Kota Lama Padang, Terbesar di Abad 19

Kota Lama Padang bisa dinikmati di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Kota lama Padang merupakan bagian kuno dari ibukota Sumatera Barat. Dulunya ia menjadi tanda kebesaran Padang sebagai kota perdagangan di zaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Sayangnya kini, akibat waktu dan gempuran gempa, sebagian bangunan semakin terbengkalai dan tidak terawat.

Kota Lama Padang

Hampir sepanjang abad ke-19, Padang boleh disebut menjadi kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan, sekaligus “markas” militer Hindia Belanda, dalam hal ini diwakili oleh kongsi dagang VOC, untuk menaklukkan dan mempertahankan daerah-daerah di Sumatera. Tidak hanya dibangun oleh penguasa saat itu, kota ini juga tumbuh berkat partisipasi pihak swasta yang berasal dari berbagai bangsa, seperti Minangkabau, Belanda, Cina, India, dan Arab.

Sisa-sisa arsitektur masa keemasan zaman itu masih bisa dilihat di kawasan Padang Kota Lama. Lokasinya di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, dan Pasar Gadang. Namun akibat gempa besar 7,9 skala Richter, yang terjadi pada 30 September 2009, banyak bangunan rusak dan hanya beberapa yang bisa diperbaiki. Menikmati sisa-sisa kejayaan kolonial kota ini paling tepat dilakukan dari atas Jembatan Siti Nurbaya, yang terbentang di atas Sungai Batang Arau. Dari jembatan ini lanskap Kawasan Padang Kota Lama terlihat lebih jelas.

Kota Lama Padang menyimpan bukti kebesaran kota ini di masa lampau.
Sungai Batang Arau yang membelah kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Jalan Batang Arau terletak di sisi kanan Sungai Batang Arau, dekat muara. Di sana berderet puluhan bangunan tua dan besar menghadap ke jalan serta Sungai Batang Arau. Dulu, bangunan ini digunakan untuk kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang. Bangunan yang menonjol adalah Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio, yang didirikan sebelum 1920. 

Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik ini setinggi 24 meter, sementara dindingnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada bagian puncak. NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat bisnis beberapa perusahaan. Kini, kantor itu dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga dan tampak tidak terawat.

Namun, ada juga bangunan yang masih terawat, seperti yang sekarang digunakan Bank Indonesia. Dulu, gedung ini dimanfaatkan De Javasche Bank, yang berlokasi di seberang NHM. Dibangun sekitar 1930, bangunan ini berarsitektur tropis dengan kubah kecil di bagian atas mirip atap masjid.

Kota Lama Padang memiliki sejumlah gedung kuno yang merupakan peninggalan Belanda dengan arsiteturnya yang khas.
Sebuah gedung kuno peninggalan Belanda di Padang yang masih sering dikunjungi wisatawan. Foto: Dok. shutterstock

Gedung lain yang menonjol adalah Padangsche Spaarbank, yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua setinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik. Tampaknya bangunan tersebut terpengaruh arsitektur art-deco dengan gaya mahkota di bagian depan atas bertulisan “1908”. Bangunan ini sempat menjadi Hotel Batang Arau, yang banyak dikunjungi turis asing yang ingin berselancar di Mentawai.

Sejak gempa 2009, gedung itu kosong dan terlihat tidak terawat. Di sebelahnya terdapat gedung NV Internatio, yang dibangun sekitar 1910. Dengan gaya arsitektur neoklasik-modern, yang berkembang sebelum 1920, bangunan tersebut kini dimiliki Badan Usaha Milik Negara Cipta Niaga.

Selain di Jalan Batang Arau, ada banyak bangunan tua di tiga kawasan yang pada abad ke-19 menjadi pasar itu. Posisi pasar tersebut bersebelahan dengan Jalan Batang Arau, yakni Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad ke-19 menjadi urat nadi perekonomian kota. Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur corak tradisional Cina. Sedangkan ukiran ornamen dinding dan atap pada beberapa bangunan di sana pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.


Pasar Mudik dibangun pertengahan abad ke-19 oleh perusahaan dagang Badu Ata & Co. Beberapa bangunan menonjol di sini adalah Hotel Nagara dan Gedung Juang 45. Gedung-gedung di Pasar Mudik berupa ruko serangkai. Pengaruh arsitektur Cina, Arab, India, dan Minang terlihat di bagian atapnya.

Adapun Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa. Karena itu, selain gaya kolonial Belanda, ada campuran arsitektur tradisional Cina. Gedung yang menonjol di sini adalah kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). 

Di Kawasan Padang Kota Lama, ada juga Kelenteng See Hin Kiong, yang dijadikan tempat ibadah sejak 151 tahun lalu. Di luar kawasan ini, gedung-gedung tua juga tersebar di lokasi lain kota itu, seperti Balai Kota Padang, Kapel Susteran St Leo, dan Katedral. Sayangnya, Pemerintah Kota Padang belum memperlihatkan upaya untuk memulihkan Kawasan Padang Kota Lama. Gedung-gedung tua warisan zaman kolonial itu tampak kian telantar. Bisa dikatakan Kawasan Padang Kota Lama ini berada di ujung senja, seperti menunggu kehancuran saja.

TL/agendaIndonesia

****

Candi Sukuh, Candi Hindu Terakhir Abad 15

Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar merupakan candi Hindu terakhir di pulau Jawa.

Candi Sukuh diketahui sebagai candi Hindu terakhir yang ada di pulau Jawa. Sekaligus menandai dimulainya masa perkembangan awal agama Islam di pulau ini. Kompleks candi Hindu yang tidak terlalu besar ini memiliki pengaruh era Megalitikum di lereng Gunung Lawu.

Candi Sukuh

Terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh tidak sulit untuk dicapai jika pengunjung menggunakan transportasi umum. Dari Terminal Tirtonadi, Solo, pengunjung bisa naik bus jurusan Tawangmangu, yang membawa ke Terminal Karangpandan. Di masa normal, sebelum pandemi Covid19, bus jurusan ini umumnya beroperasi mulai pukul 6 pagi. Di hari biasa, bus itu penuh dengan penumpang anak sekolah dan pegawai kantor. Ongkos bus tak mahal, sekitar Rp 10 ribu per orang dewasa, dan sekitar 60 menitan sampai di Karangpandan.

Perjalanan ke lereng barat Gunung Lawu dilanjutkan dengan bus-bus kecil atau minibus dengan tujuan Desa Kemuning. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 20 menit untuk  tiba di pertigaan Nglorok. Dari sini, pengunjung bisa memilih dua pilihan untuk menuju Candi Sukuh, yakni naik ojek atau berjalan kaki selama kurang lebih 45 menit di jalan aspal sepanjang dua kilometer.

Komp.leks candi ini pada hari-hari biasa tidak cukup banyak dikunjungi wisatawan. Ia baru agak ramai pada hari-hari akhir pekan atau libur sekolah. Kadang ada pula rombongan anak sekolah

Memasuki kompleks candi Sukuh ini, pengunjung akan disambut Gapura Paduraksa—gapura beratap menuju teras pertama. Di bagian atasnya terdapat pahatan kepala Kala, yang menyambut dengan senyum seringai. Di dinding kiri-kanan terdapat relief raksasa sedang menggigit ekor ular dan memakan manusia. Konon, kedua pahatan itu merupakan sandi angka, biasa disebut sengkalan dalam tradisi Jawa kuno. Ini biasanya diperkirakan menunjukkan tahun selesainya pembuatan candi, yakni 1359 Saka atau 1437 Masehi.

Candi Sukuh
Relief di Candi Sukuh banyak menyiratkan secara gamblang hunungan pria dan wanita. Foto: Dok. shutterstock

Sepintas, tanpa memperhatikan detail relief, bangunan utama Candi Sukuh tampak seperti bangunan pemujaan ala suku Maya di Meksiko. Candi yang menghadap ke barat pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut ini dibangun pada akhir abad ke-15. Candi tersebut menurut sejumlah keterangan dikategorikan sebagai candi Hindu dengan arsitektur yang, konon, menyimpang dari ketentuan kitab Wastu Widya.

Pengaruh budaya pra-Hindu (Megalitikum) tampak jelas dari teras berundak di kompleks candi tersebut, di mana titik paling suci ditempatkan pada bagian paling tinggi dan paling belakang. Ada dugaan Candi Sukuh dibangun dengan tujuan sebagai tempat meruwat untuk melepaskan kekuatan buruk yang dimiliki seseorang.

Saat ini pengunjung tidak dapat lagi melintasi Gapura Paduraksa untuk masuk ke teras pertama. Para wisatawan kini harus memutar dari sisi kanan. Pintu gapura utama tersebut ditutup agar pahatan yang berfungsi sebagai Mantra Ruwatan, yang ada di lantai gapura, tetap terlindungi. Karya tersebut diperkirakan menggambarkan persatuan lingga dan yoni, sebuah lambang kesuburan. Mantra itu dipasang konon untuk menyucikan setiap tubuh yang masuk ke kompleks candi.

Tak banyak yang dapat dinikmati di halaman teras pertama. Pemandangan paling mencolok, selain Karanganyar dari ketinggian, adalah tiga batu yang masing-masing bergambar lelaki berkuda diiringi pasukan bertombak, sepasang lembu, dan lelaki penunggang gajah. Di belakang ketiga batu tersebut terdapat semacam bangku batu dan meja.

Teras kedua dapat dicapai setelah melalui tangga batu yang diapit Gapura Bentar. Sama sekali kosong di sini, sehingga dapat dipastikan pengunjung akan bersegera menuju teras ketiga. Teras tertinggi itu diyakini sebagai pelataran paling suci. Terdapat banyak arca dan batu bergambar di sana. Di sayap kanan, perhatian pengunjung akan tersita oleh tiga arca manusia bersayap. Anak-anak bisa jadi akan berimajinasi tengah bertemu dengan malaikat. Pada bagian belakang, tampak dua dari tiga arca memiliki pahatan aksara Kawi. Sedangkan di sayap kiri terdapat beberapa arca berbentuk lembu dan gajah, di mana kisah Sudamala dimulai tepat setelah relief gajah terakhir. Relief itu menggambarkan kisah keberhasilan Sadewa—anggota Pandawa bersaudara—meruwat Dewi Uma, yang dikutuk oleh Batara Guru menjadi Durga.

Pengunjung biasanya tak mau melewatkan kesempatan untuk naik ke bangunan utama di teras ketiga setinggi 6 meter. Tidak ada ruangan di dalamnya. Kosong pula bagian atapnya. Hanya ada lingga tanpa yoni dengan beberapa batang dupa wangi dan canang sesaji. Kadang-kadang, pengunjung meletakkan uang dalam jumlah tak terlalu besar di sana. l

TL/agendaIndonesia

*****

Situs Sangiran, Jejak 2 Juta Tahun Manusia

Situs Sangiran Solo menjadi salah satu warisan dunia yang dimiliki Indonesia. Foto: Dinas Pariwisata SOlo

Situs Sangiran atau dikenal juga sebagai Situs Prasejarah Sangiran menjadi salah satu obyek wisata pilihan di Solo. Ini merupakan salah satu situs prasejarah paling penting dalam menggambarkan evolusi manusia.

Situs Sangiran

Situs ini berlokasi kira-kira 15 kilometer dari Kota Solo, tepatnya di lembah sungai Solo, kaki gunung Lawu. Secara admnistrasi, Situs Prasejarah Sangiran berada di Kabuptaen Sragen, Jawa Tengah.

Situs Sangiran yang kini juga dikembangkan sebagai Desa Wisata Sangiran, Kabupaten Sragen, terus ramai disebut-sebut di kalangan wisatawan pecinta sejarah. Tahun lalu Desa Wisata Sangiran termasuk salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Situs Sangiran adalah jejak dua juta tahun peradaban manusia.
Situs manusia Purba Sangiran. Foto: dok shutterstock

Daya tarik wisata yang paling terkenal dari Desa Wisata Sangiran adalah Museum Purba Sangiran. Situs manusia purba di Sangiran dianggap menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia. Bahkan, para peneliti beranggapan bahwa situs Sangiran adalah pusat peradaban besar, penting, dan lengkap manusia purba di dunia, karena memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150 ribu tahun lalu.

Situs Sangiran ini mulai ada ketika seorang antropplogi, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, melakukan penelitian di area ini. Hasil penggalian situs menemukan fosil nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus.

Selain itu juga terdapat sekitar 60 fosil Meganthropus palaeojavanicus di situs ini. Sampai sekarang 100 fosil Homo erectus ditemukan di Sangiran dan jumlah ini merupakan 50% dari populasi Homo erectus di dunia.

Situs Sangiran menyimpan kekayaan fosil-fosil purbakala, mulai dari fosil manusia purba, binatang-binatang purba, hingga hasil kebudayaan manusia praaksara. Namun, tidak hanya situs purbakala yang potensial, wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran juga sangat lekat.

Di Desa Wisata Sangiran terdapat wisata air asin Pablengan. Konon, sumber mata air asin ini telah berusia lebih dari 2 juta tahun. Sumber mata air ini terbentuk akibat pergeseran Bumi dan letusan gunung berapi. Adanya sumber Pablengan menjadi bukti perubahan lanskap Sangiran yang awalnya lautan menjadi daratan.

Salah satu koleksi Sangiran shutterstock
Salah satu koleksi purbakala Situs Sangiran. Foto: dok shutterstock

Salah satu wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran adalah Punden Tingkir. Destinasi wisata ini dipercaya sebagai peninggalan Joko Tingkir, karena terdapat sebuah petilasan di dalamnya. Desa Wisata Sangiran juga kental dengan kearifan lokal dan nilai budaya yang potensial untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata.

Salah satu kesenian unggulan dari desa wisata ini adalah Gamelan Renteng, yang usianya lebih dari satu abad, dan masih digunakan hingga saat ini. Ada juga Tari Gerbang Sukowati yang kaya akan nilai filosofis, serta Tari Bubak Kawah.

Sektor ekonomi kreatif di Desa Wisata Sangiran ternyata tidak kalah potensial. Faktanya, profesi sebagian masyarakat di Sangiran adalah pengrajin batu, kayu, dan bambu menjadi modal utama dalam pengembangan produk ekonomi kreatif.

Beberapa produk ekonomi kreatif dari Desa Wisata Sangiran adalah kerajinan watu, batu akik, kapak purba, watu sangir, watu lurik, kerajinan bambu, patung manusia purba, asbak, hingga gantungan kunci. Selain itu ada juga pakaian tradisional khas dari Sangiran yang kerap dijadikan oleh-oleh, yakni iket, atau ikat kepala dari kain batik segi empat yang merupakan warisan dari tetua adat.

Dari segi pengembangan produk kuliner, Desa Wisata Sangiran memiliki beragam produk kuliner yang khas. Seperti olahan bukur, tiwul, balung kethek, sego kuning, jajanan pasar, gendar pecel, bubur srintil, sego bancaan, dan kopi purba.

Salah Satu Artefak di Sangiran shutterstock
Koleksi purba Situs Sangiran. Foto: shutterstock

Faktanya, Desa Wisata Sangiran termasuk dalam kategori rintisan, karena desa wisata ini baru berusia dua tahun. Awalnya, desa yang memiliki nama administratif Desa Krikilan ini memang sudah dikenal oleh masyarakat internasional.

Bahkan telah dinobatkan sebagai World Culture Heritage oleh UNESCO sejak 1996. Sehingga tidak heran masyarakat setempat akrab dengan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan membuat desa ini menjadi visitor center di antara museum lainnya.

Namun, keberadaan museum saja belum cukup memberikan dampak yang signifikan bagi warga. Atas dasar itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Krikilan menggagas ide kreatif membentuk Desa Wisata Sangiran.

Melalui pengembangan desa wisata ini diharapkan ekonomi masyarakat semakin sejahtera. Baik sebagai penjual souvenir, usaha kuliner, tour guide, hingga homestay. Selain itu, menjadikan Desa Krikilan sebagai desa wisata juga diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian budaya setempat.

Pengelola desa wisata berinisiatif membuat paket-paket atraksi wisata untuk menarik minat wisatawan. Tidak hanya mengunjungi ragam atraksi wisata, di sini wisatawan juga bisa mencoba paket kuliner dan paket kerajinan. Kedua paket tersebut menawarkan pengalaman berwisata yang menarik bagi wisatawan di Desa Wisata Sangiran.

agendaIndonesia/kemenparekraf-berbagai sumber

*****

Kebersamaan 4 Keluarga Dalam 1 Rumah Bolon

kebersamaan 4 keluarga dalam 1 rumah Bolon menjadi simbol harmoni keluarga masyarakat Batak Toba.

Kebersamaan 4 keluarga bisa tinggal dalam satu rumah Bolon, rumah adat masyarakat Batak Toba. Satu rumah adat penuh simbol keselamatan ini bisa dihuni empat keluarga.

Kebersamaan 4 Keluarga

Dengan kapal feri dari Pelabuhan Ajibata, Prapat, mobil yang saya tumpangi terangkut hingga Pulau Samosir, Sumatera Utara. Dalam waktu sejam, saya tiba di Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, yang cukup ramai. Beberapa meter meninggalkan pelabuhan, seketika suasana terasa begitu lengang, apalagi di siang yang terik. Namun justru di tengah keheningan saya bisa lebih tenang mencermati satu demi satu rumah khas Batak Toba

Tak lama kemudian, pepohonan di sisi kiri terasa menyegarkan. Tebing dengan hamparan sawah di depannya membuat siang sedikit lebih adem. Akhirnya saya tiba di Desa Ambarita. Sebuah obyek wisata yang menyuguhkan sejarah dan tradisi daerah ini seperti mengundang saya untuk mampir. Tidak lain dari Hutaatau Kampung Siallagan, kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang menarik perhatian saya.

Rumah adat yang disebut juga rumah bolon dari kayu itu berderet rapi dalam benteng batu. Setelah membayar tiket masuk, saya mulai menyimak penjelas sang pemandu, Guido Sitinjak. Berbentuk panggung, rumah ini memiliki atap pelana yang bubungannya melengkung. Ujung atap bagian belakang posisinya lebih tinggi dibanding dengan yang di depan. Hal itu sebagai simbol harapan agar anak meraih segala sesuatu yang lebih baik daripada orang tua. Konstruksi bangunannya tanpa paku, dengan atap dari serat nira.

kebersamaan 4 keluarga dalam satu rumah adat Bolon pada masyarakat Batak Toba memperlihatkan keselarasan dalam kehidupan mereka.
Rumah adat Bolon dalam tradisi dan budaya masyarakat Batak Toba. Foto: Dok. Shuuterstock

Seperti umumnya kampung suku Batak Toba pada masa lalu, satu rumah berdampingan dengan rumah lainnya di kompleks Raja Siallagan. Setiap rumah memiliki kolong yang dijadikan tempat menaruh ternak. Tinggi lantai tergantung pada jenis atau ukuran hewan yang dipelihara. Untuk memasuki rumah, tentunya dibuat sebuah tangga, yang selalu berjumlah ganjil. Pintu dibikin pendek, sehingga setiap orang yang masuk rumah harus menundukkan kepala. “Sekaligus sebagai simbol untuk menghormati dewa,” ujar Guido.

Uniknya, pintu masuk bagi perempuan tidak ada di depan, melainkan di samping. Namun bukan berarti perempuan diposisikan lebih rendah. Justru suku Batak Toba memiliki filosofi: lelaki harus menghargai ibu dan istrinya. Hal tersebut terlihat dari lambang yang dimunculkan sebagai dekorasi dalam rumah, yakni berupa empat payudara dan seekor cicak. Payudara tersebut bermakna kesuburan dan kekayaan serta menjadi simbol bahwa orang Batak Toba selalu berbakti kepada inang alias ibu. Sedangkan cicak menggambarkan betapa mudahnya orang Batak beradaptasi dan tinggal di berbagai daerah, meski akan kembali ke ibu dan kampung halamannya. Empat payudara juga berarti pria Batak harus menghargai ibu dan istrinya. Selain itu, empat payudara tersebut melambangkan adanya empat keluarga dalam satu rumah bolon.

Rumah bolon biasanya dihuni beberapa keluarga. Ada sebuah ruangan yang memang digunakan bersama-sama, tapi ada pula kamar yang hanya boleh ditempati pemimpin di rumah tersebut, seperti sudut kanan bagian belakang rumah. Di bagian belakang terdapat dapur dan setiap keluarga memiliki dapur sendiri. Sedangkan lumbung pagi atau sopo dibangun terpisah dari rumah.

Sang pemandu menegaskan, seperti yang terlihat pada kebanyakan rumah adat di sini, warna yang digunakan hanyalah merah, putih, dan hitam. Putih, menurut Guido, menjadi lambang dunia atas atau Yang Maha Kuasa. Ada juga yang menyebutnya sebagai simbol kesucian atau kejujuran. Merah menggambarkan dunia tengah atau kehidupan saat ini. Ada pula yang memaknainya sebagai simbol pengetahuan atau kecerdasan. Lantas, hitam menunjukkan dunia bawah atau fana, selain melambangkan kewibawaan atau kepemimpinan.

Zaman dulu, warna merah bahkan diambil dari darah. Dekorasi muncul di berbagai sisi, dari atap rumah hingga tangga, yang diberi nama tangga rege-rege. Semua ornamen menyimbolkan keselamatan bagi para penghuninya. “Rumah juga menunjukkan kemampuan pemiliknya,” kata Guido.

Keunikan kampung yang satu ini adalah kehadiran Hau Habonaran atau pohon kebenaran. Di bawah pohon yang rindang itu terdapat satu set meja-kursi terbuat dari batu. Inilah yang disebut batu persidangan, sebagai tempat pengadilan zaman dulu. Raja, dukun, dan tetua adat atau penasihat akan mengambil keputusan di meja tersebut untuk sebuah perkara.

Guido menjelaskan, kesalahan yang tidak bisa diampuni, seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata musuh, akan dijatuhi hukuman penggal. Eksekusi hukuman dilakukan tidak jauh dari batu persidangan. Pada masa itu, darah si terhukum diminum, demikian pula dengan jantung dan hatinya. Kedua organ tersebut dicincang dan diramu untuk menambah kekuatan raja dan dukun. Model persidangan dan hukuman macam ini terakhir dilakukan pada tahun 1816, setelah datang seorang misionaris, Nomensen. Kompleks rumah Batak Toba itu dilengkapi pula dengan pemakaman keluarga Raja Siallagan.

Saya lantas bergeser ke Simanindo, tepatnya menuju Museum Huta Bolon. Turis pun bisa memetik pelajaran sejarah dan tradisi suku Batak Toba di sini. Semula, sebelum disulap menjadi museum, tempat ini adalah rumah peninggalan Raja Sidauruk. Di dalamnya bisa ditemukan berbagai perlengkapan yang ada dalam sebuah rumah tradisional, termasuk peralatan memasak dan bertani. Di samping itu, dipajang beragam jenis ulos yang biasa digunakan dalam berbagai upacara. Di kompleks rumah adat yang terdapat di sebelah museum, berjejer lumbung padi yang menjadi tempat para penonton menyaksikan sederet tarian tradisional. Pentas tari itu digelar setiap hari pada pukul 11.00.

Bila ingin mengenal kehidupan yang lebih riil, Anda bisa mencermati beberapa rumah Batak Toba yang masih dihuni penduduk setempat. Kabupaten Samosir masih memiliki banyak rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan—ibu kota kabupaten—rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Terkadang, terlihat perempuan menenun di depan rumah. Atau bila ingin melihat penenun tradisional lebih banyak lagi, Anda bisa mampir ke Desa Penampangan, Kecamatan Pangururan. Denyut keseharian para perempuan di kampung tradisional tersebut benar-benar menawan.

Rita N./Toni H./TL/shutterstock/agendaIndonesia

*****