3 Kampung Kumuh Berganti Rupa

original BPW2017042104

3 Kampung kumuh berganti rupa kini. Sebelumnya ketiganya tak banyak dilirik orang. Kini malah menjadi salah satu tujuan wisata.

Mulai pangkal timur di Jawa Timur, hingga ujung barat, Pulau Jawa tak ubahnya sebuah daratan padat penduduk—bila dipotret melalui kamera udara. Di titik-titik tertentu, utamanya di wilayah perkotaan, area-area kumuh bermunculan. Namun belakangan beberapa titik itu disulap menjadi permukiman berwarna-warni, layaknya wahana berfoto yang memanjakan mata. Langkah ini berhasil mengubah citra kampung-kampung yang terkenal cemar menjadi solek. 

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa dan Bersolek

Berikut adalah tiga contoh kampung yang tadinya berkesan kumuh yang diubah dan didandani menjadi tenpat yang bahkan layak dibanggakan warga kotanya. Tak sedikit warga yang membawa tamunya untuk sekadar berswafoto di kampung-kampung tersebut.

KAMPUNG PELANGI GUNUNG BRINTIK SEMARANG

Sekitar 900 meter dari Lawang Sewu, kota Semarang, Jawa Tengah, berdiri sebuah kampung—tempat bermukimnya 325 keluarga—bernama Gunung Brintik. Sedari dulu, perkampungan ini “dipotret” sebagai area kumuh di kota administrasi. Warga sekitar pesimistis wilayah tersebut bakal memiliki kehidupan yang baik lantaran kondisinya cukup memprihatinkan. Misalnya, tembok-tembok tak terplester dengan semestinya. Tumbuhan-tumbuhan liar merambat sesuka hati, tak dibersihkan atau dipotong.

Namun, mulai bulan keempat 2017, kampung tersebut disulap menjadi berwarna-warni, layaknya kampung pelangi. Pemerintah Kota Semarang setempat menginisiasinya. Renovasi Kampung Brintik tercatat dalam rencana perbaikan Pasar Kembang Kalisari, yang berada tepat di depannya.

Pemerintah menggandeng swasta untuk merenovasi kampung itu. Dana sekitar Rp 3 miliar digelontorkan untuk mengecat hampir semua sisi kampung dengan warna dan pola yang bervariasi. Ada juga mural-mural khas anak muda yang bisa dimanfaatkan sebagai latar swafoto. Selain itu, kampung ini menjadi wahana baru bagi para fotografer untuk membidik gambar.

Dengan begini, Gunung Brintik menjadi salah satu alternatif tujuan wisata yang bisa didatangi pelancong, selain Kota Tua dan Gereja Belenduk. Untuk menuju ke sana, wisatawan cukup berjalan kaki lebih-kurang 13 menit dari Lawang Sewu atau Tugu Muda menuju Pasar Kembang Kalisari. Kampung itu letaknya tepat di muka pasar. Kampung ini jadi kebanggaan warga Jawa Tengah.

KAMPUNG JODIPAN MALANG

Beranjak ke Jawa bagian timur, di Desa Jodipan, Blimbingan, Malang, ada sebuah permukiman yang menyajikan pemandangan serupa, seperti yang terdapat di Semarang. Letaknya persis di pusat kota, dan bisa diakses melalui jalan utama Malang-Blitar. Dulunya, kampung yang berada di bantaran Sungai Brantas ini merupakan kawasan camar, rawan banjir, dan tak terawat. Kini, setelah ide dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)—dan pengusaha cat lokal—untuk merenovasi tercetus, Jodipan berubah wajah menjadi kampung yang tak lagi buruk rupa. 

Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan berkontur tak rata itu dicat dengan beragam warna. Tembok dan gentingnya molek, layaknya pelangi penuh rona—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. 

Cat yang digunakan untuk memoles tentu yang memiliki karakter mencolok sehingga menarik perhatian siapa pun yang melintas, lebih-lebih para pemburu gambar.

Kampung Jodipan lantas menjadi arena foto yang “seksi”. Sebab, memotret permukiman ini bisa dilakukan dan dibidik dari mana saja. Bisa dari dalam kampung, bisa juga di atas jembatan Sungai Brantas. 

Pengunjung yang ingin bertandang disarankan datang menggunakan sepeda motor karena keterbatasan akses. Biaya parkirnya Rp 2.000. Dapat jua berjalan kaki dari Stasiun Kota Baru menuju Jalan Gatot Subroto (Pecinan). Sedangkan untuk masuk kampung, pelancong tak bakal dipungut biaya. 

KAMPUNG CODE YOGYAKARTA

Pada pertengahan 1980, kampung yang dipenuhi dengan bangunan kayu yang kumuh dan tak terawat itu disulap menjadi arena seni oleh pemuka agama Katolik sekaligus arsitek kesohor, Y.B. Mangunwijaya.

Bentuk rumah yang semula tumpang-tindih mulai ditata mengikuti kontur. Fasilitas umum, layaknya toilet dan balai pertemuan, mulai dibangun. Tembok kosong dilukis penuh mural berisi kritik sosial. Pot-pot bunga diletakkan di pinggir aliran Kali Code, kota Yogyakarta.

 Perubahan terjadi lagi pada 2015. Rumah-rumah dicat warna-warni menyerupai perkampungan di Rio de Janeiro, Brasil. Sejak itu,travelermemasukkan Kampung Code ke list itinerary. Tak hanya bisa berfoto, pelancong dapat berwisata sejarah di tempat tersebut, memahami bagaimana proses perkampungan kumuh itu kini menjadi arena yang estetis. Untuk menuju Kampung Code, wisatawan bisa jalan kaki lebih-kurang 20 menit dari Stasiun Tugu atau Malioboro. Sebab, letaknya persis berada di jantung kota.

*****