Ombak Canggu Bali, 3 Pantai Berpasir Hitam

Ombak Canggu Bali dengan pantai-pantainya yang berpasir hitam.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di tiga pantai di kawasan itu. Pantai-pantai di lokasi ini memiliki pasir hitam yang terkesan biasa. Tidak langsung terlihat indah dibandingkan pantai-pantai dengan pasir putih. Namun, Bali selalu punya aura yang tak bisa ditolak.

Ombak Canggu Bali

Masih pukul 15.30 waktu setempat ketika  saya beranjak dari Jalan Raya Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Bali. “Harus cepat-cepat kalau mau lihat sunset di Canggu, jalanan kalau sore suka macet,” ucap seorang teman. Maka saya dan kawan fotografer lantas saja  bergegas. Jalan-jalan di kawasan Seminyak yang sempit memang cukup padat pada sore hari. Beruntung, pengemudi paham rute tersingkat ke lokasi. Penelusuran sederet pantai di kawasan ini pun dengan segera dimulai.

Yang pertama saya singgahi adalah Pantai Batu Beliq yang tidak jauh dari Seminyak. Saya tiba di sana saat langit masih benderang. Menjelang sore, pantai yang masih berada di wilayah administratif Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, ini tidak terlalu ramai. Sebelum menjejak di pasirnya yang hitam, ada beberapa pilihan akomodasi bagi turis. Papan-papan selancar pun berdiri di beberapa titik. Batu Beliq tergolong pantai para peselancar karena ombaknya cukup menggoda. 

Tak berlama-lama di Batu Beliq, pantai di sebelahnya kemudian diburu. Pantai Batu Bolong saya temukan setelah melalui jalan-jalan kecil dan persawahan. Ada deretan hotel dan resor sebelum menginjak pantainya. Lebih tertata dibanding pantai sebelumnya. Cukup landai sehingga lebih nyaman untuk menikmati empasan ombak di tepian. Juga bisa sekadar  berjalan kaki, berlari, atau bermain-main. Bahkan cuma duduk-duduk di tepi pantai seperti yang dilakukan sekelompok turis lokal.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di sejumlah pantai, di antaranya di pantai Batu Belig.
Pantai Batu Belig di kawasan selatan Bali. Foto: unsplash

Saya juga bertemu dengan wanita asing yang tengah menyusuri pantai bersama anjingnya. Jalan sore berdua tak harus dengan kekasih. Dengan hewan kesayangan pun sama-sama mengasyikkan. Pantai juga cenderung lebih bersih dibanding Batu Beliq. Sesuai dengan namanya di bagian ujung, saya menemukan karang yang menjorok ke tengah laut dengan lubang di tengahnya. Rupanya, inilah batu yang bolong itu.

Tepat di sebelah Pantai Karang Bolong bisa ditemukan Pantai Echo yang lebih “hidup”. Sebelumnya, pantai itu dikenal sebagai Pantai Batu Mejan. Ada pilihan kafe-kafe di tepi pantai yang letaknya lebih tinggi daripada pantai. Di sisi lain, pantai bisa ditemukan bangunan non-permanen yang memutar musik keras-keras dengan ritme yang mengentak-entak. Di sanalah tampak para peselancar melepas penat setelah menari-nari di atas ombak.

Bila masuk dari jalan raya, Anda bisa menemukan sebuah pura yang menjadi tanda keberadaan pantai tersebut. Itu tak lain dari Pura Batu Mejan. Pantai berada di sisi bawah, sehingga harus meniti jalur kecil yang menurun. Pantai Echo lebih banyak batu karangnya. Apalagi sore itu ketika pantai surut. Hamparan batu karang pun tampak jelas.

Ombak Canggu Bali di antaranya diburu wisatawan yang menggemari berselancar.
Pantai Echo di kawasan Canggu, Bali, menjadi slah satu tujuan peselancar. Foto: unsplash

Saya mungkin kurang beruntung, setelah menemukan langit yang bersih dan mentari yang bulat oranye, tiba-tiba awan datang. Awan menutup secara perlahan hingga keindahan mentari tenggelam yang bisa ditemukan di Pantai Echo tidak bisa dinikmati seutuhnya. Ketika langit benar-benar gelap, saya masih enggan untuk beranjak.

Akhirnya, saya memilih menikmati debur ombak sembari mencicipi menu hidangan laut yang disuguhkan sebuah kafe. Jimbaran seafood grill yang saya pilih di Dian Cafe. Kafe yang berdiri sejak tujuh tahun lalu ini posisinya paling dekat ke pantai, sehingga ramai dikunjungi turis. Aroma beragam ikan yang dibakar pun menggugah selera untuk singgah. Pada hari libur, menurut seorang warga yang mengaku bernama Billy, lebih ramai lagi. Bisa jadi, saya tidak akan kebagian duduk santai menikmati hidangan kalau datang terlalu malam. “Biasanya turis  bergeser dari Legian dan Kuta, karena di suasana (di sini) yang lebih sepi,” ujarnya.

Pantai Echo sebenarnya bukan akhir dari deretan pantai di sini. Sebab, jika terus melangkah, sejumlah pantai lain masih bisa ditemukan. Yang terindah adalah perjalanan berakhir di Tanah Lot, Tabanan. Sayang sekali, saya terlalu sore untuk memulai penelusuran pantai di sana. Maka cukuplah mencecap senja dan malam di tengah embusan angin kencang di Pantai Echo.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

7 Kuliner Halal di Medan (Bagian 1)

Ini 7 kuliner halal di Medan Sumatera Utara. Foto shutterstock

Ini dia 7 kuliner halal di Medan, Sumatera Utara. Medan dikenal sebagai kota dengan kemajemukan di antara warganya. Sebagai kota terbesar di pulau Sumatera dan di luar pulau Jawa secara keseluruhan, ia menjadi domisili dan melting pot berbagai jenis suku bangsa beserta adatnya, seperti Batak, Melayu, Tionghoa, Jawa, Minangkabau dan sebagainya.

7 Kuliner Halal di Medan

Oleh karenanya, tidak mengherankan bila begitu banyak budaya yang pada prosesnya saling berpadu satu sama lain, tak terkecuali kuliner. Dari percampuran tersebut, muncullah berbagai jenis kuliner unik yang lantas menjadi ikon di kota berjuluk Paris van Sumatera ini, serta senantiasa dicari dan disukai pecinta kuliner.

Ini dia 7 kuliner halal di Medan yang bisa dikunjungi setelah melawat ke Istana Maimun di kota ini.
Ini 7 kuliner halal di Medan. Istana Maimun di ibukota Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Hanya saja, karena kemajemukannya itu pula, kadang kala tak semua hidangan khas tersebut tergolong halal bagi kaum muslim. Namun tak perlu khawatir, karena masih ada banyak pilihan kuliner nikmat dan halal yang bisa menjadi alternatif bagi wisatawan muslim kala berkunjung ke ibu kota Sumatera Utara ini. Berikut adalah 7 kuliner halal di Medan yang di antaranya direkomendasikan.

  1. Lontong Kak Lin

Lontong Medan termasuk satu dari 7 kuliner halal di Medan dan terfavorit di kota ini. Biasanya makanan ini jadi favorit warga setempat saat sarapan pagi. Kuah yang terbuat dari santan dan tauco, yang menghasilkan cita rasa gurih dan pedas, berpadu dengan lontong, sayur nangka, wortel, buncis, labu siam, bihun, tahu, tempe, kerupuk dan sebagainya sebagai pelengkap.

Maka tak heran jika banyak warung lontong Medan yang dapat ditemui, utamanya di kala pagi hari. Seperti misalnya Lontong Kak Lin, salah satu warung lontong Medan paling populer dan legendaris. Sudah berdiri sejak 1985, warung ini sejak lama telah menjadi salah satu tempat sarapan terfavorit di Medan.

Lontong Kota Medan shutterstock
Ini 7 kuliner halal di Medan, Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Kuah yang kental, gurih dan menyegarkan menjadi ciri khas dari lontong Medan di warung yang terletak di jalan Teuku Cik Ditiro nomor 8m ini. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat memilih lauk rendang, ayam, perkedel atau telur rebus. Porsinya pun cukup banyak, sehingga terhitung mengenyangkan untuk sarapan ataupun makan siang.

Selain lontong Medan, warung ini juga menyediakan beberapa menu lain seperti lontong pecal alias racikan lontong sayur dengan menggunakan bumbu pecal atau pecel, nasi gurih, mie sayur dan sebagainya. Harga menu-menu tersebut berkisar dari Rp 16 ribu sampai 70 ribu, tergantung dari kelengkapan dan jenis lauk yang dipilih.

Meski tak sepenuhnya terbilang murah, namun tidak mengurangi animo pengunjung yang tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi tak jarang pula turis mancanegara. Sebagai catatan, warung yang berada di depan SMA Negeri 1 Medan ini biasanya tutup lebih awal saat weekend, yakni jam 14.00 di hari Sabtu dan jam 12.00 pada hari Minggu.

  • Rumah Makan Tabona

Menu halal khas Medan lainnya yang jadi rekomendasi adalah kari ayam dan sapi. Disinyalir terpengaruh dari budaya India, makanan ini tadinya beredar di beberapa daerah Sumatera Utara, seperti Pematang Siantar. Namun, pada perkembangannya muncul pula penjaja makanan ini di sekitar kota Medan.

Seperti contohnya Rumah Makan Tabona, yang sudah berjualan kari di Pematang Siantar sejak 1972, dan akhirnya 10 tahun kemudian pindah ke Medan. Rumah makan yang berlokasi di jalan Mangkubumi nomor 17 itu lantas terus melayani pelanggan hingga kini dan menjadi salah satu ikon kuliner Medan.

Meski hanya menawarkan menu kari ayam dan sapi, namun cita rasa dan keunikannya masih senantiasa digemari dan diburu pecinta kuliner. Dalam semangkok kari, akan berisikan potongan kentang dan daging sapi atau ayam kampung. Kuahnya cenderung encer, dengan paduan cita rasa asin, gurih dan pedas.

Kari kemudian disantap dengan nasi atau bihun. Pengunjung juga bisa memilih pilihan daging yang dipakai, misalnya memilih kari ayam suwir biasa, atau khusus bagian paha saja. Atau jika memesan kari sapi, bisa meminta tambahan bagian jeroan. Bisa juga memesan kari dengan daging ayam dan sapi. Pilihan porsinya pun ada yang standar, maupun yang jumbo.

Sebagai pelengkap, pengunjung akan disediakan acar bawang merah, acar cabe potong, emping dan opak. Kalau masih kurang, bisa juga menambah topping telur bebek. Last but not least, rumah makan ini juga menyediakan dessert puding pandan yang terasa pas sebagai hidangan pencuci mulut.

Memang, harus diakui harga menunya cukup premium. Untuk kari porsi standar harganya Rp 60 ribu, sementara untuk porsi jumbo dibandrol Rp 90 ribu. Namun, cita rasa nikmat yang otentik tetap menjadi alasan mengapa rumah makan yang buka setiap hari dari jam 06.30 hingga 16.30 ini selalu ramai pengunjung, khususnya jam makan siang.

Bihun kari Dok The Sultan Hotel Jakarta
Ini salah satu dari 7 kuliner halal di Medan, salah satunya kari bihun. Foto: dok. The Sultan Hotel Jakarta
  • Sate Memeng

Seperti halnya berbagai daerah lainnya di Tanah Air, Medan juga memiliki kultur kuliner malam yang tak kalah menarik. Salah satu destinasi kuliner malam legendaris di kota ini adalah sate Memeng, yang berlokasi di jalan Irian Barat nomor 2. Sang pendiri warung, H. Muhammad Saimin atau yang akrab dipanggil Memeng, sudah berjualan sate sejak 1945.

Buka setiap hari dari jam 17.00 hingga 23.00, warung sate ini dikenal dengan beberapa keunikan tersendiri. Semisal dari pilihan daging yang disajikan, dimana pengunjung dapat memilih sate dengan potongan daging sapi, kambing atau ayam. Potongan daging yang besar menjadi salah satu ciri khas warung sate ini.

Selain itu, pengunjung juga dapat meminta bagian potongan khusus seperti hati, usus, paru atau dicampur semua. Dan yang tak kalah menarik, pengunjung juga dapat memilih bumbu sate yang dipakai. Ada bumbu kecap, bumbu kacang, serta bumbu khas sate Memeng yang menyerupai bumbu sate Padang.

Keunikan-keunikan tersebut, ditambah dengan cita rasa bumbu yang meresap nikmat, menjadikannya spot kuliner malam Medan yang senantiasa ramai oleh pengunjung. Apalagi dengan harga seporsinya yang terhitung cukup moderat, sekitar Rp 24 ribu. Sebagai catatan, menu mie rebus yang tersedia, dengan topping kentang, taoge dan kerupuk, juga menjadi salah satu favorit pengunjung dengan harga Rp 14 ribu saja.

  • Mie Balap Wahidin

Kuliner unik nan ikonik lainnya di Medan adalah mie balap. Dinamakan demikian karena cara penyajiannya yang unik, dimana sang juru masak akan menumis mie, telur, sayuran dan pilihan daging ayam, sapi atau seafood secara cepat. Bahkan, cara memasaknya terkadang terlihat seperti terburu-buru, seperti sedang ‘balapan’ atau dikejar sesuatu.

Tak terbilang sulit untuk menemukan warung penjual mie balap yang enak di sini, seperti misalnya mie balap Wahidin yang berada di jalan Bambu Runcing nomor 25. Warung mie balap yang sudah eksis berjualan sejak 1990-an ini dikenal dengan gaya memasaknya yang tradisional, dengan menggunakan kayu bakar, agar aromanya lebih terasa khas.

Selain itu, cita rasanya cenderung lebih pedas dengan kuah yang lebih kental. Pengunjung juga dapat memilih jenis mie yang digunakan, baik itu mie kuning, miehun atau bihun, atau mietiaw alias kwetiau. Sebagai topping, pengunjung bisa memesan racikan daging ayam cincang atau ragam lauk seafood. Masakan kemudian disajikan di atas daun pisang.

Sepiring porsi mie balap di warung ini dihargai Rp 19 ribu, untuk semua jenis mie dan lauknya. Harga yang tergolong moderat, ditambah dengan jam buka warung ini dari jam 07.00 hingga 13.00, menandakan bahwa mie balap ini umumnya cukup populer di kalangan warga setempat sebagai opsi sarapan pagi atau santap siang.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Nasi Goreng di Jakarta Selatan, 5 Pilihan Yang Maknyus

Nasi goreng di Jakarta Selatan mungkin ada ratusan, bahkan mungkin ribuan. Tapi selalu saja ada yang menonjol. Sama-sama nasi goreng, tapi campuran dan bumbunya berbeda-beda.

Nasi Goreng di Jakarta Selatan

Nasi goreng sejatinya memang bukan milik Indonesia. Konon, olahan ini sudah disajikan bangsa Tionghoa sejak 4.000 SM. Dalam catatan sejarah, nasi goreng rupanya juga menjadi menu alternatif bagi orang Belanda yang tidak begitu menyukai nasi putih. Kini, di banyak tempat di dunia hidangan ini tersebar di berbagai negara. Baik di restoran Tionghoa, Vietnam, atau Indonesia.

Yang unik dari nasi goreng, meski namanya sama, bumbu dan rasanya bisa berbeda. Bahkan diberi label daerah asal, sehingga menambah kekhasannya. Berikut ini lima pilihan nasi goreng di Jakarta Selatan.

Nasi Goreng di Jakarta Selatan banyak ragamnya, dari yang kambing hingga yang seafood.
Nasi goreng kambing Kebon Sirih. Foto: Dok TL

Rasa Rempah dari Kebon Sirih

Jika melihat namanya sudah bisa ditebak kedai ini pasti ada hubunganya dengan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Betul, kedai nasi goreng ini memang pertama kali buka di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kemudian buka cabang di beberapa lokasi, salah satunya di Jalan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ciri khasnya, aroma minyak samin yang harum sudah tercium saat kita memasuki kedai ini.

Satu kuali nasi goreng yang sudah siap saji tampak dalam wajan yang dipanaskan dengan kompor gas. Model menglahnya sama dengan yang di Kebon Sirih, satu kali masak bisa untuk puluhan porsi. Saat dihidangkan, yang pertama kali tercium adalah aroma rempah-rempah khas Timur Tengah. Rasanya memang kaya rempah. Bumbunya antara lain kapulaga, kunyit, sereh, dan lada. Cara memasaknya serupa dengan nasi kebuli, sehingga memunculkan rasa gurih di setiap suapan.

Nasi Goreng Kebon Sirih; Jalan Karang Tengah Nomor 1C, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

nasi goreng di Jakarta Selatan ada ratusan, bahkan ribuan, tapi ada beberapa yang menonjol.
Nasi Goreng Kambing di sekitar Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Dok. TL

Ramuan Kambing di Pedurenan

Untuk menuju kedai ini, dari gedung Dharma Wanita, kita cukup berjalan lurus dan mengamati sisi kanan jalan, temukan spanduk bergambar siluet kambing. Di kedai nasi goreng NGK, daging kambing dimasak terlebih dulu secara terpisah dengan cara direbus bersama bumbu-bumbu. Jadi, dagingnya terasa lebih empuk. Daging kambing itu kemudian diolah menjadi sajian nasi goreng yang gurih. Tidak mengherankan kalau NGK masih tetap diminati sejak berdiri pada 1986. Tersedia pilihan rasa pedas dan sedang, sesuai dengan selera.

Nasi Goreng Kambing NGK Dharma Wanita; Jalan Pedurenan Masjid; Belakang Gedung Dharma Wanita Kuningan, Jakarta Selatan

Seafood di Blok S

Di ujung Jalan Bhakti, Blok S, Kebayoran, tampak spanduk putih bertulisan “Nasi Goreng Betawi 99”. Warungnya buka mulai pukul 16.00, dari Senin sampai Minggu. Di kedai ini, nasi goreng seafood menjadi pesanan yang paling sering ditulis pramusaji. Seafood sebelumnya diolah dengan bumbu tersendiri. Kemudian, sebagian diolah menjadi nasi goreng. Sedangkan sebagian lagi dimasak dengan api kecil dan diberi bumbu lain. Hidangan laut yang dimasak terpisah itu pun ditata di atas nasi goreng.

Pilihan lainnya, nasi goreng dengan daging kambing yang direbus terlebih dulu dalam ramuan jahe, asam, kunyit, dan sereh sebelum dicampur dengan nasi. Sebagai penutup, cobalah minuman primadona kedai ini: jus alpukat. Terasa legit dengan campuran susu kental, sirup, dan es serut.

Nasi Goreng Betawi 99; Jalan Bhakti 1 Blok S, Senopati, Jakarta Selatan

Sedap dengan Aroma Arang

Rumah Makan Bumen Jaya di Pejompongan, Jakarta Selatan, termasuk yang sudah lama mengibarkan olahan nasi goreng. Hidangan andalan Bumen adalah Nasi Goreng Ayam dan Mi Godog. Usia rumah makan ini sudah sekitar 49 tahun. Dimasak menggunakan anglo dengan bahan bakar arang membuat aroma nasi goreng ayamnya terasa khas. Pada setiap gigitan nasi goreng terselip rasa kaldu sapi yang sebelumnya dicampur dengan beras. Walhasil, selain pulen, nasi goreng menjadi legit.

Karena tidak begitu banyak menggunakan minyak, tekstur nasinya kering legit. Yang menjadi idaman adalah suwiran ayam di Bumen Jaya, yang ditabur begitu banyak di atas nasi dan kemudian ditambahkan telur mata sapi. Porsi nasi goreng Jawa ini cukup besar, sehingga benar-benar klop untuk memadamkan rasa lapar. Jika ingin variasi lain, di sini juga ada nasi goreng kambing.

Nasi Goreng Bumen Jaya; Jalan Pejompongan 1; Jakarta Selatan

Sajian Ala Pekalongan

Bila Anda ingin merasakan nasi goreng yang komplet, coba singgah ke Nasi Goreng Pekalongan. Campurannya berupa daging, ayam, udang, cumi-cumi, dan ati ampela untuk nasi goreng spesial.

Didirikan pada 1986, Nasi Goreng Pekalongan masih mempertahankan rasa pedas yang khas. Bumbu merah terlihat dominan ketika nasi goreng ini dihidangkan. Campuran rempah-rempah dan sedikit kecap membuat tampilan nasi begitu padat.

Kehadiran daging di dalam sepiring nasi goreng juga tak kalah enak. Selain itu, ada cumi-cumi yang kenyal, udang yang matang, serta ayam yang dagingnya terasa manis. Benar-benar memperkaya rasa nasi goreng. Bagi penggemar rasa pedas, Nasi Goreng Pekalongan bisa jadi salah satu pilihan karena pedasnya tidak merusak cita rasa aslinya.

Nasi Goreng Pekalongan; Jalan Rumah Sakit Fatmawati 1; Pondok Labu, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****

Pulau Pisang Lampung, Ombak 7-12 Meter

Pulau Pisang Lampung mempunyai segudang potensi pariwisata.

Pulau Pisang Lampung berada di sisi paling barat provinsi ini. Suguhannya beragam: pantai berpasir putih, blue marlin, hingga penenun tapis. Dan ombak yang semakin diincap para peselancar.

Pulau Pisang Lampung

Janji bertemu di Dermaga Krui, Pesisir Barat, sebenarnya pukul 08.00, tapi masih 30 menit dari waktu yang disepakati, telepon seluler saya berbunyi terus. Rupanya pemilik perahu sudah menunggu sejak pukul 07.00 di dermaga yang berada di wilayah barat Lampung tersebut. Dermaga kecil itu tak jauh dari Pasar Krui yang dilintasi bus-bus luar antarkota yang memilih jalur selatan Sumatera.

Tak tampak dari luar karena deretan jungkung—perahu kayu—tertutup gerbang. Tapi akhirnya bisa ditemukan juga dermaga itu. Tak terbayang akan menggunakan jungkung yang disebutkan bisa menampung 20 orang tersebut. “Sebagian kan berdiri,” ujar Yusri, penduduk Krui yang mengantar saya dan rekan-rekan pagi itu. Saya pun terdiam, membayangkan 20 orang terombang-ambing di tengah laut. Beruntung, pagi itu rombongan hanya terdiri atas delapan orang, termasuk juru mudi. Saya pun bisa duduk nyaman di bagian tengah. Mentari masih hangat. Perjalanan biasanya ditempuh selama sekitar satu jam.

Sebenarnya ada pilihan lain dengan waktu lebih pendek, atau 20 menit dari dermaga Tembakak. “Hanya, sekarang ombak lagi besar-besarnya. Bisa-bisa jungkung kebalik,” ujar Yusri.  Wah… tak apalah lebih lama, pikir saya, yang penting selamat.

Saya disambut laut yang tenang dan sinar surya yang hangat pagi itu. Nikmat sekali terayun-ayun di perahu kayu di tengah laut. Hening, hanya kecipak air yang beradu dengan tepi perahu. Bisa jadi setiap orang terdiam karena tengah asyik dengan lamunan masing-masing. Tiba-tiba sebuah lompatan di udara tampak dari kejauhan. Wah… aksi apakah itu?

Lumba-lumba,” ujar juru mudi. Senyum saya pun melebar, perahu diarahkan menuju hewan mamalia tersebut. Namun rupanya tak hanya ada sepasang karena, tak lama kemudian, belasan lumba-lumba seperti memberi sambutan. Mereka mengiringi perahu di sisi kiri dan kanan. Jenis Tursiops truncates atau lumba-lumba hidung botol itu terlihat menggemaskan. Gerakan bagian kepala dan ekornya membuat saya terus tertawa dan berteriak. Karena perahu kami satu-satunya di perairan itu, banyak lumba-lumba yang mengerubungi. Bila ada beberapa perahu, biasanya mereka pun berpencar.

Tak lama pulau pun tampak dari kejauhan. “Dari kejauhan, bentuknya seperti pisang,” ucap salah satu pengantar. Saya mencoba mencermatinya. Bisa jadi memang seperti pisang, tapi yang pasti tak banyak pohon pisang di sana, seperti bayangan saya. Yang pertama menyambut saya malahan ombak yang kencang sehingga perlu waktu yang tepat untuk turun dari perahu.

Deretan perahu nelayan memberi warna khas di pesisirnya. Tak lama kemudian, perahu lain berisi turis asing pun tiba. Sebelumnya, kami sempat bertemu dengan mereka di kawasan wisata Tanjung Setia. Mereka tengah bermain selancar. Rupanya mereka mencari ombak lain yang menantang. Sekitar pulau ini terkenal akan ombak yang tingginya 5-7 meter, bahkan mencapai 12 meter, pada bulan-bulan tertentu.

Pulau Pisang Lampung punya banyak potensi wisata, di antaranya surfing.
Salah satu magnet Pulau Pisang adalah ombaknya yang bagus untuk berselancar. Foto: Ilustrasi-unsplash

Setelah menyusuri pasir putih hingga ke dermaga, saya tergoda untuk mencermati hasil tangkapan nelayan.  Kecamatan ini memang dikenal dengan hasil laut yang ditangkap dengan cara tradisional. Dan blue marlin, salah satu ikan yang khas. Selain itu, ada kucingan yang mirip dengan kepiting. Melintasi kelompok yang tengah membakar ikan, aromanya begitu menggoda. Tak ada rumah makan di pulau ini, tapi turis bisa memesan ikan dan membakarnya. Pagi menjelang siang itu cukup membahagiakan karena saya pun mendapat suguhan ikan goreng dari keluarga pengantar, yang memang asli Pulau Pisang.

Setelah mengisi perut, saatnya menyusuri pulau seluas 148,82 hektare itu. Jalan kaki menjadi pilihan. Saya melewati rumah-rumah kayu atau lamban balak, menemukan orang yang tengah membuat minyak kelapa asli. Ada petunjuk arah nama-nama desa di beberapa titik. Seperti  Labuhan, Lok, Sukadana, Pasar, Sukamarga, dan Bandardalam. Tak lama, di sebuah rumah lawas, saya menemukan penyulam emas di atas tapis. Kain tradisional khas Lampung ini memang juga menjadi ciri khas Pulau Pisang. Berbentuk sarung yang bisa dikenakan atau hiasan dinding. Para penenun yang bisa ditemukan di sekitar Bandar Lampung, umumnya berasal dari pulau ini.

Tak puas dengan memperlihatkan aktivitas warga, Sang pengantar pun mengajak saya dan rekan ke kebun cengkeh di atas bukit. Uniknya, jalan sudah disemen sehingga para petani bisa melaju di jalan kecil mulus dengan sepeda motor. Beberapa kali saya harus menepi karena kendaraan roda dua lewat.

Beruntung, masih banyak pohon sehingga cukup teduh meski sebenarnya sinar mentari mulai terik. Akhirnya tiba juga di balik bukit dan, di depan mata, Samudra Hindia tampak sedang menyuguhkan permainan ombaknya. Gulungannya besar dan langsung menghantam bukit karang. Masih ada pantai berpasir putih meski tak begitu landai. Hanya sejenak, saya kembali ke balik pepohonan berjalan menuju sisi lain dari pulau dan menemukan sebuah kapal terdampar. Tepatnya, kapal tunda atau tug boat. Dan menjadi lokasi yang akhirnya sering dikunjungi turis. Apalagi di sekitarnya berdiri karang-karang menghias perairan.

Tak jauh dari tempat kapal terdampar tersebut, ada jajaran pohon kelapa dan rumput hijau, dan pantai pun cukup landai. Saya pun menikmati deburan ombak keras dari sana. Kaki saya dibiarkan berselonjor. Lumayan juga perjalanan naik-turun bukit.

Kembali ke dermaga, jalan menurun dilalui. Melewati kampung dengan sederet lumban balak yang tidak terawat, bahkan juga masjidnya. Para pemiliknya sudah jarang datang sehingga rumah-rumah kayu itu menjelang roboh. Jalan menurun bukit, melewati sebuah sekolah dasar, hingga akhirnya kembali ke rumah-rumah di pekon Labuhan dan beristirahat di rumah warga.

Lelah masih bergelayut setelah berkeliling pulau sekitar 2 jam, tapi seorang pemuda datang, menyebutkan bahwa kami sudah ditunggu di perahu. Kembali ke Krui tidak boleh lebih dari pukul 14.00. Sebab, lewat waktu tersebut, ombak akan meninggi. Masih enggan untuk berdiri, kaki pun melangkah dengan berat. Rupanya, kelompok turis asing yang bersamaan datang dengan kami sudah berangkat lebih dulu. Saya melihat perahu mereka sudah melaju.

Pasir putih pun terus saya jejaki, belum puas rasanya menyentuh kehalusannya. Ombak tampak kian besar. Saya pun bersiap-siap menghadapi guncangan. Perjalanan pulang, bisa jadi lebih panjang karena perahu akan terus digoyang ombak. Dan…  tak ada pula lumba-lumba yang menggoda. Saya pun duduk pasrah berselonjor di tengah perahu. Tak lama kemudian, air mulai menyembur masuk membasahi wajah dan pakaian. Bukannya kaget, saya malah tergelak.

Memang tak perlu cemas dan takut. Para nelayan sudah biasa bergelut dengan ombak “nakal” ini. Mendekati dermaga Krui, godaan di laut itu mereda. Tapi apa mau dikata, saya sudah basah kuyup. Seharusnya memang saya menginap dan baru esok pagi kembali ke Krui, sehingga bisa merasakan kembali laut yang tenang dan tarian lumba-lumba.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Jajanan Enak ala Pontianak, 5 Yang Wajib Icip

Jajanan enak ala Pontianak ada banyak macamnya, selain kwetiau atau mitiau yang sudah dikenal banyak orang. Ada pilihan lain jika kebetulan main ke ibu kota Kalimantan Barat ini, Dari sajian hidangan laut, es krim, hingga kopi.

Jajanan Enak ala Pontianak

Sajian kuliner Nusantara begitu beragam. Ada makanan yang selintas terlihat sama, namun begitu diicipi, ternyata rasanya berbeda. Hal serupa juga ditemukan di Kota Khatulistiwa ini. Menu sajian kuliner di Pontianak ada juga yang terlihat sama dengan jenis makanan atau masakan di Jawa ataupun daerah lainnya, tapi ternyata isinya berbeda. Di antaranya pengkang. Jika mendengar penjelasannya yang berbahan ketan, rasanya ini mengingatkan kita dengan lemper. Tampilannya saja yang berbeda karena dijapit bambu. Ada pula olahan kepiting serta sajian pedas khas Melayu. Berikut 5 jajanan Pontianak yang bisa dicoba karena beda dan pasti enak.

Es Krim Petrus

Karena tokonya tepat berada di depan sekolah Santo Petrus, warga Pontianak lebih mengenal Toko Es Krim Angi ini dengan nama es krim Petrus. Berbeda dengan es krim pada umumnya, es krim tersebut menggunakan wadah dari kelapa muda. Dengan begitu, selain dapat menikmati segarnya es krim, pengunjung dapat sekalian menikmati daging kelapa mudanya.

Es krimnya lumayan lembut. Kabarnya, resep es krim itu dibuat secara turun-menurun lebih dari 60 tahun. Pilihan rasanya juga beragam, mulai  cokelat, vanila, stroberi, durian, nangka, ketan, cempedak, hingga alpukat. Satu porsi es krim ukuran kecil Rp 12,500, sedangkan ukuran besar dengan batok kelapa Rp 23 ribu.

Es Krim Angi; Jalan KS Tubun No 8; Pontianak

Jajanan enak ala Pontianak di antaranya adalah pengkang yang mirip dengan lemper. Hanya saja pengkang berisi udang ebi.
Pengkang, makanan khas Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. TL

Pengkang, Lemper Isi Udang

Namanya Pengkang. Sekilas menu ini mirip lemper. Sama-sama terbuat dari ketan yang dibungkus daun pisang dan dibakar. Cuma bedanya, pengkang berisi udang kering alias ebi. Bedanya lagi, saat dibakar, pengkang dijepit dengan bambu yang diikat tali yang terbuat dari alang-alang. Warga sekitar menyebutnya tali pundung.

Pengkang disajikan dengan sambal kerang. Harga per buah rekannya lemper ini hanya Rp 9.000. Sedangkan sambal kerang yang benar-benar membuat lidah bergoyang dipatok Rp 25 ribu per porsi. Es lidah buaya atau es biji selasih seharga Rp 15 ribu bisa menjadi minuman pilihan yang menyegarkan.

Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak

Jajanan enak ala Pontianak bisa dipilih dari yang seafood atau sekadar ngopi.
Kepiting asap yang bisa dicicipi di Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. TL

Kepiting Asap

Sajian dari ikan laut sepertinya jadi ikon sajian kuliner tak resmi Kota Pontianak. Betapa tidak, rumah makan yang populer di Kota Bumi Khatulistiwa itu kebanyakan adalah rumah makan yang menyajikan hidangan laut. Salah satu yang terkenal adalah menu kepiting asap di restoran yang pernah dikunjungi Presiden RI ke-7, Joko Widodo, yakni Pondok Kakap Seafood Restaurant.

Cara memasaknya terbilang tak lazim. Dua ekor kepiting kira-kira berukuran 8 ons yang sudah diberi rempah-rempah dibungkus dengan aluminium foil lalu dibakar. Rasanya lumayan pedas, tapi memang pas di lidah. Dalam penyajiannya disertakan pula dua pilihan sambal: cabai rawit yang diblender dan sambal terasi yang diberi jeruk nipis. Satu porsi untuk dua ekor kepiting berukuran 8 ons dihargai Rp 150 ribu.

Pondok Kakap Seafood; Jalan Ismail Marzuki No 33; Pontianak

Pedas Menyegarkan

Rumah makan Pondok Ale-Ale di Jalan Putri Candramidi ini menyediakan menu khas Melayu Kalimantan Barat. Yang jadi menu andalannya adalah asam pedas Ketapang. Sesuai dengan nama menunya, makanan ini memang terasa pedas dan menyegarkan. Rasa asamnya muncul dari penggunaan asam Jawa, nanas, dan terong asam dalam masakan.

Tingkat kepedasannya dapat diatur sesuai dengan selera, dari level I sampai level III untuk yang paling pedas. Perbedaan tingkat kepedasannya mirip dengan keripik pedas terkenal asal Jawa Barat. Untuk pilihan lauknya dapat berupa ikan atau kerang. Harga per porsinya mulai Rp 35 ribu. Menu tersebut cocok bagi penggemar masakan pedas.

Pondok Ale-Ale; Jalan Putri Candramidi No 10; Pontianak

Kopi Malam

Jika ingin menikmati kopi pada malam hari, berkunjunglah ke Jalan Gajah Mada, Pontianak. Di jalan ini boleh dibilang sentranya warung kopi. Di sepanjang jalan hampir dipenuhi deretan warung kopi yang selalu dipenuhi para penikmat kopi setiap malamnya. Saya sempat mampir di salah satu warung kopi yang berada di seberang hotel berbintang.

Rasa kopinya tidak terlalu heboh. Tapi suasana untuk bercengkerama amatlah mendukung. Kopi yang disediakan juga beragam, mulai kopi saring, kopi bubuk, hingga kopi susu. Sebagai pendamping minuman disediakan pisang goreng, martabak, dan kue. Harga per cangkir kopi mulai Rp 10 ribu.

Warung Kopi Winny; Jalan Gajah Mada No 159; Pontianak

agendaIndonesia/Andry T./Aditya N./TL

*****

Sop Buntut Ibu Samino, Enak Sejak 1973

Sop Buntur Ibu Samino adalah masakan legendaris di Jakarta.

Sop Buntut Ibu Samino di Jakarta rasanya hampir sama legendarisnya dengan sop buntut Borobudur. Secara racikan ke duanya berbeda. Sop buntut Borobudur kuahnya lebih kental dan berwarna merah karena tomat. Sementara di tempat ibu Samino lebih bening, meski gurihnya sangat terasa.

Sop Buntut Ibu Samino

Hal lain yang membedakan ke duanya adalah lokasi. Yang pertama di hotel berbintang lima, sedangkan Ibu Samino ada di warung kecil. Harganya tentu menjadi berbeda pula.

Buat yang sudah lama tinggal di Jakarta, Ibu Samino sudah berjualan menu sopnya sejak lama. Dulu sekali ia membuka warungnya di bagian belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adalah suami istri Samino yang melihat peluang berjualan menu sop buntut di Jakarta. Pada 1973 itu masih sangat jarang ada restoran atau warung makan yang berjualan menu tersebut. Karenanya, mulailah mereka berjualan sop buntut, menu yang merupakan peninggalan orang-orang Belanda di masa colonial.

Sop Buntur Ibu Samino buka mulai 1973 di belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Gerai Ibu Samino di Rasuna Said, Jakarta. Foto: IG Sop Buntut Ibu Samino

Dulu di awal-awal warung Sop Buntut Ibu Samino buka, orang suka menyebut warung ini sebagai “sop buntut nopo malih?” (Sop buntut apa lagi?). Ini karena pemesanan dilakukan dengan kertas seadanya atau kadang cuma secara lisan. Ketika mau membayar, ibu Samino sang juru hitung akan bertanya, “nopo malih?” Dan ia berhitung dengan cepat, seolah ada kalkulator di kepalanya.

Waktu berlalu, warung Sop Buntut Ibu Samino berpindah lokasi. Yang terlama ada di Jalan Arteri Permata Hijau atau Jalan Tentara Pelajar di seputar Patal Senayan. Ada pula beberapa gerai cabang lainnya. Dan tak ada lagi ibu Samino yang akan bertanya, nopo malih? Semua sudah dilakukan karyawannya.

Warung ini menjadi legendaris karena utamanya menyajikan menu spesialis sop buntut dengan varian yang rasanya paling komplit. Mulai dari sop buntut biasa, goreng, bakar, cabe ijo, atau balado. Semua disajikan dengan kuah sop buntutnya yang khas.

Masih di seputar buntut sapi, Sop Buntut Ibu Samino juga menyediakan masakan non-sop namun dengan bahan buntut sapi. Misalnya saja ada soto Betawi buntut. Yang ini kuahnya berbeda dengan sop buntut. Masakannya berkuah dengan santan namun dengan buntut sapi yang empuk. Masih di sop Betawi, ada pula pilihan dagingnya berupa iga sapi. Kuahnya sama dengan sop Betawi buntut. Yang tak disertai kuah hanyalah nasi goreng buntut.

Sop Buntut Ibu Samino
Sop Buntut Ibu Samino reguler. Foto: IG Ibu Samino

Rahasia kelezatan sop buntut di sini ada pada bumbu khas yang diracik sendiri oleh ibu Samino. Cita rasa yang disajikan terasa sangat kuat dan membuat lidah bergoyang. Terutama ketika menyeruput kuahnya.

Selain varian pengolahan atas buntutnya, ada pula varian berdasar porsinya. Porsi biasa umumnya terdiri dari tiga potong buntut yang dagingnya sangat empuk dan hamper lepas dari tulang buntutnya. Ada pula porsi spesial yang isinya dua kali lipat porsi biasa.

Warung Sob Buntut Ibu Samino tak cuma melayani pesanan sop buntut. Masih di soal sop, di rumah makan ini ada juga punya menu sop iga sapi yang tak kalah gurihnya. Selain itu ada pula menu-menu lain, umumnya masakan Jawa Tengah.

Bagi yang tak suka masakan olahan sapi, ada pula yang serba ayam. Ada ayam goreng biasa, ayam goreng kremes, ayam bakar, juga ayam balado. Mereka juga menyediakan menu bebek, variannya sama dengan masakan ayam. Ada yang goreng, bakar atau balado.

Sop Buntut Balado Ibu Samino
Sop Buntut Balado. Foto IG Ibu Samino

Sebelum pandemi restoran ini juga menyediakan masakan Yogya seperti gudeg. Namun tampaknya menu ini cukup rumit dan penggemarnya tak banyak di sini, sehingga kemudian dihilangkan dan kembali fokus ke menu andalan sop buntut.

Untuk minuman di restoran Sop Buntut Ibu Samino tersedia menu yang cukup variative. Mulai dari aneka juice buah segar hingga aneka kopi yang kekinian, misalnya Kopi Jack (Jakarta With Love) dan Kopi Tubruk Hitam. Ada pula minuman tradisional seperti beras kencur. Ini tampaknya sesuai dengan citra tempat makan ini menjual menu-menu Jawa.

Sop Buntut Ibu Samino

Jalan Tentara Pelajar (Arteri Permata Hijau-Patal Senayan) Nomor 22, Kelurahan Grogol Utara, Jakarta Selatan

Jalan Pakubuwono VI No.11E Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****

Lontong Cap Go Meh, Kuliner Khusus di Hari Ke15

Lontong Cap Go Meh hari-hari ini banyak disajikan di resto-resto tanpa mengenal waktu. Padahal, pada mulanya, ini adalah sajian khas penutupan perayaan tahun baru Imlek. Khususnya di hari ke 15, cap go meh.

Lontong Cap Go Meh

Dari namanya, orang bisa langsung mahfum jika lontong cap go meh berkaitan erat dengan budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa. Persepsi itu tidak keliru, meski harus hati-hati melihatnya. Masakan ini sebenarnya hanya masuk khasanah khusus Peranakan-Jawa. Sedangkan kaum peranakan di Kalimantan dan Sumatera tidak mengenal hidangan ini. Oleh karena itu, hidangan ini hanya ada pada perayaan Imlek di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa, khususnya Semarang, Jawa Timur, dan  Betawi.

Dari cerita mulut ke mulut, lontong Cap Go Meh ini disebut-sebut sebagai adaptasi masyarakat Tionghoa terhadap masakan lokal Indonesia, khususnya di Jawa. Dahulu pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, seperti Semarang, Pekalongan, Lasem dan Surabaya. Masakan ini dipercaya sebagai lambang asimilasi budaya antara kaum peranakan dan masyarakat Jawa.

Lontong Cap Go Meh sendiri sebenarnya tidak berbeda dari lontong sayur biasa. Kondimennya pun mirip, yaitu lontong yang sudah terpotong-potong disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh atau sayur labu siam, sambal goreng hati, acar, telur pindang, bubuk koya, abon sapi, sambal, serta tidak lupa kerupuk.

Lalu di mana percampuran budayanya? Apa bagian dari masakan ini yang dibawa masyarakat Tionghoa?

Sebelum masuk Indonesia, masyarakat Tionghoa mempunyai masakan sejenis lontong, yakni yuanxiao. Ini adalah bola-bola tepung beras yang padat kuliner khas Ca Go Meh di Tionghoa. Ada anggapan tradisional Tionghoa yang menyatakan bahwa Yuanxiao yang padat melambangkan keberuntungan.

Masakan yang padat ini penting sebagai kebalikan dari bubur yang “diharamkan” saat perayaan Imlek. Bubur yang encer diangap membawa sial jika disajikan saat Imlek hingga hari ke 15.

Pada saat Laksamana Cheng Ho pada Dinasti Ming, sekitar tahun 1368-1644, masuk ke wilayah pesisir Jawa, terutama di sisi Semarang, banyak angota pasukannya yang berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dari pertemuan ini  terjadi perkawinan dengan perempuan-perempuan Jawa.


Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lantas melihat ada lontong yang mirip Yuanxiao, hanya bentuknya panjang. Ini dianggap semakin melengkapi dengan falsafah saat perayaan Imlek yang biasanya identik dengan doa panjang umur. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan umur yang panjang.

Bagi masyarakat peranakan di Jawa, lontong Cap Go Meh dipercaya sebagai makanan yang membawa keberuntungan. Selain bentuk lontong yang melambangkan umur yang panjang, telur ayam dalam berbagai budaya juga dipercaya sebagai simbol keberuntungan, sedangkan kuah santan serta bumbu dengan kunyit dipercaya sebagai lambang emas dan kemakmuran.

Nama Cap Go Meh sendiri diambil dari dialek Hokkian yang berarti ‘malam ke 15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Dan Cap Go Meh adalah penutup dari perayaan tahun baru Imlek.

Rupanya kemudian berkembang, masyarakat peranakan melihat tradisi kuliner ketupat lebaran dan opor ayam. Mereka melihat bagaimana para santrai yang tersebar di banyak kota di pesisir utara Jawa merayakan Lebaran dengan menyantap ketupat atau lontong opor. Ini yang kemudian diadopsi dan dikawinkan dengan tradisi Imlek.

Lontong Cap Go Meh ada di banyak kota di pesisir pulau Jawa.
Lontong Cap Go Meh memiliki berbagai variasi, sesuai karakter masyarakat setempat. Foto: Unsplash

Dalam perjalanannya, lontong Cap Go Meh bisa berbeda di sejulah daerah. Di kawasan pecinan di Jakarta, Semarang, maupun Surabaya paduan kondimen lontong Cap Go Meh bisa tidak sama. Di Jakarta, misalnya, lontong Cap Go Meh biasanya menggunakan sayur lodeh. Sedangkan di kawasan lain bisa. Yang wajib adalah harus ada lontong dan opor ayam, sambel goreng jeroan, sama kerupuk udang.
Lalu, di mana orang bisa mendapatkan lontong Cap Go Meh yang enak? Rasa tentu saja selera, tapi berikut ada beberapa tempat yang menyajikannya.

Gado-gado Bonbin; Jl. Cikini IV No. 1, Jakarta Pusat

Gado Gado Bon Bin memang terkenal banget nih sama gado-gadonya yang melegenda. Tapi Selain gado-gado, lontong cap go meh di sini tidak kalah enak.

Lontong Cap Go Meh & Rujak Cingur Surabaya; Summarecon Mall Lt2

Lokasi Serpong yang jauh nggak akan terasa kalau dibalas dengan kelezatan lontong cap gomeh yang satu ini. Dengan sentuhan resep khas Surabaya

Sate Khas Senayan

Di resto ini menu lontong Cap Go Meh tersedia hampir sepanjang waktu dan dengan kondimen yang lengkap. Gerainya yang banyak memudahkan orang mendapatkan menu ini.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Bulevar PIK, 5 Pembangkit Selera

Kuliner Bulevar PIK semakin menjadi pilihan untuk bersantap dan berkumpul handai taulan.

Kuliner Bulevar PIK kian hari kian menjadi pilihan untuk bersantap atau sekadar nongkrong dan bersosialisasi. Bersenang-senang. PIK atau Pantai Indah Kapuk pernah tidak dianggap sebagai pilihan untuk wisata kuliner, beberapa tahun terakhir sinarnya makin mencorong. Apa lagi setelah kini hadir PIK 2.

Kuliner Bulevar PIK

Pantai Indah Kapuk makin menjadi salah satu destinasi kuliner populer. Ada sebuah bulevar dengan deretan kafe yang menggoda, dari makanan hingga interiornya. Mulai steak, pasta, hingga bubble tea dan es parut. Sulit juga jika sekali waktu harus memilih rumah makan terbaik di sini. Hingga beberapa tempat yang sama populernya tidak ditulis di sini. Pilihan di bawah ini pastinya dapat memuaskan lidah nusantara dan internasional serta bagi pencari menu yang mencari rasa autentik.

Bulevar Crown Golf merepukan kawasan ruko yang berlokasi di PIK 1, ada banyak pilihan makanan. Jika belum pernah menyambanginya, ada baiknya melakukan riset kecil-kecilan agar waktu tak habis hanya untuk menimbang-nimbang mana yang dipilih.

Buat Yang Seneng Nongkrong

Namanya Eighteen Pies, dari namanya sudah ketahuan apa sajian andalan mereka, meski menu lainnya juga banyak. Menu makanan beratnya juga ada. Cafe ini menyajikan beragam pastry yang bikin kita betah nongkrong, terutama untuk kaum hawa. Buka apa-apa, desain interiornya mengusung tema modern klasik dengan sentuhan feminin yang kuat.

Menu yang ditawarkan ada ragam kuliner Indonesia dan Chinnese. Jika cuma ingin santai dan menantap yang ringan, ada kue-kue yang enak. Ragam pastry juga banyak. Misalnya, bisa cobainspecialty cake-nya: nastar crumble, yang dikombinasikan dengan teh panas. Ada berbagai pilihan teh. Bila ingin yang agak berat, karena waktunya nanggung untuk makan besar, bisa memilih sandwich. Misalnya saja croissant dengan isian chicken katsu, sunny side egg alias telur ceplok, mayo dan disajikan dengan salad. 

Eighteen Pies; Ruko Crown Golf, Blok D No. 16, Bukit Golf Mediterania; Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Bebek Nomor 1

Bihun Bebek A Eng, restoran dari Medan, memiliki sejarah yang panjang. Kisahnya dimulai sejak Perang Dunia II. Yakni ketika satu keluarga dari Guang Dong, Cina, bermigrasi ke ibu kota Sumatera Utara. Untuk bertahan hidup, mereka membuka kedai bakmi sederhana di Jalan Semarang, Medan, dengan berbekal resep keluarga dari Tiongkok. Rupanya, rasanya cocok dengan lidah setempat, sehingga sajian itu pun dengan cepat dikenal luas. Kini tak perlu ke Medan untuk bisa mencicipinya, karena telah ada cabangnya di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Seperti halnya bakmi ayam, sajiannya merupakan paduan antara bakmi dan irisan daging bebek rebus. Bakminya lembut, tapi tidak lembek dan daging bebeknya sangat empuk. Yang membikin kian lezat adalah kuahnya. Bakmi ini disajikan dalam sebuah mangkuk besar.

Bihun Bebek A Eng; Ruko Crown Golf Block A 36; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Kehangatan ala Jepang

Demam Jepang tampaknya tak pernah hilang di Jakarta. Yang paling populer tentu ramen. Ada banyak restoran ramen di kota ini. Tapi beberapa penggemar ramen mengklaim bahwa Ikkudo Ichi di Pantai Indah Kapuk merupakan salah satu yang terbaik.

IKKUDO ICHI

Ketika saya singgah ke resto ini, sang pelayan menyebutkan pilihan favorit tamu adalah ikkudo tori kara. Merupakan paduan irisan daging ayam, telur setengah matang, daun bawang, dan biji wijen, ramen ini dicampur dengan saus kara spesial sehingga menambah rasa pedas. Untuk temannya, bisa pesan age tori gyoza alias bakpau ayam. Tentu juga dengan secangkir ocha atau teh Jepang.

Ikkudo Ichi; Rukan Crown Golf Block D No. 2-3; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Alternatif untuk Keluarga

Kebanyakan tempat makan berlomba memberikan rasa dan tempat terbaik. Shao Kao, restoran sate barbeku Cina, dihadirkan dengan penataan sederhana. Bisa ditemukan di sebelah Sate Khas Senayan. Benar-benar sebuah rumah makan yang bersahaja. Hal ini menjadikan Shao Kao pilihan yang tepat untuk makan dan bersantai bersama keluarga dan teman.

SHAO KAO 2

Pilihan hidangannya bermacam-macam, antara lain, bakmi, nasi, sayuran, dan sate—daging sapi, kambing, ayam, dan babi. Selain itu, ada kulit ayam dan beragam jamur. Plus, otak-otak dan pao. Tamu bisa meminta untuk dibuatkan sajian pedas sesuai selera.

Shao Kao; Ruko Cordoba Block F No. 6; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Pilihan Sechuan Hot Pot

Untuk yang senang shabu-shabu atau pangang-memanggang sendiri, ada pilihan Shu Guo Yin Xiang,  Chinese restaurant dengan specialisasi Sechuan hot pot. Penggemarnya cukup banyak, sehingga karena lokasinya di ruko yang tidak terlalu besar, jika pas jam makan siap-siap antri saja.

Suasananya sangat oriental jadi sangat pas jika ingin merayakan Imlek atau Cap Go Meh di sini. Dari luar terlihat biasa saja, namun ketika kita masuk ke dalamnya ternyata daftar tunggunya cukup panjang. Rata-rata meja di sini di siapkan untuk 4 orang.

Utamanya makan di sini tentu saja shabu-shabu, tapi yang istimewa pilihan saus atau sambel atau bumbu celupnya sangat banyak. Yang tidak biasa mungkin bisa bingung, jangan ragu untuk bertanya ke waiter. Termasuk jika ingin mencampur atau antara satu bumbu dan saos yang lain.
Shu Guo Yin Xiang; Ruko Crown Golf, Blok D No. 62-63, Bukit Golf Mediterania; Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

agendaIndonesia/Fiz R./Arcaya M.

******

Bali Botanical Garden, Begonia dan 68 Jenis Kaktus

Bali Botanical garden perpustakaan tumbuhan di Bali.

Bali Botanical Garden atau masyarakat Bali menyebut nama aslinya sebagai Kebun Raya Eka Karya masih cukup jarang disebut para pelancong yang mengunjungi pulau Dewata ini. Kalah moncer dengan pantai-pantai.

Bali Botanical Garden

Di Indonesia, bukan hanya Bogor yang memiliki kebun raya. Pulau Bali pun mempunyai kekayaan wisata dengan beraneka tumbuhan. Berada di seberang Danau Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan kebun raya ini terletak. Orang sering menyebutnya Kebun Raya Bedugul, namun aslinya namanya adalah Kebun Raya Eka Karya.

Lokasinya tak terlalu jauh dari Denpasar, kebun raya ini cuma berjarak sekitar 80 kilometer dan dapat dicapai dalam waktu sekitar 1,5 jam dari Denpasar menuju ke arah utara, Singaraja.

Kebun Raya Bali ini memiliki luas 157,5 hektare dan bisa dikatakan merupakan yang terluas di Indonesia. Terletak pada ketinggian 1.240 meter dari permukaan laut, yang artinya lokasinya berada di dataran tinggi, membuat obyek wisata kebun raya ini senantiasa berhawa dingin dan sering berkabut.

Seperti layaknya mengunjungi kebun raya di mana pun, masuk ke tempat ini seperti memasuki perpustakaan botani yang sangat besar. Pengunjung bisa mempelajari keragaman flora koleksi taman ini. Karcis masuknya tergolong murah, hanya Rp 9 ribu per orang. Jika membawa mobil, dikenai karcis masuk Rp 6 ribu. Yang menarik, lokasinya yang berseberangan dengan Danau Beratan. Bisa dibayangkan indahnya kan.

Dibangun pada 1959, Kebun Raya Bali ini menjadi satu-satunya yang dibangun setelah kemerdekaan sekaligus satu-satunya pula yang berada di luar Jawa. Indonesia saat ini mempunyai empat kebun raya, yakni Bogor, Cibodas atau Cianjur, dan Purwodadi.

Kebun Raya Bali ini pada mulanya diperuntukkan bagi konservasi tumbuhan runjung atau konifera. Koleksi awalnya didatangkan dari Kebun Raya Bogor dan Cibodas, seperti Araucaria bidwillii, Cupresus sempervirens, dan Pinus masoniana. Jenis lainnya berupa tumbuhan asli daerah ini, seperti Podocarpus imbricatus dan Casuarina junghuhniana.

Namun seiring perjalanan waktu, koleksi Kebun Raya Bali berkembang hingga mencakup tumbuhan pegunungan tropis kawasan timur Indonesia. Beberapa koleksi di antara lain anggrek, kaktus, pakis, bambu, lumut, palma, hingga tumbuhan air dan tanaman obat. Selain itu, nah ini dia, koleksi begonia bahkan merupakan yang terlengkap di dunia. Ini tanaman yang sedang populer di masa pandemi ini.

Bali Botanical Garden atau Kebun Raya Bali menawarkan liburan yang lain di pulau Dewata selain pantai.
Salah satu sudut Bali Botanical Garden, Tabanan, Bali. Foto: Shutterstock

Setiap jenis tumbuhan menempati kawasan yang didesain unik. Tanaman kaktus, misalnya, menempati kawasan yang diberi nama Cactus Glass House. Dalam rumah kaca seluas sekira lapangan basket ini dikembangkan 68 jenis kaktus dari pelbagai negara, seperti Meksiko, Jerman, Selandia Baru, dan Argentina.

Agak mengherankan juga melihat kaktus, yang biasa hidup di kawasan gurun, mampu berkembang di dataran tinggi berhawa dingin seperti Bedugul itu. Bentuk-bentuk kaktusnya pun tak unik-unik. Ada yang lonjong, ada yang bulat. Ada yang berduri keras, ada pula yang berambut uban. Bahkan, beberapa menyerupai hewan. Jenis Echinocactus grusonii, misalnya, lebih tampak sebagai landak laut (Echinoidea) berwarna hijau. Sedangkan kaktus Cephalocereus senilis hampir serupa ulat bulu besar dalam posisi berdiri.

Di seberang rumah kaktus, ada Orchid Park, bangunan berstruktur tenda yang menampung lebih dari 293 jenis anggrek di Indonesia, khususnya dari wilayah timur. Berbagai anggrek liar dikumpulkan dari berbagai hutan di Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, juga Papua. Jika ingin melihat banyak anggrek yang tenga berbunga cobalah datang antara Maret dan Juni.

Salah satu koleksi yang membuat kebun raya ini berbeda adalah tanaman untuk upacara agama Hindu. Koleksi tanaman yang dianggap sakral ini salah satu manifestasi falsafah agama Hindu, Tri Hita Karana, yang menganggap penting aspek pelestarian lingkungan. Terdapat beberapa tumbuhan yang biasa digunakan sebagai hiasan pura, material bangunan suci, dan sesajen upacara keagamaan di Bali. Di antaranya kembang cempaka, pohon beringin, buah trijata, sarai, dan majegau.

Lalu adakah pohon-pohon “raksasa” seperti layaknya yang ada di kebun-kebun raya? Tentu saja ada. Misalnya saja beringin raksasa. Letaknya menjulang di pojok utara, pohon tersebut bahkan sudah ada sebelum kebun raya ini dibangun. Umurnya diperkirakan sudah ratusan tahun. Beberapa wisatawan asing terlihat takjub melihat pohon gigantik ini. Beberapa wisatawan menjadikan pohon ini sebagai latar belakang untuk swafoto.

Harmoni antara lingkungan dan kebudayaan Bali juga terlihat dengan dibuatnya cultural trail menuju dua pura dan satu situs, yaitu Pura Batu meringgit dan Terataibang di sisi barat daya kompleks, serta situs kuno patung singa mendekam yang berlumut di sisi timur Museum Etnobotani.

agendaIndonesia/TL

*****

Jajanan Enak Kelapa Gading, 5 Jadi Pilihan

Jajanan enak Kelapa Gading, dari yang tradisional sampai yang legendaris.

Jajanan enak Kelapa Gading pilihannya bisa berlimpah. Mulai dari yang tradisional hingga yang melegenda.

Jajanan Enak Kelapa Gading

Jarum jam menunjukkan pukul 12.20. Matahari semestinya sedang gagah memperlihatkan kekuatannya. Namun siang itu awan kelabu menutupi keperkasaan matahari. Di tengah suasana mendung, di sepanjang Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara, orang-orang mampir dengan penuh semangat. Kendaraan beroda empat menyesaki pelataran parkir di deretan rumah makan di kawasan tersebut. Hampir tak ada rumah makan yang sepi pengunjung di lingkungan 1001 kuliner. Ada beragam menu dan setiap orang punya pilihan sesuai dengan selera masing-masing. Namun ada beberapa menu yang diburu sebagian besar penggemar kuliner. Empat di antaranya diulas di bawah ini.

Iga Penantang

Daging iga sapi bakar dengan siraman bumbu kacang di atasnya benar-benar menantang untuk disantap. Saat dipotong dengan sendok, dagingnya relatif mudah dipisahkan dari tulang. Maklum saja, sebelum dibakar, daging iga sapi yang masih dilengkapi tulang itu direbus dengan bumbu-bumbu selama tiga jam. Alhasil, selain empuk, bumbu meresap ke dalam daging iga.

Menu seharga Rp 50 ribuan ini dilengkapi kuah sop konro secara terpisah. Kuahnya terlihat lebih encer ketimbang coto Makassar. Menurut sang pemilik, menu ini paling banyak dipesan. Padahal, menu masakan Makassar lainnya juga tersedia. Ia mengaku dalam sehari dapat menghabiskan 500 kilogram iga sapi.

Sop Konro Karebosi;Jalan Boulevard Raya TA II/38;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Jajanan enak Kelapa gading kita bisa mencicipi kwetiau goreng Pontianak yang legendaris di kawasan ini.
Kwetiau goreng Pontianak di Kelapa Gading. Foto: Dok. TL

Jagoan Nila

Lain lagi dengan rumah makan Ikan Nila Pak Ugi. Sesuai dengan namanya, rumah makan ini memang mengandalkan ikan nila sebagai menu utama. Tersedia beragam menu, mulai nila bakar, nila goreng, nilai saus Padang, hingga nila telur asin. Dari semua olahan tersebut, yang paling banyak dipesan nila bakar. Saya pun mencoba pilihan terbanyak itu.

Saat ikan dibakar, aroma harum langsung tercium dan menggoda selera. Setelah setengah matang, ikan nila yang telah dipotong dan dibersihkan itu diberi bumbu racikan Pak Ugi. Saat bumbu meresap, ikan dibakar sampai matang dengan siraman kecap. Rupanya, di situlah letak rahasia kenikmatannya. Pantas saja nila bakar itu sanggup membuat lidah bergoyang.

Ikan Nila Pak Ugi; Jalan Boulevard Raya FX I/1;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Dim Sum

Sajian dim sum lengkap biasanya hanya ditemui di restoran-restoran besar. Tapi di Kelapa Gading, olahan khas dari Negeri Tirai Bambu ini dapat ditemukan di warung rumahan. Sang pemilik warung memanfaatkan teras rumah sebagai area makan. Ia menyodorkan menu pilihan dim sum yang mayoritas banyak disukai, seperti siomay, chicken pou, hakau, lumpia udang, pangsit udang, dan ceker ayam.

Meski dijual ala rumahan, rasa sajian yang biasa disantap saat sarapan ini boleh diadu. Daging ayam atau udang dicincang setengah halus. Tak mengherankan jika setiap gigitan menimbulkan sensasi tersendiri. Harganya dihitung per porsi dan tidak terlalu mahal. Sebagai pendamping makanan, Anda bisa memesan secangkir kopi Sumatera asal Sidikalang. Kenikmatan kopi bisa diteguk dengan membayar Rp 5.000 per cangkir.

Jajanan enak Kelapa Gading kita bisa mencoba sop konro atau konro bakar Karebosi Makassar di daerah Kelapa Gading Boulevard.
Sop Konro from Makassar Indonesia. Foto: shutterstock

Kwetiau Kawakan

Bicara kwetiau, mungkin, Anda tidak boleh melupakan kwetiau khas Pontianak yang satu ini. Sejak 1991 hingga sekarang, rumah makan ini konsisten menyajikan kwetiau saja. Jadi, jangan harap menemukan menu lain di tempat ini. Mungkin karena itu pula banyak yang sudah mengenalnya.

Sekadar menyegarkan ingatan, rumah makan ini hanya menyediakan tiga pilihan olahan kwetiau: kwetiau goreng, kwetiau siram, dan kwetiau kuah. Setiap sajian itu dipatok dengan harga yang sama, yaitu Rp 32 ribu per porsi. Kokinya juga dari dulu belum berganti. Masih orang yang sama dan dengan teknik memasak yang sama pula. Ia memasukkan telur ayam saat masakan sudah setengah matang.

Kwetiau Sapi Hayam Wuruk 61; Jalan Boulevard Raya TN II/30-31; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Bubur Sapo

Tak usah khawatir bila tengah malam perut Anda keroncongan. Jika kebetulan berada di Kelapa Gading Permai, Anda dapat mengunjungi rumah makan yang buka 24 jam ini. Ada beberapa menu ala Singapura yang dapat dijadikan pilihan. Namun menu bubur tetaplah menjadi pilihan favorit pengunjung.

Memiliki keunikan tersendiri. Bubur tidak dihidangkan di mangkuk biasa. Tetapi disajikan dalam sapo, yaitu mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Mungkin karena itu sajian ini kemudian disebut bubur sapo. Penggunaan sapo menjadikan bubur tetap hangat hingga suapan terakhir. Harga bubur ayam dipatok Rp 30 ribu per porsi.

Bubur Sapo Bun Ong; Jalan Boulevard Raya WB I/30; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

agendaIndonesia/Andry T./TL/shutterstock

*****