Kayak Arus Deras, Berputar di Arus Sejak 2012

Kayak arus deras menjadi alternatif menikmati sungai nerarus deras.

Kayak arus deras adalah alternatif jika ingin memompa adrenalin di derasnya arus sungai. Selain arung jeram yang sudah lama dikenal, olahraga atau aktivitas ini kian digemari. Untuk memulainya, minimal punya pengetahuan soal teknik dasar olahraga kayak.

Kayak Arus Deras

Arus Sungai Cipunagara, Subang, Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dikalahkan. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!

Kayak arus deras memang tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar. Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC).

“Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata Kang Ihsan—panggilan Muhammad Ihsan suatu kali. Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.

Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.

Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki 45 anggota. Yang paling muda berusia 10 tahun, sementara yang paling tua 50 tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.

Kayak arus deras bisa menjadi alternatif bagi yang ingin memompa adrealin di arus deras.
Seorang kayaker sedang berusaha melintasi arus deras. Foto: Dok. Bandung Kayak Community.

Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Menurut Kang Ihsan, sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Namun sebaiknya, Kang Ihsan menyarankan, calon anggota pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.

Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).

Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air. Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya Rp 1,5 juta. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.

Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan lima angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, menurut Kang Ihsan, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”

Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Kang Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!

agendaIndonesia/Andry T./Bandung Kayak Community

*****

Asyiknya Mengintip Burung, Hobi Yang Ada Sejak 1901

Asyiknya mengintip burung atau birdwatching bukan hobi yang baru muncul. Kegemaran ini sudah pernah ditulis oleh ornitolog asal Inggris pada 1901. Ini bukan sekadar menikmati keindahan karya sang Pencipta, tapi juga memahami, mencatat dan melestarikannya. Mengendap-endap, mengintip via teropong, mencermati, dan mencatat jenis burung yang dilihat.

Asyiknya Mengintip Burung

Cuaca memang belum bersahabat pada pada waktu itu. Maklum, hujan masih rajin mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat. Namun Santi dan Jihad dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) tetap bersemangat menemani Stuart Marden, peneliti burung dari Manchester University, Inggris. Saat azan Subuh menggema, mereka sudah bergegas menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Beruntung hujan tidak turun hari itu, meskipun mendung menggelayut.

Tepat pukul 07.00, mereka sudah tiba di pintu masuk Cibodas, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Taman Nasional. Perjalanan yang harus mereka tempuh masih panjang. Meskipun tidak terlalu berat, jalur trekking memiliki rute berkelok dan naik-turun. Tak hanya itu, selama perjalanan mereka juga tak boleh menimbulkan suara gaduh. Bahkan terkadang mereka harus jalan mengendap-endap dan siap membidikkan teropong berlensa binokulersaat tampak burung bertengger.

Orang awam yang melihatnya mungkin akan menganggap apa yang mereka lakukan ini sebagai kurang kerjaan. Betapa tidak, mereka hanya “tukang intip” burung-burung liar yang hidup di alam bebas. Padahal, pengamatan burung atau lebih kerennya disebut birdwatching merupakan suatu kegiatan observasi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai judul buku yang ditulis oleh ornitolog Inggris, Edmund Selous, pada 1901. Belakangan birdwatching berkembang menjadi kegiatan yang bersifat rekreasi.

Dari tahun ke tahun, organisasi pengamat dan pemerhati burung di Indonesia terus bertambah. Baik yang bernaung di lingkup perguruan tinggi maupun berdiri secara independen. Terkadang pula birdwatching diselipi kegiatan fotografi menggunakan burung sebagai obyek pemotretan.

Meski bersifat hiburan, kegiatan ini dapat menambah wawasan para birdwatcher, sebutan untuk pengamat burung. Sebab, dengan mengintip via teropong itulah mereka bisa mengetahui jenis-jenis burung endemik atau burung perkotaan yang ada di Indonesia. Apalagi birdwatching bisa dilakukan di mana saja, asalkan tempat tersebut merupakan habitat komunitas burung.

asyiknya mengintip burung bukan saja melihat keindahan karya sang pencipta, tapi juga sarana melestarikannya.
Burung Sikatan Ninon. Foto: Tri Susanti-Burung Indonesia

Kendati demikian, untuk menjadi birdwatcher perlu pengetahuan mendasar sebelum terjun ke lapangan. “Perlu tips tersendiri,” ujar Rahmadi Rahmad, Media and Communication Officer Burung Indonesia, waktu itu, yang juga sering menjadi birdwatcher. Jebolan Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menyarankan agar para birdwatcher tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok saat melakukan pengamatan. “Warna pakaian yang mencolok akan mengganggu burung. Sebaiknya, gunakan pakaian berwarna khaki atau yang senada dengan alam,” ia memaparkan.

 Selain itu, Rahmadi menyebutkan, birdwatcher disarankan menggunakan teropong binokuler dan menghindari monokuler. Alasannya, teropong monokuler agak merepotkan penggunaannya karena perlu dilengkapi tripod dan terasa kurang praktis.

Sedangkan untuk soal waktu, kata Rahmadi, pagi-pagi merupakan yang terbaik. Sebab, saat itu burung-burung sangat aktif mencari makan, sehingga mudah ditemukan. “Sore hari juga merupakan waktu pengamatan yang baik, karena biasanya burung mencari makan sebelum mereka beristirahat pada malamnya.”

Di sisi lain, kegiatan mengamati burung ini bertujuan untuk penelitian ilmiah. “Dari hasil birdwatching, kita dapat mengetahui populasi burung yang ada di Indonesia,” ujar Tri Susanti, Communication and Publications Officer Burung Indonesia. Menurut lajang yang akrab dipanggil Santi itu, Indonesia negara terbesar kelima di dunia dan terbesar di Asia yang memiliki 1.605 jenis burung dan 380 jenis burung endemik. Sayangnya, Indonesia juga negara terbesar ketiga yang burung-burungnya terancam punah.

Santi mencontohkan populasi burung yang ada di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Pada 1960-an diperkirakan terdapat 160 jenis burung. Namun, ketika diadakan pengamatan kembali pada 2009, jumlah populasinya diperkirakan berkurang hingga separuh. Hal itu, kata Santi, menandakan telah terjadi pengurangan ruang terbuka hijau di Kota Bogor.

“Banyak ruang terbuka hijau yang telah berganti peran dengan berdirinya kompleks perumahan ataupun pertokoan,” katanya. Karena itu, Santi menyatakan Burung Indonesia sebagai organisasi konservasi burung berupaya mengadakan kerja sama dengan pemerintah setempat dalam pelestarian lingkungan agar habitat burung-burung tersebut tetap terjaga.

agendaIndonesia/Andry T./TL/Foto: Dok. Burung Indonesia

*****

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

5 tempat gembok cinta di asia, salah satunya di Ancol Jakarta

5 tempat gembok cinta di Asia, termasuk yang ada di Indonesia, ini tentu bukan yang pertama dan asli. Tapi latar belakang tempat itu muncul tetap sama: ada pasangan-pasangan yang tengah kasmaran yang ingin mengabadikan kisah kasih mereka dan syukur-syukur cinta mereka bisa terikat selamanya.

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

Tahukan Anda, aslinya tempat pertama munculnya gembok cinta adalah di kota Vranjcka Banja, sebuah kota kecil di Serbia. Negeri di kawasan Semenanjung Balkan bekas negeri Yugoslavia. Gembok Cinta itu tepatnya ada di Jembatan Most Ljubavi. Ini tentang kisah cinta sepasang anak muda yang akhirnya kandas dengan latar belakang perang Austria dan Serbia pada saat Perang Dunia II. Si pemuda rupanya jatuh cinta dengan perempuan lain di wilayah di mana ia bertugas. Patah hati, si kekasih meninggal karena kesedihan hatinya.

Anak-anak muda Serbia yang ikut sedih atas kisah cinta mereka, lalu pergi ke jembatan itu dan membawa gembok yang bertuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing. Mereka mengaitkan gembok itu di jembatan seraya berharap cinta mereka tak lekang oleh waktu.

Kisah terbentuknya gembok cinta ini kemudian menyebar ke perbagai kawasan. Munculah tempat-tempat dengan gembok cinta di sejumlah negara. Tidak saja di beberapa negara Eropa, di Asia pun juga punya tempat untuk memasang gembok cinta. Termasuk di Indonesia. Mau tahu di mana saja? Berikut 5 tempat gembok cinta yang mungkin akan membuatmu mengaitkan gembok cinta kalian saat hari Valentine.

Dermaga Hati Jakarta

Di Indonesia, ada Dermaga Hati di Beach Pool, Taman Impian Jaya Ancol. Papan kayu yang berbentuk simbol cinta itu dilengkapi rantai sepanjang dermaga. Di rantai inilah biasanya para kekasih menggantungkan gembok cinta mereka. Sejak dibuka pada Februari 2011, Dermaga Hati menjadi salah satu tempat favorit muda-mudi Jakarta dan sekitarnya untuk berpacaran.

5 tempat gembok cinta di Asia, di antaranya di Jakarta dan di Bandung. Di ibukota Jawa barat ini bahkan ada 4 lokasi.
Gembok Cinta di kompleks Balaikota Bandung, jawa Barat. Foto: Dok. rajatourbandung.com

Taman Balai Kota Bandung

Kompleks Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, juga punya menara cinta. Terbuat dari besi dan kawat ram dengan bentuk prisma berukuran 2,5 meter persegi dan tinggi dua meter. Di atasnya terdapat huruf “love” berwarna merah. Gembok cinta di Bandung ini berhiaskan lampu warna-warni pada malam hari.

Di monumen cinta ini, pasangan setelah menulis namanya di gembok akan  mengunci dan memasangnya, lalu membuang kuncinya ke kolam Patung Badak di depannya. Gembok cinta yang terpasang pada monumen yang diresmikan pada September 2014 ini memang belum banyak. Salah satunya adalah milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istri. Selain di tempat ini, Bandung juga punya gembok cinta lain, yakni di Farmhouse Susu Lembang, Rabbit Town di Ciubuleuit; dan Dago Dream Park.

North Seoul Tower

North Seoul Tower di Korea Selatan atau  disebut juga dengan nama Seoul Tower atau Namsan Tower sudah dikenal sebagai tempat yang dianggap cocok untuk menggantungkan gembok cinta. Para pasangan kekasih yang merasa bosan dengan suasana perkotaan pergi ke tempat ini untuk menikmati suasana romantis. Di tempat ini biasanya pula mereka memasang gembok cinta sebagai sumpah tidak akan pernah berpisah. Saking popularnya, dibuat sebuah tanda yang bertuliskan: ”Sebuah Janji untuk Cinta Tiada Akhir”. Diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan gembok cinta.

Huangshan

Salah satu tempat terkenal untuk menggantungkan gembok cinta adalah di Gunung Huang atau Huangshan, Anhui, Tiongkok. Tempat ini terkenal sebagai gunung paling romantis di Tiongkok karena pemandangannya nan indah. Nah, jembatan yang terdapat di gunung itulah yang menjadi sasarannya.

Suasana romantis tersebut didukung oleh  legenda lokal. Tentang  seorang wanita cantik yang jatuh cinta dengan pria miskin. Ayahnya tidak menyetujui keinginannya dan menjodohkan si wanita dengan pria kaya. Namun pada hari pernikahannya, si wanita cantik itu justru kabur bersama pria miskin ke Huangshan. Keduanya melompat dari gunung tersebut dengan harapan dapat hidup bersama selamanya.

Enoshima

Enoshima adalah pulau kecil di Jepang dan memang terkenal sebagai salah satu tempat romantis di negeri ini. Di puncak bukit Pulau Enoshima  ada menara observasi dan di dekatnya ada sebuah laut yang disebut lover cove atau Teluk Kekasih. Di sini ada sebuah bel bagi para kekasih yang dapat dibunyikan sebagai tanda keabadian cinta mereka. Di samping bel itu, terpasang pula sekumpulan gembok cinta yang bertuliskan nama-nama pasangan.

agendaIndonesia

*****

Levitasi Aksi Melayang 50 sampai 100 Centimeter

levitasi aksi melayang antara 50 hinga 100 centimeter

Levitasi, aksi melayang dalam proses pembekuan optikal menjadi menarik. Orang-orang seperti berada di udara, antara 50 hingga 100 centimeter. Terbang atau melayang. Gaya ini terinspirasi dari si “gadis melayang” Natsumi Hayashi, komunitas levitasi tumbuh marak di Indonesia. Lahirlah kreasi-kreasi-kreasi yang unik.

Levitasi Aksi Melayang

… Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban di hatiku
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang…

Penggalan lagu Melayang yang dilantunkan penyanyi rap Iwa K. sepertinya cocok menggambarkan hasil kegiatan komunitas fotografi LevitasiHore. Betapa tidak, hasil karya fotografi mereka kebanyakan menampilkan obyek foto yang melayang di udara. Unik sekaligus kreatif.

“Foto levitasi berbeda dengan foto yang sekadar loncat (jump shot). Dalam foto levitasi, harus terlihat bahwa seseorang atau sesuatu sedang benar-benar melayang tanpa beban dengan tanpa bantuan apa pun. Ini didukung dengan kemampuan model untuk berpose melayang sepersekian detik saat dia melompat dan kemampuan fotografer untuk mengabadikan momen tersebut,” tutur Haryanto, admin LevitasiHore Bandung, Jawa Barat.

Menurut pria yang akrab disapa Boye itu, fotografi levitasi memiliki keunikan tersendiri daripada teknik fotografi lain. Dalam levitasi ini, keselarasan serta kekompakan antara fotografer dan model merupakan syarat mutlak agar gambar yang dihasilkan terlihat lebih alami.

Boye menegaskan bahwa fotografi levitasi jauh berbeda dengan pengambilan gambar jump shoot biasa. “Kalau fotografi biasa, semuanya tergantung pada fotografer. Tapi, kalau ini, antara fotografer dan model harus kompak. Yang jelas, gambar melayangnya harus natural, seolah tidak sedang meloncat. Hanya melayang di udara,” ujarnya. Karena itu,  mereka mengusung slogan “We levitate, not jump”.

Selain itu, untuk menghasilkan foto “melayang” yang indah dibutuhkan pencahayaan natural yang sangat baik serta waktuyang tepat dari sang fotografer saat mengambil gambar. Kendati begitu, teknik fotografi ini tidak membutuhkan kamera canggih seperti digital single lens reflect (DSLR). “Kamera saku atau kamera smartphone juga bisa digunakan,” kata mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung itu.

Andaikata membutuhkan peralatan khusus, kata Boye, paling hanya flash. “Itu pun kalau pencahayaan di sekitar dirasakan kurang. Atau memakai remote shutter jika untuk dipakai selfie, kan lagi musim tuh sekarang,” ia menambahkan sembari terkekeh.

Levitasi aksi melayang antara 50 sampai 100 centimeter sehingga seperti layaknya orang sedang terbang dalam bekuan optikal.
Levitasi aksi melayang merupakan kreasi dari para pecinta fotografi. Foto: Dok. Eldo Setiawan/LevitasiHore, Surabaya

Teknik levitasi yang anti-gravitasi itu memang kian digemari. Walhasil, komunitasnya tumbuh subur di beberapa daerah beberapa tahun belakangan ini. Awalnya bermula dari Jakarta yang dibentuk pada 25 Desember 2011. Kemudian menjalar cepat ke berbagai daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, Sukabumi, Kediri, Karawang, Surabaya, Solo, Semarang, dan luar pulau, seperti Padang, Palembang, Medan, Makasar, Jambi, dan lainnya.

Meski dalam penggarapannya tergolong serius, tapi komunitas penggemar fotografi levitasi lebih mengutamakan cara saling berbagi cara membuat foto levitasi dengan senang. “Senang itu bisa disamakan dengan ‘hore’. Bisa dibilang itulah alasan digunakan kata ‘hore’ di belakang komunitas ini,” kata dia.

Menurut Boye, komunitas ini berdiri karena terinspirasi dari Natsumi Hayashi. Hayashi menjadi sensasi Internet selepas ia mengunggah foto dirinya melayang hampir di semua tempat di Tokyo. Hasil karya Hayashi yang dimuat di yowayowacamera.com menuai pujian. Meski untuk mendapatkan hasil foto levitasi tersebut, Hayashi yang belakangan dijuluki si “Gadis Melayang” itu harus melompat berulang kali.

Bahkan ia sempat dikira gila karena melompat-lompat sendirian di depan sebuah toko. Sang pemilik toko juga hampir sempat memanggil polisi sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya melakukan aksi loncat-loncat tersebut.

LevitasiHore Bandung sendiri terbentuk pada 3 April 2012. Anggotanya beragam, dari siswa SMA hingga pegawai bank. Kegiatan pemotretan dilakukan hampir di setiap tempat di kota Bandung, pinggir jalan kota Bandung, pusat sajian kuliner, gunung sampai, dan tebing Keraton yang sedang booming pun pernah dilakukan. Bukan hanya itu, LevitasiHore Bandung juga sempat mengadakan kolaborasi bersama komunitas lain, seperti Bulb, Kofipon, Urban Jedi, dan komunitas Cosplay.

LevitasiHore Surabaya, Jawa Timur, pun tak kalah seru. Komunitas yang didirikan pada 1 April 2012 ini bahkan sudah memiliki lebih dari 1.700 anggota yang terdaftar di media sosial mereka. “Biasanya kami rutin mengadakan kopi darat (pertemuan) tiap Jumat pukul 7 malam di warung kopi di Jalan Indrakila No 1, Surabaya,” ujar Eldo Setiawan, Ketua LevitasiHore Surabaya.

Kepada calon anggota yang berada di Surabaya, Eldo mempersilakan untuk bergabung tanpa dikenakan iuran. “Lewat komunitas ini, kita dapat berbagai teknik fotografi levitasi dan menemukan inspirasi lain,” ujarnya.

Nah, tertarik dengan fotografi levitasi? Untuk mengetahui kegiatan rutin dan mengenal levitasi, silakan saja follow Twitter @LevitasiHoreBDG atau @ LevitasiHoreSby. Dan bukan tak mungkin, suatu saat pembaca dapat memotret dengan gaya levitasi saat melancong. Melayang dan melayang…

agendaIndonesia/Andry T. for TL

******

Olah Rasa di Atas Roda Berkecepatan 20 Km/Jam

Olah Rasa di Atas Roda, seperti sepatu roda namun cuma punya satu roda.

Olah rasa di atas roda rasanya membingungkan orang. Bagaimana orang bisa melakukan olah rasa seraya melatih fokus dan keseimbangan diri. Yang lebih unik, kegiatan ini juga memberikan euforia dengan mengolah rasa.

Olah Rasa di Atas Roda

Wusss… wusss…. Seorang pemuda meluncur di atas sebuah roda. Disusul kemudian beberapa pemuda lainnya, masih dengan mengendarai alat serupa. Tubuh mereka seakan melayang. Terlihat begitu mengasyikkan. Bergerak lincah kian kemari. Sejurus kemudian, mereka membentuk semacam formasi.

Kelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Peazemakerz itu rupanya sedang berlatih airwheel. Komunitas yang terbentuk pada 2 Juli 2003 ini ternyata ingin memberikan sebuah pertunjukan seni yang berbeda dengan biasanya.

“Selama ini Peazemakerz menggabungkan unsur street dance, parkour, dan capoeira dalam sebuah pertunjukan seninya. Kali ini, kami mencoba koreografi dengan memasukkan unsur airwheel sebagai bagian untuk pertunjukan seni,” ujar Mochammad Subhan, Ketua Peazemakerz, kepada TL di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tak ayal, aksi mereka mengundang perhatian orang yang tengah berolahraga di kawasan itu, terutama tertuju pada airwheel yang mereka gunakan. Airwheel, kata Subhan,sejatinya merupakan alat transportasi mini yang digerakkan dengan baterai. ”Bisa melaju 18-20 kilometer per jam. Sedangkan untuk pengisian ulang baterai dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam dan mampu bertahan hingga 3 jam pemakaian,” ujarnya. Adapun beban yang mampu ditopang alat ini maksimal sekitar 120 kilogram.

Untuk dapat mengendarai airwheel, Subhan menyebutkan, keseimbangan tubuh sangatlah dibutuhkan agar pengendaranya dapat berdiri tegak lurus. Sedangkan untuk menjalankan alat ini, tubuh dicondongkan ke depan dan ke belakang untuk memperlambatnya. Sedangkan untuk mengarahkannya, tubuh dimiringkan ke kanan atau ke kiri. Sekilas memang terlihat begitu mudah.

Kami sempat dipersilakan oleh Gladwin, anggota Peazemakerz, untuk mencobanya. Ups, ternyata tidak mudah. Meski kaki kanan sudah menempel di pedal, ternyata sukar menaikkan kaki kiri di pedal satunya lagi. Bahkan, untuk dapat berdiri dan menyeimbangkan tubuh, saya terpaksa berpegangan pada Gladwin. Lagi-lagi, roda airwheel bergerak mengikuti gerakan kaki yang belum terbiasa menyeimbangkannya. Keinginan untuk berjalan dengan airwheel tipe roda satu itu pun terpaksa kami urungkan.

Namun keinginan mencoba menaiki airwheel kesampaian juga ketika saya mencoba airwheel tipe roda dua yang memakai setang. Alat yang satu ini mirip segway yang pernah dipakai anggota Kepolisian Republik Indonesia yang berdinas saat car-free day di seputar kawasan Sudirman dan Thamrin. Karena memiliki roda dua, airwheel tipe ini relatif lebih seimbang. Saya, yang baru pertama kali mencobanya, tidak kesulitan menggunakannya.

Kendati begitu, tetap saja saya perlu menyesuaikan keseimbangan tubuh saat akan menjalankan ataupun menghentikannya. Untuk menjalankannya, kita hanya perlu mencondongkan tubuh ke depan. Sebaliknya, kita hanya perlu mencondongkan tubuh ke belakang untuk menghentikannya. Sama seperti cara mengendarai airwheel tipe roda satu. Dan, wusss… saya pun meluncur bebas meskipun masih tersendat-sendat.

olah rasa di atas roda dengan kecepatan 20 kilometer per jam membutuhkan seni dan ketrampilan.
Olah rasa di atas roda merupakan paduan olah raga dan seni. Foto: theairwheel.sg

Cuma, memang, sensasi airwheel tipe roda dua dengan setang ini masih kurang ketimbang tipe roda satu. Hanya, untuk dapat mengendarainya, perlu waktu. ”Untuk itu, Peazemakerz membuat kesempatan berlatih airwheel yang digelar setiap Selasa sore di Gelora Bung Karno,” ujar Erma Engelien, salah seorang pendiri.

 Untuk kelas pemula, kata Erma, latihan digelar seminggu sekali selama satu bulan. Untuk biayanya, dikenai Rp 475 ribu. ”Dalam satu kelas hanya berisi lima orang dengan dua pelatih,” ucap Erma. Bagi yang belum memiliki airwheel, tak perlu khawatir. Sebab, mereka bisa menyewanya. ”Untuk sekali latihan, hanya dikenai Rp 50 ribu.”

Di Indonesia, airwheel sebenarnya sudah diperkenalkan sekitar setahun yang lalu setelah populer di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Selain tipe roda satu dan roda dua dengan setang, ada yang tipe roda dua tanpa setang. Namanya airboard. Harga airwheel di pasar bervariasi, tergantung spesifikasinya. Dari Rp 6 juta hingga Rp 20 juta.

Penggunaan airwheel sudah meningkat di Indonesia seiring dengan komunitasnya yang bermunculan, seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. ”Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari airwheel ini. Alat ini dapat melatih fokus diri, keseimbangan, dan cukup memperbaiki struktur tulang belakang,” kata Erma.

Selain itu, sepertinya, alat transportasi yang mudah dijinjing ini ramah lingkungan dan menimbulkan euforia bagi pengendaranya. Betul begitu? Wusss… wusss….

agendaIndonesia/Andry T. untuk TL

*****

Remote Control Boat, 1 Balapan Air di Darat

Remote Control Boat adalah permainan di atas air. Biasanya di danau kecil atau sungai yang arusnya tidak terlalu deras. Meskipun permainan air, pemainnya tida berbasah-basah, mereka memacu adrenalin di pinggiran danau.

Remote Control Boat

Perahu mungil itu melesat. Ia membelah permukaan air Danau Sunter, Jakarta Utara,https://jakarta.go.id/ begitu cepat. Beberapa pemancing di pinggir danau seakan tak terganggu dengan kehadiran perahu-perahu mungil berkecepatan tinggi yang mengelilingi danau di Minggu siang itu.

Sesekali, perahu berwarna kuning itu bermanuver lincah. Berbelok mengitari cone di tengah danau dengan tak kalah gesit, lalu kembali melesat. Entah sudah berapa kali mengelilingi arena, perahu tadi kemudian terlihat melaju pelan dan merapat ke dermaga. Sang pemilik yang sudah berada di pinggir dermaga kemudian mengangkatnya ke darat. Aura kepuasan terpancar dari raut wajahnya.

“Ada kenikmatan tersendiri saat memainkan RC (remote control) boat racing ini,” ungkap Abui kepada TL yang menemuinya siang itu. “Saya seakan meraih kepuasan saat memainkan RC boat racing.”

Kepuasan yang tak dapat dijabarkan lewat kata-kata itu dirasakan pula oleh Ivan. Pria ini mengaku mengenal RC boat racing 15 tahun lalu. Sebelumnya, Ivan mengungkapkan sempat memainkanRC car dan RC flight. “Namun sensasi kenikmatan saya rasakan lewat RC boat racing ini,” ujarnya. “Saya memang suka dengan kecepatan,” tuturnya.

Permainan RC boat racing di Indonesia sejatinya sudah dikenal lama. Namun terasa kurang populer dibandingkan dengan RC car atau RC flight. Mungkin karena RC boat racing butuh area khusus, seperti danau untuk dapat memainkannya. Namun, kata Ivan, RC boat racing mulai digemari sekitar dua tahun lalu seiring dengan maraknya pertandingan RC boat racing.

Sekadar informasi, RC Boat International Race pernah digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Desember 2015. Ajang berskala internasional itu diikuti oleh peserta dari beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Vietnam, dan Thailand. Pertandingan serupa juga kerap digelar di negara-negara Asia Tenggara tersebut. Ivan mengaku beberapa kali sempat bertanding di negara-negara tersebut.

Atau bisa jadi, karena cara pengoperasian dianggap sulit, RC Boat kurang diminati. “Padahal gampang kok. Pemain hanya cukup mengoperasikannya lewat pengendali jarak jauh alias remote control,” kata Rudy. Pelatuk di remote, katanya, cukup ditekan atau dilepaskan untuk menambah atau mengurangi kecepatan. Sementara tombol putar digunakan untuk mengendalikan arah perahu ke kiri atau ke kanan.

Sedangkan untuk perahu sendiri memang butuh pengetahuan karena menggunakan mesin bermotor jenis dua tak. “Tapi tetap tidak sulit. Paling setahun kita sudah dapat memahaminya,” ujar Abui yang memiliki koleksi enam buah RC boat racing menimpali. Lagipula, menurut Abui, mengutak-atik perahu memberikan keasyikan tersendiri.

Abui menyebutkan, RC boat memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan umur atau kapasitas penggunaannya. Untuk pemula, ada beberapa varian perahu yang bisa dipilih, di antaranya jenis Catamaranyang mudah dioperasikan. Namun bagi yang sudah mahir, biasanya memilih RC Boat jenis balap yang memilki banyak varian, seperti Formula One.

Harganya pun bervariasi. Harga RC boat racing berkualitas sedang, kata Abui, harganya di bawah Rp 10 juta. Sementara yang berkualitas lebih baik biasanya mencapai Rp 14 juta. Perawatannya relatif mudah dan murah. ”Kocek yang dikeluarkan setidaknya setimpal dengan kepuasan yang kita peroleh,” ujarnya sembari terkekeh.

remote control boat tidak semuanya jenis racing. Ada pula yang lebih santai bermainnya.
Remote control boat tak semuanya jenis racing, ada juga yang lebih santai. Foto: unsplash

Abui, Ivan, dan Rudy merupakan anggota yang tergabung dalam Jakarta Boat Modeling Club (JBMC). Klub yang berdiri pada 2006 ini terus berkembang. Para anggotanya berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Saat kopi darat untuk bermain RC boat, mereka biasanya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hal-hal lainnya tentang RC boat. Lewat media sosial, seperti Facebook, anggota JBMC terus bertambah. Hingga kini sudah ada sekitar 700 orang di Indonesia.

”Jerih payah saya bersama teman-teman untuk mengumpulkan para penggila RC boat terealisasi,” kata Andy Lofri, mantan Ketua JBMC yang kini menjabat sebagai bidang organisasi.

Bergabung dengan JBMC tidak sulit. Para penggemar RC boat racing cukup mendaftarkan diri dan membayar iuran setiap bulan sebesar Rp 100 ribu. Uang itu digunakan untuk pengelolaan sarana dan prasarana, misalnya membayar tim penyelamat (rescue team) yang selalu sigap untuk mengambil perahu jika perahu terjungkal atau mati mesin di tengah danau.

Tim penyelamat yang menggunakan perahu bermotor ini jelas sangatlah penting. Kehadiran mereka sangat membantu mewujudkan para penggemar RC boat racing meraih kenikmatan di atas air.

agendaIndonesia/Andry T./ Wisnu AP/untuk TL

*****

Melompat Spin 180 Derajat Pada Wakeboarding

Melompat spin 180 derajat atau 360 derajat (spin di sini artinya badan berputar) dalam permainan boat wakeboarding (wakeboarding dengan ditarik perahu) sangat sulit dilakukan. Harus dilakukan cepat, pada kecepatan perahu rendah. Demikian juga dalam permainan skateboarding, bahkan lebih beresiko fatal, karena kalau gagal akan jatuh terhempas ke lantai. Namun, kesulitan itu tidak akan banyak berarti di arena permainan kabel wakeboarding. Semua bisa dilakukan mudah, dan yang pasti lebih aman, karena kalaupun gagal resikonya hanya akan jatuh tercebur air.

Melompat Spin 180 Derajat

Semua seni akrobat dalam wakeboarding, skateboarding, atau kitesurfing, bisa dilakukan dengan lebih mudah di kabel wakeboarding. Ini cocok bagi awam karena aman dan tidak perlu belajar lama. “Satu jam mencoba, pasti sudah bisa. Juga tidak perlu harus bisa berenang, karena semua pemain dilengkapi pelampung,” ujar Carlos Pangemanan, atlet nasional boat wakeboarding, di Epic Cable Park, Ancol, Jakarta Utara, satu-satunya arena kabel wakeboarding di Jakarta.

Di kota-kota negara tetangga, seperti Singapore, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Phuket, ini permainan yang sudah sangat populer. Disukai untuk leisure, karena praktis, aman, singkat, dan penuh tantangan.

Penasaran, saya pun mencobanya bulan lalu di Ancol. Dengan membayar Rp 175 ribu untuk bermain selama dua jam (paket termurah), semua peralatan main sudah disediakan, yakni boarding binding (papan selancar dengan sepatu), pelampung, helm, dan handle (pegangan yang terhubung ke kabel penarik). Dengan bantuan kru, saya memakai semua perlengkapan, dan kemudian mencebur ke laut, mengapung dengan posisi seperti tengah jongkok. Berhenti sebentar untuk penyesuaian diri dengan lingkuangan air yang dingin. Dengan bantuan remote control wireless, operator pun memberi aba-aba siap meluncur.

Secara perlahan, dimulai pada kecepatan sekitar 20 mph (meters per hour), kabel layang pun mulai menarik handle di tangan, dan secara perlahan-lahan badan dengan kaki terikat papan luncur, tertarik ke atas untuk mendapatkan posisi berdiri. Setelah berdiri di atas papan dengan stabil, kecepatan luncuran pun akan ditingkatkan hingga sekitar 25 mph. Maka meluncurlah saya di atas air dengan santai. Dengan panjang lintasan sekitar 140 meter, saya pun bolak-balik menikmati boarding sailing. Kadang kaki kanan pada posisi di muka, kadang di kiri, bolak-balik ketika berganti arah. Rasanya sungguh sensasional, meluncur di atas air arena terbuka, membelah hembusan angin. Berkelok-kelok melintasi berbagai halang rintang yang dipasang di tengah danau.

Merasa posisi stabil dan bisa melaju dengan nyaman, saya pun minta operator meningkatkan kecepatan hingga 30 mph. Tangan mesti tetap stabil memegang handle, dan jaga jangan sampai badan terjatuh. Kaki mesti kuat berpijak di papan luncur, namun juga mesti santai dan rileks buat bergerak. Posisi badan pun dibuat stabil mengikuti irama gerakan kaki. Wow, hati berdesir. Adrenalin meningkat, dan seakan tubuh keranjingan tidak ingin berhenti meluncur.

Pelan-pelan, saya pun mencoba adegan relay, yakni adegan terbang ditarik kabel seperti seorang superman sedang terbang. Ini seni akrobat paling sederhana dalam permainan wakeboarding. Dengan kecepatan sekitar 25–30 mph sebenarnya mudah dapat dilakukan dengan meningkatkan tekanan pijakan pada boarding, sambil melompat tinggi, dan turun lagi dengan pinjakan yang lebih kuat menahan hentakan air, sambil tetap menjaga keseimbangan tubuh. Sayang, tampaknya saya masih belum cukup jam terbang dalam adegan ini.

Melompat spin 180 derajat dalam wakeboarding membutuhkan konsentrasi dan ketrampilan yang tinggi.
Melompat spin 180 derajat dalam wakeboarding membutuhkan ketrampilan yang tinggi. Foto: Ilustrasi-unsplash

Dalam permainan wakeboarding, ada tiga unsur dasar gerakan akrobat yang biasanya dimainkan, yakni relay (terbang melayang), spin (badan berputar 180 derajat atau 360 derajat), dan invert (salto). Dan varian-varian lain yang menggabungkan ketiga unsur gerakan ini.

“Dulu dengan boat wakeboarding saya bertahun-tahun belajar gerakan-gerakan akrobatik ini. Sekarang dengan kabel wakeboarding, dalam tiga bulan para pemula sudah menguasai bisa melakukan berbagai gerakan sulit,” ujar Carlos Pangemanan, yang dua tahun lalu ketika saya temui sedang belajar gerakan spin 360 derajat sambil salto (backroll), namun kini sudah mahir melakukan gerakan spin 720 derajat sambil salto. Salah satu gerakan tersulit dalam wakeboarding, karena pemain harus cekatan memutar badan sambil memindahkan handle tali penarik dari tangan kanan ke tangan kiri dan sebaliknya secara cepat sambil tetap melaju dan melompat.

Di Epic Cable Park, Ancol, selain tersedia permainan kabel wakeboarding jenis lintasan pendek sepanjang 140 meter, juga ada lintasan penuh System 2.0 Full sepanjang 800 meter, berputar mengeliling seluruh danau area permainan. Bermain di lintasan 800 meter tentu lebih seru dibanding lintasan pendek 140 meter. Di lintasan pendek hanya tersedia dua obstacles (halang rintang), sedangkan di lintasan panjang 800 meter tersedia enam obstacles yang beraneka macam bentuk. Beragam akrobat pun bisa dilakukan lebih banyak di lintasan pannjang dibanding lintasan pendek. Di area panjang, juga bisa dilakukan seri balapan antarpemain dalam area lintasan yang sama.

Secara periodik, juga dilakukan kompetisi terbuka di Epic Cable Park, Ancol. “Ini olahraga freestyle. Dalam kompetisi, kemampuan kreativitas dan keberanian seni akrobatiknya yang dinilai. Sangat menguras energi. Main 30 menit sampai 1 jam saja sudah capek. Di kompetisi, setiap pemain paling hanya tampil sekitar 10-15 menit saja,” ujar Carlos. Permainan adrenalin ini benar-benar menyerap energi. Saya bermain dua jam saja rasanya sudah setengah mati menguras energi. Kalau di boat wakeboarding atraksi-atraksi dilakukan dengan memanfaatkan lintasan-lintasan ombak yang tercipta dari laju perahu, di kabel wakeboarding atraksi dilakukan dengan memanfaatkan tarikan kabel yang stabil.

Karena dilakukan di atas air banyak orang takut mencoba permainan ini. Padahal semua pemain dilengkapi dengan pelampung dan helm sebagai standar keselamatan. “Tidak harus bisa berenang, minimal harus bermental air. Ada banyak kru yang mengawasi,” ujar Carlos.

Danau tertutup di Ancol untuk permainan ini memang cukup dalam, sekitar 3-4 meter, tetapi perlengkapan pelampung sudah cukup menjamin keselamatan pemain dari risiko tenggelam. Perlengkapan pun juga sudah tersedia lengkap. Meski di sini juga tersedia toko yang menjual berbagai perlengkapannya.

Buka setiap hari, ada banyak paket permainan yang tersedia, dari yang seharga Rp 175ribu untuk dua jam permainan pada lintasan pendek, hingga Rp 500 ribu bermain sehari pada lintasan penuh (800 meter). Libur akhir pekan ada banyak orang yang rela mengantri untuk permainan segala umur dan segala gender ini, sedang di hari biasa umumnya hanya ada sekitar belasan orang. Datang bermain bersama grup tentu akan lebih seru dan membuat tenang. Kalau ingin lebih menantang, juga tersedia paket boat wakeboarding di lautan lepas.

agendaIndonesia/Wahyuana untuk TL

Layang-layang Tali 4, Bermain Lawan Angin

layang-layang 4 tali bukanlah permainan iseng. Ia bahkan dikompetisikan di tingkat internasional

Layang-layang tali 4 atau Quadline Kite bukanlah permainan layang-layang biasa. Ini bukan jenis mainan senggang di sore hari, namun butuh ketrampilan yang mumpuni.

Layang-layang Tali 4

Permainan layang-layang sepintas tampak sederhana dan gampang. Tangan seperti tinggal menarik ulur benang atau kenur, sambil bersenang-senang melihat layang-layang bergoyang di angkasa. Ternyata tidak semudah itu. “Perlu tenaga, konsentrasi, ketrampilan, dan mengenali alam,” kata Mutiara Proehoeman, atlet layang-layang independen, yang dalam beberapa tahun terakhir ini aktif di berbagai festival layang-layang di berbagai negara.

Memainkan layang-layang model Quadline Kite atau layangan bertali empat seperti jenis Revolution, misalnya, pemain tidak hanya dituntut mahir mengocek kenur menahan angin, tapi juga harus kuat secara fisik dan mental. Ini jenis layangan olahraga, bisa terbang pada kecepatan angin 0–15 knot, tapi idealnya terbang pada sekitar 8-10 knot. Pada kecepatan itu, tarikan layangan bisa menyeret pemain kalau kuda-kudanya tidak kuat. Pemain biasanya juga menggunakan tangkai kemudi tali, dan kalau mungkin juga harness di badan untuk mengaitkan tangkai kemudi. “Harus diterbangkan di area terbuka luas sehingga minim risiko kecelakaan, karena pemain bisa terseret atau terbawa terbang,” kata Mutiara.

Ada berbagai model dan ukuran layangan Quadline Kite ini, dan masing-masing mempunyai karakteristik. Di pantai lebih cocok memainkan layangan ini karena biasanya kecepatan angin lebih stabil. Di berbagai kompetisi, para pemain diminta melakukan berbagai atraksi udara dalam jangka waktu tertentu. Bisa membentuk formasi angka 8, formasi lingkaran, dan lainnya. “Dalam enam menit bermain, saya biasanya melakukan 5–8 formasi,” ujar Mutiara tertawa.

Tantangan dan kenikmatan bermain Quadline akan sangat berbeda jika bermain dengan layang-layang tipe Dualline Kite, atau layangan bertali dua. Memainkan layang-layang tipe dua tali seperti Stunt Kite tidak terlalu menguras tenaga dibandingkan dengan layangan Revolution. Layangan Stunt Kite ini juga bisa dimainkan pada kecepatan angin 0 – 15 knot. “Bedanya, layangan dualline lebih ringan dan menyenangkan untuk dibuat tricking berbagai formasi atraksi udara,” ujar Mutiara yang kini tergabung dalam klub layang-layang Kite Bros yang berbasis di Singapura.

Di rumahnya di Jakarta Timur ia mempunyai 20 koleksi layangan modern berbagai jenis, dari yang bertipe Single Line (satu tali), dualline, hingga quadline. Dari yang seharga Rp 500 ribu hingga Rp 8 juta.

Mutiara lebih menggeluti bermain layangan modern. Layangan tradisional biasanya dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti kertas dan bambu. Layangan modern biasanya dibuat dari bahan-bahan seperti kain parasut, bingkai rangkaian dari logam karbon, dan tali kenur berbahan sintetis yang kuat. Desainnya juga lebih beragam, dan komposisi masing-masing bagian telah dihitung secara matematis. “Sehingga bisa dimainkan untuk berbagai kategori angin,” ujarnya, yang berbelanja layang-layangnya mesti ke Singapura sebab hingga kini belum ada industri layang-layang modern di Indonesia.

Layang-layang tali 4 merupakan permainan yang membutuhkan skill yang mumpuni untuk dapat menguasai layang-layang yang menudara melawan angin.
Layang-layang tali 4 menjadi kesenangan karena memiliki tantangan dalam mengendalikannya. Foto: ilustrasi-unsplash

Selain menyenangkan, sensasi adrenalin ketika bermain yang membuatnya merasa terus keranjingan bermain layang-layang. Kalau layangan sudah terbang, rasanya tangan dan perasaan seperti ikut melayang. Tegang dan menyenangkan. “Saya bisa seharian bermain layangan, kalau tidak dingatkan, bisa sampe lupa makan,” katanya.

Ia pun melengkapi diri dengan sejumlah peralatan keselamatan untuk bermain, seperti sarung tangan, topi, kacamata, sepatu, hingga pelindung lutut. Menurutnya, bermain layang-layang juga tidak perlu memaksakan diri, jika angin dan kondisi lingkungan tidak memungkinkan sebaiknya tidak bermain.  Perlu area minimal sekitar 20 meter persegi untuk bermain secara nyaman, dan pada jenis-jenis layangan seperti parafoil perlu area yang lebih luas. “Bermain dari atap-atap gedung, seperti di Jakarta, sangat berbahaya, sebaiknya jangan dilakukan,” ujarnya. Dia juga tidak akan bermain ketika kecepatan angin telah lebih dari 15 knot, karena sangat berbahaya bagi layangan-layangan ukuran besar. 

Salah satu koleksinya yang istimewa, layangan NPW (Nasa Para Wing), tipe tali empat yang sangat populer di dunia. Bahannya dibuat dari parasut pesawat luar angkasa NASA, harganya Rp 4 juta.  Biasa dimainkan Mutiara di Lapangan Ancol atau Lapangan Jababeka, Bekasi, dua lokasi favoritnya bermain layang-layang di Jakarta. Selain Revolution dan Stunt Kite, koleksi lain di antaranya: layangan Rokkaku, layangan tipe satu tali yang sangat lincah buat manuver-manuver di udara; Delta, layangan berbentuk diamond, juga tipe satu tali; Wala, layangan tipe satu tali yang bisa dimainkan pada ruang tertutup maupun terbuka, ditangan Mutiara layangan bahkan bisa dimainkan ketika tidak ada angin sekalipun; Inflatable, layangan bertipe tiga dimensi seperti barongsai yang ia beli Rp 1,5 juta;  dan layangan Parafoil  tipe 4 tali yang biasanya digunakan oleh para pemula permainan Selancar Layang (Kitesurfing).  “Favoritku Wala dan Revolution,” ujar Mutiara, 32 tahun,  karyawan sebuah perusahaan energi swasta di Jakarta Selatan. 

Layang-layang telah membawa Mutiara mengunjungi berbagai negara, memenuhi undangan berbagai festival layang-layang. Ada beberapa festival layang internasional, di antaranya India International Kite Festival, Singapore International Kite Festival, Malaysia International Kite Festival, dan Thailand International Kite Festival. “Di Indonesia sendiri belum ada kompetisi layangan modern, yang ada baru festival-festival layangan tradisional,” ujarnya.   

agendaIndonesia/Wahyuana for TL

Kereta Api Indonesia dan 50 Railfans

Kereta Api Indonesia atau KAI ternyata punya penggemar atau railfans.

Kereta Api Indonesia ternyata memiliki penggemar fanatik. Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang disukai, terutama jika hal tersebut sudah menjadi suatu hobi. Hobi dengan bidang transportasi tentunya hal yang biasa di dengar misalnya mobil dan motor. Hal tidak biasa yang muncul adalah hobi dengan alat transportasi umum seperti bis, pesawat, kapal laut bahkan kereta api . yang dikelola Kereta Api Indonesia

Kereta Api Indonesia

Di kereta api para penggemarnya biasa disebut dengan railfans atau komunitas pecinta kereta api. Masyarakat yang tempat tinggalnya terkoneksi dengan jalur kereta api tentunya tidak asing dengan orang-orang yang tiba-tiba muncul membawa sejumlah kamera dan alat perekam digital. Ini terutama di daerah yang memiliki spot menarik bagi seorang railfans untuk mengabadikan kereta api yang lewat.

Mereka umumnya tahu bahwa jalur kereta api bukan tempat untuk bermain. Sehingga hal yang di utamakan adalah keselamatan yang harus selalu di patuhi saat hunting foto-foto atau video kereta api. 

Kereta Api Indonesia memiliki penggemar yang disebut sebagai railfans.
Salah satu rangkaian kereta api Indonesia yang sedang melakukan perjalanan. Foto: Dok. PT KAI

Railfans tidak hanya senang fotografi atau videografi saja, namun kehadiran mereka juga membantu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam melayani para pelanggan. Seperti pada masa angkutan Lebaran tahun 2022 lalu, para railfans dari berbagai daerah secara sukarela terlibat dalam memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan perjalanan kereta di stasiun-stasiun.

Mereka kebanyakan berasal dari pelajar yang merelakan waktu liburan sekolah untuk menjadi relawan dengan membantu pelanggan atau masyarakat yang hendak menggunakan kereta api. Terkadang untuk membantu masyarakat yang sekadar bertanya terkait jadwal perjalanan kereta api di stasiun.

Jumlah railfans ini tak cukup besar. Di wilayah operasional KAI Jawa dan Sumatera saja terdapat setidaknya 50 komunitas railfans binaan KAI yang sering berkolaborasi dengan manajemen KAI melakukan kegiatan sosialisasi dan berkontribusi dengan cara mereka sendiri untuk kemajuan perkeretaapian Indonesia.

Dari 50 komunitas railfans tersebut 23 di antaranya membantu KAI dalam posko angkutan Lebaran tahun 2022 ini, yakni Jejak Railfans, Train Photograph Railfans Indonesia, Edan Sepur Wilayah Jakarta, Bandung, serta Cirebon, GM-MarKA, RD One, National Railfans, Sedulur Sepur, Forum Railfans Area 1, Victory Railfans.

Kemudian ada Sahabat Kereta Api Daop 2 bandung dan Daop 8 surabaya, Railfans Cianjur, KRDE Daop 4 semarang dan Daop 9 jember, Spoorlimo, Railfans Jombang +43, Railfans Enam Delapan Kediri, Pecel +64 Madiun, Si Puong, RF+444 Malang, dan terakhir Osing Train Community.

Masing-masing Railfans ini memiliki anggota yang bervariasi jumlahnya, yakni di kisaran 20 hingga 400 orang dan rata-rata masih berstatus pelajar.  Selama posko, terdapat sejumlah kegiatan yang dikerjakan oleh para anggota railfans tersebut secara sukarela. Di antaranya, mengantarkan pelanggan agar tak salah nomor kursi dan masuk kereta.

Kereta Api Indonesia terbantu dengan adanya railfans, terutama di saat peak season.
Railfans KAI membantu melayani secara sukarela masyarakat yang membutuhkan informasi kereta api. Foto: Dok. PT KAI

Selain itu mereka juga membantu melakukan pengawasan protokol kesehatan, membantu memberikan informasi aturan perjalanan kereta, membawakan tas milik pelanggan, membantu pelanggan yang kebingungan saat melakukan boarding atau check in, dan memberitahukan informasi jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta. Mereka juga tidak segan untuk membantu lansia dan pelanggan yang memiliki kebutuhan khusus.

Vice President Public Relations PT KAI Joni Martinus mengaku senang dan bangga bisa berkolaborasi dengan railfans yang selalu mendukung KAI dalam segala hal. KAI memberikan apresiasi yang tinggi kepada komunitas pecinta KA atau railfans atas kontribusi pada angkutan Lebaran tahun 2022.

“Di balik kelancaran angkutan Lebaran ini tentunya ada peranan railfans yang membantu. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman railfans karena telah bahu membahu menyukseskan angkutan Lebaran tahun 2022 dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan mewujudkan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, sehat, dan selamat,” ucap Joni.

Kehadiran railfans di stasiun, selain membantu pelayanan juga memberikan semangat kepada para pekerja KAI lainnya dalam melaksanakan tugas selama posko. 

Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan di KAI tidak terbatas hanya pada posko angkutan Lebaran saja, namun juga pada posko Nataru (Natal dan Tahun Baru), kerja bakti membersihkan stasiun, serta melakukan edukasi dan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang.  Kegiatan ini pun di pandang positif oleh masyarakat bahkan oleh dinas terkait.

Joni mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh beberapa railfans khususnya dalam mengedukasi keselamatan perjalanan kereta api kepada masyarakat. Bahkan, beberapa aksi tersebut adalah inisiatif railfans itu sendiri. Hal ini merupakan bentuk kecintaan pada perkeretaapian secara nyata.

Bagi KAI, peran railfans sangat strategis dalam upaya mendukung kemajuan perkeretaapian, dimana masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang sama guna memajukan perkeretaapian di Indonesia.

“Railfans memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perkeretaapian yang terus dilakukan oleh KAI. Dari kegiatan-kegiatan positif tersebut diharapkan mampu menambah kualitas pelayanan dan memberikan citra positif untuk KAI maupun bagi railfans itu sendiri,” tutup Joni.

agendaIndonesia

*****

Paramotor, Terbang Dengan Angin 7 Knot

Paramotor kegiatan dirgantara dengan mengandalkan angin, parasut dan motor

Paramotor mungkin belum seakrab paralayang atau gantole, atau pesawat ultra ringan bagi banyak pecinta kegiatan dirgantara di Indonesia. Olahraga ini memang lebih muda dari ketiganya. Bagi pecintanya, kegiatan ini tak kalah mengasyikan. Ini kisah sebelum masa pandemi terjadi.

Paramotor

Pukul 07.00, lapangan terbang perintis di atas pegunungan Mamberamo, Papua, masih dipenuhi kabut. Pada ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut, udara terasa sangat menusuk tulang. Mendengar akan ada atraksi terbang paramotor, warga sudah berkerumun memenuhi lapangan udara sejak pagi. Angin stabil searah jalur landasan dengan kecepatan sekitar 7 knot, setara 13 kilometer per jam, sangat ideal untuk terbang menggunakan paramotor.

Dengan 12 liter bensin di tangki, pagi itu, Didit Majalolo menggelar parasut, memanaskan mesin, dan bersiap-siap mengudara. Dibantu temannya yang mengosongkan area, ia pun beraksi. Saat mesin baling-baling menyala, ia menarik tali parasut melawan arah angin, menaikkan posisi parasut hingga di atas kepala. Dalam hitungan detik, ia berlari beberapa meter untuk menguatkan tarikan parasut, menggeber gas motor, dan hup…meloncat terbang.

paramotor adalah olahraga yang bisa dilakukan di mana-mana, sepanjang ada tempat terbuka untuk take off dan landing.
Seorang pegiat paramotor tengah bersiap untuk take off. Foto: Dok. Unsplash

Mula-mula ia memang hanya terbang beberapa meter di atas tanah. Namun setelah posisi nyaman, ia langsung menggeber gas motor hingga mencapai ketinggian 60 meter di atas tanah. Semua proses take off ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 detik. “Hmm, rasanya plong dan senang begitu sampai atas. Melihat pemandangan bawah yang hijau, bukit-bukit, dan aliran Sungai Mamberamo yang meliuk-liuk,” ujarnya, menceritakan pengalaman terbangnya.

Di atas, ia segera mengeluarkan kamera SLR, memotret keindahan lembah dan bukit Mamberamo dari ketinggian 60-100 meter di atas permukaan tanah. Didit gandrung melancong dengan menggunakan paramotor. Selama dua jam, ia mampu terbang hingga radius 60 kilometer di kawasan pegunungan Mamberamo. Memotret dari ketinggian menjadi sensasi yang ia cari. “Rasanya lain sekali antara memotret dari darat dan dari udara. Jauh lebih indah, dan terasa penuh adrenalin,” ujar petualang udara dan fotografer ini. Beberapa tahun terakhir, ia memang tergila-gila terbang dengan paramotor, setelah sebelumnya menekuni paralayang.

Bertualang di udara dengan paramotor lebih gampang dilakukan daripada menggunakan paralayang atau gantole, yang membutuhkan tempat tinggi untuk meloncat terbang. Aksi paramotor bisa dilakukan di mana saja, asalkan ada tempat terbuka seluas lapangan sepak bola sebagai landasan take-off dan landing. Didit bahkan lebih suka terbang di pantai. “Tempat ideal pantai, yang anginnya stabil dan pantainya luas. Saya setiap akhir pekan terbang di Pantai Parangtritis, Yogyakarta,” ia mengungkapkan.

Ia menambahkan, pantai tersebut sangat indah kalau dilihat dari ketinggian. “Pemandangan ombak besar, tebing-tebing karang, gumuk-gumuk pasir di Parangkusumo, hingga kerumunan wisatawan di sepanjang pantai,” ucap pria yang kemudian sering diminta oleh satuan penjaga keselamatan Pantai Parangtritis untuk memantau para turis dari atas ini.

Didit biasanya terbang pada ketinggian 100-300 meter di atas permukaan tanah, meski paramotor memiliki daya maksimum terbang hingga ketinggian 2.000 meter. Paramotor belum masuk dalam kategori pesawat udara ringan, sehingga tak banyak regulasi dan belum dibutuhkan lisensi sekolah pilot untuk bisa menerbangkannya. Siapa saja boleh menjajal paramotor, asalkan telah mengikuti pendidikan yang diketahui oleh asosiasi penghobi paramotor.

Didit kini membuka usaha jasa pendidikan, wisata, dan penjualan peralatan paramotor melalui Majalolo Paramotors Corp. Dia menawarkan program pendidikan selama tujuh hari dengan biaya Rp 12 Juta buat orang Indonesia, dan Rp 15 juta bagi warga asing, untuk dapat menjadi penerbang paramotor. “Syaratnya, sehat fisik dan tidak mempunyai penyakit jantung, itu saja. Kalau fobia ketinggian, itu bisa dilatih hingga hilang. Peralatan latihan juga harus milik sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyediakan jasa wisata tandem terbang dengan paramotor di sekitar Pantai Parangtritis, Yogyakarta, dengan biaya Rp 400 ribu untuk sekali terbang selama 15 menit. “Tapi seringnya saya malah diundang bupati, wali kota, atau tim SAR untuk terbang tandem melihat wilayah tugas mereka,” katanya sembari tertawa. Terbang dengan paramotor memang cocok untuk mengamati kawasan tertentu karena, pada ketinggian 100-200 meter, obyek di bawah kelihatan lebih dekat.

Paramotor dulu sering dipergunakan untuk memotret dari udara dengan ketinggian tak terlalu ekstrim.
Dua pegiat paramotor sedang mengudara. Foto: Dok. unsplash

Selain itu, laju paramotor lebih gampang diatur daripada pesawat udara. Radius terbang paramotor pun cukup luas, hingga 100 kilometer lebih, tergantung bahan bakar bensin yang ada. “Rekor saya terbang cross country menyusuri pantai selatan Jawa dari Pantai Parangtritis hingga Pantai Cilacap. Kini sedang mempersiapkan diri membuat rekor baru dari Parangtritis hingga Kuta, Bali,” tuturnya.

Harga peralatan yang mahal, sekitar Rp 100 juta untuk satu set lengkap parasut dan mesin, membuat peminat paramotor masih sedikit. Diperkirakan, belum sampai 50 orang di Indonesia yang menggeluti hobi ini. Di luar negeri paramotor sudah berkembang, sehingga Didit sering kebanjiran undangan untuk mewakili Indonesia dalam berbagai kegiatan festival paramotor mancanegara.

“Indonesia, yang luas, sangat ideal untuk terbang paramotor. Banyak yang mengusulkan agar ada kegiatan di Indonesia, tapi karena baru saya sendiri yang main, ya, berat sendirian kompetisi di sini. Makanya, saya senang jika ada yang berminat belajar paramotor,” ujar Didit, yang juga memegang lisensi sebagai juri perlombaan. Ia sudah sering main paramotor di Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Melalui Majalolo Paramotors Corp, Didit bahkan telah berhasil mengembangkan usaha karoseri paramotor, yang tidak hanya bisa merakit perlengkapan paramotor, tetapi juga sudah membuat baling-baling sendiri. “Bikinan tukang las di Yogyakarta, kualitasnya sangat bagus. Untuk mesin dan parasut masih impor,” ucapnya. Ia belakangan juga diminta melatih tim SAR (search and rescue) berbagai daerah untuk terbang dengan paramotor.

Lantas apa proyek Didit Majalolo ke depan? “Saya ingin terbang dengan paramotor ke seluruh wilayah Indonesia, ingin memotret keindahan Indonesia dari udara.” Selama ini, ia terbang dengan paramotor, selain Mamberamo dan Jayawijaya, di Morotai, Maluku Utara; Pulau Panjang, Kepulauan Seribu; Pulau Merah, Banyuwangi; Parangtritis-Cilacap, Jawa Tengah; Timbis, Bali; dan wilayah selatan Lampung. Ia mempunyai empat set paramotor, baik untuk terbang cross country sendiri, pelatihan, maupun terbang tandem. Ayo, kamu mau mencoba? Seru lo!

Wahyuana/TL/agendaIndonesia

*****