Buah tangan Banyuwangi banyak ragamnya, dari yang berbentuk produk kerajinan seperti batik atau patung dan topeng barong, ada juga beragam penganan. Batik? Betul, memang batik Banyuwangi belum sepopuler saudara-saudaranya dari Yogya, Solo, Pekalongan, Cirebon, bahkan Madura, namun ia salah satu yang memiliki ciri khas.
Buah Tangan Banyuwangi
Kota di ujung timur pulau Jawa ini juga memiliki aneka panganan kecil yang unik. Sebutlah bagiak, yang mengingatkan kita pada bagea dari Manado, atau ada pula ladrang dan sale pisang. Berikut ada enam oleh-oleh Banyuwangi, Jawa Timur, yang layak dibawa pulang sebagai buah tangan.
Batik Banyuwangi
Batik Banyuwangi dikenal sebagai batik pesisiran. Motifnya beragam, umumnya flora dan fauna, yang terkenal adalah motif Kopi Pecah hingga Gajah Oling. Ada juga motif Kangkung Setingkes, Kawung, Gedekan, Sembruk Cacing.
Yang terkenal adalah motif gajah oling, itu sebabnya batik Banyuwangi sering juga dieknal sebagai batik gajah uling. Motif ini berupa belalai gajah yang membentuk tanda tanya. Kini batik Banyuwangi memiliki 43 motif lain. Hampir seluruh motif memiliki filosofi tersendiri.
Sejarah batik Banyuwangi masih dipengaruhi batik Mataraman. Selain itu, ada juga pengaruh Timur Tengah, Tiongkok dan lainnya. Karena itu, batik Banyuwangi semarak dengan warna-warni biru, merah, kuning, hijau, dan oranye. Tersedia dalam bahan katun dan sutra, baik tulis maupun cetak.
Umah Batik Sayu Wiwit; Jalan Sayu Wiwit, Kelurahan Temenggungan; Banyuwangi
Anyaman Bambu
Produk kerajinan lain yang bisa dijadikan buah tangan adalah produk kerajinan anyaman bambu. Adalah desa Gintangan di Kecamatan Rogojampi sebagai sentra produk anyaman bambu terbesar di Banyuwangi, bahkan di Jawa Timur. Sentra ini menghasilkan lebih dari 100 produk kerajinan bambu. Dari hiasan dinding hingga perlengkapan dapur. Dipasarkan tak hanya di Indonesia, tapi juga ke luar negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara di Asia Tenggara.
Salah satu produsen produk anyaman bambu adalah Widya Handicraft. Tempat ini memproduksi aneka produk dari stoples bambu, tempat buah, wadah tisu, tempat koran, kap lampu, wadah perhiasan, dan lain-lain. Harga bervariasi atau bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan. Tempat buah dan satu set stoples, misalnya, harganya mulai Rp 100 ribuan. Semua produk menggunakan bambu apus yang terkenal kuat dan banyak tumbuh di kawasan itu.
Widya Handicraft; Desa Gintangan; Rogojampi; Banyuwangi
Kesenian Barong Banyuwangi yang biasa dipentaskan saat ada warga yang punya hajat. Foto: shutterstock
Patung Barong
Di Banyuwangi ada kebiasaan masyarakat asli setempat, dikenal sebagai masyarakat Using, saat mempunyai hajatan akan menggelar kesenian Barong. Sepintas, barong Banyuwangi mirip dengan barong Bali. Bedanya barong Banyuwangi lebih kecil dan ornamennya didominasi warna merah-kuning. Di Desa Kemiren, barong dipakai untuk ritual bersih desa setelah Lebaran.
Selain sebagai kesenian, sama seperti juga dengan di Bali, barong Banyuwangi juga dibuat barang kerajinannya sebagai kenang-kenangan. Suvenir barong Banyuwangi memiliki tinggi sekitar 30 sentimeter dengan panjang 25-an sentimeter. Barong ini dilengkapi dengan suara gamelan yang direkam dari aslinya dan dapat bergerak ke kanan dan kekiri. Selain barong, ada juga patung penari gandrung.
Kerajinan Kayu Rahmat Jaya; Jalan Dr Rasyad N0 249, Banyuwangi
Alat Musik Kalimba
Kalimba sejatinya alat musik dari Afrika Selatan. Alat musik yang terdiri dari kotak suara dan tuts-tuts logam ang ymenempel di bagian atas dan biasanya dimainkan dengan ke dua jempol tangan. Kalimba terbuat dari tempurung kelapa dan kayu sebagai penutup. Tujuh baris lempang besi berjajar di atasnya berfungsi sebagai tuts. Ada bolongan di tengahnya.
Ada tiga jenis kalimba. Pertama, perpaduan tempurung kelapa dan kayu sonokeling; lalu ada pula kalimba dengan hiasan cat warna-warni; dan terakhir yang banyak ditemui, mungkin karena yang termurah, ialah kalimba dengan penutup kayu mahoni polos. Dengan harga yang tak terlalu mahal, di bawah Rp 100 ribu, alat ini layak dibawa untuk oleh-oleh atau kenang-kenangan.
Supriyanto Kalimba; Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi; Banyuwangi
Kue Bagiak
Bagiak adalah kue kering tradisional Banyuwangi yang dulu hanya disajikan saat Lebaran. Bentuknya seperti telunjuk orang dewasa. Berwarna putih kecokelatan. Berbahan utama tepung tapioka dan parutan kelapa yang disangrai.
Bisa ditemui di berbagai pusat oleh-oleh Banyuwangi.
Saat ini pengunjung bisa mencicipi berbagai macam varian rasa yang ditawarkan kue bagiak. Beberapa di antaranya adalah kacang, jahe, susu, durian, vanilla, pandan atau lainnya. Banyak wisatawan membawa untuk oleh-oleh, selain harganya tidak mahal, bagiak juga mudah ditemui di toko-toko oleh-oleh. Dan satu lagi, kue kering ini tahan lama.
Rumah Kue Gajah Oling; Jalan Imam Bonjol 34; Banyuwangi
Keripik Balado Christine Hakim, terutama yang berbahan singkong atau ubi kayu, begitu populer selama bertahun-tahun. Meski kemudian banyak pesaing yang masuk pasar ini, Keripik balado Christine Hakim tetap dicari sebagai buah tangan ketika wisatawan berkunjung ke Padang atau daerah Sumatera Barat lainnya.
Keripik Balado Christine Hakim
Keripik balado memang merupakan salah satu penganan khas Sumatera Barat. Biasanya, cemilan renyah nan pedas ini banyak ditemukan di kota-kota besar seperti Padang dan Bukittinggi, yang hingga sekarang adalah dua sentra pembuatan dan penjualan keripik tersebut.
Tak terkecuali Keripik Balado Christine Hakim, yang dirintis sejak 1980-an. Adalah Christine Hakim, wanita kelahiran Padang 29 Agustus 1959, yang bersama kelima saudara kandungnya memulai bisnis keripik balado ini.
Niat itu tercetus karena merasa kasihan melihat sang ibu harus banting tulang menghidupi keluarga, karena mendiang ayahnya telah tutup usia sejak dirinya masih kecil. Terlebih, baik Christine maupun saudara-saudaranya tak sempat lulus SD.
Dari situlah muncul ide untuk membuat keripik balado dalam kemasan, yang kemudian dititipkan kepada warung-warung milik tetangga mereka. Alasannya, modal yang diperlukan untuk membuat keripik tersebut tak terlalu besar dan relatif mudah didapat.
Keripik Balado Christine Hakim oleh-oleh legendaris Sumatera Barat. Foto: Istimewa
Keripik balado pada dasarnya merupakan keripik singkong yang dibuat dengan bumbu racikan bahan-bahan seperti cabe merah, gula pasir dan sebagainya. Christine kemudian mencoba membuat racikan yang membuat keripik baladonya khas dibandingkan dengan yang lain.
Namun bisnis tersebut masih tergolong bisnis kecil-kecilan yang sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah menikah pada tahun 1990, Christine memutuskan untuk membangun usahanya sendiri bersama sang suami.
Perlahan-lahan, ia mulai menata bisnisnya lewat beberapa inovasi. Salah satunya adalah memberikan nama serta logo dari brand produknya. Ia pun memutuskan untuk menggunakan namanya sendiri, dengan logo gambar rumah gadang sebagai ciri khas Sumatera Barat.
Sungai Batang Arau yang melintasi Padang.
Terobosan ini membuatnya termasuk pelopor dalam penjualan produk oleh-oleh di Sumatera Barat, dalam hal menggunakan kemasan dan merk sendiri. Ini membuatnya cepat dikenali dan lebih mudah dicari ketimbang produk oleh-oleh lainnya.
Hal inilah yang mulai membuat keripik balado buatannya naik daun dan mulai dikenal banyak orang. Konsumen pun mulai berdatangan mencari keripik balado buatannya, walaupun saat itu promosinya masih dari mulut ke mulut.
Tahun demi tahun berlalu dan animo pembeli terus meningkat. Usaha yang awalnya dirintis dari rumahnya di sebuah gang sempit, semakin lama tak lagi mencukupi untuk memenuhi jumlah pembeli yang semakin membludak.
Karena itulah, akhirnya Christine memutuskan untuk memindahkan tokonya ke sebuah ruko di jalan Nipah. Toko inilah yang kemudian menjadi sentra penjualan produk-produk Keripik Balado Christine Hakim hingga kini.
Inovasi lainnya yang membuat produk-produknya senantiasa diminati orang adalah diversifikasi produk secara konsisten. Kalau dulu keripik balado merah menjadi produk satu-satunya, kini terdapat juga keripik balado hijau, keripik balado udang, keripik balado teri, dan sebagainya.
Bahkan ia juga gencar berpromosi dengan menggunakan baliho-baliho berukuran 10×5 meter yang dapat wisatawan temukan di kawasan-kawasan strategis, seperti di area sekitar bandar udara dan beberapa persimpangan jalan di kota Padang.
Harapannya, ia ingin agar produk-produk Keripik Balado Christine Hakim tidak hanya menjadi kudapan kegemaran warga Padang dan Sumatera Barat saja, tetapi juga menjadi pilihan utama oleh-oleh bagi para wisatawan yang datang.
Tak hanya itu, kini tokonya juga menjadi rumah bagi sekitar 700 produk dari 300 UMKM (usaha mikro kecil menengah) lainnya yang bermitra dengannya. Ini semakin mengukuhkan Keripik Balado Christine Hakim sebagai sentra oleh-oleh khas Padang dan Sumatera Barat.
Christine Hakim Idea Park. Foto: CHIP
Pada 2016, ia mendirikan Christine Hakim Idea Park (CHIP), sebuah pusat perbelanjaan seluas 12 ribu meter persegui. Pengunjung dapat menemukan pusat oleh-oleh, Food Hall yang menyajikan makanan khas Sumatera Barat, serta wahana permainan air dan ice skating.
Diharapkan, konsumen akan semakin mudah mendapatkan beragam produk-produk Keripik Balado Christine Hakim, utamanya sebagai oleh-oleh. Selain itu, adanya CHIP Waterpark dan ice skating juga menjadi alternatif tempat rekreasi bagi wisatawan.
Produk unggulan Keripik Balado tentu adalah keripik balado. Variannya dibedakan dari bobot isinya, mulai dari 250 gram sampai dengan 500 gram. Untuk kemasan 250 gram harganya berkisar dari Rp 24 ribu hingga Rp 26 ribu, sedangkan untuk kemasan 500 gram dihargai Rp 50 ribu.
Tak hanya keripik balado, kini mereka juga menawarkan beragam produk penganan oleh-oleh lainnya, seperti karak kaliang yang harganya Rp 16 ribu untuk kemasan 250 gram dan Rp 32 ribu untuk kemasan 500 gram.
Ada pula keripik kentang balado seharga Rp 38 ribu, atau kacang balado dan kacang teri balado yang masing-masing dijual Rp 26 ribu dan Rp 47,5 ribu. Serta olahan pisang seperti keripik pisang dan pisang sale Pasaman yang harganya masing-masing Rp 25 ribu dan Rp 37 ribu.
Bahkan, tersedia pula dendeng dan rendang sapi dalam botol yang dijual sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu. Mereka juga menjajakan bumbu masakan dalam botol seperti asam padeh, gulai ikan, nasi goreng, sambalado merah, serta ayam dan daging kalio seharga Rp 45 ribu. Pokoknya pusat oleh-oleh Sumatera Barat yang komplit.
Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 08126633318, atau via email serta dapat mengunjungi situs resmi tokochristinehakim.com dan akun resmi Instagram @kripikbaladochristinehakim.
Kue keranjang saat ini identik dengan perayaan tahun baru semi atau tahun baru lunar yang kita kenal sebagai Imlek. Penganan ini memang identik dengan masyarakat Tionghoa yang merayakan pergantian tahun lunar tersebut. Saat kue keranjang mulai menjamur dijajakan di pasaran atau pun pertokoan, itu pertanda Imlek sebentar lagi tiba.
Kue Keranjang
Kue keranjang dan Imlek di Indonesia memang menjadi tradisi yang diwariskan masyarakat Tionghoa. Belum bisa dipastikan kapan tepatnya makanan ini hadir dalam dunia perkulineran Indonesia. Yang sudah pasti, kue cokelat manis ini dibawa orang-orang Tiongkok yang migrasi ke Indonesia sejak abad 1 Sebelum Masehi.
Kue keranjang disebut juga Nian Gao. Sebutan Nian Gao ini dari suku kata ‘Nian’ yang berarti ‘lengket’, namun pelafalannya mirip dengan kata ‘tahun’. Sementara itu kata ‘Gao’ diartikan sebagai ‘tinggi’. Jika disatukan membuat kue ini mempunyai makna filosofis peningkatan kemakmuran dan tingginya rezeki sepanjang tahun. Karenanya, Kue keranjang menjadi salah satu kudapan wajib saat Imlek sebagai ‘doa’ untuk kemakmuran. Selain Nian gao, kue keranjang punya banyak nama. Antara lain disebut juga kue beras, kue puding, atau dodol Cina.
Jika masuknya ke Indonesia saja abad 1 sebelum Masehi, keberadaan kue keranjang di tanah leluhurnya tentu lebih lama lagi. Dikutip dari laman tempo.co, kue keranjang diperkirakan sudah ada lebih dari 2.000 tahun lalu atau sebelum penanggalan Tionghoa ditetapkan pada Dinasti Zhou di abad ke-11 sampai tahun 256 sebelum masehi. Masyarakat Tionghoa mempersembahkan nian gao sebagai persembahan kepada dewa dan leluhur.
Dalam buku ‘Tahun Baru Cina: Fakta dan Cerita Rakyat’ karya William C. Hu tertulis kue keranjang awalnya disantap pada hari ke sembilan di bulan ke sembilan, bukan saat tahun baru lunar atau Imlek. Baru pada Dinasti Tang di tahun 618 sampai 907 masehi, nian gao menjadi makanan tradisional masyarakat Tionghoa yang disantap saat Festival Musim Semi.
Kemudian di masa Dinasti Qing periode 1636 sampai 1912, kue keranjang berkembang menjadi camilan masyarakat yang dapat dimakan kapan saja. Meski begitu, kue beras ini tetap punya posisi penting di setiap festival.
Secara filosofis, kue keranjang yang dijual di pasar atau toko menjelang Imlek biasanya berbentuk bundar. Konon bentuk kue keranjang yang bulat ini memiliki makna khusus, yakni melambangkan persatuan. Rasa manisnya pun memiliki makna agar siapapun yang memakan kue ini akan berkata yang baik-baik dan manis saja. Teksturnya yang lengket bermakna agar hubungan keluarga semakin erat.
Lalu dari mana penamaan “keranjang” pada nian gao ini? Dari cerita mulut ke mulut penamaan ini muncul dari wilayah Jawa Timur, di mana saat pembuatannya kue ini ditempatkan dalam keranjang-keranjang kecil. Nama ini kemudian meluas ke banyak wilayah di Indonesia.
Proses pembuatan kue keranjang ini sesungguhnya mudah. Adonan tepung ketan dan gula diaduk-aduk hingga mengental kemudian dikukus. Saat proses pengukusan, dibutuhkan keranjang untuk mengukus adonan tepung dan gula tadi. Dahulu kue keranjang dikukus dan dibungkus menggunakan daun pisang. Aroma yang keluar pun lebih wangi. Kini, seiring waktu dan kepraktisan, kue keranjang dibungkus menggunakan plastik bening.
Kue keranjang yang dihidangkan dengan dipotong-potong. Foto: shutterstock
Awalnya perpaduan tepung ketan dan gula sebagai bahan dasar menghasilkan kue berwarna cokelat. Kemudian, seiring berkembang zaman, kini banyak dijumpai kue keranjang dengan berbagai pilihan warna dan rasa. Cara penyajian kue keranjang pun beragam. Ada yang memakannya secara langsung. Ada juga yang mengirisnya tipis dan menggorengnya dengan dilumuri telor. Bahkan ada juga yang memasukkannya ke dalam sup.
Di Indonesia setidaknya ada lima sentra kue keranjang yang sudah yang sudah memproduksinya puluhan tahun. Yang paling dekat dengan Jakarta, tentu saja Tangerang, Banten. Kue keranjang legendaris tak bisa meninggalkan kue keranjang Ny. Lauw di Tangerang. Sejak 1962, ia menjalankan usaha rumahan kue keranjang di Jalan Bouraq. Tapi itu bukan awal berpoduksi, sebab ia adalah generasi ketiga yang menjalankan bisnis tersebut dalam keluarga ini.
Yang paling tua kemungkinan adalah keluarga Atik Susiana di Mojokerto, Jawa Timur. Atik mempertahankan resep kue keranjang ini dari kakek dan neneknya sekitar 60 tahun lalu. Ia merupakan generasi ketiga pembuat kue keranjang. Ia hanya membuatnya tiap Imlek.
Sentra produksi lain adalah di Kudus, Jawa Tengah. Di kota kretek ini ada kue keranjang legendaris buatan Panjunan. Toko roti di Jalan Wahid Hasyim. Ini cukup besar karena sudah memakai metode pembagian tugas produksi. Karyawannya memiliki tugas sendiri-sendiri, seperti mengolah adonan, memasukkan adonan ke cetakan, sampai memasukan cetakan ke kukusan yang sudah mendidih airnya.
Di ibukota Jawa Tengah, Semarang, juga ada kue keranjang legendaris buatan Eng Hwat. Ia generasi ketiga pembuat kue keranjang di Jalan Kentangan Tengah 67. Pesanan kue keranjang di sini biasanya mulai dibuat 10 hari menjelang imlek. Meski skalanya rumahan, kue keranjang di sini bisa diproduksi hingga 10 ton. Hingga saat ini kue keranjang di sini masih dibungkus daun pisang.
Sentra produksi kue keranjang lain yang tak kalah melegenda adalah Tegal, Jawa Tengah. Salah satu pembuat kue keranjang ternama di sini adalah Mindayani Wirdjono atau Oey Tong Gwat, warga keturunan Tionghoa berusia 79 tahun. Sudah lebih dari 40 tahun ia membuat kue keranjang.
Ribuan tahun diproduksi dan diperjualbelikan, Nian Gao atau kue keranjang rasanya sudah menjadi bagian dari tradisi Indonesia yang beraneka ragam. Ia selalu menjadi sisi manis dari bangsa ini. Jangan lupa ya agendakan makan nian gao saat pergantian musim semi.
Camilan khas Bali ada bermacam-macam. Di sejumlah toko oleh-oleh di kawaasan Kuta, Badung; atau di Denpasar, seperti Krisna, Keranjang atau lainnya, kita bisa mendapatkan pilihan yang beraneka.
Camilan Khas Bali
Camilan kacang sudah biasa menjadi oleh-oleh, bahkan pilihan pun beragam karena dibikin dengan variasi rasa. Anda mencari yang manis, kacang disko khas Bali ini pun ada yang dibubuhi rasa manis, bisa pedas-manis, ataupun asin-manis. Selain itu, ada sederet pilihan untuk olahan legit. Kebanyakan berupa pia dan pie. Cuma, meski sama-sama pia, ada perbedaan rasa. Pia dan pie juga diluncurkan dalam merek berbeda-beda. Ada yang tipis, kecil, juga besar, dan cukup mengenyangkan.
Kacang Disko Manis
Kacang disko memang punya rasa khas, gurih, dan renyah. Tentunya bikin Anda ketagihan. Camilan dengan bahan utama kacang tanah tersebut memang tak tampil polos. Dengan tambahan berupa telur, tepung kanji dan maizena, gula merah, santan, serta bumbu, si kacang pun seperti berselimut. Dan lapisan penutupnya itulah yang bikin rasanya menjadi manis.
Walhasil, bagi yang tak terlalu doyan camilan yang benar-benar manis, kacang disko dengan rasa manis ini juga bisa menjadi pilihan. Beragam jenis kacang disko bisa ditemukan di gerai oleh-oleh di Pulau Dewata. Setiap merek bahkan memberi varian rasa yang berlainan, seperti rasa ayam betutu, rendang, dan ayam taliwang. Kisaran harga untuk kemasan 200 gram sekitar Rp 20 ribu.
Krisna; Jalan Nusa Indah; Denpasar
Pia Legong Bali, salah satu camilan khas Bali yang bisa jadi oleh-oleh. Foto: Istimewa.
Pia Legong Renyah
Siap-siap antre atau pesanlah melalui telepon lebih dulu jika memesan dalam jumlah banyak! Itulah yang harus diingat ketika hendak membeli buah tangan berupa pia legong. Berlogokan penari legong, camilan yang satu ini hanya bisa diperoleh di Jalan Raya Bypass Ngurah Ruko Kuta Megah 15 di kawasan Kuta.
Pia legong dibuat setiap hari secara manual dan benar-benar hanya untuk hari itu, sehingga tidak memiliki persediaan. Karena produksinya terbatas, sering kali pembeli harus antre. Bila antrean sudah panjang, kerap diberlakukan pembatasan jumlah pembelian per orang. Seperti orang hanya dibolehkan membeli dua kotak. Untuk pemesanan dalam jumlah banyak, pembeli harus memesan lebih dulu via telepon. Sebanyak delapan pia berdiameter 8 sentimeter ini dikemas dalam kotak merah.
Dibuat sejak 2006, pia ini tersedia dalam tiga rasa, yakni kacang hijau yang merupakan rasa asli, cokelat, dan keju. Satu kotak berisi 8 pia dibanderol Rp 90 ribu. Pia cokelat dan keju bisa tahan hingga dua minggu, sedangkan khusus kacang cuma tujuh hari. Isi yang berlimpah dengan lapisan luar yang renyah menjadi ciri khasnya.
Selain pia legong, ada pia-pia dengan label lain yang dijual di berbagai gerai oleh-oleh yang tersebar di pulau ini. Pia memang bukan hanya makanan khas di Yogyakarta. Seperti halnya bakpia Yogya, pia Bali yang asli pun, pada bagian dalamnya, diisi dengan kacang hijau. Ragam pia ini bisa ditemukan di pusat oleh-oleh.
Pia Legong; Jalan Raya Bypass Ngurah; Ruko Kuta Megah 15; Kuta, Badung
Pie Tipis Garing
Yang satu ini, meski sama-sama manis seperti pia, bentuknya tidak tebal, melainkan benar-benar tipis. Pie ini berbahan utama susu sehingga disebut pie susu. Seperti umumnya pie, kulitnya memang terasa renyah. Selain susu, ada tambahan bahan lain, seperti gula dan telur. Dan, seperti pia, ada beragam merek pie, meski yang dikenal memang Pie Susu Asli Enaaak, yang diluncurkan pada 1989. Namun, seperti halnya pia legong, pie merek ini hanya bisa ditemukan di tiga lokasi, selain di pusatnya di Jalan Nangka, Denpasar, yaitu di Jalan Wahidin Nomor 35, Denpasar, serta Jalan Dewi Sri VIII Blok B-8, Pertokoan Kuta Plaza.
Satu kota berbentuk persegi panjang berisi 10 pie dipatok seharga Rp 35 ribu. Selain ada rasa orisinal, ada rasa cokelat, keju, stroberi, dan lain-lain. Daya tahan pie mencapai satu minggu, asalkan dimasukkan ke lemari es. Ada pula pie dengan merek lain, seperti Pie Susu Dhian dan Pie Susu Krisna.
Pie Susu Asli Enaak; Jalan Nangka Selatan No. 163; Denpasar
Dodol Klobot dan Buah
Oleh-oleh manis lain yang bisa ditemukan di Bali adalah dodol. Tak hanya satu jenis, tapi lagi-lagi beragam. Ada sejumlah buah yang membuat rasa dodol ini menjadi berbeda antara satu dan yang lain. Campuran tepung dengan gula ini dibikin dengan rasa yang berbeda karena dipadu dengan buah, semisal nangka, salak, dan durian. Ada pula dodol rasa rumput laut, yang tak terlalu manis dan umumnya lebih segar. Harga per kotak beragam dodol ini dimulai dari Rp 12 ribu.
Selain rasa buah, di pusat oleh-oleh bisa ditemukan dodol “jadul”, seperti dodol khas Buleleng yang dibungkus dengan daun jagung kering atau klobot. Dodol legit dan wangi ini dibuat di industri rumahan di kabupaten yang terletak di Bali utara. Bahan bakunya berupa ketan hitam, santan, dan gula merah.
Kemasannya pun berbeda dengan dodol lainnya: sebanyak 10 buah yang diuntai. Tahan selama tiga minggu, dalam masyarakat Bali, dodol ini juga menjadi pelengkap sesajen upacara keagamaan. Dijual pada kisaran harga Rp 25 ribu per ikat, dodol Buleleng dan dodol rasa buah ini bisa ditemukan di pusat oleh-oleh, seperti Krisna.
Oleh-oleh dari Solo banyak macamnya, dari yang baru hingga yang masih tradisional bahkan klasik. Artinya, oleh-oleh ini sudah ada sejak zaman kakek-nekak kita dan tetap ngangeni hingga sekarang.
Oleh-oleh Solo
Bermunculan sajian dari daerah lain dan mancanegara, namun warga Solo tetap setia pada sajian tradisional. Wisatawan pun memburunya sebagai oleh-oleh. Makanan yang umumnya diproses secara alami tanpa bahan pengawet ini memang rasanya jempolan. Para produsennya juga mempertahankan cita rasa asli dan cara pembuatan yang masih tradisional selama bertahun-tahun. Dengan rasa manis dan gurih, ada serabi, intip, dan abon. Bagi yang ingin manfaat lebih, jamu-jamu tradisional juga tersedia dalam kemasan praktis sebagai oleh-oleh.
Serabi Gurih Nikmat
Siapa yang tak suka dengan makanan yang satu ini? Garing di bagian pinggir dan kenyal di bagian tengah. Serabi khas Solo bisa dimakan tanpa guyuran kuah. Yang terkenal adalah Serabi Notosuman, yang gerainya bertebaran di sepanjang wilayah Notosuman. Konon, serabi ini sudah dijajakan pada 1923. Terbuat dari tepung beras, santan, gula, garam, dan tambahan daun pandan sebagai pewangi. Adonannya kemudian dituang ke wajan kecil dan diberi penutup dari tanah liat serta dibiarkan matang selama kurang lebih 3 menit. Hasilnya serabi yang harum dan legit.
Salah satu gerainya ada di Jalan M. Yamin Nomor 28. Mudah dicapai, dari jalan utama Slamet Riyadi, berbelok ke arah Honggowongso hingga menemukan perempatan menuju Jalan M. Yamin. Kemudian, belok ke kiri dan Anda akan menemukan tokonya di sisi kiri dengan papan penunjuk besar. Ada dua pilihan rasa, yakni putih polos dan cokelat. Satu kotak berisi 10 serabi dengan dua kombinasi rasa yang harganya Rp 21 ribu. Sedangkan satu kotak dengan satu varian rasa dihargai Rp 20 ribu. Karena dibuat tanpa pengawet, serabi hanya bertahan selama 24 jam.
Serabi Notosuman; Jalan Moch. Yamin Nomor 28, Solo
Abon Daging Tanpa Campuran
Di Solo ternyata masih bisa ditemukan abon asli tanpa campuran apa pun. Terbuat dari daging sapi atau ayam saja. Hasilnya, abon pun terlihat menggumpal karena serat dagingnya masih rapat. Kedai Pangan Varia, sang produsen, mempertahankan cara pembuatan ini sejak awal produksi pada 1935. Daging juga digoreng dengan menggunakan minyak kopra untuk mencegah bau tengik dan mudah lembek. Tanpa bahan pengawet, abon ini bisa bertahan hingga sebulan.
Abon ayam atau sapi masing-masing memiliki dua pilihan rasa, yakni pedas dan manis. Abon daging sapi pedas harganya Rp 85 ribu, sedangkan yang manis lebih murah sedikit. Untuk abon ayam, yang pedas hanya Rp 65 ribu, sedangkan yang manis Rp 60 ribu. Dibuat dalam kemasan 250 gram. Harga abon sapi bisa naik sewaktu-waktu, bergantung pada harga daging di pasaran. Kedai ini bisa ditemukan di Jalan Honggowongso yang tidak jauh dari lokasi Serabi Notosuman. Di gerai ini, Anda juga bisa membeli penganan lain, seperti serundeng, dendeng, intip, ampyang, dan lainnya.
Kedai Pangan Varia; Jalan Honggowongso Nomor 89, Solo
Intip Asli dari Kerak Nasi
Dulu, masyarakat Solo membuat intip dengan cara mengorek kerak nasi di dasar panci atau alat menanak mereka, lalu menggorengnya. Kini intip dibuat dengan cetakan. Nasi sengaja dikeringkan dalam cetakan khusus, sehingga bentuknya pun lebih rapi dan tebal. Masih mencari intip zadul? Coba ke Pasar Gede.
Kios Mbah Buniyem di Pasar Gede mungkin satu-satunya kios yang masih menjual intip asli dari kerak nasi. Masih cukup banyak pembeli yang mencari intip asli karena ada rasa khas pada kerak nasi liwet tersebut. Di kios ini, setengah kilogram intip dihargai 18 ribu. Kerak nasi dikeringkan terlebih dulu sebelum digoreng, lalu dibiarkan selama satu hari, baru digoreng kembali dan ditaburi cairan gula Jawa.
Intip Mbah Buniyem; Pasar Gede, Solo
Jamu Berkhasiat
Selama berwisata, Anda mungkin merasa lemas dan lelah. Nah, saatnya menjajal jamu tradisional. Beras kencur, misalnya, yang bisa menyegarkan badan, menghalau masuk angin, dan tidak pahit seperti jamu pada umumnya. Tidak jauh dari kompleks Keraton, di Jalan Tamtaman, ada produksi jamu rumahan berlabel Putri Solo. Jamu andalannya adalah beras kencur, kunir asem, dan gula asem.
Bahan-bahannya dibeli langsung dari Pasar Legi, Solo, untuk satu kali produksi. Jamu dibuat berdasarkan pesanan. Pilihan aman bagi pembuatnya karena bahan-bahan jamuu yang alami mudah membusuk. Jamu-jamunya dikemas dalam botol kaca 600 ml dan tidak dipasarkan ke toko-toko. Pembeli bisa langsung datang ke tempat produksinya atau memesan lewat telepon. Harga per botol jamu ini adalah Rp 20 ribu. Jika belum dibuka segelnya, bisa bertahan selama satu hingga dua bulan. Jika sudah dibuka segelnya, hanya bertahan dua hari atau empat hari bila dimasukkan ke lemari es.
Jamu Putri Solo; Jalan Tamtaman II/ 99; Baluwati, Solo
Roti bagelen atau roti bundar yang biasa disebut bun seperti dipergunakan pada burger yang disajikan dalam kondisi kering. Rasanya manis dengan sedikit gurih karena di tengahnya tadinya ada olesan buttercream.
Roti Bagelen
Jenis penganan yang juga sering dijadikan oleh-oleh ini tersebar dari Solo hingga Bandung. Banyak toko makanan dan oleh-oleh yang membuatnya. Biasanya toko-toko ini juga menjual roti bundar dengan olesan buttercream yang bun-nya masih lembut, alias belum dipanggang. Orang menyebut penganan seperti itu sebagai roti semir.
Banyak yang menyukainya. Sebut saja jika wisatawan pergi ke Solo, Jawa Tengah, dan mampir ke toko Orion di Jalan Urip Sumiharjo, salah satu yang diburu adalah roti semir ini. Di Bandung yang terkenal dan melegenda adalah roti Abadi di Jalan Purnawarman di kawasan Tamansari.
Masih banyak nama lain yang menjajakan roti bagelen sebagai jajanan untuk oleh-oleh, namun ternyata istilah roti bagelen punya sejarah lain. Meski belum ada catatan sejarah yang resmi, orang mengenal roti bagelen dari daerah dengan nama sama, dari Bagelen.
Ciri khasnya adalah dikeringkan dengan dipanggang. Foto milik Omigayo.com
Bagelen adalah nama sebuah daerah atau wilayah yang berada dalam seputaran Purworejo, Jawa Tengah. Roti bagelen paling terkenal dari distrik tersebut datang dari sebuah toko roti bernama Begelen yang beroperasi di Kutoarjo. Kota kecil ini hanya berjarak sekitar 12 kilometer.
Dari bungkus roti yang dijual toko tersebut, disebutkan mereka sudah menghasilkan roti bagelen yang termasyhur sejak 1906. Mengingat tulisan di bungkusnya yang bertitel “Begelen Biscuit” dan gambar nyonyah berbusana ala barat lengkap dengan apron, bisa dipastikan bahwa makanan ini punya pengaruh Eropa yang cukup kuat.
Sejatinya, sebelum toko roti Bagelen menjual produk roti warmbollen keringnya di Kutoarjo, konon ada sebuah toko lain di Garut, Jawa Barat, yang berjualan makanan sejenis, yakni pabrik dan toko roti Kho Pek Goan. Ia disebut telah berjualan roti jenis ini pada 1885.
Berdasar catatan yang ada, bungkus roti milik Kho Pek Goan tampil lebih klasik dibandingkan yang asal Kutoarjo. Gambar perempuan cantik berkonde yang sedang tersenyum terpampang di situ. Begitupun, roti produk Kho Pek Goan tidak menampilkan kata bagelen.
Sayangnya tidak ada catatan yang menghubungkannya dengan roti bagelen di Purworejo atau Kutoarjo itu. Begitupun toko roti milik Kho Pek Goan juga tidak terlihat memiliki hubungan dengan produsen lain asal Jawa Barat, almarhum Ateng Adiwidjaja, pembuat bagelen dengan merek Abadi.
Menurut website resminya, bagelen Abadi sampai ke publik pertama kali pada 1947, dari pabriknya di Garut, Jawa Barat. Baru pada 1967, Abadi memindahkan operasinya ke Bandung. Dan baru pada 1969 berjualan di tokonya yang ada saat ini.
Warmbollen produksi Abadi. Foto: Dok. Abadibagelen.com
Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa Indonesia memang memiliki banyak sekali resep kuliner atau makanan yang merupakan pengaruh dari resep kuliner Belanda. Pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia mulai mengenal roti warmbollen yang merupakan salah satu roti manis Belanda. Warmbollen ini merupakan roti basah yang memiliki isian buttercream.
Roti bagelen sejatinya memang dibuat dari roti manis yang diberi olesan buttercream, persis dengan roti semir, kemudian dikeringkan dengan cara dipanggang. Inilah cikal bakal terlahirnya bagelen, roti yang mirip warmbollen dengan olesan buttercream atau mentega, hanya saja teksturnya lebih garing.
Ada pula jenis roti bagelen yang diberi olesan margarin, yang ini biasanya menghasilkan rasa yang asin gurih serta lapisan rotinya akan terlihat lebih kuning. Sedangkan yang diolesi buttercream akan menghasilkan aroma yang lebih wangi dengan tekstur yang renyah.
Sejarah roti ini bisa dirunut ke produk ‘warmbollen’ yang kemudian “dikeringkan” dengan cara dipanggang kembali untuk mencegah jamuran. Semula, roti bagelen adalah cara masyarakat setempat mencegah roti agar tak terbuang akibat berjamur.
Betul, pada awalnya, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mensiasati roti manis atau roti tawar yang akan berjamur adalah dengan cara mengubahnya menjadi roti kering atau sekarang disebut bagelen. Dan istilah ini seakan menjadi sebutan untuk roti kering.
Siapapun yang pertama membuat roti ini, yang pasti makanan ini sudah akrab dengan masyarakat. Dan unik. Wisatawan yang bepergian dari Jawa Tengah membawa roti bagelen, ketika dari Bandung juga membawa makanan sejenis.
Jember Jawa Timur tidak cuma identik dengan suwar-suwir. ,Kota ini juga punya sederet alternatif buah tangan lain yang menarik untuk dibawa pulang.
Jember Jawa Timur
Jember menyandang segudang julukan. Mulai dari yang agak bercanda karena banyaknya polisi tidur di jalanan sehingga ada yang memberi nama Kota 1.000 Polisi Tidur, Kota Tapal Kuda, Kota 1.000 Bukit, Kota Tembakau, Kota Karnaval, hingga Kota Suwar-Suwir. Julukan itu amat mungkin berangkat dari sudut pandang si pemberi julukan.
Namun, jika saja si pemberi sebutan tersebut mengambil dari sudut pandang oleh-oleh, mungkin dia akan menjuluki kota di Jawa Timur ini sebagai Kota 1.000 Oleh-oleh. Ya, bisa saja begitu. Karena Jember punya beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang para pelancong. Apa saja itu?
Suwar-suwir
Rasanya kurang afdal jika tidak memasukkan penganan ini sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun bagi orang awam yang belum pernah makan penganan khas Jember ini pasti akan bertanya-tanya jenis makanan apa ini? Bentuknya kotak-kotak kecil memanjang menyerupai kotak balok mini. Warna pun beraneka ragam, dari hijau, cokelat, putih, hingga merah.
Oleh-oleh khas Jember ini sekilas mirip dodol, tapi strukturnya lebih padat. Hanya, saat digigit begitu lembut dan lumer di lidah. Rasanya legit, manis, dan bercampur kecut. Selintas seperti sedang mencicipi tape. Oleh-oleh ini dibuat dari bahan tape, gula, dan tepung. Kemudian, dijemur matahari supaya kering dan tahan lama. Penganan ini cocok dijadikan teman camilan minum teh. Harganya ialah Rp 15 -20 ribu per kotak.
Prima Rasa; Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember
Opak Gulung
Banyak nama yang diberikan untuk jajanan ringan tradisional Indonesia ini. Ada yang menamakannya opak gambir, kue semprong, atau opak gulung. Kendati berbeda, semuanya memiliki karakteristik yang sama, yaitu renyah saat dikunyah. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka, gula, telur, wijen, dan santan. Semua bahan dibuat adonan, kemudian dipanggang di atas api.
Bentuk umum yang sering dijumpai di pasaran adalah digulung atau dilipat menjadi empat dan ada juga yang berbentuk kipas. Di Jember, pelengkap sajian yang biasanya hadir pada saat Lebaran itu akrab dinamai opak gulung. Per bungkus dikenai harga Rp 27 ribu.
Depot Jawa Timur; Jalan Gatot Subroto No 8; Jember
Tas Batik
Batik Jember mungkin tak setenar batik Solo atau batik Yogyakarta. Meski begitu, batik kota ini tak kalah menarik. Dikenal memiliki corak yang khas, yakni motif daun tembakau. Dipilih corak tersebut karena Jember merupakan salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia.
Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, batik Jember sudah banyak yang dijadikan tas atau kemeja pria. Kain batik Jember dipasarkan mulai Rp 135 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan untuk kemeja pria dijual seharga Rp 187 ribu. Lain halnya dengan tas batik yang dijual dari harga Rp 85 ribu.
Toko Primadona; Jalan Trunojo No 137; Jember
Terasi Udang
Rasanya kurang lengkap jika kita mengunjungi Jember, tapi tidak membeli terasi. Maklum saja, kota ini memang dikenal sebagai salah satu kota penghasil terasi. Jenis penyedap masakan ini diolah di Puger—daerah penghasil udang terbaik di kota ini. Terasi dari daerah ini terkenal berkualitas tinggi dan beraroma harum. Bahkan konon sudah terkenal hingga ke Belanda.
Saking banyaknya merek dan ukuran yang dijual terkadang membuat kita justru bingung memilihnya. Apalagi semua produknya mengklaim berasal dari Puger. Karena itu, jangan segan bertanya kepada penjual atau meminta rekomendasi kepada teman yang sudah pernah mencicipinya. Namun yang pasti harganya mulai dari Rp 10 ribu.
Prima Rasa
Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember
Proll tape, cake tradisional di Jember, Jawa Timur, yang berbahan baku dari tape singkong. Foto: dok. shutterstock
Proll Tape
Pelancong yang ingin membawa oleh-oleh khas Jember mungkin bisa memilih proll tape sebagai alternatif. Kue yang terbuat dari tepung terigu, tape singkong, susu, mentega, dan telur ini rasanya hampir seperti cake, tapi aroma rasa tapenya sangat terasa. Dibubuhi tambahan yang beragam, dari keju, kismis, hingga cokelat.
Proll tape dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh yang berada di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Trunojoyo. Biasanya dikemas dalam kardus dari berbagai merek, antara lain, Purnama Jati dan Anis. Harganya adalah Rp 19 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 23 ribu untuk ukuran besar.
Sambal ala Belitung, ada yang berbahan ikan laut, terbentuklah rusip, calok, belacan. Selain itu ada pula yang berbahan tauco.
Sambal ala Belitung
Belitung tak hanya menjadi destinasi untuk menikmati pantai dengan batuan yang mengagumkan. Atau jejak-jejak kisah Laskar Pelangi seperti di layar lebar. Karena sebagaian wilayahnya berupa laut, turis akan menemukan oleh-oleh dengan bahan utama ikan laut yang bisa menjadi hidangan khas di meja makan. Meski ada juga yang terbuat dari kedelai. Beberapa nama tergolong unik, beberapa juga dibuat di daerah lain. Umumnya bisa menjadi diolah kembali dengan bahan lain yang membuat rasa hidangan menjadi lebih sedap, tapi rasanya mantap jika dijadikan sambal. Bisa ditemukan di pasar tradisional seperti pasar tradisional Hatta yang terletak di Jalan Hayati Maklum, Tanjung Pandan. Di pasar ini, dari ikan segar hingga olahannya terbesar di beragai kios. Adapun ragam bumbu sambal itu seperti di bawah ini.
Rusip dari Ikan Bilis
Bisa jadi bagi turis dari luar Belitung, baru mendengar nama yang satu ini. Rusip tak lain ikan teri atau masyarakat Belitung menyebutkan bilis yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan bilis terlebih dulu dicuci, dibuang kepala dan kotorannya lalu ditiriskan. Setelah benar-benar kering diberi garam, dengan cara diremas-remas. Disimpan dalam wadah tertutup selama sehari. Kemudian beri gula merah yang sudah dicairkan.
Simpan lagi dalam wadah tertutup selama seminggu. Jika telah menghasilkan aroma khas dan agak sedikit asam, tandanya rusip sudah siap dikonsumsi. Anda bisa langsung menjadikan sambal yang dilengkapi dengan lalapan. Ada pula sambal rusip yang diolah terlebih dulu dengan menambahkan bawang merah, serai dan cabe rawit plus jeruk kunci khas pulau ini juga. Sajian ini tergolong penggugah selera makan bagi warga setempat. Selain itu, rusip bisa juga menjadi bumbu dalam berbagai olahan, seperti sajian ikan. Rasa kuah ikan pun kian maknyus dengan tambahan rusip. Di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional bisa ditemukan dalam botol plastik ukuran 200 ml seharga Rp 25 ribu.
Calok dari Udang Mini
Banyak dipajang di toko-toko oleh-oleh ataupun di pasar, yang satu ini juga menjadi hidangan khas di meja makan. Sama-sama diberi wadah botol transparan, hanya calok terlihat muncul dalam warna kemerahan karena terbuat dari udang kecil yang masih segar atau warga setempat menyebutkan udang cencalo alias rebon. Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan rusip. Udang terlebih dulu dicuci bersih kemudian dibubuhi garam yang berfungsi sebagai pengawet.
Calok sama halnya dengan rusip membikin selera makan meningkat. Dipadu dengan nasi ditambahkan lalapan seperti mentimun, tomat atau sayuran lain. Harga per botol dengan ukuran minuman 200 ml sekitar Rp 35 ribu.
Sambal Ala Belitung mempunya bahan yang bermacam-macam, semuanya bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Rita N.-TL
Belacan Sijok
Terasi menjadi hasil olahan yang banyak ditemukan di daerah pesisir, demikian juga di provinsi Bangka Belitung. Di Kepulauan ini, terasi yang bisa diolah menjadi sambal atau menjadi penyedap berbagai sajian tersebut bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau yang lebih beragam di pasar. Saya menemukan terasi dari Belitung maupun Bangka di toko oleh-oleh. Di Belitung yang terkenal terasi dari Desa Sijok dalam kemasan anyaman pandan.
Namun karena saya kemudian saya berbelanja di pasar, saya menemukan potongan besar terasi dalam warna khas keunguan. Olahan dari rebon segar itu tinggal dipotong-potong sesuai keinginan pembeli. Rasanya memang cukup tajam dan sedikit kasar ketimbang terasi yang telah dikemas rapih.
Bila tak mau repot, Anda pun bisa membeli sambal terasi yang siap saji. Sudah dilengkapi dengan cabe merah sehingga botol sambal ini terlihat merah menggoda. Per botol pada kisaran 25 ribu. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun di pasar.
Tauco Keledai Utuh
Seperti halnya terasi, tauco juga tak hanya dikenal dari satu daerah. Di Jawa Barat tauco Cianjur, tapi ada pula tauco Pekalongan, dan kemudian Medan dan Kalimantan. Di Belitung pun, tauco menjadi salah satu pilihan untuk olahan sambal atau dipadu dengan bahan makanan lain. Hanya terlihat berbeda dari tauco umumnya, meski Anda hanya melihatnya sekilas. Pada umumnya tauco, kedelai sudah tidak terlihat bentuk utuhnya alias sudah hancur, paling hanya beberapa potongan kecil yang tampak. Berbeda dengan tauco Belitung, kacang kedelai terlihat utuh dan warnanya tidak cokelat tua melainkan kekuningan.
Dalam pengolahannya sambal tauco dibuat encer dengan ditambahi bawang putih, cabe rawit, jeruk songkit, dan gula pasir. Tak hanya dipadu dengan nasi tapi juga menjadi sambal paduan untuk otak-otak. Tauco ini bisa ditemukan di pasar dan toko oleh-oleh, per botol pada kisaran Rp 25-30 ribu. l
Oleh-oleh Pontianak ternyata cukup beragam, meskipun mungkin variannya belum sebanyak daerah-daerah yang sudah menjadi pusat-pusat pariwisata di Indonesia, seperti Bali, Yogya, atau Medan. Tapi cukup mudah untuk memilih barang atau makanan sebagai buah tangan sepulang dari ibu kota Kalimantan Barat ini.
Oleh-oleh Pontianak
Kita tahu semua, tidak banyak kota di dunia yang dilintasi garis maya khatulistiwa atau garis equator. Garis Lintang 0 derajad sebagai lintasan matahari. Beruntung Indonesia punya Pontianak, di Kalimantan Barat. Dalam dua kali setahun, di kota ini terjadi fenomena alam yang disebut kulminasi—kondisi yang menyebabkan sebuah benda kehilangan bayangan karena menyatu dengan obyeknya. Ini karena matahari betul-betul tepat berada di atas kota ini. Lucu kan, kita kehilangan bayang-bayang kita sendiri?
Keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi turis lokal ataupun mancanegara. Saat pulang, para wisatawan itu biasanya ingin membawa buah tangan yang khas. Umumnya berupa miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai bukti pernah berada di kota di titik lintang 0 derajad. Kalaupun bukan itu, pasti orang ingin membawa makanan kecil atau makanan khas setempat. Apa saja pilihan yang ada di kota ini? Berikut alternatif yang bisa dipilih.
Oleh-oleh Pontianak salah satunya berupa miniatur tugu katulistiwa). Foto: ilustrasi/TL/Aditia
Miniatur Tugu
Rasanya belum sah berkunjung ke Pontianak jika tidak membeli miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai cendera mata. Suvenir yang satu ini memang unik. Sebab, menyimpan kisah yang menarik dari terjadinya sebuah fenomena alam. Bentuknya yang indah pun membuatnya cocok dijadikan dekorasi ruang tamu.
Miniatur yang dibingkai dalam kaca semakin menjadi indah dengan adanya pemasangan hiasan lampu. Ada yang terdiri atas dua lampu dan lima lampu. Bahkan ada pula miniatur Tugu Khatulistiwa yang dapat berputar pada porosnya. Harganya bergantung pada besar-kecilnya ukuran. Miniatur terkecil dihargai Rp 25 ribu dan terbesar Rp 500 ribu.
Sapta Pesona Khatulistiwa; Jalan Khatulistiwa; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 09.00-17.00
Lidah Buaya Segar
Aloe vera atau yang lebih dikenal dengan nama lidah buaya identik sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Bahkan tak jauh dari pusat kota dibangun kawasan agrowisata yang dikenal dengan nama Aloe Vera Center. Di sepanjang jalan menuju pusat lidah buaya tersebut berjajar warung atau toko yang menjual berbagai olahan lidah buaya. Dari tepung, dodol, kerupuk, hingga minuman.
Nah, minuman sari lidah buaya ini cukup digemari karena rasanya manis dan menyegarkan. Apalagi bila dinikmati dalam keadaan dingin. Potongan daging lidah buayanya empuk dan tidak berserat. Uniknya, para pengolahnya bisa menghilangkan lendir yang biasa melekat pada daging lidah buaya. Harga per baloknya hanya Rp 10 ribu dengan isi lima bungkus kecil.
Sun Vera; Jalan Budi Utomo A6 No. 3; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 07.00-17.00
Dodol Pink
Semua daerah di Indonesia rasanya memiliki dodol. Kue tradisional Nusantara yang populer ini hampir bisa dijumpai di setiap daerah dengan berbagai nama, bentuk, dan rasa. Di Sumatera Barat, dodol dinamai gelamai. Sedangkan di Riau terkenal dengan nama lempuk. Adapun di Jawa Tengah dikenal dengan nama jenang. Lain lagi di Jawa Barat, tapi ada yang terkenal, yakni dodol Garut.
Di Pontianak sendiri namanya tetap dodol. Tapi dengan embel-embel: kelapa Segedong. Penambahan embel-embel kelapa dan Segedong tak lepas dari bahan yang digunakan dan asal pembuatannya. Disebut dodol kelapa karena menggunakan bahan dari kelapa. Adapun disebut Segedong karena tempat itu merupakan daerah pembuat dodol. Jika biasanya dodol berwarna cokelat, warna dodol kelapa Segedong ini justru merah muda alias pink. Harganya hanya Rp 10 ribu per bungkus.
Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.00-24.00
Kelegitan Lempok
Mirip-mirip dengan dodol, Pontianak juga terkenal dengan lempok. Oleh-oleh khas Pontianak ini banyak dijual di pusat oleh-oleh di kota ini. Sebagian besar wisatawan yang pernah mampir ke Pontianak pasti membeli lempok durian Pontianak. Sensasi kelegitan lempok dan rasa duriannya yang dahsyat pasti membuat kangen bagi yang sudah merasakannya. Satu bungkusnya dijual beragam. Salah satu toko, yang menjual lempok durian seharga Rp 35 ribu per bungkus dengan isi 10 bungkus kecil, saya sambangi.
Toko Asia; Jalan Pattimura No. 12; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.30-21.00
Kopi Pontianak
Jika berkunjung ke satu daerah hampir dipastikan kita dapat menemukan kopi dengan mudah. Begitu pula di Pontianak. Ada satu produsen kopi yang populer di Kota Khatulistiwa itu. Tokonya terlihat seperti bangunan lama. Begitu pula dengan lemari penyimpan atau meja yang digunakan sama kunonya.
Namun yang menarik adalah kopi yang dijualnya. Aroma kopi ini sebetulnya biasa saja. Justru cenderung lembut. Tetapi cukup tebal. Kopi ini rasanya cocok untuk peminum yang tidak mementingkan aroma, tapi mementingkan ketebalan dan kekentalan kopi. Tersedia dalam berbagai kemasan. Mulai ukuran 100 gram sampai dengan satu kilogram. Yang ukuran ½ kilogram dihargai Rp 28 ribu.
Kopi Obor; Jalan Tanjung Pura No. 21; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 08.00-15.30
Inia da 6 sentra batik favorit alau berkunjung ke Pekalongan, Jawa Tengah. Rasanya kurang afdol jika main ke kota ini tidak sekalian mencari atau setidaknya melihat-lihat produk batik khas kota batik ini. Sejak dulu, Pekalongan memang sangat identik dengan batik, yang kini industrinya tak hanya mahsyur di level nasional, namun juga sudah merambah level internasional.
6 Sentra Batik Favorit Pekalongan
Menariknya, kultur batik di Pekalongan punya perbedaan cukup mendasar dibandingkan dengan kota-kota seperti Yogyakarta dan Solo. Batik Pekalongan cenderung lebih berani pada kreasinya, dengan motif yang lebih variatif dan lebih terang. Ini disebabkan karena Pekalongan juga merupakan kota pelabuhan yang besar di Jawa Tengah, di mana dulu pengaruh budaya asing dari Tiongkok, India, Jepang dan sebagainya bisa masuk.
Pekalongan Kota Batik Dunia. Foto: Ada 6 sentra batik favorit di kota ini. Dok. DPMPTSP Kota Pekalongan.
Masuknya pengaruh tersebut membuat batik Pekalongan lebih casual, dibanding batik Solo atau Yogyakarta yang masih banyak terpengaruh adat dan filosofi Keraton. Dan kreatifitas ini tidak berhenti pada keragaman motif saja. Contohnya batik pagi sore, salah satu inovasi dimana ada dua motif batik yang berbeda dalam satu kain. Sehingga, batik bisa digunakan dalam dua kesempatan berbeda dengan dua motif berbeda.
Bahkan, kini terdapat pula Museum Batik Pekalongan yang tidak hanya menjadi tempat edukasi dan destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat riset dan pengembangan kultur serta ilmu membatik. Selain itu, terdapat 6sentra batik favorit yang menjajakan beragam produk batik yang otentik dan menarik untuk diboyong sebagai oleh-oleh, seperti berikut ini.
Pasar Grosir Batik Setono
Tempat belanja batik di Pekalongan yang paling ramai dan favorit adalah Pasar Grosir Batik Setono, yang juga adalah salah satu sentra perdagangan batik di kota ini. Berdiri pada 15 Desember 1941, kemunculan pasar ini dipicu oleh kecenderungan bahwa produk hasil industri batik Pekalongan lebih banyak dikirim dan dijual di kota-kota lain.
Maka dari itu, didirikanlah pasar ini di sebuah bangunan yang dulunya merupakan pabrik tekstil, untuk menampung pengusaha batik kecil dan menengah agar bisa langsung menjajakan produknya. Di sisi lain, konsumen juga lebih dimudahkan dalam mencari produk batik, utamanya mereka yang memang datang ke Pekalongan untuk membeli batik.
Terhitung ada sekitar 550 toko yang berada di salah satu dari 6 sentra batik favorit pasar yang buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 21.00 ini. Mayoritas dari mereka adalah penjual kain dan pakaian siap pakai batik, namun ada juga yang menjual aksesoris atau kerajinan tangan bertemakan batik. Lokasinya yang berada di jalan Dr. Sutomo nomor 1-2 juga terhitung strategis, karena langsung berhadapan dengan ruas jalan akses menuju tol Trans Jawa rute Pemalang-Batang.
Untuk produk pakaian sendiri beragam dari kemeja, blouse, celana, daster, sarung, mukena dan lain lain. Harganya bergantung pada jenis kain yang digunakan. Misalnya, kemeja dengan bahan katun harganya berkisar dari Rp 25 ribu sampai 35 ribu. Sementara yang menggunakan bahan lebih premium seperti sutra, harganya bisa di kisaran ratusan ribu, bahkan jutaan.
^ sentra batik favorit di pekalongan. Museum Batik Pekalongan. Foto: Dok Wikimedia Common
International Batik Center
Sentra perdagangan batik lainnya dari 6 sentra batik favorit di Pekalongan yang menjadi rekanan bagi wisatawan yang berburu batik adalah International Batik Center, atau yang biasa dipanggil dengan singkatan IBC. IBC merupakan sebuah kompleks terpadu yang menyatukan kegiatan perdagangan, eksibisi serta edukasi tentang batik, khususnya batik Pekalongan.
Berlokasi di jalan Ahmad Yani nomor 573, IBC menawarkan beberapa fasilitas di samping fungsinya sebagai sentra jual beli batik. Seperti misalnya area galeri yang menampilkan beragam koleksi batik, dari yang tradisional sampai yang kontemporer. Karya-karya pengrajin batik lokal juga ditampilkan di sini.
Terdapat pula area workshop, dimana pengunjung dapat menonton atau ikut belajar langsung tentang teknik membatik, mulai dari pewarnaan hingga mencanting. Lewat fasilitas dan kegiatan tersebut, IBC aktif menjalin hubungan dengan berbagai lembaga dan komunitas seni budaya internasional, dalam upaya meningkatkan kesadaran dan membuka peluang pasar bagi batik Pekalongan di level global.
Meski demikian, tak perlu khawatir dengan harga produk-produknya. Harga produk batik di sini masih tetap tergolong bersahabat, seperti daster yang berkisar dari Rp 35 ribu, atau kemeja yang harganya sekitar Rp 50 ribu. Berada di jalur rute Pantura, ia juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti food court dan area parkir yang luas.
Kampung Batik Kauman
Pekalongan juga dikenal dengan beberapa kampungnya yang warganya berbudi daya batik. Contohnya adalah Kampung Batik Kauman, di mana kampung ini disinyalir sudah eksis sejak abad 19 silam. Ini terlihat pada nuansa arsitektur yang tampak banyak terpengaruh oleh gaya arsitektur Eropa, Tiongkok dan Arab tempo dulu. Ini adalah satu dari 6 sentra batik favorit.
Sebagai salah satu kampung yang pertama muncul di wilayah Pekalongan, banyak dari warganya yang kemudian juga berprofesi sebagai pengrajin batik. Dan yang menarik, jika menilik dari ragam motifnya, beberapa produk batik mereka juga turut terpengaruh oleh seni dan budaya dari wilayah-wilayah pendatang tersebut.
Seperti batik encim yang merupakan hasil leburan budaya lokal dan Tiongkok, atau batik jlamprang yang mengambil inspirasi dari budaya Arab dan India. Produk-produk tersebut kemudian menjadi ciri khas dari pengrajin batik di Kauman, yang diresmikan sebagai kampung batik pada 2007.
Hingga kini, terdapat puluhan showroom dan workshop milik warga setempat yang sehari-harinya menerima pengunjung dan memproduksi beragam produk dari batik, seperti kain, kemeja, sarung, serta aksesoris seperti tas dan dompet. Produk-produk tersebut sudah dipasarkan tidak hanya di taraf nasional saja, tapi juga internasional.
Berlokasi di jalan Hayam Wuruk, tidak jauh dari alun-alun kota Pekalongan, terdapat sebuah gapura di depan jalan masuk sebagai penanda, sehingga tidak terlalu sulit untuk mencari lokasinya. Selain berbelanja batik, suasana di sekitar kampung yang terlihat tua nan antik juga menjadi spot menarik untuk berfoto.
Kampung Batik Pesindon
Kampung batik lainnya sebagai satu dari 6 sentra batik favorit di Pekalongan yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Kampung Batik Pesindon. Lokasinya tak jauh dari Kampung Batik Kauman, dapat diakses lewat jalan Hayam Wuruk, dan terletak di tepi kali Pekalongan. Kampung ini ditetapkan sebagai kampung batik sejak 2020.
Disebut-sebut bahwa kampung ini mayoritas berisi warga pengrajin batik dan peternak ayam. Industri rumahan pengrajin batik di sini sudah ada sejak sekitar 1950-an. Kini, kurang lebih terdapat sekitar 33 showroom yang setiap harinya memproduksi batik dan melayani pengunjung.
Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses produksi batik di berbagai studio batik yang berada di hampir tiap sudut gang kampung tersebut. Baik batik tulis maupun batik cap dapat ditemukan di sini, dengan varian produk batik meliputi kain, kemeja, syal, tas serta aksesoris lainnnya.
Terdapat pula workshop yang menawarkan kelas singkat dalam teknik dan proses pembuatan batik. Satu keunikan lainnya, karena di kampung ini terdapat banyak gang, maka di sekitar area kampung akan ditemui penanda arah ke masing-masing showroom dan workshop pengrajin batik, sehingga tak perlu khawatir tersesat.
Salah satu motif batik Pekalongan. Foto shutterstock
Qonita Batik Boutique
Kalau ingin mencari produk batik di Pekalongan yang lebih premium dan fashionable, Qonita Batik Boutique jadi salah satu rekomendasi. Merek batik Pekalongan yang sudah eksis sejak 1995 ini berfokus pada produk batik siap pakai, dengan gaya yang modern dan penggunaan bahan yang premium, utamanya sutra.
Semisal gaun sutra yang kisaran harganya dari Rp 2,25 juta hingga 3 juta, blouse yang harganya berkisar dari Rp 190 ribu sampai 260 ribu, serta produk-produk lain seperti kemeja sutra, daster, mukena, hingga sprei. Harga produk-produk tersebut bergantung dari bahan serta jenis batiknya, baik batik tulis maupun cap.
Meski harganya premium, namun kualitasnya sudah teruji. Bahkan mereka sudah rajin menampilkan beragam kreasi mereka di acara-acara fashion week nasional. Jika tertarik berkunjung, Qonita Batik Boutique berlokasi di jalan Gajah Mada nomor 49, dan buka setiap hari dari jam 08.00 sampai 21.00.
Batik Unggul Jaya
Merek batik Pekalongan lainnya yang terbilang cukup populer adalah Batik Unggul Jaya. Terletak di jalan Angkatan 45 nomor 39, Batik Unggul Jaya juga berfokus pada produk batik siap pakai dengan bahan katun berkualitas yang lembut dan adem dipakai, namun dengan harga yang cukup terjangkau.
Masuk ke dalam toko, pengunjung akan disambut dengan puluhan pegawai yang siap membantu memilihkan produk yang diinginkan, dengan deretan produk batik yang dipamerkan, berjejer dari luar hingga ke dalam. Pengunjung dapat berkeliling melihat-lihat dan memilih beragam jenis produk dengan banyak pilihan motif.
Produk-produk tersebut meliputi kemeja, gamis, blouse, blazer, kaftan, celana, rok, daster, dan sebagainya. Bahkan mereka juga menyediakan produk-produk spesifik tertentu untuk memenuhi kebutuhan konsumen, seperti pakaian ukuran jumbo atau big size, serta pakaian untuk ibu menyusui.
Harga produk-produk tersebut pun terbilang cukup reasonable. Kemeja misalnya, dihargai Rp 80 ribu untuk lengan pendek dan Rp 95 ribu untuk lengan panjang. Atau daster yang harganya mulai dari Rp 70 ribu hingga 77,5 ribu. Bagi yang tertarik berkunjung dan melihat sendiri keragaman produknya, Batik Unggul Jaya buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 18.00.