Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk saat berkunjung ke Kriuk di Kabupaten Lampung Barat. Tuhuk tak lain adalah ikan marlin, ukurannya bisa mencapai 40 kilogram dan dagingnya diolah menjadi beragam sajian.
Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk
Bila melintasi Pulau Sumatera dengan menyisir sisi barat, ada daerah pesisir yang akan dilalui dan banyak diburu para peselancar, yakni Kabupaten Krui. Di kota yang semula bagian dari Kabupaten Lampung Barat ini, ada destinasi wisata yang cukup dikenal, bahkan hingga ke mancanegara, yakni Tanjung Setia. Di kawasan ini, deretan home stay diisi para peselancar dari berbagai benua, yakni Benua Australia, Asia, Amerika, hingga Eropa. Nah, selain pilihan restoran di masing-masing home stay, mengisi perut di seputar Pasar Krui pun bisa jadi pilihan.
Tak jauh dari Dermaga Krui, ada dua restoran yang bisa dituju untuk mencicipi sajian khas ikan, yakni setuhuk atau tuhu. Ikan yang dimaksud adalah ikan marlin. Hanya, mengingat ada dua jenis, yakni blue marlin dan black marlin, bila melihat hasil tangkapan para nelayan, yang dimaksud adalah black marlin. Ikan berparuh panjang ini dikenal dengan dagingnya yang lembut. Di Pasar Krui, yang tak jauh dari dermaga, ikan dijual dengan variasi harga, tergantung musimnya.
Salah satu staf di Rumah Makan Uncu Rina, yang berada di samping Kantor Bupati Krui, menyebutkan bila sedang musim, harga ikan tuhuk sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Namun, saat ikan setuhuk sulit didapat, harga bisa melambung hingga Rp 90 ribu per kilogram. Para pendatang maupun turis dipastikan mencari sajian ikan setuhuk bila mampir ke Krui. Sajian yang dicari beragam, baik yang berupa sate maupun yang diolah menjadi pindang.
Sate Tuhuk
Tampilannya memang seperti sate pada umumnya. Ada daging yang ditusuk dan sepintas tidak jauh berbeda dengan sate ayam karena daging ikan tuhuk tertutup bumbu kacang yang dihaluskan. Baru terasa berbeda ketika tusuk sate itu masuk ke mulut. Daging yang telah dipotong-potong terasa begitu lembut. Berbeda sekali saat kita mengunyah daging sate jenis lainnya, seperti ayam, kambing, dan sapi. Bahkan, lebih lembut dari daging kelinci.
Potongan ikan tuhuk seperti meluncur di tenggorokan. Karena berbahan ikan segar, sudah pasti tidak ada aroma manis atau aroma lainnya. Proses pembakarannya tidak selama sate pada umumnya. Cukup 15 menit, sate pun sudah siap disantap. Sate disajikan dengan guyuran bumbu kacang dan kecap. Tersedia 10 tusuk sate per porsi dengan harga sekitar Rp 15 ribu.
RM Pondok Kuring; Pekon Serai, Pesisir Tengah; Krui
Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Kabupaten Lampung Barat, di antaranya sop ikan. Foto: Dok. A. Probel-TL
Sop Ikan Tuhuk
Ikan tuhuk tak hanya disajikan dalam olahan sate. Seperti umumnya daerah Sumatera, ikan marlin pun diolah berupa sop, yang bening, tapi wangi karena taburan daun bawang dan bawang goreng. Ikan diberi tambahan sayuran, seperti wortel yang dipadu dengan sepiring nasi. Paling pas disantap saat masih hangat. Hanya sebaiknya, ikan disantap saat langit di Krui mulai gelap. Apalagi saat angin laut sudah mulai berputar-putar di sekitarnya.
Seporsi sop ikan tuhuk dipatok dengan harga Rp 10 ribu. Sop ini menjadi salah satu sajian yang ditawarkan rumah makan Uncu Rina. Rumah makan yang berdiri sekitar tujuh tahun lalu ini dikelola oleh satu keluarga. Seperti beberapa rumah makan di Krui, unggulannya tentu olahan dari ikan tuhuk meski saat musim angin barat datang, jenis ikan ini lebih sulit diperoleh.
RM Uncu Rina
Pasar Krui
Krui
Pindang Menyegarkan
Tidak jauh dari daerah Sumatera Selatan yang terkenal dengan olahan pindang ikan, Lampung pun menawarkan kesegaran khas yang sama. Bahkan, dengan hasil para nelayan berupa ikan tuhuk, suguhan khas ketika ke Krui pun berupa pindang ikan tuhuk. Tampilannya seperti umumnya olahan pindang. Kuah berwarna kecokelatan dipadu dengan potongan cabe dan daun kemangi. Potongan ikan tuhuk berwarna putih dan berukuran cukup besar pun langsung menggoda.
Rasa asam dari buah asem, serta wangi serai dan kemangi membuat pindang dengan daging ikan yang lembut, menyegarkan saat disantap siang hari. Satu piring nasi habis tanpa terasa. Per porsi sajian pindang ini dipatok dengan harga sekitar Rp 20 ribu.
Ini 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak, Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia dengan perpaduan dan keragaman budaya yang sangat menarik. Hal ini disebabkan oleh demografi di ibu kota Kalimantan Barat tersebut, di mana mayoritas warganya terbagi menjadi setidaknya empat kelompok besar, yakni kaum Dayak sebagai pribumi serta kaum Tionghoa, Jawa, dan Melayu sebagai pendatang.
4 Kuliner Halal Terpopuler di Pontianak
Kondisi tersebut disinyalir terjadi akibat gelombang migrasi besar-besaran pada abad 18. Ketika itu, kerajaan-kerajaan di sekitar area Kalimantan Barat merekrut banyak tenaga kerja dari luar wilayah mereka untuk sektor pertambangan dan pertanian. Mereka yang datang kemudian betah dan membentuk komunitas besar yang berdomisili di area ini, hingga sekarang.
Tugu Katulistiwa sebagai ikon kota Pontianak yang perlu dikunjungi selain menikmati 4 kuliner halal terpopuler.
Dari situ, budaya para pendatang saling berbaur dengan budaya warga setempat dan bermanifestasi menjadi beberapa hal, tak terkecuali kulinernya. Bahkan, bisa dikatakan bahwa banyak kuliner khas kota khatulistiwa itu yang berasal dari budaya kuliner etnis Tionghoa. Lebih unik lagi, dari kuliner yang populer tersebut ternyata tidak semuanya halal.
Padahal, Pontianak dulunya berawal dari sebuah kerajaan Islam, dan hingga kini pun mayoritas warganya muslim. Oleh sebab itu, perlu jadi pertimbangan bagi wisatawan muslim untuk mengetahui apa saja destinasi kuliner di Pontianak yang halal untuk dicoba. Ini adalah beberapa di antara 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak.
Mie Tiaw Apollo
Salah satu kuliner yang bisa dibilang cukup identik dengan Pontianak adalah mie tiaw, atau yang umumnya biasa disebut kwetiau. Makanan sejenis mie ini terbuat dari beras, dan biasanya berbentul pipih memanjang dengan tekstur yang lembut dan kenyal. Ia berasal dari budaya kuliner kaum Tionghoa dan lazim ditemukan di restoran masakan Tiongkok.
Mie Tiau atau kwetiau Pontianak satu dari 4 kuliner halal terpopuler. Foto: shutterstock
Namun, yang membedakan mie tiaw di Pontianak dengan kwetiau yang sering dijumpai pada umumnya adalah cita rasanya. Kwetiau biasanya cenderung bercita rasa manis, karena dimasak menggunakan kecap manis. Sementara mie tiaw Pontianak lebih bercita rasa asin dan gurih, karena menggunakan kecap asin. Terlepas dari kecapnya, ini satu dari 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak.
Soal racikannya pun juga sedikit berbeda. Kalau kwetiau umumnya diracik dengan daging ayam atau lauk seafood seperti udang dan sebagainya, mie tiaw ala Pontianak kerap disajikan dengan daging sapi. Bahkan di Mie Tiaw Apollo, isiannya juga meliputi olahan sapi lainnya seperti urat, babat, kikil, babat, dan usus. Tak ketinggalan pula di dalamnya sayur sawi, taoge dan telur.
Mie tiaw kemudian disajikan dengan tiga pilihan, baik dengan digoreng, direbus atau langsung disiram dengan kuah panas. Untuk yang goreng dan rebus harganya Rp 37 ribu, sementara yang mie tiaw siram dihargai Rp 45 ribu. Ada pula pilihan mie tiaw biasa tanpa topping daging seharga Rp 17 ribu.
Meski hanya berupa warung sederhana, namun Mie Tiaw Apollo hampir tak pernah sepi pengunjung. Pun demikian, warung yang sudah berjualan sejak 1968 itu tidak pernah buka cabang lain selain warung aslinya di jalan Patimura nomor 63. Walaupun tak jauh dari situ ada warung mie tiaw lainnya dengan nama serupa, ternyata memang bukan cabangnya.
Walaupun konon katanya, warung tersebut milik bekas pegawai Mie Tiaw Apollo yang pecah kongsi dan memutuskan membuka warung sendiri. Apapun itu, bagi yang ingin mencoba Mie Tiaw Apollo yang asli, jam bukanya dari jam 13.30 hingga 00.45. Bisa jadi pilihan yang menarik bagi wisatawan yang ingin berburu kuliner malam di Pontianak.
Pondok Kakap
Kuliner Pontianak lainnya yang populer di kalangan warga lokal dan wisatawan adalah masakan seafood. Pondok Kakap, yang berada di Jalan Ismail Marzuki nomor 33A, merupakan satu dari beberapa restoran seafood populer di sana. Restoran bernuansa elegan dan premium ini cocok untuk tempat bersantap bersama keluarga, serta bisa jadi venue untuk acara ulang tahun, pernikahan dan sebagainya. Ini satu dari 4 kuliner halal terpopuler di kota ini.
Menu yang jadi andalan di sini meliputi kepiting asap, kepiting saus tiram, ikan kakap asam pedas, ikan bawal putih stim, ragam pilihan dimsum, dan lain lainnya. Satu menu yang unik dan langka adalah ikan salju, yaitu ikan yang hidup di area perairan Antartika yang dingin. Aromanya tidak begitu amis, agak mirip seperti susu dan tekstur dagingnya yang begitu halus.
Selain menunya yang beragam, harganya yang cukup reasonable juga menjadi daya tarik. Untuk harga ikan tergantung dari bobotnya, seperti ikan kakap yang dihargai Rp 23 ribu per ons, atau ikan bawal putih yang harganya Rp 45 ribu per ons. Begitu pula kepiting, yang harganya Rp 220 ribu per porsi, namun jika ingin kepiting berukuran lebih besar maka akan ada tambahan biaya dari Rp 35 ribu sampai 37,5 ribu, tergantung ukurannya.
Restoran ini juga menawarkan fasilitas private room alias ruang makan privat, khususnya bagi yang hendak makan bersama keluarga atau rombongan tertentu. Fasilitas tersebut terdapat di area lantai dua dan tiga, tentu dengan reservasi terlebih dulu. Pondok Kakap buka setiap hari dari jam 09.30 hingga 21.00.
Chai Kue Panas Siam A Hin
Chai kue, atau yang juga dikenal dengan nama choi pan, merupakan kudapan khas etnis Tionghoa yang begitu terkenal di Pontianak. Dalam dialek Hakka, choi pan kurang lebih artinya “kue berisi sayuran”. Penampilannya sekilas mirip seperti dimsum, dengan isian kucai, bengkoang, talas dan terkadang potongan daging ayam, udang atau jamur di dalamnya.
Ilustrasi Choipan atau cai kue, satu dari 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak. Foto: milik prasmanan.com
Umumnya, kudapan ini disajikan dengan cara dikukus, walaupun belakangan muncul pula varian chai kue yang digoreng. Setelah dikukus, chai kue ditaburi dengan bawang goreng, dan dimakan dengan saus mirip sambal. Cita rasanya terbilang unik, sensasi gurih pedas yang berbeda dari dimsum atau kue basah lainnya.
Di Pontianak, tak sulit mencari kedai penjual chai kue. Dari sekian banyaknya, satu yang cukup populer dan menonjol adalah Chai Kue Panas Siam A Hin. Sesuai namanya, kedai ini terletak di satu sudut jalan Siam. Meski hanya berupa kedai sederhana, nyatanya animo pengunjung senantiasa besar, baik warga lokal maupun wisatawan.
Usut punya usut, chai kue buatan kedai ini dianggap sebagai salah satu yang terenak se-Pontianak. Kulitnya yang tipis terasa lembut, dengan isian yang segar nan gurih. Dalam seporsi chai kue, disajikan lima buah chai kue yang penyajiannya bisa dipilih, mau dikukus atau digoreng. Harga satuannya Rp 2 ribu per buah untuk yang kukus, Rp 3 ribu untuk yang goreng.
Selain itu, tersedia pula menu lain seperti siomay ayam dan udang, talam, kulit kembang tahu dan sebagainya. Sejatinya tempat ini satu dari 4 kuliner halal terpopuler di kalangan warga sebagai tempat nongkrong dan makan ringan, tetapi belakangan banyak juga wisatawan yang datang membeli untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Sebagai catatan, kedai ini tutup tiap hari Selasa dan buka dari jam 10.00 hingga 22.00.
Es Krim Angi
Bicara soal tempat nongkrong yang hits di Pontianak, kurang afdol jika tak menyebut es krim Angi yang begitu melegenda. Ini adalah 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak. Sudah berjualan sejak 1950, es krim ini selalu ramai pengunjung, khususnya kala siang hari saat kota khatulistiwa ini sedang panas-panasnya. Karena lokasinya di jalan Karel Satsuit Tubun nomor 8 berhadapan dengan sekolah SMP dan SMA Petrus, maka terkadang ia juga dipanggil es krim Petrus.
Ada beberapa keunikan yang menjadi alasan kedai es krim ini begitu dicintai warga Pontianak dan diburu wisatawan pecinta kuliner. Pertama, penyajiannya begitu unik dan agak nyeleneh. Alih-alih menggunakan piring, mangkok atau gelas, es krim di kedai ini disajikan dengan menggunakan batok kelapa muda yang dibelah.
Tak hanya itu, pengunjung juga bisa memilih tambahan ekstra topping seperti cincau, jelly dan kacang merah. Biasanya topping akan dimasukkan terlebih dulu, baru kemudian es krim diletakkan di atasnya. Dalam satu batok kelapa pengunjung bisa memilih maksimal hingga tiga scoop es krim dengan pilihan rasa sesuai selera.
Pilihan rasa es krimnya sendiri meliputi coklat, vanilla, strawberry, green tea, durian, alpukat, nangka, ketan hitam dan cempedak. Sebagai catatan, es krim di sini tidak menggunakan pemanis artifisial dan pengawet, agar menjaga cita rasa yang otentik. Harga satu porsi dengan batok kelapa dihargai Rp 28 ribu.
Pun demikian, kini disediakan pula porsi satu cup berisi satu scoop es krim dengan harga Rp 16 ribu yang lebih ekonomis. Kalau ingin menambah topping akan dikenakan Rp 5 ribu per topping. Es krim Angi buka dari jam 08.00 sampai 21.00, namun bersiaplah untuk mengantri ketika sedang ramai-ramainya, utamanya saat siang di akhir pekan atau hari libur.
Ucok Durian Medan adalah ikon atau simbol pariwisata ibukota Sumatera Utara. Ia mungkin satu-satunya nama tempat nongkrong, atau tempat kuliner, atau sebutlah apapun itu, yang sangat khas: apapun tentang durian.
Ucok Durian Medan
Kedai Ucok Durian milik Zainal Abidin Chaniago sudah berdiri puluhan tahun, hampir 40 tahun melayani penggemar buah ikonik ini. Ucok, demikian Zainal biasa disapa kerabat dan handai taulannya, nyaris identik dengan durian hingga di depan kedainya ia berani memasang tulisan “Jangan bilang pernah ke Medan!!! Kalau belum mampir ke Ucok Durian”. Mungkin terasa sedikit angkuh, tapi apa boleh buat, begitulah kenyataannya.
Semboyan itu bisa jadi benar. Bebarapa tahun terakhir sejumlah biro perjalanan yang membawa wisatawan domestik maupun dari manca negara memasukkan tempat Ucok ini dalam itinerary tamunya. Umumnya siang sesudah jam makan siang, atau malam hari. Sering kali menjadi spot wisata Medan terakhir pada larut malam.
Betul, kadang bahkan menjelang tengah malam. Tak perlu heran, sebab kedai Ucok Durian buka 24 jam. Ini di saat normal dulu, sebelum pandemi. Jadi pengunjung bisa datang kapan saja. Pagi-pagi sekali pun tak jarang bisa dilihat sudah ada penggila durian yang ‘nongkrong’ di sini.
Kedai Ucok Durian di Jalan Pelajar Nomor 46, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, ini sudah berdiri sejak 29 tahun yang lalu. Begitupun, Zainal sudah bergelut dengan buah beraroma kuat ini lebih lama lagi. Hampir 40 tahun. Pengalaman panjang yang membuatnya tahu memilih buah durian yang enak. Tak peduli dari kebun atau daerah mana, yang pasti durian darinya ditanggung enak.
Ucok Durian Medan menjadi salah satu ikon kuliner di kota Medan, Sumatera Utara. Foto: shutterstock
Citra jaminan duren enak ini tentu tak diperoleh Zainal seketika. Ia mengaku pernah mengalami jatuh bangun selama berjualan durian puluhan tahun. Ia memulai petualangannya di dunia perdurianan dengan menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Medan. Namun ia tak sekadar bekerja melayani pembeli. Saat bekerja itu, ia manfaatkan untuk memahami seluk-beluk durian. Soal buahnya, juga jaringan pemasoknya. Bertahun-tahun bekerja di tempat orang, muncul hasrat untuk membuka usaha sendiri. “Saya mulai berjualan dari kaki lima, hingga kini sudah ada kedai dan nama yang melekat dengan kota Medan,” katanya seraya bercerita dirinya mulai berjualan sendiri sejak usia 24 tahun.
Sambil berjualan, Ucok tak lupa untuk terus belajar mengenai buah durian. Dari berbagai cara. Mulai dari ngobrol dengan pengepul durian yang mengantar durian ke lapaknya berjualan, hingga menyambangi petani durian di berbagai tempat. Itu dilakukannya ke banyak tempat dan kebun pusat-pusat durian di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, bahkan seluruh Sumatra.
Di kedai Ucok ini tersedia durian-durian segar yang dapat langsung dinikmati pengunjung. Pengunjung bisa memilih cara menikmati duriannya: tinggal duduk di bangku dan minta durian dipilihankan karyawan Ucok; atau langsung memilih sendiri durian yang dikehendaki. Semuanya sama saja. Umumnya sih pengunjung memilih langsung duduk di bangku yang tersedia, durian dipilihkan, dibukakan duriannya, dan mereka tinggal menikmati.
Bagaimana kalau durian yang dipilihkan atau kita pilih sendiri dan dimakan langsung di tempat rasanya kurang sesuai? Jangan khawatir, pengunjung bisa langsung menukarkannya tanpa tambahan harga. Untuk durian yang sudah telanjur terbuka, juga tidak akan terbuang percuma. Nantinya durian-durian ini akan dipasok ke usaha rumahan untuk diolah menjadi aneka camilan berbahan dasar durian
Setiap hari selalu saja ada durian yang datang ke kedai Ucok Durian. Jika sedang musim, jumlahnya bisa mendapat pasokan sekitar 6 ribu buah durian. Lebih dari separuh dari jumlah tersebut umumnya habis diserbu penggila durian pada hari tersebut.
Jika tak habis terserap, atau ada durian yang ditukar konsumennya, Ucok tetap tenang, sebab durian-durian tersebut kemudian disalurkan menjadi aneka olahan berbahan durian. Mulai dari pancake durian, daging durian, durian beku, es krim atau kripik durian. Sebagian malah dijual di kedai tersebut. Sebagian lain dikirim ke lain daerah. Tak hanya di sekitar Medan, bahkan hingga ke pulau Jawa.
Jika punya waktu, tempat ini adalah pilihan untuk duduk reriuangan dengan kawan-kawan (tentu jika kondisi sudah mengijinkan, saat ini masih pandemi). Ngobrol sambil menikmati aneka makanan durian.
Namun, jika pengunjung cuma waktu yang mepet dan harus kembali ke kota asal, karyawan Ucok Durian akan membantu mengupas durian yang dipilih kemudian memasukkannya ke dalam wadah yang tertutup rapat sehingga bau menyengat tidak meruap keluar.
Jadi, sudahkah Anda mengunjungi Ucok Durian di Medan? Jika belum, ayo agendakan kunjungan ke tempat ini jika pada waktunya Anda bisa main ke Medan. Sebab, seperti kata Ucok, rasanya tidak lengkap mengunjungi Medan jika tidak mencicipi durian dari Ucok Durian.
8 danau unik di Indonesia dengan berbagai ketidakbiasaannya. Danau-danau ini menunjukkan fenomena alam yang tidak biasa. Mulai danau asin, musiman, hingga yang berubah warna. Layak menjadi kekayaan alam dan pariwisata Indonesia. Apa saja danau-danau itu?
8 Danau Unik di Indonesia
Asin
Danau Satonda terletak di tengah Pulau Satonda dan termasuk wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Danau ini menyerupai angka delapan dengan diameter masing-masing 950 meter (sebelah selatan) dan 400 meter (sebelah timur). Danau purba ini terbentuk dari letusan Gunung Satonda beribu-ribu tahun lampau. Gunung api Satonda konon berumur lebih tua daripada Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora.
Danau Satonda dulunya terisi air tawar. Namun letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga hari ini. Satu hal yang menarik dan terbilang ajaib dari danau ini adalah riak air danau yang seolah bergerak seiring degnan pasang-surut air laut yang berada di sekeliling Pulau Satonda.
8 danau unik di Indonesia, salah satunya Danau Satonda. Foto: Dok. ekowisata.org
Musiman
Danau unik lain adalah Danau Sentarum. Danau ini terletak di sebelah cekungan Sungai Kapuas, yaitu sekitar 700 kilometer dari muara yang menuju Laut Cina Selatan. Sebenarnya danau ini adalah daerah hamparan banjir (lebak lebung). Karena letaknya berada di tengah-tengah jajaran pegunungan, kawasan ini menjadi daerah tangkapan hujan.
Danau Sentarum merupakan danau musiman. Saat musim hujan, kompleks Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas. Tapi, saat musim kemarau, Danau Sentarum menjadi hamparan kering dan terkadang ditumbuhi rumput seperti padang golf.
8 danau unik di Indonesia, salah satunya Danau Kelimutu di Ende, Nusa Tenggara Timur. Foto: ilustrasi-dok. TL
Berubah Warna
Di Taman Nasional Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Barat, terdapat tiga danau yang terletak di puncak Gunung Kelimutu. Ketiga danau tersebut memiliki tiga warna berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Kendati begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.
Konon, danau berwarna biru merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama dia hidup selalu melakukan kejahatan. Sedangkan danau yang berwarna putih merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Kaca
Desa Lempur, Kerinci, Provinsi Jambi, mempunyai sebuah danau menakjubkan yang dikenal dengan nama Danau Kaco. Danau ini merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat. Danau Kaco memiliki nama yang berarti “Danau Kaca”. Airnya berwarna biru cemerlang, seolah dicelup cat biru laut.
Yang menjadikan danau ini istimewa adalah airnya yang bisa menyala di malam hari, terutama saat bulan purnama. Tak jarang, wisatawan sengaja berkemah di sekitar Danau Kaco saat bulan purnama. Danau yang konon sangat dalam ini juga menjadi habitat bagi ribuan ikan semah.
Kembar
Bukan hanya manusia yang bisa kembar. Ternyata danau juga. Buktinya, dua danau yang bernama Danau di Atas dan Danau di Bawah ini. Terletak di pinggir jalan raya Padang-Muaralabuh-Kerinci, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kedua danau itu sering juga disebut sebagai ”Danau Kembar” karena letaknya yang berdampingan. Jaraknya hanya terpaut sekitar 300 meter.
Wisatawan dapat membuktikan kemiripan kedua danau tersebut dengan menaiki puncak bukit di antara Danau di Atas dan Danau di Bawah. Untuk berkeliling Danau di Atas, wisatawan bisa ikut kapal motor antar-nagari yang biasa digunakan petani setempat. Tapi untuk Danau di Bawah, turis tidak bisa berkeliling naik kapal.
Merah
Danau Pagaralam, yang berlokasi di perbukitan Raje Mandare di Provinsi Bengkulu, lain daripada yang lain. Biasanya air danau berwarna jernih, hijau, atau biru. Tapi air di danau seluas 6 hektare ini justru berwarna merah darah. Danau ini ditemukan pada 2010 oleh masyarakat sekitar dan sempat membuat heboh karena warna airnya yang tak biasa itu.
Meski berwarna merah darah, saat diambil dengan tangan atau wadah, airnya berwarna seperti air pada umumnya. Menurut warga sekitar, pada malam hari di lokasi sekitar danau ini akan tercium aroma pandan. Di sekitar danau terdapat banyak sisa bangunan yang diyakini sebagai sisa candi dari sebuah kerajaan pada masa silam.
Terperangkap Danau Kakaban di Pulau Kakaban, Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memiliki luas sekitar 5 kilometer persegi dan berdinding karang terjal setinggi 50 meter. Air laut yang sempat masuk ke danau terperangkap sehingga tidak bisa keluar lagi. Karena perubahan dan evolusi oleh air hujan dan air tanah sejak dua juta tahun silam, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibanding air laut yang ada di sekitarnya.
Perubahan ini berdampak juga terhadap adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur, misalnya. Karena terbatasnya makanan, akhirnya ia beradaptasi dengan melakukan simbiosis mutualisme dengan alga, sehingga tidak menyengat. Kakaban merupakan danau prasejarah pada zaman peralihan Holosen.
Cermin
Sesuai dengan namanya, Danau Labuan Cermin memang mengkilap seperti cermin. Tak mengherankan jika danau yang terletak di Desa Batu Putih, Kecamatan Biduk-biduk, Berau, Kalimantan Timur, ini dijuluki “Mirror Lake”karena orang dapat melihat refleksi di atasnya. Keunikan lainnya, Danau Labuan Cermin memiliki dua jenis air, yaitu air tawar dan air asin.
Bukan hanya itu, dua jenis organisme air juga hidup di danau ini. Ikan air tawar hidup di permukaan danau, sedangkan ikan air asin hidup di dasar danau, karena kedua jenis air tidak bercampur. Batas air laut dan air tawar ini terlihat seperti lapisan awan di dalam danau.
Dari ke delapan danau tersebut, danau mana yang pernah Anda kunjungi? Jika belum satu pun, ayo kalau ada waktu dan pandemi sudag berlalu, agendakan kunjunganmu.
Ombak 5 meter, apalagi jika memiliki panjang gulungan hingga 200 meter, pastilah menjadi impian para surfer atau peselancar. Lucunya, ombak tak selalu bergulung, di saat air laut surut, pantai pun menjadi laboratorium kelautan.
Ombak 5 Meter
Cerita ombak 5 meter ini bukan di Bali atau G-Land Banyuwangi, tapi di pesisir barat Lampung, tepatnya di Tanjung Setia, Pekon, atau Desa Tanjung Setia, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Lampung Barat. Untuk menuju ke lokasi ini, pengunjung bisa terbang selama 40 menit dari Soekarno Hatta ke Bandara Raden Inten II di Bandar Lampung.
Dari bandara, perjalanan dilanjutkan sekitar enam jam dengan jalur darat yang cukup lenggang. Melewati tiga kota —Pring Sewu, Tanggamus, dan Kota Agung, sebelum akhirnya membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan menyisir pesisir Barat Provinsi Lampung.
Cobalah memulai menyusuri wilayah ini pada pagi hari. Pantai dengan pasir putih yang masih sepi menjadi pemandangan yang menenangkan. Tenang? Lalu ke mana ombak 5 meter yang dicari peselancar.
Tunggu dulu. Jika kita penyusuri pantai hingga sampai di satu titik pada bagian tanah yang menjorok ke laut alias tanjung, pengunjung baru bisa melihat gulungan ombak yang dikenal luas di antara para peselancar dari pelbagai belahan dunia.
Di situ pengunjung pantai akan mulai terlihat. Umumnya orang asing berkulit putih dengan ‘tentengan’ papan selancar. Kebanyakan pria, tapi ada juga satu-dua kawan perempuan mereka.
Seorang peselancar sedang menikmati gulungan ombak. Foto: Dok. TL
Pria-pria berkulit putih itu tak henti-hentinya menggulung diri dengan ombak dan menantang laut dengan sebilah papan. Ketika lelah, mereka mengaso di halaman homestay yang menghadap ke laut. Namun kadang tak lama mereka kembali menyapa laut dengan tariannya di atas papan.
Cerita para pencinta ombak lebih lengkap diceritakan t dari pemilik penginapan, Dewi. Perempuan asal Sukabumi itu membuka usaha Homestay Utopia pada sekitar sembilan tahun lalu saat Tanjung Setia mulai berkembang.
Dewi menyebut tamunya datang dari berbagai penjuru dunia. Dari Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara belahan lain, seperti Brasil, hingga Jepang. Lama tinggalnya tidak seperti wisatwan lokal yang hanya berakhir pekan, tapi mereka bisa sampai sebulan hingga dua bulan.
Mayoritas yang datang memang wisatawan asing yang berminat dengan olahraga khusus tersebut. Bahkan ada beberapa homestay yang tidak membuka pintu bagi tamu lokal. Kamar yang disewakan hanya untuk warga asing. Dua hari di Tanjung Setia, agendaIndonesia memang tidak bertemu dengan wisatawan domestik.
Tanjung Setia memang seperti banyak disebut lebih dikenal di mancanegara. Tumbuhnya deretan homestay pun kebanyakan untuk mengakomodasi para pencinta ombak tersebut. Kebanyakan berupa bangunan sederhana. Akhir September lalu, saat kami menyusuri jalan di kawasan itu, ada sebuah homestay yang dibikin lebih apik. Masih terbuat dari kayu, namun dengan pembuatan yang lebih baik. Mungkin menjadi akomodasi paling “mewah”. Tidak hanya di lahan yang menghadap ke laut, tapi juga di sisi lainnya.
Menurut Dewi, Pantai Tanjung Setia yang dikenal dengan ombak 5 meter dan panjang 200 meter bukan satu-satunya yang dipilih para peselancar. “Mereka juga suka ke Way Jambu. Enggak jauh kok dari sini,” ujarnya.
Penasaran, kami pun ke sana. Benar saja, belum tiba di pantai, serombongan peselancar baru saja usai bercanda dengan ombak yang diberi nama khusus “The Sumatran Pipeline” itu. Tak hanya melaju dari pantai ke pantai dengan kendaraan roda empat, tetapi juga tak jarang peselancar yang ditemui seperti di Bali: naik sepeda motor dengan papan selancar yang memburu pantai-pantai dengan ombak tinggi.
Pantai Melasti dan Mandiri, yang tidak jauh dari Pantai Tanjung Setia, pun menjadi pilihan lagi bagi peselancar. Saat tengah menikmati suasana Pantai Labuhan Jungkung yang berada di pusat kota Krui, ibu kota Kabupaten Lampung Barat, tampak sepasang wisatawan tengah bermain dengan ombak. Rupanya yang perempuan baru latihan tahap awal berselancar. Ia memulainya dengan mempelajari gulungan ombak. Dan itu dilakukan di tengah terik sinar mentari.
Pantai Way Jambu di Pesisir Barat Lampung. Foto: Dok. TL
Namun Tanjung Setia tak melulu soal selancar. Pantai ini punya keunikan lain. Pada sisinya yang lain, air lautnya justru terlihat tenang. Terlebih jika sedang surut.
Pada sejumlah bagian, kadang kita akan berpikir ini bukanlah pantai yang asyik untuk bersantai. Pantai tidak terlalu landai dan selebihnya penuh karang. Karang-karang tampak muncul di tepi pantai.
Namun rupanya karang-karang itu punya pesonanya sendiri. Saat air laut surut ternyata membawa keindahan tersembunyi. Pengunjung bisa menemukan bermacam-macam bentuk teripang, landak laut, bulu babi, udang, anemon, kepiting berwarna merah, ikan buntal hingga scorpion fish. Luar biasa!
Anemon di Pantai Tanjung Setia, Lampung
Rasa bungah benar-benar memenuhi dada. Tanpa harus bersusah payah menyelam, pengunjung dapat menemukan keragaman biota laut. Cobalah ajak teman yang cukup mengenal kehidupan laut, pastilah kita akan dapat pelajaran biologi. Ahai…
Sungguh asyik, sambil mengamati satu per satu karang yang hendak dipijak, pengunjung bisa digoda oleh ikan-ikan kecil yang berlarian. Bahkan ikan-ikan tersebut tak sekadar berlari, tapi melompat untuk menghindar. Mereka mencari tempat yang lebih aman. Kepiting pun tak mau diganggu. Hewan kecil dengan capit itu langsung bersembunyi di balik karang. Serasa berada di dunia lain. Di tengah kehangatan sang surya yang belum lama muncul, “kawan-kawan baru” di laut ini semakin membuat suasana menyenangkan.
Tertarik? Jika perjalanan enam jam dianggap terlalu lama, ada beberapa alternatif jalan menuju Tanjung Setia.
Cobalah cari penerbangan langsung ke Bandara Seray, Krui, di Lampung Barat. Dari sana hanya perlu 30 menit untuk mencapai Tanjung Setia. Bila memilih jalur darat, setelah menyeberang dari Merak ke Bakahuni, dari Terminal Rajabasah bisa memilih bus menuju Krui melalui Jalan Raya Trans-Sumatera sisi barat.
Museum Angkut Batu, atau orang suka juga menyebutnya Museum Angkut Malang karena posisi kota Batu yang menempel dengan kota tersebut, beberapa tahun terakhir menjadi salah satu destinasi wisata saat melancong ke Jawa Timur. Menarik, sebab museum ini menyimpan beragam jenis mode transportasi dari yang paling sederhana sampai yang termutakhir.
Museum Angkut Batu
Museum Angkut Batu, lokasi tepatnya berada di kawasan gunung Panderman. Tidak begitu jauh dari Malang, berjarak kurang lebih sekitar 20 kilometer. Museum ini pertama kali dibuka dan diresmikan pada 9 Maret 2014.
Oleh pendiri dan pengelolanya, museum jenis ini diklaim sebagai yang pertama di Asia Tenggara. Dibangun dan dibukanya tempat ini merupakan wujud apresiasi dan sekaligus edukasi tentang industri transportasi dunia, serta sejarahnya dari masa ke masa.
Dibangun di atas lahan seluas 3,8 hektare, Museum Angkut Batu kini memamerkan lebih dari 300 jenis mode transportasi, dari yang tradisional hingga modern. Kesemuanya dibagi dalam zona-zona tersendiri, dengan arsitektur dan penataan yang disesuaikan dengan temanya masing-masing.
Saat pertama masuk, pengunjung akan langsung memasuki zona aula utama. Ruangan ini didesain untuk terkesan mewah dan memamerkan beragam jenis kendaraan terpopuler di dunia, baik yang asli maupun yang berupa replika dan miniatur.
Ada zona yang memperlihatkan kendaraan yang dipergunakan kepolisian di Museum Angkut Batu. Foto: Koleksi Museum Angkut
Selanjutnya, terdapat zona Garbarata yang sarat akan sejarah industri otomotif, baik di tanah air maupun luar negeri. Zona ini dikhususkan bagi jenis-jenis kendaraan yang memiliki nilai sejarah tinggi, atau cerita-cerita unik di baliknya.
Ini misalnya ada Chrysler Windsor Deluxe yang pernah digunakan sebagai mobil kepresidenan oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Atau Land Rover buatan tahun 1958 yang pernah digunakan anggota kerajaan Inggris, termasuk mendiang ratu Elizabeth II.
Yang dipamerkan pun tak hanya jenis-jenis kendaraan zaman dulu. Kendaraan masa kini yang modern dan futuristis, namun bernilai sejarah pun juga ada. Misalnya Tucuxi, prototype mobil listrik yang dimiliki mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan.
Selain melihat kendaraan yang dipamerkan, pengunjung juga akan menemukan bioskop mini di zona ini. Di bioskop ini wisatawan dapat menonton film dokumenter tentang sejarah transportasi dari masa ke masa.
Masuk lebih dalam lagi, pengunjung akan menemukan zona Batavia. Sesuai namanya, zona ini dikhususkan untuk mengenang mode transportasi di era pra kemerdekaan. Tak hanya yang ada di Jakarta, meski Batavia adalah nama Jakarta masa lalu. Sepeda, dokar, pedati, hingga kereta kuda zaman kerajaan dapat ditemui di sini.
Sedangkan di zona Pecinan, nuansa pasca kemerdekaan lebih terasa. Desain dari zona ini terinspirasi dari Stasiun Kota Jakarta tempo dulu. Di sini terdapat transportasi umum masyarakat di kala itu seperti becak, bajaj dan bemo.
Tak hanya di lantai dasar, pada bangunan dengan tiga lantai ini pengunjung dapat menemukan beberapa jenis transportasi lainnya di bagian lantai atas. Seperti zona Runway 27 yang mengupas sejarah dunia aviasi serta memamerkan beberapa jenis pesawat dan helikopter.
Contohnya Bell 47J yang merupakan pesawat kepresidenan pertama di era Soekarno. Atau sebuah helikopter milik Amerika Serikat yang disinyalir digunakan oleh intel yang tertangkap di wilayah Indonesia. Sebagai permohonan maaf, helikopter itu dihibahkan kepada Indonesia.
Selain pameran pesawat dan helikopter beserta sejarahnya, di bagian ini pengunjung juga dapat mencoba flight simulator yang didesain mirip seperti yang biasa dipakai oleh pilot untuk berlatih. Untuk mencobanya, wisatawan perlu membayar tarif tambahan seharga Rp 300 ribu.
Bagi yang ingin rehat sejenak sambil makan dan minum, di zona ini juga tersedia food court. Uniknya, food court ini didesain dengan tema dan nuansa yang membuat seakan-akan sedang berada di dalam pesawat.
Museum Angkut Batu tak hanya ada di dalam ruang. Foto: dok. shutterstock
Di bagian luar pun terdapat zona-zona yang tak kalah menarik. Seperti misalnya zona Broadway yang didesain bernuansa film-film zaman dulu. Di sini pengunjung dapat berfoto dengan replika bangunan depan Broadway Theater atau dengan mobil-mobil klasik di masa itu.
Di zona ini terkadang juga dilangsungkan pertunjukan parade musikal ala Broadway. Ini merupakan salah satu daya tarik utama di museum ini. Wisatawan bisa menikmati pertunjukan parade tersebut sambil berfoto-foto.
Selain itu, terdapat pula zona Eropa, yang menampilkan suasana mirip negara-negara Eropa dengan replika bangunan-bangunan bersejarahnya, seperti menara Eiffel, Buckingham Palace dan lain sebagainya.
Pada zona ini pula pengunjung akan menemukan berbagai mobil dan motor klasik buatan Eropa yang disesuaikan dengan latar belakangnya. Pada latar perkotaan dan pedesaan Jerman kuno, terdapat mobil-mobil keluaran Mercedes-Benz dan Volkswagen di masa itu.
Lalu pada latar Italia terdapat Fiat dan Vespa klasik. Sedangkan di bagian Inggris, terdapat ragam mobil klasik seperti Mini Cooper dan Rolls Royce, serta kereta kerajaan yang digunakan pada acara kenegaraan di Buckingham Palace.
Terdapat pula zona Las Vegas dengan latar dan gaya arsitektur ala kota kasino tersebut. Selain nuansanya yang khas, mobil-mobil yang terpajang pun menggambarkan tunggangan miliarder yang berkeliaran di sana, mulai dari Lamborghini hingga Hummer.
Dan yang tak kalah unik adalah zona Hollywood yang memamerkan mobil-mobil yang pernah dipakai dalam film-film Hollywood ternama. Misalnya mobil yang digunakan dalam serial film James Bond, dan dalam film Scooby Doo dan Batmobile alias tunggangan karakter Batman.
Khusus untuk Batmobile, terdapat wahana VR (virtual reality) yang menawarkan sensasi seakan-akan sedang mengendarai kendaraan karakter superhero tersebut. Untuk dapat merasakannya, pengunjung perlu membayar tarif sekitar Rp 20 ribu.
Tak hanya itu, kini juga tersedia simulator Formula 1 mirip seperti yang digunakan tim-tim balap jet darat tersebut untuk pengembangan dan latihan. Cukup membayar biaya tambahan Rp 25 ribu, wisatawan dapat mencobanya.
Terakhir, terdapat zona Pasar Apung yang menjajakan berbagai makanan tradisional serta souvenir untuk oleh-oleh. Di sini pengunjung akan menaiki perahu untuk dapat mengelilingi zona ini. Untuk menaiki perahu tersebut, anda dapat menyewanya dengan tarif Rp 10 ribu.
Untuk masuk ke Museum Angkut Batu, pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 100 ribu, baik dewasa maupun anak-anak dan baik weekdays maupun weekend. Namun bagi yang membawa kamera dan ingin berfoto, akan diminta membayar tambahan Rp 30 ribu.
Fasilitas seperti toilet, musholla, charging station, wi-fi dan penitipan barang pun tersedia di museum ini. Untuk mobilitas di sekitar museum, disediakan pula kursi roda serta shuttle car secara gratis.
Museum Angkut buka setiap hari dari jam 12.00 sampai jam 20.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0341) 595007 atau mengunjungi akun resmi Instagram @museumangkut.
Wisata religi banyak dilakukan umat muslim ketika memasuki bulan Ramadan. Salah satu yang kerap dilakukan umat muslim di Indonesia adalah melakukan perjalanan religi. Banyak yang beranggapan, dengan melakukan hal itu dapat memberikan ketenangan batin dalam diri.
Wisata Religi
Sekadar informasi, wisata religi dan wisata halal merupakan dua jenis wisata yang berbeda. Menurut Wapres Ma’ruf Amin. “Kalau mengunjungi masjid itu bukan wisata halal, itu namanya wisata religi. Kalau wisata halal itu mengunjungi wisata-wisata, semua wisata yang ada, destinasi wisata yang ada, cuma di destinasi itu ada layanan halal,” ucap Wapres Ma’ruf Amin.
Sedangkan wisata religi bisa diartikan sebagai destinasi wisata yang berhubungan dengan sejarah, tokoh, hingga tempat ibadah. Wisata ini memiliki banyak manfaat bagi mental dan spiritualitas seseorang. Mulai dari meningkatkan keimanan, menambah wawasan keagamaan, hingga menambah wawasan budaya dan sejarah suatu tempat.
Menara Kudus mejadi ikon dari kota ini. Foto: shutterstock
Perlu diingat kembali, perjalanan religi itu tidak hanya untuk umat muslim saja. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia ada enam agama yang diakui: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Setiap ajaran agama memiliki wisata religinya tersendiri.
Contoh, umat Buddha berwisata ke Candi Borobudur, Jawa Tengah. Sedangkan umat Hindu ke pura yang ada di Bali. Namun, bukan berarti jika wisatawan tidak menganut ajaran agama tersebut tidak bisa mengunjungi destinasinya.
Meski tidak sesuai keyakinan, wisatawan tetap bisa berkunjung dan belajar mengenal budaya dari setiap destinasi religi. Dengan kata lain, wisata religi ini juga dapat meningkatkan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Namun, saat berkunjung kita harus tetap menghargai umat yang beribadah dan peraturan yang ada.
Menjelang Ramadan dan Idulfitri, umat Islam kerap melakukan perjalanan religi dengan mengunjungi berbagai masjid bersejarah, maupun makam para Wali Songo, dengan tujuan untuk berziarah dan meningkatkan keimanan.
Wisata religi sambil berziarah ke makam para Wali Songo seakan menjadi sebuah tradisi yang kerap dilakukan umat muslim di Indonesia. Kesembilan makam para Wali ini tersebar di Pulau Jawa. Ada lima makam Wali di Jawa Timur, tiga makam di Jawa Tengah, dan satu makam di Jawa Barat.
Selain mengunjungi makam-makam Wali Songo, berkunjung dan beribadah ke masjid-masjid juga merupakan bentuk wisata yang bisa dilakukan umat Islam di bulan Ramadan. Ada beberapa rekomendasi masjid bersejarah di Indonesia yang bisa wisatawan kunjungi untuk wisata religi.
Mulai dari Masjid Istiqlal (Jakarta), Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sunan Ampel (Surabaya), Masjid Jogokariyan (Yogyakarta), Masjid Agung (Semarang), hingga Masjid Kuno Bayan Beleq (Lombok).
Masjid Sunan Ampel Surabaya
Tak hanya untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan saja, wisata di masjid-masjid seluruh Indonesia juga bisa menjadi ajang berburu kuliner halal khas dari setiap daerah. Sebab, banyak masjid di berbagai daerah yang ramai dikunjungi wisatawan untuk ngabuburit saat Ramadan. Bahkan, ada beberapa menu khas yang hanya ada saat bulan Ramadan tiba.
Bulan Ramadan kerap dijadikan momentum untuk melakukan perjalan spiritual bagi umat Islam. Salah satu daya tarik wisata di Indonesia adalah ziarah ke makam Wali Songo. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mengenang para teladan dalam mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.
Bagi wisatawan yang ingin melakukan wisata religi ke makam Wali Songo, berikut ini lokasi makam para Wali yang selalu ramai dikunjungi para peziarah.
Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang sangat fenomenal karena berhasil menciptakan karakter-karakter baru pewayangan, seperti Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng. Selain itu, beliau juga menggubah tembang yang sarat akan muatan Islam, Kidung Rumeksa ing Wengi dan Lir-ilir. Jika ingin berziarah, makam Wali Songo ini berada di Desa Kadilangu, sekitar tiga kilometer dari Masjid Agung Demak.
Sunan Ampel
Bukti sumbangsih Sunan Ampel terhadap kemajuan Islam terlihat dari adanya Kesultanan Demak, berdirinya Masjid Agung Demak dan ajaran Moh Limo. Bagi Sobat Parekraf yang ingin ziarah ke Makam Sunan Ampel bisa datang ke Jalan Ampel Masjid No. 53, Kota Surabaya.
Sunan Drajat
Jika Sunan Ampel memiliki ajaran Moh Limo, Sunan Drajat berdakwah dengan ajaran Pepali Pitu. Salah satu tembang terkenal karya Sunan Drajat adalah tembang tengahan Macapat Pangkur. Makam Sunan Drajat berada di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Sunan Gresik
Terletak di Jalan Malik Ibrahim, Gresik, makam salah satu Wali Songo ini juga tidak pernah sepi peziarah. Kiprah Sunan Gresik dalam mengajarkan ajaran Islam terbilang cukup unik, karena memakai pendekatan budaya. Beliau berdakwah dengan cara mengajarkan masyarakat untuk bercocok tanam dan bertani.
Sunan Kudus
Jejak dakwah Sunan Kudus dapat dilihat dari desain arsitektur Masjid Agung Kudus, Jawa Tengah yang mirip dengan candi. Kini, peninggalannya tersebut kerap didatangi para peziarah untuk berdoa di masjid tersebut. Sekaligus berziarah ke makam Sunan Kudus yang dimakamkan di bagian belakang Masjid Agung Kudus.
Sunan Bonang
Wali Songo satu ini menyebarkan Islam dengan alat musik, yakni gamelan. Selain itu, Sunan Bonang juga mahir memainkan wayang, serta menguasai seni dan sastra Jawa. Untuk mengenang jasa Sunan Bonang dalam menyebarkan ajaran Islam, wisatawan bisa ziarah ke Makam Wali Songo yang ada di Desa Kutorejo, Tuban, Jawa Timur.
Sunan Muria
Jika ingin wisata religi ke makam Sunan Muria, pengunjung bisa mengunjungi lereng Gunung Muria, Kecamatan Colo. Sama seperti tokoh Wali Songo lain, Sunan Muria juga merangkul tradisi dan budaya setempat. Selama periode dakwahnya, beliau melahirkan karya berupa tembang yang diberi judul Sinom dan Kinanthi.
Sunan Giri
Makam Wali Songo, Sunan Giri, berada di Jalan Sunan Giri, Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Selama masa hidupnya, Sunan Giri berdakwah melalui seni dan budaya. Sunan Giri menciptakan beragam tembang antara lain Padang Bulan, Jor, Gula Ganti, dan Cublak-cublak Suweng.
Sunan Gunung Jati
Perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan ajaran Islam dilakukan lewat jalur politik. Beliau menjalin banyak kerja sama untuk mengokohkan dakwah Islam. Setelah wafat, Sunan Gunung Jati dimakamkan di Desa Astana, Cirebon Utara, yang selalu ramai para peziarah yang datang untuk mengenang jasa beliau.
Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia. Sebagai negara dengan puluhan ribu pulau, wajar saja jika Indonesia memiliki banyak pulau yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Pulau-pulau unii tersebut, dari yang terkecil hingga yang hanya muncul di siang hari. Ada pula pulau yang mirip lumba-lumba. Ketiganya mestinya bisa menjadi potensi pariwisata di Indonesia.
Keunikan 3 Pulau
Pulau Terkecil
Indonesia merupakan negara kepulauan, karenanya tidak aneh jika negara ini memiliki banyak pulau-pulau kecil yang bisa dijadikan destinasi wisata. Namun yang luar biasa, ternyata pulau terkecil di dunia ternyata berada di Indonesia. Terkecil dalam arti pulau ini juga dihuni manusia. Meskipun sekarang tidak lagi. Pulau ini ternyata ditinggalkan oleh penduduknya karena mengalami abrasi parah.
Pulau Simping sudah diakui PBB sebagai pulau terkecil di dunia. Meski begitu, pulau ini tetap memiliki pemandangan yang menawan dan dicari wisatawan. Pulau ini terletak di Teluk Mak Jantu. Tepatnya di kawasan Pantai Sinka Island, Singkawang, Kalimantan Barat. Untuk menjangkau pulau ini dibutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Pontianak dengan menggunakan kendaraan pribadi. Meski air lautnya terbilang dangkal, Simping memiliki hamparan pantai yang panjang. Tak perlu menggunakan perahu atau kapal untuk dapat menjangkaunya. Dari Pantai Sinka, wisatawan dapat melewati sebuah jembatan.
Uniknya, Simping, yang terdiri atas pasir, bebatuan, dan pepohonan, sebelumnya disebut dengan nama Pulau Kelapa Dua, karena dulunya cuma ada dua pohon kelapa. Ukurannya sangat mini sebagai tempat tinggal penduduk, yakni kurang dari 1 hektare, saat ini kemungkinan bahkan tinggal setengah hektare.
Pulau Timbul-Tenggelam
Aslinya tentu saja bukan pulau timbul tenggelam. Adalah Pulau Segajah di Bontang Kuala, Kalimantan Timur, juga tak kalah unik dari pulau Simping. Bagaimana tidak, pulau ini hanya muncul saat siang hari ketika air laut surut. Sedangkan pada malam hari, Pulau Segajah seolah tenggelam dan tidak terlihat karena terkena air pasang. Karena itu, jika ingin mengunjungi pulau ini, jam idealnya adalah pagi hingga tengah hari.
Saat air laut surut, biasanya masyarakat sekitar sering mencari kerang di daratan pasirnya untuk diolah menjadi sambal goreng. Ini bisa menjadi salah satu atraksi menarik mengunjungi pulau ini, bahkan jika tertarik bisa ikut mencari kerang dan kemudian minta dimasakkan masyarakat setempat dengan sedikit uang jasa.
Segajah memiliki pasir yang putih dan air laut yang sangat jernih sehingga terlihat dasar lautnya yang dipenuhi bintang laut. Bahkan ada pula ikan badut (clown fish). Tak aneh jika Segajah sering dijadikan spotsnorkeling atau diving. Untuk dapat mengunjungi pulau ini, wisatawan bisa menyewa perahu yang ada di Bontang Kuala. Perjalanannya lebih-kurang ditempuh sekitar 20 menit. Pastikan membawa tabir surya untuk melindungi kulit dari sengatan matahari karena tak ada tempat berteduh.
Pada perairan yang dangkal, dasar laut akan terlihat, di sana terdapat kerumunan bintang laut. Dari sekian banyak dominasi bintang laut berwarna cokelat dan kemerahan, terdapat sedikit bintang laut berwarna biru. Jika berniat snorkeling, yang perlu diwaspadai adalah batu karang tajam, serta bulu babi yang menempel pada karang-karang tersebut.
Keunikan 3 pulau di Indonesia yang memukau, salah satunya pulau Lumba-lumba di Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: selasar.com
Lumba-lumba
Surga dunia, begitu kata orang yang sudah pernah menginjakkan kakinya di Flores, Nusa Tenggara Timur. Banyak tempat yang dapat dijadikan tujuan wisata di sini, seperti pantai berpasir putih, berpasir hitam, sampai yang berwarna pink, dengan air yang sangat jernih dihiasi latar belakang pegunungan yang sangat indah. Bahkan tak jarang, pelancong dapat menyaksikan lumba-lumba yang tengah berlompatan di tengah laut.
Konon, salah satu pulau di lepas pantai utara Pulau Flores memiliki bentuk yang menyerupai lumba-lumba. Dari ketinggian, pulau terumbu karang itu terlihat cantik karena bagai lumba-lumba yang sedang berenang dan muncul ke permukaan. Uniknya lagi, di sekitar pulau ini juga dihuni oleh beberapa lumba-lumba. Wow!
Rasanya jika punya kesempatan berkunjung ke salah satu daerah-daerah tersebut, misalnya sedang ke Singkawang, Kalimantan Barat, dan cukup punya waktu untuk bersantai, tak ada salahnya mengagendakan untuk meluncur ke pulau-pulau unik tersebut.
Wisata Kuningan di Jawa Barat rasanya kalah popular dengan beberapa daerah di sekitarnya, seperti Cirebon, atau Sumedang. Padahal daerah ini tak kurang hal menarik untuk dinikmati. Dipadukan dengan sejumlah spot di Cirebon, ia bisa menjadi pilihan liburan. Termasuk di telaga-telaga yang kini menjadi ikon wisata di daerah yang terletak di kaki gunung Ciremai itu.
Wisata Kuningan
Nasi Jamblang Mang Dul
Sebelum berkendara ke Kuningan, ada baiknya sarapan lebih dulu di warung legendaris yang menjajakan nasi Jamblang sepaket dengan aneka ragam lauknya. Warung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Kota Cirebon, yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung, ini, setiap pagi riuh dipenuhi pengunjung. Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu, jadi warung favorit di Cirebon.
Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila ke mari, tahu semur, sontong, dan sambal merah harus menjadi lauk utama yang dipilih.
Telaga Nilem
Telaga ini merupakan spot vakansi alam yang bisa menjadi salah satu alternatif seusai pelancong “membabat” habis wisata keraton di Kota Cirebon. Jaraknya dengan kota santri itu tak terlampau bikin punggung pegal. Kira-kira hanya dua puluh kilometer. Umumnya, kalau dijangkau menggunakan kendaraan bermotor, telaga yang masuk kawasan wisata Desa Kaduela tersebut bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit.
Di areal Taman Nasional Gunung Ciremai, Nilem seolah menjadi gerbang pembuka. Sebab, lokasinya berada paling muka, dekat dengan portal masuk. Jadi, umumnya, orang-orang mengunjungi telaga itu pagi-pagi benar. Di sana, mereka bisa melihat danau alami yang memiliki air sangat jernih. Saking jernihnya, biota yang hidup dalam air tampak dari permukaan.
Para pelancong biasanya memanfaatkan kolam ini buat snorkeling. Tak perlu khawatir bila tak bisa berenang. Di kawasan telaga, terdapat warung-warung yang menyediakan pelampung. Pun, bila tidak membawa baju ganti, para penjual tersebut jua menyewakan pakaian renang dengan biaya rata-rata Rp 20 ribu per pasang.
Telaga Remis
Sebelum embun-embun luruh dan cahaya matahari merasuk penuh, danau 3,25 hektare yang letaknya tak sampai 500 meter dari Telaga Nilem ini punya lanskap yang menarik. Airnya jernih serupa cermin, memantulkan bayangan pepohonan, yang seakan-akan membentuk pagar alami guna mengelilingi kolam raksasa itu. Kalau pagi, telaga dikunjungi warga sekitar yang berniat mencari ikan. Macam-macam jenis ikan air tawar hidup di sini. Semisal bawal dan nila.
Menurut kepercayaan warga sekitar, ada juga bulus raksasa yang berdiam. Bulus kadang-kadang muncul kalau dipanggil dengan ritual khusus. Memang, bulus disinyalir merupakan penunggu telaga, yang konon adalah jelmaan Pangeran Purabaya, utusan Kerajaan Mataram, yang berseteru dengan Sultan Matangaji, pemimpin Keraton Cirebon. Sementara itu, kalau siang, pengunjung kebanyakan merupakan keluarga berpiknik. Karena itu, di Telaga Remis banyak disediakan wahana untuk anak-anak, seperti sepeda air, bebek-bebekan, dan perahu mini.
Hutan Pinus
Masih dalam kompleks yang sama dengan Telaga Remis, hutan pinus berada di sisi kanan dan kiri pintu gerbang. Luas arealnya mencapai lebih dari 13 hektare. Pepohonan jangkung itu tumbuh rapat, membikin sejuk suasana sekitar telaga. Di dalam hutan, terdapat beberapa bangku buatan yang bisa dipakai untuk menikmati suasana.
Biasanya, keberadaan hutan dimanfaatkan para anggota keluarga untuk menggelar bekalnya. Sementara untuk muda-mudi, areal ini kerap dipakai buat lokasi foto. Beberapa bahkan memanfaatkan untuk lokasi pre-wedding. Sayangnya, keasrian hutan sedikit rusak dengan sampah anorganik yang menumpuk di beberapa sisi.
Telaga Biru
Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan Situ Cicerem. Lokasinya masih berada di Kecamatan Pesawahan dengan jarak tempuh kurang lebih 1 kilometer dari Telaga Remis menuju arah Paniis. Telaga ini punya julukan “Si Biru” lantaran warna airnya benar-benar biru, seperti rona air laut dalam. Di situ berdiam ribuan ikan bawal hitam dan nila merah yang selalu kelihatan menari-nari dan bergerombol bila diteropong dari atas telaga atau jalan.
Tempat ini dulu dikenal sebagai lokasi singgahnya para wali ketika menyebarkan agama. Karena itu, di sekitar telaga, bisa ditemui rumah-rumah “sesepuh” yang kerap didatangi orang-orang dari kota untuk mencari wangsit. Di telaga ini pula, menurut warga sekitar, ikan yang hidup dipercaya tak boleh dipancing karena memiliki pertalian dengan hal-hal yang berbau metafisika.
Belakangan, Telaga Biru menjadi lokasi incaran para selebgram. Dari atas sebuah batu, mereka bisa berfoto dengan latar kosong berupa telaga, ikan-ikan, dan pagar-pagar pepohonan yang rimbun serta ranum.
Bukit Batu Luhur
Butuh usaha lebih untuk menjangkau bukit batu kapur ini bila pelancong menempuhnya dari Telaga Biru. Lokasinya cukup jauh, kurang lebih 5 kilometer dari telaga, dengan kondisi jalanan sempit, berkelok-kelok, naik-turun, serta melewati hutan-hutan yang sepi. Jika belum hafal medan atau tak fasih-fasih benar mengemudi, sebaiknya mengajak orang lokal untuk mengantarkan sampai tujuan. Meski demikian, usaha buat mencapai bukit yang baru kesohor belakangan tersebut tak sia-sia.
Pemandangan berupa hamparan gundukan batu, dikelilingi hutan-hutan yang asri, langsung menyapa tatkala wisatawan tiba di lokasi. Di perbukitan lepas pandang itu, ada sebuah tebing dengan retakan kerucut tak sempurna. Masih di lokasi yang sama, terdapat kolam-kolam buatan yang langsung menghadap ke lanskap perbukitan. Juga ada rumah pohon yang bisa dipakai muda-mudi untuk berfoto.
Kimabalu Resto
Menjelang siang hampir sore, sewaktu lelah bermain di bukit yang membutuhkan trekking lumayan untuk mencapai titik-titik foto, singgah di restoran yang masih masuk kawasan Bukit Batu Luhur ini merupakan ide menarik. Di sana tersedia ragam olahan makanan Nusantara dan western. Menu favoritnya adalah BBQ Chicken, yang dimasak bergaya campuran—Indonesia dan Eropa: disajikan dengan hot plate, dimakan bersama kentang, namun diolah dengan bumbu tradisional.
Bersantap di Kimabalu terasa sensasional lantaran saat makan, pengunjung dihadapkan langsung dengan lanskap Bukit Batu Luhur dari ketinggian. Pun, konsep restorannya tampak asyik karena memadukan gaya bar dan suasana yang rustic. Menjelang sore, langit dengan sepuhan keemasan dan mega-mega lembayung yang menggelayut di atas bukit bisa disaksikan dari sana.
Kampung Batik Trusmi
Sebelum kembali ke kota asal, mencari oleh-oleh seakan-akan menjadi sebuah keharusan. Di jalan utama menuju Jakarta, tepatnya di daerah Plered, 3 kilometer dari Gerbang Jalan Tol Plumbon 2, terdapat sebuah perkampungan batik warisan Ki Gede Trusmi, pengikut setia Sunan Gunung Jati. Di kampung sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu, hampir semua rumah memiliki kesibukan yang sama, yakni membatik. Ada yang menggunakan cara tradisional—dengan canting—ada pula yang sudah modern, yakni membatik dengan sistem cap.
Kalau ingin melihat proses membatik, pelancong bisa mendatangi warga yang umumnya bermukim di gang-gang sempit. Mereka beraktivitas sekitar pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Sedangkan kalau hanya ingin belanja, wisatawan bisa mengunjungi show room yang tersebar di sepanjang jalan perkampungan itu. Umumnya, mereka menjual batik motif mega mendung, khas Cirebon, dengan harga mulai Rp 80 ribu untuk batik tulis dan Rp 35 ribu untuk batik cap per lembar.
Keheningan Ubud, Bali, tak pernah melahirkan kebosanan. Cerita tentang ketentraman dan harmoni. Saya menikmati keheningan itu lewat satu cangkir kopi. Dan Pasar Ubud yang memiliki keramahan.
Keheningan Ubud
Tanpa aba-aba, Putu menarik tuas mesin kopi. Tangan kanannya yang mungil cergas beradu dengan kotak besi yang lebarnya dua kali badannya. Sedangkan tangan kiri perempuan 24 tahun itu menyerong-nyerongkan cangkir keramik berwarna putih.
“Srrrrr…..” Nyaring bunyi perkakas memenuhi ruang 60 meter persegi di sebuah gang sempit di lambung Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di tangan Putu, mesin kopi itu menghasilkan secangkir latte art berpola mirip kembang kamboja.
“Satu hot latte single shot aroma Arabica Kintamani siap menemani,” ujar Putu sembari meladeni pesanan yang menumpuk. Bau khas biji kopi yang digiling kasar, pahit rasa seteguk latte, dan gurih susu murni dengan aroma yang masih segar menjadi pembuka sempurna perjalanan menjamah Ubud. Di sinilah halaman pertama itu dimulai, di ruang para seniman meracik kopi: Seniman Coffee.
**
Tak terperi ramainya kafe—yang lebih mirip galeri itu—kala akhir pekan di awal Februari lalu. Turis-turis dari Benua Eropa, Amerika, Australia, Afrika, berganti-gantian masuk-keluar; sekadar duduk menyeruput kopi; atau berlama-lama diskusi. Mereka asyik membincangkan perjalanan yang lalu sambil menyusun rencana baru.
Di antara riuh obrolan itu, saya duduk di tepi. Bar kayu yang menghadap ke jalanan Ubud menjadi pilihan yang pas. Sesekali, saya menimpali obrolan berbahasa Inggris. Sisanya, saya lebih suka melongok ke trotoar yang bersih dan menyaksikan penjor-penjor dengan aroma janur yang masih segar.
Sekali waktu, saya memperhatikan detail kafe sembari berdecak. Visual Seniman Caffee begitu terekam baik bagi para penggemar seni. Interior di dalam bangunan penyuka kopi ini begitu artsy. Kursi, misalnya. Pemilik kafe menggubah kursi plastik menjadi kursi goyang. Bagian bawah kursi itu dilapisi kayu berbentuk melengkung. Ia lantas punya sebutan khusus: the bar rocker.
Di sisi lain, tampak dua sepeda ontel menggantung di bawah atap beranda. Posisi keduanya yang simetris seolah-olah mengaminkan bahwa sepeda ontel itu adalah tiang penyangga atap. Tangan seniman jelas ikut campur dalam pembangunannya.
“Kecak dance, kecak dance. Don’t miss to watch kecak dance show tonight, Sir, Maddam.” Suara setengah berteriak tiga laki-laki berkostum kamen dan bertopi udeng memecah fokus. Intonasinya khas warga lokal Pulau Dewata.
Saya menengok, mencari-cari asal suara itu. Rupanya, mereka berdiri di tepi jalur pedestrian. Ketiganya tengah menawarkan pertunjukan tari kecak kepada wisatawan yang melintas. Ternyata, kafe ini dihimpit tempat menonton pertunjukan tari khas Bali.
Tak jauh dari Seniman Coffee, terdapat sejumlah wantilan atau balai desa yang kerap dipakai untuk tempat pentas para penari. Hampir saban malam, tari kecak, tari barong, dan pertunjukan tradisional lainnya ditampilkan di pelataran wantilan.
Saya mengingat, tak ada yang berubah dari Ubud; tahun demi tahun. Meski kedai-kedai kopi sederhana telah berubah menjadi kafe, suasana orisinal dari kehidupan masyarakat lokal tetap menonjol.
Belum lama memperhatikan interaksi tiga laki-laki Bali paruh baya dengan para wisatawan yang melintas, seseorang di belakang tiba-tiba menepuk punggung. “My eyes on the painting. Flowery painting shop in Ubud Market,” katanya. Ia seorang turis asal Jerman. Jane, yang baru saya kenal ketika mengobrol sekejap di Seniman Coffee, menceritakan kekagumannya pada Pasar Ubud.
Keheningan Ubud, salah satunya bisa diperoleh dengan menikmati keramahan Pasar Ubud. Foto: Ilusatrasi-iStock
Kalimat Jane memantik kenangan di masa lalu: Ubud yang syahdu dan nyanyi pasar yang lugu. Ah, tiba-tiba saya rindu menyusuri lorong-lorong pasar tradisional itu. Bergegas, saya mengambil tas jinjing, membayar secangkir kopi, dan mengayun langkah menuju pasar.
Tak sampai 15 menit, kaki saya berhenti pada lantai-lantai berwarna terakota. Suara orang ribut tawar-menawar memekakan telinga. Riuh, namun inilah sensasinya. Pasar Ubud selalu menyajikan kehidupan pasar Nusantara yang berbeda: para penjual menjajal berbahasa Inggris, para turis berusaha menimpali dengan bahasa lokal.
Wangi rotan merasuk seketika. Begitu juga bau cat air yang bergesekan dengan kanvas. Inilah sejatinya Pasar Ubud. Tak seperti pasar lain yang menjual kebutuhan pokok, pasar yang terletak di jantung kota seni tersebut lebih banyak menjajakan karya-karya seniman lokal.
Tas-tas bermodel ate bergelantungan. Lukisan warna-warni berjajar. Para turis ramai memburunya. Di sudut lain, pajangan dinding berulir motif bunga kamboja, pura, dan perempuan Bali menjadi benda yang merayu pandang.
Saya menyusuri petak demi petak, koridor demi koridor. Ada sebuah jalan turunan menuju pasar bagian bawah. Di bagian itulah pedagang menjajakan sayur-mayur. Ketimbang turis, di petak tersebut, orang-orang lokal lebih banyak dijumpai.
“Cari apa gek?” ucap seorang ibu. Gek. Saya familiar dengan panggilan ini. Gek alias jegek berarti cantik. Orang-orang Bali memang lazim menyapa perempuan lebih muda menggunakan sapaan tersebut. Saya berdesir, lagi tersanjung.
Ia, seorang ibu paruh baya yang menyapa tak lama tadi, melambaikan tangan. “Kamu mau buah?” ujarnya. Di depannya, berjejer keranjang jeruk Bali, apel, salak, dan rambutan. Di kepala Niluh, nama ibu itu, terlilit sebuah kain mirip handuk. Kain ini digunakan sebagai bantalan ketika ia membawa bertumpuk-tumpuk keranjang buah di kepalanya.
“Sini, gek, ambil saja untuk sarapan,”ujarnya. Ia, yang ramah, menawarkan buah cuma-cuma. Saya mendekat. Kamera di tangan seketika membidik aktivitasnya merapikan buah. Di layar kamera itu, keriputnya terlihat jelas.
Niluh, orang lokal asli Ubud, tak absen menyambangi pasar saban hari. Meski berusia senja, dia mengaku masih kuat bekerja. Niluh mencitrakan perempuan-perempuan Bali yang tangguh. Lama saya mengobrol dengan Niluh. Kami bercerita soal Ubud masa lalu yang nyenyat hingga lambat laun kota kecil ini mulai penuh wisatawan.
Menurut ceritanya, orang-orang Eropa paling gemar ke Ubud. Mereka menggemari relaksasi di tengah kota yang penuh terasering sawah dan hawa yang sejuk. Belakangan, turis India mulai masuk. Umumnya, mereka mengikuti kelas yoga seiring dengan meluasnya spektrum olahraga spiritual ini di Ubud.
Semburat oranye lambat-laun menyiram dari sudut barat pasar. Langit berangsur kekuningan. “Sudah sore, jalan-jalanlah ke tepi sawah,” kata Niluh. Saya tak menolak. Berkelana di Ubud memang tak komplet tanpa menyambangi persawahannya.
Menunggang motor matic berspion bulat, saya melaju pelan ke sisi utara Ubud. Sekitar 15 menit dari pasar tersebut, ada sebuah tempat menyaksikan lanskap terasering yang populer. Nama tempat itu Tegalalang. Tegalalang kerap mejeng di halaman-halaman muka kalender.
Keheningan Ubud meruap dari pundakan terasering sawah-sawah di kawasan ini. Foto: ilustrasi-iStock
Tegalalang kini menjadi destinasi utama. Dulu, kawasan itu hanya persinggahan bagi yang hendak ingin bepergian ke Danau Batur. Lanskap utama Tegalalang adalah hamparan berhektare-hektare sawah. Membentuk terasering, persawahan yang tampak dari jalan raya ini bak karpet hijau.
Semilir angin membuat padi di lahan bertingkat-tingkat itu bergoyang. Inilah keheningan Bali sesungguhnya. Saya membatin, ingin lebih dekat hingga menjangkaunya.
Jalan satu-satunya menuju persawahan itu adalah jalur setapak di antara kafe-kafe. Memang, jalanan di tepi Tegalalang dipenuhi kedai kopi fancy. Saya memilih masuk dari sebuah kafe milik warga lokal Bali. “Swatiastu, Bli. Numpang lewat,” kata saya menyapa laki-laki muda yang tampaknya seorang barista.
Dari kafe ini, ada jalan setapak menuju persawahan. Jalan itu berundak-undak. Mulanya tangga dari semen, lalu berganti tanah. Beberapa kali saya menyeberang sungai kecil. Airnya mengalir dan amat jernih.
Sekitar 30 menit petak-petak sawah itu saya lewati. Lalu saya bertemu sejumlah petani. “Hati-hati, gek, licin,” kata mereka yang tampak sedang mengairi sawah. Tak lama kemudian, saya tiba di bagian paling tinggi di terasering sawah tersebut. Saya memilih duduk di tepi jalan setapak. Kala itu, matahari mulai lesap.
Saya menikmati angin yang terasa makin semilir. Bunyi tenggoret bersahut-sahutan menjadi lagu alam paling merdu saat itu. Lambat-laun, persawahan itu oranye disapu sinar sore. Ujung daun padi ini terlihat kemilauan. Inilah waktu paling pas menikmati Ubud yang bersahaja.
Tak sampai hitungan jam, langit mulai gelap. Cahaya magenta dan awan yang menggelayut menjadi gerbang pembuka malam. Di hamparan sawah itu, Ubud berbicara: tak ada yang lebih sunyi dari udara yang berembus di antara padi, rotan, cat, dan kanvas. Bagi seniman, Ubud adalah sepetak ruang yang pas untuk berkontemplasi.