Burung Migrasi di Taman Nasional Sembilang

Taman Nasional Sembilang, ini taman nasional yang unik. Dia menjadi satu tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi dari Siberia menuju ke selatan di Australia. Dan sebaliknya.

Taman Nasional Sembilang

Berada di ujung pesisir barat Kabupaten Banyuasin, provinsi Sumatera Selatan, Taman Nasional  Sembilang ini terdiri atas hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian atau tepi sungai. Total luasnya mencapai 205,7 ribu hektare. Posisinya berhadapan langsung dengan pulau Bangka.

Pemandangan alamnya yang eksotis membuat tempat ini menarik kunjungan banyak wisatawan. Tapi di luar itu, flora dan fauna yang hidup di dalamnya membuat taman nasional menjadi tujuan utama mahasiswa atau ilmuwan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melakukan penelitian.

Sayangnya memang perjalanan menuju taman nasional ini belum cukup mudah. Akses utama menuju kawasan ini biasanya menggunakan kendaraan air. Hal ini disebabkan karakteristik dan lokasi Sembilang kebanyakan merupakan perairan. Sungai dan rawa-rawa.

Untuk sampai ke Taman Nasional ini memang tidak mudah. Butuh sedikit pengorbanan, baik dari sisi waktu maupun tenaga. Pertama-tama, tentu saja, adalah surat izin masuk kawasan taman nasional. Sebab, ini bukanlah kawasan wisata umumnya. Ada banyak hal yang dilindungi. Tapi jangan khawatir, urusan izin ini administrasi saja. Sepanjang jelas tujuan perjalanan, surat izin sangat mudah diperoleh.

Untuk mengunjungi Sembilang, pengunjung harus mendapatkan surat izin masuk. Wisatawan lokal bisa mendapatkannya dari Kantor Balai Taman Nasional di Jalan AMD, Talang Jambe, Kota Palembang, sedangkan pengunjung asing dapat memperolehnya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Masyarakat Palembang, juga pengunjung lainnya, biasanya untuk menuju ke taman nasional Sembilang berangkat dari ibukota Sumatera Selatan itu dengan menumpang speedboad. Dari Dermaga Benteng Kuto Besak menuju Sembilang akan memakan waktu perjalanan sekitar 4 jam.

Alternatif lain adalah menggunakan perjalan campuran: darat dan air. Jika memilih menggunakan cara ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan darat dari Palembang menuju Simpang PU atau Parit 5 yang letaknya ada di Jalan Raya Tanjung Api-Api. Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam. Dari lokasi itu, perjalanan dilakukan dengan speedboad menuju Sembilang dengan menyusuri sungai Musi dan waktu tempuhnya sekitar dua jam.

Jangan khawatir dengan lamanya waktu perjalanan. Sebab selama perjalanan menuju Taman Nasional Sembilang, mata akan disuguhi pemandangan sungai, laut dan beragam jenis tumbuhan Sesekali, akan ditemui burung-burung yang melintas di atas kepala atau ikan yang melompat akibat terjangan perahu. Yang paling banyak tentu saja kawasan mangrove.

Taman Nasional Sembilang memang terkenal dengan kelestarian tanaman mangrovenya yang membuat kawasan ini tetap terasa alami. Konon, Sembilang adalah habitat mangrove terbesar untuk kawasan Indonesia Barat.

Di beberapa titik sungai, pengunjung akan melewati perkampungan penduduk yang dibangun di atas rawa. Dari atas rumah bertiang, mereka hidup kompak dengan menggantungkan hidupnya mencari nafkah di air. Mereka amat ramah setiap kali kedatangan tamu, jadi jangan sungkan untuk menyapa mereka. Salah satu kampung nelayan ini merupakan sentra industri terasi udang, yang produknya dipasarkan sampai ke luar daerah, bahkan menjadi pemasok utama di Pulau Bangka.

Lalu bagaimana untuk menginap? Saat ini yang tersedia adalah rumah-rumah penduduk di sekitar taman nasional itu. Ini haruslah dianggap sebagai bagian dari petulangan atau tamasya alam. Penduduk setempat sudah biasa didatangi dan menerima tamu untuk menginap. Tentu dengan biaya pengganti sepantasnya. Tahun lalu, pemerintah Kabupaten Banyuasin berencana akan membangun vila laut di kawasan ini. Namun, tampaknya rencana ini sedikit tertunda.

Tapi, soal penginapan jangan sampai menghalangi keinginan untuk menikmati kekayaan alam Indonesia. Yang pertama tentu hewan-hewan langka khas Sumatera. Taman nasional ini merupakan habitat binatang eksotis Sumatera yang mulai langka. Sebut saja harimau Sumatera, gajah Asia, tapir Asia, siamang, kucing emas, rusa Sambar, buaya muara, ikan sembilang, penyu air tawar raksasa, lumba-lumba air tawar, dan berbagai spesies burung.

Selain hewan langka, berbagai macam tanaman darat dan air tumbuh di sini, termasuk gajah paku (Acrostichum aureum.), nipah (Nypa fruticans.),
cemara laut (Casuarina equisetifolia.), pandan (Pandanus tectorius.), laut waru (Hibiscus tiliaceus.), nibung (Oncosperma tigillaria.), jelutung (Jelutung), menggeris (Koompassia excelsa), gelam tikus (Syzygium inophylla), Rhizophora sp., Sonneratia alba., dan Gimnorrhiza bruguiera. Termasuk Kandelia Candel, bunga nasional yang juga dibudidayakan di Sembilang ini.

Keindahan Taman Nasional Sembilang tak hanya terletak pada hutannya. Jika berkunjung ke sini, wisatawan juga bisa menyaksikan parade cantik kawanan burung migran. Taman nasional ini merupakan salah satu tempat singgah migrasi puluhan spesies burung dari Siberia di utara Asia ke Australia.

Fenomena ini biasanya berlangsung di akhir tahun, mulai Oktober hingga Desember. Formasi burung migran ini menarik pencinta fotografi untuk datang ke TN Sembilang untuk mengabadikanburung-burung jenis Anis Siberia (Zoothera Sibirica) terbang bergerombol memenuhi angkasa.

Biasanya, untuk menghindari predator, burung-burung yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu itu akan terbang membentuk formasi bergerombol. Sesekali, burung-burung itu melakukan atraksi yang menarik. Nikmati pula suara gemuruh kawanan burung tersebut saat terbang bersamaan hingga menutupi suara debur ombak Selat Bangka.

Tertarik mengagendakan Sembilang? Ayo agendakan Indonesia-mu.

N. Adhi-TL

Yuk bagikan...

Rekomendasi