Keunikan Rumah Adat Sasak Sejak Tahun 1089

Dola ke Lombok harus main ke rumah adat Sasak.

Keunikan rumah adat Sasak di Dusun Ende dibangun di desa dengan jumlah kepala keluarga yang tak pernah berubah. Rumah juga dibangun dengan memperhatikan sistem kekerabatan dalam menentukan lokasi.

Keunikan Rumah Adat Sasak

Dari Bandara Lombok Internasional di Praya, Lombok Tengah, hanya dalam hitungan 20 menit, pengunjung sudah bisa sampai di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, NUsa Tenggara Barat. Desa yang masih mempertahankan kampung adatnya. Bahkan menjadi tujuan wisata yang populer. Rumah-rumah suku Sasak—suku asli yang menghuni pulau ini kentara dari luar. Salah satu keunikan rumah adat Sasak bagian atap yang terbuat dari alang-alang seperti menutup bagian utama rumah. Adapun bagian ujungnya hanya 1,5-2 meter dari atas tanah.

Wisatawan bisa minta janjian dengan seorang pemandu untuk menyusuri jalan-jalan kecil dari bebatuan yang memisahkan satu rumah dengan yang lain. Cukup padat. Ada beberapa perempuan yang tengah menenun dan menjual beragam suvenir khas pulau ini. Pengunjung bisa mencermati dinding rumah yang berbahan utama bambu, demikian juga tiang penyangganya.

Jika dizinkan, cobalah memasuki sebuah rumah. Meski harus menunduk di bagian pintu masuknya, ternyata terasa lega juga di bagian dalamnya. Lubang pintu yang rendah juga ternyata mengandung filosofi, yakni para tamu hormat kepada tuan rumah.

Meski tampak sederhana, ternyata sarat akan filosofi kehidupan. Ruang utama terlihat terbagi dalam dua bagian: depan dan belakang yang posisinya lebih tinggi ketimbang depan.

Ada tiga tangga untuk menuju bagian belakang atau bale dalem sebagai salah satu keunikan rumah adat Sasak. Tangga tersebut melambangkan lahir, berkembang, dan mati serta merupakan simbol keluarga (ayah, ibu, dan anak). Ada pula pembagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Seperti ruangan khusus sang ibu yang melahirkan dan khusus tempat tidur. Bahkan ada tempat khusus menyimpan harta benda dan  dapur yang terdiri atas dua tungku yang menyatu dengan lantai.

Lantainya yang berwarna abu-abu terasa adem. Menurut sang pemandu, lantai dibuat dari campuran batu bata, abu jerami, dan getah pohon. Hanya, yang khas lantai akan dilumuri dengan kotoran hewan yang mereka miliki, baik itu kerbau maupun sapi, yang sudah dibakar dan dihaluskan. Justru trik tradisional itu yang membuat lantai terasa adem dan tidak mudah retak. Selain itu, dipercaya bisa mengusir rombongan nyamuk yang ingin bertandang.

Keunikan rumah adat Sasak memiliki makna setiap detailnya.
Salah satu sudut rumah adat Sasak. Foto: Dok. shutterstock

Bukan hanya rumah dengan bentuk khas, suku Sasak juga mempunyai lumbung padi dengan bangunan yang khusus. Atap seperti gunungan dan tentu juga seperti atap rumah yang ditutupi dengan alang-alang. Bentuknya memang lebih unik ketimbang rumah.

Selain atap gunungan dengan bagian puncaknya yang tumpul dan bagian bawahnya yang mencuat, bale-bale yang terbuka di bagian bawahnya dapat kita temukan. Menjadi tempat penghuni dan keluarga bercengkerama. Di bale-bale itu ada tangga untuk masuk ke bagian penyimpanan padi. 

Yang unik lagi, ada pula khusus rumah mungil untuk pengantin baru. “Setelah menikah, mereka akan tinggal di sana,” ujar sang pemandu. Ia menunjuk sebuah rumah yang hanya terdiri atas satu kamar.

Pengunjung pasti merasakan keunikan pasangan baru itu yang seperti berada dalam sebuah kurungan. Ada pula tradisi lama yang unik menyangkut pernikahan. Si pria atau dikenal dengan sebutan teruna akan menculik calon istrinya. Benar-benar tidak boleh diketahui oleh orang tua, seperti menculik sungguhan. Beberapa hari kemudian, keluarga pria mendatangi keluarga wanita.

Berkeliling kampung selama beberapa menit membuat pengunjung tak hanya mengenal rumah suku Sasak, tapi juga sejumlah tradisinya.

Keunikan rumah adat Sasak tak hanya di Ende. Dalam perjalanan ke Senaru, ada pula desa dengan model rumah serupa. Konon rumah tertua dari rumah adat Sasak sudah ada sejak 1089.

Keunikan rumah adat Sasak di Desa Ende.
Rumah Adat Sasak di Sengkol, Lombok. Foto: Dok: TL/Fran

Berjarak sekitar 75 km dari Mataram, Dusun Senaru tidak sepadat Dusun Sade dan tak ramai dengan turis seperti di Lombok Tengah. Desa adat Senaru di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, ini cenderung sepi. Ada gerbang yang menunjukkan kompleks rumah tersebut merupakan desa adat. Saya menemukan keheningan di sana, yakni jarak satu rumah dengan rumah lain tidak terlalu berdempetan seperti di Sade.

Bahkan ada tanah cukup luas hingga 2 meter buat anak-anak berlari-lari. Tidak ada riuh mobil yang lalu-lalang karena desa adat ini berada di kaki Gunug Rinjani. Hawa sejuknya terasa, siang yang sepi karena sebagian besar para pria pergi ke ladang.

Sekitar 90 persen warganya adalah petani. Tepat di sebelah gerbang desa adat, pengunjung bisa menemukan kebun kakao. Siang itu, yang ada hanya seorang kakek dan beberapa anak-anak. Akhirnya, ada ibu-ibu di bagian belakang. Merekalah yang menerangkan beberapa fungsi bangunan.

Desa adat hanya dihuni oleh 20 kepala dan dipertahankan dalam jumlah tersebut, sehingga desa adat tidak berubah menjadi padat. Ukuran rumahnya lebih besar dibanding di Dusun Sade, tapi bentuknya sama.

Dinding rumah juga terbuat dari anyaman bambu dan tanpa jendela. Ruangan terbagi atas ruang utama atau induk (inan bale), yang terdiri atas ruang tidur (bale dalam) dan bale luar yang mempunyai beberapa fungsi, seperti ruang ibu melahirkan, menyimpan harta benda, dan tempat jenasah disemayamkan. Di bagian bale dalam juga ada dapur, tempat penyimpanan makanan, dan perlengkapan.

Atapnya terbuat dari alang-alang dan bentuknya yang menggapai hingga ke bawah dengan bagian puncak datar diilhami oleh Gunung Rinjani yang bisa dicapai dari jalan setapak dekat dusun. Gunung tertinggi di Pulau Lombok ini bernilai sakral bagi suku Sasak. Di Danau Segara Anak, yang berada di Gunung Rinjani, suku Sasak kerap melakukan sejumlah upacara.

Meski berada di kaki gunung, desa adat ini berada di tanah datar. Letak rumah berdasarkan sistem kekerabatan dan orientasi matahari. Rumah satu sama lain yang berhadapan menghadap ke timur adalah hunian saudara yang lebih tua—bermakna penghormatan bagi sang kakak untuk mendapat siraman mentari pagi.

Di bagian tengahnya didirikan bangunan yang disebut berugak. Di sinilah biasanya keluarga berkumpul. Sebenarnya merupakan penghormatan atas rezeki yang diberikan Tuhan, tapi juga difungsikan sebagai ruang keluarga dan menerima tamu. Berugak bertiang empat merupakan simbol syariat Islam: Al-Quran, hadis, ijma, dan qiyas. Benar-benar sarat makna.

agendaIndonesia/TL/Rita N

*****

Museum Bank Indonesia, Sejarah Ekonomi Sejak 1828

Museum Bank Indonesia di antaranya memiliki koleksi koin emas derham.

Museum Bank Indonesia barangkali bisa menjadi alternatif pilihan tempat wisata yang bersifat edukatif. Tak cuma untuk anak-anak, mahasiwa bahkan orang awam pun mungkin bisa mendapatkan pengetahuan penting di sini.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia memamerkan berbagai koleksi uang yang pernah digunakan Indonesia dari masa ke masa. Sementara itu, benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah di dalamnya akan sangat berguna bagi masyarakat. Di sebuah gedung lawas, perjalanan perekonomian bangsa ini diulas. 

Wilayah barat Jakarta disiram sinar mentari yang terik pada November lalu, tapi tak mengurungkan niat sejumlah orang untuk melangkah ke kawasan Kota dan mengunjungi Museum Bank Indonesia. Berada di Jalan Pintu Besar Utara No 3, bangunan ini dari luar memang menggoda untuk ditengok. Maklum merupakan gedung lawas dengan arsitektur neo-klasik.

Bangunan sudah hadir pada masa pendudukan Belanda. Hanya, pada awalnya digunakan sebagai rumah sakit. Beralih menjadi kantor perbankan pada 1828 dan digunakan oleh De Javasche Bank. Saat Indonesia meraih kemerdekaan, bank pun dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) pada 1958. Tak lama digunakan BI, pada 1962 pindah ke gedung baru dan bangunan lama pun difungsikan sebagai museum.

Museum Bank Indonesia terdiri dari dua lantai yang berisi segala pengetahuan mengenai ekonomi, moneter, dan perbankan yang diperlukan masyarakat. Berkunjung ke tempat ini akan memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang diambil dari waktu ke waktu.

Memasuki museum, saya menemukan beragam informasi mengenai peran Bank Indonesia dan kebijakan-kebijakan bank sentral ini dalam perekonomian Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan perekonomian Indonesia dulu bisa ditemukan di sini. Museum menyuguhkan informasi dalam beberapa media, di antaranya multimedia. Awalnya, pengunjung dibawa ke sebuah ruangan dengan sejumlah info ihwal pendirian Bank Indonesia. Nah, dengan menggunakan teknologi itu, pengunjung bisa merasakan perjalanan BI pada masa lalu tersebut.

 Dari ruangan sejarah, saya berpindah ke ruang teater berdaya tampung 60 orang. Ruangan ini tentu menampilkan sejarah BI. Kemudian, disambung memasuki sebuah ruangan Numismatic. Di ruangan ini, pengunjung bisa melihat koleksi mata uang dari awal masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, kolonial, hingga setelah merdeka. Ruangan dengan cahaya yang redup dan dingin ini menciptakan suasana tenang dan nyaman. Dengan bantuan kaca pembesar, saya melihat koleksi mata uang yang ada di sini.

Dari sana pengunjung bisa meneruskan langkah ke ruang lain. Kali ini ruang “bersinar” karena berisi emas dan diberi nama ruang Moneter Gold. Ada tumpukan replikasi emas batangan dan pengunjung bisa memegang serta mengangkat satu batang replika yang sudah ada di salah satu sudut ruangan. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan berapa berat satu batang emas. Ada pula koleksi koin emas derham atau dirham yang dipergunakan untuk perdagangan di Aceh pada masa lalu.

Selain itu, ada ruangan percetakan uang yang digabung bersama ruangan sirkulasi uang. Di sini, pengunjung bisa menyimak proses uang dicetak dan diedarkan. Dari perencanaan, mencetak, distribusi, peredaran, hingga menariknya kembali. Saya juga melihat replika dari pesawat Bank Indonesia yang pertama kali mendistribusikan uang ke seluruh wilayah di Indonesia di ruang ini.

Ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pameran yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Biasanya yang ditampilkan berupa karya fotografi, lukisan, batik, dan lain-lain. Ke luar dari museum, ada buah tangan yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Bisa dilihat di ruangan khusus ini, silakan disimak juga bila berminat. Sesekali tengok juga website Museum Bank Indonesia, siapa tahu ada pameran yang sedang digelar, sehingga bisa satu kayuh dayung, dua kegiatan dilakukan.

Hanya, seperti sejumlah museum, di sini juga ada sejumlah peraturan. Di antaranya, di beberapa ruangan, meski boleh mengambil gambar dengan kamera, tidak boleh menggunakan bantuan flash. Sejak dilakukan peresmian yang kedua kalinya pada 2009 oleh presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memang antusiasme orang untuk berkunjung meningkat. Baik wisatawan lokal maupun asing. Sebenarnya museum dibuka pertama kali pada 15 Desember 2006, tapi pembukaan secara resmi baru pada 2009. Pengunjung dipungut biaya Rp 5 ribu, sedangkan khusus pelajar, mahasiswa dan anak-anak di bawah 3 tahun bisa menikmati secara bebas menikmati perjalanan perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Museum Bank Indonesia; Jalan Pintu Besar Utara No 3; Jakarta Barat

Buka:Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00

Tutup: Hari Senin dan hari libur nasional

agendaIndonesia

*****

Sekolah Hijau Bali, 1 Cara Belajar Hidup

Sekolah hijau Bali membangun jembatan dari bahan bambu yang lebih ramah lingkungan.

Sekolah Hijau Bali, atau Green School Bali, bukanlah sekolah lingkungan biasa. Ini sebuah sekolah yang mengajarkan hal “lebih” tentang kehidupan.

Sekolah Hijau Bali

Suara-suara ceria dan musik upbeat langsung tertangkap telinga, ehmm… bikin penasaran saja. Kedua kaki saya menjejaki jalan berkerikil menuju sumber suara itu. Begitu tiba di sebuah aula bambu besar terlihat sejumlah orang menari-nari, melompat, dan bernyanyi gembira. Mereka benar-benar menikmati suasana.

Saya bukan berada dalam sebuah festival siang itu, melainkan berada di tengah sebuah sekolah di Jalan Raya Sibang Kaja di wilayah Badung, Bali. Tepatnya di Green School Bali. Bukan sembarangan sekolah memang.

Didirikan oleh John dan Cynthia Hardy yang berdarah Amerika dan Kanada. Mereka dulu adalah pencinta perhiasan. Keduanya telah menjadi penduduk Bali lebih dari 30 tahun. Green School dibangun tujuh tahun lalu dengan harapan mereka bisa membawa para murid keluar dari batas-batas struktural, konseptual, dan fisik yang ditemukan di berbagai sekolah konvensional.

Sekolah ini tidak hanya menyediakan ilmu mengenai green living, namun juga mempersiapkan kehidupan anak-anak mereka. “Karena kami tidak mempersiapkan murid-murid kami (untuk masuk ke sekolah Ivy League). Kami mempersiapkan lebih dari itu untuk mereka,” kata Francis, pemandu wisata hari itu, yang juga guru di sekolah tersebut.

Sekolah pun terus berusaha agar bisa semandiri mungkin. Dihadapkan dengan kondisi sumber daya air di Bali yang semakin berkurang, sekolah membangun penampungan air sendiri. Kemudian, mendaur ulang melalui osmosis terbalik untuk memproduksi air bersih yang aman. Air tersebut digunakan di sekolah dan diambil dari penampungan air serta sungai.

“Kemandirian sekolah tidak berhenti hanya di air. Sekolah ini telah membangun sebuah pusaran air, di mana pembangunannya sudah memasuki tahap akhir untuk menghasilkan listriknya sendiri. Hingga saat ini, proyek yang berumur tujuh tahun ini merupakan satu-satunya turbin air vertikal di Bali,” kata Francis menjelaskan.

Selain itu, sekolah ini mendaur ulang limbah, termasuk kamar mandinya. Juga menyediakan botol air yang terbuat dari besi untuk murid-muridnya, membuat mobil listrik bambu sebagai kendaraan ramah lingkungan, dan menggunakan bambu untuk semua struktur di dalam wilayah Green School.

sekolah hijau Bali tidak sekedar mengajarkan tentang lingkungan, tapi juga kehidupan.
Sekolah Hijau Bali dengan ruang kelasnya yang tidak konvensional. Foto: Shutterstock

Lebih jauh, Francis mengungkapkan, bambu merupakan salah satu material yang memiliki kemampuan untuk menyimpan karbon. Selain itu, bambu dapat didaur ulang. Namun, jika tidak di daur ulang, maka akan kembali pada alam. Bahkan jembatan sekolah, yang dapat menahan hingga 200 orang dewasa, seluruhnya terbuat dari bambu. Jembatan ini berdiri anggun di atas Sungai Ayung dan menjadi jembatan bambu teranggun dan terkokoh yang pernah saya lihat.

Francis memimpin kami menuju salah satu ruang kelas. Sebagai orang yang hidup di perkotaan, saya harus mengakui berjalan di seputar Green School bukanlah hal yang mudah. Tidak ada jalan di sekolah ini yang terbuat dari semen. Semakin jauh saya berjalan, semakin besar usaha yang saya lakukan. Jalan di sekolah masih pada bentuk awalnya: terbuat dari batuan vulkanik.

Francis menyebutkan kondisi jalan tersebut sebenarnya ada tujuannya. Diharapkan, anak-anak akan berjuang dan ketika mereka terjatuh jadi paham rasa sakitnya. Tapi mereka tentu akan bangun dan melanjutkan perjalanan. “Begitu juga dengan menjalani hidup,” ucapnya.

Yang lebih menarik dari jalanan vulkanik adalah lubang lumpur. Terletak di sebelah salah satu kelas dan studio yoga, lubang lumpur merupakan bagian dari berbagai aktivitas sekolah. Terinspirasi dari mepantigan—sebuah bentuk pergulatan dan ilmu bela diri dari Bali—anak-anak dianjurkan untuk ikut serta dalam “pertarungan” seru di dalam lumpur. Dengan aktivitas ini, sekolah memperkenalkan kepada anak-anak tentang latar belakang dari kultur lokal. Selain itu, kegiatan itu bertujuan mengajarkan bahwa tanah tidaklah kotor.

Sama seperti sekolah lain, jiwa dari Green School ini terletak pada kurikulum yang ditawarkannya. Green School merupakan sekolah yang berpusat pada anak-anak dan mereka dianjurkan dapat berkembang dalam kecepatan masing-masing.

Francis menyebutkan sistem penilaian konvensional sudah tidak memiliki tempat di sini meski ada beberapa pengecualian, antara lain, sekolah tetap mempersiapkan murid-murid senior untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Di sisi lain, dengan belajar di dalam kelas dan mengikuti suatu sistem yang dinamakan thematics oleh sekolah, para murid dapat melihat subyek yang mereka pelajari dari berbagai perspektif yang berbeda. Di sekolah, para murid juga belajar dengan praktek. Anak Francis rupanya juga bersekolah di sini. “Anak saya terlibat dalam pembangunan sebuah generator. Saat ini, sekolah ini memang sedang membangun bendungan di sungai, bendungan sungguhan,” kata dia.

Green School juga mengajarkan murid-murid mereka agar tidak hanya menghargai bumi ini, tapi juga orang-orang dan budaya di sekeliling. Contohnya, murid sekolah dasar diwajibkan untuk belajar bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk murid yang tidak dapat hadir di sekolah selama satu tahun penuh ataupun  orang dewasa yang ingin merasakan pengalaman green living di Bali telah disediakan Green Camp. Di area ini, peserta belajar soal kepemimpinan melalui pengalaman belajar di luar ruang.

Francis pun menyimpulkan secara sederhana: “Sekolah ini bukan hanya tentang kepalanya, ini juga tentang tangan dan hatinya. Di sini kami ingin murid-murid juga mengetahui bahwa mereka dapat membuat perubahan.”

agendaIndonesia/ F. Ramdhani/TL

*****

House of Danar Hadi, Koleksi 500 Batik

House of Danar Hadi, museum dan butik batik di Solo

House of Danar Hadi menjadi salah satu saksi perjalanan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Ratusan koleksinya menjadi referensi dari begitu beragamnya jenis, motif, dan latar tradisi dari batik. Ia juga menjadi saksi perjalanan sejarah klasik bangsa ini.

House of Danar Hadi

Mungkin sekitar 500 koleksi batik yang dipajang di House of Danar Hadi ini seakan ‘hanya’ menunjukkan kecintaan Santosa Doellah pada batik. Santosa adalah pemilik batik Danar Hadi, salah satu merek batik terkemuka di Indonesia. Namun, jika ingin belajar tentang batik, tempat ini bisa menjadi titik awalnya.

Satu kota di Indonesia yang tak bisa dipisahkan dari batik adalah Solo. Ketika berkunjung ke kota di Jawa Tengah ini, cobalah untuk menyempatkan diri untuk mengunjungi museum yang menyimpan sejarah batik dan pembuatannya dalam ragam koleksi milik H. Santosa Doellah, yakni House of Danar Hadi.

House of Danar Hadi menceritakan kepada kita perjalanan batik Indonesia.
Ruang pamer batik pengaruh kraton di Museum Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah. Foto: Dok TL/Suryo

Nama butik sekaligus museum batik yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini sesungguhnya gabungan nama istri dan mertua Santosa, Danar dan Hadi. Nam pertama adalah nama istri sang pemilik, Danarsih. Sedangkan Hadi dari nama mertuanya, Hadipriyono. 

Solo memang saksi cikal bakal lahirnya Batik Danar Hadi. Ia berawal dari kecintaan Santosa Doellah pada batik, ia mengumpulkan 10 ribu jenis batik dan sekitar 500 di antaranya dipajang di museum ini.

Dengan membayar Rp  25 ribu, pengunjung akan mendapatkan seorang pemandu yang akan membantu menyusuri seluruh galeri dalam museum ini. Sebelas galeri menyimpan beragam jenis batik dari berbagai era dan daerah, proses pembuatan batik, dan koleksi batik mahakarya Santosa Doellah.

Di galeri pertama, ada batik Belanda yang dibuat pada masa penjajahan kolonial. Batiknya berwarna cerah dengan motif-motif dongeng Grimm bersaudara. Ada batik dengan motif si kerudung merah dan serigala serta batik bermotif rumah kue Hansel dan Gretel.

Di ruangan kedua, ada batik dari dua keraton Mataram, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Di sini orang bisa belajar membedakan batik gaya Kraton Yogya dan Kraton Solo.

Kadang untuk nama motif yang sama, ada perbedaaan pewarnaan. Atau, motif yang sama ternyata penggunaannya bisa untuk momen yang berbeda. DI tempat ini Pengunjung juga bisa belajar cara penggunaan kain batik ala kasunanan (Solo) atau kasultanan (Yogya).

Batik keraton Solo umumnya didominasi oleh warna hitam, cokelat, dan biru tua yang biasanya sekaligus menunjukkan strata kebangsawanan pemakainya. Batik keraton memiliki beragam ukuran dan motif yang masing-masing memiliki fungsi dan filosofi tersendiri. Museum ini juga menyimpan motif batik tertua, yakni batik kawung.

Museum Danarhadi
Penjaga melintas di depan batik yang digunakan oleh Istri Sukartno di ruang pamer Batik Indonesia di Museum Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/2/2015). Museum Batik Danar Hadi adalah salah satu museum batik terbesar dengan puluhan ribu motif batik yang terbagi dalam sembilan jenis batik: Batik Belanda, Batik Cina, Batik Jawa Hokokai, Batik pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Petani, Batik Indonesia dan Batik Danar Hadi. Foto: Suryo Wibowo

Pada galeri selanjutnya, pengunjung akan diperkenalkan pula pada batik yang mendapat pengaruh tradisi India. Motif ini pertama kali dibawa oleh para pedagang Gujarat pada abad 16.

Ada pula batik yang mendapat pengaruh keraton dan Jepang yang dinamai Jawa Hokokai. Ada cerita unik soal munculnya batik yang mirip motif kraton namun dengan pewarnaan atau gaya yang sedikit perbeda. Konon ini terjadi karena masyarakat biasa di Jepang atau negara Asia lainnya, seperti saudagar dan petani, yang tertarik ingin memiliki kain batik layaknya keluarga kraton Jawa, sehingga mereka membuatnya dengan warna yang lebih terang dan motif yang lebih sederhana. Ini untuk membedakannya dengan batik keraton.

Batik-batik tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pola-pola dari negara mereka, misalnya Negeri Tirai Bambu. Batik Cina memiliki warna yang lembut, seperti merah muda, oranye, atau hijau muda dengan motif gerigi yang khas.

Soal pewarnaan ini, di antara galeri-galeri itu juga ada galeri yang memberikan gambaran soal pilihan warna dan dari unsur pewarnaan itu diambil. Warna sogan –coklat khas batik, misalnya diambil dari dedaunan dan akar-akaran. Sementara warna lain juga diambil dari bahan-bahan alami lainnya.

Di galeri pembuatan batik House of Danar Hadi, pengunjung dapat mempelajari delapan tahapan pembuatan batik dari kain mori polos, klowongan, tembokan, wedelan, kerokan, biron, sogan hingga kemudian menjadi batik. Dalam stoples-stoples kaca disimpan tanaman-tanaman, bahan kimia, dan ragam jenis lilin yang digunakan untuk batik tulis tradisional.

Batik kontemporer hadir dari rancangan-rancangan desainer Indonesia, seperti Soemihardjo, Bambang Oetoro, dan Guruh Soekarno Putra. Batik ini memiliki motif yang lebih unik, seperti motif Pancasila dan motif api Reformasi.

Di galeri terakhir, Santoso Doellah menyimpan batik tulis dengan motif paling rumit dan paling indah. Motif tersebut ia anggap tidak akan bisa ditiru atau dibuat kembali. Salah satu batik unik tersebut adalah Batik Tiga Negeri. Disebut demikian karena batik ini dibuat di tiga tempat yang berbeda untuk setiap warnanya. Warna merah dibuat di Lasem, biru di Pekalongan, dan cokelat di Solo.           

Selain menjelajahi isi museum, pengunjung bisa melengkapi wisata dengan berbelanja produk-produk Batik Danar Hadi. Pintu ke luar museum terhubung langsung dengan ruangan toko batik. Batik Danar Hadi kini telah menuai kesuksesan dan ketenaran melalui 17 gerainya yang tersebar di kota-kota di Indonesia. Bukan hanya koleksi batiknya saja yang luar biasa, tapi juga museum ini dilengkapi dengan arsitektur mewah dan klasik dengan lampu gantung, lukisan, dan cermin berpigura emas.

Pernah mampir ke House of Danar Hadi? Jika belum, cobalah agendakan untuk mengunjunginya jika sedang berada di Solo.

agendaIndonesia/TL-Yolanda/Suryo

*****