Lontong Balap Surabaya, Ini 6 Yang Enak

Lontong balap Surabaya jelas tak ada hubungannya dengan dunia otomotif atau olah raga pacuan. Cukup bayangkan sepiring makanan yang terdiri dari potongan lontong berkuah dengan isian tauge, tahu, dan lentho. 

Lontong Balap Surabaya

Lentho ini sejenis gorengan terdiri dari kacang tholo dengan tepung. Tidak ketinggalan lontong balap diguyur dengan sambal petis yang merupakan ciri khasnya.

Nama lontong balap sendiri muncul dari sebutan masyarakat melihat para penjualnya berangkat menjajakan penganannya. Ada dua versi dari “balapan” para penjualnya.

Versi pertama muncul dari kisah pemilik kedai Cak Pri. Menurut cucu dari pemilik kedai yang sudah berjualan sejak 1913 itu, para pedagang lontong ini semuanya berjualan di daerah kebun binatang. Setiap pagi mereka keluar rumah dengan naik sepeda untuk menjual lontong dan saling berkebut-kebutan menuju lapaknya.

Lontong Balap Surabaya mejadi ikon kuliner kota ini, seperti Jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura

Sementara versi lainnya, sejarah nama lontong balap ini bermula dari wadah serupa gentong yang dipikul penjualnya. Agar tidak ketinggalan pembeli, para penjual ini memikul dagangannya dengan setengah berlari sehingga terlihat seolah saling balapan.

Tapi intinya, dinamakan lontong balap karena penjualnya saat itu menjual dengan cara dipikul. Karena isi pikulan banyak bahan makanan, sehingga membuatnya terasa berat. Jadi untuk mengatasinya penjualan berjalan cepat seperti balapan.

Lontong balap Surabaya kini menjadi favorit, tidak saja bagi masyarakat kota Pahlawan ini, tapi juga banyak pengunjung dari daerah lain. Ini karena cita rasanya yang enak. Tampilannya mungkin mirip kupat tahu Magelang, tapi rasanya tentu berbeda.

Dan seperti disebut di atas, ciri khas lain lontong balap Surabaya ini adalah adanya lentho. Lentho terbuat dari kacang yang direndam dengan berbagai bumbu selama satu malam yang kemudian ditumbuk. Hasilnya dibentuk dengan dikepal lalu digoreng.

lntho Surabaya shutterstock
Lentho sebagai side dish makan lontong balap Surabaya. Foto shutterstock

Lontong balap kini dapat dijumpai di berbagai titik di Surabaya, seperti di Jalan Kranggan, di daerah Wonokromo, dan di banyak sentra Kuliner yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, yakni pada kisaran mulai Rp 10 ribu per porsinya hingga Rp 15 ribu.

Bila berkunjung ke ibu kota Jawa Timur ini, lontong balap Surabaya bisa jadi pilihan makan siang atau sore hari. Lebih maknyus lagi jika disantap dengan sate kerang dan kerupuk.

Lalu di mana pecinta kuliner bisa menikmati lontong balap Surabaya yang maknyus? Berikut pilihannya.

Kedai Cak Pri

Ini termasuk yang legendaris karena sudah berjualan sejak  1913. Kini sudah ada di tangan generasi ke tiga. Dulunya berjualan di Jalan Semarang, Kecamatan Bubutan. Menurut pemiliknya, waktu itu bahkan belum disebut lontong balap.
Saat ini Kedai Cak Pri ada di Jalan Kebalen (Sampoerna), Surabaya.

Lontong Balap Pak Gendut Asli

Tempat ini memiliki sejarah cukup panjang. Lontong Balap Pak Gendut dimulai pada 1958. Saat itu, cara berjualan keluar masuk kampung dengan ditemani rombong pikulan khas lontong balap.

Pada 1970-an Pak Gendut mulai membantu orang tuanya dengan melanjutkan jualan lontong balap di depan Bioskop Garuda. Bioskop di jalan Kranggan ini dikenal sebagai tempat mangkal penjual lontong balap. Kerap kali dijuluki sebagai lontong balap Garuda karena masih memakai lapak kaki lima persis di depan bioskopnya.

Lalu pada 1995 lontong balap Garuda milik Pak Gendut diubah menjadi lontong balap Pak Gendut karena julukan dari para pelanggan yang mungkin tidak tahu nama asli dari Pak Gendut. Jadi pelanggan setia Pak Gendut memberikan julukan itu karena memang poster tubuhnya yang gendut.

Dalam seporsi lontong balap Pak Gendut, pecinta kuliner akan mendapatkan beberapa irisan lontong, lentho, kecambah, kecap, kuah segar, dan bawang goreng. Rasa yang gurih dan nikmat menjadikan tempat ini menjadi tempat terfavorit berburu lontong balap. Kedai ini juga menyajikan sate kerang yang nikmat.

Kedai ini bisa ditemui di Jalan Prof. Dr. Moestopo dan buka mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB. Harga yang dibandrol untuk 1 porsi lontong balap ini juga cukup murah cukup Rp 14 ribu.

Lontong Balap Khas Surabaya shutterstock
Masakan ini cocok di makan siang hari atau sore hari sebelum makan malam. Foto: shutterstock

Lontong Balap Cak Brengos

Lontong balap ini telah berdiri sejak 1989. Lontong balap ini diberi nama Cak Brengos karena pendirinya memiliki kumis (brengos dalam bahasa Jawa) yang tebal. Tempat makan ini berada di jalan Anjasmoro (samping pengadilan). Buka pada pukul 08.00-16.00

Kedai Lontong Balap Cak No

Kedai yang sudah berjualan selama 17 tahunan ini juga terbilang kedai lontong balap legend. Harganya yang murah meriah dan bikin kenyang membuatnya memiliki begitu banyak pelanggan tetap. Ya, harga untuk seporsi lontong balap ini dibandrol kisaran Rp 10 ribu. Porsinya juga cukup banyak.
Dalam sehari kedai lontong balap Cak No ini mampu meracik kisaran 350 porsi lontong balap. Nah, bagaimana dengan weekend? Di hari Sabtu dan Minggu, konon katanya kedai ini mampu meracik hingga 500 porsi lebih.
Kedai lontong balap Cak No terletak di Jalan Bromo No 7 Kecamatan Sawahan Surabaya. Buka setiap hari dari pagi pukul 07.00 sampai pukul 12.00 atau sampai habis.

Kedai Artomoro

Kedai lontong balap Artomoro tak hanya menyediakan lontong balap, ada kuliner tradisional khas Sidoarjo yang juga dijual di sini, lontong kupang. Seperti namanya, lontong kupang berbahan dasar kupang yang disajikan dengan lontong.

Kedai lontong balap terkenal di Sidoarjo ini memiliki ciri khas kuah yang gurih, asin, manis dan pedas. Nah, ciri khas inilah yang menjadi daya tarik dari kedai lontong balap Artomoro. Selain itu harga yang dipatok disini cukup murah dan disediakan juga es kelapa muda yang menyegarkan.
Kedai lontong balap Artomoro berlokasi di Jalan Raya Menur.

Lontong Balap Rajawali

Kedai lontong balap Surabaya ini menawarkan seporsi lontong balap dengan potongan tahu goreng, tauge, sambal petis, kecap, bawang goreng dan lentho yang lezat. Harga untuk seporsinya kisaran Rp 15 ribu.

Seperti kedai lontong lainnya, kedai lontong satu ini juga menyediakan sate kerang dengan banderol harga Rp. 15.000 untuk 1 porsinya (1 porsi = 10 tusuk).
Kedai legendaris yang sudah buka sejak 956 ini bisa ditemui di jalan Krembangan Nomor 32 Surabaya atau lebih tepatnya berada di depan SPBU Rajawali. Jam operasionalnya setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 06.00 sampai dengan 16.30.

Ayo agendakan balapan kulineran ke lontong balap Surabaya.

agendaIndonesia

*****

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 2)

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Setelah menikmati dua Taman Nasional di Jawa Barat pada artikel sebelumnya, kali ini cerita berlanjut ke sejumlah loka yang umumnya bisa dinikmati wisatawan umum. Pengunjung yang mencapai kawasan-kawasan ini tak melulu para pecinta alam, tapi banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis. Berikut artikel ke dua dari kisah penjelajahan gunung-gunung di tanah Parahiyangan.

Gunung Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu shutterstock
Gunung Jawa Barat, Gunung dan dan kawah Tangkuban Perahu. shutterstock

Siapa tak kenal tokoh Sangkuriang dan ibunya, Dayang Sumbi? Perseteruan keduanya telah membuat Sangkuriang mengamuk dan menendang perahu bikinannya hingga menjadi sebuah gunung. Tentu ini hanyalah kisah legenda. Namun tak bisa dipungkiri wujud Tangkuban Perahu memang mirip perahu yang terbalik. Juga ragam bentang alam di sekitarnya, mampu memukau setiap mata yang memandang.

Untuk menuju puncak gunung, tak perlu repot mendaki. Tempat parkirnya berada di dekat bibir kawah yang menjadi daya tarik utama. Destinasi pertama, Kawah Ratu, merupakan yang terluas dari sembilan kawah di Tangkuban Perahu.

Tanahnya berwarna putih dengan batu-batu kekuningan karena kandungan belerang. Di sejumlah sudut, asap putih yang membubung menandakan masih aktifnya kawah tersebut. Biasanya pengunjung tidak boleh turun ke bawah karena posisinya berada di kedalaman gunung dan menguapkan gas beracun.

Dari Kawah Ratu, wisatawan dapat berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer atau naik kendaraan ke Kawah Domas. Di kawah ini pengunjung boleh melihat kawah dari dekat, bahkan membasuh diri atau merebus telur di sumber air panasnya. Selain itu, ada pula beberapa orang yang menyediakan jasa spa lumpur yang diyakini bermanfaat menyembuhkan penyakit kulit.

Kawah ketiga yang cukup populer adalah Kawah Upas yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kawah Ratu. Letak kedalaman kawah mirip dengan Kawah Ratu, sehingga pengunjung tidak boleh terlalu dekat berada di inti kawah.

Ke kawah mana pun Anda menuju, jangan lupa mengenakan jaket untuk menghangatkan badan. Dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut, suhu Tangkuban Perahu berkisar 17 derajat Celcius pada siang hari dan 2 derajat Celcius di kala malam. Jika tak jua hangat, bisa juga mencoba menyeruput teh hangat dan ketan bakar yang merupakan kuliner khas Lembang.

Jelajah Lembang

Udara yang sejuk dan alam yang permai mendorong hadirnya berbagai destinasi wisata di lereng Tangkuban Perahu, tepatnya di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bagi para pencinta aksi petualangan, terdapat aneka alternatif wisata outbound, dari yang ramah untuk anak hingga yang ekstrem.

Salah satunya, Dusun Bambu Family Leisure Park yang cocok menjadi tempat rekreasi bersama keluarga. Di sini anak-anak bisa mengenal satwa sembari memberi makan kelinci, bebek, domba, dan kura-kura. Untuk mengasah bakat seni, bisa juga mengikuti kelas mengecat keramik. Ada pula wahana panahan, air soft gun, dan All Terrain Vehicle (ATV) untuk menjelajah alam bebas.

Masih di Lembang, pengalaman yang disuguhkan Bandung Treetop Adventure Park tak kalah menantang. Tempat ini memiliki arena menjelajah hutan dari ketinggian. Rasakan sensasi melayang dengan melintasi flying-fox atau berjalan dari pohon ke pohon di atas jembatan tali.

Setiap wahana telah dirancang sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan yang bertahap sehingga bisa dinikmati segala usia. Anak usia 4 tahun dapat menjajal ketangkasannya pada ketinggian 2 meter, sementara pecandu adrenalin dapat beraksi pada ketinggian 20 meter di atas pohon. Tak perlu takut jatuh karena semua sirkuit sudah dilengkapi life-line support untuk menjamin keamanan.

Destinasi wisata unik lainnya adalah De Ranch yang menawarkan konsep tamasya di peternakan kuda. Pengunjung dapat berkuda dengan aksesori lengkap ala koboi. Ada pula wahana permainan lain seperti trampolin, the gold hunter, balon air, panahan, peti luncur, hingga flying-fox.

Usai menjelajah alam di alam bebas, tak ada salahnya menyempatkan berbelanja di Pasar Terapung Lembang. Sesuai namanya, para pedagang di sini menjajakan makanannya di atas perahu yang mengapung di kawasan danau buatan. Bahan makanan yang dijual pun menarik untuk dicoba, di antaranya sayuran, ikan, atau jajanan tradisional khas Jawa Barat seperti karedok, batagor, dan durian bakar.

Gunung Papandayan

Mendaki gunung tak melulu identik dengan kegiatan ekstrem yang menguras energi. Di Papandayan, rute sampai ke puncak didominasi medan yang landai dan dilengkapi prasarana yang cukup memadai. Ini membuatnya menjadi destinasi yang tepat bagi para pendaki pemula atau penyuka wisata alam dengan trek yang bersahabat.

Jalur yang dimaksud adalah melalui Desa Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun jika ingin lintasan yang lebih menantang dapat memilih mendaki via Pengalengan, Kabupaten Bandung. Selain itu, di sepanjang jalan pendaki juga dapat menemukan sumber air bersih dengan mudah.

Lalu jika sewaktu-waktu ingin buang hajat, tak usah repot menggali tanah. Terdapat beberapa toilet yang bisa digunakan pada jalur pendakian. Bahkan sudah tersedia warung makan yang menjual mi instan atau nasi goreng sehingga Anda tidak perlu memasak. Karena ada warung, tentu ransel pun menjadi lebih ringan karena tak perlu membawa air minum terlalu banyak.

Meski telah dilengkapi berbagai fasilitas, Gunung Papandayan tetap menyajikan lanskap yang menawan. Berada di Kabupaten Garut, gunung berapi stratovolcano setinggi 2.665 mdpl ini memiliki kawah luas yang terbentuk akibat beberapa kali erupsi. Satu lagi yang tak kalah memukau, yakni hamparan padang bunga Edelweis bernama Tegal Alun. Berada di tengah bunga keabadian akan memberikan sensasi istimewa yang tak terlupakan.

Gunung Ciremai

Dengan ketinggian mencapai 3.078 mdpl, Ciremai menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat. Kawasannya sendiri telah menjadi sebuah taman nasional dengan luas lebih dari 15 ribu hektare. Maka wajar jika rimba yang menyelimutinya merupakan habitat flora dan fauna langka, seperti elang Jawa, surili, dan macan kumbang.

Secara administratif, Taman Nasional Gunung Ciremai menempati dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Karenanya, gunung ini memiliki cukup banyak alternatif jalur pendakian, di antaranya lewat Linggasana, Palutungan, Apuy, dan Linggarjati. Bagi penyuka tantangan, cobalah mendaki dari jalur Linggarjati. 

Layaknya sebuah taman nasional, cukup banyak tujuan wisata yang bisa dikunjungi di Ciremai. Sebut saja air terjun yang tersebar di berbagai sudut, seperti Curug Sawer, Curug Sabuk, Curug Putri, dan Curug Tonjong. Dari aspek budaya, kawasan ini memiliki tempat bernilai historis tinggi dan dikeramatkan, di antaranya Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).

Di puncaknya, Gunung Ciremai mempunyai dua buah kawah. Kawah pertama beradius 400 meter yang terpotong oleh kawah kedua di timur dengan radius 600 meter. Keunikan lainnya adalah keberadaan Gowa Walet yang terbentuk akibat letusan. Titik ini merupakan salah satu tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda.

Gunung Cikuray

Bagi orang awam, namanya memang kurang populer. Namun para pendaki justru memiliki kesan tersendiri ketika menjelajahi gunung ini. Lokasinya sulit diakses dengan angkutan umum. Begitu mendaki, sulit menemukan sumber air di sepanjang jalan. Hanya medan yang curam dan jurang yang menganga. Di baliknya, kisah peradaban kuno Nusantara semakin menambah seru petualangan.

Berdasarkan naskah kuno, lereng Gunung Cikuray pernah menjadi mandala atau pusat pertapaan para pendeta dan pembelajaran beragam ilmu. Waktu itu adalah era Kerajaan Sunda Galuh yang berpusat di Pakuan Pajajaran. Tulisan ini masih tersimpan rapi di perpustakaan Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut.

Untuk mencapai puncak Cikuray, bisa memilih lewat Bayongbong, Cikajang, atau yang terfavorit, rute pemancar di Cilawu. Dinamakan jalur pemancar karena terdapat beberapa stasiun pemancar televisi di situ.

Puncaknya sendiri merupakan tanah datar yang cukup luas. Pada ketinggian 2.821 mdpl, Anda dapat menyaksikan matahari terbit di tengah lautan awan. Sementara di kejauhan, Gunung Ceremai dan Gunung Slamet tampak menjulang.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 1)

Gunung Parango shutterstock

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Pada wilayah inilah, wisatawan terus berdatangan, seolah tersihir oleh udaranya yang senantiasa sejuk, air yang melimpah ruah, dan segala rupa flora yang tumbuh subur. Mereka yang datang tak melulu para pecinta alam, tapi juga banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis di tanah yang indah ini. Artikel diturunkan dalam dua penayangan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sejak pagi hingga sore hari, pintu masuk pendakian Cibodas tak juga sepi dari lalu-lalang manusia beransel besar. Umumnya mereka mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) sebagai salah satu syarat menjelajahi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

Dari situ, langkah kaki menjejaki jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon rasamala yang menjulang hingga 20 meter. Jika beruntung, kehadiran pendaki kerap kali disambut dengan nyanyi merdu merpati hutan atau lengkingan segerombol owa Jawa. Yang terakhir ini satwa yang semakin langka.

Oksigen yang melimpah dan tenaga yang masih utuh membuat perjalanan 1,5 kilometer tak terasa jauh. Tahu-tahu, hamparan danau berwarna kebiruan tersaji di depan mata. Itulah Telaga Biru, yang warna airnya bisa berubah-ubah akibat ulah ganggang di dasar danau. Untuk melintasinya, pendaki harus berjalan di atas jembatan kayu yang mulai reyot tergerus cuaca.

Jembatan ini pula yang mengantarkan para penjelajah ke Rawa Gayang Agung yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jika sudah melewati jembatan, trek kembali didominasi bebatuan dan tanah padat. Tak berapa jauh, Anda akan sampai di Pos Panyancangan Kuda.

Di pos ini terdapat bangunan kecil tempat orang berlindung dari hujan atau sekadar beristirahat sejenak. Selain itu, jalur akan terbelah menjadi dua. Belok kanan menuju Curug Cibereum, sedangkan yang lurus menuju ke puncak Pangrango. Jika punya tenaga dan waktu lebih, tak ada salahnya mampir ke Curug Cibereum dan menikmati guyuran air dari ketinggian 40 meter, sebelum kembali ke jalur pendakian.

Puas membasuh diri di percikan air terjun, jalanan berbatu menuju pos selanjutnya akan semakin terjal dan berliku. Karenanya tak ada salahnya mengambil rehat sejenak di beberapa pos yang tersedia. Jika mulai banyak bonus turunan dan tanah landai, itu berarti Anda akan segera sampai di sumber air panas.

Namun jangan senang dulu. Zona air panas ini berupa deretan panjang lereng curam, licin, dan sempit. Di bawahnya, mengalir jurang air panas dengan suhu mencapai 70 derajat celsius. Bersabarlah mengantre ketika berpapasan dengan pendaki lain yang datang dari arah berlawanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Lepas dari situ, Anda akan sampai di Pos Kandang Batu yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Tak jarang para pendaki berlama-lama bersantai di tempat ini karena ada aliran sungai berair hangat yang memanjakan tubuh.

Setelah trek ini, terhampar area tanah datar yang cukup luas. Inilah Kandang Badak, tempat para pendaki mendirikan tenda dan mengisi persediaan air. Setelah pos terakhir ini, hanya ada tanjakan curam dan seolah tak habis-habisnya menuju puncak Pangrango. Di sinilah ketahanan fisik pendaki benar-benar diuji. Seiring dengan suhu yang terus menurun, begitu pula suplai oksigennya.

Namun jika berhasil melewati jalan menanjak sekitar tiga kilometer, segala letih dan jerih itu terbayarkan. Di Puncak Pangrango atau Puncak Mandalawangi, pada ketinggian 3.019 mdpl, Gunung Gede dan panorama alam Parahyangan terbentang megah. Sementara turun sedikit ke arah barat, di Lembah Mandalawangi, permadani bunga Edelweis menyapa dengan ronanya.

Gede dan Pangrango adalah dua puncak gunung dari satu deret pegunungan yang sama dan berdekatan. Meski tampak dekat, perjalanan dari Pangrango ke Puncak Gede tak kalah terjal. Bentuknya yang memanjang menyajikan pemandangan dua kawah, yaitu Kawah Wadon dan Kawah Ratu. Sesekali, bau menyengat belerang menusuk hidung.

Jika Pangrango punya Lembah Mandalawangi, Gunung Gede punya Alun-Alun Surya Kencana. Lagi-lagi bentangan taman Edelweis menyelimuti tanah lapang, berpadu dengan sumber air jernih yang tak henti-hentinya mengaliri permukaan bumi. 

Jalur Alternatif

Selain Cibodas, pendakian ke TNGGP juga bisa dilakukan melalui jalur Gunung Putri dan Selabintana. Jalur Gunung Putri bisa ditempuh baik dari arah Bogor-Jakarta atau Cianjur-Bandung. Anda dapat berpatokan pada Pasar Cipanas. Dari sana teruskan perjalanan menggunakan angkutan umum jurusan Pasir Kampung menuju Gunung Putri. Jika memilih via Selabintana, patokannya adalah Terminal Sukabumi. Dari sana dapat meneruskan perjalanan menuju Pondok Halimun menggunakan angkutan umum atau mencarter mobil.

Persyaratan Mendaki TNGGP

  • Calon pendaki memesan slot pendakian melalui situs booking.gedepangrango.org. Formulir berisi pilihan waktu, pintu masuk, pintu keluar, dan nama-nama anggota kelompok. Sebaiknya mendaftar jauh-jauh hari karena pada hari libur kuotanya sering kali habis dengan cepat. Operator akan melakukan proses validasi data calon pendaki maksimal tiga hari kerja.
  • Membayar tiket masuk dan asuransi senilai Rp 29.000 pada hari kerja dan Rp 34.000 pada hari libur. Khusus pelajar dan Warga Negara Asing (WNA) dikenakan tarif berbeda. Pembayaran bisa dilakukan secara transfer.
  • Pada hari pendakian, silakan mengambil Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) di pintu masuk dengan menunjukkan kopi identitas, bukti pembayaran, lembar pendaftaran, dan surat pernyataan standar pendakian. Informasi lengkap cek situs booking.gedepangrango.org.
Gunung Salak shutterstock
Jelajah gunung tanah Parahyangan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Baik Gunung Salak maupun Halimun memang tak setinggi Gunung Gede Pangrango. Ketinggian Gunung Salak adalah 2.211 mdpl, sedangkan Gunung Halimun hanya 1.929 mdpl. Meski demikian, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan kawasan hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Tak ayal, keanekaragaman hayati yang tersebar sepanjang jalan begitu beragam, dari lutung, elang, bahkan macan tutul.

Apabila tujuan Anda adalah pengalaman mendaki yang memacu adrenalin, kompleks Gunung Salak yang memiliki enam puncak berbeda menjadi pilihan tepat. Namun jika sekadar ingin bertamasya, lepas dari rutinitas ibukota, Gunung Halimun menawarkan aneka area perkemahan yang ramah keluarga.

Tujuan favorit pendaki umumnya ialah Puncak Salak 1. Salah satu pilihan rutenya melalui Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Langsung saja mendaftar dan membayar Simaksi sebesar Rp 22.000 per orang di kantor TNGHS. Dari situ, terbentang satu kilometer jalanan aspal sampai ke gerbang pendakian.

Rute menuju Pos Bajuri terus menanjak, tetapi terbilang landai. Sudah ada bebatuan yang tersusun rapi agar langkah kaki tak mudah tergelincir. Pos Bajuri sendiri menyediakan lahan cukup luas untuk mendirikan tenda. Juga sudah ada sungai kecil sebagai sumber persediaan air minum. Kalau belum ingin berkemah, silakan lanjutkan perjalanan ke Puncak Bayangan.

Kali ini jalurnya lebih curam. Akar pohon yang centang perenang berupaya menghambat langkah yang mulai lelah. Ditambah lagi banyak lumpur yang membuat jalan menjadi licin. Selepas Puncak Bayangan, rintangan alam justru semakin menjadi-jadi. Kali ini jalan setapak diapit oleh jurang di kedua sisinya. Ada jembatan tali yang harus dilewati dengan sangat hati-hati.

Menuju puncak, trek berubah menjadi tanjakan yang hampir tegak lurus. Tentunya tak bisa lagi hanya mengandalkan kaki. Tangan harus berpegangan kuat pada akar pohon dan tali yang tersedia. Namun jika semua ini terlewati, Puncak Manik Salak 1 sudah menanti dengan hamparan tanah lapang yang tersaput awan tipis.

Tak jauh dari situ, menjulang Kawah Ratu dan Puncak Salak 2 yang menanti untuk dijelajahi. Jalurnya tergolong ekstrem, yaitu harus melintasi Titian Alam, punggung gunung yang terjal dan dikelilingi jurang. Maka tak perlu buru-buru melanjutkan langkah. Nikmati saja Puncak Manik 1, dengan pendaran jingga mentari yang menyapa di kala fajar.

Jalur Alternatif

Mendaki Gunung Salak juga bisa dilakukan lewat Pasir Reungit, Cimelati, dan Giri Jaya. Pasir Reungit umumnya dipilih jika pelancong ingin menyambangi Kawah Ratu terlebih dulu. Sementara Jalur Cimelati adalah jalur pendakian yang paling pendek, meski sedikit sumber airnya. Jika memilih jalur Giri Jaya, akan melewati Wana Wisata Curug Pilung yang berada di Kecamatan Cidahu, Sukabumi.

Destinasi Wisata di Kawasan TNGHS

  • Curug Cigamea

Curug Cigamea terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sejatinya ada enam air terjun di sini, tetapi Curug Cigamea menjadi primadonanya. Bukan hanya deburan air dari ketinggian 30 meter yang jadi magnet, melainkan juga aksesnya. Menuju lokasi, terdapat tangga batu permanen yang diapit oleh pemandangan asri nan hijau.

  • Bumi Perkemahan Sukamantri

Banyak hal yang dapat dilakukan ketika berkemah di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Salah satunya menuju Air Terjun Surya Kencana yang berjarak sekitar satu kilometer melewati hutan Gunung Salak yang cukup lebat. Jika tak mau repot, tersedia deretan warung makan yang menjajakan aneka masakan sekaligus menyewakan tenda dan perlengkapannya.

  • Suaka Elang Loji

Suaka Elang Loji berada di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di tengah rimbunnya rimba TNGHS, terdapat elang Jawa, elang brontok, dan burung lainnya. Di sini dilakukan upaya penyelamatan, pengembangbiakan, dan pelepasliaran elang ke alam bebas. Pengunjung juga dapat berkemah atau mengunjungi Curug Cibadak hanya berjarak sekitar 1,3 kilometer.

Kupat Tahu Pojok Magelang, 80 Tahun Enaknya

Kupat tahu Pojok Magelang klangenan para jendral.

Kupat tahu Pojok Magelang, ini campuran potongan ketupat, tahu goreng, toge dan kol yang disiram bumbu kacang dan.kecap. Sederhana, tapi membuat banyak orang terus menggemarinya

Kupat Tahu Pojok Magelang

Warung makan Kupat Tahu Pojok Magelang mungkin tidak hanya menjadi salah satu destinasi favorit penggemar kuliner tradisional di kota Bukit Tidar ini, tetapi juga telah menjadi salah satu kepingan sejarah kota getuk tersebut. Maklum, warung sederhana ini sudah eksis sejak 1942.

Secara umum, kupat tahu merupakan sebuah kuliner tradisional yang populer pada beberapa daerah di Jawa Tengah, khususnya Magelang. Isi di dalam makanan ini beragam, mulai dari tahu, bakwan, ketupat, taoge, kol, seledri, dan terkadang juga mie kuning.

Kupat Tahu Pojok Magelang bisa menjadi alternatif wisata kuliner jika dola ke Candi Borobudur.
Candi Borobudur di dekat Magelang.

Olahan bahan makanan tersebut kemudian dipadu dengan racikan bumbu yang terbuat dari kecap, gula merah, kacang tanah, asam jawa, serta ada pula yang menggunakan petis. Bagi yang suka sensasi pedas, ada kalanya kupat tahu juga disajikan dengan cabe rawit.

Hidangan ini disebut-sebut terinspirasi oleh pengaruh masakan ala Tiongkok. Secara peranakannya, makanan ini masih tergolong satu rumpun dengan kuliner nusantara lainnya seperti tahu gimbal, ketupat sayur, ketoprak, dan sebagainya.

Yang menarik, meski kelihatannya serupa, nyatanya kupat tahu tidak sama dengan tahu kupat. Tahu kupat biasanya memiliki isian lebih sederhana ketimbang kupat tahu, tahu yang digunakan berjenis tahu kuning alih-alih tahu putih, serta menggunakan bumbu kacang yang ditumbuk.

Dalam sejarahnya, kupat tahu Pojok Magelang disinyalir sebagai warung kupat tahu tertua di Indonesia, sekaligus salah satu pelopor munculnya kuliner ini. Setu Ahmad Danuri, sang pendiri usaha, sudah memulai usahanya sejak era pra kemerdekaan.

Awalnya, ia menyambung hidup dengan menjajakan kupat tahu buatannya sambil berkeliling kota Magelang dengan gerobaknya. Perlahan mengumpulkan uang dan pelanggan, ia kemudian mampu menyewa warung semi permanen yang terletak di area alun-alun Magelang.

Tadinya, warung tersebut dikenal dengan nama warung Ngesengan, karena wujudnya yang terbuat dari seng. Lama kelamaan, karena letaknya yang di pojok alun-alun, orang-orang juga menyebutnya sebagai warung kupat tahu Pojok, dan nama itu yang melekat sampai sekarang.

Kupat Tahu Pojok Magelang awalnya didagangkan dengan berkeliling.
Warung Kupat Tahu Pojok kini dikelola generasi ke tiga pemiliknya. Foto: dok. Harian Jogja.com

Kini, warung tersebut sudah berpindah ke kawasan jalan Tentara Pelajar. Dari luar, warung yang dominan berwarna hijau tersebut cukup mencolok dan mudah ditemukan. Operasional warung sehari-hari kini dilanjutkan oleh Sri Kuntari dan beberapa generasi ke tiga usaha ini yang lainnya.

Salah satu pelanggan utama warung ini datang dari kalangan tentara, yang datangnya dari Akademi Militer, yang juga berada di kota sejuta bunga ini. Dari kadet yang masih belajar, hingga para jenderal sudah pernah menyambangi warung kupat tahu legendaris ini.

Salah satunya adalah mendiang presiden ke dua Republik Indonesia, Soeharto. Ia bahkan dikabarkan pernah beberapa kali memesan kupat tahu buatan warung ini sebagai salah satu menu jamuan makan dalam beberapa perayaan hari kemerdekaan di Istana Negara.

Presiden ke enam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, juga termasuk salah satu pelanggan setia warung ini. Dan tak hanya kalangan militer saja, berbagai figur publik lain dari ranah politik hingga dunia hiburan sudah pernah mampir ke sini.

Kalau mampir ke warung ini sekarang, akan banyak didapati foto-foto beragam figur publik tersebut di sekeliling dinding warung. Seakan menjadi bukti sahih akan eksistensi kupat tahu Pojok Magelang selama lebih dari 80 tahun, yang sudah begitu melegenda hingga kini.

Salah satu kunci kesuksesan kupat tahu Pojok Magelang mempertahankan popularitasnya adalah konsistensi dalam menu yang disajikan. Sejak dulu, mereka tidak pernah menambah atau memodifikasi menu mereka secara signifikan.

Kupat Tahu Pojok Magelang Dok. cookpad
Racikan potongan ketupat, tahu goreng, toge dan kol, bakwan goreng yang disiram kecap kacang. Foto: dok. CookPad

Ditambah lagi, mereka juga konsisten dalam penggunaan bahan baku makanan, demi menjaga cita rasanya. Bahan baku seperti tahu, taoge, dan kol selalu didatangkan dari pemasok yang sama, sementara bumbunya dibuat sendiri dengan resep keluarga turun temurun.

Bahkan, Sri Kuntari mengaku masih sering meracik bumbunya sendiri, demi mendapatkan rasa yang pas. Cara memasak tahunya pun juga masih menggunakan anglo, serta baru dimasak setelah dipesan, agar mendapatkan karakter rasa yang otentik.

Cita rasa kupat tahu di sini cenderung manis dan gurih, meskipun bagi yang penyuka pedas dapat meminta tambahan sambal sesuai selera. Tahunya juga terasa lembut karena dimasak setengah matang.

Sebagai teman makan, tersedia tambahan seperti sate udang, rempeyek kacang, emping, serta berbagai jenis gorengan dan kerupuk. Beberapa minuman tradisional juga tersedia di sini, mulai dari wedang ronde, es dawet sampai es campur.

Dengan harga seporsi kupat tahu seharga Rp 12,5 ribu, harganya bisa dibilang bersahabat dengan kantong, terlebih untuk ukuran porsi yang cukup besar dan mengenyangkan. Begitu pula harga minumannya yang berkisar dari Rp 7 ribu hingga 11 ribu.

Buka dari jam 09.00 hingga 20.00, umumnya warung ini ramai pada jam makan siang dan malam. Tapi yang cukup menarik, banyak pula yang datang pada sekitar jam 16.00-17.00, karena kupat tahu dianggap sebagai makanan yang juga nikmat disantap kala sore hari.

Kupat Tahu Pojok Magelang

Jalan Tentara Pelajar no. 14, Magelang

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Bertamu ke Orang Utan di Tanjung Puting

Kapal kapal klotok sandar

Bertamu ke orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mungkin banyak yang berpikir: apa asyiknya? “Di Jakarta juga ada,” begitu sebagian orang berkata. Tapi, percayalah, bagi mereka yang senang berpetualang, bertamu ke rumah asli orang utan mempunyai sensasi tersendiri.

Bertamu ke Orang Utan

Di Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu habitat asli orang utan di dunia. Berdasar data 2018 dari Orangutan Foundation International, sembilan dari ratusan jenis fauna itu merupakan spesies primata yang dikenal dengan nama orang utan Kalimantan. Tiga di antaranya merupakan primata endemik Kalimantan.

Spesies orang utan Kalimantan termasuk langka di dunia. Tak heran kalau orang dari banyak negara datang. Mereka ingin bertemu dengan hewan yang mampu bertahan hidup hingga umur 60 tahun ini. 

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Tanjung Putting 2017, kunjungan ke kawasan ini terbanyak justru dari wisatawan asing. Berdasar data tersebut, tercatat sebanyak 24.693 pengunjung. Dari jumlah tersebut, 14.933 orang adalah wisatawan mancanegara, dan 9.760 wisatawan nusantara.

Dari kalangan wisatawan asing, kebanyakan berasal dari Eropa dan Australia. Sejumlah tokoh dan pesohor tercatat pernah mengunjungi Taman Nasional ini dan bertamu ke orang utan. Misalnya saja founder Microsoft Bill Gates. Atau aktris film Julia Robert.

Ada kira-kira lima titik atau camp (perkampungan) orang utan yang bisa dikunjungi wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting. Camp yang paling ramai adalah Leakey yang berlokasi di lumbung taman nasional. 

Orang Utan
Orang utan di Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dok. Rosana

Camp Leakey termasuk habitat orang utan. Di sana, wisatawan dapat menyaksikan orang utan melakukan aktivitas harian, seperti makan, bermain dengan sesamanya, dan meloncat di pepohonan rindang. Mereka juga akan minum susu yang telah disediakan petugas taman nasional.

Pada musim kemarau, pengunjung dapat menyaksikan orang utan di camp dengan jumlah yang lebih banyak daripada saat musim hujan. Sebab, saat kemarau, buah-buahan di tengah hutan tak banyak tumbuh sehingga orang utan lebih suka menyambangi camp untuk menyantap buah yang disediakan petugas.

Jika ingin bertamu ke orang utan, ada waktu-waktu khusus untuk berkunjung ke camp. Misalnya, pada pukul 14.00 hingga 16.00, yakni saat orang utan makan siang. Petugas akan memanggilnya dengan teriakan sampai para orang utan muncul di camp.

Tentu saja pengunjung bisa melakukan tracking ke dalam hutan untuk melihat aktifitas orang utan langsung. Tapi sebaiknya datang ke Taman Nasional ini ketika musim hujan, atau sesudah musim hujan. DI mana buah-buahan banyak di hutan. Jika datang di musim kemarau, itu tadi, cukup bertamu di camp.

Sulitkan mengunjungi Taman Nasional Tanjung Putting? Jika menggemari liburan setengah bertualang, rasanya asyik-asyik saja.

Menuju Tanjung Putting, pertama-tama pengunjung harus menuju ke kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dari pulau Jawa, ada tiga kota yang memiliki penerbangan langsung ke Pangkalan Bun: Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini. Dari Kalimantan, ada beberapa kota yang punya penerbangan ke Pangkalan Bun, seperti Balikpapan dan Banjarmasin.

Dari Pangkalan Bun, untuk menyambangi camp, wisatawan harus menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kapal klotok dari Dermaga Kumai, Pangkalan Bun. Sungai Sekonyer membentang sepanjang 45 kilometer. Di titik dekat camp, kapal klotok akan menepi dan Anda beralih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke hutan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Makan Siang di kapal Klotok
Menu makan siang di atas kapal Klotok saat menyusuri Sungai Sekonyer. Dok. Rosana

Idealnya, wisatawan menginap di kapal klotok selama 3 hari 2 malam. Ini kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan lega. Biasanya terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk beristirahat, ada dipan untuk meluruskan badan. Dan ada dek untuk bersantai, makan di alam terbuka selama perjalanan menuju camp. Wisatawan akan merasakan sensasi bermalam di tengah hutan dan menyatu bersama ratusan jenis fauna. Biaya untuk live on board, perjalanan dan tinggal di kapal, di Sungai Sekonyer berkisar Rp 2 jutaan per orang.

Taman Nasional Tanjung Puting kini semakin menjadi destinasi alternatif yang cukup digemari orang. Para penikmat jalan-jalan mulai menyambangi kawasan penangkaran orang utan di Kalimantan Tengah itu. 

Tujuan mereka adalah merasakan sensasi bermalam di kapal klotok sembari menyusuri Sungai Sekonyer dengan hutan lebat di kedua sisi sungai. Jika malam tiba, pengunjung bisa menikmati suasana hutan, kadang diayun ombak kecil. Dan, tentu saja, menyaksikan orang utan langsung di habitat aslinya.

Namanya wilayah konservasi, tentu ada sejumlah aturan yang harus diikuti jika  pengunjung datang ke camp-camp di Taman Nasional Tanjung Puting. Peraturan pertama, para wisatawan dilarang memberi makan dan minum kepada orang utan. Aturan ini jelas tertera di sejumlah tempat di Camp Leakey.

Makanan dan minuman hanya boleh disediakan oleh pihak taman nasional. Selain faktor kesehatan para primata, aturan itu dibuat agar orang-orang utan tersebut tetap hidup dengan kondisi alami mereka.

Tak cuma tak boleh memberi makanan dan minuman, bahkan pada peraturan kedua, wisatawan tak diperkenankan minum atau makan di depan orang utan. Hal itu bermaksud supaya orang utan tidak terdistraksi dengan aktivitas pengunjung.

Peraturan ketiga, pengunjung tidak boleh bersuara lantang atau berisik saat berada di Camp Leakey. Ini agar orang utan tidak merasakan perubahan suasana hutan mereka.

Peraturan keempat, nah ini sangat penting, selama menyusuri hutan pengunjung tak boleh menceburkan diri di sungai atau rawa-rawa. Ini untuk keamanan, kenyamanan dan keselamatan para pengunjung itu sendiri. Sebab, di sana buaya hidup bebas. Untuk alasan keamanan, para wisatawan diminta berjalan sesuai dengan jalur yang sudah dibuat oleh petugas.

Rasanya Taman Nasional Tanjung Putting layak masuk agenda liburan Anda selanjutnya, dan bertamu ke orang utan.

F. Rosana

Nasi Lengko Haji Barno, Langka Sejak 1968

Nasi Lengko Haji Barno Cirebon menjadi pilihan bagi para vegetarian.

Nasi Lengko Haji Barno bisa dikatakan merupakan salah satu kuliner tradisional kebanggaan warga Cirebon. Meski mungkin popularitasnya tak seperti kuliner Cirebon lain, nyatanya ada saja penggemarnya dan semakin hari semakin banyak yang penasaran untuk mencoba.

Nasi Lengko Haji Barno

Cirebon biasanya dikenal dengan beberapa kuliner tradisional khas yang populer seperti empal gentong dan nasi jamblang. Bagi pecinta kuliner yang sudah pernah mencoba makanan tersebut, maka alternatif menarik lainnya adalah mencoba nasi lengko.

Secara umum, nasi atau sega lengko adalah makanan berupa nasi yang dilengkapi dengan lauk seperti tahu dan tempe goreng, serta sayuran seperti taoge, timun dan daun kucai. Dinamakan ‘lengko’ atau langka, karena ketiadaan bahan baku hewani dalam olahannya.

Dalam penyajiannya, nasi lengko dengan lauk dan sayuran tersebut kemudian diguyur dengan bumbu kacang, kecap manis dan bawang goreng. Hasilnya, sensasi rasa gurih dan manis berpadu dengan nikmat di lidah.

Nasi lengko haji Barno merupakan salah satu 'landmark' kota Cirebon.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)

Kuliner ini diperkirakan sudah ada sejak masa kesultanan bertahun-tahun yang lalu. Konon, makanan yang cenderung sederhana ini sesuai bagi keadaan saat itu, di mana perekonomian rakyat yang sempat sulit dan bahan makanan seperti daging kurang begitu terjangkau.

Selain itu, karakter nasi lengko yang merupakan olahan dari bermacam jenis bahan baku makanan disebut-sebut sebagai representasi warga pesisir kala itu. Masyarakat pesisir di kota seperti Cirebon terdiri dari berbagai macam suku seperti Sunda, Tionghoa, Arab dan lainnya.

Ada pula yang menyebut bahwa sembilan elemen utama dari makanan ini, yakni nasi, tahu, tempe, taoge, timun, daun kucai, bumbu kacang, kecap dan bawang goreng merupakan representasi dari sembilan wali, alias Wali Songo.

Nasi lengko lantas dikenal sebagai kuliner tradisional yang populer di area pesisir pantai utara antara perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Tegal, Indramayu, Brebes, Majalengka dan tentunya Cirebon. Di masing-masing kota pun terkadang memiliki ciri khasnya sendiri.

Di Indramayu, misalnya, nasi lengko di sana umumnya tidak menggunakan daun kucai. Atau di wilayah Brebes dan Tegal, di mana nasi lengko disajikan dengan pelengkap seperti kerupuk mie, sementara di daerah lain biasanya disantap dengan kerupuk biasa.

Selain karena rasanya yang enak, kuliner tradisional ini disenangi warga setempat karena bahan bakunya yang plant based dan sederhana namun sarat akan gizi. Dan karena kesederhanaannya itu pula, membuatnya tergolong mudah dan harga jualnya termasuk terjangkau.

Ditambah lagi, ia terbilang cocok untuk disantap kapan saja. Ada yang senang makan nasi lengko untuk sarapan, ada juga yang gemar menyantapnya untuk makan siang atau malam. Maka tak heran jika cukup mudah untuk mendapatkan warung penjual nasi lengko di Cirebon.

Nasi Lengko Cirebon shutterstock
Makanan yang terdiri dari sembilan bahan. Foto: dok. shutterstock

Salah satu yang paling kondang dan legendaris adalah nasi lengko haji Barno, yang kabarnya sudah mulai berjualan sejak 1968 silam. Bisa dikatakan, warung ini turut berandil besar dalam mempopulerkan dan melestarikan kuliner ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nasi lengko haji Barno begitu laris dan meraih banyak pelanggan. Salah satunya adalah metode memasak dengan menggunakan kayu bakar dan anglo yang masih dipertahankan hingga kini. Ini untuk menjaga cita rasa yang asli.

Bahan baku yang digunakan pun juga selalu diusahakan tetap sama. Misalnya, kecap yang digunakan selalu menggunakan merek kecap Matahari yang umum digunakan oleh warga lokal, dengan karakter rasa manis namun cenderung lebih cair.

Tahu dan tempe yang dipakai juga dibuat dan dipesan secara khusus dari desa Wanasaba, yang berada di wilayah kabupaten Cirebon. Desa ini khusus memproduksi tahu dan tempe yang secara spesifik akan digunakan untuk membuat nasi lengko.

Kemudian, untuk meraih konsumen penyuka makanan berdaging, mereka juga lantas menawarkan menu sate kambing sebagai teman makan nasi lengko haji Barno. Bahan daging yang digunakan pun dikhususkan kepada daging kambing muda yang lebih empuk dan tidak bau.

Langkah ini terbukti ampuh, karena menu ini juga turut jadi salah satu primadona warung ini. Kini, sehari-harinya mereka membutuhkan sekurangnya sekitar 30 sampai 40 kilogram daging kambing muda untuk memenuhi permintaan konsumen.

Tak hanya itu, mereka juga memiliki menu khas lainnya yaitu es durian. Menu pencuci mulut ini mirip seperti es puter, namun sebenarnya merupakan olahan dari potongan buah durian yang dingin nan lembut, yang dipadukan dengan rasa manis sirup rasa pisang susu.

Last but not least, adalah harganya yang terhitung cukup ramah dengan kantong beragam kalangan. Harga satu porsi nasi lengko haji Barno komplit dihargai Rp 12 ribu, sedangkan untuk sate kambing muda harganya Rp 4 ribu per tusuk, dan semangkuk es durian dibandrol Rp 10 ribu.

Dulunya, warung nasi lengko haji Barno yang buka setiap hari dari jam 06.00 hingga jam 22.00 ini terlihat sederhana dan hanya mampu memuat sekitar 40 orang. Seiring berjalan waktu, untuk memenuhi banyaknya pengunjung dilakukan renovasi agar kini bisa menampung 100 hingga 120 orang.

Maka warung ini biasanya sudah ramai oleh pengunjung sejak pagi hari oleh mereka yang ingin menyantap sarapan. Meski sudah diperluas agar mampu menerima lebih banyak pengunjung, tak ada salahnya jika datang lebih awal, baik saat jam sarapan, makan siang atau malam.

Nasi Lengko Haji Barno

Jalan Pagongan Nomor 15B, Cirebon

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Tahi Gejrot Wardi

3 menu sarapan di Pasar Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, ini terlihat biasa. Mungkin karena sebagian dari kita sudah biasa menikmatinya di kota asal. Mungkin di Jakarta. Atau kota lainnya. Tapi, selalu saja ada nuansa lain ketika menikmatinya di tempat makanan itu berasal. Originalitas, mungkin.

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Di kota Udang ini, banyak makanan khas yang selalu saja ngangeni jika lama tak disantap. Tapi kali ini kita tak bicara makanan besar, seperti layaknya empal gentong atau empal asem yang lebih asyik dimakan siang hari. Kuah yang panas dan sambal… hhff…

Kali ini kita menyambangi Cirebon untuk menikmati sarapan. Denyut kehidupan warga Cirebon, seperti juga di kota-kota lain di Indonesia bisa jadi bermula dari pasar-pasar tradisional. Makanan-makanan ndeso yang maknyus di banyak kota dan jadi klangenan umumnya memang ditemui di pasar tradisional. Di Cirebon, kita bisa menemukannya di pasar Kanoman. Dinamai demikian mungkin karena letaknya yang di depan Keraton Kanoman ini.

Dari sejarahnya, pada zaman Belanda sekitar abad 19, pasar ini dibangun oleh pemerintahan kolonial untuk menggembosi kekuasaan dan wibawa sultan. Para pedagang dari segala penjuru digiring ke pasar tersebut supaya keadaan makin ramai dan eksistensi keraton makin tenggelam. Dari latar cerita yang demikian, tak heran bila kini, di pasar itu terdapat beragam jejak peninggalan sejarah, termasuk kuliner, yang masih bertahan. Berikut 3 kuliner yang layak dicicipi jika mampir ke Pasar Kanoman.

Tahu Gejrot Wardi

Wardi menggelar tampah pikulnya di sudut Pasar Kanoman, tepat di pojok perempatan jalan menghadap ke arah Mall Cirebon. Tampah pikul itu berisi penuh tahu pong dan botol-botol air gula Jawa—disebut juga juruh. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 3.000 biji tahu dan puluhan botol juruh di sana. “Ini pasti habis dalam sehari,” kata pria 40-an itu, yang sedang sibuk membuat ulekan bawang merah dan cabai hijau—bumbu utama tahu gejrot. Bumbu itu ditaruhnya di piring tanah atau layah berkuran segenggaman tangan orang dewasa. Sepuluh biji tahu dimasukkan ke dalamnya, diiris-iris, lantas disirami juruh hingga tampak mengambang memenuhi piring.

Yang namanya tahu gejrot, kata Wardi, sudah mendarah daging buat orang Cirebon. Apalagi buat anak-anak muda. Penganan ini biasanya menjadi teman nongkrong sambil menyeruput teh. “Kalau Manado punya pisang goreng, kami punya tahu gejrot,” katanya.

Dua belas tahun sudah pria itu membuka lapak kecilnya di Pasar Kanoman. Setiap jam tampah pikulnya ramai dikerubuti pengunjung yang kelar belanja. Memang, tahu gejrot Wardi punya rasa yang khas. Apalagi, tak seperti penjaja tahu gejrot lain, Wardi tak memakai bawang putih untuk memberi rasa gurih pada racikannya. Cukup bawang merah dan cabai rawit hijau. “Kuncinya perbanyak bawang merah supaya rasa gurihnya lebih keluar,” tuturnya. Wardi menyediakan kemasan tahu gejrot bungkus buat pengunjung yang kepingin membawanya sebagai oleh-oleh.

Tahu Gejrot Wardi

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga Rp 10 ribu per porsi

Docang, Lontong dan Oncom Bertemu

francisca christy rosana docang 2
Kuliner Cirebon, Docang. Dok. Rosana

Pagi-pagi benar, orang-orang Cirebon gemar menyantap penganan ini untuk menu sarapan, selain nasi Jamblang. Penampakannya sangat sederhana. Dalam sepiring docang, hanya terdapat lontong, bodo atau baceman oncom, irisan daun singkong, tauge, dan kerupuk. Lantas, semua komplemen itu disiram dengan kuah rebusan oncom yang diproses dalam waktu 4-5 jam.

Dilihat sekilas, docang memang mirip dengan lontong sayur. Hanya, kuahnya lebih bening lantaran tidak menggunakan santan. Rasanya juga tak macam-macam karena tak kaya bumbu. Orang Jawa bilang, masakan ini cenderung tercecap anyep. Juga, ada rasa getir yang tersisa di lidah setelah sesuap docang masuk ke perut.

Kendati punya rasa dan penampakan yang sangat sederhana, docang memiliki jejak histori yang tak main-main. Makanan ini oleh warga setempat dipercaya sebagai penganan para wali zaman dulu. Racikan sederhana ini disesuaikan dengan kehidupan para penyebar agama yang penuh keprihatinan.

Docang mulai sulit ditemukan di Cirebon. Orang-orang setempat bilang, tak banyak yang bisa atau mau memasaknya. Di Pasar Kanoman, makanan ini hanya dapat ditemukan di depan deretan warung oleh-oleh di sebrang gapura utama.

Docang Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 12 ribu

Buka mulai pukul 06.00-10.00

Apem yang Tak Manis

Lain Jawa Tengah, lain lagi Jawa Barat. Lain bahasanya, lain pula karakter penganan daerahnya. Apem, misalnya. Jawa Tengah punya jajanan ini. Jawa Barat pun demikian. Sama bentuk dan penampakan luarnya. Bahan dasarnya juga tak jauh beda. Namun keduanya memiliki rasa yang berlainan. Di Jawa Barat, apem, yang umum dijual para penjaja penganan tradisional, punya rasa yang gurih dan cenderung asin. Berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki rasa manis.

Namun, kala bertandang ke Pasar Kanoman, perpaduan lidah Sunda dan Jawa justru tercitra dari makanan yang punya wujud bulat tersebut. Lantaran berada di wilayah pertemuan dua masyarakat dari kelompok yang berbeda ini, apem, sebagai makanan tradisional, pun terdampak akulturasi. Apem di Cirebon memiliki padanan rasa yang gurih bercampur manis. Manisnya berasal jadi air gula Jawa yang disiramkan di atasnya. Kala menyantap apem Cirebon, yang terbayang adalah pertemuan lidah Sunda dan Jawa dalam sebuah produk budaya.

Jajanan Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 6.000

F. Rosana

Museum Geologi Bandung, Unik Sejak 1929

Museum Geologi Bandung menjadi salah satu ikon wisata di ibukota Jawa Barat.

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu objek wisata ibu kota Jawa Barat bagi mereka yang ingin belajar lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kebumian di Indonesia. Di museum ini terdapat beragam koleksi material geologi di Indonesia, seperti fosil, batuan dan sebagainya.

Museum Geologi Bandung

Berlokasi di jalan Diponegoro, museum ini berdekatan dengan dua landmark ikonik kota kembang lainnya, yakni Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Museum ini didirikan pada 16 Mei 1929, bertepatan dengan 4th Pacific Science Congress yang diadakan di Bandung kala itu.

Pembangunan dimulai sejak setahun sebelumnya, dengan gaya art deco yang diarsiteki H. M. van Schouwenburg. Awalnya, gedung ini dalam masa pendudukan Belanda diperuntukkan sebagai pusat penelitian geologi dan sumber daya mineral di Indonesia.

Museum Geologi Bandung awalnya merupakan Geologisch Laboratorium untuk penelitian geologi, mineral dan pertambangan.
Bagian depan Museum Geologi. Foto: Dok Wikimedia

Gedung ini lantas dinamakan Geologisch Laboratorium, dimana lembaga penelitian geologi, mineral dan pertambangan Belanda Dienst van den Mijnbouw bekerja. Tugasnya meliputi laporan serta pengumpulan contoh-contoh temuan seperti batuan, mineral dan fosil.

Setelahnya, dilakukan pemetaan, analisa dan penyimpanan temuan-temuan itu di gedung tersebut. Tujuannya untuk mengetahui lokasi-lokasi di tanah air yang sarat akan bahan tambang, serta dokumentasi akan kegiatan pertambangan tersebut.

Tampuk pengelolaan gedung ini pun turut berpindah-pindah dari masa ke masa. Saat Jepang mengambil alih, gedung ini sempat berganti nama dua kali menjadi Kogyo Zimusho dan Chishitsu Chosacho.

Pasca kemerdekaan, gedung ini kemudian dikelola oleh Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Pada perkembangannya, mereka sempat harus memindahkan pekerjaan beserta dokumen terkait di berbagai kota lain, lantaran upaya Belanda merebut kekuasaan kembali.

Setelah Indonesia mendapatkan kedaulatannya lagi, gedung tersebut kembali dioperasikan seperti semula. Kini fungsinya tak hanya sebagai pusat penelitian dan dokumentasi, namun juga sebagai sarana eksibisi dan edukasi kepada masyarakat umum tentang ragam ilmu kebumian.

Selain batuan mineral, Museum Geologi Bandung juga menampilkan sejumlah fosil yang ada di Indonesia.

Untuk meremajakan bangunan tersebut, pada 1999 dilakukan renovasi yang turut disponsori pemerintah Jepang lewat lembaganya Japanese International Cooperation Agency (JICA), yang mengurusi bantuan pembangunan pada negara-negara berkembang.

Setelah pengerjaan renovasi selesai, pada 23 Agustus 2000 Museum Geologi Bandung kembali dibuka untuk umum oleh wakil presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Museum kemudian dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga saat ini.

Secara mendasar, Museum Geologi Bandung adalah bangunan dua lantai yang masing-masing terdiri atas tiga ruangan utama. Ada tiga kategori utama yang dipertunjukkan di museum ini, yaitu sejarah geologi Indonesia, kemudian perkembangannya, serta fungsinya bagi kehidupan masyarakat.

Jika dirinci, museum ini menjadi rumah bagi 250 ribu jenis temuan batuan dan mineral, serta 60 ribu jenis temuan fosil. Selain memamerkan beragam koleksi tersebut, terdapat juga peragaan-peragaan yang dikemas dalam bentuk maket.

Masuk ke Museum Geologi Bandung, pengunjung akan menemukan pusat informasi terkait museum, serta relief peta Indonesia beserta detail geografisnya dan informasi terkait geologi yang dipertunjukkan dalam layar lebar dengan animasi.

Dari sini, pengunjung bisa memasuki area sayap barat atau sayap timur. Pada area sayap barat, dapat ditemukan koleksi batuan dan mineral, ditambah maket yang memperagakan lempeng tektonik di sekitar Indonesia, serta gunung berapi aktif dan contoh material vulkaniknya.

Sedangkan sayap timur memamerkan beragam koleksi temuan fosil dan artefak makhluk hidup di masa lalu. Contohnya kura-kura raksasa, gajah, badak dan ikan air tawar purba, serta tengkorak manusia purba yang ditemukan di lokasi seperti Trinil, Ngandong dan Sangiran.

Museum Geologi Bandung AntaraNews
Sejumlah koleksi fosil dan kerangka di Museum Geologi. Foto: Dok. Antaranews

Serta koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah kerangka serta cetakan kaki dari Tyrannosaurus Rex, salah satu dinosaurus karnivor paling terkenal. Selain itu, terdapat pula maket penjelasan mengenai proses pembentukan fosil dan minyak bumi.

Naik ke lantai dua, pengunjung akan disambut oleh maket pertambangan emas di area Pegunungan Tengah di Papua. Pertambangan emas ini disebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan konon bahkan salah satu yang terbesar di dunia.

Di sebelah maket tersebut, dapat ditemukan pula beberapa contoh batuan yang ditemukan di area pertambangan tersebut, yang disimpan di dalam lemari kaca. Tak jauh dari situ, terdapat pula miniatur peragaan alat pengeboran minyak dan gas alam.

Khusus di lantai dua, area sayap barat dikhususkan kepada staf museum saja. Namun, di area sayap timur, terdapat setidaknya 7 section yang memberi penjelasan tentang bagaimana aspek-aspek geologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Misalnya, di salah satu section dijelaskan tentang sebaran sumber daya mineral di Indonesia dan apa saja manfaat serta kegunaannya. Section lainnya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di tanah air.

Kemudian terdapat area yang menceritakan upaya pembudidayaan sumber daya mineral, baik secara tradisional maupun modern. Diperlihatkan pula barang-barang dari bahan mineral yang lazim dipakai sehari-hari, seperti sendok, garpu, panci, piring, cangkir, tabung gas dan lainnya.

Ada pula area yang memaparkan hal-hal terkait sumber daya air. Mulai dari apa saja kegunaan dan pemanfaatannya, serta apa saja yang bisa mempengaruhi kelestariannya dan cara-cara yang dapat dilakukan agar mampu membantu melestarikannya.

Area lain menjelaskan pengolahan atas beragam jenis komoditas mineral dan energi lainnya, serta beragam kegunaan dan manfaatnya. Tak lupa, dipaparkan pula bagaimana pentingnya mengelola sumber daya tersebut serta upaya-upayanya.

Serta dua section lainnya yang tak kalah penting adalah mengenai aspek geologi yang terkait dengan gunung berapi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Satu area menceritakan apa saja sisi positif yang dimiliki Indonesia dengan banyaknya gunung berapi aktif tersebut. Di sisi lain, area lainnya juga menjelaskan apa saja bahayanya dari segi potensi bencana alam dan cara-cara untuk mengantisipasinya.

Saat ini, Museum Geologi Bandung buka hampir setiap hari kecuali pada hari Senin, Jumat dan setiap hari libur nasional. Khusus untuk hari Senin, pengelola museum menawarkan layanan virtual tour yang diadakan lewat siaran langsung di Youtube, atau lewat live conference via Zoom.

Lain daripada itu, museum buka pada hari lainnya mulai dari jam 09.00 hingga jam 15.00 pada hari biasa, dan jam 14.00 pada akhir pekan. Untuk tiket masuk, dikenakan biaya Rp 3 ribu untuk umum, Rp 2 ribu untuk pelajar dan Rp 10 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pengadaan virtual tour dan hal-hal lain terkait Museum Geologi, dapat menghubungi (022) 7213822, atau lewat akun resmi Instagram @geomuzee.

Museum Geologi Bandung

Jl. Diponegoro no. 57, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P./Berbagai Sumber

*****

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi, mungkin ini jarang dibayangkan orang tentang ibukota Sulawesi Utara itu. Kulinari Manado, tentu saja, dipersepsi banyak orang dari luar wilayah ini adalah masakan-masakan eksotis. Kita mungkin akan membayangkan Pasar Beriman Tomohon. Tapi, kopi?

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Dalam beberapa tahu terakhir ini, sesungguhnya kota Manado mulai dibanjiri warung-warung kopi. Ini terjadi seiring dengan hadirnya tempat-tempat nongkrong anak muda di sana. Misalnya saja, di kawasan perekonomian Gunung Mas. Atau tempat yang sering disebut boulevard.

Ada yang warung kopi biasa, tapi tak kurang kafe-kafe kopi modern. Ini memunculkan kebiasaan atau coffee culture baru di sini. Bersosialisasi seraya mencecap secangkir kopi.

Gaya ini segera saja meluas ke belbagai kota di sekitar Manado, termasuk Tomohon. Di tanah yang dingin itu, kopi menjadi sahabat pergaulan.

Jika sempat mampir ke Manado, ada beberapa pilihan kedai kopi yang layak dikunjungi sambil menikmati kota Tinutuan ini.

Secangkir Kopi Para Egalitarian

Ada sebuah gang kecil bernama Jalan Roda bila pelancong menjejakkan langkah 500 meter dari Zero Point Manado. Namun, kalau tak teliti betul, Warung Jarod—begitulah warga sekitar biasa menyebut— yang terletak di area Pecinan, tidak bakal tampak. Sebab, muka gang dipenuhi oleh parkir kendaraan roda dua. Gang itu juga bukan jalan lalu lintas umum. Keberadaannya sudah disulap menjadi tempat nongkrong.

Tepat di badan gang, kursi-kursi plastik dan meja kayu ditata memanjang. Dari pangkal sampai ujung, kedai-kedai sederhana berdiri. Seluruhnya menjajakan kopi, juga pisang goreng sambal roa khas Negeri Celebes. Aroma khas biji kopi Kotamobagu yang sudah dihaluskan merebak memenuhi gang, mulai pukul 7 pagi hingga tengah malam.

Pengunjung yang datang tak terbatas pada kalangan tertentu. Pejabat, pegawai negeri sipil, anak muda, ibu rumah tangga, buruh kasar, dan pengangguran, semua terlibat dalam obrolan satu meja. Sembari meneguk kopi seharga Rp 6.000 yang nikmat, juga pisang goreng Rp 10 ribu per 20 biji, mereka riuh membicarakan isu-isu terhangat. Soal politik, ekonomi, budaya, hingga gosip para pemeran opera sabun. Warkop Jarod, nama bekennya, mencitrakan sebuah tempat ngopi yang egaliter: tak membedakan kelas, meleburkan semua status sosial.

Warkop Jarod

Alamat: Jalan Roda, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Kopi, Musik, dan Senandung Para Dara

Lain Warkop Jarod, lain pula Rumah Kopi Billy. Kafe sederhana yang sudah 5 tahun berdiri, dan berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Manado, itu jadi tempatnya anak muda mengobrol santai sembari berbagi canda. Tak tampak wajah-wajah separuh baya menduduki kursi. Pun begitu dengan ibu-ibu rumah tangga. Semuanya berwajah 20-30-an. Sambil mengobrol, suara-suara merdu pengamen, yang umumnya mahasiswa mencari dana untuk kegiatan, memenuhi ruangan. Gerombolan silih berganti. Mayoritas yang bersenandung adalah dara-dara manis, sementara para pria bertugas menabuh cajon atau memetik gitar.

Suasana makin cair ditemani secangkir kopi. Sama dengan Warkop Jarod, kopi di sini menggunakan kopi asli Kopikotamobagu. Kopi robusta itu rasa dan aroma khas. Nikmat disantap bersama susu kental manis. Perpaduan gurih, manis, dan pahit bercampur, layaknya obrolan yang terceletuk dari muda-mudi yang mengobrol seru di tempat itu.

Umumnya, kopi seharga Rp 9.000 ini enak disantap bersama pisang goroho goreng seharga Rp 20 ribu atau mi cakalang seharga Rp 18 ribu. Kenikmatannya mencapai puncak kala kopi disajikan bersama klapertart khas Manado yang bisa dibeli di tempat terpisah, misalnya di Klapertart Chstine, yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso.

Bila Rumah Kopi Billy di Jalan Sam Ratulangi penuh, pengunjung bisa beranjak ke cabangnya yang terletak di Jalan 17 Agustus.

Rumah Kopi Billy

Jl. Sam Ratulangi No.134, Titiwungan Utara, Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara

Minum Kopi Berlatar Danau Linow

Minum kopi saja sudah nikmat, apalagi sambil memandang lanskap yang menawan. Di kompleks wisata Danau Linouw, terdapat restoran yang menyajikan hidangan utama kopi Kotamobagu dan pisang goroho tepung goreng. Ada juga pisang spatu yang jadi pemanis. Kedai cukup mewah itu tak bernama. Namun orang sering menyebutnya Kafe atau Restoran Linow.

Pemilik, yang juga seorang aktivis keagamaan, mengelola restoran sekaligus danau. Jadi, pengunjung cukup membayar Rp 25 ribu untuk secangkir kopi Kotamobagu sekaligus sebagai dana retribusi masuk danau. Sementara, pisang goreng dijual Rp 25 ribu per piring.

Di muka danau, kopi yang memang sudah memiliki citra rasa legit, terasa tambah nikmat. Menyeruput secangkir, sembari memandang keindahan bentang alam, serta bukit yang mengelilingi, menjadi cara untuk menyempurnakan liburan di Tomohon.   

Restoran Danau Linow

Alamat: Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

F. Rosana

Tengkleng Solo, Dicecap Mulai Abad 19

Tengkleng Solo berawal dari tulang kambing yang tak disukai orang Belanda.

Tengkleng Solo adalah makanan khas kota ini, tampilannya mirip gulai kambing. Tentu ada bedanya, bahan dasar tengkleng adalah tulang belulang dan jeroan. Kuahnya juga lebih encer dibandingkan gulai daging kambing.

Tengkleng Solo


Tulang belulang kambing yang diolah menjadi masakan dan disukai orang memang unik. Ini ada latar belakangnya. Tengkleng Solo mulai dikenal ketika Indonesia masih dalam zaman kolonialisme Belanda di abad 19.

Dari catatan Wikipedia, sajian tengkleng muncul karena dulu para bangsawan dan orang-orang Belanda saja yang bisa menikmati gulai daging kambing. Sedangkan para pekerja dan tukang masak hanya kebagian kepala, kaki, tulang, dan jerohan saja.

Sementara versi lain menyebut, tengkleng lahir di era pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu terjadi kesulitan mencari bahan pangan. Untuk bertahan hidup, masyarakat terpaksa mengolah limbah bahan pangan seperti tulang belulang dan jeroan kambing.

Tengkleng Solo lahir menjadi kulinari karena kreatifitas orang Solo terhadap bahan pangan.
Semangkok tengkleng Solo bisa menjadi teman yang hangat. Foto: shutterstock

Namun kreatifitas orang Solo memang luar biasa. Para tukang masak tak kehilangan akal, mereka mengolah bahan-bahan tersebut menjadi makanan yang sedap dengan banyak bumbu. Justru ciri khas utama Tengkleng adalah pada bahan dasarnya.

Bahan utama tengkleng adalah tetelan atau tulang belulang kambing beserta bagian-bagian tubuh kambing yang tak diinginkan bangsawan pada masa itu. Kulit, jerohan, kaki, tulang-tulang iga, bahkan kepala kambing.

Tulang dan jeroan kambing itu dimasak dengan bumbu yang ada seperti kelapa, kunyit, serai, jahe, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kayu manis, cengkeh, garam, bawang putih, bawang merah, pala, dan kemiri. Kuah gulai yang tidak begitu kental dengan kaldu tulang memberikan citarasa lebih nikmat jika dibandingkan gulai daging kambing biasa.


Nama tengkleng sendiri juga muncul pada zaman itu, di mana banyak warga masyarakat makan menggunakan piring dari kaleng atau seng. Masakan yang terdiri dari tulang-belulang itu bertemu dengan piring seng menimbulkan bunyi “kleng-kleng-kleng”.

Meski berawal dari sejarah yang kurang enak, tengkleng justru tumbuh menjadi salah satu makanan khas Solo. Tengkleng Solo digemari bukan saja oleh warga lokal, tapi juga wisatawan pemburu makanan enak.
Lalu kalau wisatawan mencari tempat makan tengkleng Solo yang paling enak, kemanakah pilihannya? Berikut lima pilihannya.

Tengkleng Solo berkembang menjadi kuliner dengan aneka pilihan daging atau bahannya.
Sepincuk tengkleng dari Warung Bu Edi Pasar Klewer. Foto: Milik Kompas

Tengkleng Klewer Bu Edi

Ini warung tengkleng Solo yang legendaris, wisatawan wajib mampir ke kedai makan milik Bu Edi. Tengkleng di sini sudah menjadi favorit masyarakat Solo sejak 1970-an.

Keunikan tengkleng di sini adalah cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang dipincuk. Warung Tengkleng Bu Edi berlokasi di Pasar Klewer, Gajahan, atau tepatnya di Jalan DR. Radjiman, Kauman, Ps. Kliwon, Surakarta.

Harga yang ditawarkan untuk satu porsi tengkleng Solo paling enak sangat murah yaitu 25 ribu saja. Pengunjung bisa menikmati tengkleng istimewa ini setiap hari mulai pukul 12.00 sampai 16.00 WIB .

Warung Tengkleng Bu Pon

Daging kambing memiliki bau yang khas sehingga banyak orang enggan mengkonsumsi olahan kuliner ini. Padahal, citarasa daging kambing tidak kalah enak dengan daging lain.Tapi cobalah tengkleng kambing yang memiliki rasa istimewa di Tengkleng Bu Pon

Warungnya berlokasi di Shelter Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi, Surakarta. Mereka buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB. Harga seporsi makanan lumayan terjangkau kantong pelajar dan mahasiswa alias sekitar 25 ribu rupiah saja.

Tengkleng Bu Pon ini memiliki varian sangat lengkap mulai iga, sumsum atau bagian kepala kambing yang khas. Sensasi rasa menikmati tengkleng Solo paling enak Bu Pon juga bisa disesuaikan dengan selera pengunjung. Mau level lebih pedas dan panas? Konsumen bisa meminta tambahan cabai rawit lebih banyak.

Kedai Tengkleng Bu Jito Dlidir

Salah satu rekomendasi tengkleng Solo yang tak kalah enak dan popular di kalangan masyarakat Solo adalah tengkleng Bu Jito Dlidir. Istimewa karena memiliki citarasa kuah yang gurih. Rasa rempah yang kuat akan membuat pecinta kuliner kambing langsung jatuh cinta dengan olahan tulangannya.

Di sini selain tengkleng, pengunjung juga bisa menikmati aneka masakan lain seperti sate, gulai, dan tongseng kambing. Harga yang dibandrol di sini berkisar mulai 20 ribu ke atas sesuai menu yang dipesan.

Warung ini berlokasi di kawasan Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 67, Kadipiro, Surakarta. Buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00 WIB.

Warung Tengkleng Pak Manto

Ini pilihan untuk mereka yang ingin mencoba sensasi pedas. Wisatawan wajib datang ke Tengkleng Rica Pak Manto. Menu tengkleng Solo paling enak di sini memang ditawarkan khusus untuk para pecinta pedas.

Penyajian yang berbeda dengan citarasa sedap tak kalah dengan rasa tengkleng biasa. Dijamin pecinta kuliner bakal ketagihan menikmati setiap gigitan rica daging kambing di tempat Pak Manto ini.

Atau, jika ingin menikmati tengkleng dengan rasa yang berbeda, tapi tak suka sensasi pedas, pengunjung bisa memesan tengkleng goreng yang lebih diterima lidah.

Alamat tengkleng Solo Pak Manto ini berada di Jalan Honggowongso Nomor 36, Sriwedari, Laweyan. Mereka buka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam. Harga satu porsi tengkleng di tempat Pak Manto sekitar 30 ribu rupiah.

Tengkleng Kepala Kambing Mbak Diah

Tertarik mencoba tengkleng kepala kambing yang anti mainstream? Anda harus mencicipi seporsi tengkleng di Desa Tanjunganom ini. Kuah yang begitu gurih dengan citarasa kuat membuat Tengkleng Mbak Diah digandrungi banyak orang.

Porsi melimpah bisa dinikmati pengunjung dengan mengeluarkan uang sebesar sekitar 25 ribu rupiah saja untuk satu porsi. Warung Tengkleng Mbak Diah berlokasi di Desa Tanjunganom RT 002/RW 001, Kwarasan, Grogol, Tj. Ongih, Sukoharjo.

Ayo kapan ke Solo dan menikmati tulang kambing yang maknyus.

agendaIndonesia

*****