Rumah Gadang, Pasak Untuk Sambungan 2 Bagian

Dolan ke Sumatera Barat biasanya orang berkunjung ke rumah gadang. Foto: shutterstock

Rumah Gadang boleh dikata adalah salah satu rumah tradisional di Indonesia yang paling indah. Bentuk atapnya memiliki beberapa kisah yang menginspirasi penciptaannya.

Rumah Gadang

Entah kenapa, di Indonesia setiap rumah makan masakan Minangkabau atau Padang senantiasa menyertakan elemen rumah tradisional suku bangsa ini. Sebuah atap yang melengkung. Ada yang dengan niat serius membangun replika atap rumahnya sebagai eksterior rumah makan, meski tak sedikit yang membuat gambarnya di kaca etalase lauk-pauk. Apapun bentuknya, ini membuat semua orang langsung paham: ini rumah makan padang.

Rumah Gadang atau Rumah Godang merupakan nama umum yang disematkan orang pada rumah adat masyarakat Minangkabau. Sering pula disebut dengan nama Rumah Baanjuang dan Rumah Bagonjong. Semua nama ini sesuai dengan maksud penyebutannya.

Rumah adat masyarakat dari Provinsi Sumatera Barat ini mempunyai sejumlah ciri yang sangat khas dan indah. Yang pertama tentu saja bentuk atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, dan badan rumah landai seperti badan kapal. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Oleh karena itulah mengapa rumah gadang disebut juga rumah bagonjong.

Mengutip dari Wikipedia, asal-usul bentuk bentuk atap rumah gadang yang mirip tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita rakyat “Tambo Alam Minangkabau”. Cerita tersebut bercerita tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.

Selain cerita tersebut, versi lain menyebutkan kalau atap berbentuk tanduk di rumah adat minangkabau itu terinspirasi dari bentuk kapal “Lancang” yang melintasi Sungai Kampar. Saat tiba di muara sungai, kapal diangkat ke daratan dan diberikan atap dengan menggunakan tiang layar yang diikat dengan tali. Namun karena bebannya berat, maka tiang pun menjadi miring dan melengkung yang serupa dengan gojong.

Manapun kisah yang betul, atau yang dipercaya, rumah gadang ratusan tahun telah menjadi simbol kebesaran masyarakat setempat. Ia sekaligus menjadi sesuatu yang dianggap mewakili jati diri warga Minangkabau.

Selain soal nama, hal menarik dari rumah Gadang adalah dari teknologi konstruksinya. Rumah Gadang yang asli dibangun dengan tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambungkan dua bagian kayu untuk bangunan. Untuk itu, masyarakat setempat menggunakan pasak kayu bergoyang. Dasar pemikirannya adalah kearifan lokal untuk menyiasati jika terjadi gempa. Jadi saat terjadi gempa, rumah akan berayun mengikuti ritme gempa. Akibatnya, rumahnya tidak akan roboh.

Dikutip dari Buku Rumah Gadang yang Tahan Gempa tulisan Gantino Habibi pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tiang-tiang rumah Gadang tidak ditanamkan ke tanah tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Ini juga dilakukan dengan pemikran untuk menyiasati ketika terjadi gempa. Rumah Gadang akan bergerak di atas batu datar tempat tiang itu berdiri.

Rumah bagonjong menurut aturan aslinya memiliki beberapa karakteristik atau ketentuan khusus. Misalnya saja, soal jumlah ruangan yang ditentukan dari jumlah perempuan yang menghuni rumah tersebut. Anak-anak dan perempuan yang telah berumur memiliki kamar yang lebih dekat ke arah dapur. Sedangkan gadis remaja umumnya ditempatkan di satu kamar di ujung yang berseberangan. Ruangan dalam rumah terbagi menjadi lanjar dan ruang, dengan jumlah ruang dalam satu rumah berjumlah ganjil antara 3 hingga 11.

Pada pelataran atau halaman rumah, terdapat sepasang bangunan yang berfungsi sebagai lumbung, namanya rangkiang. Selain itu, tak jauh dari bangunan rumah biasanya terdapat surau. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah, surau juga menjadi tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

Rumah Gadang memiliki ornamen pada dinding-dinding kayunya. Ornamen yang membuatnya lebih indah.
Rumah Gadang dengan ornamen indah pada dindingnya.

Salah satu karakteristik rumah gadang adalah hiasan eksterior bangunan berupa ornamen ukiran kayu yang menjadi pengisi bidang persegi dan lingkaran di permukaan luar bangunan. Motif ukiran yang umum ditemukan adalah tumbuhan merambat, bunga, dan buah. Ada juga motif-motif geometris segitiga, segi empat, dan jajar genjang (belah ketupat). Motif-motif ini memenuhi dinding, daun jendela, tiang-tiang, dan daun pintu

Jendela rumah Gadang biasanya memiliki ukuran yang besar. Bentuk jendelanya mengikuti bentuk rumahnya yang miring dan tidak simetris. Pada jendela terdapat bingkai yang terbuat dari papan. Jumlah jendela rumah Gadang biasanya terdiri dari 8 jendela di bagian depan, dua  di bagian kiri, dan dua di bagian kanan.

Rumah gadang biasanya didirikan di atas tanah milik keluarga induk dalam suatu suku atau kaum. Rumah ini diwariskan antargenerasi berdasarkan garis keturunan perempuan, sesuai asas matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau.

Dulunya tidak semua wilayah di Sumatera Barat dapat dibangun rumah adat seperti ini. Rumah bagonjong hanya didirikan di kawasan tertentu yang berstatus nagari. Karena itulah, eksistensi rumah bagonjong atau rumah gadang di luar Minangkabau terjadi karena aturan adat yang melemah seiring perkembangan zaman.

agendaIndonesia

*****

Dolan Ke Purwokerto, 3 Hari Yang Asyik

Dolan ke Purwokerto bisa menjadi pilihan liburan keluarga.

Dolan ke Purwokerto di Jawa Tengah mungkin belum menjadi alternatif mereka yang mencari liburan keluarga. Padahal kota ini memiliki banyak tempat untuk dikunjungi. Ia memang kalah popular dibandingkan Yogyakarta atau Solo.

Dolan Ke Purwokerto

Ada cukup banyak tempat untuk didatangi dan mendapatkan pengalaman baru saat dolan ke Purwokerto. Mulai dari wisata heritage, alam hingga ke kuliner yang maknyus.

Berikut adalah rencana perjalanan yang bisa menjadi pilihan wisatawan yang ingin menghabiskan tiga harridan dua  malam di Purwokerto.

Dolan ke Purwokerto salah satunya saatnya menikmati Sroto Sokaraja, pilihan santap di Banyumas
Sroto Sokaraja, kuliner khas saat Dolan ke Purwokerto. Foto: shutterstock

Hari Pertama

Saat dolan ke Purwokerto paling nyaman menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi. Jika menggunakan kereta api, cukup banyak tempat persewaan mobil atau sepeda motor di kota ini. dan langsung sarapan di salah satu warung makan lokal.

Kereta api umumnya masuk ke Purwokerto pada pagi hari, kadang bahkan di dini hari. Ketika itu kemungkinan belum bisa check in di hotel.

Cobalah sarapan khas Purwokerto: sroto Banyumas atau sroto Sokaraja. Tempat makan sroto yang banyak dikenal adalah Sroto H. Loso. Tempat ini kadang dikenal juga dengan nama Soto Ayam Jalan Bank dan RM Sroto Khas Purwokerto. Warung Soto H. Loso beralamat di Jalan RA Wiryaatmaja Nomor 15, Pesayangan, Kedungwuluh, dan buka mulai sekitar pukul 8.

Selesai sarapan, kunjungi Baturaden, sebuah kawasan wisata pegunungan dengan udara sejuk dan kolam renang alami. Nikmati pemandangan alam sekitar dan coba aktivitas seperti berjalan-jalan atau berenang.

Selesai berenang menuju ke hotel sambal mampir makan siang di sepanjang Baturaden ke kota ada banyak pilihan makan dengan pemandangan bagus. Pilihannya antara lain Taman Langit atau Watu Dungkul

Jika masih ingin menikmati alam yang cantik, wisatawan mungkin jangan dulu menuju hotel. Dari tempat makan, perjalanan bisa dilanjutkan ke Telaga Sunyi, dan nikmati suasana tenang dan indah di sekitar danau tersebut. Jaraknya sekitar 30-40 menit dari Baturaden.

Senja, setelah istirahat sejenak di hotel, wisatawan bisa makan malam di salah satu restoran lokal. Cobalah restoran Djago Djowo, ini ayam goreng khas daerah ini.

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.
Getuk goreng bisa menjadi oleh-oleh dari Purwokerto. Foto: Kemendikbud

Hari Kedua:

Setelah sarapan, wisatawan saat dolan ke Purwokerto bisa memilih untuk mengitari kota Purwokerto yang tak terlalu besar. Puas menikmati denyut kota, hari ini perjalanan dilanjutkan ke arah Baturaden lagi, namun kali ini mengunjungi wisata Curug Telu yang berada di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden. Wisata Curug Telu ini memiliki tiga tempat sekaligus yang dapat di kunjungi, yakni Curug Lawang, Kedung Pete, dan Curug Telu yang menjadi wisata utama.

Dari Curug Telu, perjalanan dilanjutkan ke situs Candi Arca Dawuhan terletak di sebuah perbukitan Dawuhan Wetan. Di dalamnya terdapat peninggalan benda-benda purbakala bersejarah yang berjumlah lebih dari satu situs yang ada dalam komplek situs Candi Arca.

Nikmati kuliner malam di Alun-Alun Purwokerto, pusat keramaian malam di kota ini. Ada banyak warung makan dan kedai kopi di sekitar alun-alun yang bisa Anda kunjungi.

Hari Ketiga

Menjelang pulang pada sore atau malam hari, wisatawan bisa mencoba mampir ke Pasar Manis sebagai bagian dolan ke Purwokerto. Ini pasar tradisional dengan pengelolaan terbaik di Indonesia. Selain ada dagangan umum, di sini juga ada pusat kuliner. Bisa mencicipi makanan atau jajan pasar di sini.

Dari Pasar Manis masih sempat mampir ke Museum BRI berada di Jalan Jendral Sudirman No. 57, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Museum ini didirikan pada19 Desember 1990 sebagai bukti cikal bakal didirikannya sebuah bank di Indonesia.

Museum BRI memiliki tiga bangunan utama yang semuanya berada di satu area, yaitu museum itu sendiri, patung Raden Aria Wirjaatmadja, dan replika gedung De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank.

Selesai mengunjungi Museum BRI, saatnya belanja oleh-oleh. Ada beberapa tempat yang memiliki banyak toko oleh-oleh. Ada banyak pilihan buah tangan, sebut saja nopia, getuk goreng, atau tempe mendoan, baik yang masih mentah maupun yang sudah matang.

Setelah itu siap-siap untuk pulang.

agendaIndonesia

*****

Desa Batuan Bali, 1 Relik Sejarah Kuno

Desa Batuan Bali adalah gambaran kehidupan masyarakat Bali sejak zaman dulu.

Desa Batuan Bali merupakan tempat yang tepat bagi pelancong yang ingin melihat dan memahami lebih dekat tentang sejarah dan budaya tradisional masyarakat Bali. Desa yang berada di Kabupaten Gianyar itu hingga kini masih menyimpan beberapa potongan adat dan budaya Bali tempo dulu.

Desa Batuan Bali

Desa ini sejak dulu kala memang sudah identik dengan karya seni dan budayanya. Salah satu bukti kuatnya dapat ditemui dari beberapa peninggalan bangunan candi serta pahatannya yang terdapat di Pura Puseh, salah satu pura tertua di Bali yang usianya sudah sekitar 1.000 tahun.

Ini terdokumentasikan dalam sebuah prasasti yang berada di dalam pura tersebut. Prasasti itu diyakini dibuat pada awal tahun 1020-an, yang memberi gambaran kehidupan dan sistem sosial masyarakat di desa tersebut pada masa itu.

Artefak di utaraPura Puseh Desa Batuan Kemendikbud
Sejumlah artefak di Pura Puseh Desa Batuan Bali. Foto: Dok. Kemendikbud

Diceritakan bahwa desa tersebut awalnya bernama Baturan. Di desa ini terdapat penduduk yang sebagian besar berprofesi dalam bidang seni budaya, seperti citrakara (pelukis), undagi (pengrajin kayu) dan sulpika (pemahat patung).

Disebutkan pula, salah satu alasan utama warga desa ini menekuni seni budaya tersebut adalah sebagai simbol yadnya, yaitu keikhlasan berkarya wujud bersyukur kepada Sang Pencipta. Semangat ini jugalah yang membuat banyak warga desa Batuan Bali masih berkesenian hingga kini.

Salah satu kesenian desa Batuan Bali yang paling terkenal adalah lukisannya. Lukisan dari desa Batuan dikenal memiliki gaya abstrak yang inspirasinya datang dari cerita rakyat, cerita mistis serta mitos sehari-hari yang kadang digambarkan dalam lukisan tentang penyihir atau monster.

Lukisan yang dibuat juga biasanya terlihat ramai dengan detail-detail, yang sering kali berhubungan dengan kisah kehidupan warga sehari-harinya. Begitu detailnya lukisan ini, ia akan terlihat begitu memenuhi kanvas.

Desa Batuan Bali salah satunya dikenal karena karya-karya lukisannya.
Ilustrasi lukisan seniman Bali. Foto: Dok. shutterstock

Dan salah satu ciri khas lukisan desa Batuan Bali adalah dominannya warna hitam dan putih yang menimbulkan kesan kelam dan mencekam. Seni melukis di desa ini disebut telah populer sejak 930-an dan menjadi salah satu seni lukisan Bali paling mahsyur.

Kini pengunjung bisa menemui beberapa galeri-galeri pelukis di desa Batuan. Beragam lukisan dipajang dan bahkan beberapa di antaranya dijual. Harganya pun cukup mahal, paling tidak bisa mencapai jutaan, bahkan puluhan juta rupiah.

Kalau tak punya budget untuk membeli lukisan, ada souvenir seperti cangkang telur yang dilukis ala desa Batuan Bali. Ada yang menggunakan cangkang telur ayam, bebek atau bahkan burung unta asli, ada juga yang hanya tiruan dari kayu. Harganya pun lebih terjangkau, mulai dari Rp 50 ribu.

Desa batuan Bali juga terkenal karena lukisan pada cangkang telur.
Lukisan pada cangkang telur. Foto: dok Tempo dari gettyimage

Selain seni melukis, warga desa Batuan Bali juga merupakan pekerja seni lainnya, seperti memahat patung, mengukir kayu, menenun, dan membuat topeng. Beberapa lainnya juga masih melestarikan budaya tari tradisional.

Salah satu tari tradisional yang identik dengan desa Batuan adalah Tari Gambuh. Seni tari ini kabarnya sudah eksis sejak abad ke-15, yang menggabungkan elemen-elemen seperti tarian, nyanyian, akting dan drama, serta elemen seni visual lainnya.

Tari Gambuh biasanya berisi atraksi tari dengan drama lakon, diiringi oleh seperangkat gamelan yang dinamai gamelan pegambuhan. Tarian ini biasanya dilakukan pada Odalan, salah satu hari raya di Bali yang dirayakan sekitar enam bulan sekali.

Odalan pada dasarnya merupakan perayaan dimana masyarakat Hindu di Bali memohon kepada para dewa agar turun ke Bumi dan memberi rahmatnya kepada Bali dan warganya. Caranya, mereka melakukan beragam ritual dan kesenian tradisional, seperti Tari Gambuh.

Selain itu, Tari Gambuh biasanya juga dilakukan pada festival perayaan bulan purnama, atau di acara-acara seperti pernikahan di desa Batuan Bali. Anda bisa menyaksikan atraksi tari ini kala mereka tampil di sekitar kawasan Pura Puseh.

Rumah-rumah tradisional di sekitar desa ini juga merupakan daya tarik turis lainnya. Rumah tradisional ini bercirikan atap yang terbuat dari rumput ilalang, serta pintu depan berukuran kecil dengan daun pintu yang terbuat dari tanah liat.

Arsitektur rumah tradisional seperti ini menjadi keunikan tersendiri yang tak anda lihat di tempat lainnya. Maka tak jarang beberapa orang melakukan sesi foto seperti pre-wedding dan sebagainya dengan menggunakan latar rumah tradisional ini.

Kurang afdol pula kalau tidak masuk berkeliling di Pura Puseh. Pura yang hingga kini masih digunakan untuk warga setempat sembahyang ini memiliki beragam ornamen ukiran khas Bali, dengan lukisan-lukisan yang menceritakan berbagai lakon cerita rakyat bernapaskan Hindu.

Di Pura Puseh juga pengunjung bisa melihat prosesi sembahyang umat Hindu, serta beragam upacara adat dan keagamaan. Pergelaran tari tradisional seperti Tari Gambus dan sebagainya juga biasa diadakan di sekitar wilayah pura tersebut.

Untuk bisa masuk ke dalam pura, pengunjung akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 10 ribu. Selain itu, anda juga diminta untuk menggunakan kain dan menggunakannya dengan cara dililit di pinggang, bagaikan sarung. Kain ini dipakai selama berkunjung ke pura sampai selesai.

Yang perlu diingat, setiap pengunjung diminta untuk tidak menyentuh ukiran, lukisan atau benda-benda yang berkaitan dengan prosesi sembahyang di pura ini. Pengunjung juga diminta berhati-hati untuk tidak melangkahi sesembahan di sekitar area pura.

Di desa ini, pengunjung juga bisa belajar seni melukis, mengukir dan memahat ala desa Batuan. Hanya perlu membayar Rp 100-150 ribu untuk short course. Beragam pilihan guest house sebagai fasilitas penginapan juga tersedia.

Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi via email di desabatuan@gmail.com, atau mengunjungi akun Twitter resmi @BatuanDesa serta akun Instagram resmi @desa.batuan.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

5 Warung Nasi Pecel Oke di Madiun

Ini 5 warung nasi pecel oke di Madiun. Foto: shutterstock

Ini dia 5 warung nasi pecel oke di Madiun yang paling direkomendasikan bagi wisatawan pecinta kuliner. Sebab, sesuai dengan panggilannya sebagai kota pecel, Madiun kadung identik dengan kuliner nasi pecelnya yang khas, murah meriah dan mudah ditemukan di setiap sudut kota. Ini adalah 5 warung nasi pecel oke, beberapa di antaranya yang dianggap paling terkenal dan legendaris.

Ini 5 warung nasi pecel oke di Madiun, Jawa Timur.

5 Warung Nasi Pecel Oke

  1. Nasi Pecel Pojok Madiun

Bisa dikatakan, Nasi Pecel Pojok Madiun merupakan salah satu dari 5 warung nasi pecel oke di Madiun yang paling terkenal dan melegenda. Maklum, sudah sejak 1965 silam mereka mulai berjualan nasi pecel. Dan sesuai namanya, lokasinya di jalan HOS Cokroaminoto nomor 121 memang berada di satu pojok jalan tersebut.

Secara mendasar, salah satu keunikan nasi pecel khas Madiun adalah cita rasanya yang cenderung lebih gurih dan pedas, sesuai dengan selera orang Jawa Timur pada umumnya. Terlebih bila dibandingkan dengan nasi pecel dari daerah-daerah di Jawa Tengah yang karakter rasanya lebih manis.

Dan karakter tersebut pula yang menjadi daya tarik nasi pecel di warung ini. Nasi pecel disajikan di atas piring dengan bungkus pincuk daun pisang, dengan isian sayur seperti kangkung, daun pepaya, daun singkong, kacang panjang, taoge, dan turi yang kemudian diguyur bumbu kacang yang spicy.

Sebagai teman makan, tersedia lauk seperti tahu dan tempe bacem, lidah dan otak sapi, ati ayam, sate telur puyuh, telur ceplok, dan sebagainya. Setelah memilih lauknya, jangan lupa untuk mengambil rempeyek sebagai pelengkap. Dan sebagai catatan, pengunjung juga bisa meminta kadar pedas bumbu kacangnya sesuai selera, sehingga tak perlu khawatir akan kepedasan.

Selain nasi pecel, tersedia pula dua menu lain yang juga menarik untuk dicoba, yakni nasi rawon dan nasi Bali. Dan yang lebih menarik lagi, harga seporsi nasi pecel di sini hanya Rp 8 ribu saja. Wajar jika kemudian warung yang buka dari jam 05.00 sampai jam 23.00 ini menjadi salah satu tempat santap sarapan, siang dan malam favorit warga setempat.

Nasi Pecel Madiun Enak shuterstock
Ini satu dari 5 warung nasi pecel oke di Madiun, Jawa Timur. Foto shutterstock
  • Depot Nasi Pecel 99

Di kawasan jalan HOS Cokroaminoto tersebut, terdapat pula satu dari 5 warung nasi pecel oke lainnya yang tak kalah hits dan ramai. Depot Nasi Pecel 99, yang alamat persisnya jalan HOS Cokroaminoto nomor 99, juga merupakan destinasi kuliner Madiun yang populer, bahkan kerap dikunjungi figur publik, baik dari dunia hiburan maupun kalangan pemerintahan.

Salah satu nilai jual yang membuatnya digandrungi banyak orang adalah bumbunya yang khas. Sejak mulai berjualan nasi pecel pada 1987, pemilik warung ini selalu konsisten meracik bumbu pecelnya sendiri, yaitu bumbu yang dibuat dari kacang yang disangrai, kemudian dicampur dengan daun jeruk.

Bumbu kacang tersebut melumuri nasi pecel yang berisikan sayur seperti bayam, daun pepaya, taoge, kacang panjang, dan kemangi. Sebagai pelengkap, di atasnya kemudian ditaburi serundeng. Sementara pilihan lauknya meliputi ayam goreng, telur ceplok, telur asin serta olahan sapi seperti daging empal, paru, babat, limpa, otak, dan lain lain.

Tersedia juga varian menu lain seperti nasi rawon, nasi Bali dan garang asem, alias olahan ayam dengan bumbu dan kuah yang bercita rasa asam dan pedas. Kalau masih dirasa kurang lengkap, pengunjung juga bisa menambah rempeyek dan kerupuk puli, kerupuk khas Jawa Timur yang terbuat dari beras atau nasi.

Harganya juga masih tergolong bersahabat. Satu porsi nasi pecel dihargai Rp 10 ribu, sementara pilihan lauknya berkisar dari Rp 2,5 ribu hingga Rp 24 ribu. Warung ini buka dari jam 05.30 sampai 22.30, sehingga Depot Nasi Pecel 99 menjadi opsi menarik baik saat santap sarapan, makan siang atau malam.

  • Nasi Pecel Sri Tanjung

Faktanya, nasi pecel di Madiun bukan hanya jadi santapan favorit kala sarapan atau makan siang saja, tapi juga menjadi bagian kuat dari skena kuliner malam di kota kereta ini. Masih di sekitaran jalan HOS Cokroaminoto, ada sebuah dari 5 warung nasi pecel oke yang khusus berjualan di malam hari, yaitu Nasi Pecel Sri Tanjung.

Warung ini terhitung unik karena hanya mulai berjualan dari jam 18.00 hingga 03.00 dini hari. Wujudnya pun berupa warung tenda sederhana yang memanjang di area trotoar tepi jalan HOS Cokroaminoto nomor 143. Namun jangan salah, warung ini kerap dipadati pengunjung hingga tengah malam.

Banyak yang beranggapan bahwa nasi pecel di sini merupakan salah satu yang terenak di Madiun. Harganya yang seporsi hanya Rp 8 ribu juga tentu menjadi daya tarik lainnya. Apalagi ketika melihat ragam pilihan lauknya, mulai dari ayam bakar, empal, kikil, telur gulung, rolade, paru, babat, sate udang, dan lainnya.

Belum lagi pelengkap seperti rempeyek udang, kerupuk lempeng, atau keripik tempe. Semua lauk dan pelengkap tersebut harganya berkisar dari Rp 2 ribu sampai Rp 22 ribu. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat membeli bumbu pecel dari Nasi Pecel Sri Tanjung. Harganya Rp 60 ribu per kg.

  • Nasi Pecel Bu Sugeng

Warung nasi pecel lainnya yang bisa menjadi alternatif wisata kuliner malam di Madiun adalah Nasi Pecel Bu Sugeng. Bukan cuma buka saat malam hari, mereka bahkan buka selama 24 jam setiap harinya. Sehingga sebenarnya warung yang bertempat di jalan Kompol Sunaryo ini bisa saja dikunjungi kapanpun.

Namun karena itu pula, banyak pelanggannya datang saat malam hari, bahkan dini hari. Karena lokasinya berdekatan dengan stasiun kereta api Madiun, tak jarang pengunjungnya adalah penumpang kereta api yang hendak makan malam sebelum berangkat, atau mereka yang baru tiba di Madiun tengah malam atau dini hari.

Keunikan lainnya dari warung ini adalah menu-menunya. Di sini, pengunjung langsung memesan nasi pecel berdasarkan jenis lauknya, seperti misalnya daging empal, paru, limpa, babat, lidah, telur dadar atau telur ceplok. Untuk rentang harganya mulai dari Rp 16 ribu sampai 21 ribu.

Selain nasi pecel, ada pula menu-menu lain seperti nasi rawon, nasi sayur asem dan nasi sayur lodeh, yang semuanya dihargai Rp 8 ribu. Untuk minumannya, mereka mengunggulkan es tomat yang harganya Rp 4 ribu. Pengunjung juga dapat membeli bumbu pecel yang dipakai Nasi Pecel Bu Sugeng, yang dibandrol Rp 80 ribu per kg.

Brem Suling Gading meneruskan tradisi pengolahan makanan khas Madiun. Foto: dok iStock
  • Warung Nasi Pecel Yu Gembrot

Satu lagi warung nasi pecel di Madiun yang legendaris dan jadi rekomendasi bagi wisatawan pecinta kuliner adalah Warung Nasi Pecel Yu Gembrot, yang berada di jalan Imam Bonjol nomor 33. Tempat ini juga jadi salah satu warung nasi pecel favorit banyak figur publik tanah air, yang terlihat dari foto-foto yang terpajang di dinding warung tersebut.

Usut punya usut, usaha nasi pecel ini sudah eksis sejak 1942, ketika nasi pecel masih dijajakan dari rumah ke rumah. Hingga akhirnya sang anak yang akrab dipanggil Yu Gembrot melanjutkan bisnis tersebut dan berjualan di area dekat Pasar Besi Joyo. Dari yang tadinya hanya bersifat warung semi permanen, pada 1990 akhirnya berpindah ke bangunan permanen yang digunakan hingga kini.

Dalam kurun waktu tersebut, Warung Nasi Pecel Yu Gembrot meraih banyak pelanggan dan jadi rekanan di kalangan kantor dinas pemerintah daerah yang kerap memesan untuk acara tertentu. Bahkan, nasi pecel buatan mereka beberapa kali diikutkan dalam lomba festival kuliner di tingkat provinsi dan nasional.

Sepiring nasi pecel yang beralaskan daun pisang berisikan sayur seperti daun singkong, daun pepaya, kacang panjang, taoge, timun krai, dan kembang turi. Bumbu kacangnya kental dan tak berminyak, dengan pilihan rasa pedas, sedang dan tidak pedas, membuatnya lebih bisa diterima banyak lidah.

Menurut mereka, menu-menu yang paling laris dan digandrungi oleh pengunjung adalah nasi pecel empal, nasi pecel lidah, nasi pecel limpa dan nasi pecel telur ceplok. Kendati demikian, mereka juga menyediakan varian lauk lainnya seperti paru, otak, tahu dan tempe bacem, telur dadar, serta tetelan.

Buka dari jam 06.00 hingga 21.30, harga nasi pecel di warung ini berkisar dari Rp 9 ribu hingga 15 ribu, bergantung dari pilihan lauknya. Porsinya yang tergolong pas dan tidak terlalu banyak, membuatnya banyak dipilih sebagai tempat sarapan. Dan untuk melayani lebih banyak pengunjung, kini juga terdapat cabang di jalan HOS Cokroaminoto.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Punthuk Setumbu, Keindahan Borobudur Jam 5 Pagi

Punthuk Setumbu adalah sebuah pilihan menikmati ufuk fajar 2021 nanti. Melihat matahari pertama di tahun itu muncul di belakang Candi Borobudur pastilah menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Punthuk Setumbu

Awalnya, Punthuk Setumbu, yang terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa tengah, hanyalah perbukitan biasa dengan ladang milik masyarakat setempat. Tempat ini menjadi terkenal saat seorang fotografer mengabadikan pemandangan sekitar kawasan ini dan menayangkannya. Pemandangan yang diabadikan itu adalah Candi Borobudur dengan latar belakang matahari terbit.

Namanya makin “mendunia” ketika film Ada Apa Dengan Cinta?2 diputar. Salah satu adegan dalam film tersebut dilakukan di tempat tersebut. Semakin hari, kawasan perbukitan ini semakin ramai oleh pengunjung. Dan hingga saat ini dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Tujuan utama wisatawan datang ke Punthuk Setumbu tentu saja untuk mengambil foto matahari terbit. Tak heran, mereka rela datang di pagi buta supaya tidak terlewat momen tersebut.

Punthuk Setumbu berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna punthuk sebagai gundukan atau perbukitan. Sedangkan setumbu sendiri artinya adalah tumbu atau lebih tepatnya tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Jadi nama punthuk setumbu memiliki arti bukit yang bentuknya mirip tempat nasi yang terbuat dari anyaman.

AgendaIndonesia berkesempatan mampir ke tempat ini sekitar empat tahun lalu. Beberapa saat setelah film yang dibintangi Dian Sanstrowardoyo dan Nicolas Saputra itu tayang dan kebetulan ada liputan ke Yogyakarta.

Saat liputan harus terhenti, karena jadwal satu narasumber sedikit mundur karena sedang keluar kota. Apa yang harus dikerjakan? Berpikir cepat, teman fotografer yang menemani mengusulkan mengambil gambar matahari terbit di Punthuk Setumbu.

Diskusinya kemudian, apakah kami berangkat dari Yogya pada pagi-pagi buta, atau memilih menginap di seputaran Borobudur? Kami memilih yang pertama supaya bisa meninggalkan barang-barang di penginapan di Yogya daripada menggotongnya mondar-mandir.

Namun berangkat dari Yogya itu artinya kami harus bangun pagi lewat tengah malam lantas bergegas menembus gelap menuju Muntilan lalu belok ke barat arah Borobudur. Bukan waktu yang nyaman melakukan perjalanan. Terutama karena harus menyetir mobil.

Untungnya perjalanan pagi itu lumayan asyik. Keluar dari hotel jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan praktis sepi. Jalur Yogyakarta-Magelang yang biasanya sesak di pagi hingga siang hari, ketika itu nyaris kosong. Jarak dari kota Yogya ke Borobudur sejauh sekitar 40 kilometer yang biasanya ditempuh 1,5 jam, pagi itu cuma dilalap dalam waktu sekitar 35 menit. Itupun dengan kecepatan yang cukup santai.

Pukul 2.35 menit kami sampai di depan Pasar Borobudur. Pasar tradisional yang berjarak sekitar satu kilometer dari candi. Masih cukup sepi, hanya beberapa orang menurunkan dagangan. Kepada mereka kami bertanya soal arah menuju Punthuk Setumbu.

Dari pasar sesungguhnya tak terlalu jauh. Hanya sekitar 2-3 kilometer dan jalanan beraspal halus. Setidaknya ketika itu. Kami sempat berpikir cari kopi dulu di sekitar pasar. Namun para pedagang menyarankan langsung naik saja. Mereka juga menyebut ada warung kopi di titik awal naik.

Kami mengikuti saran tersebut sambil berpikir kemungkinan lokasinya yang sepi dan gelap. Ternyata kami keliru. Menjelang sampai di dekat jalan naik jalanan tampak ramai. Banyak mobil, dari mobil kecil hingga minibus, berjajar parkir. Di bagian lain puluhan sepeda motor juga terparkir cukup rapi. Suasana cukup ramai, dan yang jelas cukup terang.

Loket retribusi naik Punthuk Setumbu ada di dekat warung makan. Satu orang lokal dikenai Rp 20 ribu.

Pukul 3.30-an sejumlah portir meminta kami mulai mendaki. Mendaki? Ya, untuk ke Punthuk Setumbu kami harus menaiki tangga memutari bukit setinggi 400-an meter. Ada deretan anak tangga yang dibagi dalam tiga stage. Di tiap akhir stage ada bordes untuk berhenti sejenak ambil nafas. Di sana biasanya ada portir yang menjaga dan memberi cahaya dari senter. Bersama kami ada sekitar 20-an pengunjung.

Punthuk Setumbu, sebuah bukit di barat candi Borobudur. Sebuah tempat untuk menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan Borobudur.
Pengunjung Punthuk Setumbu mengabadikan matahari terbit dengan latar depan candi Borobudur.

Hampir setengah jam berjalan, kami sampai puncak. Ini lebih mencengangkan lagi. Ternyata di puncak hampir mirip pasar malam. Ada sekitar 200-an orang di sana. Masing-masing telah mengambil posisi. Duduk atau berdiri. Entah siapa yang mengatur, tapi posisinya seperti orang duduk di ampitheater. Agak melengkung menatap ke satu arah.

Cukup banyak yang membawa kamera cukup serius (baca: dengan tripod dan lensa tele). Saat itu doa semua orang sama: tidak ada mendung dan matahari muncul dengan ceria.

Dan doa kami semua terwujud. Sekitar 27 menit setelah adzan subuh mengema di lembah, sebaris warna jingga muncul di cakrawala. Menit demi menit matahari beringsut naik. Hingga pada satu ketinggian, secara dramatis siluet Borobudur muncul dari balik kabut pagi dengan cahaya matahari menyorotinya. Luar biasa.

Dan drama itu berlangsung sekitar 30-an menit. Selesai selepas pukul 5 pagi. Maka perlahan para penikmat matahari terbit itu turun bukit.

Teman fotografer menyebut pengalaman itu sebagai cara lain menikmati candi Borobudur. Ia mungkin benar, saya seperti melihat Borobudur yang ‘baru’. Yang berbeda dengan saat masa kanak-kanak dulu.

Ayo, jangan lupa agendakan perjalananmu ke Magelang dan nikmati pesona elok dari perbukitan menoreh. Serta menikmati opera Borobudur di saat fajar menyingsing.

Waktu terbaik untuk datang ke kawasan ini pada adalah saat musim kemarau, yakni mulai Juli hingga Agustus. Pada saat itu, matahari kemungkinan besar tak terhalang awan atau mendung.

agendaIndonesia

****

Getuk Goreng Haji Tohirin, Asli Sejak 1918

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.

Getuk goreng Haji Tohirin bisa jadi adalah jawaban kebanyakan orang Banyumas ketika ditanya soal kuliner asli kota mereka. Tak mengherankan, karena kudapan tradisional ini sudah eksis sejak 1918, dan hingga kini toko-tokonya masih menjamur di kota ini.

Getuk Goreng Haji Tohirin

Sebagai sebuah kabupaten, Banyumas punya ciri khas sendiri yang membuatnya unik. Terletak di bagian barat provinsi Jawa Tengah, kabupaten ini punya beberapa daya tarik bagi turis, seperti Baturraden dan gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Secara budaya tradisional mereka juga punya keunikan tersendiri dari wilayah lainnya di Jawa Tengah. Kebanyakan dari adat dan seni budaya tersebut bahkan disebut sebagai Banyumasan, karena kekhasannya dan keunikannya dengan daerah tersebut.

Getuk goreng haji Tohirin adalah ikon dari Banyumas, selain tugu pesawat tempur ini.

Misalnya, seni budaya seperti salawatan Jawa, kuda lumping Ebeg, alat musik calung dan bongkel, batik ala Banyumasan, hingga yang paling identik dan dikenal banyak orang adalah bahasa Jawa bergaya Banyumasan. Bahasa yang juga kerap disebut dengan istilah ngapak.

Dan bila dilihat dari sisi khazanah kulinernya pun, Banyumas tak kalah menariknya. Cukup banyak kuliner tradisional yang terlahir di sini, seperti tempe mendoan, sroto alias soto ala Banyumas, hingga tentunya getuk goreng yang begitu khas dan unik.

Kelahiran getuk goreng tersebut tak lepas dari andil pencetusnya, Sanpirngad, yang dulunya merupakan penjaja nasi rames dengan beragam sayur dan lauk pauk. Salah satu pilihan di antara sayur dan lauk pauk tersebut adalah getuk singkong.

Getuk singkong sendiri bukanlah makanan yang asing bagi warga Banyumas. Sejak dulu, sawah-sawah yang berada di area ini kerap ditanami singkong, lantaran singkong sering digunakan sebagai makanan pengganti nasi.

Awalnya, usaha yang ia dirikan bersama istrinya Sayem itu hanya diminati segelintir orang, dan terkadang setelah warung tutup masih ada sisa-sisa makanan yang belum ludes terjual. Singkong tersebut adalah salah satu yang kerap masih tersisa dan kurang disukai pelanggan.

Karena merasa sayang dengan sisa makanan yang belum habis itu, Sanpirngad kemudian mulai mencoba mengolah ulang beberapa makanan tersebut. Misalnya, sisa-sisa getuk singkong ia olah kembali dengan cara ditumbuk dan dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa.

Getuk Goreng Banyumas Tokped
Getuk goreng Haji Tohirin biasanya dikemas dalam besek dari bambu. Foto: tokped

Setelah pengolahan ulang tersebut, munculah kudapan baru yang sebetulnya terasa nikmat dan ketika dijajakan lumayan disukai pelanggan. Namun karena warungnya sendiri masih sepi pengunjung, makanan tersebut jadi ikut-ikutan bersisa dan tak cukup laris pula.

Sanpirngad lagi-lagi mencoba memutar otak agar dagangannya tersebut dapat laris manis dan membawa lebih banyak pengunjung yang datang. Akhirnya, olahan getuk yang masih tersisa itu ia goreng agar awet dan bisa dicoba untuk dijual kembali esok harinya.

Siapa sangka, percobaannya yang kesekian tersebut mampu membawa peruntungan baru yang mengubah hidupnya. Getuk goreng buatannya justru diminati pelanggannya, bahkan perlahan-lahan menuai popularitas lewat obrolan warga dari mulut ke mulut.

Sejak saat itu, banyak pengunjung yang datang ke warungnya khusus untuk mencoba getuk gorengnya. Saking terkenalnya, oleh pelanggannya getuk tersebut juga sempat disebut getuk kamal, karena saat itu warungnya berada di bawah pohon kamal.

Mulai dari kemunculannya di sekitaran tahun 1918, getuk goreng terus menjadi salah satu kuliner primadona Banyumas. Usaha tersebut lantas dijalankan pula oleh anak dan menantunya. Salah satu di antaranya adalah Tohirin, menantu laki-lakinya.

Selepas berpulangnya Sanpirngad pada 1967, Tohirin terpilih untuk mengambil alih usaha dan meneruskannya. Di bawah pengelolaannya, bisnis semakin maju pesat dan getuk goreng semakin dikenal luas, tak hanya oleh warga setempat tetapi juga bagi kalangan turis.

Warung nasi rames berwujud gubuk semi permanen tersebut diubah menjadi bangunan kios permanen. Usahanya kemudian berfokus pada getuk goreng saja, agar dapat memenuhi banyaknya permintaan konsumen sekaligus mempertahankan konsistensi kualitas makanan.

Terlebih lagi, ia melihat pergeseran pola konsumen getuk goreng saat itu. Kalau sebelumnya pelanggannya merupakan warga lokal yang sekedar mencari kudapan, kini banyak pula yang datang untuk membeli getuk goreng sebagai oleh-oleh.

Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri menerima pengunjung lokal dan pendatang, dengan plang bertuliskan ‘Getuk Goreng H. Tohirin Asli’ alias Getuk Goreng Haji Tohirin. Penggunaan kata ‘asli’ di sini menjadi penting, seiring persaingan yang makin ketat dengan munculnya gerai getuk goreng lainnya.

Toko Oleh oleh Getuk Kemendikbud
Toko-toko oleh-oleh memajang nama getuk goreng dan Asli. Foto: kemendikbud Jawa Tengah

Kendati demikian, getuk goreng dagangannya boleh berbangga hati karena memang menjadi pionir bagi getuk goreng lainnya. Dan berkat otentisitasnya itu pula, kios getuk gorengnya tak pernah sepi pengunjung.

Kini, bisnis dijalankan oleh anak-anak dan cucunya, serta sudah memiliki kurang lebih sekitar 10 cabang yang tersebar di seputaran Banyumas. Kebanyakan kios-kios cabang tersebut bernuansa jingga, agar membedakan dengan kios aslinya yang bernuansa hijau.

Kalau datang ke kios yang asli getuk goreng Haji Tohirin, pengunjung masih bisa melihat proses pembuatannya secara langsung. Pertama, singkong dikukus terlebih dulu dengan metode tradisional, menggunakan dandang serta kayu bakar.

Singkong yang sudah dikukus langsung ditumbuk dan diolah dengan gula merah dan parutan kelapa menggunakan lumpang, kemudian digoreng sampai matang. Pendekatan tradisional ini adalah upaya agar cita rasa otentik getuk goreng dapat terjaga,

Getuk goreng yang sudah matang tersebut lantas dipotong-potong, kemudian langsung dikemas dan disajikan kepada pengunjung. Biasanya pengunjung punya dua pilihan kemasan, dengan ukuran ½ kg dan 1 kg yang masing-masing harganya Rp 21 ribu dan Rp 39 ribu.

Umumnya, rasa getuk goreng Haji Tohirin yang original merupakan perpaduan dari gurih dan manis. Tetapi kini konsumen juga bisa mendapatkan berbagai pilihan rasa lainnya, seperti rasa coklat, nanas, durian dan nangka. Yang jelas, semua pilihan rasa tidak menggunakan pengawet.

Pengunjung bisa memilih khusus satu pilihan rasa, atau campuran semua pilihan rasa. Kemasannya berupa besek dengan masing-masing pilihan ukurannya. Meskipun tidak mengguanakan pengawet, getuk goreng diklaim dapat bertahan sampai sepuluh hari.

Seiring dengan pergeseran bisnisnya, kios getuk goreng Haji Tohirin kini juga berfokus sebagai sentra oleh-oleh tradisional. Di sini dapat ditemukan juga aneka kudapan tradisional lainnya seperti nopia, keripik tempe, klanting, olahan buah carica, dan lain sebagainya.

Getuk goreng Haji Tohirin buka dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Karena kios aslinya kerap ramai pengunjung, khususnya pada akhir pekan dan hari libur, maka tak ada salahnya pula sesekali mampir ke cabang-cabangnya, yang terkadang juga buka sedikit lebih awal.

Getuk Goreng Haji Tohirin (Asli)

Jl. Jend. Sudirman no. 151, Sokaraja, Banyumas

Telp. (0281) 6441216

Instagram @getukgoreng.aslihajitohirin

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Brongkos Handayani Yogya, Sedapnya Sejak 1975

Brongkos Handayani Yogya menjadi salah satu kuliner yang diburu saat wisatawan datang ke kota pelajar ini. Ia menjadi alternatif masakan jika bosan dengan gudeg atau bakmi Jawa.

Brongkos Handayani Yogya

Sesungguhnya brongkos di kawasan Yogyakarta tak cuma Handayani, tempat terkenal lainnya ada di pinggiran Kali Krasak, di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. DI sana ada brongkos Warung Ijo Ibu Padmo. Tapi kali ini kita cicipi dulu Handayani.

Lokasi warung makan Brongkos Handayani gampang dicari. Pertama-tama kita menuju Alun-Alun Kidul, atau Alun-Alun Selatan, orang Yogya biasa menyebut Alkid. Dari alun-alun ini, tinggal menuju ke arah Plengkung Gading, ini adalah bangunan serupa terowongan kecil di selatannya. Tapi jangan terlalu jauh, sebab lokasi Handayani ada di gerbang keluar alun-alun. Nempel ke dinding alun-alun.

Saat ini, brongkos Handayani bolehlah disebut salah satu kuliner legendaris Yogyakarta. Mungkin karena ia berjualan di sekitar tempat yang ramai dikunjungi. Alun-alun Kidul Yogyakarta memang tidak pernah sepi.

Warung ini menjadi kuliner klangenan karena pemiliknya sudah mulai berjualan sejak tahun 1975. Ya, 45 tahun yang lalu Adijo, sang pemilik kedai ini, mulai membuka warungnya di sini. Awalnya Adijo berjualan es campur dengan cara berkeliling. Itu dilakukannya sekitar tahun 1960-an. Ketika mulai berjualan dengan membuka warung di selatan Alun-alun Kidul, ia melengkapinya dengan berjualan brongkos.

Usaha kuliner yang sudah berjalan sekitar 45 tahun ini saat ini dilanjutkan anak-anak Adijo dan istrinya Saridjem. Tidak ada yang berubah dari resepnya. Konon salah satu rahasia yang dimiliki brongkos Handayani adalah menggunakan 16 macam bumbu.

Lalu sebenarnya, apa sih brongkos itu? Brongkos jelas masakan yang lezat. Jika dilihat sekilas tampilan brongkos mirip dengan rawon, namun ada perbedaan mendasar dari kedua masakan tersebut, yakni jika kuah kentalnya brongkos menggunakan santan, sementara rawon tidak memakai. Kemiripan warna kuah ke dua masakan muncul karena keduanya menggunakan kluwek.

Selain itu, secara tipis ada rasa yang manis menjadi cirikhas masakan Jawa, khususnya Yogyakarta. Bagi Masyarakat Jawa masakan ini biasa disebut “Jangan Brongkos”. “Jangan” di sini adalah bahasa Jawa untuk “sayur”. Menurut sejarahnya, brongkos berasal dari bahasa Inggris, Brown Horst yang artinya daging cokelat. Namun karena penyebutannya susah, di lidah orang Jawa ia menjadi brongkos.

Tidak ada catatan pasti kapan masakan ini masuk dalam daftar kulinari Jawa atau Yogya. Dugaan sementara, ia masuk bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda ke Yogyakarta. Dugaan lain, ia justru dibawa oleh para bangsawan Jawa yang bersekolah ke Eropa.

Yang jelas, masakan ini sudah menjadi menu sarapan orang-orang Jawa zaman dulu. Di kota gudeg itu sendiri cukup jarang rumah makan yang menjual menu brongkos. Bisa jadi karena dulunya brongkos hanya disajikan untuk kaum ningrat. Mengapa? Bahan baku brongkos yang menggunakan daging sapi membuat hanya kaum bangsawan saja yang mampu menikmatinya. Namun seiring perkembangan, ada beberapa tempat makan ataupun warung yang menyediakan brongkos sebagai menu yang bisa dinikmati.

Selain daging, brongkos biasanya berisi kulit melinjo dan kacang tolo. Daging sapi yang dipilih biasanya yang cukup banyak mengandung lemak, atau dalam bahasa Jawa disebut koyor. Bagi mereka yang tidak terlalu menyukai daging sapi, terlebih yang berlemak atau gajih, beberapa tempat makan menyediakan penggantinya seperti tahu atau telur ayam rebus.

Kuah brongkos yang berwarna cokelat cenderung terasa manis, namun juga muncul rasa gurih yang berasal dari santan. Tak perlu khawatir jika Anda penikmat makanan pedas, sebab sepiring brongkos biasanya dilengkapi cabai rawit utuh yang bisa digerus dan menambah sensasi pedas.

Meskipun brongkos sering diasosiasikan dengan Yogyakarta, semur daging dan kacang pedas ini cukup marak dalam tradisi Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah daerah di wilayah ini, seperti Demak, Solo, atau Magelang juga mempunyai masakan brongkos. Tentu dengan versi dan keistimewaannya masing-masing.

Di Handayani, bahkan kita bisa meminta ekstra cabe rawit jika benar-benar ingin merasakan pedas. Di warung ini, biasanya orang memilih menu Brongkos Koyor. Ini artinya menu lengkap: nasi, brongkos dengan daging, telur ayam, dan tahu. Tapi seperti disebut di atas, bisa saja pengunjung hanya memilih daging saja tanpa telur. Atau sebaliknya, hanya telur.

Selain brongkos, warung ini juga menyediakan menu lain, meski tak terlalu favorit, yakni soto ayam dan pecel. Begitupun, apa pun masakan yang dipilih, biasanya pengunjung melengkapinya dengan memesan minuman es campur. Ini cukup khas warung makan ini. Ingat bukan, pemilik warung ini dulunya berjualan es? Bentuknya sederhana: sirup merah dengan kelapa muda dan tape singkong lalu disiram air santan encer dan es batu.

Brongkos dan masakan tradisional lainnya, adalah warisan kuliner Indonesia yang patut terus diapresiasi. Sesekali cobalah mampir ke Handayani dan menikmati brongkosnya. Atau, kalau pas main ke warung ini dan sedang kenyang, bisa membeli brongkos dalam kaleng. Handayani boleh disebut pelopor brongkos dalam kaleng. Menarik bukan?

agendaIndonesia

*****

Kain Songket Palembang, Kisah 71 Motif Tradisional

Kain Songket Palembang shutterstock

Kain songket Palembang menjadi salah satu kain tradisional yang seakan wajib dikoleksi oleh orang Indonesia. Banyak yang memburunya jika tengah berkunjung ke ibukota Sumatera Selatan itu. Diburu meskipun harganya hingga puluhan bahkan konon ratusan juta.

Kain Songket Palembang

Songket adalah sejenis kain tenun tradisional Melayu di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam. Ia bisa digolongkan dalam model tenunan brokat, yakni ditenun menggunakan tangan dengan benang emas dan perak. Benang logam yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau.

Kain songket umumnya merupakan kain tenun mewah yang dikenakan saat resepsi, perayaan, atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak, yakni hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi dari kain songket yang lazim dipakai sultan dan pangeran serta bangsawa kesultanan melayu.

Secara tradisional dan dari sejarah Indonesia, kain songket yang berkilau keemasan itu senantiasa dikaitkan dengan kegemilangan Sriwijaya. Kerajaan maritim terbesar di Indonesia pada abad ke-7 hingga ke-13 dan berpusat di sekitar Sumatera Selatan. Mungkin itu sebabnya, pusat kerajinan songket paling terkenal di Indonesia adalah kota Palembang. 

Pada awalnya, songket adalah kain mewah yang secara origin memang memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas. Benang ini kemudian ditenun dengan tangan menjadi kain.

Kata songket secara bahasa berasal dari istilah sungkit, sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang artinya mengait atau mencungkil. Pada proses pembuatannya, songket memang menggunakan cara mengaitkan dan mengambil sejumput benang, dan kemudian menyelipkan benang emas. 

Pada bahasan lain, ada pula yang menyebut jika kata songket kemungkinan berasal dari kata songka atau songko atau peci khas Palembang. Songko ini dipercaya sebagai produk atau barang pertama yang tenunannya menggunakan benang emas.

Dari cerita rakyat Palembang yang dikisahkan turun-temurun, songket adalah perpaduan dari tiga hal, yakni kain sutra yang dibawa pedagang Tiongkok dan mampir ke Sriwijaya; emas yang dibawa pedagang India dan Timur Tengah, dan kemahiran orang Melayu dalam menenun.

Kain songket Palembang memiliki ciri khas pada motifnya dan itu terlihat cukup lebih rumit. Karena itu, untuk menghasilkan selembar kain songket Palembang, seorang pengrajin bahkan bisa menghabiskan waktu tiga bulan untuk pengerjaannya.

Pembuatan songket Palembang biasanya menggunakan bahan baku benang sutera asli. Benang ini biasanya berwarna putih sebelum diberi lapisan emas. Benang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat tenun bingkai Melayu yang biasa disebut dengan istilah dayan.

Kain Songket Palembang proses pembuatannya
Proses pembuatan kain songket Palembang.

Semua bagian dayan, yaitu cagak dan beliro, mempunyai fungsi masing-masing untuk menarik benang, untuk kemudian diganti benang yang lain. Begitu seterusnya hingga benang-benang yang ada menjadi satu kesatuan membentuk motif pada kain songket.

Biasanya, satu lembar songket dikerjakan oleh satu orang. Penyebabnya, pembuatnya harus hapal urutan tarikan benang. Jika tidak, meskipun kainnya tetap bisa selesai, namun bentuk motif-motif di dalam kain songketnya menjadi tidak sempurna. Tentu menjadi merepotkan, sebab beberapa kain songket tradisional sumatera memiliki pola yang mengandung makna tertentu.

Songket harus melalui delapan tahapan sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Dan songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia diukur dari segi kualitas dan tampilannya, karena itu ia sering disebut sebagai Ratu Segala Kain.

Dahulunya para penenun songket umumnya berasal dari desa atau pedalaman, karena itu tidak mengherankan jika motif-motif kainnya dipolakan dengan flora dan fauna lokal. Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti sarikaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan kegemaran raja-raja.

Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan tersebut. Misalnya, motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.

Hal yang mungkin harus menjadi perhatian adalah, beberapa pemerintah daerah telah mendaftarkan hak intelektual motif songket tradisional mereka. Sayangnya, dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar.

Saat ini, songket yang dijual tidak melulu dalam bentuk kain bentangan, tapi tak sedikit yang sudah teraplikasi dalam berbagai produk fashion, seperti pakaian, selendang, maupun kerudung. Adakah songket dalam koleksi kainmu?

agendaIndonesia

*****

Coto Makassar, Sejarah Dan 6 Yang Terenak

Coto Makassar adalah kuliner wajib ketika mengunjungi ibukota Sulawesi Selatan.

Coto Makassar sudah pasti mudah ditebak adalah makanan tradisional dari ibukota Sulawesi Selatan itu. Rasanya sebagian besar wisatawan nusantara familiar dengan masakan berkuah ini.

Coto Makassar

Setiap wisatawan yang datang ke Makassar, salah satu agenda kunjungannya adalah mencicipi coto. Ada yang langsung datang ke gerai atau warung terkenal, ada yang ke tempat yang menjualnya secara random. Maklum menu ini banyak ditemui di jalan-jalan protokol, bahkan di pusat perbelanjaaan.

Masakan tradisional khas Makassar ini sudah ada sejak Kerajaan Gowa masih berdiri. Kala itu kerajaan ini berpusat di Sombaopu sekitar1538 masehi, posisi wilayahnya ada di selatan kota Makassar.

Pelabuhan Paotore Makassar shutterstock
Pelabuhan Paotere di Makassar. Foto: shutterstock

Pada mulanya, coto merupakan hidangan khusus bagi kalangan istana Kerajaan Gowa. Ketika ada tamu istimewa atau ritual adat, coto akan menjadi hidangannya.

Namun ada pula cerita yang mengatakan bahwa coto justru dikreasikan oleh rakyat biasa dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi hari.

Dalam catatan sejarah yang dikutip dari arsip pemerintah kota Makassar, pada abad 16, hidangan coto Makassar sebagai kuliner khas juga mendapat pengaruh dari kuliner Cina yang telah ada saat itu. Hal ini dapat dilihat dari jenis sambal yang digunakan, yakni sambal tauco sebagai salah satu identitasnya.

Kelezatan yang memanjakan lidah ketika menikmati hidangan coto tidak terlepas dari pengolaaan berbagai jenis bumbu yang digunakan. Coto memiliki cita rasa tinggi karena memiliki bumbu segudang rempah.


Tidak tanggung-tanggung, dalam meramu jenis bumbu yang digunakan pada coto Makassar ini dilakukan pencampuran 40 jenis bumbu lokal (rampa patang pulo). Ini terdiri kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sereh yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seledri, daun perei, lombok merah, lombok hijau, gula tala, asam, kayu manis, garam, pepaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jeroan.

Semangkok Coto Makassar shutterstock

Rasa dan aroma khas yang dihasilkan oleh bumbu pada hidangan coto Makassar ini juga berfungsi sebagai penawar zat yang terdapat dalam hati, babat, jantung, dan limpah yang banyak mengandung kolesterol.

Coto sekilas seperti sup daging ini memang masakan berupa rebusan jeroan bercampur daging sapi yang diiris-iris lalu dibumbui dengan racikan bumbu khusus. Coto Makassar memiliki cita rasa gurih yang berasal dari rebusan daging, jeroan, dan rempah-rempah.

Coto biasa dinikmati dengan ketupat yang dibungkus dengan daun kelapa dan buras atau burasa, yaitu sejenis ketupat yang dibungkus daun pisang. Burasa terbuat dari beras yang dicampur santan dan diberi sedikit garam, lalu dibungkus dengan daun pisang dan diikat secara khusus kemudian dikukus.
Lalu dari begitu banyak warung makan yang menawarkan coto Makassar di kota angin mamiri ini, manakah yang layak dijadikan pilihan utama untuk dicicipi?

Coto Makassar dan Buras shutterstock
Coto Makassar biasanya disaantap dengan buras. Foto: shutterstock

Coto Nusantara 1

Kedai ini buka dari pukul 07.00-17.00 WITA dan merupakan tempat makan coto enak paling terkenal di Makassar. Di sini wisatawan bisa menikmati coto dengan harga sekitar Rp 25 ribu belum termasuk PPN, dan bisa memilih coto isi daging saja atau campur dengan jeroan.
Coto Nusantara 1; Jalan Nusantara Baru Nomor 42, Ende, Wajo, Makassar
Aroma Coto Gagak

Meskipun Namanya membawa nama gagak, tak berarti mereka menggunakan bahan daging burung gagak. Bernama demikian karena warung ini berada di jalan Gagak. Keistimewaan kedai ini, selain rasanya memang enak, mereka buka 24 jam. 

Aroma Coto Gagak merupakan tempat makan coto legendaris di Makassar yang punya menu coto dengan harga Rp 30 ribu per porsinya. pengunjung juga bisa membeli bumbu coto gagak untuk dibawa pulang dengan jumlah per kilogram.
Aroma Coto Gagak, Jalan Gagak Nomor 27, Mariso, Kota Makassar.
Coto Daeng Sirua

Kedai ini buka secara ‘normal’, yakni dari pukul 08.00-20.00 WITA. Satu porsi menu coto ini dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per mangkuknya. pengunjung bisa tambah ketupat dengan harga Rp 2 ribu.
Coto Daeng Sirua, Jalan Abdullah Daeng Sirua Nomor 10, Panakkukang, Makassar.

Coto Paraikatte

Kedai ini buka lebih pagi yakni pukul 7 dan tutup menjelang tengah malam, 23 WITA. Ada menu Coto dengan harga Rp 18 ribu atau sekitar Rp 12 ribu untuk paket hematnya. Tambah degan ketupat pandan hanya Rp 2 ribu.
Coto Paraikatte, Jalan A. P. Pettarani Nomor 125, Rappocini, Makassar.
Coto Maros

Hidangan coto di kedai ini mulai dijajakan dari pukul 08.00-00.00 WITA. Coto kuah kental ini punya isian daging yang banyak. Harga per mangkuk coto sekitar Rp 23 ribu. Wisatawan bisa menikmatinya dengan es kelapa.
Coto Maros, Jalan Urip Sumoharjo, Maccini, Makassar

Coto Bagadang Fly Over

berada di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Sinrijala, Panakkukang, Kota Makassar. Buka dari pukul 07.00-02.00 WITA. Ada satu porsi menu Coto dengan harga Rp 17 ribu, namun jika ingin membawa pulang harganya menjadi Rp 20 ribu.
Coto Bagadang Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Panakkukang, Makassar


Manapun yang mau dipilih untuk disantap, semuanya enak.

agendaIndonesia

*****

Sate Bandeng, Jejak Kuliner Kesultanan Banten Di Abad 16

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.

Sate bandeng menjadi salah satu makanan yang paling sering diburu untuk dimakan di tempat dan menjadi oleh-oleh dari perjalanan ke Serang, Provinsi Banten. Kuliner ini menjadi alternatif bagi pecinta bandeng, selain model presto khas Juwana, Jawa Tengah.

Sate Bandeng

Sate bandeng sepertinya kisah sederhana, cerita tentang makanan yang tumbuh di suatu daerah. Namun nyatanya tak demikian. Masakan ini memiliki jejak sejarah yang panjang. Dimulai pada abad 16.

Adalah Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang menjadi titik awal lahirnya sate Banten. Tentu, bukan ia yang menciptakan, namun berkat permintaannya ke dapur kraton-lah, sate ini ‘tercipta’.

Sultan Maulana sendiri adalah salah seorang putera dari Syarif Hidayatullah, raja atau sunan di Kasunanan Cirebon. Pada saatnya, Sunan Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Sanga, saat menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa Barat.

Maulana, sebagai putera Sunan Syarif Hidayatullah, ikut membantu Kesultanan Demak ketika menyerang Sunda Kelapa. Dari sana, ia memperluas kekuasaan Kasunanan Cirebon ke arah barat, dan kemudian menjadi Sultan atau Sunan ketika Banten menjadi kerajaan sendiri. Maulana Hasanuddin memerintah Banten dari 1522 hingga 1570.

Sebagai daerah pesisir, Banten memiliki hasil laut dan perairan yang cukup melimpah. Salah satunya bandeng. Namun ikan jenis yang satu ini punya banyak sekali duri. Dari yang besar hingga yang sangat halus. Ini menjadi soal tersendiri bagi dapur istana jika menyajikan masakan berbahan bandeng. Konon cukup sering anggota keluarga Kesultanan yang punya masalah dengan duri bandeng ini.

Juru masak kerajaan pun kebingungan. Di satu sisi, keluarga kesultanan menyukai masakan berbahan bandeng, namun di sisi lain Sultan tidak menyukai jika keluarganya mengalami masalah dengan duri. Sang juru masak pun pun memutar otak untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan duri yang tertanam di daging bandeng.

Berbagai cara pun dicoba sang juru masak. Sampai suatu ketika ia mendapatkan cara untuk mengeluarkan duri dari badan ikan. Rupanya, sang juru masak memukul-mukul badan ikan hingga dagingnya hancur dan terpisah dari kulitnya. Daging yang telah hancur itu kemudian dikeluarkan dengan cara mencabut tulang dari bagian insangnya atau bawah kepala. Hal tersebut untuk membuang duri-duri halus yang terkandung dalam ikan.

Daging ikan yang ikut keluar kemudian dicampur dengan santan dan bumbu rempah tertentu. Setelah itu, melihat kulit ikan yang masih utuh, daging yang telah berbumbu itu dimasukan lagi ke dalamnya. Kulit ikan bandeng yang keras membuat ikan terlihat seperti utuh kembali. Setelah itu ikan pun dibakar. Untuk menguatkan bentuk ikan, dipakailah bilah bambu untuk tusukan atau pegangan ketika membakarnya. Tusukan bambu inilah yang kemudian menyebutnya sebagai sate bandeng.

Selamatlah sang juru masak. Masakan bandeng bisa dinikmati keluarga kerajaan, dan mereka aman dari duri. Masakan ini bahkan kemudian menjadi andalan bagi kesultanan ketika menjamu tamu-tamunya. Bertahun-tahun kemudian sate bandeng pun keluar tembok istana dan menjadi makanan khas masyarakat Banten.

Saat ini sate bandeng telah tumbuh menjadi industri rumahan di Serang yang berkembang dengan pesat. Ada puluhan toko atau kedai yang menyajikan olahan ikan ini yang dapat dikonsumsi secara langsung di tempat atau untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Biasanya sate ini akan dibuat pada hari yang sama dan harus habis saat itu juga karena tidak tidak memakai pengawet.

Untuk dapat menikmati sate bandeng, saat ini sudah banyak tempat yang menjualnya di Serang, Banten. Pengunjung dari luar kota ini, bahkan dapat menemuinya begitu keluar dari tol Jakarta-Serang. Ada deretan toko oleh-oleh yang menjualnya. Tetapi, jika ada yang penasaran dan ingin membelinya langsung di tempat produksinya, ada tiga produsen sate bandeng yang terkenal di Serang.

Sate Bandeng Hj. Maryam

Sate bandeng yang dulu dikelola Hj. Maryam ini termasuk legenda di Serang karena sudah mulai memproduksinya sejak 1970. Saat ini, pengelola dari sate bandeng ini adalah cucu dari ibu Hj. Maryam dan anaknya. Semua resep yang dipakai sejak dahulu tetap sama dan tidak berubah.

Pusat pembuatannya cukup dekat dengan alun-alun kota Serang, yakni di Jalan Ki Uju Nomor 63, Kaujon Tengah, Kecamatan Serang. Di tempat ini pengunjung bisa memilih dua rasa sate bandeng, yang pedas atau yang manis. Mereka buka mulai dari jam 7 pagi hingga 10 malam.

Sate Bandeng Bu Amenah

Sate Bandeng Bu Amenah lebih banyak dipasarkan secara daring atau online. Sate yang ditawarkan Bu Amenah ini memiliki cita rasa yang nikmat dan antiduri halus. Sate produksi tempat ini bisa tahan selama satu atau dua hari kalau berada di luar kulkas dan satu atau dua minggu kalau di dalam kulkas sebelum digoreng.

Jika tidak ingin memesan online dan ingin datang langsung, lokasi pembuatan sate bandeng Bu Amenah ada di Jalan Syabulu KM 1, Lingkungan Dalung Nomor 11, Kecamatan Cipokok Jaya. Ia buka dari jam 7 pagi hingga 9 malam.


Sate Bandeng Ibu Aliyah

Ini adalah pilihan sate bandeng lainnya. Tempat produksinya di Jalan Lopang Gede III nomor 7, Kecamatan Serang. Tempat ini buka dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam.

Sate Bandeng Kang Agus

Sate Bandeng Kang Agus juga oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Serang. Sayangnya lokasi dari tempat oleh-oleh ini sering berpindah. Agar bisa mendapatkan sate bandeng buatan Kang Agus, wisatawan bisanya membeli secara online dan akan diantar oleh kurir ke penginapan atau tempat yang disepakati.

Sudah pernah menikmati sate bandeng khas Banten? Ayo agendakan kuliner sate bandeng ini kapan-kapan….

agendaIndonesia

*****