Brongkos Handayani Yogya, Sedapnya Sejak 1975

Brongkos Handayani Yogya menjadi salah satu kuliner yang diburu saat wisatawan datang ke kota pelajar ini. Ia menjadi alternatif masakan jika bosan dengan gudeg atau bakmi Jawa.

Brongkos Handayani Yogya

Sesungguhnya brongkos di kawasan Yogyakarta tak cuma Handayani, tempat terkenal lainnya ada di pinggiran Kali Krasak, di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. DI sana ada brongkos Warung Ijo Ibu Padmo. Tapi kali ini kita cicipi dulu Handayani.

Lokasi warung makan Brongkos Handayani gampang dicari. Pertama-tama kita menuju Alun-Alun Kidul, atau Alun-Alun Selatan, orang Yogya biasa menyebut Alkid. Dari alun-alun ini, tinggal menuju ke arah Plengkung Gading, ini adalah bangunan serupa terowongan kecil di selatannya. Tapi jangan terlalu jauh, sebab lokasi Handayani ada di gerbang keluar alun-alun. Nempel ke dinding alun-alun.

Saat ini, brongkos Handayani bolehlah disebut salah satu kuliner legendaris Yogyakarta. Mungkin karena ia berjualan di sekitar tempat yang ramai dikunjungi. Alun-alun Kidul Yogyakarta memang tidak pernah sepi.

Warung ini menjadi kuliner klangenan karena pemiliknya sudah mulai berjualan sejak tahun 1975. Ya, 45 tahun yang lalu Adijo, sang pemilik kedai ini, mulai membuka warungnya di sini. Awalnya Adijo berjualan es campur dengan cara berkeliling. Itu dilakukannya sekitar tahun 1960-an. Ketika mulai berjualan dengan membuka warung di selatan Alun-alun Kidul, ia melengkapinya dengan berjualan brongkos.

Usaha kuliner yang sudah berjalan sekitar 45 tahun ini saat ini dilanjutkan anak-anak Adijo dan istrinya Saridjem. Tidak ada yang berubah dari resepnya. Konon salah satu rahasia yang dimiliki brongkos Handayani adalah menggunakan 16 macam bumbu.

Lalu sebenarnya, apa sih brongkos itu? Brongkos jelas masakan yang lezat. Jika dilihat sekilas tampilan brongkos mirip dengan rawon, namun ada perbedaan mendasar dari kedua masakan tersebut, yakni jika kuah kentalnya brongkos menggunakan santan, sementara rawon tidak memakai. Kemiripan warna kuah ke dua masakan muncul karena keduanya menggunakan kluwek.

Selain itu, secara tipis ada rasa yang manis menjadi cirikhas masakan Jawa, khususnya Yogyakarta. Bagi Masyarakat Jawa masakan ini biasa disebut “Jangan Brongkos”. “Jangan” di sini adalah bahasa Jawa untuk “sayur”. Menurut sejarahnya, brongkos berasal dari bahasa Inggris, Brown Horst yang artinya daging cokelat. Namun karena penyebutannya susah, di lidah orang Jawa ia menjadi brongkos.

Tidak ada catatan pasti kapan masakan ini masuk dalam daftar kulinari Jawa atau Yogya. Dugaan sementara, ia masuk bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda ke Yogyakarta. Dugaan lain, ia justru dibawa oleh para bangsawan Jawa yang bersekolah ke Eropa.

Yang jelas, masakan ini sudah menjadi menu sarapan orang-orang Jawa zaman dulu. Di kota gudeg itu sendiri cukup jarang rumah makan yang menjual menu brongkos. Bisa jadi karena dulunya brongkos hanya disajikan untuk kaum ningrat. Mengapa? Bahan baku brongkos yang menggunakan daging sapi membuat hanya kaum bangsawan saja yang mampu menikmatinya. Namun seiring perkembangan, ada beberapa tempat makan ataupun warung yang menyediakan brongkos sebagai menu yang bisa dinikmati.

Selain daging, brongkos biasanya berisi kulit melinjo dan kacang tolo. Daging sapi yang dipilih biasanya yang cukup banyak mengandung lemak, atau dalam bahasa Jawa disebut koyor. Bagi mereka yang tidak terlalu menyukai daging sapi, terlebih yang berlemak atau gajih, beberapa tempat makan menyediakan penggantinya seperti tahu atau telur ayam rebus.

Kuah brongkos yang berwarna cokelat cenderung terasa manis, namun juga muncul rasa gurih yang berasal dari santan. Tak perlu khawatir jika Anda penikmat makanan pedas, sebab sepiring brongkos biasanya dilengkapi cabai rawit utuh yang bisa digerus dan menambah sensasi pedas.

Meskipun brongkos sering diasosiasikan dengan Yogyakarta, semur daging dan kacang pedas ini cukup marak dalam tradisi Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah daerah di wilayah ini, seperti Demak, Solo, atau Magelang juga mempunyai masakan brongkos. Tentu dengan versi dan keistimewaannya masing-masing.

Di Handayani, bahkan kita bisa meminta ekstra cabe rawit jika benar-benar ingin merasakan pedas. Di warung ini, biasanya orang memilih menu Brongkos Koyor. Ini artinya menu lengkap: nasi, brongkos dengan daging, telur ayam, dan tahu. Tapi seperti disebut di atas, bisa saja pengunjung hanya memilih daging saja tanpa telur. Atau sebaliknya, hanya telur.

Selain brongkos, warung ini juga menyediakan menu lain, meski tak terlalu favorit, yakni soto ayam dan pecel. Begitupun, apa pun masakan yang dipilih, biasanya pengunjung melengkapinya dengan memesan minuman es campur. Ini cukup khas warung makan ini. Ingat bukan, pemilik warung ini dulunya berjualan es? Bentuknya sederhana: sirup merah dengan kelapa muda dan tape singkong lalu disiram air santan encer dan es batu.

Brongkos dan masakan tradisional lainnya, adalah warisan kuliner Indonesia yang patut terus diapresiasi. Sesekali cobalah mampir ke Handayani dan menikmati brongkosnya. Atau, kalau pas main ke warung ini dan sedang kenyang, bisa membeli brongkos dalam kaleng. Handayani boleh disebut pelopor brongkos dalam kaleng. Menarik bukan?

agendaIndonesia

*****

Coto Makassar, Sejarah Dan 6 Yang Terenak

Coto Makassar adalah kuliner wajib ketika mengunjungi ibukota Sulawesi Selatan.

Coto Makassar sudah pasti mudah ditebak adalah makanan tradisional dari ibukota Sulawesi Selatan itu. Rasanya sebagian besar wisatawan nusantara familiar dengan masakan berkuah ini.

Coto Makassar

Setiap wisatawan yang datang ke Makassar, salah satu agenda kunjungannya adalah mencicipi coto. Ada yang langsung datang ke gerai atau warung terkenal, ada yang ke tempat yang menjualnya secara random. Maklum menu ini banyak ditemui di jalan-jalan protokol, bahkan di pusat perbelanjaaan.

Masakan tradisional khas Makassar ini sudah ada sejak Kerajaan Gowa masih berdiri. Kala itu kerajaan ini berpusat di Sombaopu sekitar1538 masehi, posisi wilayahnya ada di selatan kota Makassar.

Pelabuhan Paotore Makassar shutterstock
Pelabuhan Paotere di Makassar. Foto: shutterstock

Pada mulanya, coto merupakan hidangan khusus bagi kalangan istana Kerajaan Gowa. Ketika ada tamu istimewa atau ritual adat, coto akan menjadi hidangannya.

Namun ada pula cerita yang mengatakan bahwa coto justru dikreasikan oleh rakyat biasa dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi hari.

Dalam catatan sejarah yang dikutip dari arsip pemerintah kota Makassar, pada abad 16, hidangan coto Makassar sebagai kuliner khas juga mendapat pengaruh dari kuliner Cina yang telah ada saat itu. Hal ini dapat dilihat dari jenis sambal yang digunakan, yakni sambal tauco sebagai salah satu identitasnya.

Kelezatan yang memanjakan lidah ketika menikmati hidangan coto tidak terlepas dari pengolaaan berbagai jenis bumbu yang digunakan. Coto memiliki cita rasa tinggi karena memiliki bumbu segudang rempah.


Tidak tanggung-tanggung, dalam meramu jenis bumbu yang digunakan pada coto Makassar ini dilakukan pencampuran 40 jenis bumbu lokal (rampa patang pulo). Ini terdiri kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sereh yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seledri, daun perei, lombok merah, lombok hijau, gula tala, asam, kayu manis, garam, pepaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jeroan.

Semangkok Coto Makassar shutterstock

Rasa dan aroma khas yang dihasilkan oleh bumbu pada hidangan coto Makassar ini juga berfungsi sebagai penawar zat yang terdapat dalam hati, babat, jantung, dan limpah yang banyak mengandung kolesterol.

Coto sekilas seperti sup daging ini memang masakan berupa rebusan jeroan bercampur daging sapi yang diiris-iris lalu dibumbui dengan racikan bumbu khusus. Coto Makassar memiliki cita rasa gurih yang berasal dari rebusan daging, jeroan, dan rempah-rempah.

Coto biasa dinikmati dengan ketupat yang dibungkus dengan daun kelapa dan buras atau burasa, yaitu sejenis ketupat yang dibungkus daun pisang. Burasa terbuat dari beras yang dicampur santan dan diberi sedikit garam, lalu dibungkus dengan daun pisang dan diikat secara khusus kemudian dikukus.
Lalu dari begitu banyak warung makan yang menawarkan coto Makassar di kota angin mamiri ini, manakah yang layak dijadikan pilihan utama untuk dicicipi?

Coto Makassar dan Buras shutterstock
Coto Makassar biasanya disaantap dengan buras. Foto: shutterstock

Coto Nusantara 1

Kedai ini buka dari pukul 07.00-17.00 WITA dan merupakan tempat makan coto enak paling terkenal di Makassar. Di sini wisatawan bisa menikmati coto dengan harga sekitar Rp 25 ribu belum termasuk PPN, dan bisa memilih coto isi daging saja atau campur dengan jeroan.
Coto Nusantara 1; Jalan Nusantara Baru Nomor 42, Ende, Wajo, Makassar
Aroma Coto Gagak

Meskipun Namanya membawa nama gagak, tak berarti mereka menggunakan bahan daging burung gagak. Bernama demikian karena warung ini berada di jalan Gagak. Keistimewaan kedai ini, selain rasanya memang enak, mereka buka 24 jam. 

Aroma Coto Gagak merupakan tempat makan coto legendaris di Makassar yang punya menu coto dengan harga Rp 30 ribu per porsinya. pengunjung juga bisa membeli bumbu coto gagak untuk dibawa pulang dengan jumlah per kilogram.
Aroma Coto Gagak, Jalan Gagak Nomor 27, Mariso, Kota Makassar.
Coto Daeng Sirua

Kedai ini buka secara ‘normal’, yakni dari pukul 08.00-20.00 WITA. Satu porsi menu coto ini dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per mangkuknya. pengunjung bisa tambah ketupat dengan harga Rp 2 ribu.
Coto Daeng Sirua, Jalan Abdullah Daeng Sirua Nomor 10, Panakkukang, Makassar.

Coto Paraikatte

Kedai ini buka lebih pagi yakni pukul 7 dan tutup menjelang tengah malam, 23 WITA. Ada menu Coto dengan harga Rp 18 ribu atau sekitar Rp 12 ribu untuk paket hematnya. Tambah degan ketupat pandan hanya Rp 2 ribu.
Coto Paraikatte, Jalan A. P. Pettarani Nomor 125, Rappocini, Makassar.
Coto Maros

Hidangan coto di kedai ini mulai dijajakan dari pukul 08.00-00.00 WITA. Coto kuah kental ini punya isian daging yang banyak. Harga per mangkuk coto sekitar Rp 23 ribu. Wisatawan bisa menikmatinya dengan es kelapa.
Coto Maros, Jalan Urip Sumoharjo, Maccini, Makassar

Coto Bagadang Fly Over

berada di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Sinrijala, Panakkukang, Kota Makassar. Buka dari pukul 07.00-02.00 WITA. Ada satu porsi menu Coto dengan harga Rp 17 ribu, namun jika ingin membawa pulang harganya menjadi Rp 20 ribu.
Coto Bagadang Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Panakkukang, Makassar


Manapun yang mau dipilih untuk disantap, semuanya enak.

agendaIndonesia

*****

5 Kedai Pempek Paling Direkomendasi

Ini dia 5 kedai pempek paling direkomendasi di Palembang. Foto: shutterstock

Berikut ini 5 kedai pempek paling direkomendasi kala berkunjung ke Palembang. Tentu saja, sudah jadi pengetahuan umum jika pempek sangat identik dengan ibu kota provinsi Sumatera Selatan tersebut. Bahkan sehari-harinya pun warganya menyantap pempek layaknya makanan pokok. Tak hanya itu, pempek juga menjadi pilihan utama penganan oleh-oleh bagi wisatawan, yang rela membawa pulang boks-boks pempek mentahan. Ini adalah 5 kedai pempek paling direkomendasi yang paling terkenal dan legendaris.

Jembatan Ampera Palembang shutterstock
banyak pilihan makan pempek, berikut 5 kedai pempek paling direkomendasi. Foto jembatan Ampera, shutterstock

5 Kedai Pempek Paling Direkomendasi

  1. Kampung Pempek 26 Ilir

Bagi yang ingin mencari pempek berharga terjangkau dengan cita rasa yang tak kalah enak dengan pempek bermerek terkenal, Kampung Pempek 26 Ilir menjadi pilihannya. Sentra penjualan pempek paling ramai di Palembang ini dikenal dengan pempeknya yang murah meriah, bahkan menjadi salah satu lokasi favorit 5 kedai pempek paling direkomendasi warga setempat untuk nongkrong.

Berlokasi di jalan Mujahidin Nomor 26, tak jauh dari kantor Walikota Palembang, pengunjung langsung disambut dengan gapura penanda masuk area kampung pempek. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat berderet kedai-kedai pempek, dengan pemilik dan pramusajinya kerap menunggu di depan kedai sambil menyapa ramah pengunjung untuk mampir.

Jenis pempek yang umumnya ditemui di kedai-kedai tersebut terbilang cukup lengkap, mulai dari pempek kulit, pempek telur, pempek adaan, pempek lenjer ukuran besar dan kecil, dan pempek kapal selam. Yang unik, banyak dari jenis-jenis pempek ini yang harganya hanya sekitar Rp 1 ribu hingga 1,5 ribu per bijinya, sehingga pengunjung yang ingin makan di tempat tinggal memilih sesuai selera.

Selain membeli secara satuan, pengunjung juga dapat langsung memilih beberapa opsi paket yang sudah disediakan, khususnya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bergantung pada jumlah kombinasi pempeknya, harga per paket berkisar dari Rp 65 ribu sampai 320 ribu. Biasanya, kini tersedia paket pempek mentahan atau yang sudah dikemas secara vacuum.

Meski harganya bersahabat, tidak perlu khawatir dengan rasa dan kualitasnya. Semua kedai pempek di sini selalu menggunakan ikan yang setiap harinya selalu fresh dipasok dari pasar di sekitar area kampung tersebut. Ikannya pun tidak sembarangan, hanya ikan tenggiri, kakap dan gabus yang biasanya digunakan. Telurnya pun menggunakan telur bebek. Dan yang pasti, pempek di sini tak menggunakan bahan pengawet.

5 kedai Pempek paling direkomendasi di Palembang.
Salah satu kunci 5 kedai pempek paling direkomendasi di Palembang adalah cukonya. Foto: shutterstock

Semuanya dilakukan agar menjaga cita rasa yang sudah melegenda. Maka tak jarang Kampung Pempek 26 Ilir yang setiap harinya buka dari jam 07.30 sampai 22.00 senantiasa dipadati pengunjung, baik warga setempat yang ingin bersantai sambil menyantap pempek, maupun wisatawan yang sedang berburu pempek murah meriah untuk dibawa pulang.

  • Pempek Saga Sudi Mampir

Pempek Saga Sudi Mampir bisa dibilang merupakan salah satu dari 5 kedai pempek paling direkomendasi dan legendaris di Palembang. Telah berjualan pempek sejak 1961, ia masih menjadi satu dari beberapa kedai pempek yang paling sering direkomendasikan. Bahkan, kini terdapat 3 cabang di sekitar kota Palembang untuk melayani pengunjung yang masih banyak berdatangan.

Menu andalan yang unik dan berbeda dari yang lainnya menjadi satu alasan mengapa ia digemari banyak orang. Selain varian pempek pada umumnya, Pempek Saga Sudi Mampir juga memiliki dua menu primadona yang paling dicari dan laris manis, yakni pempek lenggang dan pempek panggang.

Pempek lenggang adalah jenis pempek yang terbuat dari telur bebek. Cara membuatnya dengan cara dipanggang dan dibungkus menggunakan daun pisang. Sedangkan pempek panggang merupakan pempek yang saat masih berupa adonan tidak lantas direbus, namun langsung dipanggang dan disajikan.

Selain menu tersebut, pilihan menu lain seperti tekwan dan es kacang merah juga cukup disukai pelanggannya. Harga makanannya berkisar dari Rp 5 ribu sampai 30 ribu. Bagi yang ingin membeli mentahan untuk oleh-oleh, tersedia juga pilhan paket yang rentang harganya dari Rp 120 ribu hingga 400 ribu.

Kedai aslinya berada di jalan Merdeka nomor 22, dimana pengunjung dapat melihat proses penyajian pempek di area dapur terbuka secara langsung. Namun kini tersedia pula dua cabang lainnya, yaitu di jalan Angkatan nomor 45 dan jalan Demang Lebar Daun nomor 47. Semua cabang buka dari jam 10.00 hingga 22.00.

Benteng Kuto Besak palembang shutterstock
Benteng Kuto Besak merupakan salah satu ikon kota Palembang. Foto: shutterstock
  • Pempek Ek Dempo 103

Kedai pempek legendaris lainnya untuk dikunjungi adalah Pempek Ek Dempo 103, yang terletak di jalan Lingkaran nomor 60/357E. Kedai ini juga sudah eksis cukup lama, satu dari 5 kedai pempek paling direkomendasi ini mulai berjualan dari 1982. Dan yang membuatnya unik dari kedai pempek lainnya adalah bahan bakunya yang menggunakan ikan belida.

Umumnya, penjaja pempek menggunakan bahan baku seperti ikan tenggiri yang cenderung lebih umum dan mudah ditemukan. Sementara ikan belida merupakan spesies ikan yang terbilang cukup sulit ditemukan dan jarang tersedia di pasaran. Bahkan, di beberapa tempat ikan belida sudah termasuk satwa langka yang dilindungi.

Namun, alasan kedai yang buka dari jam 08.00 hingga 18.00 ini bersikukuh menggunakan ikan belida sebagai bahan baku pempeknya bukan tanpa alasan. Disebutkan bahwa daging ikan belida mempunyai tekstur yang lebih halus dan empuk, serta memiliki cita rasa gurih tersendiri yang berbeda dari jenis ikan lainnya yang menjadi bahan baku pempek.

Cita rasa unik tersebut membuatnya punya tempat tersendiri di kalangan pecinta pempek. Namun, seperti kata pepatah – ada harga, ada rasa – keunikan tersebut juga membawa harga yang agak lebih premium. Rentang harga makanannya mulai dari Rp 8 ribu hingga Rp 80 ribu, sementara paket mentahan untuk dibawa pulang berkisar dari Rp 220 ribu hingga 1,320 juta.

  • Pempek Lenny

Satu lagi kedai pempek yang memiliki keunikannya sendiri adalah Pempek Leny, yang berada di jalan Petanang nomor 6875C. Kedai ini dikenal dengan ukuran pempeknya yang terbilang besar, serta cita rasanya yang cenderung terasa lebih renyah di bagian luarnya, dibanding dengan pempek kebanyakan.

Beberapa varian pempek yang tersedia pun cukup unik, seperti pempek kulit cripsy yang paling digemari pengunjung, atau pempek pistel yang merupakan varian pempek berbentuk mirip seperti pastel. Bedanya, isian di dalamnya adalah tumisan pepaya muda dan ebi kering yang sudah dibumbui.

Selain pempek, menu lain seperti tekwan, rujak mie dan lenggang goreng juga menarik untuk dicoba. Harga makanan berkisar dari Rp 5 ribu hingga 50 ribu, dengan pilihan paket oleh-oleh mulai dari Rp 100 ribu sampai 500 ribu. Yang menjadi catatan, Pempek Lenny tutup setiap hari Minggu dan buka dari Senin sampai Sabtu, dari jam 07.30 hingga 16.30.

  • Pempek Candy

Harus diakui bahwa dari sekian banyak kedai-kedai penjaja pempek di Palembang, Pempek Candy adalah yang paling tersohor, khususnya di kalangan wisatawan. Begitu populernya merek pempek ini, hingga cabang-cabangnya kini dengan mudah dapat ditemukan di berbagai sudut kota Palembang.

Seperti misalnya di jalan Tanjung Api-Api nomor 99, jalan Kapten Rivai nomor 402, jalan Demang Lebar Daun nomor 41, jalan Jenderal Sudirman nomor 149/8, jalan Letjen Harun Sohar nomor 99, jalan Rajawali nomor 550, dan beberapa cabang lainnya. Bahkan, kini terdapat pula kios di area ruang tunggu keberangkatan bandar udara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Maka jangan heran bila melihat pemandangan orang-orang di bandara yang beranjak pulang sambil membawa boks-boks dari Pempek Candy sebagai oleh-oleh. Entah itu paket ukuran kecil seharga Rp 100 ribu, hingga paket Rp 500 ribu yang paling besar, Pempek Candy seakan telah menjadi standar pempek Palembang yang paling disukai dan dicari.

Meski harus diakui pula bahwa cita rasa serta kualitasnya yang terus terjaga merupakan salah satu alasan mereka begitu populer. Begitu pula varian pempeknya yang terbilang cukup lengkap, mulai dari pempek kapal selam, pempek adaan, pempek lenjer besar dan potong, pempek telur, pempek kulit gepeng, pempek keriting, pempek lenggang goreng dan sebagainya.

Harga satuannya pun cukup moderat, mulai dari Rp 4 ribu hingga Rp 40 ribu. Cukonya juga disebut-sebut paling cocok dengan selera mayoritas orang. Tak heran jika semua hal tersebut membuatnya menjadi pempek paling laris di Bumi Sriwijaya. Setiap cabang Pempek Candy buka dari jam 06.30 hingga 22.00, untuk mengakomodasi banyaknya pengunjung setiap harinya.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Macaroni Panggang, Dari Arisan 3 Ibu

Macaroni Panggang Bogor bermula dari arisan keluarga.

Macaroni Panggang Bogor, Jawa Barat, menjadi salah satu kulinari dan oleh-oleh khas kota hujan ini. Melihat larisnya sajian ini, mungkin tidak ada yang menyangka jika kudapan sedap ini justru bermula dari arisan keluarga.

Macaroni Panggang

Ya betul. Awal mula berdirinya rumah makan Macaroni Panggang, restorannya menggunakan menggunakan nama menu paling popular itu, adalah dari sebuah arisan keluarga. Sebuah arisan keluarga yang mempertemukan Baby Ahnan, Susi Gunadi, dan Tintin Kuraesin.

Dalam setiap pertemuan pada arisan keluarga tersebut rupanya Baby selalu menyajikan menu favorit keluarganya, yaitu macaroni panggang dan pie Apel. Tamu-tamu yang hadir dalam arisan ini sangat menyukai kedua makanan ini. Ke dua menu ini selalu habis ludes.

Macaroni Panggang dari sejarahnya adalah kombinasi masakan dari 3 negara: Inggris, Italia dan Amerika.
Macaroni Panggang siap santap. Foto: MP Instagram

Melihat hal itu, melalui pembicaraan di antara mereka, ke tiga orang ibu tersebut sepakat untuk mencoba menjual makanan favorit tersebut secara luas. Dari hasil pemikiran itulah Baby, Tintin, dan Susi Gunadi bersatu padu mengumpulkan modal bersama untuk membuat toko makanan.

Awalnya yang dijual ke pubik bukan macaroni yang dipanggang itu, namun pia apel. Pada 1999, ke tiga ibu tersebut mulai menjual pia apel dengan brand Pia Apple Pie di Bogor. Gerainya di Jalan Pangrango Nomor 19, Bogor.

Usaha Pia Apple Pie ternyata berkembang dengan pesat. Ini kemudian meningkatkan keinginan ibu-ibu tersebut untuk mengembangkan usahanya, kali ini dengan mendirikan Restoran Macaroni Panggang. Maka pada 1 Oktober 2001 berdirilah usaha macaroni atau MP ini.

Menurut cerita Tintin, resep makaroni yang dipanggang ini datang dari Baby Ahnan yang memang senang berkreasi dengan masakan. Makaroni ini merupakan makanan yang sehat, aman, dan digemari banyak kalangan dan berbagai usia. 

Tentu, makaroni bakar atau panggang ini bukan original karya ke tiga ibu tersebut. Jika kita telusuri, makaroni panggang ini merupakan gabungan makanan khas dari tiga negara. Saus putih tradisional Inggris yang di tambah dengan lelehan keju Amerika dan disajikan di atas pasta Italia. 

Semuanya dimulai pada zaman penjajahan Eropa di Amerika, ketika para pelaut membawa pasta makaroni kering. Ini karena pasta adalah salah satu dari beberapa bahan pokok yang bisa bertahan satu tahun di atas kapal. Pelaut ini berlayar dari Italia ke Inggris dan ke negara koloni, yaitu Amerika.

Setibanya di Amerika, para pelaut ini kebingungan untuk mengolah makanan, karena koloni Amerika tidak memiliki pilihan produk segar dan bahan-bahan lain yang ada di Italia. Sehingga mereka berimprovisasi dengan bahan yang yang mereka miliki di atas kapal.

AI Macaroni Panggang Siap Saji IGMP
Macaroni Panggang dalam kemasannya. Foto: MP Instagram

Para pelaut ini menggabungkan susu segar atau krim susu, roti yang keras dan hampir basi, dan tetesan daging. Susu segar ini menjadi cikal bakal dari saus putih sederhana, yaitu susu  yang dikentalkan dengan tepung dan mentega. Resep makaroni pertama ditemukan pada buku masakan sekitar abad ke 14.

Resep itu pun menyebar sampai ke Indonesia. Ketika Indonesia dijajah Belanda, masyarakat dari negeri itu membawa masakan macaroni schotel yang mirip. Tentu ketika Baby membuat resepnya, ia mengembangkan sejumlah pilihan yang disesuaikan dengan cita rasa Indonesia. Begitupun menurut Tintin, bahan dasar yang digunakan tetap sama yakni telur, keju, daging cincang, bawang bombay, dan pasta makaroni.

Lokasi berdirinya restoran Macaroni Panggang tidak jauh dari lokasi Pia Apple Pie. Tintin bercerita bahwa dalam membuka usaha, factor tempat atai place harus dipertimbangkan. Yang harus memiliki prospek usaha yang bagus. Lokasi Restoran MP ini terletak di Jalan Salak Nomor 24, Bogor.

Pada saat itu belum terdapat saingan makanan sejenis di Bogor. Sehingga segera saja, ke dua tempat makan mereka ini menjadi ikon kulinari kota hujan itu.

Perkembangan ke dua restoran ini kemudian membuat ke tiga ibu itu mendirikan beberapa restoran lagi, yaitu Death by Chocolate dengan menu andalan coklat, serta Pizza Meteran yang menyajikan pizza, Rumah Cup Cake dengan menu andalan kue-kue dan makanan menarik lainnya.

AI Restoran Macoroni Panggang Dok. Kompasiana
Restoran Macaroni Panggang di Jalan Salak, Bogor. Foto: milik Kompasiana

Di Macaroni Panggang sendiri pada hari-hari biasa bisa mereka bisa menjual 100-150 loyang. Sedang pada saat weekend atau hari libur angkanya bisa berubah menjadi tiga kali lipat.

Berbicara mengenai hidangan yang disediakan, Tintin mengatakan bahwa selain macaroni panggang, di rumah makan ini tersedia pula kurang lebih 63 jenis hidangan serba panggang, meliputi ayam panggang, jamur panggang, ikan peda panggang, sosis panggang dan iga panggang. 

agendaIndonesia

*****

Sate Padang, Dipisahkan 3 Karakter Daerah Asalnya

Dolan ke Padang kita wajib mencicipi Sate Padang. Foto shutterstock

Sate Padang punya penggemar yang spesifik, khususnya mereka yang menggemari jerohan sapi. Kuliner dari Sumatera Barat ini memang identik dengan daging sapi, atau kadang kerbau, dan sama sekali tidak menggunakan daging ayam.

Sate Padang

Bagi mereka yang senang menyantap sate dari pulau Jawa, sate Padang punya kekhasan yang tak ada bandingannya. Selain originalnya menggunakan daging sapi, yang sangat berbeda lainnya adalah kuah atau bumbu atau dressing-nya. Sate-sate di pulau Jawa dan Madura, biasanya menggunakan bumbu kacang atau kecap, sementara sate Padang menggunakan dressing dari kuah kaldu berempah yang kental.

Dari mana sesungguhnya sate Padang ini? Konon, dari sejumlah artikel, disebutkan jika masakan ini awalnya dari Pariaman, sebuah kota di pesisir Sumatera Barat. Bermula dari kedatangan para saudagar Islam dari Gujarat ke wilayah ini. Mereka rupanya tak hanya berniaga, namun juga membuka jalur bagi perkembangan agama Islam. Terutama di kota-kota di pesisir Sumatera. Situasi ini membuat banyak penganut Islam di wilayah Sumatera Barat belajar mengaji ke Pariaman. 

Sate Padang ini ternyata sudah ada sejak lama dan pertama diketahui berasal dari daerah Padang Panjang. Kabarnya, saat itu sate Padang dibuat dari daging kerbau yang direbus terlebih dahulu dengan rempah-rempah. Rupanya sate ini ikut ‘terbawa’ oleh pemuda-pemuda Padang Panjang yang belajar mengaji ke Pariaman.

Dalam perjalanannya, ada sejumlah perubahan pada resep sate Padang yang asli dari Padang Panjang ketika masuk Pariaman. Sesuai karakteristik pesisir Sumatera Barat seperti Pariaman, yang masyarakatnya umumnya lebih senang dengan rasa pedas, sate dari Padang Panjang ini lalu mendapat sentuhan lebih banyak cabai dalam bumbunya. Jadilah kuah sate Padang yang ketika di Padang Panjang berwarna kuning, saat di Pariaman berubah menjadi kental merah. Tentu, selain perubahan warna, rasa bumbu atau kuah sate padang Pariaman umumnya pedas dan gurih.

Selain Pariaman, sate Padang tentu saja juga masuk ke Bukittinggi dan Payakumbuh di Kabupaten 50 Kota. Rupanya masakan ini terbawa lagi dari mereka yang belajar agama ke Pariaman saat pulang kampung. Di sini pun sate padang menyesuaikan dengan karakteristik setempat, maka sate khas Padang Panjang mengalami beberapa sentuhan baru pada bumbunya.

Pada saatnya, kemudian dikenal ada tiga jenis sate Padang yang ditentukan berdasarkan daerah asalnya, yakni Sate Padang Panjang, Sate Pariaman, dan Sate Padang 50 Kota. Dan, meskipun penampilan dan rasanya memiliki sejumlah perbedaan, namun semua orang –terutama dari luar Sumatera Barat—menyebut semua jenis sate ini secara umum tetap dengan sebutan Sate Padang.

Lalu apa saja perbedaan di antara ke tiganya? Sate yang berasal dari Padang Panjang, biasanya dikenal dengan istilah Sate Darek. Sate Padang jenis ini memiliki kuah berwarna kuning cerah, karena menggunakan campuran kunyit dalam proses pembuatannya. Rasanya gurih dengan nuansa pedas yang lembut. Kuah sate Dardek biasanya menjadi  encer ketika dingin, karena itu orang harus segera menyantap satenya selagi hangat.

Sementara itu, sate Padang Pariaman biasanya memang disebut sate pariaman, ia memiliki warna kuah merah kecokelatan. Umumnya, sate Pariaman memiliki rasa pedas yang jauh lebih dominan dibandingkan sate Padang asal Padang Panjang. Kuah sate Pariaman terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, ketumbar, bawang putih dan merah, lengkuas, serai, cabai merah dan masih banyak lagi. 

Sate yang satu lagi berasal dari Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Di sini orang menyebut sate Padang dengan nama sate dangung-dangung. Tak diketahui dari mana nama ini muncul, yang jelas daging sate Dangung-Dangung jauh lebih manis dan dibaluri dengan parutan bumbu kelapa kekuningan di sekelilingnya. Kuahnya berwarna kuning kecoklatan dan kental, dengan aroma wangi yang menggoda.

Meskipun berbeda nama dan kuahnya, secara umum cara memasak sate Padang dari manapun asalnya mirip. Daging segar dimasukkan dalan panci besar berisi air dan direbus dua kali agar lunak. Dua kali masak berarti menggunakan panci dan air yang berbeda. Daging diiris-iris dan dilumuri bumbu dan rempah.

Air sisa rebusan daging tidak dibuang, tapi digunakan sebagai kuah kaldu, bahan membuat kuah sate. Kuah kaldu ini dicampur dengan 19 macam bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan ditambahkan pula berbagai macam cabe. Seluruh bumbu kemudian dijadikan satu dan dimasak. Rempah-rempah inilah yang membuat rasa kuah sate menjadi kaya rasa yang melimpah.

Daging satenya sendiri hanya dibakar saat dipesan, karena pada dasarnya daging atau jerohan sapinya sudah matang. Sate Padang, apapun jenis dagingnya, mesti dimakan dalam keadaan masih panas atau hangat, bukan karena daging satenya namun kuahnya yang menjadi lebih encer ketika dingin. Semua sate Padang biasanya dimakan dengan ketupat yang dipotong kecil-kecil dan disajikan dalam pincuk daun pisang.

Beberapa penjual sate yang cukup dikenal masyarakatdi Jakarta atau beberapa daerah lainnya di antaranya adalah Sate Mak Syukur Padang Panjang, Sate Dangung-Dangung, atau Ajo Ramon.

Yang manapun pilihanmu, ayo sekali-kali masukkan sate Padang dalam agenda kulinermu.

agendaIndonesia

*****

Laksa Di Indonesia, Ini 4 Yang Terkenal

Laksa di Indonesia merupakan salah jenis masakan yang terkenal dan disukai banyak orang.

Laksa di Indonesia adalah salah satu masakan yang sangat popular, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh budaya Melayu dan Tionghoa. Asal-usul laksa di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan pasti, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa laksa pertama kali muncul di wilayah Malaysia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

laksa di Indonesia

Laksa masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan migrasi penduduk pada zaman kolonial, terutama pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, juga terdapat pengaruh dari imigran Tionghoa yang membawa resep-resep masakan mereka ke Indonesia. Secara historis, laksa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari kekayaan kuliner Indonesia.

Laksa sendiri merupakan hidangan yang kaya akan sejarah dan pengaruh budaya, dan nama “laksa” memiliki asal-usul yang menarik. Mengutip dari kompas.com, ada beberapa teori yang dilansir Mashable South East Asia. Di sana disebut bahwa nama “laksa” memiliki hubungan dengan pertukaran budaya melalui Jalur Sutera dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Laksa di Indonesia merupakan masakan yang dipengaruhi budaya Persia dan peranakan Tionghoa.
Laksa Assam. Foto: shutterstock

Salah satu teori terkait dengan nama “laksa” berasal dari kamus A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson terbitan 1901. Menurut kamus ini, kata “laksa” memiliki arti “100 ribu” dalam bahasa Sansekerta. Namun, hubungan antara angka ini dengan hidangan laksa tidak begitu jelas, sehingga masih menjadi misteri.

Masih dari artikel yang sama, ada teori lain mengenai asal-usul kata “laksa” yakni berasal dari bahasa Persia. Kata “laksa” diyakini berasal dari kata “lakhshah” yang merupakan salah satu jenis bihun. Pengaruh Persia dalam perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutera dapat menjelaskan kemungkinan asal-usul kata “laksa” dari bahasa Persia.

Dengan demikian, nama “laksa” mungkin muncul akibat interaksi budaya yang kompleks melalui Jalur Sutera, yang menghubungkan berbagai wilayah dan budaya di Asia Tenggara. Pengaruh dari bahasa Sansekerta dan Persia mungkin merupakan salah satu dari banyak elemen yang membentuk identitas kuliner laksa, mencerminkan kekayaan warisan budaya yang mengakar dalam hidangan yang begitu terkenal dan dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan masakan laksa di Indonesia? Terdapat beberapa jenis masakan laksa yang populer, di antaranya adalah:

Laksa Betawi

Laksa Betawi shutterstock
Laksa Betawi. Foto: shutterstock

Laksa ini tentu saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Laksa Betawi memiliki kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah. Beberapa bahan utamanya adalah mie, telur rebus, tauge (kecambah), irisan ketupat, dan daun bawang. Di Jakarta pecinta kuliner bisa menemui masakan ini di Kafe Betawi.

Ada beberapa gerai rumah makan ini, di antaranya di mal Senayan City dan Kuningan Plaza.

Laksa Bogor

Jenis laksa di Indonesia ini merupakan variasi laksa yang juga berasal dari Jawa Barat, terutama daerah Bogor. Laksa jenis ini memiliki ciri khas kuah yang kental berwarna kuning kehijauan dan menggunakan mie kuning tebal. Dalam hidangan ini, biasanya terdapat irisan ayam, telur rebus, tauge, dan daun seledri.

Kekhasan Laksa Bogor terdapat pada penggunaan oncom yang biasanya dipanggang terlebih dahulu. Terkadang juga dapat disantap dengan ketupat maupun perkedel sebagai pelengkap hidangan.

Untuk dapat menikmati masakan ini, berikut adalah warung makan yang terkenal dengan laksa Bogor. Coba datiag ke Laksa Gang Aut di Jalan Surya Kencana. Warung yang aslinya Bernama Laksa Mang Wahyu ini sudah berjualan sejak 1960-an

Laksa Palembang

Laksa di Indonesia ini berasal dari Sumatera Selatan, terutama daerah Palembang. Aslinya mirip dengan pempek yang menggunakan kuah yang terbuat dari santan, udang, dan rempah-rempah. Sering juga disebut sebagai laksan atau leksan.

Untuk yang ingin mencicipi Laksan Palembang bisa dating ke Sarapan Cek Leni di Jalan KH M. Asyik Nomor 1502, Palembang

Laksa Medan

Laksa ini berasal dari Sumatera Utara, terutama daerah Medan. Laksa Medan adalah hidangan yang terbuat dari bihun putih, timun, ikan, daun mint, dan saus asam jawa.

Laksa Medan berbahan dasar saus ikan yang sedikit asam. Rasa yang ditawarkan juga asam dan segar. Cocok untuk sore hari karena sajian ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi.

Di ibukota Sumatera Utara ini mudah mencari masakan laksa Medan, cobalah dating ke Jalan Yose Rizal. Di sepanjang jalan ini ada sejumlah tempat makan yang menjajakannya, tapi cobalah Rumah Makan Laksa Yose Rizal.

Laksa Ayam shutterstock
Laksa Ayam. Foto: shutterstock

Lalu dari sejumlah laksa tersebut, manakan yang paling enak dan terkenal? Laksa yang paling terkenal di Indonesia sulit untuk ditentukan karena setiap daerah memiliki varian dan cita rasa yang berbeda. Namun, Laksa Betawi mungkin salah satu jenis laksa yang paling dikenal secara nasional karena popularitasnya di wilayah metropolitan Jakarta, ibu kota Indonesia.

Perlu diingat bahwa variasi laksa dapat berbeda-beda bahkan di dalam satu daerah, tergantung pada bahan lokal yang tersedia dan resep keluarga atau warisan budaya. Keberagaman inilah yang membuat masakan laksa di Indonesia begitu menarik dan lezat untuk dinikmati.

agendaIndonesia

*****

Bakmi Jawa, Istimewa Dimasak Setiap 1 Pesanan

Bakmi Jawa SHUTTERSTOCK

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa

Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.

Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.

Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.

Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.

Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.

Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.

bakmi Jawa Sedang dimasak

Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.

Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.

Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.

Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.

Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:

Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.

Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan). 

Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.

Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.

Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3

Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan

Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Pinggiran, Ini 5 Yang Sedap

Kuliner pinggiran tidak saja tempatnya yang menyempil, namun juga cita rasa yang sedap.

Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.

Kuliner Pinggiran

Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan  yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.

Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.

Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.

Ayam Betutu Pak Sanur 

Kuliner pinggiran di Bali bisa dicoba ke Ayam Betutu Pak Sanur di Ubud

Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera. 

Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan

Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali

Es Dawet Telasih Bu Dermi 

Es Dawet Bu Dermi Tokped

Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.

Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan. 

Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo

Pawon Mbah Gito 

Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.

Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh. 

Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman

Mangut Lele Mbah Marto 

Mangut Lele Mbah Marto shutterstock
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock

Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik. 

Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.

Mangut Lele Mbah Marto; Jl. Sewon Indah, Panggungharjo, Sewon, Bantul

Warung Tuman

Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam. 

Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu. 

Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.

Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang (2)

Toko Oen Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang. Foto shutterstock

Ini bagian ke dua 8 kuliner tradisional khas Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Nah ini 8 kuliner tradisional khas Malang.

Kota Malang shutterstock
Salah satu landmark Kota Malang. Foto: shutterstock

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang

  • Toko Oen Malang

Malang tak hanya dikenal dengan destinasi kuliner main course saja, tapi beberapa kedai kudapannya juga menarik untuk dicoba. Seperti misalnya Toko Oen Malang, yang sudah berjualan penganan cemilan seperti es krim dan produk pastry seperti roti, kue basah dan kue kering sejak 1930.

Nuansa era pra kemerdekaan itu masih amat kental terasa dari gaya eksterior dan interior bangunannya, yang masih dipertahankan dan kini telah menjadi cagar budaya. Plang tulisan berbahasa Belanda dan barisan pramuniaga berseragam pelayan ala Eropa tempo dulu akan menyambut pengunjung begitu memasuki kedai ini. Ini satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang.

Faktanya, Toko Oen merupakan sebuah rantai usaha kedai makanan ringan yang pertama kali buka di Yogyakarta pada 1910, sebelum kemudian membuka cabang-cabang lainnya seperti di Semarang, Malang dan Jakarta. Pada perkembangannya, kedai di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup dan menyisakan cabang di Semarang dan Malang saja.

Bahkan, Toko Oen Malang secara kepemilikan sudah tak lagi dipegang oleh keluarga pemilik usaha aslinya, karena mereka kini hanya fokus mengelola cabang Semarang. Namun tak perlu khawatir, karena pengelola yang baru memastikan bahwa otentisitas dan kualitas menu-menu yang ditawarkan di kedai ini tetap dipertahankan.

Berada di area pusat kota, tepatnya jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 5 yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang, Gereja Kayutangan dan pusat perbelanjaan Sarinah, menjadikannya lokasi yang strategis bagi siapapun untuk berkunjung dan klangenan, melepas penat sambil menyantap ragam kudapan ringan yang ditawarkan.

Es krim buatan homemade menjadi salah satu menu primadona. Pengunjung bisa memilih es krim single scoop dengan pilihan rasa seperti coklat, vanilla, mocca, strawberry, sampai durian. Selain itu, tersedia juga varian kombinasi dan sundae seperti tutti frutti, napolitaine, banana split, tropicana cream, chocolate parfait, dan sebagainya.

Menu makanan ringan dan salad mereka juga banyak diminati pengunjung. Mayoritas merupakan makanan yang bergaya Belanda karena kedai ini dulunya digemari orang-orang Belanda. Contohnya pilihan pastry seperti saucijzenbrood, kippenbrood dan garnalebrood yang sejatinya adalah roti puff dengan isian daging giling sapi, ayam dan udang.

Ada pula pilihan salad seperti huzarensalade, italiaansesalade, dan groentensalade, yakni salad daging, salad ayam dan salad sayur serta buah-buahan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu main course seperti steak, burger, galantin, dan sandwich yang terbilang cukup digemari.

Yang menjadi catatan, karena memang sejak dulu didesain untuk menjadi kedai kudapan kelas atas, harga makanannya juga tak bisa dibilang murah. Seperti es krim yang punya range harga dari Rp 25 ribu hingga 60 ribu, atau salad yang berkisar dari Rp 35 ribu sampai 50 ribu. Makanan main course seperti steak juga dihargai mulai dari Rp 75 ribu sampai 80 ribu.

Tetapi, pengunjung datang ke sini bukan hanya membeli cita rasa makanannya, tetapi juga membeli pengalaman selayaknya kembali ke era kolonial; melihat dan merasakan bagaimana suasana nongkrong di masa itu, sambil menyicipi menu-menu otentik yang menjadi kegemaran kaum Belanda tempo dulu.

  • Orem Orem Arema

Nama makanan yang satu ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar orang, tapi tetap menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para pemburu 8 kuliner tradisional khas Malang. Dan kedai penjual orem orem paling hits di Malang adalah Orem Orem Arema, yang berada di jalan Blitar nomor 14.

Orem orem sejatinya merupakan jenis makanan berkuah yang berisikan potongan tempe, ketupat, ayam suwir, telur asin, taoge dan ditaburi bawang goreng. Adapun kuahnya terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, daun salam, lengkuas, daun jeruk, ketumbar, dan kemiri yang diolah dengan menggunakan santan.

Orem-orem Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang
Orem-orem Malang. Foto: shutterstock

Kemunculan makanan ini disinyalir berawal dari kehidupan masyarakat di masa pra kemerdekaan. Saat itu, untuk sekedar bisa membuat dan makan soto ayam atau daging saja terasa sulit, karena kelangkaan dan harga daging ayam dan sapi yang oleh sebagian besar kalangan saat itu dianggap mahal.

Oleh karena itu, beberapa orang kemudian berkreasi membuat makanan sejenis soto dengan menggunakan isian potongan tempe, yang dianggap lebih terjangkau. Dari situ, orem orem kemudian hadir sebagai alternatif soto pada umumnya. Bahkan, tak jarang ia khusus disajikan dalam hajatan tertentu saja.

Meski demikian, pada perkembangannya kebanyakan orem orem yang bisa ditemukan saat ini sudah dilengkapi dengan beberapa tambahan isian di dalamnya. Seperti halnya di Orem Orem Arema, dimana pengunjung dapat memilih orem orem original atau dengan tambahan telur dan ayam suwir.

Dan sejak mereka mulai berjualan pada 1995, mereka terus menjadi salah satu rekanan utama kedai orem orem di Malang. Cita rasa gurih dan segarnya orem orem yang otentik menjadi daya tarik utama. Apalagi, dengan harganya yang hanya dibandrol Rp 8 ribu untuk orem orem original, serta Rp 11 ribu dengan tambahan telur asin dan Rp 12 ribu dengan tambahan ayam suwir, membuatnya sangat ramah kantong.

  • Tahu Lontong Lonceng

Satu lagi rekomendasi 8 kuliner tradisional khas Malang legendaris adalah Tahu Lontong Lonceng. Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 66, kedai tahu lontong yang sudah berjualan sejak 1935 ini dulunya berada di bawah sebuah tugu lonceng milik Belanda, sehingga pelanggannya kemudian kerap memanggilnya sebagai Tahu Lontong Lonceng.

Secara tampilannya, kedai ini cenderung terlihat kecil dan sederhana. Pun demikian dengan menunya, yang secara umum menawarkan tiga jenis makanan: tahu telur dengan lontong, tahu telur dengan nasi, serta tahu lontong tanpa telur. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp 11 ribu untuk tahu lontong tanpa telur, dan Rp 13 ribu untuk tahu telur dengan lontong maupun nasi.

Tahe Tek shutterstock
Tahu Tek yang mirip Tahu Lontong. Foto: shutterstock

Dilihat dari penampilannya pun, ia terlihat seperti kuliner olahan tahu dan lontong pada umumnya. Dalam satu porsinya, terdapat irisan tahu dan taoge, dengan atau tanpa telur, yang dilumuri bumbu kacang dan disajikan dengan lontong atau nasi, serta dapat disantap dengan beberapa pilihan kerupuk.

Namun, satu hal yang membuatnya unik adalah hampir semua bahan bakunya dibuat sendiri alias homemade. Hal ini dilakukan agar dapat senantiasa menjaga tahu lontong buatannya selalu dengan cita rasanya yang otentik. Seperti tahunya yang dikenal terasa lembut, serta bumbu kacangnya yang berpadu gurih.

Otentisitas rasa, ditambah dengan harga yang ekonomis, membuatnya masih banyak digemari orang dari berbagai kalangan, dari warga sampai wisatawan, baik orang kantoran sampai anak kuliahan. Tak heran, jika kedai kecil yang buka dari jam 11.00 hingga jam 22.00 ini masih kerap dipenuhi pengunjung setiap jam makan siang dan malam.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Sate Buntel Solo, 2 Tusuk Serasa 10 Tusuk

Sate Buntel Solo SHUTTERSTOCK

Sate buntel Solo adalah keunikan kuliner kota Solo yang sering menjadi target untuk dinikmati lagi dan lagi. Banyak orang yang belum pernah mencicipinya beranggapan sate ini sama saja dengan sate, terutama yang berbahan daging kambing, lainnya.

Sate Buntel Solo

Sate buntel Solo punya perbedaan yang signifikan dengan sate-sate lainnya. Sate ini umumnya menggunakan daging kambing, meskipun belakangan ada pula yang mencoba menggunakan daging sapi. Perbedaan sate kambing biasa dan sate buntel terletak pada pengolahan daging kambingnya.

Pada sate kambing reguler, sebut saja begitu untuk membedakannya, menggunakan daging yang dipotong kecil-kecil lalu setiap 3-5 potong ditusuk dengan potongan bambu atau kayu. Sementara itu, sate buntel ini menggunakan daging yang dicincang lembut.

Dalam proses pembuatannya, daging kambing dicincang sampai lembut lalu dicampur dengan bumbu-bumbu khusus. Karena bumbu dicampurkan pada daging cincang yang lembut, rasa bumbu terserap dengan sempurna. Tapi itu belum semua.

Setelah bumbu dan daging tercampur penuh, kemudian ‘adonan’ itu dibentuk kepalan pada tusuk sate yang terbuat dari bambu. Tusuk sate ini lebih besar dari tusuk sate pada umumnya, agar kepalan daging tersebut bisa menempel pada tusuk satenya. Setelah berbentuk kepalan, daging kambing itu dibungkus atau dibentel dengan lapisan lemak daging, lalu di bakar hingga matang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bumbunya betul-betul meresap ke dalam daging.

‘Buntel’ dalam bahasa Jawa berarti ‘bungkus’ atau ‘balut’. Hal tersebut mengacu pada daging kambing cincang yang di-buntel  menggunakan lemak daging kambing tipis sebelum dibakar.

Sate buntel biasanya disajikan dengan saus kecap manis dan beberapa bahan pelengkap seperti irisan tomat, cabe, bawang merah dan kubis atau kol. Untuk menambah rasa pada saus kecap biasanya ditambahkan merica bubuk, sehingga menambah kelezatan pada saus kecap ini.

Cara menikmati sate buntel ini juga unik. Meskipun saat dibakar ia menggunakan tusukan dari bambu, namun umumnya saat disajikan tusukan satenya dicabut dan hanya bungkusan dagingnya yang sampai di meja. Secara original, makan sate buntel biasanya dilakukan termasuk dengan lemak dagingnya. Namun, kadang ada yang menikmatinya dengan membuka bungkusan lemaknya. Mungkin untuk mengurangi efek lemaknya… ahh.

Begitupun, mana cara yang dipilih, sate buntel harus disantap ketika masih panas, karena pada saat keadaan masih panas, lemak yang membungkus daging masih meleleh. Sehingga memberikan sensasi yang khas saat menyantapnya. Teman makannya biasanya nasi putih, meskipun kadang ada yang menyandingnya dengan nasi goreng. Terserah saja.

Lalu mana saja sate buntel yang paling enak di Solo? Rasanya semuanya sama enaknya. Namun, jika ingin lebih pasti, ada beberapa warung sate buntel yang cukup legendaris di kota ini.

Pertama, tentu saja Sate Buntel Tambak Segaran. Nama ini dulunya diambil dari jalan tempat kedainya berjualan. Letaknya strategis, ada di antara dua pasar berskala besar, yakni Pasar Gede Hardjonagoro (di sebelah timur-selatannya) dan Pasar Legi (di sebelah barat-utaranya). Kini nama jalannya telah berubah menjadi jalan Sutan Syahrir. Kedainya buka di nomor 39.

Peringatan saja, bagi wisatawan muslim, hati-hati jika hendak menuju ke warung ini. Dalam satu deret ada dua warung sate buntel, pastikan masuk ke warung yang berjualan daging kambing. Sebab, warung lainnya yang hanya berselisih dua warung, menggunakan daging non-halal.

Buntelan daging kambingnya cukup besar. Satu porsi sate buntel biasanya berisi dua buntelan daging. Meski cuma dua, porsinya rasanya sama saja dengan 10 tusuk sate kambing reguler. Selain sate buntel, di warung ini penggemar kuliner bisa menikmati berbagai menu lain seperti sate kikil (kaki kambing) dan gulai kambing.

Pilihan ke dua adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak, lokasinya ada di Jalan Ki Mangun Sarkoro nomor 112. Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1980 dan digemari banyak pejabat pemerintahan Indonesia. Konon, sate buntel dari tempat ini digemari mantan Presiden Suharto dan sejumlah menterinya. Selain sate buntelnya, yang juga banyak dipesan adalah thengkleng-nya.

Jika masih masih penasaran, bisa mencoba Sate Warung Sate Kambing Pak Manto yang terletak di Jalan Honggowongso 36, Solo. Meskipun di sini sate buntelnya juga enak, namun yang lebih dikenal adalah thengkleng kambing bumbu rica-rica.

Sate Buntel Solo Pak Manto

Pilihan sate buntel lainnya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Ini mulai terkenal ketika pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia dan kegemaran kulinernya diungkap di media massa. Salah satunya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Berlokasi di Jalan Sungai Sebakung, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo. Selain bisa memesan sate buntel khas Solo di sini, ada pula ragam olahan kambing lainnya seperti tengkleng, sate kambing reguler, juga tongseng.

Ayo kapan-kapan agendakan kuliner kambingmu ke Solo dan menjajal sate buntel langsung di asalnya.

agendaIndonesia

*****