Laksa di Indonesia adalah salah satu masakan yang sangat popular, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh budaya Melayu dan Tionghoa. Asal-usul laksa di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan pasti, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa laksa pertama kali muncul di wilayah Malaysia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
laksa di Indonesia
Laksa masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan migrasi penduduk pada zaman kolonial, terutama pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, juga terdapat pengaruh dari imigran Tionghoa yang membawa resep-resep masakan mereka ke Indonesia. Secara historis, laksa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari kekayaan kuliner Indonesia.
Laksa sendiri merupakan hidangan yang kaya akan sejarah dan pengaruh budaya, dan nama “laksa” memiliki asal-usul yang menarik. Mengutip dari kompas.com, ada beberapa teori yang dilansir Mashable South East Asia. Di sana disebut bahwa nama “laksa” memiliki hubungan dengan pertukaran budaya melalui Jalur Sutera dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Laksa Assam. Foto: shutterstock
Salah satu teori terkait dengan nama “laksa” berasal dari kamus A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson terbitan 1901. Menurut kamus ini, kata “laksa” memiliki arti “100 ribu” dalam bahasa Sansekerta. Namun, hubungan antara angka ini dengan hidangan laksa tidak begitu jelas, sehingga masih menjadi misteri.
Masih dari artikel yang sama, ada teori lain mengenai asal-usul kata “laksa” yakni berasal dari bahasa Persia. Kata “laksa” diyakini berasal dari kata “lakhshah” yang merupakan salah satu jenis bihun. Pengaruh Persia dalam perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutera dapat menjelaskan kemungkinan asal-usul kata “laksa” dari bahasa Persia.
Dengan demikian, nama “laksa” mungkin muncul akibat interaksi budaya yang kompleks melalui Jalur Sutera, yang menghubungkan berbagai wilayah dan budaya di Asia Tenggara. Pengaruh dari bahasa Sansekerta dan Persia mungkin merupakan salah satu dari banyak elemen yang membentuk identitas kuliner laksa, mencerminkan kekayaan warisan budaya yang mengakar dalam hidangan yang begitu terkenal dan dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia.
Lalu bagaimana dengan masakan laksa di Indonesia? Terdapat beberapa jenis masakan laksa yang populer, di antaranya adalah:
Laksa Betawi
Laksa Betawi. Foto: shutterstock
Laksa ini tentu saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Laksa Betawi memiliki kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah. Beberapa bahan utamanya adalah mie, telur rebus, tauge (kecambah), irisan ketupat, dan daun bawang. Di Jakarta pecinta kuliner bisa menemui masakan ini di Kafe Betawi.
Ada beberapa gerai rumah makan ini, di antaranya di mal Senayan City dan Kuningan Plaza.
Laksa Bogor
Jenis laksa di Indonesia ini merupakan variasi laksa yang juga berasal dari Jawa Barat, terutama daerah Bogor. Laksa jenis ini memiliki ciri khas kuah yang kental berwarna kuning kehijauan dan menggunakan mie kuning tebal. Dalam hidangan ini, biasanya terdapat irisan ayam, telur rebus, tauge, dan daun seledri.
Kekhasan Laksa Bogor terdapat pada penggunaan oncom yang biasanya dipanggang terlebih dahulu. Terkadang juga dapat disantap dengan ketupat maupun perkedel sebagai pelengkap hidangan.
Untuk dapat menikmati masakan ini, berikut adalah warung makan yang terkenal dengan laksa Bogor. Coba datiag ke Laksa Gang Aut di Jalan Surya Kencana. Warung yang aslinya Bernama Laksa Mang Wahyu ini sudah berjualan sejak 1960-an
Laksa Palembang
Laksa di Indonesia ini berasal dari Sumatera Selatan, terutama daerah Palembang. Aslinya mirip dengan pempek yang menggunakan kuah yang terbuat dari santan, udang, dan rempah-rempah. Sering juga disebut sebagai laksan atau leksan.
Untuk yang ingin mencicipi Laksan Palembang bisa dating ke Sarapan Cek Leni di Jalan KH M. Asyik Nomor 1502, Palembang
Laksa Medan
Laksa ini berasal dari Sumatera Utara, terutama daerah Medan. Laksa Medan adalah hidangan yang terbuat dari bihun putih, timun, ikan, daun mint, dan saus asam jawa.
Laksa Medan berbahan dasar saus ikan yang sedikit asam. Rasa yang ditawarkan juga asam dan segar. Cocok untuk sore hari karena sajian ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi.
Di ibukota Sumatera Utara ini mudah mencari masakan laksa Medan, cobalah dating ke Jalan Yose Rizal. Di sepanjang jalan ini ada sejumlah tempat makan yang menjajakannya, tapi cobalah Rumah Makan Laksa Yose Rizal.
Laksa Ayam. Foto: shutterstock
Lalu dari sejumlah laksa tersebut, manakan yang paling enak dan terkenal? Laksa yang paling terkenal di Indonesia sulit untuk ditentukan karena setiap daerah memiliki varian dan cita rasa yang berbeda. Namun, Laksa Betawi mungkin salah satu jenis laksa yang paling dikenal secara nasional karena popularitasnya di wilayah metropolitan Jakarta, ibu kota Indonesia.
Perlu diingat bahwa variasi laksa dapat berbeda-beda bahkan di dalam satu daerah, tergantung pada bahan lokal yang tersedia dan resep keluarga atau warisan budaya. Keberagaman inilah yang membuat masakan laksa di Indonesia begitu menarik dan lezat untuk dinikmati.
Wisata ke Batam pada masanya pernah begitu popular bagi banyak orang Indonesia. Maklum, hingga 31 Desember 2010, orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dulu harus membayar fiskal sebesar Rp 1 juta. Dan, jika berangkat dari Batam, untuk perjalanan satu hari biaya itu bisa dipangkas separuhnya.
Wisata Ke Batam
Soal jalan-jalan dengan menghemat biaya fiskal adalah cerita masa lalu. Kini Batam terus berbenah menjadi spot wisata yang mandiri. Makin banyak pengunjung yang memang mau menikmati Batam itu sendiri. Tentu, tak menutup kemungkinan ada saja ada pengunjung yang selain main ke pulau ini seraya melirik ke negeri Singa. Maklum, jarak antara ke dua pulau ini cuma 15 kilometer. Dengan kapal fery, jarak ini biasanya ditempuh 40-45 menit.
Batam adalah kota sekaligus pulau yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai kota, Batam adalah kota terbesar di provinsi ini. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasanSelat Singapura dan selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang kini terkoneksi oleh Jembatan Barelang yang sekaligus menjadi ikon kota ini.
Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam, saat ini bernama BP Batam, kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk. Dalam tempo 40 tahunan penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Jumlah penduduk mencapai 1.150.000 jiwa pada sensus 2012.
Kota ini sejatinya terus dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu yang cukup lengkap. Selain memiliki sejulah spot alam yang menarik, punya petilasan sejarah, dan tak kalah penting ia juga dikembangkan untuk wisata belanja. Batam merupakan bagian dari kawasan khusus perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun (BBK).
Untuk ke Batam tentu saja paling mudah menggunakan penerbangan dari Jakarta. Ada banyak jadwal penerbangan ke kota ini, tinggal disesuaikan dengan acara yang disusun selama di Batam.
Jika melakukan perjalanan ke Batam untuk liburan, pulau ini memiliki koleksi pantai yang indah dan beragam. Wisatawan bisa memilih, pemandangan gugusan pulau, Singapura, atau Jembatan Barelang yang megah itu. Salah satu pantai yang memiliki potensi wisata bahari adalah Pantai Tanjung Pinggir.
Pantai ini berada di kawasan Sekupang, Kota Batam. Bila tak sedang musim kabut asap, gedung-gedung di Singapura terlihat jelas, bahkan Marina Bay Sands sekalipun. Tanjungpinggir dikepung bebatuan, namun pantainya yang kecoklatan masih sangat leluasa untuk digunakan bermain atau berjalan-jalan di pinggirnya.
Ada pula Pantai Nongsa yang memiliki pemandangan sangat cantik dan banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan pantai dengan pasir putihnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Nongsa, hanya sekitar 10 menit jika ditempuh dari bandara. Banyak wisatawan yang datang ke tempat wisata ini untuk menikmati keindahan lautnya, mereka juga dapat menginap di hotel sekitar pantai.
Pilihan kunjungan lainnya adalah ke kampung Vietnam di Pulau Galang. Tempatnya sekitar 50 kilometer dari Kota Batam dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Kampung Vietnam merupakan bekas kamp pengungsian warga Vietnam pada saat Perang Vietnam berlangsung atau setelah berakhir di akahir 60-an hingga 70-an.
Di Kampung Vietnam ada gereja tua, vihara, barak pengungsian, penjara hingga patung Buddha tidur. Beberapa bangunan memang banyak yang telah menjadi puing-puing, seperti rumah sakit dan penjara. Semua bangunan tersebut menjadi saksi bisu tentang kehidupan para pengungsi di masa lalu.
Secara historis Indonesia pernah punya pengalaman ikut menangani pengungsi dari Vietnam atau yang kerap dijuluki sebagai manusia perahu. Pemerintah Indonesia saat itu memilih Pulau Galang untuk menampung para manusia perahu tersebut.
Pemerintah Indonesia mengizinkan mereka mengungsi ke tempat tersebut untuk sementara waktu hingga perang saudara di Vietnam reda. Setelah terjadi perdamaian di Vietnam, para pengungsi mulai kembali ke negaranya dan membiarkan tempat tersebut kosong. Hingga saat ini tempat itu menjadi tempat wisata yang unik karena ada sebuah desa yang tidak berpenghuni namun memiliki suasana yang tidak lazim di Indonesia.
Pilihan selanjutnya, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil adalah bermain ke Ocarina. Orang Jakarta barang kali memiliki Taman Impian Jaya Ancol, nah kalau orang Batam punya yang namanya Ocarina, yaitu wahana permainan seluas sekitar 40 hektare yang dibuka pada 2008. Tempat ini sekarang menjadi wisata hiburan paling populer bagi masyarakat Batam dan sekitarnya.
Dengan lokasi berada di pinggir pantai, bisa dimanfaatkan pengunjung untuk keperluan liburan keluarga. Pada hari libur tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun luar daerah.
Wisata lain yang menarik adalah belanja. Pada masanya, banyak orang dari luar Batam yang pergi ke sini untuk berbelanja barang-barang impor, khususnya barang elektroni. Harganya memang relatif miring. Saat ini, dengan makin terbukanya perdagangan dan transaksi daring, harga murah menjadi relatif. Namun jika ada yang ingin mencoba peruntungan, bisa main ke Batam City Square, Panbil Mall, Nagoya Hill, atau Pasar Aviari. Yang terakhir ini banyak menjual barang bekas dengan kondisi bagus eks negara tetangga.
Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.
Bakmi Jawa
Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.
Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.
Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.
Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.
Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.
Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.
Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.
Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.
Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.
Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.
Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.
Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:
Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.
Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan).
Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.
Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.
Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3
Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan
Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.
Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.
Kuliner Pinggiran
Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.
Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.
Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.
Ayam Betutu Pak Sanur
Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera.
Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan
Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali
Es Dawet Telasih Bu Dermi
Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.
Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan.
Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo
Pawon Mbah Gito
Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.
Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh.
Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock
Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik.
Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.
Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam.
Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu.
Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.
Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan
Ini bagian ke dua 8 kuliner tradisional khas Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Nah ini 8 kuliner tradisional khas Malang.
Salah satu landmark Kota Malang. Foto: shutterstock
Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang
Toko Oen Malang
Malang tak hanya dikenal dengan destinasi kuliner main course saja, tapi beberapa kedai kudapannya juga menarik untuk dicoba. Seperti misalnya Toko Oen Malang, yang sudah berjualan penganan cemilan seperti es krim dan produk pastry seperti roti, kue basah dan kue kering sejak 1930.
Nuansa era pra kemerdekaan itu masih amat kental terasa dari gaya eksterior dan interior bangunannya, yang masih dipertahankan dan kini telah menjadi cagar budaya. Plang tulisan berbahasa Belanda dan barisan pramuniaga berseragam pelayan ala Eropa tempo dulu akan menyambut pengunjung begitu memasuki kedai ini. Ini satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang.
Faktanya, Toko Oen merupakan sebuah rantai usaha kedai makanan ringan yang pertama kali buka di Yogyakarta pada 1910, sebelum kemudian membuka cabang-cabang lainnya seperti di Semarang, Malang dan Jakarta. Pada perkembangannya, kedai di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup dan menyisakan cabang di Semarang dan Malang saja.
Bahkan, Toko Oen Malang secara kepemilikan sudah tak lagi dipegang oleh keluarga pemilik usaha aslinya, karena mereka kini hanya fokus mengelola cabang Semarang. Namun tak perlu khawatir, karena pengelola yang baru memastikan bahwa otentisitas dan kualitas menu-menu yang ditawarkan di kedai ini tetap dipertahankan.
Berada di area pusat kota, tepatnya jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 5 yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang, Gereja Kayutangan dan pusat perbelanjaan Sarinah, menjadikannya lokasi yang strategis bagi siapapun untuk berkunjung dan klangenan, melepas penat sambil menyantap ragam kudapan ringan yang ditawarkan.
Es krim buatan homemade menjadi salah satu menu primadona. Pengunjung bisa memilih es krim single scoop dengan pilihan rasa seperti coklat, vanilla, mocca, strawberry, sampai durian. Selain itu, tersedia juga varian kombinasi dan sundae seperti tutti frutti, napolitaine, banana split, tropicana cream, chocolate parfait, dan sebagainya.
Menu makanan ringan dan salad mereka juga banyak diminati pengunjung. Mayoritas merupakan makanan yang bergaya Belanda karena kedai ini dulunya digemari orang-orang Belanda. Contohnya pilihan pastry seperti saucijzenbrood, kippenbrood dan garnalebrood yang sejatinya adalah roti puff dengan isian daging giling sapi, ayam dan udang.
Ada pula pilihan salad seperti huzarensalade, italiaansesalade, dan groentensalade, yakni salad daging, salad ayam dan salad sayur serta buah-buahan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu main course seperti steak, burger, galantin, dan sandwich yang terbilang cukup digemari.
Yang menjadi catatan, karena memang sejak dulu didesain untuk menjadi kedai kudapan kelas atas, harga makanannya juga tak bisa dibilang murah. Seperti es krim yang punya range harga dari Rp 25 ribu hingga 60 ribu, atau salad yang berkisar dari Rp 35 ribu sampai 50 ribu. Makanan main course seperti steak juga dihargai mulai dari Rp 75 ribu sampai 80 ribu.
Tetapi, pengunjung datang ke sini bukan hanya membeli cita rasa makanannya, tetapi juga membeli pengalaman selayaknya kembali ke era kolonial; melihat dan merasakan bagaimana suasana nongkrong di masa itu, sambil menyicipi menu-menu otentik yang menjadi kegemaran kaum Belanda tempo dulu.
Orem Orem Arema
Nama makanan yang satu ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar orang, tapi tetap menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para pemburu 8 kuliner tradisional khas Malang. Dan kedai penjual orem orem paling hits di Malang adalah Orem Orem Arema, yang berada di jalan Blitar nomor 14.
Orem orem sejatinya merupakan jenis makanan berkuah yang berisikan potongan tempe, ketupat, ayam suwir, telur asin, taoge dan ditaburi bawang goreng. Adapun kuahnya terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, daun salam, lengkuas, daun jeruk, ketumbar, dan kemiri yang diolah dengan menggunakan santan.
Orem-orem Malang. Foto: shutterstock
Kemunculan makanan ini disinyalir berawal dari kehidupan masyarakat di masa pra kemerdekaan. Saat itu, untuk sekedar bisa membuat dan makan soto ayam atau daging saja terasa sulit, karena kelangkaan dan harga daging ayam dan sapi yang oleh sebagian besar kalangan saat itu dianggap mahal.
Oleh karena itu, beberapa orang kemudian berkreasi membuat makanan sejenis soto dengan menggunakan isian potongan tempe, yang dianggap lebih terjangkau. Dari situ, orem orem kemudian hadir sebagai alternatif soto pada umumnya. Bahkan, tak jarang ia khusus disajikan dalam hajatan tertentu saja.
Meski demikian, pada perkembangannya kebanyakan orem orem yang bisa ditemukan saat ini sudah dilengkapi dengan beberapa tambahan isian di dalamnya. Seperti halnya di Orem Orem Arema, dimana pengunjung dapat memilih orem orem original atau dengan tambahan telur dan ayam suwir.
Dan sejak mereka mulai berjualan pada 1995, mereka terus menjadi salah satu rekanan utama kedai orem orem di Malang. Cita rasa gurih dan segarnya orem orem yang otentik menjadi daya tarik utama. Apalagi, dengan harganya yang hanya dibandrol Rp 8 ribu untuk orem orem original, serta Rp 11 ribu dengan tambahan telur asin dan Rp 12 ribu dengan tambahan ayam suwir, membuatnya sangat ramah kantong.
Tahu Lontong Lonceng
Satu lagi rekomendasi 8 kuliner tradisional khas Malang legendaris adalah Tahu Lontong Lonceng. Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 66, kedai tahu lontong yang sudah berjualan sejak 1935 ini dulunya berada di bawah sebuah tugu lonceng milik Belanda, sehingga pelanggannya kemudian kerap memanggilnya sebagai Tahu Lontong Lonceng.
Secara tampilannya, kedai ini cenderung terlihat kecil dan sederhana. Pun demikian dengan menunya, yang secara umum menawarkan tiga jenis makanan: tahu telur dengan lontong, tahu telur dengan nasi, serta tahu lontong tanpa telur. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp 11 ribu untuk tahu lontong tanpa telur, dan Rp 13 ribu untuk tahu telur dengan lontong maupun nasi.
Tahu Tek yang mirip Tahu Lontong. Foto: shutterstock
Dilihat dari penampilannya pun, ia terlihat seperti kuliner olahan tahu dan lontong pada umumnya. Dalam satu porsinya, terdapat irisan tahu dan taoge, dengan atau tanpa telur, yang dilumuri bumbu kacang dan disajikan dengan lontong atau nasi, serta dapat disantap dengan beberapa pilihan kerupuk.
Namun, satu hal yang membuatnya unik adalah hampir semua bahan bakunya dibuat sendiri alias homemade. Hal ini dilakukan agar dapat senantiasa menjaga tahu lontong buatannya selalu dengan cita rasanya yang otentik. Seperti tahunya yang dikenal terasa lembut, serta bumbu kacangnya yang berpadu gurih.
Otentisitas rasa, ditambah dengan harga yang ekonomis, membuatnya masih banyak digemari orang dari berbagai kalangan, dari warga sampai wisatawan, baik orang kantoran sampai anak kuliahan. Tak heran, jika kedai kecil yang buka dari jam 11.00 hingga jam 22.00 ini masih kerap dipenuhi pengunjung setiap jam makan siang dan malam.
Sate buntel Solo adalah keunikan kuliner kota Solo yang sering menjadi target untuk dinikmati lagi dan lagi. Banyak orang yang belum pernah mencicipinya beranggapan sate ini sama saja dengan sate, terutama yang berbahan daging kambing, lainnya.
Sate Buntel Solo
Sate buntel Solo punya perbedaan yang signifikan dengan sate-sate lainnya. Sate ini umumnya menggunakan daging kambing, meskipun belakangan ada pula yang mencoba menggunakan daging sapi. Perbedaan sate kambing biasa dan sate buntel terletak pada pengolahan daging kambingnya.
Pada sate kambing reguler, sebut saja begitu untuk membedakannya, menggunakan daging yang dipotong kecil-kecil lalu setiap 3-5 potong ditusuk dengan potongan bambu atau kayu. Sementara itu, sate buntel ini menggunakan daging yang dicincang lembut.
Dalam proses pembuatannya, daging kambing dicincang sampai lembut lalu dicampur dengan bumbu-bumbu khusus. Karena bumbu dicampurkan pada daging cincang yang lembut, rasa bumbu terserap dengan sempurna. Tapi itu belum semua.
Setelah bumbu dan daging tercampur penuh, kemudian ‘adonan’ itu dibentuk kepalan pada tusuk sate yang terbuat dari bambu. Tusuk sate ini lebih besar dari tusuk sate pada umumnya, agar kepalan daging tersebut bisa menempel pada tusuk satenya. Setelah berbentuk kepalan, daging kambing itu dibungkus atau dibentel dengan lapisan lemak daging, lalu di bakar hingga matang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bumbunya betul-betul meresap ke dalam daging.
‘Buntel’ dalam bahasa Jawa berarti ‘bungkus’ atau ‘balut’. Hal tersebut mengacu pada daging kambing cincang yang di-buntel menggunakan lemak daging kambing tipis sebelum dibakar.
Sate buntel biasanya disajikan dengan saus kecap manis dan beberapa bahan pelengkap seperti irisan tomat, cabe, bawang merah dan kubis atau kol. Untuk menambah rasa pada saus kecap biasanya ditambahkan merica bubuk, sehingga menambah kelezatan pada saus kecap ini.
Cara menikmati sate buntel ini juga unik. Meskipun saat dibakar ia menggunakan tusukan dari bambu, namun umumnya saat disajikan tusukan satenya dicabut dan hanya bungkusan dagingnya yang sampai di meja. Secara original, makan sate buntel biasanya dilakukan termasuk dengan lemak dagingnya. Namun, kadang ada yang menikmatinya dengan membuka bungkusan lemaknya. Mungkin untuk mengurangi efek lemaknya… ahh.
Begitupun, mana cara yang dipilih, sate buntel harus disantap ketika masih panas, karena pada saat keadaan masih panas, lemak yang membungkus daging masih meleleh. Sehingga memberikan sensasi yang khas saat menyantapnya. Teman makannya biasanya nasi putih, meskipun kadang ada yang menyandingnya dengan nasi goreng. Terserah saja.
Lalu mana saja sate buntel yang paling enak di Solo? Rasanya semuanya sama enaknya. Namun, jika ingin lebih pasti, ada beberapa warung sate buntel yang cukup legendaris di kota ini.
Pertama, tentu saja Sate Buntel Tambak Segaran. Nama ini dulunya diambil dari jalan tempat kedainya berjualan. Letaknya strategis, ada di antara dua pasar berskala besar, yakni Pasar Gede Hardjonagoro (di sebelah timur-selatannya) dan Pasar Legi (di sebelah barat-utaranya). Kini nama jalannya telah berubah menjadi jalan Sutan Syahrir. Kedainya buka di nomor 39.
Peringatan saja, bagi wisatawan muslim, hati-hati jika hendak menuju ke warung ini. Dalam satu deret ada dua warung sate buntel, pastikan masuk ke warung yang berjualan daging kambing. Sebab, warung lainnya yang hanya berselisih dua warung, menggunakan daging non-halal.
Buntelan daging kambingnya cukup besar. Satu porsi sate buntel biasanya berisi dua buntelan daging. Meski cuma dua, porsinya rasanya sama saja dengan 10 tusuk sate kambing reguler. Selain sate buntel, di warung ini penggemar kuliner bisa menikmati berbagai menu lain seperti sate kikil (kaki kambing) dan gulai kambing.
Pilihan ke dua adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak, lokasinya ada di Jalan Ki Mangun Sarkoro nomor 112. Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1980 dan digemari banyak pejabat pemerintahan Indonesia. Konon, sate buntel dari tempat ini digemari mantan Presiden Suharto dan sejumlah menterinya. Selain sate buntelnya, yang juga banyak dipesan adalah thengkleng-nya.
Jika masih masih penasaran, bisa mencoba Sate Warung Sate Kambing Pak Manto yang terletak di Jalan Honggowongso 36, Solo. Meskipun di sini sate buntelnya juga enak, namun yang lebih dikenal adalah thengkleng kambing bumbu rica-rica.
Pilihan sate buntel lainnya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Ini mulai terkenal ketika pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia dan kegemaran kulinernya diungkap di media massa. Salah satunya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Berlokasi di Jalan Sungai Sebakung, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo. Selain bisa memesan sate buntel khas Solo di sini, ada pula ragam olahan kambing lainnya seperti tengkleng, sate kambing reguler, juga tongseng.
Ayo kapan-kapan agendakan kuliner kambingmu ke Solo dan menjajal sate buntel langsung di asalnya.
Pulau Morotai masih jarang diperbincangkan dalam peta pariwisata Indonesia. Sekitar lima tahun lalu, kawasan ini sempat disebut-sebut ketika pemerintah hendak mendorongnya sebagai salah satu sentra industri kelautan. Belakangan rencana ini seperti agak memudar.
Pulau Morotai
Morotai sendiri merupakan nama sebuah pulau di Kepulauan Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Pulau ini adalah salah satu pulau terluar di Indonesia.
Lucunya, meski berada di Kepulauan Halmahera, Morotai sendiri sejatinya adalah gugusan pulau-pulau kecil. Pulau ini merupakan yang terbesar dengan luas 2.400-an kilometer persegi.
Sebagai pulau yang terbesar, Morotai dikelilingi 32 pulau kecil. Sehingga totalnya gugusan ini ada 33 pulau. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh pulau yang berpenghuni, sisanya kosong alias tidak berpenghuni. Tujuh pulau yang berpenghuni adalah Morotai, pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele Kecil, pulau Ngele-ngele Besar, pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau.
Nama Morotai berasal dari pemberian nama Kerajaan Moro di Filipina. Kerajaan Morotai sendiri merupakan daerah jajahan Moro pada abad 15-17. Kerajaan Moro menamakan jajahan mereka dengan dua nama, yaitu Morotia yang berarti Moro daratan, dan Morotai yang berarti Moro lautan. Tapi, jauh sebelum itu, Morotai berada di bawah Kesultanan Ternate.
Sebagai pulau yang berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Filipina, Morotai pernah digunakan Jepang sebagai basis pertahanan mereka selama Perang Dunia II. Setelah itu, pulau ini diambil alih Sekutu dan digunakan sebagai landasan pesawat untuk menyerang wilayah Filipina dan Borneo Timur.
Karena itu, pulau ini banyak menyimpan sisa-sisa peningggalan Perang Dunia II. Ada gua persembunyian, landasan pesawat, juga kendaraan lapis baja yang masih utuh walaupun berkarat. Salah satu gua yang terkenal bernama Nakamura, yang jadi tempat persembunyian para tentara Jepang setelah Pulau Morotai diambil alih Sekutu. Nama tersebut diambil dari nama tentara Jepang, yang konon bersembunyi di sana selama 30 tahun.
Pada 2018, pemerintah memekarkan Morotai menjadi kabupaten. Pertimbangannya daya tarik pulau-pulaunya, keanekaragaman biota laut, dan pesona sejarah yang kuat. Pulau Morotai diyakini bakal menjelma menjadi salah satu wisata laut terindah. Bahkan tahun 2016 Morotai ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia untuk jadi 10 ‘Bali Baru’.
Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk yang ada saat ini adalah berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara. Kedua sub-etnis tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini.
Untuk menuju Morotai dari Jakarta, umumnya menggunakan penerbangan menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Penerbangan yang panjang, karena memakan waktu 3 jam 45 menit. Biasanya pesawat akan terbang tengah malam dari Jakarta dan tiba di Ternate sekitar jam 7 waktu setempat. Dari sini penerbangan dilanjutkan menuju pangkalan AU Leo Wattimena di Galela, Morotai sekitar lewat tengah hari. Penerbangannya sendiri cuma sekitar 45 menit, tapi umumnya harus menunggu, sebab jadwalnya belum cukup sering.
Sejatinya Morotai adalah salah satu surga milik Indonesia. Pulau-pulaunya masih belum banyak terjamah hiruk-pikuk pariwisata. Keindahan alam pulau-pulau di Morotai tak hanya tercermin lewat bawah lautnya, tapi juga daratannya. Hamparan pasir putih yang luas bisa memanjakan siapa pun yang menginjakkan kaki di sana. Panorama matahari terbit dan tenggelam menjadi salah satu momen paling dinanti wisatawan.
Ada setidaknya 28 titik penyelaman yang menyuguhkan keindahan bawah laut. Bisa jadi, ini adalah rangkaian keindahan dari Bunaken ke raja Ampat. Spot-spot penyelaman itu ada Tanjung Wayabula, Dodola Point, Batu Layar Point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya luar biasa indah, dengan perairan jernih berwarna biru tua. Biota lautnya tak terhingga, hidup di antara terumbu karang yang terawat.
Bila cukup punya nyali, cobalah mampir ke Pulau Mitita yang juga menjadi salah satu spot diving. Keistimewaannya, di sini wisatawan bisa berenang bersama hiu pada waktu tertentu.Rupanya sejumlah jenis hiu di sana sudah terbiasa berenang dengan penyelam.
Apa bila tak ingin menyelam dan hanya ingin menikmati keindahan pantainya, berenang pun bisa dilakukan sepuasnya. Bagian pinggir pantai cukup dangkal. Kegiatan snorkeling ataupun berenang sangat direkomendasikan. Atau sekadar menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam.
Nah yang terakhir ini mungkin bisa sambil menjelajahi Pulau Dodola. Pulau ini terdiri dari Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil. Uniknya, kedua pulau ini tersambung menjadi satu saat air laut sedang surut dan membantang jalan pasir yang menghubungkan keduanya.
Pulau Dodola terletak di sebelah barat Pulau Morotai. Dari Daruba, ibukota Morotai, perjalanan ditempuh dengan menggunakan seedboat menuju Pulau Dodola yang memakan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jaraknya sekitar 12 kilometer. Sayangnya biaya sewa speedboad masih cukup mahal, sekitar Rp 1 juta untuk berangkat dan pulang.
Keindahan kedua Dodola Besar dan Kecil tidak berbeda jauh. Pasir pantainya sangat putih dan halus. Pemandangan lautnya yang hijau, jernih dan kebiruan. Jika sedang surut, kedua pulau ini terhubungkan oleh pasir putih. Ya, pasir putih tersebut seolah jembatan tersembunyi. Panjangnya sekitar 500-an meter. Sungguh luar biasa dan sangat cantik. Wisatawan bisa berjalan di atas pasirnya sekitar 5 menit untuk menyeberang.
Jika pandemi telah lewat, ayo agendakan kunjunganmu ke Morotai.
Gudeg Yogya menjadi masakan yang dibenci tapi rindu oleh banyak penggemar kuliner Indonesia. Dibenci, karena masakan ini punya rasa manis yang jarang disukai orang dari luar Yogyakarta. Tapi dirindu, karena meski tak pernah makan gudeg di kota asalnya, wisatawan tetap saja mengagendakan menyantap masakan ini jika ke Yogya.
Gudeg Yogya
Selama ini orang menerima saja jika disebut gudeg adalah kuliner khas kota pelajar ini. Jarang yang mencari tahu bagaimana muasal makanan ini muncul di kota itu.
Sesungguhnya tak ada catatan yang pasti bagaimana asal-usul makanan ini. Begitupun ada sebuah buku hasil penelitian seorang guru besar sekaligus peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, namanya Murijati Gardjito. Istri almarhum penerbang TNI Angkatan Udara ini, menerbitkan buku hasil penelitiannya pada 2017.
Menurut Murdijati, kemunculan Gudeg diperkirakan bebarengan dengan pembentukan wilayah Yogyakarta. Ia memperkirakan, kemungkinan bahkan tepat sebelum kota ini ada.
Berdasar buku Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya karya Murdijati tersebut, sejarah gudeg dimulai kala abad ke-16. Makanan ini bahkan sudah ada sebelum Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berdiri. Konon, resep gudeg ditemukan pada masa Panembahan Senopati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam.
Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara yang dikenal sebagai Alas Mentaok. Para prajurit Panembahan Senopati membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Alas ini ada di sebelah selatan Yogyakarta. Kawasan yang dibabat alas itu, kini lokasinya kira-kita ada di kawasan Kotagede. Ternyata di hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.
Nangka muda dan kelapa itu kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar yang diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung.
Dalam buku diceritakan, setelah ditebangi : “Para prajurit yang jumlahnya ratusan itu kemudian berusaha memasak nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam ember besar yang terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu.”
Tentu saja makanan hasil masak para prajurit tersebut belum ada namanya. Belum ada nama “gudeg”. Para prajurit tersebut hanya mengatakan masakan itu dengan sebutan Hangudek, yang artinya mengaduk.
Karena yang menemukan dan mencoba mengolahnya adalah para prajurit, tentu saja, kuliner ini dulunya hanya populer di kalangan prajurit. Namun lambat laun diketahui ia mulai masuk dalam daftar kuliner para ningrat, dan juga masyarakat umum. Banyak yang menggemarinya, karena bahannya mudah ditemui dan rasanya yang lezat.
Dan sejarah kemudian mencatat, gudeg dikenal sebagai salah satu jenis kuliner khas Yogyakarta. Ia menjadi salah satu tujuan kuliner yang jarang dilewatkan, sekaligus dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Gudeg umumnya terbuat dari nangka muda atau gori yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa legit, manis, sekaligus gurih.
Saat ini ada dua jenis gudeg yang diketahui publik, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg biasanya disajikan bersama tahu, tempe, ayam, atau telur, yang dimasak dengan cara dibacem, dan tentunya dimakan dengan nasi putih. Selain dari gori, gudeg kemudian juga bisa dibuat dari bunga kelapa atau manggar, terkadang ditambahkan rebung alias bambu muda dan potongan daging.
Awalnya masyarakat lebih menegnal gudeg basah. Biasanya karena disantap untuk saat itu juga, gudeg masih memiliki sedikit sisa kuah dari santennya. Namun, seiring perkembangan, ada wistawan yang menginginkan gudeg sebagai oleg-oleh saat kembali ke kota asalnya, maka munculah gudeg kering.
Gudeg kering ini baru muncul sekitar tahun 60-an atau awal 70-an. Bahan-bahan betul-betul dimasak hingga hampir habis kuah santennya. Sifatnya yang kering inilah yang membuatnya tahan lama dan dimanfaatkan sebagai oleh-oleh. Kadang, agar membuatnya agak basah, gudeg yang kering itu disertakan areh. Ii dibuat dari santan kental yang diberi bumbu tertentu.
Dulu orang yang ingin membawa gudeg dari Yogya sebagai buah tangan, oleh restorannya gudeg dan ubo-rampenya diletakkan dalam kendil. Semacam mangkok bertutup dari bahan tanah liat. Kini dengan makin sempurnya cara memasak gudeg sehingga tahan lama, gudeg dikemas dalam besek.
DI manakah kita bisa menikmati gudeg yang enak di Yogyakarta? Untuk gudeg basah berikut restoran yang menyajikannya:
GUDEG PERMATA (BU NARTI); Jl. Gajah Mada No.2, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta.
GUDEG PAWON, Jalan janturan UH/IV No.36, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta
Ini adalah 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Ini 8 kuliner tradisional sedap di Malang.
8 Kuliner Tradisional Sedap di Malang
Alun-alun Tugu Malang, bisa jadi untuk memulai menikmati 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Pecel Kawi Hj. Musilah
Salah satu destinasi dari 8 kuliner sedap di Malang adalah Pecel Kawi Hj. Musilah, yang berada di jalan Kawi Atas nomor 43b. Kedai nasi pecel yang sudah berdiri sejak 1975 ini bertahun-tahun begitu melegenda dan sudah menjadi favorit banyak warga lokal dan wisatawan pecinta kuliner. Tak jarang, pada waktu makan siang kedai ini dipenuhi pengunjung hingga harus mengantre.
Nasi pecel yang dijajakan di sini tergolong unik karena cenderung menyesuaikan dengan selera lidah orang Jawa Timur. Dalam artian, bumbu pecel yang digunakan memiliki cita rasa lebih gurih dan pedas, ketimbang nasi pecel di wilayah Jawa Tengah yang biasanya memiliki rasa bumbu pecel yang lebih manis.
Pecel Kawi kota Malang menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Bumbu pecel yang digunakan juga cenderung lebih pekat dan kental, dengan aroma kencur yang menambah keunikannya. Dan yang juga menarik, pengunjung bisa memesan bumbu pecel berdasarkan tingkat kepedasannya sesuai selera, sehingga pengunjung yang tidak terlalu tahan atau suka pedas tak perlu khawatir akan kepedasan.
Selain itu, harga seporsi nasi pecel yang dihargai Rp 17,5 ribu juga tergolong cukup ekonomis. Di dalamnya, terdapat isian sayur-sayuran seperti taoge, kacang panjang, kangkung dan kembang turi yang kemudian dilumuri bumbu pecel. Tak ketinggalan, tempe dan rempeyek juga hadir sebagai pelengkap.
Selebihnya, pengunjung juga dapat memesan tambahan lauk-lauk lainnya, seperti daging empal, dadar jagung alias bakwan jagung, telur bacem, telur asin, sate buntel, sate komoh atau sate sapi dengan potongan daging yang besar, dan lain lain. Beberapa pilihan minumannya pun juga menarik, seperti es timun, es buah kawista, jus buah naga, dan sebagainya.
Terdapat pula menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung, seperti nasi rawon, nasi lodeh, serta nasi campur yang merupakan nasi dengan isian lauk ayam bumbu cabe, mie goreng, oseng kentang, serta sayur buncis dan pare. Dengan ragam menu menarik tersebut, tak heran kedai yang buka dari jam 06.30 hingga 18.00 ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan sejak pagi.
Bakso President
Kuliner legendaris Malang lainnya adalah Bakso President, yang terletak di jalan Batanghari nomor 5. Lokasinya terbilang cukup unik karena bersebelahan langsung dengan rel kereta api. Kedai bakso Malang ini sudah eksis sejak 1977, dan bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pelopor maraknya hidangan bakso Malang saat ini.
Usut punya usut, kedai bakso ini awalnya merupakan usaha bakso pikulan. Seiring waktu, banyaknya pelanggan membuat usaha ini kemudian beralih menggunakan gerobak dorong, dan pada prosesnya terus berkembang dan semakin banyak penggemarnya, sampai pada akhirnya bisa berjualan menggunakan bangunan sendiri.
Uniknya, bangunan tersebut berada di dekat sebuah gedung yang dulunya merupakan bioskop bernama President, sebelum kemudian kini beralih fungsi menjadi sebuah penginapan bernama Hotel Savana. Alhasil, oleh pelanggan setianya kedai bakso ini kadung dikenal sebagai ‘Bakso President’, hingga sekarang. Kini ini satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang.
Dan seperti halnya bakso Malang yang banyak dikenal sekarang, banyak jenis bakso serta isian lainnya yang bisa dipilih. Dari baksonya saja, terdapat bermacam jenis seperti bakso kecil, bakso besar, bakso urat, bakso goreng, bakso tulang muda, bakso telur dan bakso bakar. Kemudian pilihan isiannya meliputi siomay goreng, siomay basah, ati ampela, paru, urat bakar dan tahu.
Pengunjung bisa memilih jenis bakso, isiannya serta jumlahnya sesuai selera, atau memilih paket-paket yang terdiri dari beragam kombinasi bakso serta isiannya. Mulai dari paket bakso kecil isi 5 buah, sampai campur komplit dengan semua jenis bakso dan isian. Paket campur komplit ini bahkan kerap dipesan untuk dimakan berdua, lantaran porsinya sangat banyak untuk dimakan sendirian.
Harga bakso dan isiannya secara satuan berkisar dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu, sementara untuk pilihan paketnya mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 34 ribu. Kalau ingin mencoba sesuatu yang berbeda, bakso bakar bisa juga dipesan dan dimakan dengan bumbu kacang. Ragam pilihan menu tersebut menjadikannya tempat favorit warga dan wisatawan untuk bersantap ringan, menikmati sore hingga malam sambil melihat kereta-kereta yang melintas.
Depot Hok Lay
Selain bakso, kuliner lainnya yang bisa dibilang cukup identik dengan Malang adalah cwie mie dan menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Cwie mie sejatinya serupa dengan mie ayam pada umumnya. Perbedaannya, ia disajikan dengan daging ayam yang sudah dicincang halus, serta irisan daun selada. Sebagai pelengkap, ia kemudian ditaburi dengan daun bawang dan bawang goreng.
Cwie Mie Malang adalah salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Cita rasa asin dan gurih yang otentik dari cwie mie membuatnya selalu diburu pecinta kuliner saat berwisata di Malang. Pun, tak sulit mencari kedai cwie mie di kota apel ini, serta banyak dari mereka yang kerap direkomendasikan. Dari beberapa di antaranya, Depot Hok Lay yang terletak di jalan KH. Ahmad Dahlan nomor 10 adalah salah satu yang cukup mencolok.
Yang menarik dari kedai cwie mie ini adalah nuansa retro yang kental, lewat bangunannya yang sudah ada sejak 1946. Masuk ke dalam, terlihat jejeran ubin, meja dan kursi yang masih original membawa suasana kembali ke Malang tempo dulu. Jejeran foto dan pajangan yang menghiasi dinding seakan bercerita tentang sejarah kedai yang namanya secara dialek Hokkian kurang lebih berarti ‘hoki datang’.
Seperti kedainya yang terkesan sederhana, menu yang ditawarkan Depot Hok Lay juga terbilang tak neko-neko. Karena ternyata, tempat ini dulunya memang lebih diperuntukkan sebagai kedai es manisan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu makanan pendamping, seperti cwie mie-nya yang legendaris.
Cwie mie Depot Hok Lay terkenal dengan tekstur mie buatan homemade yang cenderung halus dan tipis, serta daging ayam gilingnya yang gurih. Cwie mie kemudian disajikan dengan pangsit goreng sebagai teman makan. Kalau kurang, pengunjung juga bisa memesan tambahan pangsit goreng secara terpisah.
Selain cwie mie, ada pula beberapa menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung. Seperti lo mie, pangsit kuah, nasi bakmoy, serta lumpia yang sudah dimodifikasi dengan resep sendiri. Menurut mereka, lumpia ala Semarang biasanya cenderung bercita rasa manis, sedangkan lumpia buatan mereka lebih asin dan gurih, menyesuaikan lidah orang Jawa Timur.
Terkenal dengan ragam menu makanan resep keluarga turun temurun, tak membuat mereka lupa dengan jati diri mereka sebagai penjaja es manisan. Menu es manisan nan segar seperti es campur, es limun, es lidah buaya, es cincau, es susu kedelai dan es puding manalagi menjadi beberapa menu unggulan di kedai ini.
Bahkan, salah satu menu minuman original mereka yang tak ditemui di tempat lain adalah es fosco, yakni minuman yang terbuat dari susu sapi murni yang diolah dengan coklat. Minuman kemudian dikemas ke dalam botol minuman soda. Rasanya terbilang unik, mirip seperti minuman kekinian salted caramel ice chocolate yang terasa manis bercampur asin.
Harga makanan dan minumannya tergolong moderat dan tak begitu mahal. Harga makanannya berkisar dari Rp 28 ribu sampai 34 ribu, sementara range harga minuman mulai dari Rp 5 ribu hingga 20 ribu. Sebagai catatan, kedai ini punya dua jam buka sehari-harinya, dari jam 09.00 sampai 13.30 pada siang hari, serta jam 17.00 hingga 19.30 saat sore. Kedai juga tutup setiap hari Selasa.
Warung Sate Gebug
Kuliner yang satu ini usianya sudah satu abad lebih. Usaha kedai sate ini sudah eksis sejak 1920 silam. Bahkan, bangunannya sudah berusia lebih tua lagi, karena sebelumnya bangunan tersebut dimiliki orang Belanda dan dipergunakan sebagai toko es batu. Setelahnya, bangunan itu dibeli untuk dipakai berjualan sate.
Sate yang dijajakan pun terbilang unik. Gebug dalam bahasa Jawa bermakna dipukul, dan ini merujuk kepada proses pembuatan sate ini, dimana potongan daging sapi yang sudah dibumbui rempah-rempah kemudian dipukul-pukul sebelum dibakar. Teknik tersebut disinyalir membuat daging menjadi lebih empuk dan bumbunya terasa lebih meresap.
Sate kemudian disajikan dengan sepiring nasi dan bumbu sambal kecap. Sebagai teman makan, disediakan pula tempe goreng dan tempe mendol, alias olahan tempe yang diulek dan dibuat adonan, bercampur dengan cabe, kencur, bawang merah, ketumbar, garam, gula dan jeruk purut. Setelah berfermentasi selama 1-2 jam, adonan kemudian digoreng dan disajikan.
Kalau ingin tambahan kuah, tersedia juga menu-menu seperti sop, soto dan rawon. Harga seporsi sate berkisar dari, Rp 30 ribu sampai 35 ribu, tergantung dari pilihan sate dengan bagian daging berlemak atau tanpa lemak. Adapun menu sop, soto dan rawon semuanya dihargai Rp 25 ribu.
Yang menarik, kedai sate yang buka dari jam 08.00 hingga 16.30 ini tergolong agak kecil. Dari tepi jalan Jenderal Basuki Rahmat, posisinya agak sedikit masuk ke dalam. Bagian eksterior serta interior bangunan juga tidak banyak berubah dari zaman pendudukan Belanda dulu, sehingga kini ditetapkan sebagai cagar budaya. Perlu diingat pula, bahwa Warung Sate Gebug selalu tutup pada hari Jumat dari hari besar Islam.
Warung Lama Haji Ridwan
Satu lagi destinasi 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang tahun ini telah genap berusia seabad. Warung Lama Haji Ridwan diketahui sudah berjualan di area Pasar Besar Malang sejak 1925, hanya sekitar setahun setelah pasar tersebut resmi berdiri dan beroperasi. Bahkan, disebut-sebut bahwa warung ini aslinya sudah berjualan dengan gerobakan di area tersebut dari 1914, sebelum kompleks Pasar Besar dibangun.
Di warung berwujud kios kecil ini, pengunjung akan mendapatkan pilihan menu-menu masakan rumahan yang murah meriah. Beberapa di antaranya meliputi nasi rawon, nasi campur, nasi kari ayam, nasi soto daging dan sate komoh. Sebagai teman makan, disediakan juga lauk seperti telur asin, tempe goreng, tempe mendol dan perkedel.
Nasi campur menjadi salah satu menu yang paling digemari pelanggannya. Dalam seporsi nasi campur, pengunjung akan mendapatkan nasi dengan lauk tahu dan telur bumbu Bali, krengsengan daging, kering tempe, serta sayur wortel. Sate komoh yang dagingnya besar nan empuk, dengan lumuran bumbu Bali juga menjadi favorit.
Dan yang pasti, dengan porsinya yang mengenyangkan, harganya pun cukup enteng di kantong. Harga makanan di warung ini berkisar dari Rp 20 ribu hingga 25 ribu. Buka dari jam 08.00 sampai 16.00, warung yang berada di area lantai dasar ini jadi alternatif menarik untuk santap siang atau brunch.
Salak pondoh Sleman adalah varietas buah salak yang berasal dari Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Salak pondoh Sleman memiliki kulit coklat kehitaman dengan duri-duri halus, daging buah yang tebal, dan rasa yang manis.
Salak Pondoh Sleman
Pada wisata Sleman, salak pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss) adalah salah satu buah khas dari daerah ini. Di wilayah Sleman utara seperti di Kecamatan Pakem, Cangkringan, Turi, dan sebagian Tempel, hamparan kebun salak akan banyak ditemui sejauh mata memandang.
Tidak ada catatan pasti mengenai sejarah lahirnya salak Pondoh, namun diyakini bahwa varietas ini sudah ada sejak lama dan telah menjadi salah satu buah andalan daerah Sleman dan sekitarnya. Pada masa lalu, salak merupakan buah yang ditanam sebagai tanaman pekarangan atau sebagai penghasilan sampingan bagi petani.
Di beberapa titik, ada papan petunjuk arah bertuliskan “Agrowisata Salak” mudah ditemui. Bahkan, ada pula sebuah ruas jalan di Turi bernama Jalan Agrowisata.
Salak Pondoh dijajakan di banyak tempat di Yogyakarta. Foto: shutterstock
Berdasarkan informasi di situs resmi Kabupaten Sleman, sejarah salak pondoh dimulai pada sekitar 1917. Saat itu ada seorang jagabaya atau perangkat keamanan desa, di Tempel bernama Partodiredjo mendapatkan oleh-oleh 4 buah salak dari seorang warga Belanda. Salak tersebut lalu ia tanam dan budidayakan. Ternyata menghasilkan buah salak yang manis dan tak kesat. Lalu, sekitar tahun 1948, budidaya buah salak dilanjutkan lagi oleh putranya.
Masyarakat mulai masif menanam salak Pondoh ini ketika pemerintah menjalankan program ABRI Masuk Desa (AMD) pada 1981. Saat itu, para tentara membuatkan saluran irigasi sehingga lahan-lahan bisa mendapatkan pengairan secara lebih baik. Setelah itu warga mulai berbondong-bondong menanam komoditas salak mengikuti petani lainnya yang sudah mulai lebih dulu.
Dalam beberapa tahun terakhir, salak pondoh Sleman semakin dikenal dan diminati oleh pasar lokal dan internasional, sehingga produksi dan penjualan salak pondoh meningkat dengan pesat. Hal ini juga menjadi pendorong bagi para petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi salak pondoh dari desa Turi ini.
Kini, salak pondoh Sleman menjadi salah satu buah yang menjadi kebanggaan masyarakat Sleman dan Yogyakarta serta menjadi buah yang banyak diburu oleh wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Selain berwisata ke tempat desa agrowisata ini, pengunjung juga bisa belajar cara membudidayakan salaknya. Asal tahu saja, tanaman yang bisa hidup selamanya ini ternyata mempunyai kelamin jantan dan betina. Cara membedakan yang jantan dan betina adalah dengan melihat dari bunganya.
Desa Agrowista Salak, bisa langsung memetik buah salak dri pohonnya. Foto: Dok. sporttourism.id
Adapun perbedaannya adalah bunga jantan hanya mempunyai benang sari tanpa putik sehingga hanya membentuk sel kelamin jantan dengan bentuk bunga bulat memanjang. Saat bunga masak akan berwarna merah yang berlangsung hanya tiga hari dan tidak bisa berbuah.
Lain lagi dengan bunga betina yang hanya mempunyai putik tanpa benang sari. Bentuk bunganya panjang agak bulat dan di bagian tengah lebih besar. Pada saat masak, akan ada seludang atau kulit bunga pecah–pecah dan mahkota bunga nampak merah jambu selama tiga hari.
Jika pelancong punya kesempatan main ke Yogyakarta dan ingin mencicipi kesegaran salak pondoh langsung dari pohonnya, sesekali datanglah ke Desa Wisata Agro Bangunkerto, Sleman.
Desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani salak ini berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ketika memasuki kawasan ini, Anda langsung disambut berderet pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan. Untuk menuju ke tempat ini, wisatawan bisa melalui Jalan Kaliurang, bisa pula melalui Jalan Magelang.
Berdiri sejak 1989, Desa Agrowisata Bangunkerto dikelola pertama kali oleh Dr Soebroto Soedibyo. Desa wisata penghasil salak ini pernah mengalami masa-masa keemasan sekitar tahun 2000-an. Luasnya yang mencapai 27 hektare, menjadikan Desa Wisata Agro Bangunkerto mempunyai berbagai jenis salak unggulan yang belum tentu ada di negara lain.
Pintu masuk bagi para pengunjung menuju kawasan budidaya salak di Desa Wisata Agro BangunkertoJalan setapak yang bisa dilalui pengunjung untuk mengelilingi kebun salak di Desa Wisata Agro BangunkertoPeta petunjuk lokasi yang ada di desa wisata penghasil salak. Salak Madu, salah satu salak yang bisa anda temui di Desa Wisata Agro Bangunkerto.
Deretan pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan akan menyambut Anda di Desa Wisata Agro BangunkertoKolam yang disediakan pengelola untuk pengunjung bersantai sambil menikmati salak. Selain melihat aneka salak, Anda juga bisa melihat aneka tanaman obat di Taman Obat yang ada disiniDesa Wisata Agro Bangunkerto berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Sleman, YogyakartaPara pedagang salak menjajakan salak kepada pengunjung Desa Wisata Agro BangunkertoSalak Gading, salah satu salak hasil budidaya di Desa Wisata Agro Bangunkerto.
Salak pondoh kecil buahnya tapi manis rasanya. Foto: shutterstock
Tercatat sekitar 17 jenis salak terdapat di desa ini. Sebut saja seperti salak super asli Indonesia, salak madu, salak manggala, salak hitam, salak gading, salak klinting, salak gula pasir, dan beberapa salak lainnya.
Jika pun tak sempat mampir ke Desa Agrowisata-nya, wisatawan bisa membeli salak pondoh Sleman di sepanjang Jalan Magelang, jalan yang mengubungkan Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah.