Kuliner Nasi Gurih, 8 Yang Khas dan Enak

Kuliner nasi gurih di Indonesia bergitu beragam, berikut 8 macam yang popular.

Kuliner nasi gurih di Indonesia sangat banyak, dari berbagai macam daerah ada yang memiliki masakan jenis ini. Mulai dari Aceh hingga Indonesia Timur. Di Jawa Barat dan Tengah rasanya banyak ragamnya.

Kuliner Nasi Gurih

Hal ini terjadi karena hampir setiap masakan di Indonesia pasti disajikan dengan nasi. Wajar saja karena nasi menjadi salah satu makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia. Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai macam olahan nasi dengan cita rasa khas yang menggugah selera. Salah satu olahan nasi populer di Indonesia adalah nasi gurih.

Nasi gurih adalah nasi yang dimasak dengan santan, dan dicampur berbagai rempah-rempah berkualitas khas Indonesia. Sehingga menghasilkan rasa nasi yang gurih dan beraroma harum.

Meskipun ada banyak jenis kuliner nasi gurih di Indonesia, namun setiap daerah seakan punya keunikan dan ciri khas dari olahan nasi gurih yang disajikan. Bahkan kita tidak akan menemukan nasi gurih yang sama di daerah lain.

Kuliner nasi gurih bisa dinikmati untuk sarapan, maka siang, hingga makan malam.
Nasi Uduk Betawi sangat dikenal oleh masyarakat. Foto: DOk. shutterstock

Nasi Uduk Betawi

Salah satu kuliner nasi gurih khas Betawi yang cukup populer. Dimasak dengan santan, daun salam, serta berbagai bumbu dan rempah khas Indonesia, sehingga nasi uduk memiliki cita rasa gurih dan lezat.

Sama halnya dengan nasi putih biasa, nasi uduk bisa disantap dengan berbagai macam lauk, seperti orek tempe dan sambal kentang. Namun, ciri khas nasi uduk khas Betawi adalah paduan lauk semur jengkol dan empal yang siap menggoyang lidah sejak suapan pertama. Ciri khas lainnya adalah sambal kacang sebagai penambah selera.

Nasi Ulam

Selain nasi uduk, olahan kuliner nasi gurih khas Betawi yang tidak kalah populer adalah nasi ulam. Perbedaan nasi ulam dan nasi uduk ada pada proses memasaknya, yakni tidak menggunakan santan.

Untuk memberikan rasa lezat, harum, dan gurih, nasi ulam dimasak dengan campuran serai, jahe, lengkuas, dan daun salam. Ciri khas nasi ulam disajikan dengan taburan bubuk kacang tanah, serundeng, bihun, kemangi, emping, serta berbagai lauk lainnya seperti telur, tahu, tempe, dan perkedel.

Nasi Liwet Solo

Kuliner nasi gurih selanjutnya adalah nasi liwet. Ada dua versi nasi liwet yang bisa dicoba, yaitu nasi liwet versi Sunda dan nasi liwet versi Solo.

Nasi liwet versi Sunda biasanya dimasak langsung dengan ikan teri asin, cabe merah, dan pete, serta berbagai bumbu dan rempah-rempah. Lauknya juga sangat beragam, mulai dari tahu, tempe, ayam goreng, dan lalapan.

Sementara itu nasi liwet khas Solo nasinya dimasak tanpa ikan asin. Sebagai pelengkap, nasi liwet khas Solo disajikan bersama telur areh, sayur labu siam, dan ayam suwir yang telah diungkep.

Penyajiannya pun berbeda, biasanya nasi liwet khas Sunda disajikan di panci kastrol, sedangkan nasi liwet khas Solo disajikan di pincuk daun pisang.

Nasi Kuning

Jenis nasi gurih yang tidak kalah lezat berikutnya adalah nasi kuning. Perbedaannya dengan nasi gurih lainnya adalah nasi kuning dikukus pakai santan, serai, dan campuran kunyit untuk memberikan warna kuning cerah.

Sebagai pelengkap, nasi kuning disajikan bersama lauk kering kentang balado, telur rebus, dan ikan masak kecap atau sambal. Nah, menariknya nasi kuning juga kerap dijadikan sebagai nasi tumpeng dengan berbagai macam lauk, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Ada beberapa daerah yang memiliki sajian nasi kuning, seperti Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan Timur, juga Makassar di Sulawesi Selatan.

Nasi Tutug Oncom

Jauh berbeda dengan kuliner nasi gurih lainnya, nasi tutug oncom khas Jawa Barat tak kalah lezat. Perpaduan antara nasi hangat yang dicampur oncom menghasilkan cita rasa yang unik. Semakin nikmat ditambah bawang goreng, irisan telur dadar, sambal terasi, dan ikan asin!

Bagi yang belum tahu, oncom adalah makanan fermentasi yang terbuat dari campuran kapang, bungkil kacang tanah, serta ampas tahu, kedelai, dan kelapa.

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock
Nasi gurih khas Cirebon adalah nasi Jamblang. Foto: dok. shutterstock

Nasi Jamblang

Masih dari Jawa Barat, tepatnya daerah Cirebon. Kalau diamati, sebenarnya nasi jamblang mirip dengan nasi pada umumnya, yang disajikan dengan sambal goreng, tahu, tempe, perkedel, hingga sate jeroan.

Hanya saja, salah satu ciri khas dan pembeda nasi jamblang dengan nasi gurih lainnya terletak di penyajiannya, yaitu dibungkus menggunakan daun jati. Sehingga, akan menghasilkan rasa yang lebih gurih dan wangi pada nasinya.

Nasi Timbel shutterstock

Nasi Timbel

Perbedaan nasi timbel dengan nasi gurih lainnya ada pada proses memasaknya. Nasi timbel dimasak dengan cara dikukus dengan berbagai bumbu rempah dan dibungkus daun pisang.

Kuliner yang banyak ditemukan di tataran Sunda ini disajikan dengan ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan tak lupa lalapan. Perpaduan nasi gurih, lauk yang lezat, serta sambal terasi pedas menyatu sempurna dan bikin ketagihan.

Nasi Guri Aceh

Aceh juga memiliki kuliner berupa nasi gurih yang disebut bu guri. Seporsi nasi gurih khas Aceh atau bu guri adalah nasi yang dimasak dengan santan dengan tambahan bumbu dari rempah-rempah. Karenanya rasanya menjadi gurih dan aromanya rempahnya kuat.
Untuk lauknya, nasi gurih disajikan dengan kering kentang, kacang goreng, rendang, ayam tangkap, tumisan sayur, sambal dan lainnya. Nah, nasi gurih banyak ditawarkan oleh warung makan dan restoran Aceh.

Bagaimana, sekarang sudah bisa membedakan berbagai macam kuliner nasi gurih khas Indonesia, bukan?

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Camilan Kecil Bagansiapiapi, 3 Yang Khas

Kue Denderam

Camilan kecil Bagansiapiapi bisa menjadi pilihan untuk dinikmati ketika Anda mampir ke kota ini menikmati atraksi budaya Bakar Tongkang tiap tahunnya.

Camilan Kecil Bagansiapiapi

Bagansiapiapi, sebuah kota tua di muara Sungai Rokan, pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang menyimpan berlaksa hikayat, menjadi saksi mata masuknya aktivitas perdagangan dari negeri seberang ke Nusantara. Alkisah, di kota ini pula, akulturasi menjadi sebuah peristiwa yang melahirkan berbagai fenomena kultural. Peninggalan tempo dulu—tak hanya gedung—kuliner pun masih banyak tertinggal.

Si Legit dari Semenanjung Malaysia

Pada 1910-1918, Inggris membawa para pekerja perkebunan karet dan pertambangan timah dari India Selatan menuju Malaysia. Sebuah artikel yang dimuat media The Star menyebut, masuknya kaum buruh ke tanah Melayu pada masa itu meninggalkan beberapa warisan yang masih terlacak sampai sekarang, salah satunya kuliner. Yang populer dan mudah ditemui di berbagai tempat adalah kuih atau kue denderam.

Kue ini bak penganan egalitarian yang umum disantap siapa pun, mulai pekerja akar rumput hingga kaum bangsawan. Pada masa lampau, masyarakat menyebutnya sebagai kuih keling lantaran warnanya tampak cokelat berkilau. Bahkan, penyebutan itu masih digunakan sampai si keling bercita rasa legit ini masuk ke daratan Sumatera bagian tengah melalui sebuah daerah kecil bernama Bagansiapiapi. Lantaran diduga merujuk pada kaum tertentu, penamaan kue keling berangsur-angsur tak lagi digunakan. Maka itu, penamaannya memakai julukan semula, yakni denderam.

Denderam, seperti yang berasal dari tanah asalnya, menjadi penganan wajib yang harus disantap kalau wisatawan datang ke Riau, khususnya Bagansiapiapi. Kue yang terbikin dari gula merah dicampur dengan tepung beras itu adalah bukti nyata terjadinya akulturasi budaya antara Melayu, India, dan Chinese di tanah Bagan. Salah satu penjual denderam yang masih eksis hingga kini, Lisa, menjelaskan, bahan untuk mengolah serta cara memasak denderam tak boleh main-main.

Ia mencoba membikin kue berbentuk bunga lima jari sesuai dengan resep asli. “Harus pas betul komposisi gula dan tepungnya. Gula harus lebih banyak daripada tepung,” katanya kala ditemui Travelounge di Bagansiapiapi beberapa waktu lalu. Bentuk pun tak diubah. Selain karena tak ingin kehilangan keaslian, Lisa pingin pembeli merasakan betul sensasi menyantap kue denderam menyerupai yang dijual di tempat asalnya. Pun, menilik sejarahnya, ia menghormati keberadaan kue yang dulunya dimasak untuk upacara-upacara keagamaan itu. Sebiji kue dihargai Rp 1.000.

Kue Denderam Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

camilan kecil Bagansiapiapi seperti kue KasmaKue Kasma
Kue Kasma khas bagansiapiapi.

Kasma, Kue dari Tanah Si Panda

Tak cuma menjual kue bergaya fusi, Lisa juga menjajakan penganan khas peranakan. Salah satunya kue kasma. Lantaran masyarakat Bagansiapiapi mayoritas dihuni warga Tionghoa, menu-menu camilan ringan pun banyak yang berbau Negeri Bambu, seperti yang mengandung kacang hijau. Begitu juga dengan kasma.

Kue ini komplemen utamanya memang polong-polongan. Hal itu terbukti dari penampilan luarnya. Lisa menjelaskan, kasma, yang berbentuk bulat pipih, terbikin dari pulut yang direbus, lalu dikukus, lantas dilumuri dengan tepung panir dan bubuk kacang hijau. Bagian dalamnya tak kalah. Isinya tak lain tak bukan ialah kacang hijau yang diolah bercampur gula merah. Teksturnya lembut sekaligus kenyal, hampir mirip dengan sagu yang dimasak.

Manisnya kasma, kata Lisa, cocok disantap sambil menyeruput teh kala sarapan atau menikmati sore di beranda. Tentu mirip dengan budaya masyarakat Tionghoa yang gemar meminum teh hijau. Apalagi, suasana di Bagansiapiapi yang kental ciri peranakannya membawa ingatan pada kota lama Taiwan yang lekat dengan romansanya. Kue kasma tak kalah murahnya dengan denderam, yakni Rp 1.000.

Kue Kasma Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

Udang Bagan di Balik Tepung dan Obrolan Hokkien

Lohan Ki tengah mengaduk-aduk adonan tepung berisi kangkung, bawang putih, jeruk nipis, dan udang Bagan kala kami sampai di kedai bergaya arsitektur Tionghoa kuno miliknya. Setumpuk heci yang baru mentas dari penggorengan mendarat di meja sebelah perempuan paruh baya berwajah peranakan itu. “Sebentar, pesanan banyak, antre ya,” tuturnya. “Mau lim (minum) kopi dulu ha?” katanya dengan logat Hokkien. Saya lantas mengiyakan sembari menunggu gorengan yang katanya legendaris ini tersedia.

Kasman, profesor sekaligus pegiat budaya yang mengajak kami berkeliling Bagansiapiapi, mengisahkan betapa kesohornya warung yang sudah belasan tahun itu berdiri. Pantas saja, setiap hari, deretan kursi di kedai selalu penuh oleh warga, yang datang sekadar untuk mengicip heci dan menyesap seseruput kopi Bagan. “Apa bedanya heci di sini dengan bakwan di Jawa Tengah atau ote-ote di Jawa Timur?” tutur Kasman, mengetes. Berbarengan dengan pertanyaan yang membikin bingung itu, sepiring gorengan tepung yang telah dipotong kecil-kecil berbentuk dadu dihidangkan. “Ini jawabannya,” kata Kasman sembari menusuk udang yang terpisah dengan tepung.

 Ya, menurut akademikus itu, yang membikin spesial adalah aroma udang asli Selat Malaka yang gurih bercampur aroma bawang dengan karakternya yang kuat. Belum lagi gorengannya yang kering, namun menyisakan tekstur juicy di bagian dalamnya. Dominasi rasa yang kaya bumbu dan cara masak yang tepat membikin heci terasa tak sia-sia masuk mulut. Sepiring heci bisa disantap beramai-ramai bersama teman nongkrong. Pun harganya sangat murah, yakni Rp 20 ribu. Sembari mengunyah penganan yang renyah itu, obrolan-obrolan dengan irama Hokkien memenuhi ruangan. Suara racikan kopi dengan penyeduhan bergaya tarik dengan teko-teko tradisional turut menjadi irama yang merdu.

Heci Lohan Ki

Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 18.00-00.00

F. Rosana

Dawet Ayu Banjarnegara, Minuman Juara API 2020

Dawet Ayu Banjarnegara tahun ini keluar sebagai juara kategori minuman dalam API 2020.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi minuman tradisional juara Anugerah Pesona Indonesia 2020 atau API 2020. Ia mengalahkan Kopi Semendo dari Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan yang sedang naik daun dan Air Mata Bejando dari Kabupaten Pelalawan di Provinsi Riau yang mulai dikenal masyarakat.

Dawet Ayu Banjarnegara

API 2020 menobatkan dawet ayu sebagai minuman tradisional terpopuler di Indonesia. Ini adalah kuliner jenis minuman yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Agung Yusianto, kepada tempo.co, mengatakan bahwa kemenangan dawet ayu membuktikan minuman tradisional ini cita rasanya diterima masyarakat Indonesia. Tidak saja bagi masyarakat Banjarnegara di mana minuman ini berasal, tapi juga secara luas di lidah masyaeakar dari daerah lain.

Pengumumnan pemenang Anugerah Pesona Indonesia 2020 sendiri berlangsung di Hotel Inaya Bay Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 20 Mei 2021 malam. Tak hanya menyandang predikat sebagai minuman tradisional terpopuler, menurut Agung, dawet ayu juga menjadi juara favorit Pesona Indonesia 2020 .

Agung berharap penghargaan terhadap dawet ayu di API 2020 ini menjadi mendorong dan menginspirasi para pelaku usaha kuliner dan UMKM di Banjarnegara untuk terus berkreasi dan berkembang. Ia juga diharapkan makin memperkenalkan Banjarnegara ke seluruh Indonesia.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi juara favorit dalam anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Dawet Ayu Banjarnegara dijual dengan cara gerobak atau pikulan. Foto: Dok. unsplash

Meskipun baru menang di API 2020, dawet ayu Banjarnegara, Jawa Tengah, ini sesungguhnya sudah lama dikenal masyarakat hampir di seluruh Indonesia. Bahkan minumannya sudah beredar di banyak kota di Indonesia. Mengutip harian Kompas, penyebaran dawet ayu ke sejumlah daerahini  terjadi karena ada mobilisasi masyarakat Jawa Tengah pada 1980-an ke banyak wilayah.
Penyebaran ini terjadi karena perpindahan alamiah, maupun adanya program transmigrasi pada masa itu. Orang-orang Banjarnegara dan Banyumaslantas  diduga membuat dawet di tempat tinggal baru mereka. Dari sanalah kemudian dawet ayu Banjarnegara bisa terkenal. Penjual dawet ayu di daerah-daerah itu belum tentu dari Banjarnegara, tetapi nama produknya tetap dawet ayu khas Banjarnegara.

Lalu dari mana asal muasal minuman dawet ayu ini bermula sesungguhnya? Apa pula bedanya dengan es cendol yang juga dikenal oleh banyak orang.

Asal usul dawet ayu masih simpang siur dan punya banyak versi. Salah satu versinya menyebut, dawet Banjarnegara bisa popular konon berawal dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono. Lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” ini dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol pada 1980-an. Grup ini terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.

Selain versi tersebut, ada pula versi sastrawan asal Banyumas, Ahmad Tohari, yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20.
Sementara soal pembuatannya, ss dawet dibuat dari rebusan tepung beras. Sedangkan warna hijaunya diperoleh dari perasan daun pandan. Ada pula yang menyebut warna hijau itu dibuat dari daun suji.

Secara umum proses produksinya mirip dengan pembuatan cendol. Mungkin orang senang membandingkan ke duanya, selain bentuknya mirip, juga karena popularitas lagu campur sari milik almarhum Didi Kempot. “Cendol, dawet, cendol, dawet…” sepotong syair lagu Pamer Bojo milik Didi yang populer dikalangan sobat ambyar, sebutan bagi penggemar pemusik ini.

Dawet Ayu Banjarnegara secara tampilan mirip dengan Cendol yang banyak dkenal masyarakat di Jawa Barat.
Minuman Es Cendol di Jawa Barat yang tampilannya mirip dengan es Dawet Ayu. Foto: Dok. Unsplash

Minumannya sendiri, secara sekilas jika dilihat, cendol dan dawet ini tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama dihidangkan dengan larutan gula merah sebagai pemanis dan diguyur dengan santan cair. Begitupun, oleh para pemerhatu kulinari, ada perbedaan yang menonjol antara cendol dan dawet, yakni bahan bakunya. Cendol dan dawet sama-sama terbuat dari tepung, tetapi meggunakan jenis tepung yang berbeda. Namun, campurannya sama, pemanisnya menggunakan gula kelapa, dan santannya alami dari perasan buah kelapa segar.
Beda dengan dawet, cendol menggunakan tepung kacang hijau atau hunkwe.
Es cendol sendiri disebut-sebut berasal dari kata jendol, yang dalam bahasa Sunda artinya jendolan. Hal ini merujuk pada tekstur butiran cendol yang bentuknya tak beraturan. Asal ke dua minuman yang mirip ini ternyata yang berbeda. Jika dawet ayu dari Banjarnegara, Jawa Tengah, sedangkan cendol berasal dari Jawa Barat.

Para penjual dawet ayu biasanya menggunakan pikulan yang khas untuk berjualan. Pikulan tersebut disebut angkringan dawet ayu atau angdayu. Ada dua gentong besar yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri pikulan. Isinya masing-masing adalah santan dan dawet. Gentong besar tersebut dibuat dari tanah liat yang dipercaya bisa menjaga suhu dawet dan santan tetap dingin sehingga pedagang tak perlu lagi menggunakan es batu.

Kini, mungkin karena perubahan iklim yang membuat hawa lebih gerah, banyak juga penjual dawet yang menggunakan es. Sekarang juga semakin banyak pedagang yang menjual dawet dengan gerobak dan menggunakan ember plastik ketimbang gentong tanah liat. 

Jika Anda punya kesempatan mampir ke Banjarnegara, berikut ada beberapa tempat es dawet ayu yang terkenal di kota ini.

Bakso dan Dawet Ayu Asli Hj. Munardjo

Jl. M.T. Haryono No.12-22, Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara

Jl. Stadion Selatan, Parakancanggah, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Dawet Ayu Banjarnegara Pak Sunardi

Jl. Sunan Gripit, Rejasa, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah

agendaIndonesia

*****

5 Sajian Khas Pasundan Di Lintas Selatan

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Jawa Barat

5 Sajian khas Pasundan di Lintas Selatan Jawa Barat ke Jawa Tengah ini bisa menjadi pilihan jika tengah melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi. Mulai ayam bakar bambu hingga pindang ikan.

5 Sajian Khas Pasundan

Jalur selatan merupakan jalur utama transportasi darat yang menghubungkan sebagian besar kota-kota di Jawa Barat. Bahkan, jika menggunakan kendaraan pribadi, jalur ini terkadang dijadikan alternatif untuk menuju kota-kota di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Mengingat kondisinya yang sangat strategis, melewati Bandung, Garut, Tasik, hingga Ciamis, tak mengherankan jika di sepanjang jalur selatan banyak ditemukan rumah makan. Mayorita tentu menyajikan masalan ala Sunda.

Ayam Bakar Bambu

Rumah makan ala Sunda di Ciamis, Jawa Barat, ini menawarkan hidangan menggiurkan, mulai patin bakar bambu, gurame bakar cobek, hingga ayam bambu ala Cibiuk. Pilihan saya jatuh pada sajian yang terakhir. Menu ini berupa potongan-potongan kecil ayam kampung yang diberi bumbu dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dimasukkan ke sebilah bambu, kemudian dibakar.

Penyajiannya cukup unik karena potongan bambu ikut dihadirkan. Untuk dapat menikmatinya, kita cukup mengambil bungkusan ayam dalam daun pisang tadi melalui lubang bambu. Saat dikunyah, potongan ayam terasa lunak dan bumbunya begitu terasa. Satu porsi menu ini dihargai Rp 75 ribu.

RM Cibiuk

Jalan Raya Sindangkasih Nomor 90

Ciamis, Jawa Barat

Buka pukul 08.00-22.00

Pindang Ikan Mas

Selepas pintu Tol Cileunyi dari arah Jakarta, jalur selatan mulai membentang. Rumah makan pun  ramai menyambut. Banyak pilihan di daerah ini. Namun pilihan saya jatuh pada rumah makan yang konon terkenal dengan menu pindang ikan mas. Layaknya olahan pindang lain, pindang ikan mas yang satu ini juga berwarna cokelat, tapi cenderung kehitaman. Dalam satu piring, disajikan dua ekor ikan mas.

Sekilas, tampilannya terlihat kurang menggiurkan. Tapi jangan salah. Saat dicoba, daging ikan terasa lunak. Duri-duri halus ikan mas, yang dikenal banyak, tak terasa. Bahkan tulang bagian tengah ikan terasa renyah. Rasa menu seharga Rp 20 ribu ini cukup manis dan tidak tercium bau amis.

Mak Ecot 2

Jalan Nagrek Km 36

Kabupaten Bandung

Buka: pukul 07.00-24.00

5 sajian khas pasundan salah satunya di Rumah Makan Gentong
Interior Rumah makan Gentong di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Nasi Liwet Gepuk

Bagi yang pernah melewati jalur selatan Jawa Barat, mungkin pernah melihat rumah makan yang satu ini. Tapi tahukah jika salah satu menu andalan rumah makan yang berada di sisi jalan ini adalah nasi liwet gepuk? Olahan nasi liwet sebenarnya sama seperti nasi biasa. Bedanya, nasi liwet telah diberi bumbu sebelum ditanak sehingga rasanya lebih gurih. Nasi tersebut disajikan lengkap dengan gepuk atau daging sapi goreng, sayur asam, tahu-tempe goreng, sepotong ikan asin jambal, lalapan, dan sambal. Menu ini, untuk porsi satu orang, dihargai Rp 36 ribu.

Jika ingin porsi yang lebih banyak karena datang bersama keluarga, tak ada salahnya memilih paket nasi liwet kendil. Paket ini cukup untuk tiga orang. Sesuai dengan namanya, nasi liwet dihidangkan dengan kendil. Pilihan menunya bisa berupa gepuk, ayam goreng/bakar, atau pepes ayam/ikan, tergantung selera.

RM Gentong

Jalan Raya Gentong Nomor 16

Ciawi, Tasikmalaya

Buka: pukul 07.00-21.00

Nasi Tutug Oncom

Rumah makan ini juga masih berada di Tasikmalaya. Lumayan ramai pengunjungnya saat saya mengunjunginya siang itu. Awalnya, saya mengira rumah makan ini hanya menyediakan berbagai olahan dari buah stroberi, sesuai dengan namanya. Ternyata dugaan saya meleset. Rumah makan ini justru menyediakan berbagai masakan ala Sunda. Salah satunya nasi tutug oncom.

Di tempat ini, nasi putih tak dicampur dengan oncom saja, tapi juga dengan emping yang menjadi ciri khas. Selain itu, dalam setiap porsi, menu seharga Rp 38 ribu itu telah dilengkapi ayam goreng, tahu goreng, tempe mendoan, sayur asem, potongan ikan asin jambal, lalapan, dan sambal.

Liwet Astro (Asep Stroberry)

Jalan Raya Ciawi Nomor 5

Tasikmalaya

Buka: 24 jam

Aneka Ayam

Saat melintasi perbatasan Ciamis-Banjar, saya mendapati rumah makan dengan bentuk bangunan berupa rumah panggung dengan warna merah mencolok. Umbul-umbul yang terpasang di sisi jalan juga semakin menambah penasaran. Saya pun tertarik menyambanginya. Sesuai dengan namanya, menu yang diandalkan memang beragam olahan ayam. Ada ayam goreng, ayam bakar, ayam rica-rica, dan lainnya. Pilihannya tersedia dalam beberapa paket, yakni paket A, B, dan C. Paket ini menunjukkan besar ukuran ayam. Untuk paket A, ayamnya berukuran kecil. Sedangkan paket C, ayam berukuran besar.

Saya lantas memesan paket ayam bakar paket A. Satu porsi relatif lengkap. Selain ada nasi putih dan ayam bakar, ada pula lalapan dan sambal. Bumbu ayam bakarnya cukup terasa dan daging ayamnya lumayan empuk. Harga per porsi mulai  Rp 13 ribu.

Ayam Fresh

Jalan Raya Banjar

Ciamis, Jawa Barat

Buka: pukul 08.00-22.00

Andry T./Prima M/Dok. TL

Pantai Pandawa Bali 1 Yang Sembunyi di Balik Tebing

Pantai Pandawa Bali dengan orang-orang Berenang

Pantai Pandawa berpasir putih dengan ombak yang tenang berada di balik bukit kapur yang berhias arca. Pantai berpasir putih ini seperti memanggil-manggil dari bawah ke mereka yang masih di atas bukit.

Pantai Pandawa Bali

Jalan terus menanjak dari arah Jimbaran Bali, melewati bukit-bukit kapur. Setelah itu, baru ditemukan jalan mulus dan lebih lapang. Saya langsung merasa senang. Padahal papan penunjuk Pantai Pandawa belum terlihat. Lagipula, saya masih berada di daerah perbukitan, tentu pantai masih jauh. masih jauh?

Namun, tak lama kemudian, ternyata kami menemukan pertigaan lebar yang menunjukkan arah ke Pantai Pandawa. Setelah melewati sebuah vila yang tengah dibangun di sebuah belokan, terlihat gerbang lebar menuju Pantai Pandawa yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini dapat dijangkau sekitar satu jam dari Bandara Ngurah Rai.

Gerbang pantai tak menandakan bahwa lokasi sudah dekat. Jadi jangan harap Anda akan langsung melihat bibir pantai. Para pengunjung “dibawa” meliuk-liuk di kelokan yang menurun. Terlihat Pantai Pandawa dari ketinggian. Ombak yang kadang terlihat seperti melambai-lambai memanggil untuk segera sampai dan menyelupkan kaki ke air laut yang mengayun di sepanjang pantai

Di sepanjang jalanan yang turun dan meliuk itu, terlihat tebing-tebing yang dilobangi di sepanjang jalan menuju pantai. Di dalam lekukan-lekukan tebing itu terlihat patung Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa, berdiri berjajar .

Pantai Pandawa Bali
Suasana Pantai Pandawa Bali.

Keberadaan Pandawa Lima ini mempunyai makna tersendiri. Informasi ini saya dengar dari sang pengemudi yang mengantarkan kami siang itu. Kisahnya diambil dari cuplikan cerita Mahabarata saat kelima pandawa dikurung dalam Gua Gala-gala. Ketut, pria yang bekerja di balik kemudi itu, menjelaskan satu per satu tokoh yang muncul dalam pewayangan tersebut. Lantas, ia bertutur dalam cerita ini, kelima dewa berhasil menyelamatkan diri dengan membuat terowongan hingga mencapai hutan dan mendirikan Kerajaan Amertha.

Dinding-dinding kapur, yang dihiasi arca, tidak saya singgahi lebih dulu. Saya tunda saat pulang saja. Maklum, dari ketinggian, ombak dan pasir putih pantai seperti memanggil-manggil. Pantai itu benar-benar berada di balik tebing. Namun saya datang di saat yang kurang tepat, yakni pada Minggu dan siang hari. Di akhir pekan, pantai yang tengah naik daun ini tumplek dengan turis dari berbagai wilayah, mulai yang berkulit gelap hingga yang pucat. Kursi-kursi di tepian pantai pun terisi penuh.

Belum lagi teriknya menyengat. Walhasil, setelah sempat berjalan beberapa saat, saya memilih duduk di sebuah warung miliki Nenek Giri Yono. “Enaknya di sini kalau sore, siang gini panas,” ucapnya. Saya pun menyeruput minuman dingin. “Tapi ini ramai karena hari libur,” tuturnya. Ibu tua itu mengaku warga asli Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Sejak banyak wisatawan datang ke Pantai Melasti—namanya sebelum berganti menjadi Pandawa, ia mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dulu di sini tempat upacara Melasti,” ujarnya. Katanya, tak banyak turis yang datang. Melasti adalah rangkaian perayaan Nyepi.

Terik masih terasa meski sudah mulai pukul 15.00. Tidak lama setelah berbincang hangat dengan ibu tua yang mengaku hidup berdua dengan suaminya itu, saya menyusuri jajaran kios di salah satu sisi. Aneka aksesori khas pantai, seperti topi, ikat kepala, dan kain menjadi benda yang banyak dijajakan. Di pantai, tak peduli mentari yang tengah bersinar kuat, anak-anak, remaja, maupun orang tua asik berperahu. Ada pula yang mendayung kano perlahan atau melaju kencang dengan banana boat. Ombak yang tenang menjadi teman yang mengasikkan.

Dengan bingkai langit nan biru dan awan putih, para pengandrung paralayang bergaya seperti burung besar, melayang-layang di antara keindahan langit dan air laut. Saya berjalan perlahan, menjauh dari keriuhan, mampir ke penjaja es potong dan meninggalkan bibir pantai, menatap tebing dengan tulisan “Pantai Pandawa”, sebelum akhirnya merebahkan diri di mobil. Seperti niat awal, sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, saya singgah di depan patung lima Pandawa sembari menatap pantai dari kejauhan. l

Rita N/Fazzu F/Dok TL

Café Dangdut New York, 1 Citra Indonesia

cafe dagdut new york memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia di New York. Foto: KJRI New York

Café Dangdut New York, nama ini rasanya langsung ‘menonjok’ rasa ingin tahu yang mendengarnya. Apa yang dijual di sini: kopi atau musik dangdut?

Cafe Dangdut New York

Nama Café Dangdut terdengar sangat Indonesia. Itulah alasan Fitri Carlina, seorang penyanyi yang besar melalui musik dangdut di Indonesia, bersama dua rekannya, Dina Fatimah dan Romy Sembiring, mendirikan Café Dangdut di Long Island City, New York, Amerika Serikat. Bersama Dina, atau yang dikenal dengan panggilan Eski, Fitri melihat bahwa budaya Indonesia sangat layak dan potensial untuk diperkenalkan di Amerika Serikat.

“Ide mendirikan Café Dangdut New York muncul sekitar awal Maret 2021. Saat itu, kebetulan saya juga tampil di acara Super Bowl Week,” kata Fitri. Menurutnya, istilah ‘dangdut’ mulai dikenal di negeri Abang Sam itu. 

Cafe Daangdut New York tidak saja memperkenalkan kulinari Indonesia, tapi juga budaya pop melalui musik dangdut.
Kopi adalah salah satu budaya masyarakat Amerika. Foto: Dok. shutterstock

Lalu, terpikir untuk membuat coffee shop bernuansa dangdut di New York bersama Eski yang juga terlibat dalam acara Super Bowl Week. Dalam waktu sebulan, mereka memikirkan ide, logo, dan menyiapkan coffee truck. Akhirnya pada September 2021, Café Dangdut soft launching. “Saat itu kami masih menggunakan coffee truck dan booth,” kata Fitri.

Kebetulan pula ketika itu ada acara Indopop Movement, sebuah organisasi atau yayasan yang bertujuan untuk membantu dan mendukung potensi Indonesia, baik kuliner, fesyen, budaya, di Amerika, khususnya New York. Momentum ini dimanfaatkan oleh Fitri dan Eski untuk mempromosikan Café Dangdut di depan Time Square.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan dengan mengikuti bazar dan festival di sana-sini, ke duanya memutuskan untuk membuka Café Dangdut secara permanen di Long Island City. Sambutannya cukup bagus. Bahkan antrean orang yang ingin mencoba kopi di Café Dangdut sangat panjang.

“Mas Menteri Sandiaga Uno juga sudah datang ke Café Dangdut. Rasanya tidak menyangka bisa seperti ini,” kata Eski.

Cafe Dangdur NewYork
Menteri Pariwisata Sandiaga Uno berkesempatan mampir ke Cafe Dangdut New York. Foto: Cafe Dangdut.

Meski sudah memiliki gerai permanen, Fitri dan Eski memutuskan untuk terus melakukan mempromosikan Café Dangdut New York dengan coffee truck selama setahun. Tujuannya, kata Fitri, untuk menarik lebih banyak orang dan membuat penasaran warga sekitar.

“Sampai saat ini, Café Dangdut masih menggunakan coffee truck dalam rangka promosi kopi. Kami membagikan kopi secara gratis kepada customer yang datang,” lanjut Eski.

Sambil promosi, proses pengurusan izin dan inovasi menu terus dilakukan. Pelan-pelan, Fitri dan Eski mencari barista dari Diaspora karena ingin memperlihatkan kepada warga sekitar tentang hospitality yang ramah khas Indonesia. Sempat menemukan beberapa kendala, tapi ke duanya bisa menyelesaikannya dengan baik.

“Beruntung Diaspora di sini sangat suportif. Banyak pengusaha swasta dan owner kafe Indonesia lainnya juga yang mendukung kehadiran Café Dangdut. Kami mendirikan Café Dangdut New York bukan untuk menjadi saingan, tapi justru untuk menambah khasanah kuliner Indonesia di Amerika,” ujar Fitri.

Diakui juga oleh ke duanya, mendirikan tempat makan di New York harus siap menerima syarat dan izin yang cukup ketat dari pemerintah setempat. Café Dangdut New York berkomitmen untuk menjaga kualitas bahan baku. Namun, masalah distribusi dan logistik harus dihadapi oleh Fitri dan Eski dan cukup berpengaruh pada harga makanan dan minuman serta ketersediaan supply di Café Dangdut.

Mereka mengaku sudah banyak melakukan audiensi ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat di Chicago dan lembaga Indonesia terkait mengenai kendala logistik. Karena masalahnya bahan baku dan sangat penting. Jika biasanya bahan baku bisa tiba dua bulan, kini harus menunggu bahkan sampai empat bulan. “Akhirnya ada beberapa bahan baku yang kami hand carry agar bisa stabil antara supply dan demand-nya,” ucap Eski.

Meskipun banyak kendala yang menghampiri, Fitri dan Eski mengaku puas dengan apa yang sudah mereka capai bersama Café Dangdut New York. Hampir 70 persen pembeli atau pelanggan mereka adalah warga lokal, ini sesuai target mereka. Lokasi Café nya pun cukup strategis dan mudah ditemukan.

Cafe Dangdut berada di lingkungan anak-anak muda dan hipster elit, dekat dengan stasiun, kampus, serta tempat nongkrong anak-anak muda dan komunitas warga Indonesia. 

Biji Kopi Arabica shutterstock
Aneka biji kopi arabica. Foto: dok. shutterstock

Menurut Eski, rata-rata pelanggannya suka dengan cita rasa kopi Indonesia yang manis, khususnya kopi Gayo. “Kami juga menjual kopi lainnya, seperti kopi luwak, kopi dari Papua dan daerah lainya. Warga lokal sini penasaran dengan jenis-jenis kopi dari Indonesia,” imbuh Fitri.

Dengan adanya Café Dangdut di New York, Fitri dan Eski berharap bisa memperkenalkan Indonesia. Tidak hanya dengan kopi dan hidangan saja, tetapi juga dengan budaya dan lifestyle Indonesia.

Selain kopi dan beberapa kudapan khas Indonesia, Café Dangdut memperkenalkan musik dangdut dan fesyen Indonesia melalui brand Plus 62. Fitri dan Eski ingin hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia menjadi mainstream dengan langkah awal memperkenalkannya melalui Café Dangdut.

“Meskipun namanya dangdut, Café Dangdut kami tampilkan dengan konsep kontemporer. Bisa membawa nama dangdut hingga ke New York, seperti hal yang mustahil, tapi ternyata bisa kami lakukan,” ujar Fitri.

Melalui serangkaian pencapaian ini, Fitri dan Eski berharap Café Dangdut bisa bertahan di New York. Saat ini, Fitri dan Eski tengah berkomunikasi dengan beberapa investor. Jika tidak ada kendala, Café Dangdut juga akan hadir di New Jersey dan negara lain seperti Singapura serta Filipina.

“Kami ingin menjalankan bisnis ini untuk waktu yang lama, bukan hanya lima tahun, tapi jangka panjang. Tentunya untuk mempertahankan bisnis, hal-hal seperti masalah logistik dan lainnya bisa segera ditemukan solusinya. Dan, kami berharap pemerintah Indonesia bisa terus mendukung pelaku bisnis di luar negeri yang membawa misi memperkenalkan budaya, kuliner, dan apapun yang berkaitan dengan potensi Indonesia,” ucap Eski.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kya-kya Surabaya Dibuka Lagi 17 Agustus

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Kya-kya Surabaya atau lebih dikenal sebagai lokasi wisata pecinan kya-kya akan dibuka kembali oleh Pemerintah Kota Surabaya. Pembukaannya akan dilakukan pada Ulang Tahun Republik Indoesia ke 77 pada 17 Agustus tahun ini.

Kya-kya Surabaya

Wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun, sehingga terkadang disebut pula wisata Kembang Jepun, pertama kali diresmikan pada 31 Mei 2003. Pembangunan Kya-kya Surabaya awalnya diinisiasi Dahlan Iskan, yang saat ini mempin sebuh grup media di Surabaya. Dengan tujuan awal untuk membangun pusat jajanan (food court) terbesar di Indonesia. Khususnya di malam hari.


Sebagai kawasan pasar malam, Kya-kya Surabaya selalu ramai pengunjung saat itu. Jalan sepanjang 730 meter dan lebar 20 meter itu bisa menampung 200 pedagang, 2.000 kursi, dan sekitar 500 meja. Tidak hanya jajanan, di sana ada pula pedagang yang menjual pernak-pernik khas Tionghoa, hingga lapak ramalan jodoh, karier, dan kesehatan.

Kya-kya Surabaya menjadi salah satu destinasi kuliner malam di Surabaya pada 2003 hingga 2008.
Suasana malam hari saat Kya-kya Surabaya masih buka dulu. Foto: Milik Bappeko.Surabaya.Go.id


Karena dimaksudkan sebagai pusat wisata pecinan, di sana selalu ramai orang berwisata kuliner. Ada pedangan makanan halal dan, tentu saja, ada yang non-halal. Selain itu, ada pula pernak-pernik khas Cina, bahkan peramal-peramal Tionghoa. Lapak peramal ini kono selalu laris, karena banyak yang penasaran.

Sayangnya seiring waktu dan kontrak lokasi, Kya-kya Surabaya meredup setelah lima tahun beroperasi. Pada 2008, tempat ini pun tutup. Ada dua-tiga lokasi yang kemudian mencoba menjadi tempat wisata pecinan, namun Kya-kya memang sebuah fenomena buat ibukota Jawa Timur ini.

Kya-Kya Kembang Jepun ini adalah tempat yang dulunya sangat ramai sebagai pasar malam yang berada di kawasan pecinan di kota Surabaya. Di sepanjang jalan trotoar jalan kembang Jepun berdiri kios kios yang menjual berbagai makanan, baik makanan Tionghoa, maupun berbagai makanan lainnya. Kata “kya-kya” sendiri diambil dari dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Kembang Jepun Surabaya, sebelum Kya-Kya Surabaya dibuka memang mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, sepanjang perjalanan sejarah Surabaya. Banyak pedagang dari pihak asing yang berlabuh di lokasi sekitar Kembang Jepun.

Perjalanan sejarah seakan menorehkan Jalan Kembang Jepun segaris membujur dari timur ke barat kota. Lurus dengan sungai Kalimas, jalan Kembang Jepun lantas menjadi ikon Kota Surabaya yang silih berganti tampilan dengan membawa perannya.

Pada Zaman Belanda, pemerintahan colonial saat itu membagi wilayah ini menjadi dua Kawasan, yaitu Pecinan di selatan sungai Kalimas, dan Kawasan kampung Arab dan Melayu di Utara Sungai Kalimas. Ke dua Kawasan dibatasi oleh Jalan Kembang Jepun Bangsa Belanda sendiri tinggal di Barat Kalimas yang kemudian mendirikan komunitas “Eropa Kecil”.

DI era pemerintahan kolonial Belanda, Jalan Kembang Jepun dulunya disebut sebagai Handelstraat. Handel ini berarti perdagangan dan straat yang berarti jalan. Wilayah ini

kemudian tumbuh sangat dinamis.

Pada zaman pendudukan Jepang lah nama Kembang Jepun menjadi begitu terkenal. Nama Kembang Jepun identik dengan masa itu.

Ketika banyak serdadu Jepang, yang dipanggil warga lokal dengan sebutan Jepun memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini. Pada era di mana banyak pedagang Tionghoa menjadi bagian dari napas dinamika Kembang Jepun, sebuah gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa pernah dibangun di depan jalan ini. Kemudian banyak fasilitas hiburan didirikan.

Letak Kembang Jepun atau yang pernah disebut sebagai Kya Kya Surabaya berada di samping Jembatan Merah. Ini tidak jauh dari Kawasan wisata Religius Makam Sunan Ampel.

Setelah sekitar 12 tahun redup, kini pemerintah Kota Surabaya mencoba menghidupkan kembali Kawasan wisata Pecinan ini. Ini seiring dengan pengembangan wisata Kota Tua Surabaya. Kya-kya Surabaya menjadi bagian dari rencana tersebut.

Bagian-bagian kecil yang ada di kawasan Kembang Jepun akan dicoba dioptimalkan, sehingga Agustus nanti bisa buka. Selain dilakukan penataan, kawasan hiburan Kya-Kya juga akan dilengkapi dengan kuliner khas Tionghoa serta hiburan seni dan budayanya. Pertunjukan yang disiapkan ini dikemas dengan konsep ala Pecinan.

Nantinya, akan tersedia alat transportasi becak untuk melayani para wisatawan. Pengunjung akan diantar untuk menikmati rute destinasi wisata malam di kawasan Kya-Kya hingga Kota Tua.

Dalam perencanaannya, nanti kan ada pula becak yang bisa melayani pengunjung rute destinasi wisata dari Kya-Kya ke Jalan Karet dan Jalan Gula. Jadi, selain street food juga ada kesenian yang kita tampilkan. Misalnya pertunjukan Barongsai, Liang-Liong dan musik ala chinese.

Kya-kya Surabaya akan terkoneksi dengan wisata kota tua Surabaya.
Ilustrasi Nasi empal. Foto: Dok. shutterstock

Untuk kuliner, saat ini di Kawasan Kembang Jepun masih ada jajanan seperti Bakwan Pak Di, atau ada pula Sate Gule Kambing Kembang Jepun. Atau jika mau jalan sedikit ke Jalan Kapasan, yang satu jalur dengan Kembang Jepun, ada pula Warung Asrep yang dikenal dengan Nasi Lodehnya atau Nasi Empalnya. Di daerah ini juga ada Rawon Greget.

Jadi jika Kya-kya Surabaya nanti dibuka lagi pada 17 Agustus 2022, jangan lupa agendakan wisata kulinermu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

4 Satai Leker Khas Lombok

Sate Rembiga di Lombok

4 satai leker khas Lombok ini adakah yang sudah mencobanya? Lombok di Nusa Tenggara Barat mungkin lebih dikenal dengan kuliner ayam Taliwang-nya. Ternyata kuliner di pulau ini tak cuma itu. Mereka juga menyimpan masakan khas berupa sate.

Ada berbagai macam jenis satai. Ada yang dari daging sapi, ayam, satai jerohan, bahkan dari ikan. Mereka jenis kuliner Lombok yang pantas dipertimbangkan untuk dicoba saat berada di Lombok.

4 Satai Leker Khas Lombok

Pedas Manis Satai Sapi

Asap memenuhi Warung Sate Rembiga yang berada di pusat Kota Mataram ini. Daging sapi yang sudah dibumbui bertemu dengan bara api, menyebar wangi yang membangkitkan selera. Ketika satai beralas daun dan piring bambu tersaji pun tidak perlu aba-aba lagi, langsung tandas meski rasa pedas tak tertahan. Beruntung berbaur rasa manis. Paduannya adalah lontong. Bila ditambah plecing kangkung, lidah benar-benar bakal terbakar.

Rembiga merupakan daerah di mana sejumlah penduduknya membuka usaha warung satai. Salah satunya Warung Rembiga milik Ibu Sinaseh yang memulai usahanya 28 tahun lalu. Sebenarnya bumbunya sederhana, yaitu cabai rawit, terasi, bawang putih, garam dan gula, selain bahan utama daging sapi yang dipotong-potong. Ramuan yang pas dan bumbu yang meresap ke dalam daging, itulah yang membikin nikmat. Per tusuk Rp 2.000. Selain satai dan plecing kangkung, ada pula urap dan sop balungan.

Warung Sate Rembiga Utama

Jalan Wahadin Sudirohusodo Nomor 5, Mataram

Buka pukul 09.00-23.00

Bumbu Kacang Plus Santan

Di Taman Udaya, Mataram, yang menjadi tempat nongkrong di malam hari, bisa ditemukan sajian satai lain, yakni satai bulayak. Makannya pun lesehan di bawah pepohonan. Satai ini sesungguhnya khas Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Bahannya berupa ayam atau sapi, terkadang diberi jeroan, yang ditusuk dengan lidi pohon aren.

Yang berbeda dibanding satai dari daerah lain adalah bumbu kacangnya. Kacang tanah yang sudah disangrai, ditumbuk, lalu direbus dengan santan dan bumbu dapur lain sehingga aromanya sedap. Bumbunya antara lain cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, dan garam. Sapi atau ayam pun sebelum dibakar diberi bumbu seperti ini. Satai pun jadi terasa gurih dan pedas. Paduannya adalah lontong yang dibalut melingkar dengan daun aren. Nah, lontong inilah yang disebut bulayak. Satu porsi Rp 20 ribu, untuk 10 tusuk satai, termasuk bulayak.

Sate Bulayak

Taman Udayana

Jalan Udaya Nomor 4 Mataram

Buka pukul 18.00-24.00

Lembutnya Satai Ikan

Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya Kecamatan Tanjung, ada lagi satai yang khas. Dikenal sebagai satai tanjung, yang tak lain berarti satai ikan. Sebagai daerah pesisir, beragam ikan dengan mudah didapat dalam kondisi segar. Pedagang berjajar di dekat terminal atau pasar. Ada satu wadah tempat potongan ikan yang sudah dibumbui hampir semalaman. “Kadang tidak hanya satu jenis ikan, tapi dua ikan yang dicampur,” kata salah satu pedagang. Umumnya cakalang, tapi bisa juga jenis ikan lain.

Campuran ikan tersebut berwarna kuning, karena ikan yang telah diambil dagingnya itu dicampur dengan santan, merica, bawang putih, dan rempah-rempah lain. Ketika dibakar, aroma sedap langsung menyebar. Satai ikan ini terasa lembut dengan gurih. Harga per tusuk Rp 1.000. Para pedagang berjualan mulai pukul 16.00, dan kadang pukul 18.00 sudah habis terjual. Namun ada pula yang bertahan hingga pukul 21.00. l

Sate Tanjung

Sekitar Pasar Tanjung atau Terminal Tanjung

Jalan Raya Tanjung

Lombok Utara

Buka pukul 16.00-19.00

Satai Campuran Kelapa Muda

Seperti kebanyakan satai di Lombok yang menggunakan bumbu berlimpah. Jenis satai ini bisa ditemukan di rumah makan atau restoran yang menyajikan makanan khas Lombok. Bahannya bisa daging sapi atau ikan laut, semisal ikan tenggiri. Bila menggunakan daging, diolah dengan cara diiris tipis, kemudian direndam bumbu. Sedangkan ikan harus dihaluskan terlebih dulu.

Kemudian, ikan diberi campuran bumbu utama, seperti parutan kelapa muda dan merica, ketumbar, cabai merah, gula, garam, terasi, juga kemiri. Karena sudah kaya dengan bumbu, satai disajikan tanpa bumbu kacang atau sejenisnya.

RM Suranadi

Jalan Taman Wisata Nomor 7

Kecamatan Narmada

Lombok Barat

Buka pukul 11.00-21.00

Rita N./Zulkarnain/Dok. TL

Petik Laut Banyuwangi, Melarung Sejak 1900

Petik Laut Banyuwangi merupakan tradisi para nelayan mengucapkan syukur atas hasil tangkapan mereka. Foto: AntaraFoto

Petik laut Banyuwangi, atau sering pula disebut petik laut Muncar, karena pelabuhan di Banyuwangi itu berada di Muncar, senantiasa ramai. Baik mereka yang terlibat dalam ritualnya, maupun para pelancong yang ingin melihat upacara melepas sesaji ke laut, seraya berucap syukur, berharap rezeki, dan jauh dari mara bahaya.

Petik Laut Banyuwangi

Petik Laut adalah simbol tradisi budaya pesisir nelayan Jawa yang mengandung makna memohon doa sekalius berucap terima kasih dari para nelayan yang memetik, mengambil, atau memperoleh hasil laut berupa ikan.

Petik Laut Banyuwangi melarung sesaji sebagai puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan dan rezeki yang diberikan.
Melarung githik ke laut. Foto: milik AntaraFoto

Tradisi serupa bisa ditemukan juga di beberapa wilayah pesisir Indonesia dengan istilah dan cara yang beragam. Misalnya saja, Simah Laut di KotawaringinTimur, Kalimantan Tengah, atau Pararakan Laut di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Muncar, yang berjarak 35 kilometer dari pusat kota Banyuwangi, Jawa Timur, menurut masyarakat setempat, tradisi petik laut Banyuwangi ini sudah berlangsung sejak masyarakat mendiami Muncar pada 1900. Dan berlangsung hingga kini.

Awalnya, petik laut Banyuwangi digelar dengan hitungan pranata mangsa—penentuan musim menurut kebiasaan pemahaman suku Jawa, khususnya dari kalangan petani dan nelayan. Namun kemudian disepakati dalam hitungan pasti, yaitu setiap tanggal 15 bulan Syura penanggalan Jawa.

Upacara ini mempunyai makna rasa syukur atas rahmat Tuhan dengan berlimpahnya hasil penangkapan ikan. Upacara ini juga harapan untuk perlindungan dari mara bahaya. Kabarnya, Petik Laut Banyuwangi di Muncar termasuk yang paling meriah dari kegiatan sejenis di Jawa. Maklum, Muncar adalah pelabuhan nelayan penghasil ikan terbesar di Indonesia setelah Bagan Siapiapi. Komoditas laut yang dihasilkan antara lain ubur ubur, lemuru, dan tongkol. Umumnya diekspor ke pasar internasional.

Ritual ini biasanya berawal dari Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Selain warga local, ada wisatawan domestik dan pelancong asing yang datang khusus untuk menyaksikan upacara petik laut.

Kesibukan petik laut sebenarnya sudah berlangsung sejak malam sebelumnya. Masyarakat Muncar melakukan tirakatan di tempat pembuatan sesaji. Tirakatan yang berupa doa bersama bertujuan agar nelayan dijauhkan dari musibah serta diberi kemudahan dalam mencari rezeki.

Di beberapa surau dan rumah juga diadakan pengajian atau semaan. Kegiatan ini berlangsung sampai pagi sebelum githik yang dipersiapkan di rumah pawang kemudian diarak keliling perkampungan nelayan mulai jam 6 pagi dengan diiringi kesenian terbangan dan gandrung.

Githik adalah replika perahu kayu berukuran 5 meter yang di dalamnya berisi aneka sesajen, seperti nasi tumpeng, nasi gurih, nasi lawuh, 44 jenis kue, buah-buahan, kinangan sirih, serta dilengkapi kepala kambing “Kendit”, dan dua ekor ayam hidup. Githik itulah yang nanti akan dilarung ke laut.

Ritual pagi itu dimulai dengan penyelipan pancing emas ke lidah kepala kambing oleh kepala daerah. Hal ini bermakna pemimpin diberi amanah mewakili rakyatnya untuk memohon diberi hasil ikan melimpah.

Petik Laut Banyuwangi dilakukan dengan melepaskan githik yang berisi berbagai sajian.
Githik yang akan dilepaskan ke lautan. Foto: Dok. TL

Setelah itu, githik secara perlahan digotong menuju kapal utama yang bersandar di dekat panggung. Perahu tersebut akan berlayar ke tengah laut mengomandoi ratusan kapal lain. Mulai jenis jukung yang paling kecil hingga slereg yang paling besar.

Pagi itu pengunjung menyemut di sekitar Pelabuhan Muncar.Jumlahnya mungkin ribuan. Maklum, ini menjadi hajatan terbesar di pesisir timur Jawa.

Puluhan kapal sudah bersandar di dermaga. Mereka umumnya dihias dengan meriah, dengan. umbul-umbul warna-warni. Tidak sedikit yang dilengkapi pengeras suara bertenaga besar yang memekikkan irama musik, menggiring warga bergoyang-ria di atas dek kapal. Benar-benar sebuah pesta di tengah lautan.


Kapal-kapal ini akan segera bertolak menuju titik larung yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari pelabuhan. Dalam hitungan menit, hampir semua kapal sudah dijejali penumpang tambahan hingga penuh sesak.

Terdengar musik bertalu-talu, tanda iring-iringan githik yang telah diarak keliling lingkungan perkampungan nelayan sejak pagi tiba di lokasi upacara pelepasan sesaji ini.


Satu kapal bisa disesaki sekitar 100 orang. Beberapa awak memberi isyarat supaya warga tidak berlompatan ke kapal. Jika tak dibatasi, makin banyak warga yang mencoba ikut. Akibatnya bisa berbahaya buat kapal. Meskipun, akhirnya kapal tetap penuh sesak.


Bunyi mesin disel kapal pun menderu membelah ombak. Semua kapal melaju cepat. Semua bersemangat. Tak ada aroma kecemasan dengan kapasitas yang melebihi daya tampung. Yang terlihat hanya pancaran kegembiraan dari semua wajah yang memenuhi setiap jengkal dek.
Ritual dilakukan di sebuah lokasi yang disebut Plawangan, yaitu perairan tenang, dekat Semenanjung Sembulungan. Setelah tiba, semua perahu berhenti sejenak.

Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Belasan warga menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiram air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Konon mereka mempercayai air tersebut menjadi pembersih malapetaka.


Dari Plawangan, sebagian perahu bergerak menuju Tanjung Sembulungan. Di tempat ini, nelayan melarung sesaji ke dua. Hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Konon sesaji ini berkaitan dengan kepercayaan akan “penguasa” kawasan ini.

Rombongan juga mampir di Pantai Sembulungan, tempat terdapat makam Sayid Yusuf, yang dikenal sebagai tetua masyarakat Muncar. Tempat ini dipakai sebagai persinggahan akhir rangkaian upacara Petik Laut.

Pada masa hidupnya, Sayid Yusuf diceritakan menyukai tarian gandrung, sehingga kuburannya disebut dengan makam gandrung. Kesenian gandrung pun dipentaskan di sini. Para penari gandrung terbaik yang telah dipilih menari di sekitar makam diiringi alunan musik gamelan klasik suku Osing.


Menjelang sore, setelah berziarah, upacara disudahi dengan selamatan dan doa. Perahu-perahu kemudian kembali ke Pelabuhan Muncar. Saat berlabuh, beberapa perahu terlihat disiram dengan air laut sebagai bentuk harapan akan berkah dari Shang Hyang Iwak sebagai Dewi Laut.
Petik laut Banyuwangi betul-betul sebuah pesta bagi para nelayan merayakan hasil laut yang menghidupi mereka.

agendaIndonesia

*****

Medan Baru, Legenda Kuliner Sejak 1971

Medan Baru, rumah makan yang legendaris di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Medan Baru, ini nama rumah makan yang pasti bisa menjadi pilihan bagi yang sedang ingin bersantap masakan-masakan tradisional sedap khas Sumatra. Kelezatannya sudah terbilang melegenda, bahkan Presiden Joko Widodo pun mampir dan makan siang di restoran ini.

Medan Baru

Meskipun restoran ini dinamakan Medan Baru, namun secara mendasar makanan-makanan yang tersedia di sini tidak semata berasal dari Sumatra Utara saja. Resep-resep tradisional khas Aceh dan Minang pun juga dapat ditemukan di restoran ini.

Semua bermula dari Ibrahim Abdullah, seorang pria kelahiran Kutaraja yang merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib. Sebelumnya, ia sudah pernah bekerja sebagai koki sebuah restoran masakan Padang di Medan, Sumatera Utara.

Saat itu, ia menyadari bahwa di Jakarta belum banyak restoran yang menyediakan masakan otentik dari tanah kelahirannya. Maka pada tahun 1971, ia mendirikan sebuah kedai makan yang kemudian menjadi cikal bakal restoran ini.

Medan Baru adalah restoran yang menunya perpaduan masakan Aceh, Medan, dan Minang.
Tampak depan rumah makan ini seperti restoran Padang, padahal berbeda. Foto: google strees view-kompas

Oleh karena itu, sebagai putra daerah asli Aceh, ia berkeinginan untuk mengenalkan dan mempopulerkan perpaduan masakan Aceh, Minang dan Sumatra Utara yang mungkin belum banyak dikenal khalayak luas. Ternyata, banyak orang yang suka dan bisnis pun berkembang.

Kedainya yang didirikan di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, mulai dibanjiri pengunjung baru dan pelanggan setia. Kini tempat itu telah menjadi restoran yang cukup luas, bahkan memiliki ruang tersendiri kala tamu spesial seperti Presiden Jokowi mampir.

Yang unik, cara pelayanan restoran ini sangat mirip dengan restoran masakan Padang pada umumnya. Makanan-makanan ditampilkan pada etalase di kaca depan restoran, serta pengunjung tinggal masuk dan duduk, sambil menunggu pramusaji membawakan makanannya.

Namun alih-alih makanan ala Padang pada umumnya, yang disajikan adalah beberapa resep khas yang jarang ditemui di restoran lainnya. Salah satu yang menjadi primadona dan paling dicari pelanggan adalah gulai kepala kakap.

Kalau biasanya di restoran lain bagian kepala ikan bukanlah menjadi sajian utama dari sebuah masakan, maka kali ini kepala ikan justru menjadi masakan utamanya. Ikan yang digunakan adalah kakap putih yang dipasok langsung dari Lampung.

Gulai Kepala Kakap shutterstock
Salah saru keistimewaan Medan Baru adalah menu Gulai Kepala Kakap. Foto: DOk. shutterstock

Yang cukup mengejutkan, ternyata kepala ikan merupakan bagian yang begitu sedap untuk disantap. Utamanya adalah bagian pipi serta bibirnya, yang begitu lembut dan kenyal. Bahkan tak perlu dikunyah, bagian tersebut dengan mudah akan lumer di mulut.

Kepala kakap khas Medan Baru tersebut disajikan dengan bumbu gulai dengan paduan warna kuning dan oranye. Untuk membuat makanan ini, bumbunya diracik terlebih dulu dengan bahan baku seperti santan, asam sunti, belimbing wuluh dan cabe.

Setelah bumbu sudah diracik dan matang, barulah kepala ikan dimasukkan dan didiamkan selama kurang lebih setengah jam. Setelahnya, kepala ikan dikeluarkan dan baru akan dicelupkan lagi sebelum dihidangkan, agar tidak menjadi hancur dan lebur dengan bumbu.

Uniknya, menu gulai kepala kakap di Rumah Makan Medan Baru ini terbagi berdasarkan ukurannya, yakni kecil, sedang dan besar. Semakin besar ukuran kepalanya, semakin lama pula proses memasaknya. Biasanya, ukuran kecil dan sedang adalah yang paling laku dan cepat habis.

Selain itu, masakan otentik yang terkenal dari restoran Medan Baru ini adalah burung punai gorengnya. Sejatinya, burung punai merupakan salah satu spesies burung merpati yang habitatnya banyak ditemukan di Sumatra Barat.

Yang menarik, meskipun berukuran kecil tetapi daging burung punai ini sangat lezat dan mirip seperti daging ayam. Tekstur dan serat dagingnya yang lembut membuatnya terasa empuk di mulut, dan setelah matang dimasak ada sensasi rasa gurih yang unik di lidah.

Rumah Makan Medan Baru Burung Punai
Menu andalan lain rumah makan ini adalah burung Punai goreng.

Cara memasaknya hampir mirip seperti memasak ayam, yaitu dengan diungkep bersama bumbu racikan yang terbuat dari rempah seperti kunyit, cengkeh dan pala. Setelah diungkep selama sekitar satu jam, burung baru digoreng jika akan disajikan.

Sebagai catatan, menu-menu seperti gulai kepala kakap dan burung punai goreng baru akan keluar setelah dipesan. Menyantap makanan-makanan tersebut memang dianjurkan saat masih hangat, sehingga lebih terasa nikmat.

Sebagai teman makan, restoran ini juga menyediakan menu pelengkap lain seperti sayur daun pepaya, sambal merah, sambal asam udang, dan lain lainnya. Menu minuman seperti es timun dan jus terong belanda juga tergolong unik.

Restoran ini bahkan juga menyediakan sop buntut yang cukup berbeda dari masakan sejenis yang ditawarkan restoran lain. Kuah yang terbuat dari tomat yang direbus hingga lebur terasa kental dengan rasa asam dan gurih yang sedap, ditambah daging buntutnya yang empuk membuatnya menarik untuk dicoba.

Untuk urusan harga, bisa dibilang harganya tidak terlalu mahal dan cukup komparatif dibanding restoran masakan Padang atau sejenisnya. Burung punai goreng misalnya, satu porsinya dibandrol seharga Rp 25 ribu. Atau sop buntut yang harganya Rp 75 ribu.

Adapun harga gulai kepala kakap disesuaikan berdasarkan ukurannya. Untuk ukuran kecil dihargai Rp 150 ribu, ukuran sedang Rp 250 ribu, dan ukuran besar Rp 360 ribu. Sedangkan menu minuman seperti es timun dihargai Rp 21 ribu, serta jus terong belanda Rp 31 ribu.

Berkat kesuksesan usahanya, sejak 1996 Ibrahim mampu membuka cabang-cabang lainnya. Saat ini terdapat dua cabang Medan Baru lainnya, yang terletak di kawasan Sunter dan Puri Kembangan.

Masing-masing cabang kini merupakan restoran yang cukup besar yang mampu menampung ratusan pengunjung. Tiap bangunan berformat serupa ruko yang memiliki dua hingga tiga lantai, dengan ruangan-ruangan yang dibagi untuk yang merokok dan tidak merokok.

Sehari-harinya, restoran ini mampu menjual sekitar 1.000 ekor burung punai dan 300 kepala kakap. Tak hanya ludes disantap pengunjung yang ramai berdatangan, pesanan-pesanan dari luar restoran pun kerap deras berdatangan.

Maka dari itu, bagi yang tertarik untuk mampir disarankan untuk datang saat waktu makan siang. Salah satu kebijakan restoran ini adalah hanya memasak sekali untuk sehari, sehingga saat malam hari kadang-kadang beberapa menu sudah habis.

Rumah Makan Medan Baru buka setiap hari dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (021) 3844273 untuk cabang Pasar Baru, (021) 6404105 untuk cabang Sunter, dan (021) 5806207/5806208 untuk cabang Puri Kembangan.

Rumah Makan Medan Baru

Jl. Raya Krekot Bunder no. 65, Jakarta Pusat

Jl. Griya Agung no. 62, Komplek Griya Inti Sentosa Blok N3/18, Jakarta Utara

Jl. Pesanggrahan no. 168 D-E, Jakarta Barat

agendIndonesia/Audha Alief P.

*****