Masyarakat Tengger di Bromo, 2 Abad Kearifan Lokal

Pegunungan Semeru dengan latar depan Gunung Bromo. Foto husniati salma unsplash

Masyarakat Tengger di Bromo, biasa disebut wong Tengger atau wong Brama, adalah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Semeru, Jawa Timur.   Penduduk suku ini menempati sebagian wilayah kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Masyarakat Tengger di Bromo

Di sebuah pagi yang dingin berkabut segerombolan anak bermain di jalanan Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Beberapa anak di antara bocah cillik yang pipinya bersemu merah terlihat memiliki rambut berbeda. Sekilas seperti potongan rambut yang sengaja dibuat gimbal layaknya gaya anak-anak muda perkotaan yang meniru penyanyi reggae Bob Marley. Bahkan ada yang dibiarkan panjang dibuat buntut. Berlarian di antara rumah-rumah berdinding kayu bercat warna-warni.

Desa Ngadisari merupakan gerbang menuju kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Di desa ini lah masyarakat Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Umumnya mereka beragama Hindu.

Pada 100 tahun sebelum masehi, penganut Hindu Waisya yang beragama Brahma tinggal di daerah pesisir. Seseiring masuknya agama Islam di Jawa pada 1.426 M, mereka terdesak dan mencari tempat yang sulit terjangkau oleh pendatang. Pegunungan Tengger menjadi pilihan mereka yang akhirnya membuat kelompok yang dikenal dengan Tiang Tengger (orang Tengger).

Masyarakat Tenger di Bromo

Mitos lainnya, suku Tengger merupakan keturunan terakhir dari peradaban Majapahit. Mereka adalah keturunan Roro Anteng, putri Raja Brawijaya dan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger diambil dari akhir nama kedua pasangan itu, yaitu ’Teng’ dari Roro Anteng dan ’Ger’ dari Joko Seger.

Asal muasal upacara Kasodo juga berawal Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji menyerahkan putra terakhir mereka kepada Dewa. Sampai saat ini suku Tengger masih teguh menjunjung tinggi adat-istiadat Hindu lama. Budaya yang ditinggalkan nenek moyang tetap dilestarikan walau  kunjungan wisatawan dari berbagai belahan bumi tidak pernah berhenti setiap harinya.

Kepercayaan yang tinggi terhadap ajaran leluhur menanamkan nilai-nilai luhur dan mengajarkan toleransi dalam memandang keberagaman. Masuknya beragam agama, bagi mereka merupakan konsekuensi bahwa Suku Tengger hidup di tengah-tengah masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Berkembangnya zaman dan semakin beragamnya agama tidak juga melunturkan adat istiadat yang selalu dipegang teguh masyarakat Tengger. Masyarakat tetap melaksanakan ritual adat yang sedari dulu diturunkan leluhur mereka, seperti Pujan, Melasti, Piodalan, Entas-entas, Unan-unan, Karo, hingga yang banyak dikenal yaitu Yadnya Kasada.

Maka tidaklah aneh jika kemudian ada kubah mesjid, salib, mau pun patung Budha terlihat di sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di desa yang di kala menjelang pagi suhunya mencapai 10 derajat Celcius, terlihat sebuah kearifan lokal yang menunjukkan toleransi terhadap keberagaman.

Lalu kapan sebaiknya kita mengadendakan kunjungan ke Bromo? Seharusnya, bulan-bulan Juni-Agustus saat memasuki musim kemarau adalah waktu terbaik datang ke tempat ini. Umumnya saat itu cuaca cukup cerah, sehingga salah satu agenda menikmati atraksi matahari terbit dengan latar pegunungan Bromo-Semeru bisa jelas.

Namun, karena pengaruh pemanasan global, perubahan cuaca kadang kala menjadi tidak pasti. Pagi terang benderang, siang hari hujan turun begitu deras. Atau sebaliknya. Pun, terkadang meskipun curah hujan tidak begitu tinggi, namun cuaca tidak bersahabat. Pemandangan matahari terbit di Penanjakan walapun tetap terlihat indah, tapi bukan sunrise yang terindah.

Selain soal waktu, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah cara pencapai kawasan Bromo. Ada banyak pilihan, mulai dari jalur udara, jalan darat dengan moda kereta api, atau menggunakan jalan darat. Baik menumpang bus atau kendaraan pribadi.

Bila memilih kereta api, wisatawan bisa memilih menuju kota Malang terlebih dahulu, baru ke Bromo. Atau, pilihan lain, berangkat ke Surabaya lalu dilanjutkan ke Bromo. Beberapa kereta dari Jakarta yang bisa membawa ke Malang antara lain kereta ekonomi Jayabaya maupun Matarmajaya. Untuk kereta dari Jakarta ke Surabaya pilihannya lebih banyak lagi, mulai dari kelas ekonomi hingga kereta eksklusif. Tergantung budget yang disiapkan.

Dari stasiun Malang, perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan umum ke Bromo dari Terminal Arjosari. Dari terminal ini, wisatawan menuju Terminal Bus Bayuangga di Probolinggo dan berganti angkutan desa ke Cemoro Lawang, Ngadisari.

Jika pilihannya melalui Surabaya, nantinya dari kota ini wisatawan menyambung perjalanan menggunakan kereta ke Probolinggo. Dari Stasiun Probolinggo perjalanan sama seperti dari Malang, bisa naik angkutan kota ke Terminal Bus Bayuangga untuk ganti angkutan desa ke arah Cemoro Lawang, ke arah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sebagai titik masuk ke wilayah Gunung Bromo. Ada baiknya, wisatawan tiba di Terminal Bayuangga sebelum sore, karena makin sore jumlah kendaraan umum semakin sedikit.

Di Ngadisari, wisatawan bisa menikmati suasana pegunungan dan bertemu dengan masyarakat Tengger yang umumnya bercocok tanam. Perbincangan umumnya menyenangkan, karena mereka adalah masyarakat yang terbuka.

Kalau ingin sesekali menikmati matahari terbit di Penanjakan, wisatawan bisa memilih menyewa jip atau sepeda motor. Jika perjalanan dilakukan lebih dari 3 orang, lebih murah kalau sewa jip. Tapi bila yang melakukan perjalanan hanya sendiri atau berdua, lebih hemat jika menyewa sepeda motor.

****

Pantai Sukamade, Tempat Penyu Bertelur Ditemukan Pada 1927

Pantai Sukamade dengan araksi utama penyu bertelur dan Pelepasan Tukik di Sukamade shutterstoc

Pantai Sukamade, pantai tempat penyu mendarat dan bertelur adalah temuan kolonial Belanda pada 1927. Bertahun-tahun kemudian, pantai ini masih menjadi tempat terfavorit Penyu Hijau untuk menetaskan turunannya.

Pantai Sukamade

Malam sudah turun. Suasana di Sukamade praktis gelap, ketika beberapa orang terlihat berjalan menembus hutan, melintasi jalan tanah berlapiskan dedaunan kering. Mereka rombongan wisatawan asing yang ditemani petugas jagawana berjalan menuju pantai dengan panduan cahaya senter.

Sesekali petugas jagawana menyorotkan cahaya senternya menerangi jalan selebar tiga meter yang di kiri-kanan dipenuhi pepohonan besar khas hutan tropis. Sekitar satu kilometer berjalan menembus hutan, sinar bulan yang kala itu sedang penuh mulai menembus lebatnya ‘kanopi’ pohon. Makin jauh sinarnya semakin menerangi jalan. Jalan tanah berlapiskan daun  beralih menjadi berpasir, keheningan hutan berganti dengan deburan ombak. Senter pun dimatikan, saatnya puncak atraksi di pantai itu: menunggu kedatangan penyu yang akan bertelur.

Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal sebagai habitat tempat penyu bertelur secara alami. Belakangan, mungkin sekitar 30-an tahun terakhir, tempat ini memiliki fasilitas penetasan telur-telur penyu semi alami yang menambah nilai tersendiri bagi penikmat wisata pantai. Pasalnya wisatawan yang datang dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik, anak penyu, sebagai bentuk usaha dari konservasi penyu.

Pantai ini merupakan salah satu tempat bertelurnya beberapa spesies penyu, di antaranya penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik, penyu slengkrah. Dari ke empat jenis itu, penyu hijau-lah yang paling sering ditemui di pantai ini.

Lokasinya sendiri berjarak sekitar 97 km ke arah barat daya dari Banyuwangi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu dari Segitiga Emas Banyuwangi, yaitu satu dari tiga tempat tujuan wisata utama yang ada di Banyuwangi, dua di antaranya Gunung Ijen, atau lebih dikenal sebagai Kawah Ijen, dan Pantai Plengkung. Sejarah pantai ini pertama kali di temukan pada masa pendudukan Belanda tahun 1927.

Sukamade memang berada di dalam kerimbunan perkebunan kopi dan coklat yang sekarang dikelola PTPN. Dulunya perkebunan-perkebunan ini pengelolaannya di tangan pemerintahan pendudukan Belanda.

Perjalanan menuju pantai ini dari Banyuwangi memiliki keasyikan tersendiri. Walaupun hampir seluruh jalan di Banyuwangi beraspal mulus, tapi sekitar 20 kilometer terakhir jalanannya berbatu sehingga lebih pas jika menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. Sepuluh kilometer setelah memasuki kawasan taman nasional jalan makadam menghadang.

Separuh jalanan di hutan lebat adalah menaiki bukit, separuhnya lagi menurun sebelum mencapai pantai. Bagi yang senang kegiatan alam bebas menggunakan kendaaan SUV yang mengguncang guncang badan dan menyeberangi sungai tanpa jembatan merupakan keasyikan tersediri sebelum menikmati ketenangan di pantai Sukamade.

Setidaknya ada dua sungai yang harus diseberangi tanpa jembatan. Kadang, jika beruntung, pengunjung bisa mengekor di belakang traktor perkebunan yang kebetulan sedang membawa hasil kebun melintasi sungai selebar sekitar 30-40-an meter. Setidaknya mereka hapal jalur yang tidak dalam atau berbatu. Ke dalaman air sekitar 25-50 centimeter. Jika tak bertemu traktor, ada baiknya ada yang turun untuk mengamati kedalaman sungai.

Sebagai tempat tujuan ekowisata di kawasan konservasi, di tempat ini wisatawan dapat secara langsung menyaksikan penyu bertelur, melepas tukik, camping hingga berkano pada sore hari sambil menunggu matahari tenggelam. Terdapat beragam fasilitas yang ada di pantai Sukamade antara lain pondok wisata, camping ground yang dilengkapi pendopo sebagai ruang pertemuan, jalan trail wisata, information center, laboratorium dan pondok kerja. Tentu saja, atraksi utama tetap penyu bertelur dan pelepasan tukik.

Di Sukamade penyu biasa datang untuk bertelur pada malam hari, karenanya segala jenis alat penerang dilarang digunakan di pantai di sini. Ini agar penyu bisa merasa nyaman. Setiap malam petugas mengamati kedatangan penyu, selain untuk mendata juga untuk menyelamatkan telur dari predator seperti babi hutan dan ulah manusia yang menjual telurnya.

Telur dikumpulkan untuk kemudian dibawa ke tempat penetasan. Seperti malam itu, saat AgendaIndonesia mampir, kami menunggu datangnya penyu dari jam 20.00 – 24.00 sambil menemani petugas berpatroli menyusuri pantai. Hampir setiap malam selalu ada penyu datang bertelur. Jika beruntung, kita bisa melihat penyu datang dari laut lalu menggali pasir untuk meletakkan telur-telurnya.

Petugas jagawana biasanya mengambil telur-telur dari lubang aslinya, lalu ditanam kembali di lubang-lubang penetasan yang dilindungi pada keesokan harinya. Seperti yang dilakukan setelah malam itu.

Matahari belum terlalu tinggi, ketika petugas menanam kembali telur-telur penyu yang diambil malam sebelumnya. Selain menanam telur, petugas juga mengajak wisatawan yang datang untuk melepaskan telur yang sudah menetas, dinamai dengan sebutan tukik, ke habitatnya, lautan luas.

Anak penyu atau tukik  secara naluri akan kembali ke laut, berenang mengarungi samudra kehidupannya. Hingga suatu saat, jika mereka survive, tukik-tukik yang sudah menjadi penyu dewasa kembali ke Sukamade. Bertelur.

Rully K./Dok. TL

Tahu Bungkeng Sumedang, 1 Abad Sejarah Tahu

Tahu Bungkeng Sumedang cikal bakal tahu Sumedang

Tahu Bungkeng Sumedang, yang usianya kini sudah lebih dari satu abad, bisa dibilang merupakan saksi sejarah terciptanya salah satu kudapan favorit masyarakat Indonesia dewasa ini, yakni tahu sumedang. Lewat sejarahnya yang panjang, ia turut mempopulerkan jajanan rakyat tersebut.

Tahu Bungkeng Sumedang

Di masa sekarang, akan terhitung cukup mudah untuk menemukan tahu Sumedang. Dari beragam penjual aneka gorengan di pinggir jalan, hingga toko-toko makanan seperti kue basah dan sejenisnya, kerap ditemukan tahu Sumedang yang turut dijajakan.

Populernya kudapan ini bukanlah tanpa sebab. Tahu Sumedang sendiri merupakan jenis olahan tahu yang memiliki ciri-ciri seperti bentuk yang relatif kecil, bagian kulit yang agak garing, isi di dalamnya yang cenderung kosong serta rasa yang gurih.

Karakteristik tersebut membuatnya mudah dan enak untuk dikonsumsi dalam beragam kesempatan, seperti saat ingin ngemil makanan ringan ataupun sebagai hidangan pembuka sebelum makan siang atau malam. Apalagi tahu terasa semakin nikmat saat disantap hangat.

Gerai Tahu Bungkeng IG Tahu Bungkeng
Pembeli di depan gerai Tahu Bungkeng. Foto: IG Tahu Bungkeng

Seperti namanya, tahu Sumedang memang terlahir di salah satu kabupaten provinsi Jawa Barat tersebut, sekitar 45 kilometer dari kota Bandung. Begitu identiknya tahu sebagai identitas dan makanan khas mereka, Sumedang lantas juga kerap dikenal sebagai kota tahu.

Yang menarik, tahu Sumedang ternyata merupakan resep yang dibawa dari Tiongkok. Semua berawal pada awal tahun 1900-an, ketika seorang imigran dari Tiongkok bernama Ong Kino datang ke Indonesia untuk pindah dan menetap.

Setelah tiba di Sumedang, ia kemudian memutuskan tinggal di sana bersama keluarganya. Masa-masa awal kepindahan mereka ke Tanah Air terasa agak sulit, lantaran istrinya yang merasa homesick dan kangen dengan masakan tradisional Tiongkok.

Sebagai usaha untuk mengatasi kerinduan tersebut, Ong Kino kerap mencoba memasak beberapa makanan-makanan khas Tiongkok yang biasa mereka santap dulu. Salah satu resep yang ia buat adalah olahan tahu yang kemudian menjadi cikal bakal tahu Sumedang.

Tahu, atau doufu/tofu dalam bahasa Mandarin, memang merupakan salah satu makanan yang populer bagi masyarakat Tiongkok. Berkat cara pengolahannya yang mudah serta harganya yang ekonomis, tahu disinyalir sudah populer dikonsumsi rakyat Tiongkok sejak tahun 950 Masehi.

Biasanya, mereka membuat tahu dari olahan kacang kedelai yang direndam air sekitar 4-6 jam, kemudian digiling, direbus, disaring dan diendapkan sehingga berbentuk padat. Setelahnya, tahu kemudian dipotong-potong lebih kecil, umumnya dengan bentuk kotak-kotak.

Awalnya, resep tersebut hanya dibuat oleh Ong Kino untuk sang istri, serta beberapa tetangga, kerabat dan sanak saudara sesama imigran di kala perayaan hari raya etnis Tionghoa. Ternyata, banyak dari mereka yang menyukai tahu buatannya tersebut.

XClFGYSu Tahu Bungkeng Sumedang IG tahu Bungkeng

Usut punya usut, tahu buatan Ong Kino dinilai mempunyai cita rasa gurih yang unik, yang membuatnya dianggap lebih nikmat dari tahu-tahu kuning dan putih yang umumnya beredar saat itu. Dari testimoni positif tersebut, ia memberanikan diri untuk menjualnya untuk umum.

Kebetulan, setelah pindah ke Sumedang, ia mencari nafkah sebagai penjual ragam makanan ringan seperti keripik singkong dan tapioka. Tempatnya berjualan di kawasan jalan Sebelas April, hingga kini menjadi lokasi toko Tahu Bungkeng.

Meskipun terhitung mendapatkan respon positif dari pembelinya, saat itu tahu buatannya belumlah mencapai popularitas puncaknya. Hingga pada 1917, salah satu anaknya bernama Ong Boenkeng menyusul datang ke Indonesia untuk membantunya berbisnis.

Salah satu langkah besar yang dilakukan Ong Boenkeng dalam membantu bisnis ayahnya, adalah dengan memodifikasi resep tahu tersebut. Setelah tahu sudah jadi, ia mencoba bereksperimen dengan cara menggorengnya.

Caranya menggoreng tahu pun terhitung unik. Ia mencoba menggoreng tahu-tahu itu dengan api yang cukup besar, sehingga hasilnya tahu menjadi garing di bagian kulitnya dan kopong di bagian dalamnya. Ini kemudian menjadi karakteristik utama dari tahu Sumedang.

Suatu ketika bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Soeriaatmadja, yang kebetulan melintas di depan toko, mencium aroma harum dari tahu yang sedang dimasak. Ia kemudian memutuskan untuk singgah dan mencoba tahu yang dimasak oleh Ong Boenkeng kala itu.

Sang bupati ternyata sangat menyukai tahu tersebut, dan mendorongnya agar terus berjualan dan meraih kesuksesan. Sejak saat itu, dari mulut ke mulut popularitas tahu Bungkeng Sumedang semakin meningkat dan pelanggan semakin bertambah, bahkan dari luar kota dan luar negeri.

Setelah Ong Boenkeng mengambil alih usaha dari sang ayah pada tahun 1940-an, orang-orang pada umumnya kemudian menyebut tokonya sebagai tahu Bungkeng atau tahu Bungkeng Sumedang, yang pada prinsipnya merupakan pelafalan namanya secara kearifan lokal.

Nori Tofu IG Tahu Bungkeng

Pada saat usaha dikelola oleh generasi ketiga Ong Yoekim di kisaran tahun 1970 hingga 1980-an, tahu Bungkeng Sumedang meraih puncak kesuksesan dengan rata-rata produksi 2.000 hingga 3.000 tahu per hari. Bahkan saat permintaan memuncak toko bisa memproduksi sampai 7.000 tahu.

Meski demikian, sejak tahun 1990-an mulai banyak toko-toko yang menjual tahu sejenis, bahkan beberapa di antaranya merupakan usaha dari mantan pegawai di toko tahu Bungkeng Sumedang. Sejak itu, orang-orang mulai menyebut tahu tersebut secara umum sebagai tahu Sumedang.

Walaupun tahu Sumedang sudah menjadi jajanan yang umum dan mudah ditemukan di mana pun, bukan berarti pamor tahu Bungkeng meredup total. Bagaimana pun, status mereka sebagai pionir tahu Sumedang yang asli membuatnya senantiasa spesial dan diburu wisatawan.

Oleh Ong Chechiang alias Suriadi, bersama dengan anak-anaknya sebagai generasi keempat dan kelima dari usaha ini, toko tahu Bungkeng Sumedang hingga kini masih terus berjualan dan menjadi kepingan sejarah tempat lahirnya kudapan rakyat khas Sumedang tersebut.

Cita rasa asli tahu Bungkeng sebagai sang pelopor tahu Sumedang selalu dipertahankan, lewat penggunaan kacang kedelai jenis lurik yang dinilai punya sari pati lebih bagus dan banyak, serta metode memasak tahu dan kualitas air untuk mengolah kedelai yang senantiasa dijaga.

Alhasil, ciri khas tahu yang gurih, berkulit garing serta isian yang kopong pun selalu konsisten. Bahkan ada anggapan, harus mencoba tahu Bungkeng untuk merasakan cita rasa tahu Sumedang yang asli, karena konon tahu lainnya terkadang kalah gurih, bahkan cenderung asam.

Satu ciri khas lainnya yang unik adalah tahu yang disajikan bisa dipasangkan dengan sambal yang diracik menggunakan cabe rawit, tomat dan tauco. Rasa pedas dan segar berpadu apik dengan tahu hangat yang bercita rasa gurih.

Selain itu, tahu Bungkeng juga bisa disantap dengan lontong atau nasi. Harga tahu per potongnya pun hanya sekitar Rp 1 ribu, dengan tambahan Rp 1 ribu untuk lontong, Rp 5 ribu untuk nasi dan Rp 3 ribu untuk sambalnya.

Seiring perkembangannya, tahu Bungkeng pun senantiasa berinovasi dengan ragam produknya. Seperti tahu gehu alias tahu isi, atau Nori Tofu yang sejatinya merupakan tahu Sumedang dengan tambahan nori atau olahan rumput laut ala Jepang.

Wisatawan yang datang untuk membeli sebagai oleh-oleh juga dapat membeli tahu yang masih mentah. Jika membeli yang sudah dimasak, bisa memesan dari 10 hingga 100 tahu dalam satu kemasannya, dengan perkiraan awet sekitar satu setengah hingga dua hari.

Dan untuk menjangkau lebih banyak konsumen, tahu Bungkeng kini memiliki dua cabang tambahan. Satu di antaranya terletak di kawasan jalan Jendral Sudirman, Bandung. Setiap cabangnya buka dari jam 07.00 sampai jam 18.00.

Tahu Bungkeng

Jl. Sebelas April no. 53, Sumedang

Jl. Mayor Abdurachman no. 80, Sumedang

Jl. Jendral Sudirman no. 393, Bandung

Instagram: tahu.bungkeng

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Eksotisme Kepulauan Selayar, 157 Kilometer dari Makassar

Eksotisme Kepulauan Selayar menjanjikan pantai putih yang elok.

Eksotisme Kepulauan Selayar jarang dirambah traveler Indonesia. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh dari Makassar, 157 kilometer, dan melewati laut. Menikmati udara sejuk, laut jernih, dan sajian daging ikan yang manis, adalah pesona yang dijanjikan pulau ini.

Eksotisme Kepulauan Selayar

Langit terlihat sembuat jingga di Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Dua jam perjalanan dengan Kapal Motor Feri Bontoharu dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, terasa sangat menyenangkan. Berteduh di bawah langit biru yang dihiasi titik-titik awan putih, dengan sesekali ada atraksi lumba-lumba dan ikan terbang yang melompat ke permukaan air. Wow, menyenangkan.

Begitu kapal sandar di pelabuhan, perjalanan dilajutkan dengan bus sekitar 1,5 jam menuju Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Malam sudah menyelimuti Benteng saat bus tiba di kota kecil itu. Sepiring nasi santan, sambal belimbing, dan ikan bakar kikang, yang menjadi salah satu sajian khas daerah kepulauan ini, menjadi hal pertama yang menyambut perjalanan kami malam itu. Tampilan kikangsebenarnya biasa saja, tak tercium bau amis sama sekali. Dagingnya putih, bersih, dan empuk. Rasanya manis.

Setelah urusan perut selesai, dua rekan di sana, kami sempat menjelajahi sudut-sudut kota di malam hari sebelum akhirnya beristirahat. Ini kegiatan yang layak dilakukan jika perjalanan ke tempat baru. Benteng kotanya tak terlalu besar, sehingga tak lama menikmatinya di malam hari

Agenda pertama keesokan harinya adalah perjalanan ke Pulau Gusung. Pulau ini membentang di depan Kota Benteng. Jalan-jalan ke pulau ini untuk melihat “tabungan ikan” dalam keramba tancap dan keramba apung milik warga Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu. Seperti namanya, tiang-tiang keramba tancap itu ditancapkan ke laut dengan kedalaman sekitar 5 meter. Jaring yang digunakan berbentuk persegi, setiap bagian ujungnya terpaut pada sebuah pancang.

 Di dalam kotak inilah terperangkap ikan kerapu jenis sunu yang dibudidayakan warga. Menurut warga Desa Bontolebang, bibit ikan ditangkap dari alam. Warna-warni ikan sunu dengan tubuh berbintik-bintik ini sungguh menyajikan pemandangan menakjubkan. “Akuarium alam,” begitu orang biasa menyebutnya.

Pelayaran menuju Desa Bontolebang dilakukan dengan perahu jo’lloro bermesin motor milik Kepala Desa. Tampak tiang-tiang keramba dihinggapi bangau. Mendekati Pulau Gusung, air laut terlihat hijau karena tanaman lamun, senada dengan pohon-pohon kelapa yang berjejer rapi di tepian pulau. Sambutan warga seramah lambaian nyiur. Rumah-rumah berdiri dengan begitu teratur di antara rimbunan pohon kelapa, berjejer menghadap jalan kecil yang terbuat dari paving block. Suguhan kelapa muda dari warga melengkapi perjalanan kali ini.

Sebelum kembali ke Benteng, pengunjung diajak lagi melihat bagaimana ikan-ikan dalam “akuarium alam” diberi makan. Saharuddin alias Opa, seorang petugas, menenteng ember berisi potongan ikan segar. Begitu suguhan itu dimasukkan, seketika ikan-ikan berkerumun dan berebutan pakan. Jangan coba-coba Anda menurunkan tangan maupun kaki ke keramba, bisa-bisa menjadi sasaran ikan karena dianggap pakan.

Perjalanan di hari yang gerah dan melelahkan itu ditutup dengan menikmati ketenangan sore di Pantai Baloiya, Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu. Obyek wisata yang disebut-sebut mirip Tanah Lot di Bali ini berjarak sekitar 10 kilometer dari Benteng. Saat menuju Pantai Baloiya, pengunjung akan melewati museum tempat penyimpanan Gong Nekara. Gong ini memiliki luas lingkaran 396 sentimeter persegi, luas lingkar pinggang 340 sentimeter persegi, dan tinggi 95 meter. Konon, ini adalah gong terbesar di Asia Tenggara dan tertua di dunia.

Dari cerita penduduk setempat, Gong Nekara tidak sengaja ditemukan oleh Sabuna dari Kampung Rea-rea pada 1686 di sawah Raja Putabangun, Papaniohea. Gong bercorak unik ini lantas dipindahkan ke Bontobangun dan menjadi kalompoang atau arajang—benda yang dikeramatkan setelah berakhirnya pemerintahan Dinasti Putabangun pada 1760.

Setelah melewati Bontobangun, kami memasuki kawasan Bontosikuyu. Hanya sekitar 15 menit berkendaraan roda empat pemandangan pantai yang eksotis dengan keindahan hamparan pasir putih menyambut ramah. Panjang pantai mencapai 300 meter. Sebuah batu besar di tengah pantai tampak bagian atasnya ditumbuhi tanaman asoka.

Eksotisme Kepulauan Selayar belum banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Pantai Baloiya di kepulauan Selayar dengan keindahan matahari tenggelam. Foto: Dok. shutterstock

Tak jauh dari tempat itu, terdapat gua alam Baloiya, jaraknya sekitar 500 meter. Di Desa Patikarya ada beberapa gua yang saling berhubungan. Jika waktu kunjungan cukup, pengunjung bisa menjelajahi goa-goa tersebut. Sayang, kunjungan kali ini waktu kami terbatas, sehingga perjalanan ke Baloiya terpaksa disudahi. Kami bergegas kembali ke Benteng untuk makan malam dan istirahat. Tentu tak lupa mencari sedikit buah tangan, selain olahan serba ikan, Selayar terkenal sebagai penghasil emping, kenari, dan jeruk Selayar. Jangan sungkan membawanya, sebab Selayar tak setiap hari kita kunjungi. Dari Benteng kita harus naik feri ke Pelabuhan Bira, Bulukumba. Lalu, disambung perjalanan sekitar 5 jam via darat menuju Makassar.

 Taman Nasional Takabonerate

Selayar juga terkenal dengan Taman Nasional Takabonerate—taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshalla dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luasnya mencapai 220 ribu hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 kilometer persegi.

Rasanya perlu waktu sekitar sepekan untuk menikmati secara lengkap pesona Selayar karena infrastruktur yang belum lengkap. Jika perjalanan dilakukan mulai dari Jakarta, maka pengunjung harus terbang dulu ke Makassar di Sulawesi Selatan, baru ke Kepulauan Selayar. Bila beruntung, kadang ada jadwal penerbangan dari Makassar langsung ke Selayar dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Ini akan membantu menghemat waktu perjalanan.

Irma/TL/agendaIndonesia

*****

10 Kampung Batik, Semua Unik Dan Khas

5 sentra belaja batik di kota SOlo-- Kampung Batik Andreas Hie shutterstock

10 kampung batik di pulau Jawa ini mungkin bisa menjadi panduan bagi para pelancong ketika jalan-jalan dan mencari oleh-oleh. Kesepuluhnya memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing.

10 Kampung Batik

Batik Indonesia sejak 2 Oktober 2009 telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya. Sejak itu, industri batik Indonesia semakin berkembang pesat. Itu juga membesarkan sentra-sentra dan kampung-kampung batik di berbagai daerah di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, sentra industri kreatif batik tidak hanya mendatangkan potensi di subsektor fashion saja, banyak potensi lain muncul dengan menjadikan pusat-pusat pengrajin batik sebagai destinasi wisata budaya. Berikut ini adalah 10 kampung batik yang ada di Pulau Jawa.

10 kampung batik di Pulau Jawa bisa menjadi pilihan untuk oleh-oleh.
Aeka batik Indonesia bisa didapat di kampung-kampung batik di Pulau Jawa. Foto: shutterstock

Kampung Batik Palbatu Jakarta

Dimulai dari ujung Barat Pulau Jawa, kampung batik juga terdapat di kawasan ibukota, yakni di Palbatu, Jakarta. Pusat batik ini diberi nama Kampung Batik Palbatu yang berlokasi di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Meski tergolong masih baru, kampung batik Palbatu telah menorehkan dua rekor MURI, yaitu jalan batik terpanjang dan rumah warga yang paling banyak dilukis motif batik.

Di sentra batik Palbatu terdapat sebuah sanggar yang dijadikan tempat bagi wisatawan belajar membatik. Ciri khas dari sentra batik ini adalah motif batik Betawi. Hal ini pun yang melatarbelakangi berdirinya sentra batik Palbatu, yaitu melestarikan motif batik Betawi.

Kampung Batik Trusmi Cirebon

Selanjutnya 10 kampung batik ada Batik Trusmi Cirebon. Sejak dulu Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat pengrajin batik terbaik di Indonesia. Sentra Batik Trusmi terletak di kawasan Plered, atau sekitar empat kilometer sebelah barat Kota Cirebon. Terletak tak jauh dari jalur utama Pantura, membuat sentra batik ini mudah diakses oleh wisatawan.

Berburu batik bisa diawali ke kampung batik Cirebon, tepatnya ke Trusmi.
Batik Trusmi Cirebon, salah satu kampung batik. Foto: shutterstock

Kampung batik Trusmi sendiri merupakan sebuah desa yang dihuni oleh para pengrajin batik di Cirebon. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 3.000 pelaku industri kreatif di sana. Motif batik premium di kawasan ini adalah motif Batik Mega Mendung dan Paksi Naga Liman. Wisatawan dapat memasuki daerah sentra batik Trusmi dan belajar membatik langsung dari para pengrajin batik.

Kampung Batik Kauman Pekalongan

Pekalongan merupakan salah satu kota yang tersohor akan kualitas batiknya. Pekalongan telah diresmikan sebagai sentra batik sejak 2007. Selain berhasil membuat berbagai batik berkualitas, Kampung Kauman Pekalongan sukses menjadi desa wisata nasional.

Di kawasan ini ada berbagai macam motif batik, dan dibuat dengan berbagai teknik, mulai dari tulis, cap, maupun kombinasi keduanya. Keunikan batik Pekalongan adalah motifnya yang banyak dipengaruhi oleh budaya Arab, Tionghoa, Melayu, India, Jepang, hingga Belanda.

Kampung Batik Kauman tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, namun juga salah satu 10 kampung batik pusat berbelanja batik Indonesia yang orisinal. Sama seperti pusat batik lain, di kawasan ini wisatawan juga diperbolehkan untuk belajar membuat batik sendiri dengan bimbingan pengrajin.

Kampung Batik Semarang

Masih di wilayah Jawa Tengah, satu dari 10 kampung batik juga terletak di kawasan Semarang. Kawasan Kampung Batik Semarang berlokasi di dekat Kota Lama dan Pasar Johar. Kampung batik ini berfungsi sebagai pusat produksi motif baru yang mencerminkan Kota Semarang.

Selain menjadi pusat pembuatan batik, sentra batik ini juga dibuka untuk kunjungan wisatawan. Untuk menarik wisatawan, sentra batik Semarang dihias menggunakan lukisan dinding bermotif batik yang menambah keindahan dan menarik perhatian.

6 FASHION BATIK shutterstock 1272244444 Khafidmufriyanto df485d6760
Perajin batik tulis di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Kampung Batik Giriloyo Yogyakarta

Yogyakarta merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat identik dengan budaya membatik. Satu dari 10 kampung batik tulis khas Keraton Yogyakarta berada di kampung batik tulis Giriloyo. Suasana industri kreatif kriya di daerah ini sangat kental terasa, karena hampir 90 persen penduduknya berprofesi sebagai pengrajin batik.

Lokasi sentra batik ini berada di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di samping mengembangkan ekonomi kreatif pada subsektor kriya, kampung batik Giriloyo juga menyediakan paket pendidikan pariwisata batik. Paket ini menawarkan perjalanan wisata ke rumah-rumah tradisional dan makam raja-raja Mataram di puncak Bukit Imogiri.

Kampung Batik Laweyan Solo

Sama dengan Yogyakarta, Surakarta juga memiliki beberapa kampung batik yang dapat dikunjungi wisatawan. Sentra batik yang paling banyak menarik minat wisatawan adalah kampung batik Laweyan. Perjalanan industri kriya di Laweyan sudah dimulai sejak abad ke-19. Hingga saat ini kampung batik Laweyan telah memproduksi sekitar 250 motif batik khas dan telah dipatenkan.

Sebagian besar penduduk di Laweyan bekerja sebagai pengrajin batik dan distributor. Selain bergerak dalam industri kriya, masyarakat setempat juga mengembangkan bisnis pariwisata, yakni dengan menyediakan paket wisata lokakarya membatik.

Kampung Batik Girli Kliwonan Sragen

Berlokasi tidak jauh dari Kota Surakarta, wisatawan juga dapat mengunjungi kampung batik Girli Kliwonan di Sragen. Nama Girli diambil dari letak sentra batik ini yang berada di pinggir Sungai Bengawan Solo.

Karya batik yang dihasilkan di lokasi ini identik dengan warna hitam kecokelatan dengan motif geometris, bintang-bintang, bunga, dan corak khas lainnya. Saat ini, masyarakat di kampung batik Girli Kliwonan Sragen tidak hanya berprofesi sebagai pengrajin batik, namun juga mengembangkan bisnis homestay.

Sentra Batik Lasem Rembang

Memiliki motif yang khas, membuat sentra batik Lasem Rembang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Batik Lasem memiliki ciri khas warna merah, biru, dan hijau tua yang menunjukkan kesan berani. Sedangkan motifnya tergolong sangat kompleks dibandingkan jenis batik lainnya.

Namanya yang kesohor mengantarkan batik Lasem sebagai salah satu komoditi ekspor Indonesia. Wisatawan dapat mengunjungi sentra batik ini untuk sekadar belajar membatik atau membeli batik langsung dari pengrajin.

Kampung Batik Jetis Sidoarjo

Beranjak ke Jawa Timur, ada pusat industri kreatif batik Indonesia, yakni kampung batik Jetis Sidoarjo. Sentra batik ini berlokasi di Desa Lemahputro, Sidoarjo. Masyarakat setempat sudah bergelut dengan industri kriya batik sejak 1970-an.

Batik Jetis memiliki kekhasan dari warna yang berani, seperti merah, biru, kuning, dan hijau. Sedangkan motif yang terkenal dari batik Jetis ini adalah motif burung merak. Serupa dengan sentra batik lainnya, wisatawan dapat berkunjung ke wilayah ini untuk belajar mengenai batik, sekaligus berbelanja langsung dari tangan pengrajin.

Kampung Batik Putat Jaya Surabaya

Kawasan yang dahulu terkenal sebagai pusat hiburan malam di Surabaya kini beralih fungsi sebagai kampung batik populer. Karena sempat terkenal dengan nama Gang Jarak, motif yang dikembangkan di sentra batik ini juga bertemakan nama tersebut, yakni daun dan buah jarak.

Lokasi kampung batik ini berada di Gang 8B, Putat Jaya, Surabaya. Jenis industri kreatif yang dikembangkan di area ini selain membuat seni kriya adalah paket wisata dan workshop.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kuliner Khas Maluku, Ini 6 Harus Dicoba

Kuliner khas Maluku di antaranya adalah papeda yang juga khas Papua.

Kuliner khas Maluku sudah tentu menjadi hal yang layak dicicipi saat traveler jalan-jalan ke Ambon. Ada banyak ragam kuliner yang menggugah selera dan sayang jika dilewatkan.

Kuliner Khas Maluku

Makanan paling ikonik dari Ambon, juga Maluku dan Papua, tentu saja adalah papeda. Menu makanan utama ini terbuat dari sagu ini biasanya disantap bersama sup ikan dengan lauk sampingan lain, seperti sambal colo-colo, kohu-kohu, atau ikan komu asar. Buat yang mencari masakan berbahan beras atau nasi ada nasi lapola.

Selain makanan utama, ada juga camilan yang tak kalah enak, beberapa di antaranya adalah rujak natsepa, pisang asar, asida, dan roti kering kenari. Makanan Khas Maluku banyak sekali variasi dan rasanya.

Masyarakat Maluku mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokoknya. Hasil laut yang melimpah melahirkan aneka makanan khas Maluku. Ada juga kue khas yang juga lezat rasanya. Selera kudapan itu ternyata digemari wisatawan.

Bandra Patimura Ambon

Papeda

Ini, seperti disebut di muka,  kuliner khas Maluku dan Papua. Bahan dasarnya adalah tepung sagu, yang dimasak hingga terlihat seperti bubur. Teksturnya kental dan lengket dengan warna putih, rasanya tawar. Sekilas penampilannya mirip lem kertas.

Makanan tradisional ini biasanya disantap bersama mubara atau ikan tongkol, yang sudah ditambahkan bumbu kunyit. Kandungan serat di dalam papeda sangat tinggi, tapi rendah kalori.

Cara memakan papeda sangat unik, yakni dengan menyeruputnya langsungdari piring. Bisa juga menggulungnya menggunakan sumpit. Bagi yang tidak terbiasa biasanya merasa kesulitan. Tapi itulah keunikan menyantap papeda.

Ikan Asar

Ini adalah kuliner khas Maluku berupa ikan asap atau ikan asar yang diolah secara sederhana dengan diasap. Soal rasa, sangat lezat. Ikan yang digunakan biasanya ikan cakalang atau ikan tuna. Karena dagingnya lebih tahan ketika proses pengasapan.

Selain disantap di tempat, wisatawan  bisa menjadikannya buah tangan buat keluarga atau kerabat. Karena ikan asar memiliki daya tahan hingga tujuh hari. Kuliner ini bisa disantap bersama nasi dan sambal colo-colo (sambal khas Maluku).

Cara pengasapan ikan asar adalah dengan ditusuk menggunakan bambu. Pengasapan biasanya membutuhkan waktu satu jam. Biasanya saat dijual ikan masih tertusuk bambu.

Gohu Ikan Maluku Kemendikbudritek
Gohu ikan. Foto: Dok. Kemendikbudristek

Gohu Ikan Maluku

Kalau di Jepang ada sashimi, di Maluku dan Maluku Utara ada Gohu Ikan, yang merupakan makanan khas Maluku berbahan dasar daging ikan mentah. Biasanya masyakat menggunakan ikan cakalang dan ikan tuna. Cara pembuatannya terbilang mudah, dengan memotong daging ikan seperti dadu. Kemudian mencucinya, dan melumurinya dengan perasan lemon, dan garam. Sesudah itu bisa menambahkan daun kemangi. Lalu adonan itu didiamkan beberapa saat.

Untuk menambah selera, biasanya ditambahkan bumbu tumisan cabe rawit, dan bawang merah yang dirajang. Bumbu itu dituangkan di atas ikan, dan siap dinikmati.

Ikan Kuah Pala Banda Budaya Indonesia 0rg
Ikan Kuah Pala Banda. Foto: Dok Budaya Indonesia.org

Ikan Kuah Pala Banda

Masyarakat Maluku memang kreatif dalam mengolah hasil lautnya. Ikan Kuah Pala Banda adalah kreasi kuliner yang wajib wisatawan cicipi. Sesuai namanya, kudapan ini berasal dari Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Di mana daerah ini sangat terkenal sebagai penghasil komoditi rempah-rempah, yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.

Santapan lezat ini menggunakan bahan dasar ikan kerapu atau ikan kakap. Berbagai bumbu digunakan, seperti merica, pala, dan jenis rempah lainnya. Rasanya asam bercampur dengan rasa pedas. Dulunya, makanan ini adalah hidangan istimewa untuk para pejabat Belanda. Kudapan ini makin nikmat disantap bersama nasi, ulang-ulang, dan sambal bekasang.

Nasi Lapola

Nasi juga digemari masyarakat Maluku. Nasi lapola adalah bukti kuliner khas Maluku, yang menjadi makanan pokok sebagian masyarakatnya. Bahan dasarnya adalah beras, parutan kelapa muda, dan kacang tolo. Biasanya kudapan ini disantap berbarengan dengan lauk, seperti kohu-kohu (olahan ikan teri atau tongkol basah), dan lalapan mentah.

Memasak berasnya harus menggunakan api kecil, agar hasilnya lebih bagus. Beras dimasak hingga setengah matang, dan ditambahkan pula kelapa parut yang sudah diberikan bumbu bawang putih, bawang merah, cabai merah, dan jeruk nipis. Sesudah itu, adonan nasi lapola dikukus sampai matang. Biasanya juga dinikmati dengan sambal colo-colo. Sambal khas Maluku dengan komposisi kecap, bawang merah, cabai rawit, dan tomat.

Woku Komo-komo

Kuliner khas Maluku ini terbuat dari tepung, yang merupakan hasil olahan dari teras batang rumbia. Sehingga woku komo-komo sebenarnya lebih cocok sebagai lauk makanan pokok. Proses pembuatannya dengan merendam sagu di dalam air. Supaya meningkatkan citarasanya digunakan beragam bumbu pilihan, seperti jahe, serai, bawang putih, yang ditumis bersamaan.

Kemudian ditambahkan juga jeroan ikan dan juga air. Semuanya dimasak sampai terlihat matang. Lalu, bawang putih dan bawang merah ditumis sampai nampak kecoklatan. Selanjutnya, menambahkan irisan daun bawang, merica, garam, dan santan kental.

Sesudah matang, sagunya didiamkan terlebih dahulu hingga dingin. Jeroan ikannya dipotong-potong seperti bentuk dadu. Seterusnya jeroan ikan dan sagu yang sudah dipotong-potong dibungkus dengan daun woka. Nah, tahapan terakhir adalah memanggang bungkusan daun woka tersebut menggunakan bara api.

Panggang sampai terlihat kering daunnya, sebagai pertanda makanan sudah matang. Selain dikenal dengan sebutan woku komo-komo, kudapan ini juga dikenal dengan nama sagu komo-komo.

Perjalanan menuju ke Kota Ambon bisa ditempuh melalui transportasi laut dan udara. Untuk jalur laut, Ambon memiliki sebuah pelabuhan bernama Pelabuhan Yos Sudarso yang terletak di Jl. Yos Sudarso, Kel Honipopu, Sirimau, Kota Ambon. Pelabuhan ini menyediakan perjalanan antar pulau, seperti dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Kupang, dan Jayapura. 

Sedangkan untuk transportasi udara, Sobat Pesona bisa mengambil rute perjalanan menuju Bandara Internasional Pattimura Ambon dari beberapa kota besar di Indonesia, antara lain Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. 

Ayo ke Ambon dan nikmati kuliner khas Maluku.

agendaIndonesia

*****

Getuk Trio Magelang, Manis 5 Lapis

Getuk Trio Magelang menjadi oleh-oleh khas kota di lereng Bukit Tidar ini.

Getuk Trio Magelang senantiasa tampil unik dan manis dalam lima lapis dan tiga warna khasnya. Aslinya ini adalah ragam jenis getuk lindri. Makanan tradisional berbahan dasar singkong ini sudah umum dikenal sebagai salah satu penganan dan oleh-oleh khas kota Magelang dan telah lama menjadi bagian penting dari budaya warga kota sejuta bunga ini.

Getuk Trio Magelang

Getuk umumnya terbuat dari singkong yang direbus dan dihaluskan dengan cara digiling atau ditumbuk, kemudian diberi gula dan pewarna makanan. Terkadang getuk juga diberi tambahan parutan kelapa sebagai pelengkap. Konon makanan ini tercipta pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an.

Getuk Trio Magelang kemasannya tak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu.
Getuk Trio Magelang terdiri dari lima lapis yang manis. Foto: Dok. Getuk Trio

Kala itu, bahan pangan pokok seperti beras sangat langka dan tidak terjangkau oleh masyarakat kelas bawah. Kemudian sebagai substitusi beras, banyak warga Magelang yang membuat, membeli dan mengonsumsi getuk, karena saat itu singkong lebih murah dan mudah ditemui.

Cerita Getuk Trio sendiri dimulai pada 1958. Hendra Samadhana, sang pendiri, sebelumnya bekerja sebagai pemilik bengkel. Namun melihat popularitas getuk sebagai penganan khas warga Magelang, Jawa Tengah, yang terus naik, terbersit niatnya untuk membuat produk getuk yang tak hanya diminati kalangan kelas bawah, tapi juga menengah ke atas.

Lantas bersama istrinya, Setiawati, ia mulai berkreasi membuat getuk yang unik dan spesial dari getuk lain yang sudah ada. Menggunakan perkakas dan komponen yang ada di bengkel, ia membuat mesin penggiling singkong agar hasilnya getuk bisa lebih halus dan lembut.

Selain itu, Hendra dan Setiawati  juga memberikan satu ciri khas pada getuk buatannya: tiga warna berbeda berupa coklat, putih dan merah muda. Ciri ini pula yang terus dipertahankan hingga kini.

Pemilihan ciri khas tiga warna tersebut bukan tanpa sebab. Ketiga warna itu melambangkan ketiga anak mereka, serta usaha bengkel dan toko kelontong milik keluarga mereka yang kebetulan sama-sama bernamakan ‘Trio’. Dari situlah pula nama Getuk Trio lahir.

Mulanya, sang istri menjajakan getuknya kepada orang tua teman anak-anaknya di sekolah. Mulai mendapat respon bagus dan minat yang tinggi, Getuk Trio mulai dititipkan lewat beberapa toko roti di Magelang. Secara kebetulan, salah satu toko roti tersebut merupakan langganan dari Akademi Militer (Akmil) Magelang, sehingga getuk mereka pun mulai populer di kalangan Akmil, utamanya jika sedang ada perhelatan tertentu.

Pada 1960, Ratu Thailand pada saat itu, Ratu Sirikit, tengah melakukan kunjungan ke Akmil. Toko roti tersebut pun seperti biasanya didaulat untuk menyediakan konsumsi makanan pada acara mereka.

Salah satu makanan yang dihidangkan adalah Getuk Trio, dan ketika Ratu Sirikit mencobanya, ia berdecak kagum dan mengaku sangat menyukai penganan tersebut. Sampai-sampai, Getuk Trio Magelang pernah dijuluki ‘getuk Sirikit’ kala itu.

Publisitas tersebut mengangkat pamor produk Hendra itu sebagai salah satu getuk terpopuler di Magelang. Lebih hebatnya lagi, getuk lainnya secara umum juga ikut terangkat kodratnya dari pengganti makanan pokok warga kelas bawah menjadi kudapan masyarakat menengah ke atas. Getuk tak lagi hanya identik sebagai makanan ‘murahan’ dan mulai diminati banyak kalangan, bahkan semakin banyak merek-merek baru penjual getuk bermunculan.

Menghadapi persaingan yang semakin marak, Getuk Trio Magelang dapat terus bertahan sampai sekarang dengan kualitasnya yang selalu terjaga. Beberapa upaya mempertahankan kualitas tersebut terlihat dari pemilihan singkong yang digunakan selalu berumur maksimal satu tahun. Selain itu, singkong yang digunakan juga khusus jenis Singkong Kinanti yang diklaim punya cita rasa manis secara alami.

Satu hal yang juga perlu diperhatikan, khususnya bagi yang ingin membeli untuk oleh-oleh, Getuk Trio tidak menggunakan bahan pengawet, agar tidak mengganggu cita rasa aslinya. Karena itu orang harus maklum jika makanan ini biasanya hanya awet sekitar dua sampai tiga hari.

Sangat dianjurkan untuk dikonsumsi segera atau dibawa dalam perjalanan tak lebih dari sehari. Ini juga membuat pengiriman ke luar kota dan terlebih ke luar negeri menjadi agak sulit. Pada kemasan, bisanya tertempel tanggal produksinya. Alias tanggal saat dijual. Mereka selalu mengingatkan getuknya harus habis sebisa mungkin 24 jam setelah pembelian.

Saat ini, bisnis Getuk Trio dijalankan oleh sang anak, Herry Wiyanto, selepas wafatnya sang ayah. Sentra penjualannya kini terdapat di Jalan Mataram, Magelang, dengan satu cabang di Jalan Tentara Pelajar. Selain itu, mereka juga masih menjaga kemitraan dengan toko roti dan penganan lainnya seperti toko Mekar; toko Sari Rasa; toko Lezat; toko Endang Jaya; toko Barokah Agung; toko 88; toko Tape Ketan Muntilan, dan beberapa lainnya.

Getuk Trio biasanya dikemas dalam kotak karton, dengan harga bergantung dari berapa isi di dalamnya. Kotaknya sendiri masih berdesain sama dari ketika dulu produk ini mulai dijual untuk umum. Alasannya demi melestarikan jati diri dan sejarahnya sebagai salah satu merk top getuk Magelang. Yang cukup umum dibeli oleh konsumen adalah satu kotak isi 12 atau 16 buah yang harganya sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu.

Berita baiknya, toko-toko resmi Getuk Trio kini juga menjadi pusat oleh-oleh dan turut menjajakan berbagai jenis penganan lainnya, seperti wajik, tape ketan, ledre pisang, roti jahe, dan lain lainnya. Semakin memudahkan bagi wisatawan yang sedang mencari oleh-oleh, bisa langsung datang dan mendapatkan segala macam produk penganan di satu tempat.

Toko di Jalan Mataram buka dari jam 08.00 hingga jam 17.30, sementara cabang Jalan Tentara Pelajar buka dari jam 08.30 sampai jam 18.00. Dalam seminggu, mereka selalu buka kecuali pada hari Selasa. Untuk pemesanan atau info lebih lanjut dapat menghubungi mereka, atau mengunjungi situs resmi getuktrio.co.id dan laman Instagram resmi @getuktrio58.

Getuk Trio Magelang

Jl. Mataram no. 47, telp. (0293) 363536

Jl. Tentara Pelajar no. 58, telp. (0293) 364538

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

3 Hari Seputar Medan: Sejarah, Belanja dan Kuliner

Istana Maimu Medan nizar kauzar unsplash

3 Hari seputar Medan kita bisa menikmati paket lengkap sebuah liburan. Mulai dari mengenal sejarah, hewan liar, tempat ibadah, serta tentunya menikmati sajian laut.

3 Hari Seputar Medan

Luas Sumatera Utara memang luar biasa, yaitu 72.981,23 kilometer persegi. Itu mencakup 33 kota dan kabupaten. Untuk mengenal semua obyek wisata di provinsi ini memang diperlukan waktu panjang dan tekad bulat. Selain luas, wilayahnya dipenuhi kelokan dan perbukitan, membuat perjalanan berlangsung lebih lama dibanding dengan kota-kota yang lebih memiliki jalan rata dan lurus.

Bila hanya memiliki waktu sehari, pilihan Anda adalah mengunjungi obyek wisata di dalam Kota Medan. Jika mempunyai waktu hingga dua hari, pada hari kedua Anda bisa meluncur ke Berastagi. Sebelum kembali ke kota asal di hari ketiga, bila menggunakan kendaraan roda empat, Anda juga bisa menikmati pantai-pantai yang berada tidak jauh dari bandara baru, Kuala Namu, di Deli Serdang.

Hari Pertama: Tjong A Fie, Satwa Liar, dan Belawan

Anda sebaiknya memilih penerbangan pagi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, semisal pukul 7 pagi. Jadi, kegiatan melancong bisa langsung dimulai di hari pertama. Setelah menaruh koper atau ransel di penginapan di Medan, mulailah perjalanan dengan menuju obyek wisata dalam kota, yakni Rumah Tjong A Fie.

Terletak di pusat kota, atau tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, rumah milik pengusaha asal Cina ini masih berdiri kokoh dan terawat di lingkungan bangunan tua. Sebagian besar bangunan bisa dicermati turis dengan membayar tiket masuk Rp 35 ribu per orang. Masih ada bangunan yang ditinggali cucu-cucu dari bankir yang hidup antara 1860 dan 1911 itu. Mengelilingi rumah tersebut, kita seperti mempelajari sejarah awal perkembangan Kota Medan.

Berkeliling selama satu jam rasanya cukup. Kemudian, Anda bisa singgah di resto untuk makan siang. Tujuan berikutnya adalah Rahmat International Wildlife Museum & Gallery di Jalan S. Parman Nomor 309, yang menampilkan beragam jenis satwa dari berbagai negara. Tercatat ada sekitar 1.000 spesies serangga dan hewan liar di tempat ini. Galeri tersebut dimiliki pengusaha Rahmat Shah, yang gemar berburu. Untuk mengamati hewan-hewan yang ditempatkan di tiga lantai itu, pengunjung harus mengeluarkan uang Rp 25 ribu.

Jika masih ingin bertemu dengan hewan liar, silakan langsung melaju ke Taman Buaya di Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 6 ribu, wisatawan bisa menemukan berbagai buaya, dari yang kecil hingga yang berusia 40 tahunan, dalam bak khusus. Selain itu, ada kumpulan buaya yang berendam dalam sebuah danau. Taman Buaya ini didirikan oleh Lo Than Mok pada 1959. Sebelum sore menjelang, Anda perlu beranjak dari sana agar bisa menikmati wisata belanja di Belawan.

Ada deretan toko di Jalan Simalungun dan Jalan Veteran Belawan yang sering diburu para turis penggemar barang bermerek. Yang paling menonjol tentu saja kerajinan keramik, terutama guci yang tingginya mencapai 2 meter dengan harga berkisar Rp 15 juta rupiah. Selain itu, ada produk keramik mini senilai Rp 35 ribu. Pelancong yang gemar tampil wah, biasanya mencari aksesori, seperti tas, sepatu, dan ikat pinggang. Puas berbelanja, saatnya untuk menyantap ikan laut yang memang menjadi hidangan khas Belawan. Anda bisa mencicipi kepiting, kerang, dan sejenisnya. Setelah perut kenyang, tinggal kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Kedua: Berastagi, Pagoda, dan Wihara

Setelah menikmati sarapan, wisatawan sebaiknya langsung melaju ke Berastagi untuk menikmati kesejukan kota yang berada pada ketinggian 1.220 meter di atas permukaan laut itu. Ada gunung cantik di sekitarnya, yakni Gunung Sibayak. Sejatinya ada dua, satunya adalah Guung Sinabung. Sayangnya beberapa tahun terakhir Sinabung dalam situasi waspada setelah erupsi. Jika situasi aman, bisa juga meluncur ke

 Danau Lau Kawar di kaki Gunung Sinabung. Dalam perjalanan menuju danau ini, Anda akan melintasi kebun-kebun sayur.

Terdapat arena berkemah di Lau Kawar. Bila ingin mengelilingi danau, pengunjung bisa menyewa perahu dengan tarif Rp 10 ribu. Obyek wisata ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Karo, yang biasanya ramai di akhir pekan atau masa libur. Jika masih ingin menikmati pemandangan serba hijau, saat kembali ke arah Berastagi, mampirlah ke Bukit Gundaling. Bukit itu berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota. Sebenarnya, paling tepat Bukit Gundaling disinggahi pada malam hari. Sebab, dari lokasi inilah bisa dilihat kerlap-kerlip Kota Berastagi dan Karo.

Melaju ke arah Medan, masih ada satu lokasi lagi yang menarik dikunjungi, yakni Taman Alam Lumbini. Di taman tersebut, replika Pagoda Shwedagon menyeruak di antara kebun sayur dan tampak mencolok dalam warna keemasan. Replika pagoda itu benar-benar mempesona karena warna dan bentuk bangunan yang khas. Untuk mencermati tempat ibadah umat Buddha dan taman di sekelilingnya, yang berada di Desa Tongkeh Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo, tidak dipungut biaya.

Puas dengan kesegaran udara di Berastagi dan beres mengisi perut, waktunya kembali ke Medan. Masih ada yang bisa ditengok di kota ini, seperti Istana Maimun, gedung-gedung tua, dan klenteng. Pengunjung pun bisa menghabiskan sore hari di sekitar Maha Vihara Maitreya, yang terletak di Perumahan Cemara Asri, Jalan Boulevard Utara, Medan.

Sebagai salah satu wihara terbesar di Asia Tenggara, Maha Vihara Maitreya ramai dikunjungi tidak hanya oleh umat Buddha, tapi juga penganut agama lain. Apalagi wihara yang berdiri di atas lahan 4,5 hektare itu berada di lingkungan yang asri, yang dipenuhi pepohonan dan taman sebagai tempat persinggahan burung bangau pada sore hari. Di salah satu sisi taman itu, bisa ditemukan aneka jajanan.

Ketika langit mulai gelap, saatnya untuk beranjak. Wisatawan memiliki pilihan bersantap di resto yang berada tidak jauh dari wihara. Berbagai warung makan berderet, menyediakan beragam hidangan laut. Atau, pengunjung bisa menuju pusat kuliner di Jalan Wajir atau Jalan Kolonel Sugiono di tengah Kota Medan. Rata-rata warung di kawasan ini pun menawarkan hidangan laut yang segar dengan bumbu melimpah. Berada di emperan toko, warung-warung ini hanya buka di malam hari.

Hari Ketiga: Wisata Kuliner dan Pantai Sekitar Kuala Namu

Untuk mencapai Bandara Kuala Namu dari Medan, sebaiknya wisatawan menggunakan kereta api. Namun bila memiliki waktu luang di hari ketiga, sebelum kembali terbang ke Jakarta atau kota lain, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat serta mampir menjajal wisata kuliner dan bahari. Setelah membeli aneka oleh-oleh di pusat kota, dapat singgah untuk melahap makan siang di rumah makan Wong Rame, Jalan Raya Tanjung Morawa. Tidak hanya dikenal dengan hidangan ikan bakar, seperti ikan patin, gurame, ataupun bawal, tapi ada juga minuman spesial, yakni jus durian. Bila tidak sedang musim durian, harga per gelas jus spesial itu dipatok Rp 25 ribu.

Jika ingin menikmati pantai, ada dua pilihan yang bisa disinggahi, yakni Pantai Pondok Permai dan Pantai Cermin, yang bersisian. Masuk dalam wilayah Serdang Bedagai, yang bersebelahan dengan Deli Serdang, kedua pantai itu memiliki fasilitas liburan yang lengkap berupa wahana bermain dan resor.

Atau di hari terakhir, bagi para pencinta kopi, dijadikan kesempatan untuk menikmati kopi Sidikalang yang menjadi ciri khas Sumut. Bisa menjajal seduhan kopi di kedai kopi lawas di Jalan Hindu.

Rita N./Dhemas R./Dok. TL

Taman Nasional Bunaken, Indah Sejak 1885

Taman Nasional Bunaken adalah sorga bawah laut di Sulwesi Utara.

Taman Nasional Bunaken di Provinsi Sulwesi Utara merupakan bagian dari  kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Istilah Segitiga Terumbu Karang itu sendiri adalah istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang kaya akan terumbu karang.

Taman Nasional Bunaken

Bunaken merupakan sorga bawah laut di Indonesia yang boleh disebut paling dikenal oleh para penyelam. Jauh sebelum kawasan Raja Ampat di Papua Barat dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara menjadi idola keindahan laut selanjutnya.

Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa indah pemandangan laut yang bisa dijelajahi para pecinta alam bawah laut di Taman Nasional Bunaken. Untuk para pecinta wisata alam bawah laut, layak mengagendakan untuk menyelami keindahan dan pesona dari Taman Nasional Bunaken, surga bawah laut di Sulawesi Utara.

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.
Senja di Manado

Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas wilayah yang didominasi oleh perairan. Oleh karena itu Indonesia dikenal akan kekayaan lautnya. Tak hanya dalam hal sumber daya perikanannya, bentang alam bawah laut Indonesia juga tersohor keindahannya.

Bunaken adalah taman nasional seluas 890,65 kilometer persegi, di mana 97 persennya merupakan habitat perairan laut. Sisa tiga persennya merupakan daratan. Wilayah daratan ini meliputi beberapa pulau, yakni pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Mantehage, pulau Naen, serta pulau Siladen.

Di dalam kawasan Taman Nasional Bunaken terdapat pula Gunung Manado Tua yang sudah tak lagi aktif. Kedekatan dengan gunung itu memang karena secara administratif kawasan ini terletak di Kecamatan Wori, Kotamadya Manado, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Jarak Bunaken dari pelabuhan Manado dibutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit untuk menyebrang ke pulau terdekat, yakni pulau Siladen. Sementara itubutuh waktu sekitar 60 menit untuk menuju pulau terjauh di Taman Nasional Bunaken yakni pulau Naen.

Taman Nasional Bunaken penetapannya berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 730/Kpts-II/1991 yang diteken pada 15 Oktober 1991. Sedangkan peresmian Taman Nasional Bunaken dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Desember 1992 di Bongohulawa.

Dalam penetapannya itu, fungsi pokok Taman Nasional Bunaken antara lain memberikan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Selain itu juga berfungsi sebagai pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Meski baru ditetapkan pada 1991, nama Bunaken  sudah dikenal sejak 1885. Itu terjadi ketika masyarakat Tanjung Parigi memilih pindah ke arah tenggara, tepatnya di tepi pantai yang menghadap Kota Manado.

Terumbu Karang Taman Nasional Bunaken shutterstok
Snorkeling di Taman Nasional Bunaken. Foto: shutterstock


Tempat baru itu oleh masyarakat yang pindah itu disebut sebagai Wunakeng, yang berasal dari kata Kiwunakeng yang artinya tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, daerah ini disebut juga dengan nama Bunaken yang berasal dari kata Pamunakeng yang artinya tempat singgah kapal-kapal.

Keindahan dan keanekaragaman hayati alam bawah laut di kawasan Taman Nasional Bunaken sendiri telah dikenal oleh para penyelam sejak 1975. Lalu pada 2005, Taman Nasional didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebuah taman nasional yang terkenal karena kekayaan terumbu karangnya.

Dari data yang ada, setidaknya ditemukan 390 spesies terumbu karang yang dapat ditemukan di wilayah perairan Bunaken. Area terumbu karang terdiri dari fringing, patch reef, serta barrier. Terdapat pula reef plat yang mengelilingi pulau-pulau yang ada di Bunaken, kecuali pulau Manado Tua.

Kekayaan alam lain di Bunaken adalah beberapa spesies alga yang kebanyakan berasal dari suku Halimeda, Caulerpa, dan Padina. Atau rumput laut yang didominasi spesies Thalassia hemprichii, Thalassaodendron ciliatum, dan Enhallus acoroides.

Di kawasan Taman Nasional Bunaken juga masih terdapat beberapa vegetasi di kawasan hutan bakau seperti Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. serta vegetasi yang hidup di daratan seperti woka, sagu, kelapa, beberapa jenis palem, pisang, mangga, silar, dan lainnya.

Taman Nasional Bunaken TN Bunaken

Selain vegetasi, kawasan perairan Bunaken merupakan rumah bagi berbagai spesies ikan, mamalia laut, reptil, hingga moluska. Setidaknya ada sekitar 91 spesies ikan seperti ikan kakatua, ikan kuda gusumi, ikan lolosi ekor kuning, hingga ikan moorish idol dan berbagai ikan lainnya.

Selain itu, terdapat pula biota lain seperti ikan duyung, kima raksasa, penyu sisik, penyu belimbing, hingga penyu hijau yang hidup di perairan ini.

Untuk wilayah daratan  Taman Bunaken, bisa ditemukan satwa-satwa seperti kuskus beruang, kuskus kerdil Sulawesi, monyet hitam Sulawesi, babi Sulawesi, tarsius, rusa, burung camar, merpati laut, hingga burung bangau.

Jika sedang jalan ke Sulawesi Utara, jangan sapai ketinggalan memasukkan Bunaken dalam agenda perjalanan. Selain tentu Likupang yang sedang naik daun.

agendaIndonesia

*****

Jajanan Yogya, 4 Yang Bikin Kangen

Bakmi Mbah Hadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Jajanan Yogya selalu bikin kangen, terutama buat mereka yang pernah tinggal atau mengenyam pendidikan di kota pelajar ini. Yogya memang kota yang penuh daya tarik dan membuat orang yang pernah berkunjung kesana selalu merasa ingin “kembali” ke jajanan tempo dulu mereka .

Jajanan Yogya Tempo Dulu

Meskipun di tengah gempuran kuliner kontemporer dan waralaba raksasa, baik dari dalam maupun luar negeri, sejumlah jajanan asli Yogja masih tetap bisa bertahan hingga sekarang. Selain karena rasa dan lokasinya yang bikin kangen, juga suasana guyup, santai, dan klangenan yang membuat mereka mampu menembus jaman. Beberapa destinasi wisata jajanan tradisional hingga saat ini tetap kebanjiran pecintanya, berikut empat di antaranya.

Bakmi Pele Alun-Alun Utara

Bakmi Jawa yang sangat populer di Yogya adalah Bakmi Pele. Lokasinya yang sangat strategis di area pojok timur Pagelaran Alun-Alun Utara, membuat warung ini sangat mudah diingat. Didirikan pertama kali pada 1983 oleh Suharjiman, yang sehari-harinya bekerja sebagai pelatih bola anak-anak. Karena ada kaitannya dengan sepakbola itulah, maka tempat ini kemudian dikenal sebagai Bakmi Pak Pele atau Bakmi Pele.

Begitu warung dibuka di senja hari, antrian sudah mulai terlihat. Kalau pas akhir pekan atau libur panjang di Yogya, jangan harap pesanan kita bisa segera hadir di meja dengan cepat. Bisa-bisa harus menunggu cukup lama. Pada musim liburan mereka biasa menjual hingga 500 porsi per harinya. Dahsyat ya? Tips kami, sebaiknya jangan datang ke sini dalam keadaan sangat lapar. Hal tersebut dikarenakan mereka memasak pesanan kita maksimal hanya dua porsi untuk sekali masak. Sekali lagi, konon ini untuk menjaga cita rasanya.

Menu-menu yang tersedia di sini sangat bervariasi: selain mie rebus, mie goreng dan mie nyemek. Yang khas dari mie di sini adalah campuran tambahan telor bebeknya dan kol. Selain mie jawa, rupanya mereka juga punya menu andalan ayam rica-rica yang tidak ada di list dan hanya dibuat “based on request”. Adapun minuman andalan di sini yang menjadi favorit pengunjung yaitu wedang jahe panas yang diseduh dengan gula jawa.

Bakmi Pele

Arel Pojok Timur Pagelaran Alun-Alun Utara Yogyakarta

Buka jam 17.30 – 24.00

Lotek  Dan Gado-Gado Teteg Baciro

Disebut Lotek Teteg karena di awal berdiri pada 1968 lokasinya berada di sekitar teteg sepur (bahasa Jawa yang artinya pintu palang kereta api) di daerah Baciro. Karena pertimbangan keselamatan perkeretaapian, warung ini pindah lokasi di areal parkir Kantor DPD Golkar di Baciro.

Lotek merupakan makanan khas Jawa yang kaya sayur-sayuran. Bumbunyaterdiri dari kacang goreng, gula merah, cabe, bawang putih, kencur, air asam, dan garam. Campuran bumbu tersebut diuleg di dalam cobek batu hingga halus. Bumbu inilah yang kemudian dicampur dengan rebusan beberapa sayuran seperti bayam, kangkung, tauge, kol, kacang panjang . Dalam penyajiannya dilengkapi dengan kerupuk bawang.

Yang menarik perhatian di warung Lotek Teteg ini adalah cobek besar dengan ukuran diameter sekitar 80 cm. Diperlukan ketrampilan dan tenaga yang cukup kuat dalam proses menguleg bumbu tersebut. Tak heran, tugas menguleg bumbu dilakukan oleh seorang laki-laki .

Lotek dan Gado-gado Teteg

Jl. Argolubang 184 , Baciro, Yogyakarta

(timur Stasiun Lempuyangan)

Buka jam 8.30-16.00

Lotek Dan Gado-Gado Bu Bagyo Colombo

Masih menu makanan yang sama, gado-gado dan lotek. Ini nama lain yang legendaris di kota pelajar ini. Bermula dari usaha kecil di Jalan Moses Colombo, di samping Universitar Sanata Darma pada 1985. Sekarang pemiliknya telah membuka cabang di lebih dari 10 lokasi menyebar se antero Yogya dan sekitarnya. Jumlah karyawan yang bekerja di sini hampir 150 orang.

Untuk menjaga cita rasanya, setiap karyawan yang bertugas meng”uleg” adonan harus melewati pelatihan intensif selama kurun waktu tertentu. Bahkan untuk gado-gadonya, bumbunya dikirim langsung dari pusatnya di Colombo.

Yang khas dari racikan Lotek dan Gado-Gado Colombo ini adalah selain campuran bumbu kacang dan rebusan aneka sayur, tersedia bakwan goreng yang dipotong kecil-kecil yang diaduk bersama bumbunya. Rasa bakwan yang renyah dan gurih ini yang membuat penikmatnya ketagihan untuk menghabiskan hingga sendok terakhir.

Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo

Pusat; Jl. Moses Gatotkaca No.3 Yogyakarta

(samping kampus Universitas Sanata Dharma)

Buka jam 09.00-17.00

SGPC Bu Wiryo

Destinasi kuliner ini merupakan tempat sarapan pagi yang cukup terkenal di Yogyakarta. SGPC sendiri kependekan dari Sego Pecel. Bagi sebagian orang yang pernah kuliah di Universitas Gadjah Mada dan sekitarnya, biasanya rasanya ada yang kurang bila belum absen sarapan di warung ini.

Pada awalnya SGPC berlokasi di sebuah lahan sempit di fakultas Tekonolgi Pertanian UGM, atau di sebelah timur Kantor Pusat UGM, dan didirikan sejak 1959 oleh keluarga Wiryosoenarto. Sejak 1994 mereka pindah ke areal yang lebih luas di Jl. Agro sebelah Utara Selokan Mataram atau utara Fakultas Peternakan.

Menu utama yang disediakan tentunya nasi pecel berisikan aneka sayuran seperti bayam, kangkung, kacang panjang, tauge dan kol. Ada juga menu tambahan lain, yakni  nasi sop. Nasi sop nya unik karena dikombinasikan dengan sayur bayam. Yang khas dari warung ini adalah semua kelengkapan menu, yaitu lauk pauknya, disajikan rapi berjajar di satu meja memanjang. Kita tinggal pilih dan ambil sesuai selera. Apa saja? Ada telor ceplok, tahu tempe goreng, aneka camilan gorengan tempo dulu dan juga sate kerang dan sate telor puyuh.

Kalau masih belum puas makan di tempat, kita bisa membeli bumbu pecelnya saja. Harganya? Siap-siap merogoh kocek lebih dalam, Rp 150 ribu/kg. Cukup mahal untuk ukuran bumbu pecel. Tapi bagi sebagian orang yang  punya keterikatan emosional dengan rasa SGPC Bu Wiryo aang membelinya.

SGPC Bu Wiryo

Jl. Agro CT VIII No. 10, Klebengan Yogyakarta

Buka : jam 06.00 – habis (sore)