Wayang Potehi, Pertunjukan Boneka Sejak Abad 16

Wayang potehi mungkin ingatan orang langsung ke pertunjukan wayang ala peranakan. Tak salah, meski tak 100 persen tepat. Pertunjukan yang hampir musnah ini lahir dari proses akulturasi budaya yang mengajarkan filosofi kehidupan.

Wayang Potehi

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Bunyi piak ko yang disusul siauw loo muncul silih berganti. Kaisar Lie Sie Bin yang baru saja naik takhta memasuki istana. Dengan suara lantang, sang kaisar memerintahkan pasukannya untuk segera menginvasi wilayah Utara Tiongkok—tempat tinggal bangsa Pak Hoan.

Tak sekadar memerintah, Lie Sie Bin juga turun langsung ke medan perang. Kaisar didampingi oleh jago-jago tua, seperti Cin Siok Po, Uttie Kiong, Thia Kauw Kim, dan penasehatnya yang cerdas, Cie Bouw Kong. Tak ketinggalan, seorang pemuda gagah bernama Lo Tong Ceng Souw Pak atau Lo Tong.

Lo Tong sebagai tokoh utama dikisahkan mengalami banyak konflik. Mulai dendamnya kepada salah seorang panglima Negeri Tong hingga intrik pernikahannya dengan seorang putri dari Negeri Pak Hoan. Pernikahannya hanyalah satu strategi untuk menjatuhkan musuh.

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Pukulan kayu dan gembreng kecil kembali berbunyi nyaring. Sorot mata anak-anak masih terpaku pada panggung pertunjukan wayang Potehi dengan lakon Lo Tong Ceng Souw Pak yang digelar ketika itu. Mereka begitu antusias menyaksikan pergelaran wayang yang memang jarang digelar tersebut.

Maklum saja, wayang Potehi biasanya memang hanya digelar di kelenteng-kelenteng dan pada waktu-waktu tertentu saja. Namun kini wayang Potehi bisa disaksikan di pusat belanja yang berlokasi di Jakarta Barat itu.

Wayang Potehi sejatinya merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Tiongkok. Potehi sendiri berasal dari akar kata pou yang berarti kain, te berarti kantong, dan hi yang berarti wayang. Secara harfiah Potehi bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

Dalam setiap pertunjukkannya, wayang Potehi diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok. Alat musik dari wayang ini biasanya berupa toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompret).

Sang dalang, Sugiyo Waluyo Subur, memperkirakan kesenian Potehi dibawa masuk oleh pedagang Tionghoa ke Nusantara pada abad ke-16. ”Kali pertama dimainkan di Kota Semarang,” ujar pria yang dikenal dengan sebutan dalang Subur itu.

Cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan wayang. Jari tengah digunakan untuk mengendalikan kepala. Sedangkan ibu jari dan kelingking untuk mengendalikan tangan wayang.

Wayang Potehi merupakan akulutrasi kebudayaan Tiongkok dan kearifan lokal Nusantara.
Pertunjukan wayang potehi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang penontonnya tidak terlalu banyak. Foto: shutterstock

Konon, wayang Potehi disebut-sebut berasal dari balik jeruji penjara kerajaan Tiongkok. Alkisah, lima orang narapidana akan dieksekusi mati karena pelanggaran hukum berat. Berita eksekusi ini menciutkan nyali empat orang di antara pesakitan tersebut. Mereka pun sedih meratapi nasib.

Hal yang berbeda justru terlihat pada seorang pesakitan. Sang narapidana ini justru menyambut sisa hidupnya dengan gembira. Ia mengajak rekan-rekannya tersebut untuk mengisi detik-detik terakhir hidupnya dengan menghibur diri sendiri. Akhirnya, mereka secara spontan membuat pertunjukan boneka dari kain dengan iringan bunyi-bunyian yang berasal dari berbagai benda yang ada di sel mereka.

Tak disangka, dari beraneka barang yang ada, seperti piring, panci, dan perkakas hadir musik yang enak didengar. Pertunjukan boneka ini pun ternyata tidak saja menghibur mereka, tapi juga narapidana lain dan bahkan para sipir penjara. Cerita tentang pertunjukan kelima orang narapidana ini akhirnya sampai ke telinga kaisar. Atas kebijaksanaan sang kaisar, kelima narapidana tersebut mendapatkan kesempatan melakukan pertunjukan di hadapan sang kaisar dan memperoleh pengampunan.

Di Indonesia sendiri, kesenian tradisional ini mengalami pasang-surut sepanjang perjalanan sejarahnya. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, kesenian ini cukup populer di tengah masyarakat. ”Tetapi pada awal era Orde Baru berkembang, sentimen negatif terhadap budaya Tionghoa membuat seni wayang ini mengalami masa surut. Keberadaannya hilang di tengah masyarakat,” kata dalang Subur menceritakan.

Seiring era Reformasi, perlahan kesenian ini kembali menggeliat. Kesenian Potehi mulai dipentaskan di berbagai tempat seperti kelenteng atau pada saat perayaan ritual keagamaan. Bahkan saat ini pertunjukan wayang Potehi pun marak merambah ke sejumlah pusat belanja, khususnya saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. ”Wayang Potehi telah menjadi budaya Indonesia dan perlu dilestarikan,” ujar Rida Kusrida, Public Relations Mal Ciputra, Jakarta.

Sebagai sebuah kesenian, wayang Potehi menunjukkan bahwa ia lahir dari sebuah proses akulturasi yang panjang. Potehi mampu bertahan menjadi sebuah kesenian yang dapat merontokkan sekat-sekat kesukuan dan membentuk kesenian serta kebudayaan Indonesia. Satu hal yang jelas kentara ialah dalang Potehi tidak melulu dimainkan oleh orang Tionghoa. Contohnya ialah dalang Subur ini. Pria asal Surabaya ini justru berasal dari suku Jawa. ”Saya sendiri memeluk agama Islam,” kata dalang Subur.

Dalang yang memulai kariernya saat masih berusia 12 tahun itu mengungkapkan kisah-kisah wayang Potehi seperti Lo Tong Ceng Souw Pak, Sun Go Kong, Sie Jin Kui, Cu Hun Cau Kok, dan sebagainya serta mengajarkan filosofi kehidupan manusia yang masih berlaku pada masa kini.

agendaIndonesia/Andry T./Frann./TL/shutterstock

*****

Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****

Saparan Bekakak Tradisi Dimulai Pada 1755

Saparan Bekakak sebuah tradisi di Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta

Saparan Bekakak adalah ritual tolak bala di Desa Ambarketawang yang digelar masyarakat setempat agar tak ada lagi musibah di pegunungan kapurnya. Sebuah proses yang selalu diikuti ribuan masyarakat. Sempat terhenti selama pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, tahun ini dilaksanakan lagi pada September lalu.

Saparan Bekakak

Ribuan warga masyarakat menyaksikan upacara tradisi budaya ’Bekakak’ di Desa Amabarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat sore itu. Kegiatan budaya setiap bulan Sapar (kalender Jawa) itu diawali dengan kirab yang diikuti 5.000 orang lebih ini.

Saparan Bekakak dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati leluhur sekaligus cikal bakal Desa Ambarketawang, Kyai dan Nyai Wirosuto yang terkubur oleh guguran batu gamping di wilayah setempat.


Kegiatan sudah terasa sejak Kamis sore pada September lalu di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sibuk menyiapkan sebuah acara spesial. Mereka membuat bekakaktemanten, yakni perwujudan sepasang pengantin Jawa yang terbuat dari hasil bumi.

Dibuat pula beberapa detail prosesi pernikahan khas Jawa pada bekakak, seperti midodareni. Malam harinya, “pasangan pengantin” tersebut dibawa ke balai desa bersama beberapa genderuwo raksasa. Mirip ogoh-ogoh atau genderuwo dalam perayaan Nyepi di Bali. Ini merupakan perwujudan roh jahat yang dianggap menjadi penyebab musibah.

Saparan Bekakak menjadi tradisi paling tua di Yogyakarta.
Ogoh-ogoh dalam Saparan Bekakak di Desa Ambarketawang Yogya. Foto: Dok. Kominfo

Puncak acara kegiatan adat itu adalah pawaiSaparan bekakak yang berlangsung Jumat selepas tengah hari. Masyarakat sudah menanti di pinggir jalan. Iring-iringan dimulai dengan  pertunjukan tari yang menceritakan kisah tentang bekakak.

Setelah itu rombongan mengawali pawai dari Lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping. Daerah bekas bukit kapur ini menjadi awal munculnya tradisi yang digelar di bulan Sapar menurut tanggalan Jawa atau Safar menurut kalender Islam.

Saparan Bekakak, nama tradisi yang digelar untuk tolak bala ini, cukup disebut Bekakak. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan ini diikuti perwakilan dari semua dusun di Desa Ambarketawang dengan mengirimkan kelompok seni.

Umumnya mereka berdandan seperti bregada alias prajurit keraton yang membawa umbul-umbul dan alat musik. Satuan bregada tersebut adalah Wirabraja, Ketanggung, Patangpuluh, Surakarsa, Dhaeng, Mantrijero, Nyutra, Jagakarya, Prawiratama, dan Bugis.

Tak ketinggalan gunungan yang terbuat dari hasil bumi persembahan perwakilan pedagang di Pasar Gamping. Gunungan tersebut dibagikan pada penonton di sepanjang jalur pawai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran yang diberikan.

Walaupun sempat turun hujan, Saparan Bekakak yang berlangsung pada menjelang pertengahan September itu tetap meriah dengan hadirnya komunitas seni budaya dari berbagai daerah di luar Gamping. Bahkan ada yang dari Bantul. Total sekitar 45 grup ambil bagian dalam acara ini.

Tradisi tersebut diakhiri dengan “penyembelihan”bekakakdi lokasi terakhir. Namun sebelumnya dipanjatkan beberapa doa. Setelah itu, bekakak dan berbagai persembahan dibagikan kepada panitia acara dan warga yang hadir.

Selain kemeriahan, pawai ini juga memaksa petugas kepolisian bekerja keras menertibkan lalu lintas. Sebab, sebagian rute karnaval melintasi Jalan Wates yang berstatus sebagai jalan nasional. Antrean kendaraan besar, seperti bus dan truk, membentuk parkir massal.

Mungkin banyak pengguna jalan mengeluh, tapi sepertinya mereka tak bisa berbuat apa-apa bahkan protes sekalipun. Itu karena pamor Saparan Bekakak begitu besar. Sebab, usia acara ini jauh lebih tua dibanding status Jalan Wates sebagai jalan nasional, bahkan jika dibandingkan dengan umur republik ini.

Kemunculan tradisi ini dimulai pada 1755, kala Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua sesuai dengan hasil penandatanganan Perjanjian Giyanti, Kasunanan yang berpusat di Surakarta (Solo) dan Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Tak lama kemudian, Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Sambil menunggu pembangunan keraton baru selesai, Sultan memilih tinggal di pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di daerah Gamping, Sleman. Di masa itu, daerah ini memang penuh dengan bukit gamping atau kapur. Dari situ pula nama daerah ini berasal.

Semasa tinggal di Ambarketawang, Sultan ditemani oleh beberapa abdi dalem alias pelayan raja. Mereka yang paling setia adalah sepasang suami-istri Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta.

Setelah pembangunan keraton selesai, Sultan meninggalkan tempat tinggal sementaranya dan mendiami istana tanpa ditemani dua pelayan terbaiknya itu. Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta memilih tetap tinggal di Ambarketawang karena merasa cocok dengan lingkungannya.

Keduanya bekerja sebagai penambang gamping, seperti kebanyakan warga setempat. Namun musibah terjadi. Suami-istri itu meninggal ketika sedang menambang. Mereka tertimbun batuan kapur yang longsor. Tragedi yang sama kembali berulang menimpa warga lain dan kebanyakan terjadi di bulan Sapar.

Pasangan Bekakak
Pasangan Bekakak yang akan dikorbankan.

Kesedihan melanda Sultan ketika mendengar cerita memilukan ini. Setelah bersemedi, ia memerintahkan warga Desa Ambarketawang untuk melakukan sebuah prosesi tolak bala setiap bulan Sapar. Tujuannya untuk meminta perlindungan kepada Tuhan.

Wujud upacara adat tersebut ialah penyembelihanbekakak. Biasanya, dibuat dari tepung ketan atau tepung beras yang di dalamnya diisi juruh alias sirup gula merah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya ialah tiap bulan Sapar, tepatnya pada Jumat, antara tanggal 10 hingga 20.

Kini setelah lebih dari dua setengah abad, Saparan Bekakak masih hidup. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu upacara adat paling tua yang masih berlangsung di Yogyakarta. Bahkan di era modern, ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan berfungsi sebagai acara hiburan, sebab ada pawai seni budaya yang mengiringinya.

agendaIndonesia

*****

Saung Angklung Udjo, Bergoyang Mulai 1966

Saung Angklung Udjo Bandung melestarikan budaya dengan cara gembira. Foto: Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo puluhan tahun menjadi salah satu identitas budaya tradisional Sunda di Bandung, Jawa Barat. Utamanya, tentu, mengenalkan alat musik khas masyarakat Sunda, yakni angklung. Di sini tak sekadar pertunjukan, pengunjung juga dapat belajar tentang sejarah angklung, cara memainkannya, serta menonton beragam pertunjukan seni tradisional Sunda.

Saung Angklung Udjo

Sejatinya, tempat ini didirikan sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya tradisional Sunda, termasuk seni musik angklung. Dengan format yang ringan, sederhana dan menyenangkan bagi pengunjungnya, diharapkan semakin banyak yang tertarik melestarikan budaya tersebut.

Didirikan pada 1966, tempat ini memiliki panggung serta etalase untuk memamerkan alat musik tradisional seperti angklung, calung, arumba dan lain lainnya. Selain itu, karya seni lainnya seperti lukisan dan sebagainya kerap dipamerkan pula di sini.

Adalah seorang seniman tradisional Sunda bernama Udjo Ngalagena yang merasa tergerak untuk berkontribusi lebih besar pada kesenian yang membesarkan namanya serta memberinya penghidupan. Sebagai tanda kontribusinya, ia pun mendirikan tempat ini.

Angklung sendiri merupakan salah satu alat musik tradisional Sunda yang diyakini muncul pertama kali sekitar abad ke-12. Angklung lazim digunakan dalam ritual budaya dan keagamaan di masa kerajaan kala itu.

Saung Angklung Udjo ikut mengembangkan teknik permainan angklung.
Alat musik angklung seperti yang diajarkan di Saung Angklung Udjo Bandung. Foto: dok. shutterstock

Salah satu ritual tersebut dilakukan bagi para kaum tani. Pada masa kerajaan Hindu, kepercayaan masyarakat kala itu meyakini bahwa permainan angklung akan membawa berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan. Harapannya, pertanian mereka selalu subur dan sukses panen.

Angklung digunakan pula sebagai penanda perang atau keadaan bahaya. Dan pada perkembangannya, ia juga digunakan dalam pertunjukan musik yang diselenggarakan kerajaan saat itu. Dari situlah, budaya seni musik angklung berlanjut hingga kini.

Alat musik ini terbuat dari bambu yang dibuat menyerupai pipa-pipa yang tersangga. Untuk memainkannya, angklung digoyangkan agar badan pipa bambu tersebut berbenturan dan menimbulkan suara.

Setiap angklung memiliki nada yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan lebih dari satu angklung untuk dapat membuat sebuah pertunjukan musik. Oleh karena itulah seni musik angklung biasanya dimainkan secara ensemble.

Nama angklung sendiri disebut berasal dari sebuah istilah dari bahasa Sunda yaitu angkleung-angkleung, yang kurang lebih artinya gerakan yang mengikuti irama. Ini didasari pada cara memainkan angklung yang digoyang-goyangkan.

Secara etimologi, angklung juga disebut berasal dari kata angka yang berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau putus. Ini merujuk pada jenis suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini biasanya cenderung putus-putus atau hanya satu kali suara.

Walaupun angklung biasanya dimainkan dengan cara digoyangkan, tetapi ada juga teknik-teknik lain, seperti misalnya cetok yang berarti pipa bambu ditarik-tarik dengan cepat. Atau tengkep dimana salah satu pipa bambu ditahan saat digoyangkan.

Pada 1938, seorang maestro angklung bernama Daeng Soetigna menciptakan angklung dengan nada diatonis. Angklung jenis ini dapat memainkan lagu-lagu dengan kunci dan tangga nada pada umumnya, sehingga bisa digunakan pada orkestra sekalipun.

Angklung jenis inilah yang kemudian paling dikenal secara luas hingga kini. Udjo, yang kebetulan merupakan sang murid pada saat itu pun kemudian turut membantu mempopulerkan jenis serta kesenian alat musik ini.

Namun seperti halnya kebanyakan seni budaya tradisional pada umumnya, perkembangan zaman menjadi tantangan berat dalam melestarikannya. Kekhawatiran inilah yang membuat pria yang akrab dipanggil mang Udjo tersebut memutuskan mendirikan Saung Angklung Udjo.

Di tempat ini ia pun mengembangkan teknik-teknik permainan angklung, serta rajin menggelar pertunjukan seni musik angklung. Bersama sang istri, Uum Sumiati, ia dengan giat mengelola tempat ini dalam upaya mempopulerkan kesenian tersebut agar tak punah dimakan waktu.

Baginya, Saung Angklung Udjo didirikan agar menjadi pusat pertunjukan seni budaya tradisional seperti angklung dan lain lainnya yang mampu menarik banyak pengunjung. Tetapi lebih dari itu, ia juga ingin tempat ini berfungsi sebagai media edukasi bagi setiap pengunjungnya.

Pada perkembangannya Saung Angklung Udjo pun menjadi pusat pertunjukan, pengembangan dan edukasi bagi seni musik angklung serta kesenian tradisional Sunda lainnya. Bahkan setelah mang Udjo tutup usia pada tahun 2001, tempat ini terus dikelola oleh anak-anaknya.

Saung Angklung Udjo Konser Saung Angklung Udjo
Salah satu pertunjukan di Saung Angklung Udjo, di mana penonton kadang ikut tampil. Foto: Saung Angklung Udjo

Satu ciri khas dari Saung Angklung Udjo adalah pertunjukan yang biasanya diadakan pada sore hari. Biasanya setiap jam 15.00 hingga jam 17.00 tempat ini mengadakan beragam pagelaran seni budaya Sunda seperti angklung, arumba, tari topeng, sampai wayang golek.

Begitu padatnya pengunjung yang berminat menonton pertunjukan ini, beberapa kali diadakan pula pertunjukan pada pagi atau siang hari. Pada 1995 pun dibangun panggung yang cukup besar yang mampu menampung kapasitas sekitar 500 orang.

Tak hanya itu, beberapa kali seniman-seniman dari Saung Angklung Udjo ditanggap untuk tampil di tempat lain dalam berbagai acara. Yang lebih hebat lagi, beberapa di antaranya bahkan berlangsung di luar negeri.

Selain menghidupi seniman-seniman yang berkarya di sana, Saung Angklung Udjo juga menjadi sumber rejeki bagi para pengrajin alat musik tradisional Sunda. Di tempat ini pengnjung juga bisa membeli dan/atau memesan beragam jenis alat musik tradisional tersebut sebagai souvenir.

Selain menjual dan mempromosikan, tempat ini juga berkomitmen untuk membantu para pengrajin agar senantiasa mendapatkan bahan baku terbaik. Ditambah lagi, mereka juga memberi pelatihan agar kualitas alat musik buatan mereka senantiasa baik.

Sesuai dengan semangat ‘memberi kembali’, banyak warga lokal sekitar yang diberdayakan menjadi pengrajin. Selain itu, beberapa dari penghasilan tempat ini juga disisihkan untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu di sekitarnya.

Kalau tertarik untuk berkunjung, harga tiket masuknya Rp 60 ribu untuk hari biasa dan Rp 70 ribu pada akhir pekan. Untuk wisatawan mancanegara, harga tiketnya menjadi 110 ribu saat weekdays dan Rp 120 ribu kala weekend.

Selain pertunjukan seni tradisional Sunda serta edukasi tentang kesenian Sunda, di tempat ini juga disediakan beragam jenis hidangan ala Sunda. Cocok bagi yang ingin santap siang sekaligus menikmati setiap pengalaman yang ditawarkan tempat ini.

Adapun harga souvenir seperti angklung beragam dari ukurannya. Untuk yang berukuran besar dihargai Rp 300 ribu, sedangkan yang berukuran sedang harganya Rp 250 ribu. Selain itu ada pula alat musik lain, misalnya gambang yang dijual Rp 275 ribu.

Saung Angklung Udjo buka dari jam 08.00 hingga jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (022) 7271714 atau via email info@angklung-udjo.co.id serta mengunjungi situs resmi angklungudjo.com dan akun Instagram resmi @angklungudjo.

Saung Angklung Udjo

Jl. Padasuka no. 118, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Rumah Gadang, Pasak Untuk Sambungan 2 Bagian

Dolan ke Sumatera Barat biasanya orang berkunjung ke rumah gadang. Foto: shutterstock

Rumah Gadang boleh dikata adalah salah satu rumah tradisional di Indonesia yang paling indah. Bentuk atapnya memiliki beberapa kisah yang menginspirasi penciptaannya.

Rumah Gadang

Entah kenapa, di Indonesia setiap rumah makan masakan Minangkabau atau Padang senantiasa menyertakan elemen rumah tradisional suku bangsa ini. Sebuah atap yang melengkung. Ada yang dengan niat serius membangun replika atap rumahnya sebagai eksterior rumah makan, meski tak sedikit yang membuat gambarnya di kaca etalase lauk-pauk. Apapun bentuknya, ini membuat semua orang langsung paham: ini rumah makan padang.

Rumah Gadang atau Rumah Godang merupakan nama umum yang disematkan orang pada rumah adat masyarakat Minangkabau. Sering pula disebut dengan nama Rumah Baanjuang dan Rumah Bagonjong. Semua nama ini sesuai dengan maksud penyebutannya.

Rumah adat masyarakat dari Provinsi Sumatera Barat ini mempunyai sejumlah ciri yang sangat khas dan indah. Yang pertama tentu saja bentuk atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, dan badan rumah landai seperti badan kapal. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Oleh karena itulah mengapa rumah gadang disebut juga rumah bagonjong.

Mengutip dari Wikipedia, asal-usul bentuk bentuk atap rumah gadang yang mirip tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita rakyat “Tambo Alam Minangkabau”. Cerita tersebut bercerita tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.

Selain cerita tersebut, versi lain menyebutkan kalau atap berbentuk tanduk di rumah adat minangkabau itu terinspirasi dari bentuk kapal “Lancang” yang melintasi Sungai Kampar. Saat tiba di muara sungai, kapal diangkat ke daratan dan diberikan atap dengan menggunakan tiang layar yang diikat dengan tali. Namun karena bebannya berat, maka tiang pun menjadi miring dan melengkung yang serupa dengan gojong.

Manapun kisah yang betul, atau yang dipercaya, rumah gadang ratusan tahun telah menjadi simbol kebesaran masyarakat setempat. Ia sekaligus menjadi sesuatu yang dianggap mewakili jati diri warga Minangkabau.

Selain soal nama, hal menarik dari rumah Gadang adalah dari teknologi konstruksinya. Rumah Gadang yang asli dibangun dengan tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambungkan dua bagian kayu untuk bangunan. Untuk itu, masyarakat setempat menggunakan pasak kayu bergoyang. Dasar pemikirannya adalah kearifan lokal untuk menyiasati jika terjadi gempa. Jadi saat terjadi gempa, rumah akan berayun mengikuti ritme gempa. Akibatnya, rumahnya tidak akan roboh.

Dikutip dari Buku Rumah Gadang yang Tahan Gempa tulisan Gantino Habibi pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tiang-tiang rumah Gadang tidak ditanamkan ke tanah tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Ini juga dilakukan dengan pemikran untuk menyiasati ketika terjadi gempa. Rumah Gadang akan bergerak di atas batu datar tempat tiang itu berdiri.

Rumah bagonjong menurut aturan aslinya memiliki beberapa karakteristik atau ketentuan khusus. Misalnya saja, soal jumlah ruangan yang ditentukan dari jumlah perempuan yang menghuni rumah tersebut. Anak-anak dan perempuan yang telah berumur memiliki kamar yang lebih dekat ke arah dapur. Sedangkan gadis remaja umumnya ditempatkan di satu kamar di ujung yang berseberangan. Ruangan dalam rumah terbagi menjadi lanjar dan ruang, dengan jumlah ruang dalam satu rumah berjumlah ganjil antara 3 hingga 11.

Pada pelataran atau halaman rumah, terdapat sepasang bangunan yang berfungsi sebagai lumbung, namanya rangkiang. Selain itu, tak jauh dari bangunan rumah biasanya terdapat surau. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah, surau juga menjadi tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

Rumah Gadang memiliki ornamen pada dinding-dinding kayunya. Ornamen yang membuatnya lebih indah.
Rumah Gadang dengan ornamen indah pada dindingnya.

Salah satu karakteristik rumah gadang adalah hiasan eksterior bangunan berupa ornamen ukiran kayu yang menjadi pengisi bidang persegi dan lingkaran di permukaan luar bangunan. Motif ukiran yang umum ditemukan adalah tumbuhan merambat, bunga, dan buah. Ada juga motif-motif geometris segitiga, segi empat, dan jajar genjang (belah ketupat). Motif-motif ini memenuhi dinding, daun jendela, tiang-tiang, dan daun pintu

Jendela rumah Gadang biasanya memiliki ukuran yang besar. Bentuk jendelanya mengikuti bentuk rumahnya yang miring dan tidak simetris. Pada jendela terdapat bingkai yang terbuat dari papan. Jumlah jendela rumah Gadang biasanya terdiri dari 8 jendela di bagian depan, dua  di bagian kiri, dan dua di bagian kanan.

Rumah gadang biasanya didirikan di atas tanah milik keluarga induk dalam suatu suku atau kaum. Rumah ini diwariskan antargenerasi berdasarkan garis keturunan perempuan, sesuai asas matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau.

Dulunya tidak semua wilayah di Sumatera Barat dapat dibangun rumah adat seperti ini. Rumah bagonjong hanya didirikan di kawasan tertentu yang berstatus nagari. Karena itulah, eksistensi rumah bagonjong atau rumah gadang di luar Minangkabau terjadi karena aturan adat yang melemah seiring perkembangan zaman.

agendaIndonesia

*****

Tato Orang Mentawai, 7 Motif Titi Sebagai Identitas

Tato Orang Mentawai

Tato orang Mentawai atau Titi, dalam masyarakat Mentawai bukan sekadar rajah di kulit mereka. Ia mengandung makna dan menjadi ciri khas masyakat setempat. Ada pula pembuat khusus, ia disebut sipatiti.

Tato Orang Mentawai

Di sejumlah desa di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, seperti Desa Madobag atau Ugai, masyarakat asli setempat masih melakukan rajah pada kulit mereka. Jika kita berkunjung ke uma, ini sebutan untuk rumah tradisional suku Mentawai, biasanya saat bertemu dengan yang empunya uma, kita akan melihat torehan garis lurus, lengkung, tebal, halus, hingga setiap titik berwarna kehitaman di sekujur kulit tubuhnya. Itulah yang disebut titi, tato khas mereka.

Bagi mereka yang tak memahami titi, mungkin goresan itu hanya sebagai jenis motif rajah saja. Tapi tunggu dulu, ternyata setiap bentuk goresan itu ada maknanya. Termasuk posisi mereka dalam masyarakat tersebut.

Dua orang laku-laku dengan usia yang sama, misalnya, titi-nya bisa berbeda. Bahkan kadang buat mata awam, bisa saja rajah di kedua pria tersebut terlihat sama. Tapi ternyata ada bagian yang berbeda. Misalnya, yang satu tidak memiliki dua simbol di bahu kanan-kirinya. Atau, seorang pria muda Mentawai, bisa saja sama sekali tak punya titi di kulit tubuhnya.

Seni tato Mentawai memang memiliki daya tarik tersendiri. Konon, ini merupakan salah satu seni rajah tubuh tertua di dunia, bahkan ada yang menyebut ia lebih tua dari seni tato di Mesir. Sayangnya, titi perlahan memudar. Masyarakat Mentawai masa kini tak lagi suka memaparkan identitas diri mereka melalui medium sekujur kulitnya. Terutama di kalangan generasi mudanya. Padahal, dulunya itu adalah simbol jati diri mereka dari waktu ke waktu.

Selain harus melalui ritual, pembuatan tato bagi suku Mentawai harus dilakukan bertahap. Tahap pertama dilakukan saat seseorang berusia 11-12 tahun atau masa akil balig. Rajahnya pun hanya boleh dilakukan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua, kala orang tersebut berusia 18-19 tahun dan rajahan dilanjutkan ke bagian paha. Tahap ketiga, di masa dewasa di bagian tubuh lain.

Setiap motif titi, yang dirajahkan pada kulit tubuh, memiliki arti. Masing-masing merepresentasikan simbol-simbol penghormatan orang-orang suku Mentawai pada roh dan pada keyakinannya. Secara umum, dikenal tujuh macam motif yang berlaku bagi laki-laki dan tiga motif bagi perempuan, yaitu Sarepak Abak, Durukat, Sikaloinan, Gagai, Boug, Saliou, dan Soroi.

Tato Orang Mentawai Proses Mentato
Proses membuat titi di masyarakat Mentawai.

Sarepak abak, biasanya ditorehkan di punggung, melambangkan keseimbangan kehidupan di alam. Ini merupakan representasi dari cadik (penyeimbang) pada pompon (perahu) yang menjadi alat transportasi sehari-hari.

Durukat, ditorehkan di bagian dada, simbol jati diri suku, menunjukkan batas wilayah kesukuan. Umumnya memanfaatkan garis-garis halus yang kemudian diisi titik-titik dan motif lokpok (bentuknya menyerupai daun). Sikaloinan, ditorehkan pada bagian pangkal lengan hingga siku, simbol jati diri suku, merepresentasikan paipai sikaloinan (ekor buaya).

Gagai, ditorehkan pada lengan laki-laki/perempuan, simbol kepiawaian menangkap ikan. Motif Boug, ditorehkan pada bagian paha, simbol jati diri suku, penggambarannya memanfaatkan bentuk garis-garis lengkung. Saliou, ditorehkan pada betis hingga pergelangan kaki dengan ragam rias lengkung garis yang indah.

Sementara itu, Soroi, khusus kaum pria, simbol jati diri kesukuan, biasanya ditorehkan pada bagian pusar, merepresentasikan keindahan rumbai-rumbai bulu ekor ayam.

Satu catatan penting, terlihat sekali bahwa seorang sipatiti tidak boleh mengabaikan faktor simetris dalam pelaksanaan tugasnya. Pengaturan jarak dari setiap gores garis hingga titik diperhitungkan dengan penuh presisi dalam hitungan satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari, dan seterusnya.

Untuk membuat titi, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Untuk melakukannya, suku Mentawai mengenal keberadaan sipatiti. Meski tidak diangkat secara adat, ia adalah seorang laki-laki dan tidak boleh perempuan yang dipercaya sebagai sang pembuat tato. Ia seorang yang memiliki keahlian merajah sekaligus memahami simbol-simbol yang lazim digunakan termasuk maknanya. Setiap pertemuan, jasa seorang sipatiti akan dibayar dengan seekor babi atau beberapa ekor ayam.

Proses pembuatan titi tidak sesederhana. Sebelumnya, harus digelar acara adat Punen Kepa untuk menyingkirkan pengaruh jahat dan ancaman terjadinya malapetaka di kampung yang warga yang akan membuat titi. Pada puncak punen, biasanya dilakukan perjalanan ke Siberut, yang diyakini sebagai asal orang Mentawai. Perjalanan laut yang dikenal dengan istilah bulepak itu dilakukan beramai-ramai dalam satu sampan bermuatan cukup besar. Di daerah itu, mereka harus mengambil manik-manik khas Siberut sebagai syarat.

Apabila semua berhasil membawa manik-manik khas Siberut kembali dengan selamat, warga bisa memulai menjalani upacara inisiasi pembuatan titi, yang dikenal dengan nama Punen Enegat. Upacara tersebut dipimpin oleh sikerei atau seorang dukun Mentawai dan dilakukan di putukurat, yang merupakan tempat khusus berlangsungnya proses pembuatan titi.

Titi adalah sebuah kearifan lokal, ia tak harus menjadi milik semua orang, namun tentu sayang jika ini akan terus memudar.

agendaIndonesia

*****

Ulos, Pernikahan, Kelahiran, Dan Kematian (2)

Ulos sibolang

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia memiliki arti sejak perjodohan, kelahiran, hingga kematian.

Ulos, Jenis Dan Kegunaannya

Di dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis kain ini. Dalam membuatnya, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Ulos Jugia. Disebut juga ulos naso ra pipot atau pinunsaan. Hanya untuk orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anak laki-laki dan perempuan. Nilainya tertinggi dan disimpan dalam parmonang-monangan (lemari).

Ragi Hidup. Rangkaian dua kata ini bermakna lambang kehidupan. Coraknya memberi kesan kainnya hidup. Muncul dalam warna hitam-putih. Memiliki nilai tinggi. bisa digunakan untuk kesempatan suka maupun duka. Pada saat pernikahan, kain ini diberikan orang tua pengantin wanita kepada ibu pengantin pria. Bila ada sesepuh meninggal, ulos ragi hidup dikenakan oleh si sulung. Jenis ini paling banyak ditemukan dalam upacara adat Batak.

Ragi Hotang. Diberikan kepada pengantin agar terjadi ikatan batin seperti rotan (hotang). Disebut juga sebagai ulos marjabu. Disampirkan ke bahu keduanya, ujung kanan dipegang pengantin pria dan kiri wanita, lalu diikat di tengahnya. Sedangkan saat kematian, digunakan untuk menutup jenasah atau membungkus tulang manakala penguburan untuk kedua.

Ulos Sadum. Memiliki warna ceria, dengan dominasi warna merah, sehingga banyak digunakan untuk upacara suka cinta. Meski bisa juga untuk suasana lara.

Ulos Runjat. Digunakan orang kaya dan digunakan sebagai ulos edang-edang yang digunakan untuk ke pesta pernikahan.  Diberikan juga kepada pengantin oleh keluarga terdekat.

Ulos Sibolang. Lebih banyak digunakan orang untuk acara duka cinta, namun sebenarnya bisa juga digunakan untuk suasana suka cita. Lazimnya pada saat berduka digunakan yang dominan hitam sedangkan saat suka lebih banyak warna putih. Yang putih ini pun digunakan dalam upacara pernikahan. Orang tua pengantin perempuan mangulosi ayah pengantin pria, untuk mabolang-bolangi (menghormatinya).

Suri-suri panjang. Coraknya berbentuk sisir memanjang dan dulu digunakan untuk hande-hande atau ampe-ampe. Lebih panjang dari yang biasanya,  hingga dua kalinya.

Mangiring.  Motifnya beriringan dan merupakan simbol dari kesuburan dan kesepakatan. Diberikan orang tua sebagai parompa kepada cucunya. Digunakan juga untuk pakaian sehari-hari dalam bentuk tali-tali oleh kaum Adam dan sebagai tudung oleh kaum Hawa.

Bintang Maratur. Memunculkan bintang-bintang yang beraturan sebagai lambang dari orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Bahkan juga dalam soal kekayaan dan kemuliaan, ditunjukkan berada dalam tingkatan yang sama. Corak ini juga menunjukkan harapan agar setelah anak pertama lahir anak-anak lainnya.

Sitoluntuho-bolean. Biasanya digunakan sebagai ikat kepala bagi pria atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna, kecuali diberikan kepada anak baru lahir sebagai parompa.

Jungkit. Ini jenis nanidondang atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari kain tersebut.

Lobu-lobu. Yang satu ini digunakan untuk keperluan khusus, terutama orang yang sering dirundung malam, misal kematian anak, karena itu dipesan langsung oleh yang memerlukannya.


Dua Ulos

(berdasar ukuran)

  1. Na Balga. Inilah jenis untuk kelompok masyarakat papan atas. Biasanya digunakan pada upacara adat saat mangulosi maupun digunakan sebagai pakaian resmi.
  2. Na Met-met. Jenis yang hanya digunakan sehari-hari. Ukurannya panjang dengan lebarnya jauh lebih kecil dari biasanya. Tidak digunakan dalam upacara adat.

Arti harfiah. Berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindungi dari  udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber panas bagi manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiganya, yang paling nyaman dan akrab dengan kehidupan tak lain kain tradisional ini.

Penggunaan. Kain ini digunakan bisa digunakan dari bagian tubuh atas hingga bawah. Dihadanghon bila disampirkan di bahu atau menjadi selendang. Untuk wanita disebut hoba-hoba  (bahu) atau ampe-ampe (selendang). Diabithon sebagai sarung atau saong. Dililithon ketika  dililitkan di kepala atau pinggang.  Pada pria disebut detar bila digunakan sebagai penutup kepala dan haen bila digunakan di bawah.

Uis atau Hiou. Suku Batak menyebut kain yang digunakan upacara adat dan sehari-hari adalah ulos. Suku Karo menamainya uis. Untuk jenisnya ada nama sendiri, seperti uis beka buluh, uis jungkit dilaki, uis nipeh padang rusak, uis nipes benang iring. Sedangkan suku Simalungun mengenalnya sebagai hiou. Muncul dengan motif yang berlainan juga, termasuk kekhasan pada penggunaannya sebagai penutup kepala.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Adat Sekaten, Beda Yogya dan Solo (2)

Adat Sekaten Solo secara umum sama dengan yang digelar Kraton Yogyakarta, urutan detilnya yang ada perbedaan. Foto: Surakarta.go.id

Adat Sekaten yang diselenggarakan di Surakarta atau Solo secara garis besar, rentetan kegiatan serta pelaksanaannya bisa dibilang cukup serupa dengan yang diadakan di Yogyakarta. Kalau pun ada perbedaan, itu lebih pada detail-detail kecil.

Adat Sekaten

Adat Sekaten Solo juga diadakan selama sepekan dan pada kurun waktu yang sama pula dengan yang di Yogyakarta. Rangkaian acaranya pun mirip, ditandai dengan dikeluarkannya gamelan pusaka keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Masjid Agung Surakarta.

Selama satu minggu, kedua gamelan pusaka Surakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, dimainkan selama gelaran adat Sekaten berlangsung. Di sela-sela permainan tersebut, juga aka nada pembacaan doa-doa serta ayat-ayat suci Al-Quran.

Adat Sekaten Solo memiliki beberapa hal yang berbeda dengan yang diselenggarakan di Yogyakarta.
Keraton Surakarta Hadiningrat. Foto: shutterstock

Konon, gamelan Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan dari era Sri Susuhunan Pakubuwono IV, sementara Kyai Guntur Sari adalah peninggalan dari masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo di kerajaan Mataram.

Sebelum kegiatan tersebut, ada pula ritual yang dilakukan bagi para pengrawit (pemain seni karawitan) yang bertugas. Melakukan puasa, memberikan sesajen berupa kembang dan buah buahan kepada kedua gamelan pusaka, serta mengenakan seragam khusus selama acara berlangsung merupakan beberapa di antaranya.

Acara dibuka dengan adat Miyos Gongso, yaitu dibawanya kedua gamelan pusaka tersebut menuju area bangsal utara dan selatan masjid oleh sekitar 120 abdi dalem keraton. Dari situ, Kyai Guntur Madu akan dimainkan terlebih dulu, baru setelahnya Kyai Guntur Sari dimainkan.

Adat permainan pembuka kedua gamelan tersebut, yang disebut sebagai Ungeling Gongso, dianggap sebagai representasi akan dua kalimat syahadat. Ketika Kyai Guntur Madu dimainkan pertama kali, gending yang dimainkan berjudul ‘Rabbuna’ yang berarti Tuhan, representasi dari kalimat ‘aku percaya tiada Tuhan selain Allah’.

Setelahnya, pengrawit memainkan Kyai Guntur Sari dengan gending berjudul ‘Roukhun’. Secara etimologi, kata ini bermakna nabi atau khalifah, yang kemudian bisa dimaknai sebagai kalimat ‘aku percaya Nabi Muhammad adalah rasul Allah’.

Setiap harinya gamelan akan dimainkan mulai dari jam 09.00 sampai waktu sholat Dzuhur. Kemudian dimainkan lagi setelah sholat Ashar sampai waktu Maghrib. Setelah Isya, gamelan dimainkan kembali sampai pukul 24.00.

Gamelan juga tidak boleh dimainkan dari Maghrib di hari Kamis hingga setelah sholat Jumat. Kesemuanya menjadi tanda menghormati sholat lima waktu serta hari Jumat yang sakral bagi umat Muslim, sejalan dengan khitah Sekaten sebagai alat syiar Islam.

Ada pula beberapa adat lain yang serupa, misalnya seperti mengunyah sirih ketika gamelan pertama kali mulai dimainkan. Adat ini dipercaya sebagai doa agar senantiasa sehat dan awet muda.

Begitu pula budaya pasar malam sebagai pelengkap perayaan Sekaten. Di Solo, pasar malam Sekaten diadakan di alun alun utara dan selatan. Warga pun dapat datang serta berpartisipasi dengan berjualan kuliner-kuliner khas Solo, sebagai wujud turut meramaikan gelaran tersebut.

Tetapi memang ada beberapa perbedaan kecil pada detail pelaksanaan acara. Seperti misalnya tidak adanya budaya pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW serta Udhik-Udhik, alias menebarkan koin logam, beras dan bunga seperti yang dilakukan Sri Sultan di Yogyakarta.

Pada perayaan adat Sekaten di Solo juga tidak terdapat adat Numpak Wajik sebagai tanda persiapan pembuatan gunungan yang akan diarak pada acara puncak Grebeg Mulud. Tidak ada pula prosesi Kundur Gongso, yaitu pengembalian gamelan-gamelan pusaka kembali ke tempatnya.

Sebaliknya, salah satu adat Sekaten Solo yang tidak terdapat di perayaan Sekaten Yogyakarta adalah penggunaan janur kuning sebagai hiasan di bangsal masjid. Nantinya, beberapa janur tersebut akan diperebutkan warga sekitar sebagai tanda keberkahan.

Selain itu, di Yogyakarta gamelan-gamelan pusaka sudah mulai dimainkan pada malam sebelum pekan puncak perayaan Sekaten dilangsungkan. Pertunjukan gamelan ini berlangsung dari pukul 19.00 hingga 23.00.

Setelahnya, baru akan terjadi prosesi pemindahan gamelan-gamelan tersebut menuju Masjid Gede Kauman. Sementara di Solo, gamelan baru mulai dimainkan setelah prosesi Miyos Gongso dilaksanakan.

Perbedaan lainnya juga terletak pada detail pelaksanaan acara puncak, yakni Grebeg Mulud. Di Yogyakarta, gunungan yang dibuat biasanya sekitar 5 hingga 6 buah. Adapun di Solo, gunungan yang dibuat hanya ada dua, yaitu gunungan jaler dan estri.

Gunungan jaler merepresentasikan gunungan laki-laki, sedangkan gunungan estri sebagai gunungan perempuan. Lain daripada itu, gunungan tersebut sama-sama diarak dari keraton menuju masjid untuk didoakan, sebelum dibawa keluar dan diperebutkan oleh warga.

Adat Sekaton Solo diselenggarakan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
Patung Slamet Riyadi sebagai salah satu landmark Surakarta yang berada di mulut masuk Alun-ALun Utara Keraton Solo. Foto: Dok. shutterstock

Isi dari gunungan tersebut pun sama-sama hasil alam seperti sayuran, buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Warga setempat juga sama-sama percaya bahwa isi dari gunungan tersebut bermakna keberkahan, sehingga berebut mengambil isinya turut menjadi budaya.

Selebihnya, kedua upacara adat tersebut bisa dikatakan tak punya perbedaan signifikan lainnya. Niat dan semangat luhur dari keduanya pun sama-sama untuk merayakan, serta rasa syukur sebagai umat Islam dalam rangka hari raya Maulid Nabi Muhammad SAW.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ulos, Persaudaraan, Pengharapan dan Sebuah Nasehat (Bagian 1)

Ulos Kain tradisional Batak shutterstock

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia juga mengandung arti persaudaraan, pegharapan dan nasehat.

Ulos, Adat Dan Tradisi

Di sepotong siang yang terik, pada sebuah rumah berlantai semen berdinding tembok tanpa cat di Desa Penampangan, Samosir, Sumatera Utara, Rini yang kini berusia 12 tahun itu tengah berasyik-masyuk bersama hasoli dan turak. Di sekitarnya tampak pula pagabe, baliga, hatudungan, sidurukan, pamapan, panghulhulan, dan juga panggiunan. Berbagai nama tersebut di atas bukanlah nama teman bermain dari sang dara, melainkan bagian-bagian dari alat tenun. Di sudut yang lain si nenek memendangi sang cucu yang tengah martonung (menenun), dengan rasa bungah.

Hasoli adalah  tempat gulungan benang dan turak  yang terbuat dari bambu kecil yang berfungsi memasukkan benang di sela-sela benang yang ditenun.  Turak dan hasoli menyatu dan berjalan seiring. Turak lah yang membuka jalan sehingga benang bisa menari di antara untaian benang lain sehingga membentuk beragam motif. Pendukung lainnya, pagabe berupa dua potong kayu yang mengapit tubuh, sehingga menopang tubuh sekaligus menjadi penahan alat tenun. Pamapan termasuk bagian utama dari alat tenun, berupa kayu besar dan dua kayu di kiri dan kanan.

Di bagian tengah, di antara benang dan kain setengah jadi, ada baliga, yang memadatkan benang-benang yang terjalin. Sidurukan adalah tempat menaruh baliga. Ada pula panghulhulan berfungsi seperti palet pada mesin jahit, penggiunan adalah penarik benang. Benangnya sendiri disebut giun, dan alat untuk memasang benang sebelum ditenun adalah hatonungan. Lantas alat tenun itu sendiri tak lain alat tradisional gedogan.

Itulah seperangkat alat tenun yang telah menjadi teman akrab Rini sejak kelas 5 Sekolah Dasar, Jemarinya yang lentik selalu memainkannya lidi-lidi yang membentuk konfigurasi benang menjadi motif atau corak kain. Ini dilakukannya selama 2-3 jam saban pulang sekolah. Kini Rini biasa merampungkan selembar ulos berukuran panjang 1,5 meter lebar 40 sentimeter dalam sepekan. “Dia masih anak-anak, lidi yang dipakai baru lima, belum bisa bikin yang pakai banyak warna,” kata si opung.

Dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis ulos. Dalam membuat ulos, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Menurut penuturan si nenek Rini, masyarakat sekarang cenderung menyukai ulos yang dipenuhi dengan benang emas. Menurut si opung, makin banyak warna makin tinggi nilai rupiahnya. Ulos biasa dijual pada kisaran harga Rp 150-400 ribu. Tak jauh dari rumah Rini itu, ada pula beberapa rumah yang juga memproduksi ulos. Biasanya, dalam setiap rumah prosuksi, paling tidak ada lima perempuan penganggit. Seorang di antaranya sudah dalam tingkat mahir, atau beraksi dengan 12 lidi.

Di desa yang berlokasi sekitar 40 km dari Tomok, pelabuhan kecil untuk penyeberangan feri ke Parapat, ini memang dihuni oleh banyak penenun, hingga menjadi magnet tersendiri bagi para pedagang ulos. Di satu jalan desa saja, dalam jarak hanya 500 meter sudah ada tiga kelompok penenun, salah satunya memiliki keunikan karena masih tinggal di rumah adat dan mereka menggelar tikar di depan rumah dan duduk beramai-ramai menenun. Selalu ada pedagang dari luar yang rutin datang mengumpulkan kain adat tersebut.

Di halaman tanah memanjang itu ada dua kelompok perempuan asik dengan gedogan. Salah satunya perempuan boru Silalahi, 62 tahun. Di kiri kanan diapit saudaranya. Tak hanya ulos tapi juga songket Batak pun dibuatnya. Kain songket dalam warna kuning dan biru tampak mencolok. Semuanya ia pajang di tali yang merentang di depannya sehingga mirip jemuran. Perempuan ramah itu mengaku bisa membuat ulos jenis apapun dan dari daerah manapun di Sumatera Utara. “Bisa pesan kalau mau,” ujarnya.

Jenis ulos setiap wilayah di Sumatera Utara berbeda. Ibu lima anak itu bisa dengan rinci menjelaskan beberapa perbedaan itu. Ulos Batak Toba, misalnya, kebanyakan bercirikan  warna redup, dominasi pada hitam dan abu-abu dengan corak yang lebih simpel. Berbeda lagi dengan ulos Karo. Banyak menggunakan warna dasar merah dan terang. Dan kain tradisional itu disebut sebagai uis. Sedangkan ulos Tarutung  memunculkan corak beragam dan warna cerah. Demikian juga dengan ulos Simalungun yang bermain dalam warna biru, merah, dan oranye selain juga hitam. Dikenal sebagai hoiu.

Hanya beberapa meter dari boru Silalahi, empat perempuan lanjut usia tengah tenggelam dalam keasyikan memainkan baliga dan lidi. Tanpa bersuara. Keempatnya menenun dengan teknik ikat lungsi – mengikat benang yang disusun memanjang – dan ketekunan menjadi modal utamanya. Tak mengherankan lebih banyak kaum Hawa dan lebih dominan juga yang berusia lanjut ketimbang remaja. Beruntung di Samsosir, jumlah penenun masih cukup banyak. Di Desa Perbaba, dekat Pangururan, pun bisa ditemukan lagi kelompok penenun.

Bahkan pengusaha kain ulos di Pematang Siantar pun, banyak yang belajar menenun di Samosir, dan beberapa malahan memang berasal dari kabupaten tersebut. Di Parluasan, tak jauh dari pasar, penenun berkumpul di beberapa rumah, setiap rumah ada sekitar 5-7 penenun. Sejumlah penenun Samosir pun mengadu nasib ke Medan. Di ibu kota Sumut, aneka ulos dan songket itu dijual di Pasar Sentral atau tepatnya di Pusat Pasar Lama. 

Ada sekitar 12 kios yang menjajakan aneka kain tradisional, tak hanya ulos tapi juga aneka songket, lengkap dengan kebaya. Salah satunya milik boru Simbolon yang mengusung nama UD Parna Tex, ia menjual kain dari harga Rp 15 ribu hingga Rp 1,5 juta. Satu motif pun bisa berbeda harga, tergantung jenis benang dan pengerjaannya, misal ulos ragi hotang ada yang dijual Rp 50 ribu, tapi ada pula yang lebih halus Rp 150-200 ribu.

Ulos memang tak bisa terpisahkan dari kehidupan suku Batak. Dalam suka maupun duka. Bahkan setiap masa penting dalam kehidupan seseorang pun tak lepas dari ulos. Ada tiga momen penting yang dimaknai dengan ulos, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Setiap kesempatan itu, ulos yang digunakan berbeda. Sewaktu lahir, kakek nenek memberi ulos parompa atau ulos gendong, kemudian ketika menikah akan menerima ulos hela (ulos untuk menantu) dan ketika meninggal mendapat ulos saput. Pemberinya adalah kelompok marga dari istri atau dalihan natulo yang disebut sebagai hula-hula.

Jadilah mangulosi atau memberi ulos menjadi ritual yang penting dalam adat Batak. Pemberian itu tak hanya seperti kado biasa, ketika seorang pelancong membeli ulos sebagai suvenir dan menyebarkannya kepada handai tulan atau sahabat ketika kembali ke kota asalnya. Melainkan mengandung makna yang dalam, yakni pemberian restu, menunjukkan rasa kasih sayang, pengharapan pada hal-hal yang baik. Makna itu tersurat dalam pepatah lawas, Ijo pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong. Maknanya, jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Maka ketika diberikan kepada menantu laki-laki, ulos berarti sebuah nasehat agar paham kerabat yang harus dihormati, hormat kepada kerabat istri dan lemah lembut kepada keluarga. Bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, ulos juga menjadi sebuah penghormatan terhadap jasanya sebagai istri. Sekaligus juga menjadi tanda bahwa dia telah menjadi janda. Secara umum, ada beberapa ketentuan dalam ritual adat ini. Misal yang diberi ulos haruslah secara silsihan keturunan berada pada tingkatan di bawah pemberi ulos, kemudian jenis yang diberikan juga harus sesuai dengan kesempatannya. Apakah kelahiran, pernikahan atau kematian? Motif dan warnanya selalu berbeda.

Dari motif ada pula nama-nama khususnya dan corak pun menjadi sebuah simbol. Beberapa yang dikenal luas adalah ragidup, ragi hotang. bintang maratur, sadum, suri-suri panjang, mangiring. Lantas dari penggunaannya, ulos bisa digunakan di beberapa bagian tubuh, seperti di kepala, penutup bahu, selendang, di bagian tubuh bawah hingga menjadi kain gendongan. Makna, fungsi dan kesempatan penggunaannya membuat ulos memang begitu kompleks sekaligus menjadi sebuah kebanggaan bangsa ini.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Tradisi Sekaten, Apa Beda Yogya dan Solo (1)

Tradisi Sekaten menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Foto: Dok. Dinas Pariwisata Yogyakarta

Tradisi Sekaten bagi masyarakat Jawa adalah saat di mana kegembiraan dan rasa syukur dirayakan. Dalam budaya Jawa, tradisi ini merupakan kegembiraan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini biasanya dilakukan setahun sekali, merunut pada kalender Jawa dari tanggal 5 hingga 11 Mulud, atau Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.

Tradisi Sekaten

Tahun ini perayaan tersebut tengah berlangsung dan diselenggarakan antara 16 September hingga 16 Oktober. Dengan puncaknya saat Maulid Nabi Muhammad SAW pada 7-8 Oktober.

Ada beberapa versi mengapa perayaan ini disebut Sekaten. Yang paling populer adalah nama ini menyadur dari sebuah kata dari bahasa Arab ‘syahadatain’ yang bisa diartikan sebagai persaksian, sebagaimana umat Islam bersaksi akan kepercayaan mereka terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dalam kalimat syahadat.

Tradisi Sekaten merupakan kegembiraan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Sekaten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Foto: dok. shutterstock

Versi lainnya menyebutkan bahwa Sekaten berasal dari gabungan kata ‘suka’ dan ‘ati’ dalam pelafalan Jawa. Artinya, Sekaten dimaknai sebagai rasa suka cita masyarakat Jawa dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada pula versi yang mengatakan bahwa tradisi Sekaten terinspirasi dari nama salah satu gamelan pusaka milik keraton Yogyakarta, yang dinamai Kanjeng Nyai Sekati. Gamelan pusaka ini biasanya akan digunakan dalam rangkaian perayaan tradisi tersebut.

Asal-usul acara perayaan ini sendiri diyakini bermula dari jaman kerajaan Demak. Kala itu, salah seorang anggota Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga, menyelenggarakan acara ini sebagai media berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam.

Acara tersebut biasanya berupa pentas seni karawitan atau musik gamelan yang dilaksanakan di halaman Masjid Agung Demak pada saat itu. Menurutnya, mayoritas masyarakat Jawa ketika itu menggemari acara karawitan, sehingga banyak yang kemudian akan berbondong-bondong datang.

Lewat seni karawitan tersebut, ia lantas memanfaatkan momen itu untuk berkhotbah dan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Dari situlah, banyak orang yang kemudian ikut tertarik untuk belajar dan memeluk agama Islam.

Budaya tersebut kemudian dicampur dengan adat kerajaan Majapahit yang melakukan arak-arakan dengan menggunakan sesajen. Hal ini sebagai wujud penghormatan pada arwah leluhur, dalam konteks tradisi Sekaten sebagai penghormatan bagi Nabi Muhammad SAW sekaligus doa agar rakyat senantiasa sejahtera dan berkehidupan seperti sang suri teladan.

Upacara adat ini kemudian lazim dilaksanakan oleh dua keraton kesultanan Mataram Jawa, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta dan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Solo. Secara umum kedua acara dilaksanakan dengan adat yang mirip, walaupun ada juga beberapa perbedaannya.

Di Yogyakarta dulunya acara ini diadakan di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta, yang terletak di area alun-alun utara. Acara biasanya dimulai dari jam 16.00 hingga 24.00, selama sepekan kecuali pada malam Jumat atau Kamis malam. Gamelan pusaka tak boleh dimainkan pada periode tersebut sampai setelah sholat Jumat.

Sebelum acara dimulai, tiga gamelan pusaka keraton yakni Kanjeng Nyai Sekati, Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari keraton dan diletakkan di halaman masjid. Prosesi ini menandakan bahwa upacara adat siap dilaksanakan.

Para Abdi Dalem keraton yang bertugas memainkan gamelan pusaka juga diminta melakukan ritual tertentu sebelum pergelaran dimulai. Mereka diharuskan berpuasa sambil melakukan siram jamas (mandi sambil keramas) sebelum dibolehkan berpartisipasi.

Gamelan pusaka tersebut konon dibuat oleh Sunan Giri yang pandai berkesenian karawitan. Alat pemukulnya terbuat dari tanduk kerbau, yang dapat menghasilkan bunyi yang jernih dan nyaring. Cara memukulnya pun harus diangkat setinggi dahi sebelum dipukul.

Daftar lagu-lagu yang dimainkan juga khusus untuk acara ini, dan dinamakan Gendhing Sekaten. Beberapa lagu ini dulunya disebut menjadi lagu yang dimainkan pada acara karawitan di jaman kerajaan Demak.

Di sela-sela pementasan tersebut, akan diselipkan beberapa kegiatan yang melengkapi rangkaian acara, seperti tari tradisional dan pembacaan ayat suci Al-Quran. Ketika acara dimulai ada pula budaya mengunyah sirih di sekitar halaman masjid. Budaya ini diyakini sebagai wujud doa agar sehat selalu dan awet muda.

Lalu, pada malam hari, ketika Sri Sultan Hamengkubuwono hadir di tempat, ia akan melakukan Udhik-Udhik atau menyebarkan koin logam kepada guru besar masjid, Abdi Dalem dan warga yang hadir. Koin-koin tersebut dipercaya sebagai simbol meraih keberuntungan dan kesejahteraan.

Sri Sultan biasanya akan hadir pada saat pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Pada momen itu, beliau akan dipasangkan bunga cempaka pada telinga sebelah kanan. Biasanya ini terjadi pada malam terakhir perayaan Sekaten.

Di luar masjid, akan terdapat banyak penjual nasi gurih beserta lauk pauknya yang dinamakan nasi wudug, yaitu nasi yang dibuat dengan minyak samin. Nasi ini konon disebut sebagai salah satu makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW.

Biasanya akan terdapat pula pasar malam Sekaten yang diselenggarakan di area alun-alun. Walaupun akhir-akhir ini, acara tidak lagi diadakan di sana untuk menjaga kebersihan dan ketertiban di area alun-alun.

Secara teknis pasar malam bukan bagian utama dari acara. Tetapi gelaran ini tetap dilaksanakan selama sebulan penuh dalam kurun waktu bersamaan dengan tradisi Sekaten, agar warga dapat turut andil dalam meramaikan perayaan tersebut.

Antara hari keempat hingga keenam perayaan, akan dilakukan adat tradisional yang disebut Numplak Wajik. Pada momen ini, kentongan dan lumpang akan dibunyikan. Kegiatan ini juga biasa disebut ‘kotekan’, yang menandai dimulainya persiapan pembuatan gunungan yang akan diarak pada acara puncak.

Pada akhir acara di hari terakhir, akan ada prosesi pengembalian gamelan pusaka kembali ke tempatnya di keraton, yang dinamakan Kondur Gongso. Prosesi ini sekaligus menandai berakhirnya rangkaian perayaan tradisi Sekaten.

Tradisi Sekaten diselenggarakan dua kraton di Jawa, Yogyakarta dan Surakarta. Walaupun semangatnya sama, ada sejumlah perbedaan di natara ke duanya.
Gunungan Sekaten yang terdiri dari hasil bumi sebagai simbol kesejahteraan. Foto: DOk. shutterstock

Namun puncak acara akan berlangsung pada keesokan harinya, persis pada hari Maulid Nabi, yang lazim disebut Grebeg Maulud. Ini merupakan acara arak-arakan gunungan oleh seluruh brigade pasukan keraton. Acara ini biasanya berlangsung dari jam 08.00 sampai 11.00.

Gunungan yang dimaksud di sini adalah makanan dan bahan bakunya seperti beras ketan, sayuran dan buah-buahan yang disusun menggunung. Gunungan tersebut melambangkan rasa syukur atas kemakmuran hasil bumi.

Biasanya, gunungan dibagi menjadi beberapa jenis dan simbolnya, seperti gunungan kakung, putri, dharat, gepak dan pawuhan. Gunungan kakung memiliki simbol sebagai sang baginda raja, gunungan putri sebagai permaisuri, gunungan dharat dan gepak sebagai para pangeran dan putri, serta gunungan pawuhan sebagai cucu-cucunya.

Gunungan-gunungan tersebut kemudian dibawa ke Masjid Gede untuk didoakan. Setelah selesai, gunungan lantas dibawa ke area alun-alun untuk diperebutkan warga. Lazimnya, beberapa di antara mereka adalah petani. DI masa kini tentu saja semua warga masyarakat.

Mereka percaya gunungan yang telah didoakan bernilai sakral, sehingga bagian dari gunungan yang mereka dapatkan akan ditanam di sawah dan ladang mereka. Harapannya, sawah dan ladang mereka akan senantiasa subur, bebas bencana dan dapat dipanen hasil yang terbaik.

Namun secara mendasar Grebeg Maulud ini menjadi simbol kepedulian Sri Sultan dan keraton kepada warganya, agar mereka dapat turut hidup dalam keberkahan dan kesejahteraan. Sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk senantiasa murah hati, bersedekah dan membantu mereka yang membutuhkan.

(Bersambung ke Bagian 2)

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****