5 Kudapan Enak Khas Kota Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang rasanya hampir semua orang sudah tahu. Tapi tidak ada salahnya kita bahas satu-satu keunikan jajanan kota yang sering disebut juga kota Atlas, ini sebutan di tahun 80-an yang artinya: aman, tertib, lancar, asri dan sehat.

5 Kudapan Enak Khas Kota Semarang

Rasanya semua traveler setuju, salah satu keasyikan melakukan perjalanan ke kota-kota lain adalah mencicipi jajanan khas di kota tersebut. Dan, sejumlah kota di Jawa termasuk yang kaya dengan pilihan kudapannya. Ibu kota Jawa Tengah ini mempunyai pilihan berlimpah kalau soal camilan. Pengunjung bisa berkeliling mencari gerai-gerai penjaja makanan ringan, dari lapak di pinggir jalan hingga restoran.

Berikut ini ada lima pilihan camilan enak khas kota Semarang, bisa menjadi alternatif saat main ke kota jamu ini, sebutan ini mengacu pada banyaknya industri besar jamu di Indonesia.

Es Krim Jadul di Oen

Restoran ini termasuk ikon Semarang, sering dipenuhi turis dari luar negeri yang asyik mengobrol santai sambil makan. Menjadi tempat pilihan bersantap bagi orang yang ingin mengenang masa lalu. Restoran Oen konsisten menjajakan kudapan khas Belanda sejak 1936. Ada poffertjes, kaasstengel, janhagel, kattetong, dan sebagainya. Semuanya enak, tapi yang sering jadi pilihan utama adlah es krimnya dalam berbagai rasa. Setelah berwisata di kawasan kota tua Semarang, mampir ke resto lawas di Jalan pemuda, dekat dengan kota tua.

Yang tergolong paling laris adalah es krim Tutti Fruti dan Oen’s Symphony. Satu potong es krim Tutti Fruti dengan taburan sukade benar-benar terasa segar. Demikian pula Oen’s Symphony, yang terdiri atas empat sendok es krim dengan rasa berbeda-beda dan krim serta hiasan kue lidah kucing di bagian atas.

Restoran Oen; Jalan Pemuda Nomor 52, Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang yang layak buat dicicipi saat mampir ke kota ini.
Tahu Pong Semarang, tahu goreng kosong dengan tambahan bakwan udang dan telur rebus goreng. Foto: Dok. shutterstock

Tahu Pong dan Gimbal

Tahu goreng ini dinamakan tahu pong karena kopong atau kosong. Dikenal sejak 1930-an di Semarang, tahu ini tampak padat di luar. Namun setelah digigit, Anda akan menemukan bagian yang berlubang di tengah tahu. Camilan satu ini memiliki beberapa cara penyajian. Anda bisa menambahkan nasi jika menginginkannya sebagai salah satu menu makan berat.

Begitupun, tanpa nasi pun sebenarnya seporsi tahu pong sudah sangat mengenyangkan. Apalagi jika Anda memilih menu dengan tambahan gimbal, semacam bakwan goreng dengan udang goreng tepung, dan telur rebus yang juga digoreng. Untuk penyedap rasa, tahu pong dihidangkan dengan kuah petis hitam lengkap dengan sepiring acar. Tambahkan cabe rawit yang diulek jika Anda suka pedas. Walhasil, rasanya lengkap: asin, gurih, dan pedas.

Tahu Pong; Jalan Gajah Mada Nomor 63; Semarang

Pisang Plenet

Bila tahu pong masih satu keluarga dengan tahu gejrot di Cirebon, pisang plenetbisa jadi merupakan saudara dari jajanan pisang epe di Makassar. Namun orang yang menjajakan pisang plenet tidak sebanyak penjual pisang epe di Pantai Losari. Bahkan, istilahnya, sudah bisa dihitung dengan jari orang yang masih setia menjajakan pisang plenet. Kuliner jalanan ini bisa ditemukan pada malam hari.

Penganan ini terbuat dari pisang kepok yang sangat manis. Pisang itu dibakar di atas bara arang. Setelah agak kecokelatan, pisang bakar ini di-plenet atau ditekan-tekan hingga tipis. Penampakannya langsung berubah menyerupai pancake, saking gepengnya. Taburan di atas pisang bisa beragam, dari keju, cokelat meises, hingga selai buah-buahan. Pisang plenet makin nikmat disantap selagi hangat.

Pisang Plenet; Pasar Malam Pecinan, Semawis

Pisang Plenet Pak Turdi; Jalan Pemuda, depan Pasaraya Sri Ratu dekan Oen, Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang, salah satunya kue leker Paimo, makanan pinggir jalan yang layak dicoba.
Kue leker Paimo, kudapan ringan pinggiran jalan yang sering bikin kangen penikmatnya. Foto: Dok. shuterstock

Leker Paimo yang Lezat

Terbuat dari adonan tepung dan telur, kue leker memang cukup dikenal sebagai camilan yang sedap. Umumnya, kue ini berisi cokelat meises, potongan pisang, susu kental manis, dan keju. Nah, Leker Pak Paimo berupaya menyajikan kenikmatan yang lain. Diambil dari bahasa Belanda, yang berarti enak, leker memang lezat untuk disantap sore hari. Apalagi Pak Paimo cukup kreatif mengolah menu ini.

Siapa sangka, lapak mini yang berada di depan salah satu sekolah menengah favorit di Semarang itu tak pernah sepi dijejali pembeli, baik tua maupun muda. Kompor yang beroperasi hanya satu, sehingga pengunjung harus sabar antre. Yang menarik, di sini tersedia leker dengan berbagai macam isi. Dari yang standar, seperti selai atau cokelat, hingga jagung rebus, sosis, telur, sayuran, keju mozzarella, dan potongan tuna.

Leker Pak Paimo; Jalan Karanganyar; Depan SMA Kolese Loyola; Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang, yang paling terkenal tentu saja loenpia, makanan peranakan yang menjadi ikon kota ini.
Loenpia Goreng Semarang, makanan peranakan yang menjadi ikon ibukota Jawa tengah ini. Foto: Dok. shutterstock

Loenpia Basah & Kering

Semarang hampir selalu identik dengan kudapan satu ini. Aslinya, lumpia merupakan makanan khas bangsa Tionghoa yang dibawa oleh para pendatang ke kota ini di masa silam. Banyak orang mengingat kekhasan camilan ini pada irisan rebungnya. Memang lunpia (loenpia) atau kemudian dikenal sebagai lumpia terdiri atas campuran rebung, telur, sayuran, daging, dan ikan laut yang digulung dalam adonan tepung gandum sebagai kulit pembungkus.

Biasanya, semakin mahal isinya, semakin tinggi pula harganya. Harga lumpia isi udang dan kepiting tentu tidak sama dengan isi rebung. Harga standarnya sekitar Rp 15 ribuan. Lumpia juga menjadi oleh-oleh andalan dari Semarang karena bisa dibeli dalam bentuk yang belum digoreng. Jadi, ada lumpia basah dan lumpia kering. Dikudap di kedai penjual pun lumpia terasa pas dengan guyuran saus tauco dan acar mentimun.

Loenpia Gang Lombok; Gang Lombok Nomor 11; Kranggan, Semarang

Loenpia Mbak Lin; Jalan Pemuda; seberang Sri Ratu, Semarang

Loenpia Cik Meimei; Jalan Gadjahmada, Semarang

agendaIndonesia

*****

Serba Pisang di Makassar Ini 6 Yang Lezat

Serba pisang dari Makassar, ini 6 makanan yang lezat berbahan pisang.

Serba pisang di Makassar memberi gambaran beragamnya camilan lezat dari kota anging Mamiri ini. Beberapa jenis makanan menjadi pilihan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Ada pula yang bisa tiap sore dinikmati sembari menikmati ibu kota Sulawesi Selatan ini.

Serba Pisang di Makassar

Pisang tergolong jenis bahan pangan yang memiliki gizi hampir sempurna lantaran mengandung air, gula, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, karena rasanya yang enak, pisang disukai semua kalangan, anak-anak hingga orang dewasa. Tumbuh di daerah beriklim tropis, yang panas dan lembap, terutama di dataran rendah, pisang banyak ditemukan di Nusantara. Salah satunya di Sulawesi Selatan. Dengan hasil buah yang melimpah, masyarakat Sulawesi Selatan bisa menghasilkan beragam olahan dari pisang. Tak hanya manis, tapi juga ada hidangan yang gurih.

Es Pisang Ijo

Penampilannya cukup menggoda dengan warna hijau yang khas. Karena warna itu pula sajian ini disebut pisang ijo. Tampilannya terlihat semakin cantik dalam rendaman vla santan putih dan sirop DHT Pisang Ambon berwarna merah muda. Serutan es batu yang dituangkan ke dalamnya benar-benar membikin segar, apalagi bila dinikmati saat cuaca panas. Penganan yang satu ini juga cocok menjadi menu berbuka puasa.

Bahan utamanya adalah pisang raja yang dibungkus dengan adonan hijau berbentuk seperti kulit pisang. Warna hijau berasal dari perasan daun pandan, yang juga menimbulkan aroma wangi. Vla dibuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, dan garam. Rasa manisnya lebih dominan dibanding dengan gurih.

Biasanya pisang ijo disajikan di atas piring, tapi ada juga kreasi yang berbeda. Di toko Kue dan Es Krim Mama, misalnya, pisang ijo ditawarkan dalam bentuk yang lebih mungil dengan ditemani cendil serta bubur hitam. Meski dipadukan dengan hidangan Jawa, cita rasa kebangsawanan Bugis-Makassar tetap terasa dalam pisang ijo tersebut.

 Pallubutung Nan Legit

Tampilannya agak mirip pisang ijo. Terbuat dari pisang plus vla putih nan manis. Bedanya, pallubutung menggunakan pisang kepok. Pisang itu dikukus terlebih dulu. Setelah masak, kulitnya dikupas, lalu pisang dipotong-potong serong. Irisan pisang kemudian dimasukkan ke dalam vla. Pallubutung bisa dinikmati dalam kondisi hangat, tapi jauh lebih enak jika dihidangkan dingin dengan tambahan serutan es batu. Jika tak suka dengan rasa polos alias orisinal, Anda bisa menambahkan susu kental manis dan sirop DHT Pisang Ambon. Penganan ini pun menjadi salah satu menu favorit untuk berbuka puasa.

serba pisang di Makassar memperlihatkan bagaimana buah ini bisa menjelma menjadi camilan-camilan yang lezat.
Barongko, makanan tradisional dari Makassar yang berbahan dasar dari pisang. Foto: Dok. shutterstock

 Kue Barongko

Kue ini menjadi salah satu menu wajib dalam kegiatan pesta dan upacara adat masyarakat Bugis-Makassar. Ada banyak kafe dan toko kue yang menjajakan barongko. Sebab, kue ini memang diminati banyak orang. Karena memiliki rasa yang manis dan segar, kue ini pun kerap disantap saat berbuka puasa.

Bahan dasarnya sama dengan pallubutung, tapi pisang kepoknya dihaluskan dan dicampur dengan gula, telur, dan santan. Adonan tersebut diaduk hingga rata, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus kurang-lebih 30 menit. Barongko paling pas dinikmati dalam kondisi dingin, dengan memasukkannya ke lemari es terlebih dulu. Kadang kala diberikan variasi berupa irisan nangka dan cincangan kenari sebelum dikukus. Aroma nangka, pisang, dan, daun pisang menyatu, sementara kenari memberikan sensasi gurih di antara rasa manis yang dominan.

Serba pisang di Makassar salah satunya adalah pisang epe yang banyak dijumpai di kawasan pantai Losari.
Pisang bakar khas Makassar, pisang epe, yang mudah ditemui di kawasan pantai Losari. Foto: Dok. shutterstock

 Pisang Epe, Digepuk dan Dibakar

Menikmati sore sambil menunggu mentari tenggelam di Pantai Losari tak akan lengkap tanpa ditemani sajian pisang epe alias banana press—sebagian orang menyebutnya demikian karena pisang ini ditekan-tekan agar gepeng setelah dibakar. Bahan utama yang digunakan adalah pisang kepok. Pisang yang telah gepeng itu lalu disirami vla gula merah atau gula aren. Di musim durian, vla biasanya ditambahi daging durian, sehingga aromanya lebih menggoda.

Pisang epe mudah ditemukan di kawasan Pantai Losari, seperti di Jalan Penghibur, Jalan Ujung Pandang, Jalan Maipa, dan Jalan Lamaddukelleng. Pilihannya juga semakin bervariasi. Ada rasa cokelat, keju, atau kombinasi, selain rasa orisinal dengan vla gula merah.

Sanggara Pep’pe nan Gurih

Tampilannya agak mirip dengan pisang epe. Namun, untuk membuat hidangan ini, pisang kepok harus digoreng, lalu ditumbuk agar berbentuk gepeng. Sanggara memang berarti digoreng, sementara pep’pe dipukul-pukul. Meski tampilannya mirip dengan pisang epe, rasanya jauh berbeda. Jika pisang epe identik dengan manis, sanggara pep’pe menonjolkan rasa gurih. Penganan satu ini biasanya dinikmati dengan sambal.

Roko-Roko Unti Nan legit

Rasanya yang legit benar-benar memanjakan lidah. Roko-roko unti (bungkus-bungkus pisang) tak jauh berbeda dengan kue nagasari. Lagi-lagi berbahan utama pisang. Dalam hidangan ini, pisang disembunyikan di tengah adonan vla putih yang gurih dan kental. Adonan itu dimasak dengan cara dibungkus daun pisang, kemudian dikukus. Nah, ada banyak jenis pisang bisa digunakan untuk membuat roko-roko unti, tapi pisang kepok dan pisang raja menjadi pilihan utama. Biasanya, hidangan ini dijual dengan harga Rp 4.000 per bungkus.

Bagi yang sedang  main ke Makassar dan ingin mencicipi makanan-makanan tersebut, coba main ke tempat-tempat ini

Café Mama; Jalan Seruni dan Jalan Bougenville, Makassar

Kios Bravo; Jalan Andalan No 154, Makassar

Kios Hawai; Jalan Ranggong, Makassar

Pisang Epe; Kawasan Pantai Losari

TL/agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Mbah Karto, Lezat Sejak 1960

Ayam Goreng Mbah Karto menjadi salah satu kuliner andalan kota SOlo.

Ayam Goreng Mbah Karto di Solo atau mungkin aslinya yang di Sukoharjo, Jawa Tengah, mungkin belum setenar ayam goreng Suharti atau Mbok Berek di Yogyakarta. Namun buat pecinta kuliner, khususnya ayam goreng, nama Mbah Karto adalah jaminan mutu ayam goreng yang enak.

Ayam Goreng Mbah Karto

Perjalanan rumah makan ini pun tidak pendek. Ia telah eksis bahkan sejak tahun 1960-an. Ayam goreng Mbah Karto menjadi favorit banyak kalangan, bahkan Presiden Joko Widodo dan keluarga pun menggemarinya.

Ayam Goreng Mbah Karto, kadang dikenal juga dengan sebutan Ayam Kampung Goreng Mbah Karto Tembel, memulai perjalanannya dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah makan pertamanya berlokasi di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto Nomor 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Ayam Goreng Mbah Karto Tembel hanya berjualan ayam kampung goreng sejak dahulu.
Warung Ayam Goreng Mbah Karto. Foto” Milik Tribun Solo

Untuk yang kurang paham posisi geografis, warung pertamanya ini kadang disebut juga sebagai berada di kota Solo. Karena sesungguhnya tempat tersebut memang berimpitan dengan kota batik tersebut.

Rumah makan pertama tersebut boleh dikata sangat sederhana bernuansa Jawa. Mirip dengan rumah pinggiran Solo. Ini terlihat dari ruang makan utama yang berupa pendopo kayu. Seperti pada warung pada umumnya, meja dan kursi kayu disediakan supaya pelanggan lebih nyaman saat makan.

Walaupun sederhana, tetapi Ayam Goreng Mbah Karto berhasil bertahan melampui zaman dan masih ramai dikunjungi penggemar ayam goreng sampai sekarang. Tempat makan legendaris ini sekarang dikelola oleh generasi ke dua keluarga Mbah Karto.

Walaupun sudah dikelola oleh generasi ke duanya, menurut pecintanya, menu dan racikan Ayam Goreng Mbah Karto tetap sama dengan generasi pertama. Menu andalan mereka tetap ayam goreng kampung.

Sri Sukarni, pemilik dan pengelola rumah makan tersebut saat ini mengatakan sejak dahulu tempatnya memang hanya menyediakan satu varian menu. “Di sini cuma ada ayam goreng saja sama sambalnya,” kata Sri sambil menjelaskan itu sesuai ketika masih dikelola orang tuanya.
Dengan logat bicara Jawa, Sri menjelaskan bahwa mungkin senang dengan masakan warungnya karena beberapa keunggulan ayam goreng racikannya. Gurih legit daging ayam kampung ini karena diolah dari ayam segar.


“Kami pakainya hanya ayam kampung segar, jadi setekah disembelih langsung diolah, digoreng,” jelas Sri seraya menyebut pihaknya tidak pernah menyimpan ayam ke dalam lemari pendingin. Semua ayam yang dipotong hari itu harus habis hari itu juga.

Ia lantas menceritakan rahasia kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Menurutnya itu karena pemilihan ayamnya sampai bumbunya. Ayam yang dipakai adalah ayam kampung muda, lebih kurang berusia tiga bulan.


Setelah dipotong, ayam kampung diberi bumbu bacem, bawang putih, dan rempah lainnya. Ayam lalu diungkep dalam wadah di atas kompor kayu bakar. Setelah diungkep, barulah digoreng.

Untuk membuat daging ayam kampung empuk dan lezat, Sri menjelaskan, proses memasaknya ayam direbus dengan bumbu dan santan kelapa. “Proses ini memakan waktu hingga 1,5 jam,” katanya.


Setelah ayam empuk dan bumbu meresap, kemudian ayam diangkat dan digoreng hingga matang. Sementara bumbu santannya tetap dimasak hingga mengental dan menjadi hitam gelap. Sari dari santan inilah yang kemudian dijadikan sambal blondho.


Blondho inilah kunci lain kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Sambal blondho terbuat dari ampas minyak endapan santan kental atau areh matang. Untuk penyajiannya, blondho yang berwarna hitam gelap ini bisa ditampilkan sendiri, namun bisa juga dicampur dengan sambal bawang.

Ayam Goreng Mbah Karto
Banyak yang ingin membawa pulang.

Hal lain yang istimewa dari rumah makan ayam goreng Mbah Karto adalah pengunjung tak harus membeli satu ekor ayam utuh. Mereka bisa memilih ayam 1/4 ekor atau bagian kepala, hati, dan ampela. Untuk dapat menikmati satu porsi Ayam Goreng Mbah Karto potongan siapkan budget lebih kurang Rp 24 ribu.

Sedangkan jika ingin membeli utuh siapkan uang Rp 107 ribu. Itu sudah termasuk kepala dan cekernya.

Selain sambal blondho dan sambal bawang, pengunjung juga bisa menikmati lalapan, sayur urap, dan tentunya nasi putih. Sebagai pedamping makan, pengujung juga bisa memesan minuman jamu khas Ayam Goreng Mbah Karto seperti es beras kencur, es kunyit asam, dan lainnya.

Untuk yang ingin mencoba mengagendakan menyantap ayam goreng Mbah Karto, bisa langsung menuju rumah makan pertamanya berada di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto No. 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Mereka buka mulai pukul 7 dan tutup pada jam 8 malam. Warung Ayam Goreng Mbah Karto ini berada di Sukoharjo berjarak lebih kurang 12 kilometer dari pusat Kota Solo

Buat yang ingin tak terlalu jauh untuk menikmatinya, bisa mampir ke gerai Ayam Kampung Goreng Mbah Karto di Jalan Kepatihan No. 7, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Solo. Bukanya mulai pukul 8 pagi dan tutup jam 7 malam.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****




8 Suguhan Laut Sulawesi di Jakarta

Makan bareng saat diet perlu memberhatikan tiga hal ini. Foto: Fran TL

8 suguhan laut Sulawesi bisa dinikmati di Jakarta. Semua bahan utama didatangkan dari Celebes atau Sulawesi. Dan kerinduan menikmati kuliner khas Sulawesi pun terobati.

8 Suguhan Laut Sulawesi

Segelas jus dari sirop markisa mendarat di meja kayu. Warnanya jingga cerah, serona layung yang melungsur di balik bangunan-bangunan jangkung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Bila diaduk, di bagian atasnya mengapung buih-buih putih alami, membentuk gradasi warna yang cukup membuat mata kepincut. “Sirop ini asli Makassar dan dibuat secara manual, dari buah asli, bukan sari,” tutur salah seorang pramusaji Restoran Sulawesi, memecah konsentrasi.

Di Sulawesi@Mega Kuningan, rumah makan premium yang baru buka pada Juni 2016—hasil ekspansi dari Restoran Sulawesi—hampir semua bahan utama yang mereka olah didatangkan langsung dari pulau berjuluk Celebes. Pemiliknya, Darmawan Halim dan keluarga, ingin membumikan kenikmatan penganan khas Sulawesi, khususnya Makassar, di kota-kota urban, layaknya Jakarta.

Tak heran kalau sirop markisa, yang sejatinya bisa ditemukan di mana pun, harus didatangkan langsung dari daerah asalnya. “Karena rasanya pasti berbeda. Yang dibeli langsung di Makassar punya cita rasa lebih segar dan orisinal,” ujar Diah, karyawan di resto ini. Memang lidah tak bisa menepis. Rasa markisa yang meluncur ke dalam mulut punya karakter kuat. Manisnya alami dan tak bikin tenggorokan sakit.

Segelas minuman autentik ini baru jadi pembuka untuk rentetan menu khas Sulawesi yang bakal dipesan selanjutnya. Pelayan yang ramah merekomendasikan beberapa kudapan andalan, yang juga umum digemari pengunjung. “Biasanya, tamu memilih seafood,” kata salah satu pramusaji.

Memang jagoan piring di sini adalah para penghuni laut. Ada beragam jenis ikan yang disajikan, seperti sukang, kaneke, baronang, katamba, kudu-kudu, papakulu, gelama, sunu, dan leccukan. Kedengarannya asing karena jenis itu umumnya hanya ditemukan di perairan timur Indonesia.

Sebagai awalan, keneke bakar tradisional menjadi pilihan. Ikan yang disajikan kala itu berukuran lebih-kurang 1,3 kilogram. Cukup disantap ramai-ramai sekitar lima orang. Cara pembakaran yang menggunakan arang batok membikin aroma ikan makin mencagun, menggelitik nafsu untuk segera melibasnya. Tekstur dagingnya tak rusak karena waktu pembakarannya pas.

Ikan ini nikmat disantap dengan tiga sambal khas yang ditata di sebelahnya, yaitu dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu mencuat dan tidak merusak rasa asli ikan.

Menu selanjutnya sukang rica. Ikan itu cukup berdaging dan tak banyak duri. “Memang makan di sini tak perlu ripuh memilah daging dengan duri,” ucap pramusaji tadi lagi. Selain gampang menyantapnya, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Ada dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis dibikin dari bawang putih, gula aren, dan bumbu rahasia lain. Meski bawang terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok dan tidak membuat mulut bau. Selain berfungsi sebagai penyelaras, keberadaannya berjasa memperkaya tekstur dengan serat yang ditimbulkan dari tumbukan kasar. Sedangkan bumbu pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar serta menggugah selera makan.

Bila sukang dan keneke cocok diolah dengan bumbu khas Makassar, kudu-kudu tak demikian. Ikan jenis ini lebih nikmat dimakan dengan ramuan populer, layaknya goreng asam manis. Sebab, ketika sedang menyantapnya, bukan bumbu yang dinikmati, tapi teksturnya yang unik. Dagingnya kenyal dan lentur. Cara membunuhnya juga harus dengan teknik tertentu supaya tidak muncul aroma anyir. Misalnya, menusuk ujung kepala ikan dengan besi khusus hingga terkena bagian sarafnya.

Waktu menyantap jenis ikan-ikanan pun selesai. Selanjutnya, sebagai teman menikmati langit meredup, menyaksikan lampu Ibu Kota yang mulai berpendar, dan mengintip para raja jalanan menyemut di sepanjang jalur Prof Dr Satrio, yang tampak dari jendela restoran yang bertengger di lantai dua Menara BTPN Mega Kuningan, kepiting woku lantas menjadi pilihan.

Woku merupakan bumbu khas Manado. Rasa dan aromanya cukup tebal karena dipadukan dengan rempah-rempah beraneka ragam. Untuk yang tak biasa, mereka bakal merasa enek setelah menyantapnya. Namun yang disajikan di sini lain dari biasanya. Ahli masak mengontrol jumlah rempah-rempah sehingga tak ada yang berlebihan dan tidak terasa ada salah satu bahan yang mendominasi.

Meski perut sudah penuh, keinginan mengeksplorasi menu masih menjadi-jadi. Udang bakar bumbu tradisional dan menu-menu berkuah pun dipilih. Di antaranya udang sitto xl tradisional, sop pallu basa (yang serasi dinikmati bareng buras), dan mi titi. Ditambah lagi dengan nasi goreng merah seafood dengan cita rasa istimewa.

Yang spesial dari sup pallu basa adalah kuahnya yang berpadu dengan kelapa parut ditambah pala, rempah-rempah, dan bumbu istimewa sehingga memunculkan wewangian khas yang selalu dijumpai pada masakan Nusantara. Sedangkan sunu kuah asam menjadi favorit lantaran ikan yang digunakan masih segar. Irisan tomat dan cabai menguatkan aroma kaldu, apalagi ketika kuah masih mengepul.

Keenakan mengecap satu per satu para penghuni laut yang sudah tak berdaya di piring bidang, larut ternyata makin luruh. Alunan jazz Ain’t No Sunshine versi saksofon lantas membikin mata sedikit-sedikit mulai mengatup. Saat seperti ini lebih asyik dimanfaatkan untuk menikmati suasana malam Jakarta yang bisa diintip jelas dari dalam restoran. Di sisi lain, para tamu lain masih sibuk memburu kenikmatan. Bangku-bangku berkapasitas 150 orang malam itu tampak penuh. Sehari-harinya pun begitu.

F. Rosana/Frann/Dok TL

*****