Pasar Beringharjo Gaya Artdeco 1925

Pasar Beringharjo dibangun dengan gaya artdeco

Pasar Beringharjo di Yogyakarta sejak lama bukan cuma urusan jual beli urusan dapur atau sembako. Ia sudah menjadi ikon kota pelajar ini bahkan sejak Indonesia belum merdeka.

Pasar Beringharjo

Berlokasi di jantung kota, tepatnya di Jalan Pabringan Nomor 1 atau Jalan Ahmad Yani di ujung Selatan Jalan Malioboro dan berdekatan dengan Benteng Vredeburg serta Taman Budaya, Beringharjo jauh dari sepi. Hampir 24 jam, jika pedagang-pedagang makanan malam hari seperti gudeg ikut diperhitungkan.

Menurut sejarahnya, dulunya wilayah pasar Beringharjo adalah hutan beringin yang kemudian berkembang menjadi tempat transaksi ekonomi setelah Kesultanan Ngayogyakarta berdiri pada 1758. Nama ‘Beringharjo’ sendiri diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Nama ini memiliki arti wilayah yang semula pohon beringin (bering)  dandiharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang menyenangkan.

Pasar Beringharjo menjadi alternatif wisata di kota Yogyakarta
Pedagang batik di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Foto: Dok. shutterstock

Pada 24 Maret 1925 Keraton Yogyakarta menugaskan Perusahaan Beton Hindia Belanda membangun 11 kios untuk los-los di pasar tersebut. Pada akhir Agustus 1925, ada 11 kios yang diselesaikan di pasar Beringharjo itu. Salah satu ciri arsitektur bangunnnya adalah campuran antara gaya kolonial dan tradisional Jawa. Bagian gerbang masuknya sendiri bergaya artdeco.

Sejak adanya bangunan-bangunan itulah Beringharjo menjadi pasar tertua yang memiliki nilai sejarah dan tak terpisahkan dari Keraton Yogyakarta. Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia. Dalam konteks Yogyakarta, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar dari filsafat ‘Catur Tunggal’, yakni  Kraton, Alun-alun Utara, Masjid Agung, dan Pasar Beringharjo. Jika Kraton melambangkan pemerintahan, alun-alun melambangkan ruang publik, masjid sebagai tempat ibadah, dan pasar untuk fungsi ekonomi.

Mendapat julukan Eender Mooiste Passer Op Java atau pasar terindah di pulau Jawa saat masa kolonial, kini Beringharjo menjadi salah satu pasar yang paling ramai dikunjungi di Yogyakarta. Ia bahkan menjadi salah satu destinasi wisata penting untuk kota ini.

Salah satu daya tarik pasar ini karena ia menyimpan berbagai “harta” terpendam. Ada banyak ragam benda kerajinan unik. Di lantai 3, misalnya, di bagian belakang gedung pasar, ada deretan kios-kios yang menjual barang-barang etnik yang lucu dan menarik. Ada banyak benda anyaman yang terbuat dari rotan dan bahan lainnya dengan bentuk estetik. Selain banyak barang unik, di kios-kios tersebut juga menyediakan barang dengan harga yang terjangkau.

Bagi orang Yogya, pasar ini juga sering disebut sebagai pasar Gedhe, karena memang pasar yang terbesar di kota ini. Selain itu, ragam barang dagangan yang ditawarkan juga beraneka.

Misalnya saja, kini banyak orang yang datang ke beringharjo untuk memanjakan lidah. Di bagian depan dan belakang pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, Orang bisa jajan es cendol khas Yogyakarta adalah adalah pilihan jitu. Es cendol Yogyakarta memiliki citarasa yang lebih kaya. Pilihannya ada Es Cendol Mbah Hari. Minuman lain yang tersedia adalah es kelapa muda dengan sirup gula jawa dan jamu seperti kunyit asam dan beras kencur.

Pasar beringharjo tak hanya soal batik dan kerajinan tapi juga kuliner.
Salah satu kunjungan wisatawan ke Beringharjo adalah menikmati kuliner khas kota ini. Foto: dok. shutterstock

Selain minuman, ada juga makanan besar. Banyak wisatawan atau masyarakat lokal yang datang ke pasar justru untuk menikmati kulinernya. Di selatan area parkir di Lantai 2, misalnya, di sana ada Sego Empal Bu Warno. Atau di dekatnya ada gado-gado Bu Hadi. Ada pula Soto Pithes Mbah Galak. Dan yang tak kalah menarik adalah Sate Kere yang banyak ditemui di dekat pintu selatan.

Serbuan utama wisatawan kalah datang ke Beringharjo tentu saja batik. Pasar ini adalah tempat terbaik karena koleksi batiknya lengkap. Mulai batik kain maupun sudah jadi pakaian, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai hampir sejuta tersedia di pasar ini. Koleksi batik kain dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara. Sementara koleksi pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar bagian barat. Selain pakaian batik, di bagian barat juga menawarkan baju surjan, blangkon, dan sarung tenun maupun batik.

Pasar ini juga tempat untuk kolektor barang antik berburu. Sentra penjualan barang antik terdapat di lantai 3 pasar bagian timur. Di tempat itu, anda bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya. Di lantai itu pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila mau. Berbagai macam barang bekas impor seperti sepatu atau tas.

Selain di bagian dalam pasar, sisi luarnya juga menawarkan hal-hal yang tak kalah menarik. Kawasan Lor Pasar, yang dahulu dikenal dengan Kampung Pecinan, adalah wilayah yang paling terkenal. Anda bisa mencari kaset-kaset lawas. Atau mencari barang kerajinan logam juga koleksi uang lama.

Dan seperti disebut di atas, meski pasar resmi tutup pukul lima sore, tapi dinamika pedagang tidak berhenti pada jam itu. Bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam panganan khas. Martabak dengan berbagai isinya, terang bulan yang legit bercampur coklat dan kacang, serta klepon isi gula jawa yang lezat bisa dibeli setiap sorenya.

Ada pula penganan brem bulat dengan tekstur lebih lembut dan krasikan (semacam dodol). Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia isi kacang hijau yang biasa dijual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari.

Sekitar magrib hingga lewat tengah malam, biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar yang juga menawarkan kikil dan varian oseng-oseng. Sambil makan, pengunjung bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang diputar atau bercakap dengan penjual tentang kehidupan Yogyakarta.

agendaIndonesia

*****

Wisata Bintan Dengan 3 Wajahnya

Pantai yang bisa dinikmati dalam wisata Bintan

Wisata Bintan dengan 3 wajahnya mungkin tidak sepopular Belitung, meskipun sebagai destinasi wisata, pulau ini lebih dahulu dipromosikan. Namun, kemudian Bintan perkembang menjadi tujuan wisata sedikit eksklusif. Begitupun, Bintan yang berada di Provinsi Kepulauan Riau memang punya pesona alam yang indah. Tak hanya itu, Bintan ternyata juga memiliki sejumlah tempat yang membuatnya layak menjadi pilihan berlibur.

Wisata Bintan Dengan 3 Wajahnya

Kawasan wisata Bintan rasanya kini makin ramah bagi wisatawan Indonesia. Buktinya, saat ini, pulau wisata itu tak hanya ramai dikunjungi turis asing, seperti dari Singapura, Cina, dan Malaysia, tapi juga wisatawan Nusantara atau lokal. Ramainya Pulau Bintan oleh kunjungan turis lokal disebabkan lantaran banyaknya destinasi publik yang kini mulai dipromosikan untuk wisatawan lokal. Terutama 3 wajahnya: sejarah Kesultanan Melayu, budaya religi Budha, dan pantai-pantainya.

Provinsi Kepulauan Riau sendiri seperti miniatur Indonesia, betul-betul wilayah dengan rangkaian pulau-pulau.  Dari catatan, setidaknya ada sekitar 2.408 pulau besar dan kecil di provinsi ini. Tentu saja, yang paling terkenal hanya ada dua, yakni Pulau Batam dan Pulau Bintan.

Pulau Bintan adalah tempat Tanjungpinang ibukota Provinsi Kepulauan Riau berada. Dengan budaya Melayunya yang kental, di sini wisatawan bisa mengenal lebih dekat kesultanan Melayu, mengunjungi vihara unik, dan tentunya menikmati keindahan pantainya. Ayo kita coba jelajahi Bintan.

Yang pertama tentu saja menikmati peninggalan masa lampau Bintan. Sejarah Kesultanan Melayu. Untuk ini wisatawan dari Tanjungpinang harus menyeberang ke Pulau penyengat. Ini bisa dicapai hanya 15 menit perjalanan dengan perahu dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang.

Di pulau berukuran 3,2 kilometer persegi ini, wisatawan bisa menelusuri sejarah Kesultanan Melayu karena pada abad ke-18 merupakan pusat Kesultanan Johor-Riau. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Raya Sultan Riau. Cerita unik tentang masjid ini karena konon dibangun dengan menggunakan perekat berupa putih telur.

Selain masjid, ada beberapa peninggalan lainnya, seperti tempat pemandian Perigi Puteri, gudang mesiu, makam raja, rumah-rumah asli warga melayu, serta meriam di Bukit Kursi. Jika pun ingin bersantai, Pulau Penyengat memiliki pantai berpasir putih yang menakjubkan.

Hal yang tak kalah unik dari Bintan, meskipun asal muasalnya sebagai kesultanan melayu yang kental dengan tradisi Islam, wilayah ini juga mempunyai wajah tradisi Tiongkok. Jika dari penyengat kita kembali ke Tanjung Pinang, di sana terdapat tempat ibadah umat Budha yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara Graha yang berada di jalur Tanjung Pinang-Uban. Vihara itu disebut-sebut sebagai vihara terbesar se-Asia Tenggara. Di bagian dalamnya, ada patung Dewi Kuan Yin dengan tinggi 16,8 meter dan berlapis emas 22 karat.

Selain itu, ada sejumlah wihara lain yang unik. Misalnya, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva alias Patung Seribu Wajah. Disebut demikian karena vihara ini memiliki begitu banyak patung. Ini mungkin masih termasuk merupakan destinasi wisata baru di Bintan.

Dulunya, tempat ini merupakan destinasi religi umat Buddha, tapi sekarang bisa dikunjungi semua umat. Di vihara itu, lebih dari 500 patung Lohan setinggi manusia bisa ditemui. Patung Seribu Wajah tersebut memiliki roman muka berbeda-beda.

Di bawah setiap patung terdapat tulisan Mandarin, yang menjelaskan sosok patung seribu wajah itu beserta namanya. Konon, ratusan patung tersebut merupakan representasi dari para murid Buddha yang disebut Arahat. Bila ingin mengunjungnya, vihara ini terletak di Jalan Asia Afrika KM 14. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

Pada malam hari, wiatawan bisa menghabiskan dengan menikmati pantai dan hembusan angin laut. Tanjungpinang memiliki garis pantai yang cukup panjang, dan yang menarik adalah pesisir timurnya. Dari mulai Pantai Trikora, pantai yang berpasir putih dengan hiasan batu-batu granit. Selain itu, ada sejumlah akomodasi bagi wisatawan yang ingin mencecap suasana lebih lama dan nyaman.

Jalanan di Kawasan Lagoi Bintan chuttersnap unsplash
Jalanan di Kawasan Lagoi di wisata Bintan. Dok. unsplash

Pantai Trikora membentang mulai Pantai Trikora 1 hingga Pantai Trikora 4. Panjang garis pantainya mencapai 25 kilometer. Di ujung Pantai Trikora, terdapat sebuah perkampungan nelayan yang menjadi tempat bermukimnya Suku Laut. Penduduknya rata-rata menjual ikan segar. Wisatawan bisa datang untuk berbelanja langsung atau sekadar mengobrol dengan para penduduk kampung itu. Mereka tinggal di rumah-rumah apung yang eksotis.

Lokasi Pantai Trikora cukup jauh dengan Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Bila ditempuh dengan kendaraan waktunya mencapai 1,5 jam. Namun di sini wisatawan dapat menikmati suasana yang asri dan jauh dari ingar-bingar.

Bila ingin menikmati pantai lain di Bintan, wisatawan harus melangkah lebih jauh lagi atau sekitar 65 kilometer dari Tanjungpinang. Di sana ada Pantai Lagoi yang dipenuhi resor dan hotel berbintang. Akomodasi dan sarananya lengkap, bahkan terdapat lapangan golf. Kawasan wisata di Kabupaten Bintan ini digandrungi turis Korea, Cina, Jepang, dan Singapura. Bagi warga dari Negeri Jiran, Malaysia, dapat mencapainya lebih cepat dengan kapal feri khusus dari Tanah Merah, Singapura, dengan jumlah keberangkatan empat kali dalam sehari.

Spot lain yang bisa dikunjungi wisatawan adalah tur Mangrove. Hutan bakau atau Mangrove Bintan bisa dijumpai di Sungat Sebong. Kawasan ini memisahkan Kampung Lagoi dan Desa Sebong Lagoi. Wisatawan dapat menjelajahi hutan bakau itu dengan perahu motor yang disediakan.

Ada tiga zona hutan yang bisa dikunjungi, yakni zona asin, zona payau, serta zona tawar. Zona asin merupakan tempat untuk menikmati pembuatan dapur arang yang kini menjadi sarang ular. Adapun zona payau merupakan tempat untuk melihat satwa hutan bakau, seperti monyet, lebah, dan ular sanca. Sedangkan zona terakhir, yakni zona tawar, wisatawan bakal menyaksikan beragam flora tumbuh subur.

Satu lagi yang layak dinikmati selagi di Bintan: Gurun Pasir Busung. Tak perlu jauh-jauh ke Timur Tengah untuk mendapatkan foto berlatar gurun pasir yang eksotis. Di Bintan pun ada. Gundukan-gundukan pasir terlihat benar-benar seperti di Gurun Sahara. Gurun pasir ini merupakan bekas tambang yang sudah tidak aktif.

Gurun Pasir Busung berlokasi di Raya Busung, Busung, Seri Kuala Lobam. Jaraknya lebih-kurang 40 kilometer dari Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Adapun waktu tempuhnya berkisar 1 jam.

Kalau Anda sempat main ke Bintan, jangan lupa saat perut keroncongan, ada beragam sajian khas kota ini, seperti gonggong, sup ikan, ikan asam pedas, nasi lemak, hingga mi lendir, mi kuning basah yang diguyur dengan kuah kacang encer. Adapun bila ingin bersantai, ada deretan kedai kopi yang biasa dijadikan tempat nongkrong warga.

Jadi, kapan mengagendakan main ke Bintan? Ayo agendakan Indonesia-mu sejak sekarang.

F. Rosana/R. Kesuma/

Masakan Makassar, 5 Menu Untuk Makan Siang

Wisata kuliner memang asyik, tapi awa dengan metabolisme tubuh. Foto shutterstock

Masakan Makassar selalu menggoda selera. Kota yang pernah menjadi pusat transit perdagangan rempah-rempah terbesar pada masa kolonial, memiliki beragam warisan kekayaan. Salah satunya kuliner. Rasanya semua bahan pangan ada di kulinari kota Angin Mamiri ini.

Masakan Makassar

Segala jenis olahan yang kaya bumbu terdapat di kota yang dulunya bernama Ujung Pandang itu. Misalnya rica-rica, coto, atau konro. Kekayaan kuliner dengan paduan bumbunya yang royal dihimpun dari perpaduan budaya masak berbagai bangsa melalui para pedagang yang konon pernah mampir di Makassar.

Buat orang Jakarta, untuk menyantap kuliner otentik Makassar tentu tak perlu jauh-jauh pergi ke Sulawesi Selatan. Kuliner itu sekarang sudah bisa ditemui di banyak kota. Termasuk Jakarta.

Ada sejumlah restoran yang khusus menyediakan kuliner Makassar dengan bahan-bahan masakan asli yang didatangkan dari Sulawesi Selatan. Ada restoran Sulawesi@Megakuningan yang berlokasi di Kawasan Mega Kuningan. Ada Sop Konro Karebosi di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading. Semuanya enak.

Cobalah sekali-kali agendakan makan siang dengan menjajal beragam masakan di resto-resto dengan menu khas masakan Makassar. Berikut ini masakan kuliner khas Makassar yang bisa menjadi pilihan dan cocok untuk makan siang.

Ikan Kaneke Bakar Tradisional

Kaneke adalah ikan khas perairan Celebes dan Papua. Saat disajikan di restoran, ikan yang juga dikenal dengansebutan sweetlips ini umumnya dipilih yang memiliki ukuran besar dengan kisaran berat mencapai1,7 kilogram. Menyantapnya pun ramai-ramai, bahkan bisa untuk 10 orang.

Ikan kaneke dibakar menggunakan arang batok. Sistem pembakaran alami membuat aroma makin harum. Tekstur kaneke tidak rusak oleh pembakaran lantaran waktu memasaknya tidak terlalu lama, yakni berkisar 20 menit.

Ikan kaneke nikmat disantap dengan tiga sambal khas, yakni dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu menyiksa. Bila dicocol, pedasnya sambal juga tidak merusak rasa asli ikan.

Sukang Rica Parape

Ikan sukang atau dikenal juga dengan sebutan ikan kambing-kambing juga berasal dari perairan Sulawesi. Ikan ini cukup berdaging dan tak banyak durinya. Jadi kalau makan masakan Makassar ikan sukang tak perlu repot memilah daging dengan durinya.

Masakan Makassar sangat lengkap, dari ikan laut hingga olahan daging sapi.
Ikan Sukang Rica. Foto: Dok. shutterstock

Selain gampang disantap, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Menariknya, dalam sekali penyajian, ikan ini dihidangkan dengan dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis berasal dari bumbu bawang putih, gula aren, dan resep rahasia lainnya. Bawang, meski terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok, juga tidak membuat mulut bau.

Sementara itu, bumbu rica pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan ialah yang berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar, menggugah selera makan.

Coto Makassar

Belum makan masakan Makassar rasanya kalau belum makan coto. Masakan ini sekilas tak ada bedanya dengan soto santan daging sapi. Namun kuahnya lebih keruh dan mlekoh. Ini karena kuahnya juga memanfaatkan kacang tanah.

Masakan Makassar yang terkenal tentu saja coto Makassar. Awalnya menggunakan jerohan sapi, kini banyak yang menyajikan daging juga.
Coto Makassar cocok disantap dengan buras. Foto: Dok. shutterstock

Mirip dengan soto Betawi, awalnya coto Makassar dimasak dengan jerogan sapi. Namun dalam perkembangannya banyak yang menawarkan daging sapi.

Orang-orang Makassar asli biasanya menyantap coto dengan buras. Buras mirip dengan ketupat, namun bentuknya persegi panjang dan ukurannya lebih kecil. Namun buat yang tak biasa menyantap buras, masakan ini bisa dimakan dengan nasi putih biasa.

Mie Titi

Mie titi adalah mi kering asli Makassar. Mie ini disajikan bersama kuah sagu yang kental. Kuahnya sendiri terasa kenyal dan gurih. Jika tak memiliki bayangan soal masakan Makassar ini, bisa membayangkan ifumi di resto-resto Chinese food. Mie-nya digoreng kering lalu disiram dengan masakan sayuran.

Masakan Makassar juga ada yang berupa bakmi kering dengan sayuran.
Mie Titi mirip dengan ifumi. Foto: dokumentasi milik Resep Koki

Sayurannya sendiri di dalamnya terdapat jamur hitam, bakso ikan, sawi putih, cumi-cumi, dan udang. Bila kuah disiram ke mie, tekstur mi yang kering akan melembek.

Ayam Topalada

Ayam topalada sebenarnya merujuk pada masakan ayam cabai merah. Namun bumbunya lebih royal karena dicampur dengan sereh dan rempah-rempah lainnya.

Ayam topalada merupakan alternatif bagi tamu yang tak suka olahan-olahan seafood. Merahnya ayam tak cuma berasal dari cabai, tapi juga saus merah. Bukan saus pabrikan, saus merah itu didatangkan langsung dari Makassar.

Tentu saja masih banyak masakan Makassar lain yang cocok disantap untuk makan siang. Ada konro, sop, atau palubasa. Semuanya enak.

Di Jakarta, selain di Sulawesi@MegaKuningan, pecinta kuliner Makassar juga bisa menemukan masakan Makassar serupa di beberapa restoran di Jakarta. Misalnya di Pondok Ikan Bakar Ujung Pandang. Restoran ini terletak di Jalan Gandaria 1, Jakarta Selatan. Menu yang tersaji pun serupa. Ada ikan kaneke, sukang, juga coto Makassar dan mie titi.

Bila ingin menyantap masakan khas Makassar dengan suasana yang lebih santai, Anda dapat melipir ke kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Daeng Tata, dengan kedainya  Mamink Daeng Tata, menjajakan menu-menu khas Makassar. Warung pinggir jalan ini menjajakan coto Makassar dan sop konro khas Sulawesi Selatan. Disediakan juga menu ikan. Namun, jenis yang tersedia tak cukup komplet.

agendaIndonesia/Rosana

*****

Ini 4 Pantai Eksotis Dengan Pasir Hitam

Pantai Parangtritis micbima unsplash

Ini 4 pantai eksotis dengan pasir hitam. Banyak orang mungkin terpesona dengan pantai-pantai berpasir putih. Dengan kombinasi air laut yang biru cemerlang, pantai-pantai itu memang mempesona. Tapi pantai yang berpasir hitam pun sesungguhnya tak kalah menawan.

Ini 4 Pantai Eksotis

Putih dalam banyak hal dinilai lebih cantik, bahkan pasir pantai. Biasanya, orang akan berburu pantai-pantai berpasir putih, yang begitu jelas menunjukkan keindahan. Bahkan tak di tempat yang lebih terbatas, ada pantai-pantai dengan pasir berwarna pink akibat ulah ganggang di perairan tersebut.

Begitupun tak berarti pantai-pantai berpasir hitam tak memancarkan pesona. Buktinya, ada sejumlah pantai berpasir hitam yang terkenal di kalangan wisatawan dan dari masa ke masa selalu diburu wisatawan.

Jika sesekali ingin menikmati pantai-pantai berpasir hitan ada sejumlah pilihan. Selain pantai Senggigi di Pulau Lombok, beberapa di antara lainnya berada di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Pilihan itu bisa disimak di bawah ini.

Karang Hawu, Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Dari Jakarta bisa mengarahkan kendaraan menuju Ciawi, kemudian mengambil arah ke Sukabumi hingga menemukan arah ke Pelabuhan Ratu. Berada di Kecamatan Cisolok, Sukabumi, di tepi pantai terpampang jelas namanya. Namanya juga menunjukkan ciri dari pantai yang memiliki karang menjorok ke laut dan memiliki lubang yang berbentuk seperti tungku memasak. Dalam bahasa Sunda, ‘hawu’ berarti ‘tungku’.

Lekat dengan legenda Nyi Loro Kidul, pantai ini banyak diburu saat liburan, termasuk oleh para peselancar. Sebab, ombaknya yang menggoda. Berkarang dan berpasir hitam ternyata membuahkan pesona tersendiri. Apalagi di kawasan wisata ini dengan mudah ditemukan beragam kelas akomodasi, rumah makan, gerai suvenir, hingga tempat penyewaan perlengkapan berselancar di laut. Di sepanjang jalur Sukabumi selatan pun bisa ditemukan pantai-pantai lain, seperti Cimaja, Pelabuhan Ratu.

Pangandaran

Pantai Pangandaran, yang kini berada di Kabupaten Pangandaran, tidak pernah sepi dari kunjungan turis. Dari waktu ke waktu, wisatawan terus meningkat. Apalagi ditambah pilihan obyek wisatanya. Menyodorkan keindahan mentari terbit dan tenggelam, pantai ini sebagaian memiliki pasir hitam. Meski pasirnya tampak gelap, tidak pernah membuat turis berpaling.

Berjarak sekita 400 kilometer dari Jakarta dan 223 kilometer dari Bandung, perjalanan panjang melalui jalur darat ditempuh untuk mencapai pantai ini. Namun pantai tetap diburu, apalagi ada pilihan singkat dengan penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusumah menuju Bandara Nusa Wiru dengan frekueunsi satu kali sehari oleh maskapai Susi Air. Tak hanya menikmati pantai dan keindahan yang bisa dicicipi, ada pengalaman lagi saat menjelajah Cagar Alam Pananjung, Cukang Taneuh, Pantai Batu Karas, dengan segudang kegiatan.

Parang Tritis, Bantul

Pantai yang berjarak sekitar 27 kilometer di selatan Yogyakarta ini dikenal dengan gundukan pasirnya. Hamparan pasirnya yang cokelat kehitaman muncul di beberapa layar lebar. Ini justru menjadi ciri khas dan area untuk mengadakan berbagai kegiatan, selain menjadi lokasi yang nyaman untuk menikmati debur ombak dan keindahan mentari tenggelam.

Di sore hari, pelancong bisa menyusuri pantai dengan berbagai cara, mulai dengan berjalan kaki, naik bendi, menunggang kuda, hingga mengendarai ATV. Pantai ini juga kerap menjadi tempat pemotretan pasangan untuk prewedding. Sebab, kala senja datang, tempat ini terasa romantis. Pantai yang menjadi bagian dari Kabupaten Bantul ini juga kerap dikunjungi para penggemar sandboarding untuk beraksi.  

Senggigi, Lombok Barat

Meski pantai-pantai di Pulau Lombok banyak yang menonjolkan pesona pasir putihnya, pantai Senggigi tetap tak pernah sepi. Apalagi menjadi pintu untuk mencapai tiga pulau kecil atau gili yang sekarang namanya sudah begitu kondang, yakni Meno, Air, dan Trawangan. Dengan keindahan mentari tenggelam, pantai berpasir hitam ini menjadi tempat mengasyikkan untuk menikmati senja.

Apalagi di kawasan Senggigi, telah berjajar hotel-hotel berbintang dan beragam kafe sehingga menjadi kawasan wisata yang hidup dari pagi hingga tengah malam. Bahkan untuk penyuka belanja, khususnya kerajinan tangan, di pantai juga bisa ditemukan pasar seni. Dijual pula aneka kain lokal, kerajinan dari kayu, rotan, dan material lainnya.

Agendakan main ke pantai-pantai berpasir hitam. Dan agendakan Indonesiamu mulai sekarang.

Rita N-TL

Nasi Jamblang Cirebon, 2 yang Legendaris

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock

Nasi jamblang Cirebon sudah menjadi klangenan bagi mereka yang pernah mencobanya. Tidak saja untuk masyarakat Cirebon sendiri, namun juga mereka yang pernah melawat ke kota udang di Jawa Barat ini.

Nasi Jamblang Cirebon

Nasi jamblang barangkali mirip seperti nasi uduk yang lekat dengan Jakarta atau nasi kucing dengan warga Yogyakarta. Aslinya, nasi Jamblang punya ciri khas dengan bungkus daun jati. Tapi belakangan, mungkin karena alasan kepraktisan, ada yang menggantinya dengan daun pisang, bahkan tak kurang yang memilih menggunakan piring saja.

Asal usul nasi yang lezat untuk sarapan ataupun makan siang ini berasal dari  Desa Jampang, Kabupaten Cirebon. Karena unik dan juga murah, nasi jamblang akhirnya populer dan menyebar ke seantero Cirebon. Lauknya, antara lain ikan asin, sate kerang, perkedel, tahu sayur, tempe, aneka pepes, ayam goreng dan lauk yang paling khas seperti tumis cumi hitam dan paru goreng yang renyah dan gurih.

Jika Anda sesekali melawat ke Cirebon, atau melewatinya saat perjalanan dari Jakarta ke arah timur, atau sebaliknya, dan ingin menikmati kuliner khas Cirebon berikut dua pilihan nasi Jamblang yang legendaris.

Nasi Jamblang Pelabuhan

Lokasinya mungkin agak nyempil, di ujung gang senggol di Jalan Pasuketan, Panjunan Lemahwungkuk, Cirebon. Masyarakat setempat menyebutnya nasi Jamblang Pelabuhan. Petunjuk menuju tempat ini hanyalah sebuah papan nama kecil. Di sampingnya ada tanda panah yang mengarahkan orang menuju jalan setapak—jalan masuk ke warung itu.

Memang cukup sulit mencari papan penanda warung sederhana yang sudah buka sejak 1970 ini. Apalagi, kadang-kadang, papan nama nasi jamblang pelabuhan tertutup barisan mobil yang berjejalan parkir di depan gang.

Namun, kesulitan tersebut sebanding dengan rasa santapan yang didapat ketika pelancong sudah sampai di depan meja panjang yang digelar Asneri, penerus kedua warung nasi jamblang itu. Di meja tersebut tersedia berbagai menu rumahan yang tampak nikmati, lagi menggairahkan.

Ada tempe goreng, telur dadar, oseng kerang, daging sapi, dan yang paling spesial: sontong serta semur tahu. Semua menu itu dikemas sederhana, tapi punya cita rasa bintang lima.

Lauk-pauk selengkap ini nikmat disantap bersama nasi yang istimewa, yakni nasi jamblang. Nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus daun jati dengan ukuran mini. Nasi jamblang umum menjadi menu sarapan sehari-hari orang Cirebon.

Nasi jamblang pelabuhan milik keluarga Asneri menjadi favorit lantaran punya aroma yang wangi. Musababnya, daun yang dipakai untuk membungkus adalah daun jati yang masih muda. Daun jati muda memberi aroma khas dan mempengaruhi citarasa. Tekstur nasinya juga pas, tak dimasak terlalu pulen, dan empuk seperti ketan.

Keunikan rasa nasi Jamblang miliki keluarga Asneri sudah diakui oleh orang luar maupun orang asli Cirebon. Kata Asneri, resep masakan yang dipakai untuk mengolah bumbu adalah resep temurun dari keluarga yang dipertahankan, waktu demi waktu.

Nasi Jamblang Mang Dul

Pilihan lain untuk menikmati nasi Jamblang di Cirebon adalah legenda yang lain, nasi Jamblang Mang Dul. Uhan, Mang Dul sudah buka sejak tahun 1970. Sama seperti nasi jambalng PelabWarung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Cirebon, ini lumayan lega. Meski tak luas sekali, warung makan yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung ini, setiap pagi riuh dipenuhi tamu.

Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila berkunjung ke sini, cobalah nikmati tahu semur, sotong, dan sambal merahnya. Tapi jika ingin yang lain, pilihannya ada banyak.

Saat masuk ke warung, pelanggan akan langsung tertuju pada tempat pengambilan nasi yang disajikan secara prasmanan. Nasinya ditata dalam bungkusan-bungkusan daun jati yang khas. Penggunaaan daun jati ini, konon, terinspirasi sejak jaman Belanda, saat mengerjakan jalan raya Pos. Dan ini terus dilestarikan. Mungkin sebagai pembeda dengan nasi-nasi campur di daerah lain.

Pengunjung di warung ini bisa memilih berbagai lauk yang beraneka ragam. Pembeli dapat langsung mengambil sendiri lauk pilihannya. Dari sambal goreng, daging sapi dendeng, hati sapi, tahu kuah, tempe, telor dadar, perkedel, paruh, dan banyak lainnya.

Selain untuk sarapan, nasi Jamblang juga menjadi santapan favorit selama bulan Ramadhan. Banyak pengunjung yang datang sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga sambil mencicipi menu kaya akan lauk ini. Ramainya memang pas berbuka puasa. Kadang tak sedikit yang menikmatinya untuk sahur.

Nah, kapan punya agenda ke Cirebon? Yuk, agendakan Indonesia-mu.

RITA N/F. ROSANA/SHUTTERSTOCK

Bihun Bebek Asie, Legenda Medan Sejak 1930

Bihun Bebek Asie di Medan sudah berjualan sejak 1930.

Bihun Bebek Asie atau kadang disebut juga sebagai Bihun Bebek Kumango Medan adalah salah satu kulinari ibu kota Sumatera Utara itu yang umurnya lebih tua dari usia Indonesia. Ya, inilah salah satu spot kuliner legendaris Medan, rumah makan ini sudah ada sejak 1930.

Bihun Bebek Asie

Medan, kita tahu, adalah kota yang terkenal dengan berbagai destinasi kulinernya. Tidak saja rasanya enak, kota ini juga banyak memiliki tempat dan makanan yang hanya bisa ditemukan di sini. Bihun Beberk Asie Kumanggo adalah salah satu yang terkenal di sini. 

Bayangkanlah bihun yang ditaburi dengan daging bebek. Masakan ini memang merupakan salah satu kuliner Medan, Sumatra Utara yang populer. Sajian khas ini terdiri dari bihun, daun selada, daun bawang, dan daging bebek rebus yang dijamin empuk.

Istana Maimun Medan menjadi salah satu ikon ibu koya Sumatera Utara ini.

Aslinya warung makan ini adalah juga sebuah kedai kopi. Orang Medan menyebutnya kedai Bihun Bebek Asie atau kadang secara gampangan orang juga menyebutnya kedai kopi Kumango karena berada di Jalan Kumango, atau tepatnya berada di belakang kantor Harian Analisa.

Orang menyebut bihun bebek Asie karena pemilik kedai ini bernama Asie. Bihun bebek Asie terletak di deretan ruko-ruko tua dengan jendela-jendela lebar di bagian depannya. Tempatnya cukup mencolok karena paling ramai dengan deretan mobil-mobil di depannya.

Asie sudah berjualan di sini selama puluhan tahun dan mempunyai pelanggan yang setia, selain wisatawan dari luar kota yang ingin mencoba mencicipi gurihnya bihun bebek di sini.

Kedai di Jalan Kumango Medan itu sesungguhnya tampilannya sederhana saja. Namun tempatnya selalu ramai. Menu andalannya, dan satu-satunya menu makanan yang tersedia adalah bihun bebek.

Dan asal tahu saja, bihun bebek yang satu ini terkenal sebagai yang termahal di kota Medan. Per porsi bihun bebek di sini sejak akhir 2022 lalu dibandrol Rp 100 ribu.

Lantas apa ciri khas yang paling menonjol dari bihun bebek di sini? Pertama dan utama adalah porsi bihun dan daging bebeknya yang selalu melimpah.

Karena itu, jika ada yang bertanya kenapa harganya tidak dibuat murah atau lebih murah agar bisa dinikmati lebih banyak kalangan? Jawaban pemiliknya sederhana: orang sejak lama sudah mengenal mereka dengan porsi yang melimpah.

Bihun yang dipergunakan di kedai ini memiliki tekstur yang mirip dengan tanghun lantaran memanfaatkan tepung beras dan tepung kanji. Salah satu bagian terbaik tentu saja adalah daging bebeknya yang empuk namun tidak terlalu lembek.

Tidak ketinggalan taburan bawang goreng di atasnya yang menambah kenikmatan bihun bebek khas Medan ini. Biasanya, bihun bebek disajikan dengan dua macam pilihan kuah, yakni kuah rempah dan kuah kaldu bebek.

Bihun Bebek Medan shutterstock
Ilustrasi Tampilan bihun bebek pada umumnya. foto: shutterstock

Keunggulan Bihun Bebek Asie ini adalah resep mengolah kaldu bebeknya sampai kental dan super enak rasanya. Kuahnya sangat tajam dengan aroma kaldu bebek tapi minim minyak dan lemak. Jernih dan ringan rasanya, dengan taburan kucai tanpa aroma amis daging bebek. 

Dengan perpaduan bahan-bahan tersebut, rasanya para pecinta kuliner dapat merasakan citarasa yang begitu sedap. Sambelnya terasa sedikit dan samar-samar ada rasa asam juga. Bagian terbaik dari hidangan ini tentu saja suwiran daging bebek yang melimpah. Pengunjung juga diperkenankan memesan lauk tambahan, misalnya saja hati atau ampela.

Jalan-jalan ke kota Medan belum lengkap rasanya jika belum mencicipi bihun bebek satu ini. Di Medan, Bihun Bebek Asie memang di daulat menjadi kedai yang menyediakan bihun bebek yang paling enak.

Kedai ini mulai buka dan melayani pembeli Senin hingga Jumat mulai pukul 07.00 WIB. Warga Medan biasa mengunjungi kedai ini untuk menyantap sarapan.

Bihun Bebek Asie IG %40madeyogasudharma
Bihun Bebek Asie. Foto: milik IG Made Yoga Sudharma

Jadi sejak pagi sekali, kedai ini  sudah sangat ramai orang yang antri buat beli bihun bebeknya. Saran saja untuk pengunjung dari luar kota, agar bisa mendapat seporsi bihun ini, datanglah sebelum pukul 8 pagi. Atau akan kehabisan.Menu bihun di sini akan habis dalam beberapa jam saja.

Juga jangan datang Sabtu atau Minggu. Karena mereka melayani banyak pelanggan di hari biasa, kedai ini tutup saat weekend

Kedai Bihun Bebek Asie Kumango, Jalan Kumango Nomor 15, Kesawan, Medan.

agendaIndonesia

*****

Surga Wisata Bali, 3 Butuh Perjuangan

Surga Wisata Bali ternyata tak semuanya tinggal turun mobik dan duduk. Ada juga yabg butuh perjuangan. Foto: shutterstock

Surga wisata Bali mempunyai paket yang komplet. Mulai atraksi berupa garden park, resor-resor mewah, desa-desa wisata, pantai-pantai menawan atau pantai perawan, pertunjukan-pertunjukan budaya, hingga alam pegunungan yang asri.

Surga Wisata Bali

Hampir semua tempat di Bali rasanya telah kondang bagi para wisatawan, domestic maupun manca negara. Aksesnya pun gampang untuk menuju lokasi-lokasi wisata tersebut. Sarana transportasi cukup lengkap, jalan menuju spot-nya pun relatuf gampang.

Namun, bila ada wisatawan yang ingin sensasi liburan yang lain, Bali punya setidaknya tiga surga tersembunyi yang perlu disambangi dengan hiking. Di antaranya tiga tempat berikut ini.

  1. Bukit Campuhan

Pesona Bukit Campuhan, Ubud, semakin viral di dunia maya. Sekitar 11 ribu foto bertagar #bukitcampuhan telah diunggah oleh para pengguna akun Instagram.

Surga Wisata Bali menyimpan banyak keindahan. Ada yang perlu perjuangan untuk mencapainya, seperti Bukit Campuhan di Gianyar.
Bukit Campuhan di Kabupaten Gianyar, Bali. Foto: dok. shutterstock

Sejumlah travel influencer yang sedang naik daun, seperti Kadekarini dan Anggey Anggraini, pun beberapa kali mengunggah foto dengan latar bukit itu. Dalam potret yang ditampilkan di akun berbagi gambar tersebut, keduanya tampak sedang menyusuri Campuhan. Lanskap terasering persawahan di kanan-kiri menjadi ikonnya. Sungguh surga wisata Bali.

Kami lantas mencoba menyambangi bukit itu pada pekan pertama Februari lalu. Ternyata tak mudah menemukan jalan untuk sampai tujuan.

Dari Kota Denpasar, jalan menuju Campuhan harus ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan waktu perjalanan lebih-kurang 1 jam. Bisa juga menumpang shuttle bus dari Pantai Kuta arah Pasar Ubud dengan waktu tempuh lebih lama, yakni 1,5-2 jam.

Setelah tiba di Pasar Ubud, yang juga merupakan pusat aktivitas daerah itu, tak ada petunjuk pasti menuju Bukit Campuhan. Dalam peta digital pun tak tedapat informasi akses jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan bila wisatawan ingin pergi ke sana.

Satu-satunya lokasi terdekat dengan Bukit Campuhan yang bisa diakses kendaraan adalah Kafe Karsa. Kafe Karsa letaknya di balik vila-vila mewah di pedesaan Ubud. Untuk menuju ke sana, wisatawan bisa melewati jalanan berliku serta tanjakan dan jalan menurun cukup terjal.

Selepas sampai di Kafe Karsa, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki atau hiking. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Jalur pertama melewati pematang sawah di belakang Kafe Karsa. Jalur kedua melewati jalan buntu yang letaknya 500 meter dari kafe itu.

Keduanya sama saja menawarkan trek yang lumayan. Perjalanan sekitar dua  kilometer harus ditempuh dengan medan naik-turun melewati jalan setapak.

Namun, setibanya di Bukit Campuhan, rasa lelah akan terbayar dengan pesona alam Ubud yang masih sangat asri. Panorama bukit hijau membentuk prisma tampak membentang di depan mata.

2. Pantai Nyang Nyang

Surga wisata Bali berupa pantai yang terletak di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, ini pernah dinobatkan sebagai Pantai Terbaik Layak Kunjung 2018 oleh CNN Travel International. Pantai tersebut menjadi satu-satunya pantai di Indonesia yang masuk daftar pantai terbaik, bersanding dengan Railay Beach di Thailand, Bazaruto Archipelago di Mozambik, dan Sant Sebastia Beach di Spanyol.

Surga wisata Bali tersedaia dari bukit hingga pantai. Seperti Pantai Nyangnyang.
Pantai Nyangnyang, Bali. Foto: shutterstock

Nyang Nyang masuk jajaran prestasi ini lantaran punya garis pantai yang sangat panjang dengan pasir berwarna keemasan.

Sebelum dinobatkan jadi pantai terbaik, kamipernah mengunjungi Nyang Nyang pada Maret 2017. Warga lokal, Gede Arya, menunjukkan jalan menuju pantai tersebut yang ternyata masih berupa bebatuan kapur yang digempur.

Dari arah Pantai Kuta, jalan menuju Nyang Nyang searah dengan jalur menuju Uluwatu, yakni melewati Jalan Raya Uluwatu Pecatu. Papan petunjuk menuju pantai pun hampir tak terlihat.

Patokan pasti menuju Nyang Nyang adalah Jalan Batu Nunggalan, jalan kecil di tepi Jalan Raya Uluwatu Pecatu. Ujung Jalan Batu Nunggalan adalah jalan buntu. Dari jalan buntu itu tampak garis Pantai Nyang Nyang membentang panjang. Namun letaknya jauh di bawah tebing.

Buat turun ke pantai, wisatawan kudu hiking. Jaraknya tak sampai 1 kilometer, namun kemiringannya cukup bikin kaki gemetar. Disarankan membawa tongkat penopang untuk jalan supaya tak jatuh terperosok saat melewati jalur bebatuan kapur yang terjal dan licin.

3. Green Bowl

Tak jauh dari Nyang Nyang, tepatnya di Desa Ungasan, terdapat pantai yang dulunya merupakan area privat sebuah vila. Pantai ini sekarang dinamai Green Bowl.

Surga wisata Bali tak semuanya bisa dicapai dengan mudah. Ada yang butuh hiking terlebih dahulu, seperti green bowl.
Green Bowl Bali. Foto: Dok. Unsplash-Nigel T.

Mirip dengan Nyang Nyang, Green Bowl terletak jauh di bawah tebing. Buat menuju ke sana, wisatawan kudu menuruni 300 anak tangga dengan pemandangan kanan-kiri berupa semak-semak. Beberapa anak tangga licin karena sudah berlumut. 

Green Bowl, menurut Made, pemilik warung di dekat pantai itu, lebih kondang di kalangan turis asing. Memang, saat itu, pengunjung pantai mayoritas adalah wisatawan mancanegara. 

Wisman tampak mendatangi pantai ini untuk berselancar. Kata Made, Green Bowl memang tempatnya surfer. Tepi pantainya tidak terlalu luas, tapi gelombang lautnya cukup besar. Airnya juga masih sangat jernih.

Gemar petualangan? Mungkin sekali-kali perlu diagendakan kunjunganmu ke tiga tempat tersebut.

agendaIndonesia/Rosana

*****

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Masjid Agung Sumenep

Sumenep 2 peninggalan sejarah Indonesia di pulau Madura, Jawa Timur. Satu tentang kisah keraton Sumenep dan lainnya soal Sumenep sebagai penghasil garam.

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Lantunan salawat para ibu terdengar nyaring dari Kubah Bindara Saod, salah satu raja Sumenep yang bernama asli Raden Tumengung Tirtonegoro. Terdengar juga suara lirih doa dari Kubah Pangeran Jimat, raja Sumenep yang lain. Kubah mereka memang bersebelahan. Saya terdiam di pagi yang hangat, di Asta Tinggi, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep, Madura. Kompleks itu berada di daerah perbukitan. Angin yang bertiup perlahan menyadarkan saya, yang sudah terlalu lama terpaku.

Meninggalkan kompleks pemakaman penuh warna itu, kaki melewati makam-makam lain, yang tentu saja masih keluarga keraton. Uniknya, beberapa dipulas warna-warni. Ada beberapa gapura dan bangunan atau kubah yang dipoles warna-warna terang juga. Di pemakaman yang didirikan pada 1750 ini, ada juga makam Pangeran Diponegoro.

Jajaran ibu penjaja kembang dan air mawar pun saya tinggalkan. Sementara di sisi kiri-kanan saya, para peziarah silih berganti memasuki pemakaman. Setelah menghirup udara segar dalam-dalam, saya melewati gapura putih megah yang menjadi pintu masuk dan keluar. Berada di Kebon Agung, jarak dari pusat kota, hanya sekitar 2,6 kilometer. Hingga saya memilih melepas lapar di Rumah Makan Kartini, di Jalan Diponegoro. Suguhan khasnya cakee—lontong kuah kari—tentunya cukup mengenyangkan. Pilihan lain yang cukup menggoda, nasi campur.

Tak lama, azan Zuhur pun terdengar. Saatnya saya bergeser ke Masjid Agung Sumenep yang hanya beberapa meter dari rumah makan ini. Gerbang putih dengan polesan keemasan di beberapa titik itu langsung menyedot perhatian saya. Orang berduyun-duyun melewatinya. Saya pun tak mau ketinggalan. Melangkah di bawah gapura atap bersusun yang kental dengan budaya Tiongkok itu, saya menengadah mencermati arsitektur salah satu masjid tertua di negeri ini. Merupakan perpaduan beragam budaya; Cina, Eropa, Jawa, dan Madura.

Dibangun pada 1779-1787, dulu dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep. Kini menjadi Masjid Agung Sumenep. Saya melipir ke sisi kiri, karena kaum perempuan hanya mendapat bagian di teras masjid. Namun, seusai salat, saya menengok ke bagian dalam. Ada mihrab dan mimbar ganda dengan detail unik.

Sebagian jemaah siang itu ternyata para pelaku wisata religi. Sumenep memang gudang sejarah yang kental dengan keagamaan. Masjid yang dibangun Kanjeng R. Tumengung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI, ini salah satunya. Dulu merupakan tempat ibadah keluarga keraton, lokasinya memang tak jauh dari Keraton Sumenep. Setelah menunaikan ibadah, giliran istana yang saya jelajahi.

Gerbang keraton atau Labang Mesem mirip dengan gapura Masjid Agung Sumenep, hanya dalam ukuran lebih kecil dan sederhana. Warna yang digunakan sama, putih dan kuning. Ada limasan berundak tiga di bagian puncaknya. Arsiteknya ternyata sama dengan Masjid Agung, yakni warga keturunan Tionghoa bernama Lauw Piau Ngo.

Di sebelah kiri gerbang atau di sebelah timur, ada Taman Sare yang dulu merupakan pemandian keluarga kerajaan. Di istana ini ada beberapa hal unik, seperti Al Quran tulisan tangan berukuran raksasa, kereta kencana Kerajaan Sumenep, dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Inggris. Tepat di seberang Labang Mesem, ada Museum Keraton dengan sejumlah koleksi, seperti pedang, foto-foto kerajaan di masa lalu, kereta kencana, dan alat musik jadul.

Siang yang teduh di akhir Januari, kota yang ditempuh dalam empat jam dari Surabaya ini tak lagi diterpa sinar mentari yang terik. Cukup nyaman bagi saya menengok berbagai peninggalan PT Garam untuk mengenang Sumenep sebagai penghasil garam tersohor di masa lalu. Dari pusat kota, saya pun perlahan menuju Kalianget, kawasan yang dibangun VOC, kemudian diteruskan di masa penjajahan Belanda saat ingin menguasai pusat garam di Madura ini.

Di sebuah jalan dengan kiri-kanan pepohonan rimbun, mata saya menangkap deretan bangunan lawas yang lebih-kurang didirikan pada 1914-1925. Rupanya, saya sudah memasuki kawasan Kalianget. Mata kian awas menyimak kiri-kanan, di mana rumah-rumah tua terus berbaris. Ada pula lapangan tenis. Hingga kendaraan berhenti di sebuah gedung tua tanpa label. Setelah maju beberapa meter, terlihat bangunan dengan papan nama PT Garam (Persero) yang masih terpasang.

Di seberangnya, terlihat bangunan tua lain, konon dulu digunakan sebagai tempat hiburan, sejenis bioskop. Sedangkan gedung tua sebelum kantor PT Garam, ternyata Gedung Sentral yang menjadi pusat listrik. Tak jauh dari sana, saya menemukan lapangan dengan gapura sederhana. Untaian besi di atas gapura bertuliskan “Lapangan Taman Merdeka”. Di tengah lapangan ada sebuah tugu mini. Puncaknya dicat merah, juga di bagian bawahnya. Sederhana, tapi bikin saya penasaran.

Sebuah sepeda ontel berdiri tanpa teman di taman itu. Pemiliknya rupanya bapak tua yang tengah menyambit rumput. “Itu Tugu Kemerdekaan,” ujarnya. Kemudian saya bertemu dengan penarik becak berbaju garis merah-putih khas Madura. Ia menjelaskan lebih detail. Tugu Merdeka didirikan untuk memperingati perlawanan terhadap Belanda. Ia bertutur Belanda menyerang dari arah laut, dan rakyat pun berjuang menahannya di lapangan ini. Hingga ada lubang atau benteng pertahanan mini di ujung lapangan.

Lantas, Eri—begitu bapak itu menyebut namanya—bercerita tentang PT Garam di masa kejayaannya. Ia pun menunjukkan bekas gudang dan penampung air di bagian belakang kantor perusahaan itu. “Rumah-rumah bekas karyawan sekarang disewain dengan harga murah,” ucapnya. Sedangkan gudang-gudang dan kantor kosong, hanya menyimpan seonggok kenangan dan kejayaan saat Sumenep menjadi penghasil garam terkenal, saat kapal-kapal dari berbagai negara singgah di pelabuhan ini.

Langit mulai gelap. Ketika hujan sering turun di Bumi Pertiwi ini, Sumenep pun tak ketinggalan diguyur air dari atas. Saya harus beranjak, dan tentunya akan kembali esok pagi, karena perjalanan ke Gili Labak, dimulai dari Dermaga Kalianget. l

Gili Berpasir Putih

gili labak di Sumenep, Madura, Jawa Timur
Wisata Sumenep di Gili Labak. Dok. Rully K-TL

Dengan bantuan staf hotel, saya mendapat kontak pemilik perahu yang akan membawa ke Gili Labak. Sewa per kapal cukup tinggi, sekitar Rp 1 juta. Jadi saya pun bergabung dengan sejumlah penumpang lain dengan biaya per orang cukup Rp 75 ribu.

Selepas subuh, kendaraan melaju langsung ke Dermaga Kalianget. Semangkuk mi dan teh panas mengisi perut yang kosong sebelum saya menuju rumah pemilik perahu. Terbagi dari beberapa rombongan, dan akhirnya saya mendapat jatah rombongan terakhir yang baru berangkat pukul 06.30. Perahu berkapasitas 20 orang itu mulai melewati Pulau Talango, tepat di seberang dermaga. Pulau ini terkenal diburu peziarah karena di sana ada makam Sayyid Yusuf.


Awalnya laut tenang, tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang Gili Labak, ombak mengajak bergoyang. Akhirnya, setelah 2 jam di laut, kaki menginjak pantai berpasir putih nan halus. Saya mencoba berkeliling pulau kecil dengan ukuran 5 hektare itu. Tidak terlalu lama, sekaligus tak melelahkan. Ada beberapa pilihan spot untuk selfie atau wefie, dari jembatan, dermaga, sampai pepohonan kering. Tentunya bikin pelancong, yang kebanyakan lokal, bisa mejeng sana-sini.

Terlihat beberapa tenda berdiri di tepi pantai. Ada juga rumah-rumah penduduk yang disewakan. Sedangkan ikan-ikan lebih banyak berada di sisi belakang pulau. Hanya sayang, karena kerap surut, terumbu karang pun sering diinjak-injak hingga terlihat banyak yang mati. Seperti saat pulang, karena di bagian depan ombak begitu tinggi, perahu menaikkan penumpang dari sisi belakang.


Jangan terlena hingga sore di Gili Labak. Sebab, lewat siang, ombak terus meninggi. Berangkat sekitar pukul 14.00 pun ombak tak berhenti mengayun-ayun perahu, dan semburan air membuat penumpang di bagian depan basah kuyup. Seperti yang saya alami, rasa asin begitu lekat di badan. Dengan ombak tinggi, perjalanan pulang pun akhirnya berakhir setelah 2,5 jam. l

Rita N./Rully K./Dok TL

Toko Roti Sidodadi, Jadul Sejak 1954

Toko Roti Sidodadi satu legenda kuliner Bandung.

Toko Roti Sidodadi Bandung adalah kenang-kenangan kota Paris van Java ini sejak awal kemerdekaan Indonesia. Toko roti ini dibuka sekitar 1954, setahun sebelum Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di kota ini.

Toko Roti Sidodadi

Untuk banyak orang, Toko Roti Sidodadi merupakan prasasti bagi hidup mereka. Berusia sekitar 70 tahun, banyak pelanggan mereka yang sudah sepuh, namun mereka tetap berkunjung ke toko ini jika mampir ke ibukota Jawa Barat ini.

Awalnya, Toko Sidodadi ini hanya memproduksi kue carabikang yang terbuat dari tepung beras. Hingga kini, kue tersebut masih dibuat. Setiap pengunjung bisa menyaksikan langsung pembuatan carabikang secara tradisional di bagian depan toko.

Toko Roti Sidodadi sudah ada sejak tahun 1954, setahun sebelum KTT Asia Afrika.
Jalan Oto Iskandar Dinata, Bandung. Foto: unsplash

Baru pada 1960-an, Sidodadi membuat roti yang dibuat secara tradisional dengan tangan. Mereka juga membuatnya tanpa bahan pengawet, sehingga rotinya hanya bisa bertahan 3-4 hari.

Proses pembuatan adonan rotinya menghabiskan waktu satu malam. Sementara pemanggangannya dilakukan pada pagi hari. Jadi selalu fresh. Mereka memanggang dua kali, pagi-pagi sekali untuk dijajakan pada pukul 10 pagi, dan pemanggangan siang untuk dijajakan pada pukul 4 sore.

Dalam perkembangannya, toko ini kemudian juga memproduksi roti-roti dan kue-kue yang lain. Aneka jajanan roti disediakan di sini, mulai dari roti manis dan asin. Tak hanya itu, mereka juga menyajikan berbagai makanan gorengan dan jajanan pasar.

Untuk roti rasa manisnya, ada roti cokelat, susu, kopi, kismis, nanas dan rasa manis lainnya. Sedangkan untuk rasa asinnya ada roti sosis, bakso sapi, smoked beef, bakso ayam dan roti kornetnya. Masing-masing memiliki penggemarnya.

Toko Roti Sidodadi kompas
Toko Sidodadi di Bandung. Foto: Milik kompas.com

Toko Roti Sidodadi ini tetap bertahan menjadi toko roti favorit di Bandung. Ini bisa terlihat dari ramainya pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan yang mengantre untuk memesan roti di sini.

Toko Roti Sidodadi itu sendiri merupakan usaha roti keluarga. Sejak awal mengambil lokasi di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 255, Kecamatan Astanaanyar, Bandung. Letaknya yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Bandung menjadikan toko roti ini menjadi pilihan favorit masyarakat Bandung dan mereka yang pernah tinggal di kota ini.

Bangunan Toko Roti Sidodadi hingga kini masih terlihat kuno. Di sisi depannya ada tulisan cukup besar bertuliskan “Toko Sidodadi” dengan huruf berwarna merah.

Bangunannya praktis tak banyak berubah sejak dulu. Di bagian luar toko, atau di pinggir jalan, masih terlihat pedagang-pedagang kecil buah atau penganan ikut menjajakan dagangan mereka dengan ember atau baskom.  

Suasana di dalam toko pun masih mirip masa lalu. Ia bukanlah bakery-bakery modern yang berhawa sejuk. Jejeran showcase-nya juga masih terlihat model lama. Pendek kata, bagi mereka yang pernah datang ke toko ini 30 tahun lalu akan mendapatkan kesan yang sama.

Menariknya, rasa roti dari toko yang satu ini tidak berubah dari zaman dahulu kala. Teksturnya empuk, rasanya yang enak menjadikan toko Roti Sidodadi selalu dipenuhi para pengunjung atau pelanggan setianya.

Toko Roti Sidodadi saat ini telah dikelola oleh generasi ke tiga dari pendiri awalnya. Penamaan “Toko Sidodadi” itu sudah ada sejak zaman awal toko tersebut berdiri. 

Tak ada penjelasan kenapa nama itu yang diambil dan mengapa dalam bahasa Jawa. Nama yang berarti “Jadi Dilakukan” atau “Jadi Dibuat” dalam bahasa Jawa.

Produk Roti Toko Sidodadi IG wa.nk
Roti dan kemasan Toko Sidodadi. Foto: Dok. IG wa.nk

Tak hanya itu keunikan toko roti ini. Hal lain yang tak berubah dari sejak awal toko ini beroperasi adalah kemasannya yang melegenda. Bungkus atau packaging rotinya sangat terkesan jadul.

Terbuat dari plastik berwarna putih dengan gambar berwarna merah seorang perempuan membawa roti tawar. Di bagian atas gambar terdapat tulisan nama toko roti dan alamatnya.

Selain itu tertera pula bahan baku yang digunakan serta nomor perizinan. Di paling bawah kemasan terdapat imbauan bertuliskan “Jadilah Peserta KB Lestari” dan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”.
Kemasan ini menambah kesan klasik dari roti Sidodadi. Sang pemilik sepertinya ingin mempertahankan kesan atau image itu. Citra bahwa roti atau toko roti mereka adalah legenda kuliner Bandung, yang bahkan kemasannya pun tak berubah sejak dulu.


Ayo sekali-kali agendakan jajan roti di Sidodadi. Dengan harga yang terjangkau, para pelanggan dapat merasakan roti legendaris di Kota Bandung dengan berbagai varian rasa yang tidak kurang dari 30 pilihan rasa.

agendaIndonesia

*****

Pasar Triwindu Solo Antik Sejak 1939

Pasar Triwindu Solo berdiri sejak tahun 1939.

Pasar Triwindu Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu tujuan khusus wisatawan yang mengunjungi kota ini. Ia seakan menjadi surga bagi pecinta barang antik atau tiruannya, ya pasar ini memang dikenal sebagai pusatnya penjualan barang-barang antik dan kuno.

Pasar Triwindu Solo

Pasar Triwindu Solo berada di sisi selatan Pura Mangkunegaran, ia hanya berjarak sekitar 350 meter dari kraton itu. Kedekatan lokasi itu karena memang Triwindu merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran. Pasar ini dibangun di selatan kompleks Kraton Mangkunegaran, tepatnya di sisi timur kalan raya yang mengarah ke gapura istana. Secara administratif berada di wilayah kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta atau Solo.

Pasar Triwindu Solo dibangun untuk memperingati 24 tahun masa bertahta KGPAA Mangkunegara VII.
Pasar Triwindu Solo yang terletak di Jalan Diponegoro. Foto: dok. shutterstock

Ia disebut Triwindu karena dibangun pada 1939 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai peringatan 24 tahun (atau tiga windu) masa pemerintahannya. Pada 5 Juli 2008, pasar ini dipugar dan dibuat bangunan baru yang disesuaikan dengan arsitektur budaya Solo. Awalnya, tempat ini bernama Windujenar lantas seiring perkembangan berubah menjadi Pasar Triwindu.

Pasar Triwindhu Ngarsapura adalah pasar barang antik, tiruannya, serta onderdil khusus (klithikan). Barang klithikan ini, misalnya, tuts mesin ketik kuno. Atau lampu sepeda onthel lawas yang sudah tak ada di toko-toko sepeda.

Bagi kolektor barang antik, Solo menjadi surga yang menyediakan beragam benda bernilai sejarah dan suvenir jaman dulu. Pasar Windujenar atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Triwindu menjadi sentranya. Terletak di kawasan Ngarsopura di Jalan Diponegoro, pasar ini menawarkan keunikan bertransaksi: berbagai barang antik yang boleh ditawar.

Pasar ini ketika dipugar dibuat menjadi dua lantai, sehingga kios-kios yang awalnya berhimpitan menjadi agak longgar. Pada lantai satu digelar barang-barang lawas dan antik. Sementara itu di lantai dua, mayoritas barang yang ditawarkan adalah onderdil kendaraan tua.

Di lantai satu dagangan yang digelar mulai gramofon buatan Eropa, senjata pusaka, kamera tua, ukiran, peralatan rumah tangga lawas hingga mainan antik. Ada juga mata uang kuno, baik yang berbentuk koin atau kertas, misalnya yang dikeluarkan pada 1800-an; topeng, piring kuno buatan 1960, aneka kain batik lawas, dan perkakas rumah tangga. Kemudian ada radio kuno, jam tangan bekas, patung, lampu hias kuno, hingga mainan tradisional tempo dulu, seperti dakon dan lainnya.

Seperti disebut di muka, keunikan penjualan barang-barang antik dan kuno yang dijual di pasar ini harganya bervariasi. Mulai harga yang termurah dari ribuan rupiah saja, ratusan ribu hingga puluhan juga rupiah. Para pembeli yang datang ke pasar ini sebagian besar para pelancong yang hobi mengkoleksi barang-barang antik dan kuno. Mereka tidak saja dari segala penjuru daerah di Indonesia, tetapi juga kolektor dari mancanegara (luar negeri). Seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan lainnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu Sudarsono bercerita bahwa lahan yang digunakan sebagai pasar tersebut awalnya difungsikan sebagai alun-alun Mangkunegaran. Pembangunan sebagai Pasar Triwindu menurutnya memiliki dua versi. Versi pertama adalah ketika pada 1939, ketika Pura Mangkunegaran dipimpin KGPAA Mangkunegara VII, ia membangunnya sebagai ulang tahun jumeneng yang ke 24.

Sedangkan versi kedua, menurut Sudarsono, adalah KGPAA Mangkunegara VII berniat memberi hadiah ulang tahun ke 24 untuk putrinya, Gusti Putri Mangkunegara VII yang bernama Noeroel Kamaril.

iNamun bisa jadi kebaradaan pasar ini merupakan gabungan kedua versi tersebut, yakni membangun pasar sebagai perayaan bertahta selama tiga windu dan kemudian pasar itu kemudian dihadiahkan kepada Gusti Noeroel bertepatan dengan ulang tahunnya ke 24. Nama Triwindu berasal dari kata ‘Tri’, dalam bahasa Jawa yang berarti tiga. Sedang ‘windu’ artinya delapan. Kemudian diterjemahkan dalam bilangan angka 24 yang berarti tiga kali delapan.

“Nama Pasar Windujenar pada Juni 2011 berubah nama jadi Pasar Triwindu hingga sekarang,” kata pria tersebut.

Pasar Triwindu dimanfaatkan sekitar 200an pedagang menjajakan koleksinya. Selain tujuan kdiriolektor barang antik dan kuno, Pasar Triwindu juga menjadi tujuan wisata. Menurutnya, pengunjung pasar Triwindu ada tiga kategori. “Wisatwan dari Solo sendiri, dari luar kota, dan mancanegara. Tetapi kebanyakan yang belanja di sini dari luar kota,” katanya.

Seorang pedagang Pasar Triwindu mengaku sudah lama berjualan barang antik sejak pasar itu masih bernama Windujenar. Menurutnya, banyak pembeli datang membeli barang antik dan kuno selain untuk koleksi pribadinya, namun tak sedikit untuk dijual kembali di kota asalnya.

Menurutnya, ada perbedaan antara pembeli kolektor dengan pembeli pedagang atau setengah kolektor-pedagang. Kolektor umumnya tak banyak menawar harga barang jika sudah cocok dengan barang yang diinginkannya. Sementara yang berpikir untuk menjual kembali biasanya melakukan tawar menawar.

Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya menjadi incaran para kolektor barang antik
Salah satu sudut Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya. Foto: dok. shuterstock

Tren barang antik yang dicari para pembeli rupanya juga selalu berganti sesuai jamannya. Periode 1970-1990, misalnya, banyak pembeli dari mancanegara yang datang membeli barang antik dan kuno. Barang antik atau kuno yang dibeli kebanyakan keris, patung, dan arca. Pembelinya adalah kolektor dari Belanda, Inggris dan Australia. Kemudian pada era 1990-2000-an para pembeli yang datang ke Pasar Triwindu mencari lampu kristal kuno atau perabotan rumah tangga.

Triwindu, yang sampai sekarang muka sejak pukul sembilan pagi dan tutup kadang sampai malam menjadi primadona dan pilihan bagi para kolektor yang ingin mencari barang-barang antik dan kuno.

Jika pandemi sudah mereda dan ada rencana ke Solo, tak ada salahnya agendakan kunjungan ke Triwindu.

agendaIndonesia