Bau Nyale, Saat Hari Ke-5 Purnama Kalender Sasak

Bau Nyale adalah sebuah perayaan tentang cacing atau nyale merupakan perwujudan putri yang menyerahkan diri dan cintanya kepada rakyat.

Bau Nyale

Pantai Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang pernah saya singgahi beberapa tahun lalu, terasa berbeda kali ini. Keramaian ada di mana-mana. Wajar saja jejeran pantai dari Tanjung Aan hingga Kuta itu terasa riuh. Sebab, saya datang menjelang Upacara Bau Nyale. Ritual tahunan yang digelar saat bulan purnama antara Februari dan Maret bahkan telah dikemas menjadi satu festival. Bau dalam bahasa Sasak berarti menangkap, sedangkan nyale bermakna cacing. Kegiatan utamanya memang memburu cacing saat air laut surut.

Tradisi menangkap cacing yang muncul dari lubang-lubang karang di Pantai Seger maupun Kuta ini bermula dari legenda masyarakat di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pada zaman dulu, Kerajaan Mandalika, yang berada di daerah itu, memiliki seorang putri yang elok dan memikat sejumlah pangeran. Namun sang putri tidak mau menimbulkan pertumpahan darah akibat masalah cinta.

Ia memutuskan untuk terjun ke laut dari bukit yang berada di Pantai Seger atau dikenal juga sebagai Pantai Mandalika. Lokasinya bersebelahan dengan Pantai Kuta. Dengan cara itu, ia bisa membagi dirinya untuk pangeran yang mencintainya dan juga rakyatnya. Setelah tubuh Putri Mandalika ditelan ombak, muncullah cacing berwarna-warni dari batu karang. Masyarakat setempat meyakini cacing itu jelmaan sang putri.

Nah, setiap tahun, perwujudan sang putri itu selalu muncul di laut pada hari kelima purnama bulan 10 kalender Sasak. Tahun ini, Upacara Bau Nyale digelar pada 19-20 Februari. Namun kini lebih berfokus pada masa Bau Nyale Poto (akhir bau nyale) daripada Bau Nyale Tunggak (awal bau nyale) seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebenarnya acara menangkap cacing dilakukan juga di sejumlah pantai di Lombok. Setidaknya, ada 16 titik untuk menjaring nyale. Hanya, karena legendanya tumbuh di Pantai Seger, festival selalu dipusatkan di kawasan Kuta. Sebelumnya, sejumlah kegiatan dan ritual digelar. Para tarune (pemuda) menjajal aneka lomba tradisional, di antaranya, bertarung dalam presean—sejenis bela diri dengan senjata sebilah tongkat rotan. Dilengkapi juga dengan tameng dari kulit sapi. Presean digelar di tepi pantai. Suasananya riuh karena teriakan orang berbaur dengan gendingpengiring pertarungan yang terdiri atas dua gendang dan masing-masing satu set petuk, rencek, gong, dan seruling.

Tidak jauh dari Tanjung Aan, yang berada di sebelah Pantai Seger, saya menemukan pacuan kuda anak-anak. Areanya yang besar membikin saya lebih leluasa menyaksikan pacuan kuda dari jauh. Rasanya miris juga menyimak dari dekat. Tanpa pelana dan perlindungan ala kadarnya, sejumlah bocah berusia 9-13 tahun memacu kuda. Peserta datang dari berbagai desa, bahkan juga dari Sumbawa.

Esoknya, saya menemukan keriuhan lain di lobi sebuah hotel di kawasan Kuta. Dung-dung-dang-dang-jreng! Suara tersebut begitu nyaring tertangkap telinga. Terlihat rombongan pria berbalut seragam berupa pakaian tradisional suku Sasak. Mereka rupanya menyambut tetamu hotel. Masing-masing membawa perangkat musik. Mulai gendang beleq (besar), gendang kecil, gong, hingga seruling. Kebanyakan grup gendang beleq terdiri atas belasan kru, dengan semua pemain laki-laki.

Menjelang Festival Bau Nyale, keramaian memang tak putus-putus. Di kampung-kampung pun warga membuat penyambutan. Mereka memotong ayam, lalu memanggang dan memadukannya dengan ketupat. Ini suguhan wajib yang telah menjadi tradisi. Sore hari, suasana kian ramai di sepanjang Pantai Tanjung Aan hingga Kuta. Warga dari berbagai penjuru Lombok berdatangan. Turis-turis pun tak mau kalah ikut nimbrung.

Langit semakin gelap, saya melihat air laut surut semakin jauh. Meski perburuan cacing yang dikenal dengan nama nyale oleh warga setempat mulai dilakukan dinihari, obor-obor di tepi pantai sudah terlihat. Ada juga orang yang mencari peruntungan lebih awal. “Kadang memang nyale sudah mulai bermunculan pas matahari tenggelam, tapi yang benar-benar banyak nanti pukul 03.00 atau 04.00 gitu,” ujar Adi, warga Desa Rimbitan, Pujut, yang setiap tahun ikut berburu nyale.

Saya pun memilih beristirahat agar benar-benar bisa ambil bagian dalam perburuan cacing yang memiliki nama Latin Polychaeta dan hidup di dasar laut itu. Jenis cacing ini muncul ke permukaan laut atau muara setahun sekali untuk berkembang biak. Namun warga Lombok mengaitkannya dengan legenda Putri Mandalika.

Festival Bau Nyale telah menjadi sarana promosi wisata Lombok Tengah, sehingga tradisi pun dikemas dengan rangkaian hiburan. Tidak hanya dendang khas suku Sasak dan drama tentang Putri Mandalika, tapi juga ada penyanyi-penyanyi dari luar kota. Setelah berbagai keramaian di panggung, warga berburu cacing pada pukul 04.00. Di tengah kegelapan, saya ikut beramai-ramai dengan warga menuju Pantai Seger.

Jalan menuju pantai bukan pasir nan mulus seperti dua pantai di sebelahnya, Kuta dan Tanjung Aan. Berada di antara bukit kecil, jalannya agak berliku. Pantainya penuh dengan batu karang. Ketika air surut, pulau kecil di depannya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Dan saat surut itulah dari batu karang muncul cacing berwarna-warni, seperti hijau dan kuning.

Seolah diberi aba-aba, warga semakin maju ke tengah pantai. Mereka membungkuk, mengorek-ngorek batu karang, lalu menjumput cacing dan memasukkannya ke botol, ember, atau wadah lain yang dibawa. Kebanyakan warga mengolah cacing ini dengan cara dipepes. Ketika mentari mulai muncul, sedikit demi sedikit orang mundur dengan ember atau botol berisi cacing. “Kalau dapatnya sedikit, nanti di pasar juga suka ada yang jual,” ujar Adi, sembari menyebutkan bahwa hidangan dari cacing ini rasanya memang luar biasa. Waaah! l

Lokasi lain untuk berburu nyale

1. Pantai Kaliantan, Lombok Timur

2. Pantai Sekongkang, Sumbawa Barat

3. Pantai Wanukaka, Sumba Barat

Info

1. Akomodasi saat digelar Festival Bau Nyale di Lombok Tengah selalu penuh. Jadi, pesanlah kamar sejak jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan hotel yang lokasinya tidak jauh dari pantai tempat festival digelar.

2. Deretan Pantai Tanjung Aan, Seger, dan Kuta berada di Lombok Tengah, yang bisa dicapai dari Bandara Internasional Lombok dalam 30 menit.

3. Datanglah minimal tiga hari sebelum festival, sehingga Anda bisa menyaksikan berbagai atraksi tradisional. Di sekitar kawasan Kuta juga terdapat beberapa pantai lain yang layak dikunjungi, seperti Pantai Mawun, Teluk Gerupuk, Pantai Selong Belanak, dan Pantai Mawi. Selain itu, ada Desa Sade dan Desa Sukarara, yang dikenal dengan adat dan kerajinan tradisionalnya.

agendaIndonesia/Rita N./Subekti/Dok. TL

*****

Tari Kecak, Seni Tari Popular Mulai 1930

Tari Kecak Bali, kesenian tradisional yang mengandung makna spiritual. Foto: unsplash

Tari kecak rasanya salah satu seni tari tradisional Bali yang sudah sangat popular. Di Tengah acara G20 di Bali November 2022 ini, rasanya seni ini yang akan mendapat cukup banyak perhatian, selain tari Pendet yang ditampilkan untuk menyambut para tamu negara. Tetapi mungkin belum banyak yang mengetahui makna spiritual yang menjadi alasan ikon budaya pulau Dewata ini menjadi tradisi yang terus dilestarikan hingga kini.

Tari Kecak

Secara umum, tari kecak merupakan seni tari yang diperagakan oleh sejumlah laki-laki yang duduk melingkar. Jumlah penari ini bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang, ditambah beberapa penari yang tampil di tengah-tengah para penari laki-laki yang melingkar tersebut.

Penari-penari yang tampil di tengah lingkaran tersebut lantas menampilkan sendratari epos Ramayana, yakni kisah Rama yang berupaya menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Dalam upayanya ini Rama dibantu pasukan kera yang dipimpin Hanoman.

Para penari yang melingkar itu adalah representasi dari pasukan kera tersebut, sebagai latar dari lakon yang diperagakan. Para penari biasanya akan tampil dengan kain kotak-kotak yang dikenakan seperti sarung di pinggang, tanpa mengenakan baju.

Tari Kecak merupakan simbol taolak bala dalam masyarakat Bali.
Tari Kecak Bali merupakan bagian dari cerita Ramayana. Foto: DOk. Kemenparekraf

Sebagai latar lakon yang dipertunjukkan, para penari tersebut kemudian akan menari dengan mengangkat tangannya ke atas dan menggoyangkannya ke kanan atau ke kiri, sambil berseru kata ‘cak’, atau ‘cak-cak’ berulang kali secara berirama. Bagi telinga awam, seruan ‘cak’ yang berulang inilah mengapa tari ini kemudian lazim disebut tari kecak.

Dalam pertunjukan tari ini, tidak ada alunan musik dari alat musik yang dimainkan untuk mengiringi jalannya pertunjukan. Hanya ada suara kerincing yang dipakai di kaki dan tangan para penari di dalam lingkaran, serta tentunya seruan ‘cak’ dan ‘kecak’ yang khas itu. Kadang ditambah tiruan gamelan dari mulut para penari. Semacam acapela.

Di balik lakon bertema pewayangan Hindu tersebut, tari kecak disebut punya keterkaitan dengan seni tradisional Bali lainnya, yaitu ritual tari sanghyang. Ritual ini merupakan perpaduan unsur mistik dengan kepercayaan luhur masyarakat Bali.

Ritual ini diyakini telah ada sejak masa pra-Hindu di wilayah Bali. Pada dasarnya, para penampil ritual ini adalah orang-orang yang disebut tidak sadarkan diri dan disusupi oleh hyang (roh), sehingga dapat bergerak dan menari sendiri tanpa terkendali.

Bahkan, para penari ritual tersebut dapat menginjak api sambil menari atau melakukan gerakan tarian yang tak lazim dilakukan manusia pada umumnya. Konon, ini merupakan cara berinteraksi secara spiritual dengan sang Pencipta, meminta agar dihindarkan dari keburukan.

Ritual ini pun sejatinya bukanlah sebuah pertunjukkan yang marak dipertontonkan untuk umum, karena nilai sakralnya. Biasanya ritual ini dilakukan pada situasi tertentu yang dianggap mencemaskan, seperti saat serangan wabah penyakit, dan lain sebagainya.

Tari Kecak Bali PARIWISATA ATRAKSI shutterstock 1332483425 Aries Hendrick Apriyanto 660c40fe2d
Tari Kecak dibawakan oleh puluhan hingga ratusan penari. Foto: Shutterstock

Tari kecak sendiri secara mendasar juga ditujukan sebagai ritual penolak bala. Beberapa elemen dari ritual tersebut seperti beberapa penari-penarinya yang juga dirasuki dan menginjak bara api, serta sesajen juga kerap terdapat pada pementasan tari ini.

Selain itu, penampilan kisah Ramayana dalam pertunjukannya juga mengandung pesan moral seperti usaha dan perjuangan yang pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Serta pentingnya untuk tidak serakah, pun selalu ingat dan berserah diri kepada sang Pencipta.

Menurut sejarahnya, tari kecak mulai dipopulerkan pada tahun 1930-an. Semua berawal ketika Walter Spies, seorang seniman asal Jerman yang tinggal di Bali sedang mendalami kesenian tradisional setempat, termasuk ritual tari sanghyang.

Ritual tersebut meninggalkan impresi yang mendalam baginya, sehingga ia kemudian berdiskusi dengan temannya, seorang seniman tradisional Bali bernama I Wayan Limbak. Mereka lantas berkolaborasi dan mengaransemen pertunjukan tari kecak seperti yang dikenal saat ini.

Kala itu, I Wayan Limbak sendiri tengah mengembangkan gerakan-gerakan baru pada tari baris, yakni tari tradisional Bali yang berakar pada tari perang di masa lalu, sebagai tanda pemuda-pemuda dianggap sudah dewasa dan siap bertarung. Tari ini biasanya diiringi oleh gamelan.

Dari kolaborasi itu, tercetus ide untuk mengintegrasikan gerakan yang tengah dikembangkan tersebut ke dalam sendratari Ramayana. Namun alih-alih diiringi gamelan, penampilan tersebut kemudian diiringi oleh seruan ‘cak’ dan ‘kecak’ yang berirama, layaknya sebuah ritual.

Irama tersebut lantas diatur oleh aba-aba seseorang di dalam kumpulan lingkaran tersebut layaknya seorang konduktor. Seseorang lainnya kemudian bernyanyi sesuai alur ceritanya, didampingi oleh sang dalang yang menarasikan jalan cerita.

Setelah aransemen secara keseluruhan telah jadi, tari ini kemudian dipertunjukan kepada umum di beberapa desa, utamanya di wilayah Gianyar. Setelah populer, kini tari ini dipentaskan di berbagai tempat lainnya, seperti Uluwatu, Tanah Lot, dan Garuda Wisnu Kencana.

prabu panji SXM0NC45wU0 unsplash
Rama dan Sinta sebagai bagian pergelaran Tari Kecak. Foto: unsplash

I Wayan Limbak juga sempat membawa pertunjukan tari ini ke berbagai negara-negara lain, sehingga banyak turis mancanegara yang tertarik untuk melihat pentas tari ini secara langsung. Dewasa ini, tari kecak juga kerap jadi pertunjukan dalam festival atau perayaan tertentu di Bali.

Kendati terkadang dipertunjukkan pada siang atau malam hari, tari kecak idealnya dipentaskan pada waktu petang saat matahari terbenam, kira-kira jam 18.00. Terutama jika pengunjung menonton di pura-pura seperti di Uluwatu atau Tanah Lot.

Yang menarik, tari kecak bisa dibilang masih merupakan salah satu seni tradisional yang sangat dibanggakan dan dijaga oleh masyarakat Bali. Banyak dari para penarinya yang sehari-hari merupakan pekerja di berbagai bidang lain.

Setelah selesai bekerja, mereka baru tampil sebagai penari kecak. Meskipun umumnya mereka juga mendapat penghasilan dari tiket penonton yang kerap kali ramai, tetapi justru semangat mereka lebih kepada usaha melestarikan kebudayaan Bali yang begitu ikonik ini.

Terlebih dengan nilai-nilai ajaran Hindu yang terkandung di dalamnya, serta kepercayaan luhur agar terhindar dari hal-hal buruk, membuatnya menjadi kesenian yang sangat lekat dan dipegang teguh oleh masyarakat Bali hingga kini.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ogoh-ogoh di Malam Bulan Mati Ke-9

Ogoh-ogoh identik dengan hari Nyepi, hari sakral bagi masyarakat hindu Bali. Ia diibaratkan nafsu atau hal buruk yang harus dilepaskan dari diri. Figur-figur ogoh-ogoh dulu seperti bentuk raksasa atau mahluk yang seram. Makin ke sini, bentuknya tidak melulu menyeramkan, tapi juga ada yang cantik atau lucu.

Ogoh-ogoh

Tahun 2021 ini mungkin Hari Raya Nyepi akan semakin sepi, sebab pawai ogoh-ogoh sudah dipastikan tidak diizinkan digelar merujuk pada situasi pandemi Covid-19. Tentu ada yang terasa ‘hilang’ bagi masyarakat Bali. Namun ini adalah situasi yang harus dihadapi. Artikel ini adalah kisah pelaksanaan ogoh-ogoh beberapa tahun silam.

Malam masih belum jatuh betul, masih ada sedikit cahaya ketika keramaian itu muncul di sejumlah banjar atau kampung di Bali. Tetabuhan dipukul. Patung raksasa dengan wajah menyeramkan, yang dikenal sebagai ogoh-ogoh, tampak menonjol di antara barisan pria dengan balutan kain kotak-kotak di bagian bawah tubuhnya. Busana tradisional itu dilengkapi udeng atau ikat kepala yang menjadi ciri pria Pulau Dewata.

Situasi itu adalah hal yang biasa saat menyambut Hari Nyepi, masyarakat menggelar Malam Pengerupukan atau Malam Penyepian. Boneka raksasa ogoh-ogoh memang khusus dimunculkan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau pada tilem sasih kesanga (bulan mati yang ke sembilan). Tahun 2021 ini, dalam kalender Masehi, jatuh pada 14 Maret.

Ogoh-ogoh merupakan simbolisasi menjauhkan hal-hal yang buruk bagi masyarakat Bali.
Pawai mengarak ogoh-ogoh di malam menjelang Hari Raya Nyepi di Bali. Foto: Dok. shutterstock

Sebelumnya, umat Hindu melakukan upacara yang disebut Bhuta Yadna dalam bentuk Mecaru mulai di tingkat keluarga, banjar, desa, hingga kecamatan. Tujuannya, mensucikan diri dari segala bentuk kotoran sekaligus memohon kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala, dan Batara Kala supaya mereka tidak mengganggu lagi. Ogoh-ogoh pun baru diarak saat senja mulai turun atau sekitar pukul 6 sore.

Ogoh-ogoh mungkin semcam seni patung dalam tradisi Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala simbol kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terukur. Dalam perwujudannya digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Biasanya berupa raksasa, terkadang juga makhluk hidup lain dalam penampakannya yang tidak biasa.

Banyak pula yang mengambil tokoh-tokoh pewayangan lengkap dengan fragmen tarinya. Belakangan, tak hanya ogoh-ogoh dalam tampilan yang menyeramkan yang diarak warga, ada juga yang cantik atau lucu serupa tokoh kartun di televisi.

Biasanya, ogoh-ogoh terbuat dari bahan yang ringan, seperti koran, kertas semen, styrofoam,dan kapas. Ini agar ketika sudah jadi ia jadi mudah diarak, termasuk oleh anak-anak. Sebab bentuknya umumnya gigantis. Besar sekali. Ada puluhan orang dari satu banjar yang ikut mengarak ogoh-ogoh dengan iringan musik, baik gong, gamelan, maupun baleganjur, alias bunyi-bunyian dari bambu, semisal kentongan. Terkadang dilengkapi penari serta lelucon, sehingga masyarakat benar-benar terhibur. Ingar-bingar gamelan, kentongan, dan bunyi-bunyian berlangsung dari sore hingga menjelang malam. Biasanya, ogoh-ogoh kembali ke banjar masing-masing sekitar pukul 22.00. Namun tak jarang arak-arakan dilakukan sampai larut malam.

Anak-anak dan orang dewasa ikut memeriahkan Malam Pengerupukan. Semua aktivitas tersebut baru berhenti total saat kulkul atau kentongan besar di banjarberbunyi. Itu tanda bahwa seluruh aktivitas harus disudahi. Akhirnya, setelah diarak, ogoh-ogoh dibakar atau dipralina. Diharapkan roh jahat yang ada dalam diri raksasa tidak mengganggu umat Hindu.

Sebagai karya seni, ogoh-ogoh tidak dibuat dalam semalam. Perlu persiapan sebulan. Sepulang bersekolah atau bekerja, para pemuda melakukan persiapan di balai banjar masing-masing. Tidak hanya membuat ogoh-ogoh, tapi mereka juga berlatih baleganjur. Lebih tepatnya, melakukan harmonisasi antara tarian ogoh-ogoh dan tetabuhan. Seminggu sebelumnya, latihan intensif dilakukan.

Atraksi inilah yang mengundang kekaguman wisatawan. Meski pada Hari Nyepi itu Bali seperti pulau tanpa kehidupan, banyak wisatawan datang sebelum perayaan. Prosesi ke masa hening menarik perhatian turis. Tepat di hari H, semuanya sepi dan sunyi. Hanya suara burung berkicau dan kukuruyuk ayam dari kejauhan yang terdengar begitu nyaring. Bahkan anjing pun ikut diam karena tidak ada orang yang melintas.

Hari itu suasana Bali benar-benar seperti pulau mati. Tidak ada aktivitas apa pun. Umat Hindu menyebutnya Catur Brata, yaitu amati geni (tidak ada cahaya atau api), amati lelungan (tidak bepergian), amati karya (tidak melakukan pekerjaan sehari-hari) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Bagi yang mampu, dianjurkan juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadiHari ini biasanya digunakan untuk merenung agar menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Ogoh-ogoh pada akhirnya dibakar setelah diarak keliling banjar, ini menyimbolkan hal-hal buruk menjauh dari masyarakat.
Pembakaran ogoh-ogoh di akhir pawai menandakan agar hal-hal buruk hilang dan enyah dari masyarakat Bali. Foto: Dok. shutterstock

Rangkaian Acara Sebelum Nyepi

Hari Raya Nyepi merupakan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender Caka, yang dimulai pada 78 Masehi. Jatuh pada tilem kesanga atau bulan mati kesembilan, yang dipercaya hari penyucian para dewa di pusat samudra. Para dewa itu membawa intisari amerta atau air hidup. Untuk itu, umat Hindu memuja mereka. Tujuan utama peringatan Hari Raya Nyepi adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Wishi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk mensucikan Bhuana Alit,alam manusia mikrokosmos,dan Bhuana Agung, makrokosmos.

 Di samping Malam Pengerupukan dengan atraksi ogoh-ogoh, dua hari atau tergantung kesepakatan masyarakat adat setempat, sebelum Penyepian, ada kegiatan yang disebut Melasti atau Mekiis. Pada hari tersebut, semua sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke pantai atau danau. Sebab, laut atau danau dianggap sebagai sumber air suci yang bisa digunakan untuk mensucikan segala leteh atau kotoran yang ada dalam diri manusia dan alam. Selain menampilkan iring-iringan umat Hindu yang membawa sesajen dan benda sakral dari pura, ada suguhan kesenian. Orang-orang beriringan ke pantai atau danau sambil melakukan sembahyang.

agendaIndonesia/TL

*****

Kota Singkawang, Cap Go Meh Dan 1000 Tatung

Kota Singkawang punya Festival Cap Go Meh yang menampilkan parade tatung.

Kota Singkawang di Kalimantan Barat selalu menjadi pusat perhatian wisatawan saat perayaan Cap Go Meh. Tidak saja di Indonesia, tapi sudah meluas ke manca negara.

Kota Singkawang

Pagi di Singkawang saat hari ke-15 setelah Imlek –karenanya disebut Cap go meh, yang artinya hari ke 15—seluruh penjuru kota ini menjadi riuh dan meriah. Itu tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2021, Cap go Meh yang mestinya jatuh pada Jumat 26 Februari—mungkin tak akan semeriah biasanya. Mungkin pandemi menelan keriuhan itu.

Dalam situasi “normal”, biasanya sejak pagi-pagi sekali kota ini sudah mulai “dibisingkan” dengan suara gendang yang bertalu-talu dan bersahutan dengan gemerincing cymbal. Mereka punya nada dan biarama yang khas. Sehari sebelumnya bahkan biasanya suasana mistis mulai mengintip di sudut-sudut kota. Aroma hio atau dupa mulai meruar dari kelenteng-kelenteng.

Singkawang, seperti disebut di muka, memang terkenal sebagai pusat perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Cap Go Meh di kota ini bahkan sudah menjadi agenda festival yang memikat wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Suasana Cap Go Meh sudah mulai terasa sejak tahun baru Imlek, dan getarannya terus terasa selama 15 hari. Puncak acaranya biasanya berupa parade tatung. Istilah tatung ini diberikan kepada para dukun pemanggil roh. Buat yang percaya, mereka ini manusia pilihan dewa di mana roh-roh berkenan manjing atau merasuk ke dalam diri mereka.

Dalam parade, para tatung berpakaian dengan perbagai gaya. Biasanya dengan warna-warna cerah. Warna kostum mereka hitam, kuning, merah atau hijau. Mereka tampil bak dewa, ksatria, jenderal, atau panglima perang. Perisai dan pedang yang mereka bawa berkilau-kilau oleh sepuhan emas dan perak. Mereka biasanya mengusung bendera segitiga yang memuat nama para tatung tersebut. Para tatung ini ada yang berjalan kaki, ada yang ditandu. Ini bukan sekadar atribut festival, tapi memperlihatkan posisi sosial mereka di masyarakat. Sebagian memikul tandu sembari menyipratkan air penolak bala.

Maksud posisi sosial ini adalah kepercayaan publik kepada “kesaktian” mereka. Di luar acara Cap Go Meh, para tatung ini sejatinya adalah paranormal yang mampu meramal nasib dan mengobati penyakit.aJadi, semakin “sakti” seorang tatung dan dipercaya masyarakat yang minta dibacakan nasib mereka, atau datang untuk berobat, artinya akan banyak sumbangan masuk. Dana sumbangan inilah yang salah satunya bisa berwujud tandu yang mereka pakai saat parade.

Bagi yang percaya, tatung ini dipercaya sebagaimana manusia pilihan dewa. Masyarakat Singkawang, dan juga sebagian di kota lain di Kalimantan Barat seperti Pontianak dan Sambas, meyakini mereka dapat membantu manusia mencapai kedamaian, atau pengobatan. Caranya, mereka membiarkan badannya dirasuki roh.

Kota Singkawang terkenal sebagai salah satu China Town dengan Festival Cap Go Meh yang dramatis dengan penampilan para tatung.
Festival Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, menampilkan parade para tatung. Foto: shutterstock

Saat kerasukan itulah, jarum-jarum besi sepanjang 50 sentimeter bisa menembus pipi, bibir, bahkan lidah mereka tanpa satu tetes darah pun yang menetes. Konon, mereka harus menjadi vegetarian selama tiga hari sebelum upacara atau parade, agar jiwa mereka menjadi bersih dan kuat untuk ditusuk.

Cap Go Meh sejatinya merupakan hari terakhir perayaan Imlek, dan biasanya dilakukan sembahyangan tahun baru untuk memohon berkah. Di Singkawang, ritual sembahyang saat Cap Go Meh ditujukan pada Dewa Langit atau Ket Sam Thoi. Sebagai Kota Seribu Kelenteng, masyarakat Singkawang menganut kepercayaan Konghucu dan mengucapkan syukur pada dewa-dewi kepercayaan mereka.

Banyaknya warga keturunan Tionghoa di Singkawang, yang sering disebut juga sebagai kota seribu klenteng ini, membuatnya menjadi salah satu tempat perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang menarik dikunjungi. Sebagaimana dilaporkan tirto.id yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, Singkawang memiliki 246.306 penduduk dan 42 persen di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa. Sisanya ada dari suku Jawa, Dayak, Melayu dan lainnya.
Masyarakat Tionghoa sudah ada di kota ini sejak ratusan tahun lalu, atau setidaknya mulai tahun 1740. Orang dari luar ini bisa jadi melihat Singkawang sebagai pecinan besar. 

Nama Singkawang sendiri, masih dari tirto.id, berasal kata San Kew Jong, yang dalam bahasa Hakka berarti: gunung, muara, dan laut. Nama Singkawang mulai dicatat orang Eropa setidaknya sejak 1834, seperti ditulis George Windwor Earl dalam The Eastern Seas. Tidak mengherankan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang juga menyuguhkan budaya Tionghoa yang kental.
Festival Cap Go Meh sudah puluhan tahun diselenggarakan di Singkawang. Dengan puncak acaranya pada parade para tatung. Konon saking banyaknya tatung yang muncul saat parade, ada yang menyebut 1.000 tatung memenuhi jalanan kota ini.

Bagi yang datang ke Singkawang ketika parade tatung tapi ngeri untuk menyaksikannya, bisa memilih atraksi lain: Festival Lampion. Ini biasanya juga diselenggarakan dalam rangkaian Imlek di Singkawang.Tak hanya barisan lampion yang digantung, tapi juga pawai lampion dan dekorasi Imlek. Berkali-kali festival lampion ini jga memecahkan rekor Muri. Pada 2009 ada 10.895 lampion dinyalakan di Singkawang. Lalu, pada 2018 ada 20.607 lampion dinyalakan.

Tahun 2021 ini, terkait pandemi, mungkin parade tatung akan ditiadakan. Namun, mudah-mudahan ada puluhan ribu lampion yang menyala.

agendaIndonesia

*****

Hombo Batu Nias, Aura Tradisi 400 Tahun Silam

Hombo Batu Nias atau lompat batu di Nias, Sumatra Utara, dikenal sebagai salah satu tradisi masyarakat Nias yang menjadi ikon pariwisata Indonesia. Hombo Batu sendiri sudah ada sejak 350-400 tahun silam.

Hombo Batu Nias

Nataauli Duha masih ingat saat ia pertama kali berlatih lompat batu. Ketika itu, warga Desa Hilimondegeraya, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, ini duduk di bangku sekolah dasar. Nata—sapaan akrabnya—memang tidak langsung melompati batu dengan ketinggian sekitar dua meter. Ia berlatih meloncati tumpukan tanah yang dibuat bersama teman-temannya terlebih dulu. Satu demi satu secara bergantian mereka melampaui tumpukan tanah yang tingginya tidak sampai satu meter itu. Nata menyebut atraksi meloncati tumpukan tanah yang dibuat bersama teman-temannya ini sebagai lompat batu mini.

Rampung dengan tumpukan tanah, pada kesempatan berikutnya mereka bermain lompat tali. Tali yang digunakan terbuat dari bahan yang mudah putus. Ini supaya tidak mencelakakan mereka. Tali itu direntangkan pada dua sisi berseberangan. Semula, mereka bermain dengan ketinggian 50 sentimeter. Setelah itu, secara bertahap, mereka meninggikan posisi tali hingga mencapai satu meter. Bergan- tian mereka memegang dan melompati tali itu. Nata dan teman-teman pun merasakan kegembiraan bermain.

Selain tali, mereka menggunakan bambu dan batu yang ditumpuk. Puncaknya, ketika beranjak remaja, mereka akan berusaha menaklukkan batu sesungguhnya dengan ketinggian mencapai sekitar dua meter. “Biasanya, orang tua si anak akan memotong seekor ayam jantan sebagai jamuan ketika anaknya berhasil melompati batu itu,” kata Nata. Hal serupa juga akan dilakukan para bangsawan, yang rumahnya terletak tak jauh dari batu yang dilompati anak-anak itu.

Jamuan ayam jantan dilakukan bukan tanpa maksud. Dalam tradisi Nias Selatan, Sumatera Utara, ayam jantan merupakan lambang ayam yang kuat dan memiliki kemampuan terbang tinggi. “Begitulah harapan orang tua dan kaum bangsawan kepada anak-anak muda supaya mereka memiliki karakter yang kuat laksana ayam jantan yang mampu terbang tinggi,” ujar Nata.

Tradisi lompat batu atau hombo batu sesungguhnya berawal dari keinginan bangsawan untuk menyiapkan laskar kampung atau pasukan pertahanan desa. Pada masa itu, sekitar 350-400 tahun lalu, Nata bertutur, sering terjadi konflik antar-kampung yang berujung perang perebutan kekuasaan.

Konflik itu tidak selalu akibat masalah besar, tapi juga terkadang dari hal-hal kecil. Semisal, saling ejek ketika sama-sama berburu kijang hingga akhirnya memercikkan permusuhan.

Meskipun memiliki leluhur yang sama, konflik antar-kampung itu, menurut Nata, tak terhindarkan. Berdasarkan penelitian arkeologis, Nata mengatakan, leluhur Nias Selatan, yang berasal dari Gomo, mendiami Kecamatan Teluk Dalam sejak 600-700 tahun silam. Jauh sebelum itu, sudah ada kelompok lain yang mendiami Teluk Dalam. Antara kelompok ini dan leluhur Nias Selatan tak jarang terjadi bentrokan. Motifnya bermacam-macam, termasuk soal perebutan dan perluasan kekuasaan.

Supaya perebutan kekuasaan dan pencaplokan kampung lain berjalan mulus, para bangsawan tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan laskar kampung atau pasukan pertahanan desa dengan merekrut anak-anak muda untuk berperang. Anak-anak muda ini harus mengikuti latihan hombo batu. Melalui si’ulu atau kepala suku, fisik mereka digenjot. Mereka dilatih pula supaya bisa melompati batu. Anggota laskar kampung atau pasukan per- tahanan desa yang mampu melewati batu setinggi dua meter berarti sudah siap berperang dan melompati pagar berduri yang tinggi. Memang, desa atau kampung yang akan diserang biasanya menyiapkan pagar berduri yang dipasang tinggi-tinggi mengelilingi desa.

Hombo Batu Nias adalah tradisi masyarakat setempat untuk menghasilkan ksatria-ksatria yang membela tanah air.
Hombo Batu Nias dilakukan untuk mencetak para pemuda menjadi laskar atau pasukan di Nias. Foto: shuterstock

Layaknya seorang kesatria yang maju berperang, keberanian anak-anak muda ini sejatinya dititiskan dari orang tua. “Bila bapaknya seorang kesatria yang pemberani, maka darah kesatria itu menitis dan mengalir ke tubuh anak-anaknya,” ujar Nata. Di pundak anak-anak muda ini, ia menyebutkan, para bangsawan menaruh harapan besar. Sebab, kelak merekalah yang menjaga desa atau kampung dari se- rangan desa lain.

Dalam peperangan itu, jika berhasil mencaplok kampung lain, sang pe- menang akan bertambah kuat karena warga kampung yang kalah menjadi bagian dari kampung yang memenangi peperangan. Dengan bertambahnya jumlah warga, menurut Nata, kampung tersebut semakin kuat. Kekuatan itu bertambah besar jika pada peperangan berikut mereka bisa kembali mengalah- kan kampung lain. Begitu seterusnya.

Di balik perluasan kekuasaan dan perebutan harta, Nata melihat, jalan per- ang dipilih bangsawan untuk menambah jumlah abdi atau pelayan. Ini salah satu motif lain para bangsawan menghendaki terjadinya perang. Kini, peperangan itu memang tidak ada lagi. Hombo batu bersama tarian perang, fataele, sekarang menjadi atraksi wisata memikat yang sewaktu-waktu ditampilkan di Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan.

Mengenakan pakaian warna-warni— hitam, kuning, merah—dan membentuk formasi empat berjajar panjang, warga membawa tameng, pedang, atau tombak. Mereka pun menari mengikuti komando. Dimulai dengan gerakan maju dan mundur sambil mengentak-entakkan kaki ke tanah, mereka lalu meneriakkan yel-yel untuk membangkitkan semangat. Aura peperangan 350-400 tahun silam begitu terasa, seolah dibawa kembali ke masa kini.

agendaIndonesia/Aris Darmawan/shutterstock

*****

Wayang Potehi, Pertunjukan Boneka Sejak Abad 16

Wayang potehi mungkin ingatan orang langsung ke pertunjukan wayang ala peranakan. Tak salah, meski tak 100 persen tepat. Pertunjukan yang hampir musnah ini lahir dari proses akulturasi budaya yang mengajarkan filosofi kehidupan.

Wayang Potehi

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Bunyi piak ko yang disusul siauw loo muncul silih berganti. Kaisar Lie Sie Bin yang baru saja naik takhta memasuki istana. Dengan suara lantang, sang kaisar memerintahkan pasukannya untuk segera menginvasi wilayah Utara Tiongkok—tempat tinggal bangsa Pak Hoan.

Tak sekadar memerintah, Lie Sie Bin juga turun langsung ke medan perang. Kaisar didampingi oleh jago-jago tua, seperti Cin Siok Po, Uttie Kiong, Thia Kauw Kim, dan penasehatnya yang cerdas, Cie Bouw Kong. Tak ketinggalan, seorang pemuda gagah bernama Lo Tong Ceng Souw Pak atau Lo Tong.

Lo Tong sebagai tokoh utama dikisahkan mengalami banyak konflik. Mulai dendamnya kepada salah seorang panglima Negeri Tong hingga intrik pernikahannya dengan seorang putri dari Negeri Pak Hoan. Pernikahannya hanyalah satu strategi untuk menjatuhkan musuh.

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Pukulan kayu dan gembreng kecil kembali berbunyi nyaring. Sorot mata anak-anak masih terpaku pada panggung pertunjukan wayang Potehi dengan lakon Lo Tong Ceng Souw Pak yang digelar ketika itu. Mereka begitu antusias menyaksikan pergelaran wayang yang memang jarang digelar tersebut.

Maklum saja, wayang Potehi biasanya memang hanya digelar di kelenteng-kelenteng dan pada waktu-waktu tertentu saja. Namun kini wayang Potehi bisa disaksikan di pusat belanja yang berlokasi di Jakarta Barat itu.

Wayang Potehi sejatinya merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Tiongkok. Potehi sendiri berasal dari akar kata pou yang berarti kain, te berarti kantong, dan hi yang berarti wayang. Secara harfiah Potehi bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

Dalam setiap pertunjukkannya, wayang Potehi diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok. Alat musik dari wayang ini biasanya berupa toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompret).

Sang dalang, Sugiyo Waluyo Subur, memperkirakan kesenian Potehi dibawa masuk oleh pedagang Tionghoa ke Nusantara pada abad ke-16. ”Kali pertama dimainkan di Kota Semarang,” ujar pria yang dikenal dengan sebutan dalang Subur itu.

Cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan wayang. Jari tengah digunakan untuk mengendalikan kepala. Sedangkan ibu jari dan kelingking untuk mengendalikan tangan wayang.

Wayang Potehi merupakan akulutrasi kebudayaan Tiongkok dan kearifan lokal Nusantara.
Pertunjukan wayang potehi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang penontonnya tidak terlalu banyak. Foto: shutterstock

Konon, wayang Potehi disebut-sebut berasal dari balik jeruji penjara kerajaan Tiongkok. Alkisah, lima orang narapidana akan dieksekusi mati karena pelanggaran hukum berat. Berita eksekusi ini menciutkan nyali empat orang di antara pesakitan tersebut. Mereka pun sedih meratapi nasib.

Hal yang berbeda justru terlihat pada seorang pesakitan. Sang narapidana ini justru menyambut sisa hidupnya dengan gembira. Ia mengajak rekan-rekannya tersebut untuk mengisi detik-detik terakhir hidupnya dengan menghibur diri sendiri. Akhirnya, mereka secara spontan membuat pertunjukan boneka dari kain dengan iringan bunyi-bunyian yang berasal dari berbagai benda yang ada di sel mereka.

Tak disangka, dari beraneka barang yang ada, seperti piring, panci, dan perkakas hadir musik yang enak didengar. Pertunjukan boneka ini pun ternyata tidak saja menghibur mereka, tapi juga narapidana lain dan bahkan para sipir penjara. Cerita tentang pertunjukan kelima orang narapidana ini akhirnya sampai ke telinga kaisar. Atas kebijaksanaan sang kaisar, kelima narapidana tersebut mendapatkan kesempatan melakukan pertunjukan di hadapan sang kaisar dan memperoleh pengampunan.

Di Indonesia sendiri, kesenian tradisional ini mengalami pasang-surut sepanjang perjalanan sejarahnya. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, kesenian ini cukup populer di tengah masyarakat. ”Tetapi pada awal era Orde Baru berkembang, sentimen negatif terhadap budaya Tionghoa membuat seni wayang ini mengalami masa surut. Keberadaannya hilang di tengah masyarakat,” kata dalang Subur menceritakan.

Seiring era Reformasi, perlahan kesenian ini kembali menggeliat. Kesenian Potehi mulai dipentaskan di berbagai tempat seperti kelenteng atau pada saat perayaan ritual keagamaan. Bahkan saat ini pertunjukan wayang Potehi pun marak merambah ke sejumlah pusat belanja, khususnya saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. ”Wayang Potehi telah menjadi budaya Indonesia dan perlu dilestarikan,” ujar Rida Kusrida, Public Relations Mal Ciputra, Jakarta.

Sebagai sebuah kesenian, wayang Potehi menunjukkan bahwa ia lahir dari sebuah proses akulturasi yang panjang. Potehi mampu bertahan menjadi sebuah kesenian yang dapat merontokkan sekat-sekat kesukuan dan membentuk kesenian serta kebudayaan Indonesia. Satu hal yang jelas kentara ialah dalang Potehi tidak melulu dimainkan oleh orang Tionghoa. Contohnya ialah dalang Subur ini. Pria asal Surabaya ini justru berasal dari suku Jawa. ”Saya sendiri memeluk agama Islam,” kata dalang Subur.

Dalang yang memulai kariernya saat masih berusia 12 tahun itu mengungkapkan kisah-kisah wayang Potehi seperti Lo Tong Ceng Souw Pak, Sun Go Kong, Sie Jin Kui, Cu Hun Cau Kok, dan sebagainya serta mengajarkan filosofi kehidupan manusia yang masih berlaku pada masa kini.

agendaIndonesia/Andry T./Frann./TL/shutterstock

*****

Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****

Saparan Bekakak Tradisi Dimulai Pada 1755

Saparan Bekakak sebuah tradisi di Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta

Saparan Bekakak adalah ritual tolak bala di Desa Ambarketawang yang digelar masyarakat setempat agar tak ada lagi musibah di pegunungan kapurnya. Sebuah proses yang selalu diikuti ribuan masyarakat. Sempat terhenti selama pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, tahun ini dilaksanakan lagi pada September lalu.

Saparan Bekakak

Ribuan warga masyarakat menyaksikan upacara tradisi budaya ’Bekakak’ di Desa Amabarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat sore itu. Kegiatan budaya setiap bulan Sapar (kalender Jawa) itu diawali dengan kirab yang diikuti 5.000 orang lebih ini.

Saparan Bekakak dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati leluhur sekaligus cikal bakal Desa Ambarketawang, Kyai dan Nyai Wirosuto yang terkubur oleh guguran batu gamping di wilayah setempat.


Kegiatan sudah terasa sejak Kamis sore pada September lalu di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sibuk menyiapkan sebuah acara spesial. Mereka membuat bekakaktemanten, yakni perwujudan sepasang pengantin Jawa yang terbuat dari hasil bumi.

Dibuat pula beberapa detail prosesi pernikahan khas Jawa pada bekakak, seperti midodareni. Malam harinya, “pasangan pengantin” tersebut dibawa ke balai desa bersama beberapa genderuwo raksasa. Mirip ogoh-ogoh atau genderuwo dalam perayaan Nyepi di Bali. Ini merupakan perwujudan roh jahat yang dianggap menjadi penyebab musibah.

Saparan Bekakak menjadi tradisi paling tua di Yogyakarta.
Ogoh-ogoh dalam Saparan Bekakak di Desa Ambarketawang Yogya. Foto: Dok. Kominfo

Puncak acara kegiatan adat itu adalah pawaiSaparan bekakak yang berlangsung Jumat selepas tengah hari. Masyarakat sudah menanti di pinggir jalan. Iring-iringan dimulai dengan  pertunjukan tari yang menceritakan kisah tentang bekakak.

Setelah itu rombongan mengawali pawai dari Lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping. Daerah bekas bukit kapur ini menjadi awal munculnya tradisi yang digelar di bulan Sapar menurut tanggalan Jawa atau Safar menurut kalender Islam.

Saparan Bekakak, nama tradisi yang digelar untuk tolak bala ini, cukup disebut Bekakak. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan ini diikuti perwakilan dari semua dusun di Desa Ambarketawang dengan mengirimkan kelompok seni.

Umumnya mereka berdandan seperti bregada alias prajurit keraton yang membawa umbul-umbul dan alat musik. Satuan bregada tersebut adalah Wirabraja, Ketanggung, Patangpuluh, Surakarsa, Dhaeng, Mantrijero, Nyutra, Jagakarya, Prawiratama, dan Bugis.

Tak ketinggalan gunungan yang terbuat dari hasil bumi persembahan perwakilan pedagang di Pasar Gamping. Gunungan tersebut dibagikan pada penonton di sepanjang jalur pawai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran yang diberikan.

Walaupun sempat turun hujan, Saparan Bekakak yang berlangsung pada menjelang pertengahan September itu tetap meriah dengan hadirnya komunitas seni budaya dari berbagai daerah di luar Gamping. Bahkan ada yang dari Bantul. Total sekitar 45 grup ambil bagian dalam acara ini.

Tradisi tersebut diakhiri dengan “penyembelihan”bekakakdi lokasi terakhir. Namun sebelumnya dipanjatkan beberapa doa. Setelah itu, bekakak dan berbagai persembahan dibagikan kepada panitia acara dan warga yang hadir.

Selain kemeriahan, pawai ini juga memaksa petugas kepolisian bekerja keras menertibkan lalu lintas. Sebab, sebagian rute karnaval melintasi Jalan Wates yang berstatus sebagai jalan nasional. Antrean kendaraan besar, seperti bus dan truk, membentuk parkir massal.

Mungkin banyak pengguna jalan mengeluh, tapi sepertinya mereka tak bisa berbuat apa-apa bahkan protes sekalipun. Itu karena pamor Saparan Bekakak begitu besar. Sebab, usia acara ini jauh lebih tua dibanding status Jalan Wates sebagai jalan nasional, bahkan jika dibandingkan dengan umur republik ini.

Kemunculan tradisi ini dimulai pada 1755, kala Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua sesuai dengan hasil penandatanganan Perjanjian Giyanti, Kasunanan yang berpusat di Surakarta (Solo) dan Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Tak lama kemudian, Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Sambil menunggu pembangunan keraton baru selesai, Sultan memilih tinggal di pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di daerah Gamping, Sleman. Di masa itu, daerah ini memang penuh dengan bukit gamping atau kapur. Dari situ pula nama daerah ini berasal.

Semasa tinggal di Ambarketawang, Sultan ditemani oleh beberapa abdi dalem alias pelayan raja. Mereka yang paling setia adalah sepasang suami-istri Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta.

Setelah pembangunan keraton selesai, Sultan meninggalkan tempat tinggal sementaranya dan mendiami istana tanpa ditemani dua pelayan terbaiknya itu. Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta memilih tetap tinggal di Ambarketawang karena merasa cocok dengan lingkungannya.

Keduanya bekerja sebagai penambang gamping, seperti kebanyakan warga setempat. Namun musibah terjadi. Suami-istri itu meninggal ketika sedang menambang. Mereka tertimbun batuan kapur yang longsor. Tragedi yang sama kembali berulang menimpa warga lain dan kebanyakan terjadi di bulan Sapar.

Pasangan Bekakak
Pasangan Bekakak yang akan dikorbankan.

Kesedihan melanda Sultan ketika mendengar cerita memilukan ini. Setelah bersemedi, ia memerintahkan warga Desa Ambarketawang untuk melakukan sebuah prosesi tolak bala setiap bulan Sapar. Tujuannya untuk meminta perlindungan kepada Tuhan.

Wujud upacara adat tersebut ialah penyembelihanbekakak. Biasanya, dibuat dari tepung ketan atau tepung beras yang di dalamnya diisi juruh alias sirup gula merah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya ialah tiap bulan Sapar, tepatnya pada Jumat, antara tanggal 10 hingga 20.

Kini setelah lebih dari dua setengah abad, Saparan Bekakak masih hidup. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu upacara adat paling tua yang masih berlangsung di Yogyakarta. Bahkan di era modern, ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan berfungsi sebagai acara hiburan, sebab ada pawai seni budaya yang mengiringinya.

agendaIndonesia

*****

Saung Angklung Udjo, Bergoyang Mulai 1966

Saung Angklung Udjo Bandung melestarikan budaya dengan cara gembira. Foto: Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo puluhan tahun menjadi salah satu identitas budaya tradisional Sunda di Bandung, Jawa Barat. Utamanya, tentu, mengenalkan alat musik khas masyarakat Sunda, yakni angklung. Di sini tak sekadar pertunjukan, pengunjung juga dapat belajar tentang sejarah angklung, cara memainkannya, serta menonton beragam pertunjukan seni tradisional Sunda.

Saung Angklung Udjo

Sejatinya, tempat ini didirikan sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya tradisional Sunda, termasuk seni musik angklung. Dengan format yang ringan, sederhana dan menyenangkan bagi pengunjungnya, diharapkan semakin banyak yang tertarik melestarikan budaya tersebut.

Didirikan pada 1966, tempat ini memiliki panggung serta etalase untuk memamerkan alat musik tradisional seperti angklung, calung, arumba dan lain lainnya. Selain itu, karya seni lainnya seperti lukisan dan sebagainya kerap dipamerkan pula di sini.

Adalah seorang seniman tradisional Sunda bernama Udjo Ngalagena yang merasa tergerak untuk berkontribusi lebih besar pada kesenian yang membesarkan namanya serta memberinya penghidupan. Sebagai tanda kontribusinya, ia pun mendirikan tempat ini.

Angklung sendiri merupakan salah satu alat musik tradisional Sunda yang diyakini muncul pertama kali sekitar abad ke-12. Angklung lazim digunakan dalam ritual budaya dan keagamaan di masa kerajaan kala itu.

Saung Angklung Udjo ikut mengembangkan teknik permainan angklung.
Alat musik angklung seperti yang diajarkan di Saung Angklung Udjo Bandung. Foto: dok. shutterstock

Salah satu ritual tersebut dilakukan bagi para kaum tani. Pada masa kerajaan Hindu, kepercayaan masyarakat kala itu meyakini bahwa permainan angklung akan membawa berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan. Harapannya, pertanian mereka selalu subur dan sukses panen.

Angklung digunakan pula sebagai penanda perang atau keadaan bahaya. Dan pada perkembangannya, ia juga digunakan dalam pertunjukan musik yang diselenggarakan kerajaan saat itu. Dari situlah, budaya seni musik angklung berlanjut hingga kini.

Alat musik ini terbuat dari bambu yang dibuat menyerupai pipa-pipa yang tersangga. Untuk memainkannya, angklung digoyangkan agar badan pipa bambu tersebut berbenturan dan menimbulkan suara.

Setiap angklung memiliki nada yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan lebih dari satu angklung untuk dapat membuat sebuah pertunjukan musik. Oleh karena itulah seni musik angklung biasanya dimainkan secara ensemble.

Nama angklung sendiri disebut berasal dari sebuah istilah dari bahasa Sunda yaitu angkleung-angkleung, yang kurang lebih artinya gerakan yang mengikuti irama. Ini didasari pada cara memainkan angklung yang digoyang-goyangkan.

Secara etimologi, angklung juga disebut berasal dari kata angka yang berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau putus. Ini merujuk pada jenis suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini biasanya cenderung putus-putus atau hanya satu kali suara.

Walaupun angklung biasanya dimainkan dengan cara digoyangkan, tetapi ada juga teknik-teknik lain, seperti misalnya cetok yang berarti pipa bambu ditarik-tarik dengan cepat. Atau tengkep dimana salah satu pipa bambu ditahan saat digoyangkan.

Pada 1938, seorang maestro angklung bernama Daeng Soetigna menciptakan angklung dengan nada diatonis. Angklung jenis ini dapat memainkan lagu-lagu dengan kunci dan tangga nada pada umumnya, sehingga bisa digunakan pada orkestra sekalipun.

Angklung jenis inilah yang kemudian paling dikenal secara luas hingga kini. Udjo, yang kebetulan merupakan sang murid pada saat itu pun kemudian turut membantu mempopulerkan jenis serta kesenian alat musik ini.

Namun seperti halnya kebanyakan seni budaya tradisional pada umumnya, perkembangan zaman menjadi tantangan berat dalam melestarikannya. Kekhawatiran inilah yang membuat pria yang akrab dipanggil mang Udjo tersebut memutuskan mendirikan Saung Angklung Udjo.

Di tempat ini ia pun mengembangkan teknik-teknik permainan angklung, serta rajin menggelar pertunjukan seni musik angklung. Bersama sang istri, Uum Sumiati, ia dengan giat mengelola tempat ini dalam upaya mempopulerkan kesenian tersebut agar tak punah dimakan waktu.

Baginya, Saung Angklung Udjo didirikan agar menjadi pusat pertunjukan seni budaya tradisional seperti angklung dan lain lainnya yang mampu menarik banyak pengunjung. Tetapi lebih dari itu, ia juga ingin tempat ini berfungsi sebagai media edukasi bagi setiap pengunjungnya.

Pada perkembangannya Saung Angklung Udjo pun menjadi pusat pertunjukan, pengembangan dan edukasi bagi seni musik angklung serta kesenian tradisional Sunda lainnya. Bahkan setelah mang Udjo tutup usia pada tahun 2001, tempat ini terus dikelola oleh anak-anaknya.

Saung Angklung Udjo Konser Saung Angklung Udjo
Salah satu pertunjukan di Saung Angklung Udjo, di mana penonton kadang ikut tampil. Foto: Saung Angklung Udjo

Satu ciri khas dari Saung Angklung Udjo adalah pertunjukan yang biasanya diadakan pada sore hari. Biasanya setiap jam 15.00 hingga jam 17.00 tempat ini mengadakan beragam pagelaran seni budaya Sunda seperti angklung, arumba, tari topeng, sampai wayang golek.

Begitu padatnya pengunjung yang berminat menonton pertunjukan ini, beberapa kali diadakan pula pertunjukan pada pagi atau siang hari. Pada 1995 pun dibangun panggung yang cukup besar yang mampu menampung kapasitas sekitar 500 orang.

Tak hanya itu, beberapa kali seniman-seniman dari Saung Angklung Udjo ditanggap untuk tampil di tempat lain dalam berbagai acara. Yang lebih hebat lagi, beberapa di antaranya bahkan berlangsung di luar negeri.

Selain menghidupi seniman-seniman yang berkarya di sana, Saung Angklung Udjo juga menjadi sumber rejeki bagi para pengrajin alat musik tradisional Sunda. Di tempat ini pengnjung juga bisa membeli dan/atau memesan beragam jenis alat musik tradisional tersebut sebagai souvenir.

Selain menjual dan mempromosikan, tempat ini juga berkomitmen untuk membantu para pengrajin agar senantiasa mendapatkan bahan baku terbaik. Ditambah lagi, mereka juga memberi pelatihan agar kualitas alat musik buatan mereka senantiasa baik.

Sesuai dengan semangat ‘memberi kembali’, banyak warga lokal sekitar yang diberdayakan menjadi pengrajin. Selain itu, beberapa dari penghasilan tempat ini juga disisihkan untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu di sekitarnya.

Kalau tertarik untuk berkunjung, harga tiket masuknya Rp 60 ribu untuk hari biasa dan Rp 70 ribu pada akhir pekan. Untuk wisatawan mancanegara, harga tiketnya menjadi 110 ribu saat weekdays dan Rp 120 ribu kala weekend.

Selain pertunjukan seni tradisional Sunda serta edukasi tentang kesenian Sunda, di tempat ini juga disediakan beragam jenis hidangan ala Sunda. Cocok bagi yang ingin santap siang sekaligus menikmati setiap pengalaman yang ditawarkan tempat ini.

Adapun harga souvenir seperti angklung beragam dari ukurannya. Untuk yang berukuran besar dihargai Rp 300 ribu, sedangkan yang berukuran sedang harganya Rp 250 ribu. Selain itu ada pula alat musik lain, misalnya gambang yang dijual Rp 275 ribu.

Saung Angklung Udjo buka dari jam 08.00 hingga jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (022) 7271714 atau via email info@angklung-udjo.co.id serta mengunjungi situs resmi angklungudjo.com dan akun Instagram resmi @angklungudjo.

Saung Angklung Udjo

Jl. Padasuka no. 118, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Rumah Gadang, Pasak Untuk Sambungan 2 Bagian

Dolan ke Sumatera Barat biasanya orang berkunjung ke rumah gadang. Foto: shutterstock

Rumah Gadang boleh dikata adalah salah satu rumah tradisional di Indonesia yang paling indah. Bentuk atapnya memiliki beberapa kisah yang menginspirasi penciptaannya.

Rumah Gadang

Entah kenapa, di Indonesia setiap rumah makan masakan Minangkabau atau Padang senantiasa menyertakan elemen rumah tradisional suku bangsa ini. Sebuah atap yang melengkung. Ada yang dengan niat serius membangun replika atap rumahnya sebagai eksterior rumah makan, meski tak sedikit yang membuat gambarnya di kaca etalase lauk-pauk. Apapun bentuknya, ini membuat semua orang langsung paham: ini rumah makan padang.

Rumah Gadang atau Rumah Godang merupakan nama umum yang disematkan orang pada rumah adat masyarakat Minangkabau. Sering pula disebut dengan nama Rumah Baanjuang dan Rumah Bagonjong. Semua nama ini sesuai dengan maksud penyebutannya.

Rumah adat masyarakat dari Provinsi Sumatera Barat ini mempunyai sejumlah ciri yang sangat khas dan indah. Yang pertama tentu saja bentuk atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, dan badan rumah landai seperti badan kapal. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Oleh karena itulah mengapa rumah gadang disebut juga rumah bagonjong.

Mengutip dari Wikipedia, asal-usul bentuk bentuk atap rumah gadang yang mirip tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita rakyat “Tambo Alam Minangkabau”. Cerita tersebut bercerita tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.

Selain cerita tersebut, versi lain menyebutkan kalau atap berbentuk tanduk di rumah adat minangkabau itu terinspirasi dari bentuk kapal “Lancang” yang melintasi Sungai Kampar. Saat tiba di muara sungai, kapal diangkat ke daratan dan diberikan atap dengan menggunakan tiang layar yang diikat dengan tali. Namun karena bebannya berat, maka tiang pun menjadi miring dan melengkung yang serupa dengan gojong.

Manapun kisah yang betul, atau yang dipercaya, rumah gadang ratusan tahun telah menjadi simbol kebesaran masyarakat setempat. Ia sekaligus menjadi sesuatu yang dianggap mewakili jati diri warga Minangkabau.

Selain soal nama, hal menarik dari rumah Gadang adalah dari teknologi konstruksinya. Rumah Gadang yang asli dibangun dengan tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambungkan dua bagian kayu untuk bangunan. Untuk itu, masyarakat setempat menggunakan pasak kayu bergoyang. Dasar pemikirannya adalah kearifan lokal untuk menyiasati jika terjadi gempa. Jadi saat terjadi gempa, rumah akan berayun mengikuti ritme gempa. Akibatnya, rumahnya tidak akan roboh.

Dikutip dari Buku Rumah Gadang yang Tahan Gempa tulisan Gantino Habibi pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tiang-tiang rumah Gadang tidak ditanamkan ke tanah tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Ini juga dilakukan dengan pemikran untuk menyiasati ketika terjadi gempa. Rumah Gadang akan bergerak di atas batu datar tempat tiang itu berdiri.

Rumah bagonjong menurut aturan aslinya memiliki beberapa karakteristik atau ketentuan khusus. Misalnya saja, soal jumlah ruangan yang ditentukan dari jumlah perempuan yang menghuni rumah tersebut. Anak-anak dan perempuan yang telah berumur memiliki kamar yang lebih dekat ke arah dapur. Sedangkan gadis remaja umumnya ditempatkan di satu kamar di ujung yang berseberangan. Ruangan dalam rumah terbagi menjadi lanjar dan ruang, dengan jumlah ruang dalam satu rumah berjumlah ganjil antara 3 hingga 11.

Pada pelataran atau halaman rumah, terdapat sepasang bangunan yang berfungsi sebagai lumbung, namanya rangkiang. Selain itu, tak jauh dari bangunan rumah biasanya terdapat surau. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah, surau juga menjadi tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

Rumah Gadang memiliki ornamen pada dinding-dinding kayunya. Ornamen yang membuatnya lebih indah.
Rumah Gadang dengan ornamen indah pada dindingnya.

Salah satu karakteristik rumah gadang adalah hiasan eksterior bangunan berupa ornamen ukiran kayu yang menjadi pengisi bidang persegi dan lingkaran di permukaan luar bangunan. Motif ukiran yang umum ditemukan adalah tumbuhan merambat, bunga, dan buah. Ada juga motif-motif geometris segitiga, segi empat, dan jajar genjang (belah ketupat). Motif-motif ini memenuhi dinding, daun jendela, tiang-tiang, dan daun pintu

Jendela rumah Gadang biasanya memiliki ukuran yang besar. Bentuk jendelanya mengikuti bentuk rumahnya yang miring dan tidak simetris. Pada jendela terdapat bingkai yang terbuat dari papan. Jumlah jendela rumah Gadang biasanya terdiri dari 8 jendela di bagian depan, dua  di bagian kiri, dan dua di bagian kanan.

Rumah gadang biasanya didirikan di atas tanah milik keluarga induk dalam suatu suku atau kaum. Rumah ini diwariskan antargenerasi berdasarkan garis keturunan perempuan, sesuai asas matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau.

Dulunya tidak semua wilayah di Sumatera Barat dapat dibangun rumah adat seperti ini. Rumah bagonjong hanya didirikan di kawasan tertentu yang berstatus nagari. Karena itulah, eksistensi rumah bagonjong atau rumah gadang di luar Minangkabau terjadi karena aturan adat yang melemah seiring perkembangan zaman.

agendaIndonesia

*****