Keju Lokal Indonesia, Ini 5 Yang Creamy

Produk keju menjadi penguat rasa pada resep-resep masakan.

Keju lokal Indonesia pasti sudah banyak yang sering mengkonsumsinya. Mungkin tanpa sadar mengetahui jika itu adalah produk buatan sejumlah daerah di Indonesia, karena membelinya di jaringan supermarket dunia.

Keju Lokal Indonesia

Keju memang bukan makanan asli Indonesia, ia masuk dan dikenal di negeri ini karena dibawa orang-orang Belanda pada zaman kolonial. Produk ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari susu.

Untuk konsumsinya, keju dapat disantap langsung atau dijadikan bahan campuran pada hidangan. Cita rasa keju umumnya manis dan asin. Rasa ini dapat ditemukan di banyak produk pastry dan kue seperti puff pastry, cheese cake, roti isi , atau masakan-masakan pasta Italia. 


Bertahun lamanya, masyarakat Indonesia memahaminya kalau keju adalah buatan luar negeri. Produk impor, atau setidaknya jika diproduksi di Indonesia ia menggunakan merek luar negeri.

Keju lokal Indonesia ada berbagai macam jensnya dari cheddar, mozarella, hingga keju danke.


Ternyata beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal memproduksi keju  dengan mengandalkan bahan-bahan lokal. Meski mungkin keju Eropa masih mendominasi pasar dunia, tapi keju lokal Indonesia juga merupakan produk  berkualitas. Pabriknya tersebar di beberapa daerah.


Keju lokal Indonesia punya kualitas yang tak kalah baik. Produsen keju lokal ini tak main-main soal kualitas dan rasa. Berikut lima keju lokal Indonesia yang patut dicoba dan menjadi pilihan utama.


Keju Indrakila Boyolali
Di Boyolali, Jawa Tengah, selain jadi sentra susu sapi, juga ada produsen keju yang cukup terkenal. Indrakila adalah pabrik keju pertama di Jawa Tengah, pendirinya pemuda asli Boyolali bernama Noviyanto.


Keju Indrakila ini mulai dibuat pada 2009 lalu dan kini produksinya sudah terbilang besar. Dalam sehari, pabrik mampu menghasilkan 50 kilogram keju dari sembilan varian berbeda. Keju Indrakila bahkan membuat keju jenis Boyobert yang berasal dari kata Boyolali Camembert.

Keju Lokal Indonesia dari Boyolali jenis mozarella
Keju MOzarella Indrakila dari Boyolali.

Berawal memanfaatkan kelebihan produksi susu sapi di daerahnya, Noviyanto kemudian mengolahnya menjadi produk keju dengan nama Indrakila. Keju Indrakila mempunyai kualitas yang tak kalah dari produk keju buatan luar negeri.

Pembuatan keju Indrakila ini  menggunakan 99 persen susu sapi segar lokal yang sudah dipanaskan dicampur dengan garam dan bakteri Lactobacillus untuk mengasamkan susu dan bakteri Streptococcus untuk menggumpalkan susu.

Salah satu varian keju Indrakila adalah jenis mozzarella diakui sebagai keju dengan rasa yang paling mendekati keju mozarella impor.

Keju Baros Sukabumi
Di kawasan Sukabumi juga ada pabrik keju bernama Baros. Keju yang dihasilkan awalnya jenis keju gouda dengan empat varian. Selain memproduksi keju, pabrik ini juga menyediakan paket tur untuk pengunjung yang ingin mengetahui proses pembuatan keju.

Bagipenggemar keju, keju gouda bukan jenis yang asing. Namanya mengacu pada Kota Gouda, Belanda, yang tak lain merupakan asal mula produk keju jenis ini. Keju gouda berwarna kuning tua, termasuk dalam golongan keju semi padat (semi hard cheese) hingga padat (hard cheese).

Rachmantio adalah nama pengusaha keju lokal Indonesia dengan bendera PT Bukit Baros Cempaka di Sukabumi. Pengusaha kelahiran Cirebon ini mengolah dan memproduksi keju gouda dengan masa pemeraman antara 1,5 bulan hingga lebih dari empat bulan.

Keju Baros Sukabumi IG
Keju gouda Baros dari Sukabumi.

Berkat ketekunannya, produk keju gouda bermerek Baros sejajar dengan produk-produk keju impor di rak-rak supermarket. Ia mengaku memilih gouda, dan bukan cheddar, karena kualitasnya.

Awalnya, Keju Baros fokus memproduksi jenis keju gouda. Belakangan mereka juga memproduksi keju jenis lain.

Agar rasa dan kualitasnya sama seperti keju asal kota Gouda, perusahaan ini sempat mendatangkan  ahli keju Gouda dari Belanda untuk mengajarkan cara pembuatan keju kepada karyawannya. Susu sebagai bahan utamanya berasal dari sapi Friesian Holstein yang didatangkan langsung dari Belanda.

Keju Lembang Bandung
Keju yang diproduksi di Bandung ini punya merek Keju Lembang. Usaha produksi keju skala mikro ini didirikan sejak 2013 di kawasan Lembang yang terkenal sebagai salah satu pusat susu Indonesia.


Produk keju mozzarella di pabrik ini terkenal dengan kualitasnya yang lezat dan mirip seperti keju Italia. Kualitas keju produksi ini bahkan diawasi langsung oleh ahli keju di bawah supervisi akedmisi dari Teknik Kimia, ITB.

Keju Yogyakarta
Dari kota pelajar Yogyakarta ada juga produsen keju artisan yang menarik. Keju dengan label Mazaarat ini mengusung tagline sebagai keju alami yang sehat dan berkualitas. Total ada 14 jenis keju yang dibuat di pabrikan ini. Mulai dari keju mozzarella, halloumi, feta, ricotta hingga keju gouda. Keju di tempat ini diproduksi dalam skala kecil namun tetap mengandalkan kualitas premium.


Bahan utama keju Mazaraat Artisan Cheese adalah susu kambing dan sapi namun organik. Artinya, sapi dan kambing tersebut dipastikan hanya memakan rumput yang bebas pestisida atau pupuk kimiawi serta bebas dari suntikan hormon antibiotik pemacu produksi susu.

Selain itu, keju Mazaraat Artisan Cheese tidak mengandung bahan pengawet, aditif, perasa buatan, pewarna kimiawi atau bahan GMO (genetically modified organism) sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama

Keju Rosalie Bali
Rosalie Cheese menciptakan keju spesial dengan sentuhan unik pada rasa lokal. Produsen keju yang pabriknya berada di Denpasar, Bali, ini menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Susu yang digunakannya pun berasal dari kambing etawa dan saanen yang diambil dari peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Salah satu alasan menggunakan susu kambing adalah karena kambing beranak dan melahirkan secara natural dan tidak perlu disuntik seperti sapi.

Selain itu, susu kambing juga lebih mudah dicerna tubuh manusia serta cocok untuk mereka yang intoleransi terhadap laktosa.

Rosalie Cheese menyediakan beberapa varian antara lain black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), serta crotting cheese dengan bungkus daun anggur.

Ayo mulai mengkosumsi keju lokal Indonesia yang creamy-nya tak kalah dengan keju impor.

agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Pak Supar, Gurihnya Sejak 1974

Ayam Goreng Pak Supar sudah memanjakan lidah orang sejak 1974.

Ayam goreng Pak Supar Semarang mungkin tenggelam di antara nama-nama besar kuliner di ibukota Jawa Tengah itu. Maklum saja, di kota ini ada begitu banyak makanan enak. Sebut saja aneka soto yang begitu banyak dijajakan, atau tahu pong dan babat gongso. Pokoknya semua makanan enak.

Ayam Goreng Pak Supar

Di antara rimba kuliner enak itu, terselip satu kedai ayam goreng yang sesungguhnya sudah lama menjajakan menu andalannya. Nama kedainya Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar.

Pak Supar sudah menjajal kebolehannya memasak sejak 1974. Awalnya, ia menjajakan masakannya dengan gerobak dorong. Dalam perjalanan waktu, dagangannya laris dan terus berkembang. Saat ini ia sudah mempunyai sebuah rumah makan yang selalu membuat para penggemarnya mengantri.

Ayam goreng Pak Supar bisa jadi kulner, tapi alau oleh-oleh bisa ke kampoeng semarang
Kampung Semarang, pusat oleh-oleh.

Kedai ayam goreng Pak Supar tempatnya tidak terlalu luas, mungkin kapasitas tempat duduknya sekitar 50 orang saja. Jadi jika pecinta kuliner tengah mampir ke Semarang dan ingin mencicipi ayam goreng atau sop buntut di sini, bersiaplah dengan antrian pengunjung yang memenuhi bagian depan tempat makan.

Peminat sajian andalan Pak Supar ini seolah tak ada habisnya. Terlebih pada jam makan siang atau makan malam. Selain kadang harus antre, jika sudah duduk pun jarak antarmeja pun tak terlalu longgar.

Meski bukan makanan khas kota ini, ayam goreng Pak Supar digemari banyak penikmatnya. Bukan pemandangan yang aneh saat menjelang makan siang atau malam, pengunjung harus antre hingga satu jam untuk mendapatkan kursi.

Tak sedikit pengunjung yang kemudian memilih untuk membawa pulang ayam goreng atau sop buntutnya. Begitupun tak sedikit pula yang rela untuk menunggu demi mencicipi langsung hidangan ayam kampung goreng dan sop buntut andalan kedai ini.

Menurut para pelayannya, hidangan kedai ini yang menjadi incaran para pelanggannya sudah pasti adalah ayam goreng dan sup buntut. Untuk hidangan ayam goreng, pihak kedai hanya menggunakan ayam kampung dengan umur tertentu.

Ayam Goreng Pak Supar Semarang Legendaris shutterstock

Ayam itu kemudian diolah dengan bumbu khas mereka yang berbeda dari kedai ayam goreng yang lain. Menurut pelayannya, setelah pembumbuan, ayamnya digoreng hingga tenggelam dalam minyak. “Seperti direbus minyak, jadi empuk,” kata salah seorang pelayan.

Salah satu yang juga berbeda dengan tempat makan ayam goreng lainnya, di Ayam Goreng Pak Supar ini, jika ada tamu datang dan duduk makan pelayan akan datang dan bertanya pesanannya.

Jika memesan ayam goreng, biasanya tidak ditanya jumlah potongan yang dipesan. Biasanya pelayan akan menghitung jumlah pembeli lalu nantinya akan membawa satu piring berisi ayam goreng sejumlah pembeli.

Untuk penyajian ayam disesuaikan dengan jumlah yang datang. Jika pengunjung datang beramai-ramai, pelayan akan menyajikan sepiring penuh ayam, yang nanti akan dihitung seberapa banyak yang dihabiskan pelanggan. Namun jika datang sendirian, biasanya disajikan sepotong dada, paha dan sepasang ati ampela.

Soal rasa? Benar saja, saat dicoba, ayam kampung yang umumnya lebih liat dibandingkan ayam negeri menjadi amat empuk. Bisa jadi ini karena proses penggorengan yang terendam minyak.

Sebagai pendamping, pengunjung bisa memilih tiga jenis sambal, yakni sambal manis, yang biasanya langsung disajikan bersama lalapan dan ayam. Selain itu tamu bisa memesan sambal bawang –kadang disebut juga sebagai sambal korek, atau sambal terasi dengan harga Rp 5 ribu/cobek.

Dari ke tiga jenis sambal tersebut, yakni sambal korek, sambal terasi, juga sambal manis khas kedai ini, umumnya rasanya cenderung manis. Untuk yang suka pedas direkomendasikan memilih sambal korek yang paling pedas di antara ketiganya.

Sebelum makan ayam goreng, ada baiknya makan pembuka berupa sup buntut. Dihidangkan masih mengepu panas, sungguh hidangan ini menggoda selera. Daging buntut yang tersaji cukup banyak, dan dipotong besar-besar. 
Saat disesap kuahnya, kaldu pun begitu terasa di mulut. Daging buntut yang empuk sambil sesekali menyesap potongan serat daging yang menempel pada tulangnya.

Besar dan banyaknya daging buntut yang empuk menjadi alasan kepuasan pelanggan di sini. Dalam sehari, Ayam Goreng Pak Supar bisa menghabiskan 10 kilogram daging buntut sapi dan 40-50 kilo daging sapi bagian lainnya.

Daging buntut dipresto sampai dua jam sehingga menjadi empuk. Sedangkan untuk membuat kaldunya, kedai ini menggunakan rebusan tulang yang amat banyak sehingga terasa kental dan keruh.
Jadi kalau dolan ke Semarang dan bingun mau makan apa, bisa jadi Ayam Goreng Pak Supar bisa jadi alternatif.

Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar

Lokasi di Jalan Moh.Suyudi Nomor 48, Miroto, Semarang Tengah, Jawa Tengah.

Buka mulai pukul 10.00 – 22.30 WIB

agendaIndonesia

*****

Makan Beramai Ala Botram, 4 Pilihannya

Makan beramai ala botram mulai menjadi tren publik pada 2017.

Makan beramai ala botram sangat menyenangkan dan beberapa tahun terakhir menjadi trend. Tidak saja resto yang membuat gaya ini, tapi juga ketika ada acara-acara keluarga di rumah-rumah pribadi. Masing-masing orang membawa makanan sendiri, untuk kemudian saling bertukar dan mencicipi makanan satu sama lain dan makan beramai ala botram.

Makan Beramai Ala Botram

Beberapa lembar daun pisang terhampar di atas lantai. Di atasnya digelar tempe goreng, tahu, ikan asin, ikan gurame, dan ayam goreng bertumpuk-tumpuk mengelilingi nasi putih hangat yang disusun memanjang. Di sana-sini tersaji sambal dan beragam dedaunan sebagai lalapan.

Makanan sebanyak itu disiapkan oleh sejumlah orang secara bergotong-royong untuk kemudian dinikmati bersama. Itulah yang disebut botram atau makan beramai ala botram.

Makan beramai ala botram juga dibuat paket menu makan ala-ala di sejumlah restoran.
Resto Alas Daun, salah satu penyaji makan ala botram. Foto: dok Javalane

Orang kerap kesulitan membedakan istilah botram, liwetan, dan balakecrakan. Balakecrakan adalah kegiatan makan bersama, sedangkan liwetan lebih mengacu pada jenis makanan dan cara penyajiannya. Sementara botram merupakan cara penyiapan makanan yang dibawa oleh masing-masing peserta.

Tidak ada istilah tuan rumah dalam konsep makan beramai ala botram. Semua peserta makan adalah setara. Masing-masing membawa makanan sendiri, lalu nantinya saling bertukar makanan dan saling mencicipinya. Juga tak ada ketentuan pasti harus membawa seberapa banyak. Hal ini mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang menganut moralitas egaliter, yaitu bahwa semua manusia diciptakan sama dan sederajat.

Tradisi makan beramai ala botram umumnya diselenggarakan ketika sebuah keluarga atau komunitas sedang berkumpul, seperti saat rekreasi, arisan, atau menyambut bulan Ramadan. Lokasinya pun bervariasi, dari di dalam rumah, halaman, ladang, atau kebun. Jika mengacu pada aspek sejarahnya, nasi liwet khas Sunda berasal dari masyarakat perkebunan yang membekali dirinya dengan nasi untuk makan dari pagi sampai siang di ladang. Karena itu, makan ala botram di tengah kebun merupakan pilihan tepat untuk mendapatkan atmosfer masyarakat Sunda masa silam.

Dago Panyawangan
Dago Panyawangan yang juga menyedian makan beramai ala botram.

Setelah lama tenggelam, tradisi ini kembali mencuat, bahkan sempat viral pada 2017. Saat itu foto orang yang makan bersama dengan alas daun pisang berseliweran di media sosial. Kehadiran media sosial dan keunikan tradisi menjadi faktor yang memicu botram kembali naik ke permukaan.

Sejumlah restoran di Jawa Barat bahkan menyediakan paket menu botram bagi pengunjung. Di Bandung misalnya, ada restoran Moza Cafe, Maka Gallery Cafe, Kelapa Lagoon, Alas Daun, Dago Panyawangan, dan Pinch of Salt. Sementara di Caringin, Kabupaten Bogor, ada penginapan Land Of Blessing Farmstay yang menawarkan sensasi makan botram di tengah areal persawahan.

Virus botram juga melanda warung makan di luar Jawa Barat, terutama Jakarta. Beberapa di antaranya adalah Warung Teteh di Jalan Petogogan, Warung Sunda Ceu Kokom di Jalan Raya Pos Pengumben, dan Bebek Asap Balcon di Kebon Jeruk. Sejumlah nama kemudian sempat hilang ketika pandemi Covid19 sejak 2020 lalu.

Tentu esensi botramnya hilang karena semua makanan disediakan oleh pihak restoran. Namun paling tidak jenis makanan dan cara penyajiannya tetap mempertahankan gaya liwetan khas Sunda.

Nasi liwet Sunda berbeda dengan nasi liwet khas Jawa Tengah. Saat melakukan teknik liwet, orang Jawa mencampur beras dengan santan, sedangkan liwet Sunda tidak menggunakan santan. Nasi liwet Sunda biasanya memakai bumbu garam, bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, lengkuas, cabai, santan, minyak kelapa, atau ikan asin, sesuai selera masing-masing.

Land Of Blessing Farmstay
Land of Farmstay, menikmati alam Sunda.

Untuk lalapannya tak ada aturan baku. Namun biasanya yang paling sering muncul adalah daun sawi, kemangi, dan mentimun karena murah dan mudah ditemukan. Duo lalapan sedap tapi berbau menyengat, jengkol dan petai, juga menjadi ciri khas dari acara makan ini. Pada beberapa rumah makan di Jawa Barat umumnya masih bisa ditemukan lalapan unik, seperti bunga honje atau kecombrang.


Selain berbagi makanan, orang-orang yang makan juga berbagi cerita dan lelucon. Namun ada semacam aturan tak tertulis yang melarang kita untuk berbagi cerita sedih karena akan merusak suasana. Pasalnya, inti dari kegiatan makan bersama ini adalah terwujudnya keceriaan dan silaturahmi yang berujung pada semakin eratnya ikatan kekeluargaan.

Berikut empat pilihan untuk menikmati makan beramai ala botram

  • Alas Daun

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–22.00

Alamat: Jalan Citarum No.34, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung

  • Dago Panyawangan

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–23.00

Alamat: Jalan Ir. H.Djuanda No.127, Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung

  • Land Of Blessing Farmstay

Jam buka: Berdasarkan perjanjian

Alamat: Jl. Curug Kalong RT 01 RW 04, Desa Tangkil, Caringin,Bogor

  • Waroeng Botram Cianjur

Jam buka: 11.00–21.00 (Senin-Jumat) dan 11.00–22.00 (Sabtu-Minggu)

Alamat: Jalan Masjid Agung No. 126, Pamoyanan, Cianjur

agendaIndonesia

*****

Soto Tangkar Betawi, Ini Dia 5 Jawaranya

Soto tangkar Betawi bermula dari iga sapi yang tak dimakai dalam masakan meneer Belanda.

Soto tangkar Betawi mungkin kalah pamor sedikit dibandingkan kuliner khas masyarakat Betawi lainnya, soto Betawi. Padahal dari segi rasa, tak kalah nikmatnya.

Soto Tangkar Betawi

Soto tangkar pada awalnya adalah soto berkuah gurih dengan isian berupa tangkar atau tulang iga. Dari Kuliner Betawi: Selaksa Rasa dan Cerita karya Akademi Kuliner Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama, dalam bahasa Betawi tangkar artinya tulang iga.

Lalu apa bedanya dengan soto Betawi? Warna kuah soto tangkar sedikit lebih kemerahan dan rasanya lebih ringan dibanding soto Betawi. Penyebabnya, soto tangkar menggunakan air asam jawa, kencur, dan lengkuas yang membuat rasanya lebih segar.

Saat ini, selain menggunakan tangkar atau iga, ada pula pedagang soto tangkar yang mencampur isian soto dengan potongan daging. Ada pula yang menambahkan kelapa sangrai halus sehingga kuahnya jadi lebih gurih dan kental.

Soto tangkar Betawi biasanyaisiannya  disipakan dalam mangkok-mangkok dan baru disiram kuah saat akan dihidangkan.


Soto tangkar Betawi sendiri punya sejarah yang cukup panjang, bahkan hingga ke masa kolonial Belanda. Kala itu masyarakat hanya mampu membeli bagian tangkar yang punya sedikit daging dan lebih murah dari pada daging sapi.

Selain itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa para pejabat dan tuan-tuan Belanda jika mengadakan jamuan makan masak makanan mewah dari daging sapi. Bagian lain seperti iga dan jeroan sapi akan diberikan kepada para pekerja lokal. Bagian-bagian inilah kemudian yang dimasak dengan bumbu tradisional, salah satunya soto tangkar Betawi.


Soto tangkar Betawi juga disebut mengalami percampuran budaya antara banyak bangsa yang datang ke Batavia. Misalnya saja dari budaya kulinari Tionghoa. Tak hanya Tionghoa, soto tangkar juga mengalami percampuran budaya India dan Arab yang masuk melalui penggunaan minyak samin dalam soto tangkar dan soto Betawi. Percampuran selera Betawi dan lokal, pengaruh Tionghoa, Arab, dan India menyatu.
Saat ini masyarakat semakin mudah mendapatkan soto tangkar. Selain menikmati masakan dari warung yang legendaris, misalnya, yang berpusat di daerah Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat.Orang juga bisa menikmati warung-warung kecil yang mulai menjajakannya.

Perbedaan soto-soto tangkar legendaris dengan soto-soto tangkar baru biasanya pada komposisi campuran susu dan santennya. Di warung-warung terkenal biasanya lebih banyak susunya, bahkan ada yang tanpa santan. Selain itu, semuanya mirip. Dalam semangkuk soto, selain  daging sapi terdapat potongan tomat, daun bawang, babat, kikil dan jeroan sapi.

soto tangkar Betawi mirip dengan soto Betawi namun berbeda dalam bumbu dan ketebalan kuahnya.
Soto Tangkar Betawi mempunyai kuah yang berwarna orange dengan iga sapi dan daging sapi. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Haji Diding

Bagi warga Jakarta dan para peminat soto tangkar pasti sudah tak asing lagi dengan gerai soto tangkar ini. Memiliki banyak cabang, pusatnya Soto Tangkar H. Diding berada di Pasar Pagi Lama.

Soto tangkar di sini sangat menjaga keasliannya dari waktu ke waktu. Maka tak heran jika peminat soto tangkar Haji Diding juga terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tak hanya soto tangkar, di sini pecinta kuliner juga dapat mencicipi sate kuah dengan daging sapi empuk. 

Lokasi di Jalan Pasar Pagi II, RT.2/RW.2, Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. 

Soto Tangkar Jumanta

Pilihan lainnya, jika sedang melewati kawasan Glodok, mampirlah ke Gang Kalimati yang di dalamnya terdapat soto tangkar Pak Jumanta. Sudah berjualan sejak 1970-an, soto tangkar Pak Jumanta masih eksis hingga kini.

Sebaiknya datang waktu pagi hari karena sekitar jam 12 siang soto tangkarnya biasanya sudah terjual habis. Untuk dapat menyantap semangkuk soto tangkar, pengunjung hanya perlu menyiapkan uang kurang lebih Rp 25 ribu.

Lokasi di Jalan Pancoran Gang Kalimati, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta.

Soto Tangkar Jakarta shutterstock
Ini merupakan campuran budaya lokal, Tionghoa, India dan Arab. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Omah Sendok

Kalau yang Ini merupakan sebuah restoran yang menyediakan soto tangkar dengan kuah yang lebih merah dan kental. Untuk soal rasa, soto tangkar omah sendok ini sudah tak dapat diragukan lagi, karena memang sangat enak. Isiannya pun sangat berlimpah. Mulai dari daun bawang, potongan tomat, sampai daging yang lunak, dan gurih berlimpah. 

Lokasi di Jalan Empu Sendok No. 45, RT.8/RW.3, Jakarta Selatan

Soto Tangkar Tanah Tinggi

Kedai ini sudah dibuka sejak 1946. Warung soto tangkar ini didirikan pak Haji Ikhsan.

Keunikan dari soto tangkar di sini adalah kuahnya yang kental serta berwarna kemerahan. Isiannya pun sangat komplit, mulai dari daging sapi, babat, paru, iso, kikil, tulang muda dan tulang rawan telinga. 

Lokasi di Jalan Tanah Tinggi III No. 15, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Soto Tangkar Gunawan

Ini pilihan soto tangkar yang enak lainnya. Kedainya terletak di pinggir jalan dengan gerobak tradisional namun rasa dari soto tangkar di sini tak kalah dengan yang terdapat di restoran. Jika ingin menyantap semangkuk soto tangkar di sini, usahakan hindari makan siang, karena tempat ini akan dikerubungi pelanggan saat jam makan siang tiba. 

Lokasi di Jala Warung Jati Barat No. 48, Kalibata, Jakarta Selatan.

agendaIndonesia

*****

Goyang Lidah ala Temanggung, 5 Yang Unik

Goyang lidah ala temanggung, Jawa Tengah di antaranya ada sego gono.

Goyang lidah ala Temanggung mungkin belum banyak yang hapal luar kepala. Maklum, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah masih belum menjadi destinasi utama. Kota kecil ini biasanya cuma dilewati jika orang hendak menuju Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng.  

Goyang Lidah ala Temanggung

Temanggung mungkin lebih dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Ya, sebagai penikmat kopi, Temanggung tentu tak asing. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopinya juga dipertimbangkan masyarakat dunia saat berhasil masuk delapan besar festival kopi di Swedia dan dipamerkan di pergelaran bertajuk Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta, Amerika Serikat. 

Menyeruput secangkir kopi tentu lebih nikmat jika dipadu dengan camilan, entah ringan maupun berat. Dan Temanggung punya punya padanan untuk kopinya. Tertarik? Ini ada 5 yang bisa jadi pilihan.

Sego Gono

Inilah makanan khas Temanggung yang kini jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, penganan ini bisa ditemukan di perhelatan tertentu. Sego gono disajikan ala kadarnya, tapi cita rasanya sama sekali tak sekadarnya. Nasi kukus berbumbu ini dilengkapi mbayung (daun lembayung, daun dari kacang panjang), kubis, tempe, teri, kacang, dan parutan kelapa muda. Aromanya begitu menggoda. Saat disantap hangat-hangat, rasanya jempolan.

Bila ditambahkan ikan asin goreng atau rempeyek, hmm… semakin enak. Kenikmatan ini bisa jadi timbul karena kesungguhan juru masaknya. Bisa juga karena menggunakan dandang gerabah dan kukusan bambu. Atau bisa jadi karena teknik mengukus dengan memperhatikan urutan, seperti nasi-sayuran-nasi-sayuran-dan seterusnya. Tak perlu merogoh kantung lebih dari Rp 5 ribu untuk dapat menikmati seporsi sego gono.

Pasar Papringan; Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kabupaten Temanggung

Pasar Entho; Jalan Diponegoro, Parakan,Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung masih jarang ditengok orang, padahal banyak yang bisa jadi teman ngopi.
Kupat tahu dari Temanggung hampir mirip dengan saudaranya di Magelang. Foto: Dok. shutterstock

Kupat Tahu

Jarak Magelang ke Temanggung tak lebih dari satu jam perjalanan. Tak ayal,  kulinernya pun terpengaruh. Salah satunya ditandai dengan keberadaan kupat tahu. Penganan ini berisi potongan ketupat, tahu goreng, dan tauge, sama seperti yang disajikan di Magelang.

Selain itu, seporsi kupat tahu dilengkapi dengan bakwan sayur, potongan kol, cincangan kubis atau seledri, guyuran bumbu kacang setengah cair dengan rasa lebih manis dan gurih–karena dipadukan dengan gula merah cair, dan bawang goreng. Nah, seporsi kemewahan kupat tahu yang disajikan diganjar tak lebih dari Rp 15 ribu. 

Kupat Tahu Batoar; Jalan Gilingsari Pandean, Kabupaten Temanggung

Bakso Lombok Uleg

Bakso seoertinya hanya sajian biasa. Namun, di Temanggung, lain ceritanya. Ada bakso lombok uleg yang dikenal sejak 1950-an dan telah melekat dengan daerah tersebut. Tak sulit ditemukan. Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer arah timur Alun-alun Temanggung, tepat di ruas Jalan Sudirman. Warung Bakso Lombok Uleg Pak Di, demikianlah warung itu dikenal.

Seporsi bakso lombok uleg seharga Rp 14 ribu terlihat punya tampilan berbeda. Hal yang pertama dilakukan penjual setelah pelanggan memesan menu adalah menghaluskan (uleg, dalam bahasa Jawa) cabai rawit di mangkuk. Tingkat kepedasannya dapat disesuaikan, yakni lima cabai untuk kategori sedang dan sepuluh cabai untuk kategori pedas. Setelah itu, potongan-potongan ketupat, tahu, dan bakso dimasukkan, lantas  disiram kuah kaldu panas. Pelengkapnya adalah kecap, bukan saus atau sambal.

Bakso Lombok Uleg Pak Di; Jalan Sudirman Nomor 48 A, Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung ternyata banyak ragamnya, dari yang berkuah atau berbumbu kacang.
Pecel khas Temanggung dengan daun selada air. Foto: Dok. shutterstock

Pecel Kenci Pikatan

Jika ingin menikmati olahan selada air atau kenci–sebutan masyarakat Temanggung untuk selada air, seporsi pecel kenci Pikatan bisa jadi jawabannya. Di Pelataran Parkir Pikatan Water Park yang berada sekitar 3 kilometer arah tenggara pusat Kota Temanggung, beberapa warung makan sederhana menyajikan menu itu. Kenci Pikatan disajikan bersama mi kuning dan bumbu kacang yang sudah ditumbuk halus dengan tingkat pedas sesuai dengan selera. Seporsi pecel mi dihargai Rp 6 ribu. Bila tambah nasi putih, harganya menjadi Rp 10 ribu. 

Meski tampilannya biasa, manfaat mengkonsumsi kenci tidak main-main. Selain kaya akan kandungan vitamin sayuran rendah kalori ini mengandung fitonutrien alami yang berperan sebagai antioksidan. 

 Pecel Kenci Pikatan; Pikatan Water Park; Jalan Raya Pikatan Mudal, Kabupaten Temanggung

Jajan Pasar Temanggung

Bila singgah di Pasar Entho yang berjarak sekitar 10 kilometer arah barat laut dari Kota Temanggung, kemungkinan Anda akan teringat dengan Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, Semarang. Meski barang dagangan yang dijajakan berbeda, penampakannya hampir sama. Lantas, apa yang membuat Pasar Entho ini istimewa? Bisa jadi karena beragam penganan tradisional khas Temanggung yang dijual di sini, mulai Rp 1.000. 

Sebut saja entho cotot (singkong yang telah dihaluskan, kemudian diisi gula pasir dan digoreng), ndas borok (terbuat dari parutan singkong/ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), pipis kopyor (berisikan roti tawar, pisang, kelapa kopyor, dilengkapi kuah santan), cetot (singkong yang digiling halus kemudian dicampur dengan kelapa parut sebelum dikukus, dimakan bersama srundeng manis), ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), buntil daun lumbu (daun talas yang diisi dengan teri, petai Cina, tempe, kelapa parut), dan masih banyak lagi.

Pasar Entho; Jalan Dipenogoro, Parakan, Kabupaten Temanggung

TL/agendaIndonesia

*****

3 Resto, 3 Menu di Manggarai Barat

andi prasetyo DSC06586

Apa kuliner yang bisa dinikmati di labuan Bajo? Hasil laut selalu menjadi menu dan pilihan utama di kawasan wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sementara kopi menjadi minuman yang selalu tersaji. Di mana wisatwan bisa menikmati sajian laut dan kopi yang asyik di kawasan ini? Berikut tiga pilihan resto dan tiga menu yang bisa dipertimbangkan untuk dicicipi selagi bermain di wilayah ini.

insan ramadhan ZtH3nn7QAMw unsplash
Senja di Manggarai Barat. Foto: unsplash

Kuliner di Manggarai Barat

Kuah Asam Arema Sari Laut

Siang itu, Billy sumringah mendapati warungnya disambangi orang luar pulau. “Biasanya yang ke sini hanya guru-guru pulang mengajar yang melintas atau sopir yang hendak melakukan perjalanan ke Lembor,” katanya. Tangannya langsung cekatan mengeluarkan beragam jenis ikan segar yang baru dibeli dari pengepul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. 

“Hari ini, kami punya ikan cepa, kerapu batu, dan ketamba,” tutur pria Nusa Tenggara Timur yang menikah dengan perempuan asal Malang—itulah sebabnya warung tersebut dinamai Arema—ini dengan lantang. Masakan andalannya adalah ikan kuah asam. Dia menamai masakannya sop ikan kemato (kemangi, asam, dan tomat). 

Yang spesial, proses masaknya masih mempertahankan cara tradisional. Itu juga yang membikin kuah merebakkan wangi khas. Tak amis, juga tidak enek. Warung yang sudah berdiri selama 10 tahun ini buka mulai pagi hingga sore. Bisa ditempuh lebih-kurang 15 menit berkendara dari Bandar Udara Komodo, di sinilah orang bisa menemukan keautentikan masakan ikan kuah asam khas daerah setempat. 

Arema Sari Laut

Kaper (Jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng)

Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 11.00-17.00

Harga per porsi (plus nasi) Rp 40 ribu

Tenda Seafood Kampung Ujung

Lebih-kurang 300 meter dari Pelabuhan Penyeberangan Labuan Bajo, berjejer tenda-tenda kaki lima. Lokasinya tepat di pinggir pantai, di samping jalan utama menuju Kampung Tengah. Di depan tenda-tenda, terpampang beragam jenis ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang masih segar. Pengunjung boleh memilih sendiri para calon “mangsanya”. 

Asap-asap olahan laut membumbung, menggelitik penciuman orang-orang yang lewat. Ada lebih dari sepuluh kios bisa disinggahi. Semua sama saja, baik dari cara masak maupun harga ikannya. Rata-rata Rp 70 ribu per ekor dengan berat lebih dari 2 kilogram untuk ikan kerapu dan kue, Rp 80 ribu untuk cumi-cumi ukuran besar, serta Rp 50 ribu per kilogram untuk udang. 

Pengunjung dapat memilih cara memasaknya. Yang paling terkenal adalah olahan bakar, goreng tepung, dan kuah asam. Ditambah dengan sambal masak khas Labuan Bajo yang menggunakannggurus, cabai kecil yang terkenal pedas tak terkira. Makan pun makin nikmat, apalagi diiringi dendangan ombak yang menyaru dengan irama angin malam. 

Seafood Kampung Ujung

Kampung Ujung, Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 19.00-04.00

Harga per porsi mulai Rp 50 ribu

Kopi dan Kompyang

Budaya minum kopi orang Nusa Tenggara Timur sudah melekat. Kala tamu datang pun, suguhannya berupa minuman lokal bercita rasa pahit dan asam tersebut. Namun itu tak mengherankan karena kopi menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Selain itu, di daratan Flores, banyak ditemui warung-warung yang menjajakan kopi, selayaknya Kopi Mane yang dibuka pada 2015—kopi mane berarti kopi sore. Pemiliknya, Wenti Romas, meneruskan usaha ayahnya yang sudah lebih dulu dibuka di daerah Ruteng, Manggarai. 

Warung kopi milik Wenti menjajakan beragam jenis arabika dan robusta. Ada Manggarai, Juriah, Yellow Caturra, dan Lanang. Kopi yang menyimpan rasa paling istimewa adalah Juriah. Kopi ini dipanen 2 tahun sekali di atas ketinggian 1.300 mdpl. Belanda yang pertama kali membawa biji kopi tersebut di Ruteng. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi lain. After taste-nya menggambarkan karakter karamel, cokelatdan tembakau yang kuat. 

Segelas Juriah atau kopi lain biasa disantap bersama kompyang, roti tradisional yang dibuat dari tepung beras dengan ditaburi wijen. Sebelum disajikan, kompyang harus digoreng hingga kecokelatan. Meneguk kelezatan kopi dan mencecap kompyang sembari menikmati sore adalah kebahagiaan sederhana di warung yang istimewa. 

Kopi Mane

Jalan Utama Bandara Komodo Labuan Bajo, Flores

Buka pukul 09.00-21.00

Harga kopi mulai Rp 20 ribu, kompyang Rp 2.500

F. Rossana/A, Prasetyo

Empal Gentong Cirebon, 5 Yang Maknyus

Empal gentong Cirebon adalah kuliner legendaris kota Udang.

Empal gentong Cirebon menjadi salah satu kuliner yang wajib disantap ketika mampir ke kota udang itu. Meskipun kini orang dapat menemukan empal gentong Cirebon di daerah lain cukup mudah, namun mencicipinya langsung dari daerah asalnya akan berbeda cita rasanya.

Empal Gentong Cirebon

Ya, makanan khas ini memang populer hingga ke penjuru negeri. Rasanya yang nikmat membuat banyak orang menyukainya. Jika dilihat sekilas akan banyak yang mengiranya sebagai gulai. Ke dua makanan tersebut memang tampilan sekilasnya mirip, namun sebenarnya sangat berbeda, baik dari bumbu juga cara memasaknya.

Empal gentong Cirebon sendiri memiliki nilai historis cukup panjang. Bagaimana cerita di balik manakan lezat yang menggoda selera ini?

Sejarah Empal Gentong Cirebon dalam sejumlah catatan diperkirakan muncul pada abad ke 15 masehi dan dipercaya sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Cirebon, juga Jawa Barat. Meskipun belum ditemukan catatan otentikny, namun hal itu cukup diyakini masyarakat.

Empal gentong Cirebon dulu dijadikan sarana untuk menyebaran agama ISlam.

Keyakinan tersebut salah satunya diperkuat dari bahan utamanya. Pada awal kemunculannya, empal gentong dibuat dengan menggunakan daging kerbau.

Pemilihan jenis daging ini memeiliki pertimbangan pada masa itu masyarakat Cirebon banyak menganut agama Hindu. Sementara sapi merupakan hewan sakral di agama tersebut sehingga tidak boleh dikonsumsi.
Empal gentong Cirebon sendiri merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Arab, India, dan Cina yang berakulturasi dengan baik. Dilihat dari ciri makanannya, empal gentong memiliki kuah seperti gulai yang merupakan makanan dengan pengaruh Arab dan India.

Sedangkan bumbu-bumbunya banyak berasal dari budaya Cina dan lokal. Selain itu, di dalam makanan ini biasanya dicampur jeroan, bahan yang sering dijumpai pada makanan khas Tionghoa.

Daerah Cirebon memang menjadi pelabuhan tempat singgahnya pedagang dari berbagai negara, tak heran jika akhirnya semua budaya berakulturasi.

Sumber lain menyebutkan bahwa nama empal gentong diambil dari cara memasaknya yang dibuat di dalam kuali atau perik tanah liat atau gentong. Kemudian dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu.

Cirebon merupakan kota pelabuhan yang didatangi banyak pedagang dan pelaut dari pelbgai negara.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)


Sejak zaman Sunan Gunung Jati, sekitar awal 1400-an, di wilayah barat Cirebon sebelah utara Jamblang ada Desa Situwinangun yang dikenal sebagai pembuat anjun atau gerabah yang terbuat dari tanah liat diantaranya gentong dan padasan.

Kabarnya empal gentong khas Cirebon ini tercipta berawal dari kreativitas masyarakat Cirebon pada zaman dahulu yang memanfaatkan gentong sebagai media untuk memasak empal.

Dengan berlimpahnya kayu dan pohon asam, masyarakat Cirebon memanfaatkannya sebagai kayu bakar untuk memasak empal gentong Cirebon. Menurut masyarakat Cirebon memasak dengan menggunakan kayu bakar dari pohon asam dipercaya memiliki aroma yang khas pada masakan.

Meskipun belum ada sumber yang tepat mengenai asal usul empal gentong Cirebon ini, namun masyarakat percaya bahwa makanan ini menjadi salah satu taktik penyebaran agama Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati pada waktu itu.

Manapun cerita tentang asal-usul empal gentong ini, yang pasti masakan ini enak dan menjadi kuliner wajib jika berkunjung ke kota di Jawa Barat ini. Lalu mana tempat makan empal gentong yang paling maknyus?

Empal Asem shutterstock
Selain epal gentong yang bersantan, ada pula empal asem yang berkuah bening. Foto: shutterstock

Ketika dolan ke Cirebon, ada beberapa tempat makan empal gentong Cirebon yang sangat terkenal. Berikut ini lima rekomendasinya.

Empal Gentong H. Apud

Warung makan yang satu ini bukan saja terkenal namun juga legendaris. Penjual empal gentong Cirebon terkenal ini sudah ada sejak 1994. wisatawan bisa menemukan tenpat ini di Jalan Tujuh Pahlawan Revolusi, Jalan Juanda, atau di kawasan Batik Trusmi.

Dagingnya empuk, dan bumbunya menyatu dengan daging. Untuk mencicipi makanan ini, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 23 ribu untuk satu porsi. 
Empal Gentong Amarta

Warung empal gentong Amarta tak kalah legendarisnya dibanding Haji Apud. Tempat ini sudah ada sejak 1997. Lokasinya ada di Jalan Ir. H. Juanda Battembut, Kabupaten Cirebon. Harga empal gentong di tempat ini Rp 24 ribu per porsinya. Rasanya maknyus dengan bumbu khas dan tekstur daging yang empuk.

Empal Gentong Krucuk

Wisatawan juga bisa mencicipi empal gentong Cirebon di tempat makan yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini. Di sini makanannya disajikan dengan kuah kuning serta taburan bawang merah dan kucai yang membuat rasanya semakin sedap.  Satu porsi empal gentong Rp 20 ribu sudah termasuk dengan nasi.

Empal Gentong Bu Darma

Rumah makan empal gentong yang satu ini sudah ada sejak 1980. Lokasinya juga terletak di Jalan Slamet Riyadi, Cirebon. Dengan membayar Rp 22 ribu, pengunjung sudah bisa merasakan sensasi menikmati empal gentong.
Empal Gentong Hj. Dian

Tempat makan empal gentong Cirebon terkenal selanjutnya adalah warung Hj. Dian. Lokasinya di Jalan Raya Ir. H. Juanda Tengah Tani, Cirebon. Restoran ini salah satu tempat makan incaran para wisatawan yang ingin mencicipi makanan khas Cirebon. Harga satu porsi empal gentong di sini Rp 25 ribu.

Selain empal gentong yang kuahnya bersantan, wisatawan juga bisa menanyakan ke para penjual tersebut masakan empal asem. Sama-sama masakan daging, kuahnya bening dan ada sensasi rasa asem karena menggunakan belimbing wuluh yang segar.

agendaIndonesia

*****


Babat Gongso Semarang, Ini 5 Yang Enak

Babat gongs Semarang merupakan kuliner kota ini yang wajib dicoba.

Babat gongso Semarang merupakan olahan dari jerogan sapi jenis babat, isi perut, yang ditumis dengan berbagai bumbu dan bercita rasa pedas manis. Di Semarang biasanya babat gongso ini dijual oleh para padagang nasi goreng.

Babat Gongso Semarang

Sesungguhnya, babat gongso Semarang merupakan tumis babat dan bumbu sebelum dimasak atau dijadikan kondimen nasi goreng. Ia bisa dimakan dengan nasi sepakai lauk. Bisa pula dimakan tanpa nasi, atau malah dengan mie goreng.

Dengan fleksibiltas seperti itu, babat gongso bisa dinikmati kapan saja, baik untuk sarapan, makan siang atau malam hari. Selain itu, pecintanya dapat pula membuat makanan khas Semarang ini di rumah.

Lalu bagaimana sejatinya masakan ini bermula? Jongkie Tio dalam buku Semarang Tempo Doeloe menuliskan bahwa gongso adalah istilah Jawa untuk cara memasak makanan setengah kering. Begitupun, ia sedikit ragu masakan tersebut khas Jawa, karena kala itu sebagian besar masakan Jawa dimasak dengan dibakar. Besar kemungkinan masakan tersebut dipengaruhi budaya luar, misalnya Tiongkok.

Kota Semarang memiliki banyak pilihan kuliner, seperti babat gongso Semarang.

Dalam perkembangannya, babat gongso menjadi makanan khas Semarang dengan rasanya yang manis berkat penggunaan kecap. Ada versi dengan rasa yang lebih pedas, ini biasanya menambah cabai keriting atau rawit merah.

Babat biasanya direbus sampai empuk, potong kecil-kecil, lalu dicampur bumbu. Sedangkan gongso di sini artinya ditumis, jadi masakan ini tanpa kuah. Gongso biasanya dimasak dengan minyak di atas penggorengan, diorak-arik di atas wajan hingga setengah kering. Irisan bawang merah hampir selalu ada dalam pemasakan gongso. Konon, masakan yang digongso memiliki cita rasa dan aroma.

Saat berkunjung ke Semarang, wisatawan bakal dengan mudah menemukan orang berjualan babat gongso, yang biasanya juga menjajakan nasi goreng. Namun, ada beberapa tempat yang legendaris, khususnya untuk masakan babat gongso Semarang. Berikut lima warung babat gongso Semarang yang enak dan terkenal. 

Nasi Goreng Babat Sedang Dimasak Dok.
Nasi goreng babat gongso sedang dimasak. Foto: Dok. Pexels

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Pecinta kuliner jalanan saat melancong ke Semarang belum lengkap rasanya jika belum mencoba Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Berlokasi di Jalan Pemuda, dekat dengan Jembatan Mberok Kota Lama, tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Tempatnya dengan tenda.

Jika sedang sangat ramai, pengunjung bahkan harus rela makan melipir di pinggir kali. Mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat gemar makan di tempat ini.

Berdiri sejak 1971, Nasi Goreng Babat Pak Karmin terbilang legendaris. Tempatnya tak pernah berpindah sejak awal mula dibuka. Hingga saat ini, pemiliknya hanya membuka satu cabang di Jalan MH Thamrin Semarang yang dikelola oleh anak pertamanya.

Beragam sajian babat gongso Semarang yang bisa menjadi pilihan pengunjung ke tempat ini, di antaranya nasi goreng babat dan nasi babat.
Nasi babat gongso akan disajikan dengan rasa manis-pedas yang mampu menggoyang lidah. Sementara untuk nasi goreng, potongan babat yang dimasak lembut akan dicampurkan dengan bumbu gurih yang meresap pada nasi.
Warung ini buka setiap hari dari pukul 08.00-22.00 WIB.

Babat Gongso dan Nasi Goreng Pak Hengky

Babat gongso yang satu ini dari dulu memasaknya menggunakan tungku kayu bakar. Cara tersebut membuat hidangan menjadi lebih harum dan gurih. Tidak mengherankan jika nasi goreng babat Pak Hengky selalu ramai pembeli. Selain babat gongso, pengunjung juga bisa menikmati nasi goreng babat dan paru goreng di sana.

Berada di Jalan Puri Anjasmoro Blok K, kedai tersebut buka setiap hari dari pukul 17.00 sampai 23.00 WIB.

Nasi Goreng Babat Pak Taman

Pecinta kuliner bisa menemukan kedai ini di Jalan Stadion Selatan, Karangkidul, Semarang Tengah. Nasi Goreng Pak Taman namanya yang sudah buka sejak 1986. Kedai legendaris ini buka pukul 07.00-16.00 WIB dan hampir selalu ramai dikunjungi pembeli, khususnya pada jam makan siang.

Seporsi makanan di Pak Taman dihargai sekitar Rp 28 ribu. Untuk kantong warga Semarang mungkin tak bisa dibilang murah, namun kalau dilihat dari rasa harga tersebut cukup sesuai.

Babat Gongso Semarang Sajian Sedap
Babat gongso Semarang yang maknyus. Foto: Dok. Sajian Sedap

Babat Gongso Pak Sumarsono

Seperti babat gongso Pak Hengky, warung makan Pak Sumarsono juga menggunakan tungku kayu sebagai alat memasaknya. Kedai Pak Sumarsono berada di Jalan Puri Anjasmoro Nomor 54. Kedai tersebut hampir selalu buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga tengah malam, dengan harga seporsi gongso sekitar Rp 25 ribuan.

Babat Gongso Pak Sabar

Masih ada satu lagi yang layak dicoba yakni kedai nasi goreng Pak Sabar yang berada di Jalan Depok. Kedai tersebut sejatinya merupakan spesialis tahu pong, satu kuliner yang juga khas Semarang. Namun, pengnjung bisa memesan nasi goreng babat atau babat gongsonya.

Buka dari sore hingga menjelang tengah malam, seporsi makanan di sana hanya dibanderol sangat bersahabat dengan kantong.

agendaIndonesia

*****

Ayam Taliwang Dan 3 Menu Sumbawa Barat

Makanan Khas Taliwang

Pernah menikmati sajian ayam Taliwang? Menu ini ada di banyak kota di Indonesia, namun pernahkah pernahkah membayangkan menikmatinya di tempat aslinya?

Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan deretan pantai-pantainya yang berpasir putih. Juga gulungan ombaknya yang mengundang para peselancar dari berbagai dunia datang. Bagi mereka yang bukan pecinta selancar dan lebih menikmati kulinari dalam perjalanannya, Sumbawa Barat punya olahan dapur yang menarik dicicipi. Dipadu dengan nasi, ada empat pilihan yang khas kabupaten ini. Soal rasanya, tentu tak perlu diragukan. Semua jempolan! 

Ayam Taliwang Yang Asli

Sop Tulang Plus Sedotan 

Lazimnya sedotan disediakan ketika ada suguhan minuman. Tapi di RM Sayang Anak, Taliwang, sedotan juga disertakan dalam mangkuk berisi sop tulang. Rupanya, sedotan di sini bisa digunakan untuk mendapatkan sumsum yang berada di bagian dalam tulang. Maklum, yang disajikan lengkap berupa tulang berukuran besar. Kikil terasa empuk dan kuahnya gurih. 

Meski, saat saya datang, yang diolah hanya kaki dan kikil dari sapi. “Aslinya memang kerbau, tapi kadang sukanya tamu juga, jadi, ya, sekarang kebanyakan sapi,” ujar Lindayani, 43 tahun, pemilik rumah makan. Ia menyebut, yang membedakan adalah kaki kerbau biasanya ukurannya lebih besar dibanding kaki sapi. Untuk cara pengolahannya, tulang direbus dulu dengan dibubuhi bumbu, seperti jahe, merica, bawang merah, dan penyedap rasa. Manakala telah empuk dan dibuat sop, diberi lagi bumbu yang ditumis lebih dulu. Per porsi satu mangkuk sop ini dipatok di kisaran Rp 25 ribu. 

RM Sayang Anak 

Jalan Raya Taliwang Balat, Taliwang, Sumbawa Barat,

Buka: Pukul 10.00-21.00

Ayam Taliwang di Tempat Asalnya

Taliwang, kota kecamatan yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat, namanya sudah kesohor. Menyebut namanya pasti kebanyakan orang sembari menahan air liur. Maklum, yang dikenal adalah ayam Taliwang. Olahan ayam kampung dengan bumbu berasa pedas bikin orang ketagihan. Jadi rasanya belum komplet kalau belum mencicipi sajian tersebut saat berada di kota ini. Saya pun saat menelusuri kota ini, ada beberapa warung tenda ayam Taliwang. Hidangan khas ini juga menjadi menu di sejumlah rumah makan. 

Nah, di antaranya yang bisa menjadi pilihan adalah Rumah Makan Totang Rasa dan Warung Taliwang Mbak Nur, warung tenda yang lokasinya juga tak jauh dari Totang Rasa. Tersedia ayam yang diolah dengan cara digoreng atau dibakar, tentu yang membikin rasanya kian mantap adalah bumbunya. Terdiri atas cabai, terasi, bawang merah, asam jawa, dan sedikit gula, yang membuahkan aroma sedap. Rasa pedasnya pun sudah pasti bikin nafsu makan melonjak. Ayam ini diolah dengan cara dibakar lebih dulu, kemudian dikeprek, lantas diberi bumbu, lalu dibakar lagi. Per porsi berupa satu ekor ayam kampung dipatok pada kisaran Rp 35 ribu. Lebih nikmat lagi dilengkapi dengan plecing kangkung, yakni paduan kangkung, tauge, dan kacang tanah goreng yang diguyur sambal. 

RM Totang Rasa 

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 51, Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 08.00-21.00

Warung Taliwang Khas Lombok Mbak Nur , Jalan Jenderal Sudirman, Taliwang, Sumbawa Barat 

Sepat nan Segar

Ikan berkuah di hadapan saya ini sekilas tidak terlalu menarik. Dikenal sebagai olahan sepat, akhirnya saya pun mencobanya dan rasanya ternyata sedap dan menyegarkan. Inilah hidangan ikan khas Sumbawa. Bisa menggunakan jenis apa saja, bisa kerapu, kakap merah atau putih, bisa juga yang lainnya. Ikan terlebih dulu dibakar, baru disiapkan bumbu yang terdiri atas cabai, bawang merah yang dibakar, belimbing wuluh, jeruk munte, tomat, serta daun aru dan daun ruku atau di daerah lain dikenal dengan daun kemangi. Disiapkan bahan lain juga berupa terung ungu yang dibakar terlebih dulu. Hasilnya, ikan yang lembut dengan kuah yang bening tapi segar. Aroma wangi dari dedaunan yang ditambahkan pun menambah rasa sedap. Per porsi 14 ribu. 

RM Sayang Anak Jalan Labuhan Balat, Bugis Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 10.00-21.00

Singang Berkuah Kuning

Sama-sama ikan, tapi antara singang dan sepat dari tampilannya saja sudah berbeda. Bila sepat terlihat kuahnya yang bening dengan potongan cabai, dedaunan, dan belimbing wuluh, singang yang menonjol adalah kuahnya yang berwarna kekuningan. Berbahan ikan, bisa pilih tergantung selera. Bisa berupa ikan bandeng, kakap, atau yang lain. Bumbunya terdiri atas cabai merah, bawang putih, bawang merah, merica, kemiri, kunyit, asam jawa, serta daun ruku. Ikan berkuah kuning ini berasa lebih gurih ketimbang sepat. Meski tetap terasa ada sedikit rasa asam dan pedas. 

RM Sayang Anak 

Jalan Labuhan Balat, Bugis 

Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 10.00-21.00

Rita N/Fran

Masakan Pariaman, 60 Kilo Dari Padang ke Nusantara

Masakan Pariaman, Sumatera Barat, membawa harum daerah ini ke seluruh Nusantara.

Masakan Pariaman, yang merupakan daerah pesisir di Provinsi Sumatera Barat, dikenal menawarkan kelezatannya di seluruh pelosok Indonesia. Sebagian besar rumah makan Padang yang tersebar di tanah Air dibuka oleh para perantau asal Pariaman, kota yang berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari kota Padang.

Masakan Pariaman

Nama Padang memang lebih dikenal dibandingkan Pariaman. Namun, di kampung para juru masak andal ini, tentunya ada pilihan berlimpah hidangan asli Pariaman. Walhasil, bila berlibur di kota ini, wisatawan tak hanya menikmati keindahan pantainya, tapi juga berwisata kuliner dengan sajian pilihan seperti berikut ini.

Masakan pariaman menjadi wakil kuliner Sumatera Barat ke seluruh Indonesia.
Nasi Sek Pariaman, murah meriah dan mengenyangkan. Foto: Dok. TL

Nasi Sek Pariaman

Inilah hidangan terpopuler di Pantai Gandoriah, Pariaman. Banyak yang menjualnya di kedai-kedai kecil dengan meja dan kursi di tempat terbuka, di bawah rindangnya pohon cemara laut. Nasi sek adalah kependekan dari nasi “seratus kenyang”. Dulu sekali harganya memang Rp 100 per bungkus. Kini dipatok Rp 4 ribu-5 ribu. Sekepal nasi panas dibungkus daun pisang dengan lauk sala ikan atau sala cumi.

Sala ikan dan cumi adalah ikan dan cumi
yang digoreng dengan tepung beras berbumbu. Bumbu sala ikan dan cumi ini cukup sederhana, yaitu tepung beras, kunyit, garam, dan jeruk nipis. Bumbu tersebut dibalurkan pada ikan dan cumi, lalu langsung digoreng dan dihidangkan panas-panas.

Gurih dan segar karena ikannya langsung dibeli dari nelayan pagi-pagi di Pantai Gandoriah. Nasi sek dan sala ikan serta cumi ini dilengkapi dengan urap daun singkong dan tauge, serta sambal lado tomat, yang dibuat dari cabai, bawang, dan tomat rebus yang digiling kasar.

Di Pantai Gondariah terdapat belasan pondok lesehan tempat makan nasi sek yang menghadap ke laut. Harga satu porsi, yang terdiri atas lima bungkus nasi dan sepiring sala serta urap dan sambal lado, adalah Rp 25 ribu.

Kedai Nasi Sek; Pantai Gandoriah, Pariaman


Gulai Kepala Ikan Pauh

Yang satu ini, khususnya kepala ikan karang, juga menjadi ciri hidangan di rumah makan Pariaman. Daerah Pauh di Pariaman memang terkenal dengan gulai ikan karang. Bahkan banyak rumah makan di kota besar membuka rumah makan dengan nama Pauh, dengan sajian andalan gulai ikan karang.

Salah satu rumah makan yang khusus menjual gulai ikan karang ini adalah Kedai Nasi Pauh. Menggunakan bangunan lama dari kayu dan cukup luas, rumah makan ini menyuguhkan gulai kepala ikan yang masih panas karena baru dibuat pagi harinya di atas tungku kayu di dapur rumah.

Gulai ikan karang berkuah merah, dengan santan yang tidak terlalu pekat. Bumbunya yang berupa bawang merah dan bawang putih yang digiling kasar, serta cabai rawit hijau yang dibiarkan utuh, membuat gulai terasa makin segar. Dibikin lebih khas dengan tambahan daun ruku-ruku, kunyit, serai, dan asam kandis. Hanya cabai merah, jahe, lengkuas, dan kunyit yang digiling halus. Kepala ikan karang yang disajikan biasanya ikan kakap yang berkulit tebal, tapi setelah dimasak menjadi kenyal. Gulai ini tidak terlalu pedas, bila ingin pedas, silakan gigit cabai rawitnya.

Kedai Nasi Pauh; Jalan DR. M. Djamil, Pariaman

masakan Pariaman lebih dikenal sebagai masakan Padang.
Aneka masakan tradisional Pariaman, Sumatera Barat. Foto: Dok. shutterstock

Katupek Gule Tunjang

Hidangan ini bisa ditemukan di Los Lambuang, Pasar Kuraitaji. Tak jauh

dari Kota Pariaman, berada di jalan utama di pesisir Pariaman arah ke Tiku dan Pasaman. Berbeda dengan ketupat atau lontong yang biasanya disajikan dengan sayur nangka, pakis, atau buncis. Seperti namanya, ketupat gulai tunjang ini disajikan dengan gulai tunjang.

Tunjang adalah kaki sapi yang direbus lama hingga empuk, mirip kikil, tapi lebih tebal, kenyal, dan lembut. Kalau kikil lebih keras karena kulit luar sapi, tunjang ini “dagingnya” kaki sapi dan yang melekat ke tulang.

Seporsi ketupat disiram gulai dengan kuah yang tidak terlalu merah, berisi beberapa potong cubadak atau nangka muda, dan beberapa potong tunjang. Di atasnya ditambahkan kerupuk merah. Gulai tunjangnya juga empuk dan kenyal. Sungguh perpaduan yang unik antara ketupat, gulai tunjang,
dan gulai nangka. Gulai tunjang dimasak menggunakan bumbu rempah yang sangat beragam, dari ketumbar, kemiri, merica, sampai kapulaga. Tak mengherankan rasa rempahnya begitu kuat.

Katupek Gulai Tunjang Kuraitaji; Pasar Kuraitaji, Pariaman

Pasar Tiku, sekitar 1 kilometer dari Pasar Kuraitaji, Pariaman.

Katupek Gulai Sempadeh

Dulunya Tiku bagian dari Pariaman, tapi kemudian digabungkan dengan

Kabupaten Agam. Katupek gulai sampadeh ini dijual di pinggir jalan raya di Pasar Tiku. Ada tiga kedai yang menjualnya. Sajian ini berbeda dengan hidangan ketupat lain karena kuahnya pedas tanpa santan, menggunakan gulai sampadeh atau gulai asam pedas khas masakan Pariaman.

Dalam satu porsi ada tiga ketupat yang diguyur kuah asam pedas berwarna merah dengan potongan labu siam dan ikan laut yang kecil-kecil. Sekilas penampilannya kurang menarik. Namun, pada suapan pertama,

Anda mendapat kejutan. Ternyata ketupatnya gurih, seperti nasi uduk, pas sekali dengan kuahnya yang asam, pedas, dan segar. Desi, penjualnya, menyebutkan ketupatnya gurih karena dimasak dalam santan yang kental. “Anduang (nenek) saya dulu sudah menjual katupek sampadeh ini,” kata seorang pedagang di sana. Ia generasi ketiga yang menjual ketupat gulai sampadeh di Tiku.

Kedai Katupek Gulai Sampadeh; Pasar Tiku, Agam

Memang ada banyak hidangan yang dapat wisatawan coba ketika berwisata ke Pariaman. Namun, untuk minumnya, jangan lupa minuman khas yang amat populer, teh talua atau teh telur. Minuman ini umumnya disediakan di setiap rumah makan atau warung ketupat yang menjual sajian sarapan.

TL/agendaIndonesia

*****