapat beberapa jenis masakan laksa yang populer, di antaranya adalah:
Laksa Betawi
Laksa Betawi. Foto: shutterstock
Laksa ini tentu saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Laksa Betawi memiliki kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah. Beberapa bahan utamanya adalah mie, telur rebus, tauge (kecambah), irisan ketupat, dan daun bawang. Di Jakarta pecinta kuliner bisa menemui masakan ini di Kafe Betawi.
Ada beberapa gerai rumah makan ini, di antaranya di mal Senayan City dan Kuningan Plaza.
Laksa Bogor
Jenis laksa di Indonesia ini merupakan variasi laksa yang juga berasal dari Jawa Barat, terutama daerah Bogor. Laksa jenis ini memiliki ciri khas kuah yang kental berwarna kuning kehijauan dan menggunakan mie kuning tebal. Dalam hidangan ini, biasanya terdapat irisan ayam, telur rebus, tauge, dan daun seledri.
Kekhasan Laksa Bogor terdapat pada penggunaan oncom yang biasanya dipanggang terlebih dahulu. Terkadang juga dapat disantap dengan ketupat maupun perkedel sebagai pelengkap hidangan.
Untuk dapat menikmati masakan ini, berikut adalah warung makan yang terkenal dengan laksa Bogor. Coba datiag ke Laksa Gang Aut di Jalan Surya Kencana. Warung yang aslinya Bernama Laksa Mang Wahyu ini sudah berjualan sejak 1960-an
Laksa Palembang
Laksa di Indonesia ini berasal dari Sumatera Selatan, terutama daerah Palembang. Aslinya mirip dengan pempek yang menggunakan kuah yang terbuat dari santan, udang, dan rempah-rempah. Sering juga disebut sebagai laksan atau leksan.
Untuk yang ingin mencicipi Laksan Palembang bisa dating ke Sarapan Cek Leni di Jalan KH M. Asyik Nomor 1502, Palembang
Laksa Medan
Laksa ini berasal dari Sumatera Utara, terutama daerah Medan. Laksa Medan adalah hidangan yang terbuat dari bihun putih, timun, ikan, daun mint, dan saus asam jawa.
Laksa Medan berbahan dasar saus ikan yang sedikit asam. Rasa yang ditawarkan juga asam dan segar. Cocok untuk sore hari karena sajian ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi.
Di ibukota Sumatera Utara ini mudah mencari masakan laksa Medan, cobalah dating ke Jalan Yose Rizal. Di sepanjang jalan ini ada sejumlah tempat makan yang menjajakannya, tapi cobalah Rumah Makan Laksa Yose Rizal.
Laksa Ayam. Foto: shutterstock
Lalu dari sejumlah laksa tersebut, manakan yang paling enak dan terkenal? Laksa yang paling terkenal di Indonesia sulit untuk ditentukan karena setiap daerah memiliki varian dan cita rasa yang berbeda. Namun, Laksa Betawi mungkin salah satu jenis laksa yang paling dikenal secara nasional karena popularitasnya di wilayah metropolitan Jakarta, ibu kota Indonesia.
Perlu diingat bahwa variasi laksa dapat berbeda-beda bahkan di dalam satu daerah, tergantung pada bahan lokal yang tersedia dan resep keluarga atau warisan budaya. Keberagaman inilah yang membuat masakan laksa di Indonesia begitu menarik dan lezat untuk dinikmati.
Wisata ke Batam pada masanya pernah begitu popular bagi banyak orang Indonesia. Maklum, hingga 31 Desember 2010, orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dulu harus membayar fiskal sebesar Rp 1 juta. Dan, jika berangkat dari Batam, untuk perjalanan satu hari biaya itu bisa dipangkas separuhnya.
Wisata Ke Batam
Soal jalan-jalan dengan menghemat biaya fiskal adalah cerita masa lalu. Kini Batam terus berbenah menjadi spot wisata yang mandiri. Makin banyak pengunjung yang memang mau menikmati Batam itu sendiri. Tentu, tak menutup kemungkinan ada saja ada pengunjung yang selain main ke pulau ini seraya melirik ke negeri Singa. Maklum, jarak antara ke dua pulau ini cuma 15 kilometer. Dengan kapal fery, jarak ini biasanya ditempuh 40-45 menit.
Batam adalah kota sekaligus pulau yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai kota, Batam adalah kota terbesar di provinsi ini. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasanSelat Singapura dan selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang kini terkoneksi oleh Jembatan Barelang yang sekaligus menjadi ikon kota ini.
Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam, saat ini bernama BP Batam, kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk. Dalam tempo 40 tahunan penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Jumlah penduduk mencapai 1.150.000 jiwa pada sensus 2012.
Kota ini sejatinya terus dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu yang cukup lengkap. Selain memiliki sejulah spot alam yang menarik, punya petilasan sejarah, dan tak kalah penting ia juga dikembangkan untuk wisata belanja. Batam merupakan bagian dari kawasan khusus perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun (BBK).
Untuk ke Batam tentu saja paling mudah menggunakan penerbangan dari Jakarta. Ada banyak jadwal penerbangan ke kota ini, tinggal disesuaikan dengan acara yang disusun selama di Batam.
Jika melakukan perjalanan ke Batam untuk liburan, pulau ini memiliki koleksi pantai yang indah dan beragam. Wisatawan bisa memilih, pemandangan gugusan pulau, Singapura, atau Jembatan Barelang yang megah itu. Salah satu pantai yang memiliki potensi wisata bahari adalah Pantai Tanjung Pinggir.
Pantai ini berada di kawasan Sekupang, Kota Batam. Bila tak sedang musim kabut asap, gedung-gedung di Singapura terlihat jelas, bahkan Marina Bay Sands sekalipun. Tanjungpinggir dikepung bebatuan, namun pantainya yang kecoklatan masih sangat leluasa untuk digunakan bermain atau berjalan-jalan di pinggirnya.
Ada pula Pantai Nongsa yang memiliki pemandangan sangat cantik dan banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan pantai dengan pasir putihnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Nongsa, hanya sekitar 10 menit jika ditempuh dari bandara. Banyak wisatawan yang datang ke tempat wisata ini untuk menikmati keindahan lautnya, mereka juga dapat menginap di hotel sekitar pantai.
Pilihan kunjungan lainnya adalah ke kampung Vietnam di Pulau Galang. Tempatnya sekitar 50 kilometer dari Kota Batam dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Kampung Vietnam merupakan bekas kamp pengungsian warga Vietnam pada saat Perang Vietnam berlangsung atau setelah berakhir di akahir 60-an hingga 70-an.
Di Kampung Vietnam ada gereja tua, vihara, barak pengungsian, penjara hingga patung Buddha tidur. Beberapa bangunan memang banyak yang telah menjadi puing-puing, seperti rumah sakit dan penjara. Semua bangunan tersebut menjadi saksi bisu tentang kehidupan para pengungsi di masa lalu.
Secara historis Indonesia pernah punya pengalaman ikut menangani pengungsi dari Vietnam atau yang kerap dijuluki sebagai manusia perahu. Pemerintah Indonesia saat itu memilih Pulau Galang untuk menampung para manusia perahu tersebut.
Pemerintah Indonesia mengizinkan mereka mengungsi ke tempat tersebut untuk sementara waktu hingga perang saudara di Vietnam reda. Setelah terjadi perdamaian di Vietnam, para pengungsi mulai kembali ke negaranya dan membiarkan tempat tersebut kosong. Hingga saat ini tempat itu menjadi tempat wisata yang unik karena ada sebuah desa yang tidak berpenghuni namun memiliki suasana yang tidak lazim di Indonesia.
Pilihan selanjutnya, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil adalah bermain ke Ocarina. Orang Jakarta barang kali memiliki Taman Impian Jaya Ancol, nah kalau orang Batam punya yang namanya Ocarina, yaitu wahana permainan seluas sekitar 40 hektare yang dibuka pada 2008. Tempat ini sekarang menjadi wisata hiburan paling populer bagi masyarakat Batam dan sekitarnya.
Dengan lokasi berada di pinggir pantai, bisa dimanfaatkan pengunjung untuk keperluan liburan keluarga. Pada hari libur tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun luar daerah.
Wisata lain yang menarik adalah belanja. Pada masanya, banyak orang dari luar Batam yang pergi ke sini untuk berbelanja barang-barang impor, khususnya barang elektroni. Harganya memang relatif miring. Saat ini, dengan makin terbukanya perdagangan dan transaksi daring, harga murah menjadi relatif. Namun jika ada yang ingin mencoba peruntungan, bisa main ke Batam City Square, Panbil Mall, Nagoya Hill, atau Pasar Aviari. Yang terakhir ini banyak menjual barang bekas dengan kondisi bagus eks negara tetangga.
Tato orang Mentawai atau Titi, dalam masyarakat Mentawai bukan sekadar rajah di kulit mereka. Ia mengandung makna dan menjadi ciri khas masyakat setempat. Ada pula pembuat khusus, ia disebut sipatiti.
Tato Orang Mentawai
Di sejumlah desa di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, seperti Desa Madobag atau Ugai, masyarakat asli setempat masih melakukan rajah pada kulit mereka. Jika kita berkunjung ke uma, ini sebutan untuk rumah tradisional suku Mentawai, biasanya saat bertemu dengan yang empunya uma, kita akan melihat torehan garis lurus, lengkung, tebal, halus, hingga setiap titik berwarna kehitaman di sekujur kulit tubuhnya. Itulah yang disebut titi, tato khas mereka.
Bagi mereka yang tak memahami titi, mungkin goresan itu hanya sebagai jenis motif rajah saja. Tapi tunggu dulu, ternyata setiap bentuk goresan itu ada maknanya. Termasuk posisi mereka dalam masyarakat tersebut.
Dua orang laku-laku dengan usia yang sama, misalnya, titi-nya bisa berbeda. Bahkan kadang buat mata awam, bisa saja rajah di kedua pria tersebut terlihat sama. Tapi ternyata ada bagian yang berbeda. Misalnya, yang satu tidak memiliki dua simbol di bahu kanan-kirinya. Atau, seorang pria muda Mentawai, bisa saja sama sekali tak punya titi di kulit tubuhnya.
Seni tato Mentawai memang memiliki daya tarik tersendiri. Konon, ini merupakan salah satu seni rajah tubuh tertua di dunia, bahkan ada yang menyebut ia lebih tua dari seni tato di Mesir. Sayangnya, titi perlahan memudar. Masyarakat Mentawai masa kini tak lagi suka memaparkan identitas diri mereka melalui medium sekujur kulitnya. Terutama di kalangan generasi mudanya. Padahal, dulunya itu adalah simbol jati diri mereka dari waktu ke waktu.
Selain harus melalui ritual, pembuatan tato bagi suku Mentawai harus dilakukan bertahap. Tahap pertama dilakukan saat seseorang berusia 11-12 tahun atau masa akil balig. Rajahnya pun hanya boleh dilakukan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua, kala orang tersebut berusia 18-19 tahun dan rajahan dilanjutkan ke bagian paha. Tahap ketiga, di masa dewasa di bagian tubuh lain.
Setiap motif titi, yang dirajahkan pada kulit tubuh, memiliki arti. Masing-masing merepresentasikan simbol-simbol penghormatan orang-orang suku Mentawai pada roh dan pada keyakinannya. Secara umum, dikenal tujuh macam motif yang berlaku bagi laki-laki dan tiga motif bagi perempuan, yaitu Sarepak Abak, Durukat, Sikaloinan, Gagai, Boug, Saliou, dan Soroi.
Proses membuat titi di masyarakat Mentawai.
Sarepak abak, biasanya ditorehkan di punggung, melambangkan keseimbangan kehidupan di alam. Ini merupakan representasi dari cadik (penyeimbang) pada pompon (perahu) yang menjadi alat transportasi sehari-hari.
Durukat, ditorehkan di bagian dada, simbol jati diri suku, menunjukkan batas wilayah kesukuan. Umumnya memanfaatkan garis-garis halus yang kemudian diisi titik-titik dan motif lokpok (bentuknya menyerupai daun). Sikaloinan, ditorehkan pada bagian pangkal lengan hingga siku, simbol jati diri suku, merepresentasikan paipai sikaloinan (ekor buaya).
Gagai, ditorehkan pada lengan laki-laki/perempuan, simbol kepiawaian menangkap ikan. Motif Boug, ditorehkan pada bagian paha, simbol jati diri suku, penggambarannya memanfaatkan bentuk garis-garis lengkung. Saliou, ditorehkan pada betis hingga pergelangan kaki dengan ragam rias lengkung garis yang indah.
Sementara itu, Soroi, khusus kaum pria, simbol jati diri kesukuan, biasanya ditorehkan pada bagian pusar, merepresentasikan keindahan rumbai-rumbai bulu ekor ayam.
Satu catatan penting, terlihat sekali bahwa seorang sipatiti tidak boleh mengabaikan faktor simetris dalam pelaksanaan tugasnya. Pengaturan jarak dari setiap gores garis hingga titik diperhitungkan dengan penuh presisi dalam hitungan satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari, dan seterusnya.
Untuk membuat titi, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Untuk melakukannya, suku Mentawai mengenal keberadaan sipatiti. Meski tidak diangkat secara adat, ia adalah seorang laki-laki dan tidak boleh perempuan yang dipercaya sebagai sang pembuat tato. Ia seorang yang memiliki keahlian merajah sekaligus memahami simbol-simbol yang lazim digunakan termasuk maknanya. Setiap pertemuan, jasa seorang sipatiti akan dibayar dengan seekor babi atau beberapa ekor ayam.
Proses pembuatan titi tidak sesederhana. Sebelumnya, harus digelar acara adat Punen Kepa untuk menyingkirkan pengaruh jahat dan ancaman terjadinya malapetaka di kampung yang warga yang akan membuat titi. Pada puncak punen, biasanya dilakukan perjalanan ke Siberut, yang diyakini sebagai asal orang Mentawai. Perjalanan laut yang dikenal dengan istilah bulepak itu dilakukan beramai-ramai dalam satu sampan bermuatan cukup besar. Di daerah itu, mereka harus mengambil manik-manik khas Siberut sebagai syarat.
Apabila semua berhasil membawa manik-manik khas Siberut kembali dengan selamat, warga bisa memulai menjalani upacara inisiasi pembuatan titi, yang dikenal dengan nama Punen Enegat. Upacara tersebut dipimpin oleh sikerei atau seorang dukun Mentawai dan dilakukan di putukurat, yang merupakan tempat khusus berlangsungnya proses pembuatan titi.
Titi adalah sebuah kearifan lokal, ia tak harus menjadi milik semua orang, namun tentu sayang jika ini akan terus memudar.
Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.
Bakmi Jawa
Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.
Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.
Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.
Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.
Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.
Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.
Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.
Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.
Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.
Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.
Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.
Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:
Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.
Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan).
Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.
Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.
Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3
Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan
Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.
Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.
Kuliner Pinggiran
Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.
Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.
Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.
Ayam Betutu Pak Sanur
Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera.
Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan
Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali
Es Dawet Telasih Bu Dermi
Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.
Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan.
Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo
Pawon Mbah Gito
Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.
Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh.
Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock
Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik.
Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.
Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam.
Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu.
Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.
Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan
Kereta Api Indonesia ternyata memiliki penggemar fanatik. Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang disukai, terutama jika hal tersebut sudah menjadi suatu hobi. Hobi dengan bidang transportasi tentunya hal yang biasa di dengar misalnya mobil dan motor. Hal tidak biasa yang muncul adalah hobi dengan alat transportasi umum seperti bis, pesawat, kapal laut bahkan kereta api . yang dikelola Kereta Api Indonesia
Kereta Api Indonesia
Di kereta api para penggemarnya biasa disebut dengan railfans atau komunitas pecinta kereta api. Masyarakat yang tempat tinggalnya terkoneksi dengan jalur kereta api tentunya tidak asing dengan orang-orang yang tiba-tiba muncul membawa sejumlah kamera dan alat perekam digital. Ini terutama di daerah yang memiliki spot menarik bagi seorang railfans untuk mengabadikan kereta api yang lewat.
Mereka umumnya tahu bahwa jalur kereta api bukan tempat untuk bermain. Sehingga hal yang di utamakan adalah keselamatan yang harus selalu di patuhi saat hunting foto-foto atau video kereta api.
Salah satu rangkaian kereta api Indonesia yang sedang melakukan perjalanan. Foto: Dok. PT KAI
Railfans tidak hanya senang fotografi atau videografi saja, namun kehadiran mereka juga membantu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam melayani para pelanggan. Seperti pada masa angkutan Lebaran tahun 2022 lalu, para railfans dari berbagai daerah secara sukarela terlibat dalam memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan perjalanan kereta di stasiun-stasiun.
Mereka kebanyakan berasal dari pelajar yang merelakan waktu liburan sekolah untuk menjadi relawan dengan membantu pelanggan atau masyarakat yang hendak menggunakan kereta api. Terkadang untuk membantu masyarakat yang sekadar bertanya terkait jadwal perjalanan kereta api di stasiun.
Jumlah railfans ini tak cukup besar. Di wilayah operasional KAI Jawa dan Sumatera saja terdapat setidaknya 50 komunitas railfans binaan KAI yang sering berkolaborasi dengan manajemen KAI melakukan kegiatan sosialisasi dan berkontribusi dengan cara mereka sendiri untuk kemajuan perkeretaapian Indonesia.
Dari 50 komunitas railfans tersebut 23 di antaranya membantu KAI dalam posko angkutan Lebaran tahun 2022 ini, yakni Jejak Railfans, Train Photograph Railfans Indonesia, Edan Sepur Wilayah Jakarta, Bandung, serta Cirebon, GM-MarKA, RD One, National Railfans, Sedulur Sepur, Forum Railfans Area 1, Victory Railfans.
Kemudian ada Sahabat Kereta Api Daop 2 bandung dan Daop 8 surabaya, Railfans Cianjur, KRDE Daop 4 semarang dan Daop 9 jember, Spoorlimo, Railfans Jombang +43, Railfans Enam Delapan Kediri, Pecel +64 Madiun, Si Puong, RF+444 Malang, dan terakhir Osing Train Community.
Masing-masing Railfans ini memiliki anggota yang bervariasi jumlahnya, yakni di kisaran 20 hingga 400 orang dan rata-rata masih berstatus pelajar. Selama posko, terdapat sejumlah kegiatan yang dikerjakan oleh para anggota railfans tersebut secara sukarela. Di antaranya, mengantarkan pelanggan agar tak salah nomor kursi dan masuk kereta.
Railfans KAI membantu melayani secara sukarela masyarakat yang membutuhkan informasi kereta api. Foto: Dok. PT KAI
Selain itu mereka juga membantu melakukan pengawasan protokol kesehatan, membantu memberikan informasi aturan perjalanan kereta, membawakan tas milik pelanggan, membantu pelanggan yang kebingungan saat melakukan boarding atau check in, dan memberitahukan informasi jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta. Mereka juga tidak segan untuk membantu lansia dan pelanggan yang memiliki kebutuhan khusus.
Vice President Public Relations PT KAI Joni Martinus mengaku senang dan bangga bisa berkolaborasi dengan railfans yang selalu mendukung KAI dalam segala hal. KAI memberikan apresiasi yang tinggi kepada komunitas pecinta KA atau railfans atas kontribusi pada angkutan Lebaran tahun 2022.
“Di balik kelancaran angkutan Lebaran ini tentunya ada peranan railfans yang membantu. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman railfans karena telah bahu membahu menyukseskan angkutan Lebaran tahun 2022 dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan mewujudkan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, sehat, dan selamat,” ucap Joni.
Kehadiran railfans di stasiun, selain membantu pelayanan juga memberikan semangat kepada para pekerja KAI lainnya dalam melaksanakan tugas selama posko.
Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan di KAI tidak terbatas hanya pada posko angkutan Lebaran saja, namun juga pada posko Nataru (Natal dan Tahun Baru), kerja bakti membersihkan stasiun, serta melakukan edukasi dan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang. Kegiatan ini pun di pandang positif oleh masyarakat bahkan oleh dinas terkait.
Joni mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh beberapa railfans khususnya dalam mengedukasi keselamatan perjalanan kereta api kepada masyarakat. Bahkan, beberapa aksi tersebut adalah inisiatif railfans itu sendiri. Hal ini merupakan bentuk kecintaan pada perkeretaapian secara nyata.
Bagi KAI, peran railfans sangat strategis dalam upaya mendukung kemajuan perkeretaapian, dimana masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang sama guna memajukan perkeretaapian di Indonesia.
“Railfans memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perkeretaapian yang terus dilakukan oleh KAI. Dari kegiatan-kegiatan positif tersebut diharapkan mampu menambah kualitas pelayanan dan memberikan citra positif untuk KAI maupun bagi railfans itu sendiri,” tutup Joni.