Brongkos Warung Ijo Bu Padmo Dari 1950

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo menjadi legenda kuliner di sekitar Kali Krasak.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo sudah menahun diakui sebagai salah satu primadona dalam khasanah kuliner Yogyakarta. Lokasinya yang berupa warung sederhana, serta terletak di tepian kota, tak pernah membuatnya lekang oleh masa dan sepi pengunjung.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Sudah menjadi rahasia umum kalau sang kota pelajar sendiri sudah lama dikenal dengan ragam kulinernya yang memanjakan lidah. Mulai dari gudeg, bakmi jawa, sate klatak, hingga nasi kucing selalu menjadi buruan penggemar kuliner, baik domestik hingga mancanegara.

Tak ketinggalan adalah brongkos, sajian menarik yang terbuat dari santan dan rempah seperti kluwek, lengkuas, kemiri, ketumbar dan gula jawa. Ia disajikan dengan dituangkan pada sepiring nasi hangat, dengan beragam lauk pauk seperti daging sapi, tahu, telur rebus, serta kacang tolo.

Brongkos Warung ijo BU Padmo berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Suasana Warung Ijo Bu Padmo. Foto: IG Warung Ijo Bu Padmo

Dalam perkembangannya terkadang beberapa bahannya dapat disubstitusi, seperti penggunaan daging kambing atau kacang tanah. Selain itu, saat dihidangkan brongkos juga lazim ditambahkan dengan cabe rawit untuk menambah cita rasa pedas di dalamnya.

Meski secara umum populer sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta, kadang kala brongkos bisa ditemukan pula di beberapa kota di Jawa Tengah, seperti Magelang dan Solo. Disinyalir, keberadaannya sebagai kuliner tradisional di kawasan tersebut sudah bertahun-tahun lamanya.

Bahkan, makanan ini disebut-sebut sebagai salah satu hidangan favorit mendiang Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta sang anak Sri Sultan Hamengkubuwono X. Brongkos juga kerap menjadi salah satu sajian santap siang atau malam bagi tamu-tamu Keraton Yogyakarta.

Maka menjadi tak begitu mengejutkan jika beberapa warung-warung penjaja brongkos yang banyak digemari ternyata sudah eksis sejak berpuluh tahun lalu. Seperti halnya Bronglos Warung Ijo bu Padmo yang sudah berjualan sejak 1950.

Warung ini terletak di kawasan pasar Tempel, yang berada persis di tepi perbatasan antara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mulanya, warung dapat ditemukan tak jauh dari kolong jembatan kali Krasak.

Masakan Brongkos shutterstock
Ilustrasi Brongkos komplit. Foto: shutterstock

Kala itu, warung tersebut berukuran kecil, dan berada persis di tepi jalan. Kini, untuk mengantisipasi jumlah pengunjung yang terus bertambah, serta akses parkir yang kurang memudahkan, akhirnya warung dipindahkan tak jauh dari area tersebut.

Namun, satu ciri khas yang tak dihilangkan adalah nuansa warung yang berwarna hijau. Dari luar, warung nampak mudah ditemukan dengan warna hijau mencoloknya, dan nuansa tersebut berlanjut hingga ke dalam interior warung.

Dari dinding, meja, bahkan hingga sekedar tutup toples untuk kerupuk dan berbagai pelengkap teman makan brongkos lainnya juga berkelir hijau. Sehingga tak heran, jika kebanyakan pelanggannya lazim memanggilnya dengan sebutan ‘warung ijo’.

Selain dari penampilannya yang unik, alasan mengapa brongkos warung ijo bu Padmo menjadi begitu dikenal tentulah karena brongkosnya yang begitu nikmat. Kuahnya berwarna coklat kehitaman nan pekat, dengan perpaduan rasa manis, gurih dan pedas yang amat menggoyang lidah.

Tak hanya itu, potongan daging sapi di dalamnya juga terasa sangat empuk, dengan rasa bumbu rempah yang begitu meresap. Kalau tak ingin daging, pengunjung juga dapat memilih isi lauk lain, seperti koyor dan babat, serta tentunya lauk brongkos lainnya seperti tahu dan telur rebus.

Dalam penyajiannya, brongkos warung ijo bu Padmo juga dapat disantap dengan tambahan makanan lain, seperti gudeg, sambal goreng krecek, oseng pete dan sayur pecel. Sebagai pelengkap, disediakan pula perkedel, tempe, rempeyek, emping dan berbagai jenis kerupuk.

Kini juga tersedia beragam pilihan sambal yang juga bisa dipilih sebagai pelengkap, seperti sambal udang dan sambal cumi. Jangan lewatkan pula beberapa pilihan minuman segar seperti es jeruk, es tape dan es limun temulawak.

Untuk mencapai dan menjaga cita rasa yang kini disukai banyak pelanggannya, brongkos warung ijo bu Padmo masih memasak dan menyiapkan makanannya dengan metode tradisional, seperti penggunaan tungku kayu bakar.

Kluwek shutterstock
Kluwek, salah satu bumbu utama brongkos. Foto: shutterstock

Metode itu terus dipertahankan, hingga kini usaha warung dijalankan oleh anak-anak bu Padmo. Terbukti, hingga kini warung terus dibanjiri oleh pengunjung, baik warga lokal penggemar brongkos, maupun wisatawan pecinta kuliner.

Dengan pilihan seporsi nasi brongkos yang cukup komplit tersebut, pengunjung bisa mendapatkannya dengan kisaran harga Rp 30 ribu-an. Beberapa pelengkap yang bisa diambil sendiri sesuai selera juga dihargai sekitar Rp 2 ribu.

Konsep warung yang unik, dan hidangannya yang menggugah selera, menjadikan brongkos warung ijo bu Padmo begitu legendaris dan terus banyak diminati. Sebuah cabang di kawasan jalan Magelang, tak jauh dari warung aslinya, kini juga dibuka untuk melayani lebih banyak lagi pengunjung.

Brongkos Warung Ijo bu Padmo buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 18.00. Yang perlu diingat, kebanyakan pengunjungnya datang pada saat jam sarapan dan makan siang, sehingga terkadang dari jam 17.00 pun bisa saja warung sudah tutup karena laris manis.

Pun warung aslinya kini sudah pindah tempat dan menjadi warung berukuran lebih besar, tetap saja warung kerap dipenuhi pengunjung, terlebih pada akhir pekan dan hari libur. Maka tak ada salahnya mampir juga ke cabangnya yang tetap sama hijaunya dan sama nikmat brongkosnya.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Jl. Turi no. 10, Tempel, Yogyakarta

Jl. Magelang no. 18, Tempel, Yogyakarta

Instagram @brongkos_bupadmo

agendaIndonesia/Audha Alief Praditra

*****

4 Warung Sate Terpopuler di Ponorogo

Sate ayam Ponorogo merupakan makanan khas kota di Jawa Timur ini. Foto: shutterstock

Ini 4 warung sate terpopuler bagi pecinta kuliner sate, utamanya sate ayam khas Ponorogo. Kota yang terletak di wilayah barat daya provinsi Jawa Timur ini sudah kadung dikenal dengan kuliner sate ayamnya yang punya karakteristik unik dan punya banyak penggemarnya sendiri.

4 Warung Sate Terpopuler

Seperti bagaimana sate Ponorogo identik dengan potongan dagingnya yang cenderung tipis. Ini dikarenakan cara memotong daging ayamnya dengan cara diiris tipis atau fillet. Cara ini berbeda dengan sate ayam Madura, misalnya, yang dagingnya dipotong dadu atau lebih tebal. Disinyalir, metode ini membantu mengurangi kadar lemak di dalam daging.

Reog Ponorogo merupakan seni tari sejak abad 11. Foto: shutterstock
Ini 4 warung sate terpopuler di Ponorogo yang asyik dinikmati setelah nonton Reog Ponorogo. Foto shutterstock

Keunikan lainnya adalah proses marinasi daging saat akan disajikan. Sate Ponorogo dikenal dengan cita rasanya yang begitu gurih dan legit karena dagingnya direndam di dalam bumbu terlebih dulu sebelum dibakar. Dan saat proses pembakaran pun, daging akan terus dilumuri bumbu agar cita rasanya benar-benar meresap.

Bumbu kacangnya juga terbilang unik. Kalau sate pada umumnya disajikan menggunakan kecap atau bumbu kacang yang pekat dan kental, sate Ponorogo disajikan dengan bumbu kacang yang terbuat dari kacang tanah sangrai dan gula merah. Wujudnya terlihat lebih terang dari bumbu kacang umumnya, dengan tekstur lebih lembut dan rasa yang manis nan gurih.

Bahkan, begitu populernya kuliner sate di Ponorogo, hingga terdapat sebuah area di kota tersebut yang berisi deretan pedagang sate, bernama Gang Sate. Setidaknya dapat ditemui sekitar belasan warung sate yang kerap ramai pengunjung. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari mereka bisa menjual ribuan tusuk sate, bahkan puluhan ribu tusuk sate saat akhir pekan dan hari libur.

Pun demikian, warung sate sejatinya bisa ditemui dengan mudah di hampir setiap sudut kota reog tersebut. Masing-masing dari mereka juga punya keunikan tersendiri, dan tak kalah ramai oleh pengunjung. Berikut ini adalah 4 warung sate terpopuer di Ponorogo dan kerap jadi rekomendasi.

  1. Sate Ayam H. Tukri Sobikun

Bisa dibilang, inilah salah satuy dari 4 warung sate terpopuler dan paling legendaris di Ponorogo. Usaha warung sate yang sudah dirintis sejak 1965 ini adalah salah satu yang tertua, dan juga yang termasuk turut mempopulerkan makanan ini sebagai kuliner khas Ponorogo. Lokasinya berada di area Gang Sate, tepatnya di Jalan Lawu nomor 43K.

Ini 4 warung sate terpopuler di Ponorogo, salah satunya Sate Sobikun.
Ini salah satu dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo, Sate Tukri Sobikun.

Warung sate ini terkenal dengan bumbu kacangnya yang khas, dengan rasa cenderung pedas manis. Ketika sate disajikan pun, bumbunya akan dipisah di dalam mangkok dalam porsi yang cukup banyak, sehingga pengunjung tak perlu khawatir kehabisan bumbu. Satenya juga tak kalah unik, karena potongan dagingnya cenderung lebih besar ketimbang umumnya.

Sate Ponorogo lazimnya juga hanya menyajikan potongan daging tanpa bagian kulit atau lemaknya. Tetapi, di warung ini pengunjung juga bisa memesan sate yang dicampur dengan bagian kulit dan lemak. Dalam seporsi sate berisi 10 tusuk, yang khusus daging saja harganya Rp 36 ribu, sementara yang campur dihargai Rp 38 ribu.

Tak cuma itu, sate buatan mereka diklaim tahan cukup lama untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, sehingga kini mereka juga menyediakan paket sate isi 10 hingga 25 tusuk di dalam kotak, atau isi 30 tusuk ke atas di dalam besek bagi pengunjung yang ingin membawa oleh-oleh sate Ponorogo dari warung ini.

Buka dari jam 05.00 hingga 20.00, warung ini kerap sudah ramai dari pagi. Ada yang datang karena memang ingin makan di tempat, tapi ramai pula yang datang membeli untuk oleh-oleh. Maka jangan heran bila pelanggannya berkisar dari warga lokal, wisatawan, hingga figur publik sekelas presiden.

  • Sate Ayam Pak Mesiran

Sate Ayam Pak Mesiran, yang berada di jalan Gajah Mada nomor 11 juga termasuk satu dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo yang ikonik. Sudah berjualan sejak 2001, warung ini dikenal dengan satenya yang otentik dan nikmat, namun dengan harga yang bersahabat di kantong. Satu porsinya hanya dibandrol Rp 17 ribu saja.

Meski terhitung murah, namun sate yang disajikan tak pelit dengan porsi dagingnya yang banyak dan cukup besar. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa memilih varian sate yang diinginkan sesuai selera, mulai dari sate daging ayam, sate kulit ayam, serta sate campur daging dan kulit.

Bumbu kacangnya juga terasa lembut dan creamy dengan cita rasa gurih, manis dan pedas yang berpadu nikmat. Ketika sate disajikan, akan disediakan pula bumbu terpisah di piring, sehingga tak perlu takut bumbunya kurang. Sate Ayam Pak Mesiran buka setiap hari dari jam 08.00 sampai 20.00.

  • Sate Ayam Pak Kisul

Tempat lain dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo lainnya yang unik dan menarik untuk dicoba adalah sate ayam pak Kisul, yang terletak di Jalan Barito nomor 30. Warung usaha keluarga yang sudah turun temurun hingga empat generasi ini buka dari jam 16.00 sampai 21.00, cocok untuk yang ingin berwisata kuliner di malam hari.

Sate ayam di sini agak sedikit berbeda, dari segi ukuran terlihat sedikit lebih kecil. Meski demikian, dagingnya tetap terasa empuk dan juicy. Dan yang lebih istimewa lagi, cita rasa bumbunya yang gurih dan pedas begitu terasa di lidah. Usut punya usut, kuncinya terletak pada metode marinasi yang dilakukan.

Setelah sate direndam di dalam bumbu marinasi, sate kemudian dikeringkan terlebih dulu sebelum dimasak. Ini bertujuan untuk membiarkan bumbunya betul-betul meresap ke dalam dagingnya. Sensasi daging sate yang sudah termarinasi sedemikian rupa, dipadu dengan bumbu kacang yang lebih kental serta kecap, semakin menambah unik sate di warung ini.

Dan semua keunikan itu hanya perlu ditebus dengan harga yang ringan di kantong. Satu porsi sate ayam di warung ini hanya dihargai Rp 12 ribu saja. Tak mengherankan jika selain menjadi salah satu wisata kuliner malam hits di Ponorogo, banyak pula yang menyambangi warung ini dari sore hari untuk sekedar nongkrong sambil menyantap sate.

Sate Ayam Ponorogo shutterstock
  • Sate Ayam Pak Imun

Bicara soal kuliner malam di Ponorogo, maka tak bisa melewatkan sate ayam pak Imun, satu dari 4 warung sate terpopuler  dan salah satu ikon kuliner malam kota reog itu. Bahkan, sejatinya tidak perlu menunggu malam untuk bisa datang ke sini, karena warung sate yang bertempat di Jalan Soekarno-Hatta nomor 240 ini buka 24 jam setiap harinya.

Sate di sini terbuat dari daging ayam kampung pilihan, yang menjadikannya terasa lebih empuk, padat dan juicy. Potongan dagingnya pun terbilang besar-besar, diiris memanjang dan pipih. Bumbu kacangnya juga khas, dengan tekstur lebih kental dan ditaburi dengan bawang goreng yang gurih nan renyah.

Tak lupa, sambal pedas nan segar yang terbuat dari cabe rawit, bawang merah, bawang putih dan tomat yang turut melengkapi. Dan sebagai pasangannya, pengunjung bisa memilih mau dengan nasi, lontong atau ketupat. Adapun harga satu porsinya berkisar dari Rp 22 ribu sampai 25 ribu.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Patio Venue dan 19 Jenis Piza: Asin-Manis

Patio Venue di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menawarkan casual dining dengan hidangan Italia dan pilihan piza yang berlimpah. Tadiya menjadi alternatif berkumpul keluarga. Saat ini di tengah pandemi, hanya menerima take out.

Patio Venue

Pagar tembok dan pepohonan rindang seperti menyembunyikan Patio Venue Jakarta yang terletak di Jalan Wijaya XIII Nomor 45 ini. Ketika melewati dinding temboknya  yang dibiarkan kasar itu, baru lah saya menemukan  bangunan dengan dinding-dinding kaca dan taman-taman kecil dengan kolam ikan koi.  Terasa keteduhan mendominasi.

Ketika melangkah masuk, lantai kayu dan warna cokelat pada kursi, serta bagian piza dan bar pun menyemburkan suasana hangat. Suasana khas sebuah rumah. Saya memilih pojok yang terang, dekat dinding kaca dengan taman kecil. Melirik pembakaran piza di salah satu pojok, saya pun sudah bisa menebak, piza lah yang menjadi menu utama di restoran, yang berada di bawah bendera Plataran Indonesia, ini. Ehmm… siapa takut dengan piza tipis renyah untuk makan siang yang santai seperti ini?

Di sebelah saya, meja menjadi ajang kumpul empat ibu Jepang berusia 40 tahunan. Di depan saya, Theresa Yudistira, Corporate Marketing Communications Manager Plataran Indonesia menjadi rekan makan siang kali ini. Ia pun bertutur tentang Patio yang semula merupakan venue atau area yang disewakan untuk acara atau pesta. Tahun 2014, Patio beroperasi sebagai restoran dengan menu khas Italia dan label Patio Tortaria & Pizzeria. Saya masih menemukan nama tersebut terpahat pada tembok kecil di depan restoran.

Sajian Italia dipilih karena menurut Theresa memiliki rasa asam dan pedas yang akrab dengan lidah lokal. Lantas, Oktober lalu, restoran pun berubah konsep menjadi casual dining. Menu piza dari tujuh jenis ditambah menjadi 19 pilihan. Kemudian, ditambahkan pula camilan, seperti chicken wings. Selain itu, setiap Rabu malam, pada pukul 19.00-22.00, tampil grup semi akustik  Lalahuta dengan tembang-tembang Top 40’s.

Sungguh menjadi malam yang hangat ditemani salad, piza, pasta, atau steak. Piza, sebagai menu dengan pilihan terbanyak, disajikan dalam olahan orisinal, kombinasi, hingga dibuat manis. Salah satu unggulanya adalah pizza confungi, yang terdiri atas dua jenis jamur dan permukaannya diselimuti keju. Tapi, piza seharga Rp 99 ribu itu memunculkan rasa jamur yang dominan. Bagi yang doyan keju, bisa memilih quatrro fromaggi yang memadukan empat jenis keju. Lantas, piza tanpa daging merupakan sajian spesial untuk vegetarian. Ada pula piza yang dibubuhi bebek atau daging dan sejumlah ikan laut.

Selain itu, ada beragam pasta, seperti capelli d’Angelo all’Aragosta, yakni sajian pasta jenis angel hair dengan lobster, bawang putih, dan potongan cabe seharga Rp 99 ribu. Tapi, saya mencicipi linguine primavera seharga Rp 149 ribu. Sajian ini diberi tanda dua cabe di buku menu, tanda makanan berasa pedas. Udang menjadi hiasan di bagian atas dan tomat cherry bertaburan memberi warna segar. Selain itu, juga terselip potongan cabe yang membuat lidah sedikit terbakar.

Bagi yang tidak doyan gurih dan asin, ada pula piza yang manis, di antaranya diberi nama tutti fruit, yang mencampurkan buah kiwi, stroberi, jeruk, peach, dan alpukat. Piza ini seharga Rp 69 ribu. Ada juga rasa tiramisu dan chocolato banana, tak ubahnya seperti hidangan cuci mulut yang tertera di menu. Ada juga tiramisu, panna cotta, cassata, dan tentunya tartufo bianco, yang saya cicip hangat-hangat dengan bagian dalamnya berupa cokelat putih yang meleleh.

Restoran dengan area pemanggangan piza yang terbukaini berkapasitas 120 orang. Biasanya, restoran  ramai dikunjungi saat malam hari dan akhir pekan. Pesta keluarga, arisan, hingga pertemuan bisnis pun kerap digelar di sini. Ada tiga ruang privat berkapasitas 6-20 orang. Dua ruang bisa dibuka sekatnya, hingga kapasitasnya bisa mencapai 20 tempat. Tiap ruang menghadap ke kolam koi. Dua di antaranya menyuguhkan dinding-dinding dengan hiasan tanaman anggrek.  Bagian tengah, restoran bisa dijadikan satu area khusus  dengan kapasitas 80 orang.

Karena pemilik menargetkan pangsa pasar 30 tahun ke atas, ketika ruangan penuh dengan tamu pun, keriuhannya berbeda dengan tempat yang digandrungi anak muda. Meski demikian, ada juga anak muda yang datang.  Hanya, restoran ini tidak ditujukan untuk nongkrong. “Bar hanya menjadi pelengkap,” ujar Theresa.  l

Patio Venue Jakarta ; Jalan Wijaya XIII no 45; Kebayoran Baru; Jakarta Selatan

Operasional; Pukul 11.00-23.00 (Saat kondisi normal, sebelum kejadian pandemi)

*****

Patio Venue, salah satu resto di bawah bendera Plataran, perusahaan yang berkecimpung di bidang pariwisata.
Patio Venue di bawah kelompok The Plataran. Foto: istimewa.

Dari Resto hingga Kapal Pesiar

Patio Venue merupakan salah satu restoran yang berada di bawah bendera Plataran. Perusahaan ini berkecimpung di bidang pariwisata, mulai dari resor, kapal pesiar, restoran, hingga aktivitas ekowisata. Propertinya tersebar di beberapa kota. Misalnya  di bawah Plataran Hotels & Resorts ada  Plataran Puncak, Plataran Borobudur, Plataran Canggu Bali, Plataran Ubud, Plataran Menjangan, dan Plataran Komodo.

Sedangkan, kelompok venue and dinings terdiri atas Plataran Dharmawangsa dan  Patio Venue di  Jakarta. Ada pula The View Restaurant di  Munduk, Bedugul, Bali. Kemudian, Stupa Restaurant di Magelang serta Atlantis Beach Club di Labuan Bajo, Flores. Juga ada Plataran Private Cruises di  Flores dan Menjangan Bali. Saat ini, tengah dikembangkan juga resor di Bromo dan Sumba.

agendaIndonesia/Rita N.

Brunch Saat di Bali, 5 Yang Menggoda

Brunch saat di Bali, pilihan makan di saat nangung

Brunch saat di Bali ketika sedang menikmati liburan rasanya hal yang biasa. DI manapun orang sedang berlibur, mereka biasanya memang mengoptimalkan waktu untuk bersantai, leha-leha, atau menggunakan waktu untuk kegiatan hore-hore. Berenang, menyelam, mengunjungi spot-spot menarik, atau sekadar berkumpul bersama teman.

Brunch Saat di Bali

Bukan rahasia jika saat liburan orang memilih tidur lebih lama, atau bangun lebih siang karena menghabiskan malam lebih larut. Dalam situasi seperti itu, sering makan pagi terlewatkan, namun makan siang belum waktunya.

Pada situasi itu, orang memanfaatkan brunch, ini gabungan breakfast dan lunch. Waktunya biasanya antara pukul 9 hingga 11 pagi. Pada jam seperti itu, biasanya menu sarapan di hotel sudah tidak terlalu lengkap. Atau, kadang menu sarapan yang disediakan hotel terlalu standar.

Di Bali, rasanya banyak tempat yang bisa dipilih untuk menikmati sarapan kesiangan atau makan siang kepagian alias brunch saat di Bali. Bisa sambil menikmati pemandangan terasiring sawah, atau debur gelombang laut. Berikut beberapa alternatif yang bisa dipilih.

Makan Sehat di Nude

Liburan sambil tetap menjaga kesehatan? Ada pilihan bagus di Canggu Bali. Tepatnya di Jalan Pantai Berawa. Ini bisa menjadi pilihan untuk mereka para vegan dan vegetarian. Juga ada pilihan menu bagi mereka yang menghindari makanan yang mengandung gluten.

Beberapa menu andalan yang bisa dipilih seperti  smoked salmon baget, the nude omelette, naught nude big brekky, crispy duck pancake, atau yellowfin salad. Semua dengan harga yang masuk akal. Rata-rata menu berada di kisaran Rp 40 ribu–70 ribu.

Nude Canggu, Jl. Pantai Berawa No. 33, Tibubeneng, Bali

brunch saat di Bali menjadi pilihan jam makan ketika sedang liburan.
Menu brunch yang menggoda di Sisterfields, Bali. Foto: Ist. sisterfields

Sarapan Ala Australia

Resto ini membawa café culture Australia. Ia melayani pengunjung sejak breakfast, brunch, lunch, hingga makan malam dan menjadi salah satu favorit wisatawan mancanegara. Bergaya butik café ala negeri kangguru itu dengan ruang makan terbuka, membuat banyak wisatawan merasa nyaman di sini.

Banyak menu makanan seperti salad, pastry, dan sandwich yang cocok untuk jam-jam makan yang nanggung. Tidak berat tapi cukup mengenyangkan sebelum jalan menuju lokasi wisata. Chilli scramble atau eggs benedict-nya layak dicoba. Soal yang perlu diperhatikan, karena umumnya pelanggan wisatawan asing, resto ini menyediakan masakan non-halal.

Sisterfields, Jalan Kayu Cendana Nomor 7, Seminyak, Bali

Brunch saat di Bali karena orang memanfaatkan waktu untuk liburan.
Menu lengkap bergaya tradisional dengan penyajian yang menggoda selera. Foto: Ist Biku

Nuansa Tradisional dan Eropa

Untuk mereka yang mencari masakan tradisional dengan tampilan klasik dan gaya eropa, bisa memilih brunch di Biku. Resto ini sendiri berada di sebuah bangunan joglo kuno yang konon berusia sekitar 150 tahun dan langsung dibawa dari Jawa. Suasananya sangat hangat dan membuat orang langsung betah. Menunya sangat beragam namun yang spesial adalah sajian teh-nya. Ada aneka pilihan teh, mulai dari teh Jawa, India, hingga dari Cina.

Tak hanya untuk menikmati teh, Biku juga menyajikan aneka menu yang cocok untuk brunch saat di Bali. Jika mampir ke sini bisa dicicipi mulbery pie, wagyu stek sandwich, poke bowl, atau Vietnamesse spicy chicken wings. Meski bergaya resto, harga makanan di sini cukup ramah di kantong.

Biku, Jalan Petitenget No. 888, Kerobokan, Bali

Pasta Untuk Brunch

Meskipun bukan resto atau café yang mengkhususkan diri untuk masakan Italia, cobalah brunch saat di Bali dengan pilihan pasta di resto Kinuwa ini. Resto ini sesunguhnya memiliki pilihan terlengkap, mulai dari pastry, pasta, salad, soup, smoothie, eggs dan toast. Di sini juga ada menu untuk vegan dan vegetarian.

Tapi seperti di sebut di muka, jika mampir di sini, cobalah mencicipi sajian pasta dan pizza nya. Pilihan bisa jatuh pada spaghetti Sicilian, Dialova Pizza, atau Manggo Bowl. Jika ingin yang lebih berat, bisa dipilih grilled chicken breast, grilled striploin, atau grilled mahi-mahi fish.

Harga untuk brunch di sini cukup ramah kantong. Makanan dipatok mulai dari Rp 50 ribu-70 ribu. Sedangkan minuman mulai Rp 30 ribu.

Kinuwa, Jalan Raya Batu Bolong No. 55, Canggu, Bali

Brunch saat di Bali bisa memilih tempat yang terbuka seperti di Nook.
Brunch dengan pemandangan sawah. Foto: Ist. Nook

Brunch Di Ruang Terbuka

Ini pilihan untuk mereka yang ingin sarapan atau makan siang di tempat yang terbuka. Bertempat di Jalan Umalas, Kerobokan, Nook memberikan tempat makan luar ruang yang asri, dan bernuansa alam. Tempatnya luas dan banyak spot yang instagramable.

Makanan favorit di tempat ini adalah smoothie bowl, sandwich dan burger. Jika sedang diet di sini juga ada pilihan menunya. Ada juga juice aneka buah yang segar disruput di udara terbuka. Harga makanan di sini memang agak lebih tinggi, mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 150 ribu.

Nook, Jalan Umalas 1 No. 3, Kerobokan Kelod, Bali

Sudah siap dengan agenda liburan lagi setelah kondisi pandemi agak mereda? Ayo main ke Bali.

agendaIndonesia

****

Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk di Krui

Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk saat berkunjung ke Kriuk di Kabupaten Lampung Barat. Tuhuk tak lain adalah ikan marlin, ukurannya bisa mencapai  40 kilogram dan dagingnya diolah menjadi beragam sajian.

Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk

Bila melintasi Pulau Sumatera dengan menyisir sisi barat, ada daerah pesisir yang akan dilalui dan banyak diburu para peselancar, yakni Kabupaten Krui. Di kota yang semula bagian dari Kabupaten Lampung Barat ini, ada destinasi wisata yang cukup dikenal, bahkan hingga ke mancanegara, yakni Tanjung Setia. Di kawasan ini, deretan home stay  diisi para peselancar dari berbagai benua, yakni Benua Australia, Asia, Amerika, hingga Eropa.  Nah, selain pilihan restoran di masing-masing home stay,  mengisi perut di seputar Pasar  Krui pun bisa jadi pilihan.

Tak jauh dari Dermaga Krui, ada dua restoran yang bisa dituju untuk mencicipi sajian khas ikan, yakni setuhuk atau tuhu. Ikan yang dimaksud adalah ikan marlin. Hanya, mengingat ada dua jenis, yakni blue marlin dan black marlin, bila melihat hasil tangkapan para nelayan, yang dimaksud adalah black marlin. Ikan berparuh panjang ini dikenal dengan dagingnya yang lembut. Di Pasar Krui, yang tak jauh dari dermaga, ikan dijual dengan variasi harga, tergantung musimnya.

Salah satu staf di Rumah Makan Uncu Rina, yang berada di samping Kantor Bupati Krui, menyebutkan bila sedang musim, harga ikan tuhuk sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Namun, saat ikan setuhuk sulit didapat, harga bisa melambung hingga Rp 90 ribu per kilogram. Para pendatang maupun turis dipastikan mencari sajian ikan setuhuk bila mampir ke Krui. Sajian yang dicari beragam, baik yang berupa sate maupun yang diolah menjadi pindang.

Sate Tuhuk

Tampilannya memang seperti sate pada umumnya. Ada daging yang ditusuk dan sepintas tidak jauh berbeda dengan sate ayam karena daging ikan tuhuk tertutup bumbu kacang yang dihaluskan. Baru terasa berbeda ketika tusuk sate itu masuk ke mulut. Daging yang telah dipotong-potong terasa begitu lembut. Berbeda sekali saat kita mengunyah daging sate jenis lainnya, seperti ayam, kambing, dan sapi. Bahkan, lebih lembut dari daging kelinci.

Potongan ikan tuhuk seperti meluncur di tenggorokan. Karena berbahan ikan segar, sudah pasti tidak ada aroma manis atau aroma lainnya. Proses pembakarannya tidak selama sate pada umumnya. Cukup 15 menit, sate pun sudah siap disantap. Sate disajikan dengan guyuran bumbu kacang dan kecap. Tersedia 10 tusuk sate per porsi dengan harga sekitar Rp 15 ribu.

RM Pondok Kuring; Pekon Serai, Pesisir Tengah; Krui

Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Lampung Barat. Salah satunya sop ikan tuhuk.
Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Kabupaten Lampung Barat, di antaranya sop ikan. Foto: Dok. A. Probel-TL

Sop Ikan Tuhuk

Ikan tuhuk tak hanya disajikan dalam olahan sate.  Seperti umumnya daerah Sumatera, ikan marlin pun diolah berupa sop, yang bening, tapi wangi karena taburan daun bawang dan bawang goreng. Ikan diberi tambahan sayuran, seperti wortel yang dipadu dengan sepiring nasi. Paling pas disantap saat masih hangat. Hanya sebaiknya, ikan disantap saat langit di Krui mulai gelap. Apalagi saat angin laut sudah mulai berputar-putar di sekitarnya.

Seporsi sop ikan tuhuk dipatok dengan harga Rp 10 ribu. Sop ini menjadi salah satu sajian yang ditawarkan rumah makan Uncu Rina. Rumah makan yang berdiri sekitar tujuh tahun lalu ini dikelola oleh satu keluarga. Seperti beberapa rumah makan di Krui, unggulannya tentu olahan dari ikan tuhuk meski saat musim angin barat datang, jenis ikan ini lebih sulit diperoleh.

RM Uncu Rina

Pasar Krui

Krui

Pindang Menyegarkan

Tidak jauh dari daerah Sumatera Selatan yang terkenal dengan olahan pindang ikan, Lampung pun menawarkan kesegaran khas yang sama. Bahkan, dengan hasil para nelayan berupa ikan tuhuk, suguhan khas ketika ke Krui pun berupa pindang ikan tuhuk. Tampilannya seperti umumnya olahan pindang. Kuah berwarna kecokelatan dipadu dengan potongan cabe dan daun kemangi. Potongan ikan tuhuk berwarna putih dan berukuran cukup besar pun langsung menggoda.

Rasa asam dari buah asem, serta wangi serai dan kemangi membuat pindang dengan daging ikan yang lembut, menyegarkan saat disantap siang hari. Satu piring nasi habis tanpa terasa. Per porsi sajian pindang ini dipatok dengan harga sekitar Rp 20 ribu.

RM Uncu Rina

Pasar Krui

Krui

agendaIndonesia/Rita N./A. Probel

4 Kuliner Halal Terpopuler di Pontianak

Choipan atau caikue yang terkenal di Pontianak. Foto shhutterstock

Ini 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak, Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota besar di Indonesia dengan perpaduan dan keragaman budaya yang sangat menarik. Hal ini disebabkan oleh demografi di ibu kota Kalimantan Barat tersebut, di mana mayoritas warganya terbagi menjadi setidaknya empat kelompok besar, yakni kaum Dayak sebagai pribumi serta kaum Tionghoa, Jawa, dan Melayu sebagai pendatang.

4 Kuliner Halal Terpopuler di Pontianak

Kondisi tersebut disinyalir terjadi akibat gelombang migrasi besar-besaran pada abad 18. Ketika itu, kerajaan-kerajaan di sekitar area Kalimantan Barat merekrut banyak tenaga kerja dari luar wilayah mereka untuk sektor pertambangan dan pertanian. Mereka yang datang kemudian betah dan membentuk komunitas besar yang berdomisili di area ini, hingga sekarang.

Pontianak Tugu Khatulistiwa
Tugu Katulistiwa sebagai ikon kota Pontianak yang perlu dikunjungi selain menikmati 4 kuliner halal terpopuler.

Dari situ, budaya para pendatang saling berbaur dengan budaya warga setempat dan bermanifestasi menjadi beberapa hal, tak terkecuali kulinernya. Bahkan, bisa dikatakan bahwa banyak kuliner khas kota khatulistiwa itu yang berasal dari budaya kuliner etnis Tionghoa. Lebih unik lagi, dari kuliner yang populer tersebut ternyata tidak semuanya halal.

Padahal, Pontianak dulunya berawal dari sebuah kerajaan Islam, dan hingga kini pun mayoritas warganya muslim. Oleh sebab itu, perlu jadi pertimbangan bagi wisatawan muslim untuk mengetahui apa saja destinasi kuliner di Pontianak yang halal untuk dicoba. Ini adalah beberapa di antara 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak.

  1. Mie Tiaw Apollo

Salah satu kuliner yang bisa dibilang cukup identik dengan Pontianak adalah mie tiaw, atau yang umumnya biasa disebut kwetiau. Makanan sejenis mie ini terbuat dari beras, dan biasanya berbentul pipih memanjang dengan tekstur yang lembut dan kenyal. Ia berasal dari budaya kuliner kaum Tionghoa dan lazim ditemukan di restoran masakan Tiongkok.

Mie Tiau Pontianak shutterstock
Mie Tiau atau kwetiau Pontianak satu dari 4 kuliner halal terpopuler. Foto: shutterstock

Namun, yang membedakan mie tiaw di Pontianak dengan kwetiau yang sering dijumpai pada umumnya adalah cita rasanya. Kwetiau biasanya cenderung bercita rasa manis, karena dimasak menggunakan kecap manis. Sementara mie tiaw Pontianak lebih bercita rasa asin dan gurih, karena menggunakan kecap asin. Terlepas dari kecapnya, ini satu dari 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak.

Soal racikannya pun juga sedikit berbeda. Kalau kwetiau umumnya diracik dengan daging ayam atau lauk seafood seperti udang dan sebagainya, mie tiaw ala Pontianak kerap disajikan dengan daging sapi. Bahkan di Mie Tiaw Apollo, isiannya juga meliputi olahan sapi lainnya seperti urat, babat, kikil, babat, dan usus. Tak ketinggalan pula di dalamnya sayur sawi, taoge dan telur.

Mie tiaw kemudian disajikan dengan tiga pilihan, baik dengan digoreng, direbus atau langsung disiram dengan kuah panas. Untuk yang goreng dan rebus harganya Rp 37 ribu, sementara yang mie tiaw siram dihargai Rp 45 ribu. Ada pula pilihan mie tiaw biasa tanpa topping daging seharga Rp 17 ribu.

Meski hanya berupa warung sederhana, namun Mie Tiaw Apollo hampir tak pernah sepi pengunjung. Pun demikian, warung yang sudah berjualan sejak 1968 itu tidak pernah buka cabang lain selain warung aslinya di jalan Patimura nomor 63. Walaupun tak jauh dari situ ada warung mie tiaw lainnya dengan nama serupa, ternyata memang bukan cabangnya.

Walaupun konon katanya, warung tersebut milik bekas pegawai Mie Tiaw Apollo yang pecah kongsi dan memutuskan membuka warung sendiri. Apapun itu, bagi yang ingin mencoba Mie Tiaw Apollo yang asli, jam bukanya dari jam 13.30 hingga 00.45. Bisa jadi pilihan yang menarik bagi wisatawan yang ingin berburu kuliner malam di Pontianak.

  • Pondok Kakap

Kuliner Pontianak lainnya yang populer di kalangan warga lokal dan wisatawan adalah masakan seafood. Pondok Kakap, yang berada di Jalan Ismail Marzuki nomor 33A, merupakan satu dari beberapa restoran seafood populer di sana. Restoran bernuansa elegan dan premium ini cocok untuk tempat bersantap bersama keluarga, serta bisa jadi venue untuk acara ulang tahun, pernikahan dan sebagainya. Ini satu dari 4 kuliner halal terpopuler di kota ini.

Menu yang jadi andalan di sini meliputi kepiting asap, kepiting saus tiram, ikan kakap asam pedas, ikan bawal putih stim, ragam pilihan dimsum, dan lain lainnya. Satu menu yang unik dan langka adalah ikan salju, yaitu ikan yang hidup di area perairan Antartika yang dingin. Aromanya tidak begitu amis, agak mirip seperti susu dan tekstur dagingnya yang begitu halus.

Selain menunya yang beragam, harganya yang cukup reasonable juga menjadi daya tarik. Untuk harga ikan tergantung dari bobotnya, seperti ikan kakap yang dihargai Rp 23 ribu per ons, atau ikan bawal putih yang harganya Rp 45 ribu per ons. Begitu pula kepiting, yang harganya Rp 220 ribu per porsi, namun jika ingin kepiting berukuran lebih besar maka akan ada tambahan biaya dari Rp 35 ribu sampai 37,5 ribu, tergantung ukurannya.

Restoran ini juga menawarkan fasilitas private room alias ruang makan privat, khususnya bagi yang hendak makan bersama keluarga atau rombongan tertentu. Fasilitas tersebut terdapat di area lantai dua dan tiga, tentu dengan reservasi terlebih dulu.  Pondok Kakap buka setiap hari dari jam 09.30 hingga 21.00.

  • Chai Kue Panas Siam A Hin

Chai kue, atau yang juga dikenal dengan nama choi pan, merupakan kudapan khas etnis Tionghoa yang begitu terkenal di Pontianak. Dalam dialek Hakka, choi pan kurang lebih artinya “kue berisi sayuran”. Penampilannya sekilas mirip seperti dimsum, dengan isian kucai, bengkoang, talas dan terkadang potongan daging ayam, udang atau jamur di dalamnya.

choipan Pontianak prasmanan com
Ilustrasi Choipan atau cai kue, satu dari 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak. Foto: milik prasmanan.com

Umumnya, kudapan ini disajikan dengan cara dikukus, walaupun belakangan muncul pula varian chai kue yang digoreng. Setelah dikukus, chai kue ditaburi dengan bawang goreng, dan dimakan dengan saus mirip sambal. Cita rasanya terbilang unik, sensasi gurih pedas yang berbeda dari dimsum atau kue basah lainnya.

Di Pontianak, tak sulit mencari kedai penjual chai kue. Dari sekian banyaknya, satu yang cukup populer dan menonjol adalah Chai Kue Panas Siam A Hin. Sesuai namanya, kedai ini terletak di satu sudut jalan Siam. Meski hanya berupa kedai sederhana, nyatanya animo pengunjung senantiasa besar, baik warga lokal maupun wisatawan.

Usut punya usut, chai kue buatan kedai ini dianggap sebagai salah satu yang terenak se-Pontianak. Kulitnya yang tipis terasa lembut, dengan isian yang segar nan gurih. Dalam seporsi chai kue, disajikan lima buah chai kue yang penyajiannya bisa dipilih, mau dikukus atau digoreng. Harga satuannya Rp 2 ribu per buah untuk yang kukus, Rp 3 ribu untuk yang goreng.

Selain itu, tersedia pula menu lain seperti siomay ayam dan udang, talam, kulit kembang tahu dan sebagainya. Sejatinya tempat ini satu dari 4 kuliner halal terpopuler di kalangan warga sebagai tempat nongkrong dan makan ringan, tetapi belakangan banyak juga wisatawan yang datang membeli untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Sebagai catatan, kedai ini tutup tiap hari Selasa dan buka dari jam 10.00 hingga 22.00.

  • Es Krim Angi

Bicara soal tempat nongkrong yang hits di Pontianak, kurang afdol jika tak menyebut es krim Angi yang begitu melegenda. Ini adalah 4 kuliner halal terpopuler di Pontianak. Sudah berjualan sejak 1950, es krim ini selalu ramai pengunjung, khususnya kala siang hari saat kota khatulistiwa ini sedang panas-panasnya. Karena lokasinya di jalan Karel Satsuit Tubun nomor 8 berhadapan dengan sekolah SMP dan SMA Petrus, maka terkadang ia juga dipanggil es krim Petrus.

Ada beberapa keunikan yang menjadi alasan kedai es krim ini begitu dicintai warga Pontianak dan diburu wisatawan pecinta kuliner. Pertama, penyajiannya begitu unik dan agak nyeleneh. Alih-alih menggunakan piring, mangkok atau gelas, es krim di kedai ini disajikan dengan menggunakan batok kelapa muda yang dibelah.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa memilih tambahan ekstra topping seperti cincau, jelly dan kacang merah. Biasanya topping akan dimasukkan terlebih dulu, baru kemudian es krim diletakkan di atasnya. Dalam satu batok kelapa pengunjung bisa memilih maksimal hingga tiga scoop es krim dengan pilihan rasa sesuai selera.

Pilihan rasa es krimnya sendiri meliputi coklat, vanilla, strawberry, green tea, durian, alpukat, nangka, ketan hitam dan cempedak. Sebagai catatan, es krim di sini tidak menggunakan pemanis artifisial dan pengawet, agar menjaga cita rasa yang otentik. Harga satu porsi dengan batok kelapa dihargai Rp 28 ribu.

Pun demikian, kini disediakan pula porsi satu cup berisi satu scoop es krim dengan harga Rp 16 ribu yang lebih ekonomis. Kalau ingin menambah topping akan dikenakan Rp 5 ribu per topping. Es krim Angi buka dari jam 08.00 sampai 21.00, namun bersiaplah untuk mengantri ketika sedang ramai-ramainya, utamanya saat siang di akhir pekan atau hari libur.

agendaIndonesia/audha alief praditra

Ucok Durian Medan, Kelezatan 24 Jam

ucok durian Medan menjadi ikon kuliner kota Medan, Sumatera Utara.

Ucok Durian Medan adalah ikon atau simbol pariwisata ibukota Sumatera Utara. Ia mungkin satu-satunya nama tempat nongkrong, atau tempat kuliner, atau sebutlah apapun itu, yang sangat khas: apapun tentang durian.

Ucok Durian Medan

Kedai Ucok Durian milik Zainal Abidin Chaniago sudah berdiri puluhan tahun, hampir 40 tahun melayani penggemar buah ikonik ini. Ucok, demikian Zainal biasa disapa kerabat dan handai taulannya, nyaris identik dengan durian hingga di depan kedainya ia berani memasang tulisan “Jangan bilang pernah ke Medan!!! Kalau belum mampir ke Ucok Durian”. Mungkin terasa sedikit angkuh, tapi apa boleh buat, begitulah kenyataannya.

Semboyan itu bisa jadi benar. Bebarapa tahun terakhir sejumlah biro perjalanan yang membawa wisatawan domestik maupun dari manca negara memasukkan tempat Ucok ini dalam itinerary tamunya. Umumnya siang sesudah jam makan siang, atau malam hari. Sering kali menjadi spot wisata Medan terakhir pada larut malam.

Betul, kadang bahkan menjelang tengah malam. Tak perlu heran, sebab kedai Ucok Durian buka 24 jam. Ini di saat normal dulu, sebelum pandemi. Jadi pengunjung bisa datang kapan saja. Pagi-pagi sekali pun tak jarang bisa dilihat sudah ada penggila durian yang ‘nongkrong’ di sini.

Kedai Ucok Durian di Jalan Pelajar Nomor 46, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, ini sudah berdiri sejak 29 tahun yang lalu. Begitupun, Zainal sudah bergelut dengan buah beraroma kuat ini lebih lama lagi. Hampir 40 tahun. Pengalaman panjang yang membuatnya tahu memilih buah durian yang enak. Tak peduli dari kebun atau daerah mana, yang pasti durian darinya ditanggung enak.

Ucok Durian Medan menjadi salah satu pilihan wisata di kota Medan.
Ucok Durian Medan menjadi salah satu ikon kuliner di kota Medan, Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Citra jaminan duren enak ini tentu tak diperoleh Zainal seketika. Ia mengaku pernah mengalami jatuh bangun selama berjualan durian puluhan tahun. Ia memulai petualangannya di dunia perdurianan dengan menjadi karyawan di gerai penjualan buah durian di Medan. Namun ia tak sekadar bekerja melayani pembeli. Saat bekerja itu, ia manfaatkan untuk memahami seluk-beluk durian. Soal buahnya, juga jaringan pemasoknya. Bertahun-tahun bekerja di tempat orang, muncul hasrat untuk membuka usaha sendiri. “Saya mulai berjualan dari kaki lima, hingga kini sudah ada kedai dan nama yang  melekat dengan kota Medan,” katanya seraya bercerita dirinya mulai berjualan sendiri sejak usia 24 tahun.

Sambil berjualan, Ucok tak lupa untuk terus belajar mengenai buah durian. Dari berbagai cara. Mulai dari ngobrol dengan pengepul durian yang mengantar durian ke lapaknya berjualan, hingga menyambangi petani durian di berbagai tempat. Itu dilakukannya ke banyak tempat dan kebun pusat-pusat durian di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, bahkan seluruh Sumatra.

Di kedai Ucok ini tersedia durian-durian  segar yang dapat langsung dinikmati pengunjung. Pengunjung bisa memilih cara menikmati duriannya: tinggal duduk di bangku dan minta durian dipilihankan karyawan Ucok; atau langsung memilih sendiri durian yang dikehendaki. Semuanya sama saja. Umumnya sih pengunjung memilih langsung duduk di bangku yang tersedia, durian dipilihkan, dibukakan duriannya, dan mereka tinggal menikmati.


Bagaimana kalau durian yang dipilihkan atau kita pilih sendiri dan dimakan langsung di tempat rasanya kurang sesuai? Jangan khawatir, pengunjung bisa langsung menukarkannya tanpa tambahan harga. Untuk durian yang sudah telanjur terbuka, juga tidak akan terbuang percuma. Nantinya durian-durian ini akan dipasok ke usaha rumahan untuk diolah menjadi aneka camilan berbahan dasar durian

Setiap hari selalu saja ada durian yang datang ke kedai Ucok Durian. Jika sedang musim, jumlahnya bisa mendapat pasokan sekitar 6 ribu buah durian. Lebih dari separuh dari jumlah tersebut umumnya habis diserbu penggila durian pada hari tersebut.

Jika tak habis terserap, atau ada durian yang ditukar konsumennya, Ucok tetap tenang, sebab durian-durian tersebut kemudian disalurkan menjadi aneka olahan berbahan durian. Mulai dari pancake durian, daging durian, durian beku, es krim atau kripik durian. Sebagian malah dijual di kedai tersebut. Sebagian lain dikirim ke lain daerah. Tak hanya di sekitar Medan, bahkan hingga ke pulau Jawa.

Jika punya waktu, tempat ini adalah pilihan untuk duduk reriuangan dengan kawan-kawan (tentu jika kondisi sudah mengijinkan, saat ini masih pandemi). Ngobrol sambil menikmati aneka makanan durian.

Namun, jika pengunjung cuma waktu yang mepet dan harus kembali ke kota asal, karyawan Ucok Durian akan membantu mengupas durian yang dipilih kemudian memasukkannya ke dalam wadah yang tertutup rapat sehingga bau menyengat tidak meruap keluar.

Jadi, sudahkah Anda mengunjungi Ucok Durian di Medan? Jika belum, ayo agendakan kunjungan ke tempat ini jika pada waktunya Anda bisa main ke Medan. Sebab, seperti kata Ucok, rasanya tidak lengkap mengunjungi Medan jika tidak mencicipi durian dari Ucok Durian.


agendaIndonesia

*****

Sate Klatak Yogya, Satu Porsi 2-3 Tusuk Saja

Sate Klatak Yogya menjadi alternatif wisata kuliner jika berkunjung ke Yogyakarta

Sate klatak Yogya menambah kekayaan kulinari Yogyakarta. Setelah gudeg, kini kota pelajar itu punya wisata kuliner lain yang layak diburu dan dinikmati.

Sate Klatak Yogya

Untuk warga Yogya, sesungguhnya sudah lama mengenal sate klatak ini. Namun, harus diakui, untuk skala yang lebih luas makanan ini baru diketahui publik ketika salah satu warung yang berjualan sate klatak menjadi lokasi pembuatan film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Yogyakarta memang istimewa, seperti semboyan warga kotanya. Mereka memiliki berbagai macam kekayaan kuliner, salah satunya adalah sate yang hanya ditemukan di sini, berbeda dengan sate kebanyakan. Sate Klatak muncul dari kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul. Tepatnya di pasar Jejeran, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Ya, lokasinya di pasar Jejeran yang kalau siang dipakai sebagai pasar tradisional. Warung Sate Klatak di sini memang baru hidup pada malam hari, mulai pukul 18.00 WIB.

Keistimewaan pertama jenis sate ini adalah bahan bakunya. Sate Klatak adalah sate kambing. Jadi jangan mencari sate klatak berbahan daging sapi atau atau, atau malah daging hewan lain.

Perpedaan ke dua dengan sate lain, adalah bumbu saat mengolahnya dan kemudian saat penyajiannya. Sate klatak tidak menggunakan bumbu kecap atau kacang, dan hanya dibumbui dengan garam. Konon, menurut salah satu versi cerita, karena bumbu garam inilah yang ketika dipanggang di atas bara menimbulkan efek bunyi “klatak, klatak” atau “kletek, kletek” maka masakan ini disebut sate klatak.

O iya, walaupun dengan bumbu pengolahan sangat sederhana, sate klatak sangat diminati pengunjung. Umumnya mereka justru mengatakan menemukan rasa khas daging kambingnya karena bumbu yang simpel tersebut.

Sate klatak Yogya salah satu ciri khasnya dibakar dengan menggunakan jeruji sepeda.
Sate klatak Yogya, pembakarannya dengan menggunakan jeruji sepeda sehingga matang sampai ke dalam. Foto: Shutterstock

Keistimewaan sate klatak yang lain tidak berhenti sampai di situ, keistimewaan lain Sate Klatak adalah pada proses pembakarannya. Daging kambing yang sudah dipotong-potong dadu tidak ditusuk dengan tusukan dari bambu, namun menggunakan besi jeruji sepeda. Penggunaan jeruji ini dipercaya dapat menghantarkan panas yang lebih baik sehingga daging matang hingga ke bagian dalam.

Perbedaan yang lain, satu porsi sate klatak biasanya hanya berisi dua sampai tiga tusuk saja. Potongan dagingnya memang lebih besar dari sate kambing biasa. Satu porsi sate klatak biasanya disajikan bersama kuah yang mirip dengan kuah gulai. Bagi yang suka pedas, bisa meminta irisan cabai rawit untuk dicampurkan ke dalam kuah kare.

Melihat sejumlah perbedaan atau keistimewannya, tentu timbul pertanyaan dari mana asal-usul sate ini. Ada satu-dua versi tentang hal ini. Satu cerita menyebut, sate klatak bermula dari seorang bernama mbah Ambyah yang memiliki ide menjual sate kambing karena memiliki banyak kambing. Awalnya ia berjualan sate di bawah pohon melinjo. Buah mlinjo ini kadang disebut sebagai buah klatak. Dari buah mlinjo yang berserakan sekitar warung sate inilah muncul nama sate klatak.

Versi yang lain menyebut, sate klatak ini bermula ketika seorang kusir andong yang bernama Jupaini. Suatu ketika ia memutuskan beralih mata pencaharian dengan berjualan sate kambing. Namun sate yang ia jual berbeda dengan sate yang lainnya, dimana ia hanya membumbui daging kambingnya dengan garam saja sebelum dibakar. Seperti disebut di muka, pada saat sate itu dibakar lantas mengeluarkan suara “klatak klatak” yang bersal dari garam tersebut. Jupaini inilah yang disebut berinovasi menggunakan jeruji sepeda sebagai penggati tusuk satenya.

Manapun versi yang benar, akhirnya konsumen penggemar sate kambinglah yang diuntungkan, karena memperoleh alternatif menikmati kuliner dari hewan ini. Warung-warung sate klatak mudah dijumpai di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Meskipun belakangan, ada juga yang membuka warung sate klatak di Yogyakata sebelah utara.

Sate klatak Yogya dibakar dengan menggunakan arang, bumbu garam yang menetes menyebabkan bunyi klatak-klatak...
Sate klatak Yogya dibakar dengan tungku dan areng. Foto:iStock

Lalu manakah sate klatak yang paling enak? Enak tentu saja subyektif, namun berikut ini ada beberapa warung sate klatak yang bisa dijadikan pilihan.

Warung Sate Klatak Pak Jupaini; Jalan Imogiri Timur, Bantul, Yogyakarta

Warung sate ini menggunakan nama sang pelopor sate klatak dan termasuk salah satu warung sate klatak yang cukup fenomenal dan hampir selalu ramai. Mungkin karena sejarah bahwa warung ini adalah menemukan resep sate klatak.

Pengunjung yang ingin mencicipi lezatnya menu kambing di warung ini harus sabar menunggu hingga satu jam, karena ramainya warung sate ini. Selain sate klataknya yang terkenal, ada beberapa menu lain yang juga favorit, seperti tengkleng dan tongseng otak kepala kambing.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Pong; dekat  hutan pinus Imogiri, Bantul

Ini terkenal dengan menu satenya yang bebas bau kambing. Bumbunya juga spesial meresap sampai ke dalam. Pak Pong adalah Cucu dari Pak Jupaini, sang penemu resep sate klatak. Jadi wajar jika cita rasanya otentik. Menu lain yang nggak kalah unik, yaitu tengkleng gajah. Bukan dari tulang gajah, tentu, melainkan karena porsinya yang jumbo. Selain itu, ada juga nasi goreng yang digoreng menggunakan arang sehingga aromanya sangat khas.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Bari; Pasar Wonokromo Imogiri Timur, Bantul

Warung ini baru dibuka setelah pasar Wonokromo Imogiri timur tutup dan buka sampai dini hari. Warung sate klatak ini sudah cukup melegenda, berjualan sejak tahun 1940-an, pak Bari merupakan generasi ke-3 penerus usaha kuliner ini. Yang lebih istimewa, warung pak Bari lah yang dipergunakan sebagai lokasi film Ada Apa dengan Cinta 2.

Buat wisatawan yang menginap di Yogyakarta bagian utara, nggak perlu jauh-jauh ke selatan untuk menikmati gurihnya sate klatak Yogya. Di wilayah bagian utara juga terdapat warung sate klatak yang juga nikmat cita rasanya.

Sate Klatak Jogja Pak Jede, di Jalan Nologaten, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di warung ini sate klatak disajikan dengan bumbu sederhana, yaitu garam, merica, serta tambahan kuah. Selain sate klatak, warung makan ini juga menyediakan menu lain seperti tongseng kambing, nasi goreng kambing, gulai kambing, sate kambing, tengkleng, gulai jeroan. Yang asyik, warung ini buka mulai siang, pukul 11.00 sampai dengan 23.00.

Warung Sate Klatak Pangestu; Jalan Damai No. 10, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Warung ini termasuk laris konon dan sampai membutuhkan tiga ekor kambing per hari untuk membuat berbagai menu daging kambing, seperti sate klatak, tongseng, tengkleng, nasi goreng kambing, bahkan hingga olahan jeroan kambing.

Manapun yang dipilih, semuanya enak. Tinggal kamu agendakan kunjungannya.

agendaIndonesia

*****

Ayam Tangkap Khas Aceh, 1 Ekor Dipotong 24

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Nangroe Aceh Darusalam. Ada banyak pilihan di sini, salah satu yang terkanal adalah ayam tangkap.

Ayam tangkap khas Aceh menjadi salah satu ikon kuliner masyarakat Serambi Mekah, selain bakmi Aceh. Dedaunan dan rempah bumbunya menjadi pembeda dengan sajian ayam goreng dari daerah lain.

Ayam Tangkap Khas Aceh

Nama masakan ayam tangkap sendiri sampai saat ini belum ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Secara bercanda, masyarakat Aceh suka menyebut jika nama tersebut muncul dari kebiasaan orang setempat yang baru menangkap ayamnya ketika akan dimasak. Bisa jadi informasi ini cuma guyon, namun bisa jadi hal itu benar. Dan menunjukkan bagaimana “fresh”-nya bahan utama masakan ini sebelum disajikan.

Meskipun tak diketahui sejak kapan masakan ini ada dalam khasanah budaya kulinari Aceh, namun banyak sumber menyebut jika masakan ini sudah ada sejak lama. Setidaknya sudah ada lima-enam generasi di belakang.

Keunikan ayam tangkap ini dibandingkan jenis kuliner ayam goreng lain adalah saat disajikan. Ayam goreng tersebut, selain ukuran potongannya yang kecil-kecil tak seperti layaknya potongan ayam yang dibagi empat atau delapan, disajikan dengan daun-daunan. Ada daun temurui dan daun pandan yang dirajang kasar serta digoreng renyah. Apabila dicicipi daun-daun tersebut mungkin terasa aneh meskipun chrunchy. Tapi bila mengunyahnya dipadukan dengan ayam gorengnya, akan menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat.

Ayam tangkap ini terbuat dari bahan dasar ayam potong, daun temurui, daun pandan dan cabe hijau. Untuk cabe hijaunya biasanya menggunakan yang panjang yang nantinya akan disajikan bersama dengan daun temurui dan daun pandan. Sedangkan bumbu yang digunakan di antaranya bawang putih, bawang merah, cabe rawit, kunyit, jahe, dan air asam jawa.

Dalam proses pembuatan tangkap ini, seperti disebut di muka, biasanya dipotong kecil-kecil. Dari banyak resep yang beredar di masyarakat, umumnya satu ekor ayam akan dipotong menjadi 24 bagian. Ada yang menyebut, karena ditangkap dan disembelih sesaat akan diolah, pemotongan kecil-kecil itu agar bumbu dan rempah cepat meresap ke dalam daging. Begitupun, saat ini banyak juga yang memotong ayam sesuai dengan keinginan.

Setelah itu, potongan daging kemudian direndam bersama bumbu hingga meresap, meskipun tak terlalu lama –kurang lebih 15 hingga 30 menit– lalu daging ayam digoreng hingga matang. Ketika mendekati matang, daun temurui, cabe hijau dan daun pandan dimasukan dan digoreng bersama daging ayam tadi. Setelah semuanya matang, semua lalu tiriskan. Ayam Tangkap biasanya disajikan langsung bersama dengan daun-daunan yang sudah digoreng tersebut.

ayam tangkap khas Aceh, sebagai salah satu ikon kuliner Serambi Mekah.
Ayam Tangkap Khas Aceh sebagai ikon kuliner negeri Serambi Mekah. Foto:shutterstock

Di banyak rumah makan masakan Aceh, penyajian ayam tangkap biasanya dengan dedaunan yang menutupi ayam sehingga terlihat ayam sengaja diletakkan di bawah dedaunan. Dedaunan ini selain sebagai daya tarik hidangan, sekaligus bisa dijadikan sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam.

Pada umumnya, para pencinta ayam tangkap ketika menyantapnya akan mengkombinasikan dengan sambal kecap yang telah dicampur dengan potongan bawang merah dan cabai hijau. Sebagian lagi menggunakan bawang goreng. Satu hal yang pasti, hampir semua restoran Aceh menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama. Hal ini untuk mempertahankan cita rasa.

Lalu di mana ayam tangkap ini di Banda Aceh dapat dinikmati? Berikut sejumlah restoran atau warung makan yang cukup dikenal dengan ayam tangkapnya.

Rumah Makan Hasan; di Jalan Profesor Ali Hasyimi, Pango, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Ini konon merupakan salah satu tempat makan ayam tangkap paling enak di Aceh. Kelezatan ayam tangkap yang dihidangkan di tempat ini bisa dibuktikan dari eksistiensinya yang sudah ada sejak 1989. Rumah makan ini memiliki tiga cabang di Aceh. Restoran ini berada yang buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai 9 malam.

Rumah Makan Specifik Aceh; di Jalan Hasan Dek nomor 14-16, Banda Aceh.

Rumah makan ini dimiliki warga asli Aceh dan dianggap sebagai ayam tankap dengan rasa yang original. Warung makan yang buka setiap hari ini hampir selalu ramai pengunjung.

Ayam Pramugari; di Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda, Paya-Ue, Blang Bintang

Nama rumah makan ini diambil karena awalnya banyaknya pramugari yang membeli ayam tangkap di tempat ini. Mungkin karena dekat dengan bandar udara. Nama yang unik ini mampu membuat orang penasaran mencicipinya.

Rumah Makan Ayam Tangkap Cut Dek; Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

Ini merupakan satu rumah makan yang menyajikan ayam tangkap paling enak di Aceh. Bahkan rumah makan yang berdiri sejak 1996 ini hampir selalu ramai pembeli. Rumah Makan ini buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai dengan 10 malam

Rumah makan Bu Sie Itek Bireun; di Jalan Teuku Umar, Setui, Banda Aceh, di sebelah masjid masjid Meukeutop

Ini merupakan salah satu rumah makan yang populer di kalangan pelancong luar kota. Mungkin karena mereka juga menyediakan menu gulai bebek. 

Lalu di mana jika orang ingin mencicipi ayam tangkap di Jakarta?

Ayam Tangkap Aceh Jakarta; Jl. Menteng No.10 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat 

Ayam & Bebek Tangkap Atjeh Rayeuk; Jl. Ciranjang No.36, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Sudah pernah mencicipi ayam tangkap? Ayo agendakan tangkap ayammu.

agendaIndonesia

****

Ayam Lodho Pak Yusuf, Gurihnya Dari 1987

Ayam lodho Pak Yusuf adalah ikon kuliner khas Trenggalek, Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf bisa menjadi pilihan kuliner utama untuk dicoba saat sedang berada di daerah Trenggalek. Rasanya tak berlebihan jika makanan yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu hidden gem, khususnya di antara kuliner-kuliner asli Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Di atas kertas, ayam lodho terlihat cukup sederhana sebagai sebuah hidangan. Dari pandangan visual, sekilas ia terlihat agak mirip seperti ayam opor, terlebih dengan penggunaan kuah bersantan, meski secara cara penyajian dan pelengkapnya sedikit ada perbedaan.

Kalau ayam opor dimasak dengan cara merebusnya dengan bumbu-bumbu pelengkapnya, ayam lodho disajikan dengan cara dibakar terlebih dulu sembari dilumuri bumbu. Setelah jadi dan daging lebih empuk, barulah ia direbus dan dihidangkan dengan kuah pelengkapnya.

Ayam Lodho Pak Yusuf menjadi daya tarik wisata di Trenggalek, selain Goa Lowo.
Goa Lowo di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Foto Humas Pemkab Trenggalek

Istilah ‘lodho’ sendiri kurang lebih berarti empuk atau lunak, yang mana merujuk pada daging ayam yang empuk setelah dibakar sedemikian rupa. Meski ada pula yang mengatakan bahwa ‘lodho’ juga dapat merujuk pada cita rasa kental di mulut karena kuah santannya.

Oleh karenanya pula, ayam yang digunakan dalam memasak makanan ini umumnya merupakan jenis ayam kampung. Diyakini, daging ayam kampung bila dimasak lama tidak menjadi hancur dagingnya, dan cita rasa kuahnya dapat lebih meresap serta berpadu lebih baik dengan daging gurihnya.

Sebelum dibakar, ayam akan terlebih dulu dilumuri garam. Setelah daging menjadi lebih empuk dan kadar airnya berkurang, barulah ia dimasak dengan kuah yang dibuat dari rempah seperti ketumbar, cabe, kemiri, merica, lengkuas, sereh, kunyit, bawang putih dan merah, serta santan.

Dalam penyajiannya, ayam lodho umumnya dihidangkan dengan nasi gurih, atau racikan nasi yang agak mirip dengan nasi uduk. Sebagai sayurnya, kerap pula ditambahkan sayur urap yang berisikan daun singkong, taoge, timun dan parutan kelapa.

Secara umum, tak diketahui secara pasti kapan makanan ini pertama kali muncul. Ada yang meyakini bahwa kuliner ini sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, karena ia berasal dari budaya persembahan sesajen kepada leluhur.

Budaya tersebut lazim disebut slametan njangkar, yang diadakan tiap sebulan sekali oleh para nelayan setelah munculnya bulan purnama. Berlangsungnya adat ini tak lepas dari kepercayaan warga saat itu kepada Nyi Roro Kidul, yang diyakini sebagai penguasa laut selatan Jawa.

Ayam Opor shutterstock
Ayam Opor yang lebih dikenal di banyak daerah di Jawa. Foto: shutterstock

Harapannya, dengan hajatan dan persembahan sesajen ini para warga yang berprofesi sebagai nelayan dapat senantiasa dilindungi saat melaut. Selain itu, mereka dapat pulang dengan selamat sambil membawa berkah hasil laut yang melimpah dan menguntungkan.

Dari budaya tersebut, makanan ini kemudian menjelma menjadi salah satu santapan merakyat yang masih terus dilestarikan dan diminati hingga kini. Cita rasa kuah yang kental, serta gurih dan pedasnya ayam menyatu harmonis dengan hangatnya nasi dan segarnya sayur urap.

Dan bisa dibilang, warung ayam lodho pak Yusuf merupakan salah satu yang berada di garda terdepan dalam mempopulerkan kuliner ini. Sejak kemunculannya pada 1987, warung ini mampu merintis jalannya menjadi warung penjaja ayam lodho paling populer.

Disinyalir, masakan ayam lodho Pak Yusuf masih terasa otentik dan mendekati resep dari leluhur di masa lalu. Maka jangan heran jika warung aslinya yang berada di kawasan jalan raya Kedunglurah, Trenggalek, ini masih kerap dipenuhi pengunjung, baik lokal maupun pendatang.

Meski demikian, warung ini berproses bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya bisa diterima dan disukai konsumen. Saat pertama kali membuka warungnya, pengunjung tidak langsung berbondong-bondong datang.

Awalnya, banyak yang mempertanyakan mengapa Yusuf, si empunya warung, berani menjajakan makanan yang hanya populer sebagai sesajen bagi kalangan tua warga setempat. Namun, ia bergeming dan terus berusaha menyempurnakan racikan ayam lodhonya.

Bisa dibilang, usaha ini hampir sepenuhnya merupakan usaha mandiri keluarganya. Ayam yang digunakan berasal dari peternakan yang dikelola keluarganya, dan beberapa rempah diambil langsung dari kebun di belakang warung tersebut.

Lambat laun, masakan ayam lodho Pak Yusuf mulai bisa diterima di lidah dan disenangi pengunjungnya. Perpaduan rasa gurih dan pedasnya dianggap pas dengan selera umumnya, terutama bagi warga sekitaran Jawa Timur.

Semakin lama, semakin banyak pula yang mendatangi warungnya. Dari yang tadinya hanya berupa bangunan kecil dan sederhana dari bambu, kini warung tersebut sudah berubah wujud menjadi bangunan permanen yang lebih luas untuk menampung banyaknya pengunjung.

Ayam Lodho Khas Trenggalek Pemkab Trenggalek
Ayam Lodho siap disantap. Foto: Humas Pemkab Trenggalek

Kendati demikian, resep, bahan baku serta cara penyajiannya masih sama dari dulu. Di bawah pengelolaan Ayub, sang anak, beberapa upaya menjaga kualitas masakan ayam lodho pak Yusuf meliputi bahan baku yang dipasok mandiri, cara memasak yang menggunakan tungku kayu bakar, dan sebagainya.

Hal ini membuatnya amat disenangi warga setempat maupun pelancong karena dianggap masih terasa otentik hingga kini. Bahkan karena tingginya permintaan, akhirnya mereka membuka beberapa cabang di kota-kota tetangga, seperti Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Dari pilihan menunya, dalam satu porsi dengan nasi dan sayur urapnya, dibagi berdasarkan ukuran sepotong ayamnya: kecil, reguler, medium dan super. Masing-masing dihargai dari Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu, yang bisa disantap langsung atau dibungkus sebagai nasi kotak.

Pengunjung juga bisa memesan ayam atau sayur urapnya secara terpisah. Tak hanya itu, ada juga pilihan untuk memesan ayam satu ekor utuh, dengan pilihan ukuran kecil, reguler, medium, super dan jumbo yang harganya mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 130 ribu.

Tak mengherankan bila kini pelanggannya begitu beragam. Mulai dari warga lokal yang sekedar menikmati santap pagi, siang atau malam, turis yang ingin mencoba kuliner otentik, hingga pesanan-pesanan nasi kotak untuk acara tertentu, bahkan pesanan dari luar kota.

Ayam lodho pak Yusuf buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 22.00. Karena buka dari pagi, maka warung ini hampir bisa dipastikan selalu ramai dari sejak waktu sarapan, makan siang hingga makan malam, sehingga disarankan untuk datang lebih awal di jam-jam tersebut.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Jl. Raya Kedunglurah, Trenggalek

Telp. (0355) 879311 / 081335123770

Instagram @ayamlodho

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****