Batik Motif Pekalongan, Keren Sejak Abad 17

Batik motif Pekalongan muncul sejak abad 17, dengan motif yang berkembang sesuai zamannya.

Batik motif Pekalongan adalah salah satu  batik yang termasuk jenis klasik di Indonesia. Batik dari kota di Jawa Tengah ini sudah melampui perjalanan sejak abad 17.

Batik Motif Pekalongan

Pekalongan memang telah menjadi salah satu pusat produksi batik di Indonesia, ia juga dikenal sebagai Kota Batik. Sejarah batik Pekalongan bisa dirunut sejak abad 17, masa ini kerajinan batik mulai berkembang di sini.

Pada masa itu, batik motif Pekalongan popular sebagai kain yang dipakai sebagai pakaian formal dan upacara adat. Selama berabad-abad, motif-motif batik Pekalongan terus berkembang, mencerminkan pengaruh budaya lokal dan internasional.

Pekalongan merupakan kota di wilayah utara pulau Jawa dan berada di Provinsi Jawa Tengah. Dari Jakarta kota ini berjarak 384 kilometer, sedangkan dari Semarang jaraknya sekitar 100 kilometer.

Batik motif Pekalongan memiliki pengaruh dari Arab, Cina dan Jawa.
Museum Batik di Pekalongan, di mana orang bisa belajar tentang sejarah batik. Foto: wikimedia commons

Batik Pekalongan mencatat adanya  pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah dan saling meniru pada awalnya. Ini menimbulkan kreativitas para perajin batik Pekalongan untuk selalu membuat motif batik baru.

Salah satu daya tarik utama batik pekalongan adalah keunikan motifnya. Corak dan motif yang dipergunakan mencakup berbagai elemen, seperti bunga, binatang, tokoh wayang, dan pola geometris. Desainnya yang indah dan rumit mencerminkan keahlian tangan para perajin batik motif Pekalongan.

Satu hal yang mencolok dari batik daerah ini adalah warna-warna yang dipakai dalam membatik yang membuatnya menarik perhatian. Penggunaan warna-warna yang cerah dan kontras memberi citra yang menawan.

Dari kisahnya, batik di sini menjadi lebih berkembang setelah ada pengusaha batik Belanda bernama Eliza Van Zuylen membangun workshop di wilayah tersebut. Berdasarkan arahan Eliza, ada motif-motif batik Pekalongan baru yang berhasil diciptakan oleh para perajin batik.

Interior Museum Batik Pekalongan wikimedia commons
Ruangan dalam Museum Batik Pekalongan. Foto: dok. wikimedia common

Eliza Van Zuylen dari catatan sejarahnya merupakan salah satu orang yang memiliki peran besar atas kemunculan motif-motif baru batik. Melalui tangannya, batik Pekalongan mampu menembus pangsa pasar Eropa. 

Para pembeli batik Van Zuylen rata-rata memang para bangsawan Eropa. Eliza popular di Eropa dalam rentang waktu antara  1923 hingga akhir 1946.

Pengusaha ini sangat terkenal dengan produk batiknya yang dikenal kehalusan kainnya dengan motif batik tumbuh-tumbuhan. Hingga sampai saat ini batik seperti itu dikenal sebagai ciri khas batik motif Pekalongan, di samping motif Jlamprang.

Apa saja sesungguhnya motif-motif batik Pekalongan ini? Berikut ini beberapa ciri motif batik daerah sini.

Motif asli Pekalongan adalah motif Jlamprang, yaitu suatu motif semacam nitik yang tergolong motif batik geometris. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa motif ini merupakan suatu motif yang dikembangkan oleh pembatik keturunan Arab.

Motif batik jlamprang diyakini dan diakui oleh beberapa pengamat motif batik, sebagai motif asli Pekalongan. S.K. Sewan Santoso dalam bukunya Seni Kerajinan Batik Indonesia yang diterbitkan Balai Penelitian Batik dan Kerajinan , Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian RI (1973), mengatakan bahwa motif Jlamprang di Pekalongan dipengaruhi oleh Islam.

Artinya, motif ini lahir dari perajin batik di daerah ini ada yang keturunan arab yang beragama Islam. Seperti diketahui, agama ini melarang menggambar binatang maupun manusia atau mahluk hidup lainnya dalam kain batik maupun lukisan. Ini membuat para perajin batik memiliki ide kreatif yaitu dengan membuat motif batik secara geometris dengan cara nitik pada motif batik jlamprang.

Namun ada pendapat berbeda. Pendapat berbeda ini menilai Jlamprang merupakan motif batik yang muncul karena pengaruh kebudayaan Hindu Syiwa.

Motif Batik Pekalongan shutterstock
Salah satu motif batik Pekalongan yang dekoraif. Foto: shutterstock

Dr. Kusnin Asa memiliki pendapat bahwa motif batik Jlamprang merupakan suatu bentuk motif yang kosmologis dengan mengedepankan satu pola ceplokan dalam bentuk lung-lungan juga bunga padma yang menunjukan sebuah makna mengenai peran dunia kosmis yang datang sejak agama Buddha dan Hindu berkembang di tanah Jawa.

Pola ceplokan pada motif yang distilisasi dalam bentuk yang lebih dekoratif menunjukan bahwa corak tersebut merupakan peninggalan dari masa prasejarah yang selanjutnya menjadi warisan agama Hindu juga Buddha.

Begitupun batik motif Pekalongan yang klasik sejatinya adalah motif semen. Motif ini hampir sama dengan motif klasik semen dari daerah Jawa Tengah lain, seperti Solo dan Yogyakarta.

Di dalam motif semen terdapat ornamen berbentuk tumbuhan dan garuda/sawat. Perbedaan antara batik di sini dan batik Solo atau  Yogyakarta adalah pada produk Pekalongan klasik hampir tidak ada cecek. Pada batik klasik, semua pengisian motif berupa garis-garis.

Selain itu, beberapa kain batik yang diproduksi di Pekalongan mempunyai corak Cina. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ornamen Liong berupa naga besar berkaki dan burung Phoenix pada motif batiknya. Burung Phoenix merupakan sejenis burung yang bulu kepala dan sayapnya berjumbai, serta bulu ekor berjumbai juga bergelombang.

Kain batik pekalongan yang dikembangkan oleh pengusaha batik halus keturunan China kebanyakan memiliki motif berupa bentuk-bentuk realistis dan banyak menggunakan cecek-cecek, serta cecek sawut (titik dan garis).

Sementara itu, soal pewarnaan yang cerah, disebutkan bahwa penduduk daerah pantai menyukai warna-warna yang cerah seperti warna merah, kuning, biru, hijau, violet, dan orange. Sedangkan warna soga kain batik berasal dari pewarnaan tumbuhan.

agendaIndonesia

*****

Keindahan Seputar Singkarak Dalam 3 Hari

Keindahan seputar singkarak dapat dinikmati dalam 3 hari.

Keindahan seputar Singkarak menjadi salah satu rute tur yang bisa dipertimbangkan untuk menikmati liburan. Nama Singkarak 12 tahun terakhir semakin terkenal karena adanya event olahraga balap sepeda internasional Tour de Singkarak yang mulai diselenggarakan sejak 2009.

Keindahan Seputar Singkarak

Jika di Prancis ada tour wisata yang mengikuti event Tour de France, mungkin menarik juga jika dibuat paket seperti itu di Sumatera Barat. Tentu harus dipilih rute dan spot yang menarik untuk dinikmati sebagai paket liburan.

Keindahan seputar singkarak dengan mengikuti rute dari tour de singkarak dan ditempuh hanya dalam 3 hari.
Rumah Gadang di Bukittinggi. Foto: angrri Yulio for unspalsh

Tour de Singkarak sendiri diikuti atlet sepeda dari berbagai negara menyusuri jalan-jalan di Sumatera Barat. Dalam balapan sepeda ini, jarak yang ditempuh sepanjang 1.250 kilometer. Ini melewati 18 dari 19 kota kabupaten di provinsi ini. Rute kompetisi ini sejatinya memanjakan para pembalap dengan suguhan pemandangan alam nan elok, keindahan seputar Singkarak, dan budaya unik Ranah Minang.

Bagaimana jika menjajal rute ala para pembalap sepeda itu untuk menikmati keindahan seputar Singkarak. Tidak perlu hingga 9 hari selayaknya balapan sepeda tersebut, tiga hari di akhir pekan yang panjang rasanya cukup menggoda. Kita coba sisir rute yang menarik. Namun, bila penasaran dengan rute asli para pembalap, bisa direncanakan perjalanan saat balap sepeda tahunan ini digelar.

Hari Pertama: Bukittinggi

Perjalanan tentu dimulai dengan terbang ke ibukota Sumatera Barat, Padang. Pilih penerbangan pagi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Minangkabau. Etape pertama biasanya dimulai di Padang Pariaman, hanya saja karena kita memilih perjalanan hanya tiga hari, tour kita mulai dari Bukittinggi. Kota berhawa dingin ini menarik untuk menginap.

Jam Gadang sebagai ikon Bukit Tinggi bahkan Sumatera Barat. Pemandangan di titik ini sangat instagramable. Jangan melewatkan menikmati suasana di pusat keramaian kota ini.

Selain itu, banyak pilihan lain yang bisa dinikmati di sini. Bahkan cukup dengan berjalan kaki di jalanan yang kebanyakan turun-naik. Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Janjang 1.000 di Ngarai Sianok ke Koto Gadang, Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, dan Rumah Kelahiran Bung Hatta. Pilihan yang berlimpah. Semuanya bagian dari keindahan seputar SIngkarak.

Mengunjungi beberapa obyek wisata tersebut, waktu sudah tersita selama seharian. Tapi, jangan lewatkan, salah satu sajian khasnya ialah nasi kapau, masakan khas Minang dari Nagari Kapau di Kabupaten Agam, yang dijual di pasar lereng yang tak jauh dari Pasar Atas. 

Hari Kedua: Danau Maninjau

Dari Bukittinggi Tour de Singkarak biasanya akan melanjutkan rute di antaranya melalui Kelok 44 Danau Maninjau yang hanya berjarak 30 kilometer dari kota tersebut.

Kelok 44 adalah spot yang dijuluki “ratu” Tour de Singkarak tersebuyt karena menjadi tantangan terberat bagi pembalap untuk menaklukkan tanjakannya. Bagi pelancong pun, melalui rute dengan kelokan sempit dan puluhan ini menjadi atraksi tersendiri. Apalagi pemandangan di sekeliling yang menawan dan pada titik tertentu bisa menikmati Danau Maninjau dari kejauhan.

Menikmati alam danau di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, ini termasuk makan siang dengan rinyua dan ikan bada beraroma sedap. Keduanya merupakan penghuni asli Danau Maninjau. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan ke Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar, yang berjarak sekitar 73 kilometer. Dan menginap di kota ini. 

 Hari Ketiga: Tanah Datar-Sawahlunto

Kabupaten Tanah Datar mempunyai obyek wisata unggulan berupaIstano Basa Pagaruyung yang terletak di Batu Sangkar yang juga merupakan ibu kota kabupaten. Istana megah ini juga menjadi ikon dari Tour de Singkarak. Bila datang saat digelar Tour de Singkarak, suasana sekitar istana ini benar-benar meriah karena dijadikan titik akhir salah satu stage.

Keindahan seputar Singkarak salah satunya menikmati peninggalan pertambangan ombilin di Sawahlunto.
Bekas Pertambangan Ombilin Sawahlunto Warisan Dunia UNESCO (Dok. Kementrian Pariwisata)

Istano Basa juga menjadi tempat menyambut para pembalap dan ofisial untuk jamuan  makan siang pada kegiatan balapan. Biasanya para pembalap menghadiri acara makan bajamba dengan mengenakan kain songket.Sejumlah atraksi kesenian tradisional juga banyak ditampilkan untuk menyambut para pembalap.  

Bagi pelancong pada umumnya, Istano Basa Pagaruyung adalah bangunan arsitektur Rumah Gadang terbesar di Sumatera Barat yang memiliki daya tarik tersendiri. Bangunan didirikan di lahan bekas kerajaan Pagaruyung dan terbuka untuk wisatwan. Di dalamnya, bisa ditemukan beberapa benda koleksi kerajaan di masa silam.

 Sebagai lokasi bekas Kerajaan Pagaruyung, Batu Sangkar memiliki sejumlah peninggalan zaman Hindu-Buddha, khususnya era Raja Adityawarman. Juga warisan  kerajaan Alam Minangkabau. Batu bertulis (batu basurek) yang menceritakan zaman keemasan kerajaan pada masa Adityawarman terdapat di beberapa lokasi. Walhasil, tidak hanya melihat istana, pengunjung bisa melihat beberapa prasasti batu bertulis di Pagaruyung.

Siang harinya bisa dilanjutkan ke Sawahlunto yang berjarak 40 kilometer dari Batu Sangkar dengan melewati tepian Danau Singkarak di Ombilin. Ini juga rute dalam Tour de Singkarak. Pembalap danofisial biasanya juga bermalam di kota ini.

Sawahlunto memiliki sederet obyek wisata kota tua  yang dikelola dengan baik. Ada Lubang Tambang Mbah Soero, bekas lubang tambang batu bara di zaman kolonial Belanda. Dari situ, kita bisa menikmati bangunan-bangunan peninggalan perusahaan batu bara pada zaman penjajahan Belanda, Museum Gudang Ransum, serta Museum Kereta Api, yang bisa dijangkau dengan jalan kaki.  

Petang hari, saatnya kembali ke Padang. Jarak kedua kota sekitar 98 kilometer yang bisa dicapai dengan jalan darat selama sekitar 3 jam. Jika tepat waktu, pengunjung langsung memilih penerbangan malam hari. Jika khawatir terlalu mepet, bisa memilih menginap satu malam di Padang dan terbang keesokan harinya.

Menarik? Ayo agendakan liburanmu menikmati keindahan seputar Singkarak. 

agendaIndonesia

*****

Kampung Wae Rebo Dihuni Generasi ke 18

Kampung Wae Rebo di Manggarai Nusa Tenggara Timur merupakan kampung adat yang masih mempertahankan adat istiadatnya.

Kampung Wae Rebo di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menjadi tujuan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Ia masih merupakan kampung adat dengan segala tata kramanya yang luhur.

Kampung Wae Rebo


Dari balik bukit adalah sebuah kampung dengan tujuh rumah kerucut, sebuah kampung kecil yang dikelilingi lembah hijau itu. Dari ke tujuh rumah yang ada, biasanya yang disinggahi adalah niang gendang maro. Ini salah satu rumah adat utama dari tujuh niang, sebutan untuk rumah adat berbentuk kerucut, yang digunakan khusus untuk menjamu tamu dari luar.

Bangunan setinggi 14 meter itu lebih tinggi daripada enam rumah lain dan diyakini sebagai tempat leluhur pertama yang datang dari Minangkabau. Bila ada pengunjung atau ada tamu dari luar kampung Wae Rebo, akan diadakan wae lu’u—upacara untuk untuk memohon izin kepada para leluhur karena menerima tamu dari luar.

Kampung Wae Rebu merupakan kampung adat yang kini dihuni oleh generasi ke 18 dan sudah berdisi selama 100 tahun lebih.
Niang gendang maro merupakan rumah terbesar dari ke tujuh rumah yang ada di kampung Wae Rebo. Foto: ash hayes-unsplash

Di ujung atap Niang Gendang Maro ditancapkan ngando, yang disimbolkan kepala kerbau—hewan yang dianggap terbesar. Penanda tersebut sekaligus merupakan pengesahan rumah adat dan kekuatan budaya rumah tersebut.

Enam niang lain adalah niang gena mandok, niang gena jekong, niang gena ndorom, niang gendang maro, niang gena pirong, dan niang gena jintam. Jumlah rumah adat tak boleh lebih dari tujuh. Setiap rumah dihuni 6-8 keluarga. Jika anggota keluarga bertambah dan dirasa perlu membangun rumah baru, maka rumah baru itu harus dibangun di luar kampung adat.

Bentuk rumah di kampung adat itu sangat khas. Pada bagian bawah atau ruangan dalam berbentuk bulat dan bagian atas mengerucut. Atap yang digunakan berasal dari daun lontar, mirip rumah adat honai di Papua. Keseluruhan dindingnya ditutup ijuk. Bahan bangunan mbaru niang terbuat dari kayu worok dan bambu serta dibangun tanpa paku. Tali rotan digunakan untuk mengikat konstruksi bangunan.

Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan kehidupan yang bulat, tidak diwarnai konflik, tetapi ketulusan, kebulatan hati, dan keadilan. Itu sebabnya, musyawarah di rumah adat mengambil posisi duduk melingkar.

Di bagian tengah, ada tiang utama yang disebut bongkok. Wujudnya dua batang kayu yang disambung. Inilah papa ngando dan ngando, yakni simbol perkawinan lelaki dan perempuan.

Rumah adat juga ditopang sembilan tiang utama. Ini menggambarkan kehidupan dari janin menjadi bayi selama sembilan bulan dalam rahim. Ada pula molang di bagian belakang rumah, yang terbagi dalam tiga bagian, yakni dapur, ruang aktivitas keluarga, dan bilik tidur keluarga.

Menurut kisah adat kampung tersebut, saat bayi lahir ia akan didekatkan ke periuk di dapur. Sebab nyala api di sana dapat menghangatkan tubuh bayi.

Kampung Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penduduk setempat meyakini bahwa kampung mereka dijaga oleh tujuh kekuatan alam.

Nenek moyang mereka disebut maro, yang diyakini berasal dari Minangkabau. Dari riwayat sejarah turun-temurun, sebelum menetap di kampung ini, leluhur mereka berpindah-pindah. Perpindahan itu antara lain di Wriloka, ujung barat Pulau Flores, kemudian ke Pa’ang, lalu bergeser ke daerah pegunungan Todo, lantas ke Popo.

Ada peristiwa yang menyebabkan warga Wae Rebo tidak berani menyakiti, apalagi memakan daging musang. Masyarakat menyebutnya kula.

Bagi masyarakat setempat, daging musang pantang (ireng) dimakan karena dianggap berjasa menyelamatkan moyang Wae Rebo. Konon ada suami-istri. Sang istri hamil tua, tapi tak kunjung melahirkan juga. Tujuh hari pun lewat dari waktunya, lalu diputuskan membelah perut sang ibu agar bayi selamat.

Bayi laki-laki itu selamat, tetapi sang ibu meninggal. Keluarga sang ibu yang berasal dari kampung lain tidak bisa menerima. Mereka kemudian menyerang Kampung Maro. Namun pada tengah malam itu muncul musang di rumah Maro. ”Maro pun berucap: kalau musang membawa berita baik harus tenang. Namun bila musang membawa kabar buruk, diminta mengeluarkan suara. Musang itu pun mengeluarkan suara dan menjadi penunjuk jalan ke tempat yang aman bagi Maro.”

Musang menuntun warga Maro menjauh dari Popo. Di tempat yang tinggi, mereka melihat kampungnya dibumihanguskan. Mereka berpindah-pindah, ke Liho, Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu.

Di Golo Pandu, Maro bermimpi bertemu roh leluhur yang menyebutkan mereka harus menetap di satu tempat dan tidak boleh pindah lagi. Letaknya tidak jauh dari Golo Pandu. Di sana terdapat sungai dan mata air. Itulah Wae Rebo.

Itulah tempat mereka. Dari tempat tersebut tampak kota dengan gemerlap cahaya. Masyarakat setempat meyakini bahwa daerah yang mereka tinggali itu dikelilingi tujuh kekuatan alam yang berperan sebagai penjaga kampung.

Tujuh titik itu adalah di Ponto Nao, Regang, Ulu Wae Rebo, Golo Ponto, Golo Mehe, Hembel, dan Polo. Mereka tidak boleh melupakan ritual adat agar warga tidak terkena bencana. Empo Maro mendirikan kampung Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, kini yang menghuninya generasi ke-18.

Kearifan penduduk Wae Rebo tecermin lewat cara mereka menjaga alam. Warga percaya bahwa tanah atau hutan memiliki perasaan. Karena itu, ada ritual yang harus dilakukan sebelum bercocok tanam: meminta izin kepada para penunggu lahan. Ritual adat itu antara lain kasawiang, yang biasanya digelar pada Mei, saat perubahan cuaca akibat pergerakan angin dari timur ke barat.

Sebaliknya, saat angin bergerak dari barat ke timur, diadakan ritual adat pada Oktober. Menginjak November, yang merupakan tahun baru adat, ditandai awal musim menanam.  Mereka akan melakukan upacara yang disebut penti.

Kampung Wae Rebo masyarakatnya percaya daerah mereka dikelilingi tujuh kekuatan alam.
Perempuan Wae Rebo sedang menenun kain. Foto: dok. shutterstock

Alam di kampung ini terpelihara dengan baik. Para pengunjung bisa ikut menyelami kedekatan warga dengan alam. Mencermati beberapa warga bekerja di kebun dari pagi, atau yang sibuk memanen kopi dan mengolah kacang. Bisa juga melihat  beberapa perempuan yang menenun songket tradisional.

Masyarakat Wae Rebo percaya neka hemong kuni agu kalo, yang berarti di sini semua berawal dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo. Tak mengherankan, jika pada 2012, UNESCO Asia-Pasifik menobatkan Wae Rebo sebagai konservasi warisan budaya.

agendaIndonesia/TL/Fran

*****

Alat Musik Sasando, 1 Alat Berbagai Dawai

Alat musik sasando berasal dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur.

Alat musik sasando adalah instrumen asli Nusantara. Ia tepatnya adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando merupakan alat musik berdawai yang dimainkannya dengan cara dipetik menggunakan jari.
Dari segi bentuk, sasando sudah bisa menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Karena, alat musik petik ini terbuat dari daun lontar yang melengkung, berbentuk setengah lingkaran.

Alat Musik Sasando

Sasando memiliki bentuk yang unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya. Pada bagian utama Sasando berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai.


Pada bagian tengah bambu biasanya diberi senda atau penyangga, di mana dawai direntangkan. Senda sendiri berfungsi untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda setiap petikan dawai. Sedangkan wadah berfungsi untuk resonansi yang berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.


Dari segi suara, resonansi yang dihasilkan daun lontar menghasilkan suara yang khas, dan tidak bisa ditemukan pada alat musik lainnya. Petikan sasando menghasilkan suara yang sangat indah, romantis dan sangat khas. Tak heran kalau keunikan bentuk, bahan, dan melodi dari sasando berhasil menarik perhatian banyak wisatawan yang berkunjung ke NTT.

Bermain Sasando shutterstock
Seorang anak sedang belajar memetik sasando. Foto: dok. shutterstock

Dalam beberapa kesempatan kenegaraan, sasando ikut meramaikan kegiatan. Misalnya pada acara KTT ASEAN di Labuan Bajo. Sebelum gelaran acara tersebut, sasando pun telah mendunia karena pernah tampil dalam salah satu side event G20 di Labuan Bajo 2022 lalu.

Pada acara G20 itu, sasando ditampilkan pada ajang Spouse Program yang dihadiri 19 anggota G20, enam negara undangan, dan sembilan organisasi internasional. Alat musik sasando inipun menjadi cendera mata yang diberikan oleh Ibu Iriana Joko Widodo kepada Ibu Negara Tiongkok, Madam Peng Liyuan.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, popularitas sasando di dunia juga pernah dipresentasikan oleh sosok bernama Djitron Pah. Ia  mengenalkan alat musik sasando ke dunia lewat ajang Asia’s Got Talent pada 2015.

Melalui ajang pencarian bakat tersebut, Djitron Pah berhasil membawa sasando mendunia melalui rangkaian tur ke Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, Italia, Finlandia, Jerman, hingga Taiwan. Melihat dari berbagai aspek, memang sangatlah layak jika sasando mendunia.

Namun, dari mana sesungguhnya alat musik sasando lahir? Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Sasando bermula dari kisah Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta terhadap putrinya, sang raja memberikan syarat kepada Sangguana untuk membuat alat musik yang berbeda dari musik lainnya.

Sangguana pun bermimpi, dalam mimpi tersebut ia memainkan alat musik yang berbentuk indah dan memiliki suara yang merdu. Kemudian ia membuat Sasando dan diberikan kepada sang raja. Sang raja lalu mengizinkan Sangguana, menikahkaan putrinya dengan Sangguana.
Sasando sendiri berasal dari bahasa Rote, yaitu Sasandu yang berarti bergetar atau berbunyi. Sasando sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian syair,tarian tradisional dan menghibur keluarga yang berduka.

Orang NTT Memainkan Sasando shutterstock
Pemetik tradisional alat musik sasando. Foto: shutterstock


Jika kita mengulik lebih dalam tentang alat musik sasando khas NTT ini, ternyata ada banyak jenisnya. Setidaknya ada tiga jenis sasando yang populer, yaitu sasando gong, sasando biola, dan sasando elektrik.

Pertama, sasando gong khas Pulau Rote, yang merupakan sasando autentik dengan 12 dawai dari tali senar nilon sehingga ketika dipetik akan menghasilkan suara mengalun, lembut, dan merdu. Alat musik sasando jenis ini kerap dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional masyarakat Rote.

Ke dua, jenis sasando biola. Kabarnya, sasando biola mulai berkembang di Kupang pada akhir abad ke-18. Alat musik petik ini merupakan hasil modifikasi dari Edu Pah, pakar pemain sasando. Bedanya dengan sasando gong, sasando biola bentuknya yang lebih besar dan memiliki 48 buah dawai. 

Karena dimodifikasi agar menyerupai biola, sasando jenis ini bisa menghasilkan suara halus dan merdu seperti biola. Biasanya sasando biola dimainkan untuk mengiringi lagu pada tarian tradisional masyarakat NTT.

Mengikuti perkembangan teknologi, kini ada pula jenis sasando elektrik. Alat musik ini pertama kali diciptakan oleh Arnoldus Edon pada 1960-an. Alasannya karena sasando tradisional hanya bisa didengarkan pada jarak dekat saja, sehingga perangkat elektronik ditambahkan agar suaranya bisa didengar lebih jauh.

Umumnya, sasando elektrik terdiri dari 30 dawai. Badan sasando tetap menggunakan daun lontar untuk mempertahankan bentuk aslinya. Perbedaan sasando elektrik terdapat pada spul atau transduser yang mengubah getaran dawai menjadi energi listrik, yang kemudian masuk ke dalam amplifier untuk menghasilkan suara yang lebih kencang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Dodol Picnic, 70 Tahun Oleh-oleh Dari Garut

Dodol Picnic sebagai salah satu merek dodol Garut yang terdepan dan menjadi ikon oleh-oleh Garus.

Dodol Picnic pasti bukan nama yang asing buat orang Indonesia. Ini terutama untuk mereka yang senang melakukan perjalanan lewat jalur darat. Baik dengan menggunakan bis antarkota dan, terutama, menumpang kereta api di pulau Jawa.

Dodol Picnic

Orang suka menyebut dodol Garut merek Picnic atau Dodol Picnic dari Garut untuk menyebut penganan yang satu ini. Ia boleh dikata salah satu legenda buah tangan dari mereka yang melakukan perjalanan, boleh dikata ia sama popularnya dengan wingko Babat. Cuma yang terakhir ini tak menyebut merek.

Dodol garut merupakan salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat yang sangat terkenal. Makanan ini biasanya memiliki bentuk memanjang atau bulat dengan tekstur yang lembut dan rasa yang manis. Dodol garut biasanya disajikan sebagai camilan di daerah Jawa Barat, terutama sekitar Garut, Tasik, dan Bandung.

Industri dodol Garut mulai berkembang semenjak 1926. Adalah Ibu Karsinah, tokoh di balik berkembangnya popularitas dodol ini. Ia merupakan pengusaha yang memulai usaha dodol tersebut pertama kalinya.

Penganan ini bahan bakunya terbuat dari santan, tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Untuk membuat dodol Garut biasanya pemasaknya mencampur tepung ketan, parutan kelapa, santan, dan gula merah serta sedikit garam lalu dipanaskan. Setelah mengental, tambahkan gula pasir, dan kembali rebus hingga adonan benar-benar kental.

Adonan yang kental ini kemudian dituang ke dalam loyang yang sudah diberi minyak goreng. Proses pemasakannya praktis sudah selesai sampai di sini. Tinggal menunggu hingga adonan mengeras.

Jika awalnya dodol Garut hanya memiliki satu rasa, manis gula jawa yang bercampur dengan santan. Dalam perkembangannya, saat ini sudah terdapat dodol dengan berbagai varian rasa, seperti coklat, strawberi, jambu, durian, dan rasa lainnya. Soal rasa coklat, kini ada juga salah satu produsen dodol yang memadukan coklat dan dodol untuk dijadikan oleh-oleh khas dari kota tersebut yang biasa disebut ‘chocodot’ atau cokelat dodol.

Lalu kenapa dodol Garut ini nyaris identik dengan Dodol Picnic? Setelah lama dodol yang memiliki cita rasa yang khas dan digemari masyarakat luas, adalah H. Iton Damiri yang pada 1949 merintis pembuatan usaha dodol Garut. Pada waktu itu perusahaannya masih berskala rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja sebanyak lima orang dan daerah pemasarannya masih terbatas di sekitar kota Garut saja dan ia masih menggunakan merek yang “Halimah”.

Dodol Picnic adalah perjalanan panjang mengenalkan penganan lokal menjadi oleh-oleh yang khas.
Pendiri Dodol Picnic. Foto: DOk. Dodol Picnic

Dalam perjalanannya, perusahaan dodol ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk mengantisipasi perkembangan dan untuk makin mendorong kemajuan, pada 1957 Haji Iton mengajak adiknya, Aam MAwardi, bergabung mengelola usaha ini. Pada tahun itu, nama perusahaan pun berubah, mereka menggunakan nama ‘Herlinah’, yang diambil dari salah satu nama anggota keluarga.

Kemajuan bukan sesuatu yang mudah. Di 10 tahun pertama itu, dodol Garut bikinan Herlinah masih cukup sulit menembus pasar. Pertama karena masih dianggap makanan lokal, di mana banyak warga Garut yang juga membuatnya. Dan, ke dua, pemasarannya masih lokal saja.

Pada masa-masa itu, produk ini bahkan sulit untuk menembut toko-toko panganan yang ada di Garut. Dari sana kemudian muncul ide untuk menjual dodol mereka ke salah satu pasar ternama di kota Bandung. Toko itu berada di daerah Pasir Koja, bernama Toko Picnic yang memang merupakan toko penjual makanan terbesar di kota kembang pada masanya. Setelah menimbang soal pemberian nama, maka dijuallah dodol mereka dengan nama Dodol Picnic.

Dari kota Bandung inilah dodol Picnic menyebar ke seluruh Indonesia, yakni dari mereka yang ingin membawa buah tangan khas. Seperti disebut di muka, seperti wingko Babat yang menjadi viral karena ditenteng orang saat naik kereta api, bus antarkota, bahkan pesawat terbang. Hingga saat ini ia sudah terkenal hingga mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, atau Brunei Darusalam.

Dodol Picnic adalah ikon buah tangan khas Indnoesia yang sudah melewati tantangan zaman.
Pada masanya, bahkan kemasan dan mereknya ditiru kompetitor. Foto: Dok. Dodol Picnic

Zaman terus berkembang, kian lama semakin banyak buah tangan dari kota-kota besar di Indonesia. Pilihan makin banyak, namun dodol Picnic tetap menjadi salah satu ikon buah tangan. Pada masanya, bahkan banyak produk dodol Garut yang meniri kemasan merek ini.

Nah, jika Anda sedang berwisata ke Garut, jangan lupa untuk membeli makanan ini sebagai buah tangan atau disimpan sebagai camilan di rumah. Untuk mendapatkannya sangatlah mudah. Anda bisa menjumpai toko-toko atau warung yang menjual dodol garut di sepanjang jalan kota di Jawa Barat ini, terutama di jalan-jalan dekat pintu gerbang dari Garut menuju daerah lain sekitarnya.

agendaIndonesia

*****

2 Hari Menikmati Merapi Dari Kaliurang

Gunung Merapi shutterstock

2 hari menikmati Merapi dari Kaliurang, Yogyakarta. Cuaca sejuk, obyek wisata yang beragam, dan camilannya memicu wisatawan ingin kembali.

Gunung Merapi, Yogyakarta, selalu memberikan kesan magis yang bikin tamunya rindu. Tampaknya seperti kekuatan alam besar yang muncul tanpa wujud. Bagi yang sudah pernah datang, mereka akan jatuh cinta. Entah terpikat dengan cuaca yang sejuk, penduduk yang ramah, atau lokasi wisata yang bervariasi. Berakhir pekan di seputar Kaliurang pun bisa memupus kangen.

2 Hari Menikmati Merapi

Hari Pertama

Taman Gardu Pandang Kaliurang

Dengan berkendara 60 menit dari titik nol kilometer, tempat untuk “mengintai” Merapi ini sudah bisa dijangkau. Lanskap utamanya ialah Bukit Turgo, yang berdiri gagah di muka Sang Pasak Bumi. Beberapa langkah dari gerbang masuk, ada sebuah bangunan berpola lingkaran dengan atap membentuk payung. Di sana, pengunjung otomatis bakal mengenang erupsi besar yang terjadi pada 2010. Abu vulkanik di patera pepohonan sudah bertolak diri, tapi aromanya tetap lekat. Setelah erupsi, taman sekaligus gardu pandang ini hancur. Wahana-wahana bermain yang berkarat karena panas, kini telah kembali dipoles sehingga siap menjadi tempat wisata lagi. Tiket masuknya hanya Rp 2.000 per orang dewasa dan Rp 1.000 per anak.

Air Terjun Tlogo Muncar

Berkendara 5 menit dari Gardu Pandang Kaliurang, ada Taman Nasional Kaliurang dengan sejumlah daya tarik. Salah satunya Air Terjun Tlogo Muncar. Lokasinya satu lingkup dengan Terminal Tlogo Putri. Untuk menuju titik gerojokan, pengunjung perlu melewati jalan kecil membelah hutan. Kanan-kiri, beragam pohon besar menyejukkan pandangan. Bertemu dengan puluhan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Setelah berjalan lebih-kurang 300 meter, suara gemericik air akan terdengar. Mendongakkan kepala sedikit ke ujung jalan, air terjun setinggi lebih-kurang 40 meter sudah dapat dipandang. Sayangnya, kala Travelounge bertandang, debit airnya tak besar. Memang, sejak erupsi, air yang mengalir tak selaju dulu.

Jalur ke Puncak Pronojiwo
Jalur ke Puncak Pronojiwo saat 2 hari menikmati Merapi. Dok TL

Puncak Pronojiwo

Prono berarti terpesona, sedangkan jiwo adalah jiwa. Itu artinya, jiwa orang akan terpana ketika sampai di puncak ini karena melihat pemandangan alam yang indah dari ketinggian 1.040 mdpl. Lokasinya masih di kawasan Taman Nasional Kaliurang. Hanya, untuk menjangkau puncak itu, turis harus trekking melewati hutan dengan jalur menanjak. Di sepanjang jalan menuju puncak, selain bakal menjumpai monyet ekor panjang, pengunjung akan menemukan burung sepah gunung (Pericrocotus miniatus). Suaranya lantang dan menebalkan kesan alam.

Warung Ijo

Di tengah perjalanan dari Gardu Pandang Kaliurang menuju Terminal Tlogo Putri, tepatnya di Jalan Pramuka Nomor 58, ada sebuah warung yang berdiri pada 2013. Lebih terlihat seperti galeri ketimbang tempat makan. Meja dan kursinya terbuat dari batu besar yang dipangkas. “Batu ini bekas erupsi Merapi 2010,” tutur Supardi, si pemilik warung. Ada juga kerajinan tangan berupa tas rotan dan sepatu lukis yang dibikin Supardi sekeluarga. Namun menu yang ditawarkan biasa saja, seperti roti bakar dan nasi goreng. Yang bikin betah memang atmosfer seni bercampur alam. Sambil makan, tamu bisa menikmati pemandangan hutan pakis. Harga menu antara Rp 4.000 hingga Rp 16.500.

Taman Lampion

Sejak 2015, setiap akhir tahun tiba, PT Taman Pelangi menghadirkan ratusan lampion di lereng Merapi. Lokasinya satu kompleks dengan gardu pandang. Lahan seluas 3 hektare itu disulap menjadi wahana lampu yang memukau dengan bentuk yang berlainan. Ada yang menyerupai ular naga, istana boneka, candi, bunga-bunga, juga tokoh-tokoh kartun. Tak heran kalau 4.900 pengunjung datang tiap hari. Festival taman lampion hadir sepanjang Desember hingga Februari setiap hari, dari pukul 17.00 sampai 22.00. Harga tiket Rp 15 ribu pada Senin-Kamis dan Rp 20 ribu pada Jumat-Minggu.

Wedang Ronde Taman Kaliurang

Malam tiba, suhu makin turun. Untuk menghangatkan tubuh, cobalah menepi sejenak ke Taman Kaliurang. Di sepanjang jalan di muka lokasi wisata itu, banyak penjual yang menjajakan wedang ronde istimewa. Mereka mulai menjajarkan gerobaknya pukul 19.00 hingga dinihari.

Rasanya nikmat karena disantap di dataran tinggi dengan suhu di bawah 15 derajat.

Hari kedua

Museum Ullen Sentalu

Museum yang “bersembunyi” di pusar Kaliurang ini memiliki bangunan yang menonjolkan unsur seni bernilai tinggi. Gedungnya serupa kastel dengan pagar menjulang jangkung. Akar-akar pepohonan dibiarkan tumbuh liar di dinding, menorehkan kesan heritage’s class version.

Koleksi berupa kebudayaan Jawa lengkap, dari silsilah sampai kesusastraannya, bikin bulu roma berdiri karena teramat membuka jendela pengetahuan. Terdapat juga kampung kambang, yakni rumah di atas kolam, dengan ruang-ruang yang menyimpan beragam koleksi batik tulis dari Yogyakarta dan Surakarta dengan rentang usia 30-80 tahun. Setengah perjalanan, pemandu bakal mengajak pengunjung menikmati wedang ratumas, minuman racikan kerajaan. Tur Ullen Sentalu berlangsung 50 menit. Sayangnya, pengunjung tak diperkenankan mengambil foto di dalam museum.

Museum Gunung Merapi

Dari Ullen Sentalu, museum ini bisa dijangkau dengan berkendara sekitar 15 menit. Lokasinya di Jalan Boyong, Dusun Banteng. Sejak berdiri pada 2009, Museum Gunung Merapi tak pernah sepi pengunjung. Keberadaannya memang tepat sebagai lokasi wisata edukasi lantaran menyajikan informasi mengenai gunung-gunung api di Indonesia secara lengkap. Selain itu, dipaparkan penjelasan khusus tentang Gunung Merapi, termasuk erupsi yang terjadi dari masa ke masa.

Jadah Tempe Mbah Carik

Bertandang ke lereng Merapi, Pakem, juga sekitarnya, rugi rasanya kalau tidak mencicipi dua sejoli jadah dan tempe masakan Mbah Carik. Sejak 1950, warung di simpang lima patung Kaliurang itu melegenda. Jadahnya yang gurih dan legit cocok dipadu dengan tempe bacem. Rasa dan aromanya istimewa, karena dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Cara makannya bak melahap burger. Jadah menjadi roti, sedangkan tempe selayaknya patty. Penganan tradisional ini disajikan bersama wedang teh Poci nasgitel atau panas, legi, kentel. Enak juga disandingkan dengan wajik yang manis dan legit. Seporsi jadah-tempe dihargai Rp 20 ribu (berisi 10 jadah dan 10 tempe). Warung ini buka pukul 07.00-18.00.

Slondok Renteng Pak Mul

Saatnya berburu buah tangan, dan bila mencari yang autentik, Slondok Renteng Pak Mul adalah pilihan tepat. Slondok dirangkai menggunakan bambu yang disayat tipis. Kebiasaan itu diadopsi Pak Mul mulai 1965 hingga generasi ketiganya sekarang. Sebungkus slondok berisi 30 rangkai dihargai Rp 13 ribu. Wisatawan bisa berkunjung langsung ke rumah produksinya, yakni di Boyong RT 01 RW 10, Hargobinangun. Bila hari libur, jangan berkunjung setelah makan siang karena sudah ludes diburu.

F. Rosana/TL

Tenun Sekomandi, Persaudaraan 480 Tahun

Tenun sekomandi berusia sekitar 480 tahun, ternasuk tenun tertua di dunia.

Tenun sekomandi adalah warisan leluhur masyarakat Kalumpang-Mamuju di Sulawesi Barat. Tenun ini  dipercayai sebagai salah satu tenun tertua di dunia dengan rentang usia lebih dari 480 tahun.

Tenun Sekomandi

Nama tenun ini terdiri dari dua kata, yaitu “seko” yang artinya persaudaraan atau kekeluargaan, serta “mandi” yang artinya kuat atau erat. Secara garis besar, tenun sekomandi bermakna ikatan persaudaraan yang kuat. Setiap corak dan warna benang dari tenun sekomandi mengandung makna spiritual. 


Meski sudah berusia ratusan tahun, masih cukup banyak masyarakat yang belum mengenalnya. Padahal, tempat perajin kain tenun sekomandi di Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Di sana, para pelancong dapat menyaksikan langsung proses pewarnaan dan pemintalan benang yang kemudian dijalin menjadi kain tenun sekomandi.

Sesungguhnya ada tiga jenis kain tenun yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Barat. Ke tiganya masing-masing adalah kain tenun sekomandi yang merupakan warisan masyarakat Kalumpang, Kabupaten Mamuju. Kemudian ada kain tenun Sutera Suku Mandar, dan ke tiga adalah kain tenun Sambu (sarung) dari Kabupaten Mamasa. Ketiganya cukup popular, namun memang masih jarang yang membahas tenun ini.

Tenun sekomandi dari masa ke masa memiliki 11 macam motif.  Namun, motif tenun Mamuju ini yang paling popular ialah motif Ulu Karua. Ada pula motif Baba Deata, atau motif Ulu karua lepo, dan motif lelen sepu.

Motif Ulu Karua bermakna delapan ketua adat atau delapan pemangku adat. Menurut sejarah atau mitosnya, penamaan “Ulu Kalua” berasal dari sejak zaman dahulu, saat nenek moyang mereka pergi berburu dengan anjingnya, lalu masuk ke dalam gua. Ketika keluar gua, anjing itu menggigit daun bermotif. Itulah asal mula motif pertama tenun sekomandi, Ulu Karua.

Proses pembuatannya pun cukup unik. Tenun ini berasal dari kulit kayu yang diproses dengan cara ditumbuk, lalu diolah untuk dipintal. Selanjutnya, bahan tersebut diberi pewarna alami, seperti tanaman cabai yang terlebih dahulu diracik kemudian dicampurkan dengan pewarna lainnya untuk memperindah kain tenun masyarakat Mamuju ini.

Tenun Sukomandi sudah berusia sekitar 480 tahun dan merupakan salah satu tenun tertua di dunia.
Tenun ikat Sukomandi khas Mamuju, Sulawesi Barat. Foto: Dok. Kemanparekraf

Selanjutnya, proses pembuatan kain sekomandi dimulai dengan pemintalan benang yang berasal dari biji pohon kapas yang kadang juga menggunakan kapuk. Benang-benang yang sudah terpintal tersebut kemudian diberi warna sesuai pesanan. Dahulu pemberian warna pada benang sekomandi menggunakan pewarna alami yang berasal dari alam.

Untuk warnanya sendiri, kain tenun Sekomandi didominasi oleh warna coklat, merah dan krem, dengan warna dasar hitam. Pembuatan sehelai kain tenun Sekomandi bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Tenun ikat Sekomandi diperkirakan mulai diproduksi oleh masyarakat adat di wilayah kalumpang yang kini tersebar di kecamatan Bonehau dan Kecamatan Kalumpang Kabupaten Mamuju. Sekomandi oleh masyarakatnya dahulu dipakai untuk acara adat seperti ritual, pesta pernikahan, alat tukar/barter, seserahan mempelai pengantin dan lain sebagainya.

Seiring dengan perkembangan zaman, kain tenun ini kemudian dibuat ke dalam berbagai model fashion, salah satunya jaket bomber yang akan dipakai Menparekraf Sandiaga dalam acara Manakarra Fair 2022 Kamis malam, 14 Juli 2022. Ini adalah berkat inovasi dan kolaborasi yang dilakukan oleh para perajin di Rumah Tenun Sekomandi. Dengan demikian penghasilan para penenun bisa lebih meningkat.

Harga kain tenun sekomandi saat ini semakin tinggi seiring dengan meningkatnya minat masyarakat. Kain tenun sekomandi dengan motif sambo tanete, misalnya, untuk yang ujuran panjang 12 meter bisa dihargai hingga Rp 12 juta.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno berharap dengan bantuan semua pihak, termasuk perbankan dan Kemenparekraf, masyarakat bisa memasukkan Rumah Tenun Ikat Sekomandi ini dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. “Jadi nanti ke depan baju hari Kamis-nya Pak Gubernur ini mungkin diselipkan ada ornamen Sekomandi. Ini sebagai bagian dari penghargaan kita kepada produk produk tenun lokal kita,” kata Menparekraf Sandiaga.

Buat para pecinta kain tenun tentu bisa langsung datang ke tempat pembuatan kain tenun ini di Kalumpang. Desa itu merupakan salah satu pusat tenun Sekomandi khas Mamuju. Bagi Wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat tersebut, dapat menempuh perjalanan sekitar 12 Km dari pusat Kota Mamuju, dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

agendaIndonesia

*****

Kapal Phinisi Komodo, Asyik 3 Hari 2 Malam

Kapal phinisi komodo, liburan menikmati Labuan Bajo dengan kapal pribadi.

Kapal phinisi Komodo atau orang juga suka menyebutnya kapal Phinisi Labuan Bajo dua tahun terakhir semakin popular untuk menikmati tur di kawasan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Pilihan tripnya bisa disesuaikan keinginan wisatawan.

Kapal Phinisi Komodo

Ada sejumlah operator kapal phinisi Komodo yang umumnya kesemuanya bisa dikontak di Labuan Bajo. Bisa juga menghubungi melalui tur operator, baik di Labuan Bajo atau di Denpasar.

Kapal phinisi Komodo ini adalah pelayaran pribadi, jadi perjalanan dilakukan dengan cara mencarter satu kapal untuk satu grup pelancong. Kapalnya mulai dari yang berkapasitas enam orang, hingga yang bisa dipakai untuk 40 orang. Tentu harganya bervariasi.

Kapal yang untuk enam orang, misalnya, tarif untuk carter dua hari satu malam mulai dari Rp 12 juta. Sementara untuk yang berkapasitas 40 orang atau biasa disebut 40 pax, harganya mulai dari Rp 90 jutaan. Tapi itu bukan harga yang termahal, sebab ada juga yang tarifnya Rp 90 juta untuk 10 pax.

Kapal Phinisi Komodo bisa dipilih jika ingin mengunjungi kawasan Labuan Bajo

Perbedaan harga tersebut bukan sekadar jumlah kapasitas kapalnya, namun juga terkait jumlah kamar di dalam kapal, kemewahan interior, jenis fasilitas dan menu makan yang dipesan. Juga aktifitas yang dilakukan selama tur.

Jadi tarif tersebut termasuk, kapal Live on Board selama paket waktu yang dipesan dengan kapal Phinisi, kamar termasuk kamar mandi di dalam kamar, makan selama perjalanan, welcome drink, snack sore, air mineral, teh dan kopi. Termasuk pula pemandu wisata, life jacket, asuransi, alat snorkeling, penjemputan di bandara atau hotel. Yang asyik, termasuk dokementasi penuh sepanjang tur, foto dan aerial video (drone).

Perjalanan dengan kapal phinisi komodo ini wisatawan berkesempatan menjelajahi keindahan Labuan Bajo dengan mengunjungi 12 destinasi wisata di sepanjang perjalanan. Snorkeling sambil menjelajahi ekosistem laut yang indah seperti Manta Ray.

Atau trekking mengelilingi bukit-bukit asri sambil ditemani hewan endemik warisan dunia, Komodo. Mengunjungi berbagai destinasi pantai dengan keindahan yang unik, seperti Pink Beach.

Tak kalah menariknya adalah mengamati sunrise dan sunset di atas geladak kapal sambil menikmati hidangan lokal yang ditemani keindahan pantai. Dan yang pasti menikmati indahnya panorama eksklusif sepanjang perjalanan di kapal Phinisi.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan sepanjang liburan dengan kapal phinisi Komodo tersebut. Berikut agendaIndonesia pilihkan tur tiga hari dua malam.

HARI PERTAMA

Meeting Point di bandara atau hotel di Labuan Bajo. Biasanya sekitar jam 9 pagi setelah sarapan. Rutenya hari pertama itu adalah Labuan Bajo–Manjarite–Pulau Kelor-Pulau Kalong.

Kapal Phinisi Pelita Arunika Pelni
Kapal phinisi Pelita Arunika milik Pelni ikut berlayar di kawasan Labuan Bajo. Foto: dok Pelni

Dari dermaga perjalanan dimulai menuju Pulau Kelor. Di pulai ini aktifitas yang dilakukan adalah trekking ke puncak bukit dan menikmati pemandangan dari puncak bukit.

Dari Pulau Kelor perjalanan dilanjutkan menuju Manjarite untuk snorkeling menikmati pemandangan bawah laut dan terumbu karang. Dari Manjarite perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kalong untuk menikmati sunset dengan view jutaan kelelawar yang terbang menutupi langit. Makan malam lalu istirahat.

HARI KE DUA 

Setelah sarapan pagi yang asyik dengan pemandangan laut, perjalanan hari ke dua dimulai ke Pulau Padar. Dari sana dilanjutkan menuju ke Pulau Komodo untuk bertemu dengan komodo, trekking sesuai dengan pilihan rute.

Puas kangen-kangenan dengan komodo, dilanjutkan  menuju Pink Beach untuk foto-foto dan bersnorkeling ria di pantai cantik ini. Sebelum malam singgah di Manta Point untuk bertemu dengan ikan pari manta yang besar. Setelah itu makan malam dan istirahat atau santai di kapal.

Kapal phinisi komodo bisa hop in-hop off, salah satunya ke Pulau Kenawa
Pulau Kenawa. Foto: shutterstock

HARI KE TIGA

Setelah sarapan ur dilanjutkan langsung menuju Taka Makassar, dan foto-foto di pulau pasir kecil di tengah laut ini. Puas foto-foto, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kenawa untuk snorkeling dan menikmati keindahan pulau yang memiliki satu resort ini.

Setelah puas bermain air dan foto-foto di Pulau Kanawa kita siap untuk kembali ke Labuan Bajo. Jika waktu masih memungkinkan kita bisa singgah di Pulau Bidadari untuk santai di pantai dan snorkeling lagi.

Tiba di Labuan Bajo petugas akan mengantarkan tamunya menuju bandara atau hotel tempat menginap masing-masing.

Seluruh pejalanan dengan kapal phinisi Komodo adalah pelayaran pribadi , sehingga bisa saja wisatawan mengajukan opsi lain untuk mengunjungi seluruh destinasi wisata di Labuan Bajo. Semua bisa dilakukan sesuai keinginan perjalanan pelancong.

Bisa saja ada hari yang sepenuhnya berada di Taman Nasional Komodo. Terkenal sebagai warisan dunia, Taman Nasional Komodo menjadi daya tarik yang tidak boleh terlewatkan jika wisatawan berada di kawasan Labuan Bajo.

Wisata dengan kapal phinisi komodo umumnya bersifat  fleksibel sehingga wisatawan dapat menyesuaikan waktu, durasi trip, anggaran, jenis kapal phinisi, jumlah peserta, dan destinasi wisata sesuai keinginan.

agendaIndonesia

*****

4 Acara Malam Seru di Yogyakarta

Kunjungan wisatawan ke Yogyakarta salah satunya ke Pasar Malam Yogyakarta turun sepanjang pelaksanaan PPKM.

4 acara malam seru di Yogyakarta, selain nongkrong di angkringan, atau menikmati Malioboro dengan ribuan dagangan asongan, ini bisa jadi alternatif saat harus menghabiskan malam-malam di kota ini.

4 Acara Malam Seru di Yogyakarta

Namun, keseruan malam di Kota Pelajar itu tak habis di sana. Bila Anda sedang liburan di Jogja dan mencari keasyikan di petang hari selain nongkrong di angkringan, empat aktivitas ini bisa dijajal dilakukan.

Titik 0 Yogyakarta naufal hilmiaji unsplash
Wisata Yogyakarta pada malam hari.

Photo by Naufal Hilmiaji on Unsplash

Menyaksikan Milkyway Sambil Berkemah

Milkyway atau Bima Sakti bisa disaksikan dengan jelas di tempat yang gelap tanpa lampu. Salah satu lokasinya adalah di pantai. Anda bisa menikmati milkyway di pantai selatan Yogyakarta sambil berkemah bersama kerabat. Pantai yang seru untuk menggelar tenda adalah Pantai Pok Tunggal di Kabupaten Gunungkidul.

Waktu tempuhnya 2 jam dari Kota Yogyakarta dengan berkendara. Di sana tersedia penyewaan tenda dengan tarif berkisar Rp 50 ribuan untuk kapasitas empat orang.

Menikmati Lampu Taman Pelangi

Taman Pelangi di kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali), Jalan Ring Road Utara, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, bisa menjadi salah satu alternatif menikmati malam yang berbeda di Jogja. Apalagi, taman tersebut buka sampai malam, yakni mulai pukul 16.30 hingga 23.00.

Ada sekitar seratusan lampion dengan beragam jenis bisa menjadi latar berfoto. Di antaranya menggambarkan karakter tooh-tokoh kartun dan bebungaan. Harga tiket masuk untuk semua wisatawan, baik mancanegara maupun domestik, ialah Rp 20 ribu.

Wedang Ronde di Alun-alun Kidul

Alun-alun Kidul menjadi salah satu tempat pelancongan favorit kala malam hari di Jogja. Selain bisa mengayuh sepeda warna-warni yang sudah populer itu, kegiatan yang menyenangkan ialah menyeruput wedang ronde.

Sejumlah penjaja wedang ronde dapat dengan mudah dijumpai di kawasan Alkid—singkatan Alun-alun Kidul. Di tepi lapangan, bila petang, pedagang sudah bersiap menggelar lapak kaki lima di sana. Harga wedang ronde pun bermacam-macam. Rata-rata berkisar Rp 10 ribu.

Antre di Dapur Gudeg Pawon

Kuliner gudeg tengah malam memang sudah menjadi budaya yang melekat di Jogja. Salah satu yang banyak diburu ialah gudeg Jogja. Anda dapat menikmati makan nasi gudeg langsung di pawon atau dapur pemilik warung.

Gudeg Pawon beralamat di Jalan Janturan Nomor 36, Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta. Warung sederhana ini buka mulai pukul 22.00 hingga dinihari. Bila enggan mengantre, sebaiknya Anda datang lebih awal. Sebab, menjelang tengah malam, pengunjung biasanya akan membeludak.

F. ROSANA

Amplang Samarinda, Kriuk Sejak 1970

Amplang Samarinda menjadi oleh-oleh khas dari ibukota Kalimantan Timur.

Amplang Samarinda menjadi oleh-oleh wajib jika ada kerabat atau kawan yang habis liburan dari Samarinda atau Balikpapan, Kalimantan Timur. Meskipun kini amplang atau kadang juga disebut sebagai kuku macan bisa diperoleh di mana saja, namun buatan Samarinda tetap istimewa.

Amplang Samarinda

Amplang sendiri sebenarnya adalah makanan ringan tradisional yang juga dapat disamakan dengan kue kering ataupun juga sejenis kerupuk. Bisa pula disamakan dengan jenis cracker tradisional lainnya seperti rengginang.

Sejatinya, amplang Samarinda adalah makanan yang terbuat dari campuran tepung tapioka, bumbu rempah, dan ikan air tawar sebagai bahan utamanya. Disebut amplang Samarinda karena awalnya makanan ini memang merupakan makanan khas yang berasal dari Samarinda, dan juga Balikpapan, Kalimantan Timur.

akargurita 8 FzCty5W3U unsplash 2
Jembatan Mahakam di Samarinda. Foto: unsplash

Bahan utama amplang Samarinda yang juga biasa populer disebut sebagai kerupuk kuku macan ini adalah ikan tenggiri. Ikan ini merupakan ikan khas yang hidup di perairan sungai Mahakam ataupun juga sungai Karang Mumus di Samarinda.

Jenis ikan yang dianggap terbaik untuk bahan amplang Samarida adalah ikan belida atau dalam bahasa lokal disebut sebagai ikan pipih, karena rasa gurihnya yang lebih enak dan tekstur daging yang lembut saat dihaluskan. Rasa amplang yang gurih dan bertekstur renyah itu Ini merupakan perpaduan rasa dari ikan dan rempah-rempah pilihan tadi.

Secara tradisi, sebenarnya amplang Samarinda memang dibuat menggunakan bahan utama ikan pipih atau ikan belida, namun karena jenis ikan tersebut sudah semakin jarang. Untuk mengatasinya maka bahan ikan tersebut diganti menjadi ikan tenggiri atau juga bisa ikan gabus atau dalam bahasa lokal disebut ikan haruan.

Tidak ada informasi yang cukup sahih kapan amplang Samarinda ini mulai diproduksi oleh masyarakat setempat. Tidak ada pula catatan mengenai siapa pembuat awalnya.

Begitupun, menurut berbagai sumber referensi, secara historinya, amplang memang lebih kuat sejarahnya berasal dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Ini terkait dengan bahan utama ikannya tadi. Sementara soal waktunya, dari mulut ke mulut amplang ini sudah dibuat dan sudah ada sejak tahun 1970-an.

Amplang Samarinda aslinya menggunakan ikan pipih atau belida.

Sejak tahun 70-an itu, masyarakat setempat hanya mengetahui saat itu amplang telah menjadi usaha industri rumahan yang sudah berkembang. Usaha produksi amplang ini kemudian diwarisi secara turun-temurun hingga hari ini.

Saat ini, amplang atau kuku macan sudah diproduksi di banyak daerah. Setelah menjadi terkenal dan popular sebagai oleh-oleh khas  Samarinda, produksi pembuatan amplang semakin menyebar hingga ke beberapa daerah.

Di pula Kalimantan sendiri makanan ini gampang ditemui di Balikpapan, Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Pontianak di Kalimantan Barat, bahkan bisa ditemui sebagai oleh-oleh dari Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah.

Meski rasanya agak berbeda, kuku macan atau amplang juga bisa ditemui di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Juga karena secara geografis masih satu pulau, amplang sampai pula ke negara tetangga, yaitu Sabah dan Sarawak di Malaysia.

Saat ini siapa yang tidak mengeenal amplang? Makanan ringan ini telah menjadi makanan ikonik khas Kalimantan Timur, dan toko yang menjual amplang Samarinda sebagai oleh-oleh  pun sudah menjamur di kota-kota di Kalimantan Timur. Utamanya tentu di Samarinda.

Makanan ringan ini sangat cocok untuk dijadikan camilan saat bersantai, ataupun dijadikan oleh-oleh saat akan bepergian keluar kota. Jika ada wisatawan mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan ke Samarinda, maka akan melihat banyak sekali penjual amplang yang ada di berbagai sudut kota ini.

Begitupun bagi para pelancong bila akan membeli untuk oleh-oleh, lebih gampang menemui camilan ini pada saat melintas di Jalan Slamet Riyadi di Kelurahan Karang Asam. Hal ini dikarenakan, di sepanjang pinggiran jalan ini memang terdapat berbagai outlet yang menjual amplang serta berbagai camilan lain yang menjadi ciri khas kota Samarinda.

Toko Oleg oleh Penjual Amplang Pemprovkaltim.jpg
Gerai oleh-oleh amplang Samarinda di Jalan Slamet Riyadi, Samarinda. Foto: Dok. pemprovkaltim.go.id

Di Samarinda ataupun Balikpapan, sebenarnya gampang sekali untuk menemukan camilan renyah amplang kuku macan, entah itu di kios-kios, toko, juga outlet-outlet karena amplang memang menjadi oleh-oleh khas kota ini. Amplang Samarinda atau kuku macan biasanya dijual di dalam bentuk kemasan dengan berat yang beraneka dimulai dari 200 gram, satu kilogram bahka sampai yang lima kilogram.



agendaIndonesia/audha alief P

*****