Hombo Batu Nias, Aura Tradisi 400 Tahun Silam

Hombo Batu Nias atau lompat batu di Nias, Sumatra Utara, dikenal sebagai salah satu tradisi masyarakat Nias yang menjadi ikon pariwisata Indonesia. Hombo Batu sendiri sudah ada sejak 350-400 tahun silam.

Hombo Batu Nias

Nataauli Duha masih ingat saat ia pertama kali berlatih lompat batu. Ketika itu, warga Desa Hilimondegeraya, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, ini duduk di bangku sekolah dasar. Nata—sapaan akrabnya—memang tidak langsung melompati batu dengan ketinggian sekitar dua meter. Ia berlatih meloncati tumpukan tanah yang dibuat bersama teman-temannya terlebih dulu. Satu demi satu secara bergantian mereka melampaui tumpukan tanah yang tingginya tidak sampai satu meter itu. Nata menyebut atraksi meloncati tumpukan tanah yang dibuat bersama teman-temannya ini sebagai lompat batu mini.

Rampung dengan tumpukan tanah, pada kesempatan berikutnya mereka bermain lompat tali. Tali yang digunakan terbuat dari bahan yang mudah putus. Ini supaya tidak mencelakakan mereka. Tali itu direntangkan pada dua sisi berseberangan. Semula, mereka bermain dengan ketinggian 50 sentimeter. Setelah itu, secara bertahap, mereka meninggikan posisi tali hingga mencapai satu meter. Bergan- tian mereka memegang dan melompati tali itu. Nata dan teman-teman pun merasakan kegembiraan bermain.

Selain tali, mereka menggunakan bambu dan batu yang ditumpuk. Puncaknya, ketika beranjak remaja, mereka akan berusaha menaklukkan batu sesungguhnya dengan ketinggian mencapai sekitar dua meter. “Biasanya, orang tua si anak akan memotong seekor ayam jantan sebagai jamuan ketika anaknya berhasil melompati batu itu,” kata Nata. Hal serupa juga akan dilakukan para bangsawan, yang rumahnya terletak tak jauh dari batu yang dilompati anak-anak itu.

Jamuan ayam jantan dilakukan bukan tanpa maksud. Dalam tradisi Nias Selatan, Sumatera Utara, ayam jantan merupakan lambang ayam yang kuat dan memiliki kemampuan terbang tinggi. “Begitulah harapan orang tua dan kaum bangsawan kepada anak-anak muda supaya mereka memiliki karakter yang kuat laksana ayam jantan yang mampu terbang tinggi,” ujar Nata.

Tradisi lompat batu atau hombo batu sesungguhnya berawal dari keinginan bangsawan untuk menyiapkan laskar kampung atau pasukan pertahanan desa. Pada masa itu, sekitar 350-400 tahun lalu, Nata bertutur, sering terjadi konflik antar-kampung yang berujung perang perebutan kekuasaan.

Konflik itu tidak selalu akibat masalah besar, tapi juga terkadang dari hal-hal kecil. Semisal, saling ejek ketika sama-sama berburu kijang hingga akhirnya memercikkan permusuhan.

Meskipun memiliki leluhur yang sama, konflik antar-kampung itu, menurut Nata, tak terhindarkan. Berdasarkan penelitian arkeologis, Nata mengatakan, leluhur Nias Selatan, yang berasal dari Gomo, mendiami Kecamatan Teluk Dalam sejak 600-700 tahun silam. Jauh sebelum itu, sudah ada kelompok lain yang mendiami Teluk Dalam. Antara kelompok ini dan leluhur Nias Selatan tak jarang terjadi bentrokan. Motifnya bermacam-macam, termasuk soal perebutan dan perluasan kekuasaan.

Supaya perebutan kekuasaan dan pencaplokan kampung lain berjalan mulus, para bangsawan tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan laskar kampung atau pasukan pertahanan desa dengan merekrut anak-anak muda untuk berperang. Anak-anak muda ini harus mengikuti latihan hombo batu. Melalui si’ulu atau kepala suku, fisik mereka digenjot. Mereka dilatih pula supaya bisa melompati batu. Anggota laskar kampung atau pasukan per- tahanan desa yang mampu melewati batu setinggi dua meter berarti sudah siap berperang dan melompati pagar berduri yang tinggi. Memang, desa atau kampung yang akan diserang biasanya menyiapkan pagar berduri yang dipasang tinggi-tinggi mengelilingi desa.

Hombo Batu Nias adalah tradisi masyarakat setempat untuk menghasilkan ksatria-ksatria yang membela tanah air.
Hombo Batu Nias dilakukan untuk mencetak para pemuda menjadi laskar atau pasukan di Nias. Foto: shuterstock

Layaknya seorang kesatria yang maju berperang, keberanian anak-anak muda ini sejatinya dititiskan dari orang tua. “Bila bapaknya seorang kesatria yang pemberani, maka darah kesatria itu menitis dan mengalir ke tubuh anak-anaknya,” ujar Nata. Di pundak anak-anak muda ini, ia menyebutkan, para bangsawan menaruh harapan besar. Sebab, kelak merekalah yang menjaga desa atau kampung dari se- rangan desa lain.

Dalam peperangan itu, jika berhasil mencaplok kampung lain, sang pe- menang akan bertambah kuat karena warga kampung yang kalah menjadi bagian dari kampung yang memenangi peperangan. Dengan bertambahnya jumlah warga, menurut Nata, kampung tersebut semakin kuat. Kekuatan itu bertambah besar jika pada peperangan berikut mereka bisa kembali mengalah- kan kampung lain. Begitu seterusnya.

Di balik perluasan kekuasaan dan perebutan harta, Nata melihat, jalan per- ang dipilih bangsawan untuk menambah jumlah abdi atau pelayan. Ini salah satu motif lain para bangsawan menghendaki terjadinya perang. Kini, peperangan itu memang tidak ada lagi. Hombo batu bersama tarian perang, fataele, sekarang menjadi atraksi wisata memikat yang sewaktu-waktu ditampilkan di Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan.

Mengenakan pakaian warna-warni— hitam, kuning, merah—dan membentuk formasi empat berjajar panjang, warga membawa tameng, pedang, atau tombak. Mereka pun menari mengikuti komando. Dimulai dengan gerakan maju dan mundur sambil mengentak-entakkan kaki ke tanah, mereka lalu meneriakkan yel-yel untuk membangkitkan semangat. Aura peperangan 350-400 tahun silam begitu terasa, seolah dibawa kembali ke masa kini.

agendaIndonesia/Aris Darmawan/shutterstock

*****

Wayang Potehi, Pertunjukan Boneka Sejak Abad 16

Wayang potehi mungkin ingatan orang langsung ke pertunjukan wayang ala peranakan. Tak salah, meski tak 100 persen tepat. Pertunjukan yang hampir musnah ini lahir dari proses akulturasi budaya yang mengajarkan filosofi kehidupan.

Wayang Potehi

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Bunyi piak ko yang disusul siauw loo muncul silih berganti. Kaisar Lie Sie Bin yang baru saja naik takhta memasuki istana. Dengan suara lantang, sang kaisar memerintahkan pasukannya untuk segera menginvasi wilayah Utara Tiongkok—tempat tinggal bangsa Pak Hoan.

Tak sekadar memerintah, Lie Sie Bin juga turun langsung ke medan perang. Kaisar didampingi oleh jago-jago tua, seperti Cin Siok Po, Uttie Kiong, Thia Kauw Kim, dan penasehatnya yang cerdas, Cie Bouw Kong. Tak ketinggalan, seorang pemuda gagah bernama Lo Tong Ceng Souw Pak atau Lo Tong.

Lo Tong sebagai tokoh utama dikisahkan mengalami banyak konflik. Mulai dendamnya kepada salah seorang panglima Negeri Tong hingga intrik pernikahannya dengan seorang putri dari Negeri Pak Hoan. Pernikahannya hanyalah satu strategi untuk menjatuhkan musuh.

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Pukulan kayu dan gembreng kecil kembali berbunyi nyaring. Sorot mata anak-anak masih terpaku pada panggung pertunjukan wayang Potehi dengan lakon Lo Tong Ceng Souw Pak yang digelar ketika itu. Mereka begitu antusias menyaksikan pergelaran wayang yang memang jarang digelar tersebut.

Maklum saja, wayang Potehi biasanya memang hanya digelar di kelenteng-kelenteng dan pada waktu-waktu tertentu saja. Namun kini wayang Potehi bisa disaksikan di pusat belanja yang berlokasi di Jakarta Barat itu.

Wayang Potehi sejatinya merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Tiongkok. Potehi sendiri berasal dari akar kata pou yang berarti kain, te berarti kantong, dan hi yang berarti wayang. Secara harfiah Potehi bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

Dalam setiap pertunjukkannya, wayang Potehi diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok. Alat musik dari wayang ini biasanya berupa toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompret).

Sang dalang, Sugiyo Waluyo Subur, memperkirakan kesenian Potehi dibawa masuk oleh pedagang Tionghoa ke Nusantara pada abad ke-16. ”Kali pertama dimainkan di Kota Semarang,” ujar pria yang dikenal dengan sebutan dalang Subur itu.

Cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan wayang. Jari tengah digunakan untuk mengendalikan kepala. Sedangkan ibu jari dan kelingking untuk mengendalikan tangan wayang.

Wayang Potehi merupakan akulutrasi kebudayaan Tiongkok dan kearifan lokal Nusantara.
Pertunjukan wayang potehi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang penontonnya tidak terlalu banyak. Foto: shutterstock

Konon, wayang Potehi disebut-sebut berasal dari balik jeruji penjara kerajaan Tiongkok. Alkisah, lima orang narapidana akan dieksekusi mati karena pelanggaran hukum berat. Berita eksekusi ini menciutkan nyali empat orang di antara pesakitan tersebut. Mereka pun sedih meratapi nasib.

Hal yang berbeda justru terlihat pada seorang pesakitan. Sang narapidana ini justru menyambut sisa hidupnya dengan gembira. Ia mengajak rekan-rekannya tersebut untuk mengisi detik-detik terakhir hidupnya dengan menghibur diri sendiri. Akhirnya, mereka secara spontan membuat pertunjukan boneka dari kain dengan iringan bunyi-bunyian yang berasal dari berbagai benda yang ada di sel mereka.

Tak disangka, dari beraneka barang yang ada, seperti piring, panci, dan perkakas hadir musik yang enak didengar. Pertunjukan boneka ini pun ternyata tidak saja menghibur mereka, tapi juga narapidana lain dan bahkan para sipir penjara. Cerita tentang pertunjukan kelima orang narapidana ini akhirnya sampai ke telinga kaisar. Atas kebijaksanaan sang kaisar, kelima narapidana tersebut mendapatkan kesempatan melakukan pertunjukan di hadapan sang kaisar dan memperoleh pengampunan.

Di Indonesia sendiri, kesenian tradisional ini mengalami pasang-surut sepanjang perjalanan sejarahnya. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, kesenian ini cukup populer di tengah masyarakat. ”Tetapi pada awal era Orde Baru berkembang, sentimen negatif terhadap budaya Tionghoa membuat seni wayang ini mengalami masa surut. Keberadaannya hilang di tengah masyarakat,” kata dalang Subur menceritakan.

Seiring era Reformasi, perlahan kesenian ini kembali menggeliat. Kesenian Potehi mulai dipentaskan di berbagai tempat seperti kelenteng atau pada saat perayaan ritual keagamaan. Bahkan saat ini pertunjukan wayang Potehi pun marak merambah ke sejumlah pusat belanja, khususnya saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. ”Wayang Potehi telah menjadi budaya Indonesia dan perlu dilestarikan,” ujar Rida Kusrida, Public Relations Mal Ciputra, Jakarta.

Sebagai sebuah kesenian, wayang Potehi menunjukkan bahwa ia lahir dari sebuah proses akulturasi yang panjang. Potehi mampu bertahan menjadi sebuah kesenian yang dapat merontokkan sekat-sekat kesukuan dan membentuk kesenian serta kebudayaan Indonesia. Satu hal yang jelas kentara ialah dalang Potehi tidak melulu dimainkan oleh orang Tionghoa. Contohnya ialah dalang Subur ini. Pria asal Surabaya ini justru berasal dari suku Jawa. ”Saya sendiri memeluk agama Islam,” kata dalang Subur.

Dalang yang memulai kariernya saat masih berusia 12 tahun itu mengungkapkan kisah-kisah wayang Potehi seperti Lo Tong Ceng Souw Pak, Sun Go Kong, Sie Jin Kui, Cu Hun Cau Kok, dan sebagainya serta mengajarkan filosofi kehidupan manusia yang masih berlaku pada masa kini.

agendaIndonesia/Andry T./Frann./TL/shutterstock

*****

Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****

Saparan Bekakak Tradisi Dimulai Pada 1755

Saparan Bekakak sebuah tradisi di Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta

Saparan Bekakak adalah ritual tolak bala di Desa Ambarketawang yang digelar masyarakat setempat agar tak ada lagi musibah di pegunungan kapurnya. Sebuah proses yang selalu diikuti ribuan masyarakat. Sempat terhenti selama pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, tahun ini dilaksanakan lagi pada September lalu.

Saparan Bekakak

Ribuan warga masyarakat menyaksikan upacara tradisi budaya ’Bekakak’ di Desa Amabarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat sore itu. Kegiatan budaya setiap bulan Sapar (kalender Jawa) itu diawali dengan kirab yang diikuti 5.000 orang lebih ini.

Saparan Bekakak dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati leluhur sekaligus cikal bakal Desa Ambarketawang, Kyai dan Nyai Wirosuto yang terkubur oleh guguran batu gamping di wilayah setempat.


Kegiatan sudah terasa sejak Kamis sore pada September lalu di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sibuk menyiapkan sebuah acara spesial. Mereka membuat bekakaktemanten, yakni perwujudan sepasang pengantin Jawa yang terbuat dari hasil bumi.

Dibuat pula beberapa detail prosesi pernikahan khas Jawa pada bekakak, seperti midodareni. Malam harinya, “pasangan pengantin” tersebut dibawa ke balai desa bersama beberapa genderuwo raksasa. Mirip ogoh-ogoh atau genderuwo dalam perayaan Nyepi di Bali. Ini merupakan perwujudan roh jahat yang dianggap menjadi penyebab musibah.

Saparan Bekakak menjadi tradisi paling tua di Yogyakarta.
Ogoh-ogoh dalam Saparan Bekakak di Desa Ambarketawang Yogya. Foto: Dok. Kominfo

Puncak acara kegiatan adat itu adalah pawaiSaparan bekakak yang berlangsung Jumat selepas tengah hari. Masyarakat sudah menanti di pinggir jalan. Iring-iringan dimulai dengan  pertunjukan tari yang menceritakan kisah tentang bekakak.

Setelah itu rombongan mengawali pawai dari Lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping. Daerah bekas bukit kapur ini menjadi awal munculnya tradisi yang digelar di bulan Sapar menurut tanggalan Jawa atau Safar menurut kalender Islam.

Saparan Bekakak, nama tradisi yang digelar untuk tolak bala ini, cukup disebut Bekakak. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan ini diikuti perwakilan dari semua dusun di Desa Ambarketawang dengan mengirimkan kelompok seni.

Umumnya mereka berdandan seperti bregada alias prajurit keraton yang membawa umbul-umbul dan alat musik. Satuan bregada tersebut adalah Wirabraja, Ketanggung, Patangpuluh, Surakarsa, Dhaeng, Mantrijero, Nyutra, Jagakarya, Prawiratama, dan Bugis.

Tak ketinggalan gunungan yang terbuat dari hasil bumi persembahan perwakilan pedagang di Pasar Gamping. Gunungan tersebut dibagikan pada penonton di sepanjang jalur pawai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran yang diberikan.

Walaupun sempat turun hujan, Saparan Bekakak yang berlangsung pada menjelang pertengahan September itu tetap meriah dengan hadirnya komunitas seni budaya dari berbagai daerah di luar Gamping. Bahkan ada yang dari Bantul. Total sekitar 45 grup ambil bagian dalam acara ini.

Tradisi tersebut diakhiri dengan “penyembelihan”bekakakdi lokasi terakhir. Namun sebelumnya dipanjatkan beberapa doa. Setelah itu, bekakak dan berbagai persembahan dibagikan kepada panitia acara dan warga yang hadir.

Selain kemeriahan, pawai ini juga memaksa petugas kepolisian bekerja keras menertibkan lalu lintas. Sebab, sebagian rute karnaval melintasi Jalan Wates yang berstatus sebagai jalan nasional. Antrean kendaraan besar, seperti bus dan truk, membentuk parkir massal.

Mungkin banyak pengguna jalan mengeluh, tapi sepertinya mereka tak bisa berbuat apa-apa bahkan protes sekalipun. Itu karena pamor Saparan Bekakak begitu besar. Sebab, usia acara ini jauh lebih tua dibanding status Jalan Wates sebagai jalan nasional, bahkan jika dibandingkan dengan umur republik ini.

Kemunculan tradisi ini dimulai pada 1755, kala Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua sesuai dengan hasil penandatanganan Perjanjian Giyanti, Kasunanan yang berpusat di Surakarta (Solo) dan Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Tak lama kemudian, Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Sambil menunggu pembangunan keraton baru selesai, Sultan memilih tinggal di pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di daerah Gamping, Sleman. Di masa itu, daerah ini memang penuh dengan bukit gamping atau kapur. Dari situ pula nama daerah ini berasal.

Semasa tinggal di Ambarketawang, Sultan ditemani oleh beberapa abdi dalem alias pelayan raja. Mereka yang paling setia adalah sepasang suami-istri Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta.

Setelah pembangunan keraton selesai, Sultan meninggalkan tempat tinggal sementaranya dan mendiami istana tanpa ditemani dua pelayan terbaiknya itu. Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta memilih tetap tinggal di Ambarketawang karena merasa cocok dengan lingkungannya.

Keduanya bekerja sebagai penambang gamping, seperti kebanyakan warga setempat. Namun musibah terjadi. Suami-istri itu meninggal ketika sedang menambang. Mereka tertimbun batuan kapur yang longsor. Tragedi yang sama kembali berulang menimpa warga lain dan kebanyakan terjadi di bulan Sapar.

Pasangan Bekakak
Pasangan Bekakak yang akan dikorbankan.

Kesedihan melanda Sultan ketika mendengar cerita memilukan ini. Setelah bersemedi, ia memerintahkan warga Desa Ambarketawang untuk melakukan sebuah prosesi tolak bala setiap bulan Sapar. Tujuannya untuk meminta perlindungan kepada Tuhan.

Wujud upacara adat tersebut ialah penyembelihanbekakak. Biasanya, dibuat dari tepung ketan atau tepung beras yang di dalamnya diisi juruh alias sirup gula merah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya ialah tiap bulan Sapar, tepatnya pada Jumat, antara tanggal 10 hingga 20.

Kini setelah lebih dari dua setengah abad, Saparan Bekakak masih hidup. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu upacara adat paling tua yang masih berlangsung di Yogyakarta. Bahkan di era modern, ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan berfungsi sebagai acara hiburan, sebab ada pawai seni budaya yang mengiringinya.

agendaIndonesia

*****

Saung Angklung Udjo, Bergoyang Mulai 1966

Saung Angklung Udjo Bandung melestarikan budaya dengan cara gembira. Foto: Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo puluhan tahun menjadi salah satu identitas budaya tradisional Sunda di Bandung, Jawa Barat. Utamanya, tentu, mengenalkan alat musik khas masyarakat Sunda, yakni angklung. Di sini tak sekadar pertunjukan, pengunjung juga dapat belajar tentang sejarah angklung, cara memainkannya, serta menonton beragam pertunjukan seni tradisional Sunda.

Saung Angklung Udjo

Sejatinya, tempat ini didirikan sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya tradisional Sunda, termasuk seni musik angklung. Dengan format yang ringan, sederhana dan menyenangkan bagi pengunjungnya, diharapkan semakin banyak yang tertarik melestarikan budaya tersebut.

Didirikan pada 1966, tempat ini memiliki panggung serta etalase untuk memamerkan alat musik tradisional seperti angklung, calung, arumba dan lain lainnya. Selain itu, karya seni lainnya seperti lukisan dan sebagainya kerap dipamerkan pula di sini.

Adalah seorang seniman tradisional Sunda bernama Udjo Ngalagena yang merasa tergerak untuk berkontribusi lebih besar pada kesenian yang membesarkan namanya serta memberinya penghidupan. Sebagai tanda kontribusinya, ia pun mendirikan tempat ini.

Angklung sendiri merupakan salah satu alat musik tradisional Sunda yang diyakini muncul pertama kali sekitar abad ke-12. Angklung lazim digunakan dalam ritual budaya dan keagamaan di masa kerajaan kala itu.

Saung Angklung Udjo ikut mengembangkan teknik permainan angklung.
Alat musik angklung seperti yang diajarkan di Saung Angklung Udjo Bandung. Foto: dok. shutterstock

Salah satu ritual tersebut dilakukan bagi para kaum tani. Pada masa kerajaan Hindu, kepercayaan masyarakat kala itu meyakini bahwa permainan angklung akan membawa berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan. Harapannya, pertanian mereka selalu subur dan sukses panen.

Angklung digunakan pula sebagai penanda perang atau keadaan bahaya. Dan pada perkembangannya, ia juga digunakan dalam pertunjukan musik yang diselenggarakan kerajaan saat itu. Dari situlah, budaya seni musik angklung berlanjut hingga kini.

Alat musik ini terbuat dari bambu yang dibuat menyerupai pipa-pipa yang tersangga. Untuk memainkannya, angklung digoyangkan agar badan pipa bambu tersebut berbenturan dan menimbulkan suara.

Setiap angklung memiliki nada yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan lebih dari satu angklung untuk dapat membuat sebuah pertunjukan musik. Oleh karena itulah seni musik angklung biasanya dimainkan secara ensemble.

Nama angklung sendiri disebut berasal dari sebuah istilah dari bahasa Sunda yaitu angkleung-angkleung, yang kurang lebih artinya gerakan yang mengikuti irama. Ini didasari pada cara memainkan angklung yang digoyang-goyangkan.

Secara etimologi, angklung juga disebut berasal dari kata angka yang berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau putus. Ini merujuk pada jenis suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini biasanya cenderung putus-putus atau hanya satu kali suara.

Walaupun angklung biasanya dimainkan dengan cara digoyangkan, tetapi ada juga teknik-teknik lain, seperti misalnya cetok yang berarti pipa bambu ditarik-tarik dengan cepat. Atau tengkep dimana salah satu pipa bambu ditahan saat digoyangkan.

Pada 1938, seorang maestro angklung bernama Daeng Soetigna menciptakan angklung dengan nada diatonis. Angklung jenis ini dapat memainkan lagu-lagu dengan kunci dan tangga nada pada umumnya, sehingga bisa digunakan pada orkestra sekalipun.

Angklung jenis inilah yang kemudian paling dikenal secara luas hingga kini. Udjo, yang kebetulan merupakan sang murid pada saat itu pun kemudian turut membantu mempopulerkan jenis serta kesenian alat musik ini.

Namun seperti halnya kebanyakan seni budaya tradisional pada umumnya, perkembangan zaman menjadi tantangan berat dalam melestarikannya. Kekhawatiran inilah yang membuat pria yang akrab dipanggil mang Udjo tersebut memutuskan mendirikan Saung Angklung Udjo.

Di tempat ini ia pun mengembangkan teknik-teknik permainan angklung, serta rajin menggelar pertunjukan seni musik angklung. Bersama sang istri, Uum Sumiati, ia dengan giat mengelola tempat ini dalam upaya mempopulerkan kesenian tersebut agar tak punah dimakan waktu.

Baginya, Saung Angklung Udjo didirikan agar menjadi pusat pertunjukan seni budaya tradisional seperti angklung dan lain lainnya yang mampu menarik banyak pengunjung. Tetapi lebih dari itu, ia juga ingin tempat ini berfungsi sebagai media edukasi bagi setiap pengunjungnya.

Pada perkembangannya Saung Angklung Udjo pun menjadi pusat pertunjukan, pengembangan dan edukasi bagi seni musik angklung serta kesenian tradisional Sunda lainnya. Bahkan setelah mang Udjo tutup usia pada tahun 2001, tempat ini terus dikelola oleh anak-anaknya.

Saung Angklung Udjo Konser Saung Angklung Udjo
Salah satu pertunjukan di Saung Angklung Udjo, di mana penonton kadang ikut tampil. Foto: Saung Angklung Udjo

Satu ciri khas dari Saung Angklung Udjo adalah pertunjukan yang biasanya diadakan pada sore hari. Biasanya setiap jam 15.00 hingga jam 17.00 tempat ini mengadakan beragam pagelaran seni budaya Sunda seperti angklung, arumba, tari topeng, sampai wayang golek.

Begitu padatnya pengunjung yang berminat menonton pertunjukan ini, beberapa kali diadakan pula pertunjukan pada pagi atau siang hari. Pada 1995 pun dibangun panggung yang cukup besar yang mampu menampung kapasitas sekitar 500 orang.

Tak hanya itu, beberapa kali seniman-seniman dari Saung Angklung Udjo ditanggap untuk tampil di tempat lain dalam berbagai acara. Yang lebih hebat lagi, beberapa di antaranya bahkan berlangsung di luar negeri.

Selain menghidupi seniman-seniman yang berkarya di sana, Saung Angklung Udjo juga menjadi sumber rejeki bagi para pengrajin alat musik tradisional Sunda. Di tempat ini pengnjung juga bisa membeli dan/atau memesan beragam jenis alat musik tradisional tersebut sebagai souvenir.

Selain menjual dan mempromosikan, tempat ini juga berkomitmen untuk membantu para pengrajin agar senantiasa mendapatkan bahan baku terbaik. Ditambah lagi, mereka juga memberi pelatihan agar kualitas alat musik buatan mereka senantiasa baik.

Sesuai dengan semangat ‘memberi kembali’, banyak warga lokal sekitar yang diberdayakan menjadi pengrajin. Selain itu, beberapa dari penghasilan tempat ini juga disisihkan untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu di sekitarnya.

Kalau tertarik untuk berkunjung, harga tiket masuknya Rp 60 ribu untuk hari biasa dan Rp 70 ribu pada akhir pekan. Untuk wisatawan mancanegara, harga tiketnya menjadi 110 ribu saat weekdays dan Rp 120 ribu kala weekend.

Selain pertunjukan seni tradisional Sunda serta edukasi tentang kesenian Sunda, di tempat ini juga disediakan beragam jenis hidangan ala Sunda. Cocok bagi yang ingin santap siang sekaligus menikmati setiap pengalaman yang ditawarkan tempat ini.

Adapun harga souvenir seperti angklung beragam dari ukurannya. Untuk yang berukuran besar dihargai Rp 300 ribu, sedangkan yang berukuran sedang harganya Rp 250 ribu. Selain itu ada pula alat musik lain, misalnya gambang yang dijual Rp 275 ribu.

Saung Angklung Udjo buka dari jam 08.00 hingga jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (022) 7271714 atau via email info@angklung-udjo.co.id serta mengunjungi situs resmi angklungudjo.com dan akun Instagram resmi @angklungudjo.

Saung Angklung Udjo

Jl. Padasuka no. 118, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****