Sate Klatak Yogya, Satu Porsi 2-3 Tusuk Saja

Sate Klatak Yogya menjadi alternatif wisata kuliner jika berkunjung ke Yogyakarta

Sate klatak Yogya menambah kekayaan kulinari Yogyakarta. Setelah gudeg, kini kota pelajar itu punya wisata kuliner lain yang layak diburu dan dinikmati.

Sate Klatak Yogya

Untuk warga Yogya, sesungguhnya sudah lama mengenal sate klatak ini. Namun, harus diakui, untuk skala yang lebih luas makanan ini baru diketahui publik ketika salah satu warung yang berjualan sate klatak menjadi lokasi pembuatan film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Yogyakarta memang istimewa, seperti semboyan warga kotanya. Mereka memiliki berbagai macam kekayaan kuliner, salah satunya adalah sate yang hanya ditemukan di sini, berbeda dengan sate kebanyakan. Sate Klatak muncul dari kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul. Tepatnya di pasar Jejeran, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Ya, lokasinya di pasar Jejeran yang kalau siang dipakai sebagai pasar tradisional. Warung Sate Klatak di sini memang baru hidup pada malam hari, mulai pukul 18.00 WIB.

Keistimewaan pertama jenis sate ini adalah bahan bakunya. Sate Klatak adalah sate kambing. Jadi jangan mencari sate klatak berbahan daging sapi atau atau, atau malah daging hewan lain.

Perpedaan ke dua dengan sate lain, adalah bumbu saat mengolahnya dan kemudian saat penyajiannya. Sate klatak tidak menggunakan bumbu kecap atau kacang, dan hanya dibumbui dengan garam. Konon, menurut salah satu versi cerita, karena bumbu garam inilah yang ketika dipanggang di atas bara menimbulkan efek bunyi “klatak, klatak” atau “kletek, kletek” maka masakan ini disebut sate klatak.

O iya, walaupun dengan bumbu pengolahan sangat sederhana, sate klatak sangat diminati pengunjung. Umumnya mereka justru mengatakan menemukan rasa khas daging kambingnya karena bumbu yang simpel tersebut.

Sate klatak Yogya salah satu ciri khasnya dibakar dengan menggunakan jeruji sepeda.
Sate klatak Yogya, pembakarannya dengan menggunakan jeruji sepeda sehingga matang sampai ke dalam. Foto: Shutterstock

Keistimewaan sate klatak yang lain tidak berhenti sampai di situ, keistimewaan lain Sate Klatak adalah pada proses pembakarannya. Daging kambing yang sudah dipotong-potong dadu tidak ditusuk dengan tusukan dari bambu, namun menggunakan besi jeruji sepeda. Penggunaan jeruji ini dipercaya dapat menghantarkan panas yang lebih baik sehingga daging matang hingga ke bagian dalam.

Perbedaan yang lain, satu porsi sate klatak biasanya hanya berisi dua sampai tiga tusuk saja. Potongan dagingnya memang lebih besar dari sate kambing biasa. Satu porsi sate klatak biasanya disajikan bersama kuah yang mirip dengan kuah gulai. Bagi yang suka pedas, bisa meminta irisan cabai rawit untuk dicampurkan ke dalam kuah kare.

Melihat sejumlah perbedaan atau keistimewannya, tentu timbul pertanyaan dari mana asal-usul sate ini. Ada satu-dua versi tentang hal ini. Satu cerita menyebut, sate klatak bermula dari seorang bernama mbah Ambyah yang memiliki ide menjual sate kambing karena memiliki banyak kambing. Awalnya ia berjualan sate di bawah pohon melinjo. Buah mlinjo ini kadang disebut sebagai buah klatak. Dari buah mlinjo yang berserakan sekitar warung sate inilah muncul nama sate klatak.

Versi yang lain menyebut, sate klatak ini bermula ketika seorang kusir andong yang bernama Jupaini. Suatu ketika ia memutuskan beralih mata pencaharian dengan berjualan sate kambing. Namun sate yang ia jual berbeda dengan sate yang lainnya, dimana ia hanya membumbui daging kambingnya dengan garam saja sebelum dibakar. Seperti disebut di muka, pada saat sate itu dibakar lantas mengeluarkan suara “klatak klatak” yang bersal dari garam tersebut. Jupaini inilah yang disebut berinovasi menggunakan jeruji sepeda sebagai penggati tusuk satenya.

Manapun versi yang benar, akhirnya konsumen penggemar sate kambinglah yang diuntungkan, karena memperoleh alternatif menikmati kuliner dari hewan ini. Warung-warung sate klatak mudah dijumpai di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Meskipun belakangan, ada juga yang membuka warung sate klatak di Yogyakata sebelah utara.

Sate klatak Yogya dibakar dengan menggunakan arang, bumbu garam yang menetes menyebabkan bunyi klatak-klatak...
Sate klatak Yogya dibakar dengan tungku dan areng. Foto:iStock

Lalu manakah sate klatak yang paling enak? Enak tentu saja subyektif, namun berikut ini ada beberapa warung sate klatak yang bisa dijadikan pilihan.

Warung Sate Klatak Pak Jupaini; Jalan Imogiri Timur, Bantul, Yogyakarta

Warung sate ini menggunakan nama sang pelopor sate klatak dan termasuk salah satu warung sate klatak yang cukup fenomenal dan hampir selalu ramai. Mungkin karena sejarah bahwa warung ini adalah menemukan resep sate klatak.

Pengunjung yang ingin mencicipi lezatnya menu kambing di warung ini harus sabar menunggu hingga satu jam, karena ramainya warung sate ini. Selain sate klataknya yang terkenal, ada beberapa menu lain yang juga favorit, seperti tengkleng dan tongseng otak kepala kambing.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Pong; dekat  hutan pinus Imogiri, Bantul

Ini terkenal dengan menu satenya yang bebas bau kambing. Bumbunya juga spesial meresap sampai ke dalam. Pak Pong adalah Cucu dari Pak Jupaini, sang penemu resep sate klatak. Jadi wajar jika cita rasanya otentik. Menu lain yang nggak kalah unik, yaitu tengkleng gajah. Bukan dari tulang gajah, tentu, melainkan karena porsinya yang jumbo. Selain itu, ada juga nasi goreng yang digoreng menggunakan arang sehingga aromanya sangat khas.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Bari; Pasar Wonokromo Imogiri Timur, Bantul

Warung ini baru dibuka setelah pasar Wonokromo Imogiri timur tutup dan buka sampai dini hari. Warung sate klatak ini sudah cukup melegenda, berjualan sejak tahun 1940-an, pak Bari merupakan generasi ke-3 penerus usaha kuliner ini. Yang lebih istimewa, warung pak Bari lah yang dipergunakan sebagai lokasi film Ada Apa dengan Cinta 2.

Buat wisatawan yang menginap di Yogyakarta bagian utara, nggak perlu jauh-jauh ke selatan untuk menikmati gurihnya sate klatak Yogya. Di wilayah bagian utara juga terdapat warung sate klatak yang juga nikmat cita rasanya.

Sate Klatak Jogja Pak Jede, di Jalan Nologaten, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di warung ini sate klatak disajikan dengan bumbu sederhana, yaitu garam, merica, serta tambahan kuah. Selain sate klatak, warung makan ini juga menyediakan menu lain seperti tongseng kambing, nasi goreng kambing, gulai kambing, sate kambing, tengkleng, gulai jeroan. Yang asyik, warung ini buka mulai siang, pukul 11.00 sampai dengan 23.00.

Warung Sate Klatak Pangestu; Jalan Damai No. 10, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Warung ini termasuk laris konon dan sampai membutuhkan tiga ekor kambing per hari untuk membuat berbagai menu daging kambing, seperti sate klatak, tongseng, tengkleng, nasi goreng kambing, bahkan hingga olahan jeroan kambing.

Manapun yang dipilih, semuanya enak. Tinggal kamu agendakan kunjungannya.

agendaIndonesia

*****

Ayam Tangkap Khas Aceh, 1 Ekor Dipotong 24

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Nangroe Aceh Darusalam. Ada banyak pilihan di sini, salah satu yang terkanal adalah ayam tangkap.

Ayam tangkap khas Aceh menjadi salah satu ikon kuliner masyarakat Serambi Mekah, selain bakmi Aceh. Dedaunan dan rempah bumbunya menjadi pembeda dengan sajian ayam goreng dari daerah lain.

Ayam Tangkap Khas Aceh

Nama masakan ayam tangkap sendiri sampai saat ini belum ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Secara bercanda, masyarakat Aceh suka menyebut jika nama tersebut muncul dari kebiasaan orang setempat yang baru menangkap ayamnya ketika akan dimasak. Bisa jadi informasi ini cuma guyon, namun bisa jadi hal itu benar. Dan menunjukkan bagaimana “fresh”-nya bahan utama masakan ini sebelum disajikan.

Meskipun tak diketahui sejak kapan masakan ini ada dalam khasanah budaya kulinari Aceh, namun banyak sumber menyebut jika masakan ini sudah ada sejak lama. Setidaknya sudah ada lima-enam generasi di belakang.

Keunikan ayam tangkap ini dibandingkan jenis kuliner ayam goreng lain adalah saat disajikan. Ayam goreng tersebut, selain ukuran potongannya yang kecil-kecil tak seperti layaknya potongan ayam yang dibagi empat atau delapan, disajikan dengan daun-daunan. Ada daun temurui dan daun pandan yang dirajang kasar serta digoreng renyah. Apabila dicicipi daun-daun tersebut mungkin terasa aneh meskipun chrunchy. Tapi bila mengunyahnya dipadukan dengan ayam gorengnya, akan menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat.

Ayam tangkap ini terbuat dari bahan dasar ayam potong, daun temurui, daun pandan dan cabe hijau. Untuk cabe hijaunya biasanya menggunakan yang panjang yang nantinya akan disajikan bersama dengan daun temurui dan daun pandan. Sedangkan bumbu yang digunakan di antaranya bawang putih, bawang merah, cabe rawit, kunyit, jahe, dan air asam jawa.

Dalam proses pembuatan tangkap ini, seperti disebut di muka, biasanya dipotong kecil-kecil. Dari banyak resep yang beredar di masyarakat, umumnya satu ekor ayam akan dipotong menjadi 24 bagian. Ada yang menyebut, karena ditangkap dan disembelih sesaat akan diolah, pemotongan kecil-kecil itu agar bumbu dan rempah cepat meresap ke dalam daging. Begitupun, saat ini banyak juga yang memotong ayam sesuai dengan keinginan.

Setelah itu, potongan daging kemudian direndam bersama bumbu hingga meresap, meskipun tak terlalu lama –kurang lebih 15 hingga 30 menit– lalu daging ayam digoreng hingga matang. Ketika mendekati matang, daun temurui, cabe hijau dan daun pandan dimasukan dan digoreng bersama daging ayam tadi. Setelah semuanya matang, semua lalu tiriskan. Ayam Tangkap biasanya disajikan langsung bersama dengan daun-daunan yang sudah digoreng tersebut.

ayam tangkap khas Aceh, sebagai salah satu ikon kuliner Serambi Mekah.
Ayam Tangkap Khas Aceh sebagai ikon kuliner negeri Serambi Mekah. Foto:shutterstock

Di banyak rumah makan masakan Aceh, penyajian ayam tangkap biasanya dengan dedaunan yang menutupi ayam sehingga terlihat ayam sengaja diletakkan di bawah dedaunan. Dedaunan ini selain sebagai daya tarik hidangan, sekaligus bisa dijadikan sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam.

Pada umumnya, para pencinta ayam tangkap ketika menyantapnya akan mengkombinasikan dengan sambal kecap yang telah dicampur dengan potongan bawang merah dan cabai hijau. Sebagian lagi menggunakan bawang goreng. Satu hal yang pasti, hampir semua restoran Aceh menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama. Hal ini untuk mempertahankan cita rasa.

Lalu di mana ayam tangkap ini di Banda Aceh dapat dinikmati? Berikut sejumlah restoran atau warung makan yang cukup dikenal dengan ayam tangkapnya.

Rumah Makan Hasan; di Jalan Profesor Ali Hasyimi, Pango, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Ini konon merupakan salah satu tempat makan ayam tangkap paling enak di Aceh. Kelezatan ayam tangkap yang dihidangkan di tempat ini bisa dibuktikan dari eksistiensinya yang sudah ada sejak 1989. Rumah makan ini memiliki tiga cabang di Aceh. Restoran ini berada yang buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai 9 malam.

Rumah Makan Specifik Aceh; di Jalan Hasan Dek nomor 14-16, Banda Aceh.

Rumah makan ini dimiliki warga asli Aceh dan dianggap sebagai ayam tankap dengan rasa yang original. Warung makan yang buka setiap hari ini hampir selalu ramai pengunjung.

Ayam Pramugari; di Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda, Paya-Ue, Blang Bintang

Nama rumah makan ini diambil karena awalnya banyaknya pramugari yang membeli ayam tangkap di tempat ini. Mungkin karena dekat dengan bandar udara. Nama yang unik ini mampu membuat orang penasaran mencicipinya.

Rumah Makan Ayam Tangkap Cut Dek; Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

Ini merupakan satu rumah makan yang menyajikan ayam tangkap paling enak di Aceh. Bahkan rumah makan yang berdiri sejak 1996 ini hampir selalu ramai pembeli. Rumah Makan ini buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai dengan 10 malam

Rumah makan Bu Sie Itek Bireun; di Jalan Teuku Umar, Setui, Banda Aceh, di sebelah masjid masjid Meukeutop

Ini merupakan salah satu rumah makan yang populer di kalangan pelancong luar kota. Mungkin karena mereka juga menyediakan menu gulai bebek. 

Lalu di mana jika orang ingin mencicipi ayam tangkap di Jakarta?

Ayam Tangkap Aceh Jakarta; Jl. Menteng No.10 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat 

Ayam & Bebek Tangkap Atjeh Rayeuk; Jl. Ciranjang No.36, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Sudah pernah mencicipi ayam tangkap? Ayo agendakan tangkap ayammu.

agendaIndonesia

****

Ayam Lodho Pak Yusuf, Gurihnya Dari 1987

Ayam lodho Pak Yusuf adalah ikon kuliner khas Trenggalek, Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf bisa menjadi pilihan kuliner utama untuk dicoba saat sedang berada di daerah Trenggalek. Rasanya tak berlebihan jika makanan yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu hidden gem, khususnya di antara kuliner-kuliner asli Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Di atas kertas, ayam lodho terlihat cukup sederhana sebagai sebuah hidangan. Dari pandangan visual, sekilas ia terlihat agak mirip seperti ayam opor, terlebih dengan penggunaan kuah bersantan, meski secara cara penyajian dan pelengkapnya sedikit ada perbedaan.

Kalau ayam opor dimasak dengan cara merebusnya dengan bumbu-bumbu pelengkapnya, ayam lodho disajikan dengan cara dibakar terlebih dulu sembari dilumuri bumbu. Setelah jadi dan daging lebih empuk, barulah ia direbus dan dihidangkan dengan kuah pelengkapnya.

Ayam Lodho Pak Yusuf menjadi daya tarik wisata di Trenggalek, selain Goa Lowo.
Goa Lowo di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Foto Humas Pemkab Trenggalek

Istilah ‘lodho’ sendiri kurang lebih berarti empuk atau lunak, yang mana merujuk pada daging ayam yang empuk setelah dibakar sedemikian rupa. Meski ada pula yang mengatakan bahwa ‘lodho’ juga dapat merujuk pada cita rasa kental di mulut karena kuah santannya.

Oleh karenanya pula, ayam yang digunakan dalam memasak makanan ini umumnya merupakan jenis ayam kampung. Diyakini, daging ayam kampung bila dimasak lama tidak menjadi hancur dagingnya, dan cita rasa kuahnya dapat lebih meresap serta berpadu lebih baik dengan daging gurihnya.

Sebelum dibakar, ayam akan terlebih dulu dilumuri garam. Setelah daging menjadi lebih empuk dan kadar airnya berkurang, barulah ia dimasak dengan kuah yang dibuat dari rempah seperti ketumbar, cabe, kemiri, merica, lengkuas, sereh, kunyit, bawang putih dan merah, serta santan.

Dalam penyajiannya, ayam lodho umumnya dihidangkan dengan nasi gurih, atau racikan nasi yang agak mirip dengan nasi uduk. Sebagai sayurnya, kerap pula ditambahkan sayur urap yang berisikan daun singkong, taoge, timun dan parutan kelapa.

Secara umum, tak diketahui secara pasti kapan makanan ini pertama kali muncul. Ada yang meyakini bahwa kuliner ini sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, karena ia berasal dari budaya persembahan sesajen kepada leluhur.

Budaya tersebut lazim disebut slametan njangkar, yang diadakan tiap sebulan sekali oleh para nelayan setelah munculnya bulan purnama. Berlangsungnya adat ini tak lepas dari kepercayaan warga saat itu kepada Nyi Roro Kidul, yang diyakini sebagai penguasa laut selatan Jawa.

Ayam Opor shutterstock
Ayam Opor yang lebih dikenal di banyak daerah di Jawa. Foto: shutterstock

Harapannya, dengan hajatan dan persembahan sesajen ini para warga yang berprofesi sebagai nelayan dapat senantiasa dilindungi saat melaut. Selain itu, mereka dapat pulang dengan selamat sambil membawa berkah hasil laut yang melimpah dan menguntungkan.

Dari budaya tersebut, makanan ini kemudian menjelma menjadi salah satu santapan merakyat yang masih terus dilestarikan dan diminati hingga kini. Cita rasa kuah yang kental, serta gurih dan pedasnya ayam menyatu harmonis dengan hangatnya nasi dan segarnya sayur urap.

Dan bisa dibilang, warung ayam lodho pak Yusuf merupakan salah satu yang berada di garda terdepan dalam mempopulerkan kuliner ini. Sejak kemunculannya pada 1987, warung ini mampu merintis jalannya menjadi warung penjaja ayam lodho paling populer.

Disinyalir, masakan ayam lodho Pak Yusuf masih terasa otentik dan mendekati resep dari leluhur di masa lalu. Maka jangan heran jika warung aslinya yang berada di kawasan jalan raya Kedunglurah, Trenggalek, ini masih kerap dipenuhi pengunjung, baik lokal maupun pendatang.

Meski demikian, warung ini berproses bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya bisa diterima dan disukai konsumen. Saat pertama kali membuka warungnya, pengunjung tidak langsung berbondong-bondong datang.

Awalnya, banyak yang mempertanyakan mengapa Yusuf, si empunya warung, berani menjajakan makanan yang hanya populer sebagai sesajen bagi kalangan tua warga setempat. Namun, ia bergeming dan terus berusaha menyempurnakan racikan ayam lodhonya.

Bisa dibilang, usaha ini hampir sepenuhnya merupakan usaha mandiri keluarganya. Ayam yang digunakan berasal dari peternakan yang dikelola keluarganya, dan beberapa rempah diambil langsung dari kebun di belakang warung tersebut.

Lambat laun, masakan ayam lodho Pak Yusuf mulai bisa diterima di lidah dan disenangi pengunjungnya. Perpaduan rasa gurih dan pedasnya dianggap pas dengan selera umumnya, terutama bagi warga sekitaran Jawa Timur.

Semakin lama, semakin banyak pula yang mendatangi warungnya. Dari yang tadinya hanya berupa bangunan kecil dan sederhana dari bambu, kini warung tersebut sudah berubah wujud menjadi bangunan permanen yang lebih luas untuk menampung banyaknya pengunjung.

Ayam Lodho Khas Trenggalek Pemkab Trenggalek
Ayam Lodho siap disantap. Foto: Humas Pemkab Trenggalek

Kendati demikian, resep, bahan baku serta cara penyajiannya masih sama dari dulu. Di bawah pengelolaan Ayub, sang anak, beberapa upaya menjaga kualitas masakan ayam lodho pak Yusuf meliputi bahan baku yang dipasok mandiri, cara memasak yang menggunakan tungku kayu bakar, dan sebagainya.

Hal ini membuatnya amat disenangi warga setempat maupun pelancong karena dianggap masih terasa otentik hingga kini. Bahkan karena tingginya permintaan, akhirnya mereka membuka beberapa cabang di kota-kota tetangga, seperti Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Dari pilihan menunya, dalam satu porsi dengan nasi dan sayur urapnya, dibagi berdasarkan ukuran sepotong ayamnya: kecil, reguler, medium dan super. Masing-masing dihargai dari Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu, yang bisa disantap langsung atau dibungkus sebagai nasi kotak.

Pengunjung juga bisa memesan ayam atau sayur urapnya secara terpisah. Tak hanya itu, ada juga pilihan untuk memesan ayam satu ekor utuh, dengan pilihan ukuran kecil, reguler, medium, super dan jumbo yang harganya mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 130 ribu.

Tak mengherankan bila kini pelanggannya begitu beragam. Mulai dari warga lokal yang sekedar menikmati santap pagi, siang atau malam, turis yang ingin mencoba kuliner otentik, hingga pesanan-pesanan nasi kotak untuk acara tertentu, bahkan pesanan dari luar kota.

Ayam lodho pak Yusuf buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 22.00. Karena buka dari pagi, maka warung ini hampir bisa dipastikan selalu ramai dari sejak waktu sarapan, makan siang hingga makan malam, sehingga disarankan untuk datang lebih awal di jam-jam tersebut.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Jl. Raya Kedunglurah, Trenggalek

Telp. (0355) 879311 / 081335123770

Instagram @ayamlodho

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Sate Gebug Malang, Setusuknya Rp 25 Ribu

Sate Gebug Malang sudah mulai berjualan sejak 1920.

Sate Gebug Malang tak ada hubungannya dengan perkelahian, meski namanya menyiratkan itu. Ini adalah warung makan dan kulinari legendaris di kota di jawa Timur tersebut. Usianya telah melewati satu abad.

Sate Gebug Malang

Nama tempat makannya Warung Sate Gebug. Di muka warung ada semacam spanduk kain dengan tulisan, salah satunya angka 1920. Rupanya ini merupakan pernyataan bahwa mereka sudah buka sejak tahun tersebut. Sate Gebug di Malang ini memang memiliki usia lebih dari 100 tahun karena berdiri sejak 1920. Mereka mampu bertahan selama berpuluh tahun lamanya, sehingga tempat makan di Malang ini memiliki pelanggan beragam dan datangnya dari berbagai kota di Indonesia. Dari awal buka, Sate Gebug belum pindah tempat sama sekali.

Warung sate legendaris itu berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat 113 A, Malang, Jawa Timur https://www.agendaindonesia.com/bakwan-malang-1-nama-berasosiasi-ke-2-jenis-makanan/. Dilihat dari luar, warung berukuran sekitar 7 X 8 meter itu tidak berbeda jauh dengan warung-warung pada umumnya. Perbedaan baru akan dilihat jika sudah masuk ke dalamnya.

Rupanya bangunan warung ini mengalami sedikit tata letak. Awalnya rumah atau ruang aslinya hanya berukuran 3X3 meter yang posisinya ada di dalam. Itu adalah bekas bangunan peninggalan Belanda. Pada mulanya bangunan “di dalam” warung inilah yang menjadi tempat berjualan.

Seiring berjalannya waktu, warung itu melengkapi dirinya dengan semacam teras untuk pengunjung menikmati makanan yang mereka pesan. Bangunan di dalam warung itu yang dijadikan tempat untuk meracik masakan yang disajikan kepada pengunjung. Belakangan teras itu pun menjadi bangunan tersendiri. Itulah sebabnya bangunan awal warung itu tidak tampak dari luar. Bangunan awal pada warung itu sudah ditetapkan menjadi cagar budaya.

Adalah pasangan suami istri Yahmon dan Karbuwati, keduanya kini sudah meninggal, yang pada 1920 membeli bangunan tersebut dari pemiliknya yang merupakan orang Belanda. Pemilik aslinya menggunakan bangunan itu sebagai tempat penjualan es. Pada akte bangunan yang bertahun 1910, memang disebut itu adalah toko es batu. Setelah dibeli, Yahmon sekeluarga lantas menggunakannya untuk berjualan sate.

Lalu apa yang khas dari warung sate ini? Secara umum mereka berjualan empat menu utama yang semuanya berbahan baku daging sapi, yaitu sop, soto, rawon dan sate gebuk. Semuanya enak, namun yang istimewa adalah sate sapi gebuknya. Cita rasa yang khas dari satenya membuat warung itu terus mendapat banyak pelanggan. Saat ini warung tersebut sudah dikelola oleh generasi ke-3.

Sate di sini tidaklah dibuat dengan cara memotong-motong dadu daging sapinya. Namun daging sapi dipotong agak besar dan diiris agak melebar. Lantas, nah ini istimewanya, dagingnya lantas “digebugi” atau mungkin lebih tepat digepuki dengan kayu ulekan untuk sambel. Digepuki secara perlahan untuk melepaskan jaringan otot yang mungkin terikut di daging. Proses penggepukan inilah yang membuat satenya menjadi lebih empuk.

Setelah digepuki, dagingnya menjadi pipih seperti daging dendeng. Seluruhnya lantas direndam dalam ramuan bumbu. Sesudah beberapa waktu direndam, daging-dagingnya mulai ditusuki dengan lidi bambu. Terlihat besar-besar, sepintas satu tusuk yang sudah selesai mirip sate buntel dari Solo. Satu kilogram daging rata-rata bisa menjadi delapan atau sembilan tusuk saja.

Daging yang dipilih pun bukan dari sembarang bagian, tapi khusus daging has atau lulur dalam, atau sering disebut tenderloin. Bagian daging sapi yang minim lemak. Karena pilihan jenis dagingnya, warung ini konon sampai harus menggunakan empat pemasok. Kabarnya mereka memilih tidak berjualan jika tidak tersedia daging yang sesuai resep aslinya.

Sikap tersebut konon ditanamkan almarhum pak Yahmon kepada anak-cucunya. Kualitas bahan penting untuk mempertahankan mutu dan kelezatan masakan yang sudah diharapkan pelanggan. Sikap inilah yang konon membuat mereka harus mencoret salah satu menu makanan. Menu lodeh yang menggunakan lodeh tewel merah harus dihapus karena bahannya tidak ada.

Dalam sehari, warung sate ini bisa menghabiskan 20 hingga 40 kilogram daging has dalam. Biasanya, mereka buka sejak pukul 8 pagi dan tutup pada jam 4 sore. Sedangkan untuk hari Jumat dan hari besar Islam warung ini tutup.

Melihat ukurannya, sate gebuk yang masih ada lemaknya dijual dengan harga Rp 25 ribu satu tusuknya. Sedangkan sate gebuk yang tanpa lemak harganya Rp 30 ribu per tusuknya. Masakan lainnya, sop, soto dan rawon, harganya dibandrol Rp 15 ribu per mangkok.

Bagaimana, tertarik mencoba menu sate gebuk? Ayo agendakan mencobanya jika punya kesempatan mampir ke Malang.

agendaIndonesia

Dari Teluk Bone, 4 Masakan Yang Asam Gurih

Dari Teluk Bone di Sulawesi Selatan, ada masakan yang khas kawasan ini. Sulawesi dan ikan laut rasanya seperti pasangan yang tak terpisahkan. Itu yang ada di benak kami ketika menyambangi Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Dari Teluk Bone

Kabupaten Luwu Timur yang beribukota di Malili posisinya di Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Kota ini berada di tepi Teluk Bone. Selain Malili, kota yang paling dikenal tentu saja Soroako, kota kecamatan yang menghadap ke danau Matano yang indah.

Kota ini berjarak sekitar 500 kilometer dari Makassar. Sejak tiba di Soroako, Kecamatan Nuha, petugas hotel yang kami inapi sudah mewanti-wanti agar mencicipi kapurung, sajian semacam sup yang populer di Luwu. “Di sini, kapurung ada di dekat pasar, tapi biasanya buka di pagi hari,” kata Roni, pegawai hotel tersebut.

Atas rekomendasi ini, keesokan harinya masakan inilah yang pertama kami buru. Selanjutnya, baru saya mencicipi aneka hidangan ikan dan sayur yang khas.

Kapurung yang Kenyal

Setelah menikmati sejumlah “pantai” yang terkenal di tepi Danau Matano, lanskapnya d seperti pantai meskipun berada di tepi danau. Kami lantas singgah ke Kapurung Musdalifah, ini semacam warung rumahan di Jalan Incoiro, Soroako.

Warung itu berseberangan dengan asrama anggota Brigade Mobil. Teras rumah pemilik warung dimanfaatkan sebagai tempat makan. Kami pun menyantap kapurung hangat tanpa basa-basi.

Hidangan semacam sup ini banyak dijajakan di Luwu dan sekitarnya. Kapurung diolah dari sagu yang tumbuh melimpah di sini. Tanaman khas wilayah Indonesia timur itu dicampur dengan air dan dimasak hingga kenyal, lalu dibentuk bulat-bulat. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam kuah ikan yang telah dibumbui terasi, cabai, dan paccukka, yang merupakan campuran asam patikala, belimbing, dan mangga muda.

Rasanya kenyal, segar, dan asam. Kapurung terkadang diberi tambahan sayuran, seperti kangkung, kacang panjang, tomat, jagung muda, terung, daun pakis, dan bayam. Disajikan hangat-hangat, kapurung enak di- makan sendiri ataupun dipadu dengan ikan bakar.

Kapurung Musdalifah

Jalan Incoiro, Soroako Luwu Timur

Dari Teluk Bone wisatawan bisa mengunjungi Danau Matano dan menikmati kuliner di kawasan itu.
Dari Teluk Bone, bisa mampir ke Danau Matano untuk mencicipi keindahannya dan kulinernya. Foto: ilustrasi-shutterstock

Segarnya Parede

SOROAKO terletak di pegunungan. Kalau betul-betul mau mencoba masakan ikan daerah Luwu, kita harus menuju tepi laut. Maka, kami melanjutkan petualangan kuliner ke Malini di tepi Teluk Bone. Daerah ini bisa dicapai dalam satu jam bermobil dari Soroako. Kami mampir di Rumah Makan Aroma Laut, yang sering jadi tempat bupati dan pejabat daerah mengadakan pertemuan.

Pegawai rumah makan menunjukkan sejumlah ikan yang bertumpuk di kotak pendingin. “Ikannya masih segar, baru saja tiba,” kata dia meyakinkan kami. Saya memilih seekor ikan kakap. Karena ikan itu besar, dia menyarankan untuk membaginya dalam beberapa jenis masakan: ikan bakar, ikan goreng, dan parede. Kami mengiyakan. Sekitar seperempat jam kemudian, semua hidangan tersaji di meja.

Rumah makan itu tepat di tepi teluk dan menjorok ke pantai. Matahari yang terbenam di Teluk Bone menemani kami menyantap habis semua sajian, termasuk parede. Ini tak lain sup ikan khas masyarakat Luwu dan Palopo.

Ikan yang digunakan biasanya ikan laut, seperti kakap dan lamuru terutama bagian kepalanya. Ikan direbus bersama bumbu kunyit, ratca (serutan mangga muda dengan sambal terasi), cabai, dan asam patikala. Kuahnya kuning pucat, rasanya asam bercampur pedas. Rasa yang khas keluar dari asam patikala dan mangga muda. Aroma harum juga berasal dari asal patikala. Parede biasanya disajikan hangat sebagai lauk untuk nasi.

Aroma Laut

Lampia, Malili
Luwu Timur


Lawa’, Sayuran Yang Khas

LAWA’ (baca: lawak) adalah makanan  khas Luwu yang mirip urap. Bahan da- sarnya daging ikan yang dihancurkan dan sayuran, semisal pakis. Ada juga yang menggunakan jantung pisang. Pakis terlebih dulu direndam dalam cuka atau perasan jeruk nipis. Bahan itu lalu dicampur dengan bumbu parutan kelapa yang sudah ditumis bersama garam, cabai, dan bawang merah.

Rasanya asam, gurih, dan pedas. Lawa’ biasa disajikan dengan ruji atau dange, yakni sagu bakar. Lawa’ juga menjadi sajian yang sering kali dipadukan dengan kapurung.

Aroma Laut

Lampia, Malili Luwu Timur

Dange, Padanan Lawa’

Di Luwu Timur, sagu diolah menjadi beragam sajian, seperti kapurung dan dange. Sagu bakar atau dange memang telah menjadi hidangan khas baik di Luwu Timur maupun Luwu Utara. Dibuat dengan cara dipipihkan hingga menjadi lempengan tipis.

Rasanya hambar dan agak keras. Karena itu, dange dipadu dengan olahan lain, misalnya lawa’ dan sup ikan. Dange tergolong tahan lama, sehingga sering menjadi bekal para nelayan untuk melaut.

Aroma Laut

Lampia, Malili, Luwu Timur

agendaIndonesia/Pernah Diterbitkan di TL

*****

Sarapan Tradisional Bangkalan, 3 Yang Perlu Dicoba

Sarapan Tradisional Bangkalan Madura perlu dicoba selain bebek Sinjay ada 3 pilihan lain.

Sarapan tradisional Bangkalan di pulau Madura mungkin banyak orang akan langsung terpikir nasi bebek Sinjay yang memang sudah sangat kondang. Namun, sesungguhnya, Bangkalan tidak cuma mempunyai bebek, ia juga punya sejumlah masakan untuk sarapan. Jika cukup punya waktu, pesan saja bebeknya untuk dibungkus dan dibawa pulang, sementara sarapannya coba yang lain.

Sarapan Tradisional Bangkalan

Bangkalan, kota yang berada di Pulau Madura tapi dapat dicapai dalam waktu satu jam dari Surabaya via Jembatan Suramadu ini, sesungguhnya mempunyai pilihan segudang menu sarapan.

Namun, dalam perjalanan singkat ke Madura dan Jawa Timur, saya menemukan satu titik yang menyajikan tiga menu pilihan khas. Selain lokasinya berdekatan, yakni di ujung Jalan KH Hasyim Asyari yang tidak jauh dari SMPN 2 Bangkalan, harganya juga tidak menguras kantong. Semua di bawah Rp 10 ribu. Ketiganya adalah nasi jagung, topak lodeh, dan tajin Sobih.

Ke tiganya bisa menjadi alternatif pilihan sebelum melanjutkan perjalanan ke Madura. Baik ke Pamekasan untuk berburu batik, atau sekedar jalan-jalan di seputar kota Bangkalan sebelum kembali ke Surabaya atau tujuan perjalanan lainnya di Jawa Timur.

sarapan tradisional Bangkalan menjadi lebih mudah sejak adanya Jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Foto:shutterstock

Nasi Jagung Ikan Tongkol

Dalam bahasa daerah, orang Madu
ra menyebutnya nasek ampog. Jagung memang bahan makanan yang lekat dalam keseharian masyarakat Pulau Madura. Karena itu, tak mengherankan muncul olahan bernama nasi jagung. Menu olahan beras ini dicampur dengan jagung pipilan yang telah dikeringkan dan ditumbuk. Menu ini lahir karena kesulitan beras pada masa lalu, tapi kini tetap enak dinikmati karena menjadi sajian khas di pagi hari.

Dulu, nasi jagung diolah dengan lebih banyak beras dibanding jagung. Namun dalam perjalanan kali ini saya menemukan Ibu Astuti. Pedagang nasi jagung yang telah berjualan selama delapan tahun di ujung Jalan Hasyim Asyari tersebut menyebutkan menggunakan
1,5 kilogram beras dengan 1 kilogram jagung yang sudah dikeringkan.

Nasi jagung ditempatkan di wadah, bersebelahan dengan lauk pauk dan sayuran padanannya. Pagi itu, saya menemukan lauk berupa tongkol sengkeseng atau ikan tongkol yang ditumis dengan tomat, bawang merah, plus sayuran. Satu bungkus yang cukup mengenyangkan itu dia banderol hanya Rp 8.000. Ia berjualan sejak pukul 06.30. Biasanya, pukul 08.00 dagangannya sudah habis.

Meski tergolong tidak banyak lagi yang berjualan, nasi jagung masih bisa ditemukan di beberapa tempat. Astuti menyebutkan lokasi itu ada di Pasar Sorjen, Bangkalan.

Topak Lodeh Nan Gurih

Bersebelahan dengan penjual nasi jagung, saya menemukan ibu yang berjualan dengan menu khas lain, yakni topak lodeh. Rupanya makanan ini merupakan perpaduan potongan ketupat atau lontong dengan sayur lodeh. Uniknya, kuahnya dibuat kental dengan rasa gurih. Sehingga rasanya nikmat benar di lidah. Penjaja juga menjualnya dalam wadah bambu.

Selain berisi lontong atau ketupat, dalam wadah yang disekat daun pisang itu ada juga tambahan berupa jagung tumbuk, kerupuk kulit kuah lodeh, sayur pepaya muda berkuah kental karena menggunakan santan dan tepung beras,

serta parutan kelapa yang disangrai dengan irisan cabe merah. Ibu Sukarni, sang penjaja makanan ini, berjualan pukul 05.00-08.00. Harganya juga cukup irit untuk sarapan, yakni Rp 6.000. Jenis penganan ini juga bisa ditemukan di Pasar Senen, Bangkalan.

Si Manis Tajin Sobih

Bila ingin yang manis, pilihannya adalah tajin Sobih. Nama belakang dari tajin atau bubur itu adalah nama desa di Kecamatan Bangkalan. Nah, sebagian besar pedagang bubur Sobih di Bangkalan ternyata berasal dari desa itu. Saya mendapati Ibu Khoiriyah, salah seorang penjual bubur Sobih, di seberang pedagang topat lodeh dan nasi jagung. Berbekal bakul dari anyaman bambu, ia berjualan mulai pukul 05.00 hingga 10.00.

Tajin Sobih tak lain terbuat dari bubur sumsum dengan guyuran gula merah cair. Namun ada tiga panci kecil yang dipadu menjadi teman tajin Sobih dengan warna berbeda-beda, yakni bubur srintil dan bubur mutiara santan. Bungkus menu sarapan yang manis ini juga menggunakan daun pisang. Harganya per pincuk hanya Rp 3.000. Penjual menu ini tergolong banyak, dari yang nangkring sampai berkeliling.

agendaIndonesia

****

Kuliner Yogyakarta, 7 Yang Pedas Menyengat

Jogja Fashion Week 2022 diselenggarakan di tiga venue.

Kuliner Yogyakarta persepsi orang selalu dikaitkan dengan gudeg, masakan berbahan nangka muda dengan rasa dominan manis. Bahkan semua masakan di kota pelajar ini cenderung dipersepsikan makanan yang manis. Tapi, betulkah demikian?

Kuliner Yogyakarta

Ternyata tak semua sajian di kota ini berasa manis, ada pula olahan yang membuat lidah terasa terbakar. Rasanya ada kuliner yang perlu Anda coba bila bepergian ke Yogyakarta, dan mencari alternatif selain gudeg.

Gudeg tentu jangan sampai dilewatkan, namun kali ini kami coba mengenalkan warisan kuliner Yogyakarta selain gudeg. Cukup banyak warung yang melejit dan ramai dikunjungi karena keberanian menggunakan cabai dalam olahan maskan andalannya. Berikut tujuh yang mungkin bisa dikunjungi.

Entok Slenget Kang Tanir

“Entok”dalam bahasa Jawa adalah sebutan untuk itik manila, sedangkan “slenget”berarti rasa yang menyengat. Kang Tanir memberi nama warungnya sesuai dengan spesialisasinya memasak rica-rica itik pedas yang mampu menyengat lidah pembelinya. Lokasi warung kuliner Yogyakarta ini terletak di daerah Turi. Dari pusat Kota Yogya, setidaknya 45 menit berkendara menuju warung ini.

Kuliner Yogyakarta tak cuma gudeg, tapi juga entok yang pedas menyengat.
Entok Slenget Pak Tanir, tampilan bisa buruk, tapi rasa bisa bikin kangen. Foto: Dok. TL

Meskipun jauh, dijamin tidak akan menyesal berkunjung ke mari. Kanan-kiri jalan dipenuhi hamparan sawah dan kebun salak pondoh. Pada akhir pekan, jalanan menuju Turi akan disesaki kendaraan yang hendak berwisata di lereng Gunung Merapi di Kaliurang.

Warung Kang Tanir buka pukul 16.30, di mana udara Turi menjadi cukup dingin menjelang gelap. Jadi ini saat yang tepat untuk memesan sepiring entok slenget dengan nasi panas. Anda bisa meminta tingkat kepedasan yang sesuai toleransi lidah.

Biasanya kang Tanir akan mengambil beberapa cabai rawit untuk ditumbuk kasar. Lalu dimasukkan ke dalam satu wajan berisi potongan entok yang telah direbus sebelumnya. Setelah ditambah kecap dan bumbu lain, semua campuran itu dimasak dengan api besar.

 Entok slenget dibanderol Rp 30 ribu per porsi, termasuk nasi, sepiring potongan kubis mentah dan mentimun segar, plus teh atau jeruk hangat. Jika hendak berkunjung di akhir pekan, pastikan Anda datang lebih awal. Sebab, hanya dalam waktu 2-3 jam, stok daging entok bisa ludes seketika. Ada pula pilihan lain, thengkleng entok, yang ini cukup banyak tulangannya.

Entok Slenget Kang Tanir; Pasar Agropolitan Pules, Donokerto, Turi, Sleman.


Penyetan Mas Kobis

Sekitar 10 tahun lalu, warung Penyetan Mas Kobis hanya menempati sepetak poskamling di daerah Universitas Negeri Yogyakarta. Warung ini menjadi andalan mahasiswa, terutama yang doyan pedas. Namun sekarang, warung ini memiliki tempat yang luas dan banyak cabang sehingga menjangkau berbagai kalangan.

Kuliner Yogyakarta ternyata menyimpan masakan-masakan yang berasa pedas.

Penyetan Mas Kobis menyediakan menu berupa ayam, tahu, tempe, telur, ikan nila, ati ampela, dan lele dengan kisaran harga Rp 5 ribu-20 ribu. Buka pukul 11.00- 23.00. Jangan lupa selalu cantumkan seberapa pedas sambal yang Anda inginkan. Dua atau 20 cabai pun akan tetap dilayani. Cabai-cabai ini ditumbuk kasar dengan bawang putih, lalu ditambah sedikit minyak goreng panas. Kemudian lauk yang Anda pesan akan digeprek atau dihancurkan di dalam cobek berisi sambal bawang tadi. Bahkan, jika Anda memesan terung atau kol goreng pun, akan turut digeprek. Hasil akhir penampakan menu di warung ini memang terkesan berantakan. Tapi itulah ciri khas Penyetan Mas Kobis selama bertahun-tahun. Meskipun tak menarik dilihat, tidak berarti tak sedap di lidah, bukan?

Penyetan Mas Kobis; Jalan Pandega Marta, Mlati,Yogyakarta

Kebelet Belut

Tidak semua orang menggemari masakan belut. Sebagian bahkan merasa jijik dan geli membayangkan hewan aslinya yang licin dan hidup di sekitar sawah. Tapi tak sedikit pula yang menyukai daging belut karena lembut dan gurih. Jika Anda termasuk di dalamnya, cobalah kuliner Yogyakarta yang khas dengan mampir ke warung Kebelet Belut yang memiliki berbagai olahan masakan belut.

Ada belut goreng kering yang dicampur dengan sambal merah atau sambal hijau dalam satu cobek. Ada pula belut goreng yang dihidangkan terpisah dengan sambal bawang pedas. Bosan dengan goreng-gorengan, cobalah varian lain, yaitu garang asem belut dengan cita rasa asam manis karena dimasak menggunakan belimbing wuluh dan santan.

Sebagai makanan berkolesterol tinggi, kerap kali sambal belut disandingkan dengan potongan bawang putih mentah sebagai penurun kolesterol secara alami. Meskipun berspesialisasi mengolah belut, warung ini juga menyediakan lele dan ayam goreng.

Kebelet Belut; Jalan Ipda Tut Harsono 42, Timoho; Yogyakarta

Iwak Kalen

Iwak kalen dalam bahasa Jawa artinya ikan kali atau sungai kecil. Warung ini memang khusus menyediakan makanan yang berasal dari ikan sungai dan tambak. Menu andalannya adalah ikan wader, udang air tawar, dan ikan kutuk, atau populer sebagai ikan gabus.

Kuliner Yogyakarta sangat beragam dari yang manis hingga yang pedas. Dari ayam hingga ikan sungai.
Iwak kalen yang berarti ikan dari kali atau sungai kecil seperti ikan wader. Foto: Dok. TL

Tak ketinggalan juga aneka sambal disediakan, seperti sambal tomat segar, sambal terasi matang, sambal bawang, dan sambal kecap. Anda juga bisa memilih apakah lauk akan digoreng, dibakar, ditumis bersama sambal, dimasak mangut pedas, atau dibuat sup.

Lokasinya bersebelahan dengan persawahan dengan suasana perdesaan yang kental. Bagi wisatawan atau pengunjung yang suntuk dengan hiruk-pikuk perkotaan, warung Iwak Kalen bisa menjadi pilihan. Makan enak sembari memanjakan mata.

Iwak Kalen; Jalan Godean KM 9, Gang Mandungan, Genitem, SidoagungGodean, Sleman

Oseng-oseng Mercon Bu Narti

Istilah mercon digunakan banyak kuliner di Jawa Tengah, Yogya, dan Jawa Timur untuk menunjukkan masakan yang dijual biasanya sangat pedas. Jika berkunjung ke warung bu Narti di kawasan Kauman, orang akan langsung paham jenis masakan apa yang dijual: orang-orang yang sedang makan dengan raut wajah terengah-engah dan mata setengah melotot. Tak sedikit yang makan sambil mengelap peluh di keningnya.

Inilah efek menyantap oseng-oseng mercon. Makanan kreasi Bu Narti ini kini telah menjadi kuliner khas Yogyakarta. Berdiri sejak 1998 warung ini terkenal hingga ke berbagai kota, menarik setiap pejalan untuk mencoba.

Dilihat dari bentuknya, hidangan yang disajikan biasa saja. Hanya nasi putih panas ditemani oseng-oseng sederhana berisi kikil, gajih, kulit, dan tulang muda. Orang Jogja menyebutnya koyoran. Terlihat sangat berminyak, ditambah kepungan irisan cabai rawit yang bijinya menempel di koyoran.

Masakan ini karena sangat berminyak akan cepat membeku. Ngendal kata orang Jawa. ngan lemak yang begitu banyak. Maka makanlah dengan cepat. Panas nasi putih juga bisa membantu memperlambat proses pembekuan lemak. Toh, makan mercon selezat ini mana bisa lambat-lambat, semua gerak cepat. Jika tak kuat dengan serangan rasa pedas, ada menu lain seperti ayam, burung puyuh, dan lele.

Oseng-oseng Mercon Bu Narti; Jl. KH ahmad Dahlan, Gang Purwodiningratan, Yogyakarta

Gudeg Mercon Bu Tinah

Satu lagi masakan yang memajang kata mercon di sajiannya. Kali ini adaptasi dari kuliner Yogyakarta, gudeg. Jadi ini gudeg yang tidak sekadar manis.

Gudeg Mercon Bu Tinah yang terletak di Jalan Asem Gede di kawasan Kranggan ini merupakan warung gudeg favorit.

Sebenarnya banyak warung gudeg, namun, warung Gudeg milik Bu Tinah ini sangat populer dan termasuk salah satu pilihan bagi mereka yang tak terlalu suka makanan manis.

Gudeg buatan Bu Tinah ini bisa dibilang tidak biasa dan punya keunikan. Gudegnya memiliki citarasa yang pedas dengan kuah santan yang kental dan gurih. Rasa pedas Gudeg ini sangat dominan. Rasa pedasnya nendang banget, ini berasal dari oseng-oseng mercon kreceknya.

Dimana krecek tersebut ditabur dengan ranjau cabai rawit yang ekstra pedas. Belum lagi dengan tambahan sayur lombok ijo yang membuat makanan ini pedasnya meledak di mulut. Meski terkenal dengan rasa pedasnya, Gudeg ini tetap memiliki rasa manis.

Warung Bu Tinah ini buka setiap malam dan memiliki pelanggan yang lumayan banyak. Terutama setiap malam minggu tak pernah sepi pengunjung. Warungnya sangat sederhana, yaitu berupa warung tenda di pinggir trotoar.

Gudeg Mercon Bu Tinah; Jalan Asem Gede, Jetis, Yogyakarta

Jadi kalau ke Yogyakarta dan ingin membakar lidah, jangan lupa agendakan mencicipi kuliner pedas ini ya.

agendaIndonesia

*****

Tahu Telur Pak Jayen, Gurih Sejak 2007

Tahu Telur Pak Jayen menjadi salah satu pilihan kuliner malam di Surabaya. IG SurabayaFoodis

Tahu telur Pak Jayen beberapa tahun belakangan ini begitu tersohor sebagai salah satu pilihan kuliner malam di Surabaya. Rasanya yang gurih, porsinya yang mengenyangkan, serta harganya yang terjangkau menjadi daya tarik yang membuatnya selalu diburu.

Tahu Telur Pak Jayen

Secara umum, tahu telur memang merupakan salah satu jenis kuliner yang cukup lumrah ditemukan pada berbagai daerah di sekitar Jawa Timur. Juga beberapa daerah di Jawa lainya. Makanan ini juga kerap disebut tahu tek, yang disinyalir berasal dari suara tahu yang dipotong kecil-kecil.

Dari wujudnya, mungkin bisa dikatakan jika makanan ini punya kemiripan dengan ketoprak atau lotek. Ia terdiri dari tahu goreng, telur dadar, potongan timun, taoge, serta lontong dan kentang yang kemudian dilumuri dengan bumbu kacang yang mengandung petis dan bawang putih.

Tahu Telur Pak Jayen sesungguhnya adalah tahu tek.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura Foto: shutterstock

Perpaduan dari tahu yang hangat dan empuk, segarnya taoge dan timun, serta gurihnya bumbu kacang dengan petisnya tersebut begitu menggoda lidah. Porsinya yang biasanya juga cukup banyak membuatnya terbilang cukup mengenyangkan.

Salah satu penjaja tahu telur yang terbilang paling populer saat ini adalah tahu telur Pak Jayen, yang telah melayani pelanggan setianya sejak 2007. Kedai tahu telur tersebut berada di kawasan Gubeng, tepatnya di jalan Dharmahusada.

Lokasinya berada tak jauh dari stasiun kereta api Gubeng dan Rumah Sakit Dr. Soetomo. Awalnya, tempat mereka berjualan digunakan bergantian oleh pedagang gudeg di pagi hari dan jasa pencuci mobil di siang hari, sehingga mereka baru buka saat sore hingga malam.

Hal tersebut justru menjadi peruntungan tersendiri, tatkala pengunjung mulai ramai berdatangan memenuhi kedai ini. Usut punya usut, meski tahu telur sendiri terbilang kuliner yang cukup umum di kota pahlawan tersebut, ada sejumlah keunikan yang dimilikinya.

Yang pertama dan utama adalah cita rasanya yang begitu unik dan nikmat. Paduan bumbu kacang, petis dan bawang putihnya beraroma sangat khas dan terasa kental, gurih nan menggigit di lidah. Cita rasa ini rupanya begitu digemari oleh warga Surabaya.

Cita rasa bumbunya tersebut selalu dijaga agar senantiasa terasa fresh. Kerap kali mereka baru membuat bumbu ketika akan menghidangkan makanan, dengan racikan petis dari Sidoarjo dan bawang putih yang secara khusus sudah disiapkan.

Tahu Telur Surabaya shutterstock
Tahu Telur Surabaya dengan rasa gurih dari petis. Foto: shutterstock

Kemudian porsinya yang terasa pas, tidak terasa kurang maupun berlebihan. Sebagai kuliner malam hari, Tahu Telur Pak Jayen cocok sebagai hidangan main course saat makan malam, tetapi juga masih nikmat sebagai kudapan yang cukup mengisi perut kala malam mulai larut.

Umumnya ada tiga jenis menu tahu telur yang disediakan. Tahu telur komplit, tahu tek tanpa telur, serta tahu telur porsi jumbo. Untuk tahu telur komplit dan tahu tek tanpa telur dihargai Rp 20 ribu, sedangkan untuk yang porsi jumbo harganya Rp 25 ribu.

Lain dari itu, pengunjung juga dapat memesan tahu telurnya sesuai selera. Mulai dari tingkat kepedasan dan jumlah cabe yang digunakan, isi kondimen yang diinginkan atau tidak, sampai detail kecil seperti kerupuk yang digabung atau dipisah.

Satu hal lain yang cukup unik di Tahu Telur Pak Jayen, bila meminta kerupuk untuk dipisah, biasanya pembeli akan diberikan sekantung plastik kerupuk berukuran besar, terutama bagi yang memesan untuk dibawa pulang. Saat masuk ke dalam kedai, kerap terlihat tumpukan plastik berisi kerupuk tersebut.

Beberapa hal tersebut menjadikan tahu telur Pak Jayen sebagai salah satu kuliner tahu telur paling tersohor di Surabaya. Walaupun hanya buka dari sore sampai malam, tak jarang pengunjung hingga mengantri, bahkan mendekati tengah malam.

Lontong Balap Surabaya shutterstock
Tahu telur mirip dengan lontong balap, berbeda dikuahnya. Foto shutterstock

Oleh karenanya, dibuka pula sebuah cabang yang juga masih terletak di area jalan Dharmahusada. Lokasinya kini berupa kedai dengan bangunan permanen, untuk dapat melayani lebih banyak pengunjung.

Kendati terkadang harus antri memesan, begitu makanan telah dipesan biasanya akan datang sekitar 10-15 menit. Setiap pramusaji memiliki perannya sendiri, seperti pembuat bumbu, pemotong, penggoreng, dan seterusnya agar pesanan dapat cepat dihidangkan.

Tahu telur Pak Jayen buka dari jam 17.00 hingga jam 00.00, meski terkadang dikarenakan ramainya pengunjung bisa saja mereka tutup lebih awal karena sudah laris terjual. Sudah jadi maklum bila kedai terlihat ramai hingga jam 22.00 lebih, dipenuhi penggemar kuliner malam.

Selain itu, hingga kini kedai utamanya masih sering penuh hingga harus mengantri, sehingga tak ada salahnya untuk menyambangi cabang yang satu lagi jika sekedar ingin mencobanya. Toh secara cita rasa, tak ada bedanya dan dijamin tetap sama enaknya.

Tahu Telur Pak Jayen

Jl. Dharmahusada Indah I, Blok C no. 2, Surabaya

Jl. Dharmahusada no. 112, Surabaya

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Pilihan Makan Jelang Akhir Tahun, 4 Di Sekitar Jakarta

Pilihan makan jelang kahir tahun 2020 dan tak jauh dari Jakarta.

Pilihan makan jelang akhir tahun 2021 ada banyak pilihan. Namun karena situasi masih belum menentu dan banyak memilih liburan di dekat-dekat Jakarta, berikut alternatif yang bisa dipilih.

Pilihan Makan Jelang Akhir Tahun

Acara makan keluar bagi masyarakat urban sudah menjadi gaya hidup rutin. Sekadar demi relaksasi pikiran, atau untuk bercengkerama bersama kerabat dan relasi. Terlbih di saat menjelang akhir tahun. Semakin nyaman dan terasa seperti rumah sebuah tempat makan, biasanya semakin diburu. Seperti beberapa tempat berikut.

Welfed Bandung

Merenung di Bandung selalu terdengar sebagai pasangan kata impian para pelancong dan petualang kuliner. Kawasan Bandung yang identik punya banyak lokasi untuk merenungi hal yang lalu-lalu sembari bersantap lezat demi masa kini yang penuh semangat. Jika Anda lebih suka melakukan aktivitas santap santai di tengah terpaan udara segar yang meniupi wajah, Anda bisa melipir ke daerah Bandung Barat, tempat restoran bernuansa eklektik klasik ini berada.

Pojok paling favorit di restoran yang sebagian besar menyajikan hidangan ala barat ini adalah bagian teras terbukanya. Duduklah berlama-lama di situ, melemparkan pandangan ke arah rimbun pepohonan di sekitaran restoran, sambil mengiris stik daging empuk yang lembut digigit. Mengundang relasi untuk santap resmi juga bisa dilakukan di bagian dalam restoran yang punya kesan magis tersendiri. Restoran yang sayang untuk dilewatkan. 

Alamat: Villa Triniti, KM. 4,7 No. 88, Jalan Sersan Bajuri, Cihideung, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Telepon: (022) 2785124

Lemongrass Bogor

Selain menjadi tempat berburu kuliner lezat, Bogor kini juga dikenal sebagai tempat kafe-kafe tematik bertebaran. Satu sama lain saling bersaing dekorasi dan konsep suasana. Salah satu yang populer beberapa waktu belakangan adalah Lemongrass. Anda bahkan harus reservasi jauh-jauh hari jika hendak mampir ke sana bersama keluarga besar atau reuni teman-teman lama.

Lemongrass punya area dalam dan luar yang bisa Anda pilih berdasarkan suasana hati saat datang ke sana. Jika ingin duduk menikmati hidangan sembari menghirup udara segar, area luar yang dihiasi kursi-kursi jalin berwarna-warni serta sepertinya cocok untuk Anda. Pohon-pohon rindang yang menaungi seolah-olah membuat Anda serasa makan di tengah kebun. Apalagi ada pilihan duduk di sofa rotan berbentuk telur yang membuat waktu seolah terhenti sejenak. Lampu-lampu yang ada di sekitar area luar akan bergemerlap terang saat malam tiba. Cocok jadi tempat makan malam romantis dengan seseorang yang spesial.

Area dalam restoran pun tak kalah nyaman, khususnya bagi Anda yang lebih suka suasana sejuk dari pendingin udara dan nuansa hangat dari interior kayu berpadu sentuhan ornamen modern. Pilihan makanannya juga cukup banyak, mulai dari hidangan Indonesia sampai hidangan alat barat dan peranakan. Makan di restoran ini tidak sekadar menjadi pengalaman kuliner, tetapi juga pengalaman bersantap dengan nyaman sambil memanjakan mata.

Alamat: Jalan Raya Pajajaran No.21, Bantarjati, Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat

Jam buka: Senin-Minggu pukul 10.00-23.00

Telepon: (0251) 8328800

Web: lemongrassresto.com

Tekko Grand Kota Bintang Bekasi

Bekasi kerap diidentikkan dengan wilayah yang perlu usaha keras untuk mencapainya. Padahal usaha keras itu bisa berujung manis jika berakhir di tempat makan yang menggugah selera sekaligus nyaman untuk lama-lama bersantap. Salah satunya adalah restoran ini, yang merupakan salah satu cabang dari jaringan restoran Tekko yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Tekko yang ada di Bekasi Barat ini punya konsep yang cukup berbeda dnegan kebanyakan cabang Tekko lainnya yang biasanya ada di dalam mal. Keunggulan Tekko sebagai salah satu restoran keluarga semakin diperkuat dengan nuansa restoran yang hangat dan akrab. Nuansa ini tercipta sebagai hasil perpaduan furnitur kayu yang memberi kesan rumahan, dinding-dinding model batu bata tak bercat, serta lampu-lampu gantung besar yang klasik sekaligus berlimpah cahaya terang. Keramik lantai pun disesuaikan dengan nuansa klasik Jawa yang membuat pengunjung betah duduk lama menikmati hidangan dan obrolan santai bersama kerabat. Makanan yang tersedia sebagian besar adalah makanan tradisional Indonesia, tentu tetap dengan menu andalah mereka: daging iga sapi.

Karena bagian dalamnya yang cukup luas, dengan meja dan bangku panjang yang lega, restoran ini cocok bagi Anda yang ingin menikmati makan bersama seluruh anggota keluarga, atau kumpul-kumpul bareng teman-teman yang sudah lama tidak bersua.

Alamat: Komplek Grand Kota Bintang Unit W6, Jalan KH. Noer Ali, Jakasampurna, Bekasi Barat, Jawa Barat

Jam buka: 10.00-22.45

Telepon: (021) 22101025

Pilihan makan jelang akhir tahun buat mereka yang ada di sekitar Depok dan Jakarta
Pilihan makan menjelang akhir tahun ada banyak, ini pilihan buat yang sedang di sekitar Depok. Foto: Ilustrasi Bang Dev Cafe

Bang Dev Cafe & Resto Depok

Bosan dengan hidangan tradisional Sunda atau hidangan daging yang itu-itu saja? Sesekali mengubah menu bersantap dan mencicipi makanan dari unggas yang tidak biasa, barangkali akan menjadi selingan yang nikmat.

Jika Anda sedang melintas di daerah Cimanggis, Depok, Anda akan mendapati restoran yang dari luar terlihat bersahabat dan terasa seperti rumah. Unggas yang menjadi hidangan utama di restoran bergaya country ini adalah kalkun. Belum pernah mencoba gurihnya daging kalkun? Tak perlu jauh-jauh ke negara-negara lain yang punya tradisi makan kalkun panggang bersama keluarga, di Depok pun bisa.

Bagi Anda yang belum pernah makan unggas jenis ini, sebaiknya mengawali lewat kalkun panggang dengan kulit yang renyah kecokelatan yang dimakan bersama saus legit menggoda dan setumpuk sayuran rebus. Pilihan olahan kalkun yang dimakan dengan nasi pun tersedia di sini. Nuansa makan terasa lebih lengkap dengan interior restoran yang didominasi kayu serta perabot vintage.

Alamat: Jalan Cimanggis Boulevard No.11, Tapos, Depok, Kota Depok, Jawa Barat 16457

Jam buka: Senin – Minggu pukul 10.00-22.000

Telepon: (021) 83711088

Web: bangdevcaferesto.blogspot.co.id

agendaIndonesia

*****

5 Makanan Tasikmalaya yang Unik dan Nikmat

5 makanan Tasikmalaya berikut ini adalah masakan dan cemilan atau oleh-oleh dari kota yang sering disebut sebagai mutiara dari Priangan Timur. Sejak zaman Belanda, Tasikmalaya, yang membentang dari Kabupaten Sukabumi hingga Kabupaten Ciamis, menjadi jantung perekonomian di daerah Priangan Timur.

5 Makanan Tasikmalaya

Namun, Tasikmalaya tak hanya kuat di sektor perdagangan, ia juga mutiara yang digemari karena daya tarik wisata kulinernya. Jika sempat main ke kota di Jawa Barat ini, cobalah cicipi satu atau dua makanan di bawah ini.

Nasi Cikur

Jawa Barat memiliki segudang kuliner khas yang patut untuk dicicipi. Salah satunya adalah nasi cikur Tasikmalaya yang pembuatannya dicampur dengan kencur muda. Nasi cikur mungkin belum seterkenal nasi tutug oncom, namun sesungguhnya masakan ini tak kalah nikmatnya.

Nasi ini terbuat dari bumbu biasa seperti garam, bawang putih, cabai merah, serta tentu saja, cikur yang berarti kencur. Kencurnya sendiri dipilih yang masih sangat muda dengan tunas berwarna putih. Ini membuat nasi terasa renyah dan agak getir, memancing selera untuk segera menyantapnya bersama telur dadar, serundeng, atau suwiran daging ayam.

Mungkin banyak yang berpikir cara membuat nasi cikur ini seperti memasak nasi uduk, ternyata tidak demikian. Kebanyakan nasi cikur Tasikmalaya dibuat dengan cara mirip memasak nasi goreng.

Setelah matang, nasi ini biasanya disajikan dengan beberapa lauk pauk berupa tempe orek, ikan asin, irisan tipis telur dadar, ayam, dan lauk lain tergantung keinginan sang penjual. Tidak ketinggalan bawang goreng yang ditabur di atas nasi cikur, tahu goreng, mentimun, kerupuk emping, serta sambal ulek merah yang selalu hadir melengkapi hidangan ini.


Di mana membelinya?

Nasi Cikur Teh Rena, Jl. Panyerutan, Nagarawangi, Kec. Cihideung, Tasikmalaya,

RM To Rahmat, Jl. Cikalang Girang, Kahuripan, Tawang, Kahuripan, Kec. Tawang, Tasikmalaya

Kantin 43, Jalan Tentara Pelajar, Empangsari, Kecamatan Tawang

5 makanan Tasikmalaya yang unik dan nikmat salah satunya nasi Cikur, nasi dengan bumbu khusus kencur.
Masakan khas Tasikmalaya berupa Nasi Cikur. Foto: Ilustrasi

Nasi Tutug Oncom

Sajian yang tidak boleh terlewat saat mengunjungi Tasikmalaya adalah nasi tutug oncom. Makanan ini terdiri atas nasi putih yang dicampur oncom, yang sudah disangrai dan dibumbui. Nasi tutug oncom di sini terkenal karena kenikmatan oncom yang disajikan. Selain itu, ada sambal sebagai penambah kenikmatan tutug oncom. Nasi tutug oncom cocok disajikan dengan gorengan, telur ceplok, dan ayam goreng.

Penggemar hidangan ini kerap menyebutnya dengan nasi TO (Tutug Oncom). Tutug berarti menumbuk. Nasi pada menu ini memang dibuat dengan cara ditumbuk dan diaduk bersama oncom. Selain itu, bawang merah, bawang putih, kencur, cabai rawit, kemangi, garam, dan gula dibubuhkan sebagai penyedapnya.

Di mana membelinya?

Nasi TO Benhil, Jalan Dadaha, Kahuripan, Kecamatan Tawang

TO Kalektoran,Jalan Kalektoran (100 meter dari Masjid Agung Kota Tasikmalaya)

Kupat Tahu

Sesungguhnya menu ini bisa ditemukan di kota-kota lain, namun di Tasikmalaya komposisinya sangat khas. Bumbunya terdiri dari berbagai rempah, seperti daun bawang, kacang tanah, parutan kelapa, cabai, garam, gula aren, asam, dan santan. Kupat berasnya pulen. Kualitas tahunya juga tak sembarangan, biasanya didatangkan dari daerah Nagrog, Kecamatan Indihiang.

Ciri khas kupat tahu ini, tahunya kering dengan bumbu yang lembut di lidah. Pelanggan bisa memesan tahu tersebut digoreng setengah matang, matang, kering, atau kering sekali sampai kriuk. Bumbu kacangnya yang meresap, disajikan dengan kupat beras namun tanpa ada tauge dalam menu ini. Jangan lupa sampingannya, yakni bala-bala, bakwan, dan juga kerupuk.

Di mana membelinya?

Kupat Tahu Kabita, Jalan Tarumanagara Nomor 36, Kecamatan Tawang

Kupat Tahu Mangunreja, Jl. Raya Garut Km 2, Kampung Toblongan

Soto Ayam Pataruman

Soto Ayam Pataruman ini adalah soto ayam ala Tasikmalaya yang disajikan dengan campuran kuah santan yang mirip dengan soto Betawi dengan rasa gurih dan sedap. Bedanya dengan soto Betawi, santannya tipis saja.

Biasanya dalam seporsi soto ayam Pataruman adalah adanya suwiran daging ayam kampung bagian dada, paha, kulit, ati ampela, telor, ceker, bahkan juga kepala. Biasanya akan ada kedelai goreng, irisan daun bawang dan tak ketinggalan juga dengan bawang goreng dan jeruk nipis. Makin enak disantap hangat-hangat dengan pelengkap nasi.

Di mana membelinya?

Soto Ayam Pataruman, Jalan Pataruman Nomor 23, Yudanagara, Cihideung

Kolontong

Kolontong adalah camilan yang berbahan dasar beras ketan. Camilan ini dibuat seperti ketika membuat opak, tetapi proses dilanjutkan dengan pemanasan, biasanya memakai pasir panas. Cocok dijadikan buah tangan bagi keluarga di rumah.

Toko Oleh-oleh Nesa; Jalan Paseh Nomor 106, Tuguraja, Cihideung

agendaIndonesia

*****