Kampung Tematik Semarang, Ini 4 Yang Unik

Kampung tematik Semarang jadi pilihan kunjungan jika dlan ke kota ini.

Kampung tematik Semarang bisa dibilang menjadi terobosan yang tergolong cukup baru dan unik dalam dunia pariwisata lokal. Beberapa contohnya yang cukup ramai diminati oleh masyarakat saat ini adalah beberapa kampung tematik di Semarang, Jawa Tengah.

Kampung Tematik Semarang

Kampung tematik sendiri merupakan area tempat tinggal yang umumnya dikhususkan sebagai pusat budaya dan kesenian. Ini salah satu usaha pemerintah daerah dalam pemenuhan sarana dan pra-sarana pemukiman, serta peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Dibentuknya kampung tematik Semarang ini bertujuan agar kondisi pemukiman dapat diperbaiki dan tidak menjadi kumuh, serta meningkatkan potensi ekonomi dan sosial warga setempat. Usaha ini didasari partisipasi warga secara aktif, dan ciri khas pada lokasi tersebut yang unik dan kuat.

Kampung tematik Semarang menjadi andalan kota ini menarik wisatawan.

Di dalam kampung tematik ini, biasanya akan ditemukan beberapa jenis kerajinan tangan dan kuliner khas setempat, dengan usaha berbasis home industry. Semua ditata rapi dan ramah dengan lingkungan, serta sesuai dengan budaya, tradisi dan kearifan lokalnya.

Bagi pengunjung dan wisatawan, hal ini juga semakin menambah alternatif destinasi wisata, yang mampu memberi nuansa berbeda dari lokasi-lokasi wisata yang sudah ada. Ditambah lagi, semakin mudah untuk mencari kuliner dan kerajinan tangan pada lokasi yang sudah terpusat.

Kampung Batik Semarang

Ambil contoh kampung batik yang terletak di area kelurahan Rejomulyo, tidak jauh dari Museum Kota Lama Semarang. Sejak 2005, mereka sudah dikenal sebagai sentra produksi serta penjualan batik, dengan setidaknya sekitar 20-an merek atau jenama batik yang aktif saat ini.

Selain memproduksi kerajinan batiknya sendiri, mereka juga kerap menerima titipan produk dari luar kampung batik tersebut. Tak hanya itu, di tempat ini juga dapat ditemui atraksi lain seperti mural bergaya batik yang menggambarkan kisah pewayangan sebagai spot foto cantik.

Kampung tematik Semarang lainnya yang serupa adalah kampung Alam Malon, yang terletak di area kaki gunung kawasan Ungaran. Di sini juga dapat ditemui beragam produsen batik tulis tradisional dengan kisaran harga produk dari Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu.

Yang cukup spesial, proses produksinya masih terbilang sangat otentik dan tradisional, dengan penggunaan bahan baku yang alami seperti dedaunan kering, sabut kelapa, batang pohon mahoni, dan lain-lainnya. Hal ini tak banyak ditemui lagi di sentra produksi batik lainnya.

Berawal dari beberapa perajin batik di area tersebut yang sudah membuat dan berjualan batik sejak 40 tahun lalu, kini area tersebut dikembangkan sebagai salah satu kampung tematik. Selain menemukan produk-produk batik, pengunjung juga dapat belajar membatik sendiri.

Kampung Misoa

Bagi yang ingin berburu kuliner tradisional, dapat mencoba mengunjungi kampung tematik Semarang seperti kampung Misoa. Misoa, yang merupakan singkatan dari Mie dan Soto Ayam, terletak di area kelurahan Brumbungan, kawasan pusat kota Semarang.

Soto Neon Pak Nie Semarang
Warung Soto Neon Pak Nie sebagai bagian dari Kampung Tematik Semarang di Kampung Misoa. Foto: DOk. Soto Neon

Kampung tematik Semarang ini dinamakan demikian karena mayoritas warganya merupakan penjual ragam makanan seperti soto ayam, tahu pong, mie ayam, dan lain sebagainya. Sehingga sejak 2018, area ini diresmikan sebagai salah satu kampung tematik bertema kuliner.

Hingga saat ini, kampung Misoa sudah mampu menandai eksistensinya sebagai salah satu sentra kuliner khas Semarang. Beberapa destinasi wisata kuliner unggulan di tempat ini, seperti Soto Neon dan Tahu Pong Brumbungan, kini ramai diminati banyak pengunjung.

Kampung Petis

Kampung tematik bertema kuliner lainnya adalah kampung petis dan mangut di kelurahan Tambakharjo, wilayah barat Semarang. Kampung tematik ini masih cukup baru karena baru diresmikan tahun 2021 lalu, dan menawarkan aneka olahan petis dan mangut khas Semarang.

Umumnya, warga di kawasan ini mayoritas berprofesi sebagai nelayan, dengan hasil tangkapan seperti ikan sembilang dan sebagainya. Dari hasil tangkapan tersebut, ada yang kemudian diolah menjadi petis dan mangut.

Kampung Tematik Semarang ada bermacam-macam, dari kerajinan seperti batik, kuliner, hingga kampung tanaman bonsai.
Kuliner khas Semarang Petis Bumbon. Foto: dok. jatengprov.go.id

Petis adalah olahan udang atau ikan yang dimasak bersama gula merah, karamel dan garam hingga menjadi saus berwarna hitam pekat, dengan rasa manis gurih. Adapun mangut merupakan sejenis gulai ikan yang dimasak dengan santan dan cabe, bercita rasa pedas gurih.

Sejak 2021 silam, tempat ini diresmikan pula sebagai salah satu kampung tematik kuliner. Bersamaan dengan itu, dibangunlah sebuah pujasera yang menjadi wadah sekaligus pusat penjualan petis dan mangut di kampung ini.

Kampung Bonsai Semarang

Uniknya, terkadang kampung tematik tidak melulu bertemakan kerajinan atau kuliner tradisional saja. Kampung Bonsai di kelurahan Ponganan, misalnya, merupakan kampung tematik yang menjadi sentra tanaman bonsai di Semarang.

Awalnya, warga di sekitar area ini kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin pot. Seiring semakin maraknya seni budidaya tanaman bonsai, beberapa di antaranya juga mulai menjajakan beragam hasil tanaman bonsai.

Oleh karenanya, pada 2010 lalu area ini ditetapkan sebagai kampung tematik yang menjadi sentra penjualan bibit serta tanaman bonsai. Tak kurang sekitar 40 pengrajin tanaman bonsai yang kini melayani demand lokal dan nasional, bahkan tiga di antaranya sudah go international.

Harga tanaman bonsai yang dijual di sini bervariasi, mulai dari raturan ribu hingga puluhan juta rupiah. Ada beberapa aspek yang dapat mempengaruhi harga, seperti proses pembuatannya, umur tanaman, hingga kualitas estetika dari tanaman tersebut.

Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis kampung tematik lainnya di Semarang, seperti kampung Jajan Pasar yang menjadi sentra penjualan dan eduwisata ragam jajanan pasar, atau kampung Konveksi yang kini mampu memproduksi ribuan potong kaos dan jaket per minggu.

Ke semuanya memiliki ciri khas, gaya, serta produk menarik bagi wisatawan yang berburu kuliner atau oleh-oleh. Ke depannya, tren dan konsep kampung tematik ini akan terus menjadi salah satu opsi bagi pemerintah daerah dalam menggali potensi pariwisata di daerahnya.

Kampung-kampung Tematik Semarang

Kampung Batik Rejomulyo

Jl. Batik Gedong, Rejomulyo, Semarang

Kampung Alam Malon

Kelurahan Gunungpati, Semarang

Kampung Misoa

Kelurahan Brumbungan, Semarang

Kampung Petis dan Mangut

Kelurahan Tambakharjo, Semarang

Kampung Bonsai

Kelurahan Ponganan, Semarang

Kampung Jajan Pasar

Jl. Stonen Timur, Gajahmungkur, Semarang

Kampung Konveksi

Desa Sodong, Purwosari, Semarang

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Museum Zoologi Bogor, Unik Sejak 1894

Museum Zoologi Bogor adalah salah satu rujukan tentang hewan yang ada di Nusantara.

Museum Zoologi Bogor mungkin kalah pamor dibandingkan Kebun Raya atau Istana Bogor. Padahal, museum ini berada di dalam satu komplek dengan Kebun Raya tersebut.

Museum Zoologi Bogor

Ia patut menjadi salah satu pilihan alternatif tujuan wisata kala melancong di kota hujan, Bogor. Museum yang menampilkan koleksi kerangka fosil dan spesimen hewan yang diawetkan ini adalah salah satu museum fauna terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara.

Lokasinya berada di dalam area salah satu objek wisata utama Bogor lainnya, yakni Kebun Raya Bogor. Maklum, museum ini dulunya merupakan laboratorium penelitian terkait dengan botani dan zoologi yang dilakukan di sekitar wilayah Kebun Raya Bogor.

Museum Zoologi Bogor berada di dalam kompleks Kebun Raya Bogor.
Kebun Raya Bogor. Foto: shutterstock

Didirikan pada 23 Agustus 1894, tempat ini diprakarsai oleh seorang ahli dan peneliti botani dari Belanda bernama Dr. J. C. Koningsberger. Awalnya, tempat ini dinamai Landbouw Zoologish Laboratorium, merujuk kepada fungsi utamanya sebagai laboratorium penelitian.

Seiring berjalannya waktu, selain melakukan kegiatan penelitian terhadap flora dan fauna, Koningsberger kemudian juga berupaya mengumpulkan dan menghimpun koleksi spesimen hewan-hewan yang pernah ditemuinya selama berada di Indonesia.

Dari kegiatan inventarisasi kekayaan fauna Indonesia tersebut, maka pada 1901 dibangunlah gedung tambahan sebagai ruang koleksi dan pameran. Fungsi tempat ini pun turut bertambah sebagai museum dan sarana edukasi untuk umum, hingga saat ini.

Nama tempat ini pun sempat berubah beberapa kali. Misalnya, pada masa setelah kemerdekaan, museum ini berganti nama menjadi Museum Zoologicum Bogoriense. Kemudian sempat berubah-ubah, sampai akhirnya ditetapkan bernama resmi Museum Zoologi Bogor.

Zoologi sendiri merupakan istilah dari bahasa Yunani yang berasal dari gabungan dua kata, zoios dan logos. ‘Zoios’ artinya hewan, sedangkan ‘logos’ adalah ilmu atau studi mengenai sesuatu. Jadi, zoologi adalah studi dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hewan.

Dengan luas lahan sebesar, 1.500 m2 dan luas bangunan sekitar 750 m2, tempat ini memiliki tujuh ruangan utama yang berisi koleksi berbagai jenis fauna, mulai dari mamalia, burung, ikan, reptil, amfibi, moluska, serangga, serta hewan invertebrata non serangga dan moluska lainnya.

Pada 1997, sempat dilakukan peremajaan yang didanai oleh Bank Dunia dan dibantu oleh pemerintah Jepang. Kendati ruangan-ruangannya diperbarui dan dilengkapi beberapa diorama, arsitektur bangunannya yang kental bergaya kolonial tetap dipertahankan hingga kini.

Museum Zoologi Bogor Kemendikbud
Pintu masuk Museum Zoologi Bogor. Foto: Kemendikbud.

Setelah rampung, pada tahun 2000 museum ini resmi dikelola oleh divisi zoologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekarang Badan Riset dan Ilmu Pengetahuan Indonesia (BRIN). Fungsi museum Zoologi Bogor sebagai pusat penelitian, inventarisasi dan edukasi kepada masyarakat umum pun terus dilakukan sampai sekarang.

Tercatat, hingga saat ini terdapat koleksi 650 jenis mamalia, 12.000 jenis ikan, 1.000 jenis burung, 763 jenis reptil dan amfibi, 12.000 jenis serangga, 959 jenis moluska, serta 700 jenis hewan invertebrata non serangga dan moluska, seperti cumi-cumi, ubur-ubur, dan lainnya.

Dari koleksi tersebut, terdapat beberapa koleksi unik yang pantang untuk dilewatkan kala berkunjung ke museum ini. Salah satunya yang cukup legendaris adalah kerangka paus biru yang dulu ditemukan mati terdampar di pantai Pameungpeuk, Garut pada Desember 1916.

Hewan yang dikenal sebagai spesies mamalia terbesar di dunia tersebut ditemui dengan panjang mencapai 27,25 meter, dan bobotnya sekitar 116 ton. Bahkan, berat kerangka tulangnya saja disebut-sebut seberat 64 ton.

Maka tak heran dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar dua bulan untuk dapat memindahkannya ke Museum Zoologi Bogor. Sesampainya di museum pun, dibutuhkan ruangan tersendiri untuk dapat menyimpan kerangkanya secara utuh, lantaran ukurannya yang begitu raksasa.

Koleksi lain yang cukup unik adalah badak Jawa, salah satu satwa langka yang dilindungi. Konon populasinya kini hanya sekitar puluhan ekor, dan mayoritas habitatnya saat ini berada di taman konservasi Ujung Kulon, Banten.

Badak yang memiliki ciri khas bercula satu dan kecil ini menjadi langka dan terancam punah akibat kerap diburu untuk diambil culanya. Tak terkecuali badak berbobot sekitar dua ton tersebut yang juga mati oleh pemburu cula badak.

Badak itu kemudian disebut-sebut sebagai salah satu badak Jawa terakhir yang hidup di area Tasikmalaya. Karena tak sempat dipindahkan ke Ujung Kulon, akhirnya setelah wafat badak tersebut diabadikan di dalam museum pada 1934.

Selain itu, terdapat pula sampel kulit beserta foto dari komodo yang ditemukan pada tahun 1912 oleh Pieter Antonie Ouwens, direktur Landbouw Zoologish Laboratorium pada saat itu. Ini adalah pertama kalinya spesies komodo ditemukan dari ekspedisi di area Nusa Tenggara.

Yang juga tak kalah unik, ruangan untuk menyimpan spesimen burung memiliki kriteria khusus. Untuk menjaga spesimen agar senantiasa awet dan tidak rusak, maka suhu ruangan selalu dikondisikan setidaknya dalam suhu sekitar 22 derajat Celsius.

Bahkan, koleksi yang terdapat di museum ini tak hanya meliputi satwa nusantara saja. Beberapa di antaranya merupakan hewan-hewan yang ditemukan di negara-negara lain, seperti misalnya kepiting laba-laba Jepang yang merupakan kepiting terbesar di dunia.

Mengingat lokasinya yang masih berada di dalam wilayah Kebun Raya Bogor, untuk dapat masuk ke dalam perlu membayar tiket masuk menuju Kebun Raya Bogor terlebih dulu. Harganya Rp 16,5 ribu untuk hari biasa dan Rp 26,5 ribu saat akhir pekan.

Kemudian, lokasi museum ini berada bersebelahan dengan gedung Balai Industri Agro. Dari pintu masuk Kebun Raya Bogor, akan terdapat papan penunjuk arah menuju ke museum. Di dalam museum juga ada denah ruangan per kategori hewan, sehingga tak perlu takut tersasar.

Harga tiket masuk ke dalam museum adalah Rp 15 ribu untuk hari biasa, serta Rp 25 ribu kala akhir pekan. Jam operasional museum mulai dari jam 08.00 sampai 15.00 di hari biasa, sedangkan saat akhir pekan buka lebih awal pada jam 07.00.

Museum Zoologi Bogor; Jl. Ir. H. Juanda Nomor 9, Bogor

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Goyang Lidah ala Temanggung, 5 Yang Unik

Goyang lidah ala temanggung, Jawa Tengah di antaranya ada sego gono.

Goyang lidah ala Temanggung mungkin belum banyak yang hapal luar kepala. Maklum, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah masih belum menjadi destinasi utama. Kota kecil ini biasanya cuma dilewati jika orang hendak menuju Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng.  

Goyang Lidah ala Temanggung

Temanggung mungkin lebih dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Ya, sebagai penikmat kopi, Temanggung tentu tak asing. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopinya juga dipertimbangkan masyarakat dunia saat berhasil masuk delapan besar festival kopi di Swedia dan dipamerkan di pergelaran bertajuk Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta, Amerika Serikat. 

Menyeruput secangkir kopi tentu lebih nikmat jika dipadu dengan camilan, entah ringan maupun berat. Dan Temanggung punya punya padanan untuk kopinya. Tertarik? Ini ada 5 yang bisa jadi pilihan.

Sego Gono

Inilah makanan khas Temanggung yang kini jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, penganan ini bisa ditemukan di perhelatan tertentu. Sego gono disajikan ala kadarnya, tapi cita rasanya sama sekali tak sekadarnya. Nasi kukus berbumbu ini dilengkapi mbayung (daun lembayung, daun dari kacang panjang), kubis, tempe, teri, kacang, dan parutan kelapa muda. Aromanya begitu menggoda. Saat disantap hangat-hangat, rasanya jempolan.

Bila ditambahkan ikan asin goreng atau rempeyek, hmm… semakin enak. Kenikmatan ini bisa jadi timbul karena kesungguhan juru masaknya. Bisa juga karena menggunakan dandang gerabah dan kukusan bambu. Atau bisa jadi karena teknik mengukus dengan memperhatikan urutan, seperti nasi-sayuran-nasi-sayuran-dan seterusnya. Tak perlu merogoh kantung lebih dari Rp 5 ribu untuk dapat menikmati seporsi sego gono.

Pasar Papringan; Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kabupaten Temanggung

Pasar Entho; Jalan Diponegoro, Parakan,Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung masih jarang ditengok orang, padahal banyak yang bisa jadi teman ngopi.
Kupat tahu dari Temanggung hampir mirip dengan saudaranya di Magelang. Foto: Dok. shutterstock

Kupat Tahu

Jarak Magelang ke Temanggung tak lebih dari satu jam perjalanan. Tak ayal,  kulinernya pun terpengaruh. Salah satunya ditandai dengan keberadaan kupat tahu. Penganan ini berisi potongan ketupat, tahu goreng, dan tauge, sama seperti yang disajikan di Magelang.

Selain itu, seporsi kupat tahu dilengkapi dengan bakwan sayur, potongan kol, cincangan kubis atau seledri, guyuran bumbu kacang setengah cair dengan rasa lebih manis dan gurih–karena dipadukan dengan gula merah cair, dan bawang goreng. Nah, seporsi kemewahan kupat tahu yang disajikan diganjar tak lebih dari Rp 15 ribu. 

Kupat Tahu Batoar; Jalan Gilingsari Pandean, Kabupaten Temanggung

Bakso Lombok Uleg

Bakso seoertinya hanya sajian biasa. Namun, di Temanggung, lain ceritanya. Ada bakso lombok uleg yang dikenal sejak 1950-an dan telah melekat dengan daerah tersebut. Tak sulit ditemukan. Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer arah timur Alun-alun Temanggung, tepat di ruas Jalan Sudirman. Warung Bakso Lombok Uleg Pak Di, demikianlah warung itu dikenal.

Seporsi bakso lombok uleg seharga Rp 14 ribu terlihat punya tampilan berbeda. Hal yang pertama dilakukan penjual setelah pelanggan memesan menu adalah menghaluskan (uleg, dalam bahasa Jawa) cabai rawit di mangkuk. Tingkat kepedasannya dapat disesuaikan, yakni lima cabai untuk kategori sedang dan sepuluh cabai untuk kategori pedas. Setelah itu, potongan-potongan ketupat, tahu, dan bakso dimasukkan, lantas  disiram kuah kaldu panas. Pelengkapnya adalah kecap, bukan saus atau sambal.

Bakso Lombok Uleg Pak Di; Jalan Sudirman Nomor 48 A, Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung ternyata banyak ragamnya, dari yang berkuah atau berbumbu kacang.
Pecel khas Temanggung dengan daun selada air. Foto: Dok. shutterstock

Pecel Kenci Pikatan

Jika ingin menikmati olahan selada air atau kenci–sebutan masyarakat Temanggung untuk selada air, seporsi pecel kenci Pikatan bisa jadi jawabannya. Di Pelataran Parkir Pikatan Water Park yang berada sekitar 3 kilometer arah tenggara pusat Kota Temanggung, beberapa warung makan sederhana menyajikan menu itu. Kenci Pikatan disajikan bersama mi kuning dan bumbu kacang yang sudah ditumbuk halus dengan tingkat pedas sesuai dengan selera. Seporsi pecel mi dihargai Rp 6 ribu. Bila tambah nasi putih, harganya menjadi Rp 10 ribu. 

Meski tampilannya biasa, manfaat mengkonsumsi kenci tidak main-main. Selain kaya akan kandungan vitamin sayuran rendah kalori ini mengandung fitonutrien alami yang berperan sebagai antioksidan. 

 Pecel Kenci Pikatan; Pikatan Water Park; Jalan Raya Pikatan Mudal, Kabupaten Temanggung

Jajan Pasar Temanggung

Bila singgah di Pasar Entho yang berjarak sekitar 10 kilometer arah barat laut dari Kota Temanggung, kemungkinan Anda akan teringat dengan Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, Semarang. Meski barang dagangan yang dijajakan berbeda, penampakannya hampir sama. Lantas, apa yang membuat Pasar Entho ini istimewa? Bisa jadi karena beragam penganan tradisional khas Temanggung yang dijual di sini, mulai Rp 1.000. 

Sebut saja entho cotot (singkong yang telah dihaluskan, kemudian diisi gula pasir dan digoreng), ndas borok (terbuat dari parutan singkong/ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), pipis kopyor (berisikan roti tawar, pisang, kelapa kopyor, dilengkapi kuah santan), cetot (singkong yang digiling halus kemudian dicampur dengan kelapa parut sebelum dikukus, dimakan bersama srundeng manis), ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), buntil daun lumbu (daun talas yang diisi dengan teri, petai Cina, tempe, kelapa parut), dan masih banyak lagi.

Pasar Entho; Jalan Dipenogoro, Parakan, Kabupaten Temanggung

TL/agendaIndonesia

*****

Menikmati 1 Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

Tahu Telur Pak Jayen sesungguhnya adalah tahu tek.

Gelap sudah membayang ketika saya masuk Surabaya di malam hari, Ibu Kota Jawa Timur, dari arah Madura. Selepas Jembatan Suramadu, cukup lama saya menghabiskan waktu di Masjid Sunan Ampel. Jadilah masa lalu Surabaya menyambut dalam temaram, apalagi saat memasuki kawasan gudang-gudang tua. “Ini kawasan Pecinan,” ujar sang pengemudi yang mengantar. Ia pun mengajak berputar, tapi yang ada kegelapan. Jalan Gula, Jalan Karet, hingga Jalan Kembang Jepun, lokasi adanya Kya Kya Surabaya yang memperlihatkan gedung-gedung berpulas abu-abu tak terawat.

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Meski kawasan Pecinan lebih banyak dipenuhi gedung-gedung lawas tak terawat, tapi pada pagi dan siang hari kawasan itu menjadi sasaran para pencinta foto, baik mereka yang amatiran maupun fotografer profesional. “Mbak mungkin harus lihat besok pagi,” ujar sang pengemudi memecah keheningan. Ia tak tahu, saya tengah menikmati masa lalu Surabaya di malam hari.

Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

Nah, dari kawasan Pecinan, saya melewati Jembatan Merah. Jembatan yang menghubungkan jalan Kembang Jepun dan jalan Rajawali ini, menjadi saksi dari kisah heroik para pejuang Indonesia melawan kaum kolonial. Jembatan diberi penerangan cukup hingga terlihat menawan di malam hari. Lampu-lampu pun terlihat lebih bertebaran di seberang jembatan. Melintasi jalan tersebut, saya mengenang kisah Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, pemimpin tentara Inggris meregang nyawa tak jauh dari sini, tepatnya di Gedung Internatio, yang menjadi pusat tentara Sekutu.

Malam itu, gedung yang berada di jalan Jayengrono tersebut terlihat kokoh meski dalam kegelapan. Bangunan yang didirikan pada 1929 ini, tak jauh dari Gedung Cerutu dan De Javasche Bank Surabaya yang dikenal sebagai Gedung Garuda. Juga sebuah hotel yang tampak kental dengan aksen klasik di malam hari, Hotel Arcadia by Horison. Hotel itu tampak di pojokan, seperti menyambut orang yang melewati Jembatan Merah.

Saya membuka mata lebih lebar, gedung-gedung kuno itu semakin membuat saya penasaran. Jadi tak bisa rasanya hanya melewati sekali, meski malam hari saya masih penasaran untuk memutari kembali dan masuk ke dalam jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung lawas tersebut. Ini memang menikmati masa lalu Surabaya di malam hari.

Di seputar Jembatan Merah, ternyata banyak juga gedung tua yang terawat dan difungsikan, seperti yang digunakan sebagai kantor oleh PT Perkebunan Nusantara X dan kantor Polwiltabes Surabaya dengan bangunan tahun 1850. Saya lebih terpana lagi saat mencermati bangunan yang digunakan Kantor PT Perkebunan Nusantara XI. Gedung yang digunakan kantor yang mengurusi perkebunan tebu dan pabrik gula itu begitu luas dan terlihat megah.

Pembangunannya disebut menghabiskan 3.000 meter kubik beton. Pilar-pilar besar menjadi salah satu ciri gedung berlantai dua tersebut dengan detail di beberapa bagian. Di masa lalu, gedung yang dibangun pada 1921 ini merupakan Gedung Serikat Dagang Amsterdam. Tak jauh dari PT Perkebunan Nusantara XI ada Maybank cabang Jembatan Merah yang mengunakan bangunan lawas, dulunya bernama Netherlands Spaarbank. Bangunan tersebut didirikan pemerintahan Belanda pada 1914.

Malam terus merambat, niat menikmati masa lalu Surabaya di malam hari berlanjut. Saya pun harus menuju ke hotel yang terletak dalam Jalan Darmo Raya. Lama tak menginjak kota ini, rasanya saya tak cukup untuk satu hari semalam menyimak sejarah kota lewat bangunan tuanya. Dalam perjalanan menuju hotel, saya kembali menyimak Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dengan gaya arsitektur Gothic, Gedung Isola, dan Gedung Negara Granadi yang didirikan pada 1795, yang kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur.

Di pusat keramaian kota masih ada sederet titik yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini. Salah satunya nan begitu populer adalah Hotel Majapahit Surabaya yang dibangun pada 1910. Di sinilah terjadi perobekan bendera Belanda yang terdiri atas tiga warna dan menjadi merah putih. Bendera tersebut berkibar megah di bangunan yang dulu bernama Hotel Oranje, yang kemudian berubah lagi menjadi Hotel Yamato. Sayang, malam itu badan saya sudah mulai berharap untuk rebahan. Hingga kendaraan tidak kembali berputar untuk mengitar seputar Tunjungan.

Menikmati Masa lalu Surabaya salah satunya mengunjungi kawasan Jembatan Merah.
Kawasan Jembatan Merah Surabaya. Foto: unsplash

Esok hari, perjalanan sejarah ini pasti akan diulang. Masih ada Gedung Kantor Pos Kebonrojo, Gedung Pertamina, Rumah WR Supratman, Balai Kota Surabaya, Gedung Suara Asia, Gedung PLN Gemblongan, serta Jembatan Petek’an, yang membuat saya memahami perjuangan warga kota ini untuk kemerdekaan, hingga predikat Kota Pahlawan pun wajib disematkan.

Es krim Zangrandi Surabaya
Es krim Freezing Barbeque di Kedai ice cream Zangrandi, Surabaya.

Kuliner Zangrandi & Pasar Blauran

Di tengah udara panas Surabaya, saat menapaki jejak sejarah, rasanya mampir ke restoran yang terletak di jalan Yos Sudarso Surabaya ini menjadi pilihan menggoda. Resto dengan suguhan spesial es krim ini, didirikan Renato Zangrandi dari Italia pada 1930. Suasana klasik masih dipertahankan di sini, ubin dengan corak zaman dulu dan kursi rotan lama masih mendominasi.

Untuk pilihan, tutti frutti yang menawarkan es krim dengan rasa buah-buahan, yang dulu digandrungi pun masih bisa dicicipi. Selain itu, ada pula sweet blossom dan fruit parade, yang harganya dipatok pada kisaran Rp 30 ribuan.

Ingin makanan tradisional sekaligus menikmati suasana pasar zaman dulu, bisa mampir ke Pasar Blauran. Namanya juga pasar, memang sulit untuk mendapat parkir kendaraan, tapi di bagian dalam aneka camilan dan tentu sajian khas, bisa dicicipi di lingkungan yang bersih dan rapih. Lontong mi, rujak cingur, atau es dawet, bisa membuat perut tak lagi keroncongan.

Interior Masjid Sunan Ampel Surabaya
Masjid Sunan Ampel Surabaya

Sunan Ampel dan Cheng Ho

Ada dua tujuan wisata religi yang saya jejaki sembari menyimak sejarah di Surabaya. Pertama, Masjid Sunan Ampel yang dibangun pada 1421, terasa hangat dengan pernak perniknya, membuat orang serasa di Arab Saudi. Selepas salat ashar saya pun menyusuri lorong-lorong seputaran masjid. Aneka kurma, pakaian dari abaya, sampai gamis kaum Adam memenuhi toko. Hingga saya pun terdampar di sebuah toko keturunan Arab dengan suguhan khas roti cane dan beberapa potong cane menjadi pengisi perut. Saat azan magrib terdengar, saya kembali bergegas kembali ke masjid, berduyun-duyun orang dari lorong yang berbeda mempunyai satu tujuan. Jumlah peziarah memang mencapai ribuan setiap harinya dan datang dari berbagai daerah. Di bagian belakang masjid juga terdapat makam Sunan Ampel, sang pendiri rumah ibadah sekaligus salah satu Wali Songo. Kegiatan berziarah tentu menjadi agenda dari para wisatawan religi itu.

Kedua, Masjid Cheng Ho di Surabaya, yang memang bukanlah bangunan tua. Namun sebaiknya tak dilewatkan karena masjid yang terletak di Jalan Gading, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, ini tetap terkait dengan sejarah. Dibangun pada 2001, rumah ibadah ini didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho yang berasal Cina. Bangunan ini didominasi warna khas Tiongkok, seperti merah, hijau, kuning, dan biru. Sebagian besar detail arsitekturnya pun dipenuhi ciri Negeri Bambu tersebut, meski ada beberapa detail khas Arab yang terlihat. Bangunan tidak terlalu besar, hanya memanjang dan di bagian depan terdapat lapangan, sehingga saat hari raya bisa menampung hingga 200 orang. Di dalam kompleks masjid terdapat taman kanak-kanak, salah satunya berguna sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Rumah HOS Tjokroaminoto

Berada di Gang VII, Peneleh, Rumah HOS Tjokroaminoto terkesan teduh. Pagar berwarna hijau tosca menciptakan kesegaran. Tak hanya menyimpan jejak pahlawan nasional, tapi juga jejak sejumlah muridnya, termasuk Presiden Soekarno, Muso, Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Profil para murid ini terpampang di dinding-dinding dalam catatan khusus. Lantas, ada ruang spesial di atas yang menjadi favorit Bung Karno. Siapa pun bisa mengenal lebih dekat pemimpin Serikat Islam ini, lewat pajangan di dinding-dinding rumah yang dibangun pada 1870.

Rita N

3 Resto, 3 Menu di Manggarai Barat

andi prasetyo DSC06586

Apa kuliner yang bisa dinikmati di labuan Bajo? Hasil laut selalu menjadi menu dan pilihan utama di kawasan wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sementara kopi menjadi minuman yang selalu tersaji. Di mana wisatwan bisa menikmati sajian laut dan kopi yang asyik di kawasan ini? Berikut tiga pilihan resto dan tiga menu yang bisa dipertimbangkan untuk dicicipi selagi bermain di wilayah ini.

insan ramadhan ZtH3nn7QAMw unsplash
Senja di Manggarai Barat. Foto: unsplash

Kuliner di Manggarai Barat

Kuah Asam Arema Sari Laut

Siang itu, Billy sumringah mendapati warungnya disambangi orang luar pulau. “Biasanya yang ke sini hanya guru-guru pulang mengajar yang melintas atau sopir yang hendak melakukan perjalanan ke Lembor,” katanya. Tangannya langsung cekatan mengeluarkan beragam jenis ikan segar yang baru dibeli dari pengepul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. 

“Hari ini, kami punya ikan cepa, kerapu batu, dan ketamba,” tutur pria Nusa Tenggara Timur yang menikah dengan perempuan asal Malang—itulah sebabnya warung tersebut dinamai Arema—ini dengan lantang. Masakan andalannya adalah ikan kuah asam. Dia menamai masakannya sop ikan kemato (kemangi, asam, dan tomat). 

Yang spesial, proses masaknya masih mempertahankan cara tradisional. Itu juga yang membikin kuah merebakkan wangi khas. Tak amis, juga tidak enek. Warung yang sudah berdiri selama 10 tahun ini buka mulai pagi hingga sore. Bisa ditempuh lebih-kurang 15 menit berkendara dari Bandar Udara Komodo, di sinilah orang bisa menemukan keautentikan masakan ikan kuah asam khas daerah setempat. 

Arema Sari Laut

Kaper (Jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng)

Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 11.00-17.00

Harga per porsi (plus nasi) Rp 40 ribu

Tenda Seafood Kampung Ujung

Lebih-kurang 300 meter dari Pelabuhan Penyeberangan Labuan Bajo, berjejer tenda-tenda kaki lima. Lokasinya tepat di pinggir pantai, di samping jalan utama menuju Kampung Tengah. Di depan tenda-tenda, terpampang beragam jenis ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang masih segar. Pengunjung boleh memilih sendiri para calon “mangsanya”. 

Asap-asap olahan laut membumbung, menggelitik penciuman orang-orang yang lewat. Ada lebih dari sepuluh kios bisa disinggahi. Semua sama saja, baik dari cara masak maupun harga ikannya. Rata-rata Rp 70 ribu per ekor dengan berat lebih dari 2 kilogram untuk ikan kerapu dan kue, Rp 80 ribu untuk cumi-cumi ukuran besar, serta Rp 50 ribu per kilogram untuk udang. 

Pengunjung dapat memilih cara memasaknya. Yang paling terkenal adalah olahan bakar, goreng tepung, dan kuah asam. Ditambah dengan sambal masak khas Labuan Bajo yang menggunakannggurus, cabai kecil yang terkenal pedas tak terkira. Makan pun makin nikmat, apalagi diiringi dendangan ombak yang menyaru dengan irama angin malam. 

Seafood Kampung Ujung

Kampung Ujung, Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 19.00-04.00

Harga per porsi mulai Rp 50 ribu

Kopi dan Kompyang

Budaya minum kopi orang Nusa Tenggara Timur sudah melekat. Kala tamu datang pun, suguhannya berupa minuman lokal bercita rasa pahit dan asam tersebut. Namun itu tak mengherankan karena kopi menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Selain itu, di daratan Flores, banyak ditemui warung-warung yang menjajakan kopi, selayaknya Kopi Mane yang dibuka pada 2015—kopi mane berarti kopi sore. Pemiliknya, Wenti Romas, meneruskan usaha ayahnya yang sudah lebih dulu dibuka di daerah Ruteng, Manggarai. 

Warung kopi milik Wenti menjajakan beragam jenis arabika dan robusta. Ada Manggarai, Juriah, Yellow Caturra, dan Lanang. Kopi yang menyimpan rasa paling istimewa adalah Juriah. Kopi ini dipanen 2 tahun sekali di atas ketinggian 1.300 mdpl. Belanda yang pertama kali membawa biji kopi tersebut di Ruteng. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi lain. After taste-nya menggambarkan karakter karamel, cokelat, dan tembakau yang kuat. 

Segelas Juriah atau kopi lain biasa disantap bersama kompyang, roti tradisional yang dibuat dari tepung beras dengan ditaburi wijen. Sebelum disajikan, kompyang harus digoreng hingga kecokelatan. Meneguk kelezatan kopi dan mencecap kompyang sembari menikmati sore adalah kebahagiaan sederhana di warung yang istimewa. 

Kopi Mane

Jalan Utama Bandara Komodo Labuan Bajo, Flores

Buka pukul 09.00-21.00

Harga kopi mulai Rp 20 ribu, kompyang Rp 2.500

F. Rossana/A, Prasetyo

Empal Gentong Cirebon, 5 Yang Maknyus

Empal gentong Cirebon adalah kuliner legendaris kota Udang.

Empal gentong Cirebon menjadi salah satu kuliner yang wajib disantap ketika mampir ke kota udang itu. Meskipun kini orang dapat menemukan empal gentong Cirebon di daerah lain cukup mudah, namun mencicipinya langsung dari daerah asalnya akan berbeda cita rasanya.

Empal Gentong Cirebon

Ya, makanan khas ini memang populer hingga ke penjuru negeri. Rasanya yang nikmat membuat banyak orang menyukainya. Jika dilihat sekilas akan banyak yang mengiranya sebagai gulai. Ke dua makanan tersebut memang tampilan sekilasnya mirip, namun sebenarnya sangat berbeda, baik dari bumbu juga cara memasaknya.

Empal gentong Cirebon sendiri memiliki nilai historis cukup panjang. Bagaimana cerita di balik manakan lezat yang menggoda selera ini?

Sejarah Empal Gentong Cirebon dalam sejumlah catatan diperkirakan muncul pada abad ke 15 masehi dan dipercaya sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Cirebon, juga Jawa Barat. Meskipun belum ditemukan catatan otentikny, namun hal itu cukup diyakini masyarakat.

Empal gentong Cirebon dulu dijadikan sarana untuk menyebaran agama ISlam.

Keyakinan tersebut salah satunya diperkuat dari bahan utamanya. Pada awal kemunculannya, empal gentong dibuat dengan menggunakan daging kerbau.

Pemilihan jenis daging ini memeiliki pertimbangan pada masa itu masyarakat Cirebon banyak menganut agama Hindu. Sementara sapi merupakan hewan sakral di agama tersebut sehingga tidak boleh dikonsumsi.
Empal gentong Cirebon sendiri merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Arab, India, dan Cina yang berakulturasi dengan baik. Dilihat dari ciri makanannya, empal gentong memiliki kuah seperti gulai yang merupakan makanan dengan pengaruh Arab dan India.

Sedangkan bumbu-bumbunya banyak berasal dari budaya Cina dan lokal. Selain itu, di dalam makanan ini biasanya dicampur jeroan, bahan yang sering dijumpai pada makanan khas Tionghoa.

Daerah Cirebon memang menjadi pelabuhan tempat singgahnya pedagang dari berbagai negara, tak heran jika akhirnya semua budaya berakulturasi.

Sumber lain menyebutkan bahwa nama empal gentong diambil dari cara memasaknya yang dibuat di dalam kuali atau perik tanah liat atau gentong. Kemudian dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu.

Cirebon merupakan kota pelabuhan yang didatangi banyak pedagang dan pelaut dari pelbgai negara.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)


Sejak zaman Sunan Gunung Jati, sekitar awal 1400-an, di wilayah barat Cirebon sebelah utara Jamblang ada Desa Situwinangun yang dikenal sebagai pembuat anjun atau gerabah yang terbuat dari tanah liat diantaranya gentong dan padasan.

Kabarnya empal gentong khas Cirebon ini tercipta berawal dari kreativitas masyarakat Cirebon pada zaman dahulu yang memanfaatkan gentong sebagai media untuk memasak empal.

Dengan berlimpahnya kayu dan pohon asam, masyarakat Cirebon memanfaatkannya sebagai kayu bakar untuk memasak empal gentong Cirebon. Menurut masyarakat Cirebon memasak dengan menggunakan kayu bakar dari pohon asam dipercaya memiliki aroma yang khas pada masakan.

Meskipun belum ada sumber yang tepat mengenai asal usul empal gentong Cirebon ini, namun masyarakat percaya bahwa makanan ini menjadi salah satu taktik penyebaran agama Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati pada waktu itu.

Manapun cerita tentang asal-usul empal gentong ini, yang pasti masakan ini enak dan menjadi kuliner wajib jika berkunjung ke kota di Jawa Barat ini. Lalu mana tempat makan empal gentong yang paling maknyus?

Empal Asem shutterstock
Selain epal gentong yang bersantan, ada pula empal asem yang berkuah bening. Foto: shutterstock

Ketika dolan ke Cirebon, ada beberapa tempat makan empal gentong Cirebon yang sangat terkenal. Berikut ini lima rekomendasinya.

Empal Gentong H. Apud

Warung makan yang satu ini bukan saja terkenal namun juga legendaris. Penjual empal gentong Cirebon terkenal ini sudah ada sejak 1994. wisatawan bisa menemukan tenpat ini di Jalan Tujuh Pahlawan Revolusi, Jalan Juanda, atau di kawasan Batik Trusmi.

Dagingnya empuk, dan bumbunya menyatu dengan daging. Untuk mencicipi makanan ini, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 23 ribu untuk satu porsi. 
Empal Gentong Amarta

Warung empal gentong Amarta tak kalah legendarisnya dibanding Haji Apud. Tempat ini sudah ada sejak 1997. Lokasinya ada di Jalan Ir. H. Juanda Battembut, Kabupaten Cirebon. Harga empal gentong di tempat ini Rp 24 ribu per porsinya. Rasanya maknyus dengan bumbu khas dan tekstur daging yang empuk.

Empal Gentong Krucuk

Wisatawan juga bisa mencicipi empal gentong Cirebon di tempat makan yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini. Di sini makanannya disajikan dengan kuah kuning serta taburan bawang merah dan kucai yang membuat rasanya semakin sedap.  Satu porsi empal gentong Rp 20 ribu sudah termasuk dengan nasi.

Empal Gentong Bu Darma

Rumah makan empal gentong yang satu ini sudah ada sejak 1980. Lokasinya juga terletak di Jalan Slamet Riyadi, Cirebon. Dengan membayar Rp 22 ribu, pengunjung sudah bisa merasakan sensasi menikmati empal gentong.
Empal Gentong Hj. Dian

Tempat makan empal gentong Cirebon terkenal selanjutnya adalah warung Hj. Dian. Lokasinya di Jalan Raya Ir. H. Juanda Tengah Tani, Cirebon. Restoran ini salah satu tempat makan incaran para wisatawan yang ingin mencicipi makanan khas Cirebon. Harga satu porsi empal gentong di sini Rp 25 ribu.

Selain empal gentong yang kuahnya bersantan, wisatawan juga bisa menanyakan ke para penjual tersebut masakan empal asem. Sama-sama masakan daging, kuahnya bening dan ada sensasi rasa asem karena menggunakan belimbing wuluh yang segar.

agendaIndonesia

*****


Sensasi Wisata Dalam Air, 2 Yang Unik Dicoba

Sensasi wisata dalam air tak sekadar menyelam, tapi ada pula yang untuk berfoto.

Sensasi wisata dalam air rasanya pasti berbeda dibandingkan menikmati pemandangan di daratan. Terlebih di era sosial media yang menambah syarat spot wisata: instagramable. Serba bisa diunjukkan di akun instagram wisatawan. Sampai ada yang berpendapat, banyak orang yang berwisata bukan untuk menikmati suasana dan budaya yang berbeda, tapi sekadar membuat ‘prasasti’ pernah di tempat itu.

Sensasi Wisata Dalam Air

Tak apalah, sekadar mengabadikan pernah main ke tempat itu, atau memang menikmati keunikan destinasi wisata yang dikunjungi, dua-duanya layak dilakukan. Dan, menikmati pemandangan di dalam air adalah cara berbeda melakukan perjalanan.

Namun, jika berwisata dalam air itu berarti menyelam, tentu saja meminatnya jadi terbatas. Ini ada dua spot wisata dalam air yang layak dicoba bagi mereka yang bukan penyelam tapi ingin coba-coba menikmati sensasi kehidupan bawah air.

Sensasi wisata dalam air selain untuk kesenangan menyelam, juga bisa dilakukan untuk keperluan sosial media.
Salah satu spot yang instagramable di Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Umbul Ponggok Klaten

Ingin snorkeling atau menyelam tapi takut gelombang laut? Tak usah khawatir. Silakansambangi Umbul Ponggok. Kolam di Desa Umbul Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Spot ini masih sangat alami, berupa hamparan pasir nan luas, bebatuan, dan ribuan ikan warna-warni sehingga suasananya benar-benar seperti di bawah laut. Di kala normal, bukan saat pandemi, Umbul Ponggok buka setiap hari, mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

Tempat wisata ini terbilang cukup berbeda dibanding kolam renang pada umumnya. Airnya berasal langsung dari mata air. Dasar kolamnya pun memiliki pasir, karang, hingga berbagai jenis ikan. Meski dipenuhi ikan, air di Umbul Ponggok tidak amis karena airnya terus mengalir.

Selain sebagai tempat snorkeling, Umbul Ponggok kerap dijadikan lokasi latihan menyelam bagi para pemula sebelum mereka benar-benar menyelam di laut. Bahkan kolam alami yang sudah ada sejak zaman Belanda itu memberi pula kesempatan pengunjung untuk berfoto di dalam air sambil bermain video game, nonton televisi, naik sepeda motor, atau melakukan aktivitas lain.

Wisatawan yang masuk ke dalam kolam bisa menemui beberapa spot foto menarik. Memang, pengelola menaruh beberapa benda unik di dalam kolam, seperti motor bebek klasik, sepeda onthel, meja makan, kursi santai, televisi, hingga laptop. Barang-barang bisa disewa untuk sesi foto. Salah satu spot foto yang kerap digandrungi wisatawan adalah tempat duduk ala taman.


Selain bisa berfoto ria bersama ikan dan beberapa properti yang telah disediakan, wisatawan juga bisa snorkeling dan diving di Umbul Ponggok. Wisatawan tidak perlu khawatir jika tidak memiliki peralatan menyelam. Sebab, tempat wisata menyewakan beberapa perlengkapan. Untuk snorkeling, pengunjung bisa menyewa pelampung, kaki katak, dan masker khusus snorkeling.
Tarif untuk menikmati wisata bawah air ini bervariasi dan tidak terlelu mahal. Tiket masuknya di week day hanya Rp 10 ribu, sedangkan untuk week end Rp 15 ribu. Tarif termahal adalah untuk kelas menyelam tang mencapai Rp 250 ribu.

Saat ini wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, menghadirkan wahana baru di wisata mata airnya, yaitu flying board. Wahana baru tersebut merupakan upaya untuk menarik pengunjung di tengah pandemi Covid-19.

Sensasi wisata dalam air bisa dilakukan berupa 'jalan-jalan' di dasar lautan, seperti di Lembongan, Bali.
Suasana di perairan bawah laut Lembongan, Nusa Lembongan Island, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Nusa Lembongan, Bali

Atraksi wisata dalam air di Pulau Lembongan, Bali, lain lagi. Pulau Nusa Lembongan lokasinya berada di tenggara pulau Bali dan masuk dalam pemeritahan Kabupaten Klungkung. Hal yang membuat pulau Nusa Lembongan disukai wisatawan untuk destinasi liburan karena keindahan alamya. Keindahan yang dapat Anda lihat di pulau Nusa Lembongan seperti pantai pasir putih, hutan bakau dirimbuni pepohonan hijau, serta keindahan pemandangan bawah laut.

Salah satu daya tarik pulau Nusa Lembongan terdapat pada keindangan perairan bawah laut. Hampir disebagian besar area di Nusa Lembongan Anda akan melihat penawarkan aktivitas snorkeling dengan Manta Rays atau aktivitas menyelam.

Yang unik, di pulau kecil ini, wisata dalam air berupa sea walking atau jalan-jalan di dasar laut. Sesuai dengan namanya, wisatawan yang ingin mencicipi atraksi ini tak perlu menyelam, cukup berjalan kaki. Untuk itu, wisatawan dibekali helm yang dirancang khusus agar dapat bernapas saat berada di dalam air. Sea walking diklaim lebih seru dibandingkan menyelam ataupun snorkeling karena turis bisa langsung berinteraksi dengan ikan-ikan.

Banyak agen wisata di Bali yang kini menawarkan atraksi tersebut dengan harga bervariasi, mulai Rp 520 ribu per orang. Wisatawan dibawa menggunakan perahu cepat dari Sanur menuju Lembongan selama 30 menit. Kemudian, barulah menjelajahi alam bawah lautnya, juga selama 30 menit. Sea walking juga dianggap lebih aman karena didampingi oleh dive master.

Andry T./TL/agendaIndonesia

*****

Susu Sapi Boyolali, 1 Sentra Susu Segar

Susu sapi Boyolali sentra susu di Jawa.

Susu sapi Boyolali menjadi salah satu daya tarik pelancong datang ke kota kecil di Jawa Tengah itu. Terlebih lagi kini kota tersebut sudah menjadi satu rangkaian dari jalan tol TransJawa. Jika berjalan dari Semarang ke arah Solo, ada exit di Boyolali.

Susu Sapi Boyolali

Kabupaten Boyolali mendapat sebutan sebagai Kota Susu. Ini mengingat daerah ini merupakan penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah. Kota ini bahkan punya patung sapi perah raksas sebagai ikon daerahnya.

Boyolali memiliki banyak peternakan sapi perah, terutama di daerah selatan dan dataran tinggi yang berhawa sejuk, di mana banyak tersedia pakan hijau yang sangat mendukung perkembangbiakan ternak.

Susu sapi Boyolali selain dikonsumsi langsung juga menjadi aneka produk olahan.
Susu sapi sesudah dari perahan. Foto; shutterstock

Kabupaten yang terletak sekitar 25 kilometer sebelah barat Kota Surakarta ini kadang dijuluki juga sebagai New Zealand Van Java atau Selandia Baru dari Jawa. Sebutan ini berdasarkan kesamaan keduanya, yakni sama-sama sentra produsen susu dan daging sapi.

Sebagian besar wilayah Boyolali terletak di dataran tinggi sehingga cocok untuk menjadi tempat budi daya sapi perah. Dengan potensi budidaya sapi sebesar ini, wajar jika Boyolali menjadi kota Susu. Selain sapi perah, kota tersebut juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong.

Potensi pariwisata di Kabupaten Boyolali juga sangat besar. Ada berbagai wisata alam, wisata edukasi, sejarah dan budaya yang ada di daerah ini. Yang kian dkembangkan tentu saja soal produksi sapi.

Memanfaatkan peternakaan sapi perah yang ada, seperti wisata sapi perah Cepogo, wisata Selo, wisatawan bisa datang dan melihat langsung dan terlibat dalam proses pemerahan susu sapi, hingga susu diolah menjadi berbagai produk olahan seperti keju, kerupuk susu, dodol susu, atau yogurt.

Keju mozarela dari Boyolali berawal ketika ada warga negara Belanda yang mencoba mengembangkan produk susu.
Keju Mozarela produksi Boyolali dari susu sapi lokal. Foto: Tokopedia

Di wilayah Boyolali juga terdapat beberapa gunung, dua di antaranya adalah Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Ke dua gunung tersebut menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur.

Suhu dan kondisi alam yang tepat inilah yang membuat ratusan sapi perah bisa berkembang biak dengan baik di Boyolali. Kota ini menjadi salah satu pemasok susu di Indonesia. Per harinya, produksi susu sapi bisa mencapai 120 ribu liter.

Tapi main atau mampir ke Boyolali tak lengkap jika tak mencicipi produk susu dan turunan kulinernya. Jika tak langsung dikonsumsi, bisa dijadikan oleh-oleh.

Yang pertama tentu saja mencicipi susu segarnya secara langsung. Tradisi nongkrong malam-malam di kedai susu berawal dari kota ini. Wisatawan bisa mendatangi kedai-kedai minum susu terbaik di Boyolali untuk merasakan nikmatnya susu sapi Boyolali yang segarnya alaminya.

Banyak tempat yang menyajikan minuman dan makanan berbahan dasar susu sapi Boyolali. Di antara semua kedai susu, yang paling populer di kalangan warga adalah Waroeng Spesial Susu Segar (SSS).

Selain SSS, pelancong juga bisa mencoba susu sapi Boyolali di kedai Mas Bejo. Susu Segarnya yang khas membuatnya didatangi banyak pengunjung dari dalam kota maupun pelancong.

Berlokasi di di Jalan Pandanaran No 241, Susu Segar Mas Bejo menyediakan berbagai macam menu susu yang harganya sangat murah. Dengan uang kurang dari Rp 10 ribu, wisatawan sudah bisa menikmati segelas susu sapi segar dengan rasa favorit.

Selain susu segar, produk khas daerah Boyolali pertama adalah tahu susu. Makanan ini merupakan olahan dari susu dengan cita rasa yang khas dan unik.

Perbedaan itu bisa dilihat dari aroma dan rasa yang lebih manis. Dari segi tekstur, tahu di sini sangatlah lembut dan kenyal. Bahkan, ada beberapa yang ketika pertama kali dipegang langsung hancur atau rapuh seketika.

Tahu susu kerap dijadikan oleh-oleh khas Boyolali yang tahan lama. Wisatawan bisa membawa tahu susu yang masih mentah yang dikemas dalam plastik. Harganya pun terjangkau yang ditemukan di toko oleh-oleh sekitar Boyolali.

Selain tahu susu, susu sapi Boyolali juga dioleh menjadi dodol susu. Berbeda dengan dodol dari daerah lain, dodol susu memiliki rasa yang lebih manis dan creamy. Kudapan ini cocok untuk wisatawan yang menyukai makanan manis. Rasa dodol susu relatif mudah diterima di lidah semua kalangan, dari anak kecil hingga orang tua.

Makanan khas dari Boyolali yang dapat dijadikan oleh-oleh selanjutnya adalah Keju Meneer. Makanan hasil fermentasi susu sapi ini berasal dari daerah Selo.

Dulunya ada warga Belanda yang tinggal di daerah itu dan berkeinginan untuk mengembangkan potensi susu sapi di wilayah ini dengan baik. Dengan keinginannya tersebut, ia membuat produk keju dengan rasa yang sangat gurih. Keju meneer bisa tahan sekitar tujuh hari di perjalanan.

Abon Sapi Boyolali Tokopedia
Abon sapi Boyolali. Foto: Tokpedia

Kota Boyolali tidak hanya terkenal sebagai daerah penghasil susu sapi segar terbesar di Jawa Tengah, tetapi daerah itu juga dikenal dengan olahan daging sapinya. Karena itu, tidak lengkap jika para wisatawan belum mencicipi sekaligus membawa olahan daging sapi dari daerah ini. Seperti dendeng atau abon.

Dalam proses pengolahannya, produsen menggunakan daging sapi pilihan dan bumbu yang berkualitas agar bisa menghasilkan dendeng sapi bercita rasa khas. Daging sapi harus diiris setipis mungkin sebelum dibumbui dan direndam dalam bumbu rempah.

Setelah beberapa waktu, daging sapi berbumbu dikeringkan secara maksimal. Dendeng sapi yang sudah jadi kemudian dikemas dalam plastik yang direkat dan bisa dibawa untuk perjalanan jauh. 

Produk olahan daging lainnya adalah abon sapi khas Boyolali. Sama seperti abon pada umumnya, bentuknya serabut berwarna kecoklatan terang hingga kehitaman. Cita rasanya dominan gurih dan manis sehingga cocok dijadikan sebagai makanan pendamping nasi.

Harga dari abon sapi khas Boyolali ini relatif terjangkau. Abon Sapi juga memiliki ketahanan yang lama karena kering dan tidak ada air di dalam kemasannya sehingga cocok untuk dibawa dengan perjalanan yang lama.

Jadi kapan dolan ke Boyolali? Cobalah mampir sebentar saat perjalanan dari Jakarta, Semarang atau kota lainnya dan melintasi kota ini. Kalau tak sempat main lama, produk susu dan olahannya bisa jadi alternatif buah tangan.

agendaIndonesia

*****

2 Wisata Balikpapan, Udara Laut dan Hutan

iStock 509316323

Kota kilang minyak di Kalimantan Timur ini tak hanya tumbuh sebagai kota bisnis, tapi juga tempat wisata Balikpapan. Bandar udara yang tergolong anyar karena baru diresmikan pada September 2014 ini pun terlihat megah dan hadir dengan nama baru Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Berupa gedung berkonsep eco-airport dengan langit-langit tinggi, terdiri atas empat lantai, dan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. 

Balikpapan memang punya pilihan beragam destinasi. Di seputar kota ataupun hutan-hutan di pinggiran kota. Di dalam kota, misalnya, wisatawan bisa menikmati pantai dan kuliner serta pemandangan laut dari ketinggian. Ada Pantai Melawai dan Kemala, yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Jangan lupa juga mencicipi hidangan dari kepiting yang tersedia di sejumlah restoran. Hidangan yang satu ini memang lekat dengan kota ini. 

Yang Khas Wisata Balikpapan

Masih di pusat kota, pelancong juga berbelanja berbagai kerajinan khas Suku Dayak serta olahan makanan di Pasar Kebun Sayur. Benda-benda khas dari rotan dan bambu hingga batu warna-warni, yang berupa gelang, kalung, dan cincin, bisa ditemukan di sini. Selain itu, ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya, terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 kilometer dari pusat kota. Anda bisa bersua dengan ribuan ekor buaya, yang terdiri atas tiga jenis, yaitu buaya muara, supit, dan air tawar, yang menempati lahan seluas 5 hektare itu. Bisa juga berbelanja produk dari kulit buaya. 

Jika ingin menikmati hawa khas hutan, saatnya mengintip konservasi orang utan dan beruang madu yang dikelola Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat kota. 

Anda akan melalui jalur tanpa aspal dengan di sisi kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Selain orang utan, ada juga kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang berbeda.

Masih di daerah yang sama, ada pilihan lain, yakni Taman Nasional Bangkirai. 

Merupakan hutan konservasi seluas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Daya tarik lainnya adalah jembatan gantung sepanjang 64 meter dengan ketinggian 30 meter di atas tanah. l

F. Rossana

Terbuai Gelombang di Pantai Bali Selatan

shutterstock 186

Sehari pasca-Kuningan, penjor-penjor masih berdiri gagah di sepanjang lorong gang-gang di Denpasar, Bali. Juga di pantai Bali di Pulau Dewata itu. Janur kuning belum berubah kecokelatan. Bunga-bunga di canang juga tampak baru kemarin sore ditata di papan persembahan. Pagi itu, para perempuan berkamen dengan rambut disanggul berlalu-lalang di sepanjang Sunset Road, Badung, Bali, diikuti para lelaki dengan aksesori udeng di kepala. “Mereka akan sembahyang di pura-pura keluarga,” kata Made Arya, warga asli Singaraja, yang bebeapa hari itu mengantar perjalanan di Bali. 

Mobil melaju ke selatan menuju pesisir Pulau Seribu Pura. Kian dekat pantai, tempat-tempat persembahyangan kian banyak dijumpai. Orang-orang mengantar doa makin berlipat jumlahnya. Kontras dengan warga-warga asing yang melaju santai membawa papan selancar, beriringan ke arah yang sama. 

Pantai Bali Setelah Kuta

Lamat-lamat, lantunan Kuta Bali Andre Hehanusa terdengar dari radio. …Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku, di Kuta Bali cinta kita… Made Arya memutar tombol volume. “Kuta dulunya memang ramai. Apalagi setelah upacara Kuningan begini. Namun orang sekarang mungkin agak bosan. Mereka mau yang lebih indah, yang lebih menantang. Yang asyik, ya, Bali bagian selatan, di pantai-pantai yang belum terjamah,” tuturnya. 

Mobil Made membelah jalan bertebing karst. Roda-rodanya luwes mengikuti jalur-jalur sempit dan berkelok. Patung Garuda Wisnu Kencana tampil di kiri jalan. Tak lama, sebuah papan kayu kecil di persimpangan jalan menarik pandangan. Pantai Gunung Payung. Begitulah tulisan yang tertera. Belum banyak literatur yang mengulas pantai ini. 

Jalan masuknya berupa jalur menuju kawasan golf di Uluwatu. Begitu sampai, sebuah lorong dengan dinding penuh tumbuhan merambat menyambut dan menuntun langkah menuju lokasi suara ombak terpecah karang bernaung. Jalannya cukup besar dengan kontur menurun. Namun semakin lama semakin menyempit. Jalan rata berubah menjadi tangga-tangga batu yang licin. Kanan-kiri semak belukar. 

Paralayang di langit Selatan Pulau Bali
Paralayang di langit Selayan pulau Bali.

“Jalan ke bawah masih jauh, buddy,” kata pria Australia berusia 30 tahun kepada rekan sejawatnya dalam bahasa Inggris. Napasnya tersengal. Sebab, sebelah tangannya menggendong papan selancar. DI seperempat jalan, terdapat sebuah spot, yang sering digunakan untuk berfoto, berupa tanah lapang dengan pemandangan lepas pantai. Diteropong dari atas, lanskap yang tersaji ialah hamparan Gunung Payung dengan pasir putih disapu ombak. Terlihat beberapa orang kulit putih berjemur santai sembari menikmati bir. 

Perjalanan masih cukup jauh. Kaki kembali melangkah. Kian ke bawah, tangga curam menghadang. Lanskap pantai dan gunung karang mulai tak terlihat. Lorong makin gelap. Sekitar 20 menit kemudian, lorong itu menemui ujungnya. Cahaya merasuk sedikit-sedikit. Hamparan pasir menyambut. Di anak tangga terakhir, saya seperti berada di sebuah gerbang yang membawa ke dunia lain. Oasis tanpa batas yang bersanding dengan lautan membikin jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Di ujung pantai, dekat dengan gunung karang, bule Australia yang saya temui di perjalanan tadi sudah melucuti pakaian luarnya dan berlari-lari kecil. Sejurus kemudian, papan itu diajak menari di atas gelombang. Sesekali terempas dan tubuhnya jatuh terpelanting ombak. 

“Deretan pantai Bali selatan memang surganya para surfer,” ucap Made memecah hening. Pantai Gunung Payung menjadi salah satu favorit lantaran punya gelombang yang besar. Namun yang berlaga di sini ialah kalangan profesional, juga yang siap mental digulung ombak ganas hingga 2-3 meter. Belum lagi, karakter pantai di bagian selatan tersebut sebagian besar berkarang. 

Melihat keadaan alamnya, memori langsung mengantarkan saya kepada obrolan bersama seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Denpasar, dokter Netty Santyari, beberapa waktu lalu. Ia berkisah tentang tarian gelombang yang diam-diam menghanyutkan. Banyak cerita para peselancar mengalami kecelakaan bila tak siap menghadapi tarian ombak yang elusif. Yang menakjubkannya adalah para peselancar itu kerap mengalami bencana tak terduga. “Rumah sakit tempat saya bertugas, Rumah Sakit Siloam Denpasar, sering menerima pasien yang cedera karena surfing. Tebak, mereka kebanyakan bukan mengalami patah tulang, tapi cedera wajah karena terbentur papan surfing,” tutur Netty kala itu.

Para peselancar dari luar negeri itu akhirnya harus tinggal lebih lama di Bali untuk mendapatkan perawatan intensif pemulihan wajah melalui operasi plastik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Jadi tak heran kalau yang berani bermain dengan gelombang selatan adalah para peselancar yang sudah andal dan siap menanggung segala risiko terburuk. 

Gunung Payung bukan satu-satunya pilihan. “Ada Green Bowl dan Nyang-nyang yang tak kalah elok untuk berselancar,” ucap Made. Dua pantai ini memiliki karakter serupa dengan Gunung Payung, sama-sama butuh perjalanan panjang menuruni bukit berbatu untuk sampai tujuan. Bahkan Green Bowl memiliki anak tangga lebih banyak. Sekitar 300 undak-undakan. 

Namun keindahan lanskap yang menyerupai gadis berkuntum, kalis dan suci, akan membayar peluh yang mengalir. Bibir pantainya tak terlalu luas, tapi bersih tak terkira. Pasirnya lembut bak bubuk gula halus. Karang-karang yang bercokol mendekati tebing mengesankan pemandangan yang dramatis. Ditambah, dengan gelombang laut yang memiliki ritme memikat. 

Dulu, pantai di Desa Ungasan ini merupakan area privat salah satu resor premium. Namun kini dibuka untuk umum. “Kalau mauberselancar di sini, paling bagus pukul 5 sampai 9 pagi atau 4 sore hingga 7 malam,” ucap Ketut Sane, warga setempat. Ia berkisah, Green Bowl memiliki pusaran gelombang di tengah laut yang membikin arus menyapu lebih ganas. Karena itu, ada jam-jam khusus saat ritme gelombang lebih stabil, tak terlalu rendah, juga tinggi. Di samping itu, Green Bowl cocok untuk merefleksikan diri atau sekadar sebagai media buat mendengar puisi alam paling merdu di dunia, ombak dan kicau burung laut yang bersahut-sahutan. 

Tak jauh dari Green Bowl, Nyang-nyang turut menjadi bagian pesisir Pulau Dewata yang merayu buat dinikmati kesyahduannya. Untuk menjangkaunya, perlu terpelanting, tergelangsar, atau terperosok ke jalan berbatu putih. Bukan hiperbola. Sebab, kemiringan jalur tersebut hampir membentuk sudut 80 derajat. 

Sembari bersusah menuruni jalur licin dan berkerikil, lagi-lagi saya bersemuka dengan para turis dari Eropa dan Australia. Beberapa juga berbahasa Rusia. Wisatawan dari kedua benua ini memang terkenal paling doyan menjangkau lokasi yang menantang adrenalin. “Semangat! Setelah ini, kita akan bermain-main dengan ombak. Eh, mana papan surfing-mu?” ujarnya menyapa. 

Saya hanya nyengir sembari memincingkan mata jauh ke depan. Jalur berbatu ini seakan tak berujung. Sekonyong-konyong, debur yang makin terdengar lantang membikin kaki meloncat girang. Bule-bule tadi sudah sampai duluan. Mereka sibuk memainkan papan selancarnya di atas gelombang. 

Saya berdiam mengeringkan keringat di karang besar yang siap menopang badan. Mata asyik menyimak angin yang menyapu gelombang, dan pasir meliuk-liuk terinjak kaki. Matahari berarak pulang. Langit mulai bergaris, berkecamuk memadukan semburat kuning, merah, dan biru tua. Turis-turis mengangkat papan selancarnya. Orang-orang meninggalkan pura di sekitar pantai. Sambil memejamkan mata, terbayang pengembaraan pulang meniti kaki mendaki jalur berbatu yang terjal dan ekstrem. 

F. Rossana/A. Prasetyo