Wayang Ental Bali, Unik Setinggi 1 Meter

Wayang Ental Bali, wayang kontemporer dari ujian akhir mahasiswa ISI Bali. Foto: Kura Kumara Agung

Wayang Ental Bali pasti belum sepopular wayang kulit, wayang golek atau bahkan wayang potehi. Meskipun sama-sama wayang, wayang ental memang baru muncul belakangan dibanding saudara-saudaranya yang lain.

Wayang Ental Bali

Wayang memang dikenal sebagai salah satu kebudayaan khas Indonesia yang sudah lahir sejak beberapa abad lalu. Setiap daerah bahkan memiliki jenis wayang yang berbeda-beda, seperti wayang kulit dari Yogyakarta dan Solo, wayang golek dari Jawa Barat, hingga wayang orang dari Jawa Tengah.

Dari beberapa jenis wayang di Indonesia, muncul satu wayang kontemporer baru yang cukup unik dari Bali yaitu wayang ental. Bisa dibilang wayang ental merupakan inovasi terbaru dalam dunia pewayangan.

Wayang Ental Orang orangandari Daun Ental Disbud Denpasar
Pertunjukan wayang ental Bali. Foto: Kuta Kumara Agung

Dari segi pembuatannya, wayang ental Bali berbeda dari wayang pada umumnya, yakni yang ini terbuat dari daun lontar. Sedangkan dari segi bentuk, wayang kontemporer dari Bali ini memiliki berbentuk tiga dimensi dan memiliki jenis dan gaya pergelarannya tersendiri.

Wayang ental Bali didesain khusus menampilkan badan fisik wayang secara utuh. Mulai dari tangan, kaki, hingga kepala yang semuanya dapat digerakkan. Sangat berbeda dengan wayang pada umumnya yang hanya menampilkan bentuk mini dan digerakkan pada tangannya saja.

Selain bentuknya yang tiga dimensi, wayang ental Bali juga dibuat berukuran jauh lebih tinggi dibandingkan wayang pada umumnya. Biasanya wayang ental memiliki tinggi 1 meter dengan lebar 30 cm. Salah satu keunikan dari wayang ental terdapat pada ekspresi wajah dari setiap tokoh pewayangan.

Wayang ental lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Made Dharma Putra pada 2016. Wayang ental ini sesungguhnya pertama kali dibuat Dharma dalam rangka tugas akhir kelulusannya di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Pada awal pembuatannya, wayang ental Bali ini tidak langsung berbentuk tiga dimensi, namun dua dimensi. Barulah pada 2018 wayang ini berubah bentuk menjadi tiga dimensi.

Gusti Made Dharma Putra mengaku bahwa pembuatan wayang ental terinspirasi dari teknik permainan Bunraku dari Jepang. Kemudian teknik tersebut dikombinasikan dengan gaya wayang tradisional Bali, Tetikesan.

Secara desain, wayang ental dibuat dengan menyerupai manusia, yang menggabungkan teknik ulatan sumpe dan ulatan Jepang dalam pembuatannya. Ulatan adalah ekspresi wajah yang digunakan dalam membentuk wayang.

Wayang Ental Bali Antara News
Wayang Ental digerakkan oleh dua orang. Foto: Milik AntaraNews Bali

Selain itu, perbedaan antara bunraku dan wayang ental terletak pada bahan bakunya. Jika bunraku menggunakan tiga helai daun lontar, wayang ental hanya menggunakan dua helai saja

Dalam sekali pagelaran wayang ental dilakukan dengan durasi 45 menit. Kalau wayang pada umumnya dimainkan oleh satu orang dalang dengan pencahayaan khusus, wayang ental tidak demikian. Untuk memainkan wayang ental harus digerakkan oleh dua orang dalang.

Salah seorang dalang bertugas memegang bagian kaki wayang, sedangkan satu lagi menggerakan bagian kepala dan tangan wayang ental. Kedua dalang tersebut harus berkomunikasi selama pertunjukkan berlangsung agar wayang ental bisa bergerak selaras. Selama pertunjukkan dalang juga tidak diperbolehkan untuk bergerak berlebihan agar fokus penonton tetap pada wayangnya saja.

Pembeda wayang ental dari jenis wayang pada umumnya juga terletak pada pagelaran yang berlangsung. Tak seperti wayang kulit yang ditampilkan di belakang kelir, wayang ental sebaliknya. Dalam setiap pagelarannya wayang ental ditunjukkan tampak badan wayang secara utuh, serta bisa bergerak dari tangan, kaki, dan kepala.

Sebagai pelengkap, dalam setiap pagelaran wayang ental biasanya ditambahkan juga tarian pendukung alur cerita. Tarian ini bertujuan untuk menyuguhkan sebuah pementasan wayang yang menarik dan berbeda dari umumnya.

Total, dalam satu pagelaran wayang ental dibawakan oleh 20 seniman, mulai dari penggerak wayang (dalang), penari, hingga pembaca kisah.

Tokoh dan cerita dalam wayang ental juga tidak biasa. Jadi tidak hanya dari bentuk dan cara mainnya yang unik, dari segi penceritaan dan penokohan wayang ental juga memiliki perbedaan dari wayang pada umumnya. Pada pagelaran wayang umumnya nama-nama tokoh yang digunakan merujuk pada cerita Mahabharata.

Sedangkan, pada wayang ental nama tokoh menyesuaikan dari cerita yang akan dimainkan. Sejauh ini total ada delapan tokoh wayang ental yang telah dipentaskan, yakni tokoh Sutasoma, Purusdha, Dasabahu, Mredah, Delem, Sangut, Tualen, serta satu buah kayonan.

Inovasi dalam pagelaran wayang ental ini diharapkan dapat menarik minat para generasi muda pada seni pewayangan. Harapannya pecinta wayang di Indonesia terus bertambah dari hari ke hari.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****