Dawet Ayu Banjarnegara, Minuman Juara API 2020

Dawet Ayu Banjarnegara tahun ini keluar sebagai juara kategori minuman dalam API 2020.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi minuman tradisional juara Anugerah Pesona Indonesia 2020 atau API 2020. Ia mengalahkan Kopi Semendo dari Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan yang sedang naik daun dan Air Mata Bejando dari Kabupaten Pelalawan di Provinsi Riau yang mulai dikenal masyarakat.

Dawet Ayu Banjarnegara

API 2020 menobatkan dawet ayu sebagai minuman tradisional terpopuler di Indonesia. Ini adalah kuliner jenis minuman yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Agung Yusianto, kepada tempo.co, mengatakan bahwa kemenangan dawet ayu membuktikan minuman tradisional ini cita rasanya diterima masyarakat Indonesia. Tidak saja bagi masyarakat Banjarnegara di mana minuman ini berasal, tapi juga secara luas di lidah masyaeakar dari daerah lain.

Pengumumnan pemenang Anugerah Pesona Indonesia 2020 sendiri berlangsung di Hotel Inaya Bay Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 20 Mei 2021 malam. Tak hanya menyandang predikat sebagai minuman tradisional terpopuler, menurut Agung, dawet ayu juga menjadi juara favorit Pesona Indonesia 2020 .

Agung berharap penghargaan terhadap dawet ayu di API 2020 ini menjadi mendorong dan menginspirasi para pelaku usaha kuliner dan UMKM di Banjarnegara untuk terus berkreasi dan berkembang. Ia juga diharapkan makin memperkenalkan Banjarnegara ke seluruh Indonesia.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi juara favorit dalam anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Dawet Ayu Banjarnegara dijual dengan cara gerobak atau pikulan. Foto: Dok. unsplash

Meskipun baru menang di API 2020, dawet ayu Banjarnegara, Jawa Tengah, ini sesungguhnya sudah lama dikenal masyarakat hampir di seluruh Indonesia. Bahkan minumannya sudah beredar di banyak kota di Indonesia. Mengutip harian Kompas, penyebaran dawet ayu ke sejumlah daerahini  terjadi karena ada mobilisasi masyarakat Jawa Tengah pada 1980-an ke banyak wilayah.
Penyebaran ini terjadi karena perpindahan alamiah, maupun adanya program transmigrasi pada masa itu. Orang-orang Banjarnegara dan Banyumaslantas  diduga membuat dawet di tempat tinggal baru mereka. Dari sanalah kemudian dawet ayu Banjarnegara bisa terkenal. Penjual dawet ayu di daerah-daerah itu belum tentu dari Banjarnegara, tetapi nama produknya tetap dawet ayu khas Banjarnegara.

Lalu dari mana asal muasal minuman dawet ayu ini bermula sesungguhnya? Apa pula bedanya dengan es cendol yang juga dikenal oleh banyak orang.

Asal usul dawet ayu masih simpang siur dan punya banyak versi. Salah satu versinya menyebut, dawet Banjarnegara bisa popular konon berawal dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono. Lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” ini dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol pada 1980-an. Grup ini terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.

Selain versi tersebut, ada pula versi sastrawan asal Banyumas, Ahmad Tohari, yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20.
Sementara soal pembuatannya, ss dawet dibuat dari rebusan tepung beras. Sedangkan warna hijaunya diperoleh dari perasan daun pandan. Ada pula yang menyebut warna hijau itu dibuat dari daun suji.

Secara umum proses produksinya mirip dengan pembuatan cendol. Mungkin orang senang membandingkan ke duanya, selain bentuknya mirip, juga karena popularitas lagu campur sari milik almarhum Didi Kempot. “Cendol, dawet, cendol, dawet…” sepotong syair lagu Pamer Bojo milik Didi yang populer dikalangan sobat ambyar, sebutan bagi penggemar pemusik ini.

Dawet Ayu Banjarnegara secara tampilan mirip dengan Cendol yang banyak dkenal masyarakat di Jawa Barat.
Minuman Es Cendol di Jawa Barat yang tampilannya mirip dengan es Dawet Ayu. Foto: Dok. Unsplash

Minumannya sendiri, secara sekilas jika dilihat, cendol dan dawet ini tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama dihidangkan dengan larutan gula merah sebagai pemanis dan diguyur dengan santan cair. Begitupun, oleh para pemerhatu kulinari, ada perbedaan yang menonjol antara cendol dan dawet, yakni bahan bakunya. Cendol dan dawet sama-sama terbuat dari tepung, tetapi meggunakan jenis tepung yang berbeda. Namun, campurannya sama, pemanisnya menggunakan gula kelapa, dan santannya alami dari perasan buah kelapa segar.
Beda dengan dawet, cendol menggunakan tepung kacang hijau atau hunkwe.
Es cendol sendiri disebut-sebut berasal dari kata jendol, yang dalam bahasa Sunda artinya jendolan. Hal ini merujuk pada tekstur butiran cendol yang bentuknya tak beraturan. Asal ke dua minuman yang mirip ini ternyata yang berbeda. Jika dawet ayu dari Banjarnegara, Jawa Tengah, sedangkan cendol berasal dari Jawa Barat.

Para penjual dawet ayu biasanya menggunakan pikulan yang khas untuk berjualan. Pikulan tersebut disebut angkringan dawet ayu atau angdayu. Ada dua gentong besar yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri pikulan. Isinya masing-masing adalah santan dan dawet. Gentong besar tersebut dibuat dari tanah liat yang dipercaya bisa menjaga suhu dawet dan santan tetap dingin sehingga pedagang tak perlu lagi menggunakan es batu.

Kini, mungkin karena perubahan iklim yang membuat hawa lebih gerah, banyak juga penjual dawet yang menggunakan es. Sekarang juga semakin banyak pedagang yang menjual dawet dengan gerobak dan menggunakan ember plastik ketimbang gentong tanah liat. 

Jika Anda punya kesempatan mampir ke Banjarnegara, berikut ada beberapa tempat es dawet ayu yang terkenal di kota ini.

Bakso dan Dawet Ayu Asli Hj. Munardjo

Jl. M.T. Haryono No.12-22, Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara

Jl. Stadion Selatan, Parakancanggah, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Dawet Ayu Banjarnegara Pak Sunardi

Jl. Sunan Gripit, Rejasa, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah

agendaIndonesia

*****

5 Sajian Khas Pasundan Di Lintas Selatan

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Jawa Barat

5 Sajian khas Pasundan di Lintas Selatan Jawa Barat ke Jawa Tengah ini bisa menjadi pilihan jika tengah melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi. Mulai ayam bakar bambu hingga pindang ikan.

5 Sajian Khas Pasundan

Jalur selatan merupakan jalur utama transportasi darat yang menghubungkan sebagian besar kota-kota di Jawa Barat. Bahkan, jika menggunakan kendaraan pribadi, jalur ini terkadang dijadikan alternatif untuk menuju kota-kota di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Mengingat kondisinya yang sangat strategis, melewati Bandung, Garut, Tasik, hingga Ciamis, tak mengherankan jika di sepanjang jalur selatan banyak ditemukan rumah makan. Mayorita tentu menyajikan masalan ala Sunda.

Ayam Bakar Bambu

Rumah makan ala Sunda di Ciamis, Jawa Barat, ini menawarkan hidangan menggiurkan, mulai patin bakar bambu, gurame bakar cobek, hingga ayam bambu ala Cibiuk. Pilihan saya jatuh pada sajian yang terakhir. Menu ini berupa potongan-potongan kecil ayam kampung yang diberi bumbu dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dimasukkan ke sebilah bambu, kemudian dibakar.

Penyajiannya cukup unik karena potongan bambu ikut dihadirkan. Untuk dapat menikmatinya, kita cukup mengambil bungkusan ayam dalam daun pisang tadi melalui lubang bambu. Saat dikunyah, potongan ayam terasa lunak dan bumbunya begitu terasa. Satu porsi menu ini dihargai Rp 75 ribu.

RM Cibiuk

Jalan Raya Sindangkasih Nomor 90

Ciamis, Jawa Barat

Buka pukul 08.00-22.00

Pindang Ikan Mas

Selepas pintu Tol Cileunyi dari arah Jakarta, jalur selatan mulai membentang. Rumah makan pun  ramai menyambut. Banyak pilihan di daerah ini. Namun pilihan saya jatuh pada rumah makan yang konon terkenal dengan menu pindang ikan mas. Layaknya olahan pindang lain, pindang ikan mas yang satu ini juga berwarna cokelat, tapi cenderung kehitaman. Dalam satu piring, disajikan dua ekor ikan mas.

Sekilas, tampilannya terlihat kurang menggiurkan. Tapi jangan salah. Saat dicoba, daging ikan terasa lunak. Duri-duri halus ikan mas, yang dikenal banyak, tak terasa. Bahkan tulang bagian tengah ikan terasa renyah. Rasa menu seharga Rp 20 ribu ini cukup manis dan tidak tercium bau amis.

Mak Ecot 2

Jalan Nagrek Km 36

Kabupaten Bandung

Buka: pukul 07.00-24.00

5 sajian khas pasundan salah satunya di Rumah Makan Gentong
Interior Rumah makan Gentong di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Nasi Liwet Gepuk

Bagi yang pernah melewati jalur selatan Jawa Barat, mungkin pernah melihat rumah makan yang satu ini. Tapi tahukah jika salah satu menu andalan rumah makan yang berada di sisi jalan ini adalah nasi liwet gepuk? Olahan nasi liwet sebenarnya sama seperti nasi biasa. Bedanya, nasi liwet telah diberi bumbu sebelum ditanak sehingga rasanya lebih gurih. Nasi tersebut disajikan lengkap dengan gepuk atau daging sapi goreng, sayur asam, tahu-tempe goreng, sepotong ikan asin jambal, lalapan, dan sambal. Menu ini, untuk porsi satu orang, dihargai Rp 36 ribu.

Jika ingin porsi yang lebih banyak karena datang bersama keluarga, tak ada salahnya memilih paket nasi liwet kendil. Paket ini cukup untuk tiga orang. Sesuai dengan namanya, nasi liwet dihidangkan dengan kendil. Pilihan menunya bisa berupa gepuk, ayam goreng/bakar, atau pepes ayam/ikan, tergantung selera.

RM Gentong

Jalan Raya Gentong Nomor 16

Ciawi, Tasikmalaya

Buka: pukul 07.00-21.00

Nasi Tutug Oncom

Rumah makan ini juga masih berada di Tasikmalaya. Lumayan ramai pengunjungnya saat saya mengunjunginya siang itu. Awalnya, saya mengira rumah makan ini hanya menyediakan berbagai olahan dari buah stroberi, sesuai dengan namanya. Ternyata dugaan saya meleset. Rumah makan ini justru menyediakan berbagai masakan ala Sunda. Salah satunya nasi tutug oncom.

Di tempat ini, nasi putih tak dicampur dengan oncom saja, tapi juga dengan emping yang menjadi ciri khas. Selain itu, dalam setiap porsi, menu seharga Rp 38 ribu itu telah dilengkapi ayam goreng, tahu goreng, tempe mendoan, sayur asem, potongan ikan asin jambal, lalapan, dan sambal.

Liwet Astro (Asep Stroberry)

Jalan Raya Ciawi Nomor 5

Tasikmalaya

Buka: 24 jam

Aneka Ayam

Saat melintasi perbatasan Ciamis-Banjar, saya mendapati rumah makan dengan bentuk bangunan berupa rumah panggung dengan warna merah mencolok. Umbul-umbul yang terpasang di sisi jalan juga semakin menambah penasaran. Saya pun tertarik menyambanginya. Sesuai dengan namanya, menu yang diandalkan memang beragam olahan ayam. Ada ayam goreng, ayam bakar, ayam rica-rica, dan lainnya. Pilihannya tersedia dalam beberapa paket, yakni paket A, B, dan C. Paket ini menunjukkan besar ukuran ayam. Untuk paket A, ayamnya berukuran kecil. Sedangkan paket C, ayam berukuran besar.

Saya lantas memesan paket ayam bakar paket A. Satu porsi relatif lengkap. Selain ada nasi putih dan ayam bakar, ada pula lalapan dan sambal. Bumbu ayam bakarnya cukup terasa dan daging ayamnya lumayan empuk. Harga per porsi mulai  Rp 13 ribu.

Ayam Fresh

Jalan Raya Banjar

Ciamis, Jawa Barat

Buka: pukul 08.00-22.00

Andry T./Prima M/Dok. TL

Tahun Baru Imlek, Ini 8 Makanan Khasnya

Tahun Baru Imlek memiliki beragam makanan atau kudapan yang khas.

Tahun Baru Imlek atau dalam masyarakat Tionghoa dikenal juga dengan istilah Tahun Baru Musim Semi, sementara masyarakat internasional menyebutnya sebagai Lunar New Year. Tahun Baru Imlek memang lahir dari hitungan perputaran bulan atas bumi.

Tahun Baru Imlek

Di sejumlah daerah di Indonesia Tahun Baru Imlek menjadi salah satu perayaan yang ditunggu dan dirayakan. Misalnya saja di Pontianak dan Singkawang, atau di Medan, di mana cukup banyak warganya yang berasal dari masyarakat Tionghoa. Begitupun, untuk Indonesia, Imlek sudah menjadi salah satu bagian kegembiraan masyarakatnya.

Tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, memperingati Tahun Baru Imlek 2574 kurang lengkap rasanya kalau tidak mencicipi berbagai kuliner lezat khas Imlek yang banyak dijual di pasaran. Sebagian bahkan dijual tanpa menunggu Tahun Baru Imlek.

Tak hanya memiliki rasa yang lezat, setiap makanan khas Imlek turut menyimpan makna dan filosofi yang mendalam bagi masyarakat Tionghoa. Menariknya lagi, setiap makanan dipercaya membawa keberuntungan bagi yang menyantapnya.

Tahun Baru Imlek memiliki sejumlah makanan khas perayaannya. Tak afdol jika takmenyantapnya saat Imlek.
Kue Keranjang adalah makanan yang sangat ikonik dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Foto: dok. shutterstock

Lantas, apa saja pilihan makanan atau kudapan saat merayakan Tahun Baru Imlek?

Kue Keranjang

Kue keranjang tidak pernah absen setiap perayaan Tahun Baru Imlek. Memiliki rasa manis dan tekstur yang kenyal, kue keranjang dipercaya membawa keberuntungan, kesehatan, kekayaan, hingga kebahagiaan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Penataan kue keranjang yang saling bertumpuk juga punya makna mendalam, yakni melambangkan keberuntungan pada gaji dan posisi yang lebih tinggi.

Kue Mangkok

Kue Mangkok di Tahun baru Imlek shutterstock
Kue mangkok melambangkan bunga yang sedang mekar saat musim semi. Foto: shutterstock

Terbuat dari tepung beras, kue mangkok atau fa gao adalah makanan khas Imlek berbentuk bunga yang sedang mekar. Konon, bentuk kelopak bunga tersebut melambangkan rezeki yang sedang berkembang. Banyak orang menyebutnya “kue kemakmuran” karena kue mangkok dipercaya memberikan keberuntungan. Bahkan, semakin banyak kelopak di atasnya, maka semakin banyak pula keberuntungan yang akan didapatkan.

Kue Ku

Ciri khas kue ku adalah bentuknya yang menyerupai tempurung dan berwarna merah cerah yang cantik. Kue tradisional yang terbuat dari tepung ketan berisi kacang hijau ini melambangkan kemakmuran. Tidak jarang kue ku dicetak dengan cetakan yang memiliki huruf, gambar, atau lambang keberuntungan di Tahun Baru Imlek.

Kue Bulan

Selanjutnya adalah kue bulan atau dikenal dengan moon cake. Berbeda dengan kue-kue sebelumnya, kue bulan adalah makanan manis khas Imlek yang menyerupai pia dan berisi pasta kacang merah. Bentuknya yang bulat menyerupai bulan melambangkan keutuhan. Sehingga jika kita mengonsumsi kue bulan, dipercaya dapat mendatangkan rezeki, kemakmuran, dan kesehatan utuh selama setahun ke depan.

Manisan Segi Delapan

Manisan kotak segi delapan atau dikenal dengan tray of togetherness adalah kumpulan manisan yang dikemas dalam wadah berbentuk segi delapan. Setiap manisan memiliki maknanya masing-masing. Seperti manisan melon melambangkan kesehatan, semangka merah melambangkan kebahagian, dan jeruk kumquat melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.

Sedangkan manisan kelapa kering melambangkan kebersamaan atau kekeluargaan, manisan berbentuk seperti biji teratai melambangkan kesuburan, manisan kelengkeng melambangkan banyak anak, dan terakhir kacang tanah melambangkan doa agar panjang umur.

Dumpling

Dumpling untuk Imlek unsplash
Makanan lain yang khas Imlek adalah dumpling. Foto: dok. unsplash

Dikenal juga dengan sebutan jiaozi merupakan olahan pangsit berbentuk uang Tiongkok kuno yang melambangkan kemakmuran. Menurut kepercayaan, banyaknya dumpling yang dikonsumsi pada malam Imlek memprediksi jumlah uang yang akan didapatkan saat memasuki tahun baru. Dumpling berisi daging sapi dan sayur yang menyegarkan. Agar semakin nikmat, dumpling biasanya dicocol dengan saus kecap asin dan jahe sebelum disantap.

Lumpia

Berwarna cokelat keemasan menyerupai emas batangan, lumpia termasuk makanan khas Imlek yang dipercaya membawa keberuntungan dan kekayaan. Mirip dengan lumpia pada umumnya, spring roll khas Imlek ini diisi dengan potongan daging dan berbagai sayuran. Jangan lupa dicocol dengan campuran saus tiram, arak beras, kecap asin, dan minyak wijen. Dijamin semakin nikmat memakannya.

Mi Panjang Umur

Selain disajikan saat perayaan ulang tahun, mi panjang umur kerap menjadi makanan wajib pada perayaan Tahun Baru Imlek. Sesuai dengan namanya, mi goreng ini melambangkan umur panjang dan keberuntungan.

Namun, bagi mereka yang memeprcayaiya, harus berhati-hati saat mengolah dan menyantapnya. Sebab, bentuk mi yang pendek atau terpotong, meskipun tanpa sengaja, melambangkan nasib buruk dan memperpendek umur.

Itulah beragam makanan khas Tahun Baru Imlek yang dipercaya membawa keberuntungan bagi siapa saja yang menyantapnya. Umumnya makanan-makanan tersebut halal, yang harus hati-hati mungkin adalah dumpling. Kadang ada yang menggunakan daging non-halal untuk isiannya.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Tenun Rangrang, 3 Warna-warni Nusa Penida

Tenun Rangrang adalah kerajinan khas Nusa Penida, Bali. Foto: milik Wak Laba

Tenun Rangrang adalah jenis tenunan tradisional Bali yang semakin dilirik kaum perempuan di Indonesia. Ini merupakan kreasi penduduk Nusa Penida, jenis tenunan ini menunjukkan keragaman karya perajin Pulau Dewata. Disebut rangrang, ternyata karena jenisnya yang berlubang-lubang atau jarang-jarang.

Tenun Rangrang

Saat ke Bali dan mampir ke Dian’s Rumah Songket dan Endek di Kabupaten Klungklung, ternyata bisa ditemukan tenun rangrang di antara kain songket, cepuk, dan endek. Khusus tenun rangrang, biasanya sang pemiliki langsung memesan ke perajin dari Banjar Karang, Nusa Penida.

Tenun Rangrang adalah produk kerajinan dari masyarakat Nusa Penida, Bali,
Salah satu spot di Nusa Penida. Foto: shutterstock

Tidak sekedar memesan, ia bahkan mengirim benang-benang katun ke sana agar hasil tenun berkualitas baik. Termasuk juga benang dari bahan alam. Menurut sejumlah butik di Klungkung, sudah tujuh tahun ini tenun rangrang semakin digemari orang.

Sebelumnya, konon cukup susah mempromosikan tenun rangrang ini. Namun promosi yang terus menerus membuat pamor tenun jenis ini terus terkerek, harganya pun ikut melonjak. Untuk kualitas terbaik, dengan benang dari bahan alam, selembar kain tenun rangrang berukuran 90 x 200 sentimeter bisa mencapai Rp 1,5-2 juta.

Harga tenunan bervariasi atau bergantung pada ukuran kain. Paling rendah Rp 600 ribu. Bila sudah menjadi pakaian, dipatok mulai Rp 700 ribu. Kain rangrang, yang menggunakan benang sintetis, dijual pada kisaran Rp 400 ribu.

Padahal saat belum naik daun, hasil tenunan  ini dijual mulai Rp 200 ribu. Kini tenun rangrang pun dibuat beragam produk, tak hanya blazer, kemeja, blus, tapi juga dompet, sarung bantal, tas, dan lain-lain.

Keindahan dan harga tinggi tenun rangrang itu pun membikin penasaran. Esok harinya, dari pantai Sanur, agendaIndonesia melaju dengan perahu bermotor menuju Nusa Penida, yang termasuk Kabupaten Klungkung. Sekitar 40 menit perjalanan sudah menginjak pasir putih Dermaga Toyapakeh.

Rupanya, kampung perajin tidak berada dekat pantai. pengunjung harus naik sepeda motor turun-naik bukit sekitar satu jam dari dermaga. Jalanan pun tidak selalu mulus. Mengarah ke sisi timur pulau ini dan menyusuri pantai menaiki beberapa bukit berkapur, akhirnya kendaraan beroda dua berhenti di Banjar Ampel, Desa Pejukutan, yang berada di sebuah bukit.

Banjar Karang, yang banyak disebut juga sebagai kampung perajin rangrang, berada setelah kampung ini. Jauh dari pantai, tak mengherankan jika tak ada seorang pun yang berprofesi sebagai nelayan ataupun petani rumput laut seperti umumnya warga Nusa Penida.

Tua-muda, laki-laki ataupun perempuan beraksi dengan benang plus alat tenun. Di belakang rumah dibuat bangunan terbuka. Diisi beberapa perangkat tenun, sehari-hari mereka bisa ditemukan di sana. Biasanya menenun berkelompok 3-4 orang. Kebanyakan satu keluarga besar atau tetangga. Saya pun bertemu dengan Nyoman Terima—perempuan berusia 60-an tahun yang terhitung sebagai penenun tertua di antara 200 penenun di kampung ini.

Dalam dua tahun terakhir, para remaja pun tergoda menyentuh alat tenun. Putu Wahyudi, 21 tahun, salah seorang di antaranya. Bila kebanyakan anak laki-laki di kota besar bermain dengan gadget atau di depan komputer bermain game, ia anteng menyalin benang. Bahkan umumnya anak perempuan di kampung ini sejak kelas 3 SD sudah mulai menenun.

“Perempuan yang kerja di kota pun kembali dan menenun juga,” ujar Nyoman Widastra, 51 tahun. Ia pun sebelumnya menjajal segala jenis pekerjaan, termasuk menjadi kuli bangunan. Setelah 35 tahun beralih, ia menjadi penenun. “Enak teduh (tidak kepanasan) dan bisa kerja semalaman pula,” ujarnya.

Nyoman bisa melakukannya hingga tengah malam, bahkan sampai pukul 03.00. Pekerjaan menenunnya dimulai dari mengurai benang hingga memintalnya. Setelah itu, ia baru bisa menenun. Rata-rata untuk kain yang paling pendek, yakni 60 sentimeter  x 2 meter, diperlukan waktu sekitar dua hari. “Biasanya untuk selendang.”

Mayoritas perajin menyerahkan hasil kerja mereka kepada pengepul yang sebagian besar menerapkan sistem bayar belakang saat  kain sudah terjual. Bisa juga warga menjual langsung kepada turis mancanegara yang kerap datang. “Kadang mereka beli 2-3 buah gitu,” kata Nyoman.

Mayoritas perajin menggunakan alat tenun terbaru, model lama atau alat tenun cacag tidak lagi digunakan. Bahkan penenun tua pun sudah beralih. Posisi di punggung bawah harus ikut menahan alat tenun dan posisinya yang harus duduk di bawah, membuat mereka lebih cepat lelah. Dibanding alat tenun baru, penenun bisa duduk di bangku dengan posisi lebih nyaman.

Tenun Rangrang membuat banyak anak muda kembali ke desanya di Nusa Penida.
Tenun Rangrang. Foto: shutterstock

Di Dusun Ampel, Banjar Pejukutan, umumnya penenun menggunakan benang sintetis dengan pilihan warna terang atau lembut. “Biasanya pakai tiga warna. Motifnya, kebanyakan bianglala, wajik, dan alam,” kata Nyoman Widastra.

Tidak seluruh kain penuh dengan corak. Yang lazim pada tenunan yang dibuat dengan teknik ikat tunggal ini lantaran ada latar warna. Kemudian di tengahnya berupa corak tertentu. Menurut pengakuan penenun, motif yang dipilih kerap bergantung pada permintaan pengepul.

Tidak hanya paduan warna-warni yang menyuguhkan keindahan, tetapi sesungguhnya kain rangrang juga memuat filosofi mengenai hidup dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap alam, karmapala, dan tridarma dalam agama Hindu.

Dalam masyarakat Bali, sebenarnya dikenakan untuk upacara adat. Namun, seperti pengakuan sejumlah perajin, mereka justru tak lagi memiliki kain rangrang. “Kita bikin buat dijual,” ucap Nyoman seraya menyebutkan dirinya yang sehari-hari menenun tak memilikinya.

Harga yang tinggi menjadi salah satu alasan bagi warga setempat mengapa tak lagi mengenakan kain rangrang. Membuat rangrang hanya untuk mendapat penghasilan, bukan untuk dipakai sendiri.

Rangrang dibikin pun hanya untuk memenuhi permintaan pasar. Warna dan corak sering bergantung pada permintaan. Tidak lagi muncul model lama dengan hiasan pinggiran seperti kupu-kupu, bunga julit, daun bakung, atau katak.

Warga pun tak lagi menggunakan warna alam seperti akar mengkudu dan kayu secang untuk warna merah, bunga delima yang dikeringkan untuk warna kuning, dan daun mangga untuk warna hijau. Kecuali tentu jika ada pesanan.

agendaIndonesia/TL/Rita N./C. Adristy

*****

Pantai Pandawa Bali 1 Yang Sembunyi di Balik Tebing

Pantai Pandawa Bali dengan orang-orang Berenang

Pantai Pandawa berpasir putih dengan ombak yang tenang berada di balik bukit kapur yang berhias arca. Pantai berpasir putih ini seperti memanggil-manggil dari bawah ke mereka yang masih di atas bukit.

Pantai Pandawa Bali

Jalan terus menanjak dari arah Jimbaran Bali, melewati bukit-bukit kapur. Setelah itu, baru ditemukan jalan mulus dan lebih lapang. Saya langsung merasa senang. Padahal papan penunjuk Pantai Pandawa belum terlihat. Lagipula, saya masih berada di daerah perbukitan, tentu pantai masih jauh. masih jauh?

Namun, tak lama kemudian, ternyata kami menemukan pertigaan lebar yang menunjukkan arah ke Pantai Pandawa. Setelah melewati sebuah vila yang tengah dibangun di sebuah belokan, terlihat gerbang lebar menuju Pantai Pandawa yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini dapat dijangkau sekitar satu jam dari Bandara Ngurah Rai.

Gerbang pantai tak menandakan bahwa lokasi sudah dekat. Jadi jangan harap Anda akan langsung melihat bibir pantai. Para pengunjung “dibawa” meliuk-liuk di kelokan yang menurun. Terlihat Pantai Pandawa dari ketinggian. Ombak yang kadang terlihat seperti melambai-lambai memanggil untuk segera sampai dan menyelupkan kaki ke air laut yang mengayun di sepanjang pantai

Di sepanjang jalanan yang turun dan meliuk itu, terlihat tebing-tebing yang dilobangi di sepanjang jalan menuju pantai. Di dalam lekukan-lekukan tebing itu terlihat patung Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa, berdiri berjajar .

Pantai Pandawa Bali
Suasana Pantai Pandawa Bali.

Keberadaan Pandawa Lima ini mempunyai makna tersendiri. Informasi ini saya dengar dari sang pengemudi yang mengantarkan kami siang itu. Kisahnya diambil dari cuplikan cerita Mahabarata saat kelima pandawa dikurung dalam Gua Gala-gala. Ketut, pria yang bekerja di balik kemudi itu, menjelaskan satu per satu tokoh yang muncul dalam pewayangan tersebut. Lantas, ia bertutur dalam cerita ini, kelima dewa berhasil menyelamatkan diri dengan membuat terowongan hingga mencapai hutan dan mendirikan Kerajaan Amertha.

Dinding-dinding kapur, yang dihiasi arca, tidak saya singgahi lebih dulu. Saya tunda saat pulang saja. Maklum, dari ketinggian, ombak dan pasir putih pantai seperti memanggil-manggil. Pantai itu benar-benar berada di balik tebing. Namun saya datang di saat yang kurang tepat, yakni pada Minggu dan siang hari. Di akhir pekan, pantai yang tengah naik daun ini tumplek dengan turis dari berbagai wilayah, mulai yang berkulit gelap hingga yang pucat. Kursi-kursi di tepian pantai pun terisi penuh.

Belum lagi teriknya menyengat. Walhasil, setelah sempat berjalan beberapa saat, saya memilih duduk di sebuah warung miliki Nenek Giri Yono. “Enaknya di sini kalau sore, siang gini panas,” ucapnya. Saya pun menyeruput minuman dingin. “Tapi ini ramai karena hari libur,” tuturnya. Ibu tua itu mengaku warga asli Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Sejak banyak wisatawan datang ke Pantai Melasti—namanya sebelum berganti menjadi Pandawa, ia mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dulu di sini tempat upacara Melasti,” ujarnya. Katanya, tak banyak turis yang datang. Melasti adalah rangkaian perayaan Nyepi.

Terik masih terasa meski sudah mulai pukul 15.00. Tidak lama setelah berbincang hangat dengan ibu tua yang mengaku hidup berdua dengan suaminya itu, saya menyusuri jajaran kios di salah satu sisi. Aneka aksesori khas pantai, seperti topi, ikat kepala, dan kain menjadi benda yang banyak dijajakan. Di pantai, tak peduli mentari yang tengah bersinar kuat, anak-anak, remaja, maupun orang tua asik berperahu. Ada pula yang mendayung kano perlahan atau melaju kencang dengan banana boat. Ombak yang tenang menjadi teman yang mengasikkan.

Dengan bingkai langit nan biru dan awan putih, para pengandrung paralayang bergaya seperti burung besar, melayang-layang di antara keindahan langit dan air laut. Saya berjalan perlahan, menjauh dari keriuhan, mampir ke penjaja es potong dan meninggalkan bibir pantai, menatap tebing dengan tulisan “Pantai Pandawa”, sebelum akhirnya merebahkan diri di mobil. Seperti niat awal, sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, saya singgah di depan patung lima Pandawa sembari menatap pantai dari kejauhan. l

Rita N/Fazzu F/Dok TL

Geliat 3 Batik: Betawi, Semarangan, dan Besurek

5 sentra belaja batik di kota SOlo-- Kampung Batik Andreas Hie shutterstock

Geliat 3 Balik khas Jakarta, Semarangan, dan Bengkulu menyusul batik-batik tradisional yang selama ini sudah dikenal masyarakat. Ini makin memperkayai khasanah batik sebagai warisan budaya adiluhung yang dimiliki masyarakat Indonesia.

Geliat 3 Batik

Kain batik jelas bukan barang langka di bumi Nusantara ini. Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo bisa disebut sebagai gudang kain bercorak khas ini. Setiap kota tampaknya juga mempunyai ciri khas. Salah satu yang sedang naik daun batik Garutan. Kota lain pun punya kain khas. Jakarta, misalnya, punya batik Betawi dengan perjalanan panjang yang naik-turun. Juga Semarang dan Bengkulu. Masing-masing memiliki kekhasan.

Batik Betawi boleh dibilang kurang populer. Padahal para perempuan Betawi sudah pintar memainkan canting dan menembok, alias menutup corak batik dengan lilin, sejak masa penjajahan. Bahkan ada perkampungan khusus di Terogong. Namun tradisi ini terhenti pada 1970. Keluarga pembatik di Jakarta Selatan ini baru membangkitkannya lagi pada 2012.

Keunikan batik Betawi terletak pada motifnya yang menampilkan ikon-ikon khas betawi. “Ada yang bergambar ondel-ondel, penari ronggeng Betawi, alat musik tanjidor, atau landmark, seperti Monas dan Patung Pancoran,” ujar Aap Hafizoh, salah seorang pengelola batik Betawi Terogong.

Aap menambahkan, beberapa motif lain tak kalah unik dan malah menggambarkan hal-hal berkaitan dengan Betawi yang belum diketahui banyak orang. Contohnya, motif burung hong dan Masjid Krukut, yang merupakan salah satu bangunan bersejarah. “Namun yang menjadi ciri khas motif batik Betawi Terogong adalah motif mengkudu dan cermai.”

Menurut Aap, pohon mengkudu (Morinda citrifolia)dan cermai (Phyllanthus acidus) dijadikan motif khas Batik Betawi Terogong karena memiliki kenangan tersendiri. Dia mengatakan kedua pohon itu tumbuh di halaman belakang rumah. Proses produksi batik Betawi Terogong memang memanfaatkan lahan milik keluarga yang kini dihuni sekitar enam kepala keluarga.

Yang jarang terdengar, meski dikelilingi kota-kota yang terkenal dengan kreasi batiknya, adalah batik Semarangan. Kampung Batik Semarang pernah mengalami kejayaan pada 1919-1925. Namun, karena krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang, akhirnya banyak perajin gulung tikar. Baru mulai menggeliat lagi sekitar 2004, saat Pemerintah Kota Semarang memiliki keinginan mengembalikan nama besar batik Semarangan yang dulu pernah mencapai masa keemasan.

Ketua Paguyuban Sentral Batik Semarang Tri Mujiono menyebutkan, motif batik Semarang menonjolkan unsur flora dan fauna. “Misalnya, buah asem arang dan burung blekok,” katanya. Burung blekok putih memang banyak ditemukan di kawasan Srondol, Semarang, di masa lalu. Kini susah melihat burung berparuh panjang itu. Begitu pula asem arang, yang dulu banyak tumbuh di Semarang. Konon, nama Semarang diambil dari nama pohon asem, yang tumbuhnya saling berjauhan tersebut.

Belakangan, motif batik Semarangan kian berkembang. Ikon Kota Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Sam Poo Kong, menjadi ciri khas lain batik Semarangan. Sedangkan untuk pewarnaannya, batik Semarang dikenal memiliki warna-warna terang, seperti biru, merah, dan cokelat.

Geliat 3 batik: Jakarta, semarangan dan besurek
Membuat patron di kain untuk dijadikan batik.

Tak hanya kota-kota di Pulau Jawa yang punya corak batik, Bengkulu, salah satu kota di Sumatera, juga dikenal dengan batik khasnya. Namanya batik besurek. “Besurek” sebenarnya berarti tulis. Jadi kain besurek tak lain adalah batik tulis, yang merupakan teknik awal dari pembuatan batik. Cuma, karena yang banyak dimunculkan selain flora dan fauna adalah huruf Arab, muncul juga makna lain dari kain ini, yakni kain dengan tulisan huruf Arab.

Kain besurek, yang merupakan kain tradisional ini, digunakan masyarakat Bengkulu dalam berbagai upacara adat, pernikahan, cukur bayi, mengantar jenazah ke kuburan, hingga acara kesenian. Untuk setiap kesempatan, tentunya berbeda pula corak kain batik yang dikenakan. Setiap motif menunjukkan simbol yang berbeda. Misalnya, perpaduan rembulan dengan kaligrafi dalam kain berdasar merah melambangkan nilai ciptaan Tuhan. Kain bercorak ini dikenakan pengantin putri dalam pernikahan atau acara mandi saat prosesi pernikahan. Ada pula motif burung kuau dan kaligrafi berwarna biru, yang bermakna kehidupan alam.

Dirunut dari sejarahnya, kain besurek sudah berkembang pada abad ke-16 saat agama Islam berkembang di provinsi ini. Ketika Sentot Alibasya, panglima perang Pangeran Diponegoro, diasingkan ke Bengkulu bersama sanak saudaranya pada abad ke-18, para pedagang berkebangsaan India, Cina, Arab, dan Eropa sudah menenteng kain besurek dari Bengkulu. Kreasi sesungguhnya asli Bengkulu, meski bahan bakunya didatangkan dari tanah Jawa.

Kini, tidak lagi selalu ada kaligrafi atau huruf Arab gundul sebagai corak kainnya, tapi banyak juga dimunculkan bunga Rafflesia arnoldi, yang memang menjadi ikon kota ini. Sejumlah corak lama juga kerap dimunculkan, seperti burung kuau, kembang cengkeh, kembang cempaka, relung paku, dan burung. Toko-toko suvenir pun mulai banyak menawarkan kain khas ini. Padahal, beberapa tahun lalu, cukup sulit mencari kain besurek. Padahal jelas kain ini lekat dengan masyarakat sejak masa lampau.

Lekatnya imaji kain besurek dengan masyarakat Bengkulu juga bisa disimak pada lagu Kain Besurek: “Uncu, marolah dekek siko, cubo tolong sayo.

Buekkan kain besurek selambar sajo. Buek kenangan kawan nan tercinto. Uncu,

dasarnya halus pulo. Raginya ragi lamo. Peninggalan datuk kek andung dahulu

kalo. Yang perlu kita lestarikan besamo. Kain. Kain besurek ragi lamo. Kini

banyak nan dapek membueknyo. Pacak dibuek jadi kenangan. Dipakai baju oi elok

nian. Uncu … Liek ado nan datang. Samo samo kesiko. Katonyo ndak pesan kain

besurek pulo.”

(Bibi, marilah ke sini, coba tolong saya. Buatkan kain besurek, selembar saja. Buat

kenangan teman tercinta. Dasarnya yang halus. Motifnya ragi lama. Peninggalan

kakek dan nenek dahulu kala. Yang perlu kita lestarikan bersama. Kain. Kain

besurek motif ragi lama. Kini banyak yang dapat membuatnya. Bisa dijadikan

kenang-kenangan. Dijadikan baju juga indah sekali. Bibi, lihat ada yang datang.

Sama-sama ke sini, katanya mau pesan kain besurek juga). l

Andry T/Rita N./Dok. TL

Café Dangdut New York, 1 Citra Indonesia

cafe dagdut new york memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia di New York. Foto: KJRI New York

Café Dangdut New York, nama ini rasanya langsung ‘menonjok’ rasa ingin tahu yang mendengarnya. Apa yang dijual di sini: kopi atau musik dangdut?

Cafe Dangdut New York

Nama Café Dangdut terdengar sangat Indonesia. Itulah alasan Fitri Carlina, seorang penyanyi yang besar melalui musik dangdut di Indonesia, bersama dua rekannya, Dina Fatimah dan Romy Sembiring, mendirikan Café Dangdut di Long Island City, New York, Amerika Serikat. Bersama Dina, atau yang dikenal dengan panggilan Eski, Fitri melihat bahwa budaya Indonesia sangat layak dan potensial untuk diperkenalkan di Amerika Serikat.

“Ide mendirikan Café Dangdut New York muncul sekitar awal Maret 2021. Saat itu, kebetulan saya juga tampil di acara Super Bowl Week,” kata Fitri. Menurutnya, istilah ‘dangdut’ mulai dikenal di negeri Abang Sam itu. 

Cafe Daangdut New York tidak saja memperkenalkan kulinari Indonesia, tapi juga budaya pop melalui musik dangdut.
Kopi adalah salah satu budaya masyarakat Amerika. Foto: Dok. shutterstock

Lalu, terpikir untuk membuat coffee shop bernuansa dangdut di New York bersama Eski yang juga terlibat dalam acara Super Bowl Week. Dalam waktu sebulan, mereka memikirkan ide, logo, dan menyiapkan coffee truck. Akhirnya pada September 2021, Café Dangdut soft launching. “Saat itu kami masih menggunakan coffee truck dan booth,” kata Fitri.

Kebetulan pula ketika itu ada acara Indopop Movement, sebuah organisasi atau yayasan yang bertujuan untuk membantu dan mendukung potensi Indonesia, baik kuliner, fesyen, budaya, di Amerika, khususnya New York. Momentum ini dimanfaatkan oleh Fitri dan Eski untuk mempromosikan Café Dangdut di depan Time Square.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan dengan mengikuti bazar dan festival di sana-sini, ke duanya memutuskan untuk membuka Café Dangdut secara permanen di Long Island City. Sambutannya cukup bagus. Bahkan antrean orang yang ingin mencoba kopi di Café Dangdut sangat panjang.

“Mas Menteri Sandiaga Uno juga sudah datang ke Café Dangdut. Rasanya tidak menyangka bisa seperti ini,” kata Eski.

Cafe Dangdur NewYork
Menteri Pariwisata Sandiaga Uno berkesempatan mampir ke Cafe Dangdut New York. Foto: Cafe Dangdut.

Meski sudah memiliki gerai permanen, Fitri dan Eski memutuskan untuk terus melakukan mempromosikan Café Dangdut New York dengan coffee truck selama setahun. Tujuannya, kata Fitri, untuk menarik lebih banyak orang dan membuat penasaran warga sekitar.

“Sampai saat ini, Café Dangdut masih menggunakan coffee truck dalam rangka promosi kopi. Kami membagikan kopi secara gratis kepada customer yang datang,” lanjut Eski.

Sambil promosi, proses pengurusan izin dan inovasi menu terus dilakukan. Pelan-pelan, Fitri dan Eski mencari barista dari Diaspora karena ingin memperlihatkan kepada warga sekitar tentang hospitality yang ramah khas Indonesia. Sempat menemukan beberapa kendala, tapi ke duanya bisa menyelesaikannya dengan baik.

“Beruntung Diaspora di sini sangat suportif. Banyak pengusaha swasta dan owner kafe Indonesia lainnya juga yang mendukung kehadiran Café Dangdut. Kami mendirikan Café Dangdut New York bukan untuk menjadi saingan, tapi justru untuk menambah khasanah kuliner Indonesia di Amerika,” ujar Fitri.

Diakui juga oleh ke duanya, mendirikan tempat makan di New York harus siap menerima syarat dan izin yang cukup ketat dari pemerintah setempat. Café Dangdut New York berkomitmen untuk menjaga kualitas bahan baku. Namun, masalah distribusi dan logistik harus dihadapi oleh Fitri dan Eski dan cukup berpengaruh pada harga makanan dan minuman serta ketersediaan supply di Café Dangdut.

Mereka mengaku sudah banyak melakukan audiensi ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat di Chicago dan lembaga Indonesia terkait mengenai kendala logistik. Karena masalahnya bahan baku dan sangat penting. Jika biasanya bahan baku bisa tiba dua bulan, kini harus menunggu bahkan sampai empat bulan. “Akhirnya ada beberapa bahan baku yang kami hand carry agar bisa stabil antara supply dan demand-nya,” ucap Eski.

Meskipun banyak kendala yang menghampiri, Fitri dan Eski mengaku puas dengan apa yang sudah mereka capai bersama Café Dangdut New York. Hampir 70 persen pembeli atau pelanggan mereka adalah warga lokal, ini sesuai target mereka. Lokasi Café nya pun cukup strategis dan mudah ditemukan.

Cafe Dangdut berada di lingkungan anak-anak muda dan hipster elit, dekat dengan stasiun, kampus, serta tempat nongkrong anak-anak muda dan komunitas warga Indonesia. 

Biji Kopi Arabica shutterstock
Aneka biji kopi arabica. Foto: dok. shutterstock

Menurut Eski, rata-rata pelanggannya suka dengan cita rasa kopi Indonesia yang manis, khususnya kopi Gayo. “Kami juga menjual kopi lainnya, seperti kopi luwak, kopi dari Papua dan daerah lainya. Warga lokal sini penasaran dengan jenis-jenis kopi dari Indonesia,” imbuh Fitri.

Dengan adanya Café Dangdut di New York, Fitri dan Eski berharap bisa memperkenalkan Indonesia. Tidak hanya dengan kopi dan hidangan saja, tetapi juga dengan budaya dan lifestyle Indonesia.

Selain kopi dan beberapa kudapan khas Indonesia, Café Dangdut memperkenalkan musik dangdut dan fesyen Indonesia melalui brand Plus 62. Fitri dan Eski ingin hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia menjadi mainstream dengan langkah awal memperkenalkannya melalui Café Dangdut.

“Meskipun namanya dangdut, Café Dangdut kami tampilkan dengan konsep kontemporer. Bisa membawa nama dangdut hingga ke New York, seperti hal yang mustahil, tapi ternyata bisa kami lakukan,” ujar Fitri.

Melalui serangkaian pencapaian ini, Fitri dan Eski berharap Café Dangdut bisa bertahan di New York. Saat ini, Fitri dan Eski tengah berkomunikasi dengan beberapa investor. Jika tidak ada kendala, Café Dangdut juga akan hadir di New Jersey dan negara lain seperti Singapura serta Filipina.

“Kami ingin menjalankan bisnis ini untuk waktu yang lama, bukan hanya lima tahun, tapi jangka panjang. Tentunya untuk mempertahankan bisnis, hal-hal seperti masalah logistik dan lainnya bisa segera ditemukan solusinya. Dan, kami berharap pemerintah Indonesia bisa terus mendukung pelaku bisnis di luar negeri yang membawa misi memperkenalkan budaya, kuliner, dan apapun yang berkaitan dengan potensi Indonesia,” ucap Eski.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kya-kya Surabaya Dibuka Lagi 17 Agustus

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Kya-kya Surabaya atau lebih dikenal sebagai lokasi wisata pecinan kya-kya akan dibuka kembali oleh Pemerintah Kota Surabaya. Pembukaannya akan dilakukan pada Ulang Tahun Republik Indoesia ke 77 pada 17 Agustus tahun ini.

Kya-kya Surabaya

Wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun, sehingga terkadang disebut pula wisata Kembang Jepun, pertama kali diresmikan pada 31 Mei 2003. Pembangunan Kya-kya Surabaya awalnya diinisiasi Dahlan Iskan, yang saat ini mempin sebuh grup media di Surabaya. Dengan tujuan awal untuk membangun pusat jajanan (food court) terbesar di Indonesia. Khususnya di malam hari.


Sebagai kawasan pasar malam, Kya-kya Surabaya selalu ramai pengunjung saat itu. Jalan sepanjang 730 meter dan lebar 20 meter itu bisa menampung 200 pedagang, 2.000 kursi, dan sekitar 500 meja. Tidak hanya jajanan, di sana ada pula pedagang yang menjual pernak-pernik khas Tionghoa, hingga lapak ramalan jodoh, karier, dan kesehatan.

Kya-kya Surabaya menjadi salah satu destinasi kuliner malam di Surabaya pada 2003 hingga 2008.
Suasana malam hari saat Kya-kya Surabaya masih buka dulu. Foto: Milik Bappeko.Surabaya.Go.id


Karena dimaksudkan sebagai pusat wisata pecinan, di sana selalu ramai orang berwisata kuliner. Ada pedangan makanan halal dan, tentu saja, ada yang non-halal. Selain itu, ada pula pernak-pernik khas Cina, bahkan peramal-peramal Tionghoa. Lapak peramal ini kono selalu laris, karena banyak yang penasaran.

Sayangnya seiring waktu dan kontrak lokasi, Kya-kya Surabaya meredup setelah lima tahun beroperasi. Pada 2008, tempat ini pun tutup. Ada dua-tiga lokasi yang kemudian mencoba menjadi tempat wisata pecinan, namun Kya-kya memang sebuah fenomena buat ibukota Jawa Timur ini.

Kya-Kya Kembang Jepun ini adalah tempat yang dulunya sangat ramai sebagai pasar malam yang berada di kawasan pecinan di kota Surabaya. Di sepanjang jalan trotoar jalan kembang Jepun berdiri kios kios yang menjual berbagai makanan, baik makanan Tionghoa, maupun berbagai makanan lainnya. Kata “kya-kya” sendiri diambil dari dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Kembang Jepun Surabaya, sebelum Kya-Kya Surabaya dibuka memang mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, sepanjang perjalanan sejarah Surabaya. Banyak pedagang dari pihak asing yang berlabuh di lokasi sekitar Kembang Jepun.

Perjalanan sejarah seakan menorehkan Jalan Kembang Jepun segaris membujur dari timur ke barat kota. Lurus dengan sungai Kalimas, jalan Kembang Jepun lantas menjadi ikon Kota Surabaya yang silih berganti tampilan dengan membawa perannya.

Pada Zaman Belanda, pemerintahan colonial saat itu membagi wilayah ini menjadi dua Kawasan, yaitu Pecinan di selatan sungai Kalimas, dan Kawasan kampung Arab dan Melayu di Utara Sungai Kalimas. Ke dua Kawasan dibatasi oleh Jalan Kembang Jepun Bangsa Belanda sendiri tinggal di Barat Kalimas yang kemudian mendirikan komunitas “Eropa Kecil”.

DI era pemerintahan kolonial Belanda, Jalan Kembang Jepun dulunya disebut sebagai Handelstraat. Handel ini berarti perdagangan dan straat yang berarti jalan. Wilayah ini

kemudian tumbuh sangat dinamis.

Pada zaman pendudukan Jepang lah nama Kembang Jepun menjadi begitu terkenal. Nama Kembang Jepun identik dengan masa itu.

Ketika banyak serdadu Jepang, yang dipanggil warga lokal dengan sebutan Jepun memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini. Pada era di mana banyak pedagang Tionghoa menjadi bagian dari napas dinamika Kembang Jepun, sebuah gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa pernah dibangun di depan jalan ini. Kemudian banyak fasilitas hiburan didirikan.

Letak Kembang Jepun atau yang pernah disebut sebagai Kya Kya Surabaya berada di samping Jembatan Merah. Ini tidak jauh dari Kawasan wisata Religius Makam Sunan Ampel.

Setelah sekitar 12 tahun redup, kini pemerintah Kota Surabaya mencoba menghidupkan kembali Kawasan wisata Pecinan ini. Ini seiring dengan pengembangan wisata Kota Tua Surabaya. Kya-kya Surabaya menjadi bagian dari rencana tersebut.

Bagian-bagian kecil yang ada di kawasan Kembang Jepun akan dicoba dioptimalkan, sehingga Agustus nanti bisa buka. Selain dilakukan penataan, kawasan hiburan Kya-Kya juga akan dilengkapi dengan kuliner khas Tionghoa serta hiburan seni dan budayanya. Pertunjukan yang disiapkan ini dikemas dengan konsep ala Pecinan.

Nantinya, akan tersedia alat transportasi becak untuk melayani para wisatawan. Pengunjung akan diantar untuk menikmati rute destinasi wisata malam di kawasan Kya-Kya hingga Kota Tua.

Dalam perencanaannya, nanti kan ada pula becak yang bisa melayani pengunjung rute destinasi wisata dari Kya-Kya ke Jalan Karet dan Jalan Gula. Jadi, selain street food juga ada kesenian yang kita tampilkan. Misalnya pertunjukan Barongsai, Liang-Liong dan musik ala chinese.

Kya-kya Surabaya akan terkoneksi dengan wisata kota tua Surabaya.
Ilustrasi Nasi empal. Foto: Dok. shutterstock

Untuk kuliner, saat ini di Kawasan Kembang Jepun masih ada jajanan seperti Bakwan Pak Di, atau ada pula Sate Gule Kambing Kembang Jepun. Atau jika mau jalan sedikit ke Jalan Kapasan, yang satu jalur dengan Kembang Jepun, ada pula Warung Asrep yang dikenal dengan Nasi Lodehnya atau Nasi Empalnya. Di daerah ini juga ada Rawon Greget.

Jadi jika Kya-kya Surabaya nanti dibuka lagi pada 17 Agustus 2022, jangan lupa agendakan wisata kulinermu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Pesisir Selatan Minangkabau Dalam 3 hari

Pesisir selatan Minangkabau salah satunya mengunjungi Danau Langkisau

Pesisir selatan Minangkabau dalam 3 hari mungkin bisa menjadi alternatif saat mengunjungi Sumatera Barat. Bagi yang ingin menikmati wisata bahari di provinsi ini, cobalah melipir ke pesisir.

Pesisir Selatan Minangkabau

Berjarak 77 kilometer atau bisa ditempuh sekitar 2-3 jam dari Padang, ada sederet obyek yang menggoda. Mulai bukit hijau, air terjun, hingga pantai. Lumayan komplet. Dikenal dengan Kabupaten Pesisir Selatan atau disingkat Pessel. Dengan penerbangan pagi dari Bandara Internasional Minangkabau, Anda bisa langsung melaju ke kota ini.

HARI PERTAMA

Jembatan Akar

Merupakan jembatan alami dari jalinan akar-akar pohon beringin yang berada di dua sisi sungai yang berlawanan. Terletak di Kampung Pulut, Kecamatan Bayang Utara, Pesisir Selatan, sekitar 65 kilometer dari Padang. Jembatan ini dibuat pada 1916. Di bawahnya mengalir air sungai yang jernih dan sejuk, juga menyegarkan.

Air Terjun Bayang Sani

Dua buah air terjun bisa ditemukan di Kampung Koto Baru, Kecamatan Bayang Utara, hanya berjarak 5 kilometer dari jembatan akar. Air Terjun Bayang Sani tidak jauh dari area parkir. Bagian bawah berbentuk kolam, sehingga pengunjung bisa berenang. Satu lagi berada di posisi lebih tinggi, harus dicapai dengan jalan mendaki sekitar 15 menit, dikenal dengan nama Palangai Gadang.

Sulaman Bayangan

Seperti kota lain, Pesisir Selatan memiliki sulaman khas, yakni sulaman bayangan. Anda bisa menemukan beragam produk dengan sulaman bayangan, seperti kerudung dan mukena, di beberapa toko di Barung-Barung Belantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, ini. Jaraknya sekitar 23 kilometer sebelum masuk ke Kota Painan, Ibu Kota Kabupaten Pesisir Selatan.

Senja di Bukit Langkisau

Painan bisa dijejaki di sore hari. Anda bisa langsung menuju Bukit Langkisau untuk menikmati mentari membenamkan diri. Ada deretan pantai yang menghadap Samudra Indonesia terlihat dari ketinggian. Di akhir pekan biasanya ada para penggemar paragliding dan kegiatan outbound di sini.

HARI KE DUA

Air Terjun Timbulun

Obyek wisata ini hanya 3 kilometer dari pusat kota, mengarah ke perbukitan di utara. Saya pun langsung menangkap kesegaran khas hutan dan perbukitan. Tepatnya di Kampung Painan Timur, Nagari Painan, Kecamatan IV Jurai. Dicapai dengan nyaman karena ada jalan setapak yang tertata sepanjang 500 meter di tengah pepohonan. Hingga tiba di sungai berair jernih dengan bebatuan cokelat, kuning, dan kehijauan. Terlihat di bagian ujung Air Terjun Timbulun yang memiliki tujuh tingkatan, sehingga disebut juga Pincuran Tujuh Tingkat.

Gulai Lokan

Obyek selanjutnya adalah Pantai Sungai Nipah. Meski bisa menikmati debur ombak, tujuan utama saya adalah rumah makan yang berada di tepian pantai. Hanya berjarak 5 kilometer dari pusat Kota Painan, di sini Anda bisa mencicipi hidangan Minang yang berbeda. Bahan utamanya kebanyakan dari laut, selain siput darat yang menjadi ciri khas dan dikenal dengan nama gulai lokan.

Pinukuik

Camilan khas dari kota ini adalah pinukuik Batang Kapas. Dari Sungai Nipah, perjalanan berlanjut ke arah selatan menuju perbukitan. Dalam waktu sekitar 15 menit, Anda akan tiba di depan tumpukan sajian kue putih kecokelatan dengan aroma kelapa yang harum. Bahan utamanya tepung dan kelapa. Adapun kedai kue berada di Jalan Raya Pasar Kuok, Batang Kapas.

Pantai Carocok & Pulau Batu Kereta

Pantai Carocok dan Pulau Batu Kereta yang menjadi tujuan selanjutnya berada di pusat kota. Pulau yang satu ini bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui jembatan yang dibuat memanjang dari Pantai Carocok.

Pulau Cingkuak

Pulau yang satu ini dapat dicapai dengan mudah dari Pantai Carocok, hanya sekitar 10-15 menit berperahu. Tak hanya ada pantai berpasir putih, yang di hari libur banyak dipenuhi pelancong yang bermain, sekadar berenang-renang, juga menaiki banana boat atau snorkeling. Di bagian tengah pulau, terdapat sisa-sisa benteng Portugis.

HERI KE TIGA

Semangki Besar & Semangki Kecil

Pesisir Selatan tak hanya punya Pulau Batu Kereta dan Cingkuak, tapi juga sejumlah pulau. Yang tergolong tak jauh adalah Pulau Semangki Besar dan Semangki Kecil. Terlihat dari Pantai Carocok. Memiliki pasir putih dan pantai yang landai.

Aur Ketek & Aur Gadang

Ingin menikmati pasir pantai yang halus sembari memancing, cobalah berperahu lebih jauh. Dalam satu jam, Anda bisa menemukan Pulau Aur Ketek dan Aur Gadang. Di depan pantai pasir putih dengan air biru tosca, sedangkan di belakang batu karang terdengar terhantam ombak berkali-kali.

Karabak & Penyu

Bila mempunyai waktu panjang, sebenarnya bisa melaju lagi sekitar satu jam lagi untuk melihat penyu di Pulau Penyu. Di sini memang tempat penyu bertelur. Selain itu, ada Pulau Karabak yang memiliki ciri mercusuar. Kedua pulau ini bisa dicapai sekitar dua jam perjalanan dari Pantai Carocok.

Puncak Mandeh

Bila Anda hanya melaju hingga Pulau Aur, tampaknya Anda masih bisa mengejar keindahan sang surya tenggelam di Mandeh, Tarusan. Lokasinya sekitar 56 kilometer dari Padang. Melalui jalur menanjak di perbukitan, sebuah tontonan alam menanti. Laut yang tenang dengan pulau-pulau. Ketika mentari tenggelam, keindahan itu sempurna. l

Rita N./Wisnu AP/Dok. TL

Desa Zaman Megalitikum, 6 Yang Unik

Desa zaman megalitikum ada dari Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Foto: shutterstock

Desa zaman megalitikum ternyata masih tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Mulai dari Sumatera Utara, Jawa, hingga kawasan Nusa Tenggara Timur. Semuanya unik dan layak untuk dukunjungi. Enam di antaranya sudah menjadi desa wisata.

Desa Zaman Megalitikum

Desa wisata menjadi salah satu destinasi yang memegang peranan penting dalam kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia pasca pandemi. Pasalnya, kehadiran desa wisata turut membuka peluang usaha baru bagi para pelaku industri kreatif lokal.

Selain unsur alam, desa wisata di Indonesia juga menonjolkan unsur budaya khas wilayah tersebut. Bahkan, tidak sedikit desa wisata yang memiliki situs peninggalan kuno dari era megalitikum yang menjadi salah satu daya tarik wisata.

Desa Megalitihkum shutterstock
Batu-batu besar umumnya menjadi ciri peninggalan zaman megalitikum. Foto: dok kemenparekraf

Salah satu peninggalan kuno yang banyak ditemui di desa wisata adalah peninggalan zaman megalitikum, yakni berupa batu-batu besar.  Hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia, berikut ini adalah enam desa wisata dengan situs peninggalan megalitikum yang layak dikunjungi.

Desa Adat Bena Bajawa di Flores

Desa zaman megalitikum yang memiliki suasana asri dan eksotis di antaranya adalah Kampung Adat Bena Bajawa di Flores, Nusa Tenggara Timur. Mempertahankan konsep tata wilayah khas megalitikum, rumah-rumah di Kampung Adat Bena Bajawa dibangun mengikuti kontur tanah. Sehingga ketika dilihat dari kejauhan desa wisata ini tampak berundak.

Masyarakat setempat percaya jika Kampung Adat Bena telah ada sejak 1.200 tahun silam. Salah satu buktinya terdapat pada peninggalan megalitikum, berupa batu besar berbentuk lonjong yang dinamakan Watu Lewa. Selain itu ada juga batu berbentuk meja yang diberi nama Nabe. Kedua batu ini digunakan dalam ritual adat masyarakat Bajawa.

Desa Kamal di Jember

Berada di Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur desa wisata ini terdapat beragam jenis batu peninggalan megalitikum yang tersebar di berbagai tempat. Mulai dari persawahan, rumah warga, hingga halaman kantor desa.

Peninggalan megalitikum di Desa Kamal berupa batu kenong, tugu batu, hingga menhir. Batu kenong merupakan jenis peninggalan yang paling unik dari Desa Kamal. Sebutan batu kenong muncul karena tonjolan di bagian atas batu, yang sekilas menyerupai kenong (alat musik gamelan). Hingga saat ini telah ditemukan 59 batu kenong di Desa Kamal.

Masing-masing batuan memiliki satu hingga dua tonjolan. Jumlah tonjolan pada batu kenong punya makna tersendiri pada zaman megalitikum. Batu dengan satu tonjolan melambangkan lokasi penguburan, sedangkan batu dengan dua tonjolan digunakan sebagai alas bangunan rumah.

Kampung Praiyawang di Sumba

Di Sumba terdapat satu desa zaman megalitikum yang sangat menarik untuk dikunjungi, yakni Kampung Praiyawang yang berada di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Sumba Timur. Letaknya sekitar 69 km ke sebelah timur Kota Waingapu.

Jika berkunjung ke desa wisata ini, wisatawan tidak hanya bisa melihat peninggalan megalitikum, namun juga menemukan suasana desa yang kental dengan adat istiadat perkampungan Sumba.

Kesan kuno nan magis di Kampung Praiyawang terlihat dari arsitektur rumahnya dan barisan kuburan tua megalitikum untuk kalangan bangsawan. Pada kuburan batu tersebut terdapat pahatan-pahatan yang menjadi simbol filosofi dari si pemilik makam.

Kampung Siallagan di Pulau Samosir

Batu Kurs Raja Sialagan Infobudaya net
Meja dan kursi Raja Siallagan di Samosir menjadi peninggalan era megalitikum. Foto; Dok infobudaya.net

Dalam bahasa Batak, wilayah ini disebut dengan Huta Siallagan, yang berarti Kampung Siallagan. Terletak di salah satu lokasi Destinasi Super Prioritas, Huta Siallagan konon telah ada sejak ratusan tahun silam.

Kampung Siallagan memiliki luas sekitar 2.400 meter persegi, dan dikelilingi tembok batu yang membentuk pagar setinggi 1,5-2 meter. Berdasarkan cerita turun-temurun, fungsi batu-batu tersebut adalah perlindungan desa dari binatang liar dan serangan suku lainnya.

Selain pagar batu, peninggalan desa zaman megalitikum yang ada di Huta Siallagan berupa batu berbentuk kursi dan meja, yang dulunya digunakan sebagai tempat menghukum para pelanggar adat.

Desa Bawomataluo di Pulau Nias

Desa zaman megalitikum yang juga menyandang status sebagai desa budaya warisan dunia UNESCO ini memiliki peninggalan megalitikum yang ikonik. Peninggalan megalitikum di Desa Bawomataluo disatukan dalam Situs Tetegewo.

Situs ini menyimpan berbagai batu peninggalan megalitikum mulai dari berbentuk meja persegi, tugu, hingga meja bundar. Umumnya batu-batu di Situs Tetegewo digunakan sebagai tempat pesta. Peninggalan megalitikum di Desa Bawomataluo diperkirakan telah ada sejak 5.000 tahun silam.

Desa Patemon di Situbondo

Desa Patemon Situbondo Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo
Batu-batu sisa peninggalan zaman megalitikum di Petemon. Foto: Dinas Pariwisata Situbondo.

Situbondo juga memiliki desa wisata megalitikum bernama Desa Patemon. Di desa ini diidentifikasi sedikitnya terdapat 26 peti jenazah dari batu atau sarkofagus. Serta ditemukan juga sisa perburuan liar pada zaman megalitikum yang terletak di dekat sarkofagus.

Lebih unik lagi, tim peneliti juga menemukan berbagai bekal kubur berupa manik-manik, fragmen gerabah, serta fragmen alat pertukangan dari zaman megalitikum di Desa Patemon, Situbondo.

Itulah enam desa yang memiliki peninggalan megalitikum di Indonesia. Selain berlibur, tentunya berkunjung ke desa zaman megalitikum di atas juga dapat menambah wawasan akan sejarah Indonesia di masa lampau.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****