De Javasche Bank 1829, Cabang Jadi Museum

De Javasche Bank di Surabaya yang kini menjadi Museum Bank Indonesia.

De Javasche Bank hampir pasti tidak dikenal anak-anak milenial. Bahkan mereka yang berasal dari generasi X dan Y pun rasanya tak banyak yang tahu. Betul, ini memang nama bank di zaman kolonial Belanda.

De Javasche Bank

Pada zaman Hindia Belanda, ini adalah bank central yang memakai nama De Javasche Bank itu. Bank-nya sendiri kini, tentu, sudah tidak ada, tinggal gedungnya saja. Fungsi perbankan dan keuangannya sudah diambil alih pemerintah Indonesia dan menjadi Bank Indonesia.

De Javsche Bank di Surabaya menjadi saksi perjalanan perbankan dan keuangan di Indonesia.
Gedung De Javasche Bank yang kini menjadi gedung Bank Indonesia di Surabaya. Foto: tourism.surabaya.go.id

Gedungnya menjadi kantor Bank Indonesia di Surabaya, dan sebagian dialihfungsikan menjadi museum. Kini ia memang menjadi Museum Bank Indonesia, meski sejumlah orang Surabaya mungkin masih suka menyebutnya dengan nama lamanya, De Javasche Bank. Perjalanannya sama dengan kantor utamanya di Jakarta dulu, sama-sama menjadi Museum Bank Indonesia.

Gedung De Javasche Bank, atau sekarang Gedung Bank Indonesia Surabaya, mengusung konsep neo-Renaissance yang memiliki ciri khas unsur simetris.  Bangunan seluas 1.000 meter persegi ini sebenarnya adalah hasil pemugaran yang dilakukan pada 1910. Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun gedung baru di tempat yang sama dengan alasan modernisasi. Bangunannya didesain lebih ramah terhadap iklim tropis di Indonesia.

Gedung ini difungsikan pertama kali pada 14 September 1829, sekitar setahun setelah De Javasche Bank berdiri di Jakarta. Gedung ini sendiri sudah tidak digunakan untuk kegiatan perbankan pada 70-an. Hingga pada 2012, kabar gembira pun datang bagi para penikmat sejarah bangunan tua. Bangunan eks De Javasche Bank resmi dibuka sebagai museum dan ruang pamer.

Buat siapa saja, bangunan-bangunan dari zaman kolonial selalu punya kesan megah. Termasuk untuk gedung-gedung di sekitar Surabaya Utara ini. Termasuk gedung yang kini menjadi Museum Bank Indonesia Surabaya ini. Sebuah gedung megah yang ikonik.

Sayangnya ia sering terlewat. Bagaimana tidak? Pintu utama bank yang berhias pilar-pilar raksasa sering tertutup oleh terminal bayangan angkutan kota. Praktis, masuk ke museum pun harus melalui bagian belakang yang tak jauh dari area parkir.

Jika berkunjung ke Surabaya, sempatkanlah berkunjung ke museum ini dan mempelajari sejarah perbankan dam keuangan Indonesia. DI sini pengunjung akan dibawa berkeliling oleh seorang pemandu.

Pengunjung bisa melihat deretan foto-foto hitam putih De Javasche Bank di masa lalu. Seperti disebut di muka bank yang didirikan pada 1828 di Batavia. Lalu, dibangun cabang di Surabaya setahun kemudian.

Gaya arsitektur neo-renaissance selain di luar juga terlihat di dalam. Bersiap-siaplah ternganga dengan kemegahan gedung berusia lebih dari seabad ini. Ada beberapa ruang utama yang bisa dicermati pengunjung, seperti ruang transaksi perbankan, ruang brankas, dan ruang mesin-mesin lawas berikut dengan koleksi mata uang zaman dahulu.

Selama berkeliling di museum, pengunjung akan diajak untuk merasakan menjadi nasabah bank zaman lampau. Contohnya, saat berada di ruang transaksi utama tempat kesibukan kegiatan perbankan dulu berpusat.

Ada bilik-bilik kayu berjeruji besi yang hanya muat satu orang dan terhubung langsung dengan loket teller. Di sinilah transaksi keuangan terjadi. Bilik ini pun bisa dikunci dari dalam. Gunanya untuk menjamin keamanan transaksi mengingat kemungkinan kejahatan bisa terjadi.

Mengunjungi ruang brankas juga menjadi pengalaman menarik. Terlebih di masa itu, nasabah harus membuka pintu berjeruji besi seperti di penjara. Jadi, setelah nasabah masuk, pintu jeruji digembok dari dalam. Lanjut masuk ke lorong bertembok putih.

Tidak ada apa-apa di sepanjang lorong sempit itu. Hingga tiba di ujung sebelum berbelok, Anda akan menemukan satu cermin. Begitu pula di ujung lorong berikutnya.

Ternyata, cermin-cermin ini dapat memantulkan bayangan nasabah yang sedang bertransaksi di ruang brankas. Tentu saja, nasabah lain tidak boleh masuk ruang brankas jika masih ada yang sedang transaksi di sana. Pantulan dari cermin pun bisa diketahui nasabah lain.

Desain keamanan lorong di ruang brankas ini sukses membuat pengunjung terpana. Pemikiran yang canggih pada saat kamera keamanan yang lebih praktis belum tercipta.

Di bekas ruang direktur bank, pemandu bercerita bahwa dulu terdapat tangga spiral yang khusus digunakan oleh pemimpin bank saja. Tangga ini menghubungkan area utama perbankan dengan ruangan pemimpin. Semacam pintu rahasia. Namun tangga spiral tersebut sekarang sudah tertutup oleh tembok.

Di akhir sesi, pemandu biasanya menyelipkan cerita-cerita unik dari masa ke masa yang akan membuat bulu kuduk berdiri. Aha…tentu ini tentang makhluk-makhluk tak kasat mata berkebangsaan Belanda yang sering muncul.

Percaya atau tidak? Tentu itu pilihan pengunjung. Yang jelas, mengunjungi Museum De Javasche Bank di akhir pekan bisa menjadi pilihan menarik sekaligus menambah wawasan sejarah.

agendaIndonesia

*****

Kampung Wae Rebo Dihuni Generasi ke 18

Kampung Wae Rebo di Manggarai Nusa Tenggara Timur merupakan kampung adat yang masih mempertahankan adat istiadatnya.

Kampung Wae Rebo di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menjadi tujuan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Ia masih merupakan kampung adat dengan segala tata kramanya yang luhur.

Kampung Wae Rebo


Dari balik bukit adalah sebuah kampung dengan tujuh rumah kerucut, sebuah kampung kecil yang dikelilingi lembah hijau itu. Dari ke tujuh rumah yang ada, biasanya yang disinggahi adalah niang gendang maro. Ini salah satu rumah adat utama dari tujuh niang, sebutan untuk rumah adat berbentuk kerucut, yang digunakan khusus untuk menjamu tamu dari luar.

Bangunan setinggi 14 meter itu lebih tinggi daripada enam rumah lain dan diyakini sebagai tempat leluhur pertama yang datang dari Minangkabau. Bila ada pengunjung atau ada tamu dari luar kampung Wae Rebo, akan diadakan wae lu’u—upacara untuk untuk memohon izin kepada para leluhur karena menerima tamu dari luar.

Kampung Wae Rebu merupakan kampung adat yang kini dihuni oleh generasi ke 18 dan sudah berdisi selama 100 tahun lebih.
Niang gendang maro merupakan rumah terbesar dari ke tujuh rumah yang ada di kampung Wae Rebo. Foto: ash hayes-unsplash

Di ujung atap Niang Gendang Maro ditancapkan ngando, yang disimbolkan kepala kerbau—hewan yang dianggap terbesar. Penanda tersebut sekaligus merupakan pengesahan rumah adat dan kekuatan budaya rumah tersebut.

Enam niang lain adalah niang gena mandok, niang gena jekong, niang gena ndorom, niang gendang maro, niang gena pirong, dan niang gena jintam. Jumlah rumah adat tak boleh lebih dari tujuh. Setiap rumah dihuni 6-8 keluarga. Jika anggota keluarga bertambah dan dirasa perlu membangun rumah baru, maka rumah baru itu harus dibangun di luar kampung adat.

Bentuk rumah di kampung adat itu sangat khas. Pada bagian bawah atau ruangan dalam berbentuk bulat dan bagian atas mengerucut. Atap yang digunakan berasal dari daun lontar, mirip rumah adat honai di Papua. Keseluruhan dindingnya ditutup ijuk. Bahan bangunan mbaru niang terbuat dari kayu worok dan bambu serta dibangun tanpa paku. Tali rotan digunakan untuk mengikat konstruksi bangunan.

Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan kehidupan yang bulat, tidak diwarnai konflik, tetapi ketulusan, kebulatan hati, dan keadilan. Itu sebabnya, musyawarah di rumah adat mengambil posisi duduk melingkar.

Di bagian tengah, ada tiang utama yang disebut bongkok. Wujudnya dua batang kayu yang disambung. Inilah papa ngando dan ngando, yakni simbol perkawinan lelaki dan perempuan.

Rumah adat juga ditopang sembilan tiang utama. Ini menggambarkan kehidupan dari janin menjadi bayi selama sembilan bulan dalam rahim. Ada pula molang di bagian belakang rumah, yang terbagi dalam tiga bagian, yakni dapur, ruang aktivitas keluarga, dan bilik tidur keluarga.

Menurut kisah adat kampung tersebut, saat bayi lahir ia akan didekatkan ke periuk di dapur. Sebab nyala api di sana dapat menghangatkan tubuh bayi.

Kampung Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penduduk setempat meyakini bahwa kampung mereka dijaga oleh tujuh kekuatan alam.

Nenek moyang mereka disebut maro, yang diyakini berasal dari Minangkabau. Dari riwayat sejarah turun-temurun, sebelum menetap di kampung ini, leluhur mereka berpindah-pindah. Perpindahan itu antara lain di Wriloka, ujung barat Pulau Flores, kemudian ke Pa’ang, lalu bergeser ke daerah pegunungan Todo, lantas ke Popo.

Ada peristiwa yang menyebabkan warga Wae Rebo tidak berani menyakiti, apalagi memakan daging musang. Masyarakat menyebutnya kula.

Bagi masyarakat setempat, daging musang pantang (ireng) dimakan karena dianggap berjasa menyelamatkan moyang Wae Rebo. Konon ada suami-istri. Sang istri hamil tua, tapi tak kunjung melahirkan juga. Tujuh hari pun lewat dari waktunya, lalu diputuskan membelah perut sang ibu agar bayi selamat.

Bayi laki-laki itu selamat, tetapi sang ibu meninggal. Keluarga sang ibu yang berasal dari kampung lain tidak bisa menerima. Mereka kemudian menyerang Kampung Maro. Namun pada tengah malam itu muncul musang di rumah Maro. ”Maro pun berucap: kalau musang membawa berita baik harus tenang. Namun bila musang membawa kabar buruk, diminta mengeluarkan suara. Musang itu pun mengeluarkan suara dan menjadi penunjuk jalan ke tempat yang aman bagi Maro.”

Musang menuntun warga Maro menjauh dari Popo. Di tempat yang tinggi, mereka melihat kampungnya dibumihanguskan. Mereka berpindah-pindah, ke Liho, Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu.

Di Golo Pandu, Maro bermimpi bertemu roh leluhur yang menyebutkan mereka harus menetap di satu tempat dan tidak boleh pindah lagi. Letaknya tidak jauh dari Golo Pandu. Di sana terdapat sungai dan mata air. Itulah Wae Rebo.

Itulah tempat mereka. Dari tempat tersebut tampak kota dengan gemerlap cahaya. Masyarakat setempat meyakini bahwa daerah yang mereka tinggali itu dikelilingi tujuh kekuatan alam yang berperan sebagai penjaga kampung.

Tujuh titik itu adalah di Ponto Nao, Regang, Ulu Wae Rebo, Golo Ponto, Golo Mehe, Hembel, dan Polo. Mereka tidak boleh melupakan ritual adat agar warga tidak terkena bencana. Empo Maro mendirikan kampung Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, kini yang menghuninya generasi ke-18.

Kearifan penduduk Wae Rebo tecermin lewat cara mereka menjaga alam. Warga percaya bahwa tanah atau hutan memiliki perasaan. Karena itu, ada ritual yang harus dilakukan sebelum bercocok tanam: meminta izin kepada para penunggu lahan. Ritual adat itu antara lain kasawiang, yang biasanya digelar pada Mei, saat perubahan cuaca akibat pergerakan angin dari timur ke barat.

Sebaliknya, saat angin bergerak dari barat ke timur, diadakan ritual adat pada Oktober. Menginjak November, yang merupakan tahun baru adat, ditandai awal musim menanam.  Mereka akan melakukan upacara yang disebut penti.

Kampung Wae Rebo masyarakatnya percaya daerah mereka dikelilingi tujuh kekuatan alam.
Perempuan Wae Rebo sedang menenun kain. Foto: dok. shutterstock

Alam di kampung ini terpelihara dengan baik. Para pengunjung bisa ikut menyelami kedekatan warga dengan alam. Mencermati beberapa warga bekerja di kebun dari pagi, atau yang sibuk memanen kopi dan mengolah kacang. Bisa juga melihat  beberapa perempuan yang menenun songket tradisional.

Masyarakat Wae Rebo percaya neka hemong kuni agu kalo, yang berarti di sini semua berawal dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo. Tak mengherankan, jika pada 2012, UNESCO Asia-Pasifik menobatkan Wae Rebo sebagai konservasi warisan budaya.

agendaIndonesia/TL/Fran

*****

Alat Musik Sasando, 1 Alat Berbagai Dawai

Alat musik sasando berasal dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur.

Alat musik sasando adalah instrumen asli Nusantara. Ia tepatnya adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando merupakan alat musik berdawai yang dimainkannya dengan cara dipetik menggunakan jari.
Dari segi bentuk, sasando sudah bisa menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Karena, alat musik petik ini terbuat dari daun lontar yang melengkung, berbentuk setengah lingkaran.

Alat Musik Sasando

Sasando memiliki bentuk yang unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya. Pada bagian utama Sasando berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai.


Pada bagian tengah bambu biasanya diberi senda atau penyangga, di mana dawai direntangkan. Senda sendiri berfungsi untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda setiap petikan dawai. Sedangkan wadah berfungsi untuk resonansi yang berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.


Dari segi suara, resonansi yang dihasilkan daun lontar menghasilkan suara yang khas, dan tidak bisa ditemukan pada alat musik lainnya. Petikan sasando menghasilkan suara yang sangat indah, romantis dan sangat khas. Tak heran kalau keunikan bentuk, bahan, dan melodi dari sasando berhasil menarik perhatian banyak wisatawan yang berkunjung ke NTT.

Bermain Sasando shutterstock
Seorang anak sedang belajar memetik sasando. Foto: dok. shutterstock

Dalam beberapa kesempatan kenegaraan, sasando ikut meramaikan kegiatan. Misalnya pada acara KTT ASEAN di Labuan Bajo. Sebelum gelaran acara tersebut, sasando pun telah mendunia karena pernah tampil dalam salah satu side event G20 di Labuan Bajo 2022 lalu.

Pada acara G20 itu, sasando ditampilkan pada ajang Spouse Program yang dihadiri 19 anggota G20, enam negara undangan, dan sembilan organisasi internasional. Alat musik sasando inipun menjadi cendera mata yang diberikan oleh Ibu Iriana Joko Widodo kepada Ibu Negara Tiongkok, Madam Peng Liyuan.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, popularitas sasando di dunia juga pernah dipresentasikan oleh sosok bernama Djitron Pah. Ia  mengenalkan alat musik sasando ke dunia lewat ajang Asia’s Got Talent pada 2015.

Melalui ajang pencarian bakat tersebut, Djitron Pah berhasil membawa sasando mendunia melalui rangkaian tur ke Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, Italia, Finlandia, Jerman, hingga Taiwan. Melihat dari berbagai aspek, memang sangatlah layak jika sasando mendunia.

Namun, dari mana sesungguhnya alat musik sasando lahir? Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Sasando bermula dari kisah Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta terhadap putrinya, sang raja memberikan syarat kepada Sangguana untuk membuat alat musik yang berbeda dari musik lainnya.

Sangguana pun bermimpi, dalam mimpi tersebut ia memainkan alat musik yang berbentuk indah dan memiliki suara yang merdu. Kemudian ia membuat Sasando dan diberikan kepada sang raja. Sang raja lalu mengizinkan Sangguana, menikahkaan putrinya dengan Sangguana.
Sasando sendiri berasal dari bahasa Rote, yaitu Sasandu yang berarti bergetar atau berbunyi. Sasando sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian syair,tarian tradisional dan menghibur keluarga yang berduka.

Orang NTT Memainkan Sasando shutterstock
Pemetik tradisional alat musik sasando. Foto: shutterstock


Jika kita mengulik lebih dalam tentang alat musik sasando khas NTT ini, ternyata ada banyak jenisnya. Setidaknya ada tiga jenis sasando yang populer, yaitu sasando gong, sasando biola, dan sasando elektrik.

Pertama, sasando gong khas Pulau Rote, yang merupakan sasando autentik dengan 12 dawai dari tali senar nilon sehingga ketika dipetik akan menghasilkan suara mengalun, lembut, dan merdu. Alat musik sasando jenis ini kerap dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional masyarakat Rote.

Ke dua, jenis sasando biola. Kabarnya, sasando biola mulai berkembang di Kupang pada akhir abad ke-18. Alat musik petik ini merupakan hasil modifikasi dari Edu Pah, pakar pemain sasando. Bedanya dengan sasando gong, sasando biola bentuknya yang lebih besar dan memiliki 48 buah dawai. 

Karena dimodifikasi agar menyerupai biola, sasando jenis ini bisa menghasilkan suara halus dan merdu seperti biola. Biasanya sasando biola dimainkan untuk mengiringi lagu pada tarian tradisional masyarakat NTT.

Mengikuti perkembangan teknologi, kini ada pula jenis sasando elektrik. Alat musik ini pertama kali diciptakan oleh Arnoldus Edon pada 1960-an. Alasannya karena sasando tradisional hanya bisa didengarkan pada jarak dekat saja, sehingga perangkat elektronik ditambahkan agar suaranya bisa didengar lebih jauh.

Umumnya, sasando elektrik terdiri dari 30 dawai. Badan sasando tetap menggunakan daun lontar untuk mempertahankan bentuk aslinya. Perbedaan sasando elektrik terdapat pada spul atau transduser yang mengubah getaran dawai menjadi energi listrik, yang kemudian masuk ke dalam amplifier untuk menghasilkan suara yang lebih kencang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Masyarakat Baduy Minta Pembatasan Kunjungan

Suasana Kampung Baduy

Masyarakat Baduy minta pembatasan kunjungan ke perkampungan mereka. Para tetua adat masyarakat suku ini meminta pemerintah membantu pembatasan sementara kunjungan masyarakat ke perkampungan Baduy di Desa Kenekes, Kabupaten Lebak, Banten. Selain karena situasi saat ini memang tidak kondusif, secara umum masyarakat Baduy juga ingin kondisi perkampungan mereka tetap lestari dan seimbang.

Masyarakat Baduy Minta Pembatasan, Pemerintah Setuju

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Keatif mendukung permintaan masyarakat Suku Baduy tersebut. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hari Santosa Sungkari, dalam kunjungannya ke Desa Kanekes, Sabtu 18 Juli 2020, mengatakan, pengunjung yang hendak berkunjung ke Desa Kanekes atau yang ingin berkunjung ke perkampungan Suku Baduy dalam harus menghormati dan mematuhi aturan adat yang sudah ada.

Indonesia, kata hari, menganut Sustainable Tourism. Pariwisata yang lestari dan berkelanjutan. Artinya semua pihak menjaga agar wisatawan tidak berjibun-jibun yang datang. “Dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan fisik dan budaya sehingga budaya itu tetap eksis, fisiknya tetap lestari,” kata Hari.

Dalam kesempatan tersebut, Perwakilan Suku Baduy, Uday Suhada, mengungkapkan keinginan Suku Baduy untuk mengganti istilah “Wisata Budaya Baduy” menjadi “Saba Budaya Baduy”. Istilah ini sebenarnya telah dicetuskan dan ditulis dalam Peraturan Desa (Perdes) Saba Budaya pada 2007. Namun, hingga kini tampaknya belum sepenuhnya dipahami masyarakat umum.

Saba, kata Uday, ini bermakna silaturahmi, saling menghargai dan menghormati antar adat istiadat masing-masing. Di atas itu semua, bersilaturahmi ini mengandung makna saling menjaga dan melindungi nilai-nilai yang berkembang dan hidup di masyarakat setempat dan masyarakat yang datang berkunjung. “Saling menghormati,” ungkap Uday.

Hal senada juga ditambahkan oleh salah seorang tetua adat Suku Baduy Dalam, Ayah Mursid. Ia meminta agar aturan Saba Budaya Baduy lebih diperjelas dan disosialisasikan dengan optimal. Ia menilai banyak pihak, terutama dari kalangan masyarakat umum yang masih awam dengan adat dan tradisi Baduy. Mereka dinilainya masih menilai perkampungan Baduy seperti layaknya perkampungan lainnya.

“Kami berharap saba budaya diperjelas aturannya. Mana saja rute yang boleh dan tidak boleh dilewati menuju Kampung Baduy, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikerjakan,” ujar Mursid.

Mursid juga memberikan masukan agar didirikan pusat informasi mengenai Suku Baduy di luar perkampungan adat. Sehingga, calon pengunjung yang ingin mendatangi Kawasan Adat Baduy bisa mempelajari terlebih dahulu apa saja adat istiadat yang ada serta menjelaskan tujuan kedatangannya.

Hal ini disambut baik oleh Hari. Ia mengatakan pihaknya akan menampung segala aspirasi yang telah disampaikan oleh para perwakilan tetua adat Suku Baduy.

Hari juga mempertimbangkan rencana pembuatan aplikasi sebagai pusat informasi dan sarana pendaftaran bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan Adat Suku Baduy.

Pusat inofrmasi itu nantinya bisa berbentuk aplikasi. Jadi siapa yang mau berkunjung, kapan waktu kedatangan, kalau sudah melebih batas pengunjung ini akan ada pemberitahuan atau notifikasi bahwa kapasitasnya sudah berlebih. “Sehingga tidak terulang lagi ada peristiwa ribuan orang berkunjung ke perkampungan Baduy, yang belum tentu mendatangkan manfaat,” tutur Hari.

Masyarakat Baduy
Masyarakat Baduy minta pembatasan kunjungan. Doc. Kemenparekraf

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan dukungan terhadap segala upaya pelestarian budaya Suku Baduy sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Pemerintah Daerah Lebak selama ini terus berkonsolidasi dengan masyarakat Suku Baduy dalam upaya Saba Budaya Baduy.

Saat ini, menurut Bupati Iti, pihaknya sedang dalam proses penyedian lahan di dekat perkampungan Baduy untuk dijadikan sebagai Information Center agar wisatawan lebih mengetahui bagaimana budaya Baduy pada umumnya dan informasi kegiatan Saba Baduy pada khususnya. “Sebelum mereka masuk ke Perkampungan Baduy,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian; Kapolres Lebak Ajun Komisaris Besar Polisi Firman Andreanto; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin; Kepala Desa Kanekes Jaro Saija, serta sejumlah tetua adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Acara ini diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer bagi Suku Baduy sebagai simbol keikutsertaan masyarakat Baduy dalam program perlawanan pada pandemi Covid-19.

****