Ulos, Persaudaraan, Pengharapan dan Sebuah Nasehat (Bagian 1)

Ulos Kain tradisional Batak shutterstock

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia juga mengandung arti persaudaraan, pegharapan dan nasehat.

Ulos, Adat Dan Tradisi

Di sepotong siang yang terik, pada sebuah rumah berlantai semen berdinding tembok tanpa cat di Desa Penampangan, Samosir, Sumatera Utara, Rini yang kini berusia 12 tahun itu tengah berasyik-masyuk bersama hasoli dan turak. Di sekitarnya tampak pula pagabe, baliga, hatudungan, sidurukan, pamapan, panghulhulan, dan juga panggiunan. Berbagai nama tersebut di atas bukanlah nama teman bermain dari sang dara, melainkan bagian-bagian dari alat tenun. Di sudut yang lain si nenek memendangi sang cucu yang tengah martonung (menenun), dengan rasa bungah.

Hasoli adalah  tempat gulungan benang dan turak  yang terbuat dari bambu kecil yang berfungsi memasukkan benang di sela-sela benang yang ditenun.  Turak dan hasoli menyatu dan berjalan seiring. Turak lah yang membuka jalan sehingga benang bisa menari di antara untaian benang lain sehingga membentuk beragam motif. Pendukung lainnya, pagabe berupa dua potong kayu yang mengapit tubuh, sehingga menopang tubuh sekaligus menjadi penahan alat tenun. Pamapan termasuk bagian utama dari alat tenun, berupa kayu besar dan dua kayu di kiri dan kanan.

Di bagian tengah, di antara benang dan kain setengah jadi, ada baliga, yang memadatkan benang-benang yang terjalin. Sidurukan adalah tempat menaruh baliga. Ada pula panghulhulan berfungsi seperti palet pada mesin jahit, penggiunan adalah penarik benang. Benangnya sendiri disebut giun, dan alat untuk memasang benang sebelum ditenun adalah hatonungan. Lantas alat tenun itu sendiri tak lain alat tradisional gedogan.

Itulah seperangkat alat tenun yang telah menjadi teman akrab Rini sejak kelas 5 Sekolah Dasar, Jemarinya yang lentik selalu memainkannya lidi-lidi yang membentuk konfigurasi benang menjadi motif atau corak kain. Ini dilakukannya selama 2-3 jam saban pulang sekolah. Kini Rini biasa merampungkan selembar ulos berukuran panjang 1,5 meter lebar 40 sentimeter dalam sepekan. “Dia masih anak-anak, lidi yang dipakai baru lima, belum bisa bikin yang pakai banyak warna,” kata si opung.

Dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis ulos. Dalam membuat ulos, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Menurut penuturan si nenek Rini, masyarakat sekarang cenderung menyukai ulos yang dipenuhi dengan benang emas. Menurut si opung, makin banyak warna makin tinggi nilai rupiahnya. Ulos biasa dijual pada kisaran harga Rp 150-400 ribu. Tak jauh dari rumah Rini itu, ada pula beberapa rumah yang juga memproduksi ulos. Biasanya, dalam setiap rumah prosuksi, paling tidak ada lima perempuan penganggit. Seorang di antaranya sudah dalam tingkat mahir, atau beraksi dengan 12 lidi.

Di desa yang berlokasi sekitar 40 km dari Tomok, pelabuhan kecil untuk penyeberangan feri ke Parapat, ini memang dihuni oleh banyak penenun, hingga menjadi magnet tersendiri bagi para pedagang ulos. Di satu jalan desa saja, dalam jarak hanya 500 meter sudah ada tiga kelompok penenun, salah satunya memiliki keunikan karena masih tinggal di rumah adat dan mereka menggelar tikar di depan rumah dan duduk beramai-ramai menenun. Selalu ada pedagang dari luar yang rutin datang mengumpulkan kain adat tersebut.

Di halaman tanah memanjang itu ada dua kelompok perempuan asik dengan gedogan. Salah satunya perempuan boru Silalahi, 62 tahun. Di kiri kanan diapit saudaranya. Tak hanya ulos tapi juga songket Batak pun dibuatnya. Kain songket dalam warna kuning dan biru tampak mencolok. Semuanya ia pajang di tali yang merentang di depannya sehingga mirip jemuran. Perempuan ramah itu mengaku bisa membuat ulos jenis apapun dan dari daerah manapun di Sumatera Utara. “Bisa pesan kalau mau,” ujarnya.

Jenis ulos setiap wilayah di Sumatera Utara berbeda. Ibu lima anak itu bisa dengan rinci menjelaskan beberapa perbedaan itu. Ulos Batak Toba, misalnya, kebanyakan bercirikan  warna redup, dominasi pada hitam dan abu-abu dengan corak yang lebih simpel. Berbeda lagi dengan ulos Karo. Banyak menggunakan warna dasar merah dan terang. Dan kain tradisional itu disebut sebagai uis. Sedangkan ulos Tarutung  memunculkan corak beragam dan warna cerah. Demikian juga dengan ulos Simalungun yang bermain dalam warna biru, merah, dan oranye selain juga hitam. Dikenal sebagai hoiu.

Hanya beberapa meter dari boru Silalahi, empat perempuan lanjut usia tengah tenggelam dalam keasyikan memainkan baliga dan lidi. Tanpa bersuara. Keempatnya menenun dengan teknik ikat lungsi – mengikat benang yang disusun memanjang – dan ketekunan menjadi modal utamanya. Tak mengherankan lebih banyak kaum Hawa dan lebih dominan juga yang berusia lanjut ketimbang remaja. Beruntung di Samsosir, jumlah penenun masih cukup banyak. Di Desa Perbaba, dekat Pangururan, pun bisa ditemukan lagi kelompok penenun.

Bahkan pengusaha kain ulos di Pematang Siantar pun, banyak yang belajar menenun di Samosir, dan beberapa malahan memang berasal dari kabupaten tersebut. Di Parluasan, tak jauh dari pasar, penenun berkumpul di beberapa rumah, setiap rumah ada sekitar 5-7 penenun. Sejumlah penenun Samosir pun mengadu nasib ke Medan. Di ibu kota Sumut, aneka ulos dan songket itu dijual di Pasar Sentral atau tepatnya di Pusat Pasar Lama. 

Ada sekitar 12 kios yang menjajakan aneka kain tradisional, tak hanya ulos tapi juga aneka songket, lengkap dengan kebaya. Salah satunya milik boru Simbolon yang mengusung nama UD Parna Tex, ia menjual kain dari harga Rp 15 ribu hingga Rp 1,5 juta. Satu motif pun bisa berbeda harga, tergantung jenis benang dan pengerjaannya, misal ulos ragi hotang ada yang dijual Rp 50 ribu, tapi ada pula yang lebih halus Rp 150-200 ribu.

Ulos memang tak bisa terpisahkan dari kehidupan suku Batak. Dalam suka maupun duka. Bahkan setiap masa penting dalam kehidupan seseorang pun tak lepas dari ulos. Ada tiga momen penting yang dimaknai dengan ulos, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Setiap kesempatan itu, ulos yang digunakan berbeda. Sewaktu lahir, kakek nenek memberi ulos parompa atau ulos gendong, kemudian ketika menikah akan menerima ulos hela (ulos untuk menantu) dan ketika meninggal mendapat ulos saput. Pemberinya adalah kelompok marga dari istri atau dalihan natulo yang disebut sebagai hula-hula.

Jadilah mangulosi atau memberi ulos menjadi ritual yang penting dalam adat Batak. Pemberian itu tak hanya seperti kado biasa, ketika seorang pelancong membeli ulos sebagai suvenir dan menyebarkannya kepada handai tulan atau sahabat ketika kembali ke kota asalnya. Melainkan mengandung makna yang dalam, yakni pemberian restu, menunjukkan rasa kasih sayang, pengharapan pada hal-hal yang baik. Makna itu tersurat dalam pepatah lawas, Ijo pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong. Maknanya, jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Maka ketika diberikan kepada menantu laki-laki, ulos berarti sebuah nasehat agar paham kerabat yang harus dihormati, hormat kepada kerabat istri dan lemah lembut kepada keluarga. Bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, ulos juga menjadi sebuah penghormatan terhadap jasanya sebagai istri. Sekaligus juga menjadi tanda bahwa dia telah menjadi janda. Secara umum, ada beberapa ketentuan dalam ritual adat ini. Misal yang diberi ulos haruslah secara silsihan keturunan berada pada tingkatan di bawah pemberi ulos, kemudian jenis yang diberikan juga harus sesuai dengan kesempatannya. Apakah kelahiran, pernikahan atau kematian? Motif dan warnanya selalu berbeda.

Dari motif ada pula nama-nama khususnya dan corak pun menjadi sebuah simbol. Beberapa yang dikenal luas adalah ragidup, ragi hotang. bintang maratur, sadum, suri-suri panjang, mangiring. Lantas dari penggunaannya, ulos bisa digunakan di beberapa bagian tubuh, seperti di kepala, penutup bahu, selendang, di bagian tubuh bawah hingga menjadi kain gendongan. Makna, fungsi dan kesempatan penggunaannya membuat ulos memang begitu kompleks sekaligus menjadi sebuah kebanggaan bangsa ini.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Tradisi Sekaten, Apa Beda Yogya dan Solo (1)

Tradisi Sekaten menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Foto: Dok. Dinas Pariwisata Yogyakarta

Tradisi Sekaten bagi masyarakat Jawa adalah saat di mana kegembiraan dan rasa syukur dirayakan. Dalam budaya Jawa, tradisi ini merupakan kegembiraan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini biasanya dilakukan setahun sekali, merunut pada kalender Jawa dari tanggal 5 hingga 11 Mulud, atau Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.

Tradisi Sekaten

Tahun ini perayaan tersebut tengah berlangsung dan diselenggarakan antara 16 September hingga 16 Oktober. Dengan puncaknya saat Maulid Nabi Muhammad SAW pada 7-8 Oktober.

Ada beberapa versi mengapa perayaan ini disebut Sekaten. Yang paling populer adalah nama ini menyadur dari sebuah kata dari bahasa Arab ‘syahadatain’ yang bisa diartikan sebagai persaksian, sebagaimana umat Islam bersaksi akan kepercayaan mereka terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dalam kalimat syahadat.

Tradisi Sekaten merupakan kegembiraan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Sekaten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Foto: dok. shutterstock

Versi lainnya menyebutkan bahwa Sekaten berasal dari gabungan kata ‘suka’ dan ‘ati’ dalam pelafalan Jawa. Artinya, Sekaten dimaknai sebagai rasa suka cita masyarakat Jawa dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada pula versi yang mengatakan bahwa tradisi Sekaten terinspirasi dari nama salah satu gamelan pusaka milik keraton Yogyakarta, yang dinamai Kanjeng Nyai Sekati. Gamelan pusaka ini biasanya akan digunakan dalam rangkaian perayaan tradisi tersebut.

Asal-usul acara perayaan ini sendiri diyakini bermula dari jaman kerajaan Demak. Kala itu, salah seorang anggota Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga, menyelenggarakan acara ini sebagai media berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam.

Acara tersebut biasanya berupa pentas seni karawitan atau musik gamelan yang dilaksanakan di halaman Masjid Agung Demak pada saat itu. Menurutnya, mayoritas masyarakat Jawa ketika itu menggemari acara karawitan, sehingga banyak yang kemudian akan berbondong-bondong datang.

Lewat seni karawitan tersebut, ia lantas memanfaatkan momen itu untuk berkhotbah dan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Dari situlah, banyak orang yang kemudian ikut tertarik untuk belajar dan memeluk agama Islam.

Budaya tersebut kemudian dicampur dengan adat kerajaan Majapahit yang melakukan arak-arakan dengan menggunakan sesajen. Hal ini sebagai wujud penghormatan pada arwah leluhur, dalam konteks tradisi Sekaten sebagai penghormatan bagi Nabi Muhammad SAW sekaligus doa agar rakyat senantiasa sejahtera dan berkehidupan seperti sang suri teladan.

Upacara adat ini kemudian lazim dilaksanakan oleh dua keraton kesultanan Mataram Jawa, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta dan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Solo. Secara umum kedua acara dilaksanakan dengan adat yang mirip, walaupun ada juga beberapa perbedaannya.

Di Yogyakarta dulunya acara ini diadakan di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta, yang terletak di area alun-alun utara. Acara biasanya dimulai dari jam 16.00 hingga 24.00, selama sepekan kecuali pada malam Jumat atau Kamis malam. Gamelan pusaka tak boleh dimainkan pada periode tersebut sampai setelah sholat Jumat.

Sebelum acara dimulai, tiga gamelan pusaka keraton yakni Kanjeng Nyai Sekati, Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari keraton dan diletakkan di halaman masjid. Prosesi ini menandakan bahwa upacara adat siap dilaksanakan.

Para Abdi Dalem keraton yang bertugas memainkan gamelan pusaka juga diminta melakukan ritual tertentu sebelum pergelaran dimulai. Mereka diharuskan berpuasa sambil melakukan siram jamas (mandi sambil keramas) sebelum dibolehkan berpartisipasi.

Gamelan pusaka tersebut konon dibuat oleh Sunan Giri yang pandai berkesenian karawitan. Alat pemukulnya terbuat dari tanduk kerbau, yang dapat menghasilkan bunyi yang jernih dan nyaring. Cara memukulnya pun harus diangkat setinggi dahi sebelum dipukul.

Daftar lagu-lagu yang dimainkan juga khusus untuk acara ini, dan dinamakan Gendhing Sekaten. Beberapa lagu ini dulunya disebut menjadi lagu yang dimainkan pada acara karawitan di jaman kerajaan Demak.

Di sela-sela pementasan tersebut, akan diselipkan beberapa kegiatan yang melengkapi rangkaian acara, seperti tari tradisional dan pembacaan ayat suci Al-Quran. Ketika acara dimulai ada pula budaya mengunyah sirih di sekitar halaman masjid. Budaya ini diyakini sebagai wujud doa agar sehat selalu dan awet muda.

Lalu, pada malam hari, ketika Sri Sultan Hamengkubuwono hadir di tempat, ia akan melakukan Udhik-Udhik atau menyebarkan koin logam kepada guru besar masjid, Abdi Dalem dan warga yang hadir. Koin-koin tersebut dipercaya sebagai simbol meraih keberuntungan dan kesejahteraan.

Sri Sultan biasanya akan hadir pada saat pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Pada momen itu, beliau akan dipasangkan bunga cempaka pada telinga sebelah kanan. Biasanya ini terjadi pada malam terakhir perayaan Sekaten.

Di luar masjid, akan terdapat banyak penjual nasi gurih beserta lauk pauknya yang dinamakan nasi wudug, yaitu nasi yang dibuat dengan minyak samin. Nasi ini konon disebut sebagai salah satu makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW.

Biasanya akan terdapat pula pasar malam Sekaten yang diselenggarakan di area alun-alun. Walaupun akhir-akhir ini, acara tidak lagi diadakan di sana untuk menjaga kebersihan dan ketertiban di area alun-alun.

Secara teknis pasar malam bukan bagian utama dari acara. Tetapi gelaran ini tetap dilaksanakan selama sebulan penuh dalam kurun waktu bersamaan dengan tradisi Sekaten, agar warga dapat turut andil dalam meramaikan perayaan tersebut.

Antara hari keempat hingga keenam perayaan, akan dilakukan adat tradisional yang disebut Numplak Wajik. Pada momen ini, kentongan dan lumpang akan dibunyikan. Kegiatan ini juga biasa disebut ‘kotekan’, yang menandai dimulainya persiapan pembuatan gunungan yang akan diarak pada acara puncak.

Pada akhir acara di hari terakhir, akan ada prosesi pengembalian gamelan pusaka kembali ke tempatnya di keraton, yang dinamakan Kondur Gongso. Prosesi ini sekaligus menandai berakhirnya rangkaian perayaan tradisi Sekaten.

Tradisi Sekaten diselenggarakan dua kraton di Jawa, Yogyakarta dan Surakarta. Walaupun semangatnya sama, ada sejumlah perbedaan di natara ke duanya.
Gunungan Sekaten yang terdiri dari hasil bumi sebagai simbol kesejahteraan. Foto: DOk. shutterstock

Namun puncak acara akan berlangsung pada keesokan harinya, persis pada hari Maulid Nabi, yang lazim disebut Grebeg Maulud. Ini merupakan acara arak-arakan gunungan oleh seluruh brigade pasukan keraton. Acara ini biasanya berlangsung dari jam 08.00 sampai 11.00.

Gunungan yang dimaksud di sini adalah makanan dan bahan bakunya seperti beras ketan, sayuran dan buah-buahan yang disusun menggunung. Gunungan tersebut melambangkan rasa syukur atas kemakmuran hasil bumi.

Biasanya, gunungan dibagi menjadi beberapa jenis dan simbolnya, seperti gunungan kakung, putri, dharat, gepak dan pawuhan. Gunungan kakung memiliki simbol sebagai sang baginda raja, gunungan putri sebagai permaisuri, gunungan dharat dan gepak sebagai para pangeran dan putri, serta gunungan pawuhan sebagai cucu-cucunya.

Gunungan-gunungan tersebut kemudian dibawa ke Masjid Gede untuk didoakan. Setelah selesai, gunungan lantas dibawa ke area alun-alun untuk diperebutkan warga. Lazimnya, beberapa di antara mereka adalah petani. DI masa kini tentu saja semua warga masyarakat.

Mereka percaya gunungan yang telah didoakan bernilai sakral, sehingga bagian dari gunungan yang mereka dapatkan akan ditanam di sawah dan ladang mereka. Harapannya, sawah dan ladang mereka akan senantiasa subur, bebas bencana dan dapat dipanen hasil yang terbaik.

Namun secara mendasar Grebeg Maulud ini menjadi simbol kepedulian Sri Sultan dan keraton kepada warganya, agar mereka dapat turut hidup dalam keberkahan dan kesejahteraan. Sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk senantiasa murah hati, bersedekah dan membantu mereka yang membutuhkan.

(Bersambung ke Bagian 2)

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Yadnya Kasodo, 1 Persembahan Bumi Tengger

Yadnya Kasodo oleh masyarakat Tengger di kawasan gunung Bromo tahun ini berlangsung pada 24 hingga 26 Juni. Di tengah keprihatinan kondisi pandemi, upacara adat masyarakat Tengger yang selalu diselenggarakan pada tanggal 14 bulan ke-10 dalam kalender Jawa, tepat pada saat bulan purnama penuh. Upacara dilakukan dengan lebih sepi dibanding kondisi normal.

Yadnya Kasodo

Masing-masing delegasi dari desa-desa suku Tengger, yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, mengarak guci bambu berisi air suci Mendhak Tirta. Mereka berkumpul di dua pintu gerbang pendakian Bromo, sebelum berjalan beriringan menuju Puncak Bromo. Rombongan suku Tengger dari Pasuruan berkumpul di gerbang Desa Pakis Bincil. Sedangkan rombongan suku Tengger yang tinggal di Probolinggo, Lumajang, dan Malang berangkat bersama dari pintu gerbang Cemoro Lawang, sekitar 30 kilometer dari Pura Luhur Kahyangan—yang menjadi lokasi tujuan. Arak-arakan ini menjadi tontonan yang menarik. Warga Tengger mengenakan pakaian adat dan membawa berbagai sesaji upacara, yang menimbulkan bau kemenyan.

Seminggu sebelum puncak upacara Kasodo digelar, telah dilakukan prosesi Mendhak Tirta, yakni upacara mengambil air suci dari empat sumber mata air yang dikeramatkan suku Tengger. Di Pasuruan, suku Tengger mengambil air suci di Gua Widodaren, sementara suku Tengger Probolinggo mengambil air suci di air terjun Madakaripura—yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Gadjah Mada (1300-1364). Suku Tengger di Malang dan Lumajang mengambil air suci dari Danau Ranu Pane, kaki Gunung Semeru. Air suci itu kemudian diarak ke Pura Luhur Kahyangan pada puncak upacara Kasodo.

Siang 24 Juni, diadakan upacara Piodalan di Pura Luhur Kahyangan, meliputi upacara Melasti di pagi hari dan Mecaru di sore hari. Menjelang tengah malam, arak-arakan tiba di aula Pura Luhur Kahyangan. Ritual pun dimulai. Pertama, dilakukan pembacaan kitab suci suku Tengger di Bromo tentang sejarah upacara Kasodo. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan kitab puji-pujian Puja Stuti. Oleh sang dukun senior, air suci dipercikkan ke semua sesaji yang terkumpul. Menjelang matahari terbit, dilaksanakan puncak acara Kasodo, yakni pelantikan dukun-dukun baru untuk menggantikan dukun senior. Dukun-dukun ini sebelumnya harus mempertontonkan kemampuan melantunkan berbagai mantra suci suku Tengger.

Dukun memiliki peran penting dalam masyarakat Tengger. Merekalah yang diberi mandat untuk memimpin semua ritual, dari urusan perkawinan, upacara adat, hingga kegiatan keagamaan. Acara berlangsung hingga matahari terbit dan ditutup dengan upacara melarungkan sesaji ke kawah Gunung Bromo. Kegiatan inilah yang paling menarik bagi para turis. Ribuan warga Tengger melempar sesaji berupa kambing, ayam, beras, bunga, bahan makanan, dan lain-lain ke dalam kawah. “Tahun ini saya berkorban sayur-sayur palawija dari hasil sawah, dan dua ekor ayam. Empat tahun lalu berkorban kambing,” ucap Kartono, warga Tengger di Desa Ngadisari.

Yadnya Kasodo merupakan upacara rituan tradisional masyarakat Tengger yang sudah berjalan beberapa abad.
Masyarakat berjalan menuju ke arah Gunung Bromo. Foto: Dok. unsplash

Diperkirakan, upacara Kasodo telah diadakan setiap tahun sejak abad 16. Tradisi itu muncul setelah keruntuhan dinasti kerajaan Majapahit (1293-1527). Kasodo adalah satu-satunya upacara adat Hindu Jawa skala besar yang masih berlangsung hingga kini. Konon, upacara ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat suku Tengger, yang menganggap dirinya adalah keturunan pasangan Roro Anteng dan Joko Seger, dua bangsawan Majapahit yang tinggal di Gunung Bromo setelah kerajaan itu runtuh.

Bertahun-tahun, pasangan Roro Anteng dan Joko Seger tidak memiliki keturunan. Hingga suatu saat mereka bertapa di atas puncak Bromo meminta kepada Tuhan agar diberi keturunan. Akhirnya, permintaan mereka dikabulkan. Roro Anteng melahirkan 25 anak. Sebagai rasa syukur, Roro Anteng dan Joko Seger melarungkan berbagai hasil pertanian dan harta kekayaan ke kawah Gunung Bromo setiap malam purnama bulan ke-10 tahun Jawa—tradisi yang kemudian diteruskan oleh anak-cucunya hingga kini.

Ke-25 anak Roro Anteng dan Joko Seger itulah yang menjadi cikal bakal keturunan suku Tengger. “Kasodo ini seperti acara reunian. Seluruh orang keturunan Tengger di mana pun berada, akan datang ke sini setiap perayaan Kasodo. Kini ada sekitar 125 ribu warga suku Tengger, tidak semua tinggal di sekitar Bromo,” ujar Bambang Suprapto, tokoh masyarakat Tengger di Desa Ngadisari.

Bambang menjelaskan, banyak orang Tengger tidak mau lagi menjadi petani, sehingga menekuni profesi lain dan tinggal di berbagai kota. Tapi setiap Kasodo, mereka kembali ke sini. Kasodo sebenarnya tidak hanya milik orang Tengger. Ribuan wisatawan datang ke Bromo mengikuti upacara Kasodo setiap tahun. Beberapa turis bahkan rela ikut bertarung di lereng kawah memperebutkan sesaji yang dilempar ke kawah. “Ngalap berkah Kasodo, kalau dapat barang dari sesaji Kasodo itu pertanda akan dapat keberuntungan baik,” ujar Sutikno, pedagang pasar dari Surabaya, yang mengaku setiap tahun selalu menghadiri upacara Kasodo. l Wahyuana

Tips Wisata Kasodo

1. Rangkaian upacara sudah digelar sepekan sebelum acara puncak. Untuk mendapatkan foto- dokumentasi budaya, manusia, dan panorama alam yang komplet, datanglah seminggu sebelum acara puncak dimulai. Biasanya atraksi wisatawan ke Bromo ditutup selama 3-4 hari atau selama masa puncak upacara Kasodo.

2. Kasodo menjadi ritual yang menarik perhatian banyak wisatawan. Rumah penduduk di sekitar Bromo akan dipenuhi pengunjung, sebaiknya pesan akomodasi sejak jauh-jauh hari.

3. Siapkan fisik secara prima karena Anda akan naik-turun gunung mengikuti iring-iringan warga Tengger dengan rute panjang dan medan terjal.

4. Jangan lupa membawa perlengkapan untuk menghadapi suhu 7-20 derajat Celsius.

Wahyu/TL/agendaIndonesia

*****

Bregada Keraton Yogya, Penjaga Tradisi Dari Abad 17

Bregada Keraton Yogya dalam persiapan menjelang Grebeg Sekaten

Bregada Keraton Yogya seolah menjadi simbol nyata hadirnya kerajaan atau kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sejumlah orang bahkan mengibaratkan para bregada ini layaknya Queen’s Guard di Inggris. Sebuah simbol aristokrasi.

Bregada Keraton Yogyakarta

Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siang itu berubah menjadi lautan manusia. Di kawasan titik nol kota Yogyakarta itu, ribuan orang dari dalam dan luar kota menanti jalannya prosesi keluarnya Kagungan Dalem Pareden atau gunungan dalam upacara Grebeg Sekaten. Sebuah prosesi tahunan dalam hitungan kalender Jawa.

Buat masyarakat Yogya, turunnya gunungan Grebeg Sekaten dianggap memiliki nilai turunnya berkah dari yang Maha Agung melalui para sultan. Sekaten sejatiya merupakan prosesi yang selalu digelar Keraton yang berdiri sejak tahun 1755 ini setiap tahunnya pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa.

Tentu saja, kita semua tahu, sekaten sendiri adalah bagian dari syiar agama Islam sejak zaman kerajaan Demak. Di Yogya, ada yang memaknai arti harfiah Sekaten dari kata Syahdatain, atau merujuk pada dua buah gamelan yang disebut Sekati yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.

Dan di Yogyakarta, perayaan upacara Grebeg Sekaten selalu tak bisa dilepaskan dari simbol para bregada keraton. Merekalah para penjaga tradisi tersebut.

Saat ini, Keraton Yogyakarta memiliki 10 kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada itu. Jumlah seluruh prajurinya sesungguhnya tidak terlalu besar, untuk tidak mengatakan jumlahnya kecil. Hanya sekitar 600 orang. Jumlah anggota tiap pasukan berbeda-beda. Bregada Nyutra, misalnya, hanya terdiri dari 64 orang.

Seperti siang itu, awal November 2019, sejak pagi-pagi sekali ratusan orang sudah hadir di dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Persiapan Grebeg Sekaten memang selalu sejak dini hari dilakukan ke 10 bregadadi Pracimosono, di sisi barat Pagilaran Kraton Yogya. Kraton Yogyakarta memang selalu mengeluarkan seluruh 10 bregadanya untuk mengawal pelaksanaan grebeg.

Bregada itu sendiri dibentuk pada masa Hamengkubuwono I, sekitar abad 17. Dalam perkembangan zaman, keberadaan bregada-bregada ini mengalami pasang surut. Di zaman Sri Sultan Hamengkubuwono II, misalnya, tercatat pasukan kraton ini mengadakan perlawanan bersenjata hebat menghadapi serbuan pasukan Inggris pada Juni 1812.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono III, Inggris membubarkan pasukan Kraton Yogyakarta. Dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani Hamengkubuwono III dan Sir Thomas Raffles, Yogyakarta tak dibenarkan punya pasukan bersenjata. Bahkan pada masa kolonial Belanda, mereka dilucuti dan tak punya arti secara militer.

Sampai pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, masih ada 13 kesatuan prajurit kraton, hingga dibubarkan seluruhnya oleh pemerintah pendudukan Jepang pada sekitar tahun 1940-an. Baru pada 1970 para prajurit keraton dihidupkan kembali. Hanya saja, dari 13 kesatuan yang pernah ada, baru 10 bregada yang diaktifkan kembali. Kesepuluh kesatuan itu adalah Wirobrojo, Dhaeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Mantrijero, Prawirotomo, Ketanggung, Nyutro, Surokarso dan Bugis. Mereka semua kemudian dilibatkan dalam acara-acara tradisi kraton.

Pimpinan tertinggi dari keseluruhan bregada adalah seorang Manggalayudha atau Kommandhan/Kumendham. Sebutan lengkapnya adalah Kommandhan Wadana Hageng PrajuritManggalayudha bertugas mengawasi dan bertanggung jawab penuh atas keseluruhan pasukannya. Ia dibantu seorang Pandhega atau Kapten Parentah, dengan sebutan lengkapnya Bupati Enem Wadana Prajurit, yang bertugas menyiapkan pasukan.

Setiap pasukan atau bregada dipimpin oleh perwira berpangkat Kapten. Kecuali bregada Bugis dan Surakarsa yang dipimpin oleh seorang Wedana.

Pandhega didampingi oleh perwira yang disebut Panji (Lurah). Perwira ini bertugas mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi seorang Wakil Panji. Sementara itu, regu-regu dalam setiap bregada dipimpin seorang bintara berpangkat sersan.

Seperti pagi itu. Bregodo Surakarso dan Bugis berjalan ke arah Bangsal Ponconiti menunggu kehadiran gunungan dari arah Magangan untuk kemudian mengawali kirab gunungan. Prosesi kirab dipimpin Manggalayudha dengan delapan bregada yang berjalan dengan Lampah Macak dari Magangan ke Siti Hinggil di Alun-alun Kidul (Selatan). Saat berjalan ini, senjata tombak yang sebelumnya ditutupi berubah menjadi ‘dicurat’ atau dibuka.

Di Siti Hinggil semua mata tombak yang terbuka kembali ditutup. Lalu rombongan berjalan lagi menuju Alun-Alun Utara di mana upacara Grebeg Sekaten akan dimulai. Kagungan Dalem Pareden berupa tujuh gunungan pun dikeluarkan, yakni tiga Gunungan Lanang; satu gunungan, Wadon; satu gunungan Gepak; satu Dharat; dan satu gunungan Pawuhan. Urut-urutan baris Grebeg Sekaten adalah prajurit Bugis, abdi dalem Sipat Bupati, lalu tujuh gunungan dan bregada Surakarsa.

Ada prosesi tembakan salvo saat gunungan melewati delapan bregada yang berbaris di Pagilaran Kraton Yogyakarta. Barisan Grebeg Sekaten berjalan ke arah Beringin kembar di tengah Alun-Alun Utara. Lima gunungan, yaitu satu gunungan Lanang, gunungan Wadon, Gepak, Dharat dan Pawuhan berbelok ke barat sebelum melewati beringin kembar dikawal bregodo Surakarsa dan Bugis. Sedang dua gunungan Lanang berjalan melewati Beringin kembar lalu ke utara, terus menuju Kepatihan, yakni saat ini menjadi kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu gunungan Lanang lain, berbelok ke timur menuju Puro Paku Alaman. Empat gajah Puro Paku Alaman berada di depan gunungan.

Setelah upacara Grebeg Sekaten berupa turunnya gunungan sebagai persembahan raja untuk rakyatnya selesai, tugas ke 10 bregada Kraton pun usai. Sampai waktunya tradisi memanggil mereka kembali.

****

Masyarakat Tengger di Bromo, 2 Abad Kearifan Lokal

Pegunungan Semeru dengan latar depan Gunung Bromo. Foto husniati salma unsplash

Masyarakat Tengger di Bromo, biasa disebut wong Tengger atau wong Brama, adalah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Semeru, Jawa Timur.   Penduduk suku ini menempati sebagian wilayah kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Masyarakat Tengger di Bromo

Di sebuah pagi yang dingin berkabut segerombolan anak bermain di jalanan Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Beberapa anak di antara bocah cillik yang pipinya bersemu merah terlihat memiliki rambut berbeda. Sekilas seperti potongan rambut yang sengaja dibuat gimbal layaknya gaya anak-anak muda perkotaan yang meniru penyanyi reggae Bob Marley. Bahkan ada yang dibiarkan panjang dibuat buntut. Berlarian di antara rumah-rumah berdinding kayu bercat warna-warni.

Desa Ngadisari merupakan gerbang menuju kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Di desa ini lah masyarakat Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Umumnya mereka beragama Hindu.

Pada 100 tahun sebelum masehi, penganut Hindu Waisya yang beragama Brahma tinggal di daerah pesisir. Seseiring masuknya agama Islam di Jawa pada 1.426 M, mereka terdesak dan mencari tempat yang sulit terjangkau oleh pendatang. Pegunungan Tengger menjadi pilihan mereka yang akhirnya membuat kelompok yang dikenal dengan Tiang Tengger (orang Tengger).

Masyarakat Tenger di Bromo

Mitos lainnya, suku Tengger merupakan keturunan terakhir dari peradaban Majapahit. Mereka adalah keturunan Roro Anteng, putri Raja Brawijaya dan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger diambil dari akhir nama kedua pasangan itu, yaitu ’Teng’ dari Roro Anteng dan ’Ger’ dari Joko Seger.

Asal muasal upacara Kasodo juga berawal Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji menyerahkan putra terakhir mereka kepada Dewa. Sampai saat ini suku Tengger masih teguh menjunjung tinggi adat-istiadat Hindu lama. Budaya yang ditinggalkan nenek moyang tetap dilestarikan walau  kunjungan wisatawan dari berbagai belahan bumi tidak pernah berhenti setiap harinya.

Kepercayaan yang tinggi terhadap ajaran leluhur menanamkan nilai-nilai luhur dan mengajarkan toleransi dalam memandang keberagaman. Masuknya beragam agama, bagi mereka merupakan konsekuensi bahwa Suku Tengger hidup di tengah-tengah masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Berkembangnya zaman dan semakin beragamnya agama tidak juga melunturkan adat istiadat yang selalu dipegang teguh masyarakat Tengger. Masyarakat tetap melaksanakan ritual adat yang sedari dulu diturunkan leluhur mereka, seperti Pujan, Melasti, Piodalan, Entas-entas, Unan-unan, Karo, hingga yang banyak dikenal yaitu Yadnya Kasada.

Maka tidaklah aneh jika kemudian ada kubah mesjid, salib, mau pun patung Budha terlihat di sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di desa yang di kala menjelang pagi suhunya mencapai 10 derajat Celcius, terlihat sebuah kearifan lokal yang menunjukkan toleransi terhadap keberagaman.

Lalu kapan sebaiknya kita mengadendakan kunjungan ke Bromo? Seharusnya, bulan-bulan Juni-Agustus saat memasuki musim kemarau adalah waktu terbaik datang ke tempat ini. Umumnya saat itu cuaca cukup cerah, sehingga salah satu agenda menikmati atraksi matahari terbit dengan latar pegunungan Bromo-Semeru bisa jelas.

Namun, karena pengaruh pemanasan global, perubahan cuaca kadang kala menjadi tidak pasti. Pagi terang benderang, siang hari hujan turun begitu deras. Atau sebaliknya. Pun, terkadang meskipun curah hujan tidak begitu tinggi, namun cuaca tidak bersahabat. Pemandangan matahari terbit di Penanjakan walapun tetap terlihat indah, tapi bukan sunrise yang terindah.

Selain soal waktu, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah cara pencapai kawasan Bromo. Ada banyak pilihan, mulai dari jalur udara, jalan darat dengan moda kereta api, atau menggunakan jalan darat. Baik menumpang bus atau kendaraan pribadi.

Bila memilih kereta api, wisatawan bisa memilih menuju kota Malang terlebih dahulu, baru ke Bromo. Atau, pilihan lain, berangkat ke Surabaya lalu dilanjutkan ke Bromo. Beberapa kereta dari Jakarta yang bisa membawa ke Malang antara lain kereta ekonomi Jayabaya maupun Matarmajaya. Untuk kereta dari Jakarta ke Surabaya pilihannya lebih banyak lagi, mulai dari kelas ekonomi hingga kereta eksklusif. Tergantung budget yang disiapkan.

Dari stasiun Malang, perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan umum ke Bromo dari Terminal Arjosari. Dari terminal ini, wisatawan menuju Terminal Bus Bayuangga di Probolinggo dan berganti angkutan desa ke Cemoro Lawang, Ngadisari.

Jika pilihannya melalui Surabaya, nantinya dari kota ini wisatawan menyambung perjalanan menggunakan kereta ke Probolinggo. Dari Stasiun Probolinggo perjalanan sama seperti dari Malang, bisa naik angkutan kota ke Terminal Bus Bayuangga untuk ganti angkutan desa ke arah Cemoro Lawang, ke arah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sebagai titik masuk ke wilayah Gunung Bromo. Ada baiknya, wisatawan tiba di Terminal Bayuangga sebelum sore, karena makin sore jumlah kendaraan umum semakin sedikit.

Di Ngadisari, wisatawan bisa menikmati suasana pegunungan dan bertemu dengan masyarakat Tengger yang umumnya bercocok tanam. Perbincangan umumnya menyenangkan, karena mereka adalah masyarakat yang terbuka.

Kalau ingin sesekali menikmati matahari terbit di Penanjakan, wisatawan bisa memilih menyewa jip atau sepeda motor. Jika perjalanan dilakukan lebih dari 3 orang, lebih murah kalau sewa jip. Tapi bila yang melakukan perjalanan hanya sendiri atau berdua, lebih hemat jika menyewa sepeda motor.

****