Sambal Bu Rudy, Sejak 95 Pedasnya Menyengat

Sambal Bu Rudy bermula dari masakan keluarga kini menjadi oleh-oleh kha Surabaya.

Sambal Bu Rudy Surabaya terus naik daun. Selain produk-produk seperti ragam jenis sambal dan sebagainya yang kini populer sebagai oleh-oleh khas Surabaya, bisnis kulinernya juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri di kota pahlawan itu.

Sambal Bu Rudy

Semua berawal dari seorang wanita bernama Lanny Siswadi, atau yang sehari-hari akrab dipanggil bu Rudy. Wanita kelahiran Madiun, 10 Oktober 1953 ini sejak kecil memang terbiasa untuk bekerja dan berjualan demi mengais rejeki.

Masa kecilnya dilalui dengan cukup berat. Ayahnya saat itu kerap sakit-sakitan dan sulit untuk bisa bekerja full-time. Sementara ibunya juga tak punya penghasilan serta minim kompetensi untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

SItuasi diperparah dengan peristiwa G30S pada tahun 1965, dimana kondisi Madiun saat itu tidak kondusif dan mencekam. Maka sebagai anak sulung, ia sudah ikut bekerja mencari uang sejak dini.

Ia pun kerap pergi ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Dari menjadi tukang cuci piring hingga membantu tetangganya berjualan es dawet, semua dijalaninya demi membantu ekonomi keluarganya. Bahkan, ia mengaku putus sekolah sejak kelas 3 SD.

Selama satu dekade lebih ia harus bekerja serabutan, sampai akhirnya ia bertemu Rudy Siswadi, suaminya kini. Setelah menikah, mereka pun memutuskan untuk membuka usaha toko sepatu pada tahun 1983.

Toko sepatu tersebut terletak di Pasar Turi, dan menjadi mata pencaharian mereka selama sekitar 20 tahun. Hingga kini pun toko tersebut masih aktif berjualan, namun kini sudah dikelola oleh menantunya.

Kendati dirinya merasa tak begitu gemar dan jago memasak, namun beliau ternyata memiliki kecintaan tersendiri terhadap dunia kuliner. Tapi kisahnya berkecimpung di bisnis kuliner justru berawal dari usahanya bangkit dari kesulitan ekonomi lainnya.

Sambal BU Rudy awalnya disajikan dengan  udang yang digoreng kering.
Aneka sambal yang dikenal di Indonesia. Foto: Shutterstock

Pada awalnya, ia hanya senang memasak untuk teman-temannya kala mereka mampir datang ke rumahnya. Salah satu menu jagoannya adalah udang goreng beserta sambal bawang racikan sendiri. Tak disangka, ternyata teman-temannya begitu menyukai masakannya tersebut.

Mereka pun mulai mengusulkan kepadanya agar mencoba berjualan nasi dengan udang goreng dan sambalnya tersebut. Tadinya dia merasa tak yakin, tetapi ketika Pasar Turi sempat dilanda kebakaran dan tokonya turut ludes, ia akhirnya memberanikan diri agar dapat bangkit.

Kelihaiannya mengolah udang menjadi masakan sedap ini bukan tanpa sebab. Rudy sang suami rupanya memiliki hobi memancing di waktu luangnya. Sebagai umpan pancingan, ia kerap menggunakan udang.

Sebagian udang-udang inilah yang kemudian dicoba diracik bu Rudy menjadi kuliner yang menggoda lidah. Udang tersebut pun digoreng menjadi begitu renyah, gurih dan nikmat sebagai teman makan nasi. Ikan-ikan hasil pancingan suaminya pun kerap ia masak pula.

Tetapi yang paling krusial adalah kemampuannya mengolah sambal. Menurut pengakuannya, orang Madiun memiliki kultur membuat serta makan sambal yang sangat kuat. Ibaratnya, sambal saja bahkan sudah cukup untuk jadi lauk makan nasi.

Berbekal resep tersebut, pada 1995 ia dan suaminya mulai berjualan nasi udang goreng dengan sambal bawangnya dari atas mobil pick up. Selain menu itu, mereka juga menyediakan nasi pecel Madiun.

Ternyata, masakan mereka pun digemari publik Surabaya, dan mulai meraih kepopuleran. Bahkan pada perkembangannya, sambal bawangnya justru yang menjadi primadona dan jadi buah bibir banyak orang karena sensasi rasa pedas dan gurihnya itu.

Melihat peluang bisnis ini, bu Rudy pun mulai menjajakan sambal tersebut secara terpisah. Awalnya ia sempat kewalahan karena permintaan yang membludak, sementara sambal buatannya alami tanpa pengawet dan dikhawatirkan tak mampu bertahan lama.

Namun kini, dengan dibantu oleh anak-anaknya, ia bisa menjual sambal tersebut dalam kemasan botol. Tak lupa, di botol tersebut terdapat logo khasnya, yaitu wajah dari bu Rudy sendiri. Jadilah produk Sambal Bu Rudy.

Sambal Bu Rudy Bukalapak
Sambal Bu Rudy varian sambal bawang yang paling awal dikenal publik.

Sebotol sambal dengan tutup berwarna kuning itu pun semakin hari semakin populer. Bu Rudy yang tadinya hanya berniat berjualan makanan, kini menjelma jadi pebisnis sambal. Sekarang tak kurang sekitar 1.500 hingga 2.000 botol sambal yang terjual tiap harinya.

Jenis produk sambal Bu Rudy pun semakin beragam. Selain sambal bawang yang tentunya menjadi favorit banyak orang, kini ada pula varian sambal lain seperti sambal teri, sambal bajak, sambal ijo, dan sambal petis.

Bahkan udang crispy resep andalannya itu pun juga dijual satuan. Kini pecinta kuliner bisa membeli udang tersebut dalam berbagai ukuran kemasan, serta sepaket dengan sambal bawang sesuai ciri khasnya.

Dari situ, peminat produk-produknya terus meningkat, tidak hanya warga Surabaya saja tetapi juga muncul permintaan dari luar kota. Banyak wisatawan dari luar kota yang mampir dan mencari sambal bu Rudy sebagai oleh-oleh.

Bahkan produk sambal bu Rudy kini sudah merambah ke negara-negara lain seperti Tiongkok dan Belanda. Kalangan Istana pun disebut menyukai sambal buatannya, dari era Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo sekarang.

Bisnis pun terus berkembang dengan munculnya produk-produk penganan baru lainnya. Ikan wader crispy, kering kentang dan tempe, teri kacang balado, ikan asin dan peyek layur adalah beberapa di antaranya.

Harga sebotol sambal tersebut berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 28 ribu, tergantung variannya. Sedangkan udang crispy satuan kemasan kecil dihargai Rp 38 ribu dan yang besar Rp 70 ribu. Adapun udang dan sambal sepaket dalam kemasan kecil Rp 63 ribu dan yang besar Rp 145 ribu.

Harga penganan lainnya pun termasuk terjangkau, seperti kering kentang dan tempe yang dihargai Rp 25 ribu. Atau ikan asin layur yang harganya Rp 30 ribu. Serta ikan wader crispy yang dijual Rp 26 ribu.

Sementara itu, bisnis kuliner bu Rudy pun kini beralih menjadi restoran yang dinamai Depot Bu Rudy. Setidaknya ada empat cabang yang beroperasi saat ini, yang juga sekaligus menjadi toko penyedia produk oleh-oleh mereka seperti sambal, udang serta penganan lainnya.

Depot Bu Rudy menawarkan menu-menu seperti nasi udang, nasi pecel Madiun, nasi campur, nasi bakar, nasi Madura, nasi penyet dan lain-lain. Harganya rata-rata berkisar dari Rp 28 ribu sampai Rp 33 ribu. Hingga kini, bu Rudy masih rajin memasak di depot-depot tersebut.

Depot pusatnya terletak di jalan Dharmahusada. Yang perlu dicatat, hanya depot pusat saja yang biasanya buka setiap hari dari jam 07.00 sampai jam 17.00. Di depot-depot lainnya, Depot Bu Rudy buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081228839813, (031) 5456565, 081938621616, (031) 7349051, atau kunjungi situs-situs resmi di depotburudy.co.id dan depotburudy.com, serta akun resmi Instagram @burudy.surabaya.

Depot Sambal Bu Rudy

Jl. Dharmahusada no. 144, Surabaya

Jl. Anjasmoro no. 45, Surabaya

Pasar Atom Mall Lt. 4, Surabaya

Jl. Raya Kupang Indah no. 5, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Roti Unyil Venus, 55 Varian Unik Dari Bogor

Keliling Bogor pastikan beli roti unyil venus, oleh-oleh khas Bogor

Roti Unyil Venus mungkin sekitar 10-15 tahun terakhir menjadi salah satu oleh-oleh khas dari kota Bogor, Jawa Barat. Bentuknya yang mungil dengan rasa yang enak membuatnya menjadi klangenan mereka yang singgah ke kota hujan ini.

Roti Unyil Venus

Untuk warga Bogor dan Jakarta, mungkin roti Venus ini sesungguhnya tidak baru, menurut sejarahnya ia sudah ada sejak 1992. Meskipun produk dalam bentuknya yang mungil seperti sekarang ini baru sekitar tahun 1993-1994.

“Roti Unyil” sendiri adalah produksi Venus Bakery yang dikembangkan kakak beradik Hendra Saputra dan Herlianty. Mereka memulai usahanya dengan membuat roti-roti berukuran normal-normal saja, seperti roti tawar dan roti isi beraneka rasa. Awalya mereka berdua berjualan rotinya dengan menggunakan gerobak kecil di perumahan sekitar tempat tinggalnya.

Herliyanti yang pertama punya ide berdagang, Hendra, sang adik yang pertama mengusulkan agar mereka menjual roti. Hal itu karena ia pernah mengikuti kursus membuat roti. Hendra pun akhirnya membuat roti dengan resep sendiri. Roti mereka pada awalnya berukuran standar dan memiliki 10 rasa yang berbeda-beda.

Ide membuat varian roti dalam bentuk mungil tercetus ketika kedua kakak beradik tersebut ingin menyasar pasar anak-anak. Pertimbangannya, anak-anak mungkin tertarik dengan bentuknya yang mungil. Tentu, dengan kualitas dan rasa yang enak, anak-anak akan semakin menggemarinya.

Namun, ternyata keduanya “meleset”. Roti mungil mereka ternyata tak hanya digemari anak-anak. Pasar terbesar kemudian justru para orang tua dan orang dewasa. Mungkin dengan harganya yang lebih murah karena mungil, orang bisa sekaligus mencicipi beberapa varian rasa sekaligus. Jika dibandingkan dengan membeli satu jenis roti ukuran biasa.

Belakangan, roti-roti mungil ini justru yang cepat terserap konsumen. Akhirnya toko roti Venus hanya fokus pada produk roti-roti kecil ini. Pada saat itu memang belum ada roti yang berukuran kecil. Toko ini tetap memproduksi beberapa roti ukuran besar, namun tak lagi menjadi produk utama.

Tak jelas betul bagaimana kemudian produk roti-roti mungil ini kemudian disebut dengan nama “roti unyil”. Pada awalnya, baik Hendra maupun Herlianty tidak pernah mempopulerkan roti buatan mereka dengan nama roti unyil. Entah siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut hingga akhirnya roti-roti mungil ini dikenal oleh hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia dengan nama roti unyil.

Awalnya roti unyil ini hanya memiliki 10 varian rasa, seperti juga awal roti ukuran normalnya. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk berinovasi hingga variasi rasanya bertambah menjadi 25 rasa. Ini terus berkembang, hingga saat ini telah ada 55 varian rasa. Ada rasa manis, maupun rasa asin.

Isi dari roti ini bermacam-macam, mulai dari abon, keju, sosis, bakso, moka, cokelat, susu, jagung, kacang, nanas, pisang, kismis, stroberi, cokelat kacang, dan pisang cokelat. Atau kombinasi dari bermacam varian itu.

Keberadaan roti unyil lantas saja beredar dari mulut ke mulut. Setiap harinya, Venus Bakery tak pernah sepi pembeli, terutama di akhir pekan atau saat hari-hari libur. Para pembeli biasanya membeli roti yang dikemas dalam kotak berisi 10 hingga 60 buah. Konsumen dibebaskan untuk memilih lebih dari 50 varian yang tersedia di dalam etalase. Namun, dari semua varian, yang menjadi favorit para pembeli adalah daging asap keju dan jagung manis.

Outlet pertama toko roti Venus ada di sebuah komplek ruko di Jalan Sukasari, Bogor. Toko roti itu selalu ramai dikunjungi pengunjung. Banyak orang berdatangan terutama dari Jakarta yang membeli roti itu. Mau tidak mau kamu harus mengantri dengan sabar karena jumlah pengunjung yang membludak.

Ketika bisnis terus berkambang dan maju, toko roti ini kemudian sekarang berada di Jalan Padjadjaran, lokasinya cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari pintu masuk tol Jagorawi dan Terminal Baranang Siang. Di tengah banyaknya oleh-oleh dan kuliner yang tumbuh di Bogor, roti unyil kemudian menjadi salah satu pilihan.

Tak jarang, selain menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang hendak kembali ke Jakarta, Bandung, atau kota lainnya, roti Venus ini juga menjadi incaran para pelancong yang hendak berakhir pekan ke Puncak. Roti ini memang cocok dimakan ketika orang sedang bersantai bersama keluarga atau teman-teman. Roti ini juga bisa menjadi teman sarapan atau sekadar untuk pengganjal perut yang lapar.

Sudahkah Anda mencicipi roti unyil ini? Kalau belum, ayo segera agendakan.

AgendaIndonesia

Jenang Kudus Mubarok, Dijajakan Mulai 1910

Jenang Kudus Mubarok menjadi salah satu ikon kota Kudus, Jawa Tengah.

Jenang Kudus Mubarok mungkin adalah satu dari empat hal yang popular tentang kota Kudus di Jawa Tengah. Pertama tentu Sunan Kudus sebagai salah satu dari Wali Sanga, sembilan wali yang yang melakukan syiar agama Islam di Jawa. Lalu ada Masjid Kudus beserta menaranya, ke tiga tentu industri rokok kretek.

Jenang Kudus Mubarok

Ke empat kalau bIcara soal Kudus, tentu soal jenangnya, khususnya Jenang Kudus Mubarok. Jenama ini telah berhasil membuat kota kretek itu begitu identik dengan kudapan tradisional yang mirip dodol ini. Lho, jenang atau dodol?

Buat yang belum tahu, ada beda antara ke duanya. Memang, seperti dodol, jenang juga dibuat dari bahan dasar seperti tepung ketan, gula dan santan. Bedanya, dodol biasanya cenderung bertekstur kering. Sedangkan jenang cenderung lebih basah dan licin.

Gerai Jenang Kudus Mubarok mubarokfood
Jenang Kudus Mubarok menjadi salah satu karakter kota Kudus, Jawa Tengah. Foto; Dok Jenang Mubarok

Itu disebabkan oleh beda jenis lemak yang terdapat di kedua makanan tersebut. Pada jenang, terkandung jenis lemak nabati yang membuatnya terasa lembut dan berminyak. Sedangkan dodol mengandung lemak hewani yang membuatnya lebih kering.

Tak banyak yang tahu secara pasti asal muasal terciptanya jenang di Kudus. Kebanyakan cerita yang berkembang biasanya berangkat dari mitos atau cerita rakyat. Seperti misalnya seorang murid Sunan Kudus yang mampu memakan bubur jenang dari gamping. Karena kejadian tersebut, Sunan Kudus bersabda suatu saat warga Kudus akan makmur dari usaha membuat jenang.

Ada pula versi yang menyebutkan bahwa Sunan Kudus dan muridnya tersebut memberi makan bubur jenang gamping kepada seorang anak yang diyakini diganggu roh jahat.

Lepas dari mitos dan cerita rakyat tersebut, jenang diyakini sudah jadi penganan asli Kudus sejak lebih dari 110 tahun yang lalu. Bahkan, setiap perayaan tahun baru Hijriyah pada tanggal 1 Muharam diadakan Kirab Jenang Tebokan sebagai simbol rasa syukur.

Namun, boleh dikatakan jenang Kudus mulai meraih kepopuleran setelah mulai dijajakan untuk umum pada sekitar tahun 1910. Sang perintis adalah Hj. Alawiyah, warga desa Kaliputu yang dipercaya sebagai daerah asal jenang Kudus pertama kali muncul.

Dulu, ia mencoba menjual jenang buatannya di area Pasar Kudus saat itu, yang sekarang beralih fungsi menjadi lahan parkir pengunjung Masjid Menara Kudus dan makam Sunan Kudus. Sehari-harinya ia dibantu suaminya, H. Mabruri dalam mengelola bisnis ini.

Selepas berpulangnya Hj. Alawiyah, bisnis kemudian dilanjutkan oleh sang anak H. Achmad Shochib. Saat itu, jenang buatan mereka dikenal dengan jenama Sinar Tiga Tiga. Dinamakan demikian karena alamat rumah produksi berada di jalan Sunan Muria nomor 33 pada saat itu.

Perlahan, jenang Kudus pun sudah mulai terkenal dan banyak jenama baru yang bermunculan. Kebanyakan pun meniru format jenang Sinar Tiga Tiga yang dibungkus plastik dan dikemas dalam kertas. Berat kemasan tersebut sekitar 0,25 kg, sehingga kerap dipanggil sebagai jenang prapatan. Prapatan dari kata seprapat yang artinya seperempat.

Untuk mengatasi persaingan yang makin ketat, pada 1975 Sinar Tiga Tiga meluncurkan tiga merk baru: Mabrur, Viva dan Mubarok. Ternyata, merek Mubarok yang melejit menjadi paling populer kala itu.

Mereka juga berinovasi dengan cara diversifikasi produk. Jenang rasa coklat dan melon pun diperkenalkan pada tahun yang sama. Lalu beberapa tahun setelahnya diluncurkan pula rasa mocca.

Pada 1992 bisnis jenang Kudus Mubarok dilanjutkan oleh anak H. Achmad Shochib, yakni H. Muhammad Hilmy yang menjadi generasi ketiga. Nama perusahaan pun berubah menjadi CV Mubarokfood Cipta Delicia, dengan Mubarok sebagai jenama utamanya.

Kendati sudah beralih dari bisnis UMKM menjadi perusahaan berskala besar, nyatanya Jenang Kudus Mubarok tetap mempertahankan cara pembuatan jenang secara tradisional. Adonan tepung ketan, santan dan gula yang digunakan untuk membuat jenang masih dimasak dengan kayu bakar.

Alasan tetap dipertahankannya cara tradisional ini agar adonan dapat dimasak secara lebih merata. Setelah dimasak selama lima jam, adonan kemudian didinginkan selama sehari agar tidak mengembun ketika dikemas dan lebih tahan lama.

Jenang Kudus Mubarok dijual dalam beberapa jenis kemasan, dari yang kecil, besar sampai yang di dalam toples. Jenang kemasan kecil dihargai Rp 22,5 ribu, sedangkan kemasan besar dan toples harganya Rp 45 ribu.

Jenang Kudus Mubarok Expo Dodol Jenang Mubarok com
Jenang Kudus Mubarok terus melakukan publikasi dan pemasaran meskipun sudah menguasai pasar. Foto: Jenang Mubarok

Uniknya, meski Mubarok sudah popular, jenama lama seperti Sinar TIga Tiga, Mabrur dan Viva juga masih tersedia. Bahkan pelancong masih bisa membeli jenang Sinar Tiga Tiga dengan kemasan dari kertas dan ukuran menyerupai aslinya, seharga Rp 10,5 ribu.

Tersedia pula jenama baru lainnya seperti Jawa Rasa, Baginda dan Semesta yang dikemas dalam plastik. Selain itu, terdapat berbagai pilihan rasa seperti coklat, susu, cocopandan, anggur, strawberry, durian, mocca, cappuccino, melon, nanas dan juga campuran dalam satu kemasan.

Selain produk jenang, mereka kini juga berinovasi dengan menawarkan ragam produk penganan lain seperti dodol dengan merek seperti Citra Persada dan Claszeto, serta kurma berlapis coklat Al Madina.

Dengan banyaknya pilihan produk yang tersedia, tak heran jika mereka menjadi penguasa pasar jenang dan menjadi ikon kota Kudus. Mereka menguasai produk jenang Kudus hingga 50 persen lebih. Produk-produk mereka pun sudah diekspor ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Jepang dan Hong Kong.

Museum Jenang Mubarok mubarokfood
Jenang Kudus Mubarok juga mendirikan Museum Jenang. Foto: Mubarokfood

Tak hanya itu, mereka kini juga mendirikan Museum Jenang Kudus sebagai salah satu spot wisata baru. Di sini pelancong dapat belajar tentang sejarah kota Kudus, serta sejarah produksi jenang dan rokok kretek yang menjadi simbol kota tersebut.

Museum ini terletak di rumah produksi dan gerai utama Jenang Mubarok. Tokonya sendiri buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0291) 432633, (0291) 432606 atau via email di info@mubarokfood.co.id, serta bisa mengakses situs resmi mubarokfood.co.id.

Jenang Mubarok & Museum Jenang Kudus

Jl. Sunan Muria no. 33, Kudus

agendaIndonesia/Audha Alief P

*****

Bakpia Yogya, Oleh-oleh Khas Sejak 1940-an

Bakpia Yogya

Bakpia Yogya menjadi pilihan pertama jika orang ingin membawa oleh-oleh dari kota pelajar ini. Tentu saja selain gudeg.

Bakpia Yogya

Makanan tersebut merupakan oleh-oleh tradisional terpopuler dari Yogyakarta. Ada perasaan tidak komplit jika ke Yogyakarta tidak membeli bakpia. Hampir di setiap toko oleh-oleh di kota ini menyediakan makanan ini.

Bakpia sendiri adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu yang, awalnya hanya dengan diisi dengan kacang hijau biasa disebut kumbu dan belakangan muncul dengan sejumlah varian isi, yang dipanggang. Makanan yang dianggap menjadi ciri khas Yogya ini sejatinya berasal dari negeri Cina.

Dari laporan tirto.id yang mengutip penelitian Amelia Puspita Sari dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan judul Bakpia Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya Indonesia dan Tiongkok di Bidang Kuliner (Studi Kasus Bakpia 29), tertulis bakpia terbentuk dari pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Nama bakpia sendiri memang berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang secara harfiah bermakna kue atau roti berisi daging. Bakpia memang datang dari negeri Tiongkok dibawa para imigran Tionghoa pada awal abad 20. Bakpia masuk Indonesia sejak 1930-an. Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia.

Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia. Kemudian ia dibawa oleh keluarga-keluarga pedagang Tionghoa yang datang dan kemudian menetap di kota Yogya.

Bakpia awalnya dulu dibuat menggunakan isian daging dan minyak dari babi. Namun, kemudian melihat penduduk Yogya yang lebih banyak yang muslim, bakpia lantas dimodifikasi menjadi kue yang tidak lagi menggunakan minyak babi. Isiannya pun diganti dengan kacang hijau sehingga sepenuhnya menjadi makanan yang halal. Hasil adaptasi cita rasa bakpia ini juga disesuaikan dengan lidah masyarakat Yogyakarta.

Makanan ini pertama kali dibawa pendatang asal Tiongkok, Kwik Sun Kwok, pada 1940-an ke Yogyakarta. Pada saat itu Kwik menyewa sebidang tanah di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, milik seorang warga lokal bernama Niti Gurnito.

bakpia yogya di antaranya bakpia kukus tugu jogja

Pada awalnya, kue ini hanya menjadi camilan tradisional dalam keluarga. Namun dalam perkembangannya kemudian makanan ini mulai diperjualbelikan ke publik. Salah satu keturunan keluarga Tionghoa, Goei Gee Oee, kemudian memproduksi bakpia sebagai industri rumahan. Bakpia yang didirikannya bernama Bakpia Pathuk 55.

Langkah ini kemudian diikuti oleh Liem Yu Yen sekitar tahun 1948 yang diberi nama Bakpia Pathuk 75. Sampai 1970, praktis bakpia baru diproduksi oleh dua keluarga ini di Pathuk, Yogyakarta.

Pada 1980-an, bakpia semakin populer dan mulai muncul produsen-produsen rumahan bakpia di kawasan Pathuk. Para pembuat bakpia umumnya menggunakan menyulap dapur atau sebagian rumah mereka untuk membuat bakpia. Mereka kemudian membuka toko di rumah masing-masing untuk memasarkan bakpia buatannya. Bakpia dikemas menggunakan dus atau kertas karton. Bakpia-bakpia ini kemudian dikenal dengan sebutan Bakpia Pathuk.

Seperti dikutip dari Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja (Suryo Sukendro, 2009), pada masa itu, para produsen bakpia belum mengenal istilah merek dagang. Secara sederhana para produsennya menjual dengan merek dagang berupa nomer rumah pembuatnya, seperti Bakpia Pathuk 25, 75 dan masih banyak lagi.

Pelabelan Bakpia merek dagang nomor rumah tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan. Begitupun, beberapa tahun terakhir mulai ada yang yang menggunakan nama yang bukan nomor rumah.

Berjalannya waktu dan berkembangnya selera masyarakat, bakpia tak hanya berisi kacang hijau dan kumbu ketan hitam. Sejumlah varian isi mulai ditawarkan. Mulai dari coklat, keju, ubi ungu, susu, bahkan hingga tiramisu dan teh hijau. Cara memasakmya pun mulai bervariasi. Jika dulunya hanya dipanggang, belakangan –mungkin terinsprasi model brownis yang dikukus, bakpia muncul pula dengan model kukus.

Pusat-pusat produksi bakpia pun meluas, tidak lagi hanya terpusat di Pathuk. Kini, selain di Pathuk sentra produksi bakpia bisa dijumpai di daerah Glagahsari (selatan Kusumunegara); di daerah Wirobrajan; bahkan di kawasan Minomartani dan jalan Kaliurang di Utara Yogyakarta. Masing-masing dengan kekhasan rasa dan pelanggannya sendiri-sendiri.

Bakpia telah melewati sejumlah zaman dan tetap bertahan sebagai oleh-oleh khas Yogya nomor satu.

Beberapa sentra bakpia khas Yogya.

Bakpia Pathuk 75; Jalan AIP Jl. Karel Sasuit Tubun No.75, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Kurniasari; Jl. Glagahsari No.91, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164

Bakpiaku; Jl. Kaliurang No.81, Kocoran, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Bakpia Pathuk 25; Jalan AIP Karel Sasuit Tubun No.65, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Merlino; Jl. R. E. Martadinata B No.24, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55253

Bakpia Citra; Jl. Mataram, Suryatmajan, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55213

Bakpia Kukus Tugu; Jl. Kaliurang KM.5,5 No.10A, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284

agendaIndonesia

*****

Oleh-oleh dari Medan, 3 Yang Dari Kebun

Oleh-oleh dari Medan, Sumatera Utara, memiliki banyak macamnya. Oleh-oleh kreasi warga Medan pun terus berkembang. Tidak lagi hanya sirop markisa, bika Ambon, dan bolu Merant,i tapi juga tersedia pilihan hasil kebun yang menyegarkan.

Oleh-oleh dari Medan

Manisan, jus buah, dan kopi membikin mata serta pikiran langsung terbuka. Medan memang surga segala jenis hidangan. Dari sajian untuk sarapan hingga hidangan laut yang biasa dikonsumsi malam hari. Berbagai hasil perkebunan di sekitar Sumatera diramu untuk menggoda selera. Hasil olahan menyegarkan tersebut termasuk kopi. Cairan hitam ini tak kalah nikmat, apalagi jika aromanya sudah menggoda hidung.

Manisan Buah Yenny

Yenny sudah dikenal sebagai pembuat manisan jambudi Medan sejak 1980-an. Ia bekerja dengan suaminya membuat olahan ini. Hasilnya berupa manisan jambu renyah yang ia sebut tidak bisa tahan lama. Selain menggunakan gula asli, olahan ini tanpa pengawet. Para wisatawan lazimnya mampir ke toko ini sebelum menuju bandara untuk pulang ke daerah masing-masing. “Hanya tahan dua hari, di lemari es paling empat hari,” Yenny mengungkapkan.

Yenny menggunakan jambu klutuk atau jambu biji hasil perkebunan di Berastagi. Pembuatannya paling singkat dibanding dengan jenis manisan lain, hanya dikupas kemudian dimasukkan ke cairan gula sebentar.

Bentuknya dibiarkan bulat, dengan warna asli bagian luar kehijauan dan daging yang putih. Rasanya segar dan renyah. Buah ini paling pas dikunyah siang hari di tengah hawa Kota Medan yang panas. Ada beberapa lokasi yang menjadi pusat penjualan manisan jambu klutuk. Hanya, bila Anda ingin membawanya sebagai oleh-oleh, lebih baik menuju Jalan S. Parman. Tidak jauh dari Museum dan Galeri Rahmat, ada sebuah jalan kecil yang dikenal sebagai Gang Pasir. Tepat di ujung gang, ada dua toko. Nah, di sisi kanan berdiri Toko Manisan Yenny.

Berada di provinsi yang memiliki lahan perkebunan luas, Medan menyodorkan banyak olahan manisan buah. Yenny mengaku mencari jenis buah terbaik dan menggunakan gula asli. Proses pengolahan manisan ini cukup panjang, bahkan hingga satu minggu agar rasa manis benar-benar meresap pada buah.

Selain jambu biji, buah lain yang digunakan untuk manisan adalah buah khas Sumatera Utara, seperti mangga Medan, yang berukuran kecil. Diolah ketika mangga masih muda, manisan yang dijual per kilogram ini terasa asam manis. Jika masih ingin mencicipi yang segar-segar, pengunjung bisa memilih manisan asam gelugur, yang dipatok seharga Rp 50 ribu per kilogram. Ada juga manisan kedondong, pepaya, dan cabai, yang harganya cukup tinggi.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

oleh-oleh dari Medan tak sedikit yang merupakan produk perkebunan.
Juise buah bisa menjadi oleh-oleh dari Medan, salah satunya juice Terong Belanda. Foto: Dok. shutterstock

Jus Buah Asli

Banyak orang mengenal oleh-oleh Medan berupa sirop markisa dan terung Belanda. Sirop itu memiliki aroma yang kuat, meski rasa markisanya sudah berkurang. Penggemar buah ini bisa menemukan produk tersebut di toko manisan, di antaranya gerai milik Yenny. Selain menjual jus markisa dan terung Belanda, serta campuran keduanya yang disebut martabe, toko ini menjajakan beragam jus buah.

Ada jus jeruk Kietna dalam botol untuk ukuran 600 mililiter. Ada pula jus markisa, martabe, dan jus kedondong yang menyegarkan. Bagi penggemar sirsak, tersedia pula jus buah tersebut dalam botol.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

Oleh-oleh dari Medan ada yang berasal dari olehan perkebunan, di antaranya kopi.
Kopi di Oppal Coffee, selain yang bisa dibawa dalam bentuk biji atau serbuk, juga bisa dinikmati di tempat. Foto: Dok. TL/Dhemas

Kopi Beraroma Mantap

Kopi tentu menjadi oleh-oleh yang tak kalah menyegarkan dari Medan. Kopi Sidikalang salah satunya. Ada banyak produk minuman sedap ini karena memang Sumatera Utara gudangnya kopi. Namun jika benar-benar penikmat kopi, dan ingin memilih yang berkualitas ekspor, Anda bisa mencicipi produk Opal Coffee.

Kopi ini dikeluarkan oleh PT Sari Makmur Tunggal Mandiri, yang memiliki lahan sekitar 500 hektare di Sidikalang. Kopi yang diolah 100 persen hasil lahan sendiri. Ada 15 varietas kopi yang ditanam, sehingga pembeli bisa memilih sesuai dengan selera. Menurut Michael Wonggo, Operation Manager Opal Coffee Division, kopinya juga menjadi langganan hotel-hotel berbintang di Medan.

Beberapa jenis kopi dari Opal Coffee bisa ditemukan di kafe yang dikelola perusahaan ini di Medan. Berlokasi di Griya Riatur, beraneka kopi Sumatera dan daerah lain dijual pada kisaran Rp 200 ribuan per kilogram, baik yang masih berupa butiran maupun hasil sangrai dadakan.

Opal Coffee Café & Resto; Kompleks Griya Riatur Blok C-56; Medan

Rita N./ Dhemas RA/TL/agendaIndoensia

*****

5 Oleh-oleh Medan Yang Memikat dan Nikmat

5 oleh oleh Medan bolu meranti

5 oleh-oleh Medan ini kian hari kian memikat dan tetap nikmat. Bika Ambon masih jadi sesuatu yang khas, tapi tidak lagi hanya itu, karena pilihan terus bertambah.

5 Oleh-oleh Medan

Tak mengherankan jika ada orang Medan yang menyebutkan, kalau sudah pulang kampung, berat badan langsung naik. Di Medan, memang begitu mudah ditemukan sajian yang menggoda. Bila Anda bersiap meninggalkan Medan, tapi masih ingin mencecap sajian kota itu, tidak ada salahnya membawa oleh-oleh. Paling tidak, dalam beberapa hari Anda masih bisa menikmati sajian khas Sumatera Utara. Mulai yang sudah lama dikenal seperti sirop markisa, sirop terung Belanda, bika ambon, manisan jambu, dodol duren, hingga yang kini digandrungi: bolu gulung Meranti dan pancake durian. Semua bisa dikemas agar siap dibawa langsung ke bandara.

Bika Ambon

Sepanjang Jalan Majapahit, Medan, sudah lama menjadi sasaran turis ataupun warga Medan untuk mendapati oleh-oleh khas bika ambon. Mulai ramai sejak 1990-an, hingga kini deretan toko yang menjual oleh-oleh semakin bertambah. Ada sekitar 20 toko. Mungkin karena bika ambon dari tahun ke tahun selalu diburu sebagai oleh-oleh. Dengan kreativitas, bahkan bika ambon tersedia dalam berbagai rasa, dari yang orisinal berwarna kuning hingga muncul rasa pandan, keju, cokelat, vanila, nangka, dan durian.

Nama kue ini bika. Tapi konon, karena awalnya ada pemuda Ambon yang setiap kali makan kue ini selalu dengan lahap, disebutlah bika ambon. Kue berpori-pori dengan rasa legit ini bisa ditemukan dalam berbagai ukuran. Semula memang dijual dalam ukuran kecil, tapi kue setebal 5-6 sentimeter itu kini kebanyakan diproduksi dalam ukuran besar.

Ada dua merek yang cukup dikenal, yakni Bika Ambon Zulaikha dan Bika Ambon Ati. Bika Ambon Ati disebut sebagai yang pertama membuka usaha penganan tersebut di jalan ini. Adapun pemilik bika ambon Zulaikha membuka tokonya pada 2003, meski pembuatan bika ambon sudah dilakukannya sejak 2000. Rata-rata per loyang besar dihargai Rp 50 ribu. Kue yang terbuat dari tepung sagu dan telur ini bahkan dikemas khusus jika hendak dibawa naik pesawat, sehingga bika ambon pun aman di perjalanan. Di toko Bika Ambon Zulaikha juga bisa ditemukan beragam oleh-oleh khas Medan lainnya.

Bika Ambon Ati; Jalan Majapahit Nomor 11; Medan

Bika Ambon Zulaikha; Jalan Majapahit 96-D-E-F; Medan

Bolu Meranti

Kini jenis bolu gulung ini seperti menjadi oleh-oleh wajib bagi para pengunjung Kota Medan. Gerai yang lebarnya sekitar 6 meter itu pun selalu dipenuhi pengunjung. Di dinding dipajang foto-foto artis yang pernah mampir dan berbelanja di Bolu Meranti, di Jalan Kruing, Sekip, Medan.

Ada beragam rasa bolu gulung di sini, seperti stroberi, cokelat, moka, kopi, vanila, blueberry, pandan, dan ada campuran dua rasa: cokelat-stroberi, moka-kopi, cokelat-moka, dan lain-lain. Ada juga yang dibubuhi keju, kacang, atau meses.

Toko itu didirikan pada 2005, dan menggunakan nama Meranti, karena semula menjualnya di Jalan Meranti, meski pembuatnya tinggal di Jalan Kruing. Ciri khas bolu ini adalah teksturnya yang lembut. Selain itu, ada lapis legit, brownies, dan kue sus. Cuma kebanyakan yang dicari sebagai oleh-oleh bolu dan lapis legit. Selain bolu Meranti, kini bermunculan jenis bolu yang sama tapi dengan merek lain.

Bolu Meranti; Jalan Kruing Nomor 2-K; Medan

Sirop Markisa & Terung Belanda

Pertanian di sekeliling Medan tumbuh subur. Alhasil, dalam soal sayuran dan buah-buahan, kota ini mempunyai banyak pilihan. Salah satu pemasok besar datang dari dataran tinggi Tanah Karo dan Berastagi. Kedua daerah ini berada di kaki Gunung Sibayak. Untuk buah-buahan, selain ada jeruk, tersedia markisa dan terung Belanda. Sirop markisa sudah lama menjadi oleh-oleh dari Medan. Dengan semakin banyaknya hasil pertanian berupa terung Belanda, buah berwarna ungu ini pun diolah menjadi sirop.

Ada beberapa merek untuk kedua jenis sirop ini, di antaranya Pyramid Unta, Pohon Pinang, Noerlen, dan Sarang Tawon. Harganya berkisar Rp 18-33 ribu. Setelah meneguk jus buah aslinya, ada baiknya Anda membawa oleh-oleh berupa siropnya, yang tentu juga tetap menyegarkan karena terbuat dari buah asli dan mengandung sejumlah manfaat bagi tubuh. Markisa disebutkan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan vitamin A, B, serta C. Terung Belanda, yang berbentuk lonjong, berasa asam, dan dikenal mengandung vitamin A, B, C, dan E, ditambah lagi protein, kalsium, fosfor, zinc, zat besi, dan lain-lain. Sirop ini bisa didapat dengan mudah di toko oleh-oleh.  

5 Oleh oleh Medan di antaranya pancake durian

Pancake Durian

Durian umumnya lebih puas dinikmati di Medan. Apalagi jenis buah ini dilarang dibawa masuk ke dalam pesawat terbang. Namun rupanya orang Medan mempunyai trik agar durian tetap bisa dibawa sebagai oleh-oleh tanpa mengganggu penumpang lain. Durian pun dibuat lebih ringkas dengan mengolahnya menjadi pancake durian. Dibentuk dalam ukuran kecil untuk sekali makan dan dikemas dalam sebuah kotak kecil yang terdiri atas 10 pancake. Untuk membawanya ke dalam pesawat, si penjual biasanya membubuhkan kopi hingga aroma menyengatnya tidak muncul.

Untuk memuaskan pencinta durian, ada sebuah toko yang menjual macam-macam penganan dari durian, yakni Durian House. Aroma durian memenuhi ruangan, seperti pewangi ruangan rasanya. Pancake durian ini terbuat dari durian asli yang dibalut dengan kulit dari tepung. Rasa duriannya tetap kuat. Semakin mantap jika dimasukkan ke dalam lemari es terlebih dulu dan dikonsumsi dalam keadaan dingin.

Selain itu, di Durian House bisa ditemukan dodol durian, penganan yang sudah lama melekat dengan kota yang terkenal dengan duriannya ini. Juga bolu duren, roti puding durian, dan lain-lain. Bila ingin menikmati pancake durian di tempat, bisa mampir ke Taipan Chinese Restaurant di Jalan Putri Hijau Nomor 1, atau Restoran Sari Laut Nelayan di Merdeka Walk atau Jalan Putri Merak Jingga.

Durian House; Jalan Sekip Nomor 67-H, Medan

Manisan Jambu

Manisan jambu klutuk Medan sudah dikenal sejak dulu. Rasanya segar dan manis. Sebenarnya, selain jambu, di Medan aneka manisan memang sudah biasa diolah. Masyarakat Melayu Deli-lah yang mempunyai tradisi membuat manisan untuk sajian tamu saat Lebaran. Jenis buah yang sering dibuat manisan adalah salak, buah kana, asam jawa, tomat, nanas, mangga, plum, jambu, jambu biji, belimbing, pepaya, kedondong mini, jeruk kasturi, mangga samosir (mangga berukuran kecil-kecil), bahkan cabai. Hanya kemudian yang menjadi ciri khas untuk oleh-oleh adalah manisan jambu.

Ukuran jambu yang cukup besar, renyah, dan segar mungkin yang membuat orang menyukainya. Proses pembuatan manisan jambu juga membutuhkan waktu lebih singkat ketimbang jenis manisan lain yang memerlukan proses fermentasi. Pusat pembuatan manisan, sekaligus tokonya, ada di Gang Pasir, Jalan S. Parman. Anda bisa melihat pembuatannya, dan bisa juga memesan sebelum dibawa terbang ke kota asal. Kebanyakan pembuat manisan sudah turun-temurun, seperti toko manisan milik A Hai.

Rita N./Toni H./Dok. TL