Tradisi Pemakaman Di Indonesia, 4 Yang Unik

Tradisi pemakaman di Indonesia ada bagian masyarakat yang melakukannya dengan unik dan kaya falsafah.

Tradisi pemakaman di Indonesia ada beberapa yang luar biasa, dan kaya akan kebudayaan setempat. Ada istiadat pemakaman tak semata mengubur sanak saudara atau keluarga yang meninggal, namun memiliki falsafah yang dalam.

Tradisi Pemakaman di Indonesia

Upacara pemakaman di sejumlah daerah ini merupakan serangkaian kegiatan yang rumit terkait, karena adanya ikatan adat dan tradisi setempat. Kadang ada yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun hingga berbulan-bulan. Soal biaya ini, kadang ada kebiasaan tersendiri. Ada adat masyarakat yang menabung terlebih dahulu hingga terkumpul uang untuk melaksanakan upacara pemakaman secara lengkap.

Upacara adat ngaben dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, misalnya, memiliki tiga jenis: Ngaben Sawa Wedana; Ngaben Asti Wedana; dan Swasta. Ngaben sendiri adalah pemakaman keluarga dengan tradisi pembakaran. Sawa Wedana dilakukan terhadap jenasah langsung setelah meninggal. Biasanya 3-7 hari setelah meninggal.

Sementara ngaben Asti Wedana, biasanya dilakukan pada mereka yang meninggal kemudian dimakamkan atau dikuburkan terlebih dahulu. Sehingga yang dimakamkan biasanya adalah kerangkanya. Sedangkan ngaben Swasta adalah pembakaran tanpa adanya jenasah atau kerangka. Biasanya karena yang meninggal berada di luar negeri dan tidak memungkinkan dibawa pulang, atau meninggal karena kecelakaan pesawat, misalnya.

Selain ngaben, masih ada beberapa tradisi pemakaman yang unik di Indonesia. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Rambu Solo di Tana Toraja

Tana Toraja mempunyai upacara adat yang biasa dilakukan, yakni Rambu Solo. Upacara Rambu Solo merupakan upacara pemakaman. Pada upacara ritual ini, penduduk Toraja percaya arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, memang terkenal unik. Ada jenazah yang digantung bersama dengan petinya pada dinding tebing, selain ditaruh dalam gua. Ada pula yang dikubur di lubang tebing. Di Buntu Pune dan Kete Kesu, misalnya. Erong atau peti mati digantung pada dinding tebing. Sementara itu, di Londa, erong tak hanya digantung di dinding tebing, tapi juga ditaruh dalam gua. Lain halnya dengan erong-erong di Lemo. Erong di sana dimasukkan dalam dinding tebing yang sudah dilubangi.

Selain itu, ada Baby Grave. Letaknya di Kambira, tidak terlalu jauh dari Lemo. Di desa yang terletakdi tenggara Rantepao ini, terdapat kuburan bayi di batang pohon Taraa. Mayat bayi diletakkan dalam lubang pohon tanpa dibungkus apa pun. Lubang ini kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Tidak ada bau busuk sama sekali meskipun terdapat banyak lubang pohon berisi jenasah.

Tradisi pemakaman di Indonesia mempunyai beragam warna. Salah satu di antaranya adalah di Trunyan, Bali.
Kehidupan tradisi di Desa Trunyan , Kintamani, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Trunyan Bali

Seperti diceritakan di muka, di Bali umumnya orang yang meninggal akan dikubur atau dibakar dengan upacara ngaben. Namun generasi penerus keturunan Bali Aga di Desa Trunyan punya tradisi berbeda. Orang yang meninggal justru ditaruh di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Warga desa yang terletak
di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, ini memang memiliki tradisi unik yang masih dipertahankan sejak dulu hingga sekarang. Mereka “menguburkan” jenazah dengan cara dibaringkan di atas tanah yang disebut Sema Wayah.

Posisi jenazah berjejer bersandingan, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh pada waktu prosesi. Jadi, yang terlihat hanya bagian muka jenazah melalui celah bambu ”Ancak Saji”. Ancak
Saji adalah anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi melindungi jenazah dari serangan atau gangguan binatang buas.

Dayak Benuaq, Kalimantan Timur

SUKU Dayak Benuaq atau suku Dayak Bentian di Kalimantan Timur

juga memiliki prosesi khusus untuk menguburkan manusia yang sudah meninggal. Kuburan akan mudah ditemukan di halaman samping rumah atau tepi jalan menuju kampung suku Dayak Benuaq.

Uniknya, jenazah orang Benuaq atau Bentian tidak dikubur dalam tanah atau tebing layaknya tradisi suku lain. Kuburan berbentuk kotak itu disangga tiang atau digantung dengan tali. Setelah beberapa tahun, kuburan tersebut dibuka lagi, lalu tulang-belulang jenazah didoakan dan dimasukkan dalam kotak bertiang permanen.

Tradisi pemakaman di indonesia ada berbagai ragamnya dan keunikannya. Salah satunya Waruga di Minahasa.
Waruga, pemakaman di Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Foto: Dok. shuterstock

Waruga, Minahasa

Di Minahasa zaman dulu, ada memiliki tradisi untuk membuat makam yang nantinya akan mereka tempati sendiri. Mereka juga percaya bahwa makam harus dibuat seindah mungkin untuk menghormati roh si orang meninggal.
Waruga merupakan makam yang terdiri dari dua batu. Batu pertama berbentuk peti dan batu ke dua berbentuk menyerupai limas. Biasanya, waruga akan dihiasi ornamen ukiran hewan, manusia, tanaman, ataupun geometri. Beberapa waruga juga memiliki ornamen berupa kisah hidup manusia.

agendaIndonesia

*****