Seruit Dan 3 Jenis Sambal Lampung

Seruit dan 3 sambal

Seruit dan 3 jenis sambal Lampung adalah acara makan bersama dengan sajian ikan dan sambal yang khas.

Mencari makanan khas Lampung tergolong sulit. Ketika menyusuri rumah makan atau restoran yang berada di Bandar Lampung atau Teluk Betung, kebanyakan yang ada ialah hidangan dari daerah lain, bisa khas Jawa atau Padang. Hingga saya menemukan kata yang mungkin terbilang cukup asing dan bikin penasaran; seruit.

Seruit dan 3 Jenis Sambal

Inilah rupanya hidangan asli di Provinsi Lampung dan disantap secara turun-temurun. Beruntung masih ada restoran yang menyajikannya, meski mencarinya memang tergolong jarang.

Sajian seruit lazimnya dimakan bersama-sama. Kenikmatan dan kebersamaan memberi warna pada nyeruit atau makan seruit.  Terdiri atas tiga sajian, yakni ikan, sambal, dan lalapan, selain tentunya nasi hangat. Tapi yang tersaji tampak begitu berlimpah karena pilihan ikannya beragam. Demikian juga sambal dan lalapannya.

Ragam Ikan

Untuk prosesnya, terdiri atas dua pilihan; digoreng atau dibakar. Untuk rasa yang gurih, tentu lebih baik digoreng. Ikan bakar pun memiliki aroma khas yang menggundang selera. Jenis ikan umumnya ikan besar penghuni sungai yang banyak ditemukan di provinsi ini, semisal ikan belida, baung, layis, dan ikan mas yang lebih mudah ditemukan saat ini. Saya pertama kali mencicipi sajian seruit dengan ikan mas. Beruntung kemudian mencicipi ikan baung yang memang khas daerah ini.

Proses pembuatannya, setelah dibersihkan, ikan diberi bumbu yang dihaluskan. Bumbu terdiri atas bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah itu, ikan dibakar selama 10 menit. Saat sudah setengah matang, ikan diolesi kecap manis dan campuran bawang putih, garam, serta ketumbar.

Tiga Jenis Sambal

Terasi, Mangga, dan Tempoyak. Tiga jenis sambal ini bikin bersantap seruit menjadi meriah. Ketiganya menggoda. Sambal terasi ialah campuran dari cabe merah, cabe rawit, garam, dan terasi bakar. Aroma terasinya menggoda. Apalagi rasa pedas membuat nafsu makan meningkat. Warna merahnya pun cukup menggoda.

Sambal tempoyak tak kalah soal aroma. Aromanya khas durian. Tempoyak memang hidangan khas di meja makan penduduk Pulau Sumatera, tidak terkecuali di Lampung. Sambal ini terbuat dari buah durian yang sudah difermentasi. Daging durian matang yang telah diberi garam dan cabe disimpan dalam stoples tertutup kurang lebih selama 4 hari. Lebih baik menyimpannya di dalam ruangan dengan suhu stabil, bukan di lemari es.

Tempoyak berumur 4-5 hari cocok dijadikan sambal karena sudah terasa asam, tapi juga masih ada manisnya. Membuat sambal tempoyak cukup mudah. Siapkan irisan bawah merah dan bawang putih serta cabe merah, kemudian digoreng dan tambahkan tempoyak. Bisa ditambahkan sedikit gula, tergantung selera.

Sambal mangga, terlihat dengan irisan mangga yang kelihatannya begitu segar. Sambal ini menggunakan kuini muda sehingga rasa asamnya benar-benar terasa. Bahannya seperti pada umumnya sambal, yakni cabe merah, bawang merah, terasi bakar, sedikit garam dan gula, serta buah kuini yang dicincang kasar. Cabe dan bawang merah diulek kasar, baru diberi bumbu lain dan campurkan dengan kuini.

Pelengkap lain selain ikan dan sambal serta nasi hangat adalah lalapan. Selain berupa sayuran umum, seperti daun kemangi, jengkol, selada air, dan daun jambu monyet, ada yang unik, yakni terong bakar.

Kebanyakan rumah makan menyajikan ikan dengan sambal secara terpisah. Namun sesungguhnya tradisi menyantap seruit ialah mencampurkan ikan dengan sambal. Setelah digoreng atau dibakar, ikan dipilih dagingnya, lalu dicampurkan ke dalam sambal.

Pilihan Rumah Makan

1. Rumah Makan Rusdi Gendut

Jalan Pangeran Tirtayasa Sukabumi, Bandar Lampung.

Karena di Lampung sangat jarang rumah makan yang menjual makanan khas Lampung, Rusdi pun berusaha untuk memulainya. Ia ingin melestarikan tradisi makan seruit. 

2. Dapoer Tatu

Jalan Putri Balau no 24, Kedamaian

Bandar Lampung

Rumah makan dijalankan oleh sebuah keluarga, pasangan Sunda-Lampung, dengan bentuk bangunan berupa saung-saung yang nyaman.

Kisaran Harga

Seruit kerap dijual dalam bentuk paket sehingga Anda tidak perlu repot-repot memilih menu. Paket seruit meliputi nasi, ikan, beberapa jenis sambal, dan lalapan yang dipatok pada kisaran Rp 45 ribu.

Rita N/A. Probel

Nasi Liwet Yu Sani, Gurihnya Sejak 1980

Nasi Liwet Yu Sani solo adalah salah satu legenda kuliner khas kota ini.

Nasi Liwet Yu Sani selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Solo, Jawa Tengah. Dari sejak masih berjualan keliling hingga menjadi tenda kaki lima di tepi jalan, penggemarnya tak pernah surut dan kini selalu diburu wisatawan penggemar kuliner.

Nasi Liwet Yu Sani

Berbicara soal nasi liwet, sebenarnya ada dua jenis nasi liwet yang dikenal umum di Indonesia, yakni nasi liwet ala Sunda dan Jawa. Nasi liwet di Solo sendiri merupakan jenis nasi liwet Jawa, yang mirip dengan nasi uduk karena dimasak menggunakan santan.

Pertama, nasi dimasak dengan santan sehingga terasa lebih pulen dan harum. Selain itu, nasi juga dibumbui dengan beberapa rempah-rempah seperti pala, jahe, daun salam, daun serai dan kayu manis agar aroma dan cita rasanya semakin kuat.

Nasi Liwet Yu Sani cuma memiliki dua cabang. Dua-duanya selalu diserbu penggemarnya.
Ilustrasi nasi liwet Solo. Foto: dok. milik sajiansedap.id

Setelah jadi, nasi kemudian diguyur kuah dan sayur labu siam hangat yang memberikan sensasi gurih pedas. Dan sebagai pelengkap, nasi kemudian ditambahkan lauk pauk seperti ayam suwir dan telur pindang rebus.

Salah satu ciri khas nasi liwet Solo lainnya adalah cara penyajiannya. Secara tradisional, nasi liwet di Solo biasanya disajikan dengan menggunakan pincuk daun pisang, yang dibuat berbentuk kerucut.

Bagi warga Solo sendiri, nasi liwet sudah menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kuliner tradisional ini masih menjadi salah satu favorit warga kota batik ini untuk sarapan, santap siang maupun malam. Warung-warung penjaja nasi liwet pun mudah untuk ditemukan.

Bahkan, nasi liwet merupakan salah satu makanan yang banyak beredar kala gelaran Grebeg Maulud, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya di Solo.

Disinyalir, salah satu alasan mengapa nasi liwet sangat populer pada perayaan tersebut adalah karena pada masa lalu, perayaan Grebeg Maulud diwarnai dengan pembuatan nasi samin, alias nasi yang dibuat menggunakan minyak samin.

Nasi samin disebut-sebut merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah pada masanya. Namun, karena sulitnya mendapatkan minyak samin di Solo masa itu, akhirnya sebagai alternatif nasi dimasak dengan menggunakan santan yang lebih terjangkau.

Sayur Labu Siam shutterstock
Sayur labu siam menjadi pendamping wajib nasi liwet Solo. Foto: shutterstock

Menurut keterangan resmi pemerintah kota Solo, nasi liwet Solo pertama kali dibuat oleh warga Desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo. Resep tersebut kemudian dijual kepada umum, termasuk warga Solo.

Ternyata, kuliner ini disukai banyak orang dan terus populer hingga kini. Bisa jadi, selera warga Solo yang cenderung menyukai kuliner dengan cita rasa gurih menjadi salah satu alasan mengapa nasi liwet begitu populer dan menjadi salah satu ikon kuliner kota Solo.

Di Solo mungkin banyak penggemar kuliner mengenal nasi liwet adanya di kawasan Keprabon. Penjualnya yang terkenal adalah Wongso Lemu. Belakangan, banyak penjual menempelkan kata “Wongso Lemu” pada gerainya. Ini membuat keraguan konsumen.

Tak heran penjual nasi liwet di Solo begitu menjamur. Jika sudah pernah mencoba di Keprabon, tak ada salahnya mencoba salah satu yang bisa dibilang juga legendaris, yakni nasi liwet Yu Sani. Yang kini berjualan di kawasan jalan Veteran, tak jauh dari Alun-alun Kidul/Selatan Solo.

Usut punya usut, Yu Sani termasuk sang perintis usaha ini. Dulunya ia berjualan nasi liwet dengan berkeliling kota Solo. Dari tempat tinggalnya di desa Baki, selatan kota Solo, ia berjalan keliling kota menjajakan nasi liwet buatannya sejak 1980.

Telur Pindang shutterstock
Telur pindang adalah lauk nasi liwet selain ayam suwir. Foto: shutterstock

Setelah semakin populer dan digemari, ia akhirnya membuka warung tenda kaki lima di jalan Veteran. Belakangan, terdapat pula satu cabang di area Solo Baru, tepatnya di jalan Ir. Soekarno, dusun II Langenharjo, Kabupaten Sukoharjo.

Yang cukup unik di nasi liwet Yu Sani adalah ketika disajikan, nasinya juga diguyur santan kental, yang tentunya semakin menambah cita rasa gurih. Tambahan lauk pauknya pun beragam, mulai dari telur pindang rebus, tahu dan tempe bacem, usus, ati ampela, dan lain lain.

Ayam yang digunakan pun berjenis ayam kampung, begitu pula telurnya. Pengunjung nantinya bisa memilih tambahan bagian tubuh dari ayam yang disuwir, mulai dari sayap, tepong/dada, paha, kepala, uritan, hingga jeroan, hingga brutu.

Masuk ke dalam warung tenda Nasi Liwet Yu Sani, pengunjung akan disambut dengan baskom-baskom pilihan lauk pelengkap nasi liwet. Untuk pilihan tempat duduk, disediakan area meja dengan kursi, atau area lesehan.

Yang tak kalah menarik, salah satu daya tarik utama nasi liwet Solo yang membuatnya populer adalah harganya yang ekonomis. Satu porsi nasi liwet dengan lauk ayam suwir saja harganya hanya Rp 9 ribu.

Kalau mau menambah ayam suwiran, harganya berkisar antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan dengan menambah lauk seperti telur, usus, tahu dan tempe, harganya mulai dari Rp 11 ribu hingga Rp 14 ribu.

Maka jangan heran, kendati warung nasi liwet Yu Sani biasa buka dari jam 17.00 hingga jam 23.00, sering kali makanan sudah ludes terjual sebelum jam tutup. Maklum, sejak warung dibuka pun pengunjung kerap sudah mengantre, sehingga disarankan untuk datang lebih awal.

Nasi Liwet Yu Sani

Jl. Veteran, Solo

Jl. Ir. Soekarno no. 8, Solo Baru

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Hangat-hangat ala Bandung, 4 Minuman Asyik

hangat-hangat ala bandung, minuman yang membuat badan tidak kedinghinan

Hangat-hangat ala bandung saat udara mulai terasa dingin ketika memasuki musim hujan, ada pilihan asik, yakni bandrek, bajigur, ronde, atau sekoteng. Keempatnya bisa menjadi teman nongkrong yang menyenangkan.

Hangat-hangat ala Bandung

Di saat musim hujan dan masa liburan di Bandung, rasanya ada yang bisa dilakukan selain diam . Tapi, ayo cari penghdi kamar hotel. Minuman hangat tersebar di beberapa titik di kota Kembang ini. Ada beberapa minuman khas Parahyangan yang sengaja disajikan untuk membuat tubuh tisa diserak lagi kedinginan. Sebut saja bandrek yang bisa diseruput sambil nongkrong berdua bersama teman.

hangat-hangat ala Bandung menjadi pilihan saat memasuki musim hujan.
Bandrek, minuman hangat khas masyarakat tanah Pasundan. Foto: dok. shutterstock

 Bandrek di Hutan Pinus

Sekelompok pengendara sepeda motor trail memacu tunggangannya melintasi jalan berkelok, melewati beberapa orang yang mengayuh sepeda perlahan. Mereka berada di antara pohon pinus dataran tinggi Bandung bagian utara Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Tujuan mereka sama, yakni menuju warung bandrek Ibu Ipah di sekitar hutan pinus Tahura Ir. H. Djuanda yang buka sejak 2004.

Minuman hangat ini merupakan campuran jahe, cabai Jawa (cabe areuy dalam bahasa Sunda), gula aren, kolang-kaling, dan serutan kelapa. Ada dua jenis bandrek yang disajikan. Pertama, bandrek orisinal dengan rasa jahe yang dominan seharga Rp 10 ribu per gelas. Bila tidak terlalu suka rasa jahe yang kuat, Anda bisa memilih jenis kedua. Jenis kedua merupakan bandrek spesial dengan tambahan susu kental manis seharga Rp 12 ribu per gelas. Kudapan yang paling pas berupa aneka gorengan (pisang, peuyeum, tahu isi) seharga Rp 2 ribuan, atau tape ketan hitam yang dibungkus daun jambu.

Warung Bandrek Ibu Ipah; Tahura Ir. H. Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan,

Bandung

Bandrek Sejak 1958

Bajigur adalah minuman hangat asli Tanah Pasundan, perpaduan antara santan, gula Jawa, dan kolang-kaling. Santan cukup dominan dengan rasa manis dan gurih. Harganya Rp 10 ribu per gelas. Teman untuk menikmatinya ialah gorengan. Berada di pusat kuliner Jalan Cilaki, Bandung, warung ini menyediakan gorengan tahu, pisang, nangka, dan nanas dengan harga satuan  Rp 2 ribuan.Warung bajigur Hj Siti Maemunah tergolong warung bajigur tertua yang masih bertahan di Bandung.

Dirintis oleh Maemunah sejak 1958, tak heran jika warung bajigur ini memiliki banyak pelanggan fanatik dari beberapa kota besar. Dulu, warung ini dikenal dengan nama Bajigur Supratman karena awalnya dibuka di Jalan Supratman. Setelah ada penataan kawasan, warung pindah ke Jalan Cilaki. Karenanya, kini terkenal dengan nama Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah. Setelah Maemunah wafat, warung ini dikelola oleh anak-anaknya dan menjadi salah satu ikon kuliner malam Kota Bandung. Lokasi warung ini hanya sekitar 300 meter dari Gedung Sate.

Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah; Jalan Cilaki, Bandung

hangat-hangat ala Bandung menjadi ciri kota yang ng berhawa dingin ini.cenderu
Sekoteng Bandung, bisa dipesan dingin, bisa pula dibuat yang hangat. Foto: Dok. shutterstock

Denting Tukang Sekoteng

Dentingan mangkok yang khas di malam hari kerap menjadi penanda penjaja sekoteng mulai berkeliling menyusuri jalanan, meski ada juga yang mangkal di tempat keramaian. Sekoteng terdiri atas air jahe dan campuran rempah lain, air gula, lalu diberi taburan potongan roti tawar berbentuk dadu, pacar cina, kacang tanah, dan kue simping manis. Menurut salah seorang pedagang sekoteng keliling yang sudah berjualan sejak 1975, jarang ada tukang sekoteng mangkal.

“Hampir semuanya keliling, tapi sekarang semakin jarang. Mungkin orang-orang sekarang tidak terlalu suka ya,” ujarnya. Dengan harga Rp 15 ribu per mangkok, pedagang sekoteng lain tetap setia menyusuri jalanan kota. Sesekali mereka berhenti di tempat-tempat ramai, seperti Gedung Sate atau taman-taman kota yang kerap dikunjungi warga.

Tukang Sekoteng Keliling; Sekitar Gedung Sate, Bandung

Ronde Jahe Alketeri

Nyempil di mulut gang dengan suasana warung kuno sederhana justru menjadi ciri khas dan daya tarik sendiri dari Warung Ronde Jahe Alketeri  di Jalan Alketeri, Bandung. Area warung sangat sempit dan memanjang sekitar 5 x 2 meter. Kondisinya masih sama seperti pertama kali buka pada 1984. Nyonya Guat, 83 tahun, masih tetap setia menyapa para pelanggannya. Ia juga meracik pesanan dengan sabar.

Ronde jahe atau wedang ronde buatannya berupa ronde dari tepung beras ketan yang dibentuk bulat tanpa isi. Ada pula yang bulat besar dengan isi kacang. Ronde disiram air jahe panas, air pandan, dan gula aren. Bagi yang tidak suka gula aren, bisa diganti dengan gula pasir cair. Rasanya enak dengan tekstur empuk kenyal dan air jahe yang manis, segar, sera harum. Harganya Rp 20 ribu per mangkok. Nyonya Guat tinggal di kawasan ini sejak 1940-an. Ia pernah berganti-ganti usaha, mulai warung nasi, warung sate, hingga akhirnya menemukan usahanya yang pas dan tetap bertahan hingga kini, yaitu ronde jahe.

Ronde jahe Alketeri kini dikenal sebagai salah satu warisan kuliner Bandung yang wajib dicicipi para pemburu kuliner. Hasil kerja keras Nyonya Guat kini berbuah 11 cabang yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan modern di Bandung dan satu cabang di Palembang.

Ronde Jahe Alketeri; Jalan Alkateri Bandung

TL/agendaIndonesia

*****

Keju Lokal Indonesia, Ini 5 Yang Creamy

Produk keju menjadi penguat rasa pada resep-resep masakan.

Keju lokal Indonesia pasti sudah banyak yang sering mengkonsumsinya. Mungkin tanpa sadar mengetahui jika itu adalah produk buatan sejumlah daerah di Indonesia, karena membelinya di jaringan supermarket dunia.

Keju Lokal Indonesia

Keju memang bukan makanan asli Indonesia, ia masuk dan dikenal di negeri ini karena dibawa orang-orang Belanda pada zaman kolonial. Produk ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari susu.

Untuk konsumsinya, keju dapat disantap langsung atau dijadikan bahan campuran pada hidangan. Cita rasa keju umumnya manis dan asin. Rasa ini dapat ditemukan di banyak produk pastry dan kue seperti puff pastry, cheese cake, roti isi , atau masakan-masakan pasta Italia. 


Bertahun lamanya, masyarakat Indonesia memahaminya kalau keju adalah buatan luar negeri. Produk impor, atau setidaknya jika diproduksi di Indonesia ia menggunakan merek luar negeri.

Keju lokal Indonesia ada berbagai macam jensnya dari cheddar, mozarella, hingga keju danke.


Ternyata beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal memproduksi keju  dengan mengandalkan bahan-bahan lokal. Meski mungkin keju Eropa masih mendominasi pasar dunia, tapi keju lokal Indonesia juga merupakan produk  berkualitas. Pabriknya tersebar di beberapa daerah.


Keju lokal Indonesia punya kualitas yang tak kalah baik. Produsen keju lokal ini tak main-main soal kualitas dan rasa. Berikut lima keju lokal Indonesia yang patut dicoba dan menjadi pilihan utama.


Keju Indrakila Boyolali
Di Boyolali, Jawa Tengah, selain jadi sentra susu sapi, juga ada produsen keju yang cukup terkenal. Indrakila adalah pabrik keju pertama di Jawa Tengah, pendirinya pemuda asli Boyolali bernama Noviyanto.


Keju Indrakila ini mulai dibuat pada 2009 lalu dan kini produksinya sudah terbilang besar. Dalam sehari, pabrik mampu menghasilkan 50 kilogram keju dari sembilan varian berbeda. Keju Indrakila bahkan membuat keju jenis Boyobert yang berasal dari kata Boyolali Camembert.

Keju Lokal Indonesia dari Boyolali jenis mozarella
Keju MOzarella Indrakila dari Boyolali.

Berawal memanfaatkan kelebihan produksi susu sapi di daerahnya, Noviyanto kemudian mengolahnya menjadi produk keju dengan nama Indrakila. Keju Indrakila mempunyai kualitas yang tak kalah dari produk keju buatan luar negeri.

Pembuatan keju Indrakila ini  menggunakan 99 persen susu sapi segar lokal yang sudah dipanaskan dicampur dengan garam dan bakteri Lactobacillus untuk mengasamkan susu dan bakteri Streptococcus untuk menggumpalkan susu.

Salah satu varian keju Indrakila adalah jenis mozzarella diakui sebagai keju dengan rasa yang paling mendekati keju mozarella impor.

Keju Baros Sukabumi
Di kawasan Sukabumi juga ada pabrik keju bernama Baros. Keju yang dihasilkan awalnya jenis keju gouda dengan empat varian. Selain memproduksi keju, pabrik ini juga menyediakan paket tur untuk pengunjung yang ingin mengetahui proses pembuatan keju.

Bagipenggemar keju, keju gouda bukan jenis yang asing. Namanya mengacu pada Kota Gouda, Belanda, yang tak lain merupakan asal mula produk keju jenis ini. Keju gouda berwarna kuning tua, termasuk dalam golongan keju semi padat (semi hard cheese) hingga padat (hard cheese).

Rachmantio adalah nama pengusaha keju lokal Indonesia dengan bendera PT Bukit Baros Cempaka di Sukabumi. Pengusaha kelahiran Cirebon ini mengolah dan memproduksi keju gouda dengan masa pemeraman antara 1,5 bulan hingga lebih dari empat bulan.

Keju Baros Sukabumi IG
Keju gouda Baros dari Sukabumi.

Berkat ketekunannya, produk keju gouda bermerek Baros sejajar dengan produk-produk keju impor di rak-rak supermarket. Ia mengaku memilih gouda, dan bukan cheddar, karena kualitasnya.

Awalnya, Keju Baros fokus memproduksi jenis keju gouda. Belakangan mereka juga memproduksi keju jenis lain.

Agar rasa dan kualitasnya sama seperti keju asal kota Gouda, perusahaan ini sempat mendatangkan  ahli keju Gouda dari Belanda untuk mengajarkan cara pembuatan keju kepada karyawannya. Susu sebagai bahan utamanya berasal dari sapi Friesian Holstein yang didatangkan langsung dari Belanda.

Keju Lembang Bandung
Keju yang diproduksi di Bandung ini punya merek Keju Lembang. Usaha produksi keju skala mikro ini didirikan sejak 2013 di kawasan Lembang yang terkenal sebagai salah satu pusat susu Indonesia.


Produk keju mozzarella di pabrik ini terkenal dengan kualitasnya yang lezat dan mirip seperti keju Italia. Kualitas keju produksi ini bahkan diawasi langsung oleh ahli keju di bawah supervisi akedmisi dari Teknik Kimia, ITB.

Keju Yogyakarta
Dari kota pelajar Yogyakarta ada juga produsen keju artisan yang menarik. Keju dengan label Mazaarat ini mengusung tagline sebagai keju alami yang sehat dan berkualitas. Total ada 14 jenis keju yang dibuat di pabrikan ini. Mulai dari keju mozzarella, halloumi, feta, ricotta hingga keju gouda. Keju di tempat ini diproduksi dalam skala kecil namun tetap mengandalkan kualitas premium.


Bahan utama keju Mazaraat Artisan Cheese adalah susu kambing dan sapi namun organik. Artinya, sapi dan kambing tersebut dipastikan hanya memakan rumput yang bebas pestisida atau pupuk kimiawi serta bebas dari suntikan hormon antibiotik pemacu produksi susu.

Selain itu, keju Mazaraat Artisan Cheese tidak mengandung bahan pengawet, aditif, perasa buatan, pewarna kimiawi atau bahan GMO (genetically modified organism) sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama

Keju Rosalie Bali
Rosalie Cheese menciptakan keju spesial dengan sentuhan unik pada rasa lokal. Produsen keju yang pabriknya berada di Denpasar, Bali, ini menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Susu yang digunakannya pun berasal dari kambing etawa dan saanen yang diambil dari peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Salah satu alasan menggunakan susu kambing adalah karena kambing beranak dan melahirkan secara natural dan tidak perlu disuntik seperti sapi.

Selain itu, susu kambing juga lebih mudah dicerna tubuh manusia serta cocok untuk mereka yang intoleransi terhadap laktosa.

Rosalie Cheese menyediakan beberapa varian antara lain black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), serta crotting cheese dengan bungkus daun anggur.

Ayo mulai mengkosumsi keju lokal Indonesia yang creamy-nya tak kalah dengan keju impor.

agendaIndonesia

*****