media 1563690863 img 20190721 wa0035

Upacara Yadnya Kasada 2019 Suku Tengger di kawasan gunung BromoJawa Timur, kembali berlangsung pertengahan Juli lalu. Dari waktu ke waktu, upacara ini makin diminati wisatawan. Baik lokal maupun manca negara.

Upacara Yadnya Kasada 2019

Suku Tengger di kawasan gunung Bromo, Jawa Timur, kembali menjalankan upacara Yadnya Kasada yang merupakan wujud persembahan mereka terhadap Sang Hyang Widhi, sang pencipta. Tradisi ini menjadi salah satu atraksi dan daya tarik wisata yang kuat untuk menarik wisatawan ke Bromo.

Selama ini kawasan Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, membawa berkah tersendiri bagi warga Suku Tengger hingga warga sekitar kawasan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas yakni Bromo Tengger Semeru (BTS).

Salah satu daya tarik wisata yang paling diminati adalah gelaran upacara Yadnya Kasada Bromo yang memiliki makna dan tujuan untuk memperoleh berkah, tolak bala atau malapetaka, dan sebagai wujud syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada masyarakat Tengger.

media 1563690719 img 20190721 wa0030

Saat upacara Yadnya Kasada Bromo berlangsung, masyarakat Suku Tengger berkumpul dengan membawa hasil bumi, ternak peliharaan seperti ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang bernama ongkek. Setiba di bibir kawah bromo semua hasil bumi dan ternak di buang ke dalam kawah Bromo sebagai sesajian.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event 2019 Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty mengatakan, kegiatan melabuh hasil bumi ke kawah Bromo sudah menjadi tradisi turun-temurun warga Tengger yang terus dilestarikan hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, kegiatan sakral ini terbuka untuk umum, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan.”Banyak sekali turis asing yang ikut berkunjung ke Bromo,” kata Esthy di Jakarta 21 Juli 2019.

Selain warga yang menyerahkan hasil buminya, upacara ini juga ditandai dengan banyaknya warga yang “ngalap berkah” dengan berburu sesembahan masyarakat yang dilemparkan ke area kawah.

Mul, salah satu warga dari Desa Ngadirejo sengaja datang untuk berburu sesembahan yang umumnya dilempar warga Tengger pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Kamis 18 Juli 2019. Ia membawa serta sang istri, yang juga ikut menangkap lemparan sedekah menggunakan alat tangkap yang dinamakan pemarit.

Para pemburu sesembahan ini umumnya berangat dari rumah sebelum subuh, sekitar jam 03.00 dini hari dan langsung menuju puncak Bromo. Mereka menunggu di lokasi hingga siang hari, karena yang melabuh sedekah tidak datang bersamaan. Ada yang pagi, ada juga yang siang baru datang.

Begitupun, melihat cara mereka berebut sedekah, membuat sebagian pengunjung justru khawatir. Karena mereka berdiri di lereng arah kawah Bromo.

Setiap kali perayaan Yadnya Kasada, Mul mengaku bisa mengumpulkan lebih dari 70 kg kentang belum termasuk kol, uang, dan lain-lain. Karena sesajian yang dilabuh warga Tengger, jenisnya memang beragam. “Barang-barang ini nantinya kita jual ke pasar. Jadi hasilnya tergantung harga komoditas tersebut. Jika harga kentang sedang mahal, uang yang kita dapat pun lumayan. Sebagian kecil saja yang kita konsumsi sendiri,” jelasnya.

Pada Jumat 19 Juli 2019 Gunung Bromo sempat mengalami erupsi sekitar pukul 16.37 WIB. PVMBG sempat melarang aktivitas wisatawan di puncak dan lereng Gunung Bromo dengan alasan keamanan. Meski masih level II masyarakat diminta mengutamakan keselamatan.

****

Yuk bagikan...

Rekomendasi