Banyuwangi Ethno Carnival 2019 Top 10 Wonderful Event

Tarian tradisional Banyuwangi 1

Banyuwangi Ethno Carnival 2019 kembali digelar. Program ini adalah salah satu dari Top 10 Wonderful Event.

Banyuwangi Ethno Carnival 2019

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengemukakan bahwa parade kostum etnik modern yang dikemas dalam ajang Banyuwangi Ethno Carnival telah ditetapkan sebagai Top 10 Wonderful Event di Indonesia. “Karena kualitasnya,” kata Arief Yahya saat membuka Banyuwangi Ethno Carnival 2019 di Taman Blambangan Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu 27 Juli 2019, seperti dilaporkan Antara.

BEC 2019 mengangkat tema “The Kingdom of Blambangan”, yang mengisahkan tentang kejayaan Kerajaan Blambangan pada masanya. Tema tersebut dibagi lagi dalam 10 subtema yang sarat makna historis tentang kejayaan kerajaan yang menjadi cikal bakal Kabupaten Banyuwangi itu. “Tahun ini keren sekali, dan saya bangga kepada warga Banyuwangi, setiap tahun terus meningkat kualitasnya,” ujar Mentri Arief.

Arief menjelaskan, Banyuwangi Ethno Carnival bisa masuk top 10 atraksi wisata nasional, karena Banyuwangi telah memegang prinsip 3C, yakni “creative value”, “commercial value” dan “CEO commitment”.

“Kreatif itu bisa dilihat dari kemasan kegiatannya, mulai koreografer, desainer kostumnya hingga musik pengiringnya. Tiga hal ini menentukan kualitas suatu atraksi,” ujarnya.

Pada kesempatan sama, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, Banyuwangi Ethno Carnival bukan sekadar sebuah kegiatan atraksi pariwisata. Ajang ini, katanya, merupakan cara daerah untuk terus menghidupkan tradisi dan budaya lokal lewat cara yang dimengerti oleh dunia. “Karnaval ini juga etalase kreativitas anak-anak muda Banyuwangi untuk berkiprah di level yang lebih luas tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai anak daerah,” kata Anas.

Dari sisi komersial, kata Anas, pariwisata berhasil menjadi pengungkit ekonomi daerah, dan perdapatan per kapita rakyat Banyuwangi meningkat menjadi Rp 48 juta pada Tahun 2018, dari Rp 20 juta pada Tahun 2010.

Anas menjelaskan bahwa setiap tahun Banyuwangi Ethno Carnival menampilkan tema yang berbeda, namun tetap berakar pada budaya lokal. Hal itulah, kata bupati, yang membedakan Banyuwangi Ethno Carnival dengan karnaval lainnya di Indonesia. Dan tema-tema ini lalu diterjemahkan dalam kostum yang diperagakan para talent.

 

 

*****

 

Wonderful Sail to Indonesia 2019 Promosi ke Yachter Dunia

Peserta Sail Indonesia1

Wonderful Sail to Indonesia 2019 promosi ke yachter dunia tentang keindahan Indonesia. Program yang digelar pada 22-27 Juli 2019 berakhir.

Wonderful Sail to Indonesia 2019

Wonderful Sail to Indonesia 2019 promosi ke yachter dunia tentang keindahan Indonesia. Program yang digelar pada 22-27 Juli 2019 berakhir. Program yang dimulai dari Maluku Tenggara ini diharapkan bisa memukau ratusan yachter sekaligus mempromosikan wisata yacht di Indonesia kepada dunia. Ajang ini digelar atas kerja sama Kementerian Pariwisata dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman di Debut, Langgur, Maluku Tenggara.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Indroyono Soesilo mengatakan, kegiatan ini untuk memberikan detail informasi dari destinasi-destinasi yang akan disinggahi para peserta Wonderful Sail2Indonesia.

“Mulai dari data teknis Titik labuh dalam bentuk Koordinat. Jalur lintas pelayaran mereka dari destinasi ke destinasi, cuaca, arus, angin dan lainnya,” kata Indroyono saat kegiatan Pengembangan Wisata Yacht Debut di Grand Vilia Hotel, Langgur, Maluku Tenggara, Rabu 24 Juli 2019.

Wonderful Sail to Indonesia diikuti 51 kapal dengan awak 135 orang yang berasal dari 13 negara yaitu Jerman, Belanda, Australia, Britania Raya, Kanada, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Swedia, Norwegia, Spanyol, dan Selandia Baru.

 

Peserta Sail Indonesia2
Peserta Sail to Indonesia berpose di tepi Pantai Lunggur, Maluku Tenggara. (Dok. Kemenpar)

Para peserta akan diajak melihat indahnya wisata bahari di Maluku Tenggara, termasuk kebudayaan di sana dan berbagai destinasi wisata menarik lainnya. Selain itu juga mengenalkan informasi mengenai konteks pelayanan kebijakan yang berkaitan dengan pelayaran yacht di Indonesia, antara lain dokumentasi, regulasi AIS (Automatic Identification System), izin tinggal, dan batasan waktu tinggal kapal wisata (yacht).

“Kesan yang didapat oleh para yachter adalah Indonesia merupakan negeri yang indah dan pariwisata Indonesia perlu dilestarikan seperti seni dan budayanya khususnya di Debut yang memiliki lingkungan yang bersih dan indah juga masyarakat yang ramah dan suka membantu,” katanya.

Indroyono juga berharap, para yachter bisa menjadi promotor pariwisata Indonesia di luar negeri setelah mereka meninggalkan perairan Indonesia nanti. Seperti, mempromosikan Indonesia melalui media sosial.

Bupati Maluku Tenggara Thaher Hanubun berjanji akan memberikan pelayanan maksimal kepada yachter. Dia berharap para yachter dapat menikmati keindahan alam dan keragaman budaya Maluku Tenggara, lalu melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi di Indonesia nantinya.

Thaher juga berharap pemerintah pusat mendukung pengembangan wisata yacht di Maluku Tenggara khususnya. Salah satunya memperhatikan jalur masuk ke Entry Port Debut.

 

 

 

*****

Indonesia Attractiveness Award 2019

IAA 2019

Indonesia Attractiveness Award 2019 kembali dilaksanakan untuk memberikan penghargaan kepada sejumlah daerah yang bersolek untuk menarik investor dan pariwisata. Indonesia Attractiveness Award atau IAA 2019 selenggarakan Tempo Media Group dan Frontier Group.

Indonesia Attractiveness Award 2019

Indonesia Attractiveness Award 2019 kembali dilaksanakan untuk memberikan penghargaan kepada sejumlah daerah yang bersolek agar menarik bagi investor dan pariwisata. Indonesia Attractiveness Award atau IAA 2019 selenggarakan Tempo Media Group dan Frontier Group.

Sejumlah daerah dengan keunggulan pariwisata dianugerahi penghargaan Indonesia Attractiveness Award (IAA) 2019 yang berlangsung di Hotel Pullman Jakarta Pusat, Selasa 23 Juli 2019 malam. Ajang IAA yang digelar PT Tempo Inti Media Tbk. atau Tempo Media Group bekerja sama dengan Frontier Group tersebut memasuki tahun kelima dengan menempatkan sektor pariwisata, investasi, infrastruktur, dan pelayanan publik sebagai indikator penilaiannya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaraan IAA sebagai upaya mendorong kemajuan daerah di tingkat provinsi, kota, dan kabupaten dengan menempatkan sektor pariwisata sebagai daya tarik dalam memajukan ekonomi daerah. “Kemajuan sektor pariwisata di daerah akan membawa dampak pada meningkatnya investasi, pembangunan infrastruktur, dan pelayanan publik,” katanya.

Kemajuan tersebut telah dibuktikan oleh sejumlah daerah antara lain Banyuwangi, Kota Batu, dan Denpasar. Kemajuan pariwisata dan infrastruktur juga dibuktikan di 10 daerah yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dikembangkan sebagai “Bali Baru” atau destinasi pariwisata kelas dunia.

Presiden Jokowi telah menetapkan 4 DPP yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Direktur Utama Tempo Inti Media Toriq Hadad mengharapkan penghargaan IAA 2019 dapat mendorong semangat kepala daerah (provinsi, kota, dan kabupaten) dalam melakukan pembangunan di daerah. Toriq dan CEO Frontier Group Handi Irawan memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang sudah beberapa kali maupun yang baru pertama kali memperoleh penghargaan IAA.

CEO Frontier Group Handi Irawan menyatakan, daya tarik kemajuan di bidang pariwisata, investasi, infrastruktur, dan pelayanan publik digunakan sebagai indikator dalam Indonesia Attractiveness Index untuk mengukur kemajuan masing-masing daerah dengan kriteria berdasarkan dua indikator yakni PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto). “Dengan begitu perbandingan antar daerah bisa dilakukan setara berdasarkan kategori meliputi besar, sedang, dan kecil,” katanya.

Menpar Arief Yahya pada kesempatan itu menyematkan penghargaan untuk kategori platinum kepada masing-masing daerah terbaik dalam pariwisata, investasi, infrastruktur, dan pelayanan publik.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X , Gubernur Jawa Timur Hj. Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini,  dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Dalam ajang IAA 2019 diserahkan sebanyak 45 penghargaan untuk kategori gold dan platinum. Provinsi, kota, dan kabupaten yang menerima penghargaan untuk kategori platinum yakni,  Provinsi Besar; Jawa Timur (pelayanan publik dan pariwisata), Jawa Barat (investasi), DKI Jakarta (infrastruktur). Sedangkan Sumatera Barat (pelayanan publik), Daerah Istimewa Yogyakarta (pariwisata), Sulawesi Tengah (investasi), dan Aceh (infrastruktur). Kecil; Bengkulu (pelayanan publik), Sulawesi Utara (investasi), dan Kalimantan Utara (infrastruktur).
Kategori Kota Besar; Pekanbaru (Riau) untuk pelayanan publik; Surabaya (Jawa Timur) untuk pariwisata dan infrastruktur, dan Denpasar (Bali) untuk pariwisata.

Kategori Sedang; Pontianak (Kalimantan Barat) untuk infrastruktur, Kota Jambi (Jambi) untuk pelayanan publik. Kecil; Payakumbuh (Sumatera Barat) untuk pelayanan publik, dan Batu (Jawa Timur) untuk pariwisata.

Sementara itu untuk kategori Kabupaten Besar;  Banyuwangi (Jawa Timur) untuk pariwisata dan infrastruktur. Sedang; Banggai (Sulawesi Tengah) untuk pelayanan publik, dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) untuk investasi. Kecil; Bantaeng (Sulawesi Selatan) untuk pelayanan publik, dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) untuk investasi.

 

 

*****

Ya’ahowu Nias Festival 2019 Digelar Kembali

post 1563610581 siaran pers yaahowu nias festival 2019 digelar untuk jaring wisatawan milenial

Ya’ahowu Nias Festival 2019 kembali digelar pemerintah provinsi Sumatera Utara. Festival ini diharapkan menjadi salah satu ikon pariwisata di Nias.

Ya’ahowu Nias Festival 2019

Pemerintah kembali akan menggelar Ya’ahowu Nias Festival. Tahun ini merupakan festival yang keempat kali dan dilaksanakan pada 16-20 November 2019 dengan salah satu tujuan untuk menjaring segmen wisatawan milenial.

Festival yang akan berlangsung di Lapangan Merdeka Ibukota Kecamatan Lahomi dan Pantai Indah Sirombu Kabupaten Nias Barat Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini, menargetkan kunjungan lebih banyak wisatawan milenial.

Salah satu kegiatan yang ditujukan untuk menarik minat wisatawan milenial adalah Festival Ya’ahowu Camping Ground. Melalui festival ini, pemerintah berharap bisa memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal Nias kepada generasi muda.

Event yang juga masuk dalam 100 Calendar of Event (CoE) 2019 ini akan menghadirkan 12 acara unggulan yaitu Ya’ahowu Nias Karnaval, pagelaran tarian tradisional khas masing-masing daerah Se-Kepulauan Nias, Pagelaran Atraksi Budaya, Lomba Permainan Rakyat, Perlombaan Olahraga, Lomba Atraksi Silat Tradisional, Lomba Kreasi Kerajinan Tangan Dari Bahan Sinasa, Festival Kuliner Nias, Yaahowu Idol 2019, Pemilihan Putri Pariwisata Kepulauan Nias 2019, Festival Ya’ahowu Camping Ground, dan Hiburan (Artis Lokal dan Nasional).

Menurut Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Noviendi Makalam, penyelenggaraan festival budaya ini merupakan perwujudan penerapan salah satu unsur 5C (Creative Value, Commercial Value, Communication Value,dan CEO Commitment).

“Ini artinya sudah mulai terlihat komitmen para pemimpin daerah,” ujar Noviendi dalam peluncuran Ya’ahowu Nias Festival 2019 dengan tema “Nias is Truly Island” di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kamis 18 Juli 2019.

Noviendi Makalam juga mendukung semakin banyaknya event-event yang diselenggarakan secara rutin. Menurutnya, dengan adanya event reguler akan mempermudah suatu kawasan melakukan promosi untuk menarik kedatangan wisatawan.

Bupati Kabupaten Nias Barat Faduhusi Daeli menyatakan bahwa untuk tahun ini, kegiatan-kegiatan dalam festival juga akan menampilkan sejumlah tarian dari kawasan Nias Barat. “Selama ini banyak kegiatan wisata masih berpusat di Nias Selatan,” katanya.

Ia juga berharap akan terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Nias. “Kami menargetkan kunjungan wisatawan sekitar 30-40 ribu untuk tahun ini, dengan sepuluh persen-nya adalah wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Sebelumnya, pada 2017 jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Nias sebanyak 50.418 orang terdiri dari 426 wisman dan 49.922 wisnus atau di atas target yang ditetapkan dalam RIPPARKOT Gunung Sitoli yang menetapkan target kunjungan wisatawan pada 2017 sebanyak 24.659 wisatawan terdiri dari 306 wisman dan 24.353 wisnus.

 

 

*****

Upacara Yadnya Kasada 2019 Suku Tengger

media 1563690863 img 20190721 wa0035

Upacara Yadnya Kasada 2019 Suku Tengger di kawasan gunung BromoJawa Timur, kembali berlangsung pertengahan Juli lalu. Dari waktu ke waktu, upacara ini makin diminati wisatawan. Baik lokal maupun manca negara.

Upacara Yadnya Kasada 2019

Suku Tengger di kawasan gunung Bromo, Jawa Timur, kembali menjalankan upacara Yadnya Kasada yang merupakan wujud persembahan mereka terhadap Sang Hyang Widhi, sang pencipta. Tradisi ini menjadi salah satu atraksi dan daya tarik wisata yang kuat untuk menarik wisatawan ke Bromo.

Selama ini kawasan Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, membawa berkah tersendiri bagi warga Suku Tengger hingga warga sekitar kawasan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas yakni Bromo Tengger Semeru (BTS).

Salah satu daya tarik wisata yang paling diminati adalah gelaran upacara Yadnya Kasada Bromo yang memiliki makna dan tujuan untuk memperoleh berkah, tolak bala atau malapetaka, dan sebagai wujud syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada masyarakat Tengger.

media 1563690719 img 20190721 wa0030

Saat upacara Yadnya Kasada Bromo berlangsung, masyarakat Suku Tengger berkumpul dengan membawa hasil bumi, ternak peliharaan seperti ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang bernama ongkek. Setiba di bibir kawah bromo semua hasil bumi dan ternak di buang ke dalam kawah Bromo sebagai sesajian.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event 2019 Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty mengatakan, kegiatan melabuh hasil bumi ke kawah Bromo sudah menjadi tradisi turun-temurun warga Tengger yang terus dilestarikan hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, kegiatan sakral ini terbuka untuk umum, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan.”Banyak sekali turis asing yang ikut berkunjung ke Bromo,” kata Esthy di Jakarta 21 Juli 2019.

Selain warga yang menyerahkan hasil buminya, upacara ini juga ditandai dengan banyaknya warga yang “ngalap berkah” dengan berburu sesembahan masyarakat yang dilemparkan ke area kawah.

Mul, salah satu warga dari Desa Ngadirejo sengaja datang untuk berburu sesembahan yang umumnya dilempar warga Tengger pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Kamis 18 Juli 2019. Ia membawa serta sang istri, yang juga ikut menangkap lemparan sedekah menggunakan alat tangkap yang dinamakan pemarit.

Para pemburu sesembahan ini umumnya berangat dari rumah sebelum subuh, sekitar jam 03.00 dini hari dan langsung menuju puncak Bromo. Mereka menunggu di lokasi hingga siang hari, karena yang melabuh sedekah tidak datang bersamaan. Ada yang pagi, ada juga yang siang baru datang.

Begitupun, melihat cara mereka berebut sedekah, membuat sebagian pengunjung justru khawatir. Karena mereka berdiri di lereng arah kawah Bromo.

Setiap kali perayaan Yadnya Kasada, Mul mengaku bisa mengumpulkan lebih dari 70 kg kentang belum termasuk kol, uang, dan lain-lain. Karena sesajian yang dilabuh warga Tengger, jenisnya memang beragam. “Barang-barang ini nantinya kita jual ke pasar. Jadi hasilnya tergantung harga komoditas tersebut. Jika harga kentang sedang mahal, uang yang kita dapat pun lumayan. Sebagian kecil saja yang kita konsumsi sendiri,” jelasnya.

Pada Jumat 19 Juli 2019 Gunung Bromo sempat mengalami erupsi sekitar pukul 16.37 WIB. PVMBG sempat melarang aktivitas wisatawan di puncak dan lereng Gunung Bromo dengan alasan keamanan. Meski masih level II masyarakat diminta mengutamakan keselamatan.

****

Festival Panggil Ikan 2019 Kembali Digelar di Alor

media 1563775166 fafsaf

Alor gelar Festival Panggil Ikan 2019. Sebagai wilaya kepulauan, masyarakat Kepulauan Alor memang lekat dengan hal-hal berbau bahari.

Festival Panggil Ikan 2019

Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar Festival Panggil Ikan pada 19-25 Juli 2019 sebagai atraksi wisata berbasis kearifan budaya lokal. Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Muh. Ricky Fauziyani mengatakan, Alor merupakan destinasi wisata bahari populer di Indonesia, terutama bagi wisatawan mancanegara (wisman).

“Potensi surga bawah lautnya masih sangat besar dan bisa menjadi masa depan sektor pariwisata dan maritim Indonesia, terlebih dengan spesies laut yang jarang ditemui di tempat lain,” kata Ricky di Jakarta, Minggu 21 Juli 2019.

Kemenpar berkomitmen mendorong promosi berkesinambungan wisata bahari seperti di Alor agar lebih populer. Festival ini dinilai bisa mempercepat perkembangan pariwisata Alor sebagai surga divingsekaligus mempersiapkan Alor sebagai tujuan wisata baru di NTT, selain Labuan Bajo dan Danau Kelimutu.

Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur I Wayan Darmawa mengatakan festival yang sangat unik ini digelar langsung di alam bebas perairan Kabupaten Alor, dipandu seorang pawang ikan duyung atau jenis ikan yang juga dikenal dengan dugong. “Festival memanggil ikan dugong ini baru pertama kali digelar, dikolaborasikan dengan berbagai atraksi seni budaya dan kuliner khas Alor,” katanya.

I Wayan Darmawa juga mengatakan, dugong merupakan salah satu spesies laut yang dilindungi serta belum banyak mendapat perhatian masyarakat. “Selain memperkenalkan kekayaan flora dan fauna di perairan sekitar Pulau Alor, festival ini mengedukasi pengunjung untuk ikut menjaga kelestarian alam di wilayah tersebut,” katanya.

Darmawa juga menjelaskan, untuk menyaksikan hewan mamalia ini pengunjung diantar seorang pawang dengan menumpang perahu menuju tempat memanggil sekawanan ikan dugong untuk mendekat. Selama sepekan, festival juga diisi dengan berbagai acara seperti atraksi menenun, seni budaya, kuliner, jelajah alam baik darat maupun laut, gerakan kebersihan, aneka lomba, dan pameran UMKM.

Selain atraksi wisata alam dugong akan dimulai dengan gerakan Alor bersih dan bebas sampah, peresmian bank sampah, dan peletakan batu pertama pembangunan wisma wisata di Desa Wolwai, Alor.

Hari selanjutnya hingga sepekan pengunjung bisa menyaksikan wisata dugong dan berkunjung ke Kampung Adat Alor Besar, situs Alquran tertua, serta Kampung Adat Lalapang dan Takpala.

****

UNESCO Tetapkan Sawahlunto Warisan Dunia

Keindahan seputar Singkarak salah satunya menikmati peninggalan pertambangan ombilin di Sawahlunto.

UNESCO tetapkan Sawahlunto Warisan Dunia kategori budaya. Yang ditetapkan ini adalah bekas pertambangan ombilin di wilayah tersebut, Sawahlunto, Sumatera Barat.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memberikan apresiasi tertinggi atas diakuinya bekas lokasi pertambangan Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, sebagai warisan dunia kategori budaya oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO.

Standar global yang dimaksud diwujudkan dalam bentuk membangun bandara internasional di banyak tempat. Sementara dari sisi amenitas, ditandai dengan makin banyak dikembangkan hotel-hotel bintang 5 yang berkelas dunia di berbagai destinasi.

“Ketiga adalah atraksi yang juga harus berkelas dunia. Di banyak tempat di dunia, UGG itu selalu memberi dampak yang signifikan terhadap wisatawan. Brandingnya langsung mendunia karena diakui oleh UNESCO, lembaga dunia,” kata Menpar.

Ombilin menambah koleksi Indonesia yang saat ini memiliki empat warisan dunia kategori alam yakni Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), Hutan Tropis Sumatera (2004), dan Taman Nasional Ujung Kulon (1991).

Selain itu, Indonesia sudah punya empat warisan dunia kategori budaya, yaitu Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran (1996), dan sistem Subak di Bali (2012).

 

 

****

Festival Muara Wampasi 2019 yang Unik

Festival Muara Wampasi 2019 kembali digelar Pemerintah Kabupaten Kepulauan Biak, Papua. Festival ini diharapkan akan menjadi daya tarik pariwisata daerah ini, selain hal-hal yang selama ini sudah dikenal masyarakat.

Festival Muara Wampasi 2019

Tradisi unik masyarakat di Kepulauan Biak, Papua, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung dalam Festival Biak Muara Wampasi VII di Kepulauan Biak, Papua. Festival ini berlangsung pada 1-6 Juli 2019.

Sekretaris Daerah Kepulauan Biak, Papua Markus Mansnebra, mengatakan Biak mempunyai tradisi seni dan kebudayaan yang beragam antara lain snap moratau menangkap ikan di air laut surut, dan apen beyeren atau berjalan kaki di atas batu panas. Budaya unik masyarakat Biak ini ditampilkan pada Festival Biak Munara Wampasi 2019.

“Daerah ini juga memiliki destinasi wisata unggulan lain yaitu Telaga Samares, Pantai Batu Picah, dan Gua Jepang,” katanya Markus.

Pagelaran budaya yang berbalut pariwisata ini, lanjut Markus, semakin membuka mata masyarakat untuk senantiasa mengubah haluan dari bidang kelautan di mana masyarakatnya lebih banyak bekerja sebagai nelayan kini perlahan mulai berfokus kepada pariwisata.

Sebagian besar masyarakat di Biak sudah semakin sadar bahwa pariwisata membawa dampak yang baik terlebih dengan mengutip ungkapan Menteri Pariwisata Arief Yahya bahwa pariwisata semakin dilestarikan semakin menyejahterakan. Hal tersebut, semakin nyata bahwa pariwisata bisa memberikan dampak besar bagi perekonomian selain sebagai nelayan.

Di tempat yang sama, anggota Calender of Event Kementerian Pariwisata Raseno Arya menambahkan bahwa festival ini juga semakin memperlihatkan keberadaan pariwisata Indonesia dari sisi yang lain yakni sisi budaya.

“Biak menjadi salah satu pulau paling indah di Indonesia Timur selain kekayaan alam, ada juga pulau tiga warna. Kita melihat bahwa kekuatan budaya sangat menonjol sehingga sangat layak untuk dipelihara dan dilestarikan, nuansa budaya juga harus lebih dikentalkan lagi,” katanya.

Dengan melihat latar belakang sebelumnya, di mana di tahun 1990-an di Biak pernah didaratkan maskapai asing yang bertujuan ke Honolulu maupun Jepang. Oleh karenanya, perlu dihidupkan kembali sehingga Kepulauan Biak semakin dikenal kembali karena keindahan alam yang dimilikinya.

“Kita bisa lihat, selain pesawat ATR dan bombardier maka pesawat boeing sudah mendarat di Bandara Biak, artinya pasokan wisatawan yang datang juga semakin besar dan mudah untuk menikmati pariwisatanya. Belum lagi, Biak memiliki wisata sejarah di dalamnya salah satunya adalah Goa Jepang,” ujarnya.

 

****