Pulau Weh, Mengunjungi Indonesia di Titik 0

Dari Sabang hingga Takengon bisa dilakukan dalam waktu 5 hari.

Pulau Weh atau pulau We mungkin banyak anak milenial yang kurang mengetahuinya. Tapi kalau kita menyebut satu-satunya kota di atas pulau ini, yakni Sabang, mungkin mereka akan segera tahu, ini pulau paling barat dari Indonesia.

Pulau Weh

Orang Indonesia biasanya memang lebih mengerti Sabang daripada pulau Weh. Sabang adalah simbol ujung barat dari deret kepulauan Nusantara, dengan simbol ujung timurnya di Merauke. Ya, bila Indonesia diibaratkan sebuah deret aritmatika, Sabang dan pulau Weh adalah bilangan paling awal, bilangan 0.

Karena itu mengunjungi titik 0 Indonesia, yang ditandai dengan tugu Kilometer 0, tentu menjadi cerita yang seru. Apalagi jika wisatawan bisa mendapatkan sertifikat” Kilometer 0” yang ditandatangani Walikota Sabang.

Tugu Kilometer 0 itu lokasinya kurang lebih 29 kilomter dari pusat kota Sabang, dengan waktu tempuh ksekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor. Tugu setinggi 20 meter itu berwarna krem dan merah muda dengan lambang Garuda yang sedang menggengam angka 0 di puncaknya.

Pulau Weh sendiri berada di ujung utara pulau Sumatera dan menjadi bagian dari Daerah Istimewa Aceh. Ia terbentuk akibat letusan gunung berapi pada zaman pleistosen, letusan yang menyebabkan daratan Weh terpisah dari daratan Sumatera. Pulau ini terletak di Laut Andaman.

Karena terbentuk karena letusan gunung berapi, menyebabkan masih banyak ditemukan batuan-batuan vulkani di pulau ini. Ini juga berpengaruh pada kesuburan tanahnya. Sebagian tutupan hutan hijau yang masih utuh dapat dijumpai di bagian barat pulau ini. Dan, meskipun hanya kecil dengan luas sekitar 120-an kilometer persegi, pulau Weh memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter

Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer. Dari Banda Aceh, jarak Sabang sekitar 32 kilometer. Menuju Sabang bukan hal sulit, ini bisa dicapai dengan perjalanan laut dari Banda Aceh. Ada dua jenis kapal yang bisa mengantar ke Sabang, pertama kapal cepat yang menempuh perjalanan selama 30 menit harga tiketnya Rp 60 ribu per orang. Pengunjung juga bisa memilih kapal reguler, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama, yakni sekitar dua jam. Harganya tiketnya lebih murah, yakni Rp 23 ribu per orang.

Sejumlah teman menyarankan, tidak ada salahnya jika memilih kapal yang lebih lambat. Sebab, kadang jika beruntung penumpang kapal reguler ini mendapatkan tontonan menarik. Selain disuguhi pemandangan laut yang indah, dalam perjalanan penumpang bisa melihat lumba-lumba berlompatan di permukaan laut, mereka seakan mengiringi perjalanan itu.

Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh, yakni Pulau Klah, Rubiah, Seulako, dan pulau Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah yang paling terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya yang indah.

Pulau Rubiah berada di teluk di muka kota Sabang. Konon namanya diambil dari nama seorang perempuan, Cut Nyak Rubiah, yang makamnya ditemukan di pulau tersebut. Akses menuju pulau Rubiah adalah melalui Pantai Iboih atau yang nama lokalnya Teupin Layeu di kota Sabang. Waktu tempuh menuju Rubiah sekitar 5-10 menit dengan perahu motor dari Iboih.

Perairan di seputar pantai Iboih dan pulau Rubiah memang diperuntukkan untuk pariwisata. Penangkapan ikan secara masif dilarang di perairan ini, karena dianggap dapat merusak terumbu karang. Perairan bawah air di kawasan ini konon disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di Sumatera.

Jika tidak berminat menyelam, pengunjung bisa snorkling dan mengamati kecantikan laut dari permukaan. Ada banyak menjumpai kumpulan ikan (schooling fish) yang berenang di seputaran terumbu karang. Biaya menyewa peralatan snorkling di Iboih atau Rubiah sekitar Rp 40 ribu. Sedang tarif untuk satu kali menyelam Rp 400 ribu.

Bilapun tak ingin menyeberang ke Rubiah, pengunjung bisa menikmati pantai Iboih atau pantai Teupin Layee. Suasana pantainya asri dengan panorama yang indah. Warung makan, toko pakaian, dan kedai kopi mudah ditemukan di sini. Wisatawan pun bisa menikmati ikan hias dan terumbu karang dengan menggunakan perahu kaca di seputar pantai.

Pilihan wisata lain adalah pantai Anoi Itam di sisi selatan Pulau Weh, butuh waktu sekitar 30 menit dari Sabang dengan motor motor. Keistimewaan pantai ini pada pasirnya yang hitam. Dalam bahasa Aceh, Anoi Itam berarti pasir hitam. Salah satu hal menarik di pantai ini adalah adanya Benteng Anoi Itam. Benteng ini adalah salah satu tempat yang menjadi pertahanan serdadu Jepang saat mereka masuk Sabang. 

Dari benteng tersebut, wisatawan juga bisa melihat hamparan laut berwarna biru kehijauan yang memukau. Di titik ini, wisatawan juga bisa melakukan pemotretan dengan latar Gunung Seulawah Agam yang menjulang kokoh di kejauhan di daratan Aceh.

Tapi terlepas dari apapun yang memang asyik itu, berkunjung ke titik Kilometer 0 Indonesia adalah pengalaman yang luar biasa. Ayo agendakan kunjunganmu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Damar Langit Bogor, Makan Nginap 1 Tempat

Damar Langit Bogor baru berumur setahun namun sudah menjadi pilihan liburan kekinian.

Damar Langit Bogor atau tepatnya Damar Langit Dining and Resort adalah salah satu alternatif spot wisata dan liburan kekinian di kawasan Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Menjual daya tarik seperti pemandangan indah nan asri serta iklim yang sejuk, tempat dengan konsep open space ini tengah naik daun dan ramai dikunjungi.

Damar Langit Bogor

Baru mulai berdiri dan beroperasi sejak 19 Juni 2021 lalu, tempat ini mendapat sambutan positif dan sedang populer bagi wisatawan yang memilih berlibur di area Bogor dan Puncak. Dari Bogor, jarak tempuh menuju tempat ini dengan mobil atau motor sekitar satu jam.

Utamanya tempat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin bersantai menikmati alam sambil bersantap siang atau malam bersama keluarga, teman dan orang-orang terdekat. Atau bagi mereka yang ingin mencari suasana berbeda dengan spot berfoto yang indah.

Damar Langit Bogor memiliki pemandangan dua gunung, Gunung Salak dan Pangrango
Salah satu alasan memilih tempat ini adalah pemandangannya yang luar biasa. Foto: DOk. Damar Langit

Pemandangan alam di sini memang menjadi nilai plus utama dari tempat ini. Di sini anda dapat menikmati panorama dua gunung, yakni gunung Salak dan Gede Pangrango yang dikelilingi area perbukitan yang menghampar hijau, dan kelip cahaya kota Bogor yang menghiasi di malam hari.

Anda bisa menikmati pemandangan serta suasana asri tersebut dalam tiga pilihan area, yaitu indoor, semi outdoor dan outdoor. Biasanya, kebanyakan pengunjung lebih menyukai area outdoor, di mana tersedia beberapa tempat lesehan di tengah lahan rumput hijau.

Terdapat pula fasilitas kolam renang bagi yang ingin menikmati nuansa alam yang sejuk sambil berenang. Kolam renang ini terbuka untuk umum dan untuk dapat masuk pengunjung akan dikenakan tarif tiket sebesar Rp 50 ribu.

Damar Langit Bogor juga menawarkan beragam jenis makanan dan minuman untuk disantap sambil bersantai. Dari masakan lokal Indonesia seperti ayam Taliwang hingga menu-menu mancanegara seperti seafood tom yum dan chicken quesadilla tersedia di sini.

Damar Langit Bogor minuman
Salah satu minuman unggulan di Damar Langit Bogor. Foto: dok. Damar Langit

Namun perlu dicatat bahwa harga makanan di sini tergolong agak premium, yang berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu. Pilihan minumannya pun dihargai sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu, dengan pilihan seperti fresh juice, fruity ginger tea dan kopi kacang hijau.

Sebagai spot wisata kekinian, Damar Langit Bogor juga menyediakan fasilitas staycation berupa glamping alias glamour camping yang belakangan tengah marak. Nama glamping sendiri merujuk pada kegiatan pelesir mirip berkemah yang dilakukan dengan fasilitas lebih memadai.

Alih-alih menggunakan kemah, di tempat ini disediakan beberapa dome yang sudah dilengkapi dengan fasilitas seperti TV, kamar mandi dengan pancuran, kulkas, wi-fi dan sebagainya. Untuk menuju dome ini, pengunjung perlu membawa mobil atau dengan fasilitas shuttle car yang disediakan.

Tarif dome-dome tersebut dihargai Rp 1,5 juta per malam pada saat weekdays dan Rp 1,8 juta per malam kala weekend. Cocok bagi anda yang ingin menikmati pengalaman serasa berkemah tapi tanpa perlu merasakan kesulitan serta keterbatasan yang lazimnya dialami saat berkemah.

Atau kalau anda hanya membutuhkan fasilitas staycation seperti pada umumnya, Damar Langit Bogor juga menyediakan beberapa vila-vila. Setiap vila dapat menampung setidaknya empat orang, plus satu orang dengan tambahan extra bed.

Selain itu, vila-vila tersebut juga dilengkapi teras yang cukup besar dan nyaman untuk menikmati pemandangan. Tarif sewa vila ini harganya Rp 3,5 juta per malam ketika weekdays dan Rp 4 juta per malam pada weekend.

Yang perlu dicatat, jika anda menginap baik di dome maupun vila, anda akan mendapatkan akses khusus untuk ke kolam renang secara gratis. Anda juga dapat memesan menu-menu makanan dan minuman yang akan diantarkan ke dome atau vila tempat anda menginap.

Sebagai info, menu sarapan tersedia dari jam 07.00 sampai 11.00, sedangkan menu makan siang mulai dari jam 12.00 hingga jam 15.00. Adapun menu untuk makan malam disediakan dari jam 18.00 sampai jam 23.00.

Detail lainnya, tarif seperti tiket masuk kolam renang berlaku untuk usia 17 tahun ke atas. Yang juga tak boleh dilupakan, setiap penginapan baik dome maupun vila adalah penginapan bebas rokok, tetapi disediakan area khusus untuk merokok.

Lain dari itu, akses menuju tempat ini dapat dilalui oleh mobil maupun motor, dengan fasilitas tempat parkir juga tersedia. Namun jalur yang dilalui tergolong agak sempit dan cukup curam, sehingga pengunjung perlu berhati-hati, terlebih saat weekend atau hari libur yang lebih padat.

Damar Langit Dining and Resort buka setiap hari dari jam 10.00 hingga 21.00 pada weekdays dan dari jam 10.00 hingga 22.00 saat weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0251) 8295404, (0251) 8260424, atau kunjungi situs resmi www.damar-langit.com dan laman Instagram resmi @damarlangitresort.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

5 Kedai Pempek Paling Direkomendasi

Ini dia 5 kedai pempek paling direkomendasi di Palembang. Foto: shutterstock

Berikut ini 5 kedai pempek paling direkomendasi kala berkunjung ke Palembang. Tentu saja, sudah jadi pengetahuan umum jika pempek sangat identik dengan ibu kota provinsi Sumatera Selatan tersebut. Bahkan sehari-harinya pun warganya menyantap pempek layaknya makanan pokok. Tak hanya itu, pempek juga menjadi pilihan utama penganan oleh-oleh bagi wisatawan, yang rela membawa pulang boks-boks pempek mentahan. Ini adalah 5 kedai pempek paling direkomendasi yang paling terkenal dan legendaris.

Jembatan Ampera Palembang shutterstock
banyak pilihan makan pempek, berikut 5 kedai pempek paling direkomendasi. Foto jembatan Ampera, shutterstock

5 Kedai Pempek Paling Direkomendasi

  1. Kampung Pempek 26 Ilir

Bagi yang ingin mencari pempek berharga terjangkau dengan cita rasa yang tak kalah enak dengan pempek bermerek terkenal, Kampung Pempek 26 Ilir menjadi pilihannya. Sentra penjualan pempek paling ramai di Palembang ini dikenal dengan pempeknya yang murah meriah, bahkan menjadi salah satu lokasi favorit 5 kedai pempek paling direkomendasi warga setempat untuk nongkrong.

Berlokasi di jalan Mujahidin Nomor 26, tak jauh dari kantor Walikota Palembang, pengunjung langsung disambut dengan gapura penanda masuk area kampung pempek. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat berderet kedai-kedai pempek, dengan pemilik dan pramusajinya kerap menunggu di depan kedai sambil menyapa ramah pengunjung untuk mampir.

Jenis pempek yang umumnya ditemui di kedai-kedai tersebut terbilang cukup lengkap, mulai dari pempek kulit, pempek telur, pempek adaan, pempek lenjer ukuran besar dan kecil, dan pempek kapal selam. Yang unik, banyak dari jenis-jenis pempek ini yang harganya hanya sekitar Rp 1 ribu hingga 1,5 ribu per bijinya, sehingga pengunjung yang ingin makan di tempat tinggal memilih sesuai selera.

Selain membeli secara satuan, pengunjung juga dapat langsung memilih beberapa opsi paket yang sudah disediakan, khususnya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bergantung pada jumlah kombinasi pempeknya, harga per paket berkisar dari Rp 65 ribu sampai 320 ribu. Biasanya, kini tersedia paket pempek mentahan atau yang sudah dikemas secara vacuum.

Meski harganya bersahabat, tidak perlu khawatir dengan rasa dan kualitasnya. Semua kedai pempek di sini selalu menggunakan ikan yang setiap harinya selalu fresh dipasok dari pasar di sekitar area kampung tersebut. Ikannya pun tidak sembarangan, hanya ikan tenggiri, kakap dan gabus yang biasanya digunakan. Telurnya pun menggunakan telur bebek. Dan yang pasti, pempek di sini tak menggunakan bahan pengawet.

5 kedai Pempek paling direkomendasi di Palembang.
Salah satu kunci 5 kedai pempek paling direkomendasi di Palembang adalah cukonya. Foto: shutterstock

Semuanya dilakukan agar menjaga cita rasa yang sudah melegenda. Maka tak jarang Kampung Pempek 26 Ilir yang setiap harinya buka dari jam 07.30 sampai 22.00 senantiasa dipadati pengunjung, baik warga setempat yang ingin bersantai sambil menyantap pempek, maupun wisatawan yang sedang berburu pempek murah meriah untuk dibawa pulang.

  • Pempek Saga Sudi Mampir

Pempek Saga Sudi Mampir bisa dibilang merupakan salah satu dari 5 kedai pempek paling direkomendasi dan legendaris di Palembang. Telah berjualan pempek sejak 1961, ia masih menjadi satu dari beberapa kedai pempek yang paling sering direkomendasikan. Bahkan, kini terdapat 3 cabang di sekitar kota Palembang untuk melayani pengunjung yang masih banyak berdatangan.

Menu andalan yang unik dan berbeda dari yang lainnya menjadi satu alasan mengapa ia digemari banyak orang. Selain varian pempek pada umumnya, Pempek Saga Sudi Mampir juga memiliki dua menu primadona yang paling dicari dan laris manis, yakni pempek lenggang dan pempek panggang.

Pempek lenggang adalah jenis pempek yang terbuat dari telur bebek. Cara membuatnya dengan cara dipanggang dan dibungkus menggunakan daun pisang. Sedangkan pempek panggang merupakan pempek yang saat masih berupa adonan tidak lantas direbus, namun langsung dipanggang dan disajikan.

Selain menu tersebut, pilihan menu lain seperti tekwan dan es kacang merah juga cukup disukai pelanggannya. Harga makanannya berkisar dari Rp 5 ribu sampai 30 ribu. Bagi yang ingin membeli mentahan untuk oleh-oleh, tersedia juga pilhan paket yang rentang harganya dari Rp 120 ribu hingga 400 ribu.

Kedai aslinya berada di jalan Merdeka nomor 22, dimana pengunjung dapat melihat proses penyajian pempek di area dapur terbuka secara langsung. Namun kini tersedia pula dua cabang lainnya, yaitu di jalan Angkatan nomor 45 dan jalan Demang Lebar Daun nomor 47. Semua cabang buka dari jam 10.00 hingga 22.00.

Benteng Kuto Besak palembang shutterstock
Benteng Kuto Besak merupakan salah satu ikon kota Palembang. Foto: shutterstock
  • Pempek Ek Dempo 103

Kedai pempek legendaris lainnya untuk dikunjungi adalah Pempek Ek Dempo 103, yang terletak di jalan Lingkaran nomor 60/357E. Kedai ini juga sudah eksis cukup lama, satu dari 5 kedai pempek paling direkomendasi ini mulai berjualan dari 1982. Dan yang membuatnya unik dari kedai pempek lainnya adalah bahan bakunya yang menggunakan ikan belida.

Umumnya, penjaja pempek menggunakan bahan baku seperti ikan tenggiri yang cenderung lebih umum dan mudah ditemukan. Sementara ikan belida merupakan spesies ikan yang terbilang cukup sulit ditemukan dan jarang tersedia di pasaran. Bahkan, di beberapa tempat ikan belida sudah termasuk satwa langka yang dilindungi.

Namun, alasan kedai yang buka dari jam 08.00 hingga 18.00 ini bersikukuh menggunakan ikan belida sebagai bahan baku pempeknya bukan tanpa alasan. Disebutkan bahwa daging ikan belida mempunyai tekstur yang lebih halus dan empuk, serta memiliki cita rasa gurih tersendiri yang berbeda dari jenis ikan lainnya yang menjadi bahan baku pempek.

Cita rasa unik tersebut membuatnya punya tempat tersendiri di kalangan pecinta pempek. Namun, seperti kata pepatah – ada harga, ada rasa – keunikan tersebut juga membawa harga yang agak lebih premium. Rentang harga makanannya mulai dari Rp 8 ribu hingga Rp 80 ribu, sementara paket mentahan untuk dibawa pulang berkisar dari Rp 220 ribu hingga 1,320 juta.

  • Pempek Lenny

Satu lagi kedai pempek yang memiliki keunikannya sendiri adalah Pempek Leny, yang berada di jalan Petanang nomor 6875C. Kedai ini dikenal dengan ukuran pempeknya yang terbilang besar, serta cita rasanya yang cenderung terasa lebih renyah di bagian luarnya, dibanding dengan pempek kebanyakan.

Beberapa varian pempek yang tersedia pun cukup unik, seperti pempek kulit cripsy yang paling digemari pengunjung, atau pempek pistel yang merupakan varian pempek berbentuk mirip seperti pastel. Bedanya, isian di dalamnya adalah tumisan pepaya muda dan ebi kering yang sudah dibumbui.

Selain pempek, menu lain seperti tekwan, rujak mie dan lenggang goreng juga menarik untuk dicoba. Harga makanan berkisar dari Rp 5 ribu hingga 50 ribu, dengan pilihan paket oleh-oleh mulai dari Rp 100 ribu sampai 500 ribu. Yang menjadi catatan, Pempek Lenny tutup setiap hari Minggu dan buka dari Senin sampai Sabtu, dari jam 07.30 hingga 16.30.

  • Pempek Candy

Harus diakui bahwa dari sekian banyak kedai-kedai penjaja pempek di Palembang, Pempek Candy adalah yang paling tersohor, khususnya di kalangan wisatawan. Begitu populernya merek pempek ini, hingga cabang-cabangnya kini dengan mudah dapat ditemukan di berbagai sudut kota Palembang.

Seperti misalnya di jalan Tanjung Api-Api nomor 99, jalan Kapten Rivai nomor 402, jalan Demang Lebar Daun nomor 41, jalan Jenderal Sudirman nomor 149/8, jalan Letjen Harun Sohar nomor 99, jalan Rajawali nomor 550, dan beberapa cabang lainnya. Bahkan, kini terdapat pula kios di area ruang tunggu keberangkatan bandar udara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Maka jangan heran bila melihat pemandangan orang-orang di bandara yang beranjak pulang sambil membawa boks-boks dari Pempek Candy sebagai oleh-oleh. Entah itu paket ukuran kecil seharga Rp 100 ribu, hingga paket Rp 500 ribu yang paling besar, Pempek Candy seakan telah menjadi standar pempek Palembang yang paling disukai dan dicari.

Meski harus diakui pula bahwa cita rasa serta kualitasnya yang terus terjaga merupakan salah satu alasan mereka begitu populer. Begitu pula varian pempeknya yang terbilang cukup lengkap, mulai dari pempek kapal selam, pempek adaan, pempek lenjer besar dan potong, pempek telur, pempek kulit gepeng, pempek keriting, pempek lenggang goreng dan sebagainya.

Harga satuannya pun cukup moderat, mulai dari Rp 4 ribu hingga Rp 40 ribu. Cukonya juga disebut-sebut paling cocok dengan selera mayoritas orang. Tak heran jika semua hal tersebut membuatnya menjadi pempek paling laris di Bumi Sriwijaya. Setiap cabang Pempek Candy buka dari jam 06.30 hingga 22.00, untuk mengakomodasi banyaknya pengunjung setiap harinya.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Macaroni Panggang, Dari Arisan 3 Ibu

Macaroni Panggang Bogor bermula dari arisan keluarga.

Macaroni Panggang Bogor, Jawa Barat, menjadi salah satu kulinari dan oleh-oleh khas kota hujan ini. Melihat larisnya sajian ini, mungkin tidak ada yang menyangka jika kudapan sedap ini justru bermula dari arisan keluarga.

Macaroni Panggang

Ya betul. Awal mula berdirinya rumah makan Macaroni Panggang, restorannya menggunakan menggunakan nama menu paling popular itu, adalah dari sebuah arisan keluarga. Sebuah arisan keluarga yang mempertemukan Baby Ahnan, Susi Gunadi, dan Tintin Kuraesin.

Dalam setiap pertemuan pada arisan keluarga tersebut rupanya Baby selalu menyajikan menu favorit keluarganya, yaitu macaroni panggang dan pie Apel. Tamu-tamu yang hadir dalam arisan ini sangat menyukai kedua makanan ini. Ke dua menu ini selalu habis ludes.

Macaroni Panggang dari sejarahnya adalah kombinasi masakan dari 3 negara: Inggris, Italia dan Amerika.
Macaroni Panggang siap santap. Foto: MP Instagram

Melihat hal itu, melalui pembicaraan di antara mereka, ke tiga orang ibu tersebut sepakat untuk mencoba menjual makanan favorit tersebut secara luas. Dari hasil pemikiran itulah Baby, Tintin, dan Susi Gunadi bersatu padu mengumpulkan modal bersama untuk membuat toko makanan.

Awalnya yang dijual ke pubik bukan macaroni yang dipanggang itu, namun pia apel. Pada 1999, ke tiga ibu tersebut mulai menjual pia apel dengan brand Pia Apple Pie di Bogor. Gerainya di Jalan Pangrango Nomor 19, Bogor.

Usaha Pia Apple Pie ternyata berkembang dengan pesat. Ini kemudian meningkatkan keinginan ibu-ibu tersebut untuk mengembangkan usahanya, kali ini dengan mendirikan Restoran Macaroni Panggang. Maka pada 1 Oktober 2001 berdirilah usaha macaroni atau MP ini.

Menurut cerita Tintin, resep makaroni yang dipanggang ini datang dari Baby Ahnan yang memang senang berkreasi dengan masakan. Makaroni ini merupakan makanan yang sehat, aman, dan digemari banyak kalangan dan berbagai usia. 

Tentu, makaroni bakar atau panggang ini bukan original karya ke tiga ibu tersebut. Jika kita telusuri, makaroni panggang ini merupakan gabungan makanan khas dari tiga negara. Saus putih tradisional Inggris yang di tambah dengan lelehan keju Amerika dan disajikan di atas pasta Italia. 

Semuanya dimulai pada zaman penjajahan Eropa di Amerika, ketika para pelaut membawa pasta makaroni kering. Ini karena pasta adalah salah satu dari beberapa bahan pokok yang bisa bertahan satu tahun di atas kapal. Pelaut ini berlayar dari Italia ke Inggris dan ke negara koloni, yaitu Amerika.

Setibanya di Amerika, para pelaut ini kebingungan untuk mengolah makanan, karena koloni Amerika tidak memiliki pilihan produk segar dan bahan-bahan lain yang ada di Italia. Sehingga mereka berimprovisasi dengan bahan yang yang mereka miliki di atas kapal.

AI Macaroni Panggang Siap Saji IGMP
Macaroni Panggang dalam kemasannya. Foto: MP Instagram

Para pelaut ini menggabungkan susu segar atau krim susu, roti yang keras dan hampir basi, dan tetesan daging. Susu segar ini menjadi cikal bakal dari saus putih sederhana, yaitu susu  yang dikentalkan dengan tepung dan mentega. Resep makaroni pertama ditemukan pada buku masakan sekitar abad ke 14.

Resep itu pun menyebar sampai ke Indonesia. Ketika Indonesia dijajah Belanda, masyarakat dari negeri itu membawa masakan macaroni schotel yang mirip. Tentu ketika Baby membuat resepnya, ia mengembangkan sejumlah pilihan yang disesuaikan dengan cita rasa Indonesia. Begitupun menurut Tintin, bahan dasar yang digunakan tetap sama yakni telur, keju, daging cincang, bawang bombay, dan pasta makaroni.

Lokasi berdirinya restoran Macaroni Panggang tidak jauh dari lokasi Pia Apple Pie. Tintin bercerita bahwa dalam membuka usaha, factor tempat atai place harus dipertimbangkan. Yang harus memiliki prospek usaha yang bagus. Lokasi Restoran MP ini terletak di Jalan Salak Nomor 24, Bogor.

Pada saat itu belum terdapat saingan makanan sejenis di Bogor. Sehingga segera saja, ke dua tempat makan mereka ini menjadi ikon kulinari kota hujan itu.

Perkembangan ke dua restoran ini kemudian membuat ke tiga ibu itu mendirikan beberapa restoran lagi, yaitu Death by Chocolate dengan menu andalan coklat, serta Pizza Meteran yang menyajikan pizza, Rumah Cup Cake dengan menu andalan kue-kue dan makanan menarik lainnya.

AI Restoran Macoroni Panggang Dok. Kompasiana
Restoran Macaroni Panggang di Jalan Salak, Bogor. Foto: milik Kompasiana

Di Macaroni Panggang sendiri pada hari-hari biasa bisa mereka bisa menjual 100-150 loyang. Sedang pada saat weekend atau hari libur angkanya bisa berubah menjadi tiga kali lipat.

Berbicara mengenai hidangan yang disediakan, Tintin mengatakan bahwa selain macaroni panggang, di rumah makan ini tersedia pula kurang lebih 63 jenis hidangan serba panggang, meliputi ayam panggang, jamur panggang, ikan peda panggang, sosis panggang dan iga panggang. 

agendaIndonesia

*****

Sate Padang, Dipisahkan 3 Karakter Daerah Asalnya

Dolan ke Padang kita wajib mencicipi Sate Padang. Foto shutterstock

Sate Padang punya penggemar yang spesifik, khususnya mereka yang menggemari jerohan sapi. Kuliner dari Sumatera Barat ini memang identik dengan daging sapi, atau kadang kerbau, dan sama sekali tidak menggunakan daging ayam.

Sate Padang

Bagi mereka yang senang menyantap sate dari pulau Jawa, sate Padang punya kekhasan yang tak ada bandingannya. Selain originalnya menggunakan daging sapi, yang sangat berbeda lainnya adalah kuah atau bumbu atau dressing-nya. Sate-sate di pulau Jawa dan Madura, biasanya menggunakan bumbu kacang atau kecap, sementara sate Padang menggunakan dressing dari kuah kaldu berempah yang kental.

Dari mana sesungguhnya sate Padang ini? Konon, dari sejumlah artikel, disebutkan jika masakan ini awalnya dari Pariaman, sebuah kota di pesisir Sumatera Barat. Bermula dari kedatangan para saudagar Islam dari Gujarat ke wilayah ini. Mereka rupanya tak hanya berniaga, namun juga membuka jalur bagi perkembangan agama Islam. Terutama di kota-kota di pesisir Sumatera. Situasi ini membuat banyak penganut Islam di wilayah Sumatera Barat belajar mengaji ke Pariaman. 

Sate Padang ini ternyata sudah ada sejak lama dan pertama diketahui berasal dari daerah Padang Panjang. Kabarnya, saat itu sate Padang dibuat dari daging kerbau yang direbus terlebih dahulu dengan rempah-rempah. Rupanya sate ini ikut ‘terbawa’ oleh pemuda-pemuda Padang Panjang yang belajar mengaji ke Pariaman.

Dalam perjalanannya, ada sejumlah perubahan pada resep sate Padang yang asli dari Padang Panjang ketika masuk Pariaman. Sesuai karakteristik pesisir Sumatera Barat seperti Pariaman, yang masyarakatnya umumnya lebih senang dengan rasa pedas, sate dari Padang Panjang ini lalu mendapat sentuhan lebih banyak cabai dalam bumbunya. Jadilah kuah sate Padang yang ketika di Padang Panjang berwarna kuning, saat di Pariaman berubah menjadi kental merah. Tentu, selain perubahan warna, rasa bumbu atau kuah sate padang Pariaman umumnya pedas dan gurih.

Selain Pariaman, sate Padang tentu saja juga masuk ke Bukittinggi dan Payakumbuh di Kabupaten 50 Kota. Rupanya masakan ini terbawa lagi dari mereka yang belajar agama ke Pariaman saat pulang kampung. Di sini pun sate padang menyesuaikan dengan karakteristik setempat, maka sate khas Padang Panjang mengalami beberapa sentuhan baru pada bumbunya.

Pada saatnya, kemudian dikenal ada tiga jenis sate Padang yang ditentukan berdasarkan daerah asalnya, yakni Sate Padang Panjang, Sate Pariaman, dan Sate Padang 50 Kota. Dan, meskipun penampilan dan rasanya memiliki sejumlah perbedaan, namun semua orang –terutama dari luar Sumatera Barat—menyebut semua jenis sate ini secara umum tetap dengan sebutan Sate Padang.

Lalu apa saja perbedaan di antara ke tiganya? Sate yang berasal dari Padang Panjang, biasanya dikenal dengan istilah Sate Darek. Sate Padang jenis ini memiliki kuah berwarna kuning cerah, karena menggunakan campuran kunyit dalam proses pembuatannya. Rasanya gurih dengan nuansa pedas yang lembut. Kuah sate Dardek biasanya menjadi  encer ketika dingin, karena itu orang harus segera menyantap satenya selagi hangat.

Sementara itu, sate Padang Pariaman biasanya memang disebut sate pariaman, ia memiliki warna kuah merah kecokelatan. Umumnya, sate Pariaman memiliki rasa pedas yang jauh lebih dominan dibandingkan sate Padang asal Padang Panjang. Kuah sate Pariaman terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, ketumbar, bawang putih dan merah, lengkuas, serai, cabai merah dan masih banyak lagi. 

Sate yang satu lagi berasal dari Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Di sini orang menyebut sate Padang dengan nama sate dangung-dangung. Tak diketahui dari mana nama ini muncul, yang jelas daging sate Dangung-Dangung jauh lebih manis dan dibaluri dengan parutan bumbu kelapa kekuningan di sekelilingnya. Kuahnya berwarna kuning kecoklatan dan kental, dengan aroma wangi yang menggoda.

Meskipun berbeda nama dan kuahnya, secara umum cara memasak sate Padang dari manapun asalnya mirip. Daging segar dimasukkan dalan panci besar berisi air dan direbus dua kali agar lunak. Dua kali masak berarti menggunakan panci dan air yang berbeda. Daging diiris-iris dan dilumuri bumbu dan rempah.

Air sisa rebusan daging tidak dibuang, tapi digunakan sebagai kuah kaldu, bahan membuat kuah sate. Kuah kaldu ini dicampur dengan 19 macam bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan ditambahkan pula berbagai macam cabe. Seluruh bumbu kemudian dijadikan satu dan dimasak. Rempah-rempah inilah yang membuat rasa kuah sate menjadi kaya rasa yang melimpah.

Daging satenya sendiri hanya dibakar saat dipesan, karena pada dasarnya daging atau jerohan sapinya sudah matang. Sate Padang, apapun jenis dagingnya, mesti dimakan dalam keadaan masih panas atau hangat, bukan karena daging satenya namun kuahnya yang menjadi lebih encer ketika dingin. Semua sate Padang biasanya dimakan dengan ketupat yang dipotong kecil-kecil dan disajikan dalam pincuk daun pisang.

Beberapa penjual sate yang cukup dikenal masyarakatdi Jakarta atau beberapa daerah lainnya di antaranya adalah Sate Mak Syukur Padang Panjang, Sate Dangung-Dangung, atau Ajo Ramon.

Yang manapun pilihanmu, ayo sekali-kali masukkan sate Padang dalam agenda kulinermu.

agendaIndonesia

*****

Mengejar Awan Mahameru di Atas 3676 Meter

Mengejar awal mahameru sebagai atap jawa sungguh bukan perjalanan mudah.

Mengejar awan Mahameru adalah impian para petualang alam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Selain curam, medannya juga berpasir yang membuat setiap selangkah mendaki, kaki malah bisa merosot mundur lima langkah.

Mengejar Awan Mahameru

Perjalanan ini sendiri sudah jauh saya lakukan. Bahkan sebelum masa pandemi, namun tetap saja menarik buat saya kenang. Saya ingat, saat itu hampir menjelang tengah malam saat sampai di pos Kalimati. Hawa dingin sudah menyerbu badan bahkan saat sebelum sampai pos ini. 

Sambil duduk di atas sebuah batu, berulangkali saya mencoba merapatkan jaket yang menempel di tubuh. Tapi nyaris tak ada gunanya. Di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut menuju puncak Semeru, sia-sia saja melawan dinginnya udara yang mendekati nol derajat.

Mengejar awan Mahameru adalah impian para penjelajah alam di tanah Jawa.
Danau Ranukumbolo, tempat para pendaki biasa mendirikan tenda untuk bermalam sebelum menuju puncak Semeru. Foto: Dok. Unsplash


Mencoba mencari hangat, saya berjalan berkeliling. Mendekati sekelompok orang yang tengah duduk mengelilingi api unggun kecil. Mereka penduduk sekitar Semeru yang biasa menawarkan jasa porter. “Kapan akan berangkat muncak?” tanya salah seorang dari mereka. “Tengah malam nanti, pak,” ujar saya.


“Berjalan saja, jangan pikirkan akan sampai atau tidak. Jika berjalan terus, tidak terasa nanti sampai di atas,” ujar laki-laki setengah baya tadi seakan memberi tip sekaligus menguatkan semangat.


Semeru, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung yang sudah banyak diimpikan para pendaki.

Untuk saya sendiri, angan-angan mengejar awan Mahameru di ketinggian 3.676 mdpl sudah ada sejak remaja, meski saya bukan pendaki. Dan kesempatan itu pun akhirnya datang. Dengan menumpang kereta Matarmaja saya menuju Malang dari Jakarta. Selanjutnya bersama 16 teman menumpang jeep hingga pos Ranu Pane, desa terakhir untuk menuju Semeru. 


Malam itu di Kalimati, berarti tinggal sekitar tiga kilometer menuju puncak. Tapi perjuangan justru baru dimulai. Medan yang akan kami tapaki selanjutnya, selain curam, adalah medan berpasir. Satu langkah mendaki, kaki bisa merosot lima langkah.


Tepat pukul 12 malam rombongan memulai perjalanan menuju puncak. Di tengah kegelapan, kami merayapi sela pepohonan dengan penerangan dari headlamp. Semakin tinggi mendaki, saya semakin sulit bernapas. Hidung terasa nyeri ketika menghirup udara. Kepala saya pening. Tampaknya asupan oksigen yang kurang lancar mulai mempengaruhi peredaran darah di kepala.


Saya tetap berjalan. Pikiran saat itu masih normal untuk mengatakan, saya harus terus berjalan. Saya tidak mau menyerah. Apalagi, di sekitar pos Arcopodo, kami menjumpai beberapa batu nisan yang dibuat untuk menandai pendaki yang meninggal saat pendakian. Sambil melangkah, doa semakin deras terucap dalam hati.


Lepas dari pos Kelik, kami mulai menapaki pasir. Meski kondisi gelap gulita, saya dapat merasakan pasir raksasa Mahameru berdiri tegak di depan kami. Saya menyesal tidak menggunakan geiter sebagai penutup kaki. Pasir dan kerikil masuk ke dalam sepatu dan sampai di bawah tapak kaki. Menginjak kerikil-kerikil membuat saya melangkah dengan rasa nyeri. Berulangkali saya melepas sepatu dan mengeluarkan kerikil.

Mengejar awan Mahameru yang berada di ketinggian 3676 di atas permukaan laut.
Puncak Semeru terlihat di kejauhan. Foto: Dok. unsplash


Hampir fajar. Rombongan sudah berpencar. Saya menoleh ke belakang. Masih ada dua teman. “Ayoo semangaaat…,” teriak seseorang.  Saya masih berada di tengah pasir, saat rona merah matahari dari bawah awan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di Jakarta, matahari terbit sering saya anggap hal biasa. Tapi sini, setiap kejadian alam adalah keajaiban. Terduduk di pasir, saya merasa beruntung dapat menikmati kuasa-Nya.


Hari telah pagi. Suasana hampir terang. Puncak Semeru belum juga terlihat. Saya melangkah dengan sisa-sisa napas. Tenggorokan terasa kering. Persediaan minum sudah habis pula. Seorang pendaki yang berjalan mendahului saya, mencoba memberi semangat. “Puncak sebentar lagi, paling 50 meter,” ujarnya tanpa ditanya.

Duh, bahkan 5 meter menanjak di pasir yang miring sangat jauh berbeda dengan di permukaan datar. Jangankan berjalan, mencari pijakan di pasir saja, kaki harus meraba agar tidak merosot ke bawah lagi.


Di tepian pasir, beberapa pendaki tergolek tidur. Saya mencoba merebahkan diri di pasir Semeru. Luar biasa, lebih nikmat dibanding ketika di spring bed mahal. Kantuk menyerang, hampir saya tertidur. O.. tidak! Saya segera bangkit. Saya bergegas, khawatir kehabisan waktu, karena setelah pukul 9.00 pendaki tidak bisa menuju puncak. Semua harus turun. Angin yang mungkin membawa asap beracun dari kawah Semeru akan bergerak ke jalur pendakian.


Tubuh saya benar-benar lemas, 10 meter menjelang puncak. Dari atas sekelompok pendaki berjalan turun. “Sini, mana tongkatnya, saya tarik,” dia berteriak. Saya mengangsurkan trekking pole saya. Ia menarik tongkat yang saya genggam hingga tubuh saya terangkat naik. Teman di belakangnya melanjutkan menarik tongkat saya.


Saya seperti mendapat semangat baru. Saya tahu, puncak hanya beberapa langkah lagi. Satu…dua…tiga. Hopla!! Dengan sisa tenaga saya mencapai tanah datar Semeru. Saya tersungkur dan meneteskan air mata, tidak percaya akhirnya mencapai harapan mengejar awan Mahameru. 
Saya bangkit menatap hamparan abu-abu puncak Semeru. Melangkahkan kaki mengitari puncak dengan buncahan rasa yang sulit saya definisikan. Semalaman bergelut dengan pasir dan bebatuan Mahameru, inilah akhir perjalanan. Puncak Mahameru dikelilingi kepingan awan. Saya seperti berada di negeri atas awan puncak tanah Jawa.

agendaIndonedia/TL/Ika C/Rita

*****

Laksa Di Indonesia, Ini 4 Yang Terkenal

Laksa di Indonesia merupakan salah jenis masakan yang terkenal dan disukai banyak orang.

Laksa di Indonesia adalah salah satu masakan yang sangat popular, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh budaya Melayu dan Tionghoa. Asal-usul laksa di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan pasti, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa laksa pertama kali muncul di wilayah Malaysia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

laksa di Indonesia

Laksa masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan migrasi penduduk pada zaman kolonial, terutama pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, juga terdapat pengaruh dari imigran Tionghoa yang membawa resep-resep masakan mereka ke Indonesia. Secara historis, laksa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari kekayaan kuliner Indonesia.

Laksa sendiri merupakan hidangan yang kaya akan sejarah dan pengaruh budaya, dan nama “laksa” memiliki asal-usul yang menarik. Mengutip dari kompas.com, ada beberapa teori yang dilansir Mashable South East Asia. Di sana disebut bahwa nama “laksa” memiliki hubungan dengan pertukaran budaya melalui Jalur Sutera dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Laksa di Indonesia merupakan masakan yang dipengaruhi budaya Persia dan peranakan Tionghoa.
Laksa Assam. Foto: shutterstock

Salah satu teori terkait dengan nama “laksa” berasal dari kamus A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson terbitan 1901. Menurut kamus ini, kata “laksa” memiliki arti “100 ribu” dalam bahasa Sansekerta. Namun, hubungan antara angka ini dengan hidangan laksa tidak begitu jelas, sehingga masih menjadi misteri.

Masih dari artikel yang sama, ada teori lain mengenai asal-usul kata “laksa” yakni berasal dari bahasa Persia. Kata “laksa” diyakini berasal dari kata “lakhshah” yang merupakan salah satu jenis bihun. Pengaruh Persia dalam perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutera dapat menjelaskan kemungkinan asal-usul kata “laksa” dari bahasa Persia.

Dengan demikian, nama “laksa” mungkin muncul akibat interaksi budaya yang kompleks melalui Jalur Sutera, yang menghubungkan berbagai wilayah dan budaya di Asia Tenggara. Pengaruh dari bahasa Sansekerta dan Persia mungkin merupakan salah satu dari banyak elemen yang membentuk identitas kuliner laksa, mencerminkan kekayaan warisan budaya yang mengakar dalam hidangan yang begitu terkenal dan dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan masakan laksa di Indonesia? Terdapat beberapa jenis masakan laksa yang populer, di antaranya adalah:

Laksa Betawi

Laksa Betawi shutterstock
Laksa Betawi. Foto: shutterstock

Laksa ini tentu saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Laksa Betawi memiliki kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah. Beberapa bahan utamanya adalah mie, telur rebus, tauge (kecambah), irisan ketupat, dan daun bawang. Di Jakarta pecinta kuliner bisa menemui masakan ini di Kafe Betawi.

Ada beberapa gerai rumah makan ini, di antaranya di mal Senayan City dan Kuningan Plaza.

Laksa Bogor

Jenis laksa di Indonesia ini merupakan variasi laksa yang juga berasal dari Jawa Barat, terutama daerah Bogor. Laksa jenis ini memiliki ciri khas kuah yang kental berwarna kuning kehijauan dan menggunakan mie kuning tebal. Dalam hidangan ini, biasanya terdapat irisan ayam, telur rebus, tauge, dan daun seledri.

Kekhasan Laksa Bogor terdapat pada penggunaan oncom yang biasanya dipanggang terlebih dahulu. Terkadang juga dapat disantap dengan ketupat maupun perkedel sebagai pelengkap hidangan.

Untuk dapat menikmati masakan ini, berikut adalah warung makan yang terkenal dengan laksa Bogor. Coba datiag ke Laksa Gang Aut di Jalan Surya Kencana. Warung yang aslinya Bernama Laksa Mang Wahyu ini sudah berjualan sejak 1960-an

Laksa Palembang

Laksa di Indonesia ini berasal dari Sumatera Selatan, terutama daerah Palembang. Aslinya mirip dengan pempek yang menggunakan kuah yang terbuat dari santan, udang, dan rempah-rempah. Sering juga disebut sebagai laksan atau leksan.

Untuk yang ingin mencicipi Laksan Palembang bisa dating ke Sarapan Cek Leni di Jalan KH M. Asyik Nomor 1502, Palembang

Laksa Medan

Laksa ini berasal dari Sumatera Utara, terutama daerah Medan. Laksa Medan adalah hidangan yang terbuat dari bihun putih, timun, ikan, daun mint, dan saus asam jawa.

Laksa Medan berbahan dasar saus ikan yang sedikit asam. Rasa yang ditawarkan juga asam dan segar. Cocok untuk sore hari karena sajian ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi.

Di ibukota Sumatera Utara ini mudah mencari masakan laksa Medan, cobalah dating ke Jalan Yose Rizal. Di sepanjang jalan ini ada sejumlah tempat makan yang menjajakannya, tapi cobalah Rumah Makan Laksa Yose Rizal.

Laksa Ayam shutterstock
Laksa Ayam. Foto: shutterstock

Lalu dari sejumlah laksa tersebut, manakan yang paling enak dan terkenal? Laksa yang paling terkenal di Indonesia sulit untuk ditentukan karena setiap daerah memiliki varian dan cita rasa yang berbeda. Namun, Laksa Betawi mungkin salah satu jenis laksa yang paling dikenal secara nasional karena popularitasnya di wilayah metropolitan Jakarta, ibu kota Indonesia.

Perlu diingat bahwa variasi laksa dapat berbeda-beda bahkan di dalam satu daerah, tergantung pada bahan lokal yang tersedia dan resep keluarga atau warisan budaya. Keberagaman inilah yang membuat masakan laksa di Indonesia begitu menarik dan lezat untuk dinikmati.

agendaIndonesia

*****

Wisata Ke Batam, 15 Kilometer Dari Singapura

Wisata Ke Batam Jembatan Balerang

Wisata ke Batam pada masanya pernah begitu popular bagi banyak orang Indonesia. Maklum, hingga 31 Desember 2010, orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dulu harus membayar fiskal sebesar Rp 1 juta. Dan, jika berangkat dari Batam, untuk perjalanan satu hari biaya itu bisa dipangkas separuhnya.

Wisata Ke Batam

Soal jalan-jalan dengan menghemat biaya fiskal adalah cerita masa lalu. Kini Batam terus berbenah menjadi spot wisata yang mandiri. Makin banyak pengunjung yang memang mau menikmati Batam itu sendiri. Tentu, tak menutup kemungkinan ada saja ada pengunjung yang selain main ke pulau ini seraya melirik ke negeri Singa. Maklum, jarak antara ke dua pulau ini cuma 15 kilometer. Dengan kapal fery, jarak ini biasanya ditempuh 40-45 menit.

Batam adalah kota sekaligus pulau yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai kota, Batam adalah kota terbesar di provinsi ini. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasanSelat Singapura dan selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang kini terkoneksi oleh Jembatan Barelang yang sekaligus menjadi ikon kota ini.

Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam, saat ini bernama BP Batam, kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk. Dalam tempo 40 tahunan penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Jumlah penduduk mencapai 1.150.000 jiwa pada sensus 2012.

Kota ini sejatinya terus dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu yang cukup lengkap. Selain memiliki sejulah spot alam yang menarik, punya petilasan sejarah, dan tak kalah penting ia juga dikembangkan untuk wisata belanja. Batam merupakan bagian dari kawasan khusus perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun (BBK).

Untuk ke Batam tentu saja paling mudah menggunakan penerbangan dari Jakarta. Ada banyak jadwal penerbangan ke kota ini, tinggal disesuaikan dengan acara yang disusun selama di Batam.

Jika melakukan perjalanan ke Batam untuk liburan, pulau ini memiliki koleksi pantai yang indah dan beragam. Wisatawan bisa memilih, pemandangan gugusan pulau, Singapura, atau Jembatan Barelang yang megah itu. Salah satu pantai yang memiliki potensi wisata bahari adalah Pantai Tanjung Pinggir.

Pantai ini berada di kawasan Sekupang, Kota Batam. Bila tak sedang musim kabut asap, gedung-gedung di Singapura terlihat jelas, bahkan Marina Bay Sands sekalipun. Tanjungpinggir dikepung bebatuan, namun pantainya yang kecoklatan masih sangat leluasa untuk digunakan bermain atau berjalan-jalan di pinggirnya.

Ada pula Pantai Nongsa yang memiliki pemandangan sangat cantik dan banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan pantai dengan pasir putihnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Nongsa, hanya sekitar 10 menit jika ditempuh dari bandara. Banyak wisatawan yang datang ke tempat wisata ini untuk menikmati keindahan lautnya, mereka juga dapat menginap di hotel sekitar pantai.

Pilihan kunjungan lainnya adalah ke kampung Vietnam di Pulau Galang. Tempatnya sekitar 50 kilometer dari Kota Batam dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Kampung Vietnam merupakan bekas kamp pengungsian warga Vietnam pada saat Perang Vietnam berlangsung atau setelah berakhir di akahir 60-an hingga 70-an.

Di Kampung Vietnam ada gereja tua, vihara, barak pengungsian, penjara hingga patung Buddha tidur. Beberapa bangunan memang banyak yang telah menjadi puing-puing, seperti rumah sakit dan penjara. Semua bangunan tersebut menjadi saksi bisu tentang kehidupan para pengungsi di masa lalu.

Secara historis Indonesia pernah punya pengalaman ikut menangani pengungsi dari Vietnam atau yang kerap dijuluki sebagai manusia perahu. Pemerintah Indonesia saat itu memilih Pulau Galang untuk menampung para manusia perahu tersebut.

Pemerintah Indonesia mengizinkan mereka mengungsi ke tempat tersebut untuk sementara waktu hingga perang saudara di Vietnam reda. Setelah terjadi  perdamaian di Vietnam, para pengungsi mulai kembali ke negaranya dan membiarkan tempat tersebut kosong. Hingga saat ini tempat itu menjadi tempat wisata yang unik karena ada sebuah desa yang tidak berpenghuni namun memiliki suasana yang tidak lazim di Indonesia.

Wisata Ke Batam Ocarina

Pilihan selanjutnya, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil adalah bermain ke Ocarina. Orang Jakarta barang kali memiliki Taman Impian Jaya  Ancol, nah kalau orang Batam punya yang namanya Ocarina, yaitu wahana permainan seluas sekitar 40 hektare yang dibuka pada 2008. Tempat ini sekarang menjadi wisata hiburan paling populer bagi masyarakat Batam dan sekitarnya.

Dengan lokasi berada di pinggir pantai, bisa dimanfaatkan pengunjung untuk keperluan liburan keluarga. Pada hari libur tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun luar daerah.

Wisata lain yang menarik adalah belanja. Pada masanya, banyak orang dari luar Batam yang pergi ke sini untuk berbelanja barang-barang impor, khususnya barang elektroni. Harganya memang relatif miring. Saat ini, dengan makin terbukanya perdagangan dan transaksi daring, harga murah menjadi relatif. Namun jika ada yang ingin mencoba peruntungan, bisa main ke Batam City Square, Panbil Mall, Nagoya Hill, atau Pasar Aviari. Yang terakhir ini banyak menjual barang bekas dengan kondisi bagus eks negara tetangga.

Jadi, kapan punya agenda main ke Batam?

agendaIndonesia

*****

Bakmi Jawa, Istimewa Dimasak Setiap 1 Pesanan

Bakmi Jawa SHUTTERSTOCK

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa

Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.

Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.

Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.

Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.

Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.

Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.

bakmi Jawa Sedang dimasak

Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.

Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.

Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.

Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.

Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:

Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.

Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan). 

Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.

Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.

Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3

Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan

Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Pinggiran, Ini 5 Yang Sedap

Kuliner pinggiran tidak saja tempatnya yang menyempil, namun juga cita rasa yang sedap.

Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.

Kuliner Pinggiran

Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan  yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.

Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.

Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.

Ayam Betutu Pak Sanur 

Kuliner pinggiran di Bali bisa dicoba ke Ayam Betutu Pak Sanur di Ubud

Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera. 

Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan

Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali

Es Dawet Telasih Bu Dermi 

Es Dawet Bu Dermi Tokped

Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.

Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan. 

Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo

Pawon Mbah Gito 

Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.

Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh. 

Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman

Mangut Lele Mbah Marto 

Mangut Lele Mbah Marto shutterstock
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock

Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik. 

Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.

Mangut Lele Mbah Marto; Jl. Sewon Indah, Panggungharjo, Sewon, Bantul

Warung Tuman

Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam. 

Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu. 

Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.

Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****