Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL

Panggilan Ombak Sumbawa Barat

shutterstock 174246365

Maluk, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang menjadi pilihan saya menginap malam pertama di pulau yang berada di seberang Lombok ini. Tak jauh dari Taliwang, Maluk mempunyai pantai berpasir putih nan lembut. Pukul 06.30 pagi saya sudah menginjak obyek wisata ini. Huruf M A L U K menghiasi bagian depan pantai. Sepagi itu jajaran warung masih belum buka. 

Pantai yang diapit dua bukit itu hening saat pagi ketika saya mencecap sinar mentari yang muncul dari balik Bukit Mantun di sisi utara. Menerobos hingga selatan yang dibatasi Bukit Balas. Segar dan hangat rasanya. Di tengah teluk, ada satu perahu nelayan mengais rezeki. Seorang pria berdiri di bagian depan dengan sebilah kayu panjang yang ia pukul keras ke laut. Rupanya, ia tengah menggiring ikan ke jaringnya. Suara motor perahu dan pukulannya pun memecah keheningan.

Sumbawa Barat, Surga Kecil Peselancar

Teluk yang tenang itu begitu menenteramkan. Namun, di salah satu sisinya, ternyata ada juga gulungan ombak yang digandrungi para peselancar. Dikenal sebagai ombak Super Suck, dan di depannya tersedia sejumlah akomodasi sederhana. Selepas mandi, melahap nasi kuning, saatnya menyinggahi pantai-pantai lain. Sumbawa Barat adalah surga bagi para pencinta pantai dan ombak. Maluk bukan satu-satunya. Sehari sebelumnya selepas senja, sebenarnya saya sempat mampir ke Pantai Benete, tepat di depan Pelabuhan Bennete. Penuh cahaya di malam hari karena merupakan dermaga khusus PT Newmont Nusa Tenggara. 

Pagi itu bergaya bak para pemburu ombak, saya pun mencari pantai-pantai lain. Namun tentunya bukan untuk beraksi dengan papan seluncur. Saya hanyalah penikmat deburan ombak serta balutan pasir lembut di kaki. Perjalanan mengarah ke Sekongkang Barat. Seperti perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Maluk, Jalan Raya Sekongkang pun cenderung sepi. Hanya sesekali bertemu dengan pengendara roda dua atau roda empat. 

Kiri-kanan lahan berbukit-bukit dengan tanaman sebagian mengering. Sebagian dipenuhi pohon jenis sulur. Hingga bertemulah dengan pertigaan dengan tulisan Sekongkang. Suasana begitu sepi. Mata pun mulai lebih awas, mencari petunjuk. Hingga bertemu papan bewara superbesar yang menunjukkan belum lama ini digelar kompetisi selancar internasional di Pantai Tropical, Sekongkang. Saya dan kawan-kawan mengabaikannya. Namun beberapa meter tak ada tanda lain hingga mobil pun kembali ke tempat tersebut.

Ada sebuah jalan kecil di sebelah papan bewara itu. Sekitar 2 kilometer melaju di jalan tanah itu, ada cabang dengan gerbang kecil. Di salah satu sisinya ada tanah berpagar, dan ada tanda bahwa tanah milik sebuah perusahaan. Sedikit ragu, tapi akhirnya kendaraan menerobos jalan kecil. Kurang dari lima menit, terlihat sebuah teluk dengan beberapa pohon di tepian, diapit dua bukit karang. Teluk yang pendek, tapi siang itu menjadi sebuah gambar nan indah di mata saya. Matahari belum terlalu terik, langit begitu biru, ombak bergulung-gulung, dan tentunya pepohonan membuat paduan alam yang sempurna. Rupanya inilah Pantai Lawar. 

Merasa bukan satu-satunya pantai di sana, kendaraan kembali ke jalan yang bercabang dan memilih jalan tanah salah satu lagi yang ternyata melebar masih tetap berupa tanah. Tak ada petunjuk sama sekali hingga ada bule muncul dari arah berlawanan dengan sepeda motor dan papan selancar, keyakinan ada pantai di ujung sana pun muncul. “Ya lurus, ada Pantai Tropical, Pantai Yoyo, ombaknya keren,” ucap pria tersebut, sementara telunjuknya diarahkan ke utara.

Pantai Yoyo Sumbawa Barat Frannoto12
Lanskap Pantai Yoyo, Sekongkang, Sumbawa Barat, digemari peselancar karena ombaknya.

 

Senyum saya dan kawan-kawan pun mengembang. Tak lama memang debur ombak terdengar nyaring, dan di depan mata terbentang garis pantai yang panjang. Inilah Pantai Yoyo yang menyambung dengan Pantai Rantung. Udara panas mulai menyergap, pasir pantai nan panas terasa menggigit kaki. Saya memilih duduk di gazebo di tepi pantai. Para peselancar beberapa kali lewat. Ada yang berasal Jepang dengan kulit sudah cokelat matang. Dari jauh saya melihat peselancar perempuan berjalan di pasir putih sembari menenteng papannya. Ehmm…. demi ombak, panas pun mereka terjang. Di tengah laut, sejumlah pemain mencoba menari dengan ombak. 

Meski tersambung, dua pantai nan panjang itu tidak bisa dilalui kendaraan. Akhirnya saya dan kawan-kawan kembali ke Jalan Raya Sekongkang, terus melaju ke Jalan Raya Rantung. Sesungguhnya Pantai Yoyo bernama pantai Tropical. Namun, karena ombaknya bergulung-gulung seperti yoyo yang tengah berputar, pantai ini di kalangan peselancar dikenal sebagai Pantai Yoyo. 

Jalan Rantung Raya juga sepi, hanya kiri-kanan lebih banyak kehijauan. Tiba-tiba saya menemukan papan nama hotel di dekat Bandar Udara Sekongkang. Jalur pacu bandara itu tanpa pesawat terbang. Kendaraan pun terus melaju hingga saya menemukan Nomad Tropical Surf Resort di depan Pantai Tropical. Resort ini memiliki halaman hijau, kolam renang, dan lapangan golf. Siang itu gazebo, tepat di depan pantai, dipenuhi beberapa peselancar yang mendinginkan tubuh dengan minuman segar. 

Terik mentari memang begitu terasa meski sebentar lagi sore tiba. Pasir pantai masih terasa panas, saya memilih duduk di sebuah saung. Ada sepasang turis asing, sang perempuan asal Argetina dan pria dari Prancis. Keduanya peselancar yang selama dua minggu berkeliling Bali, Lombok, dan Sumbawa. Mereka mengaku jatuh cinta pada Sumbawa yang tenang, natural, dan tentunya ada gulungan ombak yang menggoda. 

Tak terasa perut mulai keroncongan. Saya tinggalkan Tropical, menuju Rantung Beach Bar & Restaurant, menyantap makan siang yang tertunda sembari menunggu langit berubah gelap. Maklum, menurut info yang berseliweran di dunia maya, di Pantai Rantung-lah keindahan mentari tenggelam itu bisa direkam. Saatnya saya benar-benar menikmati pantai, kaki pun mengenal pasir yang berbeda-beda, dari butiran besar, kemudian masuk pasir yang halus. Perjalanan berat karena kaki terus terbenam, akhirnya muncul juga warna kuning, merah di langit. Sang Surya pun menyemburkan keindahan di Rantung.

Rita N/Fran