Perjalanan Wisata Religi ke Tomohon Sulawesi Utara yang Asyik

Patung Yesus salah satu wisata religi Tomohon

Sulawesi Utara tak hanya dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya di Bunaken dan kulinari eksotiknya di pasar Tomohon. Tapi juga perjalanan wisata religi. Khususnya untuk umat kristiani. Ada beberapa tempat untuk melakukan wisata religi di daerah ini.

Hari Pertama Wisata Religi ke Tomohon: Patung Yesus, Linow, Pisang Goroho, Bukit Doa.

Di Tanah Malesung, 36 kilometer dari Bandara Udara Internasional Sam Ratulangi, Manado, terdapat sebuah kota kecil yang menyimpan sejuta pesona, Tomohon. Dulu merupakan bagian dari Kabupaten Minahasa, tapi sejak 2003 menjadi daerah otonom. Wilayah ini memiliki bentang alam yang menawan. Bahkan tak cukup sehari mengeksplorasi keindahannya.

Patung Yesus Memberkati

Di tengah perjalanan membelah ring road baru dari Bandara Internasional Sam Ratulangi menuju Tomohon, pelancong wisata religi akan melewati kompleks perumahan Citra Land. Jaraknya kira-kira 5 kilometer dari titik nol Kota Manado. Lokasi pemukiman elite ini tampak berada di antara dua bukit. Di bagian kiri, tampak Gunung Klabat, sementara di sisi kanan ada bukit-bukit hijau membentang. Terlihat pula Patung Tuhan Yesus Memberkati berdiri gagah jauh di ujung pandangan, yang dibangun sepuluh tahun lalu oleh pengembang Ciputra sebagai wujud syukur. Konsepnya mirip patung Yesus di Rio de Janeiro. Hanya, ukurannya lebih kecil. Wisatawan yang hendak ke Tomohon untuk wisata religi umumnya mampir sekadar untuk memotret.

Danau Linow

Danau tiga warna ini letaknya 30 kilometer dari Kota Manado atau bisa dicapai dalam satu jam. Di sana, pengunjung bakal dimanjakan dengan pemandangan kolam sulfur berwarna tosca, biru tua, dan hijau muda. Kalau beruntung, tiga warna ini bisa berubah menjadi kuning, hijau tua, atau biru muda. Perubahan terjadi lantaran unsur belerang di dalam danau terpapar langsung cahaya sinar matahari sehingga menimbulkan pembiasan. Belerang ini berasal dari sisa-sisa letusan Gunung Mahawu yang mengalami erupsi ratusan tahun lalu. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk Rp 20 ribu per orang. Lantas bisa duduk nyaman di restoran tepi danau sembari menyeruput kopi Kotamobagu—kopi khas Sulawesi Utara—secara gratis.

Berburu Pisang Goroho

Masyarakat asli Minahasa gemar menyantap pisang goreng. Yang sangat khas di tanah ini adalah pisang goroho yang diiris tipis hampir menyerupai keripik. Penganan ini bisa dijumpai di kedai sepanjang jalan menuju Danau Linow. Namun yang paling direkomendasikan adalah kafe yang berada di kawasan danau itu. Di sana, pisang goreng tersebut dipadu dengan sambal roa. Minumannya, kopi Kotamobagu, salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara. Pisang goroho, sambal roa, dan kopi Kotamobagu memang menjadi santapan yang tak boleh dilewatkan di sini.

Bukit Doa dalam Wisata Religi Tomohon
Bukit Doa dalam wisata religi ke Tomohon

Bukit Doa

Seiring dengan pergeseran matahari yang mulai condong ke petilaman, perjalanan idealnya dilanjutkan ke arah utara, yakni daerah Kakaskasen Tiga. Dicapai hanya 30 menit dari Danau Linow. Melewati bukit-bukit hijau, kendaraan digiring menuju sebuah tempat wisata religi bernama Bukit Doa. Terdapat kapel dan gua Maria di kawasan tersebut, tapi tak menutup kemungkinan umat beragama lain datang berkunjung. Umumnya, mereka ingin berfoto di atas bukit dengan latar pemandangan Kota Tomohon sembari menikmati langit berubah kekuningan.

Bukit Doa ini dikelola secara pribadi oleh Ronald Korompis, pebisnis sukses asal Sulawesi Utara. Menurut Jonson Ponto, coaster yang bekerja merawat kapel di Bukit Doa, Korompis sekeluarga bermaksud mengajak orang yang datang dari segala penjuru negeri melepaskan kepenatan saat wisata religi ke Sulawesi Utara untuk berkunjung ke “rumah” seluas 132 hektare miliknya tersebut. Usut punya usut, rupanya Korompis pula yang mengelola Danau Linow.

Hari Kedua: Taman Bunga, Mujair Woku, Rumah Adat.

Taman Bunga Gardenia

Berada di Jalan Kawiley, Kakaskasen Dua, Tomohon. Kebun bunga dengan ratusan varietas di dalamnya itu menjadi surga bagi para pecinta keindahan. Masuk melewati gang kecil, tamu sudah disambut dengan para penjaja kembang di kanan-kiri. Bau harum khas kelopak yang jatuh terkena hujan semalam menyeruak ke penciuman. Sesampainya di lokasi, warna-warni sebuah taman berlatar gunung, sawah, dan pepohonan yang menyegarkan pandangan. Chuphea hyssopifolia (Taiwan beauty), pacar air, teratai, salvia, dan bromelia menyapa di barisan paling muka. Diikuti pakis monyet, lili kucai, serta piko putih dan ungu. Di belakang taman, ada sebuah resor dan restoran yang khusus disediakan buat para pelancong yang ingin bermalam.

Menyantap Mujair Woku di Si Neleyan

Restoran milik Wali Kota Tomohon Jimmy Eman ini memang menjadi tempat persinggahan paling ramai menjelang siang. Warung apung berkapasitas 200 orang ini secara strategis berdiri di pinggir Jalan Raya Tomohon. Wisatawan akan melewatinya bila berkendara dari Manado menuju Tomohon atau sebaliknya.

Hidangan paling istimewa kala bertandang ke Sulawesi Utara adalah masakan woku. Inilah menu andalan yang ditawarkan warung makan ini. Woku sejatinya cocok disandingkan dengan apa pun, baik dengan hasil laut maupun daging darat. Namun di Si Neleyan hanya mujair. Jadilah menu favorit di sana mujair kuah woku. Menu utama ini umumnya disantap bersama kangkung bunga pepaya dan perkedel jagung.

Rumah Adat Masyarakat Minahasa

Di sepanjang Jalan Tomohon-Tanawangko, rumah-rumah panggung berbahan kayu berjajar. Umumnya bertingkat dua atau tiga. Hampir semuanya terlihat megah dan berukuran besar. Bentuk bangunan serupa ini untuk menghindari terkaman binatang buas, maka dirancanglah bentuk rumah yang menyerupai panggung. Di dalamnya, biasanya hanya terdapat tiga kamar. Sisanya dibiarkan menjadi ruang terbuka yang luas. Di sanalah umumnya masyarakat Minahasa mengadakan pesta bersama para kerabatnya.

Namun deretan bangunan lepas-pasang di sepanjang jalan raya itu nyatanya bukan rumah penduduk, tapi rumah contoh yang siap dijual ke konsumen. Ya, jalan itu memang menjadi sentra penjualan rumah adat masyarakat Minahasa. Di samping rumah, perajinnya sibuk mengampelas kayu cempaka. Rumah panggung ini biasanya dijual ke luar kota, seperti Gorontalo, Makassar, bahkan luar pulau dan luar negeri. Per meter dihargai Rp 1,8 juta. Secara keseluruhan, umumnya rumah dijual dengan harga mulai Rp 200 juta. L

F. Rosana/A. Prasetyo

Melawat ke Kaki Langit Pantai Selatan Yogyakarta

andi prasetyo mangunan 7

Deru mesin motor yang saya tumpangi mengaum di ketinggian 390 mdpl di atas Bukit Mangunan, Bantul – 29 kilometer dari Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta. Ini bagian dari perjalanan kami menyusuri pantai Selatan Yogyakarta.

Motor menyusuri jalanan, membelah bukit kapur di sisi tenggara kota. Saya mengejar dari belakang, merangkak di sudut berkemiringan 45 derajat, dengan napas tersengal-sengal. Azan subuh belum berkumandang. Namun sudah berkeringat. Embun yang turun tak kunjung bikin sejuk.

Tak jauh setelah mencapai puncak, motor teman saya tadi belok ke lahan lapang. Bekas roda-roda menggilas tanah menjadi tanda bahwa kawasan ini diperuntukkan buat parkir. Motor menepi, mesin berhenti. Suasana nyenyat dan sepi. Cuma terdengar derik garenpung—serangga hutan.  “Masih kepagian,” ucapnya.

Bukit Pinus Dekat Pantai Selatan Yogyakarta

Saya merogoh kantong, menemukan ponsel, memencet tombol flash. Penerangan yang tak seberapa itu menuntun kami menyeberang masuk ke hutan pinus Mangunan. Sambil meraba-raba jalan, saya berkali-kali menabrak pohon. Seperti uji nyali dan sedikit merasa repot. “Tak apa, demi sunrise yang menawan,” ujarnya menghibur.


Kami berjalan 300 meter dari gerbang, ke arah utara, sambil menebak-nebak lokasi terbaik untuk menyaksikan matahari muncul. Saya lantas menemukan tempat yang cukup lapang. Di sana, ada banyak bangku alam yang dibentuk dari potongan kayu, ditata berundak-undak.  

“10 tahun lalu,” teman tadi membuka perbincangan. “Tak pernah terbayang Mangunan bakal jadi destinasi yang begitu tenar seperti sekarang,” katanya. Sebab, dulu, sepotong tanah tandus, yang berhasil ditumbuhi tanaman paku itu kemolekannya tertutup jalanan berbatu. Bahkan sewaktu masa kolonial, jalur yang menghubungkan Bantul dan Gunungkidul ini hanya dijadikan sebagai lokasi pembuangan bangkai ternak atau jalur rahasia bagi yang ingin melarikan diri dari kejaran Belanda serta Jepang. 

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, ketika era potret dua dimensi mulai naik daun, para juru foto menaikkan pamor hutan. Gambar-gambar lanskap pinus diviralkan melalui beragam media. Satu per satu pelancong datang karena penasaran. Beberapa jurnal perjalanan marak dibuat. Para penulisnya bertutur bahwa tempat ini menjadi salah satu lokasi terbaik menikmati matahari terbit. Apalagi, dari sana, tampak semu-semu Kota Yogyakarta diapit perbukitan Menoreh. Cahaya yang muncul di sudut timur mampu menimbulkan pantulan keemasan di atas kota yang bersahaja itu.

Lama kami bertukar kisah, langit berangsur-angsur kebiruan. Tanah yang semula gelap seketika menunjukkan warna asli. Tempat kami duduk-duduk mulai kelihatan wujudnya. Ada panggung berukuran 6 x 10 meter di depan. Ah, ini ruang pertunjukan yang beberapa waktu lalu mendunia lantaran diunggah akun internasional 9GAG. Juga sempat hit karena dipakai konser beberapa musikus indie ternama. 

Kabut meluruh, matahari membuncah. Teman saya bersiul-siul meniru liukan pipit, menyambut selaksa awan yang turun pelan-pelan. Hutan berangsur-angsur riuh. Orang-orang berdatangan. Suaranya menggema, menyaru gemuruh daun. Beberapa berbisik. Katanya, mereka merasa berada di Forks, Washington, atau kota-kota kecil lain di Evergreen State. Tak ingin kehilangan momen, satu per satu ripuh mengeluarkan alat bidik, memotret lanskap dari beragam sudut. 

Pantai Parangtritis Yogyakarta
Pantai Parangtritis Yogyakarta

Kami memilih mencari spot sepi, bergerak ke area lebih dalam. Melangkah ke ujung hutan, saya dipertemukan dengan taman bunga matahari dan rumah kayu yang bertengger di atas pohon. Ada dua tingkat yang bisa dinaiki maksimal empat orang.“Biasanya, kalau ramai, pengunjung diberi batas waktu 10 menit untuk berfoto,” katanya.

Lepas pandang, ada banyak obyek yang bisa dinikmati. Salah satunya bayangan laut. “Itu pantai selatan,” tuturnya.“Bukan cuma wujudnya yang indah. Ada fenomena alam dengan sentuhan metafisika yang membuatnya lebih istimewa”. Tak banyak bicara lagi, pria berkepala dua yang lama tinggal di Bantul itu lantas membawa saya menuju lanskap yang dimaksud.

Pantai Parangkusumo. Di situlah, teman saya kembali memarkirkan kendaraannya. Ia mengajak saya menuju padang luas dengan gundukan-gundukan pasir asimetris. Kabarnya, bentang alam yang terbentuk karena erupsi Gunung Merapi, dengan endapan yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara di pantai selatan, ini menjadi satu-satunya yang terdapat di Asia Tenggara. 

Pemandangan menarik lainnya, lokasi tersebut ternyata dijadikan tempat berkumpul anak-anak muda untuk melakoni aktivitas sandboarding. Lama saya mengamati mereka yang asyik meluncur dengan papan seluncur di atas pasir. Ada yang sudah mahir, ada pula yang baru pertama kali menjajal. Yang masih “awam” tentu dengan susah payah menyeimbangkan diri supaya tak terpelanting jatuh. 

“Aw!” Seorang perempuan berusia belasan terperosok. Tubuhnya menggelinjang di pasir, panas terpapar matahari yang membuntang tepat di atas kepala. Rambutnya yang digulung model donat seketika terurai, dipenuhi debu. Wajahnya abu-abu seperti mandi pasir. Bukan menolong, kawan-kawannya malah menertawakan. “Hiyung, loro.Ojo digeguyu!”(Aduh, sakit. Jangan ditertawakan!) Ia  protes. Kelakar remaja-remaja lokal itu riuh menyita perhatian para turis. Satu-dua pelancong sampai tertarik bergabung.

Teman tadi menyuruh saya menjajal atraksi tersebut, namun saya enggan. Daripada jatuh dan jadi bahan guyonan, saya memilih diajak ke tempat lain. Lagian, sebentar lagi, matahari bakal temayun. Kata orang, tak jauh dari Parangkusumo, pelancong bisa melihat surya tenggelam paling dramatis di Bantul, tepatnya di Parangtritis.

Puluhan menit menyusur pantai, langit sudah kemerahan. Kami pun tiba di ikon pesisir yang lekat dengan legenda Ratu Kidul itu. Suara tapal kuda mematuk-matuk pasir berduet dengan debur ombak menjadi bebunyian yang laras. 

Ibu-ibu penjaja peyek jingking dan penyedia tikar, dengan wajah penuh guratan, bersiap-siap pulang. “Matur suwun,” kata mereka saat menerima bayaran sambil merunduk lugu. Pemandangan ini mengingatkan saya pada sebuah tragedi dalam film Siti, gubahan Eddie Cahyono, yang mengulas ketidaksetaraan gender dan keterbatasan ekspresi perempuan Jawa. 

Para penjaga pantai dengan sopan mengingatkan pengunjung untuk menepi. Diawali dengan ujaran “nuwunsewu”, ajakan untuk mulai menjauhi air laut ditangkap dengan suka cita.

Lewat entitas Parangtritis, Bantul terekam menjadi sebuah daerah yang rendah hati, meski memiliki berlaksa kekayaan alam. Sejuta manusia dengan kesahajaannya seakan dihadirkan di tanah yang kata orang merupakan citraan “kaki langit” itu. Matahari pelan-pelan merunduk. Langit Jawa mulai gelap dan yang tersisa hanya dialog alam.

“Dan laut tak lagi pasang. Gelombang diam menyimpan suara. Awan bertiup bertingkat-tingkat. Surya ke barat, udara ke utara. Nada terakhir bawa kita pulang…”

F. Rosanna

Gorontalo Karnaval Karawo 2019 Satukan Masyarakat

Gorontalo karnaval Karawo

Gorontalo Karnaval Karawo 2019 kembali digelar. Event ini dinilai sebagai acara tahunan Gorontalo yang menjadi wadah menyatukan masyarakat untuk bersama-sama mengangkat keunikan kain Karawo sebagai wastra khas daerah tersebut.

Gorontalo Karnaval Karawo 2019

Gorontalo Karnaval Karawo 2019, yang diselenggarakan di sepanjang jalan utama yakni Jalan Sultan Hassanudin dan sekitarnya, tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-9 kalinya dan dua tahun terakhir masuk dalam 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata.

“Tahun ini, Gorontalo Karnaval Karawo mengangkat tema Wonderful Celebes,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo, Budi Widi Hartanto, sebagai inisiator Gorontalo Karnaval Karawo, Minggu 6 Oktober 2019.

Pada acara puncak, ratusan masyarakat yang datang berbagai elemen bersatu untuk mengadakan karnaval. Rangkaian acara Gorontalo Karnaval Karawo telah dilaksanakan sejak 2 hingga 6 Oktober 2019. Acara yang telah dilaksanakan yakni Mo “Karawo” Design Training, Karawo Fashion Contest, Mo “Karawo” Tradisional Handmade, Gorontalo Culinary Expo, Celebes Tourism Meeting, serta Gorontalo Karnaval Karawo.


Gorontalo Karnaval Karawo dilaksanakan untuk melestarikan kain karawo agar keberadannya terus mendapat perhatian masyarakat. Pada awal tahun 2000-an, nama kain Karawo sudah hampir tidak terdengar. Lalu sejak 2010, dengan diinisiasi Pemda setempat dan didukung oleh Bank Indonesia, diadakanlah Karnaval Karawo. Sejak saat itu, kain Karawo mulai banyak digunakan.

Budi menambahkan, momentum itulah yang menggerakkan berbagai perubahan yang dilakukan para perajin, mulai dari peningkatan kualitas bahan, penambahan jumlah model, hingga perubahan cara pemasaran.

Keberadaan Gorontalo Karnaval Karawo diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat melalui pariwisata. Saat ini, capaian sumbangan sektor pariwisata terhadap PDB Gorontalo mencapai 3,5 persen.

Pada 2019, kain Karawo telah memiliki daya pikatnya tersendiri, berbagai usaha produksi serta pemasaran yang dilakukan para pengrajin kain mendapat dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta BUMN di Gorontalo.

Perkembangan inilah yang kemudian menginspirasi pemda untuk menjadikan Karnaval Karawo sebagai agenda tahunan. Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim, menyatakan pihaknya telah melakukan berbagai promosi pariwisata.

Meski melalui banyak tantangan, Gorontalo terus memperbaiki atraksi, amenitas, dan aksesibilitas pendukung pariwisata. Tujuannya, selain mendatangkan wisatawan juga agar masyarakat Gorontalo bangga dengan daerahnya.

“Selain itu, kami juga melaksanakan saran Menteri Pariwisata untuk membentuk komunitas yang dapat menciptakan masyarakat pariwisata. Dari situ, kita bisa melakukan banyak pengembangan wisata hingga promosi daerah dengan melibatkan masyarakat,” kata Idris.

Menteri Pariwisata bangga dengan penyelenggaraan Gorontalo Karnaval Karawo 2019. Dia mengapresiasi seluruh rangkaian acara serta keterlibatan masyarakat di dalamnya. Menpar juga memuji komitmen Kepala Daerah, dalam hal ini Gubernur Gorontalo yang telah merencanakan secara matang pelaksanaaan 54 event pada 2020. Nantinya kegiatan tersebut akan menjadi event tahunan dan jumlah event bisa saja bertambah.

*****

Booth Wonderful Indonesia Raih Best of The Year ADEX 2019

media 1570595802 dafawda

Booth Wonderful Indonesia raih Best of The Year ADEX 2019. Pada acara Asia Dive Expo (ADEX) India Ocean Festival 2019 yang diselenggarakan pada 4-6 Oktober 2019 di Bombay Expo Center 2019, Mumbai, India.

Booth Wonderful Indonesia Raih Best of The Year ADEX 2019

Asisten Deputy (Asdep) Pengembangan Pemasaran II Regional III Kementerian Pariwisata  Sigit Witjaksono mengatakan, partisipasi Indonesia para acara ini bertujuan untuk menarik wisatawan minat khusus diving.

“Apalagi karena meningkatnya awareness dan ketertarikan wisatawan India terhadap wisata bahari di Indonesia,” kata Sigit di Mumbai, Senin 7 Oktober.

ADEX merupakan pameran internasional bertema diving yang diselenggarakan sejak 25 tahun lalu di Singapura, Beijing, dan Shanghai. ADEX merupakan ajang pertemuan industri, stakeholders, komunitas, dan penggiat wisata bahari, wisata selam, dan konservasi laut dari seluruh dunia. Ini merupakan yang pertama kalinya ADEX diselenggarakan di India.

Kemenpar menempati booth seluas 54 m2 yang terletak di area B09-B14, sebagai Paviliun Wonderful Indonesia. “Paviliun Wonderful Indonesia memfasilitasi 10 industri diving di Indonesia,” kata Sigit.

Untuk meningkatkan pemahaman pengunjung mengenai wisata bahari di Indonesia, Kemenpar menghadirkan narasumber resmi sebagai guest speaker, yaitu Daniel Abimanju Carnadie (Abie) yang juga sebagai Tim Percepatan Wisata Bahari Bidang 3 Wisata Bawah Air. Abie sudah berpengalaman selama 20 tahun menjadi penyelam profesional dan telah aktif mendukung industri divingIndonesia.

Pada ADEX 2019 di Mumbai ini turut hadir Mantan Presiden Maldives, Mohamed Nasheed yang menyampaikan keynote speech dan aktris Bollywood sekaligus ADEX India Ambassador, Parineeti Chopra. “Acara ADEX ini sangat penting karena menyebarkan pesan kepada masyarakat dunia apa yang sedang terjadi pada alam, kita harus menjaganya untuk generasi mendatang,” kata Mohamed Nasheed.
India menjadi salah satu potensial pasar bagi Indonesia. Jumlah wisatawan negara ‘Anak Benua’ itu tercatat memiliki grafik positif. Pada 2012, tercatat ada sebanyak 196.983 kunjungan wisatawan India ke Indonesia. Namun menurut data resmi dari Badan Statistik Indonesia (BPS) jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat menjadi 588.509 pada 2018. Jumlah ini meningkat dibanding 2017 sebesar 485.314 kunjungan wisman India.

“Pada 2019, Kemenpar menargetkan bisa menarik 800 ribu wisatawan India ke Indonesia, salah satu cara yang kita lakukan adalah dengan partisipasi melalui ADEX 2019 ini”, kata Sigit.

Sigit menambahkan wisman India yang berkunjung ke Indonesia didominasi anak muda usia sekitar 25 tahun dengan pengeluaran rata-rata sebesar 1000 dolar AS perkunjungan, dengan lama tinggal rata-rata 7-10 hari.

*****

Ubud Village Jazz Festival 2019 Dimeriahkan Pemusik Internasional

media 1566187963 img 20190819 wa0007

Ubud Village Jazz Festival 2019 (UVJF 2019) yang berlangsung di kerindangan Taman Arma Museum, Ubud, Bali, pada 16 dan 17 Agustus 2019 dimeriahkan dengan kehadiran pemusik dan penyanyi internasional. Pergelaran musik jazz yang mulai dikenal secara internasional ini diselenggarakan dalam rangka ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-74.

Ubud Village Jazz Festival 2019 Mengambil Tema “Certainly! Indonesia”

UVJF 2019 menampilkan berbagai corak jazz yang demikian luas dari para musisi ternama dari 8 negara meliputi Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Belanda, Italia, Australia, Prancis, dan Korea-Selatan.

Konser akan dihelat di tempat yang berbeda. Pre-event UVJF juga diadakan di kawasan Aryaduta Bali dengan menampilkan musisi berkebangsaan Prancis, yaitu Vogayer 4 dengan membawakan jenis musik progressive jazz dan memainkan karya-karya orisinil mereka. Selain penampilannya di Aryaduta, kelompok jazz yang terdiri dari Ohane Dourian, Galindo Cuadra, Gabriel Ferrari dan Paul Herry-Pasmanian sebelumnya telah tur selama satu bulan penuh di Indonesia. Kehadiran mereka didukung oleh Institute Francais Indonesia.

Selain dua tempat itu, pada malam yang sama juga diselenggarakan pre-event UVJF 2019 di sebuah hotel di kawasan Sanur, Denpasar, yang diisi oleh penampilan dari Aaron Goldberg Trio. Artis yang terkenal berasal dari New York, Amerika Serikat itu menampilkan dentingan pianonya yang khas ditemani oleh kedua rekannya yaitu, bassis Matt Penmann dan drummer Leon Parker.

Tenaga Ahli Sekretaris Kementerian Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata I Gusti Ngurah Putra saat pembukaan Ubud Village Jazz Festival 2019 mengatakan, banyaknya artis internasional yang terlibat dalam acara bisa menjadikan ikon untuk mendatangkan wisatawan secara langsung ke Bali.

“Event ini salah satu cara efektif mempromosikan suatu daerah,” katanya.

Ngurah Putra juga mengatakan, target pengunjung sebanyak 4 ribu orang selama dua hari untuk acara itu sepertinya dilampaui.“Mereka terbagi menjadi 60 persen ekspatriat dan turis internasional, serta 40 persen turis domestik dan penduduk lokal Bali,” katanya.

Beberapa musisi yang tampil di Ubud Village Jazz Festival 2019 membuat semarak panggung demi panggung dalam gelaran hari pertama penyelenggaraan festival ini. Ada sebelas group musisi luar negeri dan dalam negeri yang menghidupkan ketiga panggung secara bergiliran.

Beberapa nama yang tertera di panggung Giri yakni Aram Rustamyants “New Centropezn Quartet” musisi asal Rusia yang telah terkenal juga di Jerman, Belgia, dan Spanyol; Ilugdin Trio, musisi asal Rusia yang mengusung jazz modern, dan Sri Hanuraga Trio Feat Dira Sugandi, musisi jazz kebanggaan Indonesia.

Di Panggung Padi menyajikan beberapa musisi pilihan seperti Arcing Wires, musisi yang berkolaborasi memainkan original komposisi yang mereka ciptakan.

Arching Wires berasal dari Sydney, Australia, MLD Spot Jazz Season 4, sebuah band yang terbentuk dari kompetisi pencarian bakat MLDARE2PERFORM, Harry Mitchell Trio, musisi asal Australia yang pada tahun 2017 meraih penghargaan “Young Australian Jazz Musician of the year”, serta Michaela Rabitsch & Robert Pawlik Quartet, musisi kenamaan Austria.

Beberapa musisi juga tampil di Panggung Subak, di antaranya adalah Yvon Thibeault “perspectives”, drummer Jazz asal Kanada yang saat ini tinggal di Bali; Erik Verwey Trio, musisi yang berasal dari Belanda; Pete Jung Quartet, Musisi Korea yang mengusung genre Jazz progressive; serta Anggi Harahap Quintet, pemain saxofon muda berasal dari Sumatera.

*****

Wonderful Event Sumbar 2019 Diluncurkan

media 1565829989 qdwqwqw

Wonderful Event Sumbar 2019 diluncurkan di gedung Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata. Ada program yang diharapkan dapat mendorong pariwisata Sumatera Barat dan Jambi, di antaranya adalah ajang balap sepeda tahunan Tour de Singkarak (TdS) 2019. “Tour de Singkarak tahun ini memasuki penyelanggaraan ke 11,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam peluncuran Wonderful Event Sumbar 2019 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata, Rabu 14 Agustus 2019.

Wonderful Event Sumbar 2019: Tour de Singkarak

Penyelenggaraan Tour de Singkarak tahun ini semakin diperluas jangkauannya hingga 9 etape yang melintasi 16 kabupaten/kota Sumatera Barat  dan dua kabupaten di Jambi. “TdS merupakan sport tourism yang sangat efektif untuk mempromosikan pariwisata,” katanya.

Penyelenggaraan TdS 2019 dengan hadiah total sebesar Rp 2,3 miliar pada tahun ini akan berlangsung pada 2-10 November 2019 dengan menampilkan atraksi budaya, kuliner, dan olahraga.
Menteri Arief Yahya didampingi Gubernur Sumatera Barat H. Irwan Prayitno pada kesempatan itu menjelaskan, event TdS mempunyai keunggulan sebagai event sport tourism balap sepeda internasional terbesar di Indonesia.

Gubernur H. Irwan Prayitno mengatakan, Sumbar memiliki 49 event unggulan, tiga di antaranya masuk dalam 100 Wonderful Event yang digelar sepanjang tahun 2019 di 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Ketiga event unggulan tersebut Pasa Harau Art And Cultural Festival, Tour de Singkarak (TdS), dan Festival Budaya Miangkabau. Ketiga event ini masuk dalam 100 Wonderful Event dan akan menjadi magnet dalam menandatangkan wisatawan ke Sumbar pada tahun ini yang mentargetkan 58.447 wisatawan mancanegara (wisman) dan 8,4 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).

“TdS 2019 merupakan event unggulan Sumbar. Tahun ini kita berkolaborasi dengan Provinsi Jambi. Dua kabupaten di Jambi yakni Kerinci dan Sungai Penuh akan dilalui. Ini menjadi kesempatan untuk mempromosikan pariwisata Jambi,” kata Irwan.
 Ketiga event unggulan Sumbar yang masuk dalam 100 Wonder Event 2019 selain TdS 2019 juga Pasa Harau Art And Cultural Festival akan berlangsung di Kabupaten Lima Puluh Kota pada 16-18 Agustus 2019.

Dalam penyelenggaraan festival budaya ini akan ditampilkan antara lain Harau Performing Art, Harau Adventure Run (Harau Berjejaring), Pacu Jawi, serta Jelajah Harau/Mengejar Embun Lembah Harau.  

Sementara itu penyelenggaraan event Festival Pesona Budaya Minangkabau akan berlangsung di Kabupaten Tanah Datar pada 4-7 Desember 2019.

Dalam festival budaya ini akan ditampilkan antara lain Pawai Budaya, Arakan Jamba, Makan Bajamba, dan Pemecahan Rekor MURI untuk Pagelaran Telepong  Pacik Terbanyak.

*****

Festival Danau Kelimutu 2019 Angkat Wisata Ende

media 1565889552 cawaacw

Festival Danau Kelimutu 2019 diharapkan makin mendorong kemajuan pengembangan pariwisata di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Festival yang masuk tahun ke-9 ini bisa menjadi magnet wisata serta pengembangan kehidupan masyarakat adat,” kata Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, saat penutupan Festival Danau Kelimutu 2019 di Kawasan Taman Nasional Kelimutu, Ende, Rabu 14 Agustus 2019.

Festival Danau Kelimutu 2019

Viktor juga berharap festival tersebut dapat terus membangkitkan pengakuan negara akan eksistensi adat budaya setempat. Keberadaan pariwisata, menurutnya, tidak bisa dipisahkan baik dari alam dan budaya. 

Gubernur juga mengatakan, sektor pariwisata di NTT menjadi kekuatan. Meskipun ada beberapa kendala seperti harga tiket pesawat ke NTT khususnya Ende masih tinggi. “Tahun 2022 setelah Bandara Komodo rampung, pesawat dari Singapura akan masuk sehingga akan mempermudah wisatawan yang akan ke Ende dan menikmati Kelimutu,” katanya.

Wakil Bupati Ende Djafar Achmad mengatakan, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni dari 13 ribu pada 2013, naik menjadi 93 ribu wisatawan pada 2018.

Menurut dia, kegiatan pariwisata yang menonjolkan wisata sejarah, alam, dan budaya ini sudah terbukti menarik minat kunjungan karena selalu diramaikan kalangan wisatawan domestik hingga mancanegara.

Salah satu keunggulan objek wisata yang dimiliki daerah setempat yakni Taman Nasional Kelimutu (TNK) yang sudah mendunia. Brandingwisata alam dan juga wisata sejarah, budaya, menurut Djafar, terus akan tonjolkan untuk menarik kunjungan wisatawan, seraya “di sisi lain kami juga benahi objek-objek wisata penyanggah di sekitarnya,” katanya.
Sementara itu, Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziani menambahkan seperti halnya destinasi wisata alam lainnya, Danau Kelimutu merupakan anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan untuk Indonesia. Karena ini pula, NTT khususnya Kabupaten Ende dikenal banyak orang.

“Kelimutu sudah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992. Namun lebih lengkap lagi bila Kelimutu mendapat pengkauan dari Unesco Global Geopark, agar lebih mudah dipromosikan ke dunia,” katanya.

*****

Festival Morotai 2019 Magnet Wisata Maluku Utara

media 1565181475 zxzczczcz

Festival Morotai 2019 magnet wisata Maluku Utara makin kuat dari waktu ke waktu. Ia menjadi salah satu daya tarik untuk mengundang wisatawan mengunjungi provinsi ini.

Festival Morotai 2019

Festival Morotai 2019 kembali dilaksanakan awal Agustus ini menampilkan daya tarik Maluku Utara dan sekitarnya sebagai destinasi wisata yang mampu menghadirkan ikon monumental Perang Dunia II. Tahun ini festival yang bertajuk Land Of Storiesmenjadi atraksi wisata tersendiri.

Rangkaian acara Festival Morotai 2019 diadakan di eks lokasi Sail Morotai, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara pada Rabu, 7 Agustus 2019. Pulau ini merupakan satu museum besar Perang Dunia II.

“Morotai sangat menarik karena menyimpan sejarah pada masa Perang Dunia II serta masa pembebasan Papua Barat,” kata Menteri Pariwisata  Arief Yahya di Morotai. Sehari sebelumnya, Mentri Arief mengunjungi beberapa lokasi wisata di Morotai, salah satunya yakni Museum Perang Dunia II dan Trikora.

Arief melihat antusiasme masyarakat dalam Festival Morotai yang masuk dalam Calender Of Event Tahun 2020. Di sisi lain, sebagai faktor pendukung, Maluku Utara memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di tingkat nasional. Diikuti oleh Sulawesi Utara dan Maluku sebagai peringkat kedua dan ketiga.

Festival Morotai merupakan sebuah festival yang digagas untuk mengenalkan pesona Indonesia Timur, baik sisi alam budaya dan masyarakatnya. Tahun ini, pertama kalinya Festival Morotai masuk dalam 100 Calendar of Events Wonderful, Kementerian Pariwisata.

Pada kesempatan sama, Bupati Pulau Morotai Benny Laos menyampaikan terima kasih pada Kementerian Pariwisata yang menetapkan Festival Morotai masuk dalam 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata.

Bupati Benny juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak terutama para penampil Bambu Tada yang telah berlatih keras demi mempersiapkan tampilan terbaik untuk memecahkan rekor MURI.”Masyarakat Morotai memiliki optimisme serta mau bekerja keras untuk memajukan Morotai. Kami sangat mengapresiasi semangat ini” lanjut Benny Laos.

Festival Morotai 2019 menampilkan ragam pertunjukan kesenian daerah, antara lain Musik Bambu Tada, berbagai tarian, dan nyanyian khas daerah. Kegiatannya terdiri atas rangkaian acara yang menyajikan enam event unggulan yang bertumpu pada daya tarik wisata alam (nature), wisata budaya (culture), dan wisata buatan manusia (man-made).

Keenam event tersebut adalah Parade Budaya dalam Bahari Pulau Morotai, Pekan Seni Morotai (lomba fotografi, lomba kerajinan tangan), Pekan Olimpiade Morotai (lomba dayung), Festival Musik dan Tari Tradisional, Lomba Mancing berskala internasional atau Fishing Morotai dan Festival Pesona Kirab Nusantara Morotai.

*****

Dieng Culture Festival 2019 Peminatnya Meningkat

Dieng Festival 1 1

Dieng Culture Festival (DCF) 2019 yang berlangsung pada 2-4 Agustus 2019 lalu dikunjungi 177 ribu wisatawan, baik mancanegara atapun nusantara.

Ketua Panitia Dieng Culture Festival 2019 Alif Fauzi di Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu 7 Agustus 2019 mengatakan, setiap tahun DCF mengalami peningkatan jumlah wisatawan.

“Jumlah pengunjung memang masih didominasi wisatawan domestik, namun wisatawan mancanegara ada 930 orang,” kata Alif.

Jumlah tersebut meningkat setiap tahunnya, tercatat pada 2017 ada 148 ribu wisatawan, dan 2018 sebesar 158 ribu wisatawan.

Tiket masuk DCF tahun ini memang dijual lebih banyak dibandingkan tahun lalu, yakni 5.500, harga per-tiketnya mencapai Rp 360 ribu selama tiga hari festival berlangsung. “Spending wisatawan rata-rata Rp400 ribu, kami perkirakan selama tiga hari ada perputaran uang sebesar Rp 70,8 miliar,” kata Alif.

Tahun lalu, kata Alif, perputaran uang tercatat sekitar Rp 58 miliar. Jumlah tersebut, lanjut Alif, sama dengan jumlah penjualan hasil panen kentang di Dieng selama satu tahun.

Secara terpisah, Ketua Pelaksana Top 100 Calender of Event (CoE) Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti mengatakan Kesukseskan Dieng Culture Festival ke-10 memberikan dampak langsung terhadap perekonomian sekitarnya, khususnya, dan Jawa Tengah pada umumnya. Masyarakat diharapkan bisa lebih baik dalam memberikan hospitality terhadap wisatawan baik wisatawan mancanegara ataupun nusantara.

*****

Manado Fiesta 2019 Digelar Sulawesi Utara

Manado Fiesta 201901

Manado Fiesta 2019 kembali digelar pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dari 27 Juli hingga 31 Juli 2019. Program ini dilaksanakan untuk merayakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-396 kota Manado sekaligus ingin menunjukkan mengenai keberagaman budaya yang ada di kota ini.

Manado Fiesta 2019

Manado Fiesta 2019 kembali digelar pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dari 27 Juli hingga 31 Juli 2019.

“Sulawesi Utara kami arahkan menjadi laboratorium kerukunan. Selama tiga tahun terakhir, melalui event ini, kita jadikan contoh bagaimana kehidupan keberagaman dan kerukunan antar suku serta agama bisa dilaksanakan di Sulawesi Utara,” ujar Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey pada pembukaan Manado Fiesta yang berlangsung di God Bless Park, Manado, Sabtu 27 Juli 2019 malam.

Sebagai simbol keberagaman budaya tersebut, dalam acara pembukaan ini menampilkan pementasan tarian khas Suku Batak, Betawi, Kalimantan, Papua, dan Manado. Tarian ini dipentaskan oleh sekitar 200 pelajar SMP dari kota Manado. Setelah itu, dilanjutkan dengan atraksi penampilan fashion carnival dan juga penampilan kendaraan hias yang mewakili masing-masing rangkaian kegiatan Manado Fiesta.

Manado Fiesta 201902

Tarian tradisional saat pembukaan Manado Fiesta 2019. (Dok. Kemenpar) Walikota Manado Vicky Lumentut menambahkan bahwa event ini dikemas dalam bentuk parade yang menampilkan dua hal. “Pertama, Manado ibarat sebuah rumah besar yang berisikan keberagaman suku, ras, budaya, dan agama. Kedua, kekayaan yang ada di Taman Laut Bunaken adalah suatu tempat penyelaman yang indah,” katanya.

Kali ini Manado Fiesta mengusung konsep 7F, yaitu Fisco, Fair, Food, Funtastic, Flying, dan Faith dengan mengangkat keunikan dan daya tarik pariwisata Manado.

Adapun kegiatan yang akan menyemarakkan kegiatan Manado Fiesta 2019, yakni :

– Fisco (Fish & Coral)
Fish & Coral Carnival akan diselenggarakan pada 27 Juli 2019, start dari Taman Berkat (God Bless Park) dan Boulevard 2, finish di Pohon Kasih Kawasan Megamas.

– Food/Kuliner
Manado kuliner festival akan diselenggarakan pada 30 dan 31 Juli 2019 bertempat di Taman Berkat.

– Fashion
Manado Fashion Festival akan diselenggarakan pada 1 dan 2 Agustus 2019 bertempat di Manado Town Square (Mantos).

– Funtastic
Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada 27 Juli – 4 Agustus 2019 di Taman Berkat, Aula Pemkot Manado, Lapangan Sparta Tikala dan beberapa lokasi di Kota Manado. Rangkaian acara funtastic antara lain Lomba Masamper, Lomba paduan suara, Manado Youth Festival, Manado Traditional Sea Fest, Lomba Taman, Lomba Kebersihan, dan Konser Musik yang menampilkan artis ibukota.

– Flying
Paragliding International Accuracy Open yang akan menghadirkan atlit-atlit paralayang regional, nasional hingga internasional, akan diselenggarakan di Gunung Tumpa pada 1 hingga 3 Agustus 2019.

– Fair
Manado Fiesta Fair 2019 , akan diselenggarakan pada 31 Juli hingga 3 Agustus 2019 di Manado Town Square 3. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan seperti Pameran Pariwisata, Perdagangan, Investasi serta Produk Unggulan Daerah, Pameran Taman Hias, Pameran Lukisan, Lomba Lukis Anak, Talkshow, Workshop, Pentas Seni Budaya dan live Musik, dan berbagai kegiatan menarik lainnya.

– Faith
Kegiatan Manado Fiesta 2019 akan ditutup dengan pelaksanaan Thanksgiving atau Pengucapan Syukur yang akan dirayakan secara serentak di seluruh Kota Manado pada hari Minggu, 4 Agustus 2019.

 

******