3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Tahi Gejrot Wardi

3 menu sarapan di Pasar Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, ini terlihat biasa. Mungkin karena sebagian dari kita sudah biasa menikmatinya di kota asal. Mungkin di Jakarta. Atau kota lainnya. Tapi, selalu saja ada nuansa lain ketika menikmatinya di tempat makanan itu berasal. Originalitas, mungkin.

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Di kota Udang ini, banyak makanan khas yang selalu saja ngangeni jika lama tak disantap. Tapi kali ini kita tak bicara makanan besar, seperti layaknya empal gentong atau empal asem yang lebih asyik dimakan siang hari. Kuah yang panas dan sambal… hhff…

Kali ini kita menyambangi Cirebon untuk menikmati sarapan. Denyut kehidupan warga Cirebon, seperti juga di kota-kota lain di Indonesia bisa jadi bermula dari pasar-pasar tradisional. Makanan-makanan ndeso yang maknyus di banyak kota dan jadi klangenan umumnya memang ditemui di pasar tradisional. Di Cirebon, kita bisa menemukannya di pasar Kanoman. Dinamai demikian mungkin karena letaknya yang di depan Keraton Kanoman ini.

Dari sejarahnya, pada zaman Belanda sekitar abad 19, pasar ini dibangun oleh pemerintahan kolonial untuk menggembosi kekuasaan dan wibawa sultan. Para pedagang dari segala penjuru digiring ke pasar tersebut supaya keadaan makin ramai dan eksistensi keraton makin tenggelam. Dari latar cerita yang demikian, tak heran bila kini, di pasar itu terdapat beragam jejak peninggalan sejarah, termasuk kuliner, yang masih bertahan. Berikut 3 kuliner yang layak dicicipi jika mampir ke Pasar Kanoman.

Tahu Gejrot Wardi

Wardi menggelar tampah pikulnya di sudut Pasar Kanoman, tepat di pojok perempatan jalan menghadap ke arah Mall Cirebon. Tampah pikul itu berisi penuh tahu pong dan botol-botol air gula Jawa—disebut juga juruh. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 3.000 biji tahu dan puluhan botol juruh di sana. “Ini pasti habis dalam sehari,” kata pria 40-an itu, yang sedang sibuk membuat ulekan bawang merah dan cabai hijau—bumbu utama tahu gejrot. Bumbu itu ditaruhnya di piring tanah atau layah berkuran segenggaman tangan orang dewasa. Sepuluh biji tahu dimasukkan ke dalamnya, diiris-iris, lantas disirami juruh hingga tampak mengambang memenuhi piring.

Yang namanya tahu gejrot, kata Wardi, sudah mendarah daging buat orang Cirebon. Apalagi buat anak-anak muda. Penganan ini biasanya menjadi teman nongkrong sambil menyeruput teh. “Kalau Manado punya pisang goreng, kami punya tahu gejrot,” katanya.

Dua belas tahun sudah pria itu membuka lapak kecilnya di Pasar Kanoman. Setiap jam tampah pikulnya ramai dikerubuti pengunjung yang kelar belanja. Memang, tahu gejrot Wardi punya rasa yang khas. Apalagi, tak seperti penjaja tahu gejrot lain, Wardi tak memakai bawang putih untuk memberi rasa gurih pada racikannya. Cukup bawang merah dan cabai rawit hijau. “Kuncinya perbanyak bawang merah supaya rasa gurihnya lebih keluar,” tuturnya. Wardi menyediakan kemasan tahu gejrot bungkus buat pengunjung yang kepingin membawanya sebagai oleh-oleh.

Tahu Gejrot Wardi

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga Rp 10 ribu per porsi

Docang, Lontong dan Oncom Bertemu

francisca christy rosana docang 2
Kuliner Cirebon, Docang. Dok. Rosana

Pagi-pagi benar, orang-orang Cirebon gemar menyantap penganan ini untuk menu sarapan, selain nasi Jamblang. Penampakannya sangat sederhana. Dalam sepiring docang, hanya terdapat lontong, bodo atau baceman oncom, irisan daun singkong, tauge, dan kerupuk. Lantas, semua komplemen itu disiram dengan kuah rebusan oncom yang diproses dalam waktu 4-5 jam.

Dilihat sekilas, docang memang mirip dengan lontong sayur. Hanya, kuahnya lebih bening lantaran tidak menggunakan santan. Rasanya juga tak macam-macam karena tak kaya bumbu. Orang Jawa bilang, masakan ini cenderung tercecap anyep. Juga, ada rasa getir yang tersisa di lidah setelah sesuap docang masuk ke perut.

Kendati punya rasa dan penampakan yang sangat sederhana, docang memiliki jejak histori yang tak main-main. Makanan ini oleh warga setempat dipercaya sebagai penganan para wali zaman dulu. Racikan sederhana ini disesuaikan dengan kehidupan para penyebar agama yang penuh keprihatinan.

Docang mulai sulit ditemukan di Cirebon. Orang-orang setempat bilang, tak banyak yang bisa atau mau memasaknya. Di Pasar Kanoman, makanan ini hanya dapat ditemukan di depan deretan warung oleh-oleh di sebrang gapura utama.

Docang Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 12 ribu

Buka mulai pukul 06.00-10.00

Apem yang Tak Manis

Lain Jawa Tengah, lain lagi Jawa Barat. Lain bahasanya, lain pula karakter penganan daerahnya. Apem, misalnya. Jawa Tengah punya jajanan ini. Jawa Barat pun demikian. Sama bentuk dan penampakan luarnya. Bahan dasarnya juga tak jauh beda. Namun keduanya memiliki rasa yang berlainan. Di Jawa Barat, apem, yang umum dijual para penjaja penganan tradisional, punya rasa yang gurih dan cenderung asin. Berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki rasa manis.

Namun, kala bertandang ke Pasar Kanoman, perpaduan lidah Sunda dan Jawa justru tercitra dari makanan yang punya wujud bulat tersebut. Lantaran berada di wilayah pertemuan dua masyarakat dari kelompok yang berbeda ini, apem, sebagai makanan tradisional, pun terdampak akulturasi. Apem di Cirebon memiliki padanan rasa yang gurih bercampur manis. Manisnya berasal jadi air gula Jawa yang disiramkan di atasnya. Kala menyantap apem Cirebon, yang terbayang adalah pertemuan lidah Sunda dan Jawa dalam sebuah produk budaya.

Jajanan Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 6.000

F. Rosana

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi, mungkin ini jarang dibayangkan orang tentang ibukota Sulawesi Utara itu. Kulinari Manado, tentu saja, dipersepsi banyak orang dari luar wilayah ini adalah masakan-masakan eksotis. Kita mungkin akan membayangkan Pasar Beriman Tomohon. Tapi, kopi?

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Dalam beberapa tahu terakhir ini, sesungguhnya kota Manado mulai dibanjiri warung-warung kopi. Ini terjadi seiring dengan hadirnya tempat-tempat nongkrong anak muda di sana. Misalnya saja, di kawasan perekonomian Gunung Mas. Atau tempat yang sering disebut boulevard.

Ada yang warung kopi biasa, tapi tak kurang kafe-kafe kopi modern. Ini memunculkan kebiasaan atau coffee culture baru di sini. Bersosialisasi seraya mencecap secangkir kopi.

Gaya ini segera saja meluas ke belbagai kota di sekitar Manado, termasuk Tomohon. Di tanah yang dingin itu, kopi menjadi sahabat pergaulan.

Jika sempat mampir ke Manado, ada beberapa pilihan kedai kopi yang layak dikunjungi sambil menikmati kota Tinutuan ini.

Secangkir Kopi Para Egalitarian

Ada sebuah gang kecil bernama Jalan Roda bila pelancong menjejakkan langkah 500 meter dari Zero Point Manado. Namun, kalau tak teliti betul, Warung Jarod—begitulah warga sekitar biasa menyebut— yang terletak di area Pecinan, tidak bakal tampak. Sebab, muka gang dipenuhi oleh parkir kendaraan roda dua. Gang itu juga bukan jalan lalu lintas umum. Keberadaannya sudah disulap menjadi tempat nongkrong.

Tepat di badan gang, kursi-kursi plastik dan meja kayu ditata memanjang. Dari pangkal sampai ujung, kedai-kedai sederhana berdiri. Seluruhnya menjajakan kopi, juga pisang goreng sambal roa khas Negeri Celebes. Aroma khas biji kopi Kotamobagu yang sudah dihaluskan merebak memenuhi gang, mulai pukul 7 pagi hingga tengah malam.

Pengunjung yang datang tak terbatas pada kalangan tertentu. Pejabat, pegawai negeri sipil, anak muda, ibu rumah tangga, buruh kasar, dan pengangguran, semua terlibat dalam obrolan satu meja. Sembari meneguk kopi seharga Rp 6.000 yang nikmat, juga pisang goreng Rp 10 ribu per 20 biji, mereka riuh membicarakan isu-isu terhangat. Soal politik, ekonomi, budaya, hingga gosip para pemeran opera sabun. Warkop Jarod, nama bekennya, mencitrakan sebuah tempat ngopi yang egaliter: tak membedakan kelas, meleburkan semua status sosial.

Warkop Jarod

Alamat: Jalan Roda, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Kopi, Musik, dan Senandung Para Dara

Lain Warkop Jarod, lain pula Rumah Kopi Billy. Kafe sederhana yang sudah 5 tahun berdiri, dan berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Manado, itu jadi tempatnya anak muda mengobrol santai sembari berbagi canda. Tak tampak wajah-wajah separuh baya menduduki kursi. Pun begitu dengan ibu-ibu rumah tangga. Semuanya berwajah 20-30-an. Sambil mengobrol, suara-suara merdu pengamen, yang umumnya mahasiswa mencari dana untuk kegiatan, memenuhi ruangan. Gerombolan silih berganti. Mayoritas yang bersenandung adalah dara-dara manis, sementara para pria bertugas menabuh cajon atau memetik gitar.

Suasana makin cair ditemani secangkir kopi. Sama dengan Warkop Jarod, kopi di sini menggunakan kopi asli Kopikotamobagu. Kopi robusta itu rasa dan aroma khas. Nikmat disantap bersama susu kental manis. Perpaduan gurih, manis, dan pahit bercampur, layaknya obrolan yang terceletuk dari muda-mudi yang mengobrol seru di tempat itu.

Umumnya, kopi seharga Rp 9.000 ini enak disantap bersama pisang goroho goreng seharga Rp 20 ribu atau mi cakalang seharga Rp 18 ribu. Kenikmatannya mencapai puncak kala kopi disajikan bersama klapertart khas Manado yang bisa dibeli di tempat terpisah, misalnya di Klapertart Chstine, yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso.

Bila Rumah Kopi Billy di Jalan Sam Ratulangi penuh, pengunjung bisa beranjak ke cabangnya yang terletak di Jalan 17 Agustus.

Rumah Kopi Billy

Jl. Sam Ratulangi No.134, Titiwungan Utara, Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara

Minum Kopi Berlatar Danau Linow

Minum kopi saja sudah nikmat, apalagi sambil memandang lanskap yang menawan. Di kompleks wisata Danau Linouw, terdapat restoran yang menyajikan hidangan utama kopi Kotamobagu dan pisang goroho tepung goreng. Ada juga pisang spatu yang jadi pemanis. Kedai cukup mewah itu tak bernama. Namun orang sering menyebutnya Kafe atau Restoran Linow.

Pemilik, yang juga seorang aktivis keagamaan, mengelola restoran sekaligus danau. Jadi, pengunjung cukup membayar Rp 25 ribu untuk secangkir kopi Kotamobagu sekaligus sebagai dana retribusi masuk danau. Sementara, pisang goreng dijual Rp 25 ribu per piring.

Di muka danau, kopi yang memang sudah memiliki citra rasa legit, terasa tambah nikmat. Menyeruput secangkir, sembari memandang keindahan bentang alam, serta bukit yang mengelilingi, menjadi cara untuk menyempurnakan liburan di Tomohon.   

Restoran Danau Linow

Alamat: Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

F. Rosana

Tengkleng Solo, Dicecap Mulai Abad 19

Tengkleng Solo berawal dari tulang kambing yang tak disukai orang Belanda.

Tengkleng Solo adalah makanan khas kota ini, tampilannya mirip gulai kambing. Tentu ada bedanya, bahan dasar tengkleng adalah tulang belulang dan jeroan. Kuahnya juga lebih encer dibandingkan gulai daging kambing.

Tengkleng Solo


Tulang belulang kambing yang diolah menjadi masakan dan disukai orang memang unik. Ini ada latar belakangnya. Tengkleng Solo mulai dikenal ketika Indonesia masih dalam zaman kolonialisme Belanda di abad 19.

Dari catatan Wikipedia, sajian tengkleng muncul karena dulu para bangsawan dan orang-orang Belanda saja yang bisa menikmati gulai daging kambing. Sedangkan para pekerja dan tukang masak hanya kebagian kepala, kaki, tulang, dan jerohan saja.

Sementara versi lain menyebut, tengkleng lahir di era pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu terjadi kesulitan mencari bahan pangan. Untuk bertahan hidup, masyarakat terpaksa mengolah limbah bahan pangan seperti tulang belulang dan jeroan kambing.

Tengkleng Solo lahir menjadi kulinari karena kreatifitas orang Solo terhadap bahan pangan.
Semangkok tengkleng Solo bisa menjadi teman yang hangat. Foto: shutterstock

Namun kreatifitas orang Solo memang luar biasa. Para tukang masak tak kehilangan akal, mereka mengolah bahan-bahan tersebut menjadi makanan yang sedap dengan banyak bumbu. Justru ciri khas utama Tengkleng adalah pada bahan dasarnya.

Bahan utama tengkleng adalah tetelan atau tulang belulang kambing beserta bagian-bagian tubuh kambing yang tak diinginkan bangsawan pada masa itu. Kulit, jerohan, kaki, tulang-tulang iga, bahkan kepala kambing.

Tulang dan jeroan kambing itu dimasak dengan bumbu yang ada seperti kelapa, kunyit, serai, jahe, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kayu manis, cengkeh, garam, bawang putih, bawang merah, pala, dan kemiri. Kuah gulai yang tidak begitu kental dengan kaldu tulang memberikan citarasa lebih nikmat jika dibandingkan gulai daging kambing biasa.


Nama tengkleng sendiri juga muncul pada zaman itu, di mana banyak warga masyarakat makan menggunakan piring dari kaleng atau seng. Masakan yang terdiri dari tulang-belulang itu bertemu dengan piring seng menimbulkan bunyi “kleng-kleng-kleng”.

Meski berawal dari sejarah yang kurang enak, tengkleng justru tumbuh menjadi salah satu makanan khas Solo. Tengkleng Solo digemari bukan saja oleh warga lokal, tapi juga wisatawan pemburu makanan enak.
Lalu kalau wisatawan mencari tempat makan tengkleng Solo yang paling enak, kemanakah pilihannya? Berikut lima pilihannya.

Tengkleng Solo berkembang menjadi kuliner dengan aneka pilihan daging atau bahannya.
Sepincuk tengkleng dari Warung Bu Edi Pasar Klewer. Foto: Milik Kompas

Tengkleng Klewer Bu Edi

Ini warung tengkleng Solo yang legendaris, wisatawan wajib mampir ke kedai makan milik Bu Edi. Tengkleng di sini sudah menjadi favorit masyarakat Solo sejak 1970-an.

Keunikan tengkleng di sini adalah cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang dipincuk. Warung Tengkleng Bu Edi berlokasi di Pasar Klewer, Gajahan, atau tepatnya di Jalan DR. Radjiman, Kauman, Ps. Kliwon, Surakarta.

Harga yang ditawarkan untuk satu porsi tengkleng Solo paling enak sangat murah yaitu 25 ribu saja. Pengunjung bisa menikmati tengkleng istimewa ini setiap hari mulai pukul 12.00 sampai 16.00 WIB .

Warung Tengkleng Bu Pon

Daging kambing memiliki bau yang khas sehingga banyak orang enggan mengkonsumsi olahan kuliner ini. Padahal, citarasa daging kambing tidak kalah enak dengan daging lain.Tapi cobalah tengkleng kambing yang memiliki rasa istimewa di Tengkleng Bu Pon

Warungnya berlokasi di Shelter Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi, Surakarta. Mereka buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB. Harga seporsi makanan lumayan terjangkau kantong pelajar dan mahasiswa alias sekitar 25 ribu rupiah saja.

Tengkleng Bu Pon ini memiliki varian sangat lengkap mulai iga, sumsum atau bagian kepala kambing yang khas. Sensasi rasa menikmati tengkleng Solo paling enak Bu Pon juga bisa disesuaikan dengan selera pengunjung. Mau level lebih pedas dan panas? Konsumen bisa meminta tambahan cabai rawit lebih banyak.

Kedai Tengkleng Bu Jito Dlidir

Salah satu rekomendasi tengkleng Solo yang tak kalah enak dan popular di kalangan masyarakat Solo adalah tengkleng Bu Jito Dlidir. Istimewa karena memiliki citarasa kuah yang gurih. Rasa rempah yang kuat akan membuat pecinta kuliner kambing langsung jatuh cinta dengan olahan tulangannya.

Di sini selain tengkleng, pengunjung juga bisa menikmati aneka masakan lain seperti sate, gulai, dan tongseng kambing. Harga yang dibandrol di sini berkisar mulai 20 ribu ke atas sesuai menu yang dipesan.

Warung ini berlokasi di kawasan Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 67, Kadipiro, Surakarta. Buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00 WIB.

Warung Tengkleng Pak Manto

Ini pilihan untuk mereka yang ingin mencoba sensasi pedas. Wisatawan wajib datang ke Tengkleng Rica Pak Manto. Menu tengkleng Solo paling enak di sini memang ditawarkan khusus untuk para pecinta pedas.

Penyajian yang berbeda dengan citarasa sedap tak kalah dengan rasa tengkleng biasa. Dijamin pecinta kuliner bakal ketagihan menikmati setiap gigitan rica daging kambing di tempat Pak Manto ini.

Atau, jika ingin menikmati tengkleng dengan rasa yang berbeda, tapi tak suka sensasi pedas, pengunjung bisa memesan tengkleng goreng yang lebih diterima lidah.

Alamat tengkleng Solo Pak Manto ini berada di Jalan Honggowongso Nomor 36, Sriwedari, Laweyan. Mereka buka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam. Harga satu porsi tengkleng di tempat Pak Manto sekitar 30 ribu rupiah.

Tengkleng Kepala Kambing Mbak Diah

Tertarik mencoba tengkleng kepala kambing yang anti mainstream? Anda harus mencicipi seporsi tengkleng di Desa Tanjunganom ini. Kuah yang begitu gurih dengan citarasa kuat membuat Tengkleng Mbak Diah digandrungi banyak orang.

Porsi melimpah bisa dinikmati pengunjung dengan mengeluarkan uang sebesar sekitar 25 ribu rupiah saja untuk satu porsi. Warung Tengkleng Mbak Diah berlokasi di Desa Tanjunganom RT 002/RW 001, Kwarasan, Grogol, Tj. Ongih, Sukoharjo.

Ayo kapan ke Solo dan menikmati tulang kambing yang maknyus.

agendaIndonesia

*****

Di Pasar Kranggan Yogya Menyantap 3 Kuliner Ndeso

Jogja Travel Mart 2022 mempertemukan buyer dan seller--FotoYogyakarta iStock

Di Pasar Kranggan Yogya menyantap 3 kuliner ndeso pada pagi hari sungguh sebuah perjalanan menikmati Yogyakarta. Konon sebuah kota bisa dipelajari dari lanskap makanan jalanan atau penganan di pasar tradisional. Dan, jajanan pasar memang selalu bikin kangen, selain tentunya bikin kenyang.

Di Pasar Kranggan Yogya

Pasar memang tempat semua hal berkumpul, termasuk deretan hidangan. Tak terkecuali di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di pagi hari, selain urusan belanja kebutuhan sehari-hari, sejatinya kita bisa mencecap sejumlah makanan yang enak. Meskipun jenisnya “cuma” kuliner ndeso Yogya.

Ada yang ringan dan hangat, seperti wedang tahu, menu sarapan gandos rangin, atau yang mengenyangkan semisal soto. Cukup lengkap!

Kehangatan Sereguk Wedang Tahu

Wedang Tahu Pasar Kranggan
Menikmati kuliner ndeso, Yogyakarta wedang tahu. Dok. TL

Di perempatan Jalan Kranggan, Yogyakarta, ada sebuah gerobak kecil berwarna merah dengan kain rentang bertuliskan “Wedang Tahu Jogja”. Aromanya menggoda. Tak tahan segera memesan. Dan kuah kecokelatan yang disiram mangkuk putih berornamen merah khas Tionghoa langsung membikin ngiler. Hangatnya wedang sudah tercitra sebelum minuman itu masuk ke tubuh. Kenikmatan makin genap kala bahan utama sari tahu diciduk dari kuali. Teksturnya lembut dan kenyal saat disendok. Sekali regukan, wedang dipercaya dapat mengusir masuk angin.

Yang membikin warung ramai, selain unik, adalah keramahan si empunya lapak. Sukardi tak pelit ilmu. Kepada siapa pun ia berbagi resep. “Sari kedelai di-blender, diperas, lalu dikasih campuran pengental. Itu sudah langsung jadi. Tinggal tambah kuahnya, pakai racikan rempah-rempah biasa. Jahenya pakai yang emprit, kecil tapi pedas. Oh iya, kedelainya pakai yang impor dari Amerika, kalau lokal, sulit dijumpai di pasar,” tuturnya mencerocos.

Perempuan yang sudah punya lima cabang warung itu mengaku belajar dari majikannya dulu yang keturunan Tionghoa. Minuman ini memang dari Negeri Bambu. Sejak akhir abad ke-19, para imigran asal Cina yang bertandang ke Indonesia mendobrak cara orang mengkonsumsi tahu dengan suguhan berupa minuman hangat.

Wedang Tahu Bu Sukardi

Jalan Kranggan Nomor 75, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta,

Buka pukul 06.30-09.00

Harga Rp 6.000 per mangkuk

Babad Semangkuk Soto Sampah

Bukan berarti komponennya terdiri atas bahan-bahan sisa makanan, tapi terselip cerita khusus di baliknya. “Yang memberi nama soto sampah justru pelanggan, karena dulu di depan warung ini ada bak sampah besar,” tutur Fina Kurniawati, generasi kedua pemegang tampuk kepemimpinan warung yang berdiri pada 1970-an itu. Tapi bisa jadi karena lauknya beragam, yang bila diteropong dari jauh, wujudnya mirip meja yang berserakan sampah makanan. Maklum, ada sekitar 30 pilihan, di antaranya sate usus, telur puyuh, ayam, paru goreng, jeroan, dan aneka gorengan.

Soto berkuah bening dengan nasi yang dicampur di dalam mangkuk. Isinya pun standar, seperti kubis, bihun jagung, bawang goreng, seledri, dan taoge pendek. Yang membikin spesial dagingnya. Bukan daging ayam atau daging sapi yang dipilih, melainkan tetelan yang membuat kaldu terasa gurih. Warung buka hingga dinihari, atau 20 jam dalam sehari. Hanya dipatok Rp 5.000 per mangkuk. Sedangkan lauk-pauk dibanderol mulai Rp 1.000 hingga Rp 5.000.

Soto Sampah Kranggan

Jalan Kranggan Nomor 2, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-03.00

Harga Rp 5.000 per mangkuk soto

Alih Budaya Si Legit Gandos

Kue pancong namanya di Jakarta. Masyarakat Betawi menggubahnya dari kelapa, tepung beras, dan gula. Namun di Bandung disebut bandros. Lantas di Yogyakarta, dikenal sebagai gandos rangin. “Bahannya sama, hanya rasanya disesuaikan dengan masyarakat setempat. Kalau di Yogya, karena orang-orangnya suka manis, adonannya diberi banyak gula,” tutur Siti Kholimah, perempuan 35 tahun yang membuka lapak di perempatan Pasar Kranggan.

Puan keturunan Sunda-Jawa itu menyebut kelapa yang dipakai yang masih muda, lantas diparut. Selanjutnya, semua bahan dicampur, dibubuhi air secukupnya. Sesudahnya, tinggal dimasukkan ke cetakan hingga warnanya menjadi kecokelatan. Setelah matang, umumnya, orang Sunda memberi tambahan saus gula merah. Masyarakat Jawa menyebutnya juruh. “Kalau di Yogyakarta sih biasanya hanya pakai taburan gula pasir,” ucap Siti. Menjadi favorit untuk sarapan. Harganya dibanderol Rp 5.000 untuk sepuluh potong kue. Tak heran kalau gerobak sederhananya sejak 1999 diburu warga.

Gandos Rangin Siti

Perempatan Pasar Kranggan, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-10.00

Harga Rp 5.000 per sepuluh potong

F. Rosana/Hindra/TL

Mangut Lele Mbah Marto, Diasap Sejak 1960

Mangut Lele Mbah Marto di Bantul menjadi pilihan kuliner ketika ke kota pelajar ini. Foto: Kompas

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu kuliner klangenan di Yogyakarta, khususya di Kabupaten Bantul. Mangut sendiri merupakan masakan khas Mataraman atau sekitar daerah Jogja, Solo, Semarang, dan Kendal yang sangat terkenal.

Mangut Lele Mbah Marto

Sejatinya masakan seperti apakah mangut ini? Untuk orang Jawa daratan, menu olahan ikan lele ini untuk menambah variasi masakan berbahan ikan. Di sana ada bumbu-bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, dan jahe.

Semuanya diulek menjadi satu. Bumbu yang dihaluskan dengan proses ulek tentunya akan mengeluarkan minyak alami dari bahan-bahan mentah yang akan membuat bumbu lebih beraroma.

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu ikon Kabupaten Bantul, selain ada Parntai Parangtritis dan lainnya.
Pantai Parangtritis ikon wisata di Bantul, selain ada Mangut Lele. Foto: shutterstock

Proses selanjutnya adalah menumis bumbu yang telah dihaluskan tadi bersama dengan gula merah, cabai merah besar, daun salam, daun jeruk, serai, serta lengkuas. Bila sudah wangi ditambahkan santan, berikut lelenya.

Makanan mangut tentu saja sesungguhnya tidak menjadi monopoli lele, bisa saja menggunakan ikan lain atau bahkan ayam. Namun olahan ikan lele dengan bumbu santan yang gurih, biasanya dengan kuah pedas ini sungguh  menerbitkan selera.

Dan berbeda dengan mangut lele daerah lain, di Bantul lele yang akan dibuat mangut biasanya diasapi terlebih dahulu. Setelah itu baru dimasak dengan bumbu-bumbu tadi.

Di warung Mangut Lele Mbah Marto, ikan lele dalam masakan mangut lele diasap bukan digoreng. Tujuannya agar lele lebih tahan lama dan tidak cepat tengik.

Selain itu, hasilnya ada aroma khas yang smoky den tekstur kenyal daging lele yang tetap terjaga. Rasanya menjadi semakin sedap setelah dimasak dengan santan dan bumbu mangut.

Mangut Lele Yogya Sajian Sedap
Mangut adalah pilihan lain mengolah dan menikmati lele. Foto: milik sajian sedap.id

Salah satu tempat terbaik untuk menikmati mangut lele asap di Yogyakarta tentu saja di Warung Mangut Lele Mbah Marto di Bantul. Warungnya  berada di tengah desa dan untuk mencapainya cukup sulit, karena mencari lokasinya agak tersembunyi.

Lokasi persisnya cukup nyempil alias bersembunyi di tengah kampung. Dapur asli Mangut Lele Mbah Marto ini tepatnya berada di Jalan Sewon Indah RT 04, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada petunjuk arah, saat pelancong masuk dari Jalan Parangtritis.

Mbah Marto sudah mulai berjualan mangut lele di Bantul ini sejak 1960. Ia kemudian tumbuh menjadi kuliner yogya yang legendaris dan termasyhur. Banyak pencinta kuliner yang jauh-jauh datang untuk menikmati makanan bercita rasa pedas itu.

Belakangan, sejak beberapa tahun lalu, ada tiga rumah makan yang sama-sama mengklaim sebagai penerus mangut lele Mbah Marto sehingga kadang membuat pelanggan bingung. Tapi sudahlah, cobalah ke semuanya dan tentukan mana yang paling enak.

Masakan ini cocoknya dimakan untuk makan siang. Meski bisa saja dimakan malam. Jika mampir ke Warung Mangut Lele Mbah Marto menjelang maka siang,akan terlihat asap-asap dari sisa pengasapan lele dan pemasakan  berdesakan keluar dari dapur yang berukuran sekitar 4×4 meter melalui lubang-lubang ventilasi.

Dapur Mangut Lele Mbah Marto IG%40backpackerid
Suasana dapur Mangut Lele Mbah Marto. Foto: milik IG @backpacker.id

Suasana dapur cukup ramai, terutama ketika jam makan siang, meski masakan-masakan utama sudah siap saji, ada saja masakan tambahan yang dikerjakan asisten warung ini. Banyak juga pembeli yang langsung mengambil lauk di dapur ini.

Di warung Mbah Marto ini, pengunjung memang diperbolehkan masuk ke dapur untuk mengambil makanan sendiri. Terserah mau mengambil lauk atau sayur yang mana, atau lele mau dipadukan dengan beberapa sayur juga boleh, asal nanti ketika membayar disebutkan tambahan lauk yang dipakai.

Orang yang membantu memasak terlihat sesekali mengaduk isi beberapa panci berukuran besar di atas tungku. Atau memasukkan kayu ke tungku agar api tidak mati. Dinding batu bata di seputar dapur itu telah berubah menjadi hitam karena jelaga perapian.

Di dapur itu juga terlihat meja atau lincak bambu dengan nasi di bakul besar yang bisa diambil sendiri pembeli. Lalu ada baskom-baskom yang berjejer berisi sayur dan lauk. Ada setidaknya enam baskom berisi mangut lele, gudeg, krecek, telur dan tahu areh, juga ayam opor, dan lainnya.

Suasana di dapur Mangut Lele Mbah Marto ini memang benar-benar tradisional. Mungkin itu yang membuat para pemburu kuliner tidak terlalu bermasalah untuk blusukan ke tempat makan ini demi bisa berburu menu andalan warung Mbah Marto yaitu mangut lele.

Cobalah jika mampir ke Yogyakarta, arahkan tujuan ke selatan kota ini, ke Bantul dan mencoba mangut lele khas mbah Marto ini. Satu porsi mangut lele ini biasanya dibanderol dengan harga kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung jumlah ikan.

agendaIndonesia

*****

Nasi Goreng Babat Pak Karmin, Lezat 5 Dekade

Nasi Goreng Babat Pak Karmin Semarang jadi salah satu kuliner legendaris

Nasi goreng babat Pak Karmin sudah selayaknya disebut sebagai salah satu ikon kuliner kota Semarang. Maklum, usaha kuliner ini sudah eksis di ibukota provinsi Jawa Tengah tersebut sejak lima dekade lalu. Dan, ini yang perlu dicatat, masih kondang diburu penggemar kuliner hingga kini.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Berbicara budaya kuliner di tanah air, nasi goreng rasanya sudah erat menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Nasi goreng telah menjadi ikon kuliner nasional yang dianggap begitu identik dengan Indonesia, bahkan di kalangan masyarakat dunia.

Dengan budaya orang Indonesia yang suka makan nasi sehari-hari, maka menyantap nasi goreng dianggap sudah menjadi hal biasa. Baik itu memasak sendiri, maupun membeli dari penjaja nasi goreng yang menjamur dan mudah ditemukan.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin menjadi salah satu ikonik Semarang, selain Tugu Muda dan Lawang Sewu.
Tugu Muda salah satu ikon kota Semarang. Foto shutterstock

Seiring berjalannya waktu, nasi goreng kemudian berevolusi dengan jenis-jenis yang berbeda dan beragam kreasi baru yang unik. Ada yang menambahkan nasi goreng dengan sosis, petai, daging buntut sapi, racikan ikan asin, dan sebagainya.

Dari bermacam-macam kreasi unik tersebut, salah satu yang cukup tersohor adalah nasi goreng babat, yang populer di kota lumpia itu. Sukarmin, atau yang akrab dipanggil pak Karmin, adalah yang turut berandil mempopulerkan resep nasi goreng babat tersebut.

Usaha nasi goreng Pak Karmin sudah berdiri sejak 1971. Kala itu, dirinya masih berusia 22 tahun, baru saja menikah dan punya anak. Berbekal resep turun temurun keluarganya, ia memutuskan untuk membuka warung nasi goreng yang terletak di dekat jembatan Mberok. Di dekat kota lama Semarang.

Awalnya, usaha tersebut tak mendatangkan keuntungan yang banyak, lantaran tak begitu ramai diminati dan minim pelanggan. Tak mau menyerah, Sukarmin lantas mencoba berinovasi dengan nasi goreng buatannya. Kali ini ia menambahkan racikan babat.

Dalam khasanah kuliner Indonesia, babat merupakan salah satu bagian tubuh sapi yang cukup sering dijadikan bahan makanan. Salah satu masakan babat yang cukup populer adalah babat gongso, yang kebetulan juga termasuk kuliner klangenan di Semarang.

Sejatinya, gongso dalam bahasa Jawa adalah sebuah istilah untuk masakan tumis, nyemek atau setengah kering. Sehingga babat gongso pada dasarnya adalah babat yang dimasak dengan cara menumisnya dengan bumbu seperti bawang putih, bawang merah, cabe merah dan kecap.

Membuat babat gongso tak terlalu sulit, karena racikan bumbunya cukup mudah untuk dibuat. Tetapi untuk membuat babat nikmat untuk disantap, perlu dipersiapkan terlebih dulu dengan cara merebusnya. Semakin lama direbus, babat akan semakin halus dan empuk.

Babat gongs Semarang merupakan kuliner kota ini yang wajib dicoba.
Babat gongso di Semarang menjadi sejoli dengan nasi goreng babat. Foto: shutterstock

Hal yang sama juga dilakukan oleh Sukarmin. Sebelum dimasak, babat dicuci dulu hingga berulang kali, agar terasa halus dan bersih. Setelahnya, bagian babat kemudian dipisahkan antara yang sudah halus dengan bagian yang dirasa masih agak kasar.

Bagian babat yang halus lantas direbus dulu dalam kurun waktu setidaknya tiga jam. Adapun untuk beberapa bagian babat yang lebih kasar akan direbus sampai sekitar delapan jam, agar benar-benar menjadi empuk.

Potongan babat tersebut kemudian diracik dengan bumbu-bumbu yang digunakan untuk membuat babat gongso. Namun, alih-alih menumisnya untuk menjadi babat gongso, ia kemudian menyampurkannya ke dalam nasi goreng.

Tak ayal, cita rasa nasi goreng tersebut semakin bertambah dengan sensasi pedas dan manis yang berpadu nikmat. Dari sinilah, nasi goreng babat pak Karmi mulai mendapat perhatian lebih, dan perlahan pelanggan dan pelancong yang penasaran mulai berdatangan.

Ia bahkan kemudian turut menjajakan babat gongso buatannya sebagai menu lauk yang terpisah. Belakangan, menu babat gongso tersebut turut menjadi populer dan kian menambah ramai warungnya.

Nasi goreng babat, ketika babat gongso dikolaborasika dengan nasi goreng.
Nasi goreng babat tengah dimasak. Foto: dok. Paxels

Kini, Suhari sang generasi kedua dari usaha ini yang terus melanjutkan aktivitas bisnis warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin tersebut. Dalam sehari, mereka bisa menjual setidaknya sebanyak 600 piring. Oleh karenanya, kemudian dibukalah cabang di jalan M.H. Thamrin, Semarang, untuk dapat mengakomodasi ramainya pengunjung.

Harga satu porsi nasi goreng babat pak Karmin pun terbilang masuk akal. Seporsi nasi goreng babat dihargai Rp 25 ribu, atau Rp 28 ribu kalau pakai tambahan telur dadar maupun ceplok. Pengunjung juga bisa meminta tambahan seperti petai, serta mengatur level rasa pedas sesuai selera.

Sementara kalau ingin mencoba babat gongso, disarankan untuk membeli satu porsi dengan nasi putih hangat dan telur dadar atau ceplok sebagai teman makannya. Harga seporsinya dibandrol Rp 33 ribu.

Bagi yang mungkin tidak begitu menyukai babat, tersedia pula menu-menu seperti nasi goreng ayam, nasi goreng telur, serta racikan ayam atau telur yang digongso. Harganya berkisar dari Rp 18 ribu hingga Rp 28 ribu.

Warung nasi goreng babat pak Karmin sehari-harinya buka dari jam 08.00 hingga jam 22.00, tetapi disarankan untuk datang lebih awal saat waktu makan siang dan malam. Membludaknya pengunjung, terutama saat hari libur, berpotensi sulit mendapat tempat duduk dan kehabisan.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Jl. Pemuda no. 2, Semarang

Jl. MH. Thamrin no. 84, Semarang

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Solo dan 4 Pilihan Kulinernya

Penjaja makanan di Pasar christian siallagan unsplash

Solo dan 4 pilihan kulinernya. Mulai dari sarapan, makan siang, hingga nglaras sambil makan malam. Orang Solo, seperti juga orang Yogya, senang memanjakan lidahnya. Aksi goyang lidah ini dimulai dari usai subuh, hingga tengah malam menjalang.

Solo dan 4 Pilihan Kulinernya

Solo dan 4 pilihan kulinernya. Mulai dari sarapan, makan siang, hingga nglaras sambil makan malam. Kali ini bukan tengkleng dan sate buntel yang sudah terkenal itu. Ini ada 4 pilihan kuliner yang segar dan sedap, seperti pecel, soto, dan selat. Tentu masih ada pilihan nasi liwet untuk malam hari.

Soto Gading

Jika Anda mengunjungi Solo dan sampai masih dini hari, sementara acara utama masih dua-tiga jam lagi, ini kesempatan menikmati sarapan di kota Batik ini. Pilihan pertamanya adalah soto Gading. Kuah panasnya bisa menghangatkan pagi Anda.

Harganya, seperti juga banyak makanan kota ini, tak sampai puluhan ribu. Namun ia sudah kadung menjadi klangenan para petinggi negeri hingga pesohor. Sederet nama presiden Republik Indonesia dikabarkan gemar menyantap soto gading kala berdinas ke Solo.

Soto berkuah bening ini berisi nasi putih, lembaran sohun, dan suwiran ayam. Tampak sederhana, tapi kuah soto terasa segar dan ringan di lidah. Warung soto ini juga menyediakan berbagai sate sebagai tambahan lauk, seperti sate paru, babat, kikil, usus, dan sebagainya. Walaupun selalu ramai dikunjungi saat jam makan siang, Anda tak perlu khawatir, warung ini memiliki ruangan yang cukup besar.

Soto Gading
Jalan Brigjen Sudiarto Nomor 75, Pasar Kliwon

Solo

Buka mulai pukul 06.00-15.30

Pecel Solo 1
Solo dan 4 pilihan kulinernya. dok TL

Pecel Ndeso

Jika soto masih terlalu berat, wisatawan bisa memulai paginya di Solo dengan sepiring pecel dan segelas teh hangat. Pilihannya adalah Pecel nDeso. Pecel ini dihidangkan dengan nasi merah di atas selembar daun pisang. Sayuran seperti kenikir, taoge, kacang panjang, dan jantung pisang menjadi bahan utamanya.Di Warung Tempoe Doeloe, ada pula lauk sebagai temannya, seperti tempe bacem, berbagai olahan telur, juga sambal goreng ati.

Yang menjadi ciri khas adalah bumbu yang biasanya berbahan dasar kacang digantikan wijen hitam. Jadi jangan kaget bila penampakan nasi pecel lebih legam. Namun soal rasa tak perlu diragukan lagi. Sepiring pecel ndesotanpa lauk dihargai belasan ribu saja.

Waroeng Tempo Doeloe

Jalan Dr Soepomo Nomor 55, Pasar Beling

Solo

Buka pukul 07.30-16.00 dan pukul 18.00-24.00

Selat Bestik

Sore hari ingin menyantap makanan yang tak terlalu berat di perut? Cobalah mampir ke Warung Mbak Lies. Di sini ada sederet hidangan selat, sup, dan bestik yang cukup ringan dikudap sebagai selingan. Pertama kali datang ke Warung Mbak Lies, sudah pasti Anda akan ternganga dengan interiornya yang penuh keramik pecah belah. Tak perlu khawatir takut menyenggol barang-barang unik tersebut, karena keramik sudah ditempel kuat di lantai dan di dinding.

Uniknya lagi, seragam para pramusaji di sini sangat khas Eropa. Kuliner andalan Mbak Lies adalah selat bestik dan galantin. Kata selat sendiri konon merupakan pelesetan dari salad. Sepiring selat bestik berisi sepotong daging sapi empuk, disertai wortel, buncis, kentang, daun selada, acar bawang merah, plus acar mentimun. Kemudian, diguyur kuah berwarna kecokelatan bercita rasa manis dan asam yang menyegarkan. Untuk minumannya, Mbak Lies juga menyediakan beragam es.

Warung Selat Mbak Lies

Jalan Veteran Gang II Nomor 42, Serengan

Buka pukul 09.00-17.00

Nasi Liwet

Kuliner legendaris lain yang bisa dijadikan menu makan malam di Solo adalah nasi liwet Wongso Lemu. Warung nasi ini usianya sudah lebih dari setengah abad. Konon, nasi liwet memang banyak dijajakan secara berkeliling di jalanan di Solo. Itulah penyebab banyak sekali warung nasi liwet bertebaran di kota ini. Nasi liwet bercita rasa gurih karena disiram kuah areh,atau santan kental. Biasa dihidangkan di dalam sepucuk daun pisang, dilengkapi tumis labu siam, suwiran ayam, dan telur rebus.

Dengan komposisi seperti itu, nasi liwet di Warung Wongso Lemu dibanderol Rp 19 ribu. Anda juga bisa meminta lauk tambahan, seperti ati ampela ataupun potongan ayam kampung. Walaupun harganya lebih tinggi dibanding warung nasi liwet lain, setiap malam warung Bu Wongso ini tak pernah sepi dari pengunjung. Sambil melahap nasi liwet, jangan lupa memesan segelas es puter tradisional yang biasa dijual di depan warung. Nikmati juga alunan lagu tradisional dari sepasang penyanyi yang biasa menghibur pengunjung secara live.

Warung Wongso Lemu

Jalan Teuku Umar, Keprabon

Solo

Buka pukul 16.00-01.00

3 Sarapan Maknyus di Gang Gloria Glodok

ketuoat Lam Gang Gloria

3 sarapan maknyus di gang Gloria Glodok ini bisa menjadi pilihan menikmati kulinari di Jakarta. Gang dekat pasar Glodok, Jakarta Barat, tersebut penuh penjaja makanan, termasuk jenis kari, soto, dan ketupat sayur. Tertarik mencobanya untuk sarapan?

3 Sarapan Maknyus di Gang Gloria

Kari Lam

Akiong buru-buru berganti kemeja ketika pelanggan mulai berdatangan. “Sebentar ya, saya baru datang,” ujarnya kepada dua tamu yang duduk di ruangan berukuran sekitar 100 meter persegi itu. Lantas ia pun sibuk menyuwir daging ayam kampung sembari menyisir bihun. Jam belum genap menunjukkan pukul 09.00, waktu buka warung kari ayam dan sapi Kari Lam. Kemudian, ia membuka tutup kuali kuah kari. Asap pun membubung tinggi, bau harum santan bercampur daging ayam langsung tercium.

Sambil membubuhkan bawang goreng ke mangkuk kari, ia pun berkisah. “Warung ini sudah ada sejak 1973 di Gloria, Jakarta. Mulanya di Medan. Bapak saya yang bikin,” katanya. Nama Lam diambil dari sapaan ayah Akiong, Alam. “Jadi Kari Lam berarti Kari si Alam,” ujarnya.

Sudah tiga kali warung ini berpindah tempat, tapi selalu di Gang Gloria, dekat dengan Pasar Glodok. Terakhir 1990-an, dan saat itu pula warung itu dipegang penuh oleh Akiong. Selama tiga dekade terakhir ia melihat penurunan jumlah pengunjung, terutama setelah 1990-an. Pemicunya, warga etnis Tionghoa yang bermukim di wilayah Glodok dan sekitarnya mulai pindah ke perumahan Kelapa Gading, Serpong, dan Pantai Indah Kapuk. Belum lagi adanya krisis moneter.

Meski begitu, sampai sekarang masih ada pelanggan setia yang datang. Mereka biasanya yang kangen rasa kuah santan racikan keluarga Cina-Medan yang sangat khas: mlekoh, tapi tidak medok dan tak bikin enek. Selain itu, tekstur spesial daging ayam kampung yang empuk. Bila tak terlampau doyan ayam, Akiong juga menjual kari sapi.

Kari Lam

Ujung Gang Gloria, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat

Buka: Pukul 09.00-15.30

Harga: Rp 40-45 ribu

Soto Betawi Afung

Soto Betawi Afung
Soto Betawi Afung di Gang Gloria, Glodok, Jakarta. Dok. TL/Frann

Bukan sekali-dua kali Siti Maemunah, pramusaji di warung milik Ho Tjiang Fung, mendengar pertanyaan para pengunjung ihwal kedai milik majikannya. “Cina kan biasanya identik jual mi, kok ini jual soto? Soto Betawi pula,” begitulah perempuan separuh baya tersebut menirukan ujaran para tamunya. Pertanyaan itu juga yang sempat terbersit kala TL menyusuri Gang Gloria dan membaca plakat berwarna kuning yang menggantung di pintu masuk warung.

“Soto ini memang yang punya asnawi, asli Cina-Betawi,” tutur Siti berseloroh. Mulanya, si empu warung membuka bisnis buah impor. Sayangnya, pada masa pemerintahan Soeharto, ujar Siti, importir sulit masuk ke Tanah Air. Karena itu, ia beralih jalur bisnis. Tepatnya pada 1982, Afung, yang dikenal memiliki keterampilan meracik masakan berkuah santan, membuka warung soto Betawi. Tak dinyana, warungnya eksis hingga kini.

Soto Betawi Afung memiliki rasa yang beda karena kuah santan yang dicampur dengan sumsum. Sementara dari penampilannya pun enak dipandang mata: semangkuk soto tersaji lengkap dengan isian daging sapi beserta urat, babat, plus paru yang digoreng garing. Bisa juga tambahan sumsum bila pelanggan kurang puas. “Tapi kalau kolesterolnya tinggi, sebaiknya jangan (menambah sumsum),” ujar Siti.

Soto Betawi Afung

Gang Gloria, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat

Buka: Pukul 06.00-16.00

Harga: Rp 42 ribu

Ketupat Sayur Gloria Kartika Chandra

Lapaknya menyempil, hampir tak terlihat dari jalan setapak di gang pecinan. Jadi Anda harus bertanya untuk menemukan warung yang berdiri sejak 1960 tersebut. “Ya, dari dulu gini-gini saja. Hanya menggelar meja di depan toko orang, tapi syukurlah pelanggan sudah tahu (lokasinya),” tutur Sujono Chandra, si empunya dagangan.

Di lapak sederhana itu, 150 ketupat habis terjual dalam sehari. Generasi kedua pemegang warisan warung sayur asli Betawi itu malah bingung mengapa orang-orang dari berbagai daerah rela datang demi mencicipi masakannya. “Saya rasa olahannya sama dengan lainnya. Santannya sama, isinya sama. Mungkin sambal ebinya yang bikin nikmat,” katanya. Penampilan ketupat sayur yang kondang tersebut memang biasa. Hanya, porsinya sangat besar, cukup untuk dua orang. Namun ada sambal ebi yang disiram di atas racikan ketupat sayur.

Benar seperti yang dikatakan Sujono. Santan dan ketupat memang rasanya standar. Tapi yang membikin spesial adalah sambalnya. Gurih pedas yang muncul dari racikan sambal ebi, diperkuat oleh aroma legit santan. “Ini nikmatnya tiada tara, lho,” tutur seorang pengunjung berusia separuh baya yang saya temui. Sujono menggelar dagangannya dari pagi. Namun siang hari ia berpindah ke mulut gang. “Soalnya gentian sama pedagang lain. Ya begitulah nasibnya, pindah-pindah,” tuturnya.

Ketupat Sayur Gloria

Gang Gloria, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat

Buka: 08.00-16.00

Harga: Rp 52 ribu (ketupat sayur plus ayam kampung), Rp 20 ribu (ketupat sayur saja)

F. Rosana/Frann

Bakmi Halal di Kelapa Gading, 6 Yang Lezat

Bakmi halal di Kelapa Gading menjadi pilihan bagi mereka yang senang mie tapi menyaratkan kehalalan. Foto: milik instagram penggila_bakmi

Bakmi halal di Kelapa Gading, Jakarta Utara, mungkin banyak yang mencari. Maklum daerah ini termasuk kawasan yang lebih banyak dihuni masyarakat Tionghoa, sehingga bagi mereka yang muslim yang menduga kuliner di sini lebih banyak yang non-halal.

Bakmi Halal di Kelapa Gading

Betulkah begitu? Ternyata tidak. Bahwa lebih banyak makanan yang non-halal karena menggunakan bahan dari daging babi memang betul. Namun ternyata bakmi halal di Kelapa Gading banyak juga pilihannya. ali ini agendaIndonesia mencoba mendata bakmi halal apa saja yang ada di Kelapa Gading. Selain halal, tentu saja mereka terkenal lezat dan layak dikunjungi. Beberapa bahkan termasuk legendaris. Berikut pilihannya.

Bakmi Ayam Kampung Atjuan

Melihat namanya, sudah pasti milik orang Tionghoa, namun ini adalah satu kedai bakmi halal di Kelapa Gading. Buat yang muslim pastinya aman makan di sini. Spesialnya Bakmi Atjuan, topping daging ayamnya melimpah.

Daging ayam yang digunakan adalah ayam kampung. Tak heran jika cita rasanya gurih dan tekstur nikmatnya khas. Selain ayam, topping lainnya ada swekiau, bakso sapi, dan pangsit rebus. Khusus ayamnya, karena ayam kampung, cenderung agak kering. Buat mereka yang senang daging yang lebih moist, bisa minta tambahan minyak sayur.

Pilihan bakmienya ada mie halus, lebar, bihun, hingga mie alot. Tekstur mie alotnya tebal, padat dan kenyal.

Kedai ini buka dari hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 7-14.00 WIB. Setiap Senin bakmi Atjuan tutup, jadi jangan salah hari.

Bakmi Atjuan; Jl. Summagung I Blok A4 Nomor 2, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Acong Pelopor Bakmi Halal

Ini boleh disebut pelopor bakmi halal di Jakarta Utara. Awalnya Bakmi Acong memulai usahanya di Pulomas pada 1977, sebelum memindahkan gerainya ke Kelapa Gading. Kedai bakmi sederhana ini termasuk yang legendaris. Hingga saat ini Bakmi Acong masih eksis. Pelanggan setianya daatang dari lintas generasi. Bagi penikmat bakmi ayam yang tinggal di kawasan Kelapa Gading tentu sudah tak asing lagi dengan warung Bakmi Acong yang nikmatnya oke banget ini.

Bakmi halal di kelapa Gading menjadi pilihan penyuka bakmi namun mensyaratkan kuliner halal. Ternyata ada pilihan yang cukup banyak, berikut 6 bakmi yang halal dan lezat,
Bakmi ayam Acong. Foto: milik Gadingeat

Jenis mie yang dipakai di kedai ini adalah mie keriting dengan topping ayam yang sudah diberi bumbu manis dan jamur. Rasa mienya khas berpadu dengan siraman kuah kaldu ayam yang gurih. Pangsit goreng dan baksonya juga enak. Warungnya buka setiap hari pukul 06.30-15.00 WIB.

Warung Bakmi Acong, Jl. Kelapa Kopyor Raya Blok M1 Nomor 12A, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Bakmi Kepiting Tanjung Pura

Ini adalah buat mereka yang pernah mencicipi bakmi kepiting di Pontianak. Untuk mengobati rasa kangen bisa datang ke sini. Ini termasuk bakmi halal di Kawasan Kelapa Gading. Mereka buka sejak jam 8 pagi dan tutup jam 21.30 malam. Rentang waktu yang cukup fleksibel untuk dikunjungi.

Bakmi halal di Kelapa Gading salah satunya adalah Bakmi Kepiting Tanjung Pura khas Pontianak.
Bakmi halal di Kelapa Gading pilihannya bisa mie kepiting Tanjung Pura khas Pontianak. Foto: milik full_tummy-yummy

Keistiewaannya tentu saja pada toppingnya berupa capit kepiting yang umumnya besar. Kepiting yang dipakai adalah dari Papua.

Awalnya kedai ini buka di ITC Mangga Dua dan sudah terkenal di Kawasan perdagangan itu. Bakmi ini rasanya masuk ke dalam kelompok bakmi terlezat di Jakarta dan wajib dicoba.

Keistimewaan bakmi ini terletak pada topping capit kepitingnya yang besar. Porsinya juga mengenyangkan. Jenis mienya keriting dengan kekenyalan yang pas. Rasanya pun gurih. Dan jika bakmi tak cukup mengenyangkan, bisa memilih nasi goreng kepiting yang tak kalah lezatnya.

Bakmi Kepiting Tanjung Pura, Jl. Boulevard Raya Blok WA2 Nomor 25, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Bakmi Ayam Honey Yang Warna-warni

Yang ini selain sebagai pilihan bakmi halal, juga buat yang senang dengan kegembiraan. Sebab yang spesial dari mie di sini adalah menu bakmi ayam pelangi yang berwarna-warni. Nggak perlu takut karena pewarna bakmienya menggunakan bahan organik. Potongan daging ayamnya juga diberi berlimpah.

Jika ingin menambah kerenyahan bisa memesan pangsit gorengnya. Kedai ini buka dari pagi dan tutup pada pukul 10 malam.

Bakmi Honey, Jl. Boulevard Bar. Raya, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara

Bakmi Pedas Ala Mie Zhou

Ada yang berbeda bakmi halal di kedai ini, yakni pilihan bakmi pedasnya. Tentu ini bagi mereka yang menyenangi rasa makanan yang mengigit. Tambahan bakso goreng udangnya juga enak dan layak dicoba.

Bakmi Halal di Kelapa Gading bisa menjadi pilihan bagi masyarakat muslim ke tika wisata kuliner di daerah itu.
Mie Zhou adalah pilihan bakmi halal di Kelapa Gading. Foto: Mie Zhou

Mienya juga terasa fresh karena tampaknya dibuat setiap hari. Dibuat dan ‘harus’ habis pada hari yang sama. Pemiliknya adalah dari Medan, jadi rasanya dekat dengan mie-mie dari ibukota Sumatera Utara itu.

Spesialisasinya dari kedai bakmi yang buka dari pagi dan tutup pukul 8.30 malam ini adalah mie Dan Dan. Ada dua pilihan, mie dan dan kering atau mi dan dan celup yang basah. Dua-duanya enak dan layak dicoba.

Mie Zhou, Jl. Boulevard Raya Blok RA1 No.12, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Mie Garing Bethanie

Pilihan bakmi halal lainnya di Kelapa Gading adalah Mie Garing Bethanie. Jenis bakminya keriting yang disajikan garing dengan kuah yang cenderung gurih asin.  

Yang perlu dicoba jika mampir ke kedai yang buka pagi hingga pukul 2 siang ini adalah suikiaw-nya yang cocok dimakan dengan bakmi dan kuahnya. 

Jika ingin mencoba menu lain, bisa dicicipi bubur saponya.

Mie Garing Bethanie, Blok EA 1 No 1 Kelapa Gading, Jl. KLP. Cengkir Timur I,  Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara

Manapun pilihannya, buat pecinta bakmi, terutama mereka yang mensyaratkan soal kehalalan, semua bakmi di atas layak diagendakan.

agendaIndonesia

*****

Serabi Solo Notosuman, Legitnya Sejak 1923

Serabi Solo Notosuman menjadi penganan khas dari kota di Jawa Tengah itu.

Serabi Solo Notosuman sudah pasti menjadi salah satu kuliner pilihan ketika berkunjung ke kota di pusat Jawa Tengah ini. Ia sudah seperti lunpia bagi kota Semarang.

Serabi Solo Notosuman

Serabi Solo sendiri adalah jajanan tradisional yang  diperkirakan sudah ada atau dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Dikutip dari sejumlah sumber, makanan ini beberapa kali disebut dalam Serat Centhini yang ditulis para pujangga Keraton Surakarta pada 1814 hingga 1823 atas perintah Sri Sunan Pakubuwana V.


Penganan serabi Solo ini adalah makanan khas Solo yang aslinya bentuknya bulat seperti piring dengan sedikit kerak di sekelilingnya. Tekstur serabi Solo ini kenyal namun di tengahnya tetap lembut, dan memiliki rasa yang sangat legit.

Serabi Solo Notosuman berbeda dengan surabi dari Bandung, meskipun bentuknya mirip.
Serabi Solo disebut-sebut dalam Serat Centini dari abad 19. Foto: shutterstock


Serabi Solo memiliki perbedaan dengan kue surabi Bandung. Jika penganan dari ibukota Jawa Barat itu menggunakan bahan dasar tepung terigu dan disiram dengan kuah gula kelapa cair, serabi dari Solo terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan  dan gula. 

Ini membuat yang dari Solo sudah memiliki rasa manis dan gurih. Karena itu serabi Solo ini dihidangkan tanpa dressing kuah manis.
Tiap daerah tentu memiliki kekhasan masing-masing. Ada serabi kering ada serabi basah dengan memakai kuah. Ada pula yang menambahkan topping dengan beragam rasa dan aroma.

Serabi Solo diolah dari bahan-bahan yang terdiri dari tepung beras, pandan, vanilla, gula, santan kelapa, dan garam. Biasanya dimasak menggunakan semacam tembikar kecil terbuat dari tanah liat dan dipanggang di atas arang.

Pemasakan serabi Solo umumnya dilakukan sekaligus dalam beberapa tembikar yang dipanaskan di atas tungku arang. Proses pemasakan biasanya selama kurang lebih tiga menit. Jadi setelah adonan dituang ke tembikar, ia ditutup. Sesekali tutupnya diintip untuk melihat kematangannya.


Proses penyajian atau menyantapnya pun berbeda dengan surabi Bandung. Di kota Paris van Java itu, surabi biasanya disajikan dalam piring. Bentuknya pun tetap bulat. Di atasnya diberi topping pilihan konsumen.

Serabi Solo Notosuman digulung dan  dibungkus daun pisang.
Serabi Solo Notosuman dibungkus dengan daun pisang. Foto: shutterstock


Sementara itu, saudaranya di Solo, setelah matang serabi digulung dengan daun pisang agar mudah ketika dimakan. Serabi Solo tersedia dalam beberapa varian rasa, seperti rasa original, cokelat, dan nangka. Saat ini ada pula varian lain.

Setelah melewati sejulah masa, serabi Solo yang paling terkenal adalah Serabi Solo Notosuman. Serabi Notosuman ini pada awalnya dirintis oleh pasangan suami istri, Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan pada 1923.

Serabi Solo Notosuman lahir dari ketidaksengajaan. Menurut Hoo Khik Nio, anak dari Ny. Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan, pada  mulanya, orang tuanya tidaklah bermaksud membuat serabi, tapi apem. Penganan Jawa lainnya yang bentuknya mirip serabi. Biasanya bentuknya lebih padat.

Pembuatan itu terjadi tanpa disengaja, karena ada tetangga yang minta bantuan dibuatkan apem untuk selamatan. Pada saat itu sang tetangga meminta agar apem pesanannya bentuknya lebih pipih atau tipis.

Ternyata “apem” buatan Ny. Hoo Ging Hok enak karena teksturnya yang lembut. Sang tetangga pun tak menyebutnya sebagai apem karena bentuknya yang berbeda. Ia lebih memilih menamainya sebagai serabi. Sejak itulah makanan apem pipih itu dikenal dengan nama serabi. 

Serabi Dari Solo shutterstock
Serabi Solo Notosuman lebih lembut dari kue apem. Foto: shutterstock

Nama Serabi Solo Notosuman atau sering disebut sebagai Serabi Notosuman ini diambil dari nama Jalan Notosuman di Solo, lokasi toko milik pasangan suami istri berada. Jalan Notosuman sendiri kini sudah berganti nama menjadi Jalan Muhammad  Yamin.

Sejak dirintis oleh Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan, saat ini kedai Serabi Notosuman sudah diteruskan oleh generasi keempat. Di Jalan Muh, Yamin itu ada beberapa kedai penjual serabi Solo Notosuman. Mereka umumnya masih kerabat atau tetangga.
Kualitas rasa dan bahan baku tetap diutamakan agar rasa serabinya sama seperti resep turun temurun yang diwariskan. Salah satu rahasia kelezatan serabi Notosuman adalah penggunaan beras cendani yang berkualitas dan sengaja ditumbuk sendiri untuk menjaga kualitas rasa, tekstur, dan kebersihannya.
Bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan Serabi Notosuman Solo sebenarnya biasa saja. Serabi Notosuman hanya menggunakan tepung beras, pandan, gula, santan, garam, dan vanila. Karena menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, Serabi Notosuman ini hanya dapat bertahan selama 24 jam saja.

agendaIndonesia

*****