Sei Sapi NTT, Daging Asap Jawara API 2020

Sei sapi NTT (Nusa Tenggara Timur) menjadi makanan tradisional dari Indonesia terpopular dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 yang diumumkan akhir Mei 202 lalu. Dalam puncak acara pengumuman para pemenang yang dipusatkan di Hotel Inaya Bay, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sejumlah potensi wisata di provinsi tersebut memenangi kategorinya.

Sei Sapi NTT

Anugerah Pesona Indonesia atau API 2020 merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diadakan untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus mendorong peran serta berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerah masing-masing. Sei sapi sendiri menang sebagai makanan tradisional terpopular.

Sei sapi sendiri merupakan salah satu sajian khas Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Rote Ndao. Dilansir dari situs resmi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ‘sei’ sendiri dalam bahasa Rote artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang. Daging ini kemudian diasapi dengan bara api. Biasanya kayu yang dipakai untuk asap apinya untuk memanggang adalah kayu pohon kesambi.

Sepanjang dua tiga tahun terakhir, popularitas masakan daging sei sapi meluas tidak saja di kawasan Nusa tenggara Timur, namun juga hingga Jakarta dan sejumlah kota lain di Indonesia. Ia langsung saja menjadi makanan berbahan sapi yang popular. Mulai menyusul popularitas rendang dan sate.

Lalu, kapan sesungguhnya sei sapi mulai dibuat oleh masyarakat NTT? Hingga saat ini belum ada penjelasan yang pasti mulai kapan pengolahan daging menjadi sei ini dimulai. Namun, diketahui jika sei merupakan teknik memasak tradisional yang dilakukan selama berhari-hari oleh suku Molo, masyarakat Kepulauan Timor, atau kini Nusa Tenggara Timur, khususnya wilayah pulau Timor Barat dan Timor Tengah Selatan. Suku Molo tinggal di Pegunungan Mutih, pulau Timor di wilayah Tengah Selatan.

Sei menggunakan teknik mematangkan daging dengan menggunakan arang yang diletakkan jauh dari tempat pemanggangannya. Jarak daeging dan bara api bisa mencapai dua meter. Tujuannnya, daging bisa masak tanpa ada aroma asap yang merasuk ke dalamnya.

Tungku untuk bara api posisinya terpisah dengan tempat mematangkan daging. Sementara bara api harus terus menyala tanpa dikipasi agar tidak menghasilkan asap. Supaya bara pada arang awet, Suku Molo menggunakan kayu kosambi yang tebal dan besar. Mereka juga menggunakan daun kosambi sebagai penutup daging agar matang sempurna. Daun kosambi berfungsi sebagai penahan panas saat daging sedang disei sekaligus menjaga rasa dan warna asli daging.

Awalnya, masyarakat setempat menggunakan daging babi hutan untuk membuat sei. Salah satu yang dikenal adalah sei babi dari Teunbaun, daerah yang terletak kurang lebih 40 kilometer dari Kupang.

sei sapi NTT keluar sebagai jawara pada Anugerah pesona Indonesia 2020 sebagai makanan terpopular.
Masakan berbahan sei sapi dari Nusa Tenggara Timur yang sudah dimasak bergaya kekinian. Foto: Dok. shutterstock

Seiring berjalannya waktu, masakan ini mengalami asimilasi. Masyarakat pendatang di NTT mengganti daging babi dengan daging sapi agar halal dan bisa dikonsumsi lebih banyak orang. Selain menggunakan daging sapi, kini bahan sei juga banyak yang menggunakan daging ayam hingga ikan.

Lewat proses seperti diceritakan di atas, daging sei punya keunikan tersendiri, selain aroma dan rasanya yang khas, pengolahan dengan cara tersebut membuat daya tahan dagingnya lebih lama. Dengan demikian, daging bisa awet disimpan lebih lama.
Sei yang asli diasap tanpa menggunakan garam. Alasannya, Suku Molo yang tinggal di wilayah pegunungan tidak mengenal garam. Garam dibawa orang pesisir. Untuk rasa, pada awalnya sei biasanya dihidangkan dengan sambal khas NTT yang disebut sambal luat, ini terdiri dari irisan bawang putih, bawang merah, dan cabai.


Secara otentik, sei sapi kian lezat jika disantap bersama jagung olahan khas Pulau Timor, yaitu jagung bose. Namun di restoran-restoran di perkotaan atau masakan sei yang sudah sampai pulau Jawa, sei dinikmati bersama nasi daun jeruk dan sambal luat. Bahkan tak sedikit restoran-restoran sei di Jawa yang mengolahnya menjadi masakan beraneka. Tertarik?

Jika kebetulan mampir di Kupang, NTT, dan ingin mencicipi sei sapi, berikut pilihannya. Bagi yang muslim, ada baiknya bertanya dulu soal pilihannya.

Sei Oom Bai; Desa Baun, 25 kilometer dari Kupang

Restoran Bambu Kuning; Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1, Kupang

Restoran Aroma, Jl. Shooping Center, Fatutuli, Kupang

agendaIndonesia

*****

Cabuk Rambak, Irisan Kupat Dalam 1 Pincuk

Cabuk Rambak menjadi kuliner Solo yang semakin langka. Foto: shutterstock

Cabuk rambak mungkin semakin dilupakan orang. Bagi kebanyakan orang, kuliner ini mungkin begitu sederhana: irisan ketupat tipis-tipis yang diletakkan pada pincuk daun pisang dan disiram dengan saus kacang wijen.

Cabuk Rambak

Bagi mereka yang sering menikmati masakan-masakan tradisional dengan resep-resep yang cukup rumit, cabuk rambak praktis bukan pilihan utama. Ia bahkan lebih sederhana dibandingkan dengan ketupat tahu di Magelang atau ketupat opor.

Namun, cabuk rambak punya ikatan sejarah yang panjang dengan masyarakat kota Solo. Dari cerita sejumlah pedagang makanan ini yang juga semakin sedikit, cabuk rambak berawal dari kuliner di dalam Kraton Surakarta. Awalnya ini adalah makanan sela yang ringan, namun cukup untuk mengisi perut.

Dulu sekali, makanan ini dijajakan ketika berlangsung Sekaten di alun-alun Kraton. Ada pedagang yang berjualan khusus ini selama sebulan, lantas menghilang ketika Sekaten selesai.

Bisa jadi karena kesederhanaan tampilan dan cara membuatnya, membuat makanan ini tidak cukup popular untuk masyarakat luar Solo. Kalah pamor dibandingkan dengan selat Solo, sate buntel, atau thengkleng kambing.

Makanan tradisional ini memang tergolong mulai langka di Kota Solo. Hanya di tempat-tempat kuliner maupun dipasar-pasar tradisional yang akan dapat pengunjung jumpai makanan ini.

Nama cambuk rambak memang terdengar sedikit aneh, bumbu dan bahan yang digunakan juga cukup unik. Penyajiannya, seperti disebut di muka,  memiliki ciri khas sendiri, yaitu menggunakan daun pisang yang dibentuk atau lebih sering dikenal dengan nama pincuk. Satu porsi makanan ini berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat.

Cabuk Rambak berasal dari kata “Cabuk” dan “Rambak”. Cabuk mengacu pada wijen yang merupakan bahan u2782tama saus atau bumbunya. Sedangkan Rambak sejatinya adalah krupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.

Pada awalnya, dulunya cabuk rambak ini memang dihidangkan bersama krupuk kulit atau rambak. Namun, karena harga rambak semakin mahal maka krupuk kulit ini diganti dengan krupuk nasi (karak) yang kemudian krupuk nasi ini juga disebut dengan nama “Rambak”.

Satu porsi cabuk rambak berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat, terbuat dari wijen dan parutan kelapa yang disangrai. Rasa cabuknya sendiri cenderung gurih.

Saos  wijen atau yang disebut dengan cabuk adalah campuran dari wijen yang disangrai serta kelapa muda yang diparut. Kedua bahan itu dimasak dengan ditambah bumbu yang dihaluskan, yaitu daun jeruk purut, bawang putih, kemiri, kencur, lada bubuk serta gula dan garam. Cara memasak saos tersebut dengan menambahkan air dan mengaduknya hingga saos mengental.

Cabuk artinya ampas wijen yang telah diambil minyaknya. Akan tetapi cabuk yang digunakan saat ini sebagai saos adalah wijen utuh tanpa diambil minyaknya terlebih dahulu. Ini karena saat ini sudah jarang orang yang membuat minyak wijen secara tradisional sehingga cukup sulit mencari ampas wijen.

Saat berkunjung ke Solo, wisatawan wajib mencicipi kuliner tradisional yang makin susah ditemui ini. Umumnya, cabuk rambak bisa ditemukan di penjual nasi liwet. Buat penjajanya sendiri, mungkin perlu ada modifikasi dari resepnya. Misalnya, ada tambahan telur pindang atau irisan tahu dan tempe bacem. Ini agar cabuk rambak tak berhenti menjadi pilihan kuliner saat wisatawan mampir ke Solo.

Bila ada yang berkunjung ke Solo dan ingin mencicipi masakan tradisional ini, cobalah menujulah kami ke kawasan Jalan Yos Sudarso. Menjelang malam, penjual nasi liwet dan cabuk rambak berjejeran di sepanjang jalan ini.

DI sana pengunjung bisa juga datang ke Bu Parni Nasi Liwet Dan Cabuk Rambak. Tempat ini buka mulai jam 5 sore hingga lewat tengah malam. Berada di emper jalan, tempatnya biasanya selalu penuh terutama jika akhir pekan. Jika tidak terlalu ingin menikmati malam, bisa beli dibungkus dan dinikmati di penginapan atau hotel.

Tempat lain yang juga menjual cabuk rambak adalah Warung Lesehan Cabuk Rambak Bu Tuminah. Lokasinya di Jalan Menteri Supeno, Stadion Manahan, dan buka mulai pagi menjelang siang. Sekitar pukul 11.

Pilihan lainnya adalah Cabuk Rambak Bu Sastro di Jalan Untung Suropati, Pasar Kliwon. Yang ini biasanya justru buka pada pagi hari. Sehingga cocok untuk sarapan sambal jalan-jalan pagi.




agendaIndonesia

*****

Desa Tegallalang Bali, 11 Undakan Sawah

Desa Tegallalang Bali radoslav bali unsplash

Desa Tegallalang Bali di Gianyar, makin digemari orang setelah Ubud yang makin ‘sesak’. Desa ini sejatinya tak jauh dari Ubud, dengan pemandangan utama tanah persawahan tumpuk, terasering. Secara bercanda kami suka menyebut paling tidak ada 11 undakan sawah. Ia bertumpuk dengan bentuk yang tak berbentuk. Mengikuti kontur tanah, perbukitan dan lembah desa tersebut.

Desa Tegallalang Bali

Ubud masih diselimuti embun. Masih terlalu pagi untuk tiba di daerah sejuk ini. Apalagi nila langsung melaju ke DesaTegallalang, Kabupaten Gianyar. Dari Denpasar, daerah tersebut dapat dicapai dalam 1,5 jam berkendara. Sedangkan dari Ubud hanya 25 menit. Di Desa Tegallalang Bali, Anda  akan melihat keindahan undakan padi di depan mata. Berada di seberang kafe-kafe yang berjajar di tebing, pesawahan menjadi suguhan khas di desa ini.

Desa Tegallalang Bali menjadi tempat untuk menikmati alam.
Wisatawan menikmati alam yang masih asri. Foto: DOk Unspalash

Dalam beberapa tahun terakhir, turis lokal dan asing berbondong-bondong datang. Karena terlalu pagi, gerai-gerai suvenir dan oleh-oleh yang berjajar di sepanjang Jalan Raya Tegallalang masih tutup. Demikian juga dengan kafe-kafenya.

Tapi justru dalam keheningan, saya benar-benar bisa mencecap suasana khas pedesaan. Sayangnya, saya datang di masa yang kurang tepat. Padi belum lama dipanen. Walhasil, persawahan benar-benar kosong. Say hanya menemukan seorang ibu yang tengah mengambil rumput untuk ternaknya. “Sebenarnya, kalau sawah seperti ini, di sebelah sana juga ada. cuma lebih jauh dan kedalaman,” ujarnya sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan Ubud. Saya hanya tersenyum. memang soal sawah dengan terasering indah, Bali sebenarnya memiliki pilihan berlimpah.

Setelah menghirup udara segar, menyusuri pematang sawah, mencermati seorang petani tua yang memeriksa sudut-sudut persawahan, saya pun meninggalkannya dan berniat suatu saat akan datang kembali. Ternyata kesempatan kedua itu datang tak lama kemudian. Kali ini saya singgah siang menjelang sore. Tidak terasa keheningan seperti yang dirasakan sebelumnya. Kios-kios memamerkan kain warna-warni, juga beragam suvenir. Jalanan pun terasa sesak. Sejumlah mobil dan bus diparkir di tepi jalan. Kali ini saya malah merasa enggan turun.

Desa Tegallalang Bali
Desa Tegallalang Bali seperti ruang untuk meyegarkan. Foto: Dok unsplash

Untung pepadian seperti memanggil-manggil. Saya pun turun dari kendaraan dan berbaur dengan turis lain. Masih terasa terik mentari di tengah embusan angin sejuk. Berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, Desa Tegallalang Bali memang menawarkan hawa segar. Kini deretan kafe  terlihat membuka diri kepada tamu. Tersedia pula kursi kayu biasa hingga kursi rotan dengan bantalan empuk yang bikin orang bisa duduk santai dan nyaman. Kebanyakan kafe didesain menggunakan bahan alam, seperti bambu atau kayu dan atap-atap dari daun-daun ilalang, termasuk kamar kecil yang menggunakan bebatuan.

Secangkir kopi khas lokal bisa menjadi pilihan untuk teman menikmati sawah berterasering indah di berbagai sisi lembah. Semilir angin kembali  bertiup. Saya kini tak lagi turun ke bawah dan menapaki pematang sawah. Cukup duduk manis, mencoba tak peduli kelompok wisatawan lain agar bisa menyimak udara sejuk dan pemandangan yang hijau.  Bila ingin minuman segar, ada air kelapa langsung dari tempatnya. Bisa jadi dari pohon-pohon kelapa yang tumbuh di antara pematang sawah.

Semakin sore rupanya semakin ramai. Terasa asik ternyata ketika udara tidak terlalu terik. Cuma, saya merasa saatnya bangkit. Sebelum kembali ke kendaraan, ada yang menarik di deretan kios itu: hasil pahatan khas Bali. Rupanya itu merupakan hasil karya para seniman desa kecil yang tak jauh dari Tegallalang, yaitu Dusun Pakudui. Di sana, orang-orang dikenal sebagai seniman pembuat pahatan Garuda, meski yang dipajang di gerai-gerai seni itu beragam bentukan, mulai hewan, kursi dan meja, hingga ornamen lainnya.

Tegallalang rupanya dulu dikenal sebagai padang ilalang nan luas. Nama desa itu berasal dari kata ‘kucara jenggala’ yang terdiri atas tiga kata ‘kuca, ra, jenggala. Kuca berarti padang ilalang, ra bermakna luas, dan jenggala berarti tegalan. Daerah ini bisa menjadi bagian perjalanan Anda bila ke Ubud maupun ke destinasi wisata Kintamani. Tentu merupakan kenikmatan sendiri menatap undakan sawah dengan lambaian daun kelapa di beberapa titik di sela perjalanan panjang keliling Pulau Dewata. l

Rita N./Dok. TL

3 Keindahan Pangandaran Yang Tersembunyi

3 keindahan pangandaran yang tersembunyi, salah satunya ombak untuk surfing

3 keindahan tersembungi di Pangandaran, Jawa Barat. Pasir Putih, Batu Karas, dan Madasari, tiga pilihan pantai bak surga dunia. Perlu diagendakan bagi yang menyenangi wisata bahari.

3 Keindahan Pangandaran

Setelah menapaki puluhan anak tangga, akhirnya saya tiba di puncak tanjung. Warga setempat menyebut daratan yang menjorok ke laut ini sebagai jojontor. Dari atas ketinggian ini saya menyaksikan hamparan Pantai Pasir Putih, Pangandaran, Jawa Barat, nan menawan. Tak salah jika AsiaRooms, perusahaan penyedia layanan reservasi hotel yang bermarkas di Singapura dan Thailand, menobatkannya sebagai pantai terbaik di Pulau Jawa.

Sesuai dengan namanya, pasir pantai ini putih bak pualam. Birunya Samudra Hindia yang membentang luas dengan gradasi hijau muda sebelum menyentuh bibir pantai yang berpasir putih bagaikan lukisan mahakarya Sang Pencipta. Langit biru dengan beberapa gumpalan mega semakin melengkapi pantai tersembunyi ini.

Decak kagum tak hanya meluncur dari mulut saya. Sepasang suami-istri, yang rupanya sedari tadi mengikuti jejak saya, juga tak kalah seru. “Wah, apike,” kata si istri dalam bahasa Jawa yang berarti bagus. Ia lantas meminta sang suami memotret dirinya dengan latar belakang keindahan alam itu.

Bahkan ia langsung menyambut tawaran saya untuk membantu memotret mereka berdua. “Kayak prewedding yo,” ujarnya lagi tak bisa menyembunyikan kebahagiaan setelah melihat hasil jepretan ponsel pintar miliknya. Senangnya bisa ikut membahagiakan pasangan asal Cilacap itu. Ternyata bahagia itu sederhana.

Enggan rasanya meninggalkan keindahan alam ini sesegera mungkin. Selain berselonjor dan menikmati keindahan dari bibir pantai, pengunjung biasanya snorkeling untuk melihat cantiknya terumbu karang di bawah laut. Anak-anak kecil terlihat asyik bermain pasir membentuk bangunan dan menggali lubang. Sedangkan bagi yang berpasangan, berjalan berdua menyusuri pantai sembari bergandengan tangan serasa dunia milik berdua. Betapa indah dan damainya surga dunia ini.

Untuk dapat mencapai pantai ini, pengunjung bisa menyewa perahu atau melewati Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Saya memutuskan pilihan terakhir untuk sekadar membuka kenangan lama. Tak ada yang berubah setelah sekian tahun berlalu. Wisma tempat saya menginap pun masih ada, tapi sudah sedikit berbeda bentuk. Tampaknya sudah direnovasi. Masih segar dalam ingatan saat saya remaja bermain bola di bibir pantai kala pagi menjemput. Monyet-monyet hanya bisa menyaksikan keceriaan kami dari balik pepohonan. Kaki saya terus melangkah meninggalkan kenangan lama dan membuka kenangan baru di Pantai Pasir Putih.

3 keindahan Pangandaran yang tersembunyi

Soal keindahan dan kedamaian, Pantai Batu Karas tak kalah dengan Pantai Pasir Putih. Letaknya sekitar 45 menit waktu tempuh dari pintu gerbang Pangandaran. Sepanjang Jalan Raya Cijulang, mata saya disuguhi pemandangan yang meneduhkan berupa aliran air berwarna hijau toska dari aliran Sungai Cijulang di kiri jalan.

Setelah melewati jembatan dan tiba di pertigaan, kendaraan yang saya tumpangi berbelok ke kiri untuk memasuki kawasan pantai ini. Jalanannya mirip jalan perdesaan. Di sisi kiri-kanan, berderet rumah warga. Sepintas tak terlihat seperti memasuki kawasan pantai. Terasa lebih hening. Namun siapa sangka, setibanya di ujung jalan, terbentang pantai yang luas. Saya seakan menemukan pantai tersembunyi. Sebuah pantai yang relatif lebih sunyi ketimbang Pantai Pasir Putih yang saya lihat sebelumnya.

Beberapa kali terlihat turis pria asing bertelanjang dada bermotor sembari membawa papan selancar. Sedangkan di tengah laut, ada sekitar 10 peselancar asing dan lokal yang sedang menanti datangnya ombak besar. Ketika ombak datang, mereka berusaha mengejarnya lalu berdiri di atas papan selancar, berupaya menaklukkan gulungannya. Begitu asyik.

Pantai Batu Karas memang dikenal sebagai incaran turis asing peselancar. Hal itu diakui Hanna, turis asal Australia. Mahasiswa University of Western Australia yang saya temui di pinggir pantai itu bahkan mengatakan Batu Karas lebih indah daripada Bali. “Ombaknya sangat cocok untuk peselancar pemula seperti saya,” ucap Hanna yang berencana menghabiskan 10 hari di Batu Karas sebelum kembali ke negaranya.

Hanna setali tiga uang dengan Joao Piedro. Turis asal Portugal yang sudah sepekan tinggal di Batu Karas ini pun mengakui keindahan Batu Karas. “It’s great,” katanya. Meski berasal dari negara berbeda, keduanya seakan sepakat jika Batu Karas merupakan pantai tersembunyi dengan versi surga dunia mereka masing-masing sebagai peselancar.

Tak jauh dari Batu Karas, masih ada satu pantai tersembunyi lagi. Pantai Madasari, namanya. Pantai yang tepatnya berada di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, ini memang belum diketahui banyak wisatawan. Dari Batu Karas sebenarnya pengunjung bisa langsung menuju Madasari jika jembatan yang sedang dibangun sudah terhubung.

Terpaksa, saya pun harus kembali ke luar ke Jalan Raya Cijulang lebih dulu dan mencapai Jalan Raya Cimerak. Dari jalan raya ini, kendaraan yang saya tumpangi kembali berbelok ke kiri, melewati persawahan dan perbukitan. Setelah melewati jalan desa sepanjang 8 kilometer, akhirnya saya memasuki kawasan pantai. Di sepanjang jalan berjejer pohon pandan liar dan pohon ketapang.

Mata saya tertumbuk pada deretan batu karang berukuran besar di pantai dan laut. Namanya pun unik. Ada Gedogan, Sebrotan, Leuit, Legok Gandu, Cariuk, Bale Kambang, Bancen, dan Pandan Nyampai. Saya melakukan trekking menyusuri Pandan Nyampai. Saya melewati jalan menanjak dengan anak tangga alami yang hanya dipagari bambu sederhana sebagai pengaman itu. Setibanya di puncak Pandan Nyampai, gambaran tentang batu karang yang tandus sirna. Saya menemukan banyak pepohonan di tempat ini. Di atas ketinggian ini pula, saya menyaksikan lekukan Pantai Madasari. Pantai perawan yang tersembunyi. l

Dari Bandara Halim Perdanakusuma

Jika memilih lewat udara, Anda harus berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma. Penerbangan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan pesawat Susi Air sebelum tiba di Bandara Nusawiru, Pangandaran. Dalam satu hari, rute Jakarta-Pangandaran dilayani satu kali penerbangan. Untuk transportasi lokal menuju obyek wisata, bisa melalui darat dengan menyewa kendaraan. Pilihan lain dapat menggunakan kendaraan pribadi sekitar 8 jam perjalanan dengan jarak lebih-kurang 358 kilometer melalui rute Bandung-Tasikmalaya-Banjar-Pangandaran.

Andry T/Prima M/Dok.TL

Kuliner Nasi Gurih, 8 Yang Khas dan Enak

Kuliner nasi gurih di Indonesia bergitu beragam, berikut 8 macam yang popular.

Kuliner nasi gurih di Indonesia sangat banyak, dari berbagai macam daerah ada yang memiliki masakan jenis ini. Mulai dari Aceh hingga Indonesia Timur. Di Jawa Barat dan Tengah rasanya banyak ragamnya.

Kuliner Nasi Gurih

Hal ini terjadi karena hampir setiap masakan di Indonesia pasti disajikan dengan nasi. Wajar saja karena nasi menjadi salah satu makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia. Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai macam olahan nasi dengan cita rasa khas yang menggugah selera. Salah satu olahan nasi populer di Indonesia adalah nasi gurih.

Nasi gurih adalah nasi yang dimasak dengan santan, dan dicampur berbagai rempah-rempah berkualitas khas Indonesia. Sehingga menghasilkan rasa nasi yang gurih dan beraroma harum.

Meskipun ada banyak jenis kuliner nasi gurih di Indonesia, namun setiap daerah seakan punya keunikan dan ciri khas dari olahan nasi gurih yang disajikan. Bahkan kita tidak akan menemukan nasi gurih yang sama di daerah lain.

Kuliner nasi gurih bisa dinikmati untuk sarapan, maka siang, hingga makan malam.
Nasi Uduk Betawi sangat dikenal oleh masyarakat. Foto: DOk. shutterstock

Nasi Uduk Betawi

Salah satu kuliner nasi gurih khas Betawi yang cukup populer. Dimasak dengan santan, daun salam, serta berbagai bumbu dan rempah khas Indonesia, sehingga nasi uduk memiliki cita rasa gurih dan lezat.

Sama halnya dengan nasi putih biasa, nasi uduk bisa disantap dengan berbagai macam lauk, seperti orek tempe dan sambal kentang. Namun, ciri khas nasi uduk khas Betawi adalah paduan lauk semur jengkol dan empal yang siap menggoyang lidah sejak suapan pertama. Ciri khas lainnya adalah sambal kacang sebagai penambah selera.

Nasi Ulam

Selain nasi uduk, olahan kuliner nasi gurih khas Betawi yang tidak kalah populer adalah nasi ulam. Perbedaan nasi ulam dan nasi uduk ada pada proses memasaknya, yakni tidak menggunakan santan.

Untuk memberikan rasa lezat, harum, dan gurih, nasi ulam dimasak dengan campuran serai, jahe, lengkuas, dan daun salam. Ciri khas nasi ulam disajikan dengan taburan bubuk kacang tanah, serundeng, bihun, kemangi, emping, serta berbagai lauk lainnya seperti telur, tahu, tempe, dan perkedel.

Nasi Liwet Solo

Kuliner nasi gurih selanjutnya adalah nasi liwet. Ada dua versi nasi liwet yang bisa dicoba, yaitu nasi liwet versi Sunda dan nasi liwet versi Solo.

Nasi liwet versi Sunda biasanya dimasak langsung dengan ikan teri asin, cabe merah, dan pete, serta berbagai bumbu dan rempah-rempah. Lauknya juga sangat beragam, mulai dari tahu, tempe, ayam goreng, dan lalapan.

Sementara itu nasi liwet khas Solo nasinya dimasak tanpa ikan asin. Sebagai pelengkap, nasi liwet khas Solo disajikan bersama telur areh, sayur labu siam, dan ayam suwir yang telah diungkep.

Penyajiannya pun berbeda, biasanya nasi liwet khas Sunda disajikan di panci kastrol, sedangkan nasi liwet khas Solo disajikan di pincuk daun pisang.

Nasi Kuning

Jenis nasi gurih yang tidak kalah lezat berikutnya adalah nasi kuning. Perbedaannya dengan nasi gurih lainnya adalah nasi kuning dikukus pakai santan, serai, dan campuran kunyit untuk memberikan warna kuning cerah.

Sebagai pelengkap, nasi kuning disajikan bersama lauk kering kentang balado, telur rebus, dan ikan masak kecap atau sambal. Nah, menariknya nasi kuning juga kerap dijadikan sebagai nasi tumpeng dengan berbagai macam lauk, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Ada beberapa daerah yang memiliki sajian nasi kuning, seperti Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan Timur, juga Makassar di Sulawesi Selatan.

Nasi Tutug Oncom

Jauh berbeda dengan kuliner nasi gurih lainnya, nasi tutug oncom khas Jawa Barat tak kalah lezat. Perpaduan antara nasi hangat yang dicampur oncom menghasilkan cita rasa yang unik. Semakin nikmat ditambah bawang goreng, irisan telur dadar, sambal terasi, dan ikan asin!

Bagi yang belum tahu, oncom adalah makanan fermentasi yang terbuat dari campuran kapang, bungkil kacang tanah, serta ampas tahu, kedelai, dan kelapa.

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock
Nasi gurih khas Cirebon adalah nasi Jamblang. Foto: dok. shutterstock

Nasi Jamblang

Masih dari Jawa Barat, tepatnya daerah Cirebon. Kalau diamati, sebenarnya nasi jamblang mirip dengan nasi pada umumnya, yang disajikan dengan sambal goreng, tahu, tempe, perkedel, hingga sate jeroan.

Hanya saja, salah satu ciri khas dan pembeda nasi jamblang dengan nasi gurih lainnya terletak di penyajiannya, yaitu dibungkus menggunakan daun jati. Sehingga, akan menghasilkan rasa yang lebih gurih dan wangi pada nasinya.

Nasi Timbel shutterstock

Nasi Timbel

Perbedaan nasi timbel dengan nasi gurih lainnya ada pada proses memasaknya. Nasi timbel dimasak dengan cara dikukus dengan berbagai bumbu rempah dan dibungkus daun pisang.

Kuliner yang banyak ditemukan di tataran Sunda ini disajikan dengan ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan tak lupa lalapan. Perpaduan nasi gurih, lauk yang lezat, serta sambal terasi pedas menyatu sempurna dan bikin ketagihan.

Nasi Guri Aceh

Aceh juga memiliki kuliner berupa nasi gurih yang disebut bu guri. Seporsi nasi gurih khas Aceh atau bu guri adalah nasi yang dimasak dengan santan dengan tambahan bumbu dari rempah-rempah. Karenanya rasanya menjadi gurih dan aromanya rempahnya kuat.
Untuk lauknya, nasi gurih disajikan dengan kering kentang, kacang goreng, rendang, ayam tangkap, tumisan sayur, sambal dan lainnya. Nah, nasi gurih banyak ditawarkan oleh warung makan dan restoran Aceh.

Bagaimana, sekarang sudah bisa membedakan berbagai macam kuliner nasi gurih khas Indonesia, bukan?

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Camilan Kecil Bagansiapiapi, 3 Yang Khas

Kue Denderam

Camilan kecil Bagansiapiapi bisa menjadi pilihan untuk dinikmati ketika Anda mampir ke kota ini menikmati atraksi budaya Bakar Tongkang tiap tahunnya.

Camilan Kecil Bagansiapiapi

Bagansiapiapi, sebuah kota tua di muara Sungai Rokan, pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang menyimpan berlaksa hikayat, menjadi saksi mata masuknya aktivitas perdagangan dari negeri seberang ke Nusantara. Alkisah, di kota ini pula, akulturasi menjadi sebuah peristiwa yang melahirkan berbagai fenomena kultural. Peninggalan tempo dulu—tak hanya gedung—kuliner pun masih banyak tertinggal.

Si Legit dari Semenanjung Malaysia

Pada 1910-1918, Inggris membawa para pekerja perkebunan karet dan pertambangan timah dari India Selatan menuju Malaysia. Sebuah artikel yang dimuat media The Star menyebut, masuknya kaum buruh ke tanah Melayu pada masa itu meninggalkan beberapa warisan yang masih terlacak sampai sekarang, salah satunya kuliner. Yang populer dan mudah ditemui di berbagai tempat adalah kuih atau kue denderam.

Kue ini bak penganan egalitarian yang umum disantap siapa pun, mulai pekerja akar rumput hingga kaum bangsawan. Pada masa lampau, masyarakat menyebutnya sebagai kuih keling lantaran warnanya tampak cokelat berkilau. Bahkan, penyebutan itu masih digunakan sampai si keling bercita rasa legit ini masuk ke daratan Sumatera bagian tengah melalui sebuah daerah kecil bernama Bagansiapiapi. Lantaran diduga merujuk pada kaum tertentu, penamaan kue keling berangsur-angsur tak lagi digunakan. Maka itu, penamaannya memakai julukan semula, yakni denderam.

Denderam, seperti yang berasal dari tanah asalnya, menjadi penganan wajib yang harus disantap kalau wisatawan datang ke Riau, khususnya Bagansiapiapi. Kue yang terbikin dari gula merah dicampur dengan tepung beras itu adalah bukti nyata terjadinya akulturasi budaya antara Melayu, India, dan Chinese di tanah Bagan. Salah satu penjual denderam yang masih eksis hingga kini, Lisa, menjelaskan, bahan untuk mengolah serta cara memasak denderam tak boleh main-main.

Ia mencoba membikin kue berbentuk bunga lima jari sesuai dengan resep asli. “Harus pas betul komposisi gula dan tepungnya. Gula harus lebih banyak daripada tepung,” katanya kala ditemui Travelounge di Bagansiapiapi beberapa waktu lalu. Bentuk pun tak diubah. Selain karena tak ingin kehilangan keaslian, Lisa pingin pembeli merasakan betul sensasi menyantap kue denderam menyerupai yang dijual di tempat asalnya. Pun, menilik sejarahnya, ia menghormati keberadaan kue yang dulunya dimasak untuk upacara-upacara keagamaan itu. Sebiji kue dihargai Rp 1.000.

Kue Denderam Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

camilan kecil Bagansiapiapi seperti kue KasmaKue Kasma
Kue Kasma khas bagansiapiapi.

Kasma, Kue dari Tanah Si Panda

Tak cuma menjual kue bergaya fusi, Lisa juga menjajakan penganan khas peranakan. Salah satunya kue kasma. Lantaran masyarakat Bagansiapiapi mayoritas dihuni warga Tionghoa, menu-menu camilan ringan pun banyak yang berbau Negeri Bambu, seperti yang mengandung kacang hijau. Begitu juga dengan kasma.

Kue ini komplemen utamanya memang polong-polongan. Hal itu terbukti dari penampilan luarnya. Lisa menjelaskan, kasma, yang berbentuk bulat pipih, terbikin dari pulut yang direbus, lalu dikukus, lantas dilumuri dengan tepung panir dan bubuk kacang hijau. Bagian dalamnya tak kalah. Isinya tak lain tak bukan ialah kacang hijau yang diolah bercampur gula merah. Teksturnya lembut sekaligus kenyal, hampir mirip dengan sagu yang dimasak.

Manisnya kasma, kata Lisa, cocok disantap sambil menyeruput teh kala sarapan atau menikmati sore di beranda. Tentu mirip dengan budaya masyarakat Tionghoa yang gemar meminum teh hijau. Apalagi, suasana di Bagansiapiapi yang kental ciri peranakannya membawa ingatan pada kota lama Taiwan yang lekat dengan romansanya. Kue kasma tak kalah murahnya dengan denderam, yakni Rp 1.000.

Kue Kasma Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

Udang Bagan di Balik Tepung dan Obrolan Hokkien

Lohan Ki tengah mengaduk-aduk adonan tepung berisi kangkung, bawang putih, jeruk nipis, dan udang Bagan kala kami sampai di kedai bergaya arsitektur Tionghoa kuno miliknya. Setumpuk heci yang baru mentas dari penggorengan mendarat di meja sebelah perempuan paruh baya berwajah peranakan itu. “Sebentar, pesanan banyak, antre ya,” tuturnya. “Mau lim (minum) kopi dulu ha?” katanya dengan logat Hokkien. Saya lantas mengiyakan sembari menunggu gorengan yang katanya legendaris ini tersedia.

Kasman, profesor sekaligus pegiat budaya yang mengajak kami berkeliling Bagansiapiapi, mengisahkan betapa kesohornya warung yang sudah belasan tahun itu berdiri. Pantas saja, setiap hari, deretan kursi di kedai selalu penuh oleh warga, yang datang sekadar untuk mengicip heci dan menyesap seseruput kopi Bagan. “Apa bedanya heci di sini dengan bakwan di Jawa Tengah atau ote-ote di Jawa Timur?” tutur Kasman, mengetes. Berbarengan dengan pertanyaan yang membikin bingung itu, sepiring gorengan tepung yang telah dipotong kecil-kecil berbentuk dadu dihidangkan. “Ini jawabannya,” kata Kasman sembari menusuk udang yang terpisah dengan tepung.

 Ya, menurut akademikus itu, yang membikin spesial adalah aroma udang asli Selat Malaka yang gurih bercampur aroma bawang dengan karakternya yang kuat. Belum lagi gorengannya yang kering, namun menyisakan tekstur juicy di bagian dalamnya. Dominasi rasa yang kaya bumbu dan cara masak yang tepat membikin heci terasa tak sia-sia masuk mulut. Sepiring heci bisa disantap beramai-ramai bersama teman nongkrong. Pun harganya sangat murah, yakni Rp 20 ribu. Sembari mengunyah penganan yang renyah itu, obrolan-obrolan dengan irama Hokkien memenuhi ruangan. Suara racikan kopi dengan penyeduhan bergaya tarik dengan teko-teko tradisional turut menjadi irama yang merdu.

Heci Lohan Ki

Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 18.00-00.00

F. Rosana

Dawet Ayu Banjarnegara, Minuman Juara API 2020

Dawet Ayu Banjarnegara tahun ini keluar sebagai juara kategori minuman dalam API 2020.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi minuman tradisional juara Anugerah Pesona Indonesia 2020 atau API 2020. Ia mengalahkan Kopi Semendo dari Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan yang sedang naik daun dan Air Mata Bejando dari Kabupaten Pelalawan di Provinsi Riau yang mulai dikenal masyarakat.

Dawet Ayu Banjarnegara

API 2020 menobatkan dawet ayu sebagai minuman tradisional terpopuler di Indonesia. Ini adalah kuliner jenis minuman yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Agung Yusianto, kepada tempo.co, mengatakan bahwa kemenangan dawet ayu membuktikan minuman tradisional ini cita rasanya diterima masyarakat Indonesia. Tidak saja bagi masyarakat Banjarnegara di mana minuman ini berasal, tapi juga secara luas di lidah masyaeakar dari daerah lain.

Pengumumnan pemenang Anugerah Pesona Indonesia 2020 sendiri berlangsung di Hotel Inaya Bay Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 20 Mei 2021 malam. Tak hanya menyandang predikat sebagai minuman tradisional terpopuler, menurut Agung, dawet ayu juga menjadi juara favorit Pesona Indonesia 2020 .

Agung berharap penghargaan terhadap dawet ayu di API 2020 ini menjadi mendorong dan menginspirasi para pelaku usaha kuliner dan UMKM di Banjarnegara untuk terus berkreasi dan berkembang. Ia juga diharapkan makin memperkenalkan Banjarnegara ke seluruh Indonesia.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi juara favorit dalam anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Dawet Ayu Banjarnegara dijual dengan cara gerobak atau pikulan. Foto: Dok. unsplash

Meskipun baru menang di API 2020, dawet ayu Banjarnegara, Jawa Tengah, ini sesungguhnya sudah lama dikenal masyarakat hampir di seluruh Indonesia. Bahkan minumannya sudah beredar di banyak kota di Indonesia. Mengutip harian Kompas, penyebaran dawet ayu ke sejumlah daerahini  terjadi karena ada mobilisasi masyarakat Jawa Tengah pada 1980-an ke banyak wilayah.
Penyebaran ini terjadi karena perpindahan alamiah, maupun adanya program transmigrasi pada masa itu. Orang-orang Banjarnegara dan Banyumaslantas  diduga membuat dawet di tempat tinggal baru mereka. Dari sanalah kemudian dawet ayu Banjarnegara bisa terkenal. Penjual dawet ayu di daerah-daerah itu belum tentu dari Banjarnegara, tetapi nama produknya tetap dawet ayu khas Banjarnegara.

Lalu dari mana asal muasal minuman dawet ayu ini bermula sesungguhnya? Apa pula bedanya dengan es cendol yang juga dikenal oleh banyak orang.

Asal usul dawet ayu masih simpang siur dan punya banyak versi. Salah satu versinya menyebut, dawet Banjarnegara bisa popular konon berawal dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono. Lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” ini dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol pada 1980-an. Grup ini terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.

Selain versi tersebut, ada pula versi sastrawan asal Banyumas, Ahmad Tohari, yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20.
Sementara soal pembuatannya, ss dawet dibuat dari rebusan tepung beras. Sedangkan warna hijaunya diperoleh dari perasan daun pandan. Ada pula yang menyebut warna hijau itu dibuat dari daun suji.

Secara umum proses produksinya mirip dengan pembuatan cendol. Mungkin orang senang membandingkan ke duanya, selain bentuknya mirip, juga karena popularitas lagu campur sari milik almarhum Didi Kempot. “Cendol, dawet, cendol, dawet…” sepotong syair lagu Pamer Bojo milik Didi yang populer dikalangan sobat ambyar, sebutan bagi penggemar pemusik ini.

Dawet Ayu Banjarnegara secara tampilan mirip dengan Cendol yang banyak dkenal masyarakat di Jawa Barat.
Minuman Es Cendol di Jawa Barat yang tampilannya mirip dengan es Dawet Ayu. Foto: Dok. Unsplash

Minumannya sendiri, secara sekilas jika dilihat, cendol dan dawet ini tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama dihidangkan dengan larutan gula merah sebagai pemanis dan diguyur dengan santan cair. Begitupun, oleh para pemerhatu kulinari, ada perbedaan yang menonjol antara cendol dan dawet, yakni bahan bakunya. Cendol dan dawet sama-sama terbuat dari tepung, tetapi meggunakan jenis tepung yang berbeda. Namun, campurannya sama, pemanisnya menggunakan gula kelapa, dan santannya alami dari perasan buah kelapa segar.
Beda dengan dawet, cendol menggunakan tepung kacang hijau atau hunkwe.
Es cendol sendiri disebut-sebut berasal dari kata jendol, yang dalam bahasa Sunda artinya jendolan. Hal ini merujuk pada tekstur butiran cendol yang bentuknya tak beraturan. Asal ke dua minuman yang mirip ini ternyata yang berbeda. Jika dawet ayu dari Banjarnegara, Jawa Tengah, sedangkan cendol berasal dari Jawa Barat.

Para penjual dawet ayu biasanya menggunakan pikulan yang khas untuk berjualan. Pikulan tersebut disebut angkringan dawet ayu atau angdayu. Ada dua gentong besar yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri pikulan. Isinya masing-masing adalah santan dan dawet. Gentong besar tersebut dibuat dari tanah liat yang dipercaya bisa menjaga suhu dawet dan santan tetap dingin sehingga pedagang tak perlu lagi menggunakan es batu.

Kini, mungkin karena perubahan iklim yang membuat hawa lebih gerah, banyak juga penjual dawet yang menggunakan es. Sekarang juga semakin banyak pedagang yang menjual dawet dengan gerobak dan menggunakan ember plastik ketimbang gentong tanah liat. 

Jika Anda punya kesempatan mampir ke Banjarnegara, berikut ada beberapa tempat es dawet ayu yang terkenal di kota ini.

Bakso dan Dawet Ayu Asli Hj. Munardjo

Jl. M.T. Haryono No.12-22, Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara

Jl. Stadion Selatan, Parakancanggah, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Dawet Ayu Banjarnegara Pak Sunardi

Jl. Sunan Gripit, Rejasa, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah

agendaIndonesia

*****

5 Sajian Khas Pasundan Di Lintas Selatan

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Jawa Barat

5 Sajian khas Pasundan di Lintas Selatan Jawa Barat ke Jawa Tengah ini bisa menjadi pilihan jika tengah melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi. Mulai ayam bakar bambu hingga pindang ikan.

5 Sajian Khas Pasundan

Jalur selatan merupakan jalur utama transportasi darat yang menghubungkan sebagian besar kota-kota di Jawa Barat. Bahkan, jika menggunakan kendaraan pribadi, jalur ini terkadang dijadikan alternatif untuk menuju kota-kota di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Mengingat kondisinya yang sangat strategis, melewati Bandung, Garut, Tasik, hingga Ciamis, tak mengherankan jika di sepanjang jalur selatan banyak ditemukan rumah makan. Mayorita tentu menyajikan masalan ala Sunda.

Ayam Bakar Bambu

Rumah makan ala Sunda di Ciamis, Jawa Barat, ini menawarkan hidangan menggiurkan, mulai patin bakar bambu, gurame bakar cobek, hingga ayam bambu ala Cibiuk. Pilihan saya jatuh pada sajian yang terakhir. Menu ini berupa potongan-potongan kecil ayam kampung yang diberi bumbu dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dimasukkan ke sebilah bambu, kemudian dibakar.

Penyajiannya cukup unik karena potongan bambu ikut dihadirkan. Untuk dapat menikmatinya, kita cukup mengambil bungkusan ayam dalam daun pisang tadi melalui lubang bambu. Saat dikunyah, potongan ayam terasa lunak dan bumbunya begitu terasa. Satu porsi menu ini dihargai Rp 75 ribu.

RM Cibiuk

Jalan Raya Sindangkasih Nomor 90

Ciamis, Jawa Barat

Buka pukul 08.00-22.00

Pindang Ikan Mas

Selepas pintu Tol Cileunyi dari arah Jakarta, jalur selatan mulai membentang. Rumah makan pun  ramai menyambut. Banyak pilihan di daerah ini. Namun pilihan saya jatuh pada rumah makan yang konon terkenal dengan menu pindang ikan mas. Layaknya olahan pindang lain, pindang ikan mas yang satu ini juga berwarna cokelat, tapi cenderung kehitaman. Dalam satu piring, disajikan dua ekor ikan mas.

Sekilas, tampilannya terlihat kurang menggiurkan. Tapi jangan salah. Saat dicoba, daging ikan terasa lunak. Duri-duri halus ikan mas, yang dikenal banyak, tak terasa. Bahkan tulang bagian tengah ikan terasa renyah. Rasa menu seharga Rp 20 ribu ini cukup manis dan tidak tercium bau amis.

Mak Ecot 2

Jalan Nagrek Km 36

Kabupaten Bandung

Buka: pukul 07.00-24.00

5 sajian khas pasundan salah satunya di Rumah Makan Gentong
Interior Rumah makan Gentong di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Nasi Liwet Gepuk

Bagi yang pernah melewati jalur selatan Jawa Barat, mungkin pernah melihat rumah makan yang satu ini. Tapi tahukah jika salah satu menu andalan rumah makan yang berada di sisi jalan ini adalah nasi liwet gepuk? Olahan nasi liwet sebenarnya sama seperti nasi biasa. Bedanya, nasi liwet telah diberi bumbu sebelum ditanak sehingga rasanya lebih gurih. Nasi tersebut disajikan lengkap dengan gepuk atau daging sapi goreng, sayur asam, tahu-tempe goreng, sepotong ikan asin jambal, lalapan, dan sambal. Menu ini, untuk porsi satu orang, dihargai Rp 36 ribu.

Jika ingin porsi yang lebih banyak karena datang bersama keluarga, tak ada salahnya memilih paket nasi liwet kendil. Paket ini cukup untuk tiga orang. Sesuai dengan namanya, nasi liwet dihidangkan dengan kendil. Pilihan menunya bisa berupa gepuk, ayam goreng/bakar, atau pepes ayam/ikan, tergantung selera.

RM Gentong

Jalan Raya Gentong Nomor 16

Ciawi, Tasikmalaya

Buka: pukul 07.00-21.00

Nasi Tutug Oncom

Rumah makan ini juga masih berada di Tasikmalaya. Lumayan ramai pengunjungnya saat saya mengunjunginya siang itu. Awalnya, saya mengira rumah makan ini hanya menyediakan berbagai olahan dari buah stroberi, sesuai dengan namanya. Ternyata dugaan saya meleset. Rumah makan ini justru menyediakan berbagai masakan ala Sunda. Salah satunya nasi tutug oncom.

Di tempat ini, nasi putih tak dicampur dengan oncom saja, tapi juga dengan emping yang menjadi ciri khas. Selain itu, dalam setiap porsi, menu seharga Rp 38 ribu itu telah dilengkapi ayam goreng, tahu goreng, tempe mendoan, sayur asem, potongan ikan asin jambal, lalapan, dan sambal.

Liwet Astro (Asep Stroberry)

Jalan Raya Ciawi Nomor 5

Tasikmalaya

Buka: 24 jam

Aneka Ayam

Saat melintasi perbatasan Ciamis-Banjar, saya mendapati rumah makan dengan bentuk bangunan berupa rumah panggung dengan warna merah mencolok. Umbul-umbul yang terpasang di sisi jalan juga semakin menambah penasaran. Saya pun tertarik menyambanginya. Sesuai dengan namanya, menu yang diandalkan memang beragam olahan ayam. Ada ayam goreng, ayam bakar, ayam rica-rica, dan lainnya. Pilihannya tersedia dalam beberapa paket, yakni paket A, B, dan C. Paket ini menunjukkan besar ukuran ayam. Untuk paket A, ayamnya berukuran kecil. Sedangkan paket C, ayam berukuran besar.

Saya lantas memesan paket ayam bakar paket A. Satu porsi relatif lengkap. Selain ada nasi putih dan ayam bakar, ada pula lalapan dan sambal. Bumbu ayam bakarnya cukup terasa dan daging ayamnya lumayan empuk. Harga per porsi mulai  Rp 13 ribu.

Ayam Fresh

Jalan Raya Banjar

Ciamis, Jawa Barat

Buka: pukul 08.00-22.00

Andry T./Prima M/Dok. TL

Pantai Pandawa Bali 1 Yang Sembunyi di Balik Tebing

Pantai Pandawa Bali dengan orang-orang Berenang

Pantai Pandawa berpasir putih dengan ombak yang tenang berada di balik bukit kapur yang berhias arca. Pantai berpasir putih ini seperti memanggil-manggil dari bawah ke mereka yang masih di atas bukit.

Pantai Pandawa Bali

Jalan terus menanjak dari arah Jimbaran Bali, melewati bukit-bukit kapur. Setelah itu, baru ditemukan jalan mulus dan lebih lapang. Saya langsung merasa senang. Padahal papan penunjuk Pantai Pandawa belum terlihat. Lagipula, saya masih berada di daerah perbukitan, tentu pantai masih jauh. masih jauh?

Namun, tak lama kemudian, ternyata kami menemukan pertigaan lebar yang menunjukkan arah ke Pantai Pandawa. Setelah melewati sebuah vila yang tengah dibangun di sebuah belokan, terlihat gerbang lebar menuju Pantai Pandawa yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini dapat dijangkau sekitar satu jam dari Bandara Ngurah Rai.

Gerbang pantai tak menandakan bahwa lokasi sudah dekat. Jadi jangan harap Anda akan langsung melihat bibir pantai. Para pengunjung “dibawa” meliuk-liuk di kelokan yang menurun. Terlihat Pantai Pandawa dari ketinggian. Ombak yang kadang terlihat seperti melambai-lambai memanggil untuk segera sampai dan menyelupkan kaki ke air laut yang mengayun di sepanjang pantai

Di sepanjang jalanan yang turun dan meliuk itu, terlihat tebing-tebing yang dilobangi di sepanjang jalan menuju pantai. Di dalam lekukan-lekukan tebing itu terlihat patung Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa, berdiri berjajar .

Pantai Pandawa Bali
Suasana Pantai Pandawa Bali.

Keberadaan Pandawa Lima ini mempunyai makna tersendiri. Informasi ini saya dengar dari sang pengemudi yang mengantarkan kami siang itu. Kisahnya diambil dari cuplikan cerita Mahabarata saat kelima pandawa dikurung dalam Gua Gala-gala. Ketut, pria yang bekerja di balik kemudi itu, menjelaskan satu per satu tokoh yang muncul dalam pewayangan tersebut. Lantas, ia bertutur dalam cerita ini, kelima dewa berhasil menyelamatkan diri dengan membuat terowongan hingga mencapai hutan dan mendirikan Kerajaan Amertha.

Dinding-dinding kapur, yang dihiasi arca, tidak saya singgahi lebih dulu. Saya tunda saat pulang saja. Maklum, dari ketinggian, ombak dan pasir putih pantai seperti memanggil-manggil. Pantai itu benar-benar berada di balik tebing. Namun saya datang di saat yang kurang tepat, yakni pada Minggu dan siang hari. Di akhir pekan, pantai yang tengah naik daun ini tumplek dengan turis dari berbagai wilayah, mulai yang berkulit gelap hingga yang pucat. Kursi-kursi di tepian pantai pun terisi penuh.

Belum lagi teriknya menyengat. Walhasil, setelah sempat berjalan beberapa saat, saya memilih duduk di sebuah warung miliki Nenek Giri Yono. “Enaknya di sini kalau sore, siang gini panas,” ucapnya. Saya pun menyeruput minuman dingin. “Tapi ini ramai karena hari libur,” tuturnya. Ibu tua itu mengaku warga asli Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Sejak banyak wisatawan datang ke Pantai Melasti—namanya sebelum berganti menjadi Pandawa, ia mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dulu di sini tempat upacara Melasti,” ujarnya. Katanya, tak banyak turis yang datang. Melasti adalah rangkaian perayaan Nyepi.

Terik masih terasa meski sudah mulai pukul 15.00. Tidak lama setelah berbincang hangat dengan ibu tua yang mengaku hidup berdua dengan suaminya itu, saya menyusuri jajaran kios di salah satu sisi. Aneka aksesori khas pantai, seperti topi, ikat kepala, dan kain menjadi benda yang banyak dijajakan. Di pantai, tak peduli mentari yang tengah bersinar kuat, anak-anak, remaja, maupun orang tua asik berperahu. Ada pula yang mendayung kano perlahan atau melaju kencang dengan banana boat. Ombak yang tenang menjadi teman yang mengasikkan.

Dengan bingkai langit nan biru dan awan putih, para pengandrung paralayang bergaya seperti burung besar, melayang-layang di antara keindahan langit dan air laut. Saya berjalan perlahan, menjauh dari keriuhan, mampir ke penjaja es potong dan meninggalkan bibir pantai, menatap tebing dengan tulisan “Pantai Pandawa”, sebelum akhirnya merebahkan diri di mobil. Seperti niat awal, sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, saya singgah di depan patung lima Pandawa sembari menatap pantai dari kejauhan. l

Rita N/Fazzu F/Dok TL

Café Dangdut New York, 1 Citra Indonesia

cafe dagdut new york memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia di New York. Foto: KJRI New York

Café Dangdut New York, nama ini rasanya langsung ‘menonjok’ rasa ingin tahu yang mendengarnya. Apa yang dijual di sini: kopi atau musik dangdut?

Cafe Dangdut New York

Nama Café Dangdut terdengar sangat Indonesia. Itulah alasan Fitri Carlina, seorang penyanyi yang besar melalui musik dangdut di Indonesia, bersama dua rekannya, Dina Fatimah dan Romy Sembiring, mendirikan Café Dangdut di Long Island City, New York, Amerika Serikat. Bersama Dina, atau yang dikenal dengan panggilan Eski, Fitri melihat bahwa budaya Indonesia sangat layak dan potensial untuk diperkenalkan di Amerika Serikat.

“Ide mendirikan Café Dangdut New York muncul sekitar awal Maret 2021. Saat itu, kebetulan saya juga tampil di acara Super Bowl Week,” kata Fitri. Menurutnya, istilah ‘dangdut’ mulai dikenal di negeri Abang Sam itu. 

Cafe Daangdut New York tidak saja memperkenalkan kulinari Indonesia, tapi juga budaya pop melalui musik dangdut.
Kopi adalah salah satu budaya masyarakat Amerika. Foto: Dok. shutterstock

Lalu, terpikir untuk membuat coffee shop bernuansa dangdut di New York bersama Eski yang juga terlibat dalam acara Super Bowl Week. Dalam waktu sebulan, mereka memikirkan ide, logo, dan menyiapkan coffee truck. Akhirnya pada September 2021, Café Dangdut soft launching. “Saat itu kami masih menggunakan coffee truck dan booth,” kata Fitri.

Kebetulan pula ketika itu ada acara Indopop Movement, sebuah organisasi atau yayasan yang bertujuan untuk membantu dan mendukung potensi Indonesia, baik kuliner, fesyen, budaya, di Amerika, khususnya New York. Momentum ini dimanfaatkan oleh Fitri dan Eski untuk mempromosikan Café Dangdut di depan Time Square.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan dengan mengikuti bazar dan festival di sana-sini, ke duanya memutuskan untuk membuka Café Dangdut secara permanen di Long Island City. Sambutannya cukup bagus. Bahkan antrean orang yang ingin mencoba kopi di Café Dangdut sangat panjang.

“Mas Menteri Sandiaga Uno juga sudah datang ke Café Dangdut. Rasanya tidak menyangka bisa seperti ini,” kata Eski.

Cafe Dangdur NewYork
Menteri Pariwisata Sandiaga Uno berkesempatan mampir ke Cafe Dangdut New York. Foto: Cafe Dangdut.

Meski sudah memiliki gerai permanen, Fitri dan Eski memutuskan untuk terus melakukan mempromosikan Café Dangdut New York dengan coffee truck selama setahun. Tujuannya, kata Fitri, untuk menarik lebih banyak orang dan membuat penasaran warga sekitar.

“Sampai saat ini, Café Dangdut masih menggunakan coffee truck dalam rangka promosi kopi. Kami membagikan kopi secara gratis kepada customer yang datang,” lanjut Eski.

Sambil promosi, proses pengurusan izin dan inovasi menu terus dilakukan. Pelan-pelan, Fitri dan Eski mencari barista dari Diaspora karena ingin memperlihatkan kepada warga sekitar tentang hospitality yang ramah khas Indonesia. Sempat menemukan beberapa kendala, tapi ke duanya bisa menyelesaikannya dengan baik.

“Beruntung Diaspora di sini sangat suportif. Banyak pengusaha swasta dan owner kafe Indonesia lainnya juga yang mendukung kehadiran Café Dangdut. Kami mendirikan Café Dangdut New York bukan untuk menjadi saingan, tapi justru untuk menambah khasanah kuliner Indonesia di Amerika,” ujar Fitri.

Diakui juga oleh ke duanya, mendirikan tempat makan di New York harus siap menerima syarat dan izin yang cukup ketat dari pemerintah setempat. Café Dangdut New York berkomitmen untuk menjaga kualitas bahan baku. Namun, masalah distribusi dan logistik harus dihadapi oleh Fitri dan Eski dan cukup berpengaruh pada harga makanan dan minuman serta ketersediaan supply di Café Dangdut.

Mereka mengaku sudah banyak melakukan audiensi ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat di Chicago dan lembaga Indonesia terkait mengenai kendala logistik. Karena masalahnya bahan baku dan sangat penting. Jika biasanya bahan baku bisa tiba dua bulan, kini harus menunggu bahkan sampai empat bulan. “Akhirnya ada beberapa bahan baku yang kami hand carry agar bisa stabil antara supply dan demand-nya,” ucap Eski.

Meskipun banyak kendala yang menghampiri, Fitri dan Eski mengaku puas dengan apa yang sudah mereka capai bersama Café Dangdut New York. Hampir 70 persen pembeli atau pelanggan mereka adalah warga lokal, ini sesuai target mereka. Lokasi Café nya pun cukup strategis dan mudah ditemukan.

Cafe Dangdut berada di lingkungan anak-anak muda dan hipster elit, dekat dengan stasiun, kampus, serta tempat nongkrong anak-anak muda dan komunitas warga Indonesia. 

Biji Kopi Arabica shutterstock
Aneka biji kopi arabica. Foto: dok. shutterstock

Menurut Eski, rata-rata pelanggannya suka dengan cita rasa kopi Indonesia yang manis, khususnya kopi Gayo. “Kami juga menjual kopi lainnya, seperti kopi luwak, kopi dari Papua dan daerah lainya. Warga lokal sini penasaran dengan jenis-jenis kopi dari Indonesia,” imbuh Fitri.

Dengan adanya Café Dangdut di New York, Fitri dan Eski berharap bisa memperkenalkan Indonesia. Tidak hanya dengan kopi dan hidangan saja, tetapi juga dengan budaya dan lifestyle Indonesia.

Selain kopi dan beberapa kudapan khas Indonesia, Café Dangdut memperkenalkan musik dangdut dan fesyen Indonesia melalui brand Plus 62. Fitri dan Eski ingin hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia menjadi mainstream dengan langkah awal memperkenalkannya melalui Café Dangdut.

“Meskipun namanya dangdut, Café Dangdut kami tampilkan dengan konsep kontemporer. Bisa membawa nama dangdut hingga ke New York, seperti hal yang mustahil, tapi ternyata bisa kami lakukan,” ujar Fitri.

Melalui serangkaian pencapaian ini, Fitri dan Eski berharap Café Dangdut bisa bertahan di New York. Saat ini, Fitri dan Eski tengah berkomunikasi dengan beberapa investor. Jika tidak ada kendala, Café Dangdut juga akan hadir di New Jersey dan negara lain seperti Singapura serta Filipina.

“Kami ingin menjalankan bisnis ini untuk waktu yang lama, bukan hanya lima tahun, tapi jangka panjang. Tentunya untuk mempertahankan bisnis, hal-hal seperti masalah logistik dan lainnya bisa segera ditemukan solusinya. Dan, kami berharap pemerintah Indonesia bisa terus mendukung pelaku bisnis di luar negeri yang membawa misi memperkenalkan budaya, kuliner, dan apapun yang berkaitan dengan potensi Indonesia,” ucap Eski.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****